Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Iklan sebagai media informasi juga dapat menimbulkan permasalahan.
Semata untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tidak jarang
pelaku usaha (korporasi) memberikan informasi atau promosi secara
berlebihan (puffery) dan mengesankan keunggulan produknya terlalu hebat.
Sehingga muatan dalam informasinya kerap kali tidak jelas, tidak sesuai
dengan janji promosi dan berkesan menyesatkan.
Hal tersebut terkait dengan pasal 9, 10, 12, 13, 20 Undang-Undang No. 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang dimana mengatur tentang
Larangan Bagi Pelaku Usaha. Selain dalam Undang-Undang Perlindungan
Konsumen hal ini juga terkait dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2002
tentang Penyiaran Bab V Pasal 48 tentang Pedoman Prilaku Penyiaran.
Selanjutnya bertentangan dengan Etika Pawiwara Indonesia angka 1.2.2
tentang Bahasa iklan dan angka 4.13.1 - 4.13.3 tentang penggunaan data riset.
Agar terhindar dari hal-hal tersebut di atas, hukum seharusnya memberikan
perlidungan kepada konsumen. Bentuk iklan-iklan yang isinya mengelabui
dan tidak bertanggung jawab, harus sedini mungkin dapat dicegah dan
dikontrol.

Meskipun

Undang-Undang

Perlindungan

Konsumen

telah

memberikan batasan-batasan mengenai hal-hal yang dilarang untuk dimuat


dalam sebuah iklan, namun pada kenyataannya, tidaklah mudah memberikan

justifikasi bahwa sebuah iklan tertentu telah memberikan informasi yang


menyesatkan bagi masyarakat konsumen.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1) apa itu iklan yang menyesatkan beserta contohnya?
2) apa itu iklan yang mengelabui beserta contohnya?
3) apa saja hal yang terkait dengan iklan yang melanggar aturan dan beserta
contohnya?
4) apa hak-hak konsumen terhadap iklan ?

1.3 TUJUAN RUMUSAN MASALAH


1) mengetahui hal yang berkaitan dengan iklan yang menyesatkan
2) mengetahui hal yang berkaitan dengan iklan yang mengelabui
3) mengetahui hal yang terkait dengan iklan yang melanggar aturan
4) mengetahui hak-hak konsumen terhadap iklan

BAB II
PEMBAHASAN

2
2.1 PENGERTIAN dan FUNGSI IKLAN
Iklan merupakan sebuah sarana untuk mempromosikan, memperkenalkan
atau menawarkan suatu barang kepada para konsumen. Dengan iklan seorang
pelaku usaha dapat lebih mudah dalam mensosialisasikan produk usahanya
kepada konsumen, tanpa harus terjun langsung ke lapangan. Iklan juga sangat
bermanfaat bagi para konsumen (masyarakat luas) guna untuk mendapatkan
suatu barang atau jasa untuk dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Namun dalam masalah periklanan juga harus diperhatikan
ketentuan-ketentuan yang mengaturnya. Hal itu dimaksudkan agar iklan-iklan
yang ada dapat bermanfaat bagi konsumen dan juga agar tidak mengelabui
ataupun menyesatkan para konsumen.
Fungsi Iklan :
1.

Mengkomunikasikan berbagai atribut produk

2.

Membujuk konsumen sehingga mau membeli produk tersebut.

2.2 HAL YANG DILARANG DALAM PERIKLANAN


Perihal periklanan telah diatur dalam Undang-Undang Perlindungan
Konsumen tentang larangan-larangan bagi pelaku usaha yang berhubungan
dengan kegiatan mempromosikan atau mengiklankan suatu barang/ jasa
dengan cara yang tidak benar atau menyesatkan, mengenai:

1. Harga dan tarif suatu barang atau jasa


2. Kegunaan barang atau jasa
3. Bahaya penggunaan barang atau jasa
4. dan yang lainnya
Ketentuan diatas dimaksudkan agar dalam melakukan kegiatan
periklanan selalu memperhatikan nilai-nilai positif, manfaat dari suatu barang
tersebut dan cara menampilkannya juga tidak secara sembarangan, tetapi
harus memperhatikan norma-norma kesopanan, agama dan lain sebagainya.
Namun sejauh ini masih juga banyak ditemui beberapa iklan yang tidak
memperdulikan ketentuan-ketentuan yang ada. Mereka dengan seenaknya
menerbitkan iklan secara sembarangan dan kadang bisa mengelabui dan
menyesatkan masyarakat (konsumen).

