Anda di halaman 1dari 4

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga
makalah tentang tablet ranitidin ini dapat kami selesaikan dengan baik. Karya tulis
ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas preformulasi fakultas farmasi universitas
padjajaran.
Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Yedi selaku dosen pada mata
kuliah preformulasi ini. Tidak lupa juga rasa terima kasih kami ucapkan kepada
orang tua kami yang selalu mendukung setiap proses yang kami lalui. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan
memberikan bantuan kepada penulis dalam penyusunan makalah ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu per satu.
Harapan kami makalah ini dapat diaplikasikan, menjadi acuan, dan
menambah pengetahuan masyarakat. Penulis menyadari bahwa makalh ini masih
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca dan penulis.

Jatinangor, 25 Maret 2015

Penyusun

BAB 1
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Ranitidin Hidroklorida merupakan antagonis reseptor histamin H2 secara
selektif dan reversibel. Perangsangan reseptor H2 akan merangsang sekresi
asam lambung, sehingga pada pemberian ranitidin HCl sekresi asam
lambung akan dihambat. Obat ini digunakan secara luas untuk tukak
duodenum, tukak lambung, zollinger-Ellison syndrome, angguan refluks
lambung-esofagus, dan erosi esophagus. Ranitidin HCl dapat menghambat
sekresi asam lambung sampai 5 jam. 2,5- 3 jam. Untuk memperpanjang
efek, perlu dikembangkan sediaan lepas Gastroretentive drug delivery
system (GRDDS) adalah salah satu bentuk sediaan yang dapat
dipertahankan di dalam lambung, diantaranya adalah sistem Floating ,
yaitu sediaan yang mempunyai densitas rendah sehingga mampu untuk
mengapung dalam cairan lambung dan tinggal lebih lama di lambung.
Sistem floating bisa dibagi menjadi sistem pembentuk gas (effervescent)
dan non effervescent. Bentuk effervescent mempunyai kemampuan
mengapung lebih besar. Lama mengapung diharapkan selama 3 atau 4 jam
dalam lambung tanpa dipengaruhi oleh laju pengosongan lambung karena
densitasnya lebih rendah dari cairan lambung Formulasi bentuk floating
direkomendasikan menggunakan polimer eter selulosa ,khususnya
hidroksipropil (HPMC) karena memiliki sifat yang inert, nonionik, tidak
berinteraksi merugikan

baik dengan obat yang bersifat asam maupun

basa, dapat digunakan untuk memformulasi obat yang larut maupun tidak
larut air.
b. Rumusan masalah
1. Bagaimana preformulasi, formulasi, dan proses pembuatan tablet
ranitidine?

c. Tujuan dan manfaat


1. Mampu mengetahui preformulasi tablet ranitidine
2. Mampu mengetahui formulasi tablet ranitidine
3. Mampu mengetahui proses pembuatan tablet ranitidine

Formula:
- Ranitidin HCl
- HPMC K 100M
- PVP
- Manitol
- Natrium Bikarbonat
- Mg Stearat
- Laktosa
Formulasi:
- Ranitidin HCl
- HPMC K 100M
- PVP
- Manitol
- Natrium Bikarbonat

120 mg
60 gr
5%
10%
15%

Mg Stearat
Laktosa

5 mg

Prosedur pembuatan :
Ditimbang ranitidine HCl, HPMCK 100M, manitol,
Ditimbang natrium bikarbonat, mg stearate, laktosa, dan PVP
Ranitidin, HPMC, Manitol dan laktosa dicampur dalam tumbling mixer secara

80 mg

geometric dilution. Campuran serbuk digranulasi dengan larutan pengikat PVP


dalam aquades 4% dari berat total serbuk sedikit demi sedikit sampai
-

terbentuk masa granul


Masa granul kemudian diayak dengan mesh 12, kemudian dikeringkan pada

suhu 25 derajat celcius selama 24 jam.


Granul kering diayak dengan mesh 18, lalu ditambah natrium bikarbonat,

ditumbing selama 5 menit,


Ditmabahkan Mg Stearat, dan ditumbling selama 5 menit, kemudian

dilakukan uji terhadap granul


Kemudian granul dicetak, dan dilakukan uji terhadap tablet
(Akbar, et al.2012)
Akbar,H.F, et al.2012. Pengaruh Penambahan Manitol Terhadap Pelepasan
Ranitidin HCl Dari Tablet Floating Dengan HPMCK 100M Sebagai matriks.
Surabaya : Pharma Scienta Departemen Farmasetika Fakultas farmasi
Universitas Airlangga