Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN UMUM

A. Sejarah dan Perkembangan PT Bintang Toedjoe


PT Bintang Toedjoe merupakan sebuah perusahaan swasta yang
bergerak di bidang farmasi. Pada awal masa kemerdekaan Indonesia, obatobatan sangat sulit diperoleh masyarakat karena perusahaan farmasi sangat
sedikit jumlahnya, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan saat itu,
dimana banyak sekali masyarakat korban peperangan yang membutuhkan
pengobatan untuk memulihkan kesehatan mereka.
Melihat keadaan tersebut maka didirikanlah sebuah industri farmasi pada
tanggal 29 April 1946 di daerah Garut oleh tiga bersaudara yaitu Tan Jun
She (seorang sinshe), Hioe On Tjan dan Tjia Poe Tjien, dengan nama Firma
Drogistery Bintang Toedjoe. Pemakaian nama ini menggambarkan tujuh
orang putri dari Tan Jun She.
Pada waktu itu, dengan alat-alat yang sederhana dan memperkerjakan
beberapa orang karyawan, PT Bintang Toedjoe berhasil memproduksi obatobatan yang dijual bebas guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan obat.
Salah satu obat yang diproduksi sejak berdirinya adalah Puyer No 16 (Obat
Sakit Kepala No 16) yang sampai saat ini masih banyak dikonsumsi oleh
masyarakat Indonesia dan diekspor ke beberapa negara. Pada saat itu, PT
Bintang Toedjoe hanya memiliki izin sebagai toko obat, sehingga tidak
diperbolehkan untuk mengimpor bahan baku oleh pemerintah.
Sejalan dengan perkembangan perusahaan yang cukup pesat dari toko
obat menjadi industri farmasi, maka empat tahun kemudian PT Bintang
Toedjoe pindah lokasi dari Garut ke kawasan Krekot di Jakarta.
Pada tahun 1974 PT Bintang Toedjoe menempati lokasi baru di kawasan
Cempaka Putih dengan area seluas 2 Ha. Pada tahun tersebut PT Bintang
Toedjoe mulai memproduksi obat resep dokter.

Pada tahun 1985, PT Bintang Toedjoe dibeli oleh Kalbe Group dan
berkembang dengan pesat. Tahun 1990, produk-produk PT Bintang Toedjoe
mulai diekspor ke mancanegara.
Sejalan dengan peningkatan produksinya lokasi di kawasan Cempaka
Putih sudah tidak memadai lagi, sehingga pada tahun 1993 PT Bintang
Toejoe pindah ke kawasan industri pulogadung, menempati area seluas
12.000 meter persegi. Pada September 2002, Head office pindah ke Pulomas
dan pabrik tetap di Pulogadung. Di area yang ditempati sampai sekarang ini,
selain terdapat pabrik juga teletak kantor pusat PT Bintang Toedjoe.
Saat ini dengan mempekerjakan orang lebih dari 10.000 orang karyawan
PT Bintang Toedjoe merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di
Indonesia yang tidak hanya memproduksi obat-obatan melainkan juga
memproduksi suplemen makanan. Beberapa produk Bintang Toedjoe yang
terkenal adalah minuman energi Extra Joss, E-Juss, dan puyer bintang
Toedjoe yang pernah terkenal pada dasawarsa 1970-an.
Perkembangan produknya juga disesuaikan dengan tuntutan dan
keadaan. Nama obat tidak lagi menggunakan bahasa cina, melainkan dengan
bahasa latin untuk membantu proses pemasaran dan memudahkan konsumen
untuk mengenal dan mengingatkannya.
PT Bintang Toedjoe telah berdiri selama 60 tahun, walaupun banyak
perusahaan farmasi yang muncul namun PT Bintang Toedjoe tetap dapat
mempertahankan

kualitas

mutu

obat-obatan

yang

diproduksinya.

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 93/Menkes/SKIII/1980,


yaitu tentang pemisahan badan usaha distribusi farmasi, sehingga ijin
produksi dan ijin distribusinya berada dalam lembaga yang berbeda, maka
PT Bintang Toedjoe menunjuk PT Enseval Putra Megatrading sebagai
distributor untuk mengambil alih seluruh kegiatan distribusinya.
Dalam menjamin mutu produk yang dihasilkan PT Bintang Toedjoe
menerapkan pelaksanaan ISO 9001 versi 2000 dan melaksanakan Cara
Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). PT Bintang Toedjoe produk minuman
berenergi dan bersertifikat bahwa PT Bintang Toedjoe telah berusaha
meningkatkan mutu produk sesuai dengan persyaratan.

