Anda di halaman 1dari 20

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

ASPEK ETIKOMEDIKOLEGAL ELECTRO CONVULSIVE


THERAPY (ECT) PADA GANGGUAN JIWA BERAT

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat dalam Menempuh Program
Pendidikan Profesi Dokter

Dosen Penguji: dr. Arief Rahman Sadad, SH., Sp. F, M.Si Med
Residen Pembimbing: dr. Stephanus Rumancay

Disusun Oleh:
Amalia Rahma Fathinita

FK UNDIP

Ayu Nurma Dewi Amnur

FK UNDIP

Dinda Welltsazia

FK UNDIP

Henni Susilawati

FK UNIB

Ihwanu Sholeh

FK UNDIP

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN DEPARTEMEN FORENSIK DAN STUDI MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
RSUP DR. KARIADI SEMARANG
Periode 22februari 2015 19 Maret 2015

DAFTAR ISI

Halaman Judul........................................................................................................................
Daftar Isi.................................................................................................................................
BAB I: Pendahuluan.............................................................................................................
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

Latar Belakang Masalah................................................................................................


Tujuan............................................................................................................................
Perumusan Masalah.......................................................................................................
Manfaat..........................................................................................................................

BAB II: Pembahasan............................................................................................................


2.1. Electro Convulsive Therapy (ECT)................................................................................
2.1.1. Definisi (ECT)...................................................................................................
2.1.2. Sejarah................................................................................................................
2.1.3. Macam-macam ..................................................................................................
2.1.4. Prosedur ............................................................................................................
2.1.5. Indikasi...............................................................................................................
2.1.6. Kontraindikasi ...................................................................................................
2.1.7. Efek samping ....................................................................................................
2.2 Gangguan kejiwaan .......................................................................................................
2.2.1 Etiologi..................................................................................................................
2.2.2 Terapi ...................................................................................................................
2.3

Skizofrenia ....................................................................................................................
2.3.1 Etiologi..................................................................................................................
2.3.2 Terapi ...................................................................................................................

2.4 Penggunaan Terapi Elektokonvulsif (ECT) ditinjau dari aspek etik dan medicolegal.
BAB III: Kesimpulan dan Saran.........................................................................................
3.1. Kesimpulan....................................................................................................................
3.2. Saran..............................................................................................................................
Daftar Pustaka.......................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah

Gangguan jiwa yaitu suatu sindrom atau pola perilaku yang secara klinis
bermakna yang berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan
gangguan pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia. (Keliat, 2011 )
Fenomena gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang
sangat signifikan, dan setiap tahun di berbagai belahan dunia jumlah penderita
gangguan jiwa bertambah. WHO (2009) memperkirakan 450 juta orang di seluruh
dunia mengalami gangguan mental, setiap tahun sekitar 1 juta orang diantaranya
meninggal karena bunuh diri, hampir satu per tiga dari penduduk di wilayah Asia
Tenggara. Sekitar 10% orang dewasa mengalami gangguan jiwa saat ini dan 25%
penduduk diperkirakan akan mengalami gangguan jiwa pada usia tertentu selama
hidupnya. Usia ini biasanya terjadi pada dewasa muda antara usia 18-21 tahun
(WHO, 2009).
Menurut National Institute of Mental Mealth gangguan jiwa mencapai
13% dari penyakit secara keseluruhan dan diperkirakan akan berkembang menjadi
25% di tahun 2030. Kejadian tersebut akan memberikan andil meningkatnya
prevalensi gangguan jiwa dari tahun ke tahun diberbagai negara.
Berdasarkan hasil penelitian dari Rudi Maslim dalam Mubarta (2011)
prevalensi masalah kesehatan jiwa di Indonesia sebesar 6,55%. Angka tersebut
tergolong sedang dibandingkan dengan negara lainnya. Data dari 33 Rumah Sakit
Jiwa (RSJ) yang ada di seluruh Indonesia menyebutkan hingga kini jumlah
penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5 juta orang atau sekitar 0,5% dimana
sekitar 99% pasien di Rumah Sakit Jiwa adalah penderita skizofrenia (Yosep,
2009).
Berdasarkan laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 bahwa
prevalensi nasional gangguan jiwa berat sebesar 0,5%. Sebanyak 7 provinsi
mempunyai prevalensi gangguan jiwa berat di atas prevalensi nasional, yaitu DKI
Jakarta (20,3%), Nanggroe Aceh Darussalam (18,5%), Sumatera Barat (16,7%),
Sumatera Selatan (9,2%), Bangka Belitung, (8,7%), Kepulauan Riau (7,4%) dan
Nusa Tenggara Barat (9,9%) (Depkes RI, 2013).
Saat ini gangguan jiwa merupakan salah satu penyakit yang tidak bisa
dipandang sebelah mata lagi, pemerintah harusnya mengambil langkah konkrit

