Anda di halaman 1dari 11

Peralatan

Penurun Emisi
Mata Kuliah Pencemaran Laut
ME141425

Denny Akbar Nurhadyansyah


NRP. 4214 105 010

Jurusan Teknik Sistem Perkapalan


Institute Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2016

1.

Pendahuluan

Udara merupakan sumber daya alam yang harus dilindungi untuk


kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu pemanfaatannya
harus dilakukan secara bijaksana dengan menghitung kepentingan generasi
sekarang dan yang akan datang. Untuk mendapatkan udara sesuai dengan tingkat
kualitas yang diinginkan, pengendalian pencemaran udara menjadi sangat penting
dilakukan.
Pencemaran udara terjadi apabila dalam lingkungan terdapat bahan yang
menyebabkan timbulnya perubahan yang tidak diharapkan, baik fisik, kimia, atau
biologi sehingga mengganggu makhluk hidup atau lingkungan. Secara umum
penyebab pencemaran udara ada dua macam, yaitu yang terjadi secara alamiah
dan akibat kegiatan manusia.
Contoh dari pencemaran udara yang ditimbulkan oleh alam adalah debu
yang diterbangkan angin, debu akibat letusan gunung berapi, pembusukan sampah
dan lain-lain. Untuk pencemaran udara yang diakibatkan perbuatan manusia pada
umumnya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu yang berasal dari sumber
bergerak (kendaraan bermotor, kapal terbang, dan lain sebagainya), dan sumber
tidak bergerak yaitu kegiatan industri (Wardhana, 2001).
Pencemaran udara dapat diartikan sebagai hadirnya kontaminan atmosfir
seperti gas, cairan atau limbah produk samping dalam konsentrasi dan durasi yang
sedemikian rupa sehingga menciptakan gangguan, kerugian atau memiliki potensi
merugikan terhadap kesehatan maupun kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan
atau benda dan menciptakan ketidaknyamanan (BAPEDAL, 1998).
2.
2.1

Pembahasan
Emisi Gas Buang

Emisi gas buang merupakan sisa hasil pembakaran mesin kendaraan, baik
itu kendaraan beroda, perahu atau kapal, dan pesawat terbang. Umumnya emisi
gas buang ini terjadi karena pembakaran yang tidak sempurna dari pembakaran
mesin serta lepasnya partikel-partikel, karena kurang tercukupinya oksigen dalam
proses pembakaran tersebut.Secara visual, emisi gas buang selalu terlihat dalam
bentuk asap kendaraan dengan bahan bakar solar, dan tidak terlihat pada
kendaraan berbahan bakar bensin.
Emisi gas buang kendaraan bermotor yang mengandung unsur nitrogen,
karbon dioksida, dan uap air bukan merupakan gas yang berbahaya. Namun selain
dari gas-gas tersebut di atas ternyata emisi gas buang kendaraan bermotor
jugamengandung karbon mono-oksida (CO), senyawa hidrokarbon (HC), berbagai
oksida nitrogen (NOX), oksida sulfur (SOx) dan partikulat debu termasuk timbal
(Pb) (Hickman,1999). Komposisi dan kandungan senyawa kimia gas buang
kendaraan bermotor tergantung pada kondisi mengemudi, jenis mesin, alat
pengendali emisi bahan bakar, suhu operasi, dan faktor lain yang secara

keseluruhan membuat pola emisi menjadi rumit. Menurut Tugaswati (2012), jenis
bahan pencemar yang dikeluarkanoleh mesin dengan bahan bakar bensin maupun
solar sebenarnya sama saja, hanya berbeda pada jumlahnya karena perbedaan
pengoperasian mesin.
Berdasarkan PP RI No. 41 Tahun 1999, polutan utama pencemar udara
ambient adalah : SO2, CO, NO2, O3 (oksidan), HC (hidrokarbon), PM!0
(partikel<10um), PM2,5(partikel), TSP (totale suspended particulate atau debu), Pb
(timbal hitam) dan Dustfall (debu jatuh), sedangkan totale Flouride, Flour, 7
Sulfat, Klorin dan Klorin Dioksida diberlakukan pada daerah atau kawasan
industri kimia. Di lain pihak, sumber dan standar kesehatan emisi gas buang dapat
dilihat pada tabel berikut (Bapedal, 2002):
Tabel 2.1 Sumber dan Standar Kesehatan Emisi Gas Buang