2.3 PERATURAN TENTANG PERIKLANAN


Di Indonesia terdapat suatu wadah yang mengawasi tentang periklanan
salah satunya adalah PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), PPPI
menghimbau agar konsumen bersikap kritis terhadap iklan, dengan cara
meminta konsumen melaporkan iklan -iklan yang bermasalah atau melanggar
peraturan dan etika kedalam web yang telah disediakan.
Peraturan dan Undang-undang yang terkait tentang periklanan adalah :
1. UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
2. UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers
3. UU No 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran

4. UU No 7 Tahun 1996 tentang Pangan


5. PP No 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan
Selain undang-undang ada aturan tentang tata krama dan tata cara
periklanan di Indonesia yaitu berupa kode etik profesi dan kode etik bisnis.
Referensi

dan acuan untuk mengkategorikan sebagai iklan yang

menyesatkan atau mengelabui, menurut saidi (2003), ada dua pendekatan


yaitu :
1. Moral dan Etika (menekankan kepada kaidah-kaidah norma sosial dan
etika yang berlaku dimasyarakat mengenai apa yang boleh dan apa yang
tidak boleh)
2. Hukum Positif (UU maupun peraturan yang dibuat oleh DPR).

2.4 IKLAN YANG MENYESATKAN


Iklan di identikan sebagai media promosi dan pengenalan bagi produk
yang akan di produksi atau di jual ke masyarakat. Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dalam Ketentuan Umum Pasal
1 ayat (6) menyebutkan : Promosi adalah kegiatan pengenalan atau
penyebarluasan informasi suatu barang dan/atau jasa untuk menarik minat
beli konsumen terhadap barang dan/atau jasa yang akan dan sedang
diperdagangkan.
Di dalam menentukan bentuk-bentuk iklan, terlebih dahulu membedakan
iklan menjadi 2 (dua) macam iklan, yaitu iklan media elektronik (televisi,
radio, internet,dsb) dan non media elektronik (surat kabar, majalah,brosur,
reklame, dsb).

Iklan melalui media televisi merupakan media favorit dan kerap kali
menjadi pilihan utama pelaku usaha. Iklan televisi mengambil peranan
penting dalam periklanan, diantaranya:
a. Iklan televisi berperan penting dalam membangun dan mengembangkan
citra positif bagi suatu perusahaan dan produk yang di hasilkan,
b. Membentuk opini publik yang positif terhadap perusahaan tersebut,
c. Mengembangkan kepercayaan masyarakat terhadap produk konsumsi dan
perusahaan yang memproduksinya,
d. Menjalin komunikasi secara efektif dan efisien dengan masyarakat luas,
sehingga dapat membentuk pemahaman yang sama antara terhadap suatu
produk barang dan jasa yang di tawarkan kepada masyarakat luas.
Dalam kegiatan bisnis periklanan ada beberapa pihak dalam bisnis
periklanan, yaitu sebagai berikut:
1) Perusahaan periklanan (advertising),
2) Media periklanan (Media massa),
3) Pemasang iklan (Pengiklan),
4) Konsumen yaitu pemakai dan penikmat produk yang di iklankan,
5) Pemerintah selaku pengawas berjalannya aturan main (rule of the game)
yang baik dan jelas dalam bisnis periklanan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata menyesatkan
berasal dari kata sesat artinya salah jalan; tidak melalui jalan yang benar.
Namun apabila kata sesat ditambah awalan me- dan akhiran kan maka
ia akan berubah menjadi kata menyesatkan yang mengandung arti
membawa ke jalan yang salah; menyebabkan sesat (salah jalan).

Sedangkan kata iklan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia


mengandung arti :
1) Berita pesanan untuk mendorong, membujuk kepada khalayak ramai
tentang benda dan jasa yang ditawarkan;
2) Pemberitahuan kepada khalayak ramai mengenai barang atau jasa
yang dijual, dipasang di dalam media massa seperti surat kabar atau
majalah.
Kewajiban pelaku usaha seperti pada ketentuan Pasal 7 huruf b UU No.8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah : Memberikan
informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa serta member penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan.
Kemudian menurut Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia,
memuat asas-asas umum periklanan harus memuat :
1) Iklan harus jujur, bertanggung jawab, dan tidak bertentangan dengan
hukum yang berlaku.
2) Iklan tidak boleh menyinggung perasaan dan merendahkan martabat
negara, agama, adat budaya, hukum, dan golongan.
3) Iklan harus dijiwai oleh asas persaingan yang sehat.
Kriteria iklan yang menyesatkan di televisi apabila merujuk pada
perspektif hukum positif di Indonesia antara lain yaitu:
a. Iklan yang mengelabui konsumen (misleading) mengenai kualitas,
kuantitas, bahan, kegunaan, harga, tarif, jaminan dan garansi barang
dan/atau jasa dimana pelaku usaha tidak bisa bertanggungjawab dan

