Anda di halaman 1dari 10

TEORI PEMBANGUNAN

TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI ADAM SMITH

OLEH

WIWIT NURATIH
111514253013

PROGRAM MAGISTER SAINS PSIKOLOGI


UNIVERSITAS AIRLANGGA
TAHUN 2015/2016

TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI KLASIK ADAM SMITH

1. Teori Adam Smith (1723-1790)


Adam Smith adalah ahli ekonomi klasik yang dianggap paling terkemuka. Karyanya
yg terkenal, adalahl sebuah buku yg berjudul An Inguity Into The Nature and Cause Of The
Wealth of Nations yg diterbikan 1776, terutama menyangkut masalah pembangunan
ekonomi. Adam Smith memandang pembangunan ekonomi sebagai proses pertumbuhan
ekonomi dan perkembangan ekonomi dengan memanfaatkan mekanisme pasar. Suatu
perekonomian akan tumbuh dan berkembang jika mekanisme pasar berjalan baik dan
sempurna. Syarat yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi adalah investasi
dan spesialisasi yang dikontrol melalui mekanisme pasar. Peranan pemerintah hanya
mengupayakan agar mekanisme pasar dapat berjalan baik. Untuk itu, yang harus dilakukan
pemerintah adalah pemeliharaan keamanan, penegakan hukum, dan penyediaan barang
publik, seperti pendidikan dan kesehatan. Walaupun tidak memaparkan Teori Pertumbuhan
secara sistematik namun teori yg berkaitan dengan itu kemudian disusun oleh para ahli
ekonomi berikutnya, yaitu:
1. Hukum Alam
Adam Smith menyakini berlakunya doktrin hukum alam dalam persoalan ekonomi.
Ia menganggap setiap orang sebagai hakim yang paling tahu akan kepentingannya itu demi
keuntungannya sendiri. Dalam mengembangkan kepentingan pribadinya itu, orang akan
memerlukan barang-barang keperluan hidupnya sehari-hari. Dalam melakukan ini setiap
individu akan dibimbing oleh sesuatu yg tak terlihat . Bukan demi kebaikan tukang roti
kita membeli roti, tapi untuk kebaikan kita sendiri, kata Smith. Setiap orang jika dibiarkan
bebas akan berusaha memaksimalkan kesejahteraan mereka secara Agregrat. Smith pada
dasarnya menentang setiap campur tangan pemerintah dalam Industri dan Perniagaan. Ia
adalah penganut paham perdagangan bebas dan peganjur kebijaksanaan pasar bebas dalam
ekonomi. Kekuatan yg tak terlihat yaitu pasar persaingan sempurna yg merupakan
mekanisme menuju keseimbangan secara otomatis, cenderung untuk memaksimumkan
kesejahteraan nasional.

