Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam budidaya tanaman pastilah terdapat hama yang dapat menganggu
tanaman budidaya. Oleh karena itu, agar tanaman budidaya tidak terganggu
oleh hama maka hal yang perlu dilakukan adalah dengan cara menggunakan
pestisida. Pestisida yang sering digunakan oleh petani adalah pestisida kimia
yang dapat dibeli di pasaran. Penggunaan pestisida kimia yang tidak
berwawasan lingkungan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan hidup
dan kelangsungan kehidupan manusia. Selain menggunakan pestisida kimia,
pengendalian hama juga dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida
organik.
Pestisida nabati merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
mengendalikan hama tanpa bahan kimia. Penggunaan pestisida nabati juga
digunakan untuk meminimalisir penggunaan bahan kimia yang dapat merusak
lingkungan. Bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan untuk pestisida nabati ada
pada tanaman-tanaman famili Meliaceae (misalnya mimba), Annonaceae
(misalnya sirsak), Rutaceae, Asteraceae, Labiateae dan Canellaceae. Dalam
pembahsan kali ini yang akan di bahas adalah pestisida dengan menggunakan
daun sirsak.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang di maksud dengan pestisida nabati?


2. Kandungan apa yang terdapat dalam daun sirsak sebagai pengusir hama?
1

3. Hama apa saja yang cocok untuk pestisida dari daun sirsak?
4. Apa kelebihan dan kekurangan dari pestisida ini?
5. Bagaimana cara membuat pestisida dengan daun sirsak?
6. Apa yang perlu di perhatikan dalam pembuatan pestisida nabati ini?

C. Tujuan Penulisan
Mengacu pada rumusan masalah tersebut, maka tujuan penulisan karya
tulis ini adalah
1.
Untuk mengetahui pengertian pestisida nabati.
2.
3.
4.
5.
6.

D. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan karya tulis ini, penulis menggunakan metode


pengumpulan data sebagai berikut:
1. Metode Kepustakaan
Yang penulis lakukan dengan metode ini adalah dengan membaca
sumber sumber tertulis yang berhubungan dengan karya tulis ini yaitu
daun sirsak sebagai pestisida nabati baik dari buku, berosur, w-book,
maupun artikel yang di share lewat internet.
2. Metode Observasi

Yang penulis lakukan dengan metode ini adalah dengan melakukan


tinjauan ke beberapa petani atau pengguna pestisida nabati ini, dan
melakukan beberapa riset ke para ahli yang berkaitan.
3. Metode Praktik
Metode ini dilakukan dengan cara mempelajari dan membuat
langsung pestisida dengan daun sirsak berdasarkan pengetahuan yang
di dapat dari metode observasi dan metode kepustakaan.

1. Sistematika Penulisan

Untuk memahami pembaca memahami karya tulis ini, penulis membuat


Sistematika Penulisan sebagai berikut:
BAB 1

Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, manfaat penulisan, metode
pengumpulan data, dan sistematika penulisan.

BAB II

Landasan Teori
Bab ini mengemukakan teori-teori sebagai landasan
dalam pembahasan karya tulis ini.

BAB III

Cara pembuatan pestisida dari daun sirsak serta


kandungannya dan manfaatnya.
Bab ini menguraikan cara pembuatan pestisida dari
saun sirsak dan menjelaskan kandungan beserta
manfaatnya.

BAB IV

Manfaat lain dari daun sirsak

Bab ini menjelaskan berbagai manfaat lain dari


daun sirsak.

BAB V

Penutup
Bab ini menguraikan simpulan dan sarana yang telah
dibahas dalam karya tulis ini.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pertanian
Pengendalian hama tanaman merupakan salah satu faktor yang
menentukan keberhasilan dalam usaha tani. Pada belakangan tahun ini ada
anggapan bahwa pengendalian hama yang paling efektif adalah dengan
penyemprotan dengan menggunakan pestisida maupun insektisida.
Namun, setelah terasa dampak negatif dari penggunaan pestisida maupun
insektisida ini maka para ahli hama tidak lagi menganjurkan secara besarbesaran dalam penggunaan racun pestisida maupun insektisida.
Di era serba organik seperti sekarang ini, penggunaan pestisida organik
cukup mendukung untuk mengatasi masalah gangguan serangan hama
tanaman komersial. Pestisida organik pun dapat menjamin keamanan
ekosistem. Dengan pestisida organik, hama hanya terusir dari tanaman
petani tanpa membunuh. Selain itu penggunaan pestisida organik dapat
mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan
pada pestisida kimia. Penggunaan pestisida organik harus dilakukan
dengan hati-hati dan dengan kesabaran serta ketelitian. Banyaknya
pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan
hama. Waktu penyemprotan juga harus diperhatikan petani sesuai dengan
siklus perkembangan hama (Sudarsono. 2006).

