Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM PENENTUAN ANTOSIANIN DAN PROTEIN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
Rina Aryanti (240210140090)
Departemen Teknologi Industri Pangan Universitas Padjadjaran, Jatinangor
Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21, Jatinangor, Sumedang 40600 Telp. (022) 7798844, 779570
Fax. (022) 7795780 Email: rinabiba@gmail.com
Abstrak
Protein merupakan salah satu sumber nutrisi makro dalam tubuh yang mengandung asam
amino yang sangat berguna bagi tubuh. Metode yang digunakan untuk menganalisis kadar protein
pada praktikum adalah metode biuret. Tujuan penggunaan metode biuret adalah untuk analisis kadar
protein secara kuantitatif untuk menentuan kualitas gizi sampel yang digunakan (koro benguk). Selain
analisis protein, dilakukan pula analisis kadar antosianin pada sampel ekstrak bunga telang dengan
berbagai konsentrasi gula. Antosianin adalah metabolit sekunder dari famili flavonoid, dalam jumlah
besar ditemukan dalam buah-buahan dan sayur-sayuran. Analisis kadar pigmen antosianin penting
diketahui untuk membuat pewarna alami pengganti pewarna sintetis yang lebih baik bagi kesehatan
tubuh manusia. Hasil pengamatan kadar protein sampel kacang koro benguk berkisar antara 27,52%27,83%. Hasil analisis kadar antosianin serbuk ekstrak bunga telang 0% sebesar 4,371%-8,3920%,
kadar pigmen antosianin serbuk ekstrak bunga telang 10% sebesar 3,4035%-6,724%, kadar pigmen
antosianin serbuk ekstrak bunga telang 20% sebesar 4,5%-5,3889%.
Kata Kunci : Protein, biuret, spektrofotometri, antosianin
PENDAHULUAN
Protein merupakan suatu zat makanan
yang sangat penting bagi tubuh, karena zat ini
disamping berfungsi sebagai zat pembangun
dan pengatur, Protein adalah sumber asamasam amino yang mengandung unsur C, H, O
dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau
karbohidrat. Molekul protein mengandung
pula posfor, belerang dan ada jenis protein
yang mengandung unsur logam seperti besi
dan tembaga (Budianto, A.K, 2009)
Molekul protein merupakan rantai
panjang yang tersusun oleh mata rantai asamasam amino. Dalam molekul protein, asamasam amino saling dirangkaikan melalui reaksi
gugusan karboksil asam amino yang satu
dengan gugusan amino dari asam amino yang
lain, sehingga terjadi ikatan yang disebut
ikatan peptida. Molekul protein adalah suatu
polypeptida, dimana sejumlah besar asamasam aminonya saling dipertautkan dengan
ikatan peptida tersebut (Gaman, P.M, 1992).
Kadar protein pada bahan pangan
dapat ditentukan dengan berbagai jenis metode
analisis. Metode yang digunakan untuk
menganalisis kadar protein secara kuantitatif
antara lain : metode kjeldahl, metode biuret,

metode lowry, metode pengikatan zat warna


(dye binding), dan metode titrasi formol.
Praktikum kali ini yaitu penetapan protein
dengan metode biuret.
Penentuan kadar protein dengan
metode biuret dilakukan didasarkan pada
prinsip bahwa zat yang mengandung dua atau
lebih ikatan peptida (-CO-NH-) dapat
membentuk kompleks berwarna ungu dengan
garam Cu dalam larutan alkali (dalam suasana
basa). Intensitas warna ungu tersebut
berbanding langsung dengan konsentrasi
protein, di mana semakin meningkat intensitasi
warnanya konsentrasi protein semakin besar.
Intensitas warna ungu ini dapat diukur
absorbansinya dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang 540 nm.
Nilai absorbansi tidak tergantung pada
jenis protein, karena seluruh protein pada
dasarnya mempunyai jumlah ikatan peptida
sama per satuan berat. Hanya sedikit senyawa
lain yang mengganggu reaksi, misalnya urea
(mengandung gugus CO-NH-) dan gula
pereduksi yang akan bereaksi dengan ion
Cu2+ (Andarwulan, 2011).
Antosianin adalah metabolit sekunder
dari famili flavonoid, dalam jumlah besar

