Anda di halaman 1dari 46

REFRESHING

ANAMNESIS, PEMERIKSAAN FISIS DAN STATUS


VENEREOLOGIKUS DALAM BIDANG VENEREOLOGI

Pembimbing :
dr. SK Sulistyaningrum, SpKK
Disusun Oleh :
Yessy Paramita 2011730116

KULIT DAN KELAMIN RS ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN & KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Mengumpulkan data-data dalam anamnesis biasanya ialah hal yang pertama dan
merupakan hal yang terpenting dari interaksi dokter dengan pasien. Untuk menentukan
diagnosis dan terapi dalam menghadapi pasien dengan penyakit kulit, sebaiknya dilakukan
pendekatan komunikasi yang efektif dan pengamatan penyakit kulit khususnya morfologi,
guna memperolah gambaran yang khas untuk menegakan diagnosis dan diagnosis
banding.
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang dokter
memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan fisik
akan di catat di rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu
penegakan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANAMNESA
Anamnesis dapat dilakukan oleh tenaga medis ataupun paramedis, bertujuan untuk :
1. Menentukan faktor risiko pasien
2. Membantu menegakkan diagnosis sebelum dilakukan pemeriksaan fisik
maupun pemeriksaan penunjang lainnya
3. Membantu mengidentifikasi pasangan seksual pasien
Agar tujuan anamnesis tercapai, diperlukan keterampilan melakukan komunikasi
verbal (cara kita berbicara dan mengajukan pertanyaan kepada pasien) maupun
keterampilan komunikasi non verbal (keterampilan bahasa tubuh saat menghadapi pasien).
Sikap saat melakukan anamnesis pada pasien IMS perlu diperhatikan, yaitu :
1. Sikap sopan dan menghargai pasien yang tengah dihadapi
2. Menciptakan suasana yang menjamin privasi dan kerahasiaan, sehingga
sebaiknya dilakukan dalam ruang tertutup dan tidak terganggu oleh keluar
masuk petugas
3. Dengan penuh perhatian mendengarkan dan menyimak perkataan pasien,
jangan sambil menulis saat pasien berbicara dan jangan memutuskan
pembicaraan
4. Gunakan keterampilan verbal anda dengan memulai rangkaian anamnesis
menggunakan pertanyaan terbuka, dan mengakhiri dengan pertanyaan tertutup.
Pertanyaan terbuka memungkinkan pasien untuk memberikan gambaran lebih
jelas, sedangkan pertanyaan tertutup adalah salah satu bentuk pertanyaan yang
mengharapkan jawaban singkat, sering dengan perkataan ya atau tidak,
yang biasanya digunakan untuk lebih memastikan hal yang dianggap belum
jelas.
5. Gunakan keterampilan verbal secara lebih mendalam, misalnya dengan
memfasilitasi,

mengarahkan,

memeriksa,

dan

menyimpulkan,

sambil

menunjukkan empati, meyakinkan dan kemitraan.


6. Rangkaian pertanyaan yang perlu ditanyakan kepada pasien IMS dapat dilihat
pada tabel 1.

Untuk menggali faktor risiko perlu ditanyakan beberapa hal tersebut dibawah ini.
Berdasarkan penelitian faktor risiko oleh WHO (World Health Organization) di beberapa
negara (di Indonesia masih belum diteliti), pasien akan dianggap berperilaku berisiko tingi
bila terdapat jawaban ya untuk satu atau lebih pertanyaan di bawah ini:
1.
2.
3.
4.

Pasangan seksual lebih 1 dalam 1 bulan terakhir.


Berhubungan seksual dengan penjaja seks dalam 1 bulan terakhir.
Mengalami 1 atau lebih episode IMS dalam 1 bulan terakhir.
Perilaku pasangan seksual beresiko tinggi.
Tabel.1. Informasi Yang Perlu Ditanyakan Kepada Pasien

Keluhan utama

Keluhan tambahan

keadaan

Riwayat perjalanan penyakit

sesudah haid; kelelahan fisik/

Siapa menjadi pasangan seksual

psikis;

penyakit

diabetes,

tersangka (wanita/ pria penjaja

tumor,

keganasan,

lain-lain;

seks, teman, pacar, suami/isteri)

penggunaan obat : antibiotika,

Kapan kontak seksual tersangka

kortikosteroid,

kontrasepsi;

dilakukan

pemakaian

alat

kontrasepsi

Jenis kelamin pasangan seksual

dalam

rahim

(AKDR);

