Anda di halaman 1dari 12

PEDOMAN PENGELOLAAN

UNIT LAYANAN OBAT

PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK


DINAS KESEHATAN DAERAH

UPT. PUSKESMAS GENDING


Jl. VETERAN No.175 A Tlp. (031) 3985872 GRESIK

PEDOMAN

PENYELENGGARAAN PELAYANAN DI UNIT LAYANAN OBAT


PUSKESMAS GENDING
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Puskesmas sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di satu
wilayah kecamatan atau bagian wilayah kecamatan yang difungsikan sebagai Gate
Keeper dalam pelayanan kesehatan, harus dapat memberikan jaminan terhadap
penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat dan perorangan yang paripurna, adil,
merata, berkualitas dan memuaskan masyarakat.
Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan oleh suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat
memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan
rata-rata penduduk, serta yang penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar
pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
Dalam rangka memberikan Pelayanan kesehatan yang bermutu , maka di unit
layanan obat perlu dibuat standar pelayanan yang merupakan pedoman bagi semua pihak
dalam tata cara pelaksanaan pelayanan yang diberikan ke pasien pada umumnya,
Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka, dalam melakukan pelayanan harus
berdasarkan standar pelayanan di puskesmas Gending.
B. TUJUAN
Sebagai bahan pedoman untuk melaksanakan kegiatan pelayanan di unit layanan
obat,sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat dan
memberikan kepuasan pada masyarakat.
C. RUANG LINGKUP PELAYANAN
Ruang lingkup pelayanan unit layanan obat meliputi :
1.

Pengambilan resep sesuai urutan

2.

Skrening kelengkapan dan kejelasan resep

3.

Pengambilan serta peracikan obat sesuai resep

4.

Penyerahan resep ke pasien dengan disertai KIE

D. BATASAN OPERASIONAL
E. LANDASAN HUKUM

1. Undang undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


2. Undang undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
3. Undang undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014
Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas
5. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 75 Tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat
6. Surat keputusan Menteri Kesehatan RI No.1691 tahun 2011 tentang
keselamatan pasien rumah sakit

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM Unit layanan obat adalah :
No

Jenis

Kompetensi

Kompetensi

ketenenagaan

(Ijazah)

tambahan

Jumlah

(pelatihan)
1

Asisten Apoteker

DIII

Farmasi

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Petugas di unit layanan obat berjumlah 1 (satu) orang dengan standar minimal sudah
melaksanakan pelatihan manajemen obat,
Kategori :
1. Asisten Apoteker
C. JADUAL PELAYANAN
Jam buka pelayanan : senin- kamis : 07.30 12.00
Jumat
Sabtu

: 07.30 11.00
: 07.30.00 12.00

BAB III

STANDAR FASILITAS
A. DENAH RUANG
B. STANDAR FASILITAS
I. Fasilitas & Sarana
Unit layanan obat berlokasi di lantai 1 gedung puskesmas Gending. Ruangan terdiri dari
1 (satu) rak obat besar, 1 (satu) lemari container, 1 (satu) meja puyer beserta 1 (satu) set
alat puyer, 1 (satu) set computer, dan mempunyai fasilitas air mengalir untuk cuci tangan
dan cuci peralatan puyer setelah digunakan.
Peralatan unit layanan obat adalah sejumlah alat yang dipergunakan untuk melaksanakan
pelayanan di unit layanan obat.
A. Bahan Habis Pakai :
1. Tisu
2. Sabun Tangan/ antiseptic
B. Perlengkapan :
1. Tempat sampah tertutup.
C. Meubeler :
1. Kursi kerja
2. Lemari arsip
3. Meja tulis
5. Pencatatan dan Pelaporan
1. Buku bantu bon obat ke gudang
2. LPLPO
3. Resep

BAB IV

TATALAKSANA PELAYANAN

A. TATA LAKSANA PELAYANAN UNIT LAYANAN OBAT

I. Petugas Penanggung Jawab

Asisten Apoteker

II. Perangkat Kerja


Alat puyer
Kertas puyer
ATK

III. Tata Laksana Pelayanan unit layanan obat


1.

Pengambilan resep sesuai urutan

2.

Skrening kelengkapan dan kejelasan resep

3.

Pengambilan serta peracikan obat sesuai resep

4.

Penyerahan resep ke pasien dengan disertai KIE

BABV

LOGISTIK
A. Bahan
1. Kertas puyer
2. ATK

BAB VI

KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan Pasien ( Patient Safety ) Adalah suatu sistem dimana puskesmas


membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk asesmen resiko, identifikasi
dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan
analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya,
implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem ini mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh Kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Tujuan penerapan keselamatan paisen adalah terciptanya budaya keselamatan


pasien, meningkatkan akuntabilitas puskesmas terhadap apsien dan masyarakat,
menurunkan kejadian tidak diharapkan (KTD) di puskesmas, terlaksananya
program- program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak
diharapkan.