2. Proses Pemupukan Modal.


Smith menekankan, pemupukan modal harus dilakukan lebih dahulu daripada
pembagian kerja. Karena pemupukan stok dalam bentuk barang harus lebih dulu dilakukan
sebelum pembagian kerja, maka pekerjaan hanya dapat dibagi lebih lanjut secara seimbang,
jika stok lebih dulu diperbesar. Seperti ahli ekonomi modern, Smith mengannggap
pemupukan modal sebagai suatu syarat mutlak bagi pembangunan ekonomi; dengan
demikian permasalahan pembangunan ekonomi secara luas adalah kemampuan manusia
untuk lebih banyak menabung dan menanam modal. Modal suatu bangsa meningkat dengan
cara yg sama seperti meningkatnya modal perseorangan yaitu dengan jalan memupuk dan
menambah secara terus menerus tabungan yg mereka sisihkan dari pendapatan. Maka dari itu,
cara yg paling cepat adalah dengan menanamkan modal sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan penghasilan yang paling besar pada seluruh penduduk agar mereka dapat
menabung sebanyak2. Dengan demikian tingkat Investasi akan ditentukan oleh tingkat
tabungan dan tabungan sepenihnya diInvestasikan. Sebagaimana dikatakan Smith;bagian yg
ditabung tiap tahun oleh seseorang dg segera digunakan sebagai modal. Tetapi hamper
keseluruhan tabungan diperoleh dari penanaman modal atau penyewaan tanah. Oleh karena
itu, hanya Kaum Kapitalis dan Tuan tanah yg mampu menabung. keyakinan ini didasarkan pd
Iron Law Wage.
Para ahli ekonomi klasik juga menyakini adanya suatu cadangan upah, dalam arti
bahwa upah cenderung menyamai jumlah yg diperlukan bagi kebutuhan hidup minimum para
pekerja. Jika pada suatu waktu cadangan keseluruhan menjadi lebih tinggi daripada tingkat
kebutuhan hidup minimum, maka tenaga kerja akan meningkat, persaingan dalam mencari
pekerjaan akan menjadi lebih tajam dan upah akan menurun lagi sampai ketingkat kebutuhan
hidup minimum. Dalam keadaan seperti ini, sebagian pekerja akan mengalami kesukaran
untuk hidup dibawah standar normal. Maka dari itu mereka tidak akan sanggup untuk
berkeluwarga atau memperbesar anak2nya. Angkatan kerja akan menjadi berkurang dan
persaingan antar para Kapitalis dlm memperebutkan para pekerja akan cenderung akan
meningkatkan upah. Jadi, Smith yakin bahwa dalam kondisi yg Statisioner (tetap), tingkat
upah akan jatuh sampai tingkat yg hanya cukup untuk hidup, sedangkan dlm periode
pemupukan modal yg cepat tingkat upah naik melebihi tingkat kebutuhan hidup tersebut.
Seberapa jauh upah naik tergantung pd tingkat pemupukan modal dan tingkat pertumbuhan

penduduk. Akan tetapi cadangan upah diperoleh dari tabungan dan digunakan untuk
membiayai tenaga kerja melalui investasi. Ia yakin, tabungan secara otomatis akn berubah
menjadi investasi, dengan demikian cadangan upah dapat ditingkatkan dg meningkatkan laju
investasi netto.
Menurut Adam Smith, investsai dilakukan krn pemilik modal mengharapkan untung
dan harapan keuntungan dimasa depan bergantung pd iklim investasi pd hari ini dan pd
keuntungan nyata. Tetapi bagaimana perilaku keuntungan selam proses pembangunan? Smith
yakin keuntunangan cenderung menurun dengan adanya kemajuan ekonomi. Pada waktu laju
pemupukan meningkat, persaingan yg meningkat antar pemilik modal alan menaikan upah
dan sebaliknya menurunkan keuntungan. Ia berdalih;apabila stok para pedagang kaya
beralih ke bidang perdangan yg sama, persaingan mereka secara alamiah cenderung akan
menurunkan keuntungan; dan bila peningkatan yg sama terjadi pd stok di seluruh bidang
perdaganganyg dilakukan dlm masyarakat yg sama, peraingan yg seperti itu pasti akan
menghasilkan pengaruh yg sama. Jadi dengan pertumbuhan stok modal di dalam
perekonomian, persaingan antar wiraswasta (pengusaha) dalam mendapatkan tenaga kerja
yang langka cenderung menawarkan tingkat upah yang tinggi dan Karena itu menurunkan
keuntungan.
3. Peranan tingkat suku bunga dalam pembangunan ekonomi,
Smith menulis bahwa dengan adanya peningkatan kemakmuran, kemajuan dan jumlah
penduduk, tingkat suku bungan akan menurun, dan akibatnya persediaan modal akan
membengkak. Alasannya, dengan tingkat suku bunga yang rendah para lintah darat terpaksa
meminjamkan uangnya dalam jumlah lebih besar untuk mendapatkan lebih banyak bunga
dengan maksud mempertahankan standar hidupnya. Jadi dengan menurunnya tingkat suku
bunga, jumlah modal yang dipinjamkan akan meningkat, tetapi bila tingkt suku bunga turun
terlalu rendah para lintah darat tidak sanggup untuk meminjamkan uangnya lebih banyak
lagi. Dalam keadaan seperti ini mereka akan memilih investasi dan menjadi pengusaha. Jadi
walaupun tingkat suku bunga menurun, akhirnya terdapat pula peningkatan pemupukan
modal dan kemajuan ekonomi.
4. Agen Pertumbuhan.