Cara

rangsangan seksual; kehamilan;

10 Hubungan

melakukan

hubungan

seksual(genito-genital,orogenital,
anogenital)
8
9

Penggunaan

keluhan
lainnya

dengan

menjelang/

kontak seksual.
11 Riwayat IMS sebelumnya dan

kondom

(tidak

pengobatannya

pernah, jarang, sering, selalu)

12 Hari terakhir haid

Riwayat dan pemberi pengobatan

13 Nyeri perut bagian bawah

sebelumnya

14 Cara

dokter/ sendiri)

(dokter/bukan

kontrasepsi

digunakan dan mulai kapan

yang

B. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik terutama dilakukan pada daerah genitalia dan sekitarnya, yang
dilakukan di ruang periksa dengan lampu yang cukup terang. Lampu sorot tambahan
diperlukan untuk pemeriksaan pasien perempuan dengan spekulum. Dalam pelaksanaan
sebaiknya pemeriksa didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain. Pada pemeriksaan
terhadap pasien perempuan, pemeriksa didampingi oleh paramedis perempuan, sedangkan
pada pemeriksaan pasien laki-laki, dapat didampingi oleh tenaga paramedis laki-laki atau
perempuan. Beri penjelasan lebih dulu kepada pasien mengenai tindakan yang akan
dilakukan :

Pada saat melakukan pemeriksaan fisik genitalia dan sekitarnya, pemeriksa


harus selalu menggunakan sarung tangan, jangan lupa mencuci tangan

sebelum dan sesudah memeriksa.


Pasien harus membuka pakaian dalamnya agar dapat dilakukan pemeriksaan
genitalia (pada keadaan tertentu, kadang-kadang pasien harus membuka
seluruh pakainnya secara bertahap).
o Pasien perempuan, diperiksa dengan berbaring pada meja ginekologik
-

dalam posisi litotomi.


Pemeriksa duduk dengan nyaman sambil melakukan inspeksi dan

palpasi mons pubis, labia, dan perineum.


Periksa daerah genitalia luar dengan memisahkan ke dua labia,
perhatikan adakah kemerahan, pembengkakan, luka/lecet, massa, atau
duh tubuh.

Gambar 1. Posisi litotomi

o Pemeriksaan pasien laki-laki dapat dilakukan sambil duduk/berdiri,


- Perhatikan daerah penis, dari pangkal sampai ujung, serta dan daerah
-

skrotum
Perhatikan adakah duh tubuh, pembengkakan, luka/lecet atau daerah

lain.
Lakukan inspeksi dan palpasi pada daerah genitalia, perineum, anus dan

sekitarnya.
Jangan lupa memeriksa daerah inguinal untuk mengetahui pembesaran

kelenjar getah bening setempat (regional)


Bilamana tersedia fasilitas laboratorium, sekaligus dilakukan pengambilan

bahan pemeriksaan.
Pada pasien pria dengan gejala duh tubuh genitalia disarankan untuk tidak
berkemih selama 1 jam (3 jam lebih baik), sebelum pemeriksaan.

Pasien dengan gejala ulkus genitalis (laki-laki dan perempuan)


1

Untuk semua pasien dengan gejala ulkus genital, sebaiknya dilakukan


pemeriksaan serologi untuk sifilis dari bahan darah vena (RPR=rapid plasma

reagin, syphilis rapid test).


Untuk pemeriksaan Treponema pallidum pada ulkus yang dicurigai karena
sifilis :
a Ulkus dibersihkan terlebih dahulu dengan kain kasa yang telah dibasahi
b

larutan salin fisiologis (NaCl 0,9%).


Ulkus ditekan di antara ibu jari dan telunjuk sampai keluar cairan

serum
Serum dioleskan ke atas kaca obyek untuk pemeriksaan Burry atau
mikroskop lapangan gelap bila ada.

