Anda di halaman 1dari 24

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

PENINGKATAN JALAN CIBOMO-TERUMBU


KEC. KASEMEN KOTA SERANG

TAHUN ANGGARAN 2016

PT. Gunakarya Nusantara

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN


Metode pelaksanaan pekerjaan yang akan dilaksanakan pada pekerjaan PENINGKATAN JALAN CIBOMO-TERUMBU ( DAK ) KEC. KASEMEN
diuraikan sebagai berikut :
Pelaksanaan pekerjaan dilapangan dilakukan sepenuhnya oleh kontraktor pelaksana yang telah ditunjuk dan diawasi langsung konsultan
pengawas dan Kementerian Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pekerjaan dilakukan berdasarkan atas gambar-gambar kerja dan spesifikasi tekhnik
umum dan khusus yang telah tercantum dalam dokumen kontrak, rencana kerja & syarat-syarat (RKS) dan mengikuti perintah atau petunjuk dari
konsultan, sehingga hasil yang dicapai akan sempurna dan sesuai dengan keinginan pemilik proyek.
Sebelum sesuatu pekerjaan dilaksanakan, perlu disusun dulu langkah langkah atau tahapan pelaksanaan pekerjaan. Namun juga dipersiapkan
metode metode dan beberapa peralatan kerja yang digunakan. Adapun langkah langkah pelaksanaan pekerjaan tersebut dapat dirangkum
dalam suatu daftar berikut ini :
Langkah langkah Pelaksanaan Pekerjaan

Pra Pelaksanaan

Pelaksanaan

o
o
o

Membaca Gambar
Survey dan Pengukuran
Mobilisasi

o
o
o
o
o

Persiapan Lokasi (pembersihan dan pembongkaran)


Alat Alat yang digunakan
Pekerjaan Tanah (penggalian dan Penimbunan)
Penyiapan Tanah Dasar
Pekerjaan Lapis Pondasi Bawah dan Atas

Akhir Pelaksanaan

o
o
o

Pekerjaan Lapis Permukaan dan Penutup


Pekerjaan Bahu Jalan Pekerjaan Drainase
Pengukuran dan Pembayaran

o
o
o

Serah Terima Pekerjaan Sementara


Masa Pemeliharaan
Serah Terima Akhir Pekerjaan

I.1 DIVISI 1 UMUM


I.1.i Mobilisasi

Mobilisasi dilakukan sesuai dengan lingkup pekerjaan, yaitu :


1. Mobilisasi Peralatan.
Mobilisasi peralatan mencakup kegiatan pemindahan peralatan dari dan ke dalam lokasi proyek yang dilakukan pada awal dan akhir kegiatan konstruksi.
Mobilisasi peralatan ini meliputi kegiatan pengerahan dan pengangkutan peralatan-peralatan berat yang akan digunakan untuk menunjang kegiatan baik
untuk pembukaan lahan, pembuatan jalan, dan pembangunan sarana dan prasarana, dan operasional.
2. Mobilisasi Staf / Pekerja.
Personil-personil yang ditugaskan adalah mereka yang sudah berpengalaman dibidang jalan dan jembatan dan mempunyai dasar keahlian serta sertifikat
dibidang jalan dan jembatan.
3. Penyediaan Kantor dan fasilitas pendukung seperti barak, gudang, bengkel dll.
Fasilitas lapangan untuk kontraktor berupa kantor, gudang dan barak akan ditentukan kemudian dengan pertimbangan kemudahan dan waktu akses
pencapaian kelokasi dan faktor keamanan, base camp dan laboratorium. Seluruh mobilisasi akan diselesaikan sesuai dengan batasan yang ditetapkan

dalam spesifikasi.
4. Fasilitas pengendalian mutu (laboratorium)
Agar pengendalian mutu di lapangan dapat terpenuhi maka untuk pekerjaan tanah, pekerjaan berbutir dan pekerjaan perkerasan harus dilakukan pengujian
terlebih dahulu sebelum material digunakan. Untuk pekerjaan hot mix perlu disiapkan Job Mix Formula (JMF) sesuai dengan spesifikasi yang
dipersyaratkan.
5. Peralatan dan perlengkapan kesehatan dan keselamatan kerja.
Selain mobilisasi peralatan untuk pekerjaan utama, juga akan dilakukan mobilisasi peralatan pendukung lainnya, baik alat berat maupun alat bantu yang sesuai
dengan lampiran yang ada didalam penawaran ini. Bahan mentah (raw material) untuk kebutuhan hotmix dan agregat menggunakan sumber quarry dari base
camp.
Gambar 1. Peralatan Alat Berat

