Anda di halaman 1dari 17

SENYAWA KOMPLEKS 58Co-NAFTENAT UNTUK EVALUASI KAPASITAS

PRODUKSI SUMUR MINYAK

Disusun oleh:
Okto Firmantri

(4311413054)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

DAFTAR ISI
Halaman Sampul ............................................................................................................ i
Daftar Isi ........................................................................................................................ ii
Abstrak ......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
1.1.

Latar Belakang ............................................................................................... 1

1.2.

Tujuan ............................................................................................................ 2

1.3.

Manfaat .......................................................................................................... 2

BAB II ISI ....................................................................................................................... 3


2.1.

Senyawa Kompleks ....................................................................................... 3

2.2.

Minyak Bumi .................................................................................................. 3


2.2.1. Proses Pembentukan Minyak Bumi ................................................. 4
2.2.2. Komposisi Minyak Bumi ................................................................... 6

2.3.

Kobalt-58 (58Co) ............................................................................................. 8

2.4.

Natrium Naftenat ............................................................................................ 9

2.5.

Sintesis 58Co-Naftenat ................................................................................. 10


2.5.1. Sintesis Natrium Naftenat ............................................................... 10
2.5.2. Sintesis 58Co-Naftenat Non Radioaktif ........................................... 10
2.5.3. Sintesis 58Co-Naftenat Radioaktif ................................................... 11

BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 13


3.1.

Kesimpulan .................................................................................................. 13

3.2.

Saran ........................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 14

ii

Abstrak:
Dalam dunia perminyakan masalah produksi merupakan kebutuhan mutlak untuk
menjaga kelangsungan hidup industri tersebut. Maka diperlukan suatu evaluasi
kapasitas produksi minyak bumi untuk menjaga kelangsungan hidup industri minyak.
Untuk evaluasi kapasitas produksi suatu sumur minyak dapat memanfaatkan senyawa
kompleks. Senyawa atau ion kompleks adalah senyawa atau ion yang mengandung
atom pusat yang biasanya merupakan logam transisi dan dikelilingi oleh ligan-ligan.
Senyawa kompleks tersebut adalah

58

Co-Naftenat. Senyawa kompleks

58

Co-Naftenat

dapat disintesis dari natrium naftenat dengan kobalt (II) klorida radioaktif. Senyawa
kompleks

58

Co-Naftenat bersifat radioaktif, sehingga dapat digunakan sebagai perunut

radioaktif untuk evaluasi kapasitas produksi sumur minyak.


Kata kunci: Senyawa kompleks; 58Co-Naftenat; radioaktif; minyak bumi

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Minyak bumi dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, berwarna

cokelat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari
beberapa area di kerak bumi. Minyak bumi adalah hasil dari peruraian (dekomposisi)
materi tumbuhan dan hewan di suatu daerah yang subsidence (turun) secara perlahan.
Daerah tersebut biasanya berupa laut,batas lagoon (danau) sepanjang pantai ataupun
danau, dan rawa di daratan.
Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian
besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya.
Minyak bumi diambil dari sumur minyak di pertambangan-pertambangan minyak. Lokasi
sumur-sumur minyak ini didapatkan setelah melalui proses studi geologi, analisis
sedimen, karakter dan struktur sumber, dan berbagai macam studi lainnya. Setelah itu,
minyak bumi akan diproses di tempat pengilangan minyak dan dipisah-pisahkan
hasilnya berdasarkan titik didihnya sehingga menghasilkan berbagai macam bahan
bakar, mulai dari bensin dan minyak tanah sampai aspal dan berbagai reagen kimia
yang dibutuhkan untuk membuat plastik dan obat-obatan. Minyak bumi digunakan untuk
memproduksi berbagai macam barang dan material yang dibutuhkan manusia.
Dalam dunia perminyakan masalah produksi merupakan kebutuhan mutlak untuk
menjaga kelangsungan hidup industri tersebut. Ketersediaan dan terjadinya sumber
minyak di dalam tanah yang merupakan sumur produksi tidak terlepas dipengaruhi oleh
sifat alam. Kenyataannya produksi minyak dari suatu sumur produksi kapasitasnya lama
kelamaan akan terus menurun sesuai dengan fungsi waktu. Kondisi demikian
disebabkan oleh adanya perubahan tekanan hidrostatik pada formasi lapisan tanah yang
tidak lepas dari fenomena alam tersebut atau disebut siklus hidrologi. Evaluasi masalah
menurunnya kapasitas sumber minyak dapat dilakukan dengan meningkatkan tekanan
formasi lapisan minyak melalui cara menginjeksikan air ke dalam sumur produksi
sehingga mampu meningkatkan mobilitas minyak.
Waktu yang dibutuhkan air untuk menerobos formasi lapisan minyak dimonitor
lama perjalanannya dengan menggunakan perunut radioaktif. Pemilihan perunut

