Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

SEJARAH MUHAMMADIYAH
PROFIL DAN PEMIKIRAN K. H AHMAD DAHLAN
Disusun untuk memenuhi tugas AIK III
Dengan Dosen Pengampu : H. Rusdi Santoso., S.Ag, M.Ag

Disusun Oleh :
1. ANISA DITA RAHMAWATI
2. FRENDI AVIV SETIAWAN
3. NINING SHOFIYYAH

(1404003)
(1404011)
(1404025)

PROGRAM STUDI DIII FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
MUHAMMADIYAH KLATEN
2015/2016
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang mana telah melimpahkan
rahmad dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah AIK III
yang berjudul Profil dan Pemikiran K. H Ahmad Dahlan tentang islam dan
umatnya guna melengkapi dan memenuhi tugas AIK III.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih atas kesempatan,
perhatian, bimbingan, dan kerjasama setelah diberikan selama kami melaksanakan
praktek kerja lapangan di Dinas Kesehatan Puskesmas Kalikotes, kepada:
1. Bapak H. Rusdi Santoso, S.Ag, M.Ag. Selaku dosen AIK III.
2. Orang tua yang sudah memberikan doa dan juga dorongan motivasi.
3. Rekan-rekan yang sudah memberikan semangat dan telah membantu untuk
menyelesaikan tugas AIK III ini.
Kami menyadari bahwa penulisan tugas makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu kami mohon saran dan arahan yang bersifat
membangun guna kesempurnaan laporan ini dimasa yang akan datang. Dan kami
berharap laporan ini bermanfaat bagi semua pihak.
Wassalammualaikum Wr.Wb

Klaten, September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................


DAFTAR ISI ......................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................


a. Latar Belakang .......................................................................
b. Rumusan Masalah...................................................................
c. Tujuan......................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................
a. Profil K. H Ahmad Dahlan......................................................
b. Pemikiran K. H Ahmad Dahlan untuk umatnya......................
BAB III PENUTUP.............................................................................
a. Kesimpulan..............................................................................
b. Saran........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................
LAMPIRAN........................................................................................
a. Power point..............................................................................
b. Notulen....................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Muhammadiyah didirikan oleh K. H Ahmad Dahlan pada tanggal 8
Dzulhijjah 1330 atau 18 Nopember 1912 di Yogyakarta. Secara etimologis
nama Muhammadiyah berasal dari kata Muhammad, yaitu Nabi
Muhammad SAW, dan diberi tambahan ya nisbah dan ta marbutoh yaitu

pengikut Nabi Muhammad SAW.

K. H Ahmad Dahlan, pendiri

Persyarikatan Muhammadiyah, menegaskan bahwa Muhammadiyah


berarti umat Muhammad, pengikut Nabi Muhammad SAW. Dalam
anggaran Muhammadiyah disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah
gerakan Islam amar makruf nahi munkar yang berakidah Islam dan
bersumber pada Al Quran dan Hadits yang shahih.
Tujuan Muhammadiyah sebagai yang dikemukakan di atas menjadi
titik

tolak

dalam

merumuskan

ideal

atau

landasan

cita-cita

Muhammadiyah yang disebut dengan Keyakinan dan Cita-cita Hidup


Muhammadiyah. Landasan ideal ini memberikan gambaran tentang
pandangan hidup Muhammadiyah, tujuan hidup Muhammadiyah serta
metode untuk mencapai tujuan hidup tersebut.
Visi Muhammadiyah adalah sebagai

gerakan

Islam

yang

berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah dengan watak tajdid yang


dimilikinya senantiasa istiqomah dan aktif dalam melaksanakan dakwah
Islam amar maruf nahi mungkar di segala bidang, sehingga menjadi
rahmatan li al-alamin bagi umat, bangsa dan dunia kemanusiaan menuju
terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhai Allah
swt dalam kehidupan di dunia ini.
Misi Muhammadiyah adalah Menegakkan keyakinan tauhid yang
murni sesuai dengan ajaran Allah swt yang dibawa oleh Rasulullah yang
disyariatkan sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad SAW, memahami
agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam
untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang
bersifat duniawi, menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada AlQuran sebagai kitab Allah yang terakhir untuk umat manusia sebagai
penjelasannya, mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan
pribadi, keluarga dan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana profil K.H. Ahmad Dahlan?
2.
Bagaimana Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan?