dalam hal ini. Akan tetapi dibalik semua kekhawatiran kita akan penyakit jiwa ini,
saat ini masyarakat boleh berharap banyak pada kemajuan di bidang IPTEK
khususnya di bidang Ilmu Kedokteran Jiwa. Saat ini para ahli semakin gencar
untuk mengembangkan terapi-terapi untuk pengobatan penyakit jiwa dan salah
satu terapi yang saat ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat adalah terapi
ECT (Electro Convulsive Therapy).
.

Electro Convulsive Therapy mungkin merupakan salah satu terapi yang

harusnya menjadi sebuah trend dan semakin dikembangkan oleh para ahli,
mengingat semakin meningkatnya angka kejadian pasien dengan gangguan jiwa
di Indonesia. Hal inilah yang melatar belakangi kami untuk mengangkat Terapi
ECT sebagai salah satu tema dalam makalah kami, dan kami ingin mebahas lebih
jauh mengenai terapi ECT ini, sehingga kami berharap makalah ini mampu
meberikan sumbangsih pikiran bagi pembacanya.
1.2. Tujuan
1. Tujuan Umum:
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang penggunaan Electro
Convulsive Therapy terutama dalam bidang forensik
2. Tujuan Khusus:
a) Mengetahui pengertian Electro Convulsive Therapy
b) Mengetahui cara kerja Electro Convulsive Therapy
c) Mengetahui Indikasi, Kontra Indikasi, dan Efek Samping dari
pemberian Electro Convulsive Therapy
d) Mengetahui keuntungan dan kerugian dari pemberian Electro
Convulsive Therapy
e) Mengetahui pengertian gangguan jiwa berat
f) Mengetahui terapi gangguan jiwa berat
g) Mengetahui aspek legal dan etik dalam pemberian Electro
Convulsive Therapy
1.3. Perumusan Masalah
Permasalahan-permasalahan yang akan diangkat dalam referat ini adalah:
1. Apakah yang dimaksud dengan Electro Convulsive Therapy?
2. Bagaimana cara kerja Electro Convulsive Therapy?
3

3. Apakah Indikasi, Kontra Indikasi, dan Efek Samping dari pemberian


Electro Convulsive Therapy?
4. Apakah keuntungan dan kerugian dari pemberian Electro Convulsive
Therapy?
5. Apakah pengertian gangguan jiwa berat?
6. Bagaimanakah terapi pada gangguan jiwa berat?
7. Bagaimanakah aspek legal dan etik dalam pemberian Electro Convulsive
Therapy?
1.4. Manfaat
1. Manfaat Teoritis:
Menambah wawasan dalam pengetahuan mengenai penggunaan terapi
Elektrokonvulsif (ECT)
2. Manfaat Aplikatif:
Bagi

dunia

pendidikan:

menambah

pengetahuan

mengenai

penggunaan terapi ektrokonvulsif (ECT)


Bagi institusi forensik: menambah pengetahuan mengenai penggunaan
terapi elektrokonvulsif (ECT) ditinjau dari aspek etik dan medikolegal
Bagi institusi hukum : menambah pengetahuan mengenai kasus
penggunaan terapi Elektrokonvulsif (ECT) ditinjau dari aspek etik dan
medikolegal

BAB II
PEMBAHASAN
7.1 Electro Convulsive Therapy(ECT)
7.1.1 Definisi Electro Convulsive Therapy(ECT)
Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah ECT adalah suatu tindakan
terapi dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada
penderita baik tonik maupun klonik yaitu bentuk terapi pada klien dengan
mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien
untuk membangkitkan kejang grandmall (Riyadi, 2009). Dan menurut
4

Townsend (1998) Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu jenis


pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak melalui elektroda
yang ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut cukup untuk menimbulkan
kejang gran mal, yang darinya diharapkan efek yang terapeutik tercapai.
7.1.2

