Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Pubertas merupakan salah satu periode dalam proses pematangan seksual dengan
hasil tercapainya kemampuan reproduksi.1 Pubertas merupakan suatu tahap penting dalam
proses tumbuh kembang anak. Pertumbuhan fisik yang mencolok terjadi selama proses ini,
kemudian diikuti oleh perkembangan ciri-ciri seksual sekunder, perubahan komposisi
tubuh serta perubahan maturasi tulang yang cepat, diakhiri dengan menutupnya epifisis
serta terbentuknya perawakan akhir dewasa. Perubahan fisik selama pubertas terjadi karena
perubahan hormonal yang berlangsung saat pubertas. Pubertas merupakan proses biologis
kompleks yang terjadi pada peralihan masa anak-anak dan dewasa yang berlangsung dalam
beberapa tahap dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetik, nutrisi, lingkungan,
dan sosial ekonomi. Faktor ini bertanggung jawab terhadap awitan pubertas dan
perkembangan selanjutnya menuju maturitas seksual yang lengkap.2
Seksualitas mengandung makna yang sangat luas karena mencakup aspek
kehidupan yang menyeluruh, terkait dengan jenis kelamin biologis maupun sosial (gender),
orientasi seksual, identitas gender, dan perilaku seksual. 3
Orientasi seksual yang lazim di masyarakat adalah heteroseksual. Akan tetapi kita
tidak bisa menutup mata bahwa ada pula yang memiliki orientasi seksual yang berbeda,
misalnya homoseksual. Homoseksualitas merupakan sebuah rasa ketertarikan secara
perasaan dalam bentuk kasih sayang, hubungan emosional baik secara erotis atau tidak,
dimana ia bisa muncul secara menonjol, ekspresif maupun secara ekslusif yang ditujukan
terhadap orang-orang berjenis kelamin sama, perilaku ini muncul dari fiksasi dalam sebuah
ketidakmatangan proses perkembangan psikososialnya. 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Definisi
Gangguan maturitas seksual adalah orang dengan gangguan ini menderita
ketidakpastian tentang identitas jenis kelaminnya atau orientasi seksualnya sehingga
dapat menimbulkan kecemasan atau depresi. Paling sering terjadi pada remaja yang
tidak tahu pasti apakah mereka homoseksual, heterosesksual atau biseksual dalam
orientasi seksualnya, atau pada indvidu yang sesudah suatu periode orientasi
seksualnya yang tampak stabil, seringkali dalam jalinan hubungan yang telah

B.

berlangsung lama, menemukan bahwa orientasi seksualnya berubah. 2


Etiologi5
- Faktor biologis :
Teori genetik (gen homoseksual pada kromosom Xq28)
Teori hormonal ( pengaruh imbalans hormone reproduksi, estrogenandrogen)
-

Faktor Psikodinamika : setiap orang dilahirkan dengan potensi biseksual. Selama

perkembangan psikoseksual, seorang anak dapat berkembang menjadi homoseks


atau heteroseks, tergantung pada pengalaman masa kanak-kanak atau
-

pendidikannya.
Faktor sosial dan psikologis

C. Tahap-tahap Perkembangan Seksual6


Perkembangan merujuk pada pola kelanjutan dan perubahan yang mungkin
terjadi pada seseorang manusia selama perjalanan hidupnya. Sebagian besar
perkembangan meliputi perubahan, sekali pun kemunduran menjadi bagian di
dalamnya (misalnya, kemampuan mengolah informasi menjadi lebih lambat pada
orang dewasa yang lebih tua). Pola dari perkembangan seksual menjadi kompleks
karena merupakan hasil dari proses pertumbuhan reproduksi sejak bayi sampai
dewasa.
1. Masa Prenatal dan Bayi
Jalur perkembangan prenatal konsepsi (conception) terjadi ketika satu sel
sperma memasuki ovum (sel telur). Proses ini disebut pembuahan (fertilization).
Zigot (zygote) adalah sel telur yang telah dibuahi. Perkembangan prenatal terbagi
menjadi tiga masa yaitu :

a.

