Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
Trauma liang telinga umumnya disebabkan oleh kesalahan sewaktu
membersihkan telinga dengan cotton bud atau alat pembersih telinga lainnya.
Akibatnya terjadi luka atau hematoma pada kulit liang telinga.
Trauma pada membran timpani disebabkan oleh tamparan, ledakan
(barotrauma), menyelam yang terlalu dalam, luka bakar ataupun tertusuk.
Akibatnya timbul gangguan pendengaran berupa tuli konduktif karena robeknya
membran timpani atau terganggunya rangkaian tulang pendengaran, yang
terkadang disertai tinitus.
Trauma tulang temporal dan fraktur basis kranium yang terbanyak adalah
dari jenis fraktur yang mempunyai garis fraktur longitudinal. Fraktur jenis ini
mengenai liang telinga, membran timpani, telinga tengah, tuba eustachius dan
foramen laserum. Gejalanya berupa perdarahan pada liang telinga, tuli konduktif,
keluarnya cairan serebrospinal dan paresis saraf fasial. Fraktur tulang temporal
jenis lain adalah fraktur tulang temporal dengan garis fraktur transversal. Biasanya
memberikan gejala yang lebih berat. Dapat ditemukan hemotimpanum, keluarnya
cairan serebro spinal dari hidung, tuli sensorineural dan sering ditemukan paresis
saraf fasialis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI TELINGA


Telinga adalah alat indra yang memiliki fungsi untuk mendengar suara
yang ada di sekitar kita sehingga kita dapat mengetahui / mengidentifikasi apa
yang terjadi di sekitar kita tanpa harus melihatnya dengan mata kepala kita
sendiri. Orang yang tidak bisa mendengar disebut tuli. Telinga kita terdiri atas tiga
bagian yaitu bagian luar, bagian tengah dan bagian dalam.1

Gambar 1. Anatomi telinga.2

Telinga Luar
Telinga luar terdiri atas auricula dan meatus akustikus eksternus. Auricula
mempunyai bentuk yang khas dan berfungsi mengumpulkan getaran udara,
auricula terdiri atas lempeng tulang rawan elastis tipis yang ditutupi kulit.
Auricula juga mempunyai otot intrinsic dan ekstrinsik, yang keduanya dipersarafi
oleh N.facialis.3,4

Auricula atau lebih dikenal dengan daun telinga membentuk suatu bentuk
unik yang terdiri dari antihelix yang membentuk huruf Y, dengan bagian crux
superior di sebelah kiri dari fossa triangularis, crux inferior pada sebelah kanan
dari fossa triangularis, antitragus yang berada di bawah tragus, sulcus auricularis
yang merupakan sebuah struktur depresif di belakang telinga di dekat kepala,
concha berada di dekat saluran pendengaran, angulus conchalis yang merupakan
sudut di belakang concha dengan sisi kepala, crus helix yang berada di atas tragus,
cymba conchae merupakan ujung terdekat dari concha, meatus akustikus
eksternus yang merupakan pintu masuk dari saluran pendengaran, fossa
triangularis yang merupakan struktur depresif di dekat anthelix, helix yang
merupakan bagian terluar dari daun telinga, incisura anterior yang berada di antara
tragus dan antitragus, serta lobus yang berada di bagian paling bawah dari daun
telinga, dan tragus yang berada di depan meatus akustikus eksternus.
Telinga Tengah
Telinga tengah adalah ruang berisi udara di dalam pars petrosa ossis
temporalis yang dilapisi oleh membrana mukosa. Ruang ini berisi tulang-tulang
pendengaran yang berfungsi meneruskan getaran membran timpani (gendang
telinga) ke perilympha telinga dalam. Kavum timpani berbentuk celah sempit
yang miring, dengan sumbu panjang terletak lebih kurang sejajar dengan bidang
membran timpani. Di depan, ruang ini berhubungan dengan nasopharing melalui
tuba auditiva dan di belakang dengan antrum mastoid. 3,4
Telinga tengah mempunyai atap, lantai, dinding anterior, dinding posterior,
dinding lateral, dan dinding medial. Atap dibentuk oleh lempeng tipis tulang, yang
disebut tegmen timpani, yang merupakan bagian dari pars petrosa ossis
temporalis. Lempeng ini memisahkan kavum timpani dan meningens dan lobus
temporalis otak di dalam fossa kranii media. Lantai dibentuk di bawah oleh
lempeng tipis tulang, yang mungkin tidak lengkap dan mungkin sebagian diganti
oleh jaringan fibrosa. Lempeng ini memisahkan kavum timpani dari bulbus
superior V. jugularis interna. Bagian bawah dinding anterior dibentuk oleh lempeng tipis tulang yang memisahkan kavum timpani dari a. carotis interna. Pada
3