I.1.ii Manajemen dan Keselamatan Lalu-lintas

Dalam Manajemen dan Keselamatan Lalu-Lintas Penyedia Jasa harus menyediakan perlengkapan dan pelayanan lalu lintas untuk mengendalikan dan melindungi
karyawan Penyedia Jasa ,Direksi Pekerjaan, dan pengguna jalan yang melalui daerah konstruksi, termasuk lokasi sumber bahan dan rute pengangkutan, sesuai
dengan seksi ini dan memenuhi detil dan lokasi yang ditunjukkan dalam denah atau yang diterbitkan oleh Direksi Pekerjaan.
Semua personil pada jam kerja dilokasi pekerjaan menggunakan baju reflektif, sepatu safety dan helm kerja, lebih lengkap dijelaskan pada bagian Pra Rencana K3
Kontrak (Pra-RK3K).
Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan kami akan menyampaikan Rencana Manajemen dan Keselamatan Lalu-lintas (RMKL).
Bahan dan peralatan :
1. Rambu panah berkedip
2. Rambu suar berkedip portable
3. Rambu konstruksi dan pengalihan
4. Rambu tetap
5. Penghalang lalu-lintas
6. Marka sementara
7. Warning tape

I.2 DIVISI 2 PEKERJAAN DRAINASE


I.2.i. Galian untuk saluran drainase
Pekerjaan Galian Untuk Selokan dan Drainase Saluran Air mencakup hanya galian untuk drainase sedalam 60 cm lebar 80 cm
Metoda kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai berikut :

Pelaksanaan
galian
biasa
ini
prosedurnya sebagai berikut :
Pengukuran
dan
pemasangan
bowplank
atau
menentukan
kedalaman
galian.
Pengukuran
dilaksanakan dengan menggunakan
alat
ukur
theodolit
dengan
mempedomani hasil rekayasa yang
telah ditentukan oleh konsultan
dan pihak proyek.
Pemasangan bowplank dilakukan
setelah hasil dari pengukuran
disetujui oleh pihak Konsultan dan
direksi Pekerjaan.
Penggalian secara Manual
Pekerjaan penggalian dilaksanakan
setelah pemasangan bowplank dalam hal ini penentuan kedalaman galian. Tanah yang digali secara manual dikumpulkan ke tepi galian dan
selanjutnya dimuat ke Dump Truck, kemudian diangkut keluar lokasi proyek.
Penggalian dengan Menggunakan Alat Berat
Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini penentuan kedalaman galian.Tanah yang digali oleh Excavator
langsung dimuat ke Dump Truck, kemudian diangkut keluar lokasi proyek.
Dasar untuk perhitungan analisa dari pekerjaan ini :

Asumsi :
Menggunakan tenaga manusia
kapasitas kerja berkelompok
kedalaman sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan
Urutan kerja/Metode kerja :
Tanah yang digali dikumpulkan umumnya berada disisi jalan (kiri/Kanan jalan)
Penggalian menggunakan tenaga manusia
Selanjutnya material hasil galian di masukkan kedalam Dump Truck
Dump Truck membuang material hasil galian keluar lokasi jalan sejauh sekitar 1-2 (satu sampai dua)Km.
Asumsi :
menggunakan alat berat(cara mekanik)
Lokasi pekerjaan Sepanjang jalan
Urutan keraj/Metode Kerja :
Tanah yang dipotong umumnya berada disisi jalan (kiri/kanan jalan)
Penggalian menggunakan alat berat(Excavator)
Selanjutnya Excavator menuangkan material hasil galian kedalam
Dump Truck
Dump Truck membuang material hasil galian keluar lokasi proyek.

b.

