Anda di halaman 1dari 9

GENOMIK DAN PEMERIKSAAN PERINATAL

ILMU GENOMIK KEDOKTERAN


W. Gregory Feero, M.D., Ph.D., and Alan E. Guttmacher, M.D., Editors

Written By: Joann Bodurtha, M.D., M.P.H., and Jerome F. Strauss, III, M.D., Ph.D.
Based On: Review Article Of NEJM.
Translated By: Fitria Ningsih M.D.
Antara calon orang tua dan tenaga kesehatan, perhatian terhadap masalah genetik dan sosial
memuncak selama masa perinatal. Perkembangan dalam ilmu genomik dan pemeriksaan teknologi
reproduksi telah menciptakan kesempatan baru dalam mendeteksi penyakit genetik dan
meningkatkan kecurigaan terhadap penyakit tersebut sebanyak beberapa kali selama pemeriksaan
perinatal. Terapi emergensi untuk penyakit genetik tunggal akan didiskusikan dalam artikel ini.
Praktisi kesehatan bekerja sama dengan seseorang yang akan menjadi orang tua, untuk
mendapatkan informasi mengenai latar belakang genetik dan riwayat keluarganya, dan juga untuk
memberikan informasi kepada pasien mengenai pemeriksaan-pemeriksaan yang berhubungan
dengan status pembawaan-penyakit yang didasarkan kepada resiko spesifik dari populasi tersebut.
Kemudian pasien ini akan dirujuk, jika sesuai, ke dokter spesialis yang menangani kehamilan resiko
tinggi dan masalah genetik. Namun, terdapat beberapa perbedaan utama diantara belahan dunia
mengenai adopsi dan implementasi ilmu genetik dan pelaksanaan screening oleh tenaga kesehatan,
wanita dan pasangannya, serta sistem pembayaran kesehatan. Beberapa perbedaan tersebut dapat
diperkirakan karena mengakses perawatan kesehatan, bekerja sama dengan ketersediaan konseling
dan pemeriksaan genetik, secara berselang-seling.
Sekalipun dalam kasus penyakit terbaik, pasien, tenaga kesehatan, dan penentu kebijakan
menghadapi pilihan yang rumit dalam pemilihan penggunaan teknik genomik baik secara luas
maupun secara individual dalam memeriksa resiko dan dalam menentukan bagaimana hasil
laboratorium dapat membantu pengambilan keputusan sebagai pilihan dalam perluasan
pemeriksaan genetik. Contohnya, tidak selalu pemeriksaan dapat memprediksi beratnya suatu
kondisi klinik dasar genotip. Hasil pemeriksaan laboratorium kemungkinan kurang terpercaya,
selain itu identifikasi variasi genetik kemungkinan tidak diketahui dapat menyebabkan penyakit (hal
ini merupakan variasi ketidakpastian). Atau penemuan mutasi (varian dalam sebuah penyakit gen
yang diketahui) kemungkinan tidak dapat dipercaya yang berhubungan dengan fenotipe oleh karena
pengaruh penentu sifat, berupa genetik, epigenetik atau lingkungan.

Pemeriksaan Dan Screening Genetik Prekonsepsi


Resiko genetik, khususnya yang diketahui sebagai kondisi genetik dalam keluarga atau kehamilan
sebelumnya, harus diperiksa secara ideal sebelum konsepsi atau saat perkembangan kehamilan
dalam konteks membantu pemeriksaan teknologi reproduksi. Screening genetik ditawarkan kepada
kondisi tertentu (atau kondisi kelompok) misalnya dalam individual, kelompok atau populasi.
Informasi kondisi keluarga tidak dibutuhkan dalam screening genetik. Pemeriksaan genetik
dilakukan secara umum ketika terdapat kecurigaan bahwa seseorang memiliki resiko tinggi oleh
karena riwayat keluarga atau karena memiliki hasil positif pada pemeriksaan screening biokimia.
Perhimpunan Dokter Obstetrik dan Ginekologi Amerika Serikat (American Congress of Obstetricians
and Gynecologists (ACOG)) merekomendasikan bahwa wanita harus mendapatkan informasi