ditemukan dalam buah-buahan dan sayursayuran(Talavera, et al., 2004). Antosianin


dapat memberikan warna merah, violet, ungu
dan biru pada daun, bunga, buah dan sayur.
Antosianin adalah suatu flavon yang larut
dalam air, secara luas terbagi dalam polifenol
tumbuhan dinamakan flavonoid. Flavonoid
mengandung dua cincin benzen yang
dihubungkan oleh tiga atom karbon. Flavonol,
flavan-3-ol, flavon, flavanon dan flavanonol
adalah kelas tambahan flavonoid yang berbeda
dalam oksidasi dari antosianin (Rene, 2010)
Antosianin kurang stabil dalam larutan
netral atau basa karena itu antosianin harus
diekstraksi dari tumbuhan dengan pelarut yang
mengandung asam hidroklorida dan larutannya
harus disimpan di tempat yang gelap serta
sebaiknya didinginkan (Ryan dkk, 2012).
Antosianin larut dalam pelarut polar seperti
metanol, aseton atau kloroform, air, yang
diasamkan dengan asam klorida atau asam
format. Antosianin dilihat dari penampakan
berwarna merah, merah senduduk, biru dan
ungu, mempunyai panjang gelombang
maksimum 465 - 560 nm (Lydia dkk, 2001).

pH 1, bunga telang, CuSO4.5H2O, ekstrak


bunga telang, etil eter, KI, Na.K tartrat, NaOH,
susu UHT, TCA.
Alat yang digunakan yaitu alat
sentrifugasi, corong, kertas saring, labu ukur,
pipet ukur, spektrofotometer, tabung reaksi,
tabung sentrifugasi

Pengukuran
warna
secara
spektrofotometri
dilakukan
dengan
menggunakan spektrofotometer.Pengukuran
warna dengan spektrofotometer dilakukan
denga panjang gelombang sinar tampak, yaitu
380 770 nm. Pengukuran warna dengan
spektrofotometer didasarkan pada kemampuan
instrumen untuk merefleksikan cahaya yang
nilainya dapat dinyatakan sebagai nilai
transmisinya
pada
berbagai
panjang
gelombang. Cahaya yang akan direfleksikan
akan dikonversi menjadi iluminan dimana
akan diperoleh nilai nilai X, Y, Z. Kemudian
nilai transmisi tersebut dapat dikonversi
menjadi nilai L, a, b (Andarwulan dkk, 2011).

Penetapan Kadar Protein Sampel


Kacang koro dihaluskan terlebih
dahulu, lalu masukkan kedalam labu ukur 25
ml setelah itu disaring dan diambil aliquot
sebanyak 0,5 ml dimasukkan ke dalam tabung
sentrifugasi, tambahkan akuades sampai 1 ml
dan 1 ml TCA 10%, sentrifugasi pada
kecepatan 3000 rpm selama 30 menit, buang
supernatan, tambahkan 2 ml etil eter, sentrifuse
kembali selama 30 menit. vortex selama 1
menit dan diamkan , tambahkan 4 ml akuades
dalam endapan, vortex kembali selama 1
menit, tambahkan 6 ml pereaksi biuret,
homogenkan, diamkan pada suhu ruang
selama 30 menit, saring, ukur absorbansi pada
520 nm.

METODOLOGI

Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan untuk analisis
protein metode biuret yaitu aquades, biuret,
BSA, buffer asam asetat pH 4,5, buffer KCL

A. Penentua Kadar Protein Metode Biuret


Pembuatan Pereaksi Biuret
Masukkan 0,3 gram CuSO4.5H2O, 0,9
gram Na.K tartrat, dan 0,5 gram KI kemudian
dilarutkan ke dalam 100 ml NaOH 0,2 N
Pembuatan Kurva Standar
Larutan protein standar dimasukkan
kedalam tabung reaksi 0 ml, 0,5 ml, 1 ml, 1,5
ml, 2 ml, 2,5 ml kemudian ditambahkan
akuades sampai volumenya menjadi 4 ml
pada masing-masing tabung, tambahkan 6 ml
perekasi biuret, homogenkan dan inkubasi
selama 37oC selama 10 menit, diamkan di
suhu ruang, saring kemudian ukur absorbansi
pada 520 nm, kemudian plotkan dalam grafik.

Pembuatan Buffer KCl 0,0015 M pH 1


Timbang KCL sebanyak 1,89 g,
larutkan 980 ml akuades, atur pH sampai
dengan HCl pekat lalu ditepatkan hingga 1 L.
Pembuatan
Buffer
Na-Asetat
CH3COONa.3H2O pH 4,5
Timbang 54,43 gram Na-Asetat
kemudian larutkan dalam 960 ml akuades, atur
pH sampai 4,5 dengan HCl pekat, tepatkan
hingga 1 L.