Masa germinal-minggu ke 1 hingga ke 2: Masa germinal ini dimulai dari

b.

konsepsi.
Masa embrionik-minggu ke 3 hingga ke 8: Pada minggu ketiga, saluran saraf
yang nantinya akan menjadi saraf tulang belakang mulai terbentuk. Pada
minggu ke-5 hingga ke-8, jantung mulai berdetak dan tangan serta kaki
mulai dapat dibedakan, wajah mulai terbentuk, dan saluran pencernaan mulai

c.
2.

muncul.
Masa fetal-bulan 2 hingga 9: Organ-organ mulai matang hingga tahapan

dimana janin dapat bertahan hidup di luar rahim.


Masa Kanak-kanak
Perjalanan kita melalui masa kanak-kanak dimulai dari konsepsi dan
berlanjut hingga masa sekolah dasar. Kita akan mengenali pentingnya mengambil
pandangan positif atas masa kanak-kanak.
Tahapan perkembangan ini disebut tahapan psikoseksual karena
mempersentasikan suatu kebutuhan(dan pemuasan) seksual yang menonjol pada
setiap tahapan perkembangan. Hambatan yang terjadi pada proses pemenuhan
kebutuhan seksual pada setiap tahapan - disebut fiksasi berpotensi menyebabkan
gangguan perilaku pada waktu dewasa. Tahapan-tahapan perkembangan
psikoseksual pada kanak-kanak yaitu :
a. Tahap oral (0-1 tahun)
Kontak pertama yag dilakukan oleh bayi setelah kelahirannya adalah melalui
mulut(oral). Kepuasan seksual(kesenangan) pada saat ini diperoleh melalui
mulut, yakni melalui berbagai aktivitas mulut seperti makan, minum, dan
menghisap atau menggigit. Fiksasi pada tahap ini menyebabkan orang
mengembangkan kepribadian oral, yakni menjadi orang yang tergantung
dan lebih senang untuk bertindak pasif dan menerima bantuan dari orang
lain. Tugas perkembangan utama fase oral adalah memperoleh rasa percaya,
baik kepada diri sendiri, dan orang lain. Cinta adalah perlindungan terbaik
terhadap ketakutan dan ketidakamanan. Anak-anak yang dicintai tidak akan
banyak menemui kesulitan dalam menerima dirinya, sebaliknya anak-anak
yang merasa tidak diinginkan, tidak diterima, dan tidak dicintai cenderung
mengalami kesulitan dalam menerima dirinya sendiri, dan belajar untuk

tidak mempercayai orang lain, serta memandang dunia sebagai tempat yang
mengancam. Efek penolakan pada fase oral akan membentuk anak menjadi
pribadi yang penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri, agresif, benci,
b.

dan kesepian.
Tahap anal (1-3 tahun)
Interaksi melalui fungsi pembuangan isi perut(anal) dan memperoleh
kesenangan melalui aktivitas-aktivitas pembuangan. Pada fase anal anak
banyak berhadapan dengan tuntutan-tuntutan orangtua, terutama yang
berhubungan dengan toilet training, dimana anak memperoleh pengalaman
pertama dalam hal kedisiplinan. Fiksasi pada tahapan ini menyebabkan anak
mengembangkan kepribadian anal, yakni menjadi orang yang sangat
menekankan kepatuhan, konformitas, keteraturan, menjadi kikir, dan suka
melawan atau memberontak. Tugas perkembangan pada fase ini adalah anak
harus belajar mandiri, dan belajar mengakui dan menangani perasaanperasaan negatif. Banyak sikap terhadap fungsi tubuh sendiri yang dipelajari
anak dari orangtuanya. Selama fase anal anak akan mengalami perasaanperasaan negatif seperti benci, hasrat merusak, marah, dan sebagainya,
namun mereka harus belajar bahwa perasaan-perasaan tersebut bisa diterima.
Hal penting lain yang harus dipelajari anak adalah bahwa mereka memiliki

c.

kekuatan, kemandirian, dan otonomi.