Pemeriksaan Lain
Pemeriksaan Bimanual
1. Gunakan sarung tangan dan dapat digunakan pelumas
2. Masukkan jari tengah dan telunjuk tangan kanan ke dalam vagina, ibu jari
harus dalam posisi abduksi, sedangkan jari manis dan kelingking ditekuk ke
arah telapak tangan
3. Untuk palpasi uterus; letakkan tangan kiri di antara umbilikus dan tulang
simfisis pubis, tekan ke arah tangan yang berada di dalam pelvik
4. Dengan telapak jari tangan, raba fundus unteri sambil mendorong serviks ke
anterior dengan jari-jari yang berada di pelvik. Perhatikan ukuran, posisi,

konsistensi,

mobilitas

uterus,

dan

kemungkinan

rasa

nyeri

saat

menggoyangkan serviks
5. Dengan perlahan, geser jari-jari yang berada di vagina menuju forniks lateral
sambil tangan yang berada di atas perut menekan ke arah inferior.

Gambar 2. Pemeriksaan bimanual

Pemeriksaan Anoskopi
Indikasi
Bila terdapat keluhan atau gejala pada anus dan rektum, pasien dianjurkan untuk
diperiksa dengan anoskopi bila tersedia alat tersebut. Pemeriksaan ini sekaligus dapat
melihat keadaan mukosa rektum atau pengambilan spesimen untuk pemeriksaan
laboratorium bila tersedia fasilitas.

Kontra indikasi
Anus imperforata merupakan kontra indikasi absolut untuk tindakan anoskopi,
namun bila pasien mengeluh mengenai nyeri hebat pada rektum, may preclude awake
anoscopic examination in anxious patients in pain.
Posisi pasien pasien berbaring dalam posisi sim atau miring dengan lutut ditekuk
serta pinggul ditekuk 45%. Posisi di sebelah kiri pemeriksa.

Gambar 3. Posisi lateral decubitus atau posisi sim


C. DIAGNOSIS PENYAKIT KELAMIN
1 Gonore
Definisi
Gonore dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria
gonorhoeae.
Etiologi
Penyebab gonore adalah gonokok yang ditemukan oleh NEISSER pada tahun 1879
baru diumumkan pada tahun 1882. Kuman tersebut termasuk dalam grup Neisseria dan
dikenal ada 4 spesies, yaitu N.gonorrhoeae dan N.meningitidis yang bersifat patogen serta
N.catarrhalis dan N.pharyngis ini sukar dibedakan kecuali dengan tes fermentasi.
Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8 u dan
panjang 1,6 u, bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan Gram
bersifat Gram-negatif, terlihat di luar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara
bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 390C, dan tidak tahan cat
desinfektan.
Seacara morfologik gonokok ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang
mempunyai pili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dab
bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi
radang.
Daerah yang mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis
gepeng yang belum berkembang (immatur), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.

Gejala klinis
Masa tunas gonore sangat singkat. Pada pria umumnya sekitar2-5 hari. Pada waktu
masa tunas sulit untuk ditentukan karena pada umumnya asimptomatis. Infeksi N.
Gonorhoeae merupakan fase akut yang didahului rasa panas dibagian distal urethra diikuti
rasa nyeri pada penis, keluhan berkemih seperti disuria dan polakisuria. Terdapat duh
tubuh yang bersifat purulen atau seropurulen, kadang-kadang juga terdapat ektropion.
Pada beberapa keadaan, duh tubuh baru keluar bila dilakukan pemijatan atau pengurutan

korpus penis kearah distal, tetapi pada keadaan penyakit yang lebih berat nanah tersebut
menetes sendiri keluar.

Gambar 4. Gonore
Diagnosis
Diagnosa ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
1

Anamnesis
Pada anamnesis ditemukan gejala subjektif berupa : Gatal, panas pada distal
uretra, disuria, polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen yang kadang
disertai darah, nyeri pada waktu ereksi.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan Gejala objektif :Orificium uretra eksternum
eritematosa, edematosa, dan ektropion.Tampak pula duh tubuh yang
seropurulen atau mukopurulen dan dapat disertai pembesaran kelenjar getah
bening inguinal unilateral atau bilateral.