Sejarah ECT

ECT pertama kali digunakan pada tahun 1930-an. Pada awalnya, peneliti
menyuntikkan bahan kimia kepada pasien-pasien dengan gangguan jiwa untuk
menginduksi kejang, namun kemudian bahan kimia tersebut segera digantikan
oleh penggunaan arus listrik.Hal ini disebabkan karena efektivitas ECT dan
kurangnya terapi alternatif, sehingga ECT digunakan secara luas dalam
dekade sebelum antidepresan mulai dikenal pada tahun 1950-an.Pada tahuntahun awal, ECT diberikan tanpa anestesi atau pelemas otot, dan arus listrik
yang digunakan jauh lebih tinggi dari apa yang digunakan saat ini. Terapi ini
dapat menyebabkan rasa sakit dan menimbulkan risiko, misalnya kejang yang
kuat akan menyebabkan tubuh terhempas dengan kekuatan besar yang cukup
untuk mematahkan tulang.ECT sangat berbeda hari ini, meskipun hal ini
masih menimbulkan risiko dan efek samping, seperti kebingungan dan
kehilangan ingatan. Namun terapi ini sudah jauh lebih halus, dengan
perhitungan arus listrik yang diberikan pengaturan medis yang terkontrol agar
dapat mencapai manfaat maksimum dengan risiko minimal. (In Depth Report
Electroconvulsive Therapy Today)
7.1.3

Prosedur ECT
ECT dilakukan dengan mengirimkan sinyal listrik ke otak yang

menyebabkan kejang sementara. Mesti terlihat menakutkan, tak perlu khawatir


karena sebelum menjalaninya pasien terlebih dahulu diberikan anestesi umum
untuk menghilangkan rasa sakit pada tubuh. Rangkaian terapi ECT biasanya
dilakukan 6-12 kali selama beberapa minggu.
ECT dilakukan dengan mengalirkan listrik melalui dua elektroda yang
dilekatkan pada daerah temporal kepala. Sebelum menjalani pengobatan,

pasien diberikan anestesi umum dan menerima relaksasi otot guna mencegah
cedera. (Media Hidup Sehat, 2010)
Persiapan sebelum dilakukan tindakan ECT :
1.
2.
3.
4.

Informed consent
Puasa 6 jam
Stop obat psikiatri oral
Premedikasi sedatif

tidak

direkomendasikan

karena

dapat

memperpanjang masa pulih.


5. Pilihan obat anestesi short acting (propofol atau thiopental) + muscle
relaxant (succinylcholine)
6. Untuk mencegah efek parasimpatik dapat diberikan atropine.
7. Untuk mencegah efek simpatis pada pasien dengan penyakit
kardiovaskuler dapat diberikan atenolol 50 mg pada saat preoperatif
8. Elektrode dapat diletakkan di sisi yang sama pada kepala (unilateral)
untuk mengurangi efek samping memory loss dan meminimalisir efek
kognitif ataupun diletakkan pada kedua sisi dari kepala (bilateral).
Namun

metode

bilateral

biasanya

lebih

efektif

dan

lebih

direkomendasikan dibandingkan unilateral.


9. Level stimulus untuk bilateral ECT adalah kali ambang kejang,
sedangkan untuk unilateral bisa melebihi12 kali ambang kejang.
Ambang kejang dapat ditentukan dengan sistem trial and error ataupun
menggunakan standar yang sudah ada. (Electroconvulsif therapy,
2010)
Prosedur tindakan ECT :
a. Persiapan pasien :
1) Pasien dipuasakan 3-4 jam pra ECT
2) Vesica urinaria & rectum sebaiknya dikosongkan
3) Melonggarkan pakaian pasien
4) Perhatikan obat-obat yg diminum pasien, misalnya :

BZD (anti konvulsan)

Lithium (timbulkan delirium dan lama kejang bertambah)

Lidocain (meningkatkan ambang kejang)

Theophylin (timbulkan lama kejang).

b. Premedikasi: SA 0,5 mg IM 30-60 (IV 5-10) menit sebelum ECT

c. Anestesi umum
Berikan obat yg lama kerja pendek (Penthotal 3-4mg/kgBB iv
pelan-pelan atau Diprivan 1-2mg/kgbb iv)
Setelah pasien tertidur
Berikan muscle relaxantsuccinyl choline 0,5-1 mg/kgbb iv
Terjadi apnoe & fasikulasi otot dari atas sampai jari kaki O2
5L/menit, bite-block pada mulut
Tindakan ECT biasanya 2-3 kali seminggu

