Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi pencitraan dalam bidang diagnostik
sangat pesat dewasa ini. Salah satu inovasi teknologi pencitraan yang terus
berkembang adalah CT Scan. CT Scan merupakan salah satu sarana
penunjang penegakan diagnosa yang menggunakan gabungan dari sinar-X
dan komputer untuk mendapatkan citra atau gambar berupa varian irisan
tubuh manusia (Bontrager, 2001). Seiring dengan perkembangan
teknologi, dewasa ini telah diciptakan alat CT Scan yang lebih canggih
yaitu MSCT (Multislice Computed Tomography). Prinsip MSCT adalah
pergerakan

tabung

sinar-X

yang

berputar

secara

stationer

dan

memancarkan sinar-X secara kontinyu, sambil diiringi pergerakan pasien


oleh meja pesawat, melewati bidang penyinaran sehingga akan dihasilkan
banyak potongan (multislice) dalam satu kali pergerakan pasien (Said,
2008).
MSCT banyak digunakan untuk mendeteksi kelainan pada tubuh,
salah satunya untuk pemeriksaan stonografi (abdomen non kontras)
dengan kasus batu pada ureter. Sehubung dengan hal itu maka diperlukan
pemeriksaan penunjang diagnostik yang cukup akurat dalam menegakkan
diagnosa sedini mungkin, agar tindakan terapi dapat dilakukan dengan
cepat dan tepat.
Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuknya lonjong
dan meluas dari atas dari drafragma sampai pelvis di bawah. Rongga
abdomen dilukiskan menjadi dua bagian, abdomen yang sebenarnya yaitu
rongga sebelah atas dan yang lebih besar dari pelvis yaitu rongga sebelah
bawah dan lebih kecil. Batas-batas rongga abdomen adalah di bagian atas
diafragma, di bagian bawah pintu masuk panggul dari panggul besar, di
depan dan di kedua sisi otot-otot abdominal, tulang-tulang illiaka dan igaiga sebelah bawah, di bagian belakang tulang punggung dan otot psoas
dan quadratus lumborum. Salah satu organ yang terdapat di rongga
abdomen adalah hati. Hati adalah kelenjer terbesar di dalam tubuh yang

terletak di bagian teratas dalam rongga abdomen di sebelah kanan di


bawah diafragma. Hati luar dilindungi oleh iga-iga (Pearce, 2009).
Pemeriksaan CT Scan stonografi di departemen radiologi Rumah
Sakit Husada Utama ini dilakukan pada kasus-kasus batu pada organ
perkemihan atau abdomen akut dan dilakukan pada pasien yang tidak
dimungkinkan untuk dilakukannya IVP atau CT Scan IVP karena ureum
dan creatinnya tinggi.
Berdasarkan hal tersebut penulis ingin mengkaji lebih lanjut dan
menuangkannya ke dalam laporan kegiatan dengan judul TEKNIK
PEMERIKSAAN

MULTISLICE

COMPUTED

TOMOGRAPHY

STONOGRAFI PADA DIAGNOSA ORCHITIS CURIGA BATU BULI


DI DEPARTEMEN RADIOLOGI RUMAH SAKIT HUSADA UTAMA
SURABAYA.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan
masalah yang berkaitan dengan pemeriksaan MSCT Stonografi adalah
bagaimana teknik pemeriksaan MSCT Stonografi pada diagnosa orchitis
curiga batu buli di Departemen Radiologi Rumah Sakit Husada Utama
Surabaya?
C. Tujuan Penulisan
Dalam penyusunan laporan kasus ini penulis mempunyai tujuan
yaitu mengetahui teknik pemeriksaan MSCT Stonografi pada diagnosa
orchitis curiga batu buli di Departemen Radiologi Rumah Sakit Husada
Utama Surabaya.

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teori
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis serta
memberikan informasi kepada pembaca mengenai pemeriksaan MSCT
Stonografi.
2. Manfaat Praktek

Mengetahui teknik-teknik pemeriksaan MSCT Stonografi pada


diagnosa orchitis curiga batu buli di Departemen Radiologi Rumah
Sakit Husada Utama Surabaya.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penyusunan laporan ini
adalah :
BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan,
manfaat penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORI
Berisi tinjauan pustaka anatomi, fisiologi, patologi, teknik pemeriksaan
MSCT Stenografi.
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisi hasil dan pembahasan masalah.
BAB IV PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Anatomi Abdomen
Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuknya
lonjong dan meluas dari atas dari drafragma sampai pelvis di bawah.
Rongga abdomen dilukiskan menjadi dua bagian, abdomen yang
sebenarnya yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar dari pelvis
yaitu rongga sebelah bawah dan lebih kecil. Batas-batas rongga
abdomen adalah di bagian atas diafragma, di bagian bawah pintu

masuk panggul dari panggul besar, di depan dan di kedua sisi otot-otot
abdominal, tulang-tulang illiaka dan iga-iga sebelah bawah, di bagian
belakang tulang punggung dan otot psoas dan quadratus lumborum.
Bagian dari rongga abdomen dan pelvis beserta daerah-daerah (Pearce,
2009).