mengenai resiko genetik, termasuk resiko mendapatkan mutasi alel yang menyebabkan cystic
fibrosis, hemiglobinopati, dan penyakit khusus yang terdapat pada keturunan yahudi di Eropa timur.
Universitas Genetik Kedokteran Amerika (American College of Medical Genetics (ACMG))
merekomendasikan beberapa panel screening untuk keturunan yahudi Eropa timur; dan
menawarkan pemeriksaan atropi muskulus spinal kepada semua pasangan carrier, tanpa
memperhatikan latar belakang ras atau etnik. Identifikasi carrier resesif autosom atau kondisi
penyakit taut seks kromosom X sebelum konsepsi membantu pengambilan keputusan dalam pilihan
reproduksi.
Beberapa metode berbeda digunakan dalam screening, bergantung pada bagian yang diperiksa;
apakah kromosom, protein, produk gen yang berhubungan (RNA), atau DNA dari nukleus dan
mitokondria. Screening kontemporari carrier melibatkan pemeriksaan untuk kasus mutasi yang
paling sering terjadi dan untuk penyakit spesifik dalam populasi spesifik. Perkembangan terbaru
dalam ikatan DNA dan bioinformatika telah mendorong sebuah pendekatan untuk mengidentifikasi
carrier yang diketahui sebagai mutasi yang menyebabkan lebih dari 400 penyakit genetik resesif.
Meskipun demikian, pendekatan ini kemungkinan tidak berlaku pada beberapa mutasi dan tidak
diidentifikasi pada beberapa carrier.
Pada kasus screening carrier untuk penyakit Tay-Sach (defisiensi heksosamidase, yang merupakan
penyakit tersering yang mengenai keturunan yahudi Eropa timur), pemeriksaan enzim
heksosaminidase menjadi metode primer dalam screening karena pemeriksaan ini memiliki
sensitivitas yang lebih baik dibandingkan dengan analisis mutasi DNA target (screening untuk ketiga
mutasi gen heksosaminidase yang paling sering, mendeteksi carrier sebesar 92-94%). Meskipun
demikian, sekarang terdapat beberapa pemeriksaan genetik yang menggunakan strategi mutasitarget sensitifitas rendah untuk penyakit Tay-Sach dan pemeriksaan simultan untuk keberadaan
mutasi yang melahirkan kondisi genetik baru. Pada populasi ini, resiko yang dimiliki untuk
mengalami mutasi cukup tinggi, kemudian memiliki sensitifitas yang lebih tinggi untuk status
carrier Tay-Sachs dalam range yang lebih luas untuk mendeteksi penyakit. Sebagai konsekuensi,
dokter yang merekomendasikan beberapa screening harus memiliki pengetahuan mengenai
pedoman profesional terbaru, yang menyediakan inform konsen berisi sensitifitas dan spesifisitas
pemeriksaan, dan juga dapat memberikan hasil kompleks yang sesuai.