radioaktif sangat tergantung kepada lama estimasi waktu penerobosan dalam kaitannya
dengan umur paro dan paparan radiasi radioisotopnya. Perunut radioaktif yang banyak
diaplikasikan untuk evaluasi kapasitas sumber minyak di antaranya radioisotop tritium
atau hidrogen-3 (3H), mempunyai umur paruh 12 tahun sebagai pemancar radiasi beta
() dan mudah larut dalam air dengan risiko kontaminasi yang rendah.
Unsur perunut radioaktif yang dikembangkan saat ini adalah kobalt-58 (58Co)
mempunyai umur paruh 70,86 hari sebagai pemancar gamma (), E = 0,811 MeV yang
merupakan suatu unsur alternatif sebagai pengganti perunut radioaktif 3H. Unsur
radioisotop 58Co dalam penggunaannya berada dalam bentuk kompleks senyawa 58Conaftenat yang mudah disintesis dengan cara mereaksikan larutan

58

CoCl2 dengan

senyawa natrium naftenat (C5H9CH2COONa) melalui proses pemanasan pada suhu 110
o

C selama enam jam. Unsur radioisotop

58

Co dalam bentuk senyawa kompleks dapat

diukur langsung keradioaktifannya dari sampel minyak mentah menggunakan alat ukur
MCA (Multi Channel Analyzer) atau dose calibrator. Keuntungan penggunaan unsur 58Co
ini karena merupakan radioisotop yang mempunyai umur paro yang lebih pendek
dibandingkan dengan tritium (Setiawan & Marlina, 2009).

1.2.

Tujuan

1. Mengetahui manfaat dari senyawa kompleks untuk kehidupan sehari-hari.


2. Mensintesis senyawa kompleks

58

Co-Naftenat dari kobalt-58 dan natrium

naftenat.
3. Mengetahui kegunaan dari senyawa kompleks

58

Co-Naftenat pada industri

pengeboran sumur minyak.

1.3.

Manfaat

1. Dapat mengetahui manfaat dari senyawa kompleks untuk kehidupan seharihari.


2. Dapat membuat senyawa kompleks 58Co-Naftenat dari kobalt-58 dan natrium
naftenat.
3. Dapat mengetahui kegunaan dari senyawa kompleks 58Co-Naftenat pada
industri pengeboran sumur minyak.

BAB II
ISI

2.1.

