Anda di halaman 1dari 16

BAB II

METODE RESISTIVITAS
2.1

Geofisika

2.1.1 Pengertian Geofisika


Geofisika adalah bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi
menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Di dalamnya termasuk juga
meteorologi, elektrisitas atmosferis dan fisika ionosfer. Penelitian geofisika
untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan bumi melibatkan pengukuran
di atas permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh
batuan di dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifatsifat dan kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal maupun
horisontal.
Dalam skala yang berbeda, metode geofisika dapat diterapkan secara
global yaitu untuk menentukan struktur bumi, secara lokal yaitu untuk
eksplorasi mineral dan pertambangan termasuk minyak bumi dan dalam skala
kecil yaitu untuk aplikasi geoteknik (penentuan pondasi bangunan dll).
Di Indonesia, ilmu ini dipelajari hampir di semua perguruan tinggi negeri
yang ada. Biasaya geofisika masuk ke dalam fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam (MIPA), karena memerlukan dasar-dasar ilmu fisika yang
kuat, atau ada juga yang memasukkannya ke dalam bagian dari Geologi. Saat
ini, baik geofisika maupun geologi hampir menjadi suatu kesatuan yang tak
terpisahkan Ilmu bumi. Bidang kajian ilmu geofisika meliputi meteorologi
5

(udara), geofisika bumi padat dan oseanografi(laut). Beberapa contoh kajian


dari geofisika bumi padat misalnya seismologi yang mempelajari gempabumi,
ilmu tentang gunungapi (Gunung Berapi) atau volcanology, geodinamika yang
mempelajari dinamika pergerakan lempeng-lempeng di bumi, dan eksplorasi
seismik yang digunakan dalam pencarian hidrokarbon.

Sebagaimana ilmu fisika yang dapat dibagi menjadi beberapa disiplin


ilmu yang lebih kecil (berhubungan dengan variasi kejadian fisikanya), maka
Geofisika Bumi Padat juga dapat dibagi menjadi cabang-cabang ilmu yang lebih
kecil, yaitu :

1. Seismologi (mempelajari gempa bumi dan fenomena fisika yang


berhubungan dengannya)
2. Vulkanologi (juga adalah bagian dari Geologi, mempelajari gunung
api, mata air panas, dsb)
3. Geomagnetisme (mempelajari medan magnet bumi, termasuk
paleomagnetisme)
4. Geoelektrisitas (mempelajari sifat-sifat kelistrikan bumi)
5. Tektonofisika (penggunaan ilmu fisika untuk mempelajari proses
tektonik)

6. Gravitasi (juga bagian dari Geodesi, mempelajari medan gravitasi


dan interpretasinya)
7. Geotermal (mempelajari suhu bagian dalam bumi, termasuk
eksplorasi panas bumi)
8. Geokosmologi (mempelajari asal-usul bumi)
9. Geokronologi (mempelajari kejadian bumi, termasuk menentukan
umurnya)
Eksplorasi geofisika adalah kegiatan penjajakan struktur geologi yang
cocok bagi pengumpulan minyak bumi dengan menggunakan peralatan
geofisika seperti gravimeter, magnetometer dan seismometer. Proses-proses
yang dilakukan adalah survei gravimetrik, survei magnetik, dan survei seismik.
Di dalam pencarian

minyak

dan gas bumi, masing-masing

survei

ini

dilaksanakan oleh kontraktor jasa (service companies) yang mempunyai


keahlian terkait, dengan tenaga ahli dan peralatan masing-masing.
Geofisika adalah bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi
menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Di dalamnya termasuk juga
meteorologi, elektrisitas atmosferis dan fisika ionosfer. Penelitian geofisika
untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan bumi melibatkan pengukuran
di atas permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh
batuan di dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifatsifat dan kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal maupun
horisontal. Dalam skala yang berbeda, metode geofisika dapat diterapkan
7