Pasangan Batu Dengan Mortar


Setelah pekerjaan galian selesai dilakukan maka dilanjutkan dengan pekerjaan pasangan batu kali untu drainase.
Pelaksanaan galian biasa ini prosedurnya sebagai berikut :

Persiapan :
1. Approval Material yang akan digunakan seperti batu kali, semen dan pasir
2. Approval gambar kerja yang telah disetujui Konsultan Pengawas
Urutan kerja/Metode kerja :
1. Pasang patok kayu dan benang sebagai acuan leveling pasangan batu kali
2. Buat adukan untuk pasangan batu kali
3. Hamparkan pasir urug dan ratakan
4. Basahi batu kali dengan air terlebih dahulu sebelum dipasang
5. Pasang batu aanstamping
6. Pasang batu kali di atas pasangan batu aanstamping dengan menggunakan adukan yang merata mengisi rongga-rongga
antar batu kali.
7. Batu kali disusun sedemikian rupa sehingga pasangan batu kali tidak mudah retak/patah dan berongga besar.
8. Cek elevasi pekerjaan pasangan batu kali apakah sudah sesuai rencana.
9. Pekerjaan akhir adalah finish pasangan batu kali dengan plesteran siar.

I.3 DIVISI 3 PEKERJAAN TANAH


I.3.i.

Galian Perkerasan Beraspal Dengan Cold Milling Machine

Galian perkerasan beraspal mencangkup galian pada perkerasan beraspal lama dan pembuangan bahan perkerasan beraspal dengan Cold Milling Machine (mesin
pengupas perkerasan beraspal tanpa pemanasan) se[erti yang ditunjukkan pada gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh direksi pekerjaan.
Metoda kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat request dan diserahkan kepada direksi untuk untuk disetujui
Permukaan hotmix digali dengan menggunakan alat Jack Hammer & Air Compressor dan dibantu dengan alat bantu berupa cangkul,
singkup, belincong dan lain sebagainya.
Sisa hasil galian dibersihkan dengan menggunakan Air Compressor.
Selanjutnya tanah bekas galian dimuat kedalam Dump Truk dan diangkut ke luar lokasi pekerjaan.
Hasil galian dirapihkan oleh sekelompok pekerja sesuai dengan ukuran gambar rencana
I.3.ii.

Penyiapan Badan Jalan

Pekerjaan ini mencakup penyiapan permukaan tanah dasar atau permukaan jalan kerikil yang ada untuk pemasangan lapis pondasi agregat /
urugan pilihan dan untuk pekerjaan pekerjaan galian minor.
Alat yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah :
- Motor grader untuk merapikan
- Vibro roller untuk memadatkan
- Water tanker
I.4 DIVISI 4 PEKERJAAN PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN
I.4.i. Lapis Pondasi Agregat Kelas A
Pekerjaan ini dilaksanakan sebagai lapis pondasi pada pekerasan jalan. Lapis Pondasi agrergat kelas A merupakan lapisan atas dari lapis pondasi
pada perkerasan jalan dengan ketebalan seusia dengan gambar rencana.
Metoda kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
- Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat request dan diserahkan kepada direksi untuk disetujui

I.4.ii.

Sebelum gmelaksanakan pekerjaan ini terlebih dahulu dibuatkan pengujian material (job mix design) agregat kelas A yang akan
digunakan pada saat pelaksanaan sesuai spesifikasi teknik yang disyaratkan.
Material agregat kelas A dicampur di base camp dengan menggunakan wheel loader dengan komposisi sesuai job mix design yang telah
disetujui kemudian material agregat kelas A dibawa kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck.
Material agregat kelas A dihampar dengan alat motor grader dan denagn ketebalan padat sesuai gambar.
Hamparan pondasi agregat disiram dengan air dengan menggunakan water tank truck dan dipadatkan dengan menggunakan vibratory
roller dan pemadatan teraknir dengan alat pneumatic tire roller.
Selama pemadatan, sekelompok pekerja merapihkan tepi hamparan dan level permukaan dengan menggunakan alat bantu.
Setelah pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan pengetesan kepadatan lapangan dengan test sencon untuk mengetahui kepadatan yang
disyaratkan dalam spesifikasi teknik.