memenuhi janji-janji sebagaimana dinyatakan dalam iklan yang di


tayangkan di televisi.
b. Mendeskripsikan/memberikan informasi secara keliru, salah, maupun
tidak tepat (deceptive) mengenai barang dan/atau jasa.
c. Memberikan gambaran secara tidak lengkap (ommision) mengenai
informasi barang dan/atau jasa.
d. Hal lain yang dilarang dan melanggar ketentuan hukum oleh pelaku
usaha adalah memberikan informasi yang berlebihan (puffery)
mengenai kualitas, sifat, kegunaan, kemampuan barang dan/atau jasa
dan membuat perbandingan barang dan/atau jasa yang menyesatkan
konsumen.
Pada dasarnya standar kriteria periklanan di Indonesia sedikit banyaknya
telah disesuaikan dengan standar kriteria yang berlaku di negara-negara maju,
misalnya di Amerika Serikat, yaitu dengan telah mempergunakan unsur-unsur
fakta material sebagaimana tertuang dalam Pasal 10 Undang-Undang
Perlindungan Konsumen serta konsumen rasional sebagaimana terdapat
dalam Pasal 17 Ayat (1) huruf a dan b UUPK.
Tetapi keberadaan fakta material dan konsumen rasional tersebut belum
cukup jelas diatur dalam ketentuan perlindungan konsumen di Indonesia
sehingga pada prakteknya belum secara tegas dijadikan sebagai dasar
penentuan iklan menyesatkan. Iklan-iklan yang kerap menyesatkan di televisi,
selain pelanggaran dari sisi gambar, gerakan dan bahasa, hal ini juga
dikarenakan belum adanya kontrol yang serius terhadap iklan yang
menyesatkan di televisi.

Selain menyesatkan dan tidak mengedukasi yang menyaksikan tayangan


iklan tersebut, Jelas sekali dibutuhkan kontrol yang serius dari pemerintah
dengan lembaga-lembaga yang berwenang untuk dapat mencegah dan
mengontrol iklan-iklan yang isinya mengelabui dan tidak bertanggung jawab.
Contoh iklan yang menyesatkan salah satu nya adalah Minuman
Isotonik. Minuman isotonik sendiri adalah minuman yang ditambahkan gula
dan elektrolit. Iklan yang muncul menganjurkan untuk mengonsumsi produk
tersebut agar terhindar dari kekurangan elektrolit saat berpuasa.
Minuman isotonik sendiri sebenarnya kita konsumsi kalau memang kita
membutuhkan, misalnya saat kita berkeringat atau saat berolahraga, dan tentu
tidak pada saat kita habis bangun tidur seperti saat sahur. Larutan isotonik
sendiri mengandung gula dan elektrolit, terutama garam atau natrium.
Oleh

karena

itu,

kita

harus

memperhitungkan

bahwa

dengan

mengonsumsi produk isotonik ini akan terjadi penambahan konsumsi gula


dan garam. Bagi orang obesitas atau penderita kencing manis, penambahan
gula harus diperhitungkan karena jika tidak akan menyebab orang yang
obesitas akan semakin gemuk dan orang dengan penyakit kencing manis gula
darahnya menjadi tidak terkontrol. Begitu pula bagi seseorang yang
menderita hipertensi tambahan garam dari larutan isotonik ini juga harus
diperhitungkan.
Sebaiknya selama Puasa ini kita lebih baik mengonsumsi air putih saja
dan menghindari produk-produk isotonik ini jika kita tidak membutuhkan.
Bagi masyarakat yang memang sudah mempunyai permasalahan kesehatan,

sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter sebelum mengonsumsi produkproduk tersebut.