B. Visi dan Misi PT Bintang Toedjoe


Visi
PT Bintang Toedjoe mempunyai visi yaitu To be the ADMIRED
and RESPECTED consumer healthcare company in South East Asia
artinya Menjadi perusahaan produk kesehatan, yang dikagumi dan
disegani di Asia Tenggara
Misi
Misi PT Bintang Toedjoe yaitu To provide innovative and quality
product, within reach by everyday people, for a more productive and
meaningful life artinya Menghasilkan produk yang inovatif dan
berkualitas, yang terjangkau masyarakat umum, untuk kehidupan yang
lebih produktif dan bermakna.
Panca Sradha
PT Bintang Toedjoe juga mempunyai suatu kebijakan yang disebut
Panca Sradha adalah sebagai berikut :
1. Trust is the glue of life artinya saling percaya adalah perekat
diantara kami.
2. Mindfulness is the foundation of our action artinya kesadaran
penuh adalah dasar setiap tindakan kami.
3. Innovation is the key to our success artinya inovasi adalah
kunci keberhasilan kami.
4. Strive to be the best artinya bertekad untuk menjadi yang
terbaik.
5. Interconnectedness is a universal way of life artinya saling
keterkaitan adalah panduan hidup kami.
C. Lokasi dan Sarana Produksi
PT Bintang Toedjoe yang berlokasi di jalan A. Yani No. 2 PulomasJakarta Timur ini memiliki luas area sebesar 25.000 m 2 dengan luas
bangunan sebesar 19.000 m2 yang terdiri dari dua bangunan yang digunakan
sebagai tempat produksi dan Head Office.
D. Struktur Organisasi

PT Bintang Toedjoe dipimpin oleh seorang Presiden Direktur yang


dibantu oleh enam direktur yaitu direktur manufacturing, direktur marketing
& sales, direktur HR (Human Resources) & GA (General Affair), direktur
Bussiness Development, direktur Finance Accounting, direktur IT & Legal.
Adapun struktur organisasi PT Bintang Toedjoe per-Departement secara
garis besar dapat dilihat pada lampiran 1.
E. Jenis jenis Produk PT. Bintang Toedjoe
Produk andalan PT Bintang Toedjoe antara lain :
1. Health and Energy
Produk yang dikembangkan adalah minuman kesehatan untuk
membantu memelihara kesehatan dan kondisi tubuh untuk
menghasilkan energi dan kekuatan tubuh. Jenis produk pada platform
ini yaitu Extra Joss B7, Nitros, Other Varian Of E- juss.
2. Health and Cure
Produk yang dikembangkan adalah obat obatan untuk
kesembuhan yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Jenis
produknya adalah Komix Peppermint, Komix Jeruk Nipis, Komix
Jahe, Komix OBH, Komix Kids.

F. Ruang lingkup PT Bintang Toedjoe


Dalam struktur organisasi PT Bintang Toedjoe, direktur manufacturing
membawahi lima departemen yaitu :
1. Departement Production Planning and Inventory Control (PPIC)
Definisi dari PPIC yaitu Proses untuk merencanakan dan
mengendalikan aliran material yang masuk, mengalir, dan keluar
disesuaikan dengan kapasitas produksi sehingga permintaan pasar
dapat dipenuhi dengan jumlah yang tepat, waktu penyerahan yang

tepat, dan biaya produksi yang minimum. PPIC terbagi menjadi tiga
bagian yaitu :
a. Master Production Schedule (MPS)
Master Production Schedule (MPS) merupakan suatu
pernyataan tentang produk akhir dari suatu perusahaan industri
manufaktur yang merencanakan memproduksi output berkaitan
dengan kuantitas dan periode waktu.
MPS
pemasaran