Senyawa Kompleks
Senyawa kompleks atau sering disebut dengan kompleks koordinasi adalah

senyawa yang mengandung atom atau ion (biasanya logam) yang dikelilingi oleh
molekul atau anion, biasanya disebut dengan ligan atau agen pengompleks. Senyawa
kompleks telah dikenal manusia sejak awal kemunculan ilmu kimia, misalnya adanya
warna biru prusia (Prussian blue). Terobosan utama terjadi ketika Alfred Werner
mengusulkan sebuah teori pada tahun 1893 bahwa Co(III) dapat mengikat enam ligan
dalam geometri oktahedral. Teorinya memungkinkan peneliti untuk memahami
perbedaan antara ikatan ion dan ikatan koordinasi dalam suatu senyawa, misalnya
klorida dalam kobalt amina klorida dan dapat menjelaskan banyaknya isomer yang
belum pernah dijelaskan sebelumnya. Pada tahun 1914, Werner mengusulkan kompleks
koordinasi pertama yang disebut heksol. Heksol mengandung isomer optik, dan
mematahkan teori bahwa senyawa karbon saja yang bisa memiliki kiralitas. (Anonim,
2013).
Sifat-sifat kompleks logam ditentukan oleh struktur elektroniknya. Struktur
elektronik dapat dijelaskan dengan model ionik yang mengandung muatan formal
terhadap logam dan ligan. Pendekatan ini sering disebut sebagai Teori Medan Kristal
(Crystal Field Theory, CFT). CFT diperkenalkan oleh Hans Bethe pada tahun 1929, yang
menggunakan mekanika kuantum untuk menjelaskan senyawa kompleks. Ada sebuah
model yang lebih canggih yang menyangkut kovalensi, dan pendekatan ini disebut
sebagai Teori Medan Ligan (Ligands Field Theory, LFT) dan teori orbital molekul (MO).
Teori medan ligan, diperkenalkan pada tahun 1935 dan dibangun dari teori orbital
molekul, dapat menjelaskan lebih luas tentang senyawa kompleks pada interaksi
kovalen (Anonim, 2013).

2.2.

Minyak Bumi
Minyak bumi dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, berwarna

cokelat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari
beberapa area di kerak bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai

hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi,
dan kemurniannya. Minyak bumi diambil dari sumur minyak di pertambanganpertambangan minyak. Lokasi sumur-sumur minyak ini didapatkan setelah melalui
proses studi geologi, analisis sedimen, karakter dan struktur sumber, dan berbagai
macam studi lainnya. Setelah itu, minyak bumi akan diproses di tempat pengilangan
minyak

dan

dipisah-pisahkan

hasilnya

berdasarkan

titik

didihnya

sehingga

menghasilkan berbagai macam bahan bakar, mulai dari bensin dan minyak tanah
sampai aspal dan berbagai reagen kimia yang dibutuhkan untuk membuat plastik dan
obat-obatan. Minyak bumi digunakan untuk memproduksi berbagai macam barang dan
material yang dibutuhkan manusia (Anonim, 2016).
2.2.1. Proses Pembentukan Minyak Bumi
Minyak bumi adalah hasil dari peruraian (dekomposisi) materi tumbuhan dan
hewan di suatu daerah yang subsidence (turun) secara perlahan. Daerah tersebut
biasanya berupa laut,batas lagoon (danau) sepanjang pantai ataupun danau dan rawa
di daratan. Sedimen diendapkan bersama-sama dengan materi tersebut dan kecepatan
pengendapan sedimen harus cukup cepat sehingga paling tidak bagian materi organik
tersebut dapat tersimpan dan tertimbun dengan baik sebelum terjadi pembusukan. Pada
kondisi sirkulasi dan reduksi tertentu akumulasi hidrokarbon banyak ditemukan pada
bagian air laut dalam (Anonim, 2016).
Waktu berjalan terus secara geologis dan daerah pengendapan semakin
terbenam ke dalam permukaan bumi yang lebih dalam, karena bertambahnya berat oleh
sedimen sedimen dan material yang menimbun di atasnya, atau karena gaya gaya
tektonik yang menimbulkan efek subsidence. Material organik terbenam semakin dalam
sehingga mengalami tekanan dan suhu yang semakin tinggi. Proses tersebut akan
menimbulkan perubahan perubahan kimiawi dari material organik tersebut. Perubahan
material ini merupakan cikal bakal terbentuknya campuran bahan hidrokarbon yang
komposisinya sangat kompleks, baik hidrokarbon yang berupa cairan maupun yang
berbentuk gas (Anonim, 2016).
Kenaikan suhu terhadap kedalaman rata rata di dunia ini sekitar 20 - 55 C/km.
Di Sumatera sendiri dapat mencapai kurang lebih sekitar 100 C/km. Sedangkan habitat
minyak baru akan terbentuk pada suhu sekitar 65 - 150 C yang biasanya berada pada
kedalaman 1,5 3 km. Pada kedalaman 3 6 km batuan reservoar akan lebih
didominasi oleh gas daripada minyak. Untuk kedalaman yang lebih dalam lagi suhu akan