Sumber: Bapedal, 2002


2.1

Catalytic Converter

Seiring dengan berlakunya standar emisi gas buang Euro 2 untuk produk
mobil dan sepeda motor di Indonesia mulai 2007, catalytic converter menjadi
peranti yang wajib dipasang pada kendaraan produksi terbaru. Alat ini dirancang
untuk mengurangi gas polutan sisa pembakaran mesin kendaraaan bermotor.
Catalytic converter, pertama kali ditemukan tahun 1975 di Amerika
Serikat. Alat ini dibuat demi memenuhi standar emisi gas buang yang sangat ketat
di negara tersebut. Singkatnya catalytic converter ini adalah alat yang akan
mereaksikan gas-gas buang yang berbahaya melalui reaksi kimia sehingga
nantinya gas-gas tersebut akan berubah menjadi gas yang tidak berbahaya bagi
lingkungan. Atau minimal menjadi gas yang tidak terlalu berbahaya. catalytic
converter merupakan alat yang digunakan sebagai alat pengontrol emisi gas buang
yang diletakkan setelah exhaust manifol pada sistem pembuangan kendaraan
bermotor.
Catalytic converter merupakan salah satu inovasi terbesar di industri
otomotif. Pasalnya, peranti ini mampu mengubah zat-zat hasil pembakaran
seperti, hidrokarbon (HC), karbon oksida (CO), dan NOx, menjadi zat yang lebih

ramah lingkungan. Berdasarkan data Manufactures of Emission Controls


Association (MECA) AS sejak tahun 1970-an hingga saat ini, catalytic converters
telah membantu mengurangi bahan polutan sebanyak 1,5 miliar ton di AS dan 3
miliar ton di seluruh dunia.

Gambar 2.1 Catalytic Converter


Bentuk catalytic converter seperti tabung bentuknya mirip sarang tawon.
bahannya terbuat dari keramik dengan ukuran lubang penyaring antara 1 hingga 2
mm. Secara umum ada dua tipe catalytic converter yang dipakai, yaitu jenis pellet
dan monolithic. Jenis monolithic merupakan catalytic converter yang banyak
dipakai saat ini. Alasannya, jenis tersebut memiliki tahanan gas buang yang kecil,
lebih ringan, dan cepat panas dibandingkan jenis pellet.
Catalytic converter biasanya terdiri atas beberapa bagian :
a) Inti katalis (substrate). Penggunaan catalytic converter pada bidang
otomotif biasanya menggunakan inti dari keramik monolit dengan struktur
sarang lebah (honeycomb). Monolit tersebut dilapisi oleh FeCrAl pada
b) Washcoat. Washcoat adalah pembawa material katalis digunakan untuk
menyebarkan katalis tersebut pada area yang luas sehingga katalis mudah
bereaksi dengan gas buang. Washcoat biasanya terbuat dari aluminium
oksida, titanium oksida, silikon oksida dan campuran silika dan alumina.
Washcoat dibuat dengan permukaan agak kasar dan bentuk yang tidak
biasa untuk memaksimalkan luas permukaan yang kontak dengan gas
buang sehingga katalis dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien.
c) Katalis. Katalis biasanya terbuat dari logam mulia. Platina adalah katalis
yang paling aktif diantara logam mulia lainnya dan secara luas digunakan
namun tidak cocok dengan segala aplikasi karena adanya rekasi tambahan
yang tidak diinginkan serta harganya yang mahal. Palladium dan rhodium
adalah jenis logam mulia lainnya yang biasa digunakan secara bersamaan.

Palladium berfungsi sebagai katalis reaksi oksidasi, rhodium digunakan


sebagai katalis rekasi reduksi dan platina dapat melakukan kedua reaksi
tersebut (oksidasi dan reduksi). Logam lain yang terkadang digunakan
walaupun secara terbatas adalah cerium, besi, mangan, tembaga dan nikel.
Digunakan secara terbatas karena memiliki produk sampingan yang juga
cukup berbahaya. Nikel dilarang di uni eropa karena reaksinya dengan CO
menghasilkan nikel tetrakarbonil. Tembaga dilarang di amerika utara
karena menghasilkan senyawa dioksin.
Untuk mengurangi gas polutan, catalytic converter menggunakan beberapa
bahan baku. Berdasarkan bahan baku yang dipakai, catalytic converter bisa dibagi
menjadi dua model, yaitu oxidation catalyst (OC) atau 2-way Catalyst dan three
way catalyst (TWC).