Lapis Pondasi Agregat Kelas B

Pekerjaan ini dilaksanakan sebagai lapis pondasi pada pekerasan jalan. Lapis Pondasi agrergat kelas B merupakan lapisan bawah dari lapis
pondasi pada perkerasan jalan dengan ketebalan sesuai gambar rencana.
Metoda kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
- Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat request dan diserahkan kepada direksi untuk disetujui
- Sebelum gmelaksanakan pekerjaan ini terlebih dahulu dibuatkan pengujian material (job mix design) agregat kelas B yang akan
digunakan pada saat pelaksanaan sesuai spesifikasi teknik yang disyaratkan.
- Material agregat kelas B dicampur di base camp dengan menggunakan wheel loader dengan komposisi sesuai job mix design yang telah
disetujui kemudian material agregat kelas B dibawa kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck.
- Material agregat kelas B dihampar dengan alat motor grader dan denagn ketebalan padat.
- Hamparan pondasi agregat disiram dengan air dengan menggunakan water tank truck dan dipadatkan dengan menggunakan vibratory
roller dan pemadatan teraknir dengan alat pneumatic tire roller.

Selama pemadatan, sekelompok pekerja merapihkan tepi hamparan dan level permukaan dengan menggunakan alat bantu.
Setelah pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan pengetesan kepadatan lapangan dengan test sencon untuk mengetahui kepadatan yang
disyaratkan dalam spesifikasi teknik.

I.5 DIVISI
ASPAL

PERKERASAN

I.5.iLapis Resap Pengikat Aspal Cair


Lapis resap pengikat (prime coat) adalah lapis tipis aspal cair yang diletakkan di atas lapis pondasi atas sebelum lapis berikutnya dihampar.
Aspal cair ini dapat meresap ke dalam lapis pondasi mengisi rongga dan memperkeras permukaan serta mengikat lapis pondasi dan lapis
permukaan. Hal pertama yang dilakukan adalah memanaskan aspal yang ada di dalam mobil aspal spayer yang telah dibuka di bagian badan
tersebut. Pemanasan aspal ini tidak boleh terlalu panas karena dapat menyebabkan kebakaran dan sifat kelengketan dan kelenturan aspal
menjadi rusak.
Selanjutnya aspal yang sudah cair atau lapis resap pengikat (prime coat) disemprotkan/disiramkan ke permukaan agregat sehingga merata.
Lapis resap pengikat harus disemprot pada permukaan yang kering atau mendekati kering dan pelaksanaan penyemprotan tidak boleh
dilaksanakan pada saat angin kencang, hujan, atau akan turun hujan. Sebelum aspal disiramkan, permukaan lapis pondasi terlebih dahulu di
bersihkan dengan Semprotan Angin (Compressor)
I.5.ii

Lapis Perekat Aspal Cair

Lapis perekat berfungsi untuk memberikan daya ikat antara aspal lama dengan aspal baru dan disemprotkan pada permukaan beraspal yang
kering dan bersih. Bahan lapis perekat adalah aspal cair yang cepat menyerap atau aspal keras pen 80/100 atau pen 60/70 yang dicairkan
dengan 25 sampai 30 bagian minyak tanah per 100 bagian aspal. Pemakaiannya berkisar antar 0,15 liter/m 2 sampai 0,15 liter/m2 . Lebih tipis
dibandingkan dengan pemakaian lapis resap pengikat.
I.5.iii

Laston Lapis AUS (AC-WC) (gradasi halus/kasar)

Laston sebagai lapis aus (Wearing Course) adalah lapisan perkerasan yang berhubungan langsung dengan ban kendaraan, merupakan lapisan yang
kedap air, tahan terhadap cuaca, dan mempunyai kekesatan yang disyaratkan dengan tebal nominal minimum 4 cm. Lapis aus, lapisan yang
langsung menerima gesekan akibat gaya rem dari kendaraan sehingga mudah menjadi aus