Menurut Smith, para petani, produsen, dan pengusaha, merupakan agen kemajuan dan
pertumbuhan ekonomi. Adalah perdagangan bebas dan persaingan, yang mendorong mereka
memperluas pasar, yang pada gilirannya memungkinkan pembangunan ekonomi.fungsi
ketiga agen itu saling berkaitan erat. Bagi Smith pembangunan pertanian mendorong
peningkatan pekerjaan konstruksi dan perniagaan. Pada waktu terjadi kenaikan surplus
pertanian sebagai akibat pembangunan ekonomi, maka permintaan akan jasa perniagaan dan
barang pabrikan akan meningkat pula; ini akan membawa kemajuan pada perniagaan dan
berdirinya industri manufaktur. Pada sisi lain, pembangunan tersebut akan meningkatkan
produksi pertanian apabila para petani menggunakan teknik produksi yang canggih. Jadi
pemupukan modal dan pembangunan ekonomi terjadi karena tampilnya para petani,
produsen, dan pengusaha.
5. Proses Pertumbuhan.
Menurut Smith, proses pertumbuhan bersifat menggumpal (kumulaitf). Apabila
timbul kemakmuran sebagai akibat kemajuan di bidang pertanian, industri manufaktur, dan
perniagaan, kemakmuran itu akan menarik kepemupukan modal, kemajuan teknik,
meningkatnya jumlah penduduk, perluasan pasar, pembagian kerja, dan kenaikan keuntungan
secara terus-menerus (semua ini terjadi dalam apa yang disebut Smith Situasi
Progresif,yang dalam kenyataanya merupakan keadaan yang menyenangkan bagi seluruh
lapisan masyarakat.). dalam keadaan yang maju spt ini,sementara masyarakat meraih hasil
yang lebih baik, keadaan buruh miskin menjadi kelompok yang paling bahagia dan nyaman.
Tetapi proses ini ada akhirnya, kelangkaan sumber daya pada akhirnya memberhentikan
pertumbuhan. Smith menulis, dalam suatu negara yang telah sanggup memperoleh
kemakmuran seperti itu karena sifat tanah dan iklimnya, dan situasinya lebuh memungkinkan
dibandingkan dengan negara lain yg karena itu tidak dapat maju lebih jauh,dan yg tidak akan
mungkin mundur, baik upah buruh maupun keuntungan stok mungkin akan menjadi sangat
rendah. Didalam Negara kaya seperti ini, persaingan dalam mencari pekerjaan akan
mengurangi upah sampai tingkat hidup minimal dan persaingan antar pengusaha akan
menghasilkan keuntungan yang terendah. Sekali keuntungan menurun, ia akan menurun
terus. Investsi juga akan menurun dan dengan jalan demikianlah hasil akhir dari kapitalisme
akan berupa suatu keadaan yang Statisioner. Apabila ini tejadi, pemupukan modal berhenti,
penduduk menjadi statisioner, keuntungan minimum, upah berada pada tingkat kehidupan
minimal, tidak ada perubahan terhadap pendapatan perkapita, serta produksi dan