Gambar 2.2 Oxidation Catalyst

Gambar 2.3 Three Way Catalyst


Jenis OC menggunakan material platinum dan paladium, yang dapat
mengurangi CO dan HC. Sedangkan TWC mengandung platinum dan rhodium
yang mampu mengurangi CO, HC, dan NOx. 3-way Catalist digunakan pada

mesin mobil dan motor yang menggunakan bahan bakar bensin (Premium, dsb.).
Ada tiga tahap dalam proses ini yaitu :
a) Reduksi Nitrogen Oksida menjadi nitrogen dan Oksigen :
2NOx xO2+N2
b) Oksidasi Carbon Monoksida menjadi Karbon Dioksida :
2CO + O2 2CO2
c) Oksidasi senyawa Hidrokarbon yang tak terbakar (HC) menjadi Karbon
Dioksida dan air :
2CxHy + (2x+y/2)O2 2xCO2 + yH2O
Reaksi-reaksi di atas akan berjalan efisien bila mesin bekerja
dengan perbandingan 14,7 bagian udara dengan 1 bagian bahan bakar. Oleh
karena itu, catalytic converter sulit diaplikasikan pada mesin yang masih
menggunakan karburator untuk pemasukan bahan bakar. Catalytic converter
paling ideal digunakan dengan mesin yang telah menggunakan closed loop
feedback fuel injection. Khusus untuk jenis TWC, prosedur kerjanya dibagi
menjadi tiga bagian. Tahap pertama disebut dengan reduction catalyst. Molekul
NOx disaring dan direaksikan menjadi atom nitrogen dan oksigen. Atom nitrogen
yang terperangkap dalam katalis tersebut diikat dengan atom nitrogen lainnya,
sehingga berubah menjadi N2. Sementara oksigen yang ada diubah menjadi O2.

Gambar 2.4 Proses Kerja Cataylic Converter


Proses kerja kedua disebut oxidization catalyst. Tujuannya mengurangi
kadar hidrokarbon juga mengubah CO menjadi gas CO2 yang tidak berbahaya.
Adapun mekanisme kerja ketiga adalah pengendalian yang memonitor arus gas
buang. "Informasi" yang diperoleh dipakai untuk mengatur campuran bahan bakar
dengan udara agar selalu berada dalam komposisi yang ideal. Sedangkan 2-way

Catalist digunakan pada mesin diesel. Karena pada daur Mesin Diesel tidak
dihasilkan Nitrogen Oksida (NOx), maka daur yang terjadi hanyalah daur nomor 2
dan 3 saja.
Catalytic converter ditempatkan di belakang exhaust manifold atau
diantara muffler dengan header. Alasannya, catalytic converter cepat panas ketika
mesin dinyalakan. Selain itu, sensor bisa segera bekerja untuk menginformasikan
kebutuhan campuran bahan bakar udara yang tepat ke Engine Control Machine
(ECM). Peranti catalytic converter baru bekerja efektif ketika kondisinya panas.
Setiap mobil memiliki jumlah alat sensor yang berbeda, bergantung pada
kebutuhan dan teknologi mesinnya. Umumnya mobil injeksi menggunakan dua
sensor oksigen yang berbeda tempat. Ketika sensor, misalnya, mendeteksi
temperatur gas buang terlalu tinggi akibat jumlah bahan bakar yang sedikit
dibandingkan udara, maka air-fuel ratio (AFR) menjadi "miskin". Informasi inilah
yang akan diteruskan ke ECM. Peranti ECM pun segera bekerja melakukan
penyetelan ulang komposisi bahan bakar dan udara sehingga proses pembakaran
menjadi ideal. Pipa buang adalah pipa baja yang mengalirkan gas sisa pembakaran
dari exhaust manifold ke udara bebas. Konstruksinya dibagi menjadi beberapa
bagian, yaitu pipa bagian depan, tengah, dan belakang. Susunannya sengaja dibuat
demikian untuk mempermudah saat penggantian catalytic converter atau muffler,
tanpa perlu melepas keseluruhan konstruksi sistem pembuangan.
Muffler berfungsi untuk mengurangi tekanan dan mendinginkan gas sisa
pembakaran. Ini karena gas sisa pembakaran yang dikeluarkan dari mesin
memiliki tekanan cukup tinggi, sekira 3 hingga 5 kg/cm2. Sedangkan suhunya
bisa mencapai 600 hingga 800 derajat Celsius. Besaran panas ini kira-kira 34%
dari energi panas yang dihasilkan mesin. Kalau gas ini langsung disalurkan ke
udara luar tanpa muffler, gas akan mengembang dengan cepat diiringi dengan
suara ledakan yang cukup keras.
Catalytic converter sangat peka terhadap logam-logam lain yang biasanya
terkandung dalam bensin ataupun solar misalnya timbal pada premium, belerang
pada solar, lalu seng, mangan, fosfor, silikon, dsb. Logam-logam tersebut bisa
merusak komponen dari Catalytic Converter. Oleh karena itu teknologi ini tidak
bisa digunakan di semua daerah terutama daerah yang premiumnya belum diganti
oleh Premium TT (Tanpa Timbal).
Catalytic converter telah terbukti memiliki manfaat untuk mengurangi
emisi kendaraan bermotor. Namun, catalytic converter ternyata tetap memiliki
beberapa efek pada lingkungan :
a) Catalytic converter tidak mereduksi jumlah CO2 yang dihasilkan bahan
bakar bahkan mengubah CO menjadi CO2. Padahal telah kita ketahui
bersama bahwa CO2 ditengarai menjadi penyebab utama greenhouse
effect yang mengakibatkan pemanasan global diseluruh dunia. Bahkan
catalytic converter juga melepas N2O yang ternyata setelah diteliti 3 kali