menjadi lebih tinggi sehingga gas akan menjadi lebih tinggi sehingga gas akan
mengalami dekomposisi lebih lanjut (Anonim, 2016).
Pada umumnya, minyak bumi biasanya terendapkan dalam batuan sedimen
berpori baik yang memiliki nilai porositas 45% (reservoar yang sangat baik). Karena
semakin lama batuan tersebut terendapkan dan tertimbun material di atasnya, maka
batuan tersebut akan terkompaksi dan hal ini mengakibatkan nilai porositasnya
berkurang. Minyak, gas, dan air akan terkumpul atau tersimpan di ruang pori pori dari
batuan berpori tersebut. Oleh karena tekanan gravitasi, maka fluida tersebut bergerak di
dalam batuan perlahan-lahan. Batuan yang dapat meloloskan fluida disebut sebagai
batuan yang permeabel. Permeabilitas batuan dapat memisahkan gas, minyak, dan air
secara fisis, yaitu akibat perbedaan densitasnya. Minyak dan gas yang berdensitas lebih
ringan daripada air akan bergerak naik sampai ke permukaan sebagai rembesan atau
terperangkap di dalam jebakan lalu berhenti terakumulasi sampai perangkap itu penuh
(Anonim, 2016).
Dewasa ini terdapat dua teori utama yang berkembang mengenai asal usul
terjadinya minyak bumi, antara lain:
1. Teori Anorganik (Abiogenesis)
Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam
alkali, yang dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan
CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa
minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam
dalam bumi. Yang lebih ekstrem lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang
mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh
sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi. Pernyataan
tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam beberapa batuan
meteor dan di atmosfer beberapa planet lain. Secara umum dinyatakan seperti di bawah
ini:
Berdasarkan teori anorganik, pembentukan minyak bumi didasarkan pada
proses kimia, yaitu:
a. Teori alkalisasi panas dengan CO2 (Berthelot)
Reaksi yang terjadi:
alkali metal + CO2

karbida

karbida + H2O
C2H2

ocetylena
C6H6

komponen-komponen lain

Dengan kata lain bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali
dalam keadaan bebas dan bersuhu tinggi. Bila CO2 dari udara bersentuhan
dengan alkali panas tadi maka akan terbentuk ocetylena. Ocetylena akan
berubah menjadi benzena karena suhu tinggi. Kelemahan logam ini adalah
logam alkali tidak terdapat bebas di kerak bumi.
b. Teori karbida panas dengan air (Mendeleyef)
Asumsi yang dipakai adalah ada karbida besi di dalam kerak bumi yang
kemudian bersentuhan dengan air membentuk hidrokarbon, kelemahannya tidak
cukup banyak karbida di alam (Septiadevana, 2008).

