Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
Kata anestesia diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang
menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian
obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri saat pembedahan. Anestesi berasal
dari bahasa Yunani an- yang artinya "tidak, tanpa" dan aesthetos yang artinya
"persepsi, kemampuan untuk merasa", secara umum anestesia berarti suatu
tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan
berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh (Latief dkk,
2002).
Secara umum anestesi dibagi menjadi dua, yang pertama anestesi total, yaitu
hilangnya kesadaran secara total dan anestesi regional yaitu anestesi pada
sebagian tubuh, keadaan bebas nyeri sebagian tubuh tanpa kehilangan kesadaran.
Komponen anestesi yang ideal (trias anestesi) terdiri dari hipnotik, analgesia dan
relaksasi otot. Praktek anestesi umum juga termasuk mengendalikan pernapasan
dan pemantauan fungsi-fungsi vital tubuh selama prosedur anestesi. Tahapannya
mencakup induksi, maintenance, dan pemulihan.
Anestesi umum dapat menggunakan agen intravena, inhalasi, intramuskular
dan per rektal. Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa anestesi umum mungkin
tidak selalu menjadi pilihan terbaik, tergantung pada presentasi klinis pasien.
Anestesi lokal atau anestesi regional mungkin dapat lebih tepat. Penyedia anestesi
bertanggung jawab untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi kondisi
medis pasien dan memilih teknik anestesi yang optimal dan sesuai (Abou et al.,
2015).
Tujuan anestesi dilakukan secara umum adalah untuk menciptakan
ketidaksadaran yang aman dan reversibel, mengoptimalisasi respon fisiologis, dan
menciptakan keadaan operasi yang kondusif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Anastesi Umum

Anastesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai


hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversible) (Joenoerham dan
Latief, 2014). Anestesi umum merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan
hilangnya persepsi terhadap semua sensasi akibat induksi obat. Dalam hal ini,
selain hilangnya rasa nyeri, kesadaran juga hilang (Munaf, 2008).
Dengan anestesi umum akan diperoleh trias anesthesia, yaitu (Muhiman
dan Sunatrio, 2002):
a. Hipnotik
Hipnotik didapat dari sedatif, ataupun anestesi inhalasi (halotan, enfluran,
isofluran, sevofluran).
b. Analgesia
Analgesia didapat dari N2O, analgetika narkotik, atau NSAID tertentu.
c. Relaksasi otot,
Relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi tegangnya tonus otot sehingga
akan mempermudah tindakan pembedahan.
2.2. Indikasi dan Kontraindikasi Anastesi Umum
Indikasi anestesi umum diantaranya (ASA, 2009):
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Operasi di sekitar kepala, leher, intra-torakal atau intra-abdomen


Pada bayi atau anak-anak
Pasien gelisah, tidak kooperatif atau disorientasi gangguan jiwa
Pembedahan lama
Pembedahannya luas atau ekstensif
Memiliki riwayat alergi terhadap anestesi lokal
Pasien yang memilih anestesi umum
Kontraindikasi relatif dilakukannya anestesi umum yaitu gangguan

kardivaskular yang berat, hipertensi berat/ tak terkontrol (diastolik >110), DM tak
terkontrol, infeksi akut, sepsis, GNA. Tergantung pada efek farmakologi pada
organ yang mengalami kelainan. Pada pasien dengan gangguan hepar, harus
dihindarkan pemakaian obat yang bersifat hepatotoksik. Pada pasien dengan
gangguan jantung, obat obatan yang mendepresi miokard atau menurunkan
aliran koroner harus dihindari atau dosisnya diturunkan. Pasien dengan gangguan
ginjal, obat obatan yang diekskresikan melalui ginjal harus diperhatikan. Pada
paru, hindarkan obat yang memicu sekresi paru, sedangkan pada bagian endokrin
hindari obat yang meningkatkan kadar gula darah, obat yang merangsang susunan
2

saraf simpatis pada penyakit diabetes Basedow karena dapat menyebabkan


peningkatan kadar gula darah (Joenoerham dan Latief, 2014).
2.3.

Kelebihan dan Kekurangan Anastesi Umum

2.3.1. Kelebihan (Sebel et al., 2004):


a.
b.
c.
d.

Mengurangi kesadaran dan ingatan pasien selama operasi


Membuat pasien lebih tenang
Memungkinkan relaksasi otot untuk jangka waktu yang lama
Dapat mempertahankan jalan napas, pernapasan dan sirkulasi yang

adekuat
e. Dapat digunakan pada pasien yang sensitive/ alergi terhadap agen
anestetik lokal
f. Dapat dilakukan tanpa merubah posisi pasien dari posisi supine
g. Dapat dengan mudah disesuaikan pada durasi yang tidak terduga atau
lebih lama
h. Dapat diberikan dengan cepat dan bersifat reversible
2.3.2. Kerugian (Sebel et al., 2004):
a.
b.
c.
d.

Membutuhkan pemantauan ekstra selama anestesi berlangsung


Membutuhkan perawatan yang lebih rumit dan biaya yang lebih besar
Membutuhkan beberapa persiapan preoperatif
Dapat menginduksi fluktuasi fisiologi yang membutuhkan intervensi

aktif
e. Berhubungan dengan komplikasi seperti mual, muntah, sakit
tenggorokan, sakit kepala, menggigil dan lamanya perbaikan
psikomotorik
Kemajuan obat-obatan dan alat pemantau perubahan fisiologis tubuh yang
semakin baik menurunkan risiko kematian akibat tindakan anestesi dalam suatu
prosedur bedah menjadi kurang dari 1:100.000 kejadian. Komplikasi minor yang
seringkali muncul pada pasien sehat sebelumnya sebagai gejala pada 24 jam
pertama pasca operasi antara lain, keluhan muntah 10-20%, mual 10-40%, sakit
tenggorokan 25%, dan nyeri pada lokasi operasi 30% (Jenkins, 2003).
2.4. Stadium Anestesi
Kedalaman anestesi harus dimonitor terus menerus oleh pemberi anestesi,
agar tidak terlalu dalam sehingga membahayakan jiwa penderita, tetapi cukup
3

adekuat untuk melakukan operasi. Semua zat anestetik menghambat SSP secara
bertahap.
Stadium aestesia (anesthesia stages) dibuat berdasarkan efek ether. Ether
merupakan zat anestetik volatil yang poten dan digunakan luas pada jamannya.
Selama masa penggunaan ether yang lama, dilakukan observasi dan pencatatan
lengkap mengenai anestesi yang terjadi. Kedalaman anestesi dinilai berdasarkan
tanda klinik yang didapat. Guedel membagi kedalaman anestesi menjadi 4
stadium dengan melihat pernafasan, gerakan bola mata, tanda pada pupil, tonus
otot dan refleks pada penderita yang mendapat anestesi ether (Soenarto dan
Dachlan, 2012).
a. Stadium I
Disebut juga stadium analgesi atau stadium disorientasi atau stadium induksi.
Dimulai sejak diberikan obat induksi sampai hilangnya kesadaran. Pada
stadium ini operasi kecil bisa dilakukan, seperti pencabutan gigi dan biopsi
kelenjar. Stadium ini berakhir ditandai oleh hilangnya refleks bulu mata.
b. Stadium II
Disebut juga stadium delirium atau stadium eksitasi. Dimulai dari hilangnya
kesadaran sampai nafas teratur. Dalam stadium ini setelah kesadaran hilang,
timbul eksitasi dan delirium. Penderita bisa meronta ronta, pernafasan
irregular, pupil melebar, refleks cahaya positif gerakan bola mata tidak
teratur, lakrimasi (+), tonus otot meninggi, reflex fisiologi masih ada, dapat
terjadi batuk atau muntah, kadang-kadang kencing atau defekasi. Stadium ini
diakhiri dengan hilangnya refleks menelan dan kelopak mata dan selanjutnya
nafas menjadi teratur. Stadium ini membahayakan penderita, karena itu harus
segera diakhiri. Keadaan ini bisa dikurangi dengan memberikan premedikasi
yang adekuat, persiapan psikologi penderita dan induksi yang halus dan tepat.
Keadaan emergency delirium juga dapat terjadi pada fase pemulihan dari
anestesi.
c. Stadium III
Disebut juga stadium operasi. Dimulai dari nafas teratur sampai paralise otot
nafas. Stadium ini ditandai oleh hilangnya pernapasan spontan, hilangnya
4

refleks kelopak mata dan dapat digerakkannya kepala ke kiri dan kekanan
dengan mudah. Stadium in dibagi menjadi 4 plane:
1) Plane I: Dari nafas teratur sampai berhentinya gerakan bola mata. Ditandai
dengan nafas teratur, nafas torakal sama dengan abdominal. Gerakan bola
mata berhenti, pupil mengecil, refleks cahaya (+), lakrimasi meningkat,
reflex faring dan muntah menghilang, tonus otot menurun.
2) Plane II: Dari berhentinya gerakan bola mata sampai permulaan paralisa
otot interkostal. Ditandai dengan pernafasan teratur, volume tidak menurun
dan frekuensi nafas meningkat, mulai terjadi depresi nafas torakal, bola
mata berhenti, pupil mulai melebar dan refleks cahaya menurun, refleks
kornea menghilang dan tonus otot makin menurun.
3) Plane III: Dari permulaan paralise otot interkostal sampai paralise seluruh
otot Interkostal. Ditandai dengan pernafasan abdominal lebih dorninan
dari torakal karena terjadi paralisis otot interkostal, pupil makin melebar
dan reflex cahaya menjadi hilang, lakrimasi negafif, reflex laring dan
peritoneal menghilang, tonus otot makin menurun.
4) Plane IV: Dari paralise semua otot interkostal sampai paralise diafragma.
Ditandai dengan paralise otot interkostal, pernafasan lambat, iregular dan
tidak adekuat, terjadi jerky karena terjadi paralise diafragma. Tonus otot
makin menurun sehingga terjadi flaccid, pupil melebar, refleks cahaya
negatif refleks spincter ani negative.
d.

Stadium IV
Dari paralisis diafragma sampai apneu dan kematian. Juga disebut stadium
over dosis atau stadium paralysis. Ditandai dengan hilangnya semua refleks,
pupil dilatasi, terjadi respiratory failure dan dikuti dengan circulatory failure.
Pasien sebaiknya tidak mencapai stadium ini karena itu berarti terjadi
kedalaman anestesi yang berlebihan.