Puskesmas Gending wajib menerapkan standar keselamtan pasien yang meliputi :


1.

Hak pasien

2.

Mendidik pasien dan keluarga

3.

Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

4.

Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk


melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan
pasien

5.

Mendidik staf tentang keselamatan pasien

6.

Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan


pasien

7.

Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai


keselamatan pasien

Tujuh langkah menuju keselamatan pasien di puskesmas Gending adalah :


1. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien
2. Memimpin dan mendukung staf
3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan resiko
4. Mengembangkan sistem pelaporan
5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien
7. Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

I.

Pendahuluan
HIV / AIDS telah menjadi ancaman global. Ancaman penyebaran HIV
menjadi lebih tinggi karena pengidap HIV tidak menampakkan gejala. Setiap hari
ribuan anak berusia kurang dari 15 tahun dan 14.000 penduduk berusia 15 - 49
tahun terinfeksi HIV. Dari keseluruhan kasus baru 25% terjadi di Negara - negara
berkembang yang belum mampu menyelenggarakan kegiatan penanggulangan yang
memadai.
Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat, dengan peningkatan
kasus yang sangat bermakna. Ledakan kasus HIV / AIDS terjadi akibat masuknya
kasus secara langsung ke masyarakat melalui penduduk migran, sementara potensi
penularan dimasyarakat cukup tinggi (misalnya melalui perilaku seks bebas tanpa
pelingdung, pelayanan kesehatan yang belum aman karena belum ditetapkannya
kewaspadaan umum dengan baik, penggunaan bersama peralatan menembus kulit :
tato, tindik, dll).
Penyakit Hepatitis B dan C, yang keduanya potensial untuk menular melalui
tindakan pada pelayanan kesehatan. Sebagai ilustrasi dikemukakan bahwa menurut
data PMI angka kesakitan hepatitis B di Indonesia pada pendonor sebesar 2,08%
pada tahun 1998 dan angka kesakitan hepatitis C dimasyarakat menurut perkiraan
WHO adalah 2,10%. Kedua penyakit ini sering tidak dapat dikenali secara klinis
karena tidak memberikan gejala.
Dengan munculnya penyebaran penyakit

tersebut diatas memperkuat

keinginan untuk mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa melindungi


semua pihak dari penyebaran infeksi. Upaya pencegahan penyebaran infeksi
dikenal melalui Kewaspadaan Umum atau Universal Precaution yaitu dimulai
sejak dikenalnya infeksi nosokomial yang terus menjadi ancaman bagi Petugas
Kesehatan.
Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani

dan melakukan

kontak langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus tentunya
mempunyai resiko terpajan infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan wajib menjaga
kesehatan dan keselamatan darinya dari resiko tertular penyakit agar dapat bekerja
maksimal.
II.

Tujuan
a.

Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat


melindungi diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.

b. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya mempunyai


resiko tinggi terinfeksi penyakit menular dilingkungan tempat kerjanya,
untuk menghindarkan paparan tersebut, setiap petugas harus menerapkan
prinsip Universal Precaution.

III. Tindakan yang beresiko terpajan


a. Cuci tangan yang kurang benar.
b. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
c. Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.
d. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.
e. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
f. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.
IV. Prinsip Keselamatan Kerja
Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja
adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi
peralatan. Ketiga prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok yaitu :
a. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
b. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
c. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
d. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
e. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Indikator mutu yang digunakan di unit layanan obat Puskesmas Gending dalam
memberikan pelayanan adalah
1. waktu tunggu resep non racikan 15 menit dan racikan 30 menit
Waktu tunggu adalah waktu yang diperlukan mulai pasien menyerahkan resep sampai
pasien menerima obatnya.
2. kepuasan pelanggan .....%
Kepuasan adalah pernyataan tentang persepsi pelanggan terhadap pelayanan yang
diberikan.
3. Jam buka pelayanan
Jam buka pelayanan adalah jam dimulainya pelayanan di poli jam buka 08.00 s.d
11.30setiap hari kerja kecuali jumat dan sabtu

BAB IX

PENUTUP
Demikian pedoman penyelenggaraan pelayanan unit layanan obat ini dibuat sebagai
acuan pelayanan bagi petugas di puskesmas Gending. Mudah - mudahan dengan adanya
pedoman pelayanan ini, dapat lebih memudahkan semua pihak yang terkait dengan
penyelenggaraan kegiatan dan pelayanan internal maupun eksternal.