Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Percaya diri adalah sesuatu yang membuat manusia
menjadi memahami akan kondisi dirinya karena adanya kekuatan
didalam jiwa kita. Rasa percaya diri sangat penting dalam hal
mengembangkan sikap sosialisasi didalam lingkungan yang baru.
Seseorang yang percaya

diri akan merasa

nyaman pada

lingkungan yang bagaimanapun dan kondisi yang seperti apapun


karena ia dapat dengan mudah beradaptasi. Akan tetapi tidak
semua siswa mempunyai rasa percaya diri yang tinggi bahkan
cenderung kurang percaya diri.
Banyak dikalangan remaja yang kurang percaya diri sangat
sulit untuk dapat mengembangkan diri terutama dalam hal
bersosialisasi. Hal ini dilihat saat mereka berada pada suatu
kondisi dan situasi tertentu, sebagai contohnya adalah apabila
seorang remaja dihadapkan pada komunitas baru (masuk pada
lingkungan yang baru). Gejala kurang percaya diri tersebut
muncul ketika dia berbicara atau memulai pembicaraan dengan
orang yang baru ia kenal, mudah cemas dan sering salah ucap
ketika berbicara. Masalah tersebut harus segera ditangani agar
tidak menghambat tumbuh kembangnya dalam bersosialisasi
dengan lingkungan sekitar. Akan tetapi tidak semua remaja

mengalami rasa kurang percaya diri, banyak juga remaja yang


mempunyai rasa percaya diri yang tinggi.
Dilihat dari sudut pandang pendidikan, rasa percaya diri
sangat menunjang individu untuk memaksimalkan kemampuan
yang dimiliki sehingga terhindar dari rasa ragu-ragu yang sering
mengganggu. Dilihat dari sudut pandang perkembangan, pada
usia pra remaja sangat rentan dengan rasa percaya diri yang dia
miliki. Remaja

yang memiliki rasa kurang percaya diri akan

menghambat tumbuh kembang anak tersebut dalam beraktifitas


dilingkungan sekitar yang dia tempati, baik disekolah, keluarga
maupun masyarakat.
Dilihat dari sudut Bimbingan dan Konseling, remaja yang
kurang percaya diri akan merasa sangat kesulitan dalam
berkomunikasi dengan lawan bicara, yang sering terjadi, mereka
sering banyak salah ucap dalam berbicara. Remaja

yang

mengalami kurang percaya diri akan menjadi tanggung jawab BK


dalam penyelesaian masalah yang dialami individu tersebut.
Berdasarkan

berbagai

sudut

pandang

diatas,

dapat

disimpulkan bahwa rasa percaya diri sangat berpengaruh dalam


perkembangan individu untuk mengaktulisasikan diri dengan
lingkungan sekitar. Rasa kurang percaya diri adalah suatu
keyakinan yang negatif terhadap suatu kekurangannya yang ada

diberbagai aspek kepribadiannya, sehingga ia tidak mampu


untuk mencapai bernbagai tujuan didalam kehidupannya.
Gejala rasa tidak peraya diri ini umumnya dianggap ringan
karena tidak begitu terlihat awalnya, akan tetapi apabila tidak
tertangani dengan cepat maka gejala-gejala tersebut akan
semakin parah, dan akhirnya berdampak pada diri siswa
tersebut, bahkan lingkungan sekitar juga. Lingkungan tersebut
bisa didalam lingkungan manyarakat, keluarga dan sekolah.
Sikap seseorang yang menunjukkan rasa kurang percaya
diri antara lain, selalu dihinggapi dengan rasa keragu-raguan,
mudah cemas, tidak yakin, cenderung menghindar, tidak punya
inisiatif, mudah patah semangat, tidak berani tampil didepan
banyak orang dan gejala kejiwaan lainnya yang nantinya akan
mengahambat seseorang tersebut untuk berbuat sesuatu.
Adapun

pelaksanaan

layanan

yang

biasa

digunakan

didalam istansi Sekolah untuk mengatasi rasa kurang percaya


diri tersebut adalah konseling individu, dikarenakan disamping
bersifat efisien juga secara tidak langsung siswa tersebut akan
belajar untuk bersosialisasi dalam lingkup yang mungkin bisa
dikatakan kecil. Konseling itu sendiri adalah proses pemberian
bantuan kepada klien (siswa) dalam hal pemecahan masalah.
Konseling individu merupakan layanan bimbingan khusus
antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat

layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dalam rangka


penyembuhan.
Berdasarakan latara belakang diatas maka hipotesis dari judul
proposal ini adalah Ada hubungan antara layanan konseling
individu dengan kepercayaan diri siswa kelas Berdasarakan
latara belakang diatas maka hipotesis dari judul proposal ini
adalah Ada hubungan antara layanan konseling individu
dengan kepercayaan diri siswa kelas kelas 1 SMP Negeri 1
Kerkap

Kabupaten

Bengkulu

Utara

Tahun

Pelajaran

2015/2016.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka
dapat di identifikasikan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana menumbuhkan percaya diri pada siswa kelas 1
SMP Negeri 1 Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara Tahun
Pelajaran 2015/2016?
2. Bagaimana pelaksanaan konseling individu di sekolah SMP
Negeri 1 Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara Tahun Pelajaran
2015/2016?
3. Bagaimana hubungan layanan konseling individu dengan
percaya diri siswa kelas siswa kelas 1 SMP Negeri 1 Kerkap
Kabupaten Bengkulu Utara Tahun Pelajaran 2015/2016.
C. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini tidak semua masalah diatas diteliti
semua tapi dibatasi mengenai hubungan layanan konseling

individu dengan kepercayaan diri siswa kelas 1 SMP Negeri 1


Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara Tahun Pelajaran 2015/2016.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka
permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah:
1. Apakah ada hubungan layanan konseling individu dengan
kepercayaan diri siswa di SMP Negeri 1 Kerkap Kabupaten
Bengkulu Utara Tahun Pelajaran 2015/2016?
E. Tujuan Penelitian
Adapun penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui hubungan layanan konseling individu
dengan kepercayaan diri siswa kelas 1 SMP Negeri 1 Kerkap
Kabupaten Bengkulu Utara Tahun Pelajaran 2015/2016.
F. Manfaat penelitian
1. Manfaat Teoristis
Hasil penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pendidikan khususnya Bimbingan dan
Konseling yang dapat digunakan sebagai bahan referensi dan
dapat

memberikan

informasi

teoristis

maupun

empiris,

khususnya bagi pihak-pihak yang akan melakukan penelitian


lebih lanjut mengenai permasalahan ini.
2. Manfaat praktis
a. Bagi program studi bimbingan dan konseling:
b. Dapat digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan
pengetahuan serta bahan perbandingan bagi pembaca

yang

akan

melakukan

pengembangan,

khusyusnya

mengenai layanan konseling individu.


3. Bagi peneliti
Mendapat pengalaman cara meneliti tentang pengaruh
bungan bimbingan belajar terhadap motivasi belajar siswa
kelas siswa kelas 1 SMP Negeri 1 Kerkap Kabupaten Bengkulu
Utara Tahun Pelajaran 2015/2016.
4. Bagi sekolah
Hasil penelitian bisa digunakan

untuk

memberikan

sumbangan mengenai hubungan layanan konseling individu


dengan percaya diri siswa kelas siswa kelas 1 SMP Negeri 1
Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara Tahun Pelajaran 2015/2016.
BAB II
LANDASAN TEORI
1. Layanan Konseling Individu
a. Pengertian Bimbingan
Jika ditelaah berbagai

sumber

akan

dijumpai

pengertian-pengertian yang berbeda mengenai bimbingan,


tergantung dari jenis sumbernya dan yang merumuskan
pengertian

tersebut.

Perbedaan

tersebut

ddisebabkan

kelainan pandangan dan titik tolak, tetapi perbedaan itu


hanyalah

perbedaan

tekanan

atau

dari

sudut

mana

melihatnya.
Berdasarkan pasal 1 peraturan pemerintahan nomor
29/90, Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan
kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi,

mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan.


(Depdikdud,

1994,

sukardi,2010:35-36).
Bimbingan dalam

yang

dikutip

rangka

dewa

ketut

menemukan

pribadi

dimaksudkan agar peserta didik mengenal kekuatan dan


kelemahan dirinya sendiri, serta menerimanya secara
positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih
lanjut. Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan
dimaksudkan agar peserta didik mengenal secara objektif
lingkungan , baik lingkungan social dan lingkungan fisik,
dan menerima berbagai kondisi lingkungan itu secara
positif dan dinamis pula. Pengenalan lingkungan itu, yang
meliputi lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan
masyarakat, dan alam sekitar serta lingkungan yang lebih
luas, diharapkan menunjukan proses penyelesaian diri
peserta didik dengan lingkungan yang dimaksud, serta
dapat

dimanfaatkan

sebesar-besarnya

untuk

pengembangan diri secara mantap dan berkelanjutan.


Sedangkan bimbingan dalam rangka merencanakan masa
depan

dimaksudkan

agar

peserta

didik

mampu

mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang


masa depan dirinya sendiri, baik yang menyangkut bidang

pendidikan,

bidang

karir,

maupun

bidang

budaya/keluarga/kemasyarakatan.
Bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses
pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara
berkesetimbangan
memahami

supaya

dirinya

individu

sendiri,

tersebut

sehingga

dia

dapat
sanggup

mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar,


sesuai

dengan

tuntutan

dan

keadaan

lingkungan

sekolah,keluarga,dan masyarakat dan kehidupan pada


umumnya. Dalam demikian , dia akan dapat menikmati
kebahagian

masyarakat

pada

umumnya.

Bimbingan

membantu individu mencapai perkembangan diri secara


optimal sebagai makhluk social.(Rochman Natawidjaja,
1987:31, yang dikutip dewa ketut sukardi, 2010:36 ).
Pakar
bimbingan
yang
lain
mengungkapkan
bahwa:bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan
yang

terus-menerus

dan

sistematis

dari

pembimbing

kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam


pemahaman diri dan perwujudan diri, dalam mencapai
tingkah perkembangan, yang optimal dan penyesuaian diri
dengan lingkungannya.(Moh.surya,1988:12, yang dikutip
dewa ketut sukardi,2010:37).
Sedangkan pakar yang lain mengatakan bahwa:
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada

seseorang (individu)atau sekelompok orang agar mereka


itu

dapat

berkembang

menjadi

pribadi-pribadi

yang

mandiri. Kemudian ini mencangkup lima fungsi pokok yang


hendaknya dijalankan oleh pribadi mandiri, yaitu: (a)
mengenal diri sendiri dan lingkungan, (b) menerima diri
sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, (c)
mengambil keputusan, (d) mengarahkan diri, dan (e)
mewujudkan diri. (Prayitno, 1937:35, yang dikutip dewa
ketut sukardi,2010:37).
Dengan membandingkan pengertian bimbingan yang
telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa: Bimbingan adalah proses pemberian bantuan
kepada seseorang atau sekelompok orang secara trusmenerus dan sistematis oleh guru pembimbing agar
individu atau sekelompok individu menjadi pribadi yang
mandiri.

Kemandirian

bimbingan

ini

yang

mencangkup

menjadi
lima

tujuan

fungsi

usaha

pokok

yang

hendaknya dijalankan oleh pribadi mandiri, yaitu: (a)


mengenal diri sendiri dan lingkungannya sebagaimana
adanya,(b) menerima diri sendiri dan lingkungan yang
positif

dan

dinamis,(c)

mengambil

keputusan,

(d)

mengarahkan diri sendiri, dan (e) mewujudkan diri sendiri.


(Dewa ketut sukardi,2010:37).

b. Pengertian konseling
Konseling sebagai terjemahan dari counseling
merupakan bagian dari bimbingan, baik sebagai layanan
maupun sebagai teknik. layanan konseling adalah jantung
hati layanan bimbingan secara keseluruhan (Sukardi,
1985: 11, yang dikutip Dewa ketut sukardi,2010:37). Dan
Ruth Strang menyatakan bahwa counseling is most
important tool of guidance (Ruth Strang, 1958, yang
dikutip

Dewa

ketut

sukardi,2010:37).

Jadi

konseling

merupakan inti dari alat yang paling penting dalam


bimbingan.
Selanjutnya Rochman Natawidjaja mendefinisikan
bahwa konseling merupakan satu jenis layanan yan g
merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling
dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua
individu, dimana yang seorang (yaitu konselor) berusaha
membantu

yang

lain

(yaitu

klien)

untuk

mencapi

pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan


masalah-masalah yang dihadapinyapada waktu yang akan
dating. (Rochman Natawidjaja, 1987: 32, yang dikutip
Dewa Ketut Sukardi,2010:38).
Pakar lain mengungkapkan bahkan: konseling itun
merupakan

upaya

konselisupaya

dia

bantuan

yang

memperoleh

diberikan
konsep

kepada

diri

dan

kepercayaan diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya


dalam memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan
dating. Dalam pembentukan konsep yang sewajarnya
mengenai: (a) dirinya sendiri,(b) orang lain,(c) pendapat
orang lain tentang dirinya, (d) tujuan-tujuan yang hendah
dicapai,dan (e) kepercayaan diri. (Moh. Surya, 1988:38,
yang dikutip Dewa Ketut Sukardi,2010:38).
Lebih lanjut prayitno (1983:3), mengemukakan:
Konseling adalah pertemuan empat mata antara klien dan
konselor yang berisi usaha yang laras, unik, dan human
(manusiawi), yang dilakukan dalam suasana keahlian yang
didasarkan atas norma-norma yang berlaku.
Dengan membandingkan pengertian

tentang

konseling yang dikemukakan pakar di atas, maka dapat


ditarik kesimpulan bahwa konseling merupakan suatu
upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau
tatap muka antara konselor dank lien yang berisi usaha
yang laras, unik, human (manusiawi), yang dilakukan
dalam suasana keahlian dan yang didasarkan atas normanorma yang berlaku, agar klien memperoleh konsep diri
dan kepercayaan diri sendiri dalam masa yang akan
datang.
Guru pembimbing yang telah memahami secara
benar dan mendasar prinsip-prinsip dasar bimbingan dan

konseling ini akan dapat menghilangkan diri dari kesalahan


dan

penyimpangan-penyimpangan

dalam

praktek

pemberian layanan bimbingan dan konseling. Prinsipprinsip yang akan dibahas adalah tinjauan dari prisnsipprinsip secara umum, dan prinsip khusus. Prinsip-prinsip
khusus adalah prinsip-prinsip bimbingan yang berkenan
dengan sasaran layanan, prinsip yang berkenaan dengan
permasalahan individu, prinsip yang berkenaan dengan
program

layanan,

dan

prinsip-prinsip

bimbingan

dan

konseling yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan.


(Dewa ketut sukardi,2010:38-39)
c. Pengertian Layanan Konseling Individu
Layanan konseling individu yaitu layanan bimbingan
dan konseling yang memungkinan peserta didik yang
mendapatkan layanan langsung secara tatap muka dengan
guru pembimbing / konselor dalam rangka pembahasan
dan pengentasan permasalahannya.
Pelaksanaan usaha pengentasan

permasalaahan

siswa, dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:


1. Pengenalan dan pemahaman permasalahan.
2. Analisis yang tepat.
3. Aplikasi dan pemecahan permasalahan.
4. Evaluasi, baik evaluasi awal, proses, ataupun evaluasi
akhir.
5. Tindak lanjut.
Melihat
teknik
perorangan

terdapat

penyelenggaraan
macam-macam

teknik

konseling
konseling

individu yang sangat ditentukan oleh permasalahan yang


dialami siswa. Teknik konseling perorangan yang sederhana
melalui proses/tahap-tahap sebagai berikut (Dewa ketut
sukardi, 2010:63) : (1) Tahap pembukaaan, (2) Tahap
penjelasan (eksplorasi), (3) Tahap perubahan tingkah laku,
(4) Tahap penilaian/tindak lanjut.

2. Percaya diri
a. Pengertian percaya diri
Dalam kehidupan sehari-hari individu menganggap
kriteria

orang

yang

percaya

diri

adalah

sosok

yabg

sempurna dan kemampuan melakukan apa saja, atau


memiliki

penampilan

fisik

tanpa

cacat

sedikitpun.

Diantaranya ada beberapa individu yang tidak percaya diri


karena memiliki kekurangan, dalam mengatasi kekurangan
tersebut diperlukan adanya kepercayaan diri.
Sedangkan menurut Fatimah(2008:149) kepercayaan
diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan
dirinya

untuk

mengembangkan

penilaian

positif,

baik

terhadapdiri sendiri maupun terhadap lingkungan/ situasi


yang diharapkannya.
b. Ciri-ciri percaya diri
Ciri-ciri individu yang mencapai rasa percaya diri
yang proposional menurut Enung Fatimah(2006:149) adalah:

1) Percaya
sehingga

akan

kompetensi

tidak

atau

membutuhkan

kemampuan

pujian,

diri

pengakuan,

penerimaan, atau rasa hormat orang lain.


2) Tidak terdorong untuk menunjukan sikap konformasi
demi diterima oleh orang lain atau kelompok.
3) Berani menerima dan menghadapi penolakan orang
lain atau berani menjadi diri sendiri.
4) Mempunyai pengendalian diri.
5) Memandang keberhasilan atau kegagalan tergantung
dari

usahanya

sendiri

atau

keadaan

dan

tidak

tergantung pada orang lain.


6) Mempunyai cara pandangan yang positif terhadap diri
sendiri, orang lain dan situasi diluar dirinya.
7) Memiliki harapan yang realistic terhadap diri sendiri
sehingga

ketikaharapannya

itu

tidak

terwujud

tetapmapu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang


terjadi.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi
Kepercayaan diri menurut Fatimah (2006:105) Kepercayaan
diri dipengaruhi oleh:
a. Pola asuh
Meskipun banyak

faktor

yang

mempengaruhi

kepercayaan diri seseorang faktor pada asuh dan interaksi


di usia dini merupakan faktor yang anak mendasar bagi
pembentukan rasa percaya diri.sikap orang tua akan
diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya pada saat
itu.

Orang

penerimaan,cinta

tua
dan

yang
kasih

menunjukan

perhatian,

saying

kelekatan

serta

emosional yang tulus dengan anak akan membandingkan


rasa percaya diri pada anak tersebut. Anak akan merasa
bahwa dirinya berharga dan bernilai mata orang tuanya.
Dan meskipun ia melakukan kesalahan dari sikap orang tua,
ia melihat bahwa dirinya tetaplah dihargai dan dikasih.
b. Pola pikir yang negative
Dalam
hidup
bermasyarakat,
setiap
individu
mengalami berbagai masalah, kejadian, bertemu orangorang baru, dan sebagainya. Reaksi individu terhadap
seseorang atau sebuah peristiwa amat dipengaruhi oleh
cara segala sesuatu dari dengan rasa percaya diri yang
lemah. Cenderungmempersiapkan segala sesuatu dari sisi
negative . ia tidak menyadari bahwa dari dalam dirinya,
semua negatifme, itu berasal.
2. Kerangka Berfikir Hubungnan

Layanan

Konseling

Individu Dengan Percayaan diri siswa


Layanan konseling individu merupakan bagian yang
terintegrasi dari pendidikan makan tujuan layanan konseling
berkaitan dengan pendidikan. Layann konseling individu
sebagai bagian dari pendidikan yang mempunyai tujuan
khusus

yaitu

membantu

siswa

agar

mengenal

dan

memahami dirinya, dapat mengembangkan potensi, bakat ,


dan minat. Sehingga dapat membuat keputusan sendiri dan
dapat menyesuaikan diri dengan lingkunyannya. Membuat

individu mengembangkan kemampuannya secara optimal.


Sehingga siswa dapat menemukan dirinya dan dapat
menemukan pilihannya. Keputusan dan penyelesaian diri
secara optimal. Membantu siswa mengatasi masalah yang
berkaitan

dengan

percaya

diri.

Oleh

sebab

itu

guru

pembimbing dituntut mengefektifkan layanan konseling


individu di sekolahan.
Rasa

percaya

perkembangan

diri

individu

sangat
untuk

berpengaruh

dalam

mengaktulisasikan

diri

dengan lingkungan sekitar. Rasa kurang percaya diri adalah


suatu

keyakinan

yang

negatif

terhadap

suatu

kekurangannya yang ada diberbagai aspek kepribadiannya,


sehingga ia tidak mampu. Dengan demikian dapat diduga
layanan konseling individu dengan percaya diri mempunyai
hubungan yang saling terikat.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
1. Tempat dan Waktu
a. Tempat penelitian
Penelitian dilaksanakan kelas 1 SMP Negeri 1 Kerkap
Kabupaten Bengkulu Utara Tahun Pelajaran 2015/2016.
b. Waktu penelitian
Penelitian di ambil pada tahun 2016.
2. Pendekatan Penelitian
Salah satu faktor yang penting dalam penelitian adalah
metode penelitian yang termasuk penelitian bidang pendidikan
(educational research) khususnya berkaitan dengan motivasi
belajar disekolah menengah pertama yaitu di SMP Negeri 1
kerkap.
3. Variabel PEnelitian
a. Variabel Bebas
Merupakan

variable

yang

variasinya

mempengaruhi variable yang lain. Variable bebas dalam


penelitian ini adalah konseling individu.
b. Variable Terikat
Merupakan variable penelitian yang diukur untuk
mengetahui besarnya efek atau pengaruh variable lain.
Variable terikat dalam penelitian adalah motivasi belajar
siswa.
4. Subyek Penelitian

a. Populasi dan sampel


1) Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek

dan

subjek

yang

mempunyai

kualitas

dan

karakterisik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk


dipelajari

dan

kemudian

ditarik

kesimpulan.

(Sugiyono,2010:117).
Jadi populasi pada prinsipnya adalah semua anggota
kelompok manusia, binatang, atau benda yang tinggal
bersama dalam satu tempat dan secara
menjadi

target

kesimpulan

dari

hasil

terencana

akhir

suatu

penelitian.(Sukardi, 2003:53)
2) Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut.(sugiyono,2010:118)
b. Instrumen penelitian
Instrument penelitian yang digunakan dalam
penelitian

ini

menggunakan

instrument

angket

atau

kuesioner karena peneliti mengukur percaya diri siswa.


Angket atau kuisoner adalah sejumlah pertanyaan tertulis
yang

digunakan

untuk

memperoleh

informasi

dan

responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau halhal yang diketahui. (Suharsimi Arikunto, 2010:194).
Angket dibagikan kepada siswa kelas VII SMP Negeri 1
Kerkap

Kabupaten

Bengkulu

2015/2016.
c. Validitas dan reliabilitas
1) Uji Validitas

Utara

Tahun

Pelajaran

Saifuddin A memandang validitas mengandung arti


sejauh mana ketepatan dan kecematan suatu alat ukur
dalam

melakukan

instrument

fungsi

pengukur

ukurnya.

dapat

Suatu

dikatakan

tes

atau

mempunyai

validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan


fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai
dengan

maksud

dilakukannya

(Saifudidin, 2006:5-6)
Uji
validitas
dalam

pengukuran

penelitian

ini

tersebut.
adalah

menggunakan validitas isi. Secara teknis pengujian


validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi
instrument. Dalam kisi-kisi ini terdapat variable yang
diteliti, indicator sebagai tolak ukuran nomor butir
pertanyaan yang telah dijabarkan di indicator. (Sugiyono,
2010:182)
2) Uji Relibilitas
Relibilitas
adalah

menunju7kan

pada

tingkat

keterdalaman sesuatu. Data yang reliable adalah data


yang dihasilkan dapat dipercaya dan diandalkan.
d. Teknik Analisis Data
Analisis dengan statistik adalah perusahaan untuk
memaparkan, menafsirkan, dan menjelaskan data yang
diperoleh angka dengan rumus korelasi. Korelasi adalah
teknik analisis yang melihat kecenderungan pola dalam
satu variabel berdasarkan kecenderungan pola dalam

variabel yang lain. Maksudnya ketika satu variabel yang


lain apakah juga naik atau turun atau tidak menentu. Jika
kecenderungan dalam satu variabel selalu diiukuti oleh
kecenderungan

dalam

variabel

lain,

kita

dapat

mengatakan bahwa kedua variabel ini memiliki hubungan


atau

korelasi.

Angka

yang

dipergunakan

untuk

menggambarkan derajat hubungan ini disebut koefisien


korelasi dengan lambang rxy. Teknik yang digunakan
untuk menghitung koefisien korelasi dari variabel dengan
skala pengukuran kategorik.

HUBUNGAN ANTARA LAYANAN KONSELING


INDIVIDU DENGAN KEPERCAYAAN DIRI
SISWA KELAS VII SMP N 01 KERKAP
KABUPATEN BENGKULU UTARA TAHUN
PELAJARAN 2015/2016

Oleh :
RADI SUSANTO

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING


ISLAM

FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN


DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU
2016

Anda mungkin juga menyukai