Tabel 1. Tabel stadium anestesia menurut Guedel (Joenoerham dan Latief, 2014)
Respirasi

Stadia
I: Analgesia
sampai tidak
sadar
II: Sampai
Pernafasan
Teratur/Otomatis
III:
P1. Sampai
gerakan bola mata
hilang
P2. Sampai parese
otot lurik
P3. Sampai otot
napas lumpuh
P4. Sampai
diafragma lumpuh

IV: Henti nafas


henti jantung

Depresi
Refleks

Pupil

Ritme
Tidak
teratur

Volume
Kecil

Ukuran
Kecil

Letak
Divergen

Tidak
teratur

Besar

Lebar

Divergen

Bulu mata
kelopak
mata

Teratur

Besar

Kecil

Divergen

Kulit
konjungtiva

Teratur

Sedang

Lebar

Kornea

Teratur
pause
Tidak
teratur,
jerky,
napas
cepat &
panjang

Sedang

Lebar

Kecil

Lebar
maksimal

Menetap
ditengah
Menetap
ditengah
Menetap
ditengah

Faring
peritonium
Sfingter ani
dan karina

Tidak ada

2.5. Tanda Refleks Pada Mata


a. Refleks pupil
Pada keadaan teranestesi maka refleks pupil akan miosis apabila anestesinya
dangkal, midriasis ringan menandakan anestesi reaksinya cukup dan baik/

stadium yang paling baik untuk dilakukan pembedahan, midriasis maksimal


menandakan pasien meninggal.
b. Refleks bulu mata
Refleks bulu mata sudah disinggung tadi di bagian stadium anestesi. Apabila
saat diperiksa refleks bulu mata (-) maka pasien tersebut sudah pada stadium
1.
c. Refleks kelopak mata
Pemeriksaan refleks kelopak mata jarang dilakukan tetapi bisa digunakan
untuk memastikan efek anestesi sudah bekerja atau belum, caranya adalah
kita tarik palpebra atas ada respon tidak, kalau tidak berarti menandakan
pasien sudah masuk stadium 1 ataupun 2.
d. Refleks cahaya
Untuk refleks cahaya yang kita lihat adalah pupilnya, ada / tidak respon saat
diberikan rangsangan cahaya.
2.6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anestesi Umum
2.6.1. Faktor Respirasi
Pada setiap inspirasi sejumlah zat anestesika akan masuk ke dalam paruparu (alveolus). Dalam alveolus akan dicapai suatu tekanan parsial tertentu.
Kemudian zat anestesika akan berdifusi melalui membran alveolus. Epitel
alveolus bukan penghambat difusi zat anestesika, sehingga tekanan parsial dalam
alveolus sama dengan tekanan parsial dalam arteri pulmoner. Hal- hal yang
mempengaruhi hal tersebut adalah:
a. Konsentrasi

zat

anestesika

yang

dihirup/

diinhalasi;

makin

tinggi

konsentrasinya, makin cepat naik tekanan parsial zat anestesika dalam


alveolus.
b. Ventilasi alveolus; makin tinggi ventilasi alveolus, makin cepat meningginya
tekanan parsial alveolus dan keadaan sebaliknya pada hipoventilasi.
(Joenoerham dan Latief, 2014)
2.6.2.

Faktor Sirkulasi

Faktor sirkulasi terdiri dari sirkulasi arterial dan sirkulasi vena. Aliran darah
paru menentukan pengangkutan gas anestesi dari paru ke jaringan dan sebaliknya.

Pada gangguan pembuluh darah paru makin sedikit obat yang dapat diangkut
demikian juga pada keadaan cardiac output yang menurun. Faktor-faktor yang
mempengaruhi:
a. Perubahan tekanan parsial zat anestesika yang jenuh dalam alveolus dan
darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestesika diserap jaringan dan
sebagian kembali melalui vena.
b. Koefisien partisi darah dan gas yaitu rasio konsentrasi zat anestesika dalam
darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan
seimbang.
c. Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung. Makin banyak aliran
darah yang melalui paru makin banyak zat anestesika yang diambil dari
alveolus, konsentrasi alveolus turun sehingga induksi lambat dan makin lama
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat anesthesia yang adekuat.
Blood gas partition coefisien adalah rasio konsentrasi zat anestesi dalam
darah dan dalam gas bila keduanya dalam keadaan keseimbangan. Bila kelarutan
zat anestesi dalam darah tinggi/BG koefisien tinggi maka obat yang berdifusi
cepat larut di dalam darah, sebaliknya obat dengan BG koefisien rendah, maka
cepat terjadi keseimbangan antara alveoli dan sirkulasi darah, akibatnya penderita
mudah tertidur waktu induksi dan mudah bangun waktu anestesi diakhiri
(Joenoerham dan Latief, 2014).
2.6.3. Faktor Jaringan
a. Perbedaan tekanan parsial obat anestesika antara darah arteri dan jaringan.
b. Koefisien partisi jaringan/darah: kira-kira 1,0 untuk sebagian besar zat
anestesika, kecuali halotan.
c. Aliran darah terdapat dalam 4 kelompok jaringan:
1) Jaringan kaya pembuluh darah (JKPD): otak, jantung, hepar, ginjal.
Organ-organ ini menerima 70-75% curah jantung hingga tekanan parsial
zat anestesika ini meninggi dengan cepat dalam organ-organ ini. Otak
menerima 14% curah jantung.
2) Kelompok intermediat: otot skelet dan kulit.
3) Lemak: jaringan lemak
4) Jaringan sedikit pembuluh darah (JSPD): relative tidak ada aliran darah :
ligamen dan tendon.
(Joenoerham dan Latief, 2014)
8

2.6.4.

Faktor Zat Anestesika

Bermacam-macam zat anestesika mempunyai potensi yang berbeda-beda.


Untuk menentukan derajata potensi ini dikenal adanya MAC (minimal alveolar
concentration atau konsentrasi alveolar minimal) yaitu konsentrasi terendah zat
anestesika dalam udara alveolus yang mampu mencegah terjadinya tanggapan
(respon) terhadap rangsang rasa sakit. Makin rendah nilai MAC, makin tinggi
potensi zat anestesika tersebut (Joenoerham dan Latief, 2014).
2.6.5. Faktor Lain
a. Ventilasi : zat anestetika dengan koefisien partisi darah/gas rendah, efek
ventilasi minimal terhadap kecepatan pendalaman anestesi. Pada koefisien
partisi gas/ darah tinggi, makin besar ventilasi makin cepat meinnggi
tekanan parsial dalam alveolus dan darah ini mempercepat dalam
anestesia.
b. Curah jantung : zat anestestika dengan koefisien partisi gas/ darah rendah,
efek terhadap curah jantung minimal. Pada zat anestetika dengan koefisien
partisi darah/ gas tinggi, makin tinggi curah jantung, makin lambat induksi
dan kedalaman anestesia, demikian juga sebaliknya.
c. Suhu : makin turun suhu makin banyak larut dalam darah makin banyak
zat anestetika masuk ke dalam darah. Sehingga makin cepat dalam
anestesia.
(Joenoerham dan Latief, 2014)
2.7. Jenis-Jenis Anestesi Umum
Jenis-jenis anestesi umum dapat dibagi menjadi teknik anestesi spontan
dengan sungkup muka, teknik anestesi spontan dengan pipa endotrakeal, serta
teknik anestesi pipa endotrakeal dan napas kendali (Joenoerham dan Latief, 2014)
2.7.1.
Teknik Anestesi Spontan dengan Sungkup Muka (Face Mask)
Indikasi dari penggunaan teknik ini adalah untuk tindakan/operasi yang
singkat (0,5-1 jam) tanpa membuka rongga perut, keadaan umum pasien yang
cukup baik (PS ASA 1 atau 2), dan lambung harus kosong. Tahapan pelaksanaan
tindakan ini sebagai berikut:
1) Periksa peralatan yang akan digunakan.

2)
3)
4)
5)

Pasang infus dengan kanul intravena atau jarum kupu-kupu.


Persiapan obat.
Induksi anestesi contohnya menggunakan propofol 2-2,5 mg/kgBB.
Selesai induksi sampai pasien tertidur dan refleks bulu mata hilang, sungkup
muka ditempatkan pada muka. Sebaiknya posisi kepala diekstensikan agar

jalan napas bebas dan pernapasan lancar.


6) Bila pernapasan masih tidak lancar, dapat dilakukan manuver jaw thrust. Bila
perlu, dengan kedua tangan kita, ibu jari dan telunjuk yang memegang
sungkup muka dan dengan jari-jari yang lain menarik rahang ke atas.
7) N2O mulai diberikan 4 L dengan O2 2 L/menit untuk memperdalam anestesi,
bersamaan dengan halotan dibuka sampai 1% dan sedikit demi sedikit
dinaikkan sampai 3-4% tergantung reaksi tubuh penderita.
8) Kedalaman anestesi dinilai dari tanda-tanda bola mata menetap, nadi tidak
cepat, dan tidak banyak berubah terhadap rangsang operasi.
9) Bila stadium anestesi sudah cukup dalam, masukan pipa orofaring.
10) Halotan dapat dikurangi menjadi 1-1,5% dan dihentikan beberapa menit
sebelum operasi selesai, lalu N2O dihentikan dan penderita diberi O2 100%
beberapa menit untuk mencegah hipoksi difusi.
2.7.2.
Teknik Anestesi Spontan dengan Pipa Endotrakeal
Indikasi menggunakan teknik ini adalah pada operasi-operasi yang
memerlukan waktu yang lama dan kesulitan mempertahankan jalan napas bebas
pada anestesi dengan sungkup muka. Urutan tindakan yang dilakukan adalah:
1) Induksi dengan propofol. Sungkup muka dipasang dengan oksigen 4-6
L/menit, bila perlu napas dibantu dengan bagging. Sesudah refleks mata
menghilang diberikan suksinil kolin intravena 1-1,5 mg/kgBB. Pemberian
suksinil kolin mengakibatkan fasikulasi dan apnue. Napas dikendalikan
dengan menekan balon napas yang diisi dengan aliran O2 2 L.
2) Sesudah fasikulasi menghilang, pasien diintubasi.
3) Pipa Guedel dimasukkan di mulut agar pipa endotrakea tidak tergigit.
Kemudian difiksasi dengan plester.
4) Mata diplester agar tidak terbuka dan kornea tidak kering.
5) Pipa endotrakeal dihubungkan dengan konektor pada sirkuit napas alat
anestesi. N2O dibuka 3-4 L/menit dan O2 2 L/menit kemudian halotan dibuka
1 vol % dan cepat dinaikkan sampai 2 vol %. Napas pasien dikendalikan
dengan menekan balon napas (12-16 kali/menit).
6) Halotan dikurangi sampai 0,5-1,5% untuk pemeliharaan anestesi.
10

7) Napas dapat dibiarkan spontan kala usaha napas cukup kuat.