Selain harus mengenal karakter dari bahan yang akan digunakan,


karakter hamanya sendiri pun harus diperhatikan dengan baik. Dengan
mencari informasi karakter hidup hama, mendengarkan dari pengalaman
orang lain serta mengamati sendiri, kita dapat mencari kelemahan dari
hama tersebut. Contohnya untuk kutu yang menempel kuat di batang atau
daun dapat diatasi dengan menggunakan campuran sedikit minyak agar
kutu tidak dapat menempel. Selain itu, untuk semut yang menyukai cairan
manis pada tanaman, dapat disemprotkan air sari dari daun yang sifatnya
pahit seperti daun pepaya, daun diffen, dan lainnya. Untuk mengukur
tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan eksperimen dan
sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang digunakan
tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya.
Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali
pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang
ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti
tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan
lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi
dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik
dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya (Kardiman,2003).

B. Perbandingan Pestisida Nabati dengan Pestisida Kimia

Masalah besar yang dihadapi petani dalam kegiatan produksi adalah


hama penyakit tanaman dan bencana alam. Untuk menanggulangi
serangan hama dan penyakit tanaman petani menggunakan pestisida kimia.
Pestisida kimia merupakan bahan beracun yang sangat berbahaya bagi
kesehatan dan lingkungan, hal ini disebabkan pestisida bersifat polutan
dan menyebarkan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan organ
tubuh seperti mutasi gen dan gangguan syaraf pusat. Seiring waktu di
kembangkan pestisida nabati oleh karena pestisida nabati yang bahan

dasarnya berasal dari tanaman atau tumbuhan yang sebenarnya yang ada di
sekitar kita. Penggunaan pestisida nabati selain dapat mengurangi
pencemaran lingkungan, harganya relatif murah apabila dibandingkan
dengan pestisida kimia. (file:///D:/Knowledge20Pestisida%20Nabati.htm)
C. Daun Sirsak Sebagai Pestisida Nabati

Menurut Jacobson, bahan alam yang paling menjanjikan prospeknya


untuk dikembangkan sebagai pestisida ada pada tanaman-tanaman famili
Meliaceae (misalnya mimba), Annonaceae (misalnya sirsak), Rutaceae,
Asteraceae, Labiateae dan Canellaceae. Salah satu bahan dasar pestisida
alami, yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan hama tanaman
adalah daun sirsak, yang mengandung senyawa annonain dan resin. Daun
sirsak dapat kita ramu sendiri menjadi pestisida yang dapat membunuh
beberapa hama. Untuk membunuh hama yang lebih banyak, daun sirsak
dapat di campur dengan berbagai jenis tumbuhan lainnya.

D. Daun Sirsak
Tanaman Annona muricata (sirsak) mengandung zat toksik bagi
serangga hama. Serangga yang menjadi hama di lapangan maupun pada
bahan simpan mengalami kelainan tingkah laku akibat bahan efektif yang
terkandung pada daun sirsak. Disamping itu dapat juga menyebabkan
pertumbuhan serangga terhambat, mengurangi produksi telur dan sebagai
repellen (penolak) (Gruber dan Karganilla, 1989). Daun sirsak
mengandung bahan aktif annonain dan resin. Pestisida nabati daun sirsak
efektif mengendalikan hama trips. Jika ditambahkan daun tembakau dan
sirsak akan efektif mengendalikan hama belalang dan ulat. Sedangkan jika
ditambahkan jeringau dan bawang putih akan efektif mengendalikan hama
wereng coklat.

E. Klasifikasi sirsak
Nama umum
Indonesia
Inggris
Melayu
Vietnam
Thailand
Philipina

: Sirsak, nangka sabrang, nangka walanda


: Soursop
: Durian Belanda, Durian Benggaka
: Mang Cau Xiem
: Thurian Thet, Thurian Khaek
: Guyabano, Atti, Illabanos

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Ordo

: Magnoliales

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Sub Kelas

: Magnoliidae

Famili

: Annonaceae

Genus

: Annona

Spesies

: Annona muricata L.

F. Kandungan daun sirsak


Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin,
bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin
memiliki keistimewaan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hama
tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya.
Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa
mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya (Kurniadhi, 2001).

BAB III

PESTISIDA DARI DAUN SIRSAK

A. Pestisida Nabati
Pestisida (Inggris : Pesticide) secara harfiah berarti pembunuh hama (pest :
hama,cide: pembunuh). Menurut peraturan pemerintah no. 7/1973, pestisida
adalah semua zat kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang
dipergunakan untuk :
a.