Gambar. 2.1 : Rongga Abdomen dan Pelvis (Pearce, 2009)


Keterangan :
1. Hipokhondriak kanan
2. Epigastrik
3. Hipokhondriak kiri
4. Lumbal kanan
5. Pusar (umbilikus)

6.
7.
8.
9.

Lumbal kiri
Ilium kanan
Hipogastrik
Ilium kiri

Isi dari rongga abdomen adalah sebagian besar dari saluran


pencernaan, yaitu lambung, usus halus dan usus besar (Pearce, 2009).
1. Lambung
Lambung terletak di sebelah atas kiri abdomen, sebagian
terlindung di belakang iga-iga sebelah bawah beserta tulang rawannya.
Orifisium cardia terletak di belakang tulang rawan iga ke tujuh kiri.
Fundus lambung, mencapai ketinggian ruang interkostal (antar iga)
kelima kiri. Corpus, bagian terbesar letak di tengah. Pylorus, suatu
kanalis yang menghubungkan corpus dengan duodenum. Bagian corpus
dekat dengan pylorus disebut anthrum pyloricum.
Fungsi lambung :
a. Tempat penyimpanan makanan sementara.
b. Mencampur makanan.
c. Melunakkan makanan.
d. Mendorong makanan ke distal.
e. Protein diubah menjadi pepton.
f. Susu dibekukan dan kasein dikeluarkan.
g. Faktor antianemi dibentuk.
h. Khime yaitu isi lambung yang cair disalurkan masuk duodenum
(Pearce, 2009).
2. Usus Halus
Usus halus adalah tabung yang kira-kira sekitar dua setengah meter
panjang dalam keadaan hidup. Usus halus memanjang dari lambung
sampai katup ibo kolika tempat bersambung dengan usus besar. Usus
halus terletak di daerah umbilicus dan dikelilingi usus besar. Usus halus
dapat dibagi menjadi beberapa bagian :
a.

Duodenum adalah bagian pertama usus halus yang


panjangnya 25 cm.

b.

Yeyenum adalah menempati dua per lima sebelah


atas dari usus halus.

c.

Ileum adalah menempati tiga pertama akhir.

Fungsi usus halus adalah mencerna dan mengabsorpsi khime dari


lambung isi duodenum adalah alkali (Pearce, 2009).
3. Usus Besar
Usus halus adalah sambungan dari usus halus dan dimulai dari
katup ileokdik yaitu tempat sisa makanan. Panjang usus besar kira-kira
satu setengah meter.
Fungsi usus besar adalah :
a. Absorpsi air, garam dan glukosa.
b. Sekresi musin oleh kelenjer di dalam lapisan dalam.
c. Penyiapan selulosa.
d. Defekasi (pembuangan air besar) (Pearce, 2009)
4. Hati
Hati adalah kelenjer terbesar di dalam tubuh yang terletak di
bagian teratas dalam rongga abdomen di sebelah kanan di bawah
diafragma. Hati Secara luar dilindungi oleh iga-iga.
Fungsi hati adalah :
a. Bersangkutan dengan metabolisme tubuh, khususnya mengenai
pengaruhnya atas makanan dan darah.
b. Hati merupakan pabrik kimia terbesar dalam tubuh/sebagai
pengantar matabolisme.
c. Hati mengubah zat buangan dan bahan racun.
d. Hati juga mengubah asam amino menjadi glukosa.
e. Hati membentuk sel darah merah pada masa hidup janin.
f. Hati sebagai penghancur sel darah merah.
g. Membuat sebagian besar dari protein plasma.
h. Membersihkan bilirubin dari darah (Pearce, 2009).
5. Kandung Empedu
Kandung empedu adalah sebuah kantong berbentuk terong dan
merupakan membran berotot. Letaknya di dalam sebuah lekukan di
sebelah permukaan bawah hati, sampai di pinggiran depannya.
Panjangnya delapan sampai dua belas centimeter. Kandung empedu
terbagi dalam sebuah fundus, badan dan leher.

Fungsi kangdung empedu adalah :


a. Kandung empedu bekerja sebagai tempat persediaan getah
empedu.
b. Getah empedu yang tersimpan di dalamnya dibuat pekat. (Pearce,
2009).
6. Pankreas
Pankreas adalah kelenjar majemuk bertandan, strukturnya sangat
mirip dengan kelenjar ludah. Panjangnya kira-kira lima belas centimeter,
mulai dari duodenum sampai limpa. Pankreas dibagi menjadi tiga bagian
yaitu kepala pankreas yang terletak di sebelah kanan rongga abdomen
dan di dalam lekukan abdomen, badan pankreas yang terletak di belakang
lambung dalam di depan vertebre lumbalis pertama, ekor pankreas
bagian yang runcing di sebelah kiri dan menyentuh limpa.
Fungsi pankreas adalah :
a. Fungsi exokrine dilaksanakan oleh sel sekretori lobulanya, yang
membentuk getah pankreas dan yang berisi enzim dan elektrolit.
b. Fungsi endokrine terbesar diantara alvedi pankreas terdapat
kelompok-kelompok kecil sel epitelium yang jelas terpisah dan
nyata.
c. Menghasilkan hormon insulin mengubah gula darah menjadi
gula otot (Pearce, 2009).
7. Ginjal
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah
lumbal di sebelah kanan dari kiri tulang belakang, di belakang
peritoneum. Dapat diperkirakan dari belakang, mulai dari ketinggian
vertebre thoracalis sampai vertebre lumbalis ketiga ginjal kanan lebih
rendah dari kiri, karena hati menduduki ruang banyak di sebelah kanan.
Panjang ginjal 6 sampai 7 centimeter. Pada orang dewasa berat kirakira 140 gram. Ginjal terbagi menjadi beberapa lobus yaitu : lobus
hepatis dexter, lobus quadratus, lobus caudatus, lobus sinistra.

Fungsi ginjal adalah :


a. Mengatur keseimbangan air.
b. Mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseimbangan
asam basa darah.
c. Ekskresi bahan buangan dan kelebihan garam. (Pearce, 2009)
8. Limpa
Terletak di regio hipokondrium kiri di dalam cavum abdomen
diantara fundus ventrikuli dan diafragma.
Fungsi limpa adalah :
a. Pada masa janin dan setelah lahir adalah penghasil eritrosit dan
limposit.
b. Setelah dewasa adalah penghancur eritrosit tua dan pembentuk
homoglobin dan zat besi bebas.
Limpa dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
a. Dua facies yaitu facies diafraghmatika dan visceralis.
b. Dua kutub yaitu ekstremitas superior dan inferior.
c. Dua margo yaitu margo anterior dan posterior.
R

B
C

P
O

N
M
L
K

E
F
G
H
I
J

Gambar 2.2 : Rongga Abdomen Bagian Depan.


Keterangan :
A.
Diafragma
B.
Esofagus
C.
Lambung
D.
Kaliks kiri
E.
Pankreas
K. Apendiks
L. Sekum
M. Illium

F.
G.
H.
I.
J.

Kolon desenden
Kolon transversum
Usus halus
Kolon sigmoid
Kandung kencing

N.
O.
P.
Q.
R.

Kolon asenden
Kandung empedu
Liver
Lobus kanan
Lobus kiri
F.
G.
B. Patologi Abdomen
a. Peritonitis, merupakan radang pada peritoneum yang sangat
berbahaya sebagai komplikasi dari penyebaran infeksi yang terjadi
pada organ-organ abdomen seperti appendicitis, salphingitis,
rupture, saluran cerna, luka tembus abdomen.
b. Obstruksi usus, merupakan penyumbatan usus yang terjadi karena
adanya daya mekanik dan mempengaruhi dinding usus sehingga
mengakibatkan penyempitan atau penyumbatan lumen usus.
c. Preumo peritoneum, merupakan adanya udara di dalam rongga
peritoneum, (Bontrager, 2001)
d. Editis Ulseratif, merupakan penyakit dimana daerah yang luas dari
usus besar meradang dan mengalami ulserasi. (Bontrager, 2001)
e. Volvulus, disebut juga torsi merupakan pemutaran usus dengan
mesenterium sehingga poros. (Bontrager, 2001)
f. Tumor / neoplasma adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk
oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak
terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi
tubuh (Dr. Kristanto)
g. Ulkus atau tukak yaitu terjadi apabila sebagian permukaan tulang
jaringan hilang sedang sekitarnya meradang. Bisa terjadi di kulit
atau alat dalam seperti lambung dan usus (Dr. Kristanto)

H.
C. Teknik Pemeriksaan
1. Peralatan Computed Tomography
a. Meja Pemeriksaan dan Gantry
I.Meja pemeriksaan merupakan tempat mengatur posisi pasien pada
saat pemeriksaan. Bentuk panjang, permukaannya berupa kurva dan terbuat
dari carbon graphite fiber yang mempunyai nilai penyerap rendah terhadap
berkas sinar. Pengaturan tinggi rendah, maju mundur, dari meja
pemeriksaan melalui tombol digital yang ditempatkan pada sisi meja
pemeriksaan maupun pada gantry. (Anonim, 1986)
J.

Gantry adalah peralatan CT-Scan yang berbentuk kotak, di

tengahnya terdapat terowongan untuk keluar masuknya meja pemeriksaan


tegak lurus, namun demikian gantry dapat diposisikan menyudut ke posisi
negatif maupun positif kurang lebih 200 terhadap meja pemeriksaan.
K.

Di dalam kotak gantry berisi tabung sinar X, filter, kolimator,

lampu indikator sebagai sentrasi, DAS (Data Acquisifion System) dan


detektor juga kipas sebagai pendingin. Pada gantry dilengkapi tombol
digital untuk mengatur posisi gantry tersebut (Anonim, 1986).
b. DAS dan Detektor
L.

Sinar X setelah menembus obyek diteruskan oleh detektor yang

selanjutnya dilakukan proses pengolahan data.


M.

Secara garis besar detektor dan DAS berfungsi sebagai :

1)

Menangkap sinar X yang telah menembus obyek.

2)

Merubah sinar X dalam bentuk sinyal-sinyal elektronik.

3)

Menguatkan sinyal-sinyal elektronik.

4)

Merubah sinyal elektronik ke data-data digital

N.

Macam-macam detektor :

1)

Detektor scintilasi kristal dan tabung pengganda elektron.

2)

Detektor isian gas.

c. Kolimator
O.

Kolimator pada Computed Tomography terdiri dari dua buah,

yaitu :
1)

Kolimator pada tabung sinar X, berfungsi :


-

Mengurangi dosis radiasi.

Pembatas luas lapangan penyinaran.

Memperkuat berkas sinar.

2)

Kolimator pada detektor, berfungsi :


-

Penyearah radiasi menuju ke detektor.

Mengontrol radiasi hambur.

Menentukan ketebalan pada slice thickness/vaxel.

P.
Q.
R.
S.
T.
U.
V.
W. Gambar 2.3 : Pesawat CT-Scan (Ballinger, 2012)
1. Prosedur Pemeriksaan
X.
Lokasi untuk abdomen bawah daerah yang diambil dari
pemeriksaan CT-umum dimulai dengan slice pertama di process xiphoid
diteruskan ke crista illiaca. Untuk pelvis daerah yang diambil pada slice
pertama dimulai dengan crista illiaca dan diteruskan ke symphysis pubis.
Untuk pemeriksaan abdomen rutin tebal slice umumnya 10 mm. (Bontrager,
2001).
Y.

Pada pemeriksaan abdomen rutin dengan serial scanning

membutuhkan waktu 1 sekon untuk melihat gerakan peristaltik dan proses


respirasi. (Bontrager 2001).
a. Media Kontras
Z.

Media kontras dilakukan melalui mulut dan rectum untuk

pemeriksaan CT-Abdomen dan pelvis (media kontras rectal digunakan jika


media kontras oral tidak dapat masuk ke rectum). Media kontras melalui
oral untuk melihat atau membedakan organ pada tractus gastrointestinal.
AA.

Media kontras oral diberikan sebelum pemeriksaan. Ada 3

(tiga) tingkatan media kontral oral diberikan pada pasien :


1) Malam hari sebelum pemeriksaan.
2) Satu jam sebelum pemeriksaan.
3) Di tengah-tengah sebelum pemeriksaan.

AB.

Ada 2 (dua) tipe kontras untuk menunjukkan opasitas pada

tractus gastromtestinal yaitu barium sulfat suspensions dan water soluble


solution (diatrizoate meglumine atau diatrizoate sodium) (Bontrager, 2001).
b. Irisan Axial Pada Abdomen
AC.

Lima contoh CT irisan axial pada abdomen dengan 10 mm

setiap slice. Pertama dengan 50 cc bolus injeksi dan dengan 100 cc drip
infus melalui kontras intravena. Persiapan kontras oral dengan watersoluble solution.
1) Irisan Axial 1
AD.

Irisan axial 1 untuk memperlihatkan bagian atas liver. Liver

dibagi menjadi dua lobus, lobus kanan dan lobus kiri.


AE.
AF.
AG.
AH.
AI.
AJ.
AK.
Gambar 2.4 : Irisan Axial 1 (Bontrager, 2001)
AL.
Keterangan :
A.
Lobus kanan liver
B.
Lobus kiri liver
C.
Lambung
D.
Lambung (fundus dan bagian atas daerah lambung)
E.
Spleen
F.
Vertebre Thoracal 10 dan Vertebre Thoracal 11
G.
Aorta abdominal
H.
Vena Cava Inferior
AM.
2) Irisan Axial 3
AN.

Irisan axial 3 untuk melihat ekor pankreas. Ekor pankreas

terletak di depan ginjal kiri.

AO.
AP.
AQ.
AR.
AS.
AT.
AU.

Gambar 2.5 : Irisan Axial 3 (Bontrager, 2001)

AV.Keterangan :
A.
Lobus kanan liver dari posterior
B.
Kantong empedu
C.
Lobus kiri liver
D.
Lambung
E.
Kolon desenden
F.
Ekor pankreas
G.
Spleen
H.
Bagian atas lobus kiri ginjal
I.
Kelenjar adrenal sebelah kiri
J.
Vetebra Thoracal 11 Thoracal 12
K.
Vena Cava Inferior
L.
Bagian atas lobus kanan ginjal
AW.
3) Irisan Axial 5
AX.
Irisan axial 5 melihat bagian ke dua duodenum. Kepala
pankreas terletak di luar dari duodenum. Jika bagian ke dua duodenum
terlihat putih, maka dapat dikatakan tumor pankreas.
AY.
AZ.
BA.
BB.
BC.
BD.

Gambar 2.6 : Irisan Axial 5 (Bontrager, 2001)

BE.
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Keterangan :
Lobus kanan liver
Kantong empedu
Bagian ke dua duodenum
Lobus kiri liver
Lambung (pylorus)
Jejenum
Kolon desenden
Ginjal kiri
Aorta Abdominal
Vetebra Lumbal I

K.
L.

Vena Cava Inferior


Kepala pankreas

BF.
4) Irisan Axial 7
BG.

Irisan axial 75 memperlihatkan bagian tengah ginjal.

BH.
BI.
BJ.
BK.
BL.
BM.
BN.
Gambar 2.7 : Irisan Axial 7 (Bontranger, 2001)
BO.
Keterangan :
A.
Inferior lobus liver
B.
Pankreas
C.
Kandung empedu
D.
Kolon (asenden dan tranversum)
E.
Jejenum
F.
Kolon desenden
G.
Renal pelvis ginjal kiri
H.
Aorta Abdominal
I.
Vetebra Lumbal I
J.
Vena Cava Inferior
BP.
5) Irisan Axial 8.
BQ.
Irisan axial 8 adalah 2 cm ke arah bawah renal pelvis pada
ginjal dan perjalanan kontras menuju ureter pada ginjal.
BR.
BS.
BT.
BU.
BV.
BW.
BX.
BY.
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Gambar 2.8 : Irisan Axial 8 (Bontranger, 2001)


Keterangan :
Inferior lobus liver
Kolon asenden
Vena Cava Inferior
Aorta
Jejenum
Kolon desenden
Ginjal kiri

H.
I.
J.
K.
BZ.

Ureter kiri
Vertebra Lumbal 2- lumbal 3
Muskulus psoas major
Ureter kanan.

1. Pengolahan Film
CA. Pengolahan film adalah mengubah bayangan laten yang berbentuk
emulasi film selama eksposi diubah menjadi bayangan berbentuk perak melalui
proses kimia. (Jenkin, D, 1980)
CB. Pengolahan film secara otomatis adalah proses pengolahan film
dengan sistem transportasi film yang dilanjutkan oleh roller yang bekerja dengan
kecepatan tatap. Dalam pengolahan film secara otomatis menggunakan
konsentrasi larutan dan suhu yang tinggi dari proses manual sehingga waktunya
lebih cepat.
CC.
1. Proteksi Radiasi
CD. Proteksi radiasi untuk pemeriksaan CT-Scan yang harus diperhatikan
adalah ruangan pemeriksaan harus tertutup rapat pada saat pemeriksaan
berlangsung karena radiasi yang dihasilkan sangat besar dan dinding dari
ruangan pemeriksaan maupun ruang operator harus dilapisi timbal agar radiasi
tidak tembus. Sehingga akan mengurangi dosis bagi petugas radiologi (Batan,
1995).
CE.
CF.
CG.
CH.
CI.
CJ.
CK.
CL.
CM.
CN.
CO.
CP.
CQ.
CR.

BAB III

CS.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Paparan Kasus
1. Identitas Pasien
CT.
Nama
: Tn. X
CU.
Umur
: 45 Thn
CV.
Jenis kelamin
: Laki-laki
CW.
Alamat
: Surabaya
CX.
No. ID
: 1407XXXX
CY.
Tanggal pemeriksaan
: 26 Juni 2014
CZ.
Asal Pasien
: Rawat Inap
DA.
Diagnosa
: Orchitis Curiga Batu Buli
DB.
2. Riwayat Penyakit
DC. Berdasarkan hasil anamnesa di dapatkan data bahwa yang dikeluhkan
pasien adalah keluar cairan pada skrotum kiri post operasi hidrokelektomi dan
epididimektomi 5 bulan yang lalu sekitar Januari 2014. Pinggang kiri sakit post
kencing darah.
3. Jenis Tindakan
DD. Jenis tindakan yang dilakukan pada pemeriksaan MSCT Stonografi
pada diagnosa orchitis curiga batu buli di Departemen Radiologi Rumah Sakit
Husada Utama Surabaya adalah dengan menggunakan potongan axial.
4. Prosedur Pemeriksaan Ct Scan Stonografi
DE. Prosedur pemeriksaan Ct-Scan Stonografi pada kasus orchitis curiga
batu buli di Departemen Radiologi Rumah Sakit Husada Utama Surabaya tidak
memerlukan persiapan khusus karena pemeriksaan yang dilakukan tidak
menggunakan media kontras. Sebelum menentukan menggunakan pemeriksaan
MSCT Stonografi dilakukan pemeriksaan USG abdomen terlebih dahulu.
Setelah itu untuk menegakkan diagnosa lebih lanjut dilakukan pemeriksaan
MSCT Stonografi karena hasil laboratorium ureum dan kreatinnya pasien tinggi

b.

sehingga tidak dapat dilakukan pemeriksaan MSCT IVP atau pemeriksaan IVP.
a. Persiapan Alat
1) Pesawat MSCT
2) Alat fiksasi ( head clam dan body clam)
16
3) Penyangga kaki
4) Selimut
5) Dry printer
6) Film CT-Scan
7) Baju Pasien
Teknik Pemeriksaan
Posisi pasien
- Pasien supine diatas meja pemeriksaan, (feet first), kedua kaki lurus
bawah, kedua tangan berada diatas kepala dan MSP tubuh berada pada
tengah meja pemeriksaan.

Pasang alat immobilisasi


Pasien diposisikan dimana daerah abdomen bisa tercover dalam satu

lapangan penyinaran.
Posisi Objek
DF.
MSP objek berada pada pertengahan abdomen holder ( tempat
tubuh). MSP abdomen sejajar terhadap lampu indikator longitudinal dan
lampu indikator horizontal. Selama pemeriksaan pasien diberi selimut

untuk kenyamanan pasien mengingat ruangan pemeriksaan yang ber-AC


Menginput data pasien ke computer meliputi : no pemeriksaan (no.
Registrasi), nama, umur, jenis kelamin, klinis, dokter pengirim, dokter

radiologi dan nama radiografer yang mengerjakan.


Surview
- Untuk melokalisir secara umum dan sebagai penanda untuk membuat
-

planning potongan.
Seluruh rongga abdomen masuk atau tercover dalam scanogram.
Akan ditampakkan gambaran abdomen dalam posisi AP.

DG.
DH.
Gambar 3.9 Surview
Scan Parameter
DI.Scan parameter pemeriksaan CT Scan Abdomen yang ada di
Departemen Radiologi Rumah Sakit Husada Utama Surabaya adalah
sebagai berikut:
DJ.

DK.

DM.

DN.

DP.

DQ.

DS.

DT.

DL.

Abdomen AP (Coronal

View)
DO.

Range 1 : Diafragma

sampai ke symphisis pubis


DR.

10

DU.

228 mm

DV.

DW.

DY.

DZ.

EB.

EC.

EE.

EF.

DX.

Tidak diperlukan

EA.

120 dan 225

ED.

MPR dan MIP

EG.

5,00 mm dan 295,0

mm

EH.
Reformat
EI. Reformat yang dipake biasanya menggunakan MPR dan MIP.

EJ.
EK.

Gambar 3.10 Potongan Axial

EL.
EM. Gambar 3.11 Potongan Coronal Dari MIP

EN.
EO. Gambar 3.12 Potongan Coronal Dari MIP
B. Hasil Ekspertise
EP.
Stenosis di uretropelvic junction kiri yang menyebabkan hydroureter
dan hydronefrosis sedang kiri.
EQ.
Tidak terdeteksi batu maupun mass.
ER.
Cortex ginjal kiri tampak menipis.
ES.
Ginjal kanan ukuran masih normal (ukuran 8.73 cmx5.19 cm) dengan
slight hyperdensity pada cortex. Tampak batu kecil di pole bawah dan tengah.
ET.
Multipel cyst di pole atas-tengah dan bawah dengan ukuran terbesar
14.7 mm.
EU.

Buli

: ukuran normal. Dinding tidak menebal. Tidak

terdeteksi batu maupun


EV.
debris.
EW.
Prostat
: normal.
EX.
Liver : ukuran normal, parenchyma kesan normal, IHBD tak melebar,
vena
EY.
porta normal, tak tampak nodul maupun ascites.
Gall Bladder : ukuran normal, dan cairan bebas (-). Batu (-). CBD tak

EZ.
melebar.
FA.

Pancreas

ukuran

normal,

iparenchyma

normal,

ductus

pancreaticus tak
FB.
melebar, mass (-).
FC.
Spleen
: ukuran membesar ringan, intensitas parenchyma
normal, mass(-).
FD.
Tampak kalsifikasi.
FE.
Kesimpulan :
1. Stenosis di uretropelvic junction kiri yang menyebabkan hydroureter dan
hydronefrosis sedang kiri tanpa disertai batu atau mass- kemungkinan post
infection.
2. Cortex ginjal kiri tampak menipis.
3. Chronic parenchymal kidney disease kanan dengan multiple cyst di semua
pole (ukuran terbesar 14.7 mm) dan batu kecil di pole atas dan tengah.
4. Bladder normal.

5. Mid non specific splenomegaly dengan kalsifikasi.


C. Pembahasan
FF.

Dalam pemeriksaan MSCT Stonografi di Departemen Radiologi

Rumah Sakit Husada Utama Surabaya, teknik pemeriksaan yang digunakan adalah
proyeksi Anterior Posterior polos Abdomen. Dengan proyeksi tersebut sudah dapat
menegakkan diagnosa, dengan demikian tidak ada proyeksi tambahan dalam
pemeriksaan MSCT Stonografi. Dilakukan MSCT Stonografi pada pasien yang
tidak mungkin untuk dilakukan pemeriksaan MSCT IVP karena ureum dan
creatinnya tinggi.
FG.

Dalam pemeriksaan MSCT Stonografi pasien tidak perlu melakukan

persiapan khusus karena pemeriksaan tidak menggunakan media kontras. Tetapi,


biasanya sebelum dilakukannya pemeriksaan MSCT Stonografi pasien melalukan
pemeriksaan USG Abdomen. Prosedur pemeriksaannya, pasien dimasukkan
kedalam ruang pemeriksaan lalu pasien diinstruksikan untuk mengganti baju pasien
terlebih dahulu setelah itu pasien di posisikan tidur telentang diatas meja
pemeriksaan (feet first) lalu dipasang alat immobilisasi untuk keamanan pasien dan
diberi selimut mengingat ruangan pemeriksaan ber-AC. Kemudian Radiografer
menginput data pasien berupa no pemeriksaan (no. Registrasi), nama, umur, jenis
kelamin, klinis, dokter pengirim, dokter radiologi, nama radiografer yang
mengerjakan

dan melakukan scanning. Parameter yang digunakan adalah

membuat scanogram AP terlebih dahulu dengan 1 range mulai dari diafragma


sampai dengan symphysis pubis, dengan kV dan mAs dan tidak diperlukan gantry
tilting. Setelah pasien selesai di scanning pasien dapat kembali ke ruangan.
FH.

Untuk pemeriksaan MSCT Stonografi atau MSCT Abdomen kontras

di Departemen Radiologi Husada Utama Surabaya gambaran yang akan diprint


adalah irisan axial dan coronal. Untuk irisan axial di reformat menggunakan MPR
dan dipilih berdasarkan kelainannya, sedangkan untuk irisan coronalnya diambil
pada reformat MIP dan dipilih gambar yang paling jelas menunjukkan adanya
kelainan tersebut.
FI.

Untuk proteksi radiasi sangat diperhatikan, hal ini ditunjukkan pada

waktu scaning berlangsung pintu masuk kamar MSCT tertutup secara rapat dan
orang yang tidak berkempentingan didalam dipersilahkan untuk keluar. Mengingat
radiasi MSCT sangat besar, maka hal tersebut sangat perlu diperhatikan karena
apabila hal proteksi radiasi di abaikan dapat mengakibatkan radiasi keluar ruangan

dan mengenai orang yang berada di luar ruangan pemeriksaan. Selain itu perlu
ditambahkan tanda bahaya radiasi seperti stiker yang ditempelkan dipintu masuk
ruang pemeriksaan yang berbunyi Awas Bahaya Radiasi dan stiker berupa
himbauan untuk wanita yang sedang hamil agar melapor kepada petugas. Dan
diatas pintu diberi lampu sebagai pertanda, apabila lampu tersebut berwarna merah
maka sedang dilakukan pemeriksaan x-ray sehingga dapat menghindari orang dari
luar untuk masuk kedalam ruang pemeriksaan.
FJ.
FK.
FL.
FM.
FN.
FO.
FP.
FQ.
FR.
FS.
FT.
FU.
FV.
FW.
FX.
FY.BAB IV
FZ.
PENUTUP
GA.
GB.
Kesimpulan
GC.
Pemeriksaan MSCT Stonografi di Departemen Radiologi Rumah
Sakit Husada Utama Surabaya merupakan pemeriksaan MSCT Abdomen non kontras
dengan pasien yang tidak dimungkinkan untuk dilakukan pemeriksan MSCT IVP
karena kadar ureum dan creatinin yang tinggi. Dengan tahap pertama membuat
scanning scanogram. Pasien tidak diperlukan untuk melakukan persiapan khusus
karena tidak menggunakan media kontras.
GD.
Teknik Pemeriksaan MSCT Stonografi pada pasien dengan kasus
Diagnosa orchitis curiga batu buli di Departemen Radiologi Rumah Sakit Husada

Utama Surabaya yaitu posisi pasiene supine (feet first), membuat surview proyeksi
AP, menentukan protokol yang digunakan (Abdomen Routine Non Kontras),
menentukan lokator sekitar lumbal I dan II, setelah itu mengatur tracker dan abdomen
non kontras kemudian dilakukan scanning. Membuat rekonstruksi dengan aplikasi
MPR untuk potongan axial sedangkan untuk potongan coronal menggunakan aplikasi
MIP.
GE.
GF.
GG.
GH.
GI.
GJ.
GK.
GL.
GM.
GN.
GO.
GP.
GQ.
GR.
GS.
GT.
GU.
GV.
GW.
GX.
GY.
GZ.
HA.
HB.
HC.
HD.
HE.
HF.
HG.
HH.
HI.
HJ.
HK.

DAFTAR PUSTAKA
22

Anonim, 1986. Tehnical Guide Whole Body X-Ray System. Hitachi


Medical Corporation. Tokyo.
Ballinger, PW. 2012. Radiographic Position and Procedures.
Volume Two Eighth and Edition. CV. Mosby. Strategi. Louis. London.
Bontrager, KL. 2001. Texbook of Radiographic Positioning and
Related Anatomy. Fifth Edition. CV. Mosby. Strategi. Louis. London.
Kristanto, Dr. Diktat Patologi. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Mulyasih, Sri. 1999. Kalibrasi Computed Tomography Scanner
Menggunakan Phantom. Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Universitas Diponegoro. Semarang.
Pearce, E.C. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Edisi
ke-19 PT. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta.
Rasad, Sjahriar. 2011. Radiologi Diagnostik. Sub Bagian
Radiodiagnostik Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Gaya Baru. Jakarta.

HL.
HM.

Wegener, OII. 1982. Tehnique of Computerized Tomography in


Whole Body Computerized Tomography. Associated With Schering Corp. Kenil
Worth. USA.
HN.

23