Anda di halaman 1dari 13

SKRINING PENDENGARAN PADA BAYI

Untuk dapat melakukan deteksi dini gangguan pendengaran pada seluruh bayi dan
anak relatif sulit, karena akan membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar.
Program skrining sebaiknya di prioritaskan pada bayi dan anak yang mempunyai risiko
tinggi terhadap gangguan pendengaran.Deteksi dini penting untuk dilakukan karena jika
gangguan pendengaran tidak disadari sampai anak tersebut berumur 2-3 tahun maka
dapat terjadi keterlambatan perkembangan dari segi berbicara, kemampuan berbahasa dan
kognitif. Untuk maksud tersebut Joint Comitee on infant Hearing menetapkan pedoman
registrasi resiko tinggi terhadap ketulian sebagai berikut:
Untuk bayi 0-28 hari:

Riwayat keluarga dengan tuli sensorineural sejak lahir


Infeksi masa hamil
Kelainan kraniofasial termasuk kelainan pada pinna dan liang telinga
Berat badan lahir <1500 gr
Hiperbilirubinemia yang memerlukan transfusi
Obat ototoksik
Meningitis bakterialis
Nilai apgar 0-4 pada menit pertama; 0-6 pada menit kelima
Ventilasi mekanik 5 hari atau lebih di NICU

Untuk bayi usia 29 hari-2 tahun :


Kecurigaan orang tua atau pengasuh tentang gangguan pendengaran, keterlambatan
berbicara, berbahasa dan atau keterlambatan perkembangan
Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran menetap sejak masa anak-anak
Keadaan yang berhubungan dengan sindroma tertentu yang diketahui memilki
hubungan dengan tuli sensorineural,atau konduktif atau gangguan fungsi tuba
eustachius.

Infeksi

postnatal

yang

menyebabkan

gangguan

pendengaran

sensorineural termasuk meningitis bakterialis


Infeksi intrauterin
Hiperbilirubinemia yang memerlukan transfusi tukar, hipertensi pulmonal yang
memerlukan ventilator.
Sindroma yang berhubungan dengan gangguan pendengaran yang progresif seperti
usher syndrom,neurofibromatosis,osteoporosis.

Adanya kelainan neurodegeneratif seperti hunter syndrome dan kelainan neuropati


sensomotorik misalnya friederichs ataxia, charcot-marie tooth syndrome
Trauma kapitis
Otitis media yang menetap dan berulang disertai efusi telinga tengah minimal 3
bulan.
Bayi yang mempunyai salah satu faktor risiko diatas mempunyai kemungkinan
ketulian 10,2 kali lebih besar. Bila terdapat 3 buah faktor risiko, kecenderungan
menderita ketulian diperkirakan 63 kali lebih besar dibanding dengan bayi yang tidak
memilki faktor risiko. Perkiraan adanya gangguan pendengaran pada bayi dan anak dapat
dilihat berdasarkan kemampuan bicara pada anak, perkiraan adanya gangguan
pendengaran pada bayi dan anak berdasarkan kemampuan bicara dapat dilihat jika:
-

Usia 12 bulan : anak belum mampu mengoceh (babling) atau meniru bunyi
Usia 18 bulan : tidak dapat menyebutkan 1 kata yang mempunyai arti
24 bulan : perbendaharaan kata kurang dari 10 kata
30 bulan : belum dapat merangkai kata-kata

Skrining dapat dilakukan untuk mendetesi gangguan pendengaran pada bayi sebelum
dilakukan tes pendengaran. Adapun metode-metode pendekatan yang dapat dilakukan
antara lain :
- Family Questionaries
Merupakan metode dimana orang tua atau perawat bayi/anak ditanyakan
mengenai respon bayi terhadap suara dan perkembangan wicara. Bayi yang
memiliki respon buruk terhadap suara dan perkembangan wicara dapat dijadikan
sebagai rujukan untuk dilakukan pemeriksaan audiologi(13)
- Behavioral Measure
Melalui tahapan ini, bayi yang diperiksa akan dinilai responnya terhadap
behavioural measuring devices ( mulai dari penanda suara yang sederhana sampai
penanda suara yang kompleks ) dapat diidentifikasi jika terdapat gangguan
pendengaran. (13)
-