Screening Genetik Preimplantasi

Gambar 1

Screening genetik pre-implantasi melibatkan seleksi embrio sebelum dipindahkan ke dalam uterus
untuk meningkatkan keberhasilan pemeriksaan reproduksi (Gambar 1). Analisis genetik dilakukan
pada satu atau dua blastomer yang dipindahkan secara pembedahan mikro dari embrio pada hari
ke-3 kulturisasi. Hasil yang diperoleh cukup cepat, sehingga embrio yang dipilih dapat dipindahkan
pada hari ke-5 atau dibekukan untuk ditransfer kemudian. Pemeriksaan fluoresensi hibridisasi insitu
(Fluorescence in situ hybridization (FISH), menggunakan pemeriksaan satelit DNA berlabel untuk
menggambarkan DNA fetus pada interfase nukleus, yang biasa digunakan untuk mendeteksi
abnormalitas kromosom. Screening genetik pre-implantasi telah dilakukan pada kasus: ibu dengan
umur yang telah lanjut, ibu dengan kegagalan implantasi berulang, dan ibu dengan aborsi idiopatik
berulang, serta pada ibu yang berencana untuk meningkatkan laju kehamilannya dengan transfer
embrio tunggal.
Screening genetik pre-implantasi masih diperdebatkan. Hal ini disebabkan karena gambaran
kromosom pada stadium pembelahan dari perkembangan embrio berada pada level atas, yang dapat
mengganggu interpretasi pemeriksaan dan bergantung pada analisis follow up. Selain itu metode
FISH kontemporari juga tidak menangkap komplemen material kromosom secara penuh. Perluasan
screening genetik pre-implantasi yang digunakan dalam meningkatkan laju kehamilan dan hasilnya,
masih dalam perdebatan. Sebagai konsekuensi, beberapa screening genetik yang berdasarkan pada
teknologi FISH terbaru tidak direkomendasikan untuk indikasi yang tercatat di atas (umur maternal
yang lanjut, kegagalan implantasi ulang, aborsi idiopatik berulang, dan ibu yang berencana untuk
meningkatkan laju kehamilan pada transfer embrio tunggal). Analisis badan polar kemungkinan
dapat meningkatkan hasil kehamilan dengan mendeteksi abnormalitas maternal genetik pada telur,
termasuk gangguan meiosis yang dihasilkan pada aneuploid. Metode pemeriksaan terbaru, yakni
pemeriksaan kromosom 24 poliforfisme-nukleotida-tunggal (24-chromosome single-nucleotidepolymorphism (SNP)) ( kariotipe virtual), kemungkinan akan menggantikan FISH karena
pemeriksaan ini dapat memberikan beberapa informasi genetik. Teknologi ini kemungkinan akan
meningkatkan penggunaan klinik dari screening genetik pre-implantasi.

Diagnosis Genetik Preimplantasi


Diagnosis genetik preimplantasi, yang telah diperkenalkan pada tahun 1990, membolehkan seleksi
embrio bebas berpenyakit dipindahkan ke dalam uterus. Analisis genetik biasanya dilakukan sebagai
penjelasan screening genetik preimplantasi. FISH digunakan untuk mendeteksi kromosom seks dan
gangguan kromosom spesifik. Pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) digunakan untuk
menguatkan diagnosis molekuler DNA. Kelahiran pertama setelah diagnosis genetik preimplantasi
gangguan struktur kromosom dengan penggunaan analisis perbandingan hibridisasi genom dan
analisis susunan mikro (mikroarray) telah dilaporkan baru-baru ini. Deteksi mutasi DNA
mitokondria juga dapat dilakukan, yang memperlihatkan bahwa mutasi ini juga terjadi di dalam
mitokondria.
Badan polar pertama dan kedua dapat dianalisis untuk mengetahui adanya kontribusi genetik
maternal (contohnya: penyakit taut seks kromosom X dan penyakit dominan autosom), termasuk
penyakit bawaan distrofi muskuler Duchenne, inkontinensia pigmen, dan neurofibromatosis tipe 2.

Tabel 1

Diagnosis genetik preimplantasi untuk kelompok penyakit mayor monogen dominan, resesif dan
penyakit taut seks telah digunakan dan tersusun pada tabel 1. Dengan metode terbaru, seperti
diagnosis penyakit Mendel lebih akurat, dengan laju misdiagnosis kurang dari 1%. Misdiagnosis
terjadi oleh karena gangguan hasil pemeriksaan laboratorium, termasuk kesalahan pemindahan
embrio, kontaminasi material ekstraembrionik, terjadi pengeluaran alel (ketika satu alel tidak
dikuatkan pada pemeriksaan PCR), penggunaan satelit atau alat primer serta gambaran kromosom
yang salah.
Diagnosis genetik preimplantasi mengalami peningkatan di Amerika Serikat dan Eropa. Meskipun
demikian, penggunaan diagnosis ini dalam praktek relatif tidak teratur. Meskipun kalangan
profesional (American Society for Reproductive Medicine and European Society of Human
Reproduction and Embryology) telah menerbitkan pedoman dan merekomendasikan akreditasi hasil
pemeriksaan laboratorium seperti diagnosis genetik.