8) Kedalaman anestesi dipertahankan dengan kombinasi N2O dan O2 masingmasing 2 L/menit, serta halotan 1,5-2 vol%.
9) Untuk operasi yang memerlukan relaksasi otot seperti operasi perut dan
ortopedi, teknik anestesi dengan napas spontan tidak mencukupi karena oto
pasien harus lemah selama pembedahan.
10) Bila memekai teknik napas spontan, diperlukan obat anestesi banyak yang
dapat mendepresi pernapasan dan jantung. Untuk mencegah hal tersebut,
sebaiknya digunakan teknik napas kendali dengan memberikan obat pelemas
otot jangka panjang. Dengan demikian, dapat dicapai relaksasi otot yang baik
tanpa menggunakan obat anestesi yang banyak dan menghindarkan anestesi
yang terlalu dalam.
2.7.3.
Teknik Anestesi dengan Pipa Endotrakea dan Napas Kendali
1) Teknik anestesi dan intubasi sama seperti di atas.
2) Setelah pengaruh suksinil kolin mulai habis, diberi obat pelumpuh otot jangka
panjang misalnya alkuronium dosis 0.1-0.2 mg/kgBB.
3) Napas dikendalikan dengan respirator atau secara manual. Bila menggunakan
respirator, setiap inspirasi diusahakan 10 ml/kgBB dengan frekuensi 10-14
kali per menit. Apabila nafas dikendalikan secara manual harus diperhatikan
pergerakan dada kanan kiri yang simetris. Konsentrasi halotan sedikit demi
sedikit dikurangi dan dipertahankan dengan 0.5-1 %.
4) Obat pelumpuh otot dapat dimasukkan kembali dengan 1/3 dosis apabila
pasien tampak ada usaha mulai bernafas sendiri.
5) Halotan dapat dihentikan sesudah lapisan fasi kulit terjahit. N 2O dihentikan
kalau lapisan kulit mulai dijahit.
6) Ekstubasi dapat dilakukan setelah pasien dapat kembali bernapas spontan. O 2
diberi terus selama 2-3 menit untuk mencegah hipoksia difusi.
7) Jika napas sesudah ditunggu beberapa menit masih lemah, dapat diberikan
obat anti pelumpuh otot non depolarisasi sebelum di ekstubasi yang terdiri
dari kombinasi obat atropin 2 ampul (2 x 0,25 mg) dengan prostigmin 2
ampul (2 x 0,5 mg). Kombinasi obat ini akan menghilangkan sisa efek obat
pelumpuh otot.
2.8.

Persiapan Pra Anestesi

11

Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan baik elektif maupun
darurat harus dipersiapkan dengan baik karena keberhasilan anestesi dan
pembedahan sangat dipengaruhi oleh persiapan pra anestesi. Kunjungan pra
anestesi pada bedah elektif umumnya dilakukan 1-2 hari sebelumnya, sedangkan
pada bedah darurat waktu yang tersedia lebih singkat (Muhiman dan Sunatrio,
2004; Latief et al., 2002) Tujuan dari kunjungan ini adalah:
1) Mempersiapkan mental dan fisik pasien secara optimal dengan melakukan
anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan lainnya.
2) Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai
keadaan fisik dan kehendak pasien. Dengan demikian, komplikasi yang
mungkin terjadi dapat ditekan seminimal mungkin.
3) Menentukan klasifikasi yang sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik, dalam hal
ini dipakai klasifikasi ASA (American Society of Anesthesiology) sebagai
gambaran prognosis pasien secara umum.
a. Anamnesis
Dengan anamnesis ini kita dapat mengadakan pendekatan secara psikologis
dengan pasien. Berikut ini beberapa yang harus diperhatikan dalam anamnesis,
yaitu:
1) Identitas pasien, meliputi nama, umur, alamat, pekerjaan, dan lain-lain.
2) Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin dapat
menjadi penyulit dalam anestesi (Komorbid), seperti riwayat alergi, diabetes
melitus, penyakit jantung (infark miokard, angina pektoris, dekompensasi
kordis) dan hipertensi, penyakit paru (asma bronkial, pneumonia, bronkitis),
penyakit hati dan ginjal.
3) Riwayat obat-obatan yang atau telah digunakan dan mungkin dapat
menimbulkan interaksi dengan obat-obat anestetik, seperti kortikosteroid,
antihipertensi, antidiabetik, antialergi, antibiotik golongan aminoglikosida,
obat jantung seperti digitalis, diuretika, tranquilizer, monoamino oksidase
inhibitor, dan bronkodilator.
4) Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami di waktu yang lalu, berapa
kali, dan selang waktunya. Apakah pasien mengalami komplikasi saat itu
seperti kesulitan pulih sadar, perawatan intensif pasca bedah.

12

5) Kebiasaan buruk sehari-hari yang mungkin dapat mempengaruhi jalannya


anestesi, seperti merokok dan alkohol.
Beberapa hal yang perlu diketahui dari pasien sebelum melakukan
prosedur anestesi dapat disebut dengan istilah AMPLE (Allergic, Medication,
Past illness, Last meal, Environment).
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada pasien pra anestesi berpatokan
pada B6 (Breath, Blood, Brain, Bowel, Bladder, Bone) (Muttaqien, 2008).
1) Breath
Keadaan jalan nafas, bentuk pipi dan dagu, mulut dan gigi, lidah dan
tonsil. Apakah jalan nafas mudah tersumbat? Apakah pasien ompong atau
menggunakan gigi palsu atau mempunyai rahang yang kecil yang akan
mempersulit laringoskopi? Apakah ada gangguan membuka mulut atau
kekakuan leher? Apakah ada pembengkakan abnormal pada leher yang
mendorong saluran nafas bagian atas?
Lakukan pula penilaian bukaan mulut dan mallampati pasien.
Mallampati merupkan skala yang digunakan untuk memprediksi kemampuan
mulut pasien untuk mengakomodasi pipa endotrakea dan laringoskop. Untuk
menilai klasifikasi pasien, minta pasien untuk mengekstensikan lehernya,
membuka mulutnya selebar mungkin dan mengeluarkan lidahnya tanpa
bersuara. Penilaian grade dari mallampati ini meliputi komponen Pillar faring,
Uvula, Soft palate (Palatum Mole), dan Hard palate (Palatum Durum)
(Mahadevan dan Garmel, 2005).
Grade I : Pillar faring, Uvula, Soft palate, Hard Palate terlihat semua
(PUSH).
Grade II : Hanya terlihat Uvula, Soft Palate, dan Hard Palate (USH).
Grade III : Hanya terlihat, Soft Palate, dan Hard Palate (SH).
Grade IV : Yang terlihat tinggal Hard Palate (H)

13

Gambar 1. Grade Mallampati


Tentukan pula frekuensi nafas, tipe napas apakah cuping hidung,
abdominal atau torakal, apakah terdapat nafas dengan bantuan otot
pernapasan (retraksi kosta). Nilai pula keberadaan ronki, wheezing, dan suara
nafas tambahan (stridor).
2) Blood
Diperiksa tekanan darah, jumlah nadi per menit, pengisian nadi, tekanan
darah, perfusi perifer. Pasien juga dinilai ada atau tidaknya syok atau
perdarahan serta dilakukan pemeriksaan jantung.
3) Brain
Dinilai GCS (Glasgow Coma Scale), adakah tanda-tanda kelumpuhan
saraf atau kelainan neurologis, serta tanda-tanda peningkatan TIK.
4) Bladder
Dinilai produksi urin, warna urin, keluhan ketika berkemih, ada atau
tidaknya darah pada urin, dan pemeriksaan faal ginjal.
5) Bowel
Diperiksa ada atau tidaknya pembesaran hepar, dihitung bising usus dan
peristaltik usus, serta diperiksa ada atau tidaknya cairan bebas dalam perut
atau adanya massa abdominal.
6) Bone
Diperiksa ada atau tidaknya kaku kuduk atau patah tulang, bentuk leher
dan tubuh, ada atau tidaknya kelainan tulang belakang, serta ROM (Range of
Motion) pasien.

14

c. Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pemeriksaan darah rutin, urin rutin, dan pemeriksaan khusus.
1) Pemeriksaan Rutin
Ditujukan kepada pasien yang dipersiapkan untuk operasi. Hal-hal yang
biasanya diperiksa antara lain:
a) Darah, meliputi Hb, Ht, eritrosit, leukosit dan hitung jenis, trombosit,
masa perdarahan, dan masa pembekuan.
b) Urin, meliputi pemeriksaan fisik, kimiawi, dan sedimen urin.
2) Pemeriksaan Khusus
Ditujukan kepada pasien yang dipersiapkan untuk operasi besar dan pasien
yang menderita penyakit sistemik tertentu dengan indikasi tegas. Hal-hal
yang diperiksa adalah:
a) Pemeriksaan laboratorium lengkap meliputi: fungsi hati, fungsi ginjal,
analisis gas darah, elektrolit, hematologi dan faal hemostasis lengkap,
sesuai dengan indikasi.
b) Pemeriksaan radiologi: foto toraks, IVP dan yang lainnya sesuai indikasi.
c) Evaluasi kardiologi terutama untuk pasien yang berumur di atas usia 45
tahun.
d) Pemeriksaan spirometri pada penderita PPOM.
e) Untuk pemeriksaan khusus yang lebih

mendalam

misalnya

ekhokardiografi atau kateterisasi jantung diperlukan konsultasi dengan


dokter spesialisnya.
d. Status Fisis
Berdasarkan hasil evaluasi pra operatif tersebut di atas maka dapat
disimpulkan

status

fisik

pasien

pra

anestesia.

