Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR BUDUDAYA TANAMAN

MEDIA DAN BAHAN TANAM

NAMA

: ARYA PUTRA W.

NIM

: 145040201111209

KELAS

: U1

ASISTEN

: ALIF R.

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap tanaman memerlukan media dan bahan tanam yang sesuai untuk
mendapatkan produk akhir yang maksimal. Media tanam dapat didefinisikan
sebagai tempat tumbuh kembang tanaman. Media tanam sangat berperan
karena

fungsinya

yang

menyediakan

nutrisi

bagi

tanaman,

tempat

berkembangnya perakaran, tempat tersedianya air serta penopang tanaman


agar tumbuh tegak. Saat ini, media tanam tidak hanya berupa tanah. Pasir, gel,
sterofoam, batu, sekam, serbuk kayu, dan air dapat dimanfaatkan sebagai
media tanam. Adanya inovasi tersebut akan mengurangi penggunaan tanah
dan memanfaatkan bahan-bahan sisa sehingga bahan-bahan sisa tersebut akan
bernilai ekonomi. Penggunaan media tanam harus disesuaikan dengan jenis
tanamannya. Karena media tanam merupakan tempat tinggal tanaman.
Sebagai tempat tinggal, media tanam harus didesain sedemikian rupa agar
tanaman merasa nyaman. Dengan demikian, hasil yang diperoleh akan
maksimal. Tidak hanya media tanam yang harus diperhatikan agar tanaman
tumbuh sehat, pemilihan bahan tanam juga harus dipahami. Bahan tanam
adalah bagian tanaman yang ditanam dalam media tanam.Bagian tanaman ini
dapat berupa biji, tunas, umbi, batang, akar, dan daun.Dalam bahan tanam,
terdapat istilah benih danbibit.Benih adalah biji yang mendapatkan perlakuan.
Sedangkan bibit adalah tanaman muda. Untuk mendapatkan hasil pertanian
yang maksimal, pemilihan bahan tanam juga harus disesuaikan dengan jenis
tanamannya. Misalnya tanaman padi. Biji padi harus disemai menjadi bibit.
Kemudian, baru ditanam di area sawah. Selain itu, kualitas genetic dan fenotip
bahan tanam perlu diperhatikan agar tanaman memiliki kualitas dan kuantitas
yang baik.

1.2 Tujuan

1. Mengetahui dan memahami pengertian, fungsi dan macam-macam media


tanam
2. Mengetahui dan memahami pengertian bahan tanam, perkecambahan,
benih, bibit, biji, dan perbanyakan vegetatif dan generatif
3. Mengetahui syarat media tanam yang baik
4. Mengetahui macam-macam tipe perkecambahan dan perkembangbiakan
vegetatif
5. Mengetahui dan memahami keuntungan, kerugian dan faktor yang
mempengarui keberhasilan perbanyakan vegetatif dan generative

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Media Tanam
Media Tanam Adalah tempat untuk hidup/tumbuh bagi tanaman misalnya
tanah, arang sekam dll.

(Zulkarnain, 2009)

2.2 Pengertian Bahan Tanam


Bahan tanam adalah bahan yang digunakan untuk memulai kehidupan
baru dari suatu tanaan tertentu, bahan tanam dapat berupa benih, bibit dan
biji.

(Danoesastro, 1984)

2.3 Fungsi Media Tanam


a. Tempat berdiri tegak tanaman
Cukup kuat memegang tanaman agar tetap tegak (media cukup berat
atau diperlukan penyangga). Ada keseimbangan ukuran tanaman dan
BD (Bulk Density = Kerapan Massa) media.
b. Suplai nutrisi/hara
Total suplai dibatasi oleh ukuran wadah. Oleh karena itu media
seharusnya memiliki CEC yang tinggi & pH dalam keadaan optimum.
c. Tempat suplai air
Porositas yang baik akan menyediakan air dan oksigen yang cukup
bagi pertumbuhan tanaman. Aerasi yang baik akan memperlancar
respirasi dan menjamin pergerakan CO2 untuk dapat keluar dari
media.
(Santoso, 2010)