Tahap palis (3-5 tahun)
Pada fase ini anak laki-laki dan perempuan

senang menyentuh

(mengeksploitasi) organ kelaminnya untuk memperoleh kesenangan sambil


melakukan fantasi-fantasi seksual. Anak laki-laki mengembangkan fantasi
seksual dengan ibunya disebut oedipus complex dan anak perempuan
mengembangkan fantasi seksual dengan ayahnya disebut electra complex.
Jika konflik oedipal ini tak terpecahkan, anak laki-laki aka berkembang
menjadi homoseksual atau heteroseksual sedangkan anak perempuan akan
menjadi wanita genit penggoda pria atau lesbian. Fase Phalic juga
merupakan periode perkembangan hati nurani, dimana anak belajar
mengenai standar-standar moral. Selama fase ini anak perlu belajar

menerima perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar


memandang tubuhnya sendiri secara sehat. Mereka membutuhkan contoh
yang memadai bagi identifikasi peran seksual, untuk mengetahui apa yang
benar dan salah, serta apa yang maskulin dan feminin, sehingga mereka
memperoleh perspektif yang benar tentang peran mereka sebagai anak lakid.

laki atau anak perempuan.


Tahap laten (6-12 tahun)
Pada tahap ini anak laki-laki dan anak perempuan menekankan semua isuisu oedipal dan kehilangan minat seksualnya. Sebaliknya, mereka mulai
melibatkan dirinya ke dalam kelompok bermain yang terdiri atas anak-anak
lain dari jenis kelamin yang sama, baik kelompok yang kelompok yang
bersifat full male atau full female. Namun berkurangnya perhatian pada
masalah seksual itu bersifat laten dan masih akan terus memberikan

3.

pengaruh pada tahap perkembangan kepribadian berikutnya.


Masa Pubertas (Remaja)
Ketika memasuki masa pubertas anak-anak mulai tertarik satu sama lain
dengan lawan jenisnya dan menjadi manusia yang lebih matang. Mereka saling
mengembangkan afeksi (hubungan) dan minat-minat seksual, cinta, dan bentukbentuk keterikatan yang lain.
Masa remaja merupakan salah satu fase dalam rentang perkembangan
manusia yang terentang sejak anak masih dalam kandungan sampai meninggal
dunia. Masa remaja mempunyai ciri yang berbeda dengan masa sebelumnya atau
sesudahnya, karena berbagai hal yang mempengaruhinya sehingga selalu
menarik untuk dibicarakan. Kata remaja diterjemahkan dari bahasa inggris
adolescence atau adolecere (bahasa latin) yang berarti tumbuh atau tumbuh untuk
masak, menjadi dewasa.
Masa remaja ditinjau dari rentang kehidupan manusia merupakan masa
peralihan dari kanak-kanak ke masa dewasa. Sifat-sifat remaja sebagaian sudah
tidak menunjukkan sifat-sifat masa kanak-kanaknya, tapi juga belum
menunjukan sifat-sifat sebagai orang dewasa.
Masa remaja pada usia 18 tahun merupakan masa yang secara hukum
dipandang sudah matang, yang merupakan masa peralihan dari masa kanak-

kanak ke masa dewasa. Masa remaja, seperti masa sebelumnya memiliki ciri
khusus yang membedakan masa sebelumnya dan sesudahnya. Salah satu ciri
khusus pada remaja adalah perkembangan seksual yang nyata yang tergambar
dari perubahan fisik.
Selama pertumbuhan pesat masa puber, terjadi empat perubahan fisik
penting: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, perkembangan ciriciri seks primer dan perkembangan ciri-ciri seks.
Perubahan primer pada masa pubertas adalah tanda-tanda/perubahan yang
menentukan sudah mulai berfungsi optimalnya organ reproduksi pada manusia.
a.