bagian atas dinding anterior terdapat muara dari dua buah saluran. Saluran yang
lebih besar dan terletak lebih ba- wah menuju tuba auditiva, dan yang terletak
lebih atas dan lebih kecil masuk ke dalam saluran untuk m. tensor tympani.
Septum tulang tipis, yang memisahkan saluran-saluran ini diperpanjang ke belakang pada dinding medial, yang akan membentuk tonjolan mirip selat. Di bagian
atas dinding posterior terdapat sebuah lubang besar yang tidak beraturan, yaitu
auditus antrum. Di bawah ini terdapat penonjolan yang berbentuk kerucut, sempit,
kecil, disebut pyramis. Dari puncak pyramis ini keluar tendo m. stapedius.
Sebagian besar dinding lateral dibentuk oleh membran timpani. 3,4
Telinga Dalam
Telinga dalam terletak di dalam pars petrosa ossis temporalis, medial
terhadap telinga tengah dan terdiri atas (1) telinga dalam osseus, tersusun dari
sejumlah rongga di dalam tulang; dan (2) telinga dalam membranaceus, tersusun
dari sejumlah saccus dan ductus membranosa di dalam telinga dalam osseus.3,4
2.2 FISIOLOGI PENDENGARAN
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh pinna
dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang koklea. Getaran
tersebut menggetarkan membrane timpani, diteruskan ke telinga tengah melalui
rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya
ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan lurus membran timpani
dan tingkap lonjong. 5
Energi getaran tersebut akan diteruskan ke stapes yang menggerakan
tingkap lonjong sehingga perilimfe pada skala vestibula bergerak. Getaran
diteruskan melalui membran Reissner yang mendorong endolimfe sehingga akan
menimbulkan gerakan relative antara membran basalis dan membrantektoria.
Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya
defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi
pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini meimbulkan proses
depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinaps

yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke
nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran di lobus temporalis.5
2.3 TRAUMA TELINGA LUAR
Trauma pada telinga luar umum terjadi pada semua kelompok usia.
Aurikula yang tidak terlindungi berisiko untuk semua jenis trauma termasuk
cedera termal dingin atau panas dan cedera tumpul atau tajam yang
mengakibatkan ekimosis, hematoma, laserasi, atau fraktur.1
Hematoma Aurikula
Hematoma aurikula biasanya terjadi setelah trauma tumpul dan umum
terjadi di antara pegulat dan petinju. Mekanisme ini biasanya melibatkan
gangguan traumatis dari pembuluh darah perikondrial. Akumulasi darah dalam
ruang subperikondrial menghasilkan pemisahan perikondrium dari kartilago. Jika
kartilago ini fraktur, darah merembes melalui garis fraktur dan meluas ke bidang
subperikondrium pada kedua sisi. Hal ini menciptakan pembengkakan kebiruan,
biasanya melibatkan seluruh aurikula, meskipun mungkin terbatas pada bagian
atas. Jika lesi tidak ditangani sejak dini, darah akan berorganisasi menjadi massa
fibrosa, yang menyebabkan nekrosis kartilago karena gangguan sirkulasi. Massa
ini membentuk bekas luka yang bengkok, terutama setelah trauma berulang,
menciptakan deformitas dikenal sebagai cauliflower ear.6,7

Gambar 2. Cauliflower ear yang dihasilkan oleh hematoma aurikula.6

Pengobatan didasarkan pada evakuasi hematoma dan aplikasi tekanan


untuk mencegah akumulasi kembali darah. Aspirasi jarum sederhana adalah
pengobatan yang tidak memadai dan sering menyebabkan fibrosis dan organisasi
hematoma. Perawatan yang paling efektif untuk hematoma aurikula adalah insisi
yang memadai dan drainase dengan through-and-through suture secured
bolsters.6,7