Mengendalikan atau mencegah hama / penyakit yang merusak

tanaman,

atau hasil-hasil pertanian.

b.

Mengendalikan rerumputan.

c.

Mengatur atau merangsang pertumbuhan yang tidak diinginkan;

e.

Mengendalikan hama hama air.

f.

Mengendalikan atau mencegah binatang binatang yang perlu

dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah, dan air.


Menurut United States Enviromental Pesticide Control Act. Pestisida adalah
sebagai berikut.
a.

Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk

mengendalikan .mencegah, atau menangkis gangguan serangga, binatang


mengerat, nematode, gulma,virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama,
kecuali virus, bakteri, jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan
binatang;
b.

Semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur

pertumbuhan tanaman atau pengering hama. Dari batasan tersebut diatas nyata
bahwa pengertian pestisida luas sekali yakni meliputi produk produk yang
digunakan di bidang pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan / kesehatan
hewan, perikanan, dan kesehatan masyarakat. Pestisida yang digunakan di
bidang pertanian secara spesifik sering disebut produk perlindungan tanaman

10

(crop protection product) untuk membedakannya dari produk produk yang


digunakan di bidang lain.
Istilah produk perlindungan tanaman juga digunakan untuk menghindari
istilah pestisida yang berkonotasi bahan pembunuh. Memang, kenyataannya
tidak semua pestisida pertanian bekerja dengan cara membuat Repellent,
misalnya tidak membunuh melainkan mengusir hama. Attractant bekerja
menarik / mengumpulkan serangga. Istilah pestisida, kecuali lebih pendek dan
lebih dikenal luas, merupakan istilah resmi yang digunakan dalam peraturan
dan perundang-undangan.
Nabati yaitu sesuatu yang berhubungan dengan tumbuhan. Dari
pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pestisida nabati yaitu bahan aktif
tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan
untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pestisida nabati
dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul) atau
pembunuh. Pestisida nabati bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam
sehingga tidak mencemari lingkungan. Jenis pestisida ini juga relatif aman
bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.
Pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan
penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai
cara atau secara tunggal. Cara kerja pestisida sangat spesifik yaitu sebagai
berikut.
a.

Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa,

b.

Menghambat pergantian kulit,

c.

Mengganggu komunikasi serangga,

d.

Menyebabkan serangga menolak makan,

e.

Menghambat reproduksi serangga betina,

f.

Mengurangi nafsu makan.

g.

Memblokir kemampuan makan serangga.

h.

Mengusir serangga.

i.

Menghambat perkembangan patogen penyakit.

11

Bila kita menghendaki hidup sehat dan ramah lingkungan ada


pilihan atau opsi yang ditawarkan yaitu menggunakan bahan-bahan
alami untuk mengusir atau menghalau musuh-musuh alami yang
menyerang tanaman , tanpa harus mematikannya, sehingga siklus
ekosistem masih tetap terjaga. Bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk
kita jumpai bahkan tersedia bibit secara gratis.. Dosis yang digunakan pun
tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan
pestisida sintesis.
Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat
dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu
saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan
hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman
dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan
tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati.
Seperti halnya dengan manusia, tanaman juga akan mengalami
sakit atau terserang hama maupun penyakit, bila kondisi fisiknya tidak
baik. Dikarenakan adanya perubahan iklim /cuaca atau memang sejak awal
menggunakan benih /bibit yang tidak baik jadi mudah terserang , bisa juga
dari kondisi tanahnya, dan lain-lain.Banyak kendala-kendala yang
mempengaruhinya. Untuk mengatasinya tentu saja dapat menggunakan
obat-obatan yang pilihannya banyak di pasaran. Tergantung dari
tanamannya menderita apa dan kejelian serta kecerdasan kita untuk dapat
memulihkan tanaman agar dapat sehat kembali.

B. Kandungan Daun Sirsak Sebagai Pestisida Nabati


Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin,
bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin
12

memiliki keistimewaan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hama
tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya.
Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa
mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya (Kurniadhi, 2001).
Bagian dari tanaman sirsak yang digunakan sebagai pestisida nabati adalah
daun dan biji. Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin antara lain
asimisin, bulatacin, dan squamosin. Disamping itu, daun, biji, akar dan
buahnya yang mentah juga mengandung senyawa annonain (Mulyaman,
dkk.2000).
Daun dan biji sirsak dapat berperan sebagai insektisida, larvasida, repellent
(penolak serangga) dan antifeedent (penghambat makan) dengan cara
menghaluskan daun dan biji, kemudian dicampur dengan pelarut. Cara
kerjanya sebagai racun kontak dan perut. Ekstrak daun sirsak dapat digunakan
untuk mengendalikan belalang dan hama lainnya seperti wereng (Kaedinan,
2005).
Kandungan dalam daun sirsak:
a.

