Anda di halaman 1dari 17

SKENARIO

Pendekatan Masalah Kesehatan


Tingkat ekonomi masyarakat kecamatan Rejo Agung tergolong menengah keatas.
Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas sudah memadai, termasuk sarana
pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Dokter gigi yang bertugas disana sering
menemukan pasien dengan tingkat karies yang tinggi, bahkan pada usia remaja sudah
bbanyak remaja yang kehilangan gigi cukup banyak. Pola makan masyarakat Rejo
Agung cenderung menyukai makanan yang siap saji, banyak yang mengandung
karbohidrat. Untuk mengetahui masalah kesehatan gigi yang ada dan menyelesaikan
masalah tersebut perlu menggunakan pendekatan masalah kesehatan. Beerapa
pendekatan yang bisa digunakan adalah Pendekatan Bloom, Wheel, Jaring-jaring
Sebab-akibat, dan Segitiga Epidemiologi. Apa pendekatan yang tepat untuk kasus
diatas?

STEP 1
1. Pendekatan masalah kesehatan
Adalah suatu upaya untuk memecahkan masalah kesehatan yang dalam
kenyataannya tidak sesuai dengan harapan.
2. Segitiga Epidemiologi
Adalah suatu model kejadian yang menentukan suatu penyakit yang melibatkan
3 faktor yaitu lingkungan, agen dan hostnya.
3. Pendekatan Bloom
Adalah upaya pendekatan yang ditemukan oleh Bloom dengan melihat upaya
dan meninggikan derajat kesehatan.
4. Puskesmas
Merupakan suatu instansi kesehatan (tempat) yang menyediakan layanan
kesehatan di suatu desa/kecamatan.
STEP 2
1) Apa saja pengaruh faktor ekonomi dan pola makan terhadap kesehatan gigi dan
mulut?
2) Faktor apa saja yang menyebabkan tingkat karies tinggi sedangkan pelayanan
kesehatan memadai?
3) Mengapa harus melakukan pendekatan masalah kesehatan?
4) Apa saja tahapan dokter gigi untuk mengatasi masalah kesehatan gigi dan
mulut?
5) Bagaimana perbedaan pendekatan yang ada di skenario?
1

STEP 3
1. Kebanyakan masyarakat dengan ekonomi keatas mereka mempergunakan
banyak waktunya untuk bekerja sehingga tidak terlalu memikirkan kesehatan
tubuhnya, utamanya dalam perihal makanan. Karena waktu makan terbatas
mereka cenderung memilih makanan cepat saji untuk mengefisienkan waktu
yang mereka miliki, sedangkan kita tahu bahwa mengkonsumsi makanan cepat
saji kurang baik untuk kesehatan jika dikonsumsi terus menerus. Misalnya saja
minum soda, dapat menyebabkan mikroporositi pada gigi sehingga insidensi
karies meningkat.
2. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat karies yang tinggi adalah
a. Genetik
Karies bisa diturunkan dari orang tua ke anaknya melalui pewarisan gen.
Jika orang tua memiliki karies yang tinggi maka kemungkinan besar
anak juga mewarisi gen karies tinggi tersebut.
b. Perilaku
Perilaku masyarakat sangat berpengaruh terhadap tingkat karies yang
terjadi, karena perilaku merupakan pola hidup yang diulang-ulang susah
dirubah maka jika seseorang memiliki kesadaran dan pengetahuan yang
rendah tentang kesehatan gigi dan mulut insidensi karies semakin tinggi.
c. Lingkungan
Lingkungan masyarakat sangat mempengaruhi insidensi karies pada
suatu daerah misal ditinjau dari geografisnya ada bebearapa daerah yang
memiliki kadar fluor rendah sehingga masyarakat disekitar tersebut
mudah terserang karies gigi.
Beberpa faktor tersebut dapat mendukung terjadinya karies jika
dihubungkan dengan pelayanan masyarakat yang memadai mungkin
kurangnya kesadaran masyarakat untuk datang berobat ke puskesmas,
hal tersebut bisa terjadi karena kurangnya edukasi dan promosi dari
pihak puskesmas.
3. Pendekatan masalah kesehatan sangat penting gunanya untuk menelusuri
masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat. Mempelajari kesinambungan
lingkungan, psikis, geografis dan agen kita dapat mengetahui faktor apa saja
yang berpengaruh dalam masalah kesehatan tersebut sehingga dapat
menyelesaikan masalah dengan program yang akan dicanangkan.
4. Tahapan untuk mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut
Mengamati masalah yang sedang marak terjadi di masyarakat
Melakukan pendekatan masalah kesehatan
2