2.2.2. Komposisi Minyak Bumi


Minyak bumi dan gas alam adalah campuran kompleks hidrokarbon dan
senyawa-senyawa organik lain. Komponen hidrokarbon adalah komponen yang paling
banyak terkandung di dalam minyaak bumi dan gas alam. Gas alam terdiri dari alkana
suku rendah, yaitu metana, etana, propana, dan butana. Selain alkana juga terdapat
berbagai gas lain seperti karbondioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S), beberapa
sumur gas juga mengandung helium (Septiadevana, 2008).
Sedangkan hidrokarbon yang terkandung dalam minyak bumi terutama adalah
alkana dan sikloalkana, senyawa lain yang terkandung didalam minyak bumi
diantaranya adalah Sulfur, Oksigen, Nitrogen dan senyawa-senyawa yang mengandung
konstituen logam terutama Nikel, Besi dan Tembaga. Komposisi minyak bumi sangat
bervariasi dari satu sumur ke sumur lainnya dan dari daerah ke daerah lainnya
(Septiadevana, 2008).
Perbandingan unsur-unsur yang terdapat dalam minyak bumi sangat bervariasi.
Berdasarkan hasil analisa, diperoleh data sebagai berikut :
Karbon : 83,0-87,0 %
Hidrogen : 10,0-14,0 %
Nitrogen : 0,1-2,0 %

Oksigen : 0,05-1,5 %
Sulfur : 0,05-6,0 %
Struktur hidrokarbon yang ditemukan dalam minyak mentah:
1. Alkana (parafin)

CnH2n + 2 ,alkana ini memiliki rantai lurus dan

bercabang, fraksi ini merupakan yang terbesar di dalam minyak mentah.


2. Sikloalkana (napten)

CnH2n , Sikloalkana ada yang memiliki cincin 5

(lima) yaitu siklopentana ataupun cincin 6 (enam) yaitu sikloheksana.

siklopentana
3. Aromatik

sikloheksana

CnH2n -6

aromatik memiliki cincin 6


Aromatik hanya terdapat dalam jumlah kecil, tetapi sangat diperlukan dalam
bensin karena :
-

Memiliki harga anti knock yang tinggi

Stabilitas penyimpanan yang baik

Dan kegunaannya yang lain sebagai bahan bakar (fuels)


Proporsi dari ketiga tipe hidrokarbon sangat tergantung pada sumber dari

minyak bumi. Pada umumnya alkana merupakan hidrokarbon yang terbanyak tetapi
kadang-kadang (disebut sebagai crude napthenic) mengandung sikloalkana sebagai
komponen yang terbesar, sedangkan aromatik selalu merupakan komponen yang
paling sedikit. Zat-Zat Pengotor yang sering terdapat dalam minyak bumi (Septiadevana,
2008):
1. Senyawaan Sulfur
Crude oil yang densitynya lebih tinggi mempunyai kandungan Sulfur yang
lebih tinggi pula. Keberadaan Sulfur dalam minyak bumi sering banyak
menimbulkan akibat, misalnya dalam gasoline dapat menyebabkan korosi

(khususnya dalam keadaan dingin atau berair), karena terbentuknya asam yang
dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran gasoline) dan air.
2. Senyawaan Oksigen
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2 % dan
menaik dengan naiknya titik didih fraksi. Kandungan oksigen bisa menaik apabila
produk itu lama berhubungan dengan udara. Oksigen dalam minyak bumi berada
dalam bentuk ikatan sebagai asam karboksilat, keton, ester, eter, anhidrida,
senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol. Sebagai asam karboksilat berupa
asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asam alifatik.
3. Senyawaan Nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu
0,1-0,9 %. Kandungan tertinggi terdapat pada tipe Asphalitik. Nitrogen
mempunyai sifat racun terhadap katalis dan dapat membentuk gum/getah pada
fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyak terdapat pada fraksi titik didih tinggi.
Nitrogen kelas dasar yang mempunyai berat molekul yang relatif rendah dapat
diekstrak dengan asam mineral encer, sedangkan yang mempunyai berat
molekul yang tinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer.
4. Konstituen Metalik
Logam-logam seperti besi, tembaga, terutama nikel dan vanadium pada
proses catalytic cracking mempengaruhi aktivitas katalis, sebab dapat
menurunkan produk gasoline, menghasilkan banyak gas dan pembentukan
coke. Pada power generator temperatur tinggi, misalnya oil-fired gas turbine,
adanya konstituen logam terutama vanadium dapat membentuk kerak pada rotor
turbine. Abu yang dihasilkan dari pembakaran fuel yang mengandung natrium
dan terutama vanadium dapat bereaksi dengan refactory furnace (bata tahan
api), menyebabkan turunnya titik lebur campuran sehingga merusakkan
refractory itu.