membentuk
dan

jalinan

bagian

komunikasi

manufakturing,

antara

bagian

sehingga

bagian

pemasaran juga mengetahui informasi yang ada dalam MPS


terutama berkaitan dengan ATP (Available To Promise) agat
dapat memberikan janji yang akurat pada pelanggan.
b. Material Requirement Planning
Material Requirement Planning mempunyai lima Informasi
yaitu :
1) Lead time, yaitu waktu yang diperlukan untuk memproduksi
atau membeli suatu item
2) On Hand, yaitu posisi inventori awal secara fisik tersedia
dalam stok.
3) Lot Size, yaitu kuantitas pesanan (order quantity)
4) Safety Stock, yaitu stok yang direncanakan berada dalam
inventori yang dijadikan sebagai stok pengaman sebagai
antisipasi mengatasi fluktuasi forecast penjualan
5) Minimum Order, yaitu pesanan minimal yang menjadi acuan
supplier
c. Inventory Control
Tujuan Pengendalian Inventori :

Kegiatan lancar
Tidak terlalu banyak

Sasaran :
Keputusan :

Tepat waktu

Sediaan apa

Tepat jumlah

Kapan perlu pesan


Berapa banyak per pesanan

Flow Process Planning

Tepat mutu

10

2. Departement Research and Development (RnD)


Research and Development (pengembangan produk) merupakan
suatu departemen yang bertugas dan bertanggung jawab atas
perkembangan produk atau formula yang stabil dan sesuai dengan
keinginan pasar, melakukan reformulasi terhadap produk yang sudah
berjalan, melakukan reformulasi/perubahan terhadap proses produksi
dan melakukan uji sensorik pada produk baru. Uji sensorik adalah uji
pemeriksaan organoleptik yang mempunyai parameter yang khusus
dan metode statistika untuk mengukur sifat indrawi produk. Instrument
yang dipakai adalah kemampuan indrawi manusia.
Pengembangan formula baru berdasarkan formulir permintaan
produk/kemasan baru dari marketing kemudian dilakukan koordinasi
antara pihak Research and Development dan marketing dengan
mempertimbangankan :
1) Perkiraan pemasaran
2) Rencana pembuatan (toll out/tidak)
3) Spesifikasi produk yang diinginkan (bentuk, ukuran, warna,
kemasan)
Setelah tercapai kesepakatan antara kedua pihak dan direktur
produksi maka dilanjutkan ke beberapa tahap berikutnya, antara lain:
a) Studi literatur
Research and Development melakukan pengumpulan datadata yang diperlukan, penelitian terhadap produk sejenis yang
beredar di pasaran.
b) Membuat Formula Tentative
Formula tentative tersebut dikirimkan ke pihak :
1) Quality Control, untuk dicari metode analisanya
2) Registrasi, untuk proses pendaftaran ke Ditjen POM
Research and Development memeriksa persediaan bahan
baku atau bahan kemas. Apabila bahan baku yang dibutuhkan
tidak tersedia, maka pihak Research and Development membuat
formulir permintaan bahan baku baru dan menghubungi pihak

11

Purchasing

untuk

proses

penyediaan

bahan

dibutuhkan.
c) Tahap Formulasi dan Trial Laboratorium
Berdasarkan formula tentative, pihak

baku

Research

yang

and

Development membuat beberapa formula alternatif dengan


berbagai komposisi yang berbeda. Kemudian dilakukan Trial
Laboratorium dan mengajukan permohonan ke PPIC untuk
konfirmasi

pelaksanaan

apabila

Trial

Laboratorium

membutuhkan mesin produksi.


Pihak Research and Development melakukan evaluasi hasil
Trial dengan tiga macam percobaan sebelum dikirim ke pihak
pemasaran. Hasil Trial Laboratorium tersebut disetujui oleh
pihak pemasaran berdasarkan penempatan maka hasil Trial
kemudian dilanjutkan dengan proses pengemasan primer dan tes
stabilitas.
d) Tahap Tes Stabilitas
Tes stabilitas hasil Trial Laboratorium dilakukan sebagai
berikut :
1. Tes stabilitas jangka panjang yaitu tes stabilitas pada
suhu kamar (15-30o C) selama 3 tahun.
2. Tes stabilitas dipercepat yaitu tes stabilitas menggunakan
Hot Pack atau Humidity Chamber (kelembaban kamar)
pada suhu 41oC dan kelembaban relative 80% selama 3
bulan apabila produk tersebut stabil selama 2 tahun.
e) Pembuatan Master Formula
Master formula dibuat berdasarkan informasi produk baru
dari bagian registrasi dan formula hasil Trial Laboratorium. Pihak
Research and Development, Produksi dan Teknik merencanakan
ukuran batch produksi dengan kalkulasi bahan baku/bahan
kemas.
Hasil koordinasi ketiga pihak tersebut disusun dalam formulir
persetujuan formula. Formulir persetujuan kemas primer,
formulir kemas sekunder.
f) Trial Produksi