secara global yaitu untuk menentukan struktur bumi, secara lokal yaitu untuk
eksplorasi mineral dan pertambangan termasuk minyak bumi dan dalam skala
kecil yaitu untuk aplikasi geoteknik.
Dalam

geofisika,

kegiatan

pengukuran

lapangan

selalu

dilakukan

berdasarkan prosedur yang sudah ditentukan. Kemudian, hasil pengukuran


dicatat dan disajikan dalam bentuk tabel angka- angka pengukuran. Hasil
pengukuran tersebut sudah barang tentu sangat tergantung pada kondisi dan
sifat fisis batuan bawah permukaan. Tabel angka-angka itu selanjutnya disebut
data observasi atau juga biasa disebut data lapangan. Kita berharap data
eksperimen dapat memberi informasi sebanyak-banyaknya, tidak sekedar
mengenai sifat fisis batuan saja, melainkan juga kondisi geometri batuan
bawah permukaan dan posisi kedalaman batuan tersebut. Informasi itu hanya
bisa kita dapat bila kita mengetahui hubungan antara sifat fisis batuan tersebut
dan data observasinya. Penghubung dari keduanya hampir selalu berupa
persamaan matematika atau kita menyebutnya sebagai model matematika.
Maka dengan berdasarkan model matematika itulah, kita bisa mengekstrak
parameter fisis batuan dari data observasi. Proses ini disebut proses inversi
atau

istilah

asingnya

disebut

inverse

modelling.

Sementara

proses

kebalikannya dimana kita ingin memperoleh data prediksi hasil pengukuran


berdasarkan parameter fisis yang sudah diketahui, maka proses ini disebut
proses forward atau forward modelling.
Proses inversi adalah suatu proses pengolahan data lapangan yang
melibatkan teknik penyelesaian matematika dan statistik untuk mendapatkan
informasi yang berguna mengenai distribusi sifat fisis bawah permukaan. Di
8

dalam proses inversi, kita melakukan analisis terhadap data lapangan dengan
cara melakukan curve fitting (pencocokan kurva) antara model matematika
dan data lapangan. Tujuan dari proses inversi adalah untuk mengestimasi
parameter fisis batuan yang tidak diketahui sebelumnya (unknown parameter).
Proses inversi terbagi dalam level-level tertentu mulai dari yang paling
sederhana seperti fitting garis untuk data seismik refraksi sampai kepada level
yang rumit seperti tomogra? akustik dan matching (pencocokan) kurva
resistivity yang multidimensi. Contoh problem inversi dalam bidang geofisika
adalah
1. Penentuan struktur bawah tanah
2. Estimasi parameter-parameter bahan tambang
2.1.2 Teknologi Eksplorasi Geofisika
Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori yaitu
metode pasif dan aktif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami
yang dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan membuat medan
gangguan kemudian mengukur respons yang dilakukan oleh bumi. Medan
alami yang dimaksud disini misalnya radiasi gelombang gempa bumi, medan
gravitasi bumi, medan magnetik bumi, medan listrik dan elektromagnetik bumi
serta radiasi radioaktifitas bumi. Medan buatan dapat berupa ledakan dinamit,
pemberian arus listrik ke dalam tanah, pengiriman sinyal radar dan lain
sebagainya. Secara praktis, metode yang umum digunakan di dalam geofisika
tampak seperti tabel di bawah ini:
Tabel 2.1. Metode Eksplorasi Geofisika
9