perekonomian menjadi macet. Hidup di dalam keadaan yang stasioner adalah sangat sulit
bagi seluruh lapisan masyarakat, dan sengsara dalam keadaan yang merosot. Kesemuanya ini
terjadi pada perekonomian yang menganut pasar bebas.
2. Pertumbuhan hasil produksi
Adam Smith mengemukakan tiga unsur utama dalam proses pertumbuhan hasil produksi,
yaitu sebagai berikut.
1. Sumber daya manusia, yaitu pertambahan jumlah penduduk.
2. Pertambahan dalam persediaan barang modal (akumulasi modal) karena tabungan masyarakat
diinvestasikan oleh Para pemilik modal dengan harapan memperoleh keuntungan.
3. Spesialisasi dan pembagian kerja disertai perluasan pasar dan perkembangan perdagangan
dalam negeri maupun internasional.
Menurut Smith, sumberdaya alam yang tersedia merupakan wadah yang paling
mendasar dari kegiatan produksi suatu masyarakat. Jumlah sumber daya alam yang tersedia
merupakan batas maksimum bagi pertumbuhan suatu perekonomian. Maksudnya, jika
sumberdaya ini belum digunakan sepenuhnya, maka jumlah penduduk dan stok modal yang
ada yang memegang peranan dalam pertumbuhan output. Tetapi pertumbuhan output tersebut
akan berhenti jika semua sumberdaya alam tersebut telah digunakan secara penuh.
Sumberdaya insani jumlah penduduk mempunyai peranan yang pasif dalam proses
pertumbuhan output. Maksudnya, jumlah penduduk akan menyesuaikan diri dengan
kebutuhan akan tenaga kerja dari suatu masyarakat. Stok modal, menurut Smith, merupakan
unsur produksi yang secara aktif menentukan tingkat output. Peranannya sangat sentral dalam
proses pertumbuhan output. Jumlah dan fingkat pertumbuhan output tergantung pada laju
pertumbuhan stok modal (sampai batas maksimum dari sumber alam).
Jumlah penduduk akan meningkat jika tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari
tingkat upah subsisten yaitu tingkat upah yang pas-pasan untuk hidup. Jika tingkat upah di
atas tingkat subsisten, maka orang-orang akan kawin pada umur muda, tingkat kematian
menurun, dan jumlah kelahiran meningkat. Sebaliknya jika tingkat upah yang berlaku lebih
rendah dari tingkat upah subsisten, maka jumlah penduduk akan menurun. Tingkat upah yang
berlaku, menurut Adam Smith, ditentukan oleh tarik-menarik antara kekuatan permintaan dan
penawaran tenaga kerja. Tingkat upah yang tinggi dan meningkat jika permintaan akan
tenaga kerja (D) tumbuh lebih cepat daripada penawaran tenaga kerja (S). Sementara itu
permintaan akan tenaga kerja ditentukan oleh stok modal dan tingkat output masyarakat.
Oleh karena itu, laju pertumbuhan permintaan akan tenaga kerja ditentukan oleh laju
pertumbuhan stok modal (akumulasi modal) dan laju pertumbuhan output.