C. Tujuan
1. Agar mahasiswa mengetahui tentang profil K. H Ahmad Dahlan.
2. Agar mahasiswa mengetahui pemikiran K. H Ahmad Dahlan tentang
islam dan umatnya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Profil K. H Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868, Nama
kecil K. H Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak
keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya
perempuan, kecuali adik bungsunya. Pendiri Muhammadiyah ini termasuk
keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang
yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama
Islam di Jawa. Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana
Ishaq, Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan
Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang

Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas,


Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, K. H Abu Bakar, dan
Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima
tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan
pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh,
Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke
kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada
tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun.
Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga
guru dari pendiri NU, K. H Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia
mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya
sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai
Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari
perkawinannya dengan Siti Walidah, K. H Ahmad Dahlan mendapat enam
orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti
Aisyah, Siti Zaharah. Disamping itu K. H Ahmad Dahlan pernah pula
menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai
Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga
mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik
Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula
menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.
Dengan maksud mengajar agama, pada tahun 1909 Kiai Dahlan
masuk Boedi Oetomo organisasi yang melahirkan banyak tokoh-tokoh
nasionalis. Di sana beliau memberikan pelajaran-pelajaran untuk
memenuhi keperluan anggota. Pelajaran yang diberikannya terasa sangat
berguna bagi anggota Boedi Oetomo sehingga para anggota Boedi Oetomo
ini menyarankan agar Kyai Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur
dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen. Hal
tersebut dimaksudkan untuk menghindari nasib seperti pesantren
tradisional yang terpaksa tutup bila Kyai pemimpinnya meninggal dunia.

Saran itu kemudian ditindaklanjuti Kyai Dahlan dengan mendirikan


sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah pada 18 November
1912

(8

Dzulhijjah

1330).

Organisasi

ini

bergerak

di

bidang

kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi inilah beliau berusaha


memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.
Bagi Kyai Dahlan, Islam hendak didekati serta dikaji melalui
kacamata modern sesuai dengan panggilan dan tuntutan zaman, bukan
secara tradisional. Beliau mengajarkan kitab suci Al-Qur'an dengan
terjemahan dan tafsir agar masyarakat tidak hanya pandai membaca
ataupun melagukan Qur'an semata, melainkan dapat memahami makna
yang ada di dalamnya. Dengan demikian diharapkan akan membuahkan
amal perbuatan sesuai dengan yang diharapkan Quran itu sendiri.
Menurut

pengamatannya,

keadaan

masyarakat

sebelumnya

hanya

mempelajari Islam dari kulitnya tanpa mendalami dan memahami isinya.


Sehingga Islam hanya merupakan suatu dogma yang mati.
Di bidang pendidikan, Kyai Dahlan lantas mereformasi sistem
pendidikan pesantren zaman itu, yang menurutnya tidak jelas jenjangnya
dan tidak efektif metodenya lantaran mengutamakan menghafal dan tidak
merespon ilmu pengetahuan umum. Maka Kyai Dahlan mendirikan
sekolah-sekolah agama dengan memberikan pelajaran pengetahuan umum
serta bahasa Belanda. Bahkan ada juga Sekolah Muhammadiyah seperti
H.I.S. met de Qur'an. Sebaliknya, beliau pun memasukkan pelajaran
agama pada sekolah-sekolah umum. Kyai Dahlan terus mengembangkan
dan membangun sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya, beliau telah
banyak mendirikan sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan
rumah yatim piatu.
Kegiatan dakwah

pun

tidak

ketinggalan.

