Anda di halaman 1dari 26

LBM 2 MP, SGD 2

ASTRI NOOR MALITASARI


STEP 7
1. Bagaimana cara menyusun tinjauan pustaka?
CARA MENYUSUN TINJAUAN PUSTAKA YANG BAIK
a. Kumpulkan kepustakaan yang diperkirakan ada hubungan atau relevan dgn
b.
c.
d.
e.
f.

masalah penelitian
Periksa sumber pendahuluan/abstrak dari karangan tadi
Mulai membaca dengan cermat & kritis untuk penelitian
Membuat catatan yang diperlukan
Mencatat hal-hal penting yang dibaca dari kepustakaan terpilih
Tuliskan pada kertas tadi judul karangan, nama pengarang, volume, no

halaman, & kata kunci katangan tersebut


g. Catatlah hal-hal yang relevan
h. Melalui penalaran deduktif & induktif biasanya akan ditemukan jawaban
sementara/hipotesa dari masalah penelitian
(Dr.B.Sandjaja, MSPH & Albertus Heriyanto, M.Hum. 2006. Panduan Penelitian.
Jakarta: Prestasi Pustaka)
Hal2 yang perlu diperhatikan dalam penulisan tinjauan pustaka :
1. Kalimatnya tidak terlalu panjang
2. Kalimat tanpa subjek atau ejaan yang tidak tepat harus
dihindarkan
3. Tetap menjaga alur pikiran yang logis
4. Penulisan paragraph harus tepat agar informasi yang
disampaikan jelas
5. Penulisan rujukan harus tepat
6. Bahan rujukan minimal 5-10 tahun sebelumnya
(Notoatmodjo, Dr. Seokidjo. 2002. Metodologi Penelitan Kesehatan. Jakarta :
Rikena Cipta)
Cara menyusun
Teknik penulisan harus diperhatikan benar. Dimana kalimat yang terlalu panjang, tanpa
subyek, atau ejaan yang tidak taat-asas harus dihindarkan
Alur pikiran yang logis harus tetap dijaga
Penulisan paragraph yang tidak tepat dapat mengurangi kejelasan informasi yang
disampaikan
(Soedigdo. 2011. dasar-dasar metodologi penelitian klinis)
pendahuluan : menyebutkan topik-topik dan keterkaitannya,ada
bebrapa pertanyaan untuk dijawab
o pembukaan : tersusun sesuai organisasi topik atau daftar pertanyaan
yang ditetapkan di pendahuluan
o ringkasan/kesimpulan : membahas apakah permasalahan tadi tuntas
untuk dijawab oleh pustaka yang ada.
Dalam tinjauan kepustakaan ini, peneliti (calon peneliti) hanya mencoba
meninjau atau review terhadap teori-teori dan hasil-hasil penelitian orang
o

R
TE
AR

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
lain, apa adanya saja. Hal ini berarti bahwa pemikiran dan pendapatpendapat pembuat proposal penelitian seyogyanya dimasukkan ke dalam
Tinjauan Kepustakaan tersebut.
Pertama, turunkan tau identifikasikan variabel-variabel dari rumusan
permasalahan penelitian yang ada.
Kedua, cari informasi yang dalam dan seluas mungkin, dari teori dan fakta
penelitian yang telah ada yang berkaitan dengan variabel-variabel di atas.
Ketiga, hubungkan kenyataan yang ada dengan informasi tersebut, sehingga
peneliti mengetahui akan adanya sesuatu yang kurang. Dari kekurangan
inilah peneliti mereka-reka konsep atau hubungan imajinatifnya, sehingga
antara kenyataan, teori, dan permasalahan terdapat hubungan yang jelas.
Identifikasi dari variable
Menyusun kerangka teori
Menyusun kerangka konsep
Hipotesis
Sumber : buku metodologi penelitian kesehatan,Sukidjo Notoatmodjo
2. Bagaimana susunan tinjauan pustaka (BAB 2) secara sistematis?
3. Apa saja kesalahan yang dapat terjadi pada tinjauan pustaka?
4. Apa saja manfaat dari tinjauan pustaka?
TUJUAN :
Agar para peneliti mempunyai wawasan yang luas sebagai dasar untuk
mengembangkan atau mengidentifikasikan variable yang akan diteliti.
Agar peneliti dapat meletakkan masalah yang ingin diteliti itu dalam
konteks ilmu pengetahuan yang sedang digeluti.
Dr. Soekidjo Notoatmojo, Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi
Fungsi Tinjauan Pustaka:
a.
Mengarahkan kita dalam menciptakan pemahaman, dan selanjutnya dapat
mengarahkan dalam merumuskan masalah penelitian yang tepat. Dengan dirumuskannya
masalah yang tepat akan diperoleh arah dan hasil penelitian yang tepat dan relevan.
b.
Membantu peneliti dalam mengarahkan pemikiran konsepsual maupun dalam
menguji ketepatan asumsi atau hipotesis yang dirumuskan.
c.
Dapat menentukan teknik penelitian yang tepat,sehingga diharapkan hasil penelitian
yang valid dan bermakna.
d.
Membantu menghindari pengutipan pendapat orang lain yang tidak tepat, dan juga
dapat menghindari pelaksanaan penelitian yang tidak mencapai tujuan penelitian.
(Buku Metodologi Penelitian Kesehatan, Dr. Soekidjo Notoatmodjo)
Manfaat :
memperdalam pengetahuan , khususnya tentang hubungan antar
variable penelitian
mengkaji teori dasar yg berkaitan dengan masalah yg diteliti
mengkaji temuan penelitian sejenis atau yg pernah dilakukan
sebelumnya

R
TE
AR

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
menemukan metode atau cara pendekatan pemecahan masalah
mendapatkan cara mengevaluasi ataupun analisa data
mencari informasi aspek penelitian yg belum tergarap
memperkaya ide-ide baru
Panduan Penelitian, Dr.B. Sandjaja, MSPH dan Albertus Heriyanto, M.Hum
5. Darimana sumber acuan tinjauan pustaka yang baik?
Sumber Pustaka :
makalah ilmiah dalam majalah ilmiah
buku ilmiah (baik keseluruhan ataupun hanya bagian atau bab dari buku
tersebut) jangan berasal dari majalah popular,surat kabar,poster,pamflet
dsb
laporan atau dokumen resmi dari suatu instansi pemerintah
(misalnya,Depkes,BKKBN)
laporan dari suatu badan internasional (WHO,UNICEF)
laporan hasi penelitian yang tidak dipublikasikan akan tetapi
didokumentasikan di perpustakaan instansi yang bersangkutan
Jangka waktu mutakhir yakni 5-7 tahun.
Berasal dari jurnal ilmiah atau buku yang benar-benar dibaca, dan bukan
hanya dari suatu abstrak atau hanya dikutip dari penulis lain.
Rujukan yang dicantumkan harus yang relevan. Jangan dengan cara
menyalin atau clipping seluruh paragraf, melainkan harus dirangkum
dalam suatu kalimat dengan kata-kata sendiri, kecuali apabila kalimat tsb
memang tidak dapat diartikan lain, misalnya pada UUD 1945, GBHN
Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi ke 2,Dr.Asril Aminullah,Sp.A(K)
Ketentun sumber Pustaka pd KTI:
a. Keterkinian (recent)
sumber pustaka sejogyanya yang baru, Secara umum dikatkan baru
bila kurang dari 10 tahun terakhir
b. Relevansi (relevant)
sumber pustaka yang diambil hendaklah mempunyai relevansi yang
jelas / tinggi dengan permasalahn yang diutarakan.
c. Kelengkapan (completeness)
dalam era informasi global saat ini sangat memudahkan bagi peneliti
untuk mendapatkan informasi yang lengkap secara mudah lewat
internet. Informasi yang lengkap ini saat ini mutlak diperlukan agar apa
yang akan ditulis dan dipakai dalam penelitian ini tidak ketinggalan dan
yang jelas lebih bisa yakin bahwa belum dikerjakan orang lain
d. Tingkat kepercayaan dari bukti bukti yang diajukan (level of
evidence)
Bukti bukti yang didapat secara eksperimental menempati level yang
tertinggi, terlebih bila multisenter study atau hasil meta analisis.
6. Apa hubungan tinjauan pustaka dengan variabel-variabel dalam penelitian
?
Tinjauan pustaka berisi :
1. Variabel terikat
2. Variabel bebas

R
TE
AR

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
3.
4.
5.
6.