Pada pria Gonad atau testis yang terletak di skrotum, diluar tubuh, pada
usia 14 tahun, baru sekitar 10% dari ukuran matang. Kemudian terjadi
pertumbuhan pesat selama 1 atau 2 tahun, setelah itu pertumbuhan menurun,
testis sudah berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. Kalau fungsi
organ organ pria sudah matang maka biasanya mulai terjadi mimpi basah.

b. Pada wanita - Semua organ reproduksi wanita tumbuh selama masa

pubertas, meskipun dalam tingkat kecepatan yang berbeda. Berat uterus anak
usia 11 atau 12 tahun berkisar 5,3 gram, pada usia 16 rata-rata beratnya 43
gram. Tuba falopi, telur-telur, dan vagina juga tumbuh pesat pada saat ini.
Petunjuk pertama bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan menjadi
matang adalah datangny amenstruasi.
4.

Masa Dewasa Muda dan Tengah Umur


a. Dewasa Muda (Awal)
Dewasa Awal merupakan masa dewasa atau satu tahap yang dianggap
kritikal selepas alam remaja yang berumur dua puluhan (20-an) sampai tiga
puluhan (30 an). Ia dianggap kritikal karena disebabkan pada masa ini
manusia berada pada tahap awal pembentukan karir dan keluarga. Pada
peringkat ini, seseorang perlu membuat pilihan yang tepat demi menjamin
b.

masa depannya terhadap pekerjaan dan keluarga.


Dewasa Tengah (Madya)
Masa Dewasa Madya adalah masa peralihan dewasa yang berawal dari masa
dewasa muda yang berusia 40- 65 tahun. Pada masa dewasa madya, ada

aspek- aspek tertentu yang berkembang secara normal, aspek-aspek lainnya


berjalan lambat atau berhenti. Bahkan ada aspek- aspek yang mulai
menunjukkan terjadinya kemunduran- kemunduran. Aspek jasmaniah mulai
berjalan lamban, berhenti dan secara berangsur menurun. Aspek- aspek
psikis (intelektual- sosial- emosional- nilai) masih terus berkembang,
walaupun tidak dalam bentuk penambahan atau peningkatan kemampuan
tetapi berupa perluasan dan pematangan kualitas. Pada akhir masa dewasa
madya (sekitar usia 40 tahun), kekuatan aspek- aspek psikis ini pun secara
berangsur ada yang mulai menurun, dan penurunannya cukup drastic pada
5.

akhir usia dewasa.


Masa Dewasa Tua (Usia Lanjut)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa
ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai meninggal, yang ditandai dengan
adanya

perubahan

yang

bersifat

fisik

dan

psikologis

yang

semakin

menurun.Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya


penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu
sama lain.
D. Tahap tahap pembentukan identitas
Identitas seksual seseorang terbagi menjadi 3 golongan besar di dunia, yaitu
homoseksual, heteroseksual, dan biseksual. Dari golongan homoseksual, masih dibagi
lagi menjadi dua yaitu gay dan lesbian. Lesbian yang disandang seksual individu tidak
serta-merta muncul dan diterima begitu saja oleh individu tersebut. Identitas tersebut
muncul melalui tahap -tahap perkembangan identitas homoseks. Orang akan
berkembang melalui tahap-tahap ini pada waktu yang berbeda-beda. Sebagian akan
tetap pada tahap-tahap tertentu, sementara yang lain akan kembali ke tahap-tahap
sebelumnya.
1. Kebingungan Identitas
Membuka diri bermula ketika individu menjadi sadar bahwa pikiran,
perasaan, dan perilakunya bertentangan dengan cara bagaimana dia diajar untuk

memandang dirinya (sebagai heteroseks). Perasaannya yang baru dapat disebut


homoseks atau biseks. Dia mulai memandang bahwa homoseksualitasnya relevan
secara

pribadi.