Physiological Measures

Pada pemeriksaan ini metode Otoacoustic Emission (OAE) dan Auditory


Brainstem Response (ABR) merupakan pemeriksaan yang direkomendasikan
efektif untuk skreening gangguan pendengaran pada bayi dan anak-anak. (13)
PROGRAM SKRINING PENDENGARAN PADA BAYI
Gejala awal gangguan pendengaran pada umumnya tidak jelas sehingga
program skrining menjadi cara yang paling efektif untuk deteksi dini. Deteksi dini
gangguan pendengaran dan intervensi segera sangat mempengaruhi prognosis.
Untuk deteksi dini, diperlukan suatu program skrining gangguan pendengaran
dengan alat skrining yang efektif, efisien, dan mudah digunakan serta memiliki
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. The Centers for Disease Control and
Prevention Early Hearing Detection and Intervention (EHDI) dan The Joint
Commitee on Infant Hearing (JCIH), merekomendasikan skrining gangguan
pendengaran pada semua bayi baru lahir sebelum berusia tiga bulan dan
memberikan intervensi sebelum berusia enam bulan agar proses tumbuh kembang
tidak terhambat. Pemeriksaan dengan teknologi elektrofisiologi (BERA
(Brainstem Evoked Response Audiometry) dan Otoacoustic Emission (OAE))
merupakan alat skrining yang direkomendasikan karena memiliki sensitivitas dan
spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi gangguan pendengaran. (15)

Baku emas (gold standard) pemeriksaan skrining pendengaran pada bayi


(1) Otoacoustic Emission(OAE) (2) Automated ABR ( BERA Otomatik)

Pemeriksaan pendengaran pada bayi dan anak harus dapat menentukan(1) :


a. Jenis gangguan pendengaran (sensorineural, konduktif, dan campuran)

b. Derajat gangguan pendengaran (ringan sampai berat)


c. Lokasi kelainan (telinga luar, tengah, dalam, koklea, retrokoklea)
d. ambang pendengaran dengan frekuensi spesifik
Skrining gangguan pendengaran di rumah sakit (hospital based
hearing screening) dikelompokan menjadi :
1. Universal Newborn Hearing Screening (UNHS)
2. Targeted Newborn Hearing Screening
1. Universal Newborn Hearing Screening (UNHS)
Dilakukan pada semua bayi baru lahir (dengan atau tanpa faktor
risiko terhadap gangguan pendengaran). Skrining awal dilakukan
dengan pemeriksaan Otoacoustic Emission (OAE) sebelum bayi keluar
dari rumah sakit (usia 2 hari). Bila bayi lahir pada fasilitas kesehatan
yang tidak memiliki sarana OAE, paling lambat pada usia 1 bulan telah
melakukan pemeriksaan OAE di tempat lain. Bayi dengan hasil skrining
Pass (lulus) maupun Refer (tidak lulus) harus menjalani pemeriksaan
BERA (atau BERA otomatis) pada usia 1 3 bulan. Pada usia 3 bulan,
diagnosis harus sudah dipastikan berdasarkan hasil pemeriksaan: OAE,
BERA, timpanometri (menilai kondisi telinga tengah). Untuk bayi yang
telah dipastikan mengalami gangguan pendengaran sensorineural,
perlu dilakukan pemeriksaan ASSR (Auditory Steady State Response)
atau BERA dengan stimulus tone burst, agar diperoleh informasi
ambang dengar pada masing-masing frekuensi; hal ini akan membantu
proses pengukuran alat bantu dengar yang optimal. Khusus untuk bayi
yang tidak memiliki liang telinga (atresia) diperlukan pemeriksaan
tambahan

berupa

BERA

hantaran

tulang

(bone

conduction).

Berdasarkan tahapan waktu tersebut di atas, habilitasi pendengaran


sudah harus dimulai pada usia 6 bulan.
Kriteria UNHS:
1. Mudah dikerjakan serta memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang
tinggi sehingga kejadian refer minimal.
2. Tersedia intervensi untuk habilitasi gangguan pendengaran.