American

Society

of

Anesthesiologist (ASA) membuat klasifikasi status fisik praanestesia menjadi 5


kelas (Muhiman dan Sunatrio, 2004; Latief et al., 2002):
1) ASA 1
2) ASA 2

: Pasien penyakit bedah tanpa disertai penyakit sistemik


: Pasien penyakit bedah disertai dengan penyakit sistemik ringan

sampai sedang. Contohnya pasien batu ureter dengan hipertensi terkontrol,


atau pasien apendisitis dengan leukositosis dan febris.
3) ASA 3
: Pasien panyakit bedah disertai dengan penyakit sistemik berat
yang disebabkan karena berbagai penyebab tetapi tidak mengancam nyawa.

15

Contohnya pasien apendisitis perforasi dengan septisemia, atau pasien ileus


obstruksi dengan diabetes melitus tak terkontrol.
4) ASA 4
: Pasien penyakit bedah disertai dengan penyakit sistemik berat
yang secara langsung mengancam kehidupannya. Contohnya pasien syok atau
dekompensasi cordis.
5) ASA 5
: pasien penyakit bedah yang disertai dengan penyakit sistemik
berat yang sudah tidak mungkin ditolong lagi, dioperasi ataupun tidak dalam
24 jam pasien akan meninggal. Contohnya pasien tua dengan perdarahan
basis kranii dan syok hemoragik.
6) ASA 6
: pasien penyakit bedah yang telah dinyatakan mati otaknya yang
mana organnya akan diangkat untuk kemudian diberikan sebagai organ donor
bagi yang membutuhkan.
Apabila tindakan pembedahannya dilakukan secara darurat, dicantumkan
tanda E (emergency) di belakang angka, misalnya ASA 1 E.
2.9. Alat-Alat yang Digunakan dalam Anestesi Umum
Beberapa alat yang digunakan khususnya untuk melakukan induksi anestesi,
dikenal dengan sebutan STATICS (Muhiman dan Sunatrio, 2004; Friedland et
al., 2001):
S : Scope, yaitu Stetoskop digunakan untuk mengonfirmasi apakah pipa
endotrakeal masuk ke dalam paru. Auskultasi ini dilakukan pada 5 titik, yaitu
apex dan basis paru dextra sinistra serta regio epigastrium (Friedland et al.,
2001; Mahadevan dan Garmel, 2005). Laringo-Scope, pilih bilah atau daun
(blade) yang sesuai dengan usia pasien. Laringoskop yang digunakan untuk
orang dewasa biasanya bilah bengkok (Macintosh), sedangkan untuk bayi,
anak-anak, menggunakan bilah lurus (Miller). Lampu harus cukup terang
(Muhiman dan Sunatrio, 2004). Laringoskop ini digunakan untuk melihat
laring secara langsung sehingga dapat memasukan pipa endotrakea (Friedland
et al., 2001).

16

Gambar 2. Blade laringoskop MacIntosh dan Miller


T : Tube, merupakan Pipa trakea pilih sesuai usia. Pipa trakea ini digunakan
untuk mengantar oksigen dan gas anestetik langsung ke dalam saluran
pernapasan pasien. Bentuk penampang pipa trakea untuk bayi, anak kecil, dan
dewasa berbeda. Untuk bayi dan anak kecil usia < 5 tahun, bentuk
penampang melintang trakea hampir bulat, sedangkan untuk dewasa seperti
huruf D. Oleh karena itu, pada bayi dan anak < 5 tahun tidak menggunakan
balon (cuff) sedangkan untuk anak> 5 tahun dan dewasa menggunakan balon
(cuff) agar tidak bocor. Alasan lain adalah penggunakan balon pada bayi dan
anak kecil dapat membuat trauma selaput lendir trakea dan postintubation
croup (Friedland et al., 2001).
Ukuran diameter pipa trakea yang dapat digunakan adalah untuk dewasa pria
7-8 cm, sedangkan untuk dewasa wanita 6,5-7,5 cm (Muhiman dan Sunatrio,
2004; Mahadevan dan Garmel, 2005). Cara memilih pipa trakea untuk bayi
dan anak kecil adalah sebagai berikut (Friedland et al.,, 2001):
Diameter dalam pipa trakea (mm) = 4,0 + umur (tahun)
Panjang pipa orotrakeal (cm)
= 12 + umur (tahun)

17

Gambar 3. Endotracheal Tube


A : Airway, yaitu Pipa mulut faring (Guedel, Oropharyngeal Airway (OPA)) atau
pipa hidung-faring (Nasopharyngeal Airway). Pipa ini untuk menahan lidah
saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan
napas. Ukuran dari OPA ini dapat diestimasikan dengan cara mengukur jarak
antara angulus mandibula dengan tengah bibir atau jarak antara tragus dengan
sudut mulut. Berikut ini merupakan ukuran OPA yang sering digunakan
(Friedland et al. 2001; Muhiman dan Sunatrio, 2004; Mahadevan dan
Garmel, 2005).

Gambar 4. Oropharyngeal Airway


T : Tape, merupakan plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau
tercabut.

18

: Introducer, yaitu mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik yang

mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan.


C : Connector, yaitu penyambung antara pipa dan peralatan anestesia
S : Suction, merupakan penyedot lendir, ludah dan lain-lainnya.
Tindakan anestesi yang aman tidak terlepas dari kelengkapan peralatan
anestesi yang baik. Baik tidak berarti harus canggih dan mahal, tetapi lebih berarti
berfungsi, sesuai dengan tujuan kita member anesthesia yang lancar dan aman.
Fungsi mesin anestesi (mesin gas) ialah menyalurkan gas atau campuran gas
anestetik yang aman ke rangkaian sirkuit anestetik yang kemudian dihisap oleh
pasien dan membuang sisa campuran gas dari pasien. Rangkaian mesin anestesi
sangat banyak ragamnya, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang diatur
oleh computer.
2.10. Obat-Obatan yang Digunakan dalam Anestesi Umum
Pemberian/induksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien dari
sadar menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan
pembedahan. Induksi anestesi dapat dikerjakan secara intravena, inhalasi,
intramuscular atau rectal. Setelah pasien tidur akibat induksi anestesi langsung
dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesi sampai tindakan pembedahan selesai.
Sebelum memulai induksi anestesi disiapkan peralatan dan obat-obatan yang
diperlukan, sehingga jika terjadi keadaan gawat darurat dapat diatasi lebih cepat
dan lebih baik (Latief et al., 2009).
2.10.1. Induksi intravena
Induksi intravena paling banyak dikerjakan dan digemari. Induksi intravena
hendaknya dikerjakan dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut dan terkendali.
Obat induksi bolus disuntikkan dalam kecepatan antara 30-60 detik. Selama
induksi anestesi, pernapasan pasien, nadi dan tekanan darah harus diawasi dan
selalu diberikan oksigen.
Thiopental (tiopenton, pentotal) diberikan secara intravena dengan
kepekatan 2,5% dan dosis antara 3-7 mg/kgBB. Keluar vena menyebabkan nyeri.

19

Pada anak dan manula digunakan dosis rendah dan dewasa muda sehat dosis
tinggi.
Propofol (recofol, diprivan) intravena dengan kepekatan 1% menggunakan
dosis 2-3 mg/kgBB. Suntikan propofol intravena sering menyebabkan nyeri,
sehingga satu menit sebelumnya sering digunakan lidokain 1 mg/kgBB secara
intravena.
Ketamin (ketalar) intravena dengan dosis 1-2 mg/kgBB. Pasca anestesi
ketamin sering menimbulkan halusinsasi, karena itu sebelumnya dianjurkan
menggunakan sedative seperti midazolam (dormikum). Ketamin tidak dianjurkan
pada pasien dengan tekanan darah >160 mmHg.
2.10.2. Induksi intramuskular
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara
intramuscular dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.
2.10.3. Induksi inhalasi
Induksi inhalasi hanya dikerjakan dengan halotan (fluotan) atau sevofluran.
Cara induksi ini dikerjakan pada bayi atau anak yang belum terpasang jalur vena.
Induksi halotan memerlukan gas pendorong O2 atau campuran N2O dan O2.
Induksi dimulai dengan aliran O2 >4 liter/menit atau campuran N2O:O2=3:1 aliran
>4 liter/menit, dimulai dengan halotan 0,5 vol% sampai konsentrasi yang
dibutuhkan. Kalau pasien batuk, konsentrasi halotan diturunkan untuk kemudian
jika sudah tenang dinaikkan lagi sampai konsentrasi yang diperlukan.
Induksi dengan sevofluran lebih disenangi karena pasien jarang batuk,
walaupun langsung diberikan dengan konsentrasi tinggi sampai 8 vol%. Seperti
dengan halotan konsentrasi dipertahankan sesuai kebutuhan.
Induksi dengan enfluran (etran), isofluran (foran, aeran) atau desfluran
jarang dilakukan, karena pasien sering menjadi batuk dan waktu induksi yang
lama.
2.10.4. Induksi per rektal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi, menggunakan thiopental atau
midazolam.
2.11. Obat Anestesi Umum
2.11.1. Premedikasi
a. Anti muskarinik
20