Pemeriksaan Genom Dan Genetik Prenatal


Untuk semua kehamilan, resiko dasar beberapa jenis defek kelahiran adalah sebesar 3-4%. Derajat
beratnya defek beragam, menggambarkan skala yang lebih luas dari mutasi bawaan atau ragam
genetik; mutasi spontan yang meningkat pada gamet, embrio atau fetus; yang dipengaruhi oleh
perubahan epigenetik dan lingkungan. Faktor maternal yang meningkatkan kesempatan untuk
mendapatkan anak dengan kondisi genetik atau anomali kongenital, seperti; umur yang telah lanjut,
gangguan kesehatan seperti diabetes dan obesitas, serta paparan terhadap faktor teratogenik, seperti
alkohol dan infeksi virus.
Pemeriksaan diagnostik genetik prenatal terbaru membutuhkan kumpulan sampel sel fetus, yang
didapatkan dengan aspirasi vili korionik melalui pemeriksaan USG transerviks atau transabdominal
pada saat 10-14 minggu masa gestasi atau dengan menarik cairan amnion (amniosentesis) dan
kemudian mengumpulkannya serta mengkultur sel fetus yang ada di dalamnya, yang dilakukan
sekitar 15 minggu masa gestasi. Diagnosis prenatal dengan menggunakan sampel vilus korionik atau
amniosentesis merupakan suatu pilihan untuk kehamilan resiko tinggi. Prosedur ini secara umum
meningkatkan laju kuretase sekitar 1% atau kurang. Informasi juga dapat ditambahkan dari analisis
sitogenetik tradisional atau analisis sampel villus korionik dengan metode FISH atau kultur sel fetus
dapat ditingkatkan dengan tehnik pemeriksaan susunan DNA, seperti pemeriksaan perbandingan
hibridisasi genom dan SNP. Beberapa metode dapat mendeteksi variasi dan gangguan genetik yang
biasanya menghasilkan sitogenetik resolusi rendah, termasuk variasi jumlah duplikasi.

Meskipun informasi ini dapat bermanfaat ketika variasi jumlah duplikasi spesifik yang diketahui
dihubungkan dengan penyakit yang dideteksi, makna klinis dari beberapa variasi struktur belum
diketahui. Beberapa penyakit merupakan penyakit genetik secara heterogen, dengan beberapa kasus
disebabkan oleh variasi jumlah duplikasi dan lainnya disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda.
Meskipun metode berdasarkan susunan DNA kemungkinan akan sering digunakan dalam diagnosis
genetik, pedoman klinik untuk penggunaan teknologi yang sesuai, khususnya dalam diagnosis
prenatal, masih diperdebatkan. Pedoman ini direkomendasikan oleh ACOG dan organisasi
profesional lainnya yang akan terus mengalami pengembangan.
Deteksi anomali fetus melalui pemeriksaan USG memperlihatkan adanya kemungkinan malformasi
genetik dasar dalam keluarga. Meskipun demikian, aplikasi pemeriksaan genetik dan genom pada
keadaan ini harus dipertimbangkan secara hati-hati oleh karena biaya dan kompleksitas dalam
penilaian hasil, khususnya jika tidak terdapat analisis genetik sebelumnya pada anggota keluarga
untuk memandu interpretasi penemuan tersebut.