Beliau

semakin

meningkatkan dakwah dengan ajaran pembaruannya. Di antara ajaran


utamanya yang terkenal, beliau mengajarkan bahwa semua ibadah
diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad SAW.
Beliau juga mengajarkan larangan ziarah kubur, penyembahan dan
perlakuan yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris,

kereta kuda, dan tombak. Di samping itu, beliau juga memurnikan agama
Islam dari percampuran ajaran agama Hindu, Budha, animisme,
dinamisme, dan kejawen.
Di bidang organisasi, pada tahun 1918, beliau membentuk organisasi
Aisyiyah yang khusus untuk kaum wanita. Pembentukan organisasi
Aisyiyah, yang juga merupakan bagian dari Muhammadiyah ini, karena
menyadari

pentingnya

peranan

kaum

wanita

dalam

hidup

dan

perjuangannya sebagai pendamping dan partner kaum pria. Sementara


untuk pemuda, Kyai Dahlan membentuk Padvinder atau Pandu, sekarang
dikenal dengan nama Pramuka dengan nama Hizbul Wathan disingkat
H.W. Di sana para pemuda diajari baris-berbaris dengan genderang,
memakai celana pendek, berdasi, dan bertopi. Hizbul Wathan ini juga
mengenakan uniform atau pakaian seragam, mirip Pramuka sekarang.
Pembentukan Hizbul Wathan ini dimaksudkan sebagai tempat
pendidikan para pemuda yang merupakan bunga harapan agama dan
bangsa. Sebagai tempat persemaian kader-kader terpercaya, sekaligus
menunjukkan bahwa Agama Islam itu tidaklah kolot melainkan progressif.
Tidak ketinggalan zaman, namun sejalan dengan tuntutan keadaan dan
kemajuan zaman. Karena semua pembaruan yang diajarkan Kyai Dahlan
ini agak menyimpang dari tradisi yang ada saat itu, maka segala gerak dan
langkah yang dilakukannya dipandang aneh. Sang Kyai sering diteror
seperti diancam bunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran binatang.
Ketika mengadakan dakwah di Banyuwangi, beliau diancam akan
dibunuh dan dituduh sebagai Kyai palsu. Walaupun begitu, beliau tidak
mundur. Beliau menyadari bahwa melakukan suatu pembaruan ajaran
agama (mushlih) pastilah menimbulkan gejolak dan mempunyai risiko.
Dengan penuh kesabaran, masyarakat perlahan-lahan menerima perubaban
yang diajarkannya. Tujuan mulia terkandung dalam pembaruan yang
diajarkannya. Segala tindak perbuatan, langkah dan usaha yang ditempuh
Kiai ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Islam itu adalah Agama
kemajuan. Dapat mengangkat derajat umat dan bangsa ke taraf yang lebih
tinggi. Usahanya ini ternyata membawa dampak positif bagi bangsa

Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan intelektual


dan pemuda yang tertarik dengan metoda yang dipraktekkan Kyai Dahlan
ini sehingga mereka banyak yang menjadi anggota Muhammadiyah.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu
organisasi masa Islam terbesar di Indonesia.
Melihat metoda pembaruan K. H Ahmad Dahlan ini, beliaulah ulama
Islam pertama atau mungkin satu-satunya ulama Islam di Indonesia yang
melakukan pendidikan dan perbaikan kehidupan umat, tidak dengan
pesantren dan tidak dengan kitab karangan, melainkan dengan organisasi.
Sebab selama hidup, beliau diketahui tidak pernah mendirikan pondok
pesantren seperti halnya ulama-ulama yang lain. Dan sepanjang
pengetahuan, beliau juga konon belum pernah mengarang sesuatu kitab
atau buku agama.
Muhammadiyah

sebagai

organisasi

tempat

beramal

dan

melaksanakan ide-ide pembaruan Kyai Dahlan ini sangat menarik


perhatian para pengamat perkembangan Islam dunia ketika itu. Para
sarjana dan pengarang dari Timur maupun Barat sangat memfokuskan
perhatian pada Muhammadiyah. Nama Kyai Haji Akhmad Dahlan pun
semakin tersohor di dunia. Dalam kancah perjuangan kemerdekaan
Republik Indonesia, peranan dan sumbangan beliau sangatlah besar. Kyai
Dahlan dengan segala ide-ide pembaruan yang diajarkannya merupakan
saham yang sangat besar bagi Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20.
Kyai Dahlan menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kiai yakni
K. H Muhammad Shaleh di bidang ilmu fikih, dari K. H Muhsin di bidang
ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa), dari K. H Raden Dahlan di bidang ilmu
falak (astronomi), dari Kyai Mahfud dan Syekh K. H Ayyat di bidang ilmu
hadis, dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock di bidang ilmu Al-Quran,
serta dari Syekh Hasan di bidang ilmu pengobatan dan racun binatang.
Pada usia 55 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, Kyai
Haji Ahmad Dahlan wafat di Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di
Karang Kuncen, Yogyakarta. Atas jasa-jasa Kyai Haji Akhmad Dahlan
maka negara menganugerahkan kepada beliau gelar kehormatan sebagai

Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan tersebut dituangkan


dalam SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, tanggal 27 Desember 1961.