Hipersekresi kelenjar ludah dan bronkus yang ditimbulkan oleh


anestetik inhalasi dapat mengganggu pernapasan selama anesthesia. Atropine
0,4-0,6 mg IM mencegah hipersekresi ini 10-15 menit setelah penyuntikan.
Efek ini berlangsung selama 90 menit. Namun, dosis obat ini tidak cukup
untuk mencegah perubahan kardiovaskular akibat rangsangan parasimpatis,
yaitu hipotensi dan bradikardia, yang disebabkan oleh manipulasi sinus
karotikus atau pemberian berulang suksinilkolin IV. Untuk keadaan ini
diperlukan dosis IV 1,5-2 mg pada dewasa dan 0,02 mg/kgBB pada anak
(Zunilda dan Elysabeth, 2011; Mahadevan dan Shannon, 2005).
b. Obat golongan analgetik narkotik
Morfin dapat digunakan untuk mengurangi cemas dan ketegangan
pasien, mengurangi nyeri. Dengan teknik anestesi berimbang, dampak buruk
morfin yaitu memperpanjang waktu pemulihan dan depresi kardiovaskular,
dapat diatasi, dan mual, muntah serta nyeri paska bedah dapat dikurangi.
Morfin 8-10 mg yang diberikan IM biasanya cukup untuk tujuan tersebut,
sedangkan dosis 0,01-0,2 mg/kg IV cukup untuk menimbulkan analgesia.
Dalam dosis berimbang dengan N2O diperlukan morfin sampai 3 mg/kgBB,
sedangkan bila digunakan anestetik inhalasi lainnya dianjurkan dosis tidak
lebih dari 1-2 mg/kgBB.
Opioid lain yang digunakan sebagai premedikasi, sesuai dengan urutan
kekuatannya ialah sulfentanil (1000 kali), remifentanil (300 kali), fentanil
(100 kali), alfentanil (15 kali), morfin (1 kali) dan meperidin (0,1 kali).
Pemilihan penggunaan analgesic opioid didasarkan pada lama kerja karena
semuanya memberikan efek analgesia dan efek samping sama. Berdasarkan
lama kerjanya, analgesic opioid dibedakan atas opioid dengan lama kerja
singkat misalnya remifentanil (10 menit), dan opioid lama kerja sedang
misalnya sulfentanil (15 menit), alfentanil (20 menit) dan fentanil (30 menit).
Dosis fentanil pada dewasa 3-6 mcg/kgBB atau 1-3 mcg/kgBB pada anak
(Zunilda dan Elysabeth, 2011; Mahadevan dan Shannon, 2005).
c. Barbiturat
Barbiturat (Pentobarbital dan Sekobarbital) biasanya diberikan untuk
sedasi dan mengurangi kekhawatiran sebelum operasi. Obat ini dapat
diberikan secara oral atau IM. Dosis dewasa 100-150 mg dan 1 mg/kgBB
21

pada anak di atas 6 bulan. Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak


diperpanjang dan efek depresannya yang lemah terhadap pernapasan dan
sirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan muntah (Zunilda dan Elysabeth,
2011).
d. Benzodiazepine
Golongan ini lebih dianjurkan daripada opioid dan berbiturat. Pada
dosis biasa, obat ini tidak menambah depresi napas akibat opioid. Opioid
menyebabkan tidur, amnesia retrograde dan dapat mengurangi rasa cemas.
Penggunaan benzodiazepine untuk premedikasi berbeda dosis dengan
induksi, diazepam oral 0,2-0,5 mg/kgBB, midazolam intramuscular 0,07-0,15
mg/kgBB serta lorazepam oral 0,05 mg/kgBB (Zunilda dan Elysabeth, 2011;
Butterworth et al., 2013).
e. Neuroleptik
Kelompok obat ini digunakan untuk mengurangi mual dan muntah
akibat anestetik pada masa induksi maupun pemulihan, misalnya droperidol
yang biasa digunakan bersama fentanil. Kualitas sedasinyapun lebih baik
daripada kualitas sedasi yang ditimbulkan bila menggunakan morfin saja.
Golongan fenotiazin seperti klorpromazin atau prometazin juga dapat
mengurangi muntah, tetapi penggunaannya dibatasi oleh adanya efek
hipotensi intraoperatif dan takikardi (Zunilda dan Elysabeth, 2011).
2.11.2. Induksi
a. Induksi Intravena
Induksi intravena paling banyak dikerjakan, sebaiknya dikerjakan
dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut, dan terkendali. Induksi intravena
langsung masuk ke dalam darah dan eliminasinya harus menunggu proses
metabolisme maka dosisnya harus diperhitungkan secara teliti. Untuk
mempertahankan anestesi atau sedasi pada tingkat yang diinginkan, kadarnya
dalam darah harus dipertahankan dengan suntikan berkala atau pemberian
infus kontinu. Selama induksi anestesi, pernapasan pasien, nadi, dan tekanan
darah harus diawasi dan selalu diberikan oksigen. Obat-obat yang sering
digunakan:
1) Barbiturat

22

Barbiturat bekerja dengan mendepresi Reticular Activating System pada


batang otak yang mengatur kesadaran. Mekanisme aksi barbiturat dengan
cara memfasilitasi pengikatan GABA pada reseptor GABA A di membrane
neuron system saraf pusat yang menyebabkan peningkatan durasi pembukaan
kanal ion klorida. Yang termasuk ke dalam anestesi golongan ini antara lain
thiopental, thiamylal, dan methohexital. Agen ini merupakan sedative
hipnotik kerja cepat tanpa adanya efek analgesia yang onset aksinya cepat.
Agen ini dapat menyebabkan menurunnya tekanan darah dan meningkatkan
denyut jantung. Efek lain dari thiopental meliputi depresi pusat pernapasan
dan melepaskan histamine (sehingga dihindari pada pasien asma). Dosis
thiopental dan thiamylal adalah 3-6 mg/kgBB, sementara methohexital 1-3
mg/kgBB. Ketiga agen anestesi tersebut memiliki onset aksi <30 detik dan
durasi aksi 5-10 menit (Zunilda dan Elysabeth, 2011; Butterworth et al.,
2013).
2)

Benzodiazepine
Gologan ini bekerja pada sisi yang berbeda pada reseptor GABA A

dengan

meningkatkan

frekuensi

pembukaan

kanal

ion

klorida.

Benzodiazepine yang digunakan untuk anestesi adalah diazepam, lorazepam


dan midazolam. Dengan dosis untuk induksi anestesi, kelompok obat ini
menyebabkan tidur, mengurangi cemas, dan menimbulkan amnesia
anterograd tanpa efek analgesia. Penggunaan benzodiazepine menyebabkan
pemulihan lebih lama, namun amnesia retrograde yang ditimbulkannya
bermanfaat
menunjukkan

mengurangi
depresi

kecemasan
minimal

pada

paska

bedah.

kardiovaskular

Benzodiazepine
kecuali

bila

dikombinasikan dengan opioid, selain itu juga menimbulkan depresi


pernapasan. Waktu paruh benzodiazepine sekitar 3-10 menit dan mudah untuk
kembali sadar seperti barbiturate (Zunilda dan ELysabeth, 2011; Butterworth
et al., 2013).
Sedasi timbul lebih cepat oleh midazolam dibandingkan lorazepam.
Mula kerja midazolam lebih cepat dan potensinya lebih besar dengan
metabolit yang aktif, sehingga midazolam lebih disukai untuk induksi dan
23

mempertahankan anestesi. Dosis midazolam yang biasa digunakan untuk


induksi anestesi adalah 0,2-0,3 mg/kgBB dengan onset aksi 30-60 detik dan
durasi aksi 15-30 menit (Mahadevan dan Shannon, 2005).
3) Propofol
Propofol bekerja dengan menghambat neurotransmisi yang dimediasi
ikatan reseptor GABAA yang berhubungan dengan kanal klorida. Propofol
tidak larut dalam air dan tersedia dalam bentuk larutan 1% sebagai emulsi
minyak dalam air mengandung minyak kedelai, gliserol dan lesitin telur. Efek
umum propofol pada kardiovaskular adalah menurunkan tekanan darah arteri
karena turunnya resistensi vascular sistemik akibat penghambatan aktivitas
vasokonstriktor simpatik.
Propofol dapat menghasilkan anestesi kecepatan yang sama dengan
pemberian barbiturat secara intravena, dan waktu pemulihan yang lebih cepat.
Dosis propofol 1,5-3 mg/kgBB dengan onset aksi 15-45 detik dan durasi aksi
5-10 menit (Zunilda dan Elysabeth, 2011; Mahadevan dan Shannon, 2005).
4) Etomidate
Golongan obat ini merupakan sedative non barbiturate kerja singkat
yang bekerja dengan mendepresi reticular activating system dan menyerupai
efek inhibitori pada GABAA Selama induksi dengan etomidate tanpa
premedikasi dapat terjadi gerakan otot spontan pada 60% pasien. Efek ini
dapat dihilangkan dengan pemberian obat golongan narkotika saat
premedikasi. Obat ini memiliki efek minimal pada kardiovaskular berupa
penurunan ringan resistensi vascular perifer. Dosis obat ini yaitu 0,3
mg/kgBB dengan onset aksi 15-45 detik dan durasi aksi 3-12 menit
(Mahadevan dan Shannon, 2005; Butterworth et al., 2013).
5) Ketamin
Ketamin mempunyai efek analgetik dan anestestik dengan kerja singkat.
Efek anestesinya timbul karena adanya penghambatan efek membrane dan
neurotransmitter eksitasi asam glutamate pada reseptor N-metil-D-aspartat.
Sifat analgesiknya lebih kuat pada system somatic, tetapi lemah untuk system
visceral.
Ketamin merupakan satu-satunya anestetik intravena yang merangsang
kardiovaskular karena efek perangsangnya pada system saraf simpatis. Dosis

24

pemakaian ketamin untuk bolus 1- 2 mg/kgBB dengan onset aksi 45-60 detik
dan durasi aksi 10-20 menit (Mahadevan dan Shannon, 2005).
6) Neuromuskular Blok
Agen blok neuromuskular tidak menimbulkan efek analgetik, sedasi
atau amnesia. Obat golongan ini sering digunakan pada teknik anestesi umum
yang menggunakan intubasi endotrakeal. Agen ini bekerja dengan cara
memblok neurotransmitter asetilkolin, baik secara antagonis kompetitif
maupun

dengan

merubah

konformasi

reseptornya.