Gambar 3. Otohematoma. A, Hematoma dari daun telinga. B, Hematoma


diinsisi dan dievakuasi. C, gulungan dental anterior diikat dengan gulungan
dental posterior pada permukaan telinga. D, tampilan pinggir, menunjukkan
bagaimana bolster diamankan.6
Insisi harus ditempatkan dalam scapha, menselaraskan heliks. Paparan
yang cukup harus diperoleh untuk mengeluarkan seluruh hematoma dan untuk
memeriksa rongga. Jika penundaan telah menghasilkan beberapa bekuan, kuret
cincin tajam dapat digunakan untuk menghilangkan bekuan darah. Gulungan
dental dipotong dengan ukuran yang tepat, diterapkan pada kedua sisi aurikula,
dan diikat dengan jahitan nilon atau sutra through-and-through. Salep antibiotik
6

diaplikasikan di atas sayatan. Gulungan dental dibiarkan ditempatnya selama 7


sampai 14 hari.6,7
Laserasi
Serinngkali sebagai akibat pasien mengorek-ngorek telinga dengan jari
atau suatu alat seperti jepit rambut atau klip kertas. Laserasi dinding kanalis dapat
menyebabkan perdarahan sementara yang membuat pasien cemas, sehingga
menghubungi

dokter.

Biasanya

tidak

memerlukan

pengobatan

selain

menghentikan perdarahan. Pasien diminta untuk datang kembali guna memastikan


tidak ada perforasi membrana timpani.9
Laserasi hebat pada aurikula harus dieksplorasi untuk mengetahui apakah
ada kerusakan tulang rawan. Tulang rawan perlu diperiksa dengan cermat sebelum
dilakukan reparasi plastik pada kulit. Luka seperti ini perlu benar-benar diamati
akan kemungkinan infeksi pada perikondrium. Berikan antibiotik profilaktik bila
ada kontaminasi nyata pada luka atau bila tulang rawan terpapar.9
Laserasi aurikula dengan atau tanpa kehilangan bagian dari aurikula umum
diakibatkan oleh trauma tajam. Hasil yang sangat baik mungkin dapat dicapai jika
prinsip-prinsip bedah diterapkan. Sebuah usaha harus dilakukan untuk
memperbaiki, mempertahankan semua jaringan yang viabel yang tersisa. Ketika
aurikula tidak benar-benar terputus, sebagian besar ia dapat disambung.6
Frosbite
Aurikula sangat rentan terhadap frosbite karena lokasinya terbuka dan
kurangnya jaringan subkutan atau jaringan adiposa untuk melindungi pembuluh
darah. Anestesi yang berkembang di daerah yang terkena dingin yang berat
menghalangi pasien dari setiap peringatan ancaman bahaya. Awalnya terdapat
vasokonstriksi, meninggalkan telinga, terutama ditepi heliks, pucat dan dingin
ketika disentuh. Hiperemia dan edema terjadi setelahnya dan disebabkan oleh
peningkatan bermakna dalam permeabilitas kapiler. Kristalisasi es dari cairan
intraseluler terutama bertanggung jawab untuk kondisi ini, serta nekrosis seluler
pada jaringan sekitarnya. Telinga menjadi bengkak, merah, dan tender, dan bula
bisa terbentuk di bawah kulit, yang menyerupai luka bakar derajat pertama.7

Frostbite telinga harus cepat dihangatkan. Katun steril basah dengan suhu
38 sampai 42C digunakan sampai telinga menjadi hangat. Telinga harus
diperlakukan dengan lembut karena risiko kerusakan lebih lanjut pada jaringan
yang sudah mengalami trauma dan melemah. Analgesik dan antibiotik profilaksis
mungkin diperlukan. Jaringan nekrotik dibersihkan, yang inhibitor tromboksan
topikal dari lidah buaya dipakai, dan obat-obatan antiprostaglandin seperti
ibuprofen mungkin berguna.1,6,7
Luka Bakar
Luka bakar secara tradisional diklasifikasikan dalam tiga derajat
keparahan: eritema (derajat pertama), blistering (derajat kedua), dan destruksi
ketebalan penuh (derajat ketiga). Luka bakar karena cairan panas atau terbakar
sering dengan ketebalan penuh. Jika tidak diterapi, luka bakar dapat menyebabkan
perikondritis. Penting untuk menghindari tekanan pada telinga, dan membersihkan
dengan lembut dan menggunakan antibiotik topikal. Penggunaan antibiotik
profilaksis

antipseudomonas

dianjurkan.