7.1.4

Depresi

: 6 -12 kali tindakan

Episode manik

: 8 - 20 kali tindakan

Skizofrenia

: 15 kali tindakan

Indikasi ECT
a. Depresi Berat
b. Skizofrenia
c. Gangguan bipolar episode manic
d. Neurosa depresif dan gangguan panik
e. Gangguan mental organik
f. Demensia senilis, Retardasi mental (untuk menghilangkan gaduh
gelisah)
g. Delirium danepilepsi psikomotor

7.1.5

Kontraindikasi ECT
Absolut
TIK meningkat (tumor otak)
Infark miokard
TBC caverne
Relatif
Infeksi/radang TBC tanpa caverne
Kehamilan
Tirotoksikosis
Eksoftalmus
Gangguan kardiovaskuler
Hipertensi
Osteomyelitis osteoporosis
Glomerulonefritis

7.1.6

Keuntungan dan Kerugian ECT


a. Keuntungan
Efektifitas ECT dalam mengobati pasien dengan gangguan jiwa
karena

adanya

peningkatan

sensitivitas

reseptor

terhadap

neurotransmitter. ECT meningkatkan pergantian dopamin, serotonin


dan meningkatkan pelepasan norepineprin dari neuron-neuron ke
reseptor. ECT juga akan menstimulasi pelepasan serotonin.
Pada depresi terjadi gangguan neurotrasmitter otak yaitu
penurunan dopamin, serotonin dan norepineprin. Dengan ECT
penurunan tersebut dapat ditingkatkan, sehingga pasien depresi dapat
disembuhkan dengan pemberian ECT. ECT adalah terapi dengan
melewatkan arus listrik ke otak. Metode terapi semacam ini sering
digunakan pada kasus depresif berat atau mempunyai risiko bunuh diri
yang besar dan respon terapi dengan obat antidepresan kurang baik.
Pada penderita dengan risiko bunuh diri, ECT menjadi sangat penting
karena ECT akan menurunkan risiko bunuh diri dan dengan ECT lama
rawat di rumah sakit menjadi lebih pendek.
b. Kerugian
Tidak ada kejelasan mengapa ECT bisa menghasilkan sikap yang
negatif. Salah satu faktor mungkin karena sikap fanatik kita, yaitu
sikap jijik untuk melakukan tindakan biologis tertentu. Kejang
kejang, seperti muntah adalah bukan sesuatu suka kita tonton.
Mungkin ada faktor evaluasi. Kejang-kejang dan muntah, dapat
mengindikasikan sebagai penyakit yang mungkin dapat menular.
Masyarakat secara genetis diprogramkan untuk takut dan menghindari
situasi seperti itu. Kitamenghindari berdiskusi topik kejang-kejang
karena beberapa orang yang menderita epilepsy kurang setuju dengan
terapi ECT.
ECT sebagai alat terapi orang yang mengalami gangguan jiwa
karena banyak efek samping yang ditimbulkan seperti yang Patah

tulang vertebra, Kehilangan memori dan kekacaun mental sememtara,


Dislokalisasi sendi rahang, Amnesia, Nyerikepala, bahkan samapi
kematian. Risiko yang ditimbulkan juga cukup berbahaya seperti
kerusakan otak, kematian dan kehilangan memori permanen. Dari segi
etik juga tidak etis memperlakukan manusia seperti hewan percobaan
walaupun dibilang cukup efektif untuk terapi gangguan kejiwaan tapi
sangat

kurang

etis,

apalagi

untuk

budaya

kita.

(http://www.ect.org/effects/testimony.html).
7.1.7

Efek Samping ECT


1. Selalu :
a.
b.
c.
d.
e.

Perdarahan lembut otak


Amnesia
Sianosis
Apneu
Syncope

2. Tidak selalu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Lidah/bibir tergigit
Gigi goyang
Dislokasi fraktur
Aspirasi
Apneu memanjang
Amnesia lama.