Pengaruh stok modal terhadap tingkat output total bisa secara langsung dan tak
langasung. Pengaruh langsung ini maksudnya adalah karena pertambahan modal (sebagai
input) akan langsung meningkatkan output. Sedangkan pengaruh talk langsung maksudnya
adalah peningkatan produktivitas per kapita yang dimungkinkan oleh karena adanya
spesialisasi dan pembagian kerja yang lebih tinggi. Semakin besar stok modal, menurut
Smith, semakin besar kemungkinan dilakukannya spesialisasi dan pembagian kerja yang pada
gilirannya akan meningkatkan produktivitas per kapita.
Spesialisasi dan pembagian kerja ini bisa menghasilkan pertumbuhan output,
menurut Smith, karena spesialisasi tersebut bisa meningkatkan ketrampilan setiap pekerja
dalam bidangnya dan pembagian kerja bisa mengurangi waktu yang hilang pada saat
peralihan macam pekerjaan. Menurut Smith, potensi pasar akan bisa dicapai secara maksimal
jika, dan hanya jika, setiap warga masyarakat diberi kebebasan seluas-luasnya untuk
melakukan pertukaran dan melakukan kegiatan ekonominya. Untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi perlu dilakukan pembenahan dan penghilangan peraturan-peraturan, undang-undang
yang menjadi penghambat kebebasan berusaha dan kegiatan ekonomi, baik antara warga
masyarakat di suatu negara maupun antara warga masyarakat antarnegara. Hal ini
menunjukkan bahwa Adam Smith merupakan penganjur laissez-faire dan free trade. Faktor
penunjang yang kedua yaitu tingkat keuntungan yang memadai. Tingkat keuntungan ini erat
hubungannya dengan luas pasar. Jika pasar tidak tumbuh secepat pertumbuhan modal, maka
tingkat keuntungan akan segera merosot, dan akhirnya akan mengurangi gairah para pemilik
modal untuk melakukan akumulasi modal. Menurut Adam Smith, dalam jangka panjang
tingkat keuntungan tersebut akan menurunkan dan pada akhirnya akan mencapai tingkat
keuntungan minimal pada posisi stasioner perekonomian tersebut. Pembagiaan kerja adalah
titik permulaan dari teori pertumbuhan Smith, yang meningkatkan daya prodiktivitas tenaga
kerja. Ia menghubungkan kenaikan itu dengan ; (1) meningkatkan ketrampilan kerja; (2)
penghematan waktu dlm produksi; (3) penemuan mesin yg menghemat tenaga. Penyebab
terakhir dari kenaikan produktivitas itu bukan berasal dari tenaga kerja tetapi dari modal.
Teknologi majulah yang melahirkan pembagian kerja dan perluasan pasar. Tetapi apa yang
mengarahkan pada pembagian kerja adalah kecenderungan tertentu pada sifat manusia,yaitu
kecenderungan untuk tukar-menukar, barter dan mempertukarkan suatu barang dengan
barang lain. Akan tetapi, pembaginan kerja tergantung pada besarnya pasar. Salah satu pemeo
terkenal pembagian kerja dibatasi luasnya pasar mengandung arti bahwa pembagian kerja
bertambah seiring dengan meningkatnya pasar. Oleh itu, perluasan perniagaan dan
perdagangan internasional sangat bermanfaat, dengan meningkatnya jumlah penduduk dan

fasilitas transportasi terjadi pembagian kerja yang semakin meluas dan peningkatan modal
yang semakin besar.
Pengaplikasian teori dependensi terhadap pembangunan di Indonesia.
Disadari atau tidak, teori pembangunan ekonomi yang dikemukakan oleh Adam Smith
ini telah diterapkan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa ada sebagian pasar
barang atau jasa yang sudah bermodel persaingan sempurna. Fakta yang terlihat adalah
bagaimana pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang selalu diprakarsai bukan hanya oleh
pemerintah, tetapi peran serta pihak swasta juga ikut memberikan andil besar. Masyarakat
tidak hanya menggantungkan diri pada kebijakan pemerintah dalam menjalankan roda
perekonomian, tetapi mereka juga memunculkan inisiatif-inisiatif dalam kegiatan
ekonominya. Contoh yang paling kentara adalah maraknya bisnis dengan konsep wirausaha
dan maraknya usaha waralaba. Namun, teori pembangunan ekonomi ini belum 100% ada di
Indonesia. Bukti nyatanya adalah masih adanya campur tangan dari pemerintah dalam
mengendalikan perekonomian melalui kebijakan-kebijakan yang diambil dan penataan
hukum yang masih mencampuri kehidupan perekonomian nasional seperti kebijakan BLT,
proteksi, pembatasan inpor-ekspor dan kebijakan-kebijakan lain.
Contoh lain terlihat dari naik turunya harga barang karena pasar. Setiap produsen
berkeinginan untuk mendapatkan laba sebanyak banyakya dari hasil produksi salah satunya
dengan menaikan harga. Apabila suatu barang harganya terus naik akan mempengaruhi
permintaan dari konsumen, konsumen merasa keberatan untuk membeli barang dengan harga
yang tinggi yang berdampak kepada penurunan permintaan. Karena barangnya tidak laku
terjual banyak, produsen terpaksa menurunkan harga untuk kembali menaikan gairah
permintaan dari konsumen sehingga konsumen kembali dapat membeli dan produsen kembali
dapat menjual atau biasa disebut titik equilibrium price. Sebaliknya ketika harga suatu barang
terlalu murah, konsumen akan berbondong bondong untuk membeli, karena produsen ingin
mendapat laba yang melimpah dengan memanfaatkan momentum permintaan yang tinggi
maka produsen menaikan harga dan konsumenpun masih memiliki tingkat permintaan tinggi
sampai disatusaat harga terlampau tinggi dan permintaan dari konsumen menurun yang
memaksa produsen untuk menurunkan harga kembali. Begitu terus berulang ulang sehingga
harga barang cenderung bergerak fluktuatif. Hal ini juga terjadi pada pasar mata uang asing,
karena posisi rupiah cenderung menguat bahkan terkuat dalam beberapa tahun atau dalam
bahasa perdagangan harganya naik, maka hal ini memicu para importir untuk mengimpor
lebih banyak barang karena dengan keadaan rupiah menguat dapat mendapatkan barang lebih