Antibiotik

dapat

diinjeksikan

subperikondrium di beberapa lokasi injeksi yang berbeda di seluruh permukaan


anterior dan posterior aurikula. Penggunaan krim mafenide acetate (Sulfamylon)
setelah membersihkan luka dianjurkan. Pada tahap akhir, debridement dan skin
grafting mungkin diperlukan. Perikondritis dan kondritis harus ditangani dengan
iontoforesis antibiotik, debridement dini, dan grafting.6

2.4 TRAUMA MEMBRAN TIMPANI DAN TELINGA TENGAH


Trauma pada membran timpani dan telinga tengah dapat disebabkan oleh
(1) overpressure, (2) luka bakar termal atau kaustik, (3) luka tumpul atau
penetrasi, dan (4) barotrauma. Overpressure adalah mekanisme trauma yang
paling umum pada membran timpani. Penyebab utama dari overpressure yaitu
cedera tamparan dan luka ledakan. Cedera tamparan sangat umum dan dapat
dihasilkan oleh tamparan tangan atau air. Cedera tamparan biasanya menghasilkan
robekan segitiga atau linear dari membran timpani7.

Gambar 4. Gambar yang mengilustrasikan perforasi membran timpani di


bagian anteroinferior dari drumhead.6
Sebagian besar perforasi tersebut menyebabkan gangguan pendengaran
ringan, rasa penuh di telinga, dan tinnitus ringan. Cedera ledakan, meskipun
kurang umum, berpotensi lebih serius. Cedera ledakan mungkin disebabkan oleh
ledakan bom, ledakan bensin, dan penyebaran kantung udara dalam kecelakaan
mobil. Cedera ledakan dari ledakan bom tidak hanya mengganggu membran
timpani tetapi juga dapat menyebabkan fraktur tulang temporal, diskontinuitas
osikular, atau gangguan pendengaran sensorineural frekuensi tinggi karena cedera
koklea. Selain itu, cedera ledakan dapat menyebabkan fistula perilimfatik (PLF),
dengan gangguan pendengaran progresif dan berfluktuasi, vertigo, dan
disekuilibrium.8
Dalam sebuah laporan oleh Hallmo, audiometri konduksi udara dan tulang
dalam rentang frekuensi masing-masing 0.125 sampai 18 kHz dan 0,25 sampai 16
kHz, dilakukan pada 38 pasien dengan perforasi membran timpani unilateral
traumatik, yang sebagian besar disebabkan oleh cedera overpressure. Peningkatan
ambang konduksi tulang ditemukan pada 16 telinga. Peningkatan ambang
konduksi tulang dan tinnitus berkurang seiring dengan waktu, tetapi pada 9 pasien
ia permanen. Penutupan perforasi membran timpani menghasilkan perbaikan 7
sampai 20 dB dari ambang konduksi udara, sedikit kurang di atas dibandingkan
pada frekuensi yang lebih rendah. Gangguan pendengaran konduktif akhir rata9