Metode

Parameter yang diukur

Sifat-sifat fisika yang terlibat


Densitas

dan

modulus

Waktu tiba gelombang seismik


elastisitas yang menentukan
Seismik

pantul atau bias, amplitudo dan


kecepatan rambat gelombang
frekuensi gelombang seismik
seismik
Variasi

Gravitasi

harga

percepatan

gravitasi bumi pada posisi yang Densitas


berbeda
Variasi harga intensitas medan
Suseptibilitas

Magnetik

magnetik

pada

posisi

atau

remanen

yang
magnetik

berbeda
Resistivitas

Harga resistansi dari bumi


Tegangan

polarisasi

resistivitas

batuan

Konduktivitas listrik
atau

Polarisasi
sebagai Kapasitansi listrik

terinduksi
fungsi dari frekuensi
Potensial diri

Potensial listrik

Elektromagneti Respon
k

Konduktivitas listrik

terhadap

radiasi Konduktivitas atau Induktansi

elektromagnetik
Waktu

tiba

Radar

listrik
perambatan
Konstanta dielektrik

gelombang radar

1. Metode Gravitasi ( gaya berat )


10

Metode ini dilakukan untuk menyelidiki keadaan di bawah permukaan


bumi berdasarkan perbedaan rapat masa cebakan mineral dari daerah
sekeliling (r = gram/cm3 ). Metode ini adalah metode geofisika yang sensitive
terhadap perubahan vertikal, oleh karena itu metode ini disukai untuk
mempelajari kontak intrusi, batuan dasar, struktur geologi, endapan sungai
purba, lubang di dalam massa batuan, shaft terpendam dan lain-lain.
Eksplorasi biasanya dilakukan dalam bentuk kisi atau lintasan penampang.
Perpisahan anomali akibat rapat massa dari kedalaman berbeda
dilakukan dengan menggunakan filter matematis atau filter geofisika. Pada
saat ini,di pasaran telah dapat diperoleh alat gravimeter dengan ketelitian
sangat tinggi ( mgal ), sehingga kita tidak akan kesulitan untuk manganalisa
anomali yang berukuran kecil. Hanya saja dalam metode pengukuran data,
tetap harus dilakukan dengan sangat teliti untuk mendapatkan hasil yang
akurat. Pengukuran ini dapat dilakukan di permukaan bumi, di kapal maupun
dari udara. Dalam metode ini yang dipelajari adalah variasi medan gravitasi
akibat variasi rapat massa batuan di bawah permukaan sehingga dalam
pelaksanaannya yang diselidiki adalah perbedaan medan gravitasi dari suatu
titik observasi terhadap titik observasi lainnya. Metode gravitasi umumnya
digunakan dalam eksplorasi jebakan minyak (oil trap).
Disamping itu metode ini juga banyak dipakai dalam eksplorasi mineral
dan

lainnya.

Prinsip

pada

metode

ini

mempunyai

kemampuan

dalam

membedakan rapat massa suatu material terhadap lingkungan sekitarnya.


Dengan demikian struktur bawah permukaan dapat diketahui. Pengetahuan

11

tentang struktur bawah permukaan ini penting untuk perencanaan langkahlangkah eksplorasi baik minyak maupun mineral lainnya.
2. Metode Magnetik
Metode dilakukan dengan berdasarkan pada hasil pengukuran anomaly
geomagnet yang diakibatkan oleh perbedaan kontras suseptibilitas, atau
permeabilitas magnetik tubuh cebakan dari daerah di sekelilingnya. Perbedaan
permeabilitas

relatif

itu

diakibatkan

oleh

perbedaan

distribusi

mineral

ferromagnetic, paramagnetic, dan diamagnetic. Metode ini sensitive terhadap


perubahan vertical, umumnya digunakan untuk mempelajari tubuh intrusi,
batuan dasar, urat hydrothermal yang kaya akan mineral ferromagnetic,
struktur geologi.
Dan metode ini juga sangat disukai pada studi geothermal karena
mineral-mineral ferromagnetic akan kehilangan sifat kemagnetannya bila
dipanasi mendekati temperatur Curie oleh karena itu digunakan untuk
mempelajari daerah yang dicurigai mempunyai potensi Geothermal. Metode
eksplorasi disukai karena data acquitsition dan data proceding dilakukan tidak
serumit metoda gaya berat. Penggunaan filter matematis umum dilakukan
untuk

memisahkan

anomaly

berdasarkan

panjang

gelombang

maupun

kedalaman sumber anomaly magnetic yang ingin diselidiki. Di pasaran banyak


ditawarkan alat geomagnet dengan sensitifitas yang tinggi seperti potongan
proton magmetometer dan lainnya.
Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan
magnetik di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi

12

benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Variasi yang terukur


(anomali) berada dalam latar belakang medan yang relatif besar. Variasi
intensitas medan magnetik yang terukur kemudian ditafsirkan dalam bentuk
distribusi bahan magnetik di bawah permukaan, yang kemudian dijadikan
dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin.
Metode magnetik memiliki kesamaan latar belakang fisika dengan
metode gravitasi, kedua metode sama-sama berdasarkan kepada teori
potensial, sehngga keduanya sering disebut sebagai metoda potensial. Namun
demikian, ditinjau dari segi besaran fisika yang terlibat, keduanya mempunyai
perbedaan yang mendasar. Dalam magnetik harus mempertimbangkan variasi
arah dan besar vektor magnetisasi, sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau
variasi besar vektor percepatan gravitasi.
Data pengamatan magnetik lebih menunjukan sifat residual yang
kompleks. Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu
jauh lebih besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui
darat, laut dan udara. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi
pendahuluan minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta serta bisa
diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda arkeologi.
3. Metode Seismik
Metode ini merupakan salah satu metoda geofisika yang digunakan
untuk eskplorasi sumber daya alam dan mineral yang ada di bawah permukaan
bumi dengan bantuan gelombang seismik. Eksplorasi seismik atau eksplorasi
dengan menggunakan metode seismik banyak dipakai oleh perusahaan-

13

perusahaan minyak untuk melakukan pemetaan struktur di bawah permukaan


bumi untuk bisa melihat kemungkinan adanya jebakan-jebakan minyak
berdasarkan interpretasi dari penampang seismiknya.
Dalam metoda seismik, pengukuran dilakukan dengan menggunakan
sumber seismik ( ledakan, vibroseis dll ). Setelah sumber diberikan maka akan
terjadi gerakan gelombang di dalam medium ( tanah/batuan ) yang memenuhi
hukum-hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun
pembiasan akibat munculnya perbedaan kecepatan. Kemudian pada jarak
tertentu, gerakan partikel tersebut direkam sebagai fungsi waktu. Berdasar
data rekaman inilah dapat diperkirakan bentuk lapisan/struktur di dalam
tanah (batuan) Metode seismik didasarkan pada gelombang yang menjalar
baik refleksi maupun refraksi. Ada beberapa anggapan mengenai medium dan
gelombang dinyatakan sebagai berikut :
a. Anggapan medium di bawah pemukaan bumi : medium bumi
dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan gelombang

seismik

dengan kecepatan berbeda.Makin bertambahnya kedalaman batuan lapisan


bumi makin kompak.
b. Anggapan yang dipakai untuk medium penjalaran yang digunakan
untuk gelombang seismik adalah : Panjang gelombang seismik << ketebalan
lapisan bumi. Hal ini memungkinkan setiap lapisan bumi akan terditeksi.
Gelombang seismik dipandang sebagai sinar seismik yang memenuhi
hukum Snellius dan prinsip Huygens. Pada batas antar lapisan, gelombang
seismik menjalar dengan kecepatan gelombang pada lapisan di bawahnya.