2.3.

Kobalt-58 (58Co)
Kobalt adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Co

dan nomor atom 27. Elemen ini biasanya hanya ditemukan dalam bentuk campuran di

alam. Elemen bebasnya, diproduksi dari peleburan reduktif, adalah logam berwarna
abu-abu perak yang keras dan berkilau. Ketersediaan: unsur kimia kobalt tersedia di
dalam banyak formulasi yang mencakup kertas perak, potongan, bedak, tangkai, dan
kawat (Anonim, 2016).
Kobalt alami (Co) mempunyai 1 isotop stabil, yaitu 59Co. 28 radioisotop yang telah
dikarakterisasi dengan isotop yang paling stabil menjadi

60

Co dengan waktu paruh

5,2714 tahun, 57Co dengan waktu paruh 271,8 hari, 56Co dengan waktu paruh 77,27 hari,
dan

58

Co dengan waktu paruh 70,86 hari . Semua isotop radioaktif sisanya memiliki

waktu paruh yang kurang dari 18 jam dan mayoritas ini memiliki paruh yang kurang dari
1 detik. Unsur ini juga memiliki 11 keadaan meta, yang semuanya memiliki umur paruh
kurang dari 15 menit. Isotop kobalt-58 (58Co) mempunyai masa isotop sebesar
57.9357528 u, mode kerusakan adalah +, dan nuklir spinnya +2 (Anonim, 2016).

2.4.

Natrium Naftenat
Senyawa natrium naftenat diperoleh melalui sintesis dari senyawa asam naftenat

dengan larutan natrium hidroksida melalui proses refluks pada suhu 110 oC selama
enam jam. Selanjutnya dilakukan ekstraksi untuk memisahkan senyawa natrium
naftenat yang terbentuk. Reaksi antara asam naftenat dengan natrium hidroksida
menghasilkan senyawa natrium naftenat yang bersifat polar. Asam naftenat yang
bersifat non polar dengan ditambahkan natrium hidroksida menjadi garam naftenatnya
yang polar, dan menyebabkan garam natrium naftenat terlarut dalam pelarut air. Pada
saat refluks tidak semua asam naftenat habis bereaksi dengan natrium hidroksida, oleh
karena itu dilakukan ekstraksi dengan petroleum eter untuk memisahkan asam naftenat
yang tidak bereaksi. Reaksi yang terjadi pada sintesis senyawa natrium naftenat
(Setiawan & Marlina, 2009):

Senyawa natrium naftenat yang terbentuk dalam pelarut air berwarna kuning
kecoklatan, setelah pelarut diuapkan senyawa natrium naftenat berbentuk pasta padat
berwarna putih. Rendemen senyawa natrium naftenat diperoleh secara stoikhiometri

pada kondisi optimum dengan mereaksikan perbandingan molekul asam naftenat


terhadap variasi molekul natrium hidroksida (Setiawan & Marlina, 2009).

2.5.

Sintesis 58Co-Naftenat

2.5.1. Sintesis Natrium Naftenat


Sebanyak 10 g ( 0,078 mol ) asam naftenat ditimbang dengan neraca analitis,
kemudian dimasukkan ke dalam labu refluks 250 mL. Selanjutnya ditambahkan natrium
hidroksida 0,6 g ( 0,015 mol) dalam 30 mL air suling, lalu direfluks selama enam jam
diatas penangas air pada suhu pemanasan 110 oC. Setelah dingin, campuran tersebut
dicuci sebanyak tiga kali masing-masing dengan 10 mL petroleum eter (dengan tujuan
untuk menghilangkan kelebihan asam naftenat) lalu lapisan petroleum eter ditampung
dan disimpan. Lapisan air diuapkan untuk mendapatkan residu yang terbentuk dari
natrium naftenat, selanjutnya ditimbang untuk ditentukan beratnya (Setiawan & Marlina,
2009).