Karena

perasaannya

bertentangan

dengan

identitas

yang

dibayangkannya sebelumnya, dia akan mengalami kebingungan dan keresahan.


Siapa diriku ini? merupakan pertanyaan yang menghantui. Dia akan amat merasa
dirinyaterkucil dan meragukan dirinya. Apabila dia mulai menerima perasaan baru
ini, secara sembunyi-sembunyi dia mungkin mencari informasi. Kalau dia menolak
atau menentang homoseksualitasnya, identitas yang negatif atau penuh benci diri
dapat mulai berkembang.
2. Perbandingan Identitas
Sembari menerima homoseksualitasnya, individu ini menyadari perbedaan
antara dirinya dan orang lain. Dia akan merasa terkucil dari orang-orang lain dan
punya perasaan kuat tidak merupakan bagian masyarakat, keluarga, atau sahabatsahabat. Dia akan merasa hilang dan kesepian sementara semua harapannya tentang
perilaku dan masa depan yang menyertai identitas heteroseks yang diandaikannya
diragukan dan tidak ada alternatif yang jelas. Pertanyaan siapa diriku ini? kini
bergabung dengan masuk mana aku ini? karena menjadi lesbian acapkali
dipersamakan dengan seks yang menyimpang, perilaku yang kebanci-bancian,
penyakit jiwa dan lain-lain, dia mungkin bereaksi melawan dorongan menjadi
lesbian.
3. Toleransi Identitas
Penerimaan

individu

terhadap

homoseksualitasnya

membawa

dua

konsekuensi:
1) kebingungan dan keresahan berkurang, sehingga dia dapat mengakui keperluan
sosial, seksual, dan emosinya.
2) Perbedaan antara bagaimana dia memandang dirinya dan bagaimana orang lain
memandang dirinya bertambah. Perbedaan ini meningkatkan perasaannya bahwa
dia terkucil dari pergaulan. Umumnya individu akan mencoba bergaul dengan
lesbian lain dan mempertimbangkan memberitahu keluarga dan sahabat-sahabat
bahwa dirinya lesbian untuk mengurangi rasa terkucil ini.

Banyak orang mengalami rasa takut untuk waktu yang lama, takut
ketahuan dan ditolak. Penderitaan pribadi berkurang, dan harga diri menjadi
makin kuat dari reaksi positif yang diperoleh ketika memberitahu orang lain.
Reaksi negatif mengakibatkan perasaan negatif makin buruk dan menurunkan
harga diri.
Memberitahu orang lain sepatutnya dan biasanya, dilakukan orang per
orang. Cara ini kurang beresiko dan lebih mudah ditangani. Dengan kian
banyaknya

reaksi

positif,

kebingungan

berkurang

dan

memungkinkan

perkembangan keterampilan-keterampilan sosial yang baru.


4. Penerimaan Identitas
Kini individu dapat memandang identitas lesbian-nya secara positif.
Pergaulan yang makin luas. Tetapi, identitasnya belum diketahui umum, dan dia
mengambil strategi menyesuaikan diri ke dalam masyarakat sementara juga
mempertahankan identitas lesbian. Hal ini dapat merupakan kompromi yang pas
dan pantas bagi banyak orang, dan banyak orang lesbian yang memilih untuk tetap
pada titik ini saja.
Dia dapat juga kini melakukan hal-hal yang tak dapat dilakukannya sewaktu
masih remaja karena terkucil dari masyarakat, seperti misalnya cinta pertama.
Hubungan-hubungan pertama mungkin sulit, karena tak ada dukungan sosial dan
sedikit teladan peran. Berkembang suatu sistem segitiga antara dirinya, keluarga
lesbiannya yang baru, dan keluarga asalnya. Bagaimana antar hubungan ketiganya
akan tergantung pada derajat penerimaan.

5.