Agen

yang

mendepolarisasi contohnya suksinilkolin dengan dosis 1,5mg/kgBB pada


dewasa dan 2 mg/kgBB pada anak, onset aksi 45-60 menit dan durasi aksi 612 menit. Sementara itu agen yang tidak mendepolarisasi contohnya
atrakurium 0,4-0,5 mg/kgBB, rocuronium 1 mg/kgBB, vecuronium 0,15
mg/kgBB atau pancuronium 0,1 mg/kgBB (Mahadevan dan Shannon, 2005;
Butterworth et al., 2013).
b. Induksi Inhalasi
Dalamnya anestesia bergantung pada kadar anastetik di sistem saraf
pusat, dan kadar ini ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi
transfer anestesik dari alveoli paru ke darah dan dari darah ke jaringan otak.
Kecepatan induksi bergantung pada kecepatan dicapainya kadar zat anestetik
di otak, begitu pula masa pemulihan setelah pemberiannya dihentikan.
Membran alveoli dengan mudah dapat dilewati zat anestetik secara difusi dari
alveoli ke aliran darah dan sebaliknya. Tetapi, bila ventilasi alveoli terganggu,
misalnya pada emfisema paru, pemindahan anestetik akan terganggu pula
(Zunilda dan ELysabeth, 2011).
Faktor yang menentukan kecepatan transfer anestetik di jaringan otak
ditentukan oleh (1) kelarutan zat anestetik, (2) kadar anestetik dalam udara
yang dihirup pasien atau disebut tekanan parsial anestetik, (3) ventilasi paru;
(4) aliran darah paru, dan (5) perbedaan antara tekanan parsial anestetik di
darah arteri dan di darah vena.
Tekanan parsial adalah proporsi yang menggambarkan kadar suatu gas
yang berbeda dalam suatu campuran gas, misalnya kadar anestetik inhalasi

25

dalam campuran gas yang dihirup oleh pasien (udara inspirasi). Tekanan
parsial suatu anestetik dalam udara inspirasi dapat diatur besarnya dengan
suatu vaporizer atau alat lainnya.
Kelarutan Anestetik Dalam Darah. Kelarutan ini dinyatakan sebagai
koefisien partisi darah/gas, yaitu perbandingan kadar anestetik dalam darah
dengan kadar nya dalam udara inspirasi pada saat dicapai keseimbangan.
Anestetik yang sukar larut misalnya N2O, desfluran, dan sevofluran koefisien
partisinya sangat rendah, sedangkan koefisien dietileter dan metoksifluran
yang mudah larut, sangat tinggi ketika berdifusi ke dalam darah. Anestetik
yang sukar larut, hanya memerlukan sedikit molekul untuk menaikkan
tekanan parsialnya sehingga tekanan parsial di dalam darah segera naik dan
induksi anestesia terjadi lebih cepat. Sebaliknya untuk anestetik yang mudah
larut, diperlukan jumlah yang lebih banyak untuk menaikkan tekanan parsial
di darah sehingga timbulnya induksi lebih lama.
Kadar Anestetik Dalam Udara Inspirasi. Kadar anestetik dalam campuran
gas yang dihirup menentukan tekanan maksimum yang di alveoli maupun
kecepatan naiknya tekanan parsial di arteri. Kadar anestetik yang tinggi akan
mempercepat anestetik ke darah, sehingga akan meningkatkan kecepatan
induksi anestesia. Tekanan parsial N2O dalam arteri mencapai 90% tekanan
parsial dalam udara yang dihirup sesudah 20 menit, sedangkan eter dicapai
setelah 20 jam. Untuk mempercepat induksi, anestetik yang tingkat
kelarutannya

sedang,

misalnya

enfluran,

isofluran,

dan

halotan,

dikombinasikan dengan anestetik sukar larut misalnya N 2O; dengan cara


meninggikan dulu tekanan parsial dalam udara yang dihirup. Setelah induksi
dicapai,

tekanan

parsial

dalam

udara

inspirasi

diturunkan

untuk

mempertahankan anestesia.
Ventilasi Paru. Hiperventilasi mempercepat masuknya anestetik gas ke
sirkulasi dan jaringan, tetapi hal ini hanya pada anestetik yang larut baik
dalam darah seperti halotan dan dietileter. Untuk anestetik yang sukar larut
dalam darah misalnya siklopropan, dan N 2O, pengaruh ventilasi ini tidak
begitu nyata karena kadar di darah arteri cepat mendekati kadar alveoli.

26

Kecepatan Aliran Darah Paru. Bertambah cepat aliran darah paru


bertambah cepat pula pemindahan anestetik dari udara inspirasi ke darah.
Namun, hal itu akan memperlambat peningkatan tekanan darah arteri
sehingga induksi anestesia akan lebih lambat khususnya oleh anestetik
dengan tingkat kelarutan sedang dan tinggi, misalnya halotan dan isofluran.
Perbedaan Tekanan Parsial Anestetik Dalam Arteri Dan Vena. Perbedaan
antara kadar anestetik di darah arteri dan vena terutama bergantung pada
ambilan anestetik oleh jaringan.

Darah vena yang kembali ke paru

mengandung anestetik lebih sedikit daripada arteri. Semakin besar perbedaan


kadar anestetik, maka keseimbangan dalam jaringan otak akan semakin lama
tercapai. Ambilan anestetik oleh jaringan ditentukan oleh faktor yang sama
dengan yang mempengaruhi transfer anestetik dari paru ke darah, terutama
koefisien partisi darah : jaringan.

Tekanan parsial dalam jaringan juga

meningkat bertahap sampai dicapai keseimbangan. Pada fase induksi,


perbedaan kadar arteri-vena ini sangat dipengaruhi oleh banyaknya perfusi
suatu jaringan. Di otak, jantung, hati, ginjal, yang perfusinya sangat baik,
kadar anestetik awal dalam darah vena rendah sekali sehingga kadar anestetik
dalam arteri-vena sangat besar, maka keseimbangan kadar anestetik dalam
darah arteri akan tercapai dengan lambat. Pada fase pemeliharaan, anestetik
akan terus didistribusikan dari kelarutan anestetik dalam darah.
Minimum Alveolar Concentration (MAC)
Hubungan antara dosis dan respons suatu anestetik sulit ditentukan
karena sulit untuk menghitung kadar anestetik di otak. Yang dapat diukur
hanyalah kadar anestetik yang masuk paru dalam campuran gas yang kadar
dan kecepatannya sudah diatur. Maka, dosis efektif untuk anestetik dihitung
secara tidak langsung melalui kadarnya di alveoli. Minimum Alveolar
Concentration (MAC) anestesi inhalasi adalah kadar konsentrasi alveolus
dalam persen tekanan parsial terhadap tekanan 760mmHg yang dapat
mencegah pergerakan pada 50% pasien ketika diberi suatu stimulus nyeri
misalnya sayatan bedah. Inilah yang disebut sebagai 1 MAC. Jadi MAC
adalah suatu ED50 untuk anaestetik, dan dosis anestetik yang diberikan dapat

27

dinyatakan dalam kelipatan MAC. Dengan parameter ini, potensi berbagai zat
anestetik dapat diperbandingkan. MAC bermanfaat untuk menggambarkan
tekanan parsial pada otak dan perbandingan potensi anestesi inhalasi. MAC
N2O yang >100% menunjukkan potensi anestetik yang sangat rendah sebab
dengan tekanan >760 mmHg masih belum mencapai 1 MAC (Zunilda dan
ELysabeth, 2011; Aranake et al., 2013).
Nilai MAC untuk anestesi yang berbeda bersifat aditif, artinya keadaan
anestesia dapat dipertahankan dengan campuran beberapa anestetik dalam
kadar yang lebih rendah Sebagai contoh campuran 0,5 MAC N 2O (53%) dan
0,5 MAC halotan (0,37%) akan memberikan efek yang sama dengan 1 MAC
isofluran (1,7%) atau agen tunggal lainnya terhadap pergerakan pada stimulus
insisi bedah. Hal ini berbeda pada depresi system saraf pusat, derajat depresi
miokardial tidak ekuivalen pada nilai MAC yang sama, misalnya 0,5 MAC
halotan menyebabkan deprei miokardial lebih besar dibandingkan 0,5 MAC
N2O. MAC menunjukkan satu titik dosis yang ekuivalen dengan dosis tengah
efektif (ED50). Nilai MAC menurun 6% setiap dekade usia (Butterworth et al.,
2013).
Faktor yang dapat meningkatkan MAC:
1)
2)
3)
4)

Usia muda
Penggunaan alcohol kronik
Hiponatremia
Konsumsi obat amphetamine akut, kokain dan efedrin

Faktor yang dapat menurunkan MAC:


1) Hipotermia dan hipertermia
2) Usia tua
3) Intoksikasi alcohol akut
4) Anemia (hematokrit <10%)
5) PaO2 <40mmHg
6) PaCO2 >95mmHg (disebabkan penurunan pH pada cairan serebrospinal)
7) Mean arterial pressure <40mmHg
8) Hiperkalsemia
9) Hiponatremia
10) Kehamilan
11) Konsumsi obat opioid, ketamine, barbiturate, benzodiazepine, anestesi
lokal (kecuali kokain), verapamil, metildopa, klonidin, amphetamine
kronik.

28

Beberapa jenis induksi inhalasi yang biasa digunakan diantaranya:


1) N2O
Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau,
tidak berasa dan lebih berat daripada udara. N2O biasanya tersimpan dalam
bentuk cairan bertekanan tinggi dalam baja, tekanan penguapan pada suhu
kamar 51 atmosfir. N2O mempunyai sifat 15 kali lebih mudah larut dalam
plasma dibandingkan oksigen. 1 ml cairan N2O dapat menghasilkan uap 440
ml pada 20oC dan tekanan 51 atm.
Mula-mula N2O diabsorbsi dalam tubuh dengan cepat 1000 ml/menit
selama menit pertama. Dalam 5 menit absorbs berkurang sebagian menjadi
500-700 ml/menit dan dalam 10 menit turun sampai 350 ml/menit, kemudian
30 menit menjadi 200 ml/menit dan dalam 100 menit turun sampai 100
ml/menit kemudian secara lambat menurun sampai absorbs mencapai nol
(jenuh). Ada 3 fase pengambilan N2O berdasarkan saturasi arteri:
a. Dalam 5 menit mencapai 50% saturasi
b. Dalam 30-90 menit mencapai 90% saturasi
c. Dalam 5 jam mencapai saturasi penuh
N2O dalam penggunaannya pada anestesi umumnya dipakai dalam
kombinasi N2O : O2 = 60% : 40%, 70% : 30%, 50% : 50%, 2:1 (Latief et al.,
2010).
N2O kurang larut dalam darah, dan merupakan analgetik kurang kuat
sehingga kini hanya digunakan sebagai adjuvant atau sebagai pembawa
anestesik inhalasi lainnya. N2O mempunyai efek analgesic yang baik, dengan
inhalasi 20% N2O dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morfin. Kadar
optimum untuk mendapatkan efek analgesic maksimum 35%. Nilai MAC
untuk N2O adalah 105% (Butterworth et al., 2013).
2) Halotan
Merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar
dan tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen. Halotan
bereaksi dengan perak, tembaga, baja, magnesium, aluminium, brom, karet
dan plastic. Karet larut dalam halotan, sedangkan nikel, titanium dan
polietilen tidak sehingga pemberian obat ini harus dengan alat khusus yang
disebut fluotec. Efek analgesic halotan lemah jika dibandingkan efek anestesi