Lapis
aus
permukaan
(Wearing
Course)
mempunyai
fungsi:
a.
Menyelimuti
perkerasan
dari
pengaruh
air.
b.
Menyediakan
permukaan
yang
halus.
c. Menyediakan permukaan yang mempunyai karakteristik yang kesat, rata sehingga aman dan nyaman untuk dilalui pengguna.
d. Menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya.
Gambar 5. Pemadatan Hot Mix

I.5.iv

Aspal Minyak

Aspal adalah campuran dari butimen dan mineral. Butimen ialah senyawa organik yang Bewarna antara coklat sampai hitam sifatnya bisa padat sampai cair, lekat
sekali, berlemak, tidak larut secara sempurna dalam pelatur pelatur organis CS2 dan CCL4. Aspal Minyak adalah salah satu Fraksi hasil penyulingan minyak
Jenis jenis Aspal Minyak
1. Aspal keras : yaitu aspal yang didapat dari penyulingan minyak bumi dengan kadar bumi dengan kadar paraffin rendah yaitu tidak lebih dari 2% berat
2. Aspal cair : yaitu aspal keras yang dicampur dengan pelarut RC (rapid curing) adalah aspal keras yang dicampur dengan korosin / bensin. Mongering
cepat MC (medium curing) adalah aspal keras yang dicampur dengan minyak disel (aspal keras ini harus mempunyai penetrasi yang lebih tinggi)
mongering sedang SC (slow curing) adalah aspal keras yang dicampur dengan residu hasil dari penyulingan pertama minyak bumi (mongering lambat)
I.5.v Aditif Anti Pengelupasan
Bahan yang digunakan untuk anti pengelupasan adalah zat aditif. Aditif berguna untuk meningkatkan pelekatan dan anti pengelupasan bila

diperlukan, dapat ditambahkan ke dalam aspal sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya
Bahan Aditif Untuk Aspal :
1. Aditif kelekatan dan anti pengelupasan harus ditambahkan ke dalam bahan aspal bilamana diperlukan dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan
2. Persentase aditif yang diperlukan harus dicampurkan ke dalam bahan aspal sesuai dgn petunjuk pabrik untuk menghasilkan campuran
yang homogen.

I.6 DIVISI 7 STRUKTUR

Pembangunan
jalan
beton
ini
dilakukan
dengan
menggunakan
metode dan peralatan penghampar
beton (concrete finisher) yang
sederhana yaitu: vibrating screed
sesuai dengan kemampuan daerah
dengan tetap mengikuti petunjuk
dan
persyaratan
teknis
pelaksanaan pembangunan jalan
beton yang telah ditetapkan.

Persiapan Lapangan:
Konstruksi jalan beton yang dilaksanakan terdiri atas dua bagian utama, yaitu Beton K 175 t= 10 cm dengan persyaratan mutu K175 (non
struktural) yang berfungsi sebagai lapisan leveling (perataan) dan untuk mencegah pumping action. Sedangkan untuk lapisan atas (plat beton)
digunakan beton dengan persyaratan mutu K350.
Demi untuk menjaga konsistensi campuran, kemudahan kecepatan pelaksanaan, serta kebersihan pekerjaan dan terjaminnya mutu beton maka
untuk baik Beton K 175 maupun slab beton (lapis permukaan) digunakan beton ready mix.