Hubungan variable terikat dan variable bebas .


Kerangka Teori
Kerangka Konsep
Hipotesis

Tinjauan Kepustakaan ini mencakup 2 hal, yaitu :

Tinjauan teori yang berkaitan dengan permasalahan yang akan di teliti. Hal ini
dimaksudkan agar para peneliti mempunyai wawasan yang luas sebagai dasar untuk
mengembangkan atau mngidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti (diamati). Lebih
dari itu dengan tinjauan teori ini dimaksudkan agar peneliti dapat meletakkan atau
mengidentifikasi masalah yang ingin diteliti tersebut dalam konteks ilmu pengetahuan yang
sedang digelutinya. Oleh sebab itu sering dalam tinjauan kepustakaan ini diuraikan
Kerangka Teori sebagai dasar untuk mengembangkan Kerangka Konsep Penelitian.

Tinjauan dari hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan dengan masalah yang akan
diteliti. Hal ini penting, disamping akan memperluas pandangan pengetahuan peneliti, juga
peneliti dapat menghindari Pengulangan dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan
oleh orang lain (Menjaga orisinalitas penelitian)
Dalam tinjauan kepustakaan ini, peneliti (calon peneliti) hanya mencoba meninjau atau review
terhadap teori-teori dan hasil-hasil penelitian orang lain, apa adanya saja. Hal ini berarti bahwa
pemikiran dan pendapat-pendapat pembuat proposal penelitian seyogyanya dimasukkan ke dalam
Tinjauan Kepustakaan tersebut.
(Notoatmodjo, Dr. Seokidjo. 2002.Metodologi Penelitan Kesehatan. Jakarta : Rikena Cipta )
7. Bagaimana cara menyusun hipotesis?
Cara penyusunan hipotesis :
turunkan atau identifikasikan variabel-variabel dari rumusan penelitian yang
ada
cari informasi sedalam dan seluas mungkin, dari teori dan fakta penelitian
yang telah ada, yang berkaitan dengan variabel2 diatas.
Hubungkan kenyataan yang ada dengan informasi tersebut, sehingga
peneliti megetahui akan adanya sesuatu yang kurang. Dari kekurangan
inilah peneliti mereka-reka konsep atau hubungan imajinatifnya sehingga
antara kenyataan teori dan permasalahan terdapat hubungan yang jelas
Dasar dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan, Dr. Ahmad Watik
Praktiknya
CARA MERUMUSKAN HIPOTESIS

Memperoleh sendiri dari sumber aslinya, yaitu dari pengalaman


langsung di lapangan, rumah sakit, puskesmas, atau laboratorium. Dalam
mengemukakan, fakta ini kita tidak berusaha untuk melakukan perubahan
atau penafsiran dari keaslian fakta yang diperoleh

Fakta yang diidentifikasikan dengan cara menggambarkan atau


menafsirkannya dari sumber yang asli, tetapi masih berada di tangan orang
yang mengidentifikasi tersebut tersebut, sehingga masih dalam bentuknya
yang asli.

Fakta yang diperoleh dari orang yang mengidentifikasi dengan


jalan menyusunnya dalam bentuk penalaran abstrak, yang sudah merupakan
symbol berpikir sebagai generalisasi dari hubungan antara berbagai fakta
atau variable.

R
TE
AR

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
Metode Penelitian Kesehatan, Soekidjo Notoatmodjo
a.
b.
c.

d.
e.

f.

8. Apa syarat hipotesis yang baik?


Dinyatakan dalam kalimat deklaratif yang jelas dan sederhana, tidak
bermakna ganda.
Mempunyai landasan teori yang kuat. Hipotesis tidak semata-mata datang
dengan sendirinya, namun harus dibangun atas dasar teori, pengalaman,
serta sumber ilmiah lain yang sahih.
Menyetakan hubungan antara satu variabel tergantung dengan satu atau
lebih variabel bebas; kadang hipotesis menyatakan hubungan antara
beberapa variabel bebas dengan satu variabel tergantung, misalnya pada
studi faktor-faktor risiko dengan analisis multivariat. Namun dalam satu
hipotesis hanya boleh terdapat satu variabel tergantung. Hipotesis yang
menyebutkan lebih dari satu variabel tergantung (disebut sebagai hipotesis
yang kompleks) harus dipecah menjadi dua atau lebih hipotesis.
Memungkinkan diuji secara empiris. Hal ini mutlak dalam studi empiris; suatu
hipotesis meskipun mempunyai dasar yang kuat, tidak dapat disebut
memenuhi syarat bila tidak dapat diuji secara empiris.
Rumusan hipotesis harus bersifat khas dan menggambarkan variabelvariabel yang diukur. Disisi lain rumusannya juga harus longgar, sehingga
membuka kemungkinan untuk dilakukan generalisasi. Rumusan yang terlalu
umum atau bermakna ganda, harus dihindarkan.
Dikemukakan a-priori. Hipotesis harus dikemukakan sebelum penelitian,
sebelum datanya terkumpul. Hipotesis yang dirumuskan setelah peneliti
melihat data, yang disebut sebagai Hipotesis a-posteriori atau post-hoc
hypothesis, pada dasarnya merupakan hipotesis multipel yang mempunyai
konsekuensi di dalam uji hipotesis (kemungkinan bahwa kenamaan yang
diperoleh disebabkan semata-mata oleh faktor peluang atau kesalahan tipe I
menjadi makin besar dengan makin bertambahnya hipotesis). Sedangkan
ahli menyebut prosedur ini sebagai fihsing expedition, atau data dredging,
dan bahkan dapat dituduh curang, bagai seorang yang menebak lotere
setelah nomor loterenya diundi.
(Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi II, 2002, Prof. DR. Dr. Sudigdo
Sastroasmoro, Sp. A(K), Dkk, Jakarta : CV.Sagung Seto)
a.
b.
c.
d.

Merupakan kalimat deklaratif


Mengekspresikan 2 variabel atau lebih
Merupakan jawaban tentatif (sementara) terhadap permasalahan
Memungkinkan untuk dibutuhkan secara empirik

Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Dr.Ahmad Watik


Pratiknya
a.
b.
c.
d.

hipotesis
hipotesis
hipotesis
hipotesis

hanya dinyatakan dalam bentuk pernyataan ( statemen )


harus tumbuh dari ilmu pengetahuan yang diteliti
harus dapat di uji
harus sederhana dan terbatas, artinya hipotesis yang tidak

menimbulkan perbedaan pengertian, serta tidak terlalu luas sifatnya


Metodologi Penelitian Keaehatan, DR. SOEKIDJO NOTOATMODJO

Hipotesis harus menyatakan hubungan

R
TE
AR

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
Ini berarti, bahwa hipotesis merupakan pertanyaan terkaan tentang
hubungan antar variabel. Hipotesis mengandung dua atau lebih variabel
yang dapat diukur ataupun secara potensialdapat diukur. Hipotesis
menspesifikasikan bagaimana variabel-variabel tersebut berhubungan.
Hipotesis harus sesuai dengan fakta
Ini berarti bahwa hipotesis harus terang, konsep dan variabel harus jelas.
Hipotesis harus dapat dimengerti dan tidak mengandung hal-hal yang
bersifat metafisis.
Hipotesis harus sesuai dengan ilmu, serta sesuai dan tumbuh dengan ilmu
pengetahuan
Ini berarti, bahwa hipotesis harus tumbuh dan ada hubungan dengan ilmu
pengetahuan dan berada dalam bidang penelitian yang sedang dilakukan.
Hipotesis harus dapat diuji
Ini berarti hipotesis, baik nalar dan kekuatan memberi alasan ataupun
dengan menggunakan alat-alat statistik dapat diuji.
Hipotesis harus sederhana
Ini berarti, hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk spesifik/khas untuk
menghindari terjadinya kesalahpahaman pengertian.
Hipotesis harus dapat menerangkan fakta
Ini berarti, bahwa hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk yang
menerangkan hubungan fakta-fakta yang ada dan dapat dikaitkan dengan
teknik pengujian yang dapat dikuasai.
(Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Ir. M. Iqbal Hasan,
M.M., 2002)