29

kuat. Pengaruh anestesi secara langsung dengan menghambat otot jantung


dan otot polos pembuluh darah serta menurunkan aktivitas saraf simpatis.
Halotan tidak mengiritasi membrane mukosa dan tidak merangsang kelenjar
ludah. Pengaruh halotan terhadap kardiovaskular adalah vasodilatasi yang
menimbulkan hipotensi dan bradikardi. Pada system pernapasan, uap halotan
tidak menimbulkan iritasi saluran napas sehingga induksi mudah dicapai
tanpa batuk-batuk dan eksitasi. Halotan mendepresi system pernapasan pada
tingkat permulaan menyebabkan pernapasan lebih cepat (takipnea) dan
dangkal, dan pada stadium lebih dalam dapat timbul gagal napas. Halotan
menghambat sekresi kelenjar ludah bronchial, menekan refleks faring dan
laring serta memberikan efek bronkodilatasi sehingga bermanfaat pada
penyakit paru kronik seperti asma, bronchitis kronik, emfisema. Nilai MAC
untuk halotan adalah 0,75% (Zunilda dan ELysabeth, 2011; Butterworth et
al., 2013).
3) Isofluran
Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. Secara kimiawi
mirip dengan efluran, tetapi secara farmakologi berbeda. Isofluran berbau
tajam sehingga membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh
penderita karena penderita menahan nafas dan batuk. Setelah pemberian
medikasi preanestetik stadium induksi dapat dilalui dengan lancar dan sedikit
eksitasi bila diberikan bersama N2O dan O2. Isofluran merelaksasi otot rangka
dan meningkatkan efek pelumpuh otot depolarisasi dan non depolarisasi
sehingga dosis isofluran dan pelumpuh otot dapat dikurangi. Tekanan darah
turun cepat dengan makin dalamnya anestesi tapi curah jantung tetap
dipertahankan. Hiipotensi lebih disebabkan oleh vasodilatasi di otot. Isofluran
menyebabkan depresi napas dan menekan respon ventilasi terhadap hipoksia.
Isofluran dapat memicu refleks saluran napas yang menyebabkan
hipersekresi, batuk, dan spasme laring. Ditambah dengan terganggunya fungsi
silia di jalan napas, anestesi yang lama dapat menyebabkan mucus menumpuk
di saluran napas. Kejadian ini dapat dikurangi dengan premedikasi yang
memadai dan induksi dengan barbiturate IV. Isofluran juga memiliki efek

30

bronkodilator seperti anestesi inhalasi lainnya (Zunilda dan ELysabeth, 2011;


Butterworth et al., 2013).
Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan
SSP, obat ini dapat meningkatkan aliran darah otak sementara metabolism
otak hanya menurun sedikit. Sirkulasi otak tetap responsive terhadap CO 2
maka hiperventilasi bisa menurunkan aliran darah, metabolisme otak dan
tekanan intracranial. Itu sebabnya isofluran merupakan anestetik pilihan
dalam bedah saraf. Nilai MAC untuk isofluran adalah 1,2%.
4) Sevofluran
Obat anestesi ini merupakan turunan eter berhalogen yang paling
disukai untuk induksi inhalasi karena masa pemulihannya yang cepat.
Sevofluran sedikit mendepresi kontraktilitas otot jantung. Efek depresi
pernapasannya sama dengan isofluran. Obat ini juga dapat meningkatkan
aliran darah ke otak. Nilai MAC untuk sevofluran adalah 2% (Butterworth et
al., 2013).
5) Desfluran
Desfluran adalah cairan yang mudah terbakar tetapi tidak mudah
meledak, bersifat absorben dan tidak korosif untuk logam. Obat ini relative
lebih sukar menguap sehingga dibutuhkan vaporizer khusus dalam
penggunaannya. Desfluran menurunkan volume tidal dan meningkatkan
frekuensi pernapasan. Desfluran juga dapat secara langsung memberikan efek
vasodilatasi, meningkatkan volume darah otal dan tekanan intracranial. Nilai
MAC untuk desfluran adalah 6% (Butterworth et al., 2013).
6) Enfluran
Enfluran adalah anestetik eter yang tidak mudah terbakar. Enfluran
menyebabkan fase induksi anestesi yang relative lambat. Sekresi kelenjar
saliva dan bronkus hanya sedikit meningkat sehingga tidak perlu
menggunakan atropine sebagai premedikasi. Enfluran kadar rendah tidak
banyak mempengaruhi kardiovaskular. Kadar yang tinggi menyebabkan
depresi kardiovaskular dan perangsangan SSP; untuk menghindari hal ini
enfluran diberikan diberikan dengan kadar rendah bersama N2O (Zunilda dan
Elysabeth, 2011).
2.11.3. Rumatan

31

Rumatan anestesia (maintenance) dapat diberikan secara intravena


(anestesia intravena total) atau dengan inhalasi atau dengan campuran intravena
dan inhalasi. Rumatan anestesia biasanya mengacu pada trias anestesia yaitu tidur
ringan (hipnosis) sekedar tidak sadar, analgesia cukup, diusahakan agar pasien
selama dibedah tidak menimbulkan nyeri dan relaksasi otot lurik yang cukup.
Rumatan intravena misalnya dengan menggunakan opioid dosis tinggi,
fentanil 10-50 mikrogram/kgbb. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur
dengan analgesia cukup, sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh otot.
Rumatan intravena dapat juga menggunakan opioid dosis biasa, tetapi pasien
ditidurkan dengan infus propofol 4-12 mg/kgbb/jam. Bedah lama dengan
anestesia total intravena menggunakan opioid, pelumpuh otot dan ventilator.
Untuk mengembangkan paru digunakan inhalasi dengan udara O2 atau N2O dan
O2 (Latief et al., 2010).
2.12. Monitoring Pasien
Monitoring pada pasien yang diberikan anestesi umum antara lain (Mangku,
2010):
2.12.1.
a.

Monitoring Kardiovaskular

Non-invasif (tak langsung)

1) Nadi
Monitoring ini merupakan keharusan karena gangguan sirkulasi sering terjadi
selama anestesi. Makin bradikardi makin menurunkan curah jantung.
Monitoring terhadap nadi dapat dilakukan dengan cara palpasi arteria radialis,
brakialis, femoralis atau karotis. Dengan palpasi dapat diketahui frekuensi,
irama dan kekuatan nadi. Selain palpasi dapat dilakukan auskultasi dengan
menempelkan stetoskop di dada atau dengan kateter khusus melalui esofagus.
Cara palpasi dan cara auskultasi ini terbatas, karena kita tidak dapat
melakukannya secara terus menerus.
2) Tekanan Darah
Tekanan sistolik-diastolik diketahui dengan cara auskultasi, palpasi,
sedangkan tekanan arteri rata-rata (mean arterial pressure) diketahui secara
langsung dengan monitor tekanan darah elektronik atau dengan menghitung

32

yaitu 1/3 (tekanan sistolik + 2 x tekanan diastolik) atau tekanan diastolik +


1/3 (tekanan sistolik tekanan diastolik).
3) Banyak perdarahan
Monitoring terhadap perdarahan dilakukan dengan menimbang kain kasa
ketika sebelum kena darah dan sesudahnya, mengukur jumlah darah di botol
pengukur darah ditambah 10-20% untuk yang tidak dapat diukur.
b. Metode Invasif (Langsung)
Biasanya dikerjakan untuk bedah khusus atau pasien dengan keadaan umum
yang kurang baik
1) Dengan kanulasi arteri melalui a. radialis, a. dorsalis pedis, a. karotis, a.
femoralis, dapat diketahui secara kontinyu tekanan darah pasien.
2) Dengan kanulasi vena sentral, v. jugularis interna-eksterna, v. subklavia, v.
basilica, v. femoralis dapat diketahui tekanan vena sentral secara kontinyu.
3) Dengan kanulasi a. pulmonalis (Swan-Ganz) dapat dianalisa curah jantung.
4) Pada bayi baru lahir dapat digunakan arteria dan atau vena umbilikalis. Selain
itu kanulasi arteri ini dapat digunakan untuk memonitor ventilasi dengan
mengukur kadar pH, PO2, PCO2 bikarbonat dengan lebih sering sesuai
kebutuhan. Pada bedah jantung yang kompleks digunakan ekokardiografi
transesofageal.
2.12.2. Monitoring Respirasi
a. Tanpa Alat
Dengan inspeksi kita dapat mengawasi pasien secara langsung gerakan dadaperut baik pada saat bernapas spontan atau dengan napas kendali dan gerakan
kantong cadang apakah sinkron. Untuk oksigenasi warna mukosa bibir, kuku
pada ujung jari dan darah pada luka bedah apakah pucat, kebiruan atau merah
muda.
b. Stetoskop
Dengan stetoskop prekordial atau esofageal dapat didengar suara pernapasan.
c. Oksimeter denyut (pulse oximetry)
Untuk mengetahui saturasi oksigen (SaO2).

d. Kapnometri
Untuk mengetahui secara kontinyu kadar CO2 dalam udara inspirasi atau
ekspirasi. Kapnometer dipengaruhi oleh system anestesia yang digunakan.
Monitoring khusus biasanya bersifat invasif karena kita ingin secara kontinyu

33

mengukur tekanan darah arteri dan tekanan darah vena, produksi urin, analisa
gas darah dan sebagainya.
2.12.3. Monitoring Suhu Badan
Dilakukan pada bedah lama atau pada bayi dan anak kecil. Pengukuran suhu
sangat penting pada anak terutama bayi, karena bayi mudah sekali kehilangan
panas secara radiasi, konveksi, evaporasi dan konduksi, dengan konsekuensi
depresi otot jantung, hipoksia, asidosis, pulih anastesia lambat dan pada neonatus
dapat terjadi sirkulasi persistent fetal. Tempat yang lazim digunakan ialah:
a. Aksila, untuk membacanya perlu waktu 15 menit. Dipengaruhi oleh
banyaknya rambut ketiak, gerakan pasien, manset tensimeter, dan suhu cairan
infus.
b. Oral-sublingual, pada pasien sebelum anestesi.
c. Rektal, seperti termometer aksila tapi lebih panjang.
d. Nasofaring, esofageal, termometer berbentuk kateter.
e. Lain-lain jarang digunakan, misalnya kulit, buli-buli, liang telinga.
2.12.4. Monitoring Ginjal
Untuk mengetahui keadaan sikulasi ginjal. Produksi air kemih normal
minimal 0,5-1,0 ml/kgBB/jam dimonitor pada bedah lama dan sangat bermanfaat
untuk menghindari retensi urin atau distenti buli-buli. Monitoring produksi air
kemih harus dilakukan dengan hait-hati, karena selain traumatis juga mengundang
infeksi sampai ke pielonefritis, secara rutin digunakan kateter Foley karet lunak
ukuran 5-8F. kalau >1 ml/kgBB/jam dan reduksi urin positif 2, dicurigai adanya
hiperglikemia.