B. Pemikiran K. H Ahmad Dahlan tentang Islam dan Umatnya


1 Ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan mulai disosialisasikan ketika
menjabat khatib di Masjid Agung Kesultanan. Salah satunya adalah
menggarisi lantai Masjid Besar dengan penggaris miring 241/2 derajat
ke Utara. Menurut ilmu hisab yang ia pelajari, arah Kiblat tidak lurus ke
Barat seperti arah masjid di Jawa pada umumnya, tapi miring sedikit
241/2 derajat. Perbuatan ini ditentang olen masyarakat, bahkan Kanjeng
Kiai

Penghulu

memerintahkan

untuk

menghapusnya.

Lalu

ia

membangun Langgar sendiri di miringkan arah Utara 241/2 derajat,


lagi-lagi Kanjeng Kiai Penghulu turun tangan dengan memerintahkan
untuk merobohkannya. K.H. Ahmad Dahlan hampir putus asa karena
peristiwa-peristiwa tersebut sehingga ia ingin meninggalkan kota
kelahirannya. Tetapi saudaranya menghalangi maksudnya dengan
membangunkan langgar yang lain dengan jaminan bahwa ia dapat
mengajarkan pengetahuan agama sesuai dengan apa yang diyakininya.
Peristiwa demi peristiwa tersebut rupanya menjadi cikal-bakal
pergulatan antara pikiran-pikiran baru yang dipelopori oleh K.H.
Ahmad Dahlan dengan pikiran-pikiran yang sudah mentradisi.
2 Memang tidak mudah bagi K.H. Ahmad Dahlan

untuk

menyosialisasikan ide pembaharuannya yang dibawa dari Timur


Tengah. Di samping karena masyarakat belum siap dengan sesuatu yang
dianggap berbeda dari tradisi yang ada, juga karena ia belum punya
wadah untuk menyosialisasikan tersebut. Kegagalan Ahmad Dahlan
mengubah arah Kiblat, tidak menyurutkan nyalinya untuk tetap
memperjuangkan apa yang diyakini. Sesudah peristiwa itu, pada tahun
1903 M. atas biaya Sultan Hamengkubuwono VII, K.H. Ahmad Dahlan

dikirim ke Mekkah untuk mempelajari masalah Kiblat lebih mendalam


dan menunaikan ibadah haji yang ke dua kalinya. Di sana ia menetap
selama dua tahun. Bahkan ia pernah mengunjungi observatorium di
Lembang untuk menanyakan cara menetapkan Kiblat dan permulaan
serta akhir bulan Ramadhan. Perjuangannya ini cukup berhasil ketika
pada tahun 1920-an masjid-masjid di Jawa Barat banyak yang di
bangun dengan arah Kiblat ke Barat laut. Dan menurut catatan sejarah,
Sultan sebagai pemegang otoritas tertinggi, menerima penentuan
jatuhnya hari Raya Idul Fitri, yang pada mulanya ditetapkan oleh
Kesultanan berdasarkan perhitungan (petungan) Aboge.
3 Terobosan dan Strategi Ahmad Dahlan
Ketika berusia empat puluh tahun, 1909, Ahmad Dahlan telah
membuat terobosan dan strategi dakwah: ia memasuki perkumpulan
Budi Utomo. Melalui perkumpulan ini, Dahlan berharap dapat
memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya. Lebih dari itu,
karena anggota-anggota Budi Utomo pada umumnya bekerja di
sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah, Ahmad Dahlan berharap
dapat mengajarkan pelajaran agama di sekolah-seko1ah pemerintah.
Rupanya, pelajaran dan cara mengajar agama yang diberikan. Ahmad
Dahlan dapat diterima baik oleh anggota-anggota Budi Utomo.
Terbukti, mereka menyarankan agar Ahmad Dahlan membuka sendiri
sekolah secara terpisah. Sekolah tersebut hendaknya didukung oleh
suatu organisasi yang bersifat permanen.
4 Gerakan Pembaruan Ahmad Dahlan
Gerakan pembaruan K. H Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan
masyarakat zamannya mempunai landasan yang kuat, baik dari
keilmuan maupun keyakinan Quraniyyah guna meluruskan tatanan
perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Quran
dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat. Berangkat dari
semangat ini, ia menolak taqlid dan mulai tahun 1910 M. penolakannya
terhadap taqlid semakin jelas. Akan tetapi ia tidak menyalurkan ideidenya secara tertulis. Kemudian dia mengeliminasi upacara selametan