2.5 IKLAN YANG MENGELABUI


Jenis Informasi yang mengelabui :
1. Objective Claim yaitu suatu informasi yang diberikan kepada konsumen
tentang karakteristik suatu produk dan kebenarannya dapat dibuktikan
dengan pengujian.
2. Subjective Claim yaitu informasi sukar dibuktikan kebenarannya karena
kriteria yang digunakan bersifat sangat subjective.
3. Klaim dua arti yaitu klaim atau pernyataan yang mengandung dua arti
sebagian benar dan sebagian salah
4. Klaim Tidak Rasional yaitu pernyataan yang tidak mempunyai dasar,
tidak didukung oleh logika
Dampak buruk pelanggaran Iklan :
a.

Merugikan pembuat iklan

b.

Menimbulkan reaksi dari konsumen, pemerintah, perusahaan produk


pesaing.

10

Berikut ini beberapa contoh iklan yang menipu, untuk aneka produk, di mana
materi iklan berbeda jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Gambar di atas adalah iklan mengenai produk kolam plastik, yang kebetulan
juga banyak beredar di Indonesia. Asyik ya melihat desainnya?
Kenyataannya? Silakan lihat produk yang sebenarnya pada gambar di bawah
ini. Jauh dari apa yang diiklankan.

Subway: Sweet Chicken Teriyaki Sandwich

11

ayam dengan saus teriyaki, tomat, dan selada yang begitu segar! Namun itu
hanya ada dalam iklan.
Aslinya? Berantakan dan lembek !!!

McDonalds: Fruit and Maple Oatmeal


Menu baru dari McDonalds ini bernama Fruit and Maple Oatmeal. Sepertinya
terlihat menggoda dan sangat cocok dijadikan sarapan.

Tapi, tunggu dulu berkomentar sebelum Anda melihat aslinya. Sebab,


porsinya sedikit, dan tampilan terlalu encer, dengan buah-buahan yang sangat
sedikit pula.

12

2.6 IKLAN YANG MELANGGAR ATURAN


Sering terlihat berbagai macam iklan rokok pada media televisi, pelaku
usaha periklanan semakin gencar dalam membuat iklan dengan tujuan untuk
menarik konsumen agar membeli produk yang diandalkan. Namun dari
banyaknya iklan-iklan tersebut masih terdapat iklan-iklan yang menyesatkan
dan mengelabui konsumen, seperti halnya kasus pelanggaran iklan rokok
yang digugat secara legal standing oleh Tim Advokasi Gerakan Nasional
Penanggulangan Masalah Merokok terhadap PT. Djarum Kudus Tbk dan PT.
HM. Sampoerna Tbk.
Apabila konsumen tidak jeli dan kritis terhadap iklan, hal ini akan
berakibat lemahnya posisi konsumen. Menyadari pada masalah tersebut maka
pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen. Di mana dengan adanya piranti hukum yang
melindungi konsumen itu tidak dimaksudkan untuk mematikan usaha para
pelaku usaha melainkan perlindungan konsumen justru dapat mendorong
iklim berusaha yang sehat dan juga bertujuan melindungi konsumen secara
integratif dan komprehensif agar dapat diterapkan secara efektif di
masyarakat.
Melalui Undang-Undang Perlindungan Konsumen, diharapkan dapat
memberikan perlindungan kepada konsumen apabila mengalami kerugian,
misalnya melalui proses beracara legal standing yang merupakan langkah
tegas untuk menghadapi tindakan yang menyimpang dan melanggar aturan.
Untuk membuat konsumen tertarik, iklan harus dibuat menarik bahkan
kadang dramatis. Tapi iklan tidak diterima oleh target tertentu (langsung).

13

Iklan dikomunikasikan kepada khalayak luas (melalui media massa


komunikasi iklan akan diterima oleh semua orang: semua usia, golongan,
suku, dsb). Sehingga iklan harus memiliki etika, baik moral maupun bisnis.
Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan
kewajiban moral (KBBI).
Ciri-ciri iklan yang baik :
1. Etis: berkaitan dengan kepantasan.
2. Estetis: berkaitan dengan kelayakan (target market, target audiennya,
kapan harus ditayangkan?
3. Artistik: bernilai seni sehingga mengundang daya tarik khalayak.
Contoh Penerapan Etika
a. Iklan rokok: Tidak menampakkan secara eksplisit orang merokok.
b. Iklan pembalut wanita: Tidak memperlihatkan secara realistis dengan
memperlihatkan daerah kepribadian wanita tersebut
c. Iklan sabun mandi: Tidak dengan memperlihatkan orang mandi secara
utuh.
Etika Secara Umum
1. Jujur : tidak memuat konten yang tidak sesuai dengan kondisi produk
yang diiklankan
2. Tidak memicu konflik SARA
3. Tidak mengandung pornografi
4. Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
5. Tidak melanggar etika bisnis, ex: saling menjatuhkan produk tertentu dan
sebagainya.