Diagnosis Prenatal Noninvasif

Gambar 2

Telah diakui sejak lama bahwa sel nukleus fetus dapat mencapai sirkulasi maternal, namun
percobaan untuk mengisolasi sel yang jarang ini dari darah maternal (dengan volume khas 1-6
sel/ml dari maternal darah) dan penggunaannya dalam pemeriksaan genetik cukup mengecewakan
oleh karena memiliki sensitivitas yang rendah. Sel RNA dan DNA bebas fetus, yang dikeluarkan dari
apoptosis sel trofoblas plasenta (dan tidak berasal dari fetus itu sendiri), menjanjikan hasil yang
lebih baik dalam pemeriksaan genetik sebagai hasil perkembangan dalam metode susunan DNA dan
informatika (tabel 2). Pada tahun 2007, sindrom Down telah dideteksi dengan pemeriksaan
kuantitatif sel RNA bebas sel darah maternal untuk PLAC4, sebuah gen trofoblas spesifik yang
ditemukan pada sindrom down di daerah kromosom 21 (gambar 2). Rangkaian pengkodean PLAC4
merupakan pemeriksaan SNP yang membolehkan penetapan rasio alel ketika fetus heterozigot
terhadap pemeriksaan SNP. Embrio euploid memiliki rasio alel 1:1. Rasio 2:1 kemungkinan besar
mengindikasikan trisomi 21. Analisis pengkodean mRNA oleh gen berbeda pada kromosom 21 dapat
meningkatkan sensitivitas metode ini namun secara luas tidak dilakukan.
DNA bebas yang berasal dari fetus merupakan pilihan material terbaru dalam diagnosis genomik
prenatal noninvasif. Pemeriksaan ini mewakili 3-6% DNA bebas dalam sirkulasi plasma maternal,
dan dapat dideteksi pada trimester pertama kehamilan, yang jumlahnya meningkat selama
pertumbuhan plasenta. Fragmen sel DNA bebas fetus lebih sedikit dibandingkan dengan sel DNA

bebas maternal, yang memfasilitasi analisis rangkaian DNA. Meskipun DNA fetus dideteksi pada
minggu ke-5 masa gestasi, metode analisis terbaru kurang terpecaya jika dilakukan sebelum minggu
ke-7.
Sejak kromosom Y dikenali sebagai kelamin laki-laki, adanya atau tidak adanya kromosom ini di
dalam darah maternal dapat digunakan dalam penentuan jenis kelamin fetus. Sebuah penelitian
berupa review dan meta-analisis terbaru mengenai penentuan jenis kelamin seks dengan
penggunaan sel DNA bebas fetus melaporkan hasil yang sangat baik. Namun hasilnya akan kurang
sempurna, jika pemeriksaan dilakukan setelah minggu ke-7 masa gestasi. Pemeriksaan dengan
sensitivitas dan spesifisitas terbaik untuk penggunaan rangkaian kromosom Y dalam penentuan
jenis kelamin dapat dilakukan setelah 20 minggu masa gestasi. Pada masa itu, USG juga dapat
digunakan dalam penentuan jenis kelamin fetus.
Selain untuk menentukan jenis kelamin, deteksi genomik paternal juga berkontribusi terhadap
pemeriksaan sel DNA bebas fetus yang digunakan untuk menentukan status RhD fetus dengan
keakuratan tinggi pada kehamilan seorang wanita dengan RhD negatif. Pendekatan ini dapat
digunakan untuk mendeteksi transmisi paternal, khususnya kategori penyakit gen tunggal dominan,
termasuk penyakit Huntington, akondroplasia, dan distrophi miotonik. Status carrier untuk cystic
fibrosis, hemoglobinopati dan defiesinsi hidroksilase-21 juga telah ditetapkan.
Pada tahun 2008, rangkaian DNA yang mendeteksi dosis kromosom, yang digambarkan dengan
underpresentasi atau overpresentasi rangkaian kromosom spesifik, telah digunakan dengan sukses
dalam mengidentifikasi trisomi pada kromosom 13, 18 dan 21. Pengukuran berdasarkan rangkaian
fragmen DNA proporsi kecil yang didapatkan dari kromosom 21 yang melebihi nilai ambang relatif
terhadap rangkaian sampel rekomendasi euploid telah dilaporkan mendapatkan nilai hasil prediksi
positif yakni sebesar 96.6% dan nilai prediksi negatif sebesar 100%.

Tabel 2

Secara teoretis, pendekatan ini, berdasarkan kepada pemeriksaan rantai kecil fragmen sel DNA
bebas fetus, yang biasanya kurang dapat mengidentifikasi bagian kompleks aneuploid yang
dihasilkan dari ketidakseimbangan translokasi atau duplikasi kromosom parsial. Deteksi sindrom
mikrodeletion fetus dari analisis rantai sel DNA bebas fetus pada plasma maternal telah dilaporkan
baru-baru ini. Sekarang dan pada konteks ini, pemeriksaan tersebut membutuhkan sebuah teknologi
experimental. Oleh karena itu, dilakukan analisis genetik yang lebih luas, termasuk rantai genomik
secara keseluruhan (tabel 2).