Teori yang telah mapan,yang berkaitan dengan permasalahan


penelitian yang dihadapi

Falta empirik atau informasi yang diketahui dari penelitian


terdahulu

Konsep atau teori imajinatif peneliti sendiri (asums), yang


dimunculkan dalam rangka melengkapi teori dan falta empirik agar dapat
menjawab permasalhan penelitian yang dihadapi
(Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedikteran & Kesehatan,Dr.A Watik Pratiknya)
9. Macam-macam hipotesis?
A.
Berdasarkan bentuk rumusannya
1)

Hipotesis kerja/alternatif/riset/H1
Yaitu hipotesis yang akan dibuktikan kebenarannya dengan penelitian yg
akan dilakukan.
Hipotesis ini mengekspresikan macam hubungan antar variabel, yg secara
klasik biasanya dirumuskan sbg :
Apabila.....,maka....., atau
Ada hubungan antara.....dengan..., atau
Ada perbedaan antara...dengan...,

R
TE
AR

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
Tidak disarankan untuk terlalu mengikuti formulasi hipotesis yg klasik tsb,
karena rumusan hipotesis amat tergantung pada 2 hal yaitu rumusan
permasalahan yg dihadapi dan model kerangka teoritik yg
dikembangkan untuk menyusun hipotesis tsb.
Dikenal 2 macam hipotesis kerja, yaitu hipotesis satu ekor dan hipotesis
dua ekor. Istilah ekor disini menggambarkan macam hubungan antar
variabel yg dimaksud, satu ekor berarti hubungan sudah jelas arahnya,
sedang dua ekor hubungan belum jelas arahnya.
Contoh :
Jumlah uban di kepala orang kota lebih banyak daripada uban orang
desa (satu ekor)
Ada perbedaan jumlah uban di kepala orang kota dibanding uban orang
desa (dua ekor)
Makin banyak pabrik didirikan di suatu daerah makin tinggi angka
diarenya (satu ekor)
Ada hubungan antara tinggi angka diare dengan laju industrialisasi (dua
ekor)
Jenis hipotesis kerja ini ditentukan oleh seberapa jauh kekuatan landasan
teoritik yg digunakan untuk menyusun hipotesis tsb. Apabila dasar teori
cukup kuat untuk menduga adanya arah perbedaan atau hubungan tsb,
maka disusunlah hipotesis satu ekor, tapi bila landasan teorinya kurang
kuat mendukung kejelasan arah tsb, maka rumuskanlah hipotesis dua
ekor. Jenis hipotesis kerja ini akan mempengaruhi cara pengambilan
keputusan statistik pada analisis hasil.
2)

Hipotesis nihil/nol/H0
Adalah kebalikan dari hipotesis kerja, sehingga rumusannya secara klasik
ialah :
Tidak ada korelasi (atau perbedaan) antara...dengan....
Hipotesis ini sebenarnya hanya ada dalam alam pikiran peneliti, yg
berguna untuk pembuktian dengan analisis statistik. Oleh karena
diketahui, bahwa semua analisis statistik inferensial dikembangkan
berdasarkan pada karakteristik hipotesis nihil, dan dengan demikian
analisis ini hanya dapat membuktikan benar atau tidaknya hipotesis nihil
tsb.
Bagan berikut akan lebih menjelaskan lagi hubungan (perbedaan antara
hipotesis nihil dengan hipotesis kerja).
Pernyataan
H.K: ada hub antara kecerdasan (X)

statistika
H1 : rxy # 0

R
TE
AR

IO

R
TE
AR

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
Dengan kemampuan meneliti (Y)
H.N : tidak ada hub antara kecerdasan (X)
dengan kemampuan meneliti (Y)
3)

H0

rxy

Hipotesis tandingan
Adalah hipotesis dari variabel2 luar yaitu variabel tandingan bagi
variabel pengaruh yg ada dalam hipotesisi kerja. Katakanlah misalnya, kita
mempunyai hipotesis kerja Faktor kelelahan akan mempengaruhi
suseptibilitas individu terhadap penyakit infeksi, maka hipotesis
tandingannya adalah Faktor2 XYZ (dst) akan mempengaruhi suseptibilitas
individu terhadap penyakit infeksi.
Peneliti dapat mengontrol atau membuktikan ketidakbenaran hipotesis
tandingan, dengan jalan membuat desain atau rancangan penelitian yg
adekuat. Sebagaimana halnya hipotesis nihil, hipotesis tandingan hanya
ada dalam alam pikiran peneliti, atas dasar mana rancangan penelitian
disusun.
Bagan berikut menggambarkan hubungan antara hipotesisi kerja dengan
hipotesis nihil dan hipotesis tandingan.

(DASAR2 METODOLOGI PENELITIAN KEDOKTERAN. AHMAD WATIK.P)


B.

Berdasarkan ruang lingkupnya


1.

Hipotesis mayor
Adalah hipotesis mengenai kaitan seluruh variabel dan seluruh subjek
penelitian.

2.

Hipotesis minor
adalah hipotesis mengenai kaitan sebagian dari variabel atau dengan kata
lain pecahan dari hipotesis mayor.
Contoh :
Hipotesis mayor:
Banyaknya makan berpengaruh terhadap tingkat kekenyangan
Hipotesis minor :
1) Banyaknya makan nasi berpengaruh terhadap tingkat kekenyangan.
2) Banyaknya makan kue berpengaruh terhadap tingkat kekenyangan.
3) Banyaknya makan buah-buahan berpengaruh terhadap tingkat
kekenyangan.
Dalam contoh ini dari sebuah hipotesis mayor dapat dijabarkan
menjadi tiga buah hipotesis minor, dan tiga buah itupun sebenarnya
belum tuntas habis.
(MANAJEMEN PENELITIAN, Prof.Dr. Suharsimi Arikunto)

IO

R
TE
AR

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
C. Berdasarkan tingkat abstraksi
1)

Hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan-kesamaan


dalam dunia empiris.
Banyak diantara pernyataan yang bersifat umum itu telah diketahui dan
diakui kebenarannya oleh orang banyak. Misalnya Orang Minangkabau
banyak merantau sedangkan orang Jawa sangat terikat kepada kampung
halamannya. Namun, apa yang diketahui oleh orang banyak belum tentu
benar. Pada hipotesis ini hanya mengumpulkan fakta2 yang telah ada
tanpa mengujinya kembali kebenarannya.

2)

Hipotesis yang berkenaan dengan model ideal


Dunia kenyataan ini sangat kompleks dan untuk mempelajarinya metode
atau tipe ide2 meupakan alat yang sangat membantu. Misalnya tipe
introvert dan ekstrovert sangat membantu dalam memahami manusia
dalam hubungannya dengan dunia luar. Sikap otoriter, demokratis, dan
laissezfaire sangat berguna untuk menggambarkan misalnya hubungan
pendidikan dengan anak.

3)

Hipotesis

yang

mencari

hubungan

antara

sejumlah

variabel.
Hipotesis ini lebih abstrak daripada kedua jenis hipotesis sebelumnya.
Disini harus dianalisis variabel2 yg dianggap mempengaruhi gejala
tertentu dan kemudian diselidiki hingga manakah perubahan dalam
variabel yg satu membawa perubahan pada variabel yang lain.
Sumber : METODE RESEARCH PENELITIAN ILMIAH. Prof.Dr. S. Nasution, MA

10.Manfaat hipotesis?
Manfaat hipotesis dalam penelitian:
memberikan batasan dan jangkauan kecil penelitian
memfokuskan perhatian dalam rangka pengumpulan data
sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta atau data
membantu mengarahkan dalam mengidentifikasi variable-variable yang akan
diteliti.
Dr. Soekidjo Notoatmojo, Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi
Revisi

memberi tuntutan kepada peneliti ke arah mana penelitian itu harus

dilakukan
merupakan alat untuk melokalisasi fenomena2 dan menuntun secara

identifikasi variabel2 yang dibutuhkan untuk menjawab masalah penelitian


memberi petujuk prosedur mana atau rancangan penelitian mana yang

dipilih
membri petunjuk bagi cara pengolahan data dan cara analisa hasil penelitian

