Anda di halaman 1dari 20

KEPEMIMPINAN

DEDI MULYASANA

benar saja belum cukup, tapi


dibutuhkan nilai-nilai kebaikan dan
kepatutan. Benar dalam ukuran
normatif belum tentu baik dan patut
menurut ukuran hati dan
kemanusiaan. Oleh karena itu,
seorang pemimpin harus memiliki
ukuran tentang kebaikan dan
kepatutan tentang sikap dan
tindakannya.

prinsip dasar
baik dan patut saja belum cukup tapi
dibutuhkan kejujuran, keteladanan dan
keadilan.
Pemimpin boleh salah tapi pemimpin tidak boleh
berbohong dan membohongi rakyatnya.
Pemimpin boleh sakit tapi tidak boleh
kehilangan teladan.
Pemimpin boleh gagal dalam melakukan tugas
kepemimpinannya tapi tidak boleh kehilangan
keadilan.

Tugas pemimpin bukan sekedar mengatur,


menertibkan, memberi hadiah dan
hukuman semata, tapi juga harus mampu
membangun kebersamaan serta
memperjuangkan tegaknya nilai-nilai
keadilan, kejujuran, kebaikan dan
kebenaran
membangun sikap saling memahami, saling
bekerjasama dan sikap saling menutupi
kelemahan dan kekurangan masing-masing.

Yang diperjuangkan oleh pemimpin


bukan hanya sekedar kesejahteraan,
tapi juga keamanan, karier, dan
kehormatan bawahan.
Oleh karena itu, pemimpin tidak boleh
mengukur kepuasan staf atau bawahan
hanya dengan ukuran uang semata.
Kepuasan orang yang dipimpin harus
dilihat secara menyeluruh baik dari
sudut kesejahteraannya, keamanannya,
maupun kehormatannya.

Hasan Al-Basri
bagai Pengembala yang menyayangi ternaknya; Ia
giring ternaknya ke tempat yang subur dan banyak
air; Ia lindungi dari kebinasaan dan dari binatang
buas; Ia lindungi dari panas terik matahari
Bagai seorang ayah yang menyayangi anaknya; Ia
ikut sakit bila anaknya sakit dan menderita;
dinafkahi, dididik, dilindungi dari kejelakan, dan
dibesarkan tanfa pamrih
Bagai Ibu yang mencintai anaknya; Tidak benci
sekalipun menyusahkan selama dalam kandungan;
Ia tidak tidur ketika anaknya sakit dan menderita; Ia
senang bila anaknyabahagia; jalinannya selalu
terjaga oleh kecintaannya yang tulus

Nabi Muhammad saw bahwa,


Pemimpin suatu kaum adalah
pelayan mereka. (HR. Ibnu Majah).
Konsep umum: pemimpin itu
penguasa bagi mereka yang
dipimpinnya.

Wahai Allah, siapa yang


menjabat suatu jabatan dalam
pemerintahan umatku, lalu dia
mempersulit urusan mereka,
maka persulit pulalah dia, dan
siapa yang menjabat suatu
jabatan dalam pemerintahan
umatku, lalu dia berusaha
menolong mereka, maka tolong
pulalah dia (HR. Muslim No. 1795)

, Setiap penguasa yang diberi wewenang oleh


Allah untuk mengayomi rakyat, lalu mati
dalam (keadaan sedang) menipu rakyatnya,
kecuali Allah mengharamkan baginya surga
(HR. Bukhori Muslim).
Barangsiapa yang kami angkat diantara
kamu memangku suatu jabatan, lalu
disembunyikannya terhadap kami sebuah
jarum atau lebih kecil dari itu, maka
perbuatannya itu adalah
penggelapan/korupsi. Dia akan datang
pada Hari Kiamat membawa barang yang
digelapkannya itu (HR. Muslim No. 1801)

Sepeninggalku nanti akan ada pembesarpembesar negara yang mementingkan diri


sendiri dan bertindak dengan
tindakan/kebijakan yang tidak kamu sukai
(mengenai kekayaan negara). Tanya
sahabat: Bagaimana petunjuk Anda kepada
kami bersua dengan pembesar-pembesar
seperti itu ? Jawab Beliau: Penuhi
kewajibanmu dan mohonlah hakmu
kepada Allah swt (HR. Muslim No. 1811)

Kegagalan dalam
kepemimpinan
Orang yang berpikir tapi tidak pernah
bertindak Orang yang bertindak tapi tidak
pernah berpikir (Reverend W.A. Nance).
Menetapkan kebijakan dan mengambil
keputusan tidak mengacu pada masalah
dan data yang benar.
Visi, misi, tujuan dan program tidak
didukung oleh anggaran, sarana &
prasarana serta kinerja guru/ karyawan
yang memadai.

