Anda di halaman 1dari 2

Minyak daun cengkeh merupakan komoditi ekspor Indonesia yang memegang

peranan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat produsen minyak daun
cengkeh. Minyak cengkeh mengandung banyak senyawa organik,namun yang paling penting
adalah
eugenol.
Eugenol
dibutuhkan
banyak
industri,diantaranya
industri
kosmetik,farmasi,dan pestisida nabati karena senyawa ini menghasilkan aroma yang khas
(Kardinan, 2005).
Eugenol (C10H12O2) merupakan turunan gualiakol yang mendapatkan tambahan rantai
alil yang memiliki nama IUPAC yaitu 2-metoksi-4-(2-propenil)fenol. Eugenol merupakan
komponen kimia utama dalam minyak daun cengkeh berkisar 79 90 % (Kardinan, 2005).
Untuk mengisolasi eugenol,digunakan NaOH 3%. Karena eugenol dan NaOH akan
membentuk natrium eugenolat yang dapat larut dalam air. Bagian non eugenol diekstrak
dengan eter dan penambagan asam anorganik dan menghasilkan natrium eugenol bebas.
Eugenol kemudian dimurnikan dengan penguapan dan penyulingan (Guenther, 1990).
Sebagai sumber eugenol minyak bunga dan tangkai bunga cengkeh terhitung mahal, maka
industriawan cenderung menggunakan minyak daun cengkeh sebagai penggantinya (Fitri dan
Kawira 2006).
Pada percobaan kali ini sampel yang digunakan adalah minyak cengkeh diambil
sebanyak 25 gram. Selanjutnya sampel ditambah dengan NaOH agar terjadi reaksi sehingga
garam Na-eugenolat akan terpisah dari komponen- komponen lain yang terkandung dalam
minyak cengkeh.. Larutan eugenol ditambahkan NaOH 10% dan diaduk hingga homogen.
NaOH digunakan karena ion Na+ lebih kuat mengikat eugenolat. Penambahan NaOH
bertujuan agar komponen eugenol dari minyak cengkeh dapat diisolasi. Eugenol dan NaOH
akan membentuk natrium eugenolat yang larut dalam air. Sehingga, bagian non eugenol
diekstrak dengan penambahan dietil eter yang merupakan asam anorganik sehingga
menghasilkan garam natrium eugenol bebas.
Campuran minyak cengkeh, NaOH, dan dietil eter dimasukkan dalam corong pisah,
lalu kocok dengan kuat dengan sesekali membuka kran corong pisah untuk mengeluarkan gas
yang dihasilkan oleh senyawa volatile yang terdapat pada campuran minyak cengkeh.
Pengkocokan dengan corong berfungsi agar terjadi difusi antara pelarut dengan ekstrak
sehingga terbentuk garam eugenolat agar senyawa yang berbeda kepolarannya dapat terpisah
dan mempercepat terjadinya reaksi (pada hidrolisis dengan HCl).
Pendiaman setelah proses pengkocokan berfungsi memberikan waktu
sehingga terbentuk dua fase larutan dengan kepolaran yang berbeda. Fase bawah merupakan
fase polar yang telah diekstrak dengan dietil eter, lapisan ini merupakan fase anorganik dan
fase atas merupakan fase nonpolar yang telah terisolasi dengan NaOH, lapisan ini merupakan
lapisan organik. Lapisan bawah yang mengandung senyawa anorganik dikeluarkan dari
corong pisah untuk memisahkan dengan fase organic.
Penambahan asam anorganik HCl 25% akan menghasilkan garam natrium
eugenol bebas. Penambahan HCl diteteskan sedikit-sedikit agar diperoleh larutan yang
bersifat asam, penambahan HCl bertujuan untuk mengikat senyawa non eugenol sehingga
diperoleh eugenol bebas dari garam. Larutan yang telah ditambah HCl kemudian diekstrak
kembali dengan penambahan dietil eter dan dipisahkan menggunakan corong pisah, diambil
fasa organiknya. Proses selanjutnya adalah penguapan dengan penangas, proses ini bertujuan
untuk menguapkan pelarut dan H2O sehingga diperoleh eugenol yang bebas dari pelarutnya
sehingga diperoleh residu hasil fraksinasi minyak cengkeh. Residu minyak cengkeh
ditambahkan Na2SO4 kering, hal itu bertujuan untuk mengikat air dalam bagian eugenol.
Tahap akhir isolat adalah pemisahan bagian eugenol dari Na2SO4 dengan penyaringan
sehingga didapatkan isolat eugenol.
Menurut Prianto et al (2013) Minyak bunga cengkeh yang dihasilkan berwarna
kuning muda, berbau khas minyak cengkeh. Hal ini sedikit berbeda dari hasil yang di

dapatkan, yaitu berwarna cokelat muda namun dengan bau yang sama yaitu berbau khas
minyak cengkeh. Bila dibandingkan dengan kelomppok liannya, maka hasilnya sama yaitu
berwarna cokelat muda dan berbau khas cengkeh.