7.2 Gangguan Jiwa


Konsep gangguan jiwa dari PPDGJ III adalah sindrom atau pola perilaku atau
psikologik seseorang yang secara klinik bermakna, dan yang secara khas berkaitan
dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment/disability) di
dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan,
disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik,
atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak di dalam hubungan
antara orang itu dengan masyarakat.
Secara internasional, penggolongan gangguan jiwa mengacu pada DSM IV
sebagai acuan dalam menentukan diagnosa gangguan jiwa. Secara umum
gangguan jiwa dapat dibagi kedalam dua kelompok yaitu gangguan jiwa ringan

dan gangguan jiwa berat. Yang termasuk kedalam gangguan jiwa ringan antara
lain cemas, depresi, psikosomatis dan kekerasan sedangkan yang termasuk
kedalam gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, manik depresif dan psikotik
lainnya. Psikosis adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk membedakan
suatu keadaan realistik atau non realistik.
7.3 Skizofrenia
7.3.1 Definisi Skizofrenia
Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang bersifat kronis atau
kambuh ditandai dengan terdapatnya perpecahan (schism) antara pikiran,
emosi dan perilaku pasien yang terkena. Perpecahan pada pasien
digambarkan dengan adanya gejala fundamental (atau primer) spesifik,
yaitu gangguan pikiran yang ditandai dengan gangguan asosiasi,
khususnya kelonggaran asosiasi. Gejala fundamental lainnya adalah
gangguan

afektif,

autisme,

dan

ambivalensi.

Sedangkan

gejala

sekundernya adalah waham dan halusinasi (Kaplan & Sadock, 2004).


Berdasarkan DSM-IV, skizofrenia merupakan gangguan yang terjadi
dalam durasi paling sedikit selama 6 bulan, dengan 1 bulan fase aktif
gejala (atau lebih) yang diikuti munculnya delusi, halusinasi, pembicaraan
yang tidak terorganisir, dan adanya perilaku yang katatonik serta adanya
gejala negative.
7.3.2 Etiologi
Teori tentang penyebab skizofrenia, yaitu :
a) Diatesis-Stres Model. Teori ini menggabungkan antara faktor
biologis, psikososial, dan

lingkungan yang secara khusus

mempengaruhi diri seseorang sehingga dapat menyebabkan


berkembangnya gejala skizofrenia. Dimana ketiga faktor
tersebut saling berpengaruh secara dinamis (Kaplan & Sadock,
2004).
b) Faktor Biologis. Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis
dopamin yang menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh

10

aktivitas dopaminergik yang berlebihan di bagian kortikal otak,


dan berkaitan dengan gejala positif dari skizofrenia. Penelitian
terbaru juga menunjukkan pentingnya neurotransmiter lain
termasuk serotonin, norepinefrin, glutamat dan GABA. Selain
perubahan yang sifatnya neurokimiawi, penelitian menggunakan
CT Scan ternyata ditemukan perubahan anatomi otak seperti
pelebaran lateral ventrikel, atropi koteks atau atropi otak kecil
(cerebellum),

terutama

pada

penderita

kronis skizofrenia

(Kaplan&Sadock,2004).
c) Genetika. Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan.
Resiko masyarakat umum 1%, pada orang tua resiko 5%, pada
saudara kandung 8% dan pada anak 12% apabila salah satu
orang tua menderita skizofrenia, walaupun anak telah dipisahkan
dari orang tua sejak lahir, anak dari kedua orang tua skizofrenia
40%. Pada kembar monozigot 47%, sedangkan untuk kembar
dizigot sebesar 12% (Kaplan & Sadock, 2004).
d) Faktor Psikososial
a. Teori perkembangan
Ahli teori Sullivan dan Erikson mengemukakan bahwa
kurangnya perhatian yang hangat dan penuh kasih saying
ditahun-tahun awal kehidupan berperan dalam menyebabkan
kurangnya identitas diri, salah interpretasi terhadap realitas dan
menarik diri dari hubungan sosial pada penderita skizofrenia
(Sirait,2008).
b. Teori belajar
Menurut ahli teori belajar (learning theory), anak-anak yang
menderita

skizofrenia

mempelajari

reaksi

dan

cara

berfikir irasional orang tua yang mungkin memiliki masalah


emosional yang bermakna. Hubungan interpersonal yang buruk

11

dari penderita skizofrenia akan berkembang karena mempelajari


model yang buruk selama anak-anak (Sirait,2008).
c. Teori keluarga
Tidak ada teori yang terkait dengan peran keluarga dalam
menimbulkan

skizofrenia.