14

6. Tidak plagiat
Etika Pariwara Indonesia (Epi). Disepakati Organisasi Periklanan dan Media
Massa, 2005. Berikut ini kutipan beberapa etika periklanan yang terdapat
dalam kitab EPI.
1. Tata Krama Ragam Iklan
Ex: Iklan minuman keras maupun gerainya hanya boleh disiarkan di media
nonmassa; Iklan rokok tidak boleh dimuat pada media periklanan yang
sasaran utama khalayaknya berusia di bawah 17 tahun; dll.
2. Tata Krama Pemeran Iklan
Ex: Iklan tidak boleh memperlihatkan anak-anak dalam adegan-adegan
yang berbahaya ; Iklan tidak boleh melecehkan, mengeksploitasi,
mengobyekkan, atau mengornamenkan perempuansehingga memberi
kesan yang merendahkan kodrat, harkat, dan martabat mereka; dll.
3. Tata Krama Wahana Iklan
Ex: Iklan untuk berlangganan apa pun melalui SMS harus juga
mencantumkan cara untuk berhenti berlangganan secara jelas, mudah dan
cepat; Iklan-iklan rokok dan produk khusus dewasa hanya boleh disiarkan
mulai pukul 21.30 hingga pukul 05.00 waktu setempat, dll.
Contoh iklan yang melanggar aturan, yaitu:

Iklan Mie sedap cup yang diperankan raditya dika. Karena dlm iklan
ini mie sedap Pengen gw pacarin. Seolah-olah mie sedap itu
manusia yang mengerti isi hati manusia sehingga mau dipacarin.

15

Iklan cat avian melanggar kode etik penyiaran


Iklan ini diberhentikan tayang oleh KPI karena melanggar Pedoman
Perilaku Penyiaran Komisi. Penyiaran Indonesia dan Standar Program
Siaran. Seperti iklan Cat Kayu dan Besi Avian yang ditayangkan pada
tahun 2013. Alur ceritanya dimulai ketika seorang tukang mengecat
bangku di taman dengan warna biru, lalu

tukang cat akan

menempelkan kertas bertuliskan AWAS CAT BASAH pada bangku


tersebut, namun kertas itu terbang sehingga tukang cat harus mengejar
kertas tersebut. Ketika sedang mengejar kertas, ada seorang wanita
yang duduk di bangku tersebut, tukang cat kemudian menunjukkan
kertas tersebut pada wanita itu, dengan wajah takut karena baju
perempuan itu putih dan takut terkena cat. Wanita itu jengkel pada
tukang cat, lalu ia mengecek roknya apakah terkena cat atau tidak. Di
bagian ini, wanita menyibakkan roknya agak tinggi sehingga pahanya
terlihat dan hampir terlihat pakaian bagian dalam. Karena ini lah KPI,
menegur beberapa stasiun TV yang menayangkan iklan tersebut tanpa
sensor. KPI meminta untuk melakukan editing pada iklan ini sebelum
ditayangkan.

16

Iklan tersebut telah melanggar:

Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia tahun 2012


BAB V
PENGHORMATAN TERHADAP NILAI DAN
NORMA KESOPANAN DAN KESUSILAAN
Pasal 9

Lembaga penyiaran wajib menghormati nilai dan norma kesopanan dan kesusilaan
yang berlaku dalam masyarakat.

BAB XII
PROGRAM SIARAN BERMUATAN SEKSUAL
Pasal 16
Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau pembatasan
program siaran bermuatan seksual.

BAB XXIII
SIARAN IKLAN
Pasal 43
Lembaga penyiaran wajib tunduk pada peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang periklanan dan berpedoman pada Etika Pariwara Indonesia.