rata 3 dB ditemukan sekitar 5 bulan setelah cedera, mungkin karena bekas luka
pada lokasi bekas perforasi. 8
Setelah cedera overpressure, darah, sekret purulen, dan debris harus secara
hati-hati disedot dari kanal telinga, dan ukuran perforasi dan lokasi harus dicatat.
Irigasi dan otoskopi pneumatik harus secara spesifik dihindari pada pasien ini.
Kemampuan mendengar bisikan serta tes garpu tala harus didokumentasikan, dan
audiogram harus diperoleh segera setelah kondisi pasien memungkinkan.
Pemeriksaan neurotologik lengkap juga harus dilakukan pada pasien untuk
mendokumentasikan status dari saraf kranial termasuk saraf fasialis dan saraf
vestibular begitu juga dengan sistem saraf pusat. Jika perforasi membran timpani
kering, ia harus diobservasi (yaitu, tetesan tidak diindikasikan). Jika terdapat
drainase yang melalui perforasi membran timpani, klinisi harus menentukan dan
memperhatikan apakah drainase sesuai dengan cairan cerebrospinal (CSF). Jika
dicurigai adanya kebocoran CSF, CT scan tulang temporal segera harus diperoleh
untuk menyingkirkan fraktur. Jika drainase tidak sesuai dengan CSF, antibiotik
oral dan ciprofloxacin serta hidrokortison tetes telinga harus diresepkan. Riwayat
vertigo atau mual dan muntah dan audiogram yang menunjukkan gangguan
pendengaran konduktif lebih dari 30 dB menyarankan terganggunya rantai
osikular. Gangguan pendengaran sensorineural yang bermakna juga menandakan
kerusakan oval window atau kerusakan koklea.
Cedera termal terhadap membran timpani termasuk cedera pengelasan dan
cedera petir. Cedera pengelasan terjadi ketika arang besi panas memasuki kanal
telinga dan melewati membran timpani. Sebagian besar cedera ini mengakibatkan
inflamasi di telinga tengah dengan drainase. Panosian dan Dutcher melaporkan
dua pasien dengan paralisis fasialis yang disebabkan oleh arang besi panas di
telinga tengah. Salah satu pasien mereka juga menderita gangguan pendengaran
sensorineural. Cedera pengelasan sering mengakibatkan perforasi yang tidak
sembuh, baik sebagai akibat dari infeksi atau mungkin karena arang besi
membakar atau mendevaskularisasi membran timpani saat melewatinya. Jika
infeksi terjadi, pasien diobati dengan ciprofloxacin dan tetes telinga hidrokortison
serta antibiotik oral. Jika perforasi kering, ia harus diobservasi selama jangka
10

waktu 12 minggu untuk penyembuhan spontan. Jika drumhead tidak sembuhsembuh, timpanoplasti harus dilakukan.
Cedera petir dan listrik tidak jarang, dan cedera telinga yang paling sering
adalah perforasi dari membran timpani. Gangguan vestibular yang paling umum
adalah vertigo transien. Temuan klinis lainnya meliputi gangguan pendengaran
sensorineural, gangguan pendengaran konduktif, tinnitus, fraktur tulang temporal,
avulsi dari prosesus mastoid, luka bakar dari kanal telinga, dan paralisis saraf
fasialis. Jones dkk melaporkan satu pasien dengan PLF oval window bilateral
setelah sambaran petir. Manajemen awal pasien yang tersambar petir terdiri dari
langkah-langkah pendukung kehidupan. Setelah itu, pasien harus menjalani
pemeriksaan audiovestibular menyeluruh. Perforasi membran timpani yang
disebabkan oleh cedera petir sering tidak sembuh, mungkin sebagai akibat dari
kauterisasi atau devaskularisasi dari membran timpani, seperti cedera pengelasan.
Cedera ini diterapi seperti yang dijelaskan sebelumnya untuk cedera pengelasan.
Timpanoplasti harus ditunda pada pasien ini selama 12 minggu karena
penyembuhan spontan dapat terjadi selama waktu tersebut.
Cedera kaustik pada membran timpani dapat menyebabkan perforasi.
Dengan kaustik alkali, membran timpani rusak dengan likuefaksi nekrosis, yaitu,
kaustik alkali menembus membran timpani, yang menyebabkan oklusi pembuluh
darah yang dapat meluas lebih jauh dari perforasi yang terlihat. Akibatnya, ukuran
perforasi dapat tidak sepenuhnya ditentukan sampai semua inflamasi selesai.
Selanjutnya, setelah cedera kaustik, telinga tengah dapat mengembangkan reaksi
granulasi yang luas dengan skarifikasi, fiksasi osikular, dan infeksi kronis. Luka
kaustik juga dapat menyebabkan penumpulan kanal karena permukaan baku yang
mengelilingi kanal membentuk sikatriks, yang mengarah ke penyempitan kanal
telinga dan hilangnya permukaan vibrasi membran timpani. Demikian pula,
setelah cedera kaustik, miringitis kronis dapat terjadi di permukaan membran
timpani, yang menciptakan raw weeping suurface dengan granulasi pada
permukaan drumhead tersebut. Cedera kaustik pada awalnya diterapi dengan
ciprofloxacin dan tetes telinga hidrokortison, antibiotik oral, dan analgesik.
Penilaian audiologi dan evaluasi neurotologi lengkap diindikasikan dalam luka
11