karena merupakan perbuatan bidah dan juga pengkeramatan kuburan


Orang Suci dengan meminta restu dari roh orang yang meninggal
karena akan membawa kemusyrikan (penyekutuan Tuhan). Mengenai
tahlil dan talqin, menurutnya, hal itu merupakan upacara mengada-ada
(bidah). Ia juga menentang kepercavaan pada jimat yang sering
dipercaya oleh orang-orang Keraton maupun daerah pedesaan, yang
menurutnya akan mengakibatkan kemusyrikan.
Mendirikan Perserikatan Muhammadiyah Sebelum mendirikan
Organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan aktif di berbagai
perkumpulan, seperti Al-Jamiat Al-Khairiyyah (organisasi masyarakat
Arab di Indonesia), Budi Utomo dan Sarekat Islam. Ia termasuk salah
seorang ulama yang mula-mula mengajar agama Islam di Sekolah
Negeri, seperti Sekolah Guru (Kweekschool) di Jetis Yogyakarta dan
OSVIA di Magelang.
Selain berdagang pada hari-hari tertentu, dia memberikan
pengajian agama kepada beberapa kelompok orang, terutama pada
kelompok murid Pendidikan Guru Pribumi di Yogyakarta. Dia juga
pernah mencoba mendirikan sebuah madrasah dcngan pengantar bahasa
Arab di lingkungan Keraton, namun gagal.
Selanjutnya, pada tanggal 1 Desember 1911 M. Ahmad Dahlan
mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi
berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali
merupakan Sekolah Islam Swasta pertama yang memenuhi persyaratan
untuk mendapatkan subsidi pemerintah.
Sumbangan terbesarnya K.H. Ahmad Dahlan, yaitu pada tanggal
18 November 1912 M. mendirikan organisasi sosial keagamaan
bersama temannya dari Kauman, seperti Haji Sujak, Haji Fachruddin,
haji Tamim, Haji Hisyam, Haji syarkawi, dan Haji Abdul Gani. Tujuan
Muhammadiyah terutama untuk mendalami agama Islam di kalangan
anggotanya sendiri dan menyebarkan agama Islam di luar anggota inti.

Untuk mencapai tujuan ini, organisasi itu bermaksud mendirikan


lembaga pendidikan, mengadakan rapat-rapat dan tabligh yang
membicarakan masalah-masalah Islam, mendirikan wakaf dan masjidmasjid serta menerbitkan buku-buku, brosur-brosur, surat kabar dan
majalah.
Sebagai jawaban terhadap kondisi pendidikan umat Islam yang
tidak bisa merespon tantangan zaman, K. H Ahmad Dahlan dengan
Muhammadiyah melanjutkan model sekolah yang digabungkan dengan
sistem pendidikan gubernemen. Ini mengadopsi pendidikan model
Barat, karena sistemnya dipandang yang terbaik dan disempurnakan
dengan penambahan mata pelajaran agama. Dengan kata lain, ia
berusaha untuk mengislamkan berbagai segi kehidupan yang tidak
Islami. Umat Islam tidak diarahkan kepada pemahaman agama mistis
melainkan menghadapi duni secara realitis.
Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan
permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan
badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914,
dengan surat ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914.
izin itu hanya berlaku untuk daerah Yokyakarta. Dari Pemerintah
Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini.
Itulah sbabnya kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah
dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srakandan, Wonosari, dan Imogiri
dan lain-lain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah di luar
Yokyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan,
Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama
Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah
Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang
Muhammadiyah.

Bahkan

dalam

kota

Yokyakarta

sendiri

ia

menganjurkan adanya jamaah dan perkumpulan untuk mengadakan


pengajian

dan

menjalankan

kepentingan

Islam.