Alkaloida
Alkaloida merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar.

Alkaloida mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih
atom nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik.
Alkaloida mempunyai aktivitas fisiologi yang menonjol sehingga digunakan
secara luas dalam bidang pengobatan (Harborne, 1987). Ada tiga pereaksi
yang sering digunakan dalam skrining fitokimia untukmendeteksi alkaloida
sebagai pereaksi pengendapan yaitu pereaksi Mayer, pereaksi Bouchardat,
dan pereaksi Dragendorff (Farnsworth, 1966).
b.

Flavonoida
Flavonoida mencangkup banyak pigmen yang paling umum dan terdapat

pada seluruh dunia tumbuhan mulai dari fungus sampai angiospermae. Pada
tumbuhan tinggi, flavonoida terdapat baik dalam bagian vegetatif maupun

13

dalam bunga. Pigmen bunga flavonoida berperan jelas dalam menarik burung
dan serangga penyerbuk bunga. Beberapa fungsi flavonoida pada tumbuhan
ialah pengatur tumbuh, pengatur fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus
serta kerja terhadap serangga (Robinson, 1995).
c.

Saponin
Saponin mula-mula diberi nama demikian karena sifatnya yang

menyerupai sabun (bahasa latin sapo berarti sabun). Saponin tersebar luas
diantara tanaman tinggi. Saponin merupakan senyawa berasa pahit, menusuk,
menyebabkan bersin dan mengakibatkan iritasi terhadap selaput lendir.
Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa
jika dikocok.Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk
ikan, dan tumbuhan yang mengandung saponin telah digunakan sebagai racun
ikan selama beratus-ratus tahun (Robinson,1995: Gunawan, et al, 2004).
d. Tanin
Tanin merupakan salah satu senyawa yang termasuk ke dalam golongan
polifenol yang terdapat dalam tumbuhan, yang mempunyai rasa sepat dan
memiliki kemampuan menyamak kulit. Tanin terdapat luas dalam tumbuhan
berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu
(Harborne, 1987).
Umumnya tumbuhan yang mengandung tanin dihindari oleh pemakan
tumbuhan karena rasanya yang sepat. Salah satu fungsi tanin dalam tumbuhan
adalah sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan (herbivora) (Harborne,
1987).
e. Glikosida
Glikosida adalah senyawa yang terdiri atas gabungan gula dan bukan
gula. Bagian gula biasa disebut glikon sementara bagian bukan gula disebut
aglikon atau genin (Gunawan, et al, 2002).

14

Klasifikasi (penggolongan) glikosida sangat sukar. Bila ditinjau dari


gulanya, akan dijumpai gula yang strukturnya belum jelas. Sedangkan bila
ditinjau dari aglikonnya akan dijumpai hampir semua golongan konstituen
tumbuhan, misalnya tanin, sterol, terpenoid, dan flavonoid. Hampir semua
glikosida dapat dihidrolisis dengan pendidihan dengan asam mineral.
Hidrolisis dalam tumbuhan juga terjadi karena enzim yang terdapat dalam
tumbuhan tersebut. Nama enzimnya secara umum adalah beta glukosidase,
sedangkan untuk ramnosa nama enzimnya adalah ramnase (Anonimc, 2010).
f. Glikosida Antrakuinon
Golongan kuinon alam terbesar terdiri atas antrakuinon. Beberapa
antrakuinon merupakan zat warna penting dan sebagai pencahar. Keluarga
tumbuhan yang kaya akan senyawa jenis ini adalah Rubiaceae, Rhamnaceae,
Polygonaceae.Antrakuinon biasanya berupa senyawa kristal bertitik leleh
tinggi, larut dalam pelarut organik biasa, senyawa ini biasanya berwarna
merah, tetapi yang lainnya berwarna kuning sampai coklat, larut dalam larutan
basa dengan membentuk warna violet merah (Robinson, 1995).
g.

Steroid/Triterpenoid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam

satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30


asiklik, yaitu skualen. Triterpenoid adalah senyawa tanpa warna, berbentuk
kristal, sering kali bertitik leleh tinggi dan aktif optik. Uji yang banyak
digunakan ialah reaksi Liebermann Burchard (asam asetat anhidrida
H2SO4 pekat) yang kebanyakan triterpena dan sterol memberikan warna hijau
biru. Steroida adalah triterpena yang kerangka dasarnya sistem cincin
siklopentana perhidrofenantren (Harborne, 1987).
Dahulu steroida dianggap sebagai senyawa satwa tetapi sekarang ini
makin banyak senyawa steroida yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan
(fitosterol). Fitosterol merupakan senyawa steroida yang berasal dari