kaustik untuk menentukan sejauh mana cedera. Ketika telinga telah stabil, dan
sebaiknya ketika drainase telah berkurang, telinga tengah dan membran timpani
dapat direkonstruksi.
Perforasi membran timpani secara historis memiliki tingkat kesembuhan
yang mendekati 80%. Ulasan Kristensen pada lebih dari 500 teks mengenai
masalah tersebut menemukan bahwa tingkat penyembuhan spontan tampaknya
78,7% pada 760 kasus yang dapat dievaluasi dari perforasi membran timpani
traumatis dari segala sumber yang dilihat dalam waktu 14 hari setelah cedera.
Ruptur yang diinduksi oleh panas atau korosi, benda asing, dan tekanan air kurang
mungkin untuk sembuh, mungkin karena mereka lebih besar atau lebih mungkin
terinfeksi. Rybak dan Johnson juga melaporkan bahwa cedera tamparan air kurang
mungkin untuk sembuh sebagai akibat dari infeksi. 8
Griffin melaporkan 227 perforasi traumatik yang diterapi di prakteknya
pada tahun 1969-1977. Dia menyimpulkan bahwa perforasi yang lebih besar,
cedera petir dan pengelasan, dan telinga yang terinfeksi kurang mungkin untuk
sembuh. Hasil pendengaran yang baik ditemukan terlepas dari metode
timpanoplasti, meskipun penyembuhan spontan menghasilkan hasil akhir yang
terbaik. 8
Apapun metode yang digunakan, kesuksesan timpanoplasti membutuhkan
paparan yang memadai, debridement granulasi telinga tengah dan jaringan parut,
de-epitelisasi dari perforasi, dan penempatan graft dengan hati-hati termasuk
dukungan dari graft hingga penyembuhan terjadi.
Trauma penetrasi pada telinga tengah dapat, tentu saja, menghasilkan
perforasi membran timpani, tetapi tidak seperti overpressure dan cedera termal,
kejadian gangguan osikular, saraf fasialis, dan cedera telinga tengah lainnya jauh
lebih besar. Penyebab paling umum yaitu tembakan kecepatan rendah diikuti
dengan cedera oleh benda asing seperti tongkat atau instrumen. Jenis cedera ini
harus dicurigai pada pasien dengan perforasi membran timpani, darah di telinga
tengah atau liang telinga, dan adanya vertigo atau pusing, gangguan pendengaran
konduktif lebih besar dari 25 dB, gangguan pendengaran sensorineural, atau
paralisis fasialis. Pada pasien ini, kanal telinga harus dengan lembut disedot dan
12

dibersihkan di bawah penglihatan mikroskopis, dan membran timpani dan telinga


tengah harus dengan hati-hati diperiksa. Pemeriksaan neurotologi menyeluruh,
termasuk evaluasi saraf fasialis dan pemeriksaan terhadap nistagmus, stabilitas
gait, tes fistula, tes Romberg, dan tes Dix- Hallpike, harus dilakukan. Pencitraan
termasuk CT scan tulang temporal, magnetic resonance imaging (MRI), dan
bahkan arteriografi dapat diindikasikan tergantung pada jenis cedera yang
dicurigai. 8