banyak dengan hanya membayar jumlah yang lebih kecil dibanding saat rupiah berada pada
level per dollar AS. Hal inilah yang membuat defisit neraca berjalan yang mana impor lebih
besar daripada export sehingga karena impor meningkat dan otomatis permintaan terhadap
dollar meningkat maka posisi rupiah terhadap dollar melemah hingga suatu titik dimana para
eksportir dalam negeri indonesia. Mengekspor harga harga barangnya dengan harga murah
karena beberapa dollar saja bernilai lebih banyak rupiah sehingga permintaa terhadap barang
tersebut naik dan dengan kata lain, impor di suatu negara terhadap produk indonesia naik
sehingga permintaan terhadap rupiah naik dibanding dengan dollar sehingga rupiah menguat
begitu terus kembali ke fase pertama dan kedua dan kembali lagi sehingga rupiah akan
berfluktuatif disuatu titik keseimbangan nilai tukar yang ditentukan oleh pasar.
Kritik dan Saran
Persaingan yang sempurna pada pasar barang dan jasa yang menyebabakan kalangan
yang tidak mempunyai modal yang cukup kuat akan tergusur dari perekonomian.
Mengasumsikan adanya pembagian masyarakat secara tegas yaitu antara golongan kapitalis
(termasuk tuan tanah) dan para buruh. Padahal dalam kenyataannya, seringkali kelas
menengah mempunyai peran yang sangat penting dalam masyarakat modern. Dengan kata
lain, teori Smith mengabaikan peranan kelas menengah dalam mendorong pembangunan
ekonomi. Tidak adanya peran serta pemerintah sehingga pengawasan tidak dapat dilakukan
secara penuh yang akan membuat kalangan menengah kebawah sulit untuk bersaing.
Pertumbuhan yang bertumpu pada penanaman modal akan sangat bergantung pada investasi
yang tertanam, sehingga jika investasi menurun karena tidak ada modal, perekonomian akan
sulit untuk bertumbuh.
Pentingnya skill dalam mencari pekerjaan membuat persaingan didunia kerja semakin
berat yang kemungkinan akan membebani orang dengan tingkat pendidikan rendah dan orang
yang tidak mempunyai skill yang cukup akan tergusur dari dunia kerja. Persaingan yang
sempurna memungkinkan seseorang untuk dapat mencapai maksimalisasi nilai usahanya.
Dengan demikian, seseorang atau badan usaha tertentu dapat mencapai tingkat kemakmuran
yang lebih tinggi secara terus menerus bergantung pada seberapa kuat usahanya dalam
bersaing di pasar bebas dan seberapa besar modal yang dipunyai untuk dapat
mengembangkan usahanya. Adanya peran serta dari pihak swasta yang akan mempermudah
pengembangan perekonomian karena akan memperkuat struktur modal sebagai tonggak awal
investasi. Penggunaan teknologi akan membuat pola pengembangan pendidikan dan iptek
juga akan diperhatikan dengan seksama sehingga pola pengambilan kebijakan akan sangat
dekat hubunganya antara satu kebijakan dengan kebijakan lain yang juga sama arah tujuan

serta sasarannya. Pola pembangunan perekonomian yang masih menggunakan tenaga


manusia. Sehingga ada kemungkinan untuk mewujudkan usaha padat karya didalam
perekonomian demi mengurangi tingkat pengangguran.