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
Dasar dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan, Dr.
Ahmad Watik Praktiknya
a. Memfokuskan penelitian dalam rangka pengumpulan data.
b. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta atau
data.
c. Membangtu mengarahkan dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang
akan diteliti (diamati)
(Metodologi Penelitan Kesehatan, 2002, Dr. Seokidjo Notoatmodjo, Jakarta :
Rikena Cipta)
Fungsi dan manfaat
Untuk menentukan arah pembuktian , artinya hipotesis ini merupakan
pernyataan yang harus dibuktikan. Kalau hipotesis tersebut terbukti maka
menjadi thesis. Lebih dari itu rumusan hipotesisi itu sudah akan tercermin
variabel-variabel yang akan diamati atau diukur, dan bentuk hubungan antara
variabel-variabel yang akan diamati atau diukur, dan bentuk hubungan antara
variabel-variabel yang akan dihipotesiskan. Oleh sebab itu hipotesis
seyogyanya : Spesifik, Konkret, dan Observable (dapat diamati / diukur)
(Metodologi Penelitan Kesehatan, 2002, Dr. Seokidjo Notoatmodjo, Jakarta :
Rikena Cipta)
11.Bagaimana cara menyusun kerangka teori?
4 faktor yang harus diperhatikan dalam menyusun kerangka teoritis:

Variabel yang relevan dijelaskan

Bagaimana hubungan antar variabel tersebut (jenis/ arah


hubungan)

Apakah hubungan tersebut terus bertahan? Jelaskan

Skema or diagram yang mendukung penjelasan teori


(Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Ir. M. Iqbal Hasan,
M.M., 2002)
Kerangka teori dibuat berupa skema sederhana yg menggambarkan secara singkat proses pemecahan
masalah yang dikemukakan dlm penelitian. Skema sederhana yg dibuat kemudian dijelaskan
secukupnya mengenai mekanisme kerja faktor - faktor yg timbul. Kerangkateori tersusundari
rangakain teori-teori yang merupakan hasil dari telaah pustaka. Dengan demikian jalannya penelitian
secara keseluruhan dapat diketahui secara jelas dan terarah. Kerangka teori juga akan membantu
pemilihan konsep konsep yang diperlukan guna pembentukan hipotesisnya.
a.
Menetapkan variabel yang diteliti, dalam hal ini adalah berapa jumlah variabel yang
diteliti, dan apa nama setiap variabel.
b.
Membaca buku-buku dan hasil penelitian.
c.
Deskripsi teori dan hasil penelitian, dalam hal ini berisikan definisi terhadap masingmasing variabel yang diteliti, uraian rinci tentang ruang lingkup setiap variabel, dan kedudukan
antara variabel satu dengan yang lain dalam konteks penelitian itu.
d.
Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian, dalam hal ini mengkaji apakah teoriteori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu, betul-betul sesuai dengan obyek penelitian atau
tidak.

R
TE
AR

IO

R
TE
AR

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
e.

Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian, dalam hal ini melakukan
perbandingan antara teori satu dengan teori lainnya, dan hasil penelitian yang satu dengan
penelitian yang lain.
f.
Sintesis/ kesimpulan yang sifatnya sementara. Dari hasil sintesis atau kesimpulan dari
tiap variabel, selanjutnya dipadukan hasil sintesis/ kesimpulan tersebut dan kemudian membentuk
kerangka berpikir.
(Iqbal, Hasan. 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya)
Kerangka teori
Definisi:
Untuk memperjelas jalannya penelitian yang akan dilaksanakan maka calon
peneliti perlu menyusun kerangka pemikiran mengenai konsepsi tahap2
penelitiannya secara teoretis. Kerangka ini dibuat berupa skema sederhana yg
perlu menggambarkan secara singkat proses pemecahan masalah yang
dikemukakan dalam penelitian kemudian dijelaskan secukupnya mengenai
mekanisme kerja faktor2 yg timbul.
Disamping sebagai pedoman arah tujuan penelitian, kerangka teoretis juga akan
membantu pemilihan konsep2 yg diperlukan guna pembentukan hipotesis.
Fungsi:
Memperjelas arah penelitian
Membantu dlm membuat suatu hipotesis yg baik
(Sudigdo

Sastroasmoro

dan

Sofyan

Ismael.

2002.

Dasar

Dasar

Metodologi Penelitian Klinis edisi ke 2. Jakarta : Sagung Seto)

Kerangka teori berisi semua variabel yang


terkait dengan masalah penelitian
Tersusun setelah menghubungkan variabel
penelitian sesuai kejadiannya, berdasarkan tinjauan pustaka
Disederhanakan dalam bentuk kerangka konsep
atau kerangka penelitian.
(anonim, 2004)
Teori merupakan satu set konstruk atau variable yang saling berhubungan
yang membentuk hipotesis tentang hubungan konstruk atau variable tsb.
Untuk menyusun suatu dasar hipotesis penelitian digunakan suatu
landasan teori. Landasan teori tsb diperoleh dari telaah pustaka dengan
melakukan analisis dan sintesis terhadap beberapa teori yang sudah
dikembangkan dalam penelitian-penelitian sebelumnya.
Untuk menyususn kerangka teoritis dan landasan teori diperlukan telaah
dan kecermatan di dalam pencarian teori, kemudian analisis dan sintesis
teori2 tsb. Pemilihan kerangka teori dapat dilakukan apabila:
peneliti menguasai teori, yang
dapat ditempuh dengan banyak
membaca dan berdiskusi dengan teman sejawat.

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI

peneliti mengembangkan alur piker yang logis, sehingga dapat


mengkaji teori-teori yang ada.
Didalam penulisan ilmiah, struktur kerangka teori adalah:

Pernyataan pembuka, pengkajian teori ilmiah yang akan


digunakan dalam penelitian.

Inventaris teori-teori yang relevan

Pemilihan teori yang akan menjadi dasar disusunnya


kerangka konsep penelitian.
Sumber : buku metodologi penelitian kesehatan,Sukidjo Notoatmodjo
1)
2)
3)

4)

5)

6)

Menetapkan variabel yang diteliti, dalam hal ini adalah berapa


jumlah variabel yang diteliti, dan apa nama setiap variabel.
Membaca buku-buku dan hasil penelitian.
Deskripsi teori dan hasil penelitian, dalam hal ini berisikan definisi
terhadap masing-masing variabel yang diteliti, uraian rinci tentang ruang
lingkup setiap variabel, dan kedudukan antara variabel satu dengan yang
lain dalam konteks penelitian itu.
Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian, dalam hal ini
mengkaji apakah teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu,
betul-betul sesuai dengan obyek penelitian atau tidak.
Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian, dalam
hal ini melakukan perbandingan antara teori satu dengan teori lainnya, dan
hasil penelitian yang satu dengan penelitian yang lain.
Sintesis/kesimpulan yang sifatnya sementara. Dari hasil sintesis
atau kesimpulan dari tiap variabel, selanjutnya dipadukan hasil
sintesis/kesimpulan tersebut dan kemudian membentuk kerangka berpikir.
(Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Ir. M. Iqbal Hasan,
M.M., 2002)

Kerangka konsep
Menunjukkan jenis serta hubungan antar variabel yang diteliti dan variabel
lainnya yang terkait
DASAR-DASAR METODOLOGI PENELITIAN KLINIS, Edisi 2 Sudigdo Sastroasmoro
Suatu hubungan/kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari
masalah yg ingin diteliti.
Berkembang dari hasil tinjauan pustaka+kerangka teori serta masalah penelitian
yg dirumuskan.
Konsep : suatu abstraksi yg dibentuk dg menggeneralisasikan suatu pengertian.
diukur + diamati langsung, harus dijabarkan ke dalam variabel2 sehingga
dapat diamati dan diukur.
hubungan2 antara konsep yg satu dgn konsep lainnya dr masalah yg diteliti
sesuai dgn apa yg tlh diuraikan pd tinjauan pustaka
(Dr.Soekidjo Notoatmodjo.2005.Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta:Rineka
Cipta)
Perbedaan kerangka teori dan kerangka konsep?
Kerangka Teori

R
TE
AR

IO

R
TE
AR

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau batasan batasan tentang teori
teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan.
Menurut kamus Bahasa Indonesia Poerwadarminta, TEORI adalah Pendapat
yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai sesuatu peristiwa
(kejadian), dan asas asas, hukum hukum umum yang menjadi dasar sesuatu
kesenian atau ilmu pengetahuan; serta pendapat cara cara dan aturan aturan
untuk melakukan sesuatu.
Teori adalah satu set konstruk, konsep, definisi, dan proposisi yang saling
berhubungan, yang menyajikan suatu pandangan yang sistematik mengenai
suatu fenomena dengan menspesifikkan hubungan antar variabel dengan tujuan
untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena;
A theory is generalization or series of generalization by which we attempt to
explain some phenomena in a systematic manner.
(Wiersma, 1986)
Kerangka Konsep
Konsep adalah Generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat
dipakai

untuk

menggambarkan

berbagai

fenomena

yang

sama.