2.4 Macam-macam Media Tanam


2.4.1 Media Tanam Organik
a. Kompos
Kompos adalah media tanam yang berasal dari proses fermentasi
tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam,daun, rumput, dan
sampah kota. Kelebihan kompos mampumengembalikan kesuburan
tanah melalui perbaikan sifat tanah,baik fisik, kimiawi, maupun
biologis.

b. Sekam
Sekam padi adalah kulit biji gabah tanaman padi. Sekam padi bisa
berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak dibakar)yang memiliki
tingkat porositas sama. Penggunaan sekam bakaruntuk media tanam
tidak perlu disterilisasi lagi karena mikrobapatogen telah mati selama
proses pembakaran. Sekam bakarjuga memiliki kandungan karbon (C)
yang tinggi Sekam mentahsebagai media tanam mudah mengikat air,
tidak mudah lapuk,merupakan sumber kalium (K) yang dibutuhkan
tanaman dantidak mudah menggumpal t sehingga akar tanaman dapat
tumbuh dengan sempurna.

(Wiryanta, 2007)

2.4.2 Media Tanam Anorganik


a. Pasir
Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk
menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadaidan
sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaianbenih,
pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman.Pasir
memiliki pori berukuran besar (makro) oleh karena itu mudah basah

dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesidan konsistensi


(ketahanan terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga
mudah terkikis oleh air atau angin. Media pasir lebih membutuhkan
pengairan dan pemupukan yang lebih intensif. Namun pasir
memungkinkan tanaman yang ditanam di media ini membuat
perakaran yang lebih luas karena pasir cenderung mudah ditembus
oleh akar.

b. Tanah
Tanah liat merupakan jenis tanah yang berstektur paling halus dan
lengket atau berlumpur. Karakteristik dari tanah liat adalah memiliki
pori-pori berukuran kecil (pori-pori mikro) yang lebih banyak dari
pada pori-pori yang berukuran besar (pori-pori makro) sehingga
memiliki kemampuan mengikat air yang cukup kuat. Pori-pori mikro
adalah pori-pori halus yang berisi air kapiler atau udara. Sementara
pori-pori makro adalah pori-pori kasar yang berisi udara atau air
gravitasi yang mudah hilang. Ruang dari setiap pori-pori mikro
berukuran sangat sempit sehingga menyebabkan sirkulais atau udara
menjadi lamban. Pada dasarnya, tanah liat bersifat miskin unsur hara
sehingga perlu dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang kaya
akan unsur hara. Penggunaan tanah liat yang dikombinasikan dengan
bahan-bahan lain seperti pasir dan humus sangat cocok dijadikan
sebagai media penyemaian, cangkok, dan bonsai.

c. Serbuk kayu/gergaji

Serbuk gergaji adalah serbuk kayu berasal dari kayu yang dipotong
dengan gergaji. Serbuk kayu sangat ringan sehingga memudahkan
untuk perumbuhan akar, tetapi serbuk kayu tidak bisa mengikat air
sehingga air mudah menguap.

(Wiryanta, 2007)
2.5 Syarat Media Tanam Yang Baik
a. Mampu menopang tanaman secara kokoh, sehingga tanaman mampu
berdiri tegak dan tidak mudah roboh. Agar persyaratan tersebut terpenuhi,
maka kita harus memilih media tanam yang tidak mudah lapuk dan bisa
tahan lama.
b. Media tanam harus memiliki sifat porous, sehingga mampu mengalirkan
kelebihan air yang tidak dibutuhkan, sehingga tanaman terhindar dari
rendaman air dan kelembaban yang tinggi. Kelembaban yang tinggi dapat
mengakibatkan tanaman menjadi busuk dan serangan jamur. Sehingga
kita harus dapat membuat media tanam yang tidak padat dan memiliki
rongga atau pori pori, sehingga drainase dan aerasi pada media berjalan
baik.
c. Media harus tersedia unsur hara yang dibutuhkan tanaman, baik itu unsur
hara makro maupun mikro, sehingga kebutuhan tanaman akan nutrisi
dapat terpenuhi.

Agar persyaratan tersebut terpenuhi, maka perlu

menambahkan pupuk organik atau pupuk kimia pada media tanam.


d. Tanaman membutuhkan media yang bersih sehat dan tidak terkontaminasi
jamur, virus atau tercemar bahan kimia yang dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman. Sehingga untuk mendapatkan media tanam yang
sehat bisa dilakukan dengan cara mengukus media tanam atau
memasukan media tanam pada oven dengan suhu 70 o C selama 6 jam lalu
menjemur media tanam pada terik matahari selama kurang lebih dua hari.
(Lendri, 2003)
2.6 Pengertian Perkecambahan

Perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan


embrio, dimana tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya
tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada
pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang
menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini
dikenal sebagai kecambah.Hasil perkecambahan ini adalah munculnya
tumbuhan kecil dari dalam biji (Kusfebriani dkk., 2010).
2.7 Pengertian Benih, Bibit, dan Biji
Benih adalah biji yang dipersiapkan untuk tanaman yang telah melalui
proses seleksi, sehingga dapat diharapkan dapat mencapai proses tumbuh
yang besar menjadi tanaman dewasa.
Bibit adalah tanaman hasil perbanyakan atau penangkaran yang siap
untuk ditanam, dapat bersal dari perbanyakan generatif (biji/benih) dan dapat
juga bersal dari perbanyakan vegetif (cangkok, okulasi, stek, dll).
Biji merupakan bakal biji (ovulum) yang dihasilkan oleh tumbuhan
berbunga dan dikenal sebagai alat perkembangbiakan pada tumbuhan.
(Danoesastro, 1984)
.
2.8 Macam-macam Tipe Perkecambahan
Perkecambahan Hipogeal
Perkecambahan Hipogeal adalah pertumbuhan memanjang dari
epikotil sehingga menyebabkan plumula keluar dan menembus pada
bijinya yang nantinya akan muncul di atas tanah, sedangkan kotiledonnya
masih tetap berada di dalam tanah. Contoh perkecambahan ini terjadi pada
jagung.

Perkecambahan Epigeal
Perkecambahan Epigeal adalah pertumbuhan memanjang yang
mengakibatkan kotiledon dan plumula sampai keluar ke permukaan tanah,
sehingga kotiledon terdapat di atas tanah. Contoh perkecambahan ini terjadi
pada kacang tanah.

(Kistinnah dan Lestari, 2009)


2.9 Pengertian Perbanyakan Vegetatif dan Generatif
Perbanyakan Generatif adalah perkawinan antara 2 tanaman induk yang
terpilih melalui organ bunga pada salah satu induk, kemudian terjadi
penyerbukan dan menjadi buah dengan kandungan biji di dalamnya.
Perbanyakan

vegetatif

adalah

perbanyakan

tanaman

dengan

menggunakan organ vegetatif tanaman seperti batang yang mempunyai tunas


samping (aksilar/lateral) dan mata tunas dari induk yang terpilih. Induk
terpilih misal mempunyai warna dan corak bunga yang indah dan belum
pernah ada (adenium, plumeria, euphorbia), warna daun bervariasi
(aglaonema, philodendron)
(Sutopo, 1998)
2.10 Macam-macam Perkembangbiakan Vegetatif
2.10.1 Secara Alami
a. Stolon
Batang yang menebal dan tumbuh secara horizontal sepanjang
atau

tumbuh

di

bawah

permukaan

tanah

dan

intervaltertentu memunculkan tunas ke permukaan tanah

pada

b. Corm
Pangkal batang yang membengkok dan memadat serta
mengandung cadangan makanan. Pada dasarnya cormus
terdapat lubang tempat tumbuhnya akar sedangkan di bagian
atas (ujung) terdapat mata tunas.

c. Bulb (Umbi lapis)


Bahan tanaman yang terdiri dari suatu batang dan pipih yang
pendek berbentuk cawan dikelilingi sisik yang merupakan
struktur seperti daun berdaging, sisik ini menutupi tunas (titik
tumbuh).

d. Tuber (Umbi batang)


Batang yang mempunyai daging tebal yang terdapat di dalam
tanah yang mengandungbeberapa mata tunas.

e. Rhizome
Akar rimpang yang memiliki mata tunas baru dan tiap mata
tunas akan membengkok sebagai cadangan energi.

f. Anakan
Hasil pembiakan vegetative induk yang berkembang sendiri
yang tumbuh di dekat tanaman induk.

2.10.2 Secara Buatan


a. Stek (cutting)
Stek diartikan sebagai suatu perlakuan pemisahan/pemotongan
beberapa bagian tanaman, seperti daun, tunas,batang, agar
bagian-bagian tanaman tersebut membentuk ajar atau tanaman
baru.

b. Cangkok
Cangkok adalah suatu cara perbanyakan vegetative tanaman
dengan membiarkan suatu bagian tanaman menumbuhkan akar
sewaktu bagian tersebut masih tersambung dengan tanaman
induk. Suatu bagian batang (biasanya ujung) dikerat kulitnya
hingga terlihat kayu. Bagian yang terbuka ini lalu dibungkus
dengan bahan yang dapat menyimpan air dan kemudian dibebat
dengan bahan kedap air. Setelah beberapa minggu kar telah
terbentuk dan anakan dipisah dari pohon induk.

c. Okulasi
Okulasi adalah menempelkan mata tunas tanaman lain kepada
batang muda dan dari varietas yang sama, atau antara varietas
dalam spesies. Macam okulasi, yaitu : Okulasi bentuk batang,
kotak, atau persegi, okulasi bentuk T, kulasi bentuk miring.

d. Grafting (sambung tunas)


Seni menyambung dua jaringan tanaman hidup sedemikian
rupa sehingga keduanya bergabung dan tumbuh serta
berkembang

sebagai

salah

stu

tanaman

gabungan.

Macam grafting, yaitu : side graft, cleft graft, wdge, notch or


saw-kerf graft, bark graft, approach graft, dan top working.

(Sutopo, 1998)
2.11 Keuntungan dan Kerugian Perbanyakan Generatif dan Vegetatif

Keuntungan bahan tanam generatif antara lain, mudah untuk penanaman,


tidak memerlukan wadah/tempat yang besar sehingga mudah didistribusikan,
dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu.Benih juga mudah dikembangkan
menjadi individu baru yang unggul, misal benih hibrida. Kelemahan perbanyakan
generatif adalah biji sebagai penggabungan dari dua gamet bisa mempunyai sifat
yang tidak sama dengan induknya.
Keuntungan penggunaan organ vegetatif sebagai bahan tanam adalah
tanaman baru mempunyai sifat yang sama dengan induknya. Pada perbanyakan
cangkok, budding dan grafting, tanaman bisa langsung memasuki fase reproduktif
karena tidak memerlukan fase vegetatif. Kelemahan metode perbanyakan
vegetative adalah memerlukan tempat/wadah yang besar sehingga agak sulit
dalam distribusi bibit (Tim Dosen, 2013).
2.12 Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Perbanyakan Vegetatif dan
Generatif
1. Faktor eksternal
a. Suhu
Tinggi rendah suhu mejadi salah stu faktor yang mennetukan tumbuh
kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu
yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22-33 celcius.
b. Kelembaban
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta
perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi
tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta
berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel
yang lebih cepat.
c. Cahaya matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat
melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu
tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak
pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada
kecambah,

justru

pertumbuhan.
d. Jamur dan bakteri

sinar

matahari

dapat

menghambat

proses

Jamur dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang


lembab, bahan tanam yang terlukai sangat rawan terhadap serangan
jamur dan bakteri sehingga menyebabkan kebusukan)
2. Faktor internal
a. Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses
perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk
membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan
pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel
dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang.
b. Dormansi bahan tanam
c. ZPT (zat pengatur tumbuh)
(Rochiman.1973)

BAB III
BAHAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Alat
Sekop
Polibag
Tipe-X
Kamera
Alat Tulis
Penggaris

Fungsi
Untuk memasukkan media tanam ke dalam polibag
Sebagai tempat dari media tanam
Untuk menandai polibag
Untuk mendokumentasi hasil praktikum
Untuk mencatat hasil praktikum
Untuk mengukur kedalaman media tanam dan tinggi

Modul DBT
Wadah

tanaman
Untuk acuan dalam pelaksaan praktikum
Sebagai tempat air

3.1.2 Bahan
Bahan
Arang sekam
Tanah
Pasir
Kompos+Tanah ( 1:1 )
Tanah + Pasir ( 1:1 )
Serbuk gergaji
Batang tebu
Cocor bebek
Kedelai
Jagung
Kentang
Air

Fungsi

Sebagai media tanam

Sebagai Bahan Tanam


Untuk menyirami benih atau bibit yang ditanam

3.2 Cara Kerja


Menyiapkan alat dan bahan

Mengambil media tanam yang telah disediakanberupa tanah, pasir, arang sekam,
serbuk gergaji, kompos + tanah (1:1), dan pasir + tanah (1:1)

Mengisi polibag dengan media tanam yang telah ditentukan hingga terisi 4/5
tinggi polibag atau dengan menyisakan 5 cm dari atas polibag lalu memberi nama
pada masih masing polibag

Menanam bahan tanam ke dalam polibag

Vegetatif

Tebu

Generatif

Kentang

Cocor
bebek

Jagung

Kedelai

Menanam tebu tunasnya diarahkan ke atas


Menanam kentang tunasnya diarahkan ke samping
Menanam cocor bebek meletakkan diatas media tanam ditekan sedikit
Menanam benih/biji jagung dan kedelai ditanam didalam tanah

Melakukan enam kali pengulangan pada media tanam yang berbeda

Penyiraman dilakukan setiap 3 hari sekali tergantung kebutuhan dan cuaca (curah
hujan)

Mencatat hasil praktikum dan mendokumentasikannya

Membuat laporan
3.3 Analisa Perlakuan
Siapkan alat dan bahan. Kemudian beri nama media tanam pada setiap
polibag, total ada 30 polibag. Jadi setiap 6 polibag terdapat media tanam yang
sama. Masukkan media tanam sesuai keterangan yang sudah ditulis di polibag

sampai 4/5 dari polibag. Untuk bahan tanam tanah + pasir menggunakan
perbandingan 1 : 1. Untuk bahan tanam tanah + kompos juga menggunakan
perbandingan 1 : 1. Tanam bahan tanam dengan 6 media tanam yang berbeda.
Untukl kentang mata tunas harus menghadap ke samping.Siram dan amati
setiap minggu. Catat hasil pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun dan
waktu benih berkecambah lalu dokumentasikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pengamatan
1. Tanaman Jagung
Tabel 1. Tinggi Tanaman Jagung
Media

Tinggi Tanaman (cm)


14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

49 hst

Tanah

7,5

9,1

12,7

17,5

19,5

21,9

Pasir

6,7

11,3

16,6

21,6

27,2

32,6

Tanah+pasir

12,2

15,5

21

40,2

48,3

Tanah+kandang

6,2

10,5

14,7

22,8

26,9

Sekam

7,8

11,6

17,3

19,8

23,4

Bubuk gergaji

4,5

5,3

7,4

11,7

14,5

Tabel 2. Jumlah Daun Tanaman


Waktu pengamatan
Media

14

21 hst

28 hst

35 hst

hst

42

49

hst

hst

Tanah

Pasir

Tanah+pasir

Tanah+kandang

Sekam padi

Serbuk gergaji

Tabel 3. Waktu Benih Berkecambah


Media

Saat Benih berkecambah

Tanah

4 Hst

Pasir

4Hst

Tanah+kandang

4Hst

Tanah+pasir

4Hst

Sekam padi

11Hst

Serbuk gergaji

4Hst

Grafik 1. Tinggi Tanaman Jagung

Grafik 2. Jumlah Daun Tanaman Jagung

Grafik 3. Waktu Benih Berkecambah

2. Tanaman Kacang Kedelai


Tabel 1. Tinggi Tanman Kacang Kedelai
Media

Tinggi Tanaman (cm)


14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

49 hst

Tanah

5,8

7,8

8,4

9,4

10,8

Pasir

9,3

14,2

16,5

17,3

19,2

Tanah+pasir

Tanah+kandang 5

6,8

12,7

19,4

23,7

Sekam

4,5

7,1

10,6

13

16,8

Bubuk gergaji

5,3

10

14,4

17,3

Tabel 2. Jumlah Daun Tanaman Kacang Kedelai


Media

Jumlah Daun
14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

49 hst

Tanah

Pasir

Tanah+pasir

Tanah+kandang

Sekam

Bubuk gergaji

Tabel 3. Waktu Benih Berkecambah

Media

Saat Benih berkecambah

Tanah

4 Hst

Pasir

4Hst

Tanah+pasir

Tanah+Kandang

4 Hst

Sekam padi

11 Hst

Serbuk gergaji

4 Hst

Grafik 1. Tinggi Tanaman Kacang Kedelai

Grafik 2. Jumlah Daun Tanaman Kacang Kedelai

Grafik 3. Waktu Benih Berkecambah

3. Tanaman Cocor Bebek


Tabel 1. Tinggi Tanaman Cocor Bebek
Media

Tinggi Tanaman (cm)


14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

49 hst

Tanah

Pasir

Tanah+pasir

0.4

1.5

2,3

Tanah+ kandang

Sekam

Bubuk gergaji

0,9

2,2

3,4

Tabel 2. Jumlah Daun Tanaman Cocor Bebek


Media

Jumlah Daun
14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

49 hst

Tanah

Pasir

Tanah+pasir

Tanah+ kandang

Sekam

Bubuk gergaji

Tabel 3. Waktu Daun Bertunas

Media

Saat Benih berkecambah

Tanah

Pasir

Tanah+pasir
Tanah+kandang
Sekam padi
Serbuk gergaji

35 Hst
35Hst
-

Grafik 1. Tinggi Tanaman Daun Cocor Bebek

Grafik 2. Jumlah Daun Tanaman Cocor Bebek

Grafik 3. Waktu Bibit Bertunas

4. Tanaman Tebu
Tabel 1. Tinggi Tanaman Tebu

Media

Tinggi Tanaman (cm)


14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

49 hst

Tanah

0,3

3,8

6,1

27,1

40,4

46,7

Pasir

12,4

21

32,5

36,5

53,2

Tanah+pasir

15,3

24,4

32,2

36

41,2

Tanah+kandang

Sekam

0,8

7,2

10,7

14,6

17,6

Bubuk gergaji

0,5

2,5

5,5

14,6

26,2

33,5

Tabel 2. Jumlah Daun Tanaman Tebu


Media

Jumlah Daun
14 hst

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

49 hst

Sekam

Bubuk gergaji

Tanah
Pasir

Tanah+pasir
Tanah+pupuk
kandang

Tabel 3. Waktu Tanaman Tebu Bertunas


Media

Saat Benih berkecambah

Tanah

11 Hst

Pasir

11 Hst

Tanah+pasir

11 Hst

Tanah+kandang

Sekam padi

11Hst

Serbuk gergaji

11Hst

Grafik 1. Tinggi Tanaman Tebu

Grafik 2. Jumlah Daun Tanaman tebu

Grafik 3. Waktu Tanaman Tebu Bertunas

5. Tanaman Kentang
Tabel 1. Tinggi Tanaman Kentang
Media

Tinggi Tanaman (cm)

Tanah
Pasir

Tanah+pasir

Tanah+ kandang

Sekam

Bubuk gergaji

Tabel 2. Jumlah Daun Tanaman Kentang


Media

Jumlah Daun
14 hst

Tanah
Pasir

Tanah+pasir

21 hst

28 hst

35 hst

42 hst

Tanah+kandang

Sekam

Bubuk gergaji

Tabel 3. Waktu Tanaman Kentang Bertunas


Media

Saat Benih berkecambah

Tanah

Pasir

Tanah+pasir

Tanah+kandang

Sekam padi

Serbuk gergaji

Grafik 1. Tinggi Tanaman Kentang

Grafik 2. Jumlah Daun Tanaman Kentang

Grafik 3. Waktu Tanaman Kentang Bertunas

4.2 Pembahasan
4.2.1 Jagung
Berdasarkan hasil pengamatan didapat hasil tinggi tanaman yang
dimulai 14 hst hingga 42 hst menunjukan pada semua media tanam
mengalami peningkatan. Pertumbuhan tinggi pada tanaman jagung juga
diimbangi dengan bertambahnya jumlah daun. Pertumbuhan daun terus
mengalami peningkatan, tetapi pertumbuhan yang paling meningkat yaitu
pada media tanah+pasir.
Menurut AAK (1993), jagung tidak memerlukan persyaratan tanah
yang khusus hampir berbagai macam tanah dapat diusahakan untuk
pertanaman jagung. Tetapi jagung yang ditanam pada tanah gembur, subur,
dan kaya akan humus dapat memberi hasil dengan baik. Di samping itu
drainase dan aerasi yang baik serta pengelolaan yang bagus akan
membantu keberhasilan usaha pertanaman jagung. Dari pertanyaan
tersebut dapat diambil kesimpulan sebenarnya jagung dapat tumbuh dalam
media apapun asalkan memenuhi unsur hara yang diperlukannya, namun
faktor seperti drainase dan aerasi juga mempengaruhi. Hal ini karena
drainase dan aerasi yang baik.

4.2.2 Kedelai
Dari hasil pengamatan yang didapat, tinggi tanaman pada seluruh
media tanam mengalami peningkatan. Tetapi jumlah daun dari beberapa
media tanam mengalami naik turun (fluktuasi). Pada media tanam
tanah+pasir kedelai tidak tumbuh hingga akhir pengamatan. Pada media
tanam sekam dan serbuk gergaji pada akhir pengamatan mengalami
penurunan jumlah daun.

4.2.3 Tebu
Pada tanaman tebu, tebu tidak tumbuh pada media tanam berupa
Tanah+pasir.Tebu yang tidak tumbuh kemungkinan diakibatkan oleh

beberapa faktor. Kadar air yang terdapat didalam media tanam juga
mempengaruhi pertumbuhan dari tebu tersebut, atau juga pada faktor saat
penanaman tebu yang kurang tepat sehingga tunas pada tebu tidak dapat
tumbuh, di dalam pratik kali ini tebu yang berada pada media tanam tanah
lebih tinggi dibanding media tanam lain, dalam media sekam dan serbuk
gergaji mengalami pertumbuhan yang kurang dikarenakan media tersebut
memiliki sifat porositas yang sangat tinggi sehingga tidak dapat menahan
air.
4.2.4 Cocor Bebek
Dari data yang didapat tanaman cocor bebek ini hanya tumbuh
pada media tanam tanah+pasir, sekam. Sebaliknya pada media tanam
serbuk gergaji, tanah, pasir, tanah+pupuk kandang cocor bebek tidak
tumbuh ,mungkin ini juga dipengaruhi beberapa faktor yaitu bisa berupa
peletekan/penanaman tunas yang kurang sesuai ataupun porositas media
kurang baik sehingga mengalami pembusukan pada tunas yang
menyebabkan tidak tumbuhnya tunas pada daun cocor bebek, sebaliknya
pada media tanam tanah+pasir dan sekam yang memiliki porositas baik
ataupun cocok dengan media tanam cocor bebek.
4.2.5 Kentang
Tanaman kentang pada semua media tanam tidak mengalami
pertumbuhan atau mati. Kesesuaian lahan pada prinsipnya ditentukan oleh
kecocokan antara kualitas lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman.
Pada umumnya, kentang tidak dapat tumbuhdan berproduksi dengan baik
apabila ditanam didataran rendah. Daerah yang cocok untuk tanaman
kentang adalah dataran tinggi atau daerah pegunungan dengan kisaran
ketinggian antara 1.000 3.000 m dpl dan ketinggian tempat yang ideal
berkisar antara 1.000 1.300 m dpl. Keadaan topografi tanah tidak banyak
berpengaruh pada pertumbuhan tanaman secara langsung, tetapi
merupakan faktor pembatas yang sangat berpengaruh terhadap biaya
pembukaan lahan. Keadaan tanah yang baik dan sesuai untuk tanaman
kentang adalah tanah yang memiliki struktur remah, teksturnya geluh

pasiran (sandyloam), kandungan bahan organik tinggi, mudah mengikat


air, dan solum tanah dalam. Seharusnya pada media tanam kompos+tanah
kentang tersebut dapat tumbuh karena media tanam tersebut sudah
termasuk

kriteria

dari

persyaratan

tadi.

Kentang

tidak

tumbuh

kemungkinan kentang tersebut masih dalam keadaan segar atau masa


penyimpanannya kurang lama yang menyebabkan belum ada tunasnya.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Media Tanam Adalah tempat untuk hidup/tumbuh bagi tanaman
misalnya tanah, arang sekam dll (Zulkarnain, 2009).SedangkanBahan tanam
adalah bahan yang digunakan untuk memulai kehidupan baru dari suatu
tanaan tertentu, bahan tanam dapat berupa benih, bibit dan biji (Danoesastro,
1984).Fungsi Media Tanam
a. Tempat berdiri tegak tanaman
b. Suplai nutrisi/hara
c. Tempat suplai air
Jadi ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan memilih
media tanam yang tepat untuk tanaman dan keadaan lahandandaerah
kita.

Salah

satunya

adalah

dengan

memperhatikan

tingkat

kelembaban, karena pada dasarnya setiap media tanam harus dapat


menjaga kelembaban, dan unsurhara untuk menunjang pertumbuhan
tanaman yang baik.

5.2 Saran

Sebaiknya

dalam

menuliskan

suatu

penanaman

tanaman

harus

memperhatikan kondisi lahan dan media tanam serta tanaman yang akan
ditanam sehingga pada saat pertumbuhan tanaman tersebut dapat tumbuh
dengan baik, serta didapatkan hasil percobaan yang maksimal. Tidak yaitu
perawatan pun juga diperhatikan. Dan penulisan laporan disarankan
formatnya tidak terlalu banyak dan terimakasih kepada kakak asisten telah
berbagi ilmu dan membimbing kita.

DAFTAR PUSTAKA
Aak. 1993. Teknik bercocok tanam Jagung. Yogyakarta: kanisius

Danoesastro, Harjono. 1984. BercocokTanamUmum. Andi offset. Yogyakarta


Kusfebriani, dkk. 2010. Perkecambahan dan Dormasi. Jakarta : FMIPA
Universitas Negeri Jakarta
Kistinnah, Idun dan Endang Sri Lestari. 2009. Biologi Makhluk Hidup dan
Lingkungannya.
Jakarta pusat Perbukuan
Lendri, Sadjim. 2003. Teknik Pembibitan Mengkudu pada Berbagai
Media.Buletin Teknik Pertanian (Online). Vol. 8, No. 1
(http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/bt081032.pdf, diakses 18 April
2013)
Redaksi PS. 2007.Media Tanam untuk Tanaman Hias.Depok : Penebar Swadaya
Santoso Bambang B. 2010. Menejemen Pembibitan dan Produksi Hortikultura.
Sutopo, A. 1988. Teknologi Benih. CV Rajawali, Jakarta.
Tim Dosen Dasar Budidaya Tanaman. 2013. Modul Praktikum Dasar Budidaya
Tanaman. Malang : FP Universitas Brawijaya
Wiryanta, Bernardinus T. Wahyu. 2007. Media Tanam untuk Tanaman Hias.
Jakarta : Agromedia
Zulkarnain, Dr.H. 2009. Dasar-dasar hortikultura. Bumi aksara. Jakarta