3. Skrining, deteksi dan intervensi yang dilakukan secara dini akan


menghasilkan outcome yang baik.
4. Cost-effective.
Kriteria keberhasilan : cakupan (coverage) 95 %, nilai refferal : < 4 %
(16)

2.Targeted Newborn Hearing Screening


Skrining pendengaran yang dilakukan hanya pada bayi yang
mempunyai faktor risiko terhadap gangguan pendengaran. Kelemahan
metode ini adalah sekitar 50 % bayi yang lahir tuli tidak mempunyai

faktor risiko. Model ini biasanya dilakukan di NICU (Neonatal ICU) atau ruangan
Perinatologi.
Adapun jenis-jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan pada skrining
pendengaran pada bayi antara lain :
A. Behavioral Observation Audiometry (BOA)
Tes BOA dilakukan dengan memprovokasi respon perilaku untuk stimulus
akustik dan respon gerakan tubuh, pelebaran mata, membuka mata, atau atau
perubahan tingkat menghisapnya setelah diberikan stimulus. Digunakan untuk
bayi baru lahir sampai usia 6 bulan. Tes ini digunakan untuk menyingkirkan
gangguan pendengaran pada bayi.(17)
Tujuan : membantu dalam menentukan perkembangan kemampuan audiotorik
secara global. Tes ini tidak tepat jika digunakan sebagai skrining pendengaran atau
untuk menentukan ambang batas pendengaran, atau untuk memilih dan
memodifikasi proses amplifikasinya. (17)
Sasaran pemeriksaan : bayi dan neonatal berusia kurang dari 6 bulan.
Metode :
- Tes dilakukan di ruangan tenang

- Otoskopi : bukanlah sebuah prasyarat dalam pemeriksaan ini, pemeriksaan


eksternal telinga meliputi apakah terrdapat deformitas dan abnornmalitas.
- Persiapan pasien : pasien berada pada keadaan yang tenang dan
pencahayaan yang mendukung untuk menidurkan pasien,duduk di car seat,
digendong, atau dibaringkan memakai bantal. Jika bayi berada di pangkuan
orang tua, harus dipastikan bahwa orang tua tidak akan memberikan isyarat
bagi bayi ketika pemeriksaan berlangsung.
- Rangsangan yg direkomendasikan : Stimulus akustik yang kompleks
(seperti berbicara-bising) antara 60 dan 90 dB. Durasi pemberian stimulus
antara 3-4 detik, respon pada bayi yang lebih muda lebih lama dari bayi yg
lebih tua.
- Tidak ada suara lain atau percobaan lain yang dapat ditangkap oleh bayi
yang dapat memberikan interpretasi salah pada gerakan si bayi.
- Hanya 2-3 stimulus yang mungkin diberikan pada bayi.
Interpretasi : Pada keadaan normal dapat terlihat refleks terkejut pada
pemberian stimulus 60-90dB. Refleks terkejut sangat dipengaruhi oleh
keadaan psikologi bayi, seperti jika bayi kelaparan atau kelelahan. Bayi harus
diberi perhatian khusus jika ia tidak membrikan refleks terkejut dan dapat
ditindaklanjuti

dengan

menghubungkan

hasil

yang

diperoleh

pada

pemeriksaan ini denggan pemeriksaan lainnya. Pada pemeriksaan ini hanya


diinterpretasikan sebagai ada respon dari bayi atau tidak ada respon. Tidak
ada interpretasi seperti batas respon level pada pasien.(18)

Gambar :
BOA

Pemeriksaan

B. Timpanometri
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang bertujuan untuk
menilai fungsi telinga tengah dan mengevaluasi otitis media dan gangguan
telinga tengah lainnya. Sasaran dari pemeriksaan ini adalah bayi dan anakanak. Gambaran timpanometri yang abnormal ( adanya cairan atau
tekanan negatif di telinga tengah) merupakan petunjuk adanya gangguan
pendengaran konduktif(1)

Gambar 9 . Timpanometer(21)

Melalui probe tone (sumbat liang telinga) yang dipasang pada


liang telinga dapat diketahui besarnya tekanan di liang telinga berdasarkan
energi suara yang dipantulkan kembali (ke arah luar) oleh gendang telinga.
Pada orang dewasa atau bayi berusia diatas 7 bulan digunakan probe tone
frekuensi 226 Hz. Khusus untuk bayi di bawah usia 6 bulan tidak
digunakan probe tone 226 Hz karena akan terjadi resonansi pada liang
telinga tengan sehingga harus digunakan probe tone frekuensi tinggi
(668,678 atau 1000 hz).