2.5.2. Sintesis 58Co-Naftenat Non Radioaktif


Sebanyak 6,57 g ( 0,0438 mol) natrium naftenat ditambah 30 mL air dan 30 mL
petroleum eter, lalu ditambah kobalt(II) klorida heksahidrat non radioaktif sejumlah 0,5 g
( 0,0021 mol), sambil diaduk secara terus menerus dengan magnetic stirrer.
Selanjutnya larutan dipindahkan kedalam corong pisah lalu lapisan petroleum eter
dipisahkan dari lapisan air. Lapisan petroleum eter dicuci sebanyak tiga kali dengan 10
mL air lalu diuapkan sampai terbentuk residu yang amorf berwarna ungu muda dari
kobalt naftenat dan ditimbang untuk ditentukan beratnya (Setiawan & Marlina, 2009).
Kobalt(II)naftenat merupakan senyawa kompleks yang terbentuk melalui suatu
ikatan kovalen koordinasi. Dalam hal ini, bagian yang berperan sebagai ion pusat yaitu
ion kobalt dan senyawa naftenat bertindak sebagai ligan. Ion kobalt mempunyai
kecenderungan untuk membentuk suatu kompleks yang tidak mudah terputus (kompak)
dengan bermacam-macam ligan. Reaksi antara natrium naftenat dengan kobalt (II)
klorida (Setiawan & Marlina, 2009):

10

2.5.3. Sintesis 58Co-Naftenat Radioaktif


Pembuatan senyawa kobalt(II)naftenat radioaktif secara prinsip sama dengan
pembuatan senyawa kobalt(II)naftenat non radioaktif dari hasil yang optimum. Pada
awalnya, dilakukan pembuatan senyawa radioisotop

58

CoCl2 yang dibuat dengan cara

menyinari (iradiasi) sasaran nikel oksida (58NiO) dalam reaktor dengan fluks neutron
>1013 n.cm-2.s-1. Pemisahan radioisotop 58Co dari sasaran nikel dilakukan dengan cara
kromatografi kolom penukar ion. Dengan metode ini, sasaran nikel akan terpisah dari
radioisotop

58

Co melalui resin Dowex karena terjadi pertukaran anion. Terpisahnya

kedua senyawa ini dilakukan dengan melakukan elusi menggunakan larutan pengelusi
yang berbeda konsentrasinya. Elusi pertama dilakukan dengan menggunakan larutan
HCl 9 N sampai kolom bebas ion nikel (ditentukan dengan beberapa tetes eluat ditambah
larutan dimetil glioksim 1 % dalam suasana basa, sampai tidak terjadi endapan merah),
sedangkan radioisotop

58

Co akan tertahan pada resin. Elusi kedua dilakukan dengan

menggunakan larutan HCl 4 N untuk mendapatkan senyawa radioisotop

58

CoCl2 yang

murni. Larutan HCl digunakan karena merupakan suatu asam kuat yang cenderung
terikat kuat oleh logam Ni atau Co. Selain itu ion Cl- mudah terikat oleh ion Ni2+ atau Co2+
karena keduanya merupakan suatu ion dengan muatan berlawanan yang akan
membentuk senyawa NiCl2 dan CoCl2. Radioisotop

58

CoCl2 yang telah diketahui

radioaktivitasnya selanjutnya digunakan untuk pembuatan senyawa

58

Co-naftenat

(Setiawan & Marlina, 2009).