12

Pihak Research and Development bekerja sama dengan pihak


produksi dan PPIC dalam melakukan Trial Produksi. Kemudian
dicatat perubahan-perubahan yang tidak sesuai dengan prosedur
tetap.
Produk hasil Trial Produksi dilakukan pemeriksaan dan tes
stabilitas oleh pihak Quality Control bila memperoleh hasil
produk yang baik selama 3 kali percobaan berturut-turut.
3. Departement Produksi
Proses produksi dalam dunia farmasi merupakan semua kegiatan
pembuatan obat mulai dari sampling, pengolahan, sampai pengemasan
untuk menghasilkan suatu obat jadi dengan kualitas yang memenuhi
persyaratan. Setiap proses produksi dilakukan sesuai dengan prosedur
yang telah ditetapkan. Departemen ini bertanggung jawab atas proses
produksi produk PT Bintang Toedjoe serta dalam pengembangan
produk.
Departement Produksi PT Bintang Toedjoe cabang Pulomas
memproduksi serbuk effervescent yaitu Extra Joss dan E juss. Proses
produksi terdiri dari lima macam proses, yaitu :
1) Imc dan penimbangan, penerimaan bahan baku dan kemas serta
kontrol terhadap bahan baku dan kemas. Penimbangan
melakukan proses penimbangan berdasarkan jadwal PPIC.
2) Proses compounding, bertanggung jawab atas proses
pencampuran bahan.
3) Proses filling, bertanggung jawab atas proses pengisian bahan
jadi ke dalam kemasan primer yang dilakukan dengan mesinmesin filling.
4) Proses packaging, bertanggung jawab atas proses pengemasan
sekunder.
5) Omc, menerima hasil produksi yang merupakan finish produk/
produk jadi, kontrol terhadap finish produk sesuai kebutuhan
PPIC.
Alur proses produksi :

13

1) PPIC mengeluarkan PWO diterima oleh bagian Compounding,


kemudian meminta bahan baku sesuai dengan yang tertera pada
PWO ke gudang bahan baku/IMC. Bila pada kenyataannya
terjadi kekurangan/kelebihan bahan baku, maka digunakan kartu
pengembalian bahan baku.
2) Penimbangan bahan baku dilakukan oleh bagian penimbangan.
Bahan baku yang telah ditimbang kemudian diberi label
penimbangan yang telah diparaf oleh penimbang dan saksi.
Selama proses penimbangan dilakukan inspeksi oleh pihak
produksi, PPIC dan Quality Control untuk mencegah kesalahan
penimbangan.
3) Proses produksi (Compounding) dilakukan sesuai dengan
prosedur tetap (protap). Secara berkala dilakukan pengawasan
dalam proses (In Process Control) oleh pihak produksi dan
Quality Control.
4) Hasil dari proses Compounding (Bulk) dikarantina untuk
dilakukan proses sampling dan pemastian kadar oleh pihak
Quallity Control. Pihak Quality Control akan mengeluarkan
Label status release atau reject. Bulk yang direlease oleh
pihak Quality Control akan diserahkan ke bagian pengemasan
primer (filling). Sedangkan bulk yang dinyatakan direject oleh
pihak Quality Control diserahkan kepada supplier untuk
dimusnahkan.
5) Bagian pengemasan memperoleh PPO dari pihak PPIC dan
nomor batch yang harus dicetak pada kemasan.
6) Bulk yang diperoleh langsung memasuki pengemasan primer dan
diberikan nomor batch. Selama proses pengemasan, dilakukan
pemeriksaan oleh pihak Quality Control dan Produksi.
7) Produk ruahan yang telah dikemas primer akan melewati proses
packaging untuk dikemas sekunder. Selama proses pengemasan
sekunder dilakukan pemeriksaan oleh bagian Quality Control dan
Produksi, kemudian dilakukan proses penimbangan dengan
sistem komputerisasi terhadap produk jadi tersebut.