Kebanggaan Identitas
Sementara individu berusaha hidup terbuka dan jujur sebagai seorang
lesbian, dia akan menjadi semakin sadar akan harapan masyarakat terhadapnya
untuk menjadi heteroseks atau tetap tersembunyi. Dia akan merasakan pertentangan
antara komitmen pada dirinya sendiri serta orang-orang lesbian lain dan penolakan

masyarakat terhadap homoseksualitas. Hal ini dapat mengakibatkan suatu perasaan


kebanggaan lesbian. Dia dapat mengembangkan suatu komitmen yang kuat terhadap
budaya dan komunitas lesbian serta suatu rasa amarah terhadap penolakan
masyarakat. Keterbukaan yang meningkat tentang orientasi seksualnya akan
menguji derajat penerimaan pada orang-orang dan lingkungan di seputar individu.
Mungkin akan ada amarah dan reaksi kuat, karena alasan yang tepat, terhadap
diskriminasi negatif yang ditemuinya. Sebagian keluarga dan sahabat-sahabat tidak
akan memahami atau menerima pada tahap ini. Dalam situasi-situas tertentu, ini
dapat memaksa individu membuat komitmen.
6.

Sintesis Identitas
Pergaulan terbuka dengan orang-orang heteroseks yang menerima identitas
seksualnya memungkinkan individu memperluas rasa keanggotaannya sehingga
mencakup masyarakat luas. Akan tetapi penerimaan pribadi akan diri individu dapat
dicapai sepenuhnya. Pada tahap ini identitasnya menjadi terintegrasi dengan semua
aspek dirinya yang lain. Dia mungkin tidak akan pernah memberitahu sahabatsahabat dan anggota keluarganya tentang homoseksualitasnya, sementara yang lain
yang diberitahunya mugkin tidak akan pernah menerimanya. Situasi ini harus
dipahami sepenuhnya dan diterima olehnya agar dia berhasil mengembangkan
pribadinya. Pada tahap ini identitas sebagai lesbian tidak lagi menjadi persoalan,
yang menjadi persoalan adalah bagaimana melanjutkan hidup.

E. Orientasi Seksual.
Orientasi Seksual adalah rasa ketertarikan secara seksual maupun emosional
terhadap jenis kelamin tertentu. Orientasi seksual menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Heteroseksual, yaitu ketertarikan secara seksual pada jenis kelamin yang berbeda,
perempuan tertarik pada laki-laki, dan laki-laki tertarik pada perempuan.
2. Biseksual, ketertarik secara seksual pada perempuan dan laki-laki sekaligus.
3. Homoseksual, yaitu ketertarikan secara seksual pada jenis kelamin yang sama,
perempuan tertarik pada perempuan yang disebut sebagai lesbian, dan laki-laki yang
tertarik pada laki-laki disebut sebagai gay.
F. Homoseksual