17

Standar Program Siaran


BAB V
PENGHORMATAN TERHADAP NORMA KESOPANAN DAN
KESUSILAAN
Pasal 9

(2) Program siaran wajib berhati-hati agar tidak merugikan dan menimbulkan
dampak negatif terhadap keberagaman norma kesopanan dan kesusilaan yang
dianut oleh masyarakat.
BAB XII
PELARANGAN DAN PEMBATASAN SEKSUALITAS
Bagian Pertama
Pelarangan Adegan Seksual
Pasal 18
Program siaran yang memuat adegan seksual dilarang:
h. mengeksploitasi dan/atau menampilkan bagian-bagian tubuh tertentu, seperti:
paha, bokong, payudara, secara close up dan/atau medium shot;
BAB XXIII
SIARAN IKLAN
Pasal 58
(1) Program siaran iklan tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan berpedoman pada Etika Pariwara Indonesia.
(4) Program siaran iklan dilarang menayangkan:

18

Saat ini banyak sekali iklan di Indonesia yang melanggar etika periklanan,
iklan media cetak maupun elektronik. Nah ini salah satu contoh iklan yang
melanggar etika periklanan :
1. Iklan Provider XL

Kesalahan dari iklan ini :

Memakai kata TERmurah


Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata yang berawalan Ter, Paling,
nomer satu, top ini melanggar tata karna isi iklan dalam bentuk bahasa.

Memakai kata GRATIS


Selain itu pada iklan xl ini mereka memakai kata GRATIS. Kata
gratis atau kata lain yang bermakna sama juga tidak boleh dicantumkan
dalam iklan, bila ternyata konsumen harus membayar biaya lain. Ini juga
termasuk tata karma isi iklan

19

2.

Iklan Shampo Clear

ini ditemukan di jalan menuju keluar tol semanggi. Iklan ini melanggar,
Alasannya adalah karena memakai kata NO. 1, dalam Tata krama isi iklan,
kata NO.1 melanggar aturan bahasa .
3. Iklan televisi NANO-NANO NOUGAT versi Suster ngesot &
satpam

20

Iklan ini melanggar tata karma isi iklan rasa takut dan tahayul karena
ada sesosok makhluk gaib (suster ngesot) yang ngesot di sebuah ruangan
gelap,

serta

music

yang

menyeramkan

sebagai

backsound.

ini

menimbulkan rasa takut orang yang sedang menonton TV.

2.7 HAK-HAK KONSUMEN


Salah satu kemajuan besar dari kehadiran Undang-Undang No. 8 Tahun
1999 Tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) dalam sistem perlindungan
konsumen adalah rumusan mengenai hak-hak Konsumen.
Pasal 4 UUPK merumuskan 9 (sembilan) hak konsumen, yaitu:
1) Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa;
2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang
dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan
yang dijanjikan;
3) Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa;

21

4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa
yang digunakan;
5) Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut;
6) Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
8) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian,
apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian
atau tidak sebagaimana mestinya;
9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.
Hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam Pasal 4 UUPK merupakan
satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Artinya, dalam setiap
transaksi Pasal 4 UUPK atau pengguaan suatu produk barang dan jasa
tertentua, pihak pelaku usaha harus menjamin semua hak tersebut terpenuhi.
Dari perspektif kepentingan konsumen, tahap-tahap dalam transaksi antara
pelaku usaha dan konsumen, maka hak yang paling penting adalah hak atas
informasi. Hak atas informasi ini penting, karena informasi yang diperoleh
menjadi dasar bagi konsumen untuk mengambil keputusan untuk melanjutkan
transaksi atau keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan suatu
produk barang dan jasa.
Dengan kata lain, hak atas informasi ini penting, karena hak ini menjadi
dasar bagi pelaksanaan hak-hak yang lainnya, misalnya hak untuk memilih

22

produk yang kemudian dilanjutkan dengan hak atas fair agreement. Tanpa
perlindungan atas hak informasi, konsumen akan menghadapi kesulitan dalam
menentukan hak-hak lainnya. Secara teoritis, informasi produk sebenarnya
tidak saja untuk kepentingan konsumen, tetapi juga untuk kepentingan
produsen sendiri, karena informasi tentang produk juga berfungsi sebagai
tanda atau pembeda antara produk yang satu dengan produk yang lainnya.
Artinya, produk yang dijual akan dicari konsumen karena pengetahuannya
tentang produk tersebut melalui berbagai sarana informasi . Pada akhirnya,
dari perspektif pelaku usaha, informasi yang disampaikan bersifat promotif,
atau menjadi bagian dari strategi promosi produk.
Dalam praktek hubungan antara produsen dan konsumen, iklan
merupakan salah satu instrumen promosi dan sumber informasi yang paling
digunakan oleh pelaku usaha. Suka atau tidak, iklan mempunyai pengaruh
yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat baik secara positif maupun
negatif. Pengaruh positif iklan adalah memberikan informasi kepada
konsumen sehingga memudahkan konsumen memilih produk apa yang
digunakan.
Melalui informasi yang didapat dari iklan, konsumen dimudahkan untuk
mengetahui keunggulan suatu produk dibandingkan dengan produk yang lain
sehingga konsumen dapat mempertimbangkan dengan seksama sebelum
memutuskan untuk memilih. Pengaruh negatifnya adalah iklan dapat
mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang sebenarnya tidak
mereka butuhkan. Masyarakat yang sebenarnya tidak membutuhkan barang
dan/atau jasa tertentu terkadang dengan adanya iklan terpengaruh untuk