Prosedur Penetapan
Sampel bubuk bunga telang dilarutkan
ke dalam buffer pH 1 dan PH 4,5, pH 1
inkubasi selama 15 menit sedangkan pH 4,5
inkubasi selama 5 menit. Masing-masing
buffer masukkan kedalam kuvet untuk blanko,
setelah itu tekan absorbansi menjadi 0,000 lalu
masukkan sampel dengan buffer pH tertentu.
Lakukan perhitungan kadar antosianin dengan
rumus:

Nilai A

( A510 A700 ) pH 1
( A 510 A 700 ) pH 4,5
Konsentrasi A ( M )( bb )

A x BM x Fp x 1000
xb
= Absorbansi
= Absoprivitas molar sianidin 3glukosida

b
BM
FP

= tebal kuvet (1 cm)


= 448,8 gram/mol
= faktor pengenceran
HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Kadar Protein


Metode biuret yang dilakukan dalam
praktikum ini terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap
pembuatan kurva standar dan tahap persiapan
serta pengukuran sampel. Terlebih dahulu
dilakukan pembuatan pereaksi biuret degan
cara memasukkan 0,3 gram CuSO4.5H2O, 0,9
gram Na.K tartrat, dan 0,5 gram KI kemudian
dilarutkan ke dalam 100 ml NaOH 0,2 N.
Pereaksi yang digunakan berfungsi untuk
menstabilkan ion kupri dalam larutan yang
bersifat basa (Nielsen, 2003).
Terdapat tiga reagen utama pada
biuret, reagen yang pertama adalah CuSO4
dalam aquadest dimana reagen ini berfungsi
sebagai penyedia ion Cu2+ yang nantinya akan
membentuk kompleks dengan protein. Reagen
yang kedua adalah K-Na-Tartrat yang
berfungsi untuk mencegah terjadinya reduksi
pada Cu2+ sehingga tidak mengendap. Reagen
yang ketiga adalah NaOH dimana fungsinya
adalah membuat suasana basa. Suasana basa

akan membantu pembentukan Cu(OH)2 yang


nantinya akan menjadi Cu2+ dan 2OH-.
Dalam pembuatan kurva standar, hal
yang pertama dilakukan adalah membuat
larrutan protein standar menggunakan larutan
bovine serum albumin (BSA). Bovine Serum
Albumin (BSA) adalah protein yang umum
digunakan sebagai standar dalam penetapan
kadar protein. BSA banyak dipilih karena
tingkat kemurniannya yang tinggi dan
harganya relatif murah. Larutan standar dibuat
dengan cara BSA dimasukkan ke dalam tujuh
tabung reaksi masing-masing sebanyak 0 ml,
0,5 ml, 1 ml, 1,5 ml, 2 ml, 2,5. Kemudian
ditambahkan aquades sampai volume totalnya
menjadi 4 ml dan diaduk perlahan.
Proses pengadukan berfungsi untuk
membantu pelarutan protein, jika dikocok
maka
akan
mengakibatkan
terjadinya
denaturasi protein yang ditandai dengan
adanya buih di permukaan larutan. Selanjutnya
ke dalam masing-masing tabung ditambahkan
6 ml pereaksi biuret dan disimpan pada suhu
ruang selama 10 menit. Proses penyimpanan
selama 10 menit dilakukan agar seluruh
pereaksi biuret bereaksi dengan protein yang
terdapat dalam larutan.
Setelah 10 menit, maka larutan standar
diukur absorbansinya pada panjang gelombang
540 nm menggunakan spektrofotometer.
Setelah diukur absorbansi larutan standar,
selanjutnya kurva standar dibuat dengan cara
konsentrasi larutan BSA diplotkan pada sumbu
x dan absorbansi pada sumbu y. Dengan
menggunakan persamaan linear, maka akan
diperoleh persamaan linear y = ax + b yang
selanjutnya digunakan untuk menentukan
konsentrasi protein pada sampel. Berikut ini
adalah hasil pengamatan penentuan kurva
standar dengan metode biuret.