14

Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman. Metode


seismik sering digunakan dalam eksplorasi hidrokarbon, batubara, pencarian
airtanah ( ground water ),kedalaman serta karakterisasi permukaan batuan
dasar ( characterization bedrock surface ), pemetaan patahan dan stratigrafi
lainnya dbawah permukaan dan aplikasi geoteknik.
4. Metode Geolistrik ( resistivas )
Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari
sifat aliran listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di
permukaan bumi. Dalam hal ini meliputi pengukuran potensial, arus dan medan
elektromagnetik yang terjadi baik secara alamiah ataupun akibat injeksi arus
ke dalam bumi. Ada beberapa macam metoda geolistrik, antara lain : metode
potensial diri, arus telluric, magnetoteluric, elektromagnetik, IP (Induced
Polarization), resistivitas (tahanan jenis) dan lain-lain.
Dalam bahasan ini dibahas khusus metode geolistrik tahanan jenis. Pada
metode geolistrik tahanan jenis ini, arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi
melalui dua elektroda arus.Kemudian beda potensial yang terjadi diukur
melalui dua elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial
untuk setiap jarak elektroda yang berbeda kemudian dapat diturunkan variasi
harga hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik ukur (sounding
point). Metoda ini lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya
dangkal, jarang memberikan informasi lapisan di kedalaman lebih dari 1000
feet atau 1500 feet. Oleh karena itu metode ini jarang digunakan untuk
eksplorasi munyak tetapi lebih banyak digunakan dalam bidang engineering
geology seperti penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian reservoar air,
15

juga digunakan dalam eksplorasi geothermal. Berdasarkan letak (konfigurasi)


elektroda-elektroda arus, dikenal beberapa jenis metode resistivitas tahanan
jenis, antara lain :

a. Metode Schumberger
b. Metode Wenner
c. Metode Dipole dipole
5. Metode Elektromagnetik
Salah satu metode yang banyak digunakan dalam prospeksi geofisika adalah
metode elektromagnetik. Metode elektromagnetik ini biasanya digunakan
untuk eksplorasi benda-benda konduktif. Perubahan komponen-komponen
medan akibat variasi konduktivitas dimanfaatkan untuk menentukan struktur
bawah permukaan. Medan elektromagnetik yang digunakan dapat diperoleh
dengan sengaja, seperti dengan membangkitkan medan elektromagnetik di
sekitar daerah observasi, pengukuran semacam ini disebut teknik pengukuran
aktif.
Contoh metode ini adalah Turam elektromagnetik. Metode ini kurang
praktis dan daerah observasi dibatasi oleh besarnya sumber yang dibuat.
Teknik pengukuran lain adalah teknik pengukuran pasif, yaitu dengan
memanfaatkan medan elektromagnetik yang berasal dari sumber yang tidak
secara sengaja dibangkitkan di sekitar daerah pengamatan. Gelombang
elektromagnetik seperti ini berasal dari alam dan dari pemancar frekuensi
16

rendah (15-30 Khz) yang digunakan untuk kepentingan navigasi kapal selam.
Teknik ini lebih praktis dan mempunyai jangkauan daerah pengamatan yang
luas.
6. Metode GPR ( Ground Penetrating Radar )
Ground Penetrating Radar (GPR) biasa disebut georadar. Berasal dari dua
kata yaitu geo yang berarti bumi dan radar singkatan dari radio detection and
ranging. Jadi, arti harfiahnya adalah alat pelacak

bumi menggunakan

gelombang radio. GPR baik digunakan untuk eksplorasi dangkal (nearsurface)


dengan ketelitian (resolusi) yang amat tinggi, sehingga mampu mendeteksi
benda sasaran bawah permukaan hingga benda yang berdimensi beberapa
sentimeter sekali pun.
GPR merupakan salah satu metode geofisika yang menggunakan sumber
gelombang elektromagnetik. Karena itu, GPR tergolong metode geofisika tidak
merusak (nondestructive). Kelebihan lain GPR adalah biaya operasionalnya
yang rendah, prosedur pengerjaan mudah, dan ketelitian sangat tinggi (resolusi
tinggi). Kelemahannya, penetrasinya tidak terlalu dalam atau daya tembus
metode ini hanya sampai puluhan meter ( 100 meter).
Itu sebabnya, metode ini bisa dikatakan cocok untuk pencarian situs
(atau harta karun). Dengan catatan: tempat itu benar-benar diyakini atau
barang tambang yang tempatnya tidak terlalu dalam. Karena panjang
gelombang itu mencerminkan ukuran minimum benda yang dapat terdeteksi.
Makin tinggi frekuensi makin kecil panjang gelombang, sehingga makin kecil
ukuran benda yang dapat terdeteksi (makin tinggi pula ketelitiannya).