Namun

beberapa

penderita

skizofrenia berasal dari keluarga yang disfungsional (Sirait,


2008).
7.3.3 Terapi
Tiga dasar akan pertimbangan pengobatan gangguan pada
skizofrenia adalah (Kaplan & Sadock, 2004) :
1) Terlepas dari berbagai etiologi, skizofrenia terjadi pada
seseorang yang memiliki sifat individual, keluarga, serta sosial
psikologis yang unik, maka pendekatan pengobatan disusun
berdasarkan bagaimana penderita telah terpengaruhi oleh
gangguan dan bagaimana penderita akan terobati oleh
pengobatan yang dilakukan (terapifarmakologi).
2) Faktor lingkungan dan psikologi turut berperan dalam
perkembangan skizofrenia, maka harus dilakukan juga terapi
nonfarmakologi.
3) Skizofrenia adalah suatu gangguan yang kompleks, dan tiap
pendekatan

terapetik jarang tercukupi untuk mengobati

gangguan yang memiliki berbagai macam bentuk.


7.4 Penggunaan Terapi Elektokonvulsif (ECT) ditinjau dari aspek etik dan
medikolegal
Dalam kode etik kedokteran,seiring dengan perkembangan zaman banyak
perubahan terhadap seluruh aspek dalam interaksi dokter dengan pasien dan
keluarga pasien yang tentunya dapat menimbulkan potensi terjadinya penuntutan.
Sehingga dalam setiap tindakan atapun nasihat yang diberikan dokter kepada
pasien harus selalu berpedoman ada prinsip-prinsip kode etik kedokteraan

12

indonesia termasuk dalam pemberian terapi ECT pada pasien dengan gangguan
jiwa.
Pemberian terapi elektrokonvulsif (ECT) pada pasien dengan gangguan jiwa
(skizofrenia dan demensia) menjadi dilema etik dalam penerapannya karena
dilihat dari pelaksaannya serta efek samping yang dapat terjadi seperti gangguan
pada memori (retrograde dan anterograde amnesia) menjadi pertimbangan dalam
penggunaan terapi ECT.
Dalam kode etik kedokteran pasal 5 menyebutkan bahwa Tiap perbuatan atau
nasihat dokter yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik, wajib
memperoleh persetujuan pasien/keluarganya

dan hanya diberikan untuk

kepentingan dan kebaikan pasien tersebut. Berdasarkan pasal tersebut tindakan


yang melemahkan daya tahan psikis dan fisik adalah bertentangan dengan
fitrah/tugas ilmu kedokteran, karena hal ini jika dibiarkan justru akan
membahayakan nyawa atau memperberat penderitaannya. Kecuali jika ada alasan
yang benar, seperti tidak adanya atau kurang efektifnya terapi yang ada untuk
kesembuhan pasien.
Kode etik kedokteran membantu dokter dalam pertimbangan moral, dimana
prinsip moral dalam praktek kedokteran tersebut yaitu:
a. Autonomi
Setiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih rencana kehidupan dan
cara mengatur dirinya. Menghargai harkat dan martabat manusia sebagai
individu yang dapat memutuskan yang terbaik untuk dirinya. Setiap tindakan
kedokteran harus melibatkan pasien dan berpartisipasi dalam membuat
keputusan yang berhubungan dengan dirinya. Dalam pemberian terapi pasien
memiliki kebebasan menerima semua prosedur terapi yang akan diberikan.
Namun pasien dengan gangguan jiwa seringkali tidak bisa mengambil
keputusan karena penyakit yang dideritanya. Sehingga hal ini menimbulkan
kebingungan tenaga medis siapakah yang memberikan informed consent.
Apabila pasien dengan gangguan jiwa berat dan terganggu arus pikirnya,
informed consent diberikan oleh keluarga terdekat, misalnya ayah atau ibu,
suami atau istri atau saudara kandung. Namun apabila pasien gangguan jiwa