Gambar 1. Kurva Standar BSA


Tahap selanjutnya adalah preparasi
sampel yang akan ditentukan kadar proteinnya.
Adapun sampel yang digunakan adalah kacang
koro benguk. Kacang koro dihaluskan terlebih
dahulu, lalu masukkan kedalam labu ukur 25

ml setelah itu disaring dan diambil aliquot


sebanyak 0,5 ml dimasukkan ke dalam tabung
sentrifugasi, tambahkan akuades sampai 1 ml
dan 1 ml TCA 10%, sentrifugasi pada
kecepatan 3000 rpm selama 30 menit, buang
supernatan, tambahkan 2 ml etil eter, sentrifuse
kembali selama 30 menit. vortex selama 1
menit dan diamkan , tambahkan 4 ml akuades
dalam endapan, vortex kembali selama 1
menit, tambahkan 6 ml pereaksi biuret,
homogenkan, diamkan pada suhu ruang
selama 30 menit, saring, ukur absorbansi pada
520 nm.
Fungsi penambahan TCA dalam
analisis protein metode biuret adalah untuk
mendenaturasi protein agar sampel yang
memiliki zat pengotor mengendap, sehingga
bisa diambil bentuk cairnya. Fungsi
sentrifugasi yang pertama adalah untuk
memisahkan air dan protein larut air. Selain itu
ditambahkan pula etil eter yang bertujuan
untuk melarutkan lemak yang terdapat pada
ssampel agar tidak mengganggu dalam analisis
kadar protein. Tujuan sentrifugasi yang kedua
adalah untuk memisahkan endapan protein
dengan etil eter. Fungsi penggunaan vortex
adalah untuk menghomogenkan aquades
dengan endapan.
Setelah didapatkan absorbansi dari
masing-masing larutan sampel kemudian
konsentrasi protein (mg/Latau ppm) sampel
dapat dicari menggunakan persamaan regresi
linear dari larutan standar. Jika diketahui y =
2,589.10-4 x 0,0191 dengan r 0,9866 yang
mana menunjukkan keakuratan data kurva
standar yakni sebesar 98,66% dan absorbansi
dari sampel diketahui sebagai x, maka
konsentrasi dalam ppm dari masing-masing
sampel dapat diketahui sebagai y. Selanjutnya,
setelah diketahui konsnetrasi sampel dalam
ppm maka persen protein dari sampel dicari
menggunakan rumus:
%
protein
=

Konsentrasi x

25
25
1
x
x
0,2 1000 1000
5

100%
Berikut disajikan tabel hasil analisis kadar
protein metode biuret sampel tepung kacang
koro benguk:
Tabel 1. Konsentrasi Protein
Ppm (x) Absorbansi(y %protein
)

750,1
0,175
27,86
742,4
0,173
27,52
746,2
0,174
27,67
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2016)
Berdasarkan tabel diatas, kadar protein
yang terdapat dalam sampel tepung kacang
koro benguk sebesar 27,52%-27,83% sesuai
dengan ppm yang digunakan. Menurut Poerwo
Soedarmo dan Achmad Djaeni Sediaoetama
(1977), kadar protein koro benguk 24,0 g/100
g bahan. Pada umumnya biji mentah koro
benguk mempunyai kadar protein yang
berkisar antara 23%-32% (Indrawati Gandjar,
1977 dalam Bambang Kuswijayanto, 1990).
Dapat disimpulkan bahwa kadar protein
berdasarkan hasil praktikum sudah sesuai
dengan literatur.
Analisis Kadar Antosianin
Analisis
kadar
antosianin
menggunkana sampel serbuk bunga telang
(Clitoria ternatea) yang merupakan salah satu
sumber pigmen biru atau antosianin. Sifat fisik
dan kimia antosianin dilihat dari kelarutan
antosianin larut dalam pelarut polar seperti
metanol, aseton, atau kloroform, terlebih
sering dengan air dan diasamkan dengan asam
klorida atau asam format (Socaciu, 2007).
Antosianin stabil pada pH 3,5 dan suhu 50 oC
mempunyai berat molekul 207,8 g/mol dan
rumus molekul C15H11O (Fennema, 1996), dan
terdegradai pada suhu diatass 70oC
(Dharmendra, 2008). Antosianin dilihat dari
penampakan berwwarna merah, merah
senduduk, ungu, dan biru. mempunyai panjang
gelombang maksimum 515-700nm.
Konsentrasi antosianin dalam ekstrak
bunga telang ditentukan dengan mengukur
absorbansi dengan menggunakan buffer pH 1
dan pH 4,5. Konsentrasi pada minuman serbuk
bunga
talang
berdasarkan
konsentrasi
perbandingan ekstrak dengan gula. Alat yang
digunakan untuk mengukur absorbansi adalah
Spektrofotometer UV-Vis. Prinsip kerja
spektrofotometri UV-Vis adalah interaksi yang
terjadi antara energy yang berupa sinar
monokromatis dari sumber sinar dengan
materi yang berupa molekul. Besar energy
yang diserap tertentu dan menyebabkan
electron tereksitasi dari ground state ke
keadaan tereksitasi yang memiliki energy lebih
tinggi. Serapan tidak terjadi seketika pada
daerah ultraviolet-visible untuk semua struktur
elektronik tetapi hanya pada system-sistem

terkonjugasi, struktur elektronik dengan


adanya ikatan p dan non bonding electron.
Prinsip
kerja
spektrofotometri
berdasarkan hukum Lambert Beer, bila cahaya
monokromatik (Io) melalui suatu media
(larutan), maka sebagian cahaya tersebut
diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan
sebagian lagi dipancarkan (It).
Pada analisis pigmen antosianin
digunakan larutan buffer dengan pH yang
sangat asam. Sesuai dengan pernyataan Xavier
dkk. (2008), adanya penambahan asam akan
menyebabkan ekstraksi menjadi lebih efisien
karena ion H+ akan berikatan dengan gugus
OH kemudian senyawa yang bersifat polar
akan tertarik keluar dari vakuola sel sehingga
meningkatkan total antosianin dan rendemen
yang dihasilkan. Pigmen antosianin lebih
stabil pada larutan yang bersifat asam daripada
larutan yang bersifat netral atau basa karena
pada suasana asam antosianin akan berada
dalam bentuk kation flavilium hingga basa
kuinodal sehingga tidak terjadi degradasi
warna (Harborne, 1996).
Peningkatan pH akan menyebabkan
kation flavilum menjadi tidak stabil ddan
mudah mengalami transformasi struktural
menjadi senyawa tidak berwarna seperti
kalkon. Oleh karena itu, aolikasi antosianin
pada umumnya banyak digunakan pada
makanan dan minuman asam.
Hasil dengan penambahan larutan
asam akan menghasilkan warna biru atau
merah sesuai pendapat Sari dkk (2005) dimana
dalam medium cair, antosianin mengalami
perubahan struktur karena ketidakstabilan
antosianin dipengaruhi oleh pH. Berikut
merupakan hasil pengamatan kadar antosianin
yang dilakukan :
Tabel
2.
Kadar
Antosianin
Konsentrasi Bunga Telang 0 -10%

pada

Tabel
3.
Kadar
Antosianin
Konsentrasi Bunga Telang 0 -20%

pada

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016)


Berdasarkan tabel 2 dan 3 hasil
analisis kadar antosianin pada serbuk ekstrak
bunga telang 0% berkisar antara 4,371%8,3920%. Kadar pigmen antosianin serbuk
ekstrak bunga telang 10% berkisar antara
3,4035%-6,724%, kadar pigmen antosianin
serbuk ekstrak bunga telang 20% berkisar
antara 4,5%-5,3889%. Hasil pengamatan kadar
antosianin pada tabel 2 menunjukkan
penurunan dengan penambahan gula 10%.
Hasil pengamatan tabel 3 menunjukkan hasil
yang fluktuatif pada penambahan gula 20%
namun rata-rata mengalami penurunan.
Berdasarkan hal tersebut, dengan penambahan
gula kadar antosianin semakin menurun.
Penurunan
kadar
antosianin
berbanding terbalik dengan penambahan kadar
gula. Semakin tinggi kadar gula yang
ditambahkan, semakin rendah kadar antosianin
yang terkandung. Efek penurunan antosianin
terjadi sebagai akibat adanya degradasi gula
menjadi furfural dan 5- hydroxymethylfurfural yang terbentuk pada kondisi asam dan
gula dipanaskan secara bersamaan dan
bereaksi dengan antosianin membentuk produk
berwarna coklat.
Hal ini kemungkinan karena dengan
adanya kadar gula yang tinggi akan
menyebabkan degradasi warna merah sehingga
warna merah terlihat makin pudar. Menurut
deMan (1997), konsentrasi gula yang lebih
tinggi
dan
adanya
oksigen
akan
mengakibatkan kerusakan pigmen yang lebih
besar.
KESIMPULAN

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016)

Kadar protein sampel tepung kacang


koro benguk berdasarkan percobaan berkisar
antara 27,52%-27,83% . Hasil tersebut sudah
sesuai dengan literature. Hasil analisis kadar

antosianin serbuk ekstrak bunga telang 0%


yaitu berkisar antara 4,371%-8,3920%, kadar
pigmen antosianin serbuk ekstrak bunga telang
10% berkisar antara 3,4035%-6,724%, kadar
pigmen antosianin serbuk ekstrak bunga telang
20%
berkisar
antara
4,5%-5,3889%.
Penurunan kadar antosianin ini berbanding
terbalik dengan konsentrassi gula yang
ditambahkan. Semakin tinggi konsentrasi gula
pada serbuk bunga telang maka kadar pigmen
antosianin semakin rendah karena sebagian
pigmen terdegradasi.
DAFTAR PUSTAKA
Andarwulan dkk, 2011, Analisis Pangan. Dian
Rakyat. Jakarta
Bambang Kuswijayanto. 1990. Aktivitas
Tripsin
Inhibitor
Selama
Proses
Pembuatan Tempe Kara Benguk
(Mucuna pruriens), Tolo Putih (Vigna
unguiculata), dan Gude (Cajanus cajan).
Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian
UGM. Yogyakarta.
Budianto, A.K. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Gizi.
Cetakan keempat. Malang : Penerbit
UMM Press
.
Dharmahendra Khumar Misra. 2008. Kinetic
Parameter
Estimation
for
Degradation of Anthocyanins in
Grape Pomace. Michigan State
University.Dept. of Biosystems and
Agricultural Engineering.
Fennema. 1996. Food Chemistry. 3thEdition.
New York: Marcel Dekker, Inc
Gaman, P.M.1992. Pengantar Ilmu Pangan
Nutrisi dan Mikrobiologi. Edisi
Kedua.
Yoyakarta
:
Penerbit
Universitas Gadjah Mada Press
Harborne, J. B. 1996. Metode Fitokimia
Penuntun
Cara
Menganalisis
Tumbuhan.
Terjemahan
Padmawiyata, K., dan Soediro, I.
ITB. Bandung. Hal.69-94.
Jackman,

R. L. dan Smith,
1996.Anthocyanins
Betalains.Natural

J.

L.
and
Food

Colorants.Second Edition.Chapman
and Hall. London. Hal.183-241.
Lydia Wijaya S., Simon B. Widjanarko, dan
Tri
Susanto,
Ekstraksi
dan
Karakterisasi Pigmen dari Kulit
Buah
Rambutan
(Nephelium
Lappaceum) Var. Binjai, Jurnal
Teknologi Pangan dan Gizi, Volume
2 Nomor 1, Universitas Brawijaya:
Malang, 2001
Nielsen, S.S. 2003. Food Analysis Third
Edition. Kluwer Academic / Plenum
Publishers, New York
Rene

Nursaerah
Mulki
Lazuardi,
Mempelajari Ekstraksi Pigmen
Antosianin dari Kulit Manggis
(Garcinia mangostana L) dengan
Berbagai Jenis Pelarut, Tugas Akhir,
Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas
Teknik,
Universitas
Pasundan:
Bandung, 2010.

Ryan Moulana, Juanda, Syarifah, Ria Rosika,


Efektivitas
Penggunaan
Jenis
Pelarut dan Asam Dalam Proses
Ekstraksi
Pigmen
Antosianin
Kelopak Bunga Rosella (hibiscus
sabdariffa l). Jurnal Teknologi Hasil
Pertanian Indonesia, Vol. (4) No.3,
Fakultas Pertanian, Universitas Syiah
Kuala: Banda Aceh, 2012.
Sari, P., Agustina, F., Komar, M., Unus, Fauzi,
M., dan Lindriati, T. 2005
Talavera , S., Felgine., C., dan Texier, O. 2004.
Bioavailability of a Bilberry
Anthocyanin Extract and Its Impact
on Plasma Antioxidant Capacity in
Rats,
Alaboratoire
De
Pharmacognoise,
Faculte
De
Pharmacie,
Clemont_Ferrand,
France, Blaboratoire Des Maladies
mMetaboliques
Et
Des
Micronutriments, InsitutNational De
La Recherche Agronomique De
Clermont-Ferrand/Theix Saint-Genes
Champanelle, France, Journal Of The
Science Of Food Of Agriculture
(2005).

Xavier, Alexandro Candido, dkk. 2008.


Hyperspectral Field Reflectance
Measurements To Estimate Wheat

Grain 74 Yield And Plant Height.


Universidade Federal do Esprito
Santo, Brasil.