17

Hasil pencitraan GPR bisa memunculkan informasi semacam ketebalan


permukaan aspal jalan, jalur pipa bawah tanah untuk mencari bedrock yang
pas guna pondasi bangunan hingga mencari mayat hilang dan fosil arkeologis.
Seperti

dijelaskan

di

awal,

radar

memancarkan

semacam

gelombang

elektromagnet yang kemudian ditangkap balik oleh sensor alat. Spektrum


frekuensi yang digunakan disesuaikan kebutuhan pengukurannya. Gelombang
yang dipancarkan adalah gelombang pendek (mikro) agar bisa terpenetrasi ke
bawah permukaan bumi. Respons data yang diterima, diolah berdasarkan
hukum pantulan (refleksi) dan pembiasaan (gelombang). Tentu saja banyak hal
yang mempengaruhi penjalaran (propagasi) gelombang.
Secara keseluruhan, alat GPR berbobot tidak lebih dari lima kilogram,
sehingga sangat leluasa bergerak. Alat ini bekerja dengan dua antena. Satu
berfungsi sebagai transmiter, yaitu bertugas memancarkan gelombang radar.
Lainnya

sebagai

receiver,

bertugas

menerima

gelombang

radar

yang

dipantulkan bahan di sekelilingnya kemudian diolah grafiknya ke dalam


komputer. Pada prinsipnya, metode georadar dengan metode seismik sama
yaitu membangkitkan gelombang buatan ke dalam bumi. Perbedaannya hanya
pada jenis gelombang yang digunakan.
2.1.3 Tujuan Eksplorasi Geofisika
Tujuan utama dari kegiatan eksplorasi geofisika adalah untuk membuat
model bawah permukaan bumi dengan mengandalkan data lapangan yang
diukur bisa pada permukaan bumi atau di bawah permukaan bumi atau bisa
juga di atas permukaan bumi dari ketinggian tertentu. Untuk mencapai tujuan
ini, idealnya kegiatan survey atau pengukuran harus dilakukan secara terus
18

menerus, berkelanjutan dan terintegrasi menggunakan sejumlah ragam


metode geofisika.
Seringkali bahkan hampir pasti terjadi beberapa kendala akan muncul
dan tak bisa dihindari, seperti kehadiran noise pada data yang diukur. Ada juga
kendala ketidaklengkapan data atau malah kurang alias tidak cukup. Namun
demikian,

dengan

analisis

data

yang

paling

mungkin,

kita

berupaya

memperoleh informasi yang relatif valid berdasarkan keterbatasan data yang


kita miliki.
Dalam melakukan analisis, sejumlah informasi mengenai kegiatan
akuisisi data juga diperlukan, antara lain berapakah nilai sampling rate yang
optimal? Berapa jumlah data yang diperlukan? Berapa tingkat akurasi yang
diinginkan? Selanjutnya, masih bagian dari proses analisis model matematika
yang

cocok

mesti

ditentukan

yang

mana

akan

berperan

ketika

menghubungkan antara data lapangan dan distribusi parameter fisis yang


hendak dicari.
Setelah proses analisis dilalui, langkah berikutnya adalahmembuat
model

bawah

permukaan

yang

nantinya

akan

menjadi

modal

dasar

interpretasi. Ujung dari rangkaian proses ini adalah penentuan lokasi pemboran
untuk mengangkat sumber daya alam bahan tambang mineral dan oil gas ke
permukaan. Kesalahan penentuan lokasi berdampak langsung pada kerugian
meteril yang besar dan waktu yang terbuang percuma. Dari sini terlihat betapa
pentingnya proses analisis apalagi bila segala keputusan diambil berdasarkan
data eksperimen.

19

20