14

Setelah itu bagian packaging akan menyerahkan produk jadi


tersebut ke gudang OMC disertai dengan Formulir Penyerahan
Hasil.
4. Departement Quality Assurance and Quality Control (QA- QC)
Quality Assurance (QA) merupakan bagian yang bertanggung
jawab mengenai pemastian terhadap bahan yang digunakan dan produk
yang dihasilkan oleh perusahaan, mulai dari pemastian bahan baku,
penyimpanan, pembuatan hingga proses pembuatan yang siap untuk
dipasarkan. Salah satu aspek untuk menyatakan suatu produk telah
memenuhi standar adalah mencakup data hasil pemeriksaan yang
diperoleh selama produksi. Pemeriksaan dilaksanakan terhadap
tahapan selama proses pengolahan dan pengemasan dan cakupan
pemeriksaannya berdasarkan spesifikasi yang telah ditetapkan dalam
form laporan kegiatan untuk setiap jalur produksi (Badan POM 2006).
Quality Control (QC) merupakan salah satu bagian yang
bertanggung jawab mengenai pengawasan dan pemeriksaan terhadap
bahan yang digunakan dan produk yang dihasilkan oleh perusahaan,
mulai dari pengawasan bahan baku, penyimpanan, pembuatan hingga
proses pengemasan, untuk menjamin bahwa bahan-bahan tersebut
telah sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan. QC yang bertugas
menganalisa bahan baku, bahan kemas, produk ruahan dan melakukan
inspeksi di area produksi. QC-QA yang bertugas melakukan kalibrasi
alat ukur dan instrumen, validasi proses produksi, pemantauan
stabilitas produk baru dan validasi metode analisis, standarisasi bahan
baku dan alternatif dan pemeriksaan mikrobiologi. Manager QA dan
staff administrasi bertugas untuk mengontrol rekaman batch,
menangani sampel produk, produk kembalian dan komplain konsumen
(badan POM 2006).
Menurut Badan POM, pengawasan mutu meliputi semua fungsi
analisis yang dilakukan di laboratorium termasuk pengambilan contoh,
pemeriksaan dan pengujian bahan awal, produk antara, produk ruahan
dan obat jadi. Pengawasan mutu meliputi juga program uji stabilitas,

15

pemantauan lingkungan kerja, uji validasi, pengkajian dokumen bets,


program penyimpanan contoh dan penyusunan serta penyimpanan
spesifikasi yang berlaku dari tiap bahan dan produk termasuk metode
pengujiannya. Pengawasan mutu tidak terbatas pada kegiatan
laboratorium tapi juga harus terlibat dalam semua keputusan yang
terkait dengan mutu produk. Ketidaktergantungan Pengawasan Mutu
dari produksi dianggap hal yang fundamental agar Pengawasan Mutu
dapat melakukan kegiatan dengan memuaskan. Keterlibatan dan
komitmen semua pihak yang berkepentingan pada semua tahap
merupakan keharusan untuk mencapai sasaran mutu mulai dari
kedatangan bahan baku sampai kepada distribusi produk jadi.
Kegiatan Pengawasan Mutu dilakukan oleh bagian QC meliputi
pemeriksaan yang luas, tidak hanya pemeriksaan terhadap bahan baku
dan produk, tetapi juga meliputi pemeriksaan kualitas air, kualitas
ruangan, kualitas limbah, kualitas kesehatan lingkungan kerja dan
pemeriksaan terhadap proses-proses penunjang produksi lainnya.
Pemastian mutu dilakukan oleh bagian QA yang meliputi pemastian
mutu bahan baku, bahan kemas, pemastian mutu produksi, pemastian
mutu mikrobiologi dan pemastian mutu produk jadi. Pengawasan mutu
meliputi beberapa tahapan, yaitu :
1) Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel adalah kegiatan yang penting dimana
hanya sebagaian kecil dari satu bets yang diambil. Keabsahan
kesimpulan secara keseluruhan tidak dapat didasarkan kepada
pengujian yang dilakukan terhadap sampel yang tidak terwakili
oleh satu bets. Oleh karena itu, cara pengambilan sampel yang
benar adalah bagian penting dari sistem pemastian mutu.
Analisis bahan baku dan bahan kemas dilakukan oleh analis
bahan baku dan bahan kemas. Produk ruahan diperiksa oleh
analis obat jadi sedangkan pengambilan sampel dilakukan oleh
inspector QC. Analisis terhadap bahan baku dilakukan dengan
metode sampling n+1. Dimana n adalah jumlah bahan dalam