13

tidak terganggu arus pikirnya, maka pasien dapat memberikan informed


consent sendiri. Namun pada saat informed consent dokter tidak seharusnya
memberikan tekanan pada pasien untuk menyetujui pengobatan dan juga tidak
mengancam pasien dengan segala bentuk tindakan yang merugikan jika
rekomendasi pengobatan tidak diikuti oleh pasien. Menurut hukum negara,
penentuan pengambilan keputusan harus didasarkan pada kemampuan pasien,
dimana:
1) Pasien memahami bahwa ia memiliki penyakit yang harus diobati
sesuai dengan yang direkomendasikan, dalam hal ini ECT
2) Pasien memahami materi yang berhubungan dengan persetujuan yang
diberikan, yaitu prosedur hingga efek samping dari ECT
3) Pasien dapat berpikir rasional untuk memberikan keputusan
b. Beneficience
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan orang
lain. Dokter secara moral berkewajiban membantu orang lain melakukan
sesuatu yang menguntungkan dan mencegah timbulnya bahaya. Dilihat dari
tujuan pemberian electroconvulsive therapy ( ECT ) baik untuk kesembuhan
pasien jiwa dan sesuai dengan prinsip tersebut karena pada terapi ECT ini
manfaat yang di dapat lebih banyak dibandingkan dengan kerugiannya.
c. Nonmaleficience
Merupakan penghindaran dari bahaya, dapat dilihat kontinum rentang dari
bahaya yang tidak berarti sampai menguntungkan orang lain dengan
melakukan yang baik. Dari prinsip ini pemberian terapi elektrokonvulsif
(ECT) tidak sesuai karena dapat menimbulkan bahaya, namun jika dilihat dari
tujuan pemberian pelaksanaan terapi ini sesuai dengan prinsip beneficience
yang semata-mata untuk kesembuhan pasien jiwa.
d. Justice
Merupakan suatu prinsip moral untuk berlaku adil terhadap semua pasien
sesuai dengan kebutuhan. Setiap individu mendapat tindakan yang sama
berarti mempunyai kontribusi yang relatif sama untuk kebaikan kehidupan
seseorang. Prosedur terapi ini pada setiap orang yang menerimanya akan sama
dalam setiap pelaksanaannya.

14

e. Kejujuran, Kesetiaan dan Kerahasiaan


Kejujuran adalah kewajiban untuk mengungkapkan yang sebenarnya atau
tidak membohongi pasien didasarkan pada hubungan saling percaya.
Kerahasiaan adalah kewajiban untuk melindungi informasi rahasia. Kesetiaan
adalah kewajiban untuk menepati janji. Dalam pelaksanaan terapi ini harus
secara jujur dalam memberi informasi mengenai segala tindakan yang akan
dilakukan baik itu tujuan, efek samping maupun biaya dari tindakan yang akan
dilakukan.
Dalam perawatan kesehatan, pasien jiwa dan keluarga seringkali memiliki
persepsi yang berbeda yang sebabkan oleh penyakit pasien, kurang informasi
teknis, regresi yang disebabkan oleh rasa sakit dan penderitaan, serta lingkungan
yang tidak dikenal. Oleh karena itu, pasien jiwa atau keluarga berhak menerima
informed consent sebelum terapi dilaksanakan. Dalam hal ini pasien berhak
mengetahui

segala

informasi

mengenai

prosedur

pelaksanaan

terapi

elektrokonvulsif (ECT), indikasi dan kontraindikasi pemberian, mekanisme kerja,


hasil yang akan didapat dan efek sampingnya. Menurut perundangan WHO
tentang kesehatan jiwa menyatakan ECT harus diberikan hanya setelah
memperoleh informed consent. Sesuai dengan UU No.29/2004 tentang Praktek
Kedokteran, Pasal 52 : Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik
kedokteran, mempunyai hak:
a. Mendapatkan
b.
c.
d.
e.

penjelasan

secara lengkap tentang

tindakan

medis

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);


Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
Menolak tindakan medis; dan
Mendapatkan isi rekam medis.

Pasien jiwa dan keluarga juga memiliki hak untuk menyetujui persetujuan
tersebut dilihat pada Pasal 39 : Praktik kedokteran diselenggarakan berdasarkan
pada kesepakatan antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam upaya untuk
pemeliharaan

kesehatan,

pencegahan

penyakit,

peningkatan

kesehatan,

pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan.