2.13. Pemulihan anestesi


Pada akhir operasi atau setelah operasi selesai, maka anestesi diakhiri
dengan menghentikan pemberian obat anestesi. Pada anestesi inhalasi bersamaan
dengan penghentian obat anestesi aliran oksigen dinaikkan, hal ini disebut
oksigenisasi. Dengan oksigenisasi maka oksigen akan mengisi tempat yang
sebelumnya ditempati oleh obat anestesi inhalasi diaveoli yang berangsur-angsur
keluar mengikuti udara ekspirasi.
Dengan demikian tekanan parsiel obat anestesi di alveoli juga berangsurangsur turun, sehingga lebih rendah dibandingkan dengan tekanan parsiel obat

34

anestesi inhalasi didalamdarah. Maka terjadilah difusi obat anestesi inhalasi dari
dalam darah menuju ke alveoli. Semakin tinggi perbedaan tekanan parsiel tersebut
kecepatan difusi makin meningkat. Sementara itu oksigen dari alveoli akan
berdifusi ke dalam darah.
Semakin tinggi tekanan parsiel oksigen di alveoli (akibat oksigenisasi)
difusi kedalam darah semakin cepat, sehingga kadar oksigen di dalam darah
meningkat, menggantikan posisi obat anestesi yang berdifusi menuju ke alveoli.
Akibat terjadinya difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli,
maka kadarnya di dalam darah makin menurun.
Turunnya kadar obat anestesi inhalasi tertentu di dalam darah, selain akibat
difusi di alveoli juga akibat sebagian mengalami metabolisme dan ekskresi lewat
hati, ginjal, dan keringat. Kesadaran penderita juga berangsur-angsur pulih sesuai
dengan turunnya kadar obatanestesi di dalam darah. Bagi penderita yang
mendapat anestesi intravena, maka kesadarannya, berangsur-angsur pulih dengan
turunnya kadar obat anestesi akibat metabolisme atau ekskresi setelah pemberinya
dihentikan.
Selanjutnya pada penderita yang dianestesi dengan respirasi spontan tanpa
menggunakan pipa endotrakheal maka tinggal menunggu sadarnya penderita,
sedangkan bagi penderita yang menggunakan pipa endotrakheal maka perlu
dilakukan ekstubasi(melepas pipa ET). Ekstubasi bisa dilakukan pada waktu
penderita masih teranestesi dalam dan dapat juga dilakukan setelah penderita
sadar. Ekstubasi pada keadaan setengah sadar membahayakan penderita, karena
dapat terjadi spasme jalan napas, batuk, muntah, gangguan kardiovaskuler,
naiknya tekanan intra okuli dan naiknya tekanan intra cranial.
Ekstubasi pada waktu penderita masih teranestesi dalam mempunyai resiko
tidak terjaganya jalan nafas, dalam kurun waktu antara tidak sadar sampai sadar.
Tetapi ada operasi tertentu ekstubasi dilakukan pada waktu penderita masih
teranestesi dalam. Pada penderita yang mendapat balance anestesi maka ekstubasi
dilakukan setelah napas penderita adekuat. Untuk mempercepat pulihnya
penderita dari pengaruh muscle relaxant maka dilakukan reverse, yaitu
memberikan obat antikolinesterase.
Sebagian ahli anestesi tetap memberikan reverse walaupun napas sudah
adekuat bagi penderita yang sebelumnya mendapat muscle relaxant. Sebagian ahli
35

anestesi melakukan ekstubasi setelah penderita sadar, bisa diperintah menarik


napas dalam, batuk, menggelengkan kepala dan menggerakkan ekstremitas.
Penilaian yang lebih obyektif tentang seberapa besar pengaruh muscle relaxant
adalah dengan menggunakan alat nerve stimulator.
Adapun setelah prosedur diatas selesai, pasien dipindahkan ke ruang
pemulihan dan terus diobservasi dengan cara menilai Aldrettes score nya, nilai 810 bisa dipindahkan ke ruang perawatan, 5-8 observasi secara ketat, kurang dari 5
pindahkan ke ICU, penilaian meliputi:
a. Aldrete Score
1) Nilai Warna
a) Merah muda = 2
b) Pucat = 1
c) Sianosis = 0
2) Pernapasan
a) Dapat bernapas dalam dan batuk = 2
b) Dangkal namun pertukaran udara adekuat = 1
c) Apnue atau obstruksi = 0
3) Sirkulasi
a) Tekanan darah menyimpang <20% dari normal = 2
b) Tekanan darah menyimpang 20 50% dari normal = 1
c) Tekanan darah menyimpang >50% dari normal = 0
4) Aktivitas
a) Sadar, siaga dan orientasi = 2
b) Bangun namun cepat kembali tertidur = 1
c) Tidak berespons = 0
Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.
b. Steward Score (anak-anak)
1)Pergerakan
a) Gerak bertujuan = 2
b) Gerak tak bertujuan = 1
c) Tidak bergerak = 0
2) Pernapasan
a) Batuk, menangis = 2
b) Pertahankan jalan napas = 1
c) Perlu bantuan = 0
3) Kesadaran
a) Menangis = 2
b) Bereaksi terhadap rangsangan = 1
c) Tidak bereaksi = 0
Jika jumlah >5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.

36

37

BAB III
KESIMPULAN
1. Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri sentral disertai hilangnya
kesadaran yang bersifat reversibel.
2. Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan baik elektif maupun
darurat harus dipersiapkan dengan baik karena keberhasilan anestesi dan
pembedahan sangat dipengaruhi oleh persiapan pra anestesi.
3. Obat-obatan yang digunakan dalam anestesi umum yaitu obat-obatan intravena
dan inhalasi. Obat-obatan intravena antara lain propofol, tiopental, ketamin,
opioid, benzodiazepin, etomidat, dan atrakurium. Obat-obatan inhalasi antara
lain nitrous oksida, halotan, isofluran, desfluran, dan sevofluran.
4. Monitoring yang harus diperhatikan pada pasien dengan anestesi umum antara
lain memonitor kardiovaskular, respirasi, suhu tubuh, ginjal, dan blokade
neuromuskular.
5. Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan terus diobservasi dengan cara
menilai Aldrettes score.

38

DAFTAR PUSTAKA
Abou-Chebl A, Yeatts SD, Yan B, Cockroft K, Goyal M, Jovin T, et al. Impact of
General Anesthesia on Safety and Outcomes in the Endovascular Arm of
Interventional Management of Stroke (IMS) III Trial.Stroke. 2015 Aug. 46
(8):2142-8.
Aranake A et al. 2013. Minimum alveolar concentration: ongoing relevance and
clinical utility. Review Article. Anaesthesia (68). Hlm. 512522.
American Society of Anesthesiologists (ASA). 2009. Continuum of Depth of
Sedation

Definition

Sedation/Analgesia.

of

General

ASA

Web

Anesthesia
site.

and

Levels

Tersedia

http://www.asahq.org/publicationsAndServices/standards/20.pdf.

of
di

Diakses

pada tanggal 4 Maret 2016.


Butterworth John F et al. 2013. Morgan and Mikhails Clinical Anesthesiology.
Edisi 5. USA: Mc. Graw Hill. Hlm. 153-220; 1261-1271.
Friedland, D. R., et al. 2001. Bacterial Colonization of Endotracheal Tubes in
Intubated Neonatal. Arch Otolaringol Head and Neck Surg.
Jenkins K, Baker AB. Consent and anaesthetic risk. Anaesthesia. 2003 Oct.
58(10):962-84
Joenoerham, Justrafli dan Latief, Said A, 2014. Anestesiologi. Jakarta: Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI
Latief, Said A., Kartini A. Suryadi, M. Ruswan Dachlan. 2002. Petunjuk Praktis
Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.
Mahadevan, S. V. dan Gus M. Garmel. 2005. An Introduction to Clinical
Emergency Medicine: Guide for Practitioners in the Emergency
Department. New York: Cambridge University Press.
Mangku, Gde dan Tjokorda Gde Agung Senapathi. 2010. Buku Ajar Ilmu
Anestesia dan Reaminasi. Jakarta: Indeks.
Muhiman, M., Thaib M. R., dan Sunatrio S. 2004. Anestesiologi Edisi pertama.
Jakarta: Penerbit Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.
Munaf, S., 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Palembang: EGC.

39

Sebel PS, Bowdle TA, Ghoneim MM, et al. The incidence of awareness during
anesthesia: a multicenter United States study. Anesth Analg. 2004 Sep.
99(3):833-9
Soenarto, Ratna F dan Dachlan, Ruswan. 2012. Anestesia Umum Dalam: Buku
Ajar Anestesi. Jakarta: Departemen Anestesiologi dan Intensive Care FKUI
Zunilda DS dan Elysabeth. 2011. Anestetik Umum. Dalam Farmakologi dan
Terapi, Edisi 5, Sulistia et al. (editor). Jakarta: FKUI. Hlm. 122-137.

40