C. Visual Reinforcement Audiometry


Metode audiometri yang dilakukan pada anak usia 6 bualn sampai 3 tahun
dengan menggunakan nada murni.metode ini sangat spesifik untuk anak usia
tersebut dengan menimbulkan respon perilaku untuk nada dengan frekuensi yang
spesifik dan rangsangan lainnya. Kadang respon anak akan berubah-ubah jika
diberikan rangsangan dengan intensitas rendah. Refleks terkejut dapat diamati jika

anak diberi suara keras, namun ini hanya menunjukkan bahwa anak dapat
mendengar suara tersebut atau tidak, belum tentu bahwa mereka memiliki fungsi
pendengaran yang normal.(21)
Prinsip pemeriksaan :
Pemeriksaan ini didasarkan dengan prinsip bahwa ketika seorang anak
mendengar suara, ia akan mencari tahu suara apa itu. Jadi, misalnya anak
mendengar suara di sisi kirinya, ia akan menoleh ke kiri. VRA dilakukan dengan
menggunakan earphone atau sound-field.
Cara pemeriksaan :
Pemeriksaan dilakukan di ruangan khusus yang dilengkapi dengan mainan
yang terletak di kedua sisi anak, sekitar 90 derajat sisi kiri dan kanan. Mainan ini
biasanya diletakkan di dalam kotak plastik gelap dan tidak dapat terlihat sampai
mainan tersebut diaktifkan oleh alat tes.
Setelah aktivasi, mainan akan menyala dan bergerak dalam kotak. alat tes
diletakkan di luar ruang tes dan terkontrol dari sinyal pendengaran dan visual.
Awalnya stimulus pendengaran dengan intensitas tinggi disajikan secara
bersamaan dengan penguatan visual. Hal ini sangat ideal apada anak dengan
mengasosiasikan mainan yang bercahaya dengan suara yang mereka dengar. Jika
anak menoleh untuk melihat asal suara dalam kotak maka akan terbaca pada
sinyal penguatan visual, jika tidak maka perlu dilakukan kembali, atau
mengarahkan anak untuk menoleh ke sisi yang terdengar suara. Interpretasi yang
muncul adalah anak dapat menyadari bahwa mainan pada kotak akan menyala jika
anak mendengar suaranya.(21)

Gambar 11.

Bagan Ruang

Pemeriksaan

VRA,

P1:pemeriksa 1,

P2: pemeriksa

2,A:Audiometri,

LS1: pengeras

suara 1, LS2:

pengeras suara

2, SV: stimulus Visual, M:meja, A:anak, I:ibu, JP:jendela pengamatan (1)

D. Otoacoustic Emission (OAE)

Otoaacoustic emission merupakan produk sampingan koklea berupa energi


bunyi yang tidak dikirimkan ke saraf pendengaran melainkan kembali menuju liang
telinga. Dasar biologik OAE yaitu gerakan sel rambut luar koklea yang sangat kecil,
memproduksi energi mekanik yang diubah menjadi energi akustik sebagai respons
terhadap getaran dari organ di telinga tengah. Sel rambut luar koklea ini sangat
rentan terhadap faktor eksternal (suara berlebihan), internal (bakteri, virus) dan
kondisi (defek genetik).(4)
Terdapat dua jenis OAE yaitu 1). Spontaneous OAE (SPOAE) dan 2). Evoked
OAE.