Mencanangkan program kesehatan gigi dan mulut yang sesuai


5. Perbedaan pendekatan yang ada di skenario adalah :
Segitiga epidemiologi
Penyakit bisa timbul apabila agen, host, dan lingkungan tidak seimbang.
Kita bisa mengetahui etiologi masalahnya.
Jaring sebab akibat
Sebab akibat ada yang terputus dari suatu rantai, kita harus tau penyebab
utama dari suatu masalah sehingga dapat menyelesaikan masalah
tersebut dengan tepat.
Pendekatan Weel
Menggunakan poros host kemudian mengidentifikasi faktor inernal dan
eksternal dari suatu masalah
Pendekatan Bloom
Menitik beratkan pada 4 faktor yaitu herediter (genetik), perilaku
masyarakat, lingkungan dan pelayanan kesehatan. Jika perilaku
masyarakat susah diubah maka membawa pengaruh juga terhadap
lingkungannya.

Mapping

Masalah Kesehatan

Identifikasi Masalah

Melakukan Pendekatan Masalah Kesehatan


Mencari Penyebab

Macam-macam Pendekatan

Pendekatan Bloom

Pendekatan Wheel Jaring-jaring Sebab AkibatSegitiga Epidemiologi

Pencegahan dan
Penanganan

LO

1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami langkah- langkah melakukan


pendekatan masalah kesehatan
2. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami macam-macam pendekatan
masalah kesehatan

PEMBAHASAN
1. Siklus pemecahan masalah merupakan proses yang terus menerus yang
ditujukan untuk proses perbaikan pelayanan kesehatan secara berkelanjutan
dengan emlibatkan semua komponen masyarakat.
a) Identikisai Masalah Kesehatan Masyarakat
Masalah adalah kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang
dikehendaki. Rumusan suatu masalah harus obyektif tepat dan jelas
berdasarkan ukuran yang diambil serta bisa diukur.

Analisis kesenjangan (Gap Analysis)


Mengidentifikasi masalah kesehatan dapat menggunakan
data primer maupun data sekunder. Data primer diperoleh dengan
melakukan survey langsung ke masyarakat wilayah tertentu
dengan

menggunakan

instrument

yang

telah

dirancang

sebelumnya. Dan dengan menggunakan alat-alata dokumentasi


misalnya kamera atauvideo shooting. Dengan data primer kita
akan mendapatkan informasi permasalahan kesehatan yang aktual
(real time) dan sesungguhnya (obyektif) tanpa rekayasa.
Bila menggunakan data sekunder, dengan menggunakan
data yang telah ada dalam laporan bulanan yang ada di
Puskesmas. Identifikasi masalah berdasar gap (kesenjangan) dari
apa yang seharusnya (berdasar target, cakupan, idealnya) dan
kondisi sebenarnya.

Analisis Sistem (System Analysis)


Mengidentifikasi masalah kesehatan dengan pendekatan
system yaitu menjelaskan hubungan masalah tersebut dengan
factor-faktor lain yang mempengaruhinya. Apakah masalah itu
terjadi pada sisi input proses- output outcome - impact
(masukan - proses- keluaran sementara- akhir) - dampak)

Analisis Tren (Trend Analysis)


Analisis tren merupakan metode analisis yang ditujukan
untuk melakukan suatu estimasi atau peramalan pada masa yang
akan datang.Data yang dibutuhkan cukup banyak dan telah
diamati dalam periode waktu yang panjang.

Mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki,


masalah kesehatan sebaiknya diprioritaskan agar bisa layak atau
fleksibel untuk dilakukan pemecahan masalahnya.
b) Prioritasi Masalah Kesehatan Masyarakat
Penetapan prioritas harus berdasarkan data atau fakta. Untuk
masalah

kesehatan

pada

umumnya

menggunakan

pendekatan

epidemiologi, pendekatan teknologi upaya kesehatan, pendekatan dari


aspek lingkungan dan pendekatan sistem.
Pertimbangan dalam memilih dan memprioritaskan masalah
kesehatan masyarakat antara lain:

Kegawatan masalah kesehatan masyarakat, dapat diajukan


beberapa analisis misalnya dari segi apakah masalah tersebut

telah mengancam secara jelas beberapa banyak nyawa.


Besar masalah kesehatan masyarakat yang ada, besar masalah
dapat dilihat dari berapa banyak orang dalam suatu populasi
dalam wilayah dan periode tertentu menderita atau terkena

dampak dari penyakit atau suatu aktivitas yang merugikan.


Distribusi masalah, masalah kesehatan masyarakat yang ada
apakah telah menjangkau seluruh wilayah secara geografis atau

secara administratif.
Kecepatan penyebaran, untuk penyakit menular mungkin bisa
dijelaskan dengan asumsi banyaknya kejadian penyakit menular

per satuan waktu.


Ketersediaan sumber daya, sumber daya yang dimaksud bisa
beberapa hal antara lain tenaga atau petugas kesehatan, kader,
jumantik, dana, teknologi (alat atau obat, metode), sarana
prasaran.
Ada beberapa teknik atau pendekatan yang dapat digunakan

untuk membantu dalam memilih prioritas masalah secara sederhana,


antara lain adalah: histogram, pareto diagram, MCUA, delbecq, Delphi,
hanlon, voting atau voting terbobot, dsb.
Contoh: penggunaan matriks MCUA
Tata cara penggunaan matriks MCUA dalam penentuan prioritas masalah
kesehatan masyarakat dilakukan dengan langkah langkah sbb:
1.

Menetapkan kriteria
6

2.

Melakukan pembobotan kriteria

3.

Membuat skor masing masing kriteria terhadap masing masing masalah

4.

Mengalikan nilai skor dengan bobot (5x bobot)

5.

Pemberian skor dan bobot tidak mencapai konsensus


c) Perumusan Masalah Kesehatan Masyarakat
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menguraikan gejala
gejala dan penyebab penyebab masalah. Teknik yang dapat digunakan
antara lain adalah brain storming dan diagram sebab akibat (fishbone
diagram, why why diagram, mind map, dst).
Langkah yang dapat dilakukan untuk mencari penyebab masalah
kesehatan masyarakat agar sistematis antara lain:

Lakukanlah brainstorming agar didapatkan penyebab atau faktor risiko dari

masalah kesehatan yang ada secara komprehensif.


Pilihlah penyebab utama atau faktor risiko dengan melibatkan peserta termasuk

jika terkait dengan bidang atau sektor lain.


Jika menggunakan pendekatan analisis fishbone maka letakkan masalah pada

kepala dan penyebab atau faktor risiko pada duri durinya.