Menurut Freud, setiap orang dilahirkan dengan potensi biseksual. Selama


perkembangan psikoseksual, seorang anak dapat berkembang menjadi homoseks
atau

heteroseks,

tergantung

pada

pengalaman

masa

kanak-kanak

atau

pendidikannya.
G. Biseksual8,9,10
MacDonald (Crooks & Baur: 2005) mengemukakan bahwa individu biseksual
adalah individu yang dapat terlibat dan menikmati aktivitas seksual dengan kedua jenis
kelamin, yaitu jenis kelamin yang sama dan jenis kelamin yang berbeda, atau
mengetahui bahwa dirinya tertarik untuk melakukan hal tersebut. Kebanyakan biseksual
tidak tertarik kepada wanita dan pria sama besarnya, dan terkadang berpindah-pindah
fase ketertarikannya sepanjang waktu. Ada kalanya pada saat ini ia tertarik kepada
wanita tetapi seminggu kemudian ia hanya tertarik kepada pria.
Fox (Herma, 2013) mengemukakan pada awalnya, biseksual dipandang sebagai
salah satu bentuk penyembunyian identitas homoseksual atau sebagai tahap transisi
antara indentitas heteroseksual dan identitas gay dan lesbian.
Widyarini (2004) mengemukakan bahwa factor pendorong kecenderungan
berorientasi biseksual akan mewujud menjadi tindakan atau perilaku biseksual yang
didorong oleh beberapa keadaan, yaitu:
1. Coba-coba
Perilaku biseksual ini dapat muncul dari hasil coba-coba antara laki-laki
homoseksual dengan sahabat perempuannya, perempuan lesbian dengan sahabat lakilakinya, atau seseorang yang telah menikah namun mencoba pengalaman seksual baru
dengan sesame jenisnya. Mereka yang awalnya hanya tertarik kepada satu jenis kelamin
bias menjadi tertarik pada dua jenis kelamin.
2. Seks Bebas
Dalam keadaan semacam ini, sangat terbuka kemungkinan untuk coba-coba
melakukan hubungan biseksual, terutama apabila perilaku tersebut mengalami
kenikmatan dan cenderung diulang-ulang sehingga ia dapat berkembang menjadi orang
yang berperilaku biseksual.
3. Kebutuhan emosional yang terpenuhi

Hasil penelitian tentang seksualitas ganda menunjukkan bahwa para wanita


biseksual mempunyai beberapa kebutuhan emosional yang hanya dapat dipenuhi oleh
laki-laki, sementara kebutuhan emosional lainnya, menurut mereka, hanya dapat
dipenuhi perempuan. Untuk memenuhi hal tersebut, mereka memiliki peran biseksual.
4. Kebutuhan akan variasi dan kreativitas
Mereka yang menjadi biseksual dalam hal ini disebabkan karena ingin memenuhi
kebutuhan akan adanya variasi dan kreativitas. Hal tersebut bertujuan untuk
mendapatkan kepuasan dan kenikmatan dalam melakukan hubungan seksual yang
mungkin dirasakan sebagai suatu yang monoton.

H. Diagnosis11
Pedoman Diagnotik PPDGJ III untuk Gangguan Maturitas Seksual (F.66.0)
Individu menderita karena ketidak-pastian tentang identitas jenis kelaminnya

atau orientasi seksualnya yang menimbulkan kecemasan atau depresi.


Paling sering terjadi pada remaja yang tidak tahu pasti apakah mereka
homoseksual, heteroseksual atau biseksual dalam orientasi seksualnya, atau
pada individu yang sesudah suatu periode orientasi seksual yang tampak
stabil, seringkali dalam jalinan hubungan yang telah berlangsung lama,

menemukan bahwa orientasi seksualnya berubah.


I. Terapi12
Terapi kognitif dan terapi perilaku (CBT) biasanya fokus pada situasi saat
ini daripada masa lalu. CBT berkonsentrasi pada pandangan seseorang dan
keyakinan tentang kehidupan mereka, bukan pada kepribadian mereka. Terapi
perilaku dan kognitif dapat digunakan untuk mengobati individu, orang tua, anak,
pasangan, dan seluruh keluarga. CBT membantu orang mendapatkan kontrol atas
hidup mereka, menggantikan cara-cara hidup yang tidak berjalan dengan baik
dengan cara hidup yang baik.
Pada pasien dengan homoseksual, CBT dapat berfungsi sebagai berikut :
membantu mempelajari keterampilan baru.

membantu meningkatkan hubungan dengan pasangan, keluarga, teman dan


rekan kerja. Sebagai contoh, hal ini dapat mencakup belajar cara-cara baru
berkomunikasi dengan orang, berpikir tentang hubungan, mengelola
perasaan, atau menangani situasi konflik.
CBT dapat menjadi pengobatan berguna untuk masalah kesehatan mental,
seperti depresi, kecemasan (termasuk kecemasan sosial), penyalahgunaan
zat, dan keinginan bunuh diri.
CBT dapat membantu mengatasi berbagai masalah hidup, baik berhubungan
maupun tidak berhubungan dengan seksual atau orientasi seksual atau terkait
dengan respon orang lain dengan orientasi seksual klien.