15

tumbuhan. Senyawa fitosterol yang biasa terdapat pada tumbuhan tinggi yaitu
sitosterol, stigmasterol, dan kampesterol (Harborne, 1987)
Beberapa peneliti melakukan kajian tumbuhan ini sebagai biopestisida.
Buah yang mentah, biji, daun dan akarnya mengandung senyawa kimia
annonain. Bijinya mengandung minyak 42 45 %, merupakan racun kontak
dan racun perut. Bermanfaat sebagai insektisida, repellent (penolak), dan
antifeedant.
Dari tanaman sirsak telah berhasil diisolasi beberapa senyawa acetogenin
antara lain akan bersifat asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi
tinggi, senyawa acetogenin anti feedant bagi serangga, sehingga menyebabkan
serangga tidak mau makan. Pada konsentrasi rendah bersifat racun perut dan
dapat menyebabkan kematian. Senyawa acetogenin bersifat sitotoksik
sehingga menyebabkan kematian sel. Bulatacin diketahui menghambat kerja
enzin NADH ubiquinone reduktase yang diperlukan dalam reaksi respirasi
di mitokondria.

C. Hama yang Dapat Dibasmi Pestisida Nabati Daun Sirsak


Daun sirsak memang dapat digunakan untuk membasmi hama, akan
tetepi hanya pada hama tertentu saja seperti pada macam-macam
aphis/belalang yaitu Wereng coklat (Nilaparvata),Wereng hijau
(Nephotettix virescenns),Wereng punggung putih (Sogatella furcifera)
,Kutu sisik hijau (Coccus viridis) dan pada macam-macam ulat yaitu Ulat
Grayak (Spodoptera litura F),Ulat tritip (Plutella xylostella), Lalat buah
(Ceratitis capitata),Kumbang labu merah (Aulachopora foveicollis),Kepik
hijau, Hama kapas (Dysdercus koeniglii).

a. Belalang (Aphis)

16

Pengaruh pemberian pestisida nabati dari daun sirsak terhadap


belalang adalah belalang yang makanannya telah diberi pestisida nabati
ini, belalangnya kurang aktif jika dibandingkan belalang yang tidak diberi
pestisida nabati, dan dalam kurun waktu 3 hari belalang yang diberi
pestisida nabati tersebut mati, dikarenakan memakan daun padi yang telah
diberi pestisida daun sirsak. Sedangkan belalang yang makanannya yang
berupa daun padi yang tidak diberi pestisida daun sirsak terlihat lebih aktif
dibandingkan belalang yang diberi pestisida nabati daun sirsak dan dalam
kurun waktu 3 hari terlihat baik baik saja. Hal itu terjadi karena pestisida
nabati dari daun sirsak ini berfungsi sebagai racun kontak dan perut.
a. Racun kontak
Racun kontak adalah insektisida yang masuk kedalam tubuh serangga
lewat kulit (bersinggungan langsung). Serangga hama akan mati bila
bersinggungan (kontak langsung)dengan insektisida tersebut.
Kebanyakan racun kontak juga berperan sebagai racun perut.
b.

Racun lambung (racun perut, stomash poison)


Racun lambung (racun perut, stomash poison) adalah insektisida yang
membunuh serangga sasaran bila insektisida tersebut masuk ke dalam
organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding saluran pencernaan.
Selanjutnya, insektisida tersebut dibawa oleh cairan tubuh serangga ke
tempat sasaran yang mematikan (misalnya ke susunan syaraf serangga).
Oleh karena itu, serangga harus terlebih dahulu memakan tanaman yang
sudah disemprot dengan insektisida dalam jumlah yang cukup untuk
membunuhnya.
b. Ulat (Spodoptera litura F).
Ulat sangat merugikan karena menyerangan tanaman secara
bergerombol dan massif sehingga kadang disebut juga sebagai ulat tentara
(army worm). Ulat biasanya menyerang pada malam hari, tingkat
serangan parah dan tingkat lanjut bisa menyebabkan seluruh pertanaman
dalam satu hamparan bisa habis dalam waktu satu malam saja. Salah satu
gejala awal serangan ulat ialah daun-daun meranggas dan berlubanglubang.Ulat mulai memakan daun dari bagian tepi kemudian ke bagian
17

atas maupun bawah daun. Pada tingkat serangan yang parah daun hanya
tertinggal epidermisnya saja. Sehingga daun menjadi tidak berfungsi
sebagai tempat fotosintesis, akibatnya produksi tanaman terhambat dan
menurun.
Dengan