Fraktur Tulang Temporal


Fraktur dari tulang temporal disebabkan oleh cedera tumpul, dan
tergantung pada gaya dan arah dari pukulan yang diterima, berbagai jenis fraktur
dapat terjadi. Trauma tumpul dapat dihantarkan oleh suatu obyek yang menyerang
kepala atau dengan kepala yang dibenturkan terhadap suatu obyek yang padat.
Secara tradisional, fraktur tulang temporal diklasifikasikan sebagai longitudinal
(ekstrakapsular) atau transversal (kapsular) sehubungan dengan aksis panjang dari
bagian petrosa dari tulang temporal. Keduanya merupakan fraktur basis kranii dan
mengakibatkan ekimosis dari kulit postaurikula (tanda Battle). 8

Gambar 5. Gambar yang menunjukkan anatomi dari basis kranii. Di bagian


kiri merupakan fraktur longitudinal atau ekstrakapsular. Di bagian kanan
yaitu fraktur transversal atau kapsular. 8
13

Fraktur longitudinal, sejauh ini, merupakan yang paling sering terjadi,


yaitu sekitar 70-90% dari fraktur tulang temporal, dan biasanya dihasilkan dari
pukulan lateral langsung pada aspek temporal atau parietal dari kepala. Fraktur
longitudinal dimulai dari kanal auditori eksternal dan memanjang melalui telinga
tengah dan di sepanjang aksis panjang dari piramida petrosa. Secara karakteristik,
terdapat perdarahan dari kanal telinga akibat laserasi dari kulitnya dan dari darah
yang keluar melalui membran timpani yang mengalami perforasi. Paralisis fasialis
terjadi pada 15%, dan gangguan pendengaran sensorineural terjadi pada 35%7.
Fraktur transversal biasanya dihasilkan dari impaksi deselerasi pada area
oksipital. Garis fraktur menyeberangi aksis panjang dari bagian petrosa dari
tulang temporal dan biasanya memanjang melalui koklea dan kanal fallopi, yang
menghasilkan gangguan pendengaran sensorineural dan paralisis fasialis pada
kebanyakan kasus. Terdapat perdarahan ke dalam telinga tengah, tetapi membran
timpani tetap intak dan menjadi biru kehitaman akibat hemotimpanum7.

14

BAB III
STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. HN

Umur

: 7 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan


Alamat

: Jl. Dharma Bakti, Dumai.

Suku Bangsa : Melayu

ANAMNESA
Keluhan Utama

: Telinga kanan dan kiri berdarah

Riwayat Penyakit Sekarang :


Telinga kanan dan kiri berdarah sejak tadi malam. Pasien tidak merasakan
nyeri, demam, batuk pilek. Pasien juga tidak mengeluhkan adanya gangguan
pendengaran. Menurut pengakuan ibu pasien, sebelumnya An.H terjatuh dari
sepeda 1 hari yang lalu.
Riwayat Penyakit Dahulu

Telinga pernah tertusuk cutton bud dan berdarah. Keluhan sudah pernah
diobati kedokter dan sembuh.
Riwayat Penyakit Keluarga

:-

Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi dan Kebiasaan :


-

Anak HN suka membersihkan telinga sendiri dengan cutton bud.

15

PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS
-

Keadaan umum

: tampak sakit ringan

Kesadaran

: composmentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Frekuensi nadi

: 60 x/menit

Suhu tubuh

: 36oC

PEMERIKSAAN SISTEMIK
Kepala
Mata

: Seklera tidak kuning, konjungtiva tidak pucat, refleks pupil +/+.

Hidung

: Sekret tidak ada, deviasi septum tidak ada.

Mulut

: Mukosa bibir kering (-), sianosis (-), lidah tremor (-), faring

hiperemis (-)
Thoraks
a. Paru-paru
Inspeksi

: Gerakan dinding dada simetris, retraksi sela iga tidak ada.

Palpasi

: Fremitus suara +/+, simetris kanan dan kiri.

Perkusi

: Sonor kedua lapang paru.

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler, Ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada.

b. Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi

: Ictus cordis teraba. Thrill tidak ada.

Perkusi

- Batas jantung kanan: SIC IV linea parasternalis dekstra.

16

- Batas jantung kiri: SIC V 1 jari medio linea midclavicula sinistra.


Auskultasi

: Bunyi jantung I & II, reguler, gallop tidak ada, Murmur tidak ada.

Abdomen
Inspeksi

: Bentuk datar, ascites tidak ada.

Auskultasi

: Bising usus positif, lemah.