Cocokkan penyebab atau faktor risiko tersebut dengan masalah kesehatan yang
ada apakah relevan atau tidak.
d) Analisis Penyebab dari Masalah Kesehatan Masyarakat
Menguraikan gejala-gejala dan penyebab-penyebab masalah
dengan menggunakan data-data yang mendukung (jelas, akurat, dan
terperinci). Teknik yang dapat digunakan adalah brainstorming dan
diagram sebab akibat (fishbone diagram, why-why diagram, mind map
dll).
e) Prioritasi Penyebab Utama atau Faktor Risiko dalam Masalah Kesehatan
Masyarakat
Perlu adanya penetapan dari berbagai penyebab masalah
kesehatan masyarakat maupun faktor risiko untuk menghindari
meloncat/mengalih

dalam

solusi

yang

sesungguhnya

tidak

menyelesaikan masalah pokoknya. Metode yang digunakan antara lain


dengan voting terbobot, matrika MCUA.
f) Identifikasi Alternatif Solusi Potensial dan Prioritasi Sosial
Syarat dalam mencari alternatif solusi dari penyebab atau faktor
risiko masalah:

Pemahaman akan masalah yang ada


7

Pemahaman tentang sub-sistem masalah, kalau perlu dibuat

model masalah
Tiap alternatif yang ada dapat diperhitungkan hal-hal berikut

untuk memilihnya:
Relevansi: hubungan antara hasil (output) dengan tujuan

pemecahan masalah.
Efektivitas: Sejauh mana alternatif dapat menghasilkan output

yang diharapkan.
Relative Cost: biaya yang dikeluarkan
Technical Feasibility: apakah alternatif

dijalankan secara teknis


Personil: tersedianya sumber daya manusia yang melaksanakan

layak

dan

dapat

alternatif
Keuntungan: penjelasan keuntungan alternatif
Kerugian: penjelasan kerugian yang ditimbulkan dari alternatif
g) Kelayakan Implementasi Solusi
Dalam merencanakan implementasi dari solusi terpilih, jika
dikaitkan dengan potensi (sumber daya) yang ada untuk kelayakan, maka
bisa menggunakan metode analisis medan daya (force field analysis).
Analisis ini menggunakan kekuatan dan penghambat dari solusi yang
akan dipilih. Dalam pendekatan appreciaitive inquiry, maka akan lebih
baik jika banyak hal-hal positif yang bisa mendorong untuk
terlaksananya solusi tersebut.
h) Perencanaan Pelaksanaan Solusi
Dalam penyusunan rencana perlu diperhatikan unsur-unsur dari
analisis situasi atau review ini dapat berupa tinjauan sebelum memulai suatu
rencana (review before take off) atau tinjauan tentang pelaksanaan
sebelumnya (review of performance). Agar penyusunan rencana pemecahan
masalah dapat dilakukan dengan mudah gunakanlah format Plans of
Action.
i) Pelaksanaan Kegiatan
Melaksanakan perbaikan atau peningkatan sesuai dengan rencana
yang ditetapkan. Yang penting semua langkah pelaksanaan harus sesuai
dengan rencana kegiatan yang telah disepakati dan setelah waktu yang
telah ditentukan pelaksanaan tidak mencapai hasil seperti apa yang telah
ditetapkan oleh indikator yang dipilih, maka langkah pelaksanaan harus
dilakukan koreksi seperlunya.
8

j) Monitoring dan Evaluasi


Monitoring dan evaluasi (monev) adalah kegiatan untuk
mengecek, mengawasi, dan menilai jalannya program mulai dari tahap
sosialisasi dan orientasi awal, perencanaan, pelaksanaan, hingga ke
kegiatan penyelesaian. Tujuan dari monev adalah pengendalian kegiatan
program agar mencapai sasaran yang diharapkan secara tepat waktu,
tepat jumlah, tepat biaya, tepat mutu, dan tepat sasaran. Prinsip
monitoring dan evaluasi : berdasar standar yang diketahui bersama,
terbuka, adil, berorientasi solusi, partisipatif, dan berjenjang.
2. Macam-macam pendekatan masalah kesehatan
Pendekatan Bloom
Paradigma hidup sehat H. L Blum menjelaskan 4 faktor utama yang dapat
mempengaruhi