23

membeli dan/atau memanfaatkan jasa tersebut karena di dalam iklan


digambarkan seolah-olah masyarakat membutuhkannya.
Sebagai sarana komunikasi dan pemasaran, iklan memegang peranan
penting, sehingga iklan haruslah jujur, bertanggungjawab, tidak bertentangan
dengan hukum yang berlaku, dan tidak boleh menyinggung perasaan dan
martabat negara, agama, susila, adat, budaya, suku, golongan, serta iklan
harus dijiwai oleh asas persaingan yang sehat. Iklan yang pada hakikatnya
merupakan salah satu strategi pemesaran yang bermaksud untuk mendekatkan
konsumen dengan pelaku usaha pada kenyataan sering menjadi batu
sandungan si pelaku usaha.
Hal ini disebabkan banyaknya iklan yang justru mengecewakan
konsumen karena memberikan informasi yang berlebihan, menyesatkan, dan
menipu. Kekecewaan konsumen akan iklan yang berlebihan, menyesatkan,
dan menipu ini tercermin dengan banyaknya keluhan yang disampaikan
melalui surat kabar. Kita tentu sering membaca di surat kabar misalnya di
kolom Redaksi Yang Terhormat di koran Kompas, dimana konsumen
mengeluh tentang suatu produk kerena ternyata produk tersebut tidak sesuai
dengan iklannya.
Periklanan dalam pengertian-pengertian pokok Tata Krama dan Tata
Cara Periklanan Indonesia ialah seluruh proses yang meliputi penyiapan,
perencanaan, pelaksanaan dan penyampaian iklan. Dengan demikian
periklanan lebih kepada manajemen iklan sebagai keseluruhan proses yang
merupakan salah satu bentuk komunikasi untuk memenuhi fungsi pemasaran,
dan bukan semata-mata aspek teknis.

24

Periklanan harus mampu membujuk khalayak agar berperilaku


sedemikian rupa sesuai dengan strategi pemasaran perusahaan untuk
mencetak penjualan dan pemilihan dan keputusan membeli. Pengaruh iklan
sebagai proses komunikasi memiliki unsur mempengaruhi khalayak
penerimanya, pengaruh yang ditimbulkan itu merupakan efek yang terjadi
pada diri khlayak akibat penyampain pesan komunikasi (pengusaha). Dengan
demikian setiap produsen pasti mengharapkan iklannya memiliki efek
tertentu pada khalayak.
Efek itu menjadi tujuan komunikasi dari suatu iklan, namun bukan berarti
efek yang diharapkan adalah produk yang diiklankannya tersebut akan
langsung dibeli oleh khalayak, karena walaupun tugas utamanya membantu
menciptakan penjualan, iklan tidak dirancang untuk menciptkan penjualan
seketika. Dengan kata lain, efek iklan bersifat jangka panjang. Pengaruh iklan
terhadap khalayak, terutama konsumen sangat terasa, kebanyakan dari
konsumen/khalayak menentukan pembelian suatu barang/produk atau
menggunakan jasa ide tertentu akibat dari adanya pengaruh informasi dan
persuasi iklan baik melalui televisi maupun media cetak seperti majalah,
koran dan sebagainya.
Terkait dengan iklan yang menipu, profesionalisme dalam beriklan
sangat penting. Ketidakcermatan dapat mengubah fungsinya. Kalau hal ini
sengaja, maka ia menjadi kebohongan, dan dapat dikategorikan sebagai
penipuan (Fraudulent Misrepresentation). Setidaknya ada dua kategori untuk
misrepresentation. Misalnya menyebutkan adanya sesuatu yang sebenarnya

25

tidak ada atau sebaliknya, adanya zat tertentu dalam produk, tetapi tidak
disebutkan. Kedua, adalah pernyataan yang menyesatkan (mislead).
Istilah lain yang juga digunakan adalah deceptive (memperdayakan).
Kecuali dua kategori itu ditemukan istilah-istilah, yakni berupa puffery,
mock-ups, deceptive. Puffery adalah iklan yang menyatakan suatu produksi
secara berlebihan dengan menggunakan opini subjektif.