Spontaneous

OAE

(SPOAE)adalah

mekanisme

aktif

koklea

untuk

memproduksi OAE tanpa harus diberikan stimulus, namun tidak semua orang dengan
pendengaran normal memilki SPOAE. EOAE hanya akan timbul bila diberikan
stimulus akustik, dibedakan menjadi (1). Transient Evoked OAE (TEOAE) dimana
stimulus berupa click dan (2). Distortion Product OAE (DPOAE) menggunakan
stimulus berupa 2 buah nada murni yang berbeda frekuensi dan intensitasnya. (1)

Gambar 12. a. alat untuk pemeriksaan OAE(1)

Gambar 13. Ilustrasi rangkaian alat pada pemeriksaan OAE(14)

Pada telinga sehat, OAE yang timbul dapat dicatat secara sederhana
dengan memasang probe (sumbat) dari bahan spons berisi mikrofon mini ke
dalam liang telinga untuk memberi stimulus akustik dan untuk menerima emisi
yang dihasilkan koklea tersebut. Bila terdapat gangguan pada saat suara
dihantarkan dari telinga luar seperti debris/serumen, gangguan pada telinga tengah
seperti otitis media maupun kekakuan membran timpani, maka stimulus akustik
yang sampai ke koklea akan terganggu dan akibatnya emisi yang dibangkitkan
dari koklea juga akan berkurang. Alat OAE didesain secara otomatis mendeteksi
adanya emisi (pass/ lulus) atau bila emisi tidak ada/berkurang (refer/rujuk),
sehingga tidak membutuhkan tenaga terlatih untuk menjalankan alat maupun
menginterpretasikan hasil. EOAE merupakan respons elektrofisiologik koklea
terhadap stimulus akustik, berupa bunyi jenis clicks atau tone bursts. Respons
tersebut dipancarkan ke arah luar melalui telinga tengah, sehingga dapat dicatat
oleh mikrofon mini yang juga berada di dalam probe di liang telinga. EOAE dapat
ditemukan pada 100% telinga sehat, dan akan menghilang/berkurang pada
gangguan pendengaran yang berasal dari koklea. EOAE mempunyai beberapa
karakteristik yaitu dapat diukur pada fungsi koklea yang normal bila tidak ada
kelainan telinga luar dan tengah; bersifat frequency specific (dapat mengetahui tuli
pada frekwensi tertentu); pada neonatus dapat diukur frekuensi dengan rentang
yang luas yaitu frekuensi untuk bicara dan bahasa (500-6000 kHz).
OAE tidak muncul pada hilangnya pendengaran lebih dari 30-40
dB.2,12,,20-2 EOAE dipengaruhi oleh verniks kaseosa, debris dan kondisi telinga
tengah (cavum tympani), hal ini menyebabkan hasil refer 5-20% bila skrining
dilakukan 24 jam setelah lahir.9 Balkany seperti dikutip dari Chang dkk
melaporkan neonatus berusia kurang dari 24 jam liang telinganya terisi verniks
caseosa dan semua verniks caseosa ini akan dialirkan keluar dalam 24-48 jam
setelah lahir. Sehingga angka refer < 3% dapat dicapai bila skrining dilakukan
dalam 24-48 jam setelah lahir. Bonfils dkk melaporkan maturasi sel rambut luar
lengkap terjadi setelah usia gestasi 32 minggu.

EOAE merupakan respons elektrofisiologik koklea terhadap stimulus


akustik, berupa bunyi jenis clicks atau tone bursts. Respons tersebut dipancarkan
ke arah luar melalui telinga tengah, sehingga dapat dicatat oleh mikrofon mini
yang juga berada di dalam probe di liang telinga. EOAE dapat ditemukan pada
100% telinga sehat, dan akan menghilang/berkurang pada gangguan pendengaran
yang berasal dari koklea.19 EOAE mempunyai beberapa karakteristik yaitu dapat
diukur pada fungsi koklea yang normal bila tidak ada kelainan telinga luar dan
tengah; bersifat frequency specific (dapat mengetahui tuli pada frekwensi
tertentu); pada neonatus dapat diukur frekuensi dengan rentang yang luas yaitu
frekuensi untuk bicara dan bahasa (500- 6000 kHz).11 OAE tidak muncul pada
hilangnya pendengaran lebih dari 30-40 dB.
Pemeriksaan OAE juga dimanfaatkan untuk memonitor efek negatif dari
obat ototoksik, diagnostik neuropati auditorik, membantu proses pemilihan alat
bantu dengar, skrining pemaparan bising (noise induced hearing loss) dan sebagai
pemeriksaan penunjang pada kasus-kasus yang berkaitan dengan gangguan
koklea.