derajat kesehatan individu /masyarakat. Keempat factor

tersebut

merupakan factor determinan (penentu) timbulnya masalah kesehatan pada seorang


individu atau kelompok masyarakat.
Genetik

Lingkungan

Masalah kesehatan

Perilaku
Masyarakat

Pelayanan
Kesehatan

Keempat factor tersebut terdiri dari factor perilaku individu atau kelompok
masyarakat, factor lingkungan (social ekonomi, politik, fisik), factor pelayanan
kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya) dan factor genetic (keturunan). Keempat
factor tersebut berinterakis secara dinamis yang mempengaruhi kesehatan perorangan
dan derajat kesehatan kelompok masyarakat. Diantara keempat factor tersebut, factor
perilaku manusia merupakan factor determinan yang paling besar dan paling sukar
ditanggulangi, disusul dengan factor lingkungan.

Faktor genetic.
9

Faktor ini paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan atau


masyarakat . Pengaruhnya pada status kesehatan perorangan terjadi secara
evolutif dan paling sukar dideteksi. Faktor genetic perlu mendapat perhatian di
bidang pencegahan penyakit. Misalnya : seorang anak lahir dari orang tua
penderita DM akan mempunyai resiko lebih tinggi dibandingkan anak yang
lahir bukan dari penderita DM. Untuk upaya pencegahan , anak yang lahir dari
penderita DM harus diberi tahu dan selalu mewaspadai factor genetic yang
diturunkan dari orangtuanya. Oleh karenanya ia harus selalu mengatur dietnya,
teratur berolah raga dan upaya pencegahan lainnya sehingga tidak ada peluang
factor genetiknya berkembang menjadi factor resiko terjadinya DM pada
dirinya.Jadi dapat diumpamakan , genetic adalah peluru (bullet) tubuh manusia
adalah pistol (senjata), dan lingkungan/perilaku manusia adalah pelatuknya
(trigger)

Faktor pelayanan kesehatan.


Ketersediaannya sarana pelayanan, tenaga kesehatan, dn pelayanan kesehatan
yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat.
Pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan yang diimbangi dengan
kelengkapn saran dan prasarana serta dana akan menjamin kualitas pelayanan
kesehatan. Pelayanan seperti ini akan mampu mengurangi atau mengatasi
masalah kesehatan yang berkembang di suatu wilayah atau kelompok
masyarakat.

Faktor perilaku masyarakat.


Faktor ini terutama di Negara berkembang paling besar pengaruhnya terhadap
munulnya gangguan kesehatan atau masalah kesehatan di masyarakat.
Tersedianya jasa pelayanan kesehatan (health service) tanpa disertai perubahan
perilaku (peran serta) masyarakat akan mengakibatkan masalah kesehatan tetap
potensial berkembang di masyarakat.

Faktor ingkungan.
Lingkungan yang terkendali, akibat sikap hidup dan perilaku masyarakat yang
baik akan dapat menekan berkembangnya masalah kesehatan. Untuk
menganalisis program kesehatan di lapangan H.L Blum dapat dimanfaatkan
untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan masalah sesuai dengan factorfaktor yang berpengaruh pada status kesehatan masyarakat.
10

Pendekatan Wheel
Seperti halnya model jaring-jaring sebab akibat, model roda memerlukan
identiflkasi berbagai faktor yang berperan dalam timbulnnya penyakit dengan Hak
menekankan pentingnya agens. Di sini dipentingkan hubungan antara manusia dan
lingkungan hidupnya. Besarnya peranan tiap-tiap lingkungan bergantung pada penyakit
yang diderita. Sebagai contoh, peranan lingkungan sosial lebih besar dari pada yang
lainnya pada "sorbun". Peranan lingkungan biologis lebih besar dari pada yang lain
pada
Sebagai contoh peranan lingkungan sosial lebih besar dari yang lainnya pada
stress mental, peranan lingkungan fisik lebih besar dari lainnya pada sunburn, peranan
lingkungan biologis lebih besar dari lainnya pada penyakit yang penularannya melalui
vektor (vektor borne disease) dan peranan inti genetik lebih besar dari lainnya pada
penyakit keturunan.
Dengan