26

BAB IIII
PENUTUP

3
3.1 KESIMPULAN
Dalam penulisan ini dapat disimpulkan bahwa Dalam periklanan kita
tidak dapat lepas dari etika. Dimana di dalam iklan itu sendiri mencakup
pokok-pokok bahasan yang menyangkut reaksi kritis masyarakat Indonesia
tentang iklan yang dapat dipandang sebagai kasus etika periklanan. Sebuah
perusahaan harus memperhatikan etika dan estetika dalam sebuah iklan dan
terus memperhatikan hak-hak konsumen.
Berdasarkan uraian mengenai maslah periklanan dan etika bisnis, dapat
dikemukakan beberapa kesimpulan yakni:
1. Hubungan antara etika dan periklanan sangat erat kaitannya dengan pola
kebiasaan masyarakat yang terpengaruh dari macam periklanan yang
disajikan.
2. Periklanan merupakan pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang
atau jasa yang dijual, dipasang di dalam media massa (surat kabar atau
majalah) atau ditempat umum.
3. Periklanan dan Etika Bisnis merupakan penerapan prinsip-prinsip etika
yang umum pada suatu wilayah perilaku manusia yang khusus, yaitu
kegiatan ekonomi dan bisnis, terutama yang diterapkan pada media
periklanan.

27

4. Di Indonesia khususnya terdapat permasalahan-permasalahan dalam dunia


periklanan terutama menyangkut iklan yang tidak mendidik, iklan yang
cenderung menyidir produk lain.

3.2 SARAN
Dalam penulisan ini penulis memberikan saran yaitu dalam bisnis
periklanan perlulah adanyakontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan
tersebut sehingga tidak merugikan konsumen. Sebuah perusahaan harus
memperhatikan kepentingan dan hakhak konsumen, dan tidak hanya
memikirkan keuntungan semata.
Berdasarkan uraian mengenai periklanan dan etika bisnis dapat penulis
kemukakan beberapa saran antara lain sebagai berikut:
1. Sebaiknya pemerintah menerapkan peraturan atau perundangan yang
secara tegas mengatur segala yang berkaitan dengan etika dan periklanan
2. Produsen seharusnya tidak hanya memikirkan untuk mendapat keuntungan
yang maksimal tanpa melihat dari kepentingan produsen untuk
mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar produk yang diiklankan.
3. Pemerintah serta masyarakat berperan aktif dalam menyaring serta sebagai
ontrol sosial bagi pengiklanan produk-produk yang menyimpang bahkan
bila telah keluar dari jalur etika yang semestinya.

28

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kompasiana.com/isharyanto/hak-konsumen-terhadap-promosi-produkmelalui-iklan_552c5f9d6ea83449718b4654

https://simomot.com/2014/02/11/iklan-iklan-yang-menipu/

https://simomot.com/2014/02/04/fast-food-yang-berbeda-tampilan-antara-iklandan-aslinya/

http://aniatih.blogspot.co.id/2014/05/periklanan-dan-etika-pengontrolan.html

http://www.iklansuaramerdeka.com/hak-konsumen-perlu-diperjuangkan/

http://nurulrohmawatissi.blogspot.co.id/2012/12/iklan-yang-menyesatkan-danmengelabuhi.html

http://wartakesehatan.com/50026/awas-iklan-makanan-sehat-dapat-mengelabuianda

http://habibwakit.blogspot.co.id/2013/12/iklan-yang-menyesatkan.html

http://www.kpi.go.id/index.php/lihat-terkini/38-dalam-negeri/31487-pelanggaraniklan-cat-kayu-dan-besi-avian-kpi-pusat-tegur-lima-stasiun-tv

http://stirapanut.blogspot.co.id/2014/01/etika-bisnis-iklan-yang-melanggaretika_9.html

29

Anda mungkin juga menyukai