Palpasi

: Tidak ada pembesaran hepar dan lien, turgor kulit kembali


lambat.

Perkusi

: Timpani.

Ekstremitas
Superior

: Akral hangat, edema tidak ada, sianosis tidak ada, tidak ada
kelemahan.

Inferior

: Akral hangat, edema tidak ada, sianosis tidak ada. Tidak ada
kelemahan kedua tungkai.

STATUS LOKALIS THT


TELINGA
Pemeriksaan

Kelainan

Daun telinga

Kelainan kongenital

Trauma

Tampak laserasi

Tampak

pada liang

laserasi pada

telinga

telinga tengah

Radang

Nyeri tarik

Lapang/sempit

Hiperemis

Edema

Massa

Liang telinga

Dekstra

Sinistra

17

Sekret/serumen

Bau

Warna

Merah

Merah

Jumlah

Membran tympani
Utuh

Perforasi

Warna

bening

bening

Refleks cahaya

Bulging

Retraksi

Atrofi

Jumlah perforasi

Jenis

Kuadran

Bentuk

Warna mukosa

Fistel

Sikatrik

Nyeri tekan

Nyeri ketok

Rinne

Weber

Schwabach

telinga tengah
Mastoid

Tanda
radang/abses

Tes garpu tala

Diagnosis

: Trauma liang telinga

Diagnosis Diferensial

:-

18

Pemeriksaan penunjang

:-

TERAPI
Non medikamentosa

: edukasi pasien untuk tidak membersihkan telinga

sendiri
Medikamentosa

:-

Terapi anjuran

:-

Prognosis

: dubia ad bonam

BAB IV
ANALISIS KASUS
Berdasarkan kasus diatas diagnosis pasien adalah trauma liang telinga.
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis
ditemukan adanya keluhan keluar darah dari liang telinga kanan dan kiri,
kemudian pada pemeriksaan fisik tampak laserasi pada kedua liang telinga kanan
dan kiri. Pada kasus ini sulit memastikan penyebab laserasi pada liang telinga
karena pasien anak-anak sehingga kurang kooperatif.

19

Penanganan pertama yang dapat dilakukan pada kasus ini adalah


menghentikan perdarahan dan memastikan kondisi membran timpani. Pemberian
antibiotik profilaksis diberikan berdasarkan luas laserasinya dan bertujuan
mencegah infeksi pada liang telinga. Selain itu, edukasi orangtua pasien agar tidak
membersihkan telinga anak dengan cara yang tidak benar karena dapat
menyebabkan laserasi pada liang telinga. Contohnya membersihkan telinga
dengan cutton bud yang terlalu sering dapat menyebabkan trauma berulang yang
dapat menyebabkan laserasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ksilevsky VE, et al. Ear Trauma: Investigating the Common Concerns. The
Canadian Journal of Diagnosis. 2003;111-115
2. Gambar anatomi telinga. Diunduh dari :
http://www.jludwick.com/Notes/Miscellaneous/Insurance.html . Pada tanggal
20 Juni 2014.
3. Moore,keith L. Anatomi Klinis Dasar.EGC. Jakarta .2002

20

4. Snell Richard : Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6.


Penerbit: EGC. Jakarta 2006.
5. Arsyad Soepardi, Efiaty; Nurbaiti Iskandar, Jenny Bashiruddin, Ratna Dwi
Resuti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala &
Leher; Edisi ke-tujuh. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2012.
6. Menner AL. 2003. A Pocket Guide to the Ear. Thieme Stuttgart:New York.
pp.47-48
7. Sharma K, et al. Auricular Trauma and Its Management. Indian Journal of
Otolaryngology and Head and Neck Surgery, 2006; 58(3):232-233
8. Schwaber MK. Trauma to the Middle Ear, Inner Ear, and Temporal Bone. In:
Snow JB, Ballenger JJ. 2003. Ballengers Otorhinolaryngology Head and
Neck Surgery . 16th edition. BC Decker Inc: Spain. Pp. 345-355.
9. Adams GL., Boies LR., Highler PA. Buku Ajar Penyakit THT (Boies
fundamentals of otolaryngology). Edisi 6. Jakarta : EGC, 1997.

21