Tugas, fungsi, peran dan tanggung jawab


tidak sesuai dengan penghargaan dan
kewenangan yang dimilikinya.
Tidak objektif dan terlalu berlebih
memberikan penilalain pada diri sendiri,
sehingga ia gagal melakukan kritikan dan
penilaian thd diri sendiri. Akibatnya
pemimpin tidak mau membuka ruang bagi
kemajuan dan pengembangan.
Lebih mengutamakan keuntungan jangka
pendek daripada pertumbuhan jangka
panjang

Terlalu fokus pada hal yg bersifat teknis serta


mengabaikan hal-hal yang bersifat strategis.
Menempatkan SDM tidak sesuai dengan
bidang keahliannya.
Program kerja sekolah/ organisasi tidak
disesuaikan dengan potensi, masalah, dan
kecenderungan. Akibatnya program sekolah
hanya merupakan sejumlah keinginan
semata (tidak riil).
Kesalahan dalam menerapkan strategi
pengembangan organisasi. (Safety strategy,
survival strategy, development strategy ? )

Tidak memandang guru/ karyawan sebagai


orang yang memiliki karakteristik, kemampuan,
minat dan latar belakang yang beragam. Salah
dalam menerapkan pola kepemimpinan.
Hilangnya wibawa dan daya pengaruh akibat
lemahnya komitmen/hilangnya teladan, serta
tidak bekerja secara profesional.
Selalu menunggu dan tidak berani memulai,
serta bersikap menyerah, sering mengeluh dan
tidak percaya diri.

Kesia-siaan
Temperamental - Kemarahan
Kejengkelan
Menyimpan dendam dan kebencian
Dosa dan kemaksiatan
penyimpangan
Kemalasan
Ketidakpercayaan diri
Bersikap, berpikir dan berbuat tanpa
tujuan

Kunci sukses
Keberanian memulai dan
kemampuan membangun jaringan
dengan baik.
Kuasai orang lain dengan cara
menciptakan suasana yang
menyenangkan bagi mereka
Berdayakan orang lain dengan cara
menciptakan suasana yang
mendorong semua pihak merasa
dirinya penting dan berharga.

Kemampuan menjual kepercayaan dari


sekedar menjual gedung, sarana, tenaga dan
keterampilan yang tidak ditata secara
professional
lebih memilih win-win solution daripada win-los
atau los-los
Kemampuan menciptakan ruang yang
memungkinkan pendidik, tenaga kependidikan
dan peserta didik mampu membangun spirit,
kreativitas dan budaya mutu.

Kemampuan mengakui dan menghargai


sekecil apapun wewenang, prestasi dan
jasa baik semua pihak.
Tidak memberi penilaian berlebih terhdap
diri sendiri. taksir dan nilai kemampuan
dan daya pengaruh anda dalam lingkungan
dimana anda bekerja.
Tidak takut pada kegagalan, tapi takutilah
kemalasan, ketidak disiplinan, dan ketidakjujuran guru/ karyawan dan peserta didik.

mencintai pekerjaan dan selalu tampil yang terbaik


serta memiliki semangat selalu berada di depan.
Kemampuan menguasai sumber-sumber informasi
dan pemanfaatan peluang.
Kemampuan membangun jalan pikiran orang secara
benar.
Berkonsentrasi pada peningkatan pertumbuhan
jangka panjang daripada keuntungan jangka pendek.
Lebih memilih tim kerja yang objektif, professional
dan mampu berkata ya dan tidak secara benar
kepada anda. Jangan cari orang yang tidak dapat
mengatakan tidak kepada anda.

Tidak memimpin dengan kecemasan,


ancaman, dendam dan kebencian,
serta kemampuan menghindari
konflik dan benturan kepentingan
Hidup dan bekerjalah dengan nilainilai dan prinsip-prinsip yang jelas.
Kemampuan membaca kebutuhan,
jalan pikran dan karakteristik
bawahan/ orang lain.