Dalam

kenyataannya, KONSEP dapat mempunyai tingkat generalisasi yang berbeda.


Semakin dekat suatu KONSEP pada realita, maka semakin mudah pula KONSEP
tersebut diukur dan diartikan.
Misalnya :
Konsep ilmu alam lebih jelas dan konkrit, karena dapat diketahui dengan paca
indera. Sebaliknya, banyak konsep ilmu ilmu sosial menggambarkan fenomena
sosial yang bersifat abstrak dan tidak segera dapat dimengerti. Seperti konsep
tentang Tingkah Laku, Kecemasan, Kenakalan Remaja dsb. Oleh karena itu perlu
kejelasan konsep yang dipakai dalam penelitian.
Konsep adalah Suatu abstraksi yang dibentuk dengan me-generalisasikan suatu
pengertian. Oleh karena itu, KONSEP tidak dapat diukur dan diamati secara
langsung. Agar dapat diamati dan dapat diukur, maka KONSEP tersebut harus
dijabarkan ke dalam variable variable. Dari variable itulah KONSEP dapat
diamati dan diukur.
a. Tujuan
Menunjukkan jenis serta hubungan antar variabel yang diteliti dan variabel
lainnya yang terkait
DASAR-DASAR METODOLOGI PENELITIAN KLINIS, Edisi 2 Sudigdo
Sastroasmoro
b. Syarat
- Harus menunjukkan kerterkaitan antar variabel
- Dapat memberikan informasi yang jelas
- Mempermudah pemilihan desain penelitian

IO

R
TE
AR

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
DASAR-DASAR METODOLOGI PENELITIAN KLINIS, Edisi 2 Sudigdo
Sastroasmoro
12.Bagaimana cara merumuskan definisi operasional? Contoh?
Adalah menjelaskan karakteristik yang diamatinya termasuk juga cara
mengamati dan cara mengukurnya.
Fungsi :

untuk memberikan persepsi yang sama pada semua orang


mengenai apa yang dimaksud dengan variable-variable yang telah
ditentukan.

Untuk

menentukan

instrumen

alat2

ukur

apa

yang

digunakan dalam penelitian


3 cara memberikan definisi operasional variable:
Definisi operasional yang menjelaskan cara perlakuan untuk
menimbulkan suatu gejala, pada definisi ini dijelaskan bagaimana cara
memanipulasi variable , sering digunakan pada penelitian eksperimen.
Ex : bagaimana cara mempergunakan pupuk X pada tanaman kacang,

berapa banyak pupuk X yang dipergunakan, kapan mempergunakannya.


Definisi operasional yang mendeskripsikan suatu variable baik
mengenai ciri-cirinya maupun cara beroperasinya, sering dipergunakan
dalam penelitian-penelitian pada umumnya
Ex: tanaman kacang yang dipergunakan

dalam

penelitian

pupuk

didefinisikan sebagai tanaman kacang dari spesies Arachis hypogaea yang


ditanam langsung dari biji kacang dan telah berumur satu tahun.

Definisi operasional yang mendeskripsikan ciri-ciri statis suatu


objek , sering dipergunakan pada penelitian pendidikan.
Ex : definisi anak cerdas adalah anak yang memiliki perbendaharaan katakata yang banyak, memiliki daya ingat yang kuat dan mampu bernalar
dengan baikserta memiliki ketrampilan berhitung yang baik.
(Panduan Penelitian, Dr.B. Sandjaja, MSPH dan Albertus Heriyanto,
M.Hum)
Yang perlu di definisi operasionalkan variabel bebas atau variabel
tergantung??

Cara menyusun definisi operasional dapat dikelompokkan menjadi tiga macam,


yaitu
1) Definisi Pola I, yaitu disusun berdasarkan atas kegiatan-kegiatan
(operations) yang harus dilakukan agar hal yang didefinisikan itu terjadi.
Contoh :
o Frustasi adalah keadaan yang timbul sebgai akibat tercegahnya
pencapaian hal yang sangat diinginkan yang sudah hampir tercapai.

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
Lapar adalah keadaan dalam individu yang timbul setelah dia tidak
makan selama 24 jam
o Garam Dapur adalah hasil kombinasi kimiawi antara natrium dan
Clorida.
Definisi Pola I ini, yang menekankan Operasi atau manipulasi apa yang
harus dilakukan untuk menghasilkan keadaan atau hal yang didefinisikan,
terutama berguna untuk mendefinisikan variabel bebas.
o

2) Definisi Pola II, yaitu definisi yang disusun atas dasar bagaimana hal yang
didefinisikan itu beroperasi. Contoh :
o Orang cerdas adalah orang yang tinggi kemampuannya dalam
memecahkan masalah, tinggi kemampuannya dalam menggunakan
bahasa dan bilangan.
o Orang Lapar adalah orang yang mulai menyantap makanan kurang dari
satu menit setelah makanan dihidangkan, dan menghabiskannya
dalam waktu kurang dari 10 menit.
3) Definisi Pola III, yaitu definisi yang dibuat berdasarkan atas bagaimana hal
yang didefinisikan itu nampaknnya. Contoh :
o Mahasiswa yang cerdas adalah mahasiswa yang mempunyai ingatan
baik, mempunyai perbendaharaan kata luas, mempunyai kemampuan
berpikir baik, mempunyai kemampuan berhitung baik.
o Ekstraversi adalah kecenderungan lebih suka ada dalam kelompok
daripada seorang diri.
Seringkali dalam membuat definisi operasional pola III ini peneliti
menunjuk kepada alat yang digunakan untuk mengambil datanya.
Setelah definisi operasional variabel-variabel peneliitian selesai
dirumuskan, maka prediksi yang terkandung dalam hipotesis telah
dioperasionalkan. Jadi peneliti telah menyusun prediksi tentang kaitan
berbagai variabel penelitiannya itu secara operasional, dan siap diuji
melalui data empiris.
(Drs. Sumadi Suryabrata .Metologi Penelitian. hal. 30-31)
Tiga cara memberikan definisi operasional variable:
- Definisi operasional yang menjelaskan cara perlakuan untuk menimbulkan suatu gejala,
pada definisi ini dijelaskan bagaimana cara memanipulasi variable , sering digunakan pada
penelitian eksperimen.
Ex : bagaimana cara mempergunakan pupuk X pada tanaman kacang, berapa banyak pupuk
X yang dipergunakan, kapan mempergunakannya.
-

Definisi operasional yang mendeskripsikan suatu variable baik mengenai ciri-cirinya


maupun cara beroperasinya, sering dipergunakan dalam penelitian-penelitian pada
umumnya
Ex: tanaman kacang yang dipergunakan dalam penelitian pupuk X didefinisikan sebagai
tanaman kacang dari spesies Arachis hypogaea yang ditanam langsung dari biji kacang dan
telah berumur satu tahun.

R
TE
AR

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
-

Definisi operasional yang mendeskripsikan ciri-ciri statis suatu objek , sering dipergunakan
pada penelitian pendidikan.
Ex : definisi anak cerdas adalah anak yang memiliki perbendaharaan kata-kata yang banyak,
memiliki daya ingat yang kuat dan mampu bernalar dengan baikserta memiliki ketrampilan
berhitung yang baik.
(Panduan Penelitian, Dr.B. Sandjaja, MSPH dan Albertus Heriyanto, M.Hum)
Ada tiga pendekatan untuk menyusun definisi operasional, yaitu
disebut Tipe A, Tipe B dan Tipe C.
1. Definisi Operasional Tipe A
Definisi operasional Tipe A dapat disusun didasarkan pada operasi yang
harus dilakukan, sehingga menyebabkan gejala atau keadaan yang
didefinisikan menjadi nyata atau dapat terjadi. Dengan menggunakan prosedur
tertentu peneliti dapat membuat gejala menjadi nyata.
Contoh: Konflik didefinisikan sebagai keadaan yang dihasilkan dengan
menempatkan dua orang atau lebih pada situasi dimana masing-masing orang
mempunyai tujuan yang sama, tetapi hanya satu orang yang akan dapat
mencapainya.
2. Definisi Operasional Tipe B
Definisi operasional Tipe B dapat disusun didasarkan pada bagaimana
obyek tertentu yang didefinisikan dapat dioperasionalisasikan, yaitu berupa apa
yang dilakukannya atau apa yang menyusun karaktersitik-karakteristik
dinamisnya.
Contoh: Orang pandai dapat didefinisikan sebagai seorang yang
mendapatkan nilai-nilai tinggi di sekolahnya.
3. Definisi Operasional Tipe C
Definisi operasional Tipe C dapat disusun didasarkan pada penampakan
seperti apa obyek atau gejala yang didefinisikan tersebut, yaitu apa saja yang
menyusun karaktersitik-karaktersitik statisnya.
Contoh: Orang pandai dapat didefinisikan sebagai orang yang
mempunyai ingatan kuat, menguasai beberapa bahasa asing, kemampuan
berpikir baik, sistematis dan mempunyai kemampuan menghitung secara
cepat.
Manfaat:
agar hipotesis dapat dijabarkan ke dalam variabel2 sedemikian rupa sehingga:
variabel bersifat spesifik dan terukur
korelasi (baik dalam bentuk sebab akibat, perbedaan, maupun korelasi arti
sempit) dapat diuji
Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan, Dr.
Ahmad Watik Praktiknya
13.Sebutkan macam-macam variabel penelitian?
Jenis:

Variable bebas (independent variable)


Adalah variable yang diduga sebagai penyebab timbuhhlnya variable lain.

R
TE
AR

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI

Variable tergantung (dependent variable)


Variable yang timbul sebagai akibat langsung dari manipulasi dan pengaruh
variable bebas, dalam penelitian variable tergantung diamati dan diukur
untuk mengetahui pengaruh dari variable bebas.

Variable moderator (variable bebas kedua)


Variable yang dipilih , diukur , diamati dan dimanipulasi oleh peneliti karena
diduga ikut mempengaruhi hubungan antara variable bebas dan variable
tergantung.

Variable control
Variable yang dikontrol peneliti untuk menetralkan pengaruhnya terhadap
variable tergantung.

Variable antara (intervening variable )


Factor yang secara teoritik mempengaruhi hubungan variable bebas dan
variable tergantung, variable ini tida dapat diamati, dan diukur , namun
pengaruhnya dapat disimpulkan dari hubungan yang ada antara variable
bebas dan variable tergantung.

(Panduan Penelitian, Dr.B. Sandjaja, MSPH dan Albertus Heriyanto, M.Hum)

Variabel perantara, atau disebut juga variabel penghubung : variabel


yang menjembatani pengaruh suatu variabel bebas dengan variabel
tergantung. Cth, Ankilostomiasis (variabel bebas) akan mempengaruhi
terjadinya anemia (variabel tergantung) dengan melalui mekanisme
perdarahan kronis saluran digesti (variabel perantara)

Variabel pendahulu : variabel bebas yang berpengaruh pada variabel


tergantung tetapi sekaligus berpengaruh pula pada variabel lain yang juga
berperan sebagai variabel bebas terhadap variabel tergantung tersebut. Cth,
diketahui bahwa tingkat pendidikan seseorang (variabel pendahulu)
mempengaruhi akseptabilitas mereka terhadap cara pengobatan modern
(variabel bebas), disamping itu juga mempengaruhi kepercayaan mereka
terhadap pengobatan tradisional (variabel tergantung)

Variabel prakondisi : variabel yang keberadaannya merupakan


prasyarat bagi bekerjanya suatu variabel bebas terhadap variabel
tergantung. Cth, diketahui bahwa tuberkulosis paru (variabel tergantung)
terjadi karena masuknya mikobakteri tuberkulosis (variabel bebas) pada
individu yang lemah fisiknya (variabel prakondisi)

Sastroasmoro, S., Ismael, S.,2002, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis, CV


Sagung Seto, Jakarta
Cara mengontrol variabel perancu ?

R
TE
AR

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
Mengidentifikasi setiap variabel perancu
Dalam hal ini yang paling mengetahui adalah peneliti (yang menguasai
substansi penelitian). Caranya adalah studi literatur yang memadai,
disamping faktor pengalaman dan logika. Disini berperan kerangka konsep
penelitian yang mengidentifikasi semua variabel, menggolongkannya, dan
membuat diagram hubungan antar-variabel dalam diagram yang jelas.
a.

Menyingkirkan variabel perancu


Menyingkirkan perancu dalam desain (lebih

kuat)
Restriksi menyingkirkan variabel perancu dari setiap subyek
penelitian
Matching proses menyamakan variabel perancu diantara dua
kelompok
Randomisasi variabel perancu akan terbagi seimbang diantara 2
kelompok, dan variabel perancu yang terbagi rata tsb meliputi baik
variabel perancu yang pada saat penelitian sudah diketahui
maupun yang belum diketahui
b.
Menyingkirkan perancu dalam analisis
Stratifikasi cara yang lazim untuk meniadakan faktor perancu,
bila hanya ada 1 perancu
Analisis multivariat teknik statistika untuk set data dengan
variabel tergantung multipel (lebih dari satu)
(Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis.
Edisi ke-2. Jakarta: Sagung Seto, 2002)
Hubungan antara variable
1. Korelasi simetris
Bisa terjadi karena :
a. Kebetulan kenaikan gaji dosen dengan turunnya hujan
b. Sama-sama , merupakan akibat dari factor atau v.bebas yang sama,
hubungan antara tinggi badan dan berat badan. Keduanya merupakan
v.tergantung dari v.bebas pertumbuhan
c. Indicator dari konsep yang sama, hubungan antara kekuatan kontraksi
otot dengan ketahanan kontraksi otot. Keduanya merupakan indicator
kemampuan kontraksi otot
2. Korelasi asimetris
Korelasi anatar 2 variable dangan 1 variable atau v.bebas bersifat
mempengaruhi variable lain atau v. tergantung tingginya kadar lipoprotein
berat jenis rendah dalam darah akan mengakibatkan aterosklerosis
3. Korelasi timbal balik
Korelasi antara 2 variable yang antar keduanya saling mempengaruhi,
korelasi antara malnutrisi dan malabsorbsi. Malabsorbsi akan mengakibatkan
malnutrisi, smentara malnutrisi akan mengakibatkan atrofi selaput lender
usus yang mengakibatkan malabsorbsi

R
TE
AR

IO

R
TE
AR

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
Pratiknya, A. W., 2003, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan
Kesehatan, Cetakan III, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
14.Sebutkan macam-macam skala pengukur? Definisi?
Skala
variabel

Sifat

Contoh

a. Kategorikal
Nominal

Bukan peringkat

Golongan
darah,
jenis
kelamin, agama, suku

Nominal
merupakan skala kualitatif yanng paling rendah tingkat pengukurannya
dibandingkan skala-skala yang lain, karena skala ini hanya mampu
mengklasifikasikan suatu variabel atau suatu objek. Skala ini hanya mampu
membedakan satu objek dengan objek yang lain, tetapi tidak mampu
membandingkan mana yang lebih besar atau mana yang lebih kecil. Tanda
matematis = dan
Hanya merupakan nama atau label, dan tidak mengandung informasi peringkat.
Skala nominal ini tidak dapat dimanipulasi secara matematis. Uji hipotesis yang
sering digunakan untuk variabel nominal adalah uji x 2.
Ordinal

Peringkat dengan
tidak dapat diukur

interval

yang

Derajat penyakit,
sosial-ekonomi

status

Ordinal
merupakan skala kualitatif seperti skala nominal, tetapi lebih tinggi tingkatannya.
Sebab skala ini selain dapat dibedakan objek yang satu dari lainnya, dapat juga
ditentukan mana yang lebih besar atau lebih kecil, bahkan dapat diurutkan dari
yang paling rendah ke yang paling tinggi. Tanda matematis yang dapat dipakai
adalah =, , > dan <
Terdapat informasi peringkat, tetapi jarak antara dua peringkatnya tidak dapat
dikuantifikasi. Meskipun mempunyai informasi perigkat, nilai variabel ordinal tidak
dapat dimanipulasi secara matematis (ditambah, dikali, dibagi)

b. Numerik
Interval

Peringkat dengan interval


dapat
diukur,
namun
mempunyai titik nol alamiah

yang
tidak

Suhu
tubuh,
inteligensi

koefisien

Interval
skala ini sudah termasuk skala kuantitatif dan kedudukannya lebih tinggi
daripada skala ordinal, karena dengan skala ini selain dapat dibedakan satu objek
dengan yang lain, dapat ditentukan mana yang lebih besar atau lebih kecil dan
dapat pula ditentukan jarak (interval) antara satu objek dengan lainnya serta
dapat dilakukan operasi matematis. Tanda matematis yang dapat dipakai adalah
=, , > dan <
Rasio

Sama
dengan
skala
interval,
mempunyai titik nol alamiah

Penghasilan, berat badan,


kadar ureum.