Pemeriksaan penunjang
a

Pewarnaan Gram ( Sediaan langsung )


Gram-negatif diplokokus intrasellular terhadap PMN pada pemeriksaan
eksudat. Pada sediaan langsung dengan pengecatan gram akan
ditemukan gonokokus negatif gram, intraseluler dan ekstra seluler,
berbentuk biji kopi. Selain itu dapat ditemukan juga lekosit PMN
5/lpb. Bahan duh tubuh pria diambil dari daerah fosa navikularis,
sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar bartholin,
serviks, dan rectum.
Pemeriksaan gram dari duh uretra pada pria memiliki sensitivitas tinggi
(90-95%) dan spesifisitas 95-99%. Sedangkan dari endoserviks,
sensitivitasnya hanya 45-65%, dengan spesifisitas 90-99%.

Kultur
Isolasi pada media- selektif gonokokkus, contohnya agar darah coklat,
media Martin Lewis, media Thayer Martin. Test kerentanan mikrobial
penting karena adanya strain yang resistensi.
Media Transport
a Media Stuart: Hanya untuk transport saja, sehingga perlu ditanam
kembali pada media pertumbuhan.
Media Transgrow: Selektif dan nutritive untuk N. gonorrhoeae dan

N. meningitidis, dalam perjalanannya dapat bertahan hingga 96 jam


dan merupakan gabungan dari media transport dan media
pertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media Thayer Martin
dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus.
Media Pertumbuhan
a Media Thayer-martin: selektif untuk mengisolasi gonokok.
Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman
positif-gram, kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri
b

negatif-gram, dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur.


Modifikasi Thayer-martin: isinya ditambah dengan trimetoprim
untuk menekan pertumbuhan kuman Proteus spp.

Agar coklat McLeod: berisi agar coklat, agar serum, dan


agar hidrokel. Dapat ditumbuhi kuman selain gonokokus.

Tes Definitif
a

Tes Oksidasi

Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilamin


hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka.
Semua Neisseria memberikan reaksi positif dengan perubahan
warna koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda
sampai merah lembayung.
b

Tes Fermentasi
Tes Oksidasi Positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai
glukosa, maltosa, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan
glukosa.

Tes Beta laktamase


Tes ini menggunakan cefinase TM disc. BBL 96192 yang mengandung
cheomogenic cephalosporin. Apabila kuman mengandung enzim betalaktamase, akan menyebabkan perubahan warna dari kuning menjadi

merah.
Tes Thomson
Tes Thomson ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi
sudah berlangsung. Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena
pengobatan pada waktu itu ialah pengobatan setempat.
Tabel 2. Hasil pembacaan :
Gelas I

Gelas II

Arti

Jernih

Jernih

Tidak ada infeksi

Keruh

Jernih

Infeksi

uretritis

anterior
Keruh

Keruh

Panuretritis

Jernih

Keruh

Tidak mungkin

Pengobatan
Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas, harga, dan sesedikit
mungkin efek toksiknya. Dulu ternyata pilihan utama ialah penisilin + probenesid, kecuali
di daerah yang tinggi insidens Neisseria gonorrhoeae. Penghasil Penisilinase (N.G.P.P).
secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat per oral dengan dosis
tunggal.

Sefixim : Sefalosporin (generasi ke-3) dipakai sebagai dosis tunggal 400 mg

per oral dosis tunggal memberi angka kesembuhan 95%.


Levofloksasin : Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah
Levofloksasin 500mg, dosis tunggal. Sedangkan Ciprofloksasin 500mg, dan
Ofloksasin 400mg, peroral dosis tunggal, dilaporkan sudah resisten pada

beberapa daerah tertentu, di Indonesia.


Tiamfenikol
Dosisnya 3,5mg, dosis tunggal secara oral. Angka kesembuhan ialah 97,7%.
Tidak dianjurkan pemakaian pada saat kehamilan.