16

satu batch (biasanya dalam bentuk tong, drum atau sak). Misal
terdapat 100 sak yang akan diambil 100+1=11 sampel.
Pengambilan sample dilakukan secara acak/random dengan
menggunakan alat yang terbuat dari stainless steel berbentuk
pipa berujung lancip dengan panjang 50 cm yang disebut
thief sampler. Masing-masing bahan yang telah disampling,
untuk pengujian identifikasi, penetapan kadar, dll digunakan
wadah plastik yang telah diberi tanda sesuai nomor batch dan
apabila dilakukan pengujian mikrobiologi digunakan wadah
botol yang telah disterilkan. Setelah sampling selesai, wadah
yang didalam tong, drum atau berupa sak ditutup dengan
lakban dan dirapatkan kembali. Sampling pada sedian serbuk
dan produk ruahan dilakukan terhadap 4 titik (paling atas, atas,
tengah dan bawah). Pengujian yang dilakukan meliputi
pengujian fisik, keseragaman bobot, serta penetapan kadar.
2) Persyaratan pengujian
Persyaratan pengujian terhadap bahan awal, produk antara,
produk ruahan dan produk jadi masing-masing dapat dijelaskan
sebagai berikut :
a) Bahan awal
Bahan awal sebaiknya diuji terhadap pemenuhan
spesifikasi identitas, kekuatan kemurnian, dan parameter
mutu lain.
b) Bahan pengemas
Bahan pengemas, sebaiknya memenuhi spesifikasi
dengan penekanan pada kompatibilitas bahan terhadap
produk yang diisikan kedalamnya. Cacat fisik yang kritis
dan dapat berdampak besar serta kebenaran penandaan
yang dapat memberi kesan meragukan terhadap kualitas
produk hendaklah diperiksa.
c) Produk antara dan produk ruahan

17

Produk antara adalah tiap bahan atau campuran bahan


yang masih memerlukan satu atau lebih pengolahan lebih
lanjut untuk menjadi produk ruahan. Pemeriksaan yang
dilakukan yang meliputi pemeriksaan terhadap sediaan
tablet ataupun puyer yaitu kadar zat aktif, kadar air dan
homogenitas. Sedangkan pemerikasaan sediaan cair
meliputi pemeriksaan kadar zat aktif, viskositas dan
homogenitas.
Produk ruahan adalah tiap bahan yang telah selesai
diolah dan tinggal memerlukan pengemasan untuk
menjadi obat jadi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi
pemeriksaan sediaan puyer yaitu kadar zat aktif.
Pemeriksaan sediaan tablet yaitu kadar zat aktif, waktu
hancur, kekerasan dan keseragaman bobot sediaan.
Sedangkan

pemeriksaan

sediaan

cair

meliputi

pemeriksaan kadar zat aktif, viskositas, bobot jenis, pH


dan uji keseragaman kandungan.
Untuk memastikan keseragaman dan keutuhan batch,
pengawasan

selama

proses

sebaiknya

dilakukan

pengujian sampel yang representative dari tiap bets


produk antara dan produk ruahan untuk identitas,
kekuatan, kemurnian dan mutunya. Persetujuan dari
bagian pengawasan mutu mutlak diperlukan setelah tahap
produksi kritis selesai atau bila produk tersimpan lama
sebelum tahap produksi selanjutnya dimulai.
Produk antara dan produk ruahan yang di tolak
sebaiknya diberi penandaan dan dikendalikan dengan
sistem karantina yang dirancang untuk mencegah
penggunaanya dalam proses selanjutnya, kecuali bila
produk tersebut dinilai memenuhi syarat untuk kemudian
diolah ulang.
d) Produk jadi