IO

LBM 2 MP, SGD 2


ASTRI NOOR MALITASARI
Ratio
skala kuantitatif yang tertinggi derajatnya. Pada skala rasio dikenal adanya nol
absolut atau nol sejati yang tidak ada pada skala interval. Arti nol absolut disini
adalah nol yang berarti tidak ada

Panduan Penelitian. Dr. B. Sandjaja, MSPH. Prestasi Pustaka


Berdasarkan penggunaannya :

Skala Likert
Merupakan jenis skala yang digunakan untuk mengukur variabel penelitian (fenomena sosial
spesifik), seperti sikap, pendapat, dan persepsi sosial seseorang atau sekelompok orang.
Variabel penelitian yang diukur dengan skala likert ini, dijabarkan menjadi indikator variabel
yang kemudian dijadikan sebagai titik tolakpenyusunan item-item instrumen, bisa berbentuk
pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen ini, memiliki gradasi dari tertinggi
(sangat positif) sampai pada terendah (sangat negatif), yang jika dinyatakan dalam bentuk katakata dapat berupa, antara lain sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Sangat baik
Cukup baik
Sedang
Kurang baik
Sangat tidak baik
Atau

a.
b.
c.
d.
e.

Senang sekali
Senang
Cukup senang
Kurang senang
Tidak senang

R
TE
AR

IO

g. Untuk keperluan analisa secara kuantitatif, maka jawaban-jawaban tersebut diberi


skor, misalnya :
Sangat baik/senang sekali
skor : 5
Cukup baik/senang
skor : 4
Sedang/cukup senang
skor : 3
Kurang baik/kurang senang
skor : 2
Sangat tidak baik/tidak senang skor : 1

a.
b.
c.
d.
e.
h.

Skala Guttman
a.
Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Guttman. Disebut juga metode skalogram
atau analisis skala. Skala guttman memiliki beberapa ciri penting, yaitu sebagai berikut :

Memiliki sifat uni dimensional


b.
Artinya hanya ingin mengukur satu dimensi dari suatu variabel penelitian yang
memiliki beberapa dimensi (multi dimensi).

Merupakan skala kumulatif


c.
Artinya pernyataan-pernyataan atau pertanyaan-pertanyaannya hanya memiliki bobot
yang berbeda apabila seseorang menyetujui pernyataan yang berbobot lebih berat, maka dia juga
akan menyetujui pernyataan-pernyataan yang bobotnya lebih rendah atau kurang berbobot
d.
Variabel penelitian yang diukur dengan skala likert ini dijabarkan menjadi indikator
varabel, yang kemudian dijadikan sebagai titik tolak penyusunan item-iteminstrumen, bisa
berbentuk pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap instrumen ini, berbentuk pernyataan
komplementer, sepert ya-tidak, benar-salah, setuju-tidak setuju. Jadi jawaban yang
diperoleh hanya ada dua.

Skala Thurstone
a.
Skala thurstone dikembangkan oleh L.L. Thurstone yang bertujuan untuk
mengurutkan responden berdasarkan kriteria tertentu. Dengan metode ini skala disusun
sedemikian rupa, sehingga interval antarurutan dalam skala mendekati interval yang sama
besarnya. Karena itu skala ini sering disebut skala interval sama.
b.
(Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Ir. M. Iqbal Hasan,
M.M., 2002)

15.Bagaimana cara pengutipan?


c. Teknik penulisan
a) system nomor tiap rujukan diberi nomor sesuai dengan urutan
penunjukannya pertama kali di dalam naskah. Nomor terletak di antara
tanda kurung mengikuti nama penulis atau pada akhir pernyataan atau
kalimat. Rujukan > 1 nomor2 yang bersangkutan dipisahkan oleh koma.
Rujukan > 2 Tanda garis atau penghubung nomor pertama dan nomor
terakhir
d.
Contoh:
- Bangunan molekul DNA berbentuk heliks ganda dilaporkan oleh Watson &
Crick (2)
- DNA mempunyai bangunan molekul berbentuk heliks ganda (2)
b) System nama dan tahun (Harvard) Disusun secara alfabetik sesuai nama
penulis, diikuti oleh penulisan tahun atau dengan mencantumkan nama

penulis dan tahun penerbitan diantara tanda kurung atau pada akhir
kalimat.
e.
Contoh:
- Pauling (1979) melaporkan manfaat vitamin C dosis tinggi
- Vit C dosis tinggi dilaporkan bermanfaat menghambat pertumbuhan sel
tumor (Pauling, 1979)
c) Sistem kombinasi alphabet dan nomor (H&N) disusun secara alfabetik
berdasrkan nama penulis dan diberi nomor berurutan, Ditunjukkan dengan
mencantumkan nomor atau penulis atau keduanya (diantara tanda kurung)
d) Sistem Vancouver menggunakan system nomor disertai penyeragaman
cara penulisannya, dengan cara menunjukkan di dalam naskah dan
pemberian urutan nomor sesuai dengan munculnya yang pertama kali
didalam naskah. Nama semua penulis ditulis untuk jumlah penulis sampai
dengan 6, bila >6 tiga penulis pertama disebutkan dan diikuti dengan et
al
f.
Tjokronegoro, Arjatmo dan Baraas Faisal.1986. Teknik Penulisan
Makalah Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan.FK UI
g. Cara-cara Pengutipan
h. A. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris
i.

1)

Kutipan itu diintegrasikan langsung dalam teks karangan.

j.

2)

Kutipan itu diapit oleh tanda kutipan.

k.
3) Sesudah kutipan itu, diberi nomor urut catatan kaki atau ditempatkan nama
singkat pengarang, tahun terbit buku, serta halaman tempat terdapatnya kutipan itu.
l. Contoh:
m. Istilah moral berasal dari kata morus, yang berarti norma, aturan, atau keharusan.
n. Dalam pengertian luas moral adalah tuntutan atau keharusan satu kelompok
masyarakat terhadap rang atau masyarakat yang bersangkutan (Djahiri, 1996: 18).
o. Sementara itu, dalam....
p. B. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris
q.
1) Kutipan itu dipisahkan dari teks karangan.
r.
2) Jarak antarbaris dibedakan dengan teks lainnya.
s.
3) Kutipan itu boleh atau tidak diapit oleh tanda kutip.
t.
4) Sesudah kutipan selesai dieri nomor urut catatan kaki atau ditempatkan nama
singkat pengarang, tahun terbit buku, serta halaman tempat terdapatnya kutipan itu.
u.
v. Contoh:
w. Lau Yock Fang menggeneralisasi sastra Melayu Islam ke dalam dua ciri, yakni
x. sebagai berikut.
y. Sebagian besar karya sastra itu merupakan terjemahan atau saduran dari bahasa
Arab atau Parsi. Terjemahan atau saduran itu dilakukan oleh dua kelompok orang.
Kelompok pertama adalah orang Melayu yang belajar di tanah Arab. Kelompok

kedua ialah pedagang India Selatan yang memanjiri pelabuhan-pelauhan Nusantara


pada zaman Islam. Hasil karya kelompok pertama berupa kitab yang berunsur
keagamaan, sedangkan hasil karya kelompok kedua berupa hikayat-hikayat yang
bersifat hiburan. (Fang, 1991: 204).
z. C. Kutipan tak langsung
aa.

1) Kutipan itu diintegrasikan ke dalam teks karangan.

ab.