Pelaksanaan:
Beton K 175 :
Guna kelancaran pekerjaan penggelaran Beton K 175, seluruh lebar jalan ditutup (arus lalu-lintas dialihkan). Kemudian dilakukan
penentuan/penyesuaian elevasi rencana ketinggian Beton K 175 berdasarkan hasil pengukuran dan pematokan. Setelah itu, badan jalan di
basahi/disiram dengan air terlebih dahulu agar tidak terjadi penyerapan air semen dari Beton K 175 yang akan digelar. Lalu pemasangan
bekesting melintang dengan ukuran selebar jalur lalu-lintas (6,00 m) dilakukan serta memperhatikan panjang lahan pengecoran yang disesuaikan
dengan kemampuan kerja per hari berdasarkan kapasitas truck mixer (8 truck @ 5 m3 per hari).
Ketebalan Beton K 175 yang digelar tidak sama/merata (fungsinya hanya sebagai lapisan leveling) sebab kondisi jalan lama sudah rusak
dan juga bentuk geometrinya tidak sesuai lagi seperti penampang ideal jalan yang seharusnya selain itu bentuk akhir atau bagian atas Beton K
175 harus rata karena diperuntukkan sebagai landasan untuk meletakkan pelat beton.
Setelah pengecoran Beton K 175 selesai dikerjakan maka dilakukanlah proses curing dengan menebarkan karung goni yang dibasahi
selama seminggu (tiga kali sehari disiram air) guna mencegah terjadinya retakan-retakan sebagai akibat proses pengerasan/pengeringan beton.

- Pengecoran Lapis Permukaan:


Persiapan di Base Camp:
Penentuan ukuran pelat beton: Lapis permukaan yang digunakan adalah pelat (slab) beton dengan mutu K350 sedangkan ukuran pelat beton
yang dipakai adalah lebar 3 m (disesuaikan dengan lebar vibrating screed) dan panjang 5 m. Dimensi ini diperoleh berdasarkan rumus L/B 1,25
m 3,00 m /3,00 m = 1 (memenuhi syarat). Jika digunakan satuan SI maka ukuran jarak sambungan adalah 24 24 x tebal pelat beton (200
mm) jadi: 15 x 200 mm diperoleh 3000 mm atau 3,00 m.Pembuatan mal (bekesting): Bahannya dari kayu dengan model kotak empat persegi
panjang berdasarkan ukuran pelat seperti pada gambar di atas (3 x 3) m. Hanya saja ukuran ketebalan mal melintang dibuat miring mengikuti
kemiringan melintang normal jalan sebesar 2 % Sedangkan ukuran mal memanjang mengikuti ketinggian pada kedua ujung mal melintang
Penentuan ukuran dowel dan tie bar serta pembuatan alur (lidah sambungan):
Bagian tengah mal sambungan melintang (A) dilobangi sebagai tempat memasang dowel/ruji diperoleh dowel: 20 28 (besi ulir) dengan panjang
70 cm dan jarak antar dowel 30 cm, khusus untuk pelat dengan lebar 0,50 m digunakan 2 25 dengan panjang 45 cm dan jarak antar dowel 30
cm. Pada ke dua sisi mal sambungan memanjang (2) dibuat lobang sebagai tempat memasang tie bar. Dan pada kedua sisi mal memanjang
dibuatkan lidah agar nantinya tejadi ikatan yang kuat antar slab pada sambungan memanjang, selanjutnya diperoleh tie bar: 6 12 (besi polos)
dengan jarak 84 cm. Sedangkan untuk sambungan memanjang (1) diperoleh tie bar: 5 16 (besi polos) dengan jarak 750 cm

Persiapan di Lapangan
Pemasangan mal kotak ini dilakukan di atas Beton K 175 hanya pada satu sisi jalan saja sehingga bagian atau sisi lainnya dapat dilewati oleh