lebih besar efeknya dibandingkan CO2. EPA (Environmental Protection


Agency), badan lingkungan hidup Amerika Serikat mencatat bahwa 3 %
emisi nitrogen oksida dihasilkan oleh kendaraan bermotor.
b) Air to fuel ratio kendaraan harus senantiasa pada kondisi stoikiometri saat
penggunaan catalytic converter. Akibatnya kadar CO2 yang dihasilkan
lebih banyak dibandingkan mesin dengan campuran miskin (lean burn
engine).
c) Catalytic converter membutuhkan logam mulia palladium dan rhodium.
Salah satu pensuplai logam mulia ini adalah daerah industri Norilsk,
Rusia. Ternyata industri untuk mengekstrak palladium dan rhodium
tersebut mengasilkan polusi ang paling besar dibandingkan industri
lainnya.
2.2

Re-heater System

Pada dasarnya alat yang dirancang untuk menurunkan kadar karbon


monoksida (CO) menggunakan sistem re-heater yaitu dengan memanaskan
kembali gas sisa hasil pembakaran yang dibuang pada ujung knalpot dengan
memanfaatkan panas dari ruang bakar pada kendaraan tersebut. Hal ini dapat
dilihat pada Gambar 2.5.
Panas dari ruang bakar dicerat dengan menggunakan pipa pelaluan yang
dipertahankan panasnya dengan menggunakan isolasi, seperti disajikan pada
Gambar 1a. Adapun panas yang dicerat tersebut digunakan untuk memanaskan
kembali gas yang keluar dari knalpot untuk menguraikan senyawa CO menjadi
unsur C + O2, seperti disajikan pada Gambar 2.6.
Untuk menguraikan setiap mol CO menjadi C + O2, diperlukan kalor
sebesar 26 kkal/mol [3]. Besarnya energi ini diperoleh dari pemanasan tadi. Gas
panas yang dicerat dari ruang bakar, akan memberikan dampak yang buruk jika
dibuang langsung ke lingkungan karena memiliki temperatur yang masih sangat
tinggi. Sehingga dalam hal ini diperlukan suatu pendinginan terlebih dahulu
sebelum gas buang yang dicerat tersebut dialirkan ke knalpot bagian depan. Hal
ini dilakukan dengan menggunakan pipa yang berliku, seperti disajikan pada
Gambar 2.6.
Temperatur gas buang yang masuk ke dalam alat tambahan harus mampu
mencapai panas sebesar 26 Kkal/mol, agar perpindahan panas yang terjadi dapat
sebesar mungkin. Apabila perpindahan panas yang terjadi di dalam alat mendekati
harga tersebut, maka waktu yang diperlukan untuk menguraikan gas buang CO
menjadi lebih singkat. Sistem ini bekerja dan bertujuan untuk memanaskan gas
buang hasil proses pembakaran, dimana gas buang yang berada di ujung knalpot
dipanaskan dengan gas buang yang temperaturnya lebih tinggi, seperti disajikan
pada Gambar 2.5 dan