Perkumpulan-

perkumpulan dan jamaah-jamaah ini mendapat bimbingan dari

Muhammadiyah,

yang

diantaranya

ialah

Ikhwanul

Muslimin,

Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya


Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Taawanu
alal birri, Taruf Bima kanu wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin,
Syahratul Mubtadi.
Sementara itu, usaha-usaha Muhammadiyah bukan hanya
bergerak pada bidang pengajaran, tapi juga bidang-bidang lain,
terutama sosial umat Islam. Sehubungan dengan itu, Muhammadiyah
sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri khas sebagai
berikut:
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam. Muhammadiyah dalam
melaksanakan

dan

memperjuangkan

keyakinan

dan

cita-cita

organisasinya berasaskan Islam. Menurut Muhammadiyah, bahwa


dengan Islam bisa dijamin kebahagiaan yang hakiki hidup di dunia dan
akhirat, material dan spiritual.
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah. Untuk mewujudkan
keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah yang berdasarkan Islam, yaitu
amar maruf dan nahi munkar. Dakwah dilakukan menurut cara yang
dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Dakwah Islam dilakukan dengan
hikmah, kebijaksanaan, nasehat, ajakan, dan jika perlu dilakukan
dengan berdialog.
Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid. Usaha-usaha yang
dirintis dan dilaksanakan menunjukkan bahwa Muhammadiyah selalu
berusaha memperbarui dan meningkatkan pemahaman Islam secara
rasional sehingga Islam lebih mudah diterima dan dihayati oleh segenap
lapisan masyarakat.
Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, lengkaplah
ketika pada tahun 1917 M. Membentuk bagian khusus wanita yaitu
Aisyah. Bagian ini menyelenggarakan tabligh khusus wanita,
memberika kursus kewanitaan. Pemeliharaan fakir miskin, serta
memberi bantuan kepada orang sakit. Kegiatan Muhammadiyah dengan

Aisyah ini berjalan baik, terutama karena banyak orang Islam baik
menjadi anggota maupun simpatisan memberikan zakatnya kepada
organisasi ini. Di samping Aisyiah, kegiatan lain dalam bentuk
kelembagaan yang berada di bawah organisasi Muhammadiyah ialah
PKU (Penolong Kesengsaraan Umum) yang bergerak dalam usaha
membantu orang-orang miskin, yatim piatu, korban bencana alam dan
mendirikan klinik-klinik kesehatan, Hizbul AI-Wathan, gerakan
kepanduan Muhammadiyah yang dibentuk pada tahun 1917 M oleh K.
H Ahmad Dahlan, Majlis Tarjih, yang bertugas mengeluarkan fatwa
terhadap masalah-masalah yang terjadi di masyarakat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
K.H Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 dan wafat pada
23 Februari 1923. Ia berasal dari keluarga yang didaktis dan terkenal alim
dalam ilmu agama. Pada tahun 1909, Ahmad Dahlan telah membuat strategi
dakwah, ia memasuki perkumpulan Budi Utomo sampai pada akhirnya
dibentuklah organisasi Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912
Secara umum pemikiran K.H Ahmad Dahlan diklasifikasikan menjadi 2
dimensi, yaitu :
1. Berusaha memurnikan ajaran islam dari khurafat, tahayul, dan
bidah yang selama ini telah bercampur dalam aqidah dan
ibadah umat islam
2. Mengajak umat islam untuk keluar dari jaring terhadap
doktrin islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat
diterima oleh rasio.
B. Saran
1. Mahasiswa diharapkan bisa mendalami kehidupan islami seorang
pemimpin Muhammadiyah melalui profil yang telah dijelaskan.

2. Mahasiswa diharapkan bisa menhetahui dan melaksanakan apa yang telah


diajarkan oleh K.H Ahmad Dahlan melalui pemikiran-pemikirannya
tentang islam dan umatnya.

DAFTAR PUSTAKA
Kamal Pasha, Musthafa, dkk, 2005, Muhammadiyah Sebagai Gerakan
Islam, Yogyakarta : Pustaka SM
Wink, 2015, Biografi KH. Ahmad Dahlan - Pendiri
Muhammadiyah, 3
Oktober 2015,
http://www.biografiku.com/2011/12/biografi-kh-ahmaddahlan.html

Beri Nilai