2) Kutipan tidak diapit oleh tanda kutip.

ac.
3) Sesudah kutipan selesai, dieri nomor catatan kaki atau ditempatkan nama singkat
pengarang, tahun terbit buku, serta halaman terdapatnya kutipan itu.
ad. Contoh:
ae. Yang menarik adalah kesimpulan dari Brakel yan mengatakan bahwa misi sastra
Melayu Islam umumnya bersifat didaktis. Isinya menceritakan keagungan Islam
serta para nabi dan pahlawan-pahlwan Islam. Sastra Melayu Islam merupakan bukti
sejarah yang benar- benar ada dan telah membawa perubahan dalam tata kehidupan
masyarakat, dari masyarakat yang kurang erperadaan ke arah masyarakat yang
berbudaya (Brakel, 1975: 138-140).
af. PRINSIP-PRINSIP PENGUTIPAN
ag. A. Tidak melakukan perubahan
ah.
Pada waktu melakukan pengutipan langsung, pengarang tidak boleh mengubah katakata atau teknik dari teks aslinya. Bila pengarang menganggap perlu untuk mengadakan
peruhaban-teknikaya, maka ia harus menyatakan atau memberi keterangan yang jelas bahwa telah
diadakan perubahan tertentu.
ai. B. Bila ada kesalahan
aj.
Penulis diperkenankan mengdakan perbaikan atau catatan dalam catatan kaki atau
dapat pula ditempatkan langsung dalam tanda kurung segi empat [...]. Catatan dalam tanda kurung
segi empat itu ditempatkan di belakang kata atau unsur yang hendak diperbaiki, diberi catatan,
atau yang tidak disetujui itu. Misalnya, kalau kita tidak setuju dengan bagian itu, maka biasanya
diberi catatan singkat: [ sic! ]. Kata sic! yang ditempatkan dalam kurung segi empat menunjukkan
bahwa penulis-tidak bertanggungjawab atas kesalahan itu.
ak. C. Menghilangkah bagian kutipan
al.
Dalam pengutipan diperkenankan menghilangkah baian tertentu dengan syarat
bahwa penghilangan bagian itu tidak boleh mengakibatkan perubahan makna asli atau
keseluruhannya. Penghilangan itu iasanya dengan mempergunakan tiga titik berspasi [. . .].
am.
Sumber : Krippendorff, Klaus. 1991. Analisis Isi, Pengantar Teori dan Metodologi,
terjemahan. Jakarta: Rajawali, h. 69)
an.
16.Bagaimana cara menulis sumber pustaka dalam daftar pustaka?

ao. Cara penulisan Sumber pustaka dalam tinjauan pustaka

ap. Daftar pustaka (bibliografi) adalah daftar yang berisi judul buku-buku, artikelartikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya, yang mempunyai pertalian
dengan sebuah atau sebagian karangan yang disertainya.
aq.
ar.
as.
at.
au.
av.
aw.

Unsur-unsur daftar pustaka meliputi:


1. nama pengarang, yang dikutip secara terbalik,
2. tahun terbit
3. judul buku, termasuk judul tambahannya;
4. data publikasi, yang meliputi
a. penerbit,
b. kota terbit.
ax. Contoh
ay. Tarigan, Henry Guntur. 1990. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa.
az. Nama keluarga (Tarigan) ditulis lebih dulu, kemudian diikuti nama kecilnya
ba. (Henry Guntur).
bb. a. Jika buku itu dususun oleh dua pengarang, nama pengarang kedua tidak dibalikan.
bc. b. Jika buku itu dususun oleh banyak orang, nama pengarang pertama yang
dicatumkan dan setelahnya diberi keterangan dkk, yang 'artinya dan kawan-kawan'.
bd. c. Jika buku itu disusun oleh lembaga, nama lembaga itu dipakai menggantikan nama
pengarang.
be. d. Jika buku itu merupakan editorial (bunga rampai), nama editor itu yang dipakai.
Di belakang nama editor diberi keterangan (ed.), editor.
bf. e. Nama gelar pengarang lazimnya tidak dituliskan.
bg. f. Daftar pustaka disusun alfabetis berdasarkan urutan huruf awal nama belakang
pengarang.

Tahun terbit ditulis setelah nama pengarang. Selama ini penulisannya terdapat dua versi,
yakni ada yang disertai tanda kurung dan ada pula yang tidak. Apabila menggunakan tanda
kurung, setelah nama pengarang, tidak menggunakan titik (Tarigan, Henry Guntur [1990]);
dan apabila tidak menggunakan tanda kurung, setelah nama pengarang dibubuhkan tanda
titik (Tarigan, Henry Guntur. 1990.) Jika pada tahun yang sama, pengarang itu menerbitkan
dua buku dan kedua bukunya itu dijadikan daftar pustaka, tahun tertib itu diberi urutan,
misalnya 1990a, 1990b, dan seterusnya.
Judul buku harus diberi garis bawah atau dicetak miring.
Jika buku tersebut merupakan terjemahan, maka setelah judul buku diberi keterangan
(terjemahan).
Urutan data penerbit, didahului kota penerbit yang kemudian nama penerbit
bh.
(Bandung: Angkasa).
bi. Jawab :

bj. Saat ini terdapat berbagai macam cara penulisan daftar pustaka.
Penulisan daftar pustaka yang banyak dikenal adalah Vancouver
style dan harvard style.

Vancouver style
bk.
Dikeluarkan bulan februari 1983 , dan kini diterapkan oleh hampir
semua majalah kesehatan di Amerika, eropa , juga Australia. Di Indonesia ,
beberapa majalah ilmiah kedokteran sudah mulai menerapkan cara
penulisan daftar pustaka ini.
bl.
Vamcouver style ini lebih ringkas , tidak banyak menggunakan titik ,
dan koma.
bm.
Contohnya : dapat dilihat pada cumullative index Medicus, yaitu :
nama, singkatan nama depan ( inisial ) penulis , judul karangan nama
majalah atau jurnal, tahun penerbitan, volume dan nomor halaman. Jika
dikutip dari buku , susunan menjadi : nama dan inisial penulis , judul
karanagn, nama editor ( jika ada ), judul buku ( jika buku tsb merupakan
kumpulan kara beberapa penulis ) , kota tempat buku itu diterbitkan , nama
penerbit , tahun penerbitan , dan halaman.

CONTOH VANCOUVER
(dalam teks]

Peningkatan CEA paling menonjol adalah pada penderita karsinoma kolo-rektal stadium
lanjut [1], terutama kalau sudah metastase ke hati [2-5]. Dari evaluasi 3200 kasus
menunjukkan bahwa CEA merupakan prediktor yang sangat baik untuk menilai
prognosis penderita [6]

Harvard style
bn.
Banyak digunakan sebagai sistem yang resmi pada kegiatan
penulisan ilmiah Di Indonesia.

bo.
CONTOH HARVARD
(dalam teks]

Peningkatan CEA paling menonjol adalah pada penderita karsinoma kolo-rektal


stadium lanjut [Parker W.R. 1997], terutama kalau sudah metastase ke hati [Kate N.
1988, Brown W. 1990, Maingot R. Et.al 1995, Kitano M. 1998]. Dari evaluasi 3200
kasus menunjukkan bahwa CEA merupakan prediktor yang sangat baik untuk menilai
prognosis penderita] [Hill G.H. 1997 ]
bp.
Sumber
:
Tjokroprawiro.2002

pedoman

penelitian

kedokteran

Askandar

bq.
Dalam mencatat sumber kepustakaan biasanya mengikuti urutanurutan sebagai berikut:
a.
Nama pengarang. Apabila tidak ada nama pengarang,
dicantumkan nama badan atau instansi yang menerbitkan atau editornya.

b.
c.

d.
e.
f.
g.
h.

Judul sumber (nama buku, artikel, atau manuskrip yang lain).


Bila artikel atau judul tersebut diambil dari koran atau majalah
berkala, tuliskan judulnya kemudian nama koran atau majalah yang
memuatnya, serta volume atau edisi atau nomor penerbitan, tanggal,
bulan, dan tahun,
Nama penerbit (untuk buku dan karangan lain yang diterbitkan).
Tempat penerbitan.
Tahun penerbitan.
Apabila suatu buku terdiri dan beberapa jilid atau merupakan
suatu seri, dicantumkan setelah nama buku itu nomor jilid atau serinya.
Bila perlu dicantumkan nomor halaman yang dipelajari atau
dikutip.
br.
Karya tunggal

o
bs.

Nama., tahun, judul, web servws (http://www), (tanggal-bln-tahun

makalah, acced tgl-bln-thn)


Karya dalam karya

o
bt.

Nama., tahun, judul dalam edwerb...(http://www...), (tgl-bln-thn

makalah, tgl-bln-thn accesed)


Makalah bebas (tanpa nama)

o
bu.

(web servers), (tgl-bln-thn accesed : judul)


bv.