Herpes Simplek
Definisi
Herpes Genitalis merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh virus Herpes

Simplex (virus herpes hominis) terutama tipe II yang ditandai oleh adanya vesikel yang
berkelo mpok atau erosi atau ulkus diatas kulit yang eritematosa pada daerah dekat
mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens

Gambar 5. Lokasi lesi herpes genital pada laki-laki dan perempuan


Epidemiologi
Penyakit ini tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria maupun wanita dengan
frekuensi yang tidak berbeda, infeksi primer oleh Herpes simplex virus (HSV) tipe 1
biasanya dimulai pada usia anak-anak, akan tetapi infeksi HSV-1 genital semakin
meningkat dan HSV-1 genital didapatkan pada sebagian besar pasien dengan herpes
genitalis primer di beberapa negara. Sedangkan infeksi HSV tipe II biasanya terjadi pada
dekade 2 dan 3 juga berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.
Etiologi
HSV I dan II merupakan virus herpes hominis yang merupakan virus DNA.
Pembagian tipe I dan II berdasarkan karateristik pertumbuhan pada media kultur, antigenic
marker, dan lokasi klinis (tempat predileksi).
Sebagian besar penyebab herpes genitalis adalah HSV-2 tetapi walaupun demikian
dapat juga disebabkan oleh HSV-1 (16,1%) akibat hubungan kelamin secara orogenital
atau penularan melalui tangan.
Gejala klinis
Infeksi HSV ini berlangsung dalam 3 tingkat.
1. Infeksi primer
2. Fase laten
3. Infeksi rekurens
1 Infeksi primer
Tempat predileksi VHS tipe I di daerah pinggang ke atas terutama di daerah
mulut dan hidung, biasanya dimulai pada usia anak-anak. Virus ini juga sebagai

penyebab herpes ensefalitis. Infeksi primer oleh VHS tipe II mempunyai tempat
predileksi di daerah pinggang ke bawah, terutama daerah genital, juga dapat
menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonatus.
Daerah ini sering kacau karena adanya cara hubungan seksual seperti orogenital, sehingga herpes yang terdapat di daerah genital kadang-kadang disebabkan
oleh VHS tipe I sedangkan di daerah mulut dan rongga mulut dapat disebabkan oleh
VHS tipe II.
Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih berat, kira-kira 3 minggu dan
sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malese dan anoreksia, dan dapat
ditemukan pembengkakkan kelenjar getah bening regional.
Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel yang berkelompok di atas kulit
yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi
seropurulen, dapat menjadi krusta dan kadang-kadang sembuh tanpa psikatriks. Pada
wanita ada laporan yang mengatakan bahwa 80% infeksi VHS pada genitalia
eksterna disertai infeksi pada serviks.
2 Fase laten
Fase laten ini berarti pada penderita tidak ditemukan gejala klinis, tetapi VHS
dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis.
3 Infeksi rekurens
Infeksi ini berarti VHS pada ganglion dorsalis yang dalam keadaan tidak aktif,
dengan mekanisme pacu menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga menimbulkan
gejala klinis. Mekanisme pacu itu dapat berupa trauma fisik (demam, infeksi, kurang
tidur, hubungan seksual, dan sebagainya), trauma psikis (gangguan emosional,
menstruasi), dan dapat pula timbul akibat jenis makanan dan minuman yang
merangsang.
Gejala klinis yang timbul lebih ringan dari pada infeksi primer dan
berlangsung kira-kira 7 sampai 10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal lokal
sebelum timbul vesikel berupa rasa panas, gatal, dan nyeri. Infeksi rekurens ini dapat
timbul pada tempat yang sama (loco) atau tempat lain/tempat disekitarnya (non
loco).
Diagnosis
Virus herpes ini dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Pada keadaan tidak
ada lesi dapat diperiksa antibodi VHS. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa
dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear.
Pengobatan

Sampai saaat ini belum ada terapi yang memberikan penyembuhan radikal, artinya
tidak ada pengobatan yang dapat mencegah episode rekurens secara tuntas. Pada lesi yang
dini dapat digunakan obat topikal berupa salap/krim yang mengandung preparat
idoksuridin (stoxil, viruguent, viruguent-P) dengan aplikasi, yang sering dengan interval
beberapa jam. Preparat asiklovir (zovirax) yang dipakai secara topikal tampaknya
memberikan dampak yang lebih baik, penyakit berlangsung lebih singkat dan masa
rekurensnya lebih panjang. Dosisnya 5x200mg sehari selama 5 hari.