18

Tiap batch produk jadi sebaiknya diuji terhadap


spesifikasi yang ditetapkan dan dinilai memenuhi syarat
sebelum diluluskan untuk distribusi. Produk jadi yang
tidak memenuhi spesifikasi dan kriteria mutu lain yang
ditetapkan sebaiknya ditolak.
Pengolahan ulang dilakukan apabila memungkinkan,
namun produk hasil pengolahan ulang harus memenuhi
semua spesifikasi dan kriteria mutu lain yang ditetapkan
sebelum diluluskan untuk distribusi.
5. Departement Quality System
Quality system bertujuan agar semua sistem manajemen dapat
diterapkan secara konsekuen di PT Bintang Toedjoe, menjamin
terimplementasinya Continuos Improvement (CI), mengawasi serta
mengevaluasi dan mereview ISO 9001 dan sistem manajemen lainnya,
antara lain :
a. ISO 9001:2000
ISO 9001: 2000 adalah sistem manajemen untuk menjamin
konsistensi mutu secara keseluruhan (bukan hanya mutu produk
melainkan mutu proses dari semua bagian), yang melibatkan
manajemen dan tenaga kerja dari semua departemen. PT Bintang
Toedjoe saat ini telah menerapkan ISO 9001:2000. Sistem
manajemen ini diakui secara internasional lebih dari 10 negara.
Tujuan ISO adalah:
1. Organisasi harus mencapai dan mempertahankan kualitas
produk

atau

jasa

yang

dihasilkan,

sehingga

berkesinambungan dapat memenuhi kebutuhan konsumen.


2. Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak
manajemen sendiri bahwa kualitas yang dimaksudkan telah
dicapai dan dapat dipertahankan.
3. Organisasi harus memberikan keyakinan kepada konsumen
bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah atau dicapai
dalam produk atau jasa yang dihasilkan.
b. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

19

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)


merupakan

suatu

sistem

manajemen

untuk

menciptakan

keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja dengan melibatkan


unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang
integrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan
penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman,
efisien, dan produktif.
Pelaksanaan progam K3 dilaksanakan dalam kegiatan yang
lebih bersifat preventif dan akuratif dengan tujuan :
1. Agar pekerja dapat mencapai derajat kesehatan yang
tertinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial
2. Agar masyarakat sekitar tempat kerja terlindung dari
bahaya-bahaya pengotoran bahan-bahan yang berasal dari
tempat kerja
3. Agar hasil produk perusahaan tidak membahayakan
kesehatan konsumen.
c. HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)
HACCP suatu sistem dalam rangka menghasilkan produk yang
aman untuk dikonsumsi, bebas dari zat-zat berbahaya dan bebas
dari pencemaran oleh:
1. Faktor Fisika (misalnya pecahan kaca, isi staples, serpihan
logam, kerikil kayu dan perhiasan).
2. Faktor Biologis (misalnya cemaran bakteri, virus, jamur,
parasit, ganggang serta kapang).
3. Faktor Kimia (misalnya bahan kimia pembersih, pestisida,
allergen, logam berbahaya serta senyawa nitrat/nitrit).
d. OHSAS (Occupational Health and Safety Assesment Series)
OHSAS secara mendasar mengatur tentang perlindungan
terhadap pekerja atau karyawan terhadap bahaya-bahaya yang
mungkin timbul pada saat melakukan pekerjaan.
e. ISO 14000 : 2004
Salah satu elemen ISO yang mengatur tentang kepedulian suatu
perusahaan atau pabrik tesebut berdiri, contohnya adalah
pengolahan limbah-limbah industri dan pengawasan terhadap
proses tersebut.
f. 5R (Rapih, Resik, Ringkas, Rajin dan Rawat)

20

Rapih, Resik, Ringkas, Rajin dan Rawat merupakan program


yang diadopsi dari jepang dalam rangka meningkatkan efisiensi
kerja, produktivitas kerja, kualitas kerja dan keselamatan kerja.

G. Kebijakan Manajemen
PT Bintang Toedjoe bertekad untuk melakukan bisnis dengan
memperhatikan pengolaan aspek kualitas, keselamatan dan kesehatan kerja
serta lingkungan. Untuk melaksanakan PT Bintang Toedjoe menetapkan
prinsip :
a. Memproduksi produk dengan kualitas dan memberikan pelayanan
terbaik untuk memenuhi persyaratan dan harapan pelanggan, tanpa
mengabaikan persyaratan keselamatan kerja serta lingkungan.
b. Memberdayakan seluruh potensi dan sistem manajemen guna
mencegah produk tidak sesuai produksi dan diedarkan, tidak
adanya produk di pasaran dan pencemaran serta kerusakan
lingkungan.
c. Mengkomunikasikan komitmen ini kepada seluruh karyawan dan
pihak terkait.
1.