E. Auditory Brainstem Response (ABR)


Merupakan suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi nervus VIII dan jalur
pendengaran di batang otak dengan merekam potensial listrik yang dikeluarkan sel koklea
selama menempuh perjalanan mulai telinga dalam hingga nukleus tertentu di batang
otak(4).
Cara pemeriksaan :
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan elektroda permukaan yang diletakkan
pada kulit kepala atau dahi dan prosesus mastoid atau lobulus telinga. Prinsip
pemeriksaan ABR adalah menilai perubahan potensial listrik di otak setelah pemberian
rangsangan sensoris berupa bunyi. Rangsangan bunyi yang diberikan melalui headphone
atau insert probe akan menempuh perjalanan melalui koklea (gelombang I), nukleus
koklearis (gelombang II), nukleus olivarius superior (gelombang III), lemnikus lateralis
(gelombang IV), kolikulus inferior (gelombang V) kemudian menuju ke korteks

auditorius di lobus temporalis otak.Yang penting untuk dicatat adalah gelombang I, III,
dan V.
ABR konvensional merupakan click evoked ABR air conduction, dan frekuensi yang
diberikan sebesar 2000-4000Hz, dengan intensitas dapat mencapai 105dB. ABR
membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga terlatih dalam mengoperasikan alat maupun
menginterpretasikan hasil. Respons neural terhadap stimulus bunyi yang diterima akan
direkam komputer melalui elektroda pemukaan (surface electrode) yang ditempelkan
pada kepala (dahi dan prosesus mastoid). Parameter yang dinilai berdasarkan morfologi
gelombang, amplitudo dan masa laten. Hasil penilaian adalah intensitas stimulus terkecil
(desibel/dB) yang masih memberikan gelombang BERA. Ada 5 gelombang BERA yang
dapat dibaca, masing masing menggambarkan respons dari bagian-bagian jaras auditorik
mulai dari nervus akustikus sampai kolikulus inferior. . Rangsangan bunyi yang diberikan
melalui head phone atau insert probe akan menempuh perjalanan melalui koklea
(gelombang I), nukleus koklearis (gelombang II), nukleus olivarius superior (gelombang
III), lemnikus lateralis (gelombang IV), kolikulus inferior (gelombang V) kemudian
menuju ke korteks auditorius di lobus temporalis otak. Yang penting dicatat adalah
gelombang I,III dan V. Pada bayi yang paling mudah diidentifikasi adalah gelombang V
(kolikulus inferior). Perlu diperhatikan agar pemeriksaan BERA pada bayi dibawah usia 3
bulan atau bayi lahir prematur, mungkin terjadi pemanjangan masa laten sehingga didapat
kesan adanya tuli konduktif, pada kasus seperti ini perlu dilakukan BERA ulangan pada
saat usia lebih dari 3 bulan dan dilakukan koreksi usia (pada prematur).

Setiap orang yang memiliki masalah pendengaran yang tidak dapat dibantu
dengan pengobatan atau tindakan bedah merupakan kandidat untuk alat
bantu dengar.
1. Gangguan pendengaran sensorineural, yang mengganggu aktivitas harian
seseorang. Alat bantu dengar mungkin tidak cocok untuk beberapa orang
karena distorsi suara, terutama pada mereka dengan perekrutan.
2. Anak-anak yang tuli dilengkapi dengan alat bantu dengar sedini mungkin
untuk perkembangan bicara dan belajar. Pada anak-anak dengan tuli
berat,alat bantu binaural lebih berguna. Pelatihan berbicara juga diberikan
secara bersamaan.
3. Tuli konduktif. Sebagian besar penderita tersebut dapat dibantu dengan
operasi tapi alat bantu dengar yang diresepkan ketika pasien menolak
tindakan operasi atau tidak layak atau telah gagal.