adanya

praktikum

tentang

pembuatan

pestisida

botanis/alami dari daun sirsak dapat digunakan untuk mengatasi ulat yang
menyerang pada tanaman. Gejala awal dari pestida alami dari daun sirsak
setelah disemprotkan ke daun sawi yang dimasukkan ulat, ulat tersebut
seperti mencari celah atau tempat yang tidak terkontaminasi oleh pestisida
botanis/alami dari daun sirsak,dan kurang dari 5 menit ulat grayak tersebut
tidak bergerak atau mati terkena racun yang terkandung dalam daun sirsak
tersebut.
D. Kelebihan Dan Kekurangan Dari Pestisida Nabati Daun Sisak
Pestisida nabati daun sirsak mempunyai banyak keuntungan atau
keunggulan tetapi juga masih banyak kelemahannya yang secara rinci
diuraikan berikut ini:
Menurut Stoll (1995) dibandingkan dengan pestisida sintetik pestisida
1.
2.
3.
4.
5.
6.

nabati mempunyai sifat yang lebih menguntungkan yaitu:


Mengurangi resiko hama mengembangkan sifat resistensi.
Tidak mempunyai dampak yang merugikan bagi musuh alami hama.
Mengurangi resiko terjadinya letusan hama kedua.
Mengurangi bahaya bagi kesehatan manusia dan ternak.
Tidak merusak lingkungan dan persediaan air tanah dan air permukaan.
Mengurangi ketergantungan petani terhadap agrokimia dan biaya dapat

lebih murah.
7. Bahan nabati mempunyai sifat yang menguntungkan karena daya racun
8.

rendah.
Lebih akrab lingkungan serta lebih sesuai dengan kebutuhan
keberlangsungan usaha tani skala kecil.
Oka (1993) juga mengemukakan bahwa pestisida nabati tidak mencemari
lingkungan, lebih bersifat spesifik, residu lebih pendek dan
kemungkinan berkembangnya resistensi lebih kecil.

a. Keuntungan menggunakan pestisida nabati daun sirsak antara lain:

18

1. Dapat mengurangi hama belalang yang menjadi hama bagi tanaman


budidaya tanpa merusak ekosistem atau rantai makanannya
2. Mengurangi penggunaan bahan kimia dalam budidaya tanaman
3. Lingkungan lebih terjaga karena tidak ada residu bahan kimia
4. Tanaman budidaya terutama sayuran dapat tetap sehat untuk
dikonsumsi karena tidak menggunakan pestisida kimia
b. Kelemahan Pestisida Nabati Daun Sirsak
Pestisida nabati digunakan untuk menghindari adanya bahan kimia
yang akan terkontaminasi pada tanaman. Akan tetapi, dalam menggunakan
pestisida nabati, ada beberapa kelemahan yang dapat mengurangi peminat
masyarakat dalam pemakaiannya. Menurut Martono (1997) kelemahan
pestisida nabati yang perlu kita ketahui antara lain
1) Karena bahan nabati kurang stabil mudah terdegradasi oleh
pengaruh fisik, kimia maupun biotik dari lingkungannya,
maka penggunaannya memerlukan frekuensi penggunaan
yang lebih banyak dibandingkan pestisida kimiawi sintetik
sehingga mengurangi aspek kepraktisannya
2) Kebanyakan senyawa organic
nabati tidak polar sehingga sukar larut di air karena itu
diperlukan bahan pengemulsi
3) Bahan nabati alami juga terkandung dalam kadar rendah,
sehingga untuk mencapai efektivitas yang memadai
diperlukan jumlah bahan tumbuhan yang banyak
4) Bahan nabati hanya sesuai bila digunakan pada tingkat
usaha tani subsisten bukan pada usaha pengadaaan produk
pertanian massa
5) Apabila bahan bioaktif terdapat di bunga, biji, buah atau
bagian tanaman yang muncul secara musiman,
mengakibatkan kepastian ketersediaannya yang akan
menjadi kendala pengembangannya lebih lanjut
6) Kesulitan menentukan dosis, kandungan kadar bahan aktif
di bahan nabati yang diperlukan untuk pelaksanaan
pengendalian di lapangan, sehingga hasilnya sulit
diperhitungkan sebelumnya.

19

E. Pembuatan Pestisida Nabati Daun Sirsak


1. Alat dan Bahan
Alat
Blender
Pisau dan Gunting
Gelas Ukur
Saringan
Corong
Tempat ekstrak
Plastik dan Karet

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

1.
2.

Bahan
Daun sirsak 100 lembar
Air 1000 mL

2. Cara Kerja
Pembuatan ekstrak
a. Siapkan alat dan bahan
b. Potong daun sirsak
c. Masukkan ke dalam blender
d. Masukkan air
e. Blender sampai halus
f. Keluarkan dari blender
g. Saring dan masukkan ke dalam botol
h. Tutup botol dan diamkan selama 1 minggu
3.