Tabel 3

Jika pendekatan ini menjadi lebih mudah, hal ini belum jelas apakah pendekatan ini akan digunakan
sebagai metode screening atau sebagai pemeriksaan diagnostik. Pemeriksaan ini membutuhkan
pembiayaan efektif dengan laporan hasil yang cepat dan cukup mendapatkan efek bermakna dalam
pengambilan keputusan. Tabel 3 memberikan gambaran waktu potensial untuk diagnosis genetik
cystic fibrosis, yang menggambarkan tantangan inform konsen melewati kondisi kesehatan multiple
dan variasi genetika.

Screening Genetik Bayi Baru Lahir


Setiap tahun, sekitar 4 juta bayi baru lahir di Amerika Serikat melakukan screening darah. Beberapa
observer mempertimbangkan pemeriksaan ini sebagai sebuah contoh klasik manfaat yang diperoleh
dari aplikasi penemuan genetik dalam suatu populasi kesehatan. Sebagian besar negara memiliki
sistem pemeriksaan screening bayi baru lahir. Terdapat beberapa diskusi individual mengenai
resiko, manfaat, dan biaya, khususnya dengan penyakit tambahan dengan pertimbangan inklusi
pada bayi baru lahir dan perluasan pilihan pemeriksaan pada masa prekonsepsi dan prenatal. Secara
biokomia, pemeriksaan screening penilketonuria (PKU) pada bayi baru lahir dimulai pada tahun
1960. Setelah pemeriksaan ini menjadi jelas bahwa pengenalan batasan diet phenilalanin pada
seorang anak, dapat meningkatkan kadar PKU anak tersebut. Pada tahun 2006, upaya kolaborasi
kelompok advokat, bersama dengan spesialis anak, kesehatan masyarakat, dan kelompok genetik,
menghasilkan sebuah kegiatan berupa screening panel yang bertujuan untuk mengidentifikasi 29
kondisi genetik pada screening bayi baru lahir. Kondisi tersebut termasuk hemiglobinopati,
endokrinopati, cystic fibrosis, pendengaran berkurang, dan gangguan metabolisme. Sebuah
mekanisme dalam pengusulan dan penilaian penyakit lainnya untuk inklusi screening panel telah
ditetapkan. Laporan panitia dalam kegiatan tersebut, merekomendasikan tambahan kombinasi
imunodefisiensi berat pada screening panel di tahun 2010, kemudian berlanjut berdasarkan pada
pertimbangan bukti yang mendukung tambahan kondisi genetik lainnya, seperti atropi muskulus
spinal. Meskipun demikian, di Amerika Serikat, pelaksanaan screening panel bervariasi berdasarkan
negaranya, menghasilkan pendekatan sedikit demi sedikit dalam diagnosis penyakit keturunan pada
bayi baru lahir.
Pada praktek keseharian, pelaksanaan screening dan follow up pada bayi baru lahir akan membantu
pengambilan keputusan mengenai screening lanjutan pada masa prenatal untuk kondisi seperti pada
cystic fibrosis, dimana diagnosis dapat ditegakkan setelah kelahiran yang dipertimbangkan sebagai
sebuah diagnosis prenatal alternatif yang dapat diterima. Untuk beberapa pasangan, utamanya
pasangan dengan resiko genetik yang diketahui, keputusan dalam pelaksanaan pemeriksaan genetik
dilakukan setelah diskusi dengan dokter dan konsulen genetiknya. Manfaat reproduksi (contohnya,
untuk mendapatkan informasi genetik melalui pemeriksaan ini) belum dimasukkan sebagai bagian
dalam screening bayi baru lahir, namun sekarang mengalami peningkatan sebagai bagian dalam
diskusi masyarakat. Ketersediaan percobaan klinik yang melibatkan peningkatan kesehatan
potensial untuk anak dengan kondisi yang jarang juga telah diperbicangkan dalam identifikasi awal
kondisi genetik selama screening bayi baru lahir. Meskipun demikian, tidak tersedia mengenai
manfaat pengobatan untuk beberapa keadaan.