15

Menurut undang-undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2014 tentang


kesehatan jiwa Pasal 21 ayat 3 dalam hal ODGJ dianggap tidak cakap dalam
membuat keputusan, persetujuan tindakan medis dapat diberikan oleh:
a) suami/istri;
b) orang tua, anak, atau saudara sekandung yang paling sedikit berusia 17
(tujuh belas) tahun;
c) wali atau pengampu; atau
d) pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Sementara pasal 70 menerangkan hak Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
ODGJ berhak:
a) mendapatkan pelayanan Kesehatan Jiwa di fasilitas pelayanan kesehatan
yang mudah dijangkau;
b) mendapatkan pelayanan Kesehatan Jiwa sesuai dengan standar pelayanan
Kesehatan Jiwa;
c) mendapatkan jaminan atas ketersediaan obat psikofarmaka sesuai dengan
kebutuhannya;
d) memberikan persetujuan atas tindakan medis yang dilakukan terhadapnya;
e) mendapatkan informasi yang jujur dan lengkap tentang data kesehatan
jiwanya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan
diterimanya dari tenaga kesehatan dengan kompetensi di bidang Kesehatan
Jiwa;
f) mendapatkan pelindungan dari setiap bentuk penelantaran, kekerasan,
eksploitasi, serta diskriminasi;
g) mendapatkan kebutuhan sosial sesuai dengan tingkat gangguan jiwa; dan
h) mengelola sendiri harta benda miliknya dan/atau yang diserahkan
kepadanya.

16

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1. Kesimpulan
Dari beberapa penelitian sebelumnya penggunaan ECT banyak menimbulkan
efek samping. Prinsip kerja ECT ialah aliran listrik dimasukkan ke dalam kepala
orang yang mengalami gangguan jiwa hingga pasien tidak sadar dan diikuti
konvulsi yang diikuti fase klonik, rasa relaksasi otot dengan pernapasan dalam
dan keras.ECT memiliki keuntungan dan kerugian. Dimana pernyataan tersebut
bila dilihat dari segi perseorangan / orang yang tidak mengalami gangguan depresi
atau sebagainya, menganggap ECT sangat memiliki kerugian. Akan tetapi
sebaliknya, bagi para penderita depresi atau sebagainya, ECT merupakan
keuntungan bagi mereka, walaupun tidak seutuhnya 100%.
Pemberian Electroconvulsive therapy (ECT) pada pasien dengan gangguan
jiwa menjadi dilema etik dalam penerapannya karena dilihat dari efek samping
yang dapat terjadi. Sehingga kita harus memiliki kemampuan untuk menghadapi
permasalahan tersebut.Dalam perawatan kesehatan, pasien jiwa dan keluarga
seringkali memiliki persepsi yang berbeda yang sebabkan oleh penyakit pasien,
kurang informasi teknis, regresi yang disebabkan oleh rasa sakit dan penderitaan,
serta lingkungan yang tidak dikenal. Pasien jiwa atau keluarga berhak menerima
informed consent sebelum terapi dilaksanakan. Dalam hal ini pasien berhak
mengetahui segala informasi mengenai prosedur pelaksanaan electroconvulsive
therapy (ECT), indikasi dan kontraindikasi pemberian, mekanisme kerja, hasil
yang akan didapat dan efek sampingnya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman atau
masalah kebelakangnya.
1.2. Saran
Seiring berjalannya waktu ilmu pengetahuan terus berkembang dan berbagai
hal-hal baru mulai ditemukan. Seperti halnya terapi elektrokonvulsif yang dapat
digunakan sebagai salah satu metode untuk menyembuhkan gangguan jiwa
khususnya depresi berat. Namun, masih banyak hal yang perlu diteliti mengenai

17

metode tersebut. Oleh karena itu penulis menyarankan kepada masyarakat agar
lebih berhati-hati dalam memilih suatu metode pengobatan karena disamping
memberikan manfaat yang cukup besar juga dapat menimbulkan efek samping
yang membahayakan bagi penderita.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Hawari, D. 2003. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa : Skizofrenia
Jakarta: Balai Penerbit FKUI
2. NIMH. (2011). National institute of mental health: USA.
3. WHO. (2009). Improving health system and service for mental health : WHO
Library Cataloguing-in-Publication Data.
4. http://www.dinkes-kotasemarang.go.id/dokumen/uu_praktik_kedokteran.pdf

5. KODEKI. 2012. Kode Etik Kedokteran Indonesia: Pengurus Besar IDI:


Jakarta

19