Pembuatan Larutan

a. Siapkan hasil ekstraksi


b. Masukkan hasil ekstraksi ke dalam gelas ukur sebanyak

Konsentrasi 25% (ekstrak 25 ml dan air 75ml)

Konsentrasi 50% ( ekstrak 50 ml dan air 50 ml)


Konsentrasi 75% (ekstrak 75 ml dan air 25 ml)

c. Setelah bahan tercampur rata dimasukkan ke dalam sparyer


d. Aplikasikan ke tanaman budidaya (cabai)
4.

Aplikasi
Cara aplikasinya adalah dengan cara penyemprotan menggunakan sparyer
pada tanaman cabai, tiap ulangan 30ml

5. Rancangan Percobaan

20

Perlakuan terdiri dari 3 macam yaitu konsentrasi 25%, konsentrasi

50% dan konsentrasi 75%


Setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan

6. Penelitian dilakukan di rumah penulis sendiri bertempatkan di Jln Wijaya


Kusuma, Wanarejan Selatan, Taman.
a. Pada tiap tanaman cabai setelah disemprot diberi belalang kemudian
ditutup dengan plastik yang memiliki ventilasi udara
b. Pengamatan dilakukan setiap hari terhadap serangan belalang dan
efektivitas pestisida
c. Dilakukan penghitungan prosentase pada hari terakhir pengamatan

7.

Hasil Pengamatan
Pada bab ini, akan kita lihat jumlah belalang yang mati setelah perlakuan
penyemprotan pestisida nabati.
Tabel 1. Respon belalang hari pertama setelah penyemprotan

PERLAKUAN
KONTROL
KONSENTRASI 25%
KONSENTRASI 50%
KONSENTRASI 75%

ULANGAN 1
Hidup
Hidup
Hidup
Hidup

ULANGAN II
Hidup
Hidup
Hidup
Mati

ULANGAN III
Hidup
Hidup
Hidup
Hidup

Tabel 2. Respon belalang hari kedua setelah penyemprotan


PERLAKUAN
KONTROL
KONSENTRASI 25%
KONSENTRASI 50%
KONSENTRASI 75%

ULANGAN 1
Hidup
Mati
Hidup
Mati

ULANGAN II
Hidup
Mati
Mati
-

ULANGAN III
Hidup
Mati
Mati
Hidup

Tabel 3. Respon belalang hari ketiga setelah penyemprotan


PERLAKUAN
KONTROL
KONSENTRASI 25%
KONSENTRASI 50%
KONSENTRASI 75%

ULANGAN 1
Hidup
Mati
-

8. Pembahasan

21

ULANGAN II
Hidup
-

ULANGAN III
Hidup
Mati

Pada hasil pengamatan pertama, yaitu satu hari setelah penyemprotan,


terlihat bahwa belalang pada perlakuan pertama yaitu konsentrasi 25%
juga terlihat bahwa belalang pada tiap ulangan masih hidup. Perlakuan
ketiga, konsentrasi 50% pada tiap ulangan belalang masih hidup.
Konsentrasi 75%, pada ulangan kedua belalang mati dan pada ulangan
pertama dan ketiga masih hidup. Pada pengamatan pertama, ada satu
belalang mati yaitu pada konsentrasi 75%.
Pada hasil pengamatan kedua, yaitu pada hari kedua setelah
penyemprotan. Pada pelakuan kontrol setiap ulangannya belalang masih
hidup. Pada konsentrasi 25% pada tiap ulangan belalang mati. Ini berarti
jumlah belalang mati pada konsentrasi 25% adalah 3. Pada konsentrasi
50%, belalang pada ulangan kedua dan ketiga mati sedangkan pada
ulangan pertama tetap hidup. Berarti pada konsentrasi 50% jumlah
belalang mati ada 2. Pada konsentrasi 75%, ada 1 belalang mati pada hari
pertama setelah penyemprotan, dan dihari kedua pada ulangan pertama
belalang mati.
Pada hasil pengamatan ketiga, yaitu pada hari ketiga setelah
penyemprotan. Belalang yang ada pada perlakuan kontrol tetap hidup.
Pada konsentrasi 25% belalang telah mati pada hari kedua setelah
penyemprotan. Konsentrasi 50% tersisa 1 belalang pada ulangan pertama
dan telah mati. Pada konsentrasi 75% tersisa satu belalang pada ulangan
ketiga dan telah mati.
Dari hasil pengamatan juga dapat dilihat bahwa semua belalang setelah
pengamatan ketiga yang mendapatkan perlakuan penyemprotan pestisida
nabati daun sirsak mati. Namun, jumlah belalang yang mati sekaligus pada
tiap ulangan ada pada konsentrasi 25% yang terjadi pada hari kedua. Dapat
disimpulkan bahwa konsentrasi yang tepat untuk digunakan sebagai
pestisida nabati daun sirsak adalah konsentrasi 25% karena kandungan
senyawa acetogenin, pada pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut
yang bisa mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya.