model-model

tersebut

diatas

hendaknya

ditunjukkan

bahwa

pengetahuan yang lengkap mengenai mekanisme-mekanisme terjadinya penyakit


tidaklah diperuntukkan bagi usaha-usaha pemberantasan yang efektif.
Oleh karena banyaknya interaksi-interaksi ekologis maka seringkali kita dapat
mengubah penyebaran penyakit dengan mengubah aspek-aspek tertentu dari interaksi
manusia dengan lingkungan hidupnya tanpa intervensi langsung pada penyebab
penyakit.
Manusia

Struktur genetik

Lingkungan

Pendekatan Jaring- jaring sebab akibat


Merupakan salah satu dari 3 konsep dasar epidemiologi (segitiga epidemiologi,
jaring-jaring sebab akibat, roda) yang memberikan gambaran tentang hubungan sebab
akibat yang berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya.
Pada model jaring-jaring sebab akibat terdapat berbagai macam sebab; sesuatu
11

penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri sendiri melainkan sebagai akibat
dari serangkaian proses sebab dan akibat.
Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah
keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit
yang bersangkutan. Dengan demikian timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan
dengan cara memotong rantai pada berbagai titik.

Kekurangan dari model ini, peneliti tidak dapat mengidentifikasi / sulit


menentukan penyebab utama. Namun dapat dilakukan pencegahan dari berbagai
arah.
Kelebihan dari model ini, peneliti dapat mengetahui dan mengidentifikasi faktorfaktor apa saja yang berperan dalam timbulnya suatu penyakit / masalah
kesehatan lainnya.
PENDIDIKA
N
RENDAH

KEMISKINA
N

PENGETAHU
AN GIZI
RENDAH

PRODUKSI
BAHAN
MAKANAN
RENDAH

DAYA BELI
RENDAH

FASILITAS
KES.KURA
NG

PENYAKI
T
KURANG
GIZI

KONSUMSI
MAKANAN
TDK
MEMADAI

KESEHATA
N
KURANG

DAYA TAHAN
TUBUH &
PENYERAPAN
GIZI

Pendekatan Segitiga Epidemiologi


Model segitiga epidemiologi menggambarkan kejadian suatu penyakit yang
ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan environment.

12

Host atau pejamu adalah manusia yang mudah terkena atau rentan (susceptible)
terhadap suatu bibit penyakit (virus, bakteri, parasit, jamur, dsb) yang dapat
menyebabkan ia sakit.
Contoh : Penyakit cmapak mempunyai kecenderungan untuk menyerang anakanak, khususnya anak dibawah umur lima tahun. Kekebalan terhadap campak memang
sudah dibawa sejak lahir, tetapi mulai menurun sejak usia 9 bulan. Kondisi ini
menyababkan bayi sebelum berumur 9 bulan perlu diberikan imunisasi untuk lebih
meningkatkan kekebalan tubuhnya terhadap virus campak.
Agent adalah faktor yang menjadi bibit penyakit yang menjadi penyebab suatu
penyakit. Penyebab penyakit ada yang bersifat biologis, fisik, kimia, dan
sosiopsikologis.
Contoh :

Yang bersifat biologis : kuman mikrobakterium tuberkulosa menyebabkan


penyakit TBC paru-paru. HIV menjadi penyebab AIDS.

Yang bersifat fisik : sinar ultra violet dapat meningkatkan resiko host terkena
tumor kulit.

Yang bersifat kimia : nikotin dalam rokok menyebabkan kanker paru-paru.