kendaraan ringan dengan model papan catur (nanti setelah pengecoran selesai baru berpindah ke sisi lainnya) sekaligus dapat dilewati oleh
truck mixer sewaktu melakukan pengecoran.
Setelah pemasangan kotak mal sebanyak 10 buah selesai dilakukan maka:
1. Pemasangan/penggelaran plastik dengan maksud sebagai breaker di atas lapisan Beton K 175 agar tidak terjadi perlekatan antara CTSB dan
pelat beton (pergerakan pelat beton tidak
boleh mempengaruhi CTSB, demikian pula sebaliknya). Plastik itu juga dilekatkan pada mal kotak slab dan secara rapat melekat pada CTSB
2. Pemasangan dowel (ruji) pada mal melintang dan tie bar (batang pengikat) pada mal memanjang dengan jalan memasukkan kedalam lobang
yang sudah tersedia pada dinding mal melintang slab dan dikontrol dengan teliti agar posisinya tetap tegak lurus terhadap bidang mal melintang
sebelum pengecoran dilakukan. Demikian pula kedua sisi mal memanjang dipasangi tie bar dan dikontrol dengan teliti posisinya agar tetap tegak
lurus terhadap bidang mal memanjang.
3. Setelah mal, dowel dan tie bar, serta plastik berada dalam posisi yang benar maka pengecoran segera akan dilakukan.
Proses Pelaksanaan Pengecoran Jalan Beton (dengan metode papan catur):
1. Beton ready mix yang berasal dari truk mixer dituang ke dalam kotak (mal) yang telah disiapkan lalu diratakan secara manual kemudian
selanjutnya diratakan dan diadakan dengan menggunakan vibrating screed yang sistem operasinya bergerak di atas mal memanjang (sepanjang
mal memanjang) yang ditarik dengan tenaga manusia bolak balik sebanyak 4 lintasan. Proses perataan dan pemadatan terjadi karena alat
vibrating screed tersebut selain meratakan juga bergetar sehingga terjadi pemadatan sedangkan pada bagian ujung (dekat) mal, pemadatan
dibantu dengan menggunakan vibrator beton
2. Kotak yang pertama dicor kemudian pengecoran dilanjutkan pada kotak yang ketiga (satu kotak di antaranya kosong).

3. Setelah slab beton selesai dipadatkan oleh vibrating screed maka pelat beton tersebut ditutupi dengan atap plastik untuk menghindari sinar
matahari secara langsung yang dapat membuat beton mengering tidak secara alamiah juga untuk mencegah terjadinya retak rambut.
4. Pembuatan alur (grooving) dilakukan secara manual setelah beton dalam keadaan setengah mengeras 3 - 4 jam sesudah pengecoran
5. Pada hari kedua setelah pengecoran selesai, dilakukan proses curing dengan menggelar karung goni di atas plat beton dan disiram dengan air
3 kali sehari selama seminggu
6. Pada hari ketiga setelah pengecoran maka mal (bekesting) samping dibuka dilanjutkan dengan pemasangan mal memanjang (samping) tanpa
memasang mal melintang karena pelat beton yang sudah dicor berfungsi sebagai mal melintang.
7. Setelah mal memanjang selesai dipasang dilanjutkan dengan menggelar/ memasang plastik di atas CTSB yang juga dilekatkan pada mal
memanjang.
8. Kemudian sebagai pemisah antara dua pelat beton (yang sudah dicor dengan hendak dicor) dilekatkan gabus (styro foam) dengan tebal 0,5 cm
untuk membentuk deletasi (celah) untuk muai dan susut plat beton.
9. Demikianlah sistem pengecoran tersebut dilakukan pada satu sisi jalan dengan lebar 3,0 m dan diselesaikan sesuai dengan panjang rencana
jalan itu.
10. Setelah pengecoran pada sisi kiri selesai sesuai dengan panjang jalan rencana, pemasangan mal (bekesting) pada sisi kanan jalan tersebut
dilakukan lagi. Hanya saja mal memanjang pada salah satu sisi sudah tidak diperlukan lagi karena sudah ada pelat beton yang telah dicor.
Pengecoran dilanjutkan dengan memakai sistem yang sama hanya pada sisi memanjang plat beton yang sudah dicor diletakkan di atasnya besi
siku L 40.40.4 sebagai landasan/rel vibrating screed ketika ditarik dan bergerak dari ujung satu ke ujung lain dengan maksud agar tidak terjadi
kerusakan pada permukaan pelat beton yang sudah dicor.

11. Kemudian pada saat pengecoran akan dilakukan, disisipkan/dilekatkan gabus (styro foam) di antara kedua pelat beton (antara pelat beton
lama dan yang baru yang akan dicor) pada sisi/sambungan memanjang agar tidak terjadi lekatan dan membuat dilatasi.