Sistem ini dioperasikan oleh kalor semata (heatoperated system) karena


sebagian besar proses operasi berkaitan dengan pemberian kalor untuk
melepaskan gas-gas buang pada tekanan dan temperatur tinggi. Proses
pemanasannya akan berlangsung secara periodik, serta gas buang dengan
temperatur tinggi tersebut akan terus mengalir ke dalam alat yang berfungsi untuk
memanaskan gas buang yang keluar dari knalpot. Hasil pemanasan kembali
terhadap gas yang keluar dari knalpot inilah yang akan menurunkan emisi gas
buang kendaraan, serta hal ini belum pernah dicoba oleh para peneliti yang
lainnya.

Gambar 2.5 Re-heater System.

Gambar 2.6 Proses Re-heater System.

Berdasarkan pada hasil pengujian, disampaikan bahwa alat penurun emisi


gas buang yang dibuat mampu mengurangi emisi gas buang CO hingga 50% dari
harga semula, sedangkan CO2 mampu direduksi antara 40% hingga 58%, HC
mampu dikurangi antara 40% hingga 50%, serta kandungan O2 meningkat hingga
10%,seperti disajikan pada Tabel 2.2 2.6.
Tabel 2.2 Data untuk penarikan gas secara berlebihan dan penambahan pelumas
pada sepeda motor 4 Langkah

Tabel 2.3 Data hasil pengujian pada sepeda motor 4 Langkah dengan Honda
ASTREA GRAND

Tabel 2.4 Data hasil pengujian pada sepeda motor 2 Langkah dengan Suzuki RC
100

Tabel 2.5 Data hasil pengujian untuk mobil dengan Suzuki Jimny

Tabel 2.6 Data hasil pengujian untuk mobil dengan Toyota Kijang

Hal ini berarti, bahwa alat tersebut mampu bekerja untuk mengurangi
emisi gas buang CO dan CO2, sesuai dengan reaksi kimia yang telah disampaikan
di atas. Argumen ini juga didukung oleh meningkatnya kandungan oksigen yang
dihasilkan, berarti bahwa pengurangan senyawa CO bukanlah karena berubah
menjadi senyawa CO2, tetapi lebih cenderung karena terurai menjadi unsur C dan
O2. Bila karbon di dalam bahan bakar terbakar habis dengan sempurna maka
terjadi reaksi berikut:
C + O2 CO2
Dalam proses ini yang terjadi adalah CO2. Apabila unsur-unsur oksigen
(udara) tidak cukup, akan terjadi proses pembakaran tidak sempurna, sehingga
karbon di dalam bahan bakar terbakar dalam suatu proses sebagai berikut:
C + O2 CO
Karena emisi gas buang CO dan CO2 berkurang, maka reaksi di dalam alat
re-heater adalah menguraikan senyawa CO dan CO2 menjadi unsur C dan O2.
Unsur C terdeposit di dalam alat re-heater, karena terhalang oleh sekat dan pipa
panas,, seperti disajikan pada Gambar 1b. Unsur O2 menjadi unsur bebas yang ke
luar ke lingkungan. Gas buang HC dibagi dua yaitu : (1) Bahan bakar yang tidak
terbakar dan keluar menjadi gas mentah; (2) Bahan bakar terpecah karena reaksi
panas berubah menjadi gugusan HC yang lain, yang keluar bersama gas buang.
Sebab utama timbulnya gas buang hidrokarbon adalah karena sekitar
dinding-dinding ruang bakar memiliki temperatur rendah dimana pada temperatur
itu pembakaran tidak mampu dilakukan. Berkurangnya senyawa HC adalah
karena gas buang dipanaskan kembali di ujung knalpot, sehingga gugusan HC
berubah menjadi unsur H2 dan C. Kemungkinan terbesar yang terjadi adalah
unsur H2 bersenyawa dengan unsur O2 menjadi H2O, karena banyaknya massa
H2O yang menetes keluar dari alat.
Berdasarkan pada kedua kejadian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa
kedua unsur CO dan CO2 terurai menjadi unsur C dan O2, sedangkan unsur HC
terurai menjadi unsur H2 dan C. Selanjutnya unsur H2 akan bersenyawa dengan
unsur O2 membentuk gugus H2O. Hal inilah yang menyebabkan unsur O2 yang
dilepas ke lingkungan hanya sebesar 10%, karena telah bersenyawa untuk
membentuk H2O.