Sebanyak 5,99 g ( 0,0191 mol) kobalt(II)-naftenat non radioaktif ditimbang,
kemudian ditambah 30 mL air dan 30 mL petroleum eter, lalu ditambahkan larutan
58

CoCl2 radioaktif dengan aktivitas 1,8 mCi sambil diaduk dengan menggunakan

magnetic stirrer secara terus menerus. Kemudian larutan dipindahkan kedalam corong
pisah lalu lapisan petroleum eter dipisahkan dari lapisan airnya. Selanjutnya lapisan

11

petroleum eter dicuci sebanyak tiga kali dengan 10 mL air, lalu lapisan petroleum eter
yang berwarna ungu muda dari kobalt naftenat diukur keradioaktifannya dengan
menggunakan dose calibrator (Deluxe Isotope Calibrator II) atau Multi Channel Analyzer
(Setiawan & Marlina, 2009).

12

BAB III
PENUTUP

3.1.

Kesimpulan
Senyawa atau ion kompleks adalah senyawa atau ion yang mengandung atom

pusat yang biasanya merupakan logam transisi dan dikelilingi oleh ligan-ligan. Senyawa
mempunyai banyak sekali manfaat untuk kehidupan sehari-hari manusia. Misalnya,
58

Co-Naftenat yang digunakan untuk evaluasi kapasitas produksi sumur minyak.

Senyawa natrium naftenat diperoleh melalui sintesis dari senyawa asam naftenat
dengan larutan natrium hidroksida melalui proses refluks pada suhu 110 oC selama
enam jam. Selanjutnya dilakukan ekstraksi untuk memisahkan senyawa natrium
naftenat yang terbentuk. Senyawa kompleks

58

Co-Naftenat dapat dibuat dengan

mereaksikan natrium naftenat dengan kobalt (II) klorida heksahidrat radioaktif dengan
aktivitas 1,8 mCi. Senyawa kompleks

58

Co-Naftenat sebagai perunut radioaktif untuk

melayani kebutuhan yang berhubungan dengan teknik nuklir di bidang industri,


khususnya untuk evaluasi kapasitas produksi sumur minyak.

3.2.

Saran
Untuk evaluasi kapasitas produksi sumur minyak dapat digunakan senyawa

kompleks 58Co-Naftenat sebagai perunut radioaktif.

13

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013. Senyawa Kompleks. [Online] Available at:


http://www.ilmukimia.org/2013/04/senyawa-kompleks.html [Accessed 27 Maret
2016].
Anonim, 2016. Isotopes of Cobalt. [Online] Available at:
https://en.wikipedia.org/wiki/Isotopes_of_cobalt [Accessed 22 Maret 2016].
Anonim, 2016. Kobalt. [Online] Available at: http://www.id.wikipedia.org/wiki/Kobalt
[Accessed 21 Maret 2016].
Anonim, 2016. Minyak Bumi. [Online] Available at:
http://www.id.wikipedia/wiki/Minyak_bumi [Accessed 21 Maret 2016].
Illiya, W. & Martak, F., 2011. SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA
KOMPLEKS LOGAM KOBALT (II) DENGAN 2-FENILETILAMIN.
Saria, Y., Lucyanti, Hidayati, N. & Lesbani, A., 2012. Sintesis Senyawa Kompleks
Kobalt dengan Asetilasetonato. Jurnal Penelitian Sains, XV(15): 115-17.
Septiadevana, R., 2008. Minyak Bumi dan Gas Alam. [Online] Available at:
http://www.kimia.upi.edu [Accessed 21 Maret 2016].
Setiawan, D., 2007. METODE PEMBUATAN RADIOISOTOP KOBAL- 58 (58Co)
MELALUI REAKSI 58Ni(n,p)58Co. Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia,
VIII(1): 29-39.
Setiawan, D. & Marlina, 2009. Sintesis Senyawa Kompleks 58Co-Natenat Untuk
Evaluasi Kapasitas Produksi Sumur Minyak. 187-93.

14