I.6.ii

Baja Tulangan BJ 24 Polos

Uraian
Baja Struktur adalah bahan struktur jembatan baja yang digunakan sebagai sutu komponen konstruksi jembatan.
Pekerjaan ini harus mencakup struktur baja dan bagian baja dari struktur baja komposit yang dilaksanakan memenuhi garis kelandaian
dan dimensi yang ditunjukkan . Pekerjaan ini terdiri atas pelaksanaan struktur baja baru, pelebaran dan perbaikan dari struktur.
Pekerjaan ini juga mencakup penyediaan, fabrikasi, pemasangan, galvanisasi dan pengecatan logam struktur.

Tabel 2. Jenis Tulangan

Meskipun
baja
tulangan
mempunyai sifat tahan terhadap
beban tekan, tetapi karena
harganya yang mahal maka baja
tulangan ini hanya diutamakan
untuk menahan beban tarik pada
struktur
beton
bertulang,
sedangkan beban tekan yang
bekerja cukup ditahan oleh
betonnya.
I.6.iii
Ulir

Baja Tulangan BJ 39

Baja BJ 39 digunakan
dalam
pekerjaan
rigit
pavemen pada posisi Dowel.
Pembesian
U-39
Ulir
dilaksanakan
/dibentuk
sesuai dengan gambar
kerja yang telahdisetujui.
Untuk
mencampur
beton
agar
mendapatkan
hasil

yang baikdigunakan concrete mixer dan vibrator.


I.6.v

Pasangan Batu

1. Uraian
a. Pekerjaan ini harus mencakup pembuatan struktur yang ditunjukan dalam gambar seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, yang
dibuat dari Pasangan Batu. Pekerjaan harus meliputi pemasokan semua bahan, galian, penyiapan fondasi dan seluruh pekerjaan yang
diperlukan untuk menyelesaikan struktur sesuai dengan spesifikasi ini dan memenuhi garis, ketinggian, potongan dan dimensi seperti
yang ditujukan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan.
b. Umumnya, pasangan batu harus digunakan hanya untuk struktur seperti dinding penahan, gorong-gorong pelat, dan tembok kepala
gorong-gorong besar dari pasangan batu yang digunakan untuk menahan beban luar yang cukup besar. Bilamana fungsi utama suatu
pekerjaan sebagai penahan gerusan, bukan sebagai penahan beban, seperti lapisan selokan, lubang penangkap, lantai gorong-gorong
(spillway apron) atau pekerjaan pelindung lainnya pada lereng atau disekitar ujung gorong-gorong.
2. Pencampuran dan Pemasangan
a. Seluruh bahan kecuali air harus dicampur, baik dalam kotak yang rapat atau dalam alat pencampur adukan yang disetujui, sampai
campuran menunjukan warna yang merata, kemudian air ditambahkan dan pencampuran dilanjutkan lima sampai sepuluh menit.
Jumlah air harus sedemikian sehingga menghasilkan adukan dengan konsistensi (kekentalan) yang diperlukan tetapi tidak boleh
melebihi 70% dari berat semen yang digunakan.
b. Adukan semen dicampur hanya dalam kuantitas yang diperlukan untuk penggunaan langsung. Bilamana diperlukan, adukan semen
boleh diaduk kembali dengan air dalam waktu 30 menit dari proses pengadukan awal. Pengadukan kembali setelah waktu tersebut
diperbolehkan
c. Adukan semen yang tidak digunakan dalam 45 menit setelah ait ditambahkan harus dibuang

3. Pemasangan
a. Permukaan yang akan menerima adukan semen harus dibersihkan dari minyak atau lempung atau bahan terkontaminasi lainnya dan
telah dibasahi sampai merata sebelum adukan semen ditempatkan. Air yang tergenang pada permukaan harus dikeringkan sebelum
penempatan adukan semen
b. Bilamana digunakan sebagai lapis permukaan, adukan semen harus ditempatkan pada permukaan yang bersih dan lembab
dengan jumlah yang cukup sehingga menghasilkan tebal adukan minimum 1,5 cm dan harus dibentuk menjadi permukaan yang
halus dan rata

Bandung, 24 Mei 2016


Penawar
PT. Gunakarya Nusantara

Taufik Ramadhi
Direktur IV