22

BAB IV
Manfaat Lain Dari Daun Sirsak
A. Manfaat Lain Daun Sirsak
Daun sirsak ternyata mengandung banyak manfaat untuk bahan
pengobatan herbal, dan untuk menjaga kondisi tubuh. Dibalik manfaatnya
tersebut ternyata tak lepas dari kandungannya yang banyak mengandung
acetogenins, annocatacin, annocatalin, annohexocin, annonacin,
annomuricin, anomurine, anonol, caclourine, gentisic acid, gigantetronin,
linoleic acid dan muricapentocin. Kandungan senyawa ini merupakan
senyawa yang banyak sekali manfaatnya bagi tubuh, bisa sebagai obat
penyakit atau untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Di sini penulis akan
menjelaskan tentang manfaat lain daun sirsak. Berikut manfaat daun sirsak
untuk kesehatan tubuh.
B. Daun Sirsak Dapat Mencegah Kanker
Daun sirsak dapat meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan berbagai
pernyakit. Daun sirsak juga bisa membunuh sel-sel kanker lebih cepat dan
aman ketimbang harus melakukan kemoterapi yang memiliki banyak efek
samping dan biayanya juga sangat mahal.
Untuk mengobati kanker ambilah 10 lembar daun sirsak yang sudah tua
dan dalam kondisi yang baik. Kemudian cuci sampai bersih dengan air. Lalu
rebus dengan tiga gelas air, dan biarkan mendidih sampai hanya tersisi satu
gelas. Biarkan air rebusan dingin dan minum dua kali sehari selama
seminggu. Bila memliki efek yang baik, maka dapat dilanjutkan
mengkomsumsi air rebusan tersebut.

C. Daun Sirsak Mengobati Asam Urat

23

Daun sirsak juga dapat digunakan sebagai obat asam urat. Banyak
pengobatan alternatif yang menggunakan daun sirsak untuk pengobatan
asam urat. Caranya sangat mudah yaitu dengan daun sirsak yang sudah
cukup tua tapi masih hijau, kira-kira 6 sampai 10 lembar kemudian cuci
bersih. Selanjutnya daun sirsak dipotong-potong dengan tujuan memastikan
kandungan pada daun benar benar keluar. Rebus daun tersebut dengan dua
gelas air, biarkan mendidih hingga air tersisah satu gelas. Minum ramuan
tersebut sehari dua kali yaitu pagi dan malam hari.
D. Menghilangkan Bisulan
Bisul adalah salah satu gangguan kulit yang menjadi momok selain nyeri,
ternyata bisul muncul tidak kenal tempat. Bisa di tubuh bisa juga diwajah,
nah yang paling merepotkan bila munculnya di wajah karena bisa
mengganggu kecantikan.
Caranya, ambil lima sampai 10 lembar daun sirsak yang masih muda lalu
tempelkan ditempat yang terkena bisul hingga bisul mengering.

BAB V

24

PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan uraian bab bab sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan
bahwa:
B. Saran
1. Agar pestisida nabati dari daun sirsak lebih efektif untuk membasmi
hama bisa dikombinasikan dengan bahan lain. Untuk membasmi hama
tanaman yang berupa belalang dan ulat dapat dikombinasikan dengan daun
tembakau, dengan tata cara sebagai berikut.
a.

50 lembar daun sirsak dan segenggam daun tembakau

ditumbuk sampai halus.


b.

Rendam bahanbahan tersebut dalam 20 lt air yang telah

diberi 20 gr detergen selama semalam.


c.

Saring larutan tersebut dengan kain.

d.

Larutan siap digunakan dan disemprotkan ke tanaman.

Selain itu juga bisa dikombinasikan dengan jeringau dan bawang putih
untuk mengendalikan hama wereng coklat dengan tata cara sebagai berikut.
a.

Tumbuk halus segenggam daun sirsak, segenggam jeringau

dan 20 siung bawang putih.


b.

Rendam bahan-bahan tersebut dengan 20 liter air yang telah

ditambahkan 20 gr detergen selama 2 hari.


c.

Saring larutan tersebut dengan kain

d.

Larutan tersebut siap digunakan

2. Sebaiknya penggunaan pestisida botanis/alami dari daun sirsak


dilakukan sesering mungkin,karena kandungan zat yang terdapat dalam
daun sirsak mudah terdegradasi.

25

26