Yang bersifat sosio-psikologis : suasana kerja sehari-hari yang selalu


menegangkan akan berpengaruh pada kesehatan jiwa karyawan.
Environment atau lingkungan adalah situasi atau kondisi di luar host atau

agent yang memudahkan interkasi antara keduanya. Faktor ini juga dapat menjadi resiko
timbulnya gangguan penyakit pada host karena lingkungan memberikan peluang agent
untuk berkembang (breeding). Lingkungan dapat dibedakan menjadi lingkungan
biologis, fisik, kimia, dan sosialekonomi.

Contoh :

Lingkungan biologi : di suatu wilayah (lagoon) akan memudahkan nyamuk


anopheles berkembang. Lingkungan seperti ini akan memudahkan terjadinya
penularan penyalit malaria.

Lingkungan kimia : lysol yang dipakai membersihkan kotoran penderita Cholera


akan melemahkan kuman vibrio cholera sehingga penularannya dapat dibatasi.
13

Lingkungan sosial : situasi rumah yang padat hunian (banyak anggota keluarga)
akan memudahkan penularan penyakit scabies di antara penghuninya

Lingkungan fisik : sinar ultra violet akan memudahkan timbulnya kanker kulit.
Untuk menggambarkan interaksi antara faktor-faktor egen, pejamu dan

lingkungan, John Gordon menganalogikan sebagai timbangan pengumpil (pengungkit)


dengan lingkungan sebagai titik tumpunya.
Pada dasarnya selalu terjadi hubungan dan pengaruh timbal balik antara faktorfaktor pejamu, agen dan lingkungan, yang berusaha mencapai suatu keadaan
keseimbangan. Perubahan dari keseimbangan dapat dilihat dari contoh-contoh berikut
ini.

Gambar segitiga epidemologi :


1.
A

Keterangan :
A: Agent
H: Host
E: Environment

H
E

Timbangan tersebut menggambarkan tercapainya keseimbangan, sehingga baik


agent maupun host tidak ada yang dirugikan dan pada keadaan ini tedapat suasana hidup
berdampingan secara damai antara agent dan host.
2.
H
E

Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan dari kemampuan agent


untuk menginfeksi serta menimbulkan penyakit pada manusia.
E
3.

14

Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan peningkatan proporsi


kerentanan dari populasi manusia, misalnya karena menurunnya imunitas dari host
itu sendiri. Misalnnya pada saat musim pancaroba, seringkali imunitas manusia itu
menurun sehingga lebih rentan terserang berbagai penyakit. Sehingga walaupun
jumlah agent normal namun dapat pula terjadi penyakit bila imunitas host sendiri
mengalami penurunan.
4.
H

E
A

Perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan pergeseran titik tumpu ke


arah host sehingga menggambarkan bahwa perubahan lingkungan tersebut
merangsang penyebaran agen yang menyebabkan peningkatan kemampuan agen
untuk menginfeksi. Misalnya pada suatu desa tertentu pada awalnya memiliki
sumber air yang bersih, tetapi kemudian terjadi banjir yang membawa berbagai
macam mikroorganisme penyebab penyakit sehingga mengkontaminasi air minum
di desa tersebut, maka terjangkitlah wabah penyakit pada desa tersebut oleh karena
air minum yang sudah terkontaminasi.
5.
A

E
15

Disamping itu, perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan


perubahan kerentanan pejamu (host), sehingga terjadi pergeseran titik tumpu ke
arah agent. Keadaan ini terjadi misalnya pada perkembangan daerah industri yang
pesat menyebabkan konsentrasi zat-zat pencemar di udara meningkatkan
kerentanan (memudahkan terserang penyakit) pada manusia, terutama infeksi
saluran pernafasan.

16

DAFTRA PUSTAKA
1. Notoatmodjo, Prof. Dr. Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta
2. Reinke A, William. 1994. Perencanaan Kesehatan Untuk Meningkatkan
Efektifitas Manajemen. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
3. Kusnoputranto, Haryono. 1986. Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

17