Diagnosis Genetik Bayi Baru Lahir


Pedoman dari komunitas profesional telah merekomendasikan susunan perbandingan hibridisasi
genom yang digunakan untuk mendeteksi ketidakseimbangan genom multiple secara cepat pada

pasien yang dinilai mengalami keterlambatan perkembangan dan disabilitas intelektual, anomali
kongenital, atau tanda-tanda dismorfik, kecuali diagnosis fenotipik yang jelas yang disederhanakan
dengan menggunakan kariotyping rutin (contohnya: sindrom down). Meskipun demikian, secara
umum beberapa pemeriksaan memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan metode
lainnya dan kemungkinan dapat mendeteksi ragam klinik signifikan yang tidak pasti.
Perkembangan dalam ilmu genetika telah meningkatkan potensi identifikasi pertumbuhan kondisi
genetik pada stadium presimptomatik dan telah meningkatkan masalah etika, legalitas dan sosial.
Sebuah perkembangan utama mengenai kondisi genetik dewasa pada awal kehidupan,
meningkatkan masalah praktisi mengenai bagaimana cara terbaik dalam menyimpan dan
mendapatkan kembali informasi ini di kemudian hari. Diagnosis presimptomatik pada kondisi
dengan onset di kemudian hari seperti sindrom kanker familial atau penyakit Huntington yang
kemungkinan terjadi pada masa preimplantasi, prenatal, atau setelah melahirkan.
Catatan kesehatan elektronik dan catatan pertalian keluarga sedang dalam perbincangan sebagai
alat untuk meningkatkan koordinasi kesehatan dan perawatan seumur hidup, seperti pada kasus
kontroversi dalam Perhimpunan Atletik Nasional yang merekomendasikan pelaksanaan screening
pada seorang atlet dengan carrier mutasi sel sabit. Sebagian besar atlet di Amerika Serikat
melakukan screening bayi baru lahir, namun catatan tersebut belum termasuk catatan kesehatan
pada masa anak-anak dan dewasa.

Analisis Langsung Ke Konsumen


Peningkatan kecepatan dan keauratan pemeriksaan DNA dan penggunaan bahan yang mudah
diperoleh untuk analisis (sel deskuamasi pada saliva) telah dapat dikelompokkan secara komersial
berdasarkan pemeriksaan genetik. Beberapa perkembangan telah menelurkan proliferasi tawaran
pemeriksaan genetik berdasarkan internet, beberapa dari pemeriksaan tersebut berdasarkan kepada
penelitian yang berhubungan dengan genomik untuk ciri pembawaan kompleks. Pemeriksaan
genetik untuk beberapa ratus perbedaan ciri pembawaan telah diperlihatkan secara khusus.
Penyajian pemeriksaan ini telah melebihi perkembangan kebijakan publik dengan pengaturan
keliru, sebagai bagian keperluan klinis untuk informasi evaluasi genomik personal yang masih
diperdebatkan. Beberapa perusahaan mengindikasikan bahwa mereka memerlukan informasi
disposisi genetik dan meminimalkan implikasi langsungnya pada pengobatan medis. Perusahaan
lainnya memperkerjakan konsulen genetik yang mengindikasikan bahwa mereka menyediakan
informasi mengenai status carrier dan status genetik lainnya. Paling tidak dua perusahaan baru
menargetkan pemeriksaan prekonsepsi untuk pasangan yang ingin mengetahui tentang kondisi
resesif potensial.
Laporan seorang ahli pada badan POM merekomendasikan bahwa pemeriksaan genetik langsung ke
konsumen menjadi subjek dalam supervisi medis, termasuk interpretasi hasil dan pemesanan
pemeriksaan oleh dokter dibandingkan dengan yang diberikan oleh konsumen. ACMG dan ACOG
memiliki persepektif yang sama dan kongruen bahwa secara umum pemeriksaan langsung ke
konsumen kurang bermakna sampai pemecahan beberapa masalah, berupa: terbatasnya ilmu
pengetahuan mengenai pemeriksaan genetik oleh pasien dan dokter, susahnya interpretasi hasil
pemeriksaan, kurangnya penelitian, serta masalah privasi dan kepercayaan diri. Peningkatan
pendidikan dokter dan alat-alat perawatan yang sebanding dengan peningkatan kemampuan
konsulen genetik dan spesialis genetik medis termasuk dalam pengobatan fetus dan maternal, akan
dibutuhkan.

Genomik Serta Kesehatan Maternal dan Anak


Kesehatan prekonsepsi diketahui meningkat sebagai komponen kritis dalam peningkatan kelahiran
dan mengurangi perbedaan kesehatan. Variasi genetik dan pilihan individual memberikan tantangan
secara terus-menerus untuk alokasi sumber dana dalam perawatan kesehatan dan perkembangan
translasi genomik dalam meningkatkan kesehatan. Meskipun biaya rantai genetik secara umum
mengalami penurunan, perbedaan kesehatan kemungkinan mengalami eksaserbasi melalui akses
tidak seimbang dalam perawatan prekonsepsi dan prenatal dan pelaksanaannya bervariasi untuk
membantu teknologi reproduktif dan spesialis genetik serta dalam pemeriksaan diantara populasi
yang berbeda. Masalah mengenai penetapan hak paten dalam penggunaan rantai gen, baru-baru ini
telah direview dalam pengadilan, kemungkinan memiliki efek pada biaya dan pelaksanaan. Selain
itu, hal ini masih belum jelas siapa yang akan membiayai pengembangan bukti dalam screening,
diagnosis, dan penanganan untuk pertumbuhan individual namun secara kolektif sering ditemukan
dalam kondisi genetik.
Pemeriksaan genetik dapat menghasilkan efek mayor dalam pemilihan pasangan pernikahan,
apakah bisa memiliki anak dan apakah dapat melanjutkan kehamilan. Praktek infertilisasi global
dengan ragam regulasi yang membuat kemungkinan pilihan gamet, embrio, sperma, serta uterus
dan pemeriksaan derajat genetik selama proses berlangsung. Tantangan teknologi untuk
mendapatkan jaringan yang cukup dalam pemeriksaan preembrio untuk rantai penuh sedang dalam
penambahan, sebaik dengan analisis integrasi lengkap pada genom manusia pada konteks klinik.
Perkembangan cepat dalam genomik dan genetik akan merubah pemeriksaan dan screening genetik
contohnya; pemeriksaan genom personal pada dasar genom scan SNP akan menjadi ketinggalan
jaman pada seluruh genom atau pada semua tantai eksome yang dilakukan oleh konsumer dan
dokternya. Pendekatan rantai ini menawarkan pemeriksaan simultan untuk beberapa penyakit
monogen, sebanyak jumlah mutasi yang tidak diketahui efeknya. Lebih lanjut, terdapat tantangan
utama dalam interpretasi klinik signifikan dari sejumlah besar data yang diperoleh dari seluruh
genom atau rantai seluruheksom.

Kesimpulan
Semua teknologi baru merupakan pemeriksaan potensial yang dapat digunakan pada perawatan
prekonsepsi, prenatal dan bayi baru lahir, namun apakah dan bagaimana mereka akan digunakan
masih dalam perdebatan. Meskipun demikian, kami telah bisa memeriksa genom manusia dengan
ketelitian yang baik, genotipe kemungkinan tidak dapat memprediksi fenotipe. Perkembangan dan
implementasi pedoman menggunakan pertanyaan input dari konsumen dan advokat, konflik karena
kepentingan, analisis biaya efektif. Pengukuran perkembangan hasil untuk evaluasi pelayanan
genetik klinik mulai timbul. Klinisi menetapkan untuk mengikuti perkembangan dan rekomendasi
nasional. Setiap klinisi merupakan pendidik pasien yang penting dan sebuah kunci dalam
keanggotaan jaringan untuk pelayanan spesialisasi dalam menjembatani celah antara dunia
pengobatan personal dan pengobatan berbasis bukti.