3. Ulkus Mole
Definisi
Ulkus mole

adalah

penyakit

infeksi

pada

alat

kelamin

yang

akut,

setempat,disebabkan oleh Streptobacillus ducrey (Haemophilusducreyi) dengan gejala


klinis yang khas berupa ulkus nekrotik yang nyeri pada tempat inokulasi, dan sering
disertai pernanahan kelenjar getah bening regional.
Epidemiologi
Penyakit ini bersifat endemik dan tersebar di daerah topik dan subtropik, terutama di
kota dan pelabuhan. Selain penularan melalui hubungan seksual, secara kebetulan juga
dapat mengenai jari dokter atau perawat.
Frekuensi pada wanita dilaporkan lebih rendah, mungkin karena kesukaran membuat
diagnosis. Penyakit ini lebih banyak mengenai golongan kulit berwarna. Beberapa faktor
menunjukkan bahwa terdapat pembawa kuman (carier) basil Ducreyi, tanpa gejala klinis,
biasanya wanita tuna susila.
Etiologi
Basil H.ducreyi berbentuk batang pendek, ramping dengan ujung membulat, tidak
bergerak dan tidak membentuk spora, Gram-negatif, anaerob fakultatif yang
membutuhkan hemin (faktor X) untuk pertumbuhan, mereduksi nitrat menjadi nitrit, dan
mempunyai DNA berisi guanosine plus-cytosine fraksi 0,38 mole.
Basil sering kali berkelompok, berderet membentuk rantai, terutama dapat dilihat
pada biakan sehingga disebut juga Steptobacillus. Basil ini pada lesi terbuka di daerah
genital sukar ditemukan karena tertutup oleh infeksi sekunder, lebih mudah dicari bila
bahan pemeriksaan berupa nanah yang diambil dengan cara aspirasi abses kelenjar
inguinal. Kuman ini sukar dibiak.
Gejala klinis

Masa inkubasi berkisar antara 1-14 hari, pada umumnya kurang dari 7 hari, tanpa
gejala prodormal. Lesi kebanyakan multipel, dangkal, jarang soliter, biasanya pada daerah
genital, jarang pada daerah ekstragenital. Mula-mula kelainan kulit berupa papul,
kemudian menjadi vesiko-pustul pada tempat inokulasi, cepat pecah menjadi ulkus.
Ulkus kecil, lunak pada perabaan, tidak terdapat indurasi, berbentuk cawan, pinggir
tidak rata, bagian tepi sering bergaung dan eritematosa dan mengalami ulserasi. Ulkus
sering tertutup jaringan nekrotik, dasar ulkus berupa jaringan granulasi yang mudah
berdarah jika lapisan tersebut diangkat Dasar ulkus ditutupi oleh eksudat abu-abu kuning
berserat yang pirulen dan limpodenopati, dan pada perabaan terasa nyeri, biasanya lebih
nyeri pada laki-laki daripada perempuan.
Tempat predileksi pada laki-laki ialah permukaan mukosa preputium, sulkus
koronarius, frenulum penis, dan batang penis. Dapat juga timbul lesi di dalam uretra,
scrotum, perineum atau anus. Pada wanita ialah labia minora, klitoris, fourchette, vestivuli,
anus, dan serviks.

Gambar 6. Ulkus Mole


Jenis-Jenis Bentuk Klinis
1. Dwarf chancroid
Lesi sangat kecil dan menyerupai erosi pada herpes genitalis, tetapi
dasarnya tidak teratur dan tepi berdarah. Lesi kecil, dangkal, relatif tidak
nyeri.
2. Giant Chancroid
Mula-mula timbul ulkus kecil, tetapi meluas dengan cepat dan menutupi
satu daerah, sering mengikuti abses inguinal yang pecah, dan dapat
meluas ke daerah suprapubis bahkan daerah paha dengan cara
autoinokulasi.
3. Ulkus Mole Folikularis

Timbul pada folikel rambut, pada permukaannya menyerupai folikulitis


yang disebabkan oleh kokus, tetapi cepat menjadi ulkus. Lesi seperti ini
dapat timbul pada vulva dan pada daerah berambut di sekitar genitalia
dan sangat superfisial.
4. Transient chancroid (Chancre mou valant)
Lesi kecil, sembuh dalam beberapa hari, tetapi 2-3 minggu kemudian
diikuti timbulnya bubo yang meradang pada daerah inguinal. Gambaran
ini menyerupai limfogranuloma venerum.
5. Phagedenic chancroid
Lesi kecil menjadi besar dan destruktif dengan jaringan nekrotik yang
luas. Genitalia eksterna dapat hancur, pada beberapa kasus disertai
infeksi organisme Vincent.
6. Tipe serpiginosa
Lesi membesar karena perluasan atau autoinokulasi dari lesi pertama ke
daerah lipat paha atau paha. Ulkus jarang menyembuh, dapat menetap
berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
7. Papular Chancroid (ulkus mole elevatum)
Dimulai dengan ulkus yang kemudian menimbul terutama pada tepinya.
Gambarannya menyerupai kondilomata lata pada sifilis stadium II.
8. Mixed Chancroid
Ulkus mole yang nyeri tanpa indurasi terdapat sekaligus bersama ulkus
sifilis dengan indurasi dan tanpa nyeri, dengan ikubasi 10-90 hari.
Diagnosis
Berdasarkan gambaran klinis dapat disingkirkan penyakit kelamin yang lain. Harus
dipikirkan

juga

kemungkinan

infeksi

campuran.

Pemeriksaan

serelogik

untuk

menyingkirkan sifilis juga harus dikerjakan. Sebagai penyokong diagnosis adalah:


1. Pemeriksaan sediaan hapus
Diambil bahan pemeriksaan (spesimen) dari tepi ulkus yang tergaung dengan
menggunakan apusan kapas, di buat hapusan pada gelas alas, Pemeriksaan langsung

ini

dapat

dilakukan

dengan

pewarnaan

gram,

giemsa

atau

mikroskop

elektron.Identifikasi yang cepat dapat dengan pewarnaan methylgreenpyronine


pappenheim dan Unna, juga dapat dilaksanakan dengan pewarnaan blue dan wright.
Namun pemeriksaan langsung tersebut dapat menyesatkan oleh karena banyaknya
flora polimikrobial ulkus genital.Hanya pada 30-50% kasus ditemukan basil
berkelompok atau berderet seperti rantai.
2. Biakan kuman
Bahan diambil dari pus bubo atau lesi kemudian ditanam pada perbenihan atau
pelat agar khusus( Chocolate Agar) yang ditambahkan darah kelinci yang sudah
didefibrinasi. Akhir-akhir ini ditemukan bahwa perbenihan yang mengandung serum
darah penderita sendiri yang sudah diinaktifkan memberikan hasil yang
memuaskan.Inkubasi membutuhkan waktu 48 jam. Medium yang mengandung
gonococcal madium base, ditambah dengan hemoglobin 1%, iso-witalex 1 %, dan
vankomisin 3 mcg/ml akan mengurangi kontaminasi yang timbul. Pada biakan
nampak koloni kecil, non mukoid, abu-abu kuning, semi opak atau translusen dapat
digeser pada permukaan agar dalam keadaan utuh, nampak 2-4 hari, tetapi biasa 7
hari setelah inokulasi.
3. Teknik imunofluoresens untuk menemukan antibody.
4. Biopsi
Biopsi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis. Pada gambaran
histopatologik ditemukan:
a. Daerah superfisial pada dasar ulkus : neutrophil, fibrin, eritrosit, dan jaringan
nekrotik.
b. Daerah tengah : pembuluh-pembuluh darah kapiler baru dengan proliferasi selsel endotel sehingga lumen tersumbat dan menimbulkan thrombosis. Terjadi
perubahan degeneratif pada dinding pembuluh-pembuluh darah.
c. Daerah sebelah dalam : infiltrat padat terdiri atas sel-sel plasma dan sel-sel
limfoid.
5. Tes kulit ito-reenstierna
Sekarang tidak dipakai lagi karena tidak spesifik. Vaksin yang dipakai
(Dmelcos)terdiri atas 225 juta kuman mati/ml. Disuntikkan intradermal 0,1 ml pada
lengan bawah bagian fleksor, sebagai control disuntikkan cairan pelarut intradermal
pada sisi lain. Tes dinilai positif kalau timbul infiltrate berdiameter minimal 0,5 cm
setelah 48 jam, sedangkan kontrol negatif. Tes ini menjadi positif 6-11 setelah hari
timbul ulkus mole, dan tetap positif sampai beberapa tahun bahkan seumur hidup.
6. Autoinokulasi

Bahan diambil dari lesi yang tersangka, diinokulasi pada kulit sehat daerah
lengan bawah atau paha penderita yang digores lebih dahulu. Pada tempat tersebut
akan timbul ulkus mole. Sekarang cara ini tidak dipakai lagi.
Pengobatan

Pengobatan yang dianjurkan:


Siprofloksasin 2x 500 mg/ hari per orl, selama 3 hari atau
Eritromisin 3x 500 mg/hari per oral, selama 7 hari atau
Azitromisin 1 gram per oral .dosis tunggal atau
Seftriakson 250 mg IM, dosis tunggal
Pengobatan local untuk ulkus : kompres atau rendam dalam larutan salin sehingga
dapat menghilangkan debris nekrorik dan mempercepat penyembuhan ulkus.
4

Trikomoniasis
Definisi
Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi saluran urogenital bagian bawah pada

wanita maupun pria, dapat bersifat akut atau kronik, disebabkan Trichomonas vaginalis,
dan penularannya biasanya melalui hubungan seksual.
Etiologi
Penyebab trikomoniasis ialah Trichomonas vaginalis yang merupakan satu-satunya
spesies Trichomonas yang bersifat patogen pada manusia dan dapat dijumpai pada traktus
urogenital. Pertama kali ditemukan oleh Donne pada tahun 1836, dan untuk waktu yang
lama sejak ditemukannya dianggap sebagai komensal. Trichomonas vaginalis merupakan
flagelata berbentuk filiformis, berukuran 15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan
bergerak seperti gelombang.
Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat hidup dalam
suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50C akan mati dalam beberapa menit, tetapi pada suhu 0C
dapat bertahan sampai 5 hari. Cepat mati bila mengering, terkena sinar matahari, dan
terpapar air selama 35-40 menit.
Ada dua spesies lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu Trichomonas
tenax yang hidup di rongga mulut dan Pentatrichomonas hominis yang hidup dalam kolon,
yang pada umumnya tidak menimbulkan penyakit.
Insidens

Penularan umumnya melalui hubungan kelamin, tetapi dapat juga melalui pakaian,
handuk, atau karena berenang. Oleh karena itu trikomoniasis ini terutama ditemukan pada
orang dengan aktivitas seksual yang tinggi, tetapi dapat juga ditemukan pada bayi dan
penderita setelah menopause. Penderita wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria.

Gejala klinis
1

Trikomoniasis Pada Perempuan


Lima puluh persen pada perempuan, asimptomatik. Yang disersng terutama
dinding vagina, dapat bersifat akut maupun kronik. Pada kasus akut terlihat
sekret vagina seropurulen sampai mukopurulen berwarna kekuningan, sampai
kuning-kehijauan, berbau tidak enak (malador), dan berbusa. Dinding vagina
tampak kemerahan dan sembab. Kadang-kadang terbentuk abses kecil oada
dinding vagina dan serviks, yanng tampak sebagai granulasi berwarna merah
dan dikenal sebagai strawberry apperance, disertai gejala dispareuria,
perdarahan pascakoitus, dan perdarahan intermenstual. Bila sekret banyak
yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha atau sekitar genitalia eksterna.
Selain vaginitas dapat pula uretritis. Bartholinitis, skenitis, dan sistitis yang
pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus yang kronik gejala lebih ringan dan
sekret vagina biasanya tidak berbusa.

Trikomoniasis Pada Pria


Seperti pada wanita spektrum klinik trikomoniasis pada pria sangat luas, mulai
dari tanpa gejala sampai pada uretritis yang hebat dengan komplikasi
prostatitis. Masa inkubasi biasanya tidak melebihi 10 hari.
Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang
preputium, vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran
klinis lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip
uretritis nongonore, misalnya disuria, poliuria, dan sekret uretra mukoid atau

mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang


halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak khas; gatal pada uretra, disuria, dan
urin keruh pada pagi hari.

Gambar 7. Trikomoniasis

Diagnosis
Diagnosis kurang tepat bila hanya berdasarkan gambaran klinis, karena
Trichomonas vaginalis dalam saluran urogenital tidak selalu menimbulkan gejala