Anda di halaman 1dari 19

Pengaruh Menonton Drama Korea Terhadap

Perilaku Remaja
Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Statistik Sosial
Dosen Pengampu:

Lukman Nusa, M.I.Kom

Disusun Oleh :

Galih Ridho Pranowo

15730052

Ahmad Danu Prasetiya

15730082

Dhiki Cahyo Susanto

15730084

Fikri Hanif

15730093

Pogram Studi Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga


Yogyakarta
2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dibalik industri film yang semakin banyak dan menyuguhkan cerita dan
pemaparan yang semakin beraneka ragam, menonton film memang sudah menjadi
salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan oleh seseorang untuk mengisi waktu
luangnya. Mulai dari film nasional maupun film-film internasional tak luput dari
perhatian para penikmat film. Baik itu bergenre romance, drama, comedy, misteri
sampai horor menjadi daya pikat bagi penyuka film. Bahkan drama korea pun ikut
dalam daftar film yang disuka. Terlebih jika film itu dibintangi oleh aktor dengan
akting yang wahid dan didukung cuplikan (thrailer) dari film tersebut, tentu membuat
orang untuk tidak ketinggalan menyaksikan film tersebut.
Biasanya mereka rela meluangkan waktunya untuk menonton film yang
mereka sukai. Baik itu melalui bioskop-bioskop yang semakin banyak bertebaran
maupun

menonton

sendiri

melalui

sarana

streaming

di

internet

maupun

mengunduhnya dari salah satu situs penyedia film di dunia maya. Pokoknya mereka
tak ingin Ya terlepas dari bagaimana serunya cerita film tersebut. legal atau tidaknya,
memang menonton film sudah tidak dipisahkan dari kehidupan manusia.
Dengan menonton film, seseorang dapat menerima dan memahami tentang ide
dan apa apa saja yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pembuat film baik itu
melalui ucapan maupun akting yang dilakukan oleh aktornya. Hal inilah yang
membuat seseorang untuk ikut masuk dan merasakan seolah-olah dia menjadi tokoh
utama dan berada di tempat dan waktu seperti tokoh dalam film tersebut. Jika
seseorang sampai terlambat menonton film yang diinginkan, bisa dipastikan dia akan
ada rasa dongkol apalagi kalau ada temannya yang melakukan spoiler.
Karena Film merupakan salah satu sarana orang berkomunikasi, maka
pengkajian menurut penulis sangat sesuai dan mudah karena penulis berasal dari
rumpun jurusan ilmu komunikasi sehingga mampu mengkaji dan mencari
permasalahan dalam efek yang dirasakan seseorang akibat menonton film. Ya
meskipun efek yang dirasakan penonton lebih cenderung ke rana psikologi,
setidaknya itu dikaji dalam ilmu sosial yang menjadi induk dimana ilmu komunikasi
dan psikologi bernaung. Maka dari itu penulis meneliti pengaruh melihat film
terhadap perubahan perilaku.

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang menyebutkan bahwa film merupakan
sebuah mahakarya yang dibuat seorang sutradara dalam upaya mengekpresikan diri,
menunjukkan dan mempengaruhi khalayak melalui filmnya. Karena penggambaran
cerita serta kekuatan naskah yang kuat, secara tidak langsung mampu menarik
penonton untuk larut dan berfikir serta bertindak sesuai dengan apa yang dilakukan
tokoh utama/pemain yang ada di jalan cerita sebuah film.
Dari beberapa genre film yang tersedia, kami mengambil drama korea karena
memiliki jalan cerita yang mudah diikuti dan romantis. Terlebih beberapa tahun
terakhir ini drama korea menjadi tontonan yang digandrungi remaja dan orang
dewasa.
1. Bagaimana eksposure drama korea terhadap penikmat drama korea?
2. Apa efek perubahan perilaku yang ditimbulkan dari menonton drama korea?
3. Bagaimana hubungan antara menonton drama korea dengan perubahan sikap
seseorang?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui eksposure dari drama korea terhadap penikmat drama korea
2. Untuk mengetahui perubahan perilaku seseorang akibat menonton drama korea
3. Untuk mengetahui hubungan antara menonton drama korea dengan perubahan
sikap seseorang
4. Untuk menjadi bahan penelitian selanjutnya
D. Manfaat
Adapun manfaat

akademis (bagi penulis dan pembaca) dan Praktis yang

ditimbulkan :
1. Manfaat akademis
Agar pembaca tidak hanya mengetahui secara teori mengenai metode penelitian,
namun pembaca juga dapat mendalami lebih jauh implementasi dalam penerapan
penelitian yang benar dan sesuai kaidah.
2. Manfaat Praktis
Menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan, serta bahan dalam penerapan
ilmu metode penelitian, khususnya metode kuantitatif yang dijadikan bahan
perbandingan untuk penelitian selanjutnya. Disini kita dapat mengetahui
perbedaan atau efek yang ditimbulkan setelah menyaksikan drama korea.

E. Tinjauan Pustaka
1. Film
Film disini diartikan sebagai bentuk mahakarya seorang penulis/sutradara yang
bermaksud menunjukkan dan mengkspresikan dirinya melalui bentuk sinematografi
untuk

diberikan

kepada

penonton

agar

dapat

dipahami,

dimengerti,

dan

mempengaruhi pola pikir serta perilaku seseorang. Dengan bantuan Sinematografi,


Make Up dan Tata Rias serta maksimalnya akting dari para cast mendukung
penyampaian pesan dari seorang sutradara terhadap penonton sehingga maksud cerita
dapat dengan mudah dipahami oleh penonton.
Dalam penelitian ini kami mengambil contoh film bergenre romance yaitu drama
korea yang memang dikenal memiliki kisah romance yang romantis dan menjadi
kesukaan bagi beberapa orang. film bergenre romance ini sendiri menekankan kepada
romantisme pasangan dalam menjalani setiap lika-liku kehidupannya dalam mencari
kebahagiaan yang hakiki.
2. Teori
Terdapat teori yang muncul pada era ini adalah teori perubahan sikap (attitude
change theory) dari Carl Hovland, muncul pada awal tahun 1950-an. Carl Hovland
adalah pendiri atau penggagas awal penelitian eksperimental efek-efek komunikasi. Ia
bekerja dengan tujuan untuk membangun suatu dasar pemikiran (groundwork)
mengenai hubungan antara stimuli komunikasi, kecenderungan diri audien, dan
perubahan pendapat. Pemikiran ini diharapkan dapat digunakan dalam pengembangan
teori-teori selanjutnya.
Menurut Carl Hovland, teori perubahan sikap ( attitude change theory )
memberikan penjelasan bagaimana sikap seseorang terbentuk dan bagaimana sikap
seseorang itu dapat berubah melalui proses komunikasi dan bagaimana sikap itu dapat
mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.
Teori perubahan sikap memberikan penjelasan bagaimana sikap seseorang
terbentuk dan bagaimana sikap itu dapat berubah melalui proses komunikasi dan
bagaimana sikap itu dapat mempengaruhi sikap tindak atau tingkah laku seseorang.
Teori perubahan sikap ini antara lain menyatakan bahwa seseorang akan mengalami
perasaan fantasy seolah-olah dia seperti seseorang sehingga menimbulkan pola
pemikiran bahwa ia bisa menjadi seseorang yang ia inginkan.
Hal ini juga bisa berlaku di dalam sebuah film apabila penonton mampu
menghayati dan memperhatikan secara seksama cerita yang disajikan. Biasanya akan
lebih mudah bagi penonton untuk ikut larut dan berempati jika kejadian atau suasana

dalam film tersebut sedang maupun pernah dialami. Oleh karena itu perubahan sikap
setelah menonton film ini bisa terjadi pada penonton.
Selain itu juga ada teori peniruan (modeling) yang dikemukakan oleh Albert
Bandura dan Richard Walters (1959, 1963). Mereka melakukan eksperimen pada
anak-anak yang juga berkenaan dengan peniruan. Hasil eksperimen mereka
mendapati, bahwa peniruan dapat berlaku hanya melalui pengamatan terhadap
perilaku model (orang yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus
menerus. Proses belajar semacam ini disebut observational learning atau
pembelajaran melalui pengamatan. Bandura (1971), kemudian menyarankan agar
teori pembelajaran sosial diperbaiki memandang teori pembelajaran sosial yang
sebelumnya hanya mementingkan perilaku tanpa mempertimbangan aspek mental
seseorang.
Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri
(kognitif) dan lingkungan. pandangan ini menjelaskan, beliau telah mengemukakan
teori pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah menjalankan kajian bersama
Walter (1963) terhadap perlakuan anak-anak apabila mereka menonton orang dewasa
memukul, mengetuk dengan palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam
video. Proses peniruan yang seterusnya ialah elisitasi. Proses ini timbul apabila
seseorang melihat perubahan pada orang lain
3. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai pembanding bagi penelitian kami yaitu
tugas kelompok dari Kunto Jati P, Winda Rahmadewanti, dan Yudistira Yusron
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang tentang
Pengaruh Menonton Tayangan Kekerasan Pada Tingkat Imitasi Perilaku Remaja.
Mereka menganggap masa remaja sebagai masa yang sangat rawan sebab mereka
memiliki kecendrungan meniru (imitasi) seorang tokoh dari tayangan kekerasan baik
dalam berita, film, maupun internet.
World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja dalam (Sarlito
Wirawan Sarwono, 2006: 7) adalah suatu masa ketika:
a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda
seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
b. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa.

c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada


keadaan yang relatif lebih mandiri.
Maka dari itu dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja adalah individu yang
sedang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan
ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial.
Penelitian selanjutnya datang dari mahasiswi jurusan ilmu komunikasi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Nuri Rahmah Fajria telah
mengerjakan sebuah skripsi yang berjudul Pengaruh Tayangan Opera Van Java
Terhadap Perubahan perilaku Kekerasan di SMA Triguna Utama Ciputat. Tujuan
dalam penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh komunikasi massa dalam
perubahan perlaku kekerasan Siswa-siswi usia menengah atas. Mendeskripsikan,
menganalisis dan memeberikan solusi dari efek tayangan hiburan yang disisipkan
adegan kekerasan yang disiarkan oleh media televisi di Indonesia. Hasil dari
penelitian tersebut membuktikan dari variabel kognitif memilki kecenderungan
perubahan perilaku kekerasan, namun variabel afektif menunjukan tidak adanya
perubahan perilaku kekerasan yang terjadi setelah menonton tayangan tersebut.
F. Hipotesa
Dari analisis sementara yang kami simpulkan, menonton Drama Korea mampu
mempengaruhi perasaan dan perilaku seseorang remaja apabila penonton mampu
menghayati ceritanya secara sungguh-sungguh dan seksama. Bukan hanya
memengaruhi saja namun juga bisa dibawa ke kehidupan yang nyata.

BAB II
DESKRIPSI LOKASI
Miniriset penelitian kami tentang pengaruh menonton drama korea terhadap perilaku
remaja dilakukan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang beralamat di Jalan Laksda

Adisucipto, Yogyakarta. pada tanggal 20 Mei 2016. Karena Yogyakarta memiliki tingkat
pergaulan yang cukup cepat dan modern tentunya secara tidak langsung mempengaruhi pola
pergaulan setiap masyarakat di jogja termasuk mahasiswa mahasiswi Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga. Apalagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta termsuk salah satu
perguruan tinggi negeri yang cukup familiar di Yogyakarta bahkan Indonesia secara
umumnya. Hal ini tentu amat mempengaruhi pola pergaulan. Apalagi mahasiswa-mahasiswi
yang beragam dan berasal dari berbagai wilayah di indonesia, semakin mendukung tingkat
pergaulan di dalamnya. Sebab dewasa ini tak hanya civitas akademika yang berasal dari
Sekolah berbasis islam tetapi sekolah yang berbasis keilmuan umum baik SMA atau SMK tak
sungkan untuk menuntut ilmu di UIN. Hal ini tentu saja membuat pola pergaulan di UIN
sunan Kalijaga lebih heterogen.
Adapun subjek penelitian kami tertuju pada mahasiswa-mahasiswi UIN Sunan
Kalijaga Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Dengan citra sebagai kampus islam dan
mahasiswa-mahasiswinya yang beragam membuat kami tertarik untuk melakukan mini riset
di UIN Sunan Kalijaga untuk mengetahui apakah menonton drama korea berpengaruh
terhadap sikap perilaku mahasiswa UIN. Sebab mahasiswa-mahasiswi sekarang berada dalam
fase remaja menuju akhir jadi mereka sudah mulai mengekspresikan dirinya sebebasbebasnya dan menemukan serta menunjukkan jati dirinya.

BAB III
METODOLOGI PENELTIAN

1. Jenis Penelitian
Dengan melakukan pendekatan kuantitatif maka dapat menemukan jawaban
dengan memakai rumus statistik. Peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif,
karena pendekatan ini dapat mengukur secara jelas pengaruh menonton film pada
tingkat imitasi perilaku remaja, melalui perbandingan angka. Dengan perbandingan
angka akan mempermudah dalam menganalisis dan menyimpulkan jawaban dari
rumusan masalah.
2. Variabel dan Definisi Konseptual
Dalam penelitian ini kami menggunakan 2 jenis variabel yaitu :
a. Variabel Independent
yaitu variabel yang mempengaruhi atau variabel yang menjadi sebab
timbulnya atau berubahnya variabel terikat (Arikunto, 1998). Variabel bebas
dalam penelitian ini adalah eksposur pengaruh menonton drama Korea (X).
b. Variabel Dependen
yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (Arikunto, 1998). Variabel
terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah peniruan atau tingkat
imitasi perilaku pada remaja (Y).
Sedangkan definisi konseptual disini dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Eksposur drama korea terhadap perilaku penonton
mendefinisikan tentang frekuensi, persepsi dan intensitas seseorang dalam
menonton drama korea sehingga ia mengimitasi atau mencontoh agresi yang
dilihatnya. Pengukuran eksposur perubahan perilaku setelah menonton drama korea
dilakukan dengan mengimitasi metode pengukuran yang digunakan oleh Anderson
dan Dill (2000) yaitu dengan melihat rata-rata dari hasil kali antara frekuensi dan
durasi menonton Tayangan drama korea serta persepsi responden.
b. Imitasi
Tentu saja, mengamati orang lain melakukan sesuatu tidak tidak mesti
berakibat belajar, karena belajar melalui observasi memerlukan beberapa faktor atau
prakondisi. Unsur utama dalam peniruan adalah :
1) Perhatian (Attention)

Subjek harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya.


Subjek memberi perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain yang
dimiliki.
2) Mengingat (Retention)
Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya.
Ini membolehkan subjek melakukan peristiwa itu kelak bila diperlukan atau
diinginkan. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian
penting dari proses belajar.
3) Reproduksi gerak (Reproduction)
Setelah mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkahlaku, subjek juga dapat
menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk
tingkah laku. Setelah subyek memperhatikan model dan menyimpan informasi,
sekarang saatnya untuk benar-benar melakukan perilaku yang diamatinya. Praktek
lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan
keterampilan. Meliputi aspek peniruan dalam tayangan drama korea adalah:
3. Populasi dan Sampel
Objek penelitian kami tertuju kepada seluruh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.
Kami mengmabil data dengan random sampling terhadap mahasiswa yang berada
di fakultas imu sosial dan humaniora.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam laporan penelitian ini, kami memberikan kuisioner kepada mahasiswa UIN
secara acak. Setiap pertanyaan telah disertai sejumlah pilihan jawaban. Responden
hanya memilih jawaban yang paling sesuai dengan dirinya.
5. Teknik Analisa Data
Teknik analisis data dalam mini riset ini adalah mengkelompokan data melalui
Distribusi Frekuensi untuk mengukur dan menganalisa bagaimana drama korea
dalam kehidupan remaja (besar kecilnya pengaruh). Sedangkan untuk mengukur
tingkat perubahan dalam perilaku remaja akibat menonton drama korea, kami
menggunakan rumus Korelasi Tata Jenjang dari Spearman (Rho). Karena rumus ini
digunakan untuk data ordinal, interval atau rasio. Rumus ini berfungsi untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan/ korelasi antar 2 variabel, Mengetahui
kekuatan hubungan/koefisien korelasi, & Mengetahui arah hubungan.

BAB IV
ANALISIS DATA

KUESIONER PENGARUH MENONTON DRAMA KOREA


TERHADAP PERILAKU REMAJA
Petunjuk pengisian:
1. Jawablah pertanyaan ini dengan jujur dan benar.
2. Bacalah terlebih dahulu pertanyaan dengan cermat sebelum anda
memulai menjawab.
3. Pilihlah salah satu jawaban yang tersedia dengan memberi (X) yang
menurut Anda benar.
4. Atas kesediaan Anda untuk mengisi angket ini Kami ucapkan terimakasih.
5.
I.
DATA DEMOGRAFI
Jenis Kelamin
a. ( ) Pria
b. ( ) Wanita

II.

PENGETAHUAN DAN PENGALAMAN RESPONDEN


1. Seberapa sering Anda menonton drama Korea?
a. ( ) Sangat sering
b. ( ) Biasa
c. ( ) Tidak sering
2. Apakah setelah menonton Drama Korea Anda terbawa adegan dalam

film?
a. ( ) Sangat terbawa
b. ( ) Biasa saja
c. ( ) Tidak terbawa

III.

PENGUKURAN TINGKAT IMITASI

Isilah dengan ketentuan sebagai berikut:


SS

: Sangat Setuju

TS

: Tidak Setuju

: Setuju

STS

: Sangat Tidak Setuju

: Netral

No

Skor Tingkat Kinerja

Pernyataan

SS

Tayangan Drama Korea menarik karena alur ceritanya bagus.

Saya sering melihat adegan romantis dalam Drama Korea.

Saya ingin sekali beradegan seperti dalam Drama Korea.

Saya pernah terbawa menjadi aktor utama dalam Drama Korea.

Saya pernah berbicara dengan logat seperti Drama Korea.

Saya secara spontan berperilaku dengan apa yang ada di Drama


Korea kepada setiap orang yang saya temui.

Saya akan diakui salam lingkungan pergaulan jika pernah atau


tahu tentang Drama Korea.

TS STS

A. Tabel Korelasi Tata Jenjang dari Spearman (Rho)


d

d2

6.5

4.5

20.25

11

29

15

22

-18

324

14

20.5

28

-7.5

56.25

26

11

2.5

8.5

72.25

21

11

26

11

2.5

8.5

72.25

16

28

21.5

6.5

42.25

10

28

30

-2

11

24

11

4.5

6.5

42.25

12

16

20.5

21.5

-1

13

22

20.5

6.5

14

196

14

21

28

19

361

15

20

20.5

13

7.5

56.25

16

17

28

19.5

8.5

72.25

17

18

11

17.5

-6.5

42.25

Koresponden

Ordinal [X] Ordinal [Y]

22

11

21

18

20

13

-12

144

19

20

13

-9

81

20

24

4.5

-0.5

0.25

21

18

20.5

17.5

22

20

11

13

-2

23

20

13

-9

81

24

17

20.5

19.5

25

19

20.5

14

6.5

42.25

26

15

20.5

22

-1.5

2.25

27

15

20.5

22

-1.5

2.25

28

15

11

22

-11

121

29

11

28

29

-1

30

14

20.5

28

-7.5

56.25

11

1924.5

Jumlah

Rumus Perhitungan:

Rho

1 6 x 1924.5
30 (3021)

1 11547
30 (9001)

1- 11547
30 (899)

1 11547
26970

1 0.428

0.571

Jadi, karena Rho hitung lebih besar dari Rho tabel, maka Ho ditolak.
Karena Ho ditolak berarti Ha diterima. Jadi, ada hubungan perubahan
perilaku akibat mentonton drama Korea

B. Tabel Distribusi Frekuensi


1. Pengaruh Pengetahuan dan Pengalaman Responden Menonton Drama
Korea

No

Tingkat Keseringan

Frekuensi

Tinggi

Netral

11

Rendah

15

Jumlah

30

Tingkat Suasana Yang Dialami Responden Setelah Menonton Drama Korea

No

Tingkat Perasaan

Frekuensi

Sangat Terbawa

Biasa Saja

20

Tidak Terbawa

Jumlah

30

Berdasarkan dari hasil kedua tabel diatas, kelompok Kami berpendapat


bahwasanya responden Kami tidak sering menonton Drama Korea, hal ini karena
tingkat ketenaran Drama Korea kalah dalam bersaing dengan Drama India dan
Drama Turki yang sedang naik daun sekarang, atau bisa jadi karena mereka
kembali menaruh respect kepada Drama Barat yang ber-genre romance, karena
jika diamati, film dari Barat kini mulai kembali bangkit setelah kesuksesannya
dalam mendulang film yang ber-genre aksi.
Selain itu tingkat suasana yang dialami responden setelah menonton
Drama Korea, mereka beranggapan biasa saja karena ini mungkin berkaitan
dengan tingkat keseringan mereka menonton Drama Korea tadinya. Karena
mereka yang tidak sering menonton Drama Korea, sehingga mereka menjadi
kurang berminat dan menciptakan suasana yang hanya biasa saja ketika selesai
menonton Drama Korea.

2. Pengukuran Imitasi Akibat Menonton Drama Korea


Responden Terhadap Alur Cerita Drama Korea

No

Skala

Frekuensi

Sangat Setuju

Setuju

10

Netral

12

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

Jumlah

30
Tabel 4

Responden Sering Melihat Adegan Romantis Ditayangkan Dalam Drama Korea

No

Skala

Frekuensi

Sangat Setuju

Setuju

12

Netral

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

Jumlah

30

Tabel 5
Keinginan Responden Untuk Mengikuti Adegan Dalam Drama Korea

No

Skala

Frekuensi

Sangat Setuju

Setuju

Netral

10

Tidak Setuju

10

Sangat Tidak Setuju

Jumlah

30

Tabel 6
Perasaan Responden Seolah Menjadi Aktor Dalam Drama Korea

No

Skala

Frekuensi

Sangat Setuju

Setuju

Netral

Tidak Setuju

11

Sangat Tidak Setuju

Jumlah

30
Tabel 7

Gaya Bicara Responden Seperti Dalam Drama Korea

No

Skala

Frekuensi

Sangat Setuju

Setuju

12

Netral

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

Jumlah

30
Tabel 8

Responden Secara Spontan Berperilaku Dalam Drama Korea Ketika Bertemu


Orang Lain

No

Skala

Frekuensi

Sangat Setuju

Setuju

Netral

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

12

Jumlah

30
Tabel 9

Responden Akan Merasa Diakui Dalam Lingkungannya Ketika Tahu Tentang


Drama Korea

No

Skala

Frekuensi

Sangat Setuju

Setuju

Netral

10

Tidak Setuju

15

Sangat Tidak Setuju

Jumlah

30

Jika dilihat dari tabel diatas, responden kami beranggapa bahwa alur cerita
dalam Drama Korea biasa saja karena seperti dari analisis kami sebelumnya, jadi
kami berpendapat responden kami tidak menaruh perhatian lebih ataupun
kurang terhadap Drama Korea. Lalu responden kami juga setuju jika dalam
Drama Korea selalu terdapat tayangan romantis antara lawan jenisnya, karena
memang basic tayangannya yang ber-genre romance.
Tayangan drama Korea yang selalu menampilkan beberapa adegan yang
dianggap terlalu dewasa untuk kalangan para remaja, responden Kami
berpendapat untuk tidak setuju dalam mengikuti segala adegan yang terdapat
dalam Drama Korea. Mereka percaya bahwa ini dapat menciptakan sebuah virus
kecil yang nantinya bisa merusak moral para remaja. Dengan begitu pula,
responden Kami menyatakan tidak setuju juga untuk mengikuti gaya atau
seolah-olah menjadi aktor yang berperan dalam Drama Korea. Walaupun begitu,
banyak dari responden Kami mengaku mereka secara tak langsung mengikuti
gaya bicara yang terdapat dalam Drama Korea, hal ini bisa saja mungkin
disebabkan karena tutur kata bahasa yang asing yang biasa didengar dalam
sehari-hari dan menciptakan rasa tertarik tersendiri untuk dipelajari dan
dipraktekkan dalam keseharian nantinya.
Kendati diatas, tak membuat para responden Kami untuk berperilaku
secara spontan yang sama dalam Drama Korea, mereka sangat tidak setuju
dengan hal ini karena beranggapan seharusya setiap orang itu harus menjadi
dirinya sendiri, bukan berperilaku seperti orang lain, layaknya tulisan yang
terdapat dalam kertas yang dicetak mesin fotokopi. Dengan demikian, responden
Kami menyatakan tidak setuju ketika dimana eksistensi seseorang ditentukan
oleh pengetahuan seseorang dalam mengetahui sesuatu, seperti orang akan
diakui gaul ataupun mengikuti trend zaman jika mengetahui segala tentang
Drama Korea.

BAB V
PENUTUP
A Kesimpulan
Berdasarkan yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya, permasalahan
yang ingin diketahui dalam penelitian ini adalah mengenai Pengaruh Menonton
Drama Korea Terhadap Perilaku Remaja
1

Pada analisis inferensia hasil perhitungan yaitu korelasi antara variable x dan
variabel y nilainya 0.571. Dalam Tabel Interpretasi Koefisien Korelasi Versi
de Vaus 0.571 berada di antara 0.50 0.69 yang menandakan hubungan itu

cukup kuat. Itu berarti nilai antara variable x dan variable y kuat.
Ada pengaruhnya yang kuat antara menonton drama korea terhadap imitasi
remaja, maka dari itu sebagai generasi muda alangkah baiknya dikurangi
menonton drama Korea. Kenapa dikungai, karena dikhawatirkan remaja akan
terlalu terbawa oleh drama Korea dan berperilaku yang seharusnya belum
dilakukan oleh remaja.

B Saran
1

Dengan melihat hasil penelitian yang menunjukan bahwa pengaruh menonton


drama korea terhadap perilaku remaja adalah kuat. Dengan hasil yang sudah
diperoleh paneliti memberi saran agar remaja sekarang untuk mengurangi
menonton drama Korea karena akan berdampak pada perilaku yang
seharusnya belum di lakukan justru sudah malah dilakukan.
Saran untuk peneliti selanjutnya agar bisa meyakinkan remaja untuk
mengurangi menonton drama Korea, karena dampaknya akan turun langsung
terhadap remaja tersebut. Dampak yang dikhawatirkan remaja akan
melakukan imitasi yang berarah ke aspek negative.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/9989046/PENGARUH_MENONTON_TAYANGAN_KE
KERASAN_PADA_TINGKAT_IMITASI_PERILAKU_REMAJA
debluesearching.blogspot.com/2010/08/sosial-perubahan-sikap.html