Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Satu dari delapan orang wanita di Amerika Serikat mempunyai massa hidup
berisiko untuk mengalami kanker payudara. Insidennya terus meningkat sementara
mortalitasnya tetap sama. Tipe kanker payudara yang paling umum adalah karsinoma
duktal infiltrasi (75 % kasus). Tumor ini keras saat palpasi, biasanya bermentastasis ke
nodus aksilaris, dan mempunyai prognosis yang lebih buruk ketimbang kanker payudara
tipe yang lain. Karsinoma lobular infiltrasi bertanggungjawab untuk 5-10% kasus.
Tumor ini hadir dengan tumor multicenter dan penebalan yang berbatas jelas. Nodus
aksilaris yang terkena sama pada karsinoma duktal infiltrate, tetapi tempat
bermetastasisnya berbeda. Karsinoma duktal biasanya menyebar ke tulang, paru, hepar,
atau otak, sementara karsinoma lobular bermetastasis ke permukaan meningeal atau
pada tempat lain yang tidak lazim. Ada banyak tipe kanker payudara lainnya
ditunjukkan dengan berbagai persentasi dan prognosis. Sekarang ini tidak ada obatnya
untuk kanker payudara. Tidak ada satupun penyebab yang spesifik; nampaknya
serangkai genetic, hormonal, dan peristiwa lingkungan dapat menunjang pada
perkembangan kanker ini. Jika nodus limfe tidak terkena, maka prognosisnya akan lebih
baik. Kunci untuk peningkatan penyembuhan adalah diagnosa dini sebelum
metabolisme.
1.2 Tujuan Penulisan
A. Tujuan Umum
Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan yang tepat pada pasien dengan
kanker mamae.
B. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi konsep dari kanker mamae meliputi definisi, etiologi,
patofisiologi, pencegahan, komplikasi dan penatalaksanaan yang tepat dari
kanker mamae.
b. Mengidentifikasi asuhan keperawatan mulai dari pengkajian, analisa data,
diagnosa, dan rencana asuhan keperawatan.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka kelompok membuat rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Konsep Dasar Kanker Mamae

a. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari Kanker Mamae?


b. Apakah defenisi dari Kanker Mamae?
c. Apakah penyebab dan Stadium dari Kanker Mamae?
d. Apa manifestasi klinis dan pemeriksaan penunjang Kanke Mamae?
e. Bagaimana patofisiologi pada Kanker Mamae?
f. Apa saja komplikasi dari Kanker Mamae?
g. Bagaimana penatalaksanaan dari Hiper Kanker Mamae?
2. Konsep Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
b. Diagnosa Keperawatan
c. Rencana Asuhan Keperawatan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi
a. Anatomi Mamae
Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot
penyokong lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe. Pada bagian lateral ats
kelenjar payudara, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya kearah aksila, disebut
penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap payudara terdiri atas 12-20 lobulus
kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran ke papilla mammae, yang
disebut duktus lactiferous. Diantara kelenjar susu dan fasia pectoralis, juga diantara
kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara lobules tersebut
ada jaringan ikat yang disebut ligamnetum cooper yang memberi rangka untuk
payudara.

Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang a. perforantes anterior dan a.


mammaria interna, a. torakalis lateralis yang bercabang dari a. aksilaris, dan beberapa a.
interkostalis.
Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.
interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus saraf simpatik. Ada beberapa
saraf lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit paralisis dan mati rasa pasca
bedah, yakni n. intercostalis dan n. kutaneus brakius medialis yang mengurus
sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas.
Penyaliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke
kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan adapula
penyaliran yang ke kelenjar interpectoralis. Pada aksila terdapat rata-rata 50 buah
kelenjar getah bening yang berada disepanjang arteri dan vena brakialis.
Jalur limfe lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang selain menuju ke
kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila kontralateral,
ke m. rectus abdominis lewat ligamentum falsiparum hepatis ke hati, pleura dan
payudara kontralateral.

b. Fisiologi Mamae
Payudara merupakan kelenjar tubuloalveolar yang bercabang-cabang, terdiri atas
15-20

lobus

yang

dikelilingi

oleh

jaringan

ikat

dan

lemak.

Tiap

lobus

mempunyai duktus ekskretorius masing-masing yang akan bermuara pada puting susu,
disebut duktus laktiferus, yang dilapisi epitel kuboid selapis yang rendah, lalu ke duktus
alveolaris yang dilapisi epitel kuboid berlapis, kemudian bermuara ke duktus
laktiferus yang berakhir pada putting susu.
Ada 3 hal fisiologik yang mempengaruhi payudara, yaitu :
a)

Pertumbuhan dan involusi berhubungan dengan usia

b)

Pertumbuhan berhubungan dengan siklus haid

c)

Perubahan karena kehamilan dan laktasi.

2.2 Definisi
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara.
3

Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias bermestastase pada bagianbagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun
diatas tulang belikat. Seain itu sel-sel kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati,
kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005)
Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen
yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara (Karsono,
2006).
Kanker payudara adalah neoplasma ganas, suatu pertumbuhan jaringan
payudara abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltratif dan
destruktif, serta dapat bermetastase. (Ramli, 1994)
2.3 Stadium
a) Stadium 1
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi pada kulit dan otot
pektoralis.
b) Stadium 2a
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter kurang 5 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.
c) Stadium 2b
Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.
d) Stadium 3a
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa
penyebaran jauh
e) Stadium 3b
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
terdapat penyebaran jauh berupa metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan
limfonodus (LN) supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau menginfiltrasi /
menyebar ke kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema pada tangan.
4

Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa juga
luka bernanah di payudara. Didiagnosis sebagai Inflamatory Breast Cancer. Bisa sudah
atau bisa juga belum menyebar ke pembuluh getah bening di ketiak dan lengan atas, tapi
tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh
f) Stadium 3c
Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe
infraklavikularipsi lateral, atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis kelenjar
limfe mammaria interna dan metastase kelenjar limfe aksilar, atau metastasis kelenjar
limfe supra klavikularipsi lateral.
g) Stadium 4
Tumor yang mengalami metastasis jauh, yaitu : tulang, paru-paru, liver
atautulangrusuk.
2.4 Etiologi
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor
resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :
a. Tinggi melebihi 170 cm
b. Masa reproduksi yang relatif panjang
c. Faktor Genetik
d. Ca Payudara yang terdahulu
e. Keluarga
Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini, dikuatkan bila 3
anggota keluarga terkena carsinoma mammae.
f. Kelainan payudara ( benigna )
Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah ditunjukkan
bahwa wanita yang menderita / pernah menderita yang porliferatif sedikit
meningkat.
g. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain
h. Faktor endokrin dan reproduksi
Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30 tahun, Menarche
kurang dari 12 tahun
i. Obat anti konseptiva oral
Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun mempunyai resiko
lebih besar untuk terkena kanker.

2.5 Manifestasi Klinis


a) Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara
b) Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena mulai
timbul pembengkakan
c) Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting susu,
mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara
d) Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas
e) Ada cairan yang keluar dari puting susu
f) Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan
terjadi retraksi
g) Ada rasa sakit
h) Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium darah
i)
j)
k)
l)

meningkat
Ada pembengkakan didaerah lengan
Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.
Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar.
Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah

diobati, serta puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam.
m) Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d' Orange).
n) Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah.
o) Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat tubuh lain
2.6 Patofisiologi
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi:
a) Fase Inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang
memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh
suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi
(penyinaran) atau sinar matahari. tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama
terhadap suatu karsinogen. kelainan genetik dalam sel atau bahan lainnya yang disebut
promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. bahkan gangguan
fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu
keganasan.
b) Fase Promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah
menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh
promosi. karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan
dari sel yang peka dan suatu karsinogen).
6

Kanker mammae merupakan penyebab utama kematian pada wanita karena


kanker (Maternity Nursing, 1997). Penyebab pasti belum diketahui, namun ada
beberapa teori yang menjelaskan bagaimana terjadinya keganasan pada mammae, yaitu:
a. Mekanisme hormonal, dimana perubahan keseimbangan hormone estrogen dan
progesterone yang dihasilkan oleh ovarium mempengaruhi factor pertumbuhan sel
mammae (Smeltzer & Bare, 2002).
Dimana salah satu fungsi estrogen adalah merangasang pertumbuhan sel
mammae .Suatu penelitian menyatakan bahwa wanita yang diangkat ovariumnya
pada usia muda lebih jarang ditemukan menderita karcinoma mammae, tetapi hal
itu tidak membuktikan bahwa hormone estrogenlah yang, menyebabkan kanker
mammae pada manusia. Namun menarche dini dan menopause lambat ternyata
disertai peninmgkatan resiko Kanker mammae dan resiko kanker mammae lebih
tinggi pada wanita yang melahirkan anak pertama pada usia lebih dari 30 tahun.
b. Virus, Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa
abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.
c. Genetik
d. Defisiensi imun
Defisiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan produksi
interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan jaringan
kanker dan meningkatkan aktivitas antitumor. Gangguan proliferasi tersebut akan
menyebabkan timbulnya sel kanker pada jaringa epithelial dan paling sering pada
system duktal. Mula-mula terjadi hyperplasia sel dengan perkembangan sel atipikal.
Sel ini akan berlanjut menjadi karsinoma in situ dan menginvasi stroma. Kanker
butuh waktu 7 tahun untuk dapat tumbuh dari sebuah sel tunggal menjadi massa
yang cukup besar untuk bias diraba. Invasi sel kanker yang mengenai jaringan yang
peka terhadap sensasi nyeri akan menimbulkan rasa nyeri, seperti periosteum dan
pelksus saraf. Benjolan yang tumbuh dapat pecah dan terjadi ulserasi pada kanker
lanjut.
Pertumbuhan sel terjadi irregular dan bisa menyebar melalui saluran limfe
dan melalui aliran darah. Dari saluran limfe akan sampai di kelenjer limfe
menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjer limfe regional. Disamping itu juga
bisa menyebabkan edema limfatik dan kulit bercawak (peau d orange).
Penyebaran yang terjadi secara hematogen akan menyebabkan timbulnya metastasis

pada jaringan paru, pleura, otak tulang (terutama tulang tengkorak, vertebredan
panggul)
Pada tahap terminal lanjut penderita umumnya menderita kehilangan
progersif lemak tubuh dan badannya menjadi kurus disertai kelemahan yang sangat,
anoreksia dan anemia. Simdrom yang melemahkan ini dinyatakan sebagai kakeksi
kanker.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan payudara sendiri
b) Pemeriksaan payudara secara klinis
c) Pemeriksaan manografi
d) Biopsi aspirasi
e) True cut
f) Biopsi terbuka
g) USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy medis,
pembedahan, terapi radiasi dan kemoterapi.
2.8 Komplikasi
a) metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan pembuluh darahkapiler
( penyebaran limfogen dan hematogen0, penyebarab hematogen dan limfogen
b)
c)
d)
e)

dapat mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang, otak, syaraf.


gangguan neuro varkuler
Faktor patologi
Fibrosis payudara
Kematian

2.9 Penatalaksanaan
1. Pembedahan
a) Mastectomy radikal yang dimodifikasi
Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis
mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis
minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.
b) Mastectomy total
Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot
pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot dinding
dada tidak diangkat.
c) Lumpectomy/tumor

Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut diangkat.
Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara normal yang
berada di sekitar tumor tersebut.
d) Wide excision/mastektomy parsial.
Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.
e) Ouadranectomy
Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot pectoralis
mayor.
2. Radiotherapy
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula
merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di sekitarnya,
kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang
tenggorokan.
3. Chemotherapy
Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran darah.
Efek samping: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat,
mudah terserang penyakit.
4. Manipulasi hormonal
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah
bermetastase. Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat juga
digabung dengan therapi endokrin lainnya.

2.10 WOC

10

11

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang
menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak
dan nyeri.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae,
kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada sehingga
pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap penyakit
kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada kemungkinan
klien mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah mengidap penyakit
kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
: normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat dengan
tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
b. Rambut
: biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu
berminyak.
c. Mata
: biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata
anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
d. Telinga
: normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda
e.
f.
g.
h.

infeksi dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.


Hidung
: bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
Mulut
: mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
Leher
: biasanya terjadi pembesaran KGB.
Dada
: adanya kelainan kulit berupa peau dorange, dumpling, ulserasi

atau tanda-tanda radang


i. Hepar
: biasanya tidak ada pembesaran hepar.
j. Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.
5. Pengkajian Pola Fungsional Gordon
a. Persepsi dan Manajemen
Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada
payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.
b. Nutrisi Metabolik
12

Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan
terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan
mengandung MSG.
c. Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri
saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
d. Aktivitas dan Latihan
Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien
terganggu karena terjadi kelemahan dan nyeri.
e. Kognitif dan Persepsi
Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan
ada komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.
f. Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.
g. Persepsi dan Konsep Diri
Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat
operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya
sebagai wanita normal.
h. Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam
melakukan perannya dalam berinteraksi social.
i. Reproduksi dan Seksual
Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat
kepuasan.
j. Koping dan Toleransi Stress
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus
asaan.
k. Nilai dan Keyakinan
Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan
lapang dada.
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Scan (mis, MRI, CT, gallium) dan ultrasound. Dilakukan untuk diagnostik,
identifikasi metastatik dan evaluasi.
13

b.
c.
d.
e.

biopsi : untuk mendiagnosis adanya BRCA1 dan BRCA2


Penanda tumor
Mammografi
sinar X dada

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembedahan, mis;
2.
3.
4.
5.

anoreksia
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses pembedahan
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bedahpengangkatanjaringan
Ansietas berhubungan dengan diagnosa, pengobatan, dan prognosanya
Kurang pengetahuan tentang Kanker mammae berhubungan dengan kurang

pemajanan informasi
6. Gangguan body image berhubungan dengan kehilangan bagian dan fungsi tubuh
3.3 Rencana Asuhan Keperawatan
N
O
1.

DIAGNOSA
Nutrisi
dari

TUJUAN/ KH

kurang Setelah
kebutuhan tindakan

INTERVENSI

dilakukan keperawatan

tubuh

selama 3x24 jam nutrisi

berhubungan

kembali normal.

dengan

KH :

pembedahan, mis; -BB


anoreksia

meningkat

tujuan
-Tidak
ada
malnutrisi

Kaji adanya alergi makanan


Kolaborasi dengan ahli gizi

untuk

menentukan jumlah kalori dan nutrisi


-

yang dibutuhkan pasien.


Anjurkan pasien untuk meningkatkan

sesuai -

intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan

tanda -

protein dan vitamin C


Berikan substansi gula
Yakinkan
diet
yang
mengandung

tinggi

serat

dimakan
untuk

mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih ( sudah

dikonsultasikan dengan ahli gizi)


Ajarkan pasien bagaimana membuat

catatan makanan harian.


Monitor jumlah nutrisi dan kandungan

kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan

nutrisi
Kaji
kemampuan

pasien

untuk

mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

14

2.

Gangguan

rasa Setelah

nyaman

nyeri tindakan

berhubungan
dengan

dilakukan keperawatan

pembedahan

lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,

selama 3x24 jam nyeri

proses hilang atau berkurang.


Kriteria Hasil :

kualitas dan faktor presipitasi


Observasi
reaksi
nonverbal

ketidaknyamanan
Gunakan teknik komunikasi terapeutik

-Melaporkan bahwa nyeri


hilang atau berkurang
-Wajah rileks

Kaji nyeri secara komprehensif termasuk

dari

untuk mengetahui pengalaman nyeri


-

pasien
Kaji kultur yang mempengaruhi respon

nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan lain tentang ketidakefektifan

kontrol nyeri masa lampau


Bantu pasien dan keluarga untuk mencari

dan menemukan dukungan


Kontrol
lingkungan
yang

dapat

mempengaruhi

suhu

nyeri

seperti

ruangan, pencahayaan dan kebisingan


Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan inter

Kerusakan
integritas

Setelah
kulit tindakan

personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk

menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi
Berikan analgetik untuk mengurangi

nyeri
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika ada

keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil


Monitor penerimaan pasien tentang

dilakukan -

manajemen nyeri
Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
Monitor status nutrisi pasien
Memandikan pasien dengan air hangat
Anjurkan pasien untuk menggunakan

keperawatan

15

pakaian yang longgar

berhubungan

selama

2x24

jam dapat

dengan

integritas

kulit

bedahpengangkat

menunjukkan perbaikan.

anjaringan

Kriteria Hasil:

-Integritas kulit yang baik bisa


dipertahankan
(sensasi,

dan kering
Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
setiap dua jam sekali
Monitor kulit akan adanya kemerahan
Oleskan lotion atau minyak/baby oil
pada daerah yang tertekan

elastisitas,

temperatur,

Hindari kerutan pada tempat tidur


Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih

hidrasi,

pigmentasi)
-Tidak ada luka/lesi pada

4.

Ansietas
berhubungan

kulit
-Perfusi jaringan baik
Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan
-

pelaku pasien
Jelaskan semua prosedur dan apa yang

dirasakan selama prosedur


Temani pasien untuk

keamanan dan mengurangi takut


Berikan informasi faktual mengenai

gejala cemas
Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan -

diagnosis, tindakan prognosis


Dorong keluarga untuk menemani anak
Lakukan back / neck rub
Dengarkan dengan penuh perhatian
Identifikasi tingkat kecemasan
Bantu pasien mengenal situasi yang

dengan diagnosa, selama 1x24 jam ansietas


pengobatan,
prognosanya

dan berkurang

dan

klien baik
Kriteria Hasil :
- Klien

koping

mampu

mengidentifikasi dan
mengungkapkan
-

Gunakan pendekatan yang menenangkan


Nyatakan dengan jelas harapan terhadap

menunjukkan
untuk

tehnik

mengontol

cemas
Vital sign dalam batas

normal
Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh
dan tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

16

memberikan

menimbulkan kecemasan
Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi
Instruksikan pasien menggunakan teknik
relaksasi
kolaborasi dalam memberikan obat untuk
mengurangi kecemasan

Kurang

Setelah

pengetahuan

tindakan

tentang

Kanker

dan

berhubungan

tentang

Kaji

keperawatan

keluarga tentang proses penyakit


jelaskan tentang patofisiologi penyakit,

penyakitnya, -

tanda dan gejala serta penyebabnya


Sediakan informasi tentang kondisi klien
Berikan informasi tentang perkembangan

keluarga

paham

kurang dengan kriteria hasil :

pemajanan

informasi

Pasien dan keluarga

klien
Diskusikan perubahan gaya hidup yang

mungkin diperlukan untuk mencegah

menyatakan

pemahaman

tentang

penyakit,

kondisi,

prognosis

dan

komplikasi di masa yang akan datang


dan atau kontrol proses penyakit
jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan

atau terapi
Gambarkan komplikasi yang mungkin

program pengobatan Pasien dan keluarga

terjadi
Anjurkan klien untuk mencegah efek

mampu melaksanakan -

tingkat pengetahuan klien dan

selama 1x24 jam klien

mammae
dengan

dilakukan -

prosedur

yang

dijelaskan

secara

samping dari penyakit


Gali sumber-sumber atau dukungan yang

ada
Anjurkan klien untuk melaporkan tanda

benar
Pasien dan keluarga

dan gejala yang muncul pada petugas

mampu menjelaskan
kembali

apa

kesehatan

yang

dijelaskan
perawat/tim kesehatan
6

Gangguan

lainnya
body Setelah

dilakukan

image

tindakan

berhubungan

selama 1x24 jam klien

dengan

keperawatan

dapat menerima kondisi

kehilangan bagian dirinya akibat penyakit,


dan fungsi tubuh

dengan criteria hasil:


-

Klien
dengan

tidak

Diskusikan dengan klien atau orang


terdekat

respon

keadaan

dirinya.
Klien dapat menerima
efek pembedahan.
17

terhadap

penyakitnya.
Tinjau ulang efek pembedahan
Berikan dukungan emosi klien
Anjurkan keluarga klien untuk selalu
mendampingi klien

malu

klien

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara
yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk
benjolan di payudara. Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias
bermestastase pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada
kelenjar getah bening ketiak ataupun diatas tulang belikat. Seain itu sel-sel
kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit.
Gejala kanker payudara antara lain : teraba adanya massa atau benjolan
pada payudara, payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan
ukuran karena mulai timbul pembengkakan, ada perubahan kulit : penebalan,
cekungan, kulit pucat disekitar puting susu, mengkerut seperti kulit jeruk purut
dan adanya ulkus pada payudara, ada perubahan suhu pada kulit, ada cairan yang
keluar dari puting susu, da perubahan pada puting susu (gatal, ada rasa seperti
terbakar, erosi dan terjadi retraksi), ada rasa sakit, penyebaran ke tulang
sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium darah meningkat, ada
pembengkakan didaerah lengan, adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara,
semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar, mulai timbul luka pada
payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah diobati, kulit payudara
menjadi berkerut seperti kulit jeruk, benjolan menyerupai bunga kobis dan
mudah berdarah dan metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan
alat tubuh lain.
Asuhan Keperawatan yang digunakan yaitu nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh, gangguan rasa nyaman nyeri, kerusakan integritas kulit,
Ansietas, kurang pengetahuan dan gangguan body image.
4.2 Saran
Sebagai seorang perawat, kita sebaiknya tahu banyak tentang penyakit
kanker payudara serta memahami konsep dan asuhan keperawatannya yang pada

18

klien dengan kanker payudara (ca.mamae) sehingga dapat menjadi acuan dan
bekal dalam persiapan praktik di rumah sakit.
Daftar Pustaka
Erick, T. 2005. Kanker, Antioksidan dan terapi komplementer. Jakarta : Gramedia
Karsono, B. 2006. Teknik-Teknik Biologi Molekular Dan Selular Pada Kanker. Dalam
Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, L, Simadibrata, M.K., & Setiati, S. 2006.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. edisi 3. Jakarta: Pusat Penerbit Departemen
Penyakit Dalam FKUI
Ramli, M., et ak. 1994. Ilmu Bedah. Jakarta: Bagian BedahStaf Pengajar Fakultas
Kedokteran Indonesia
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius
Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatyan px) Jakarta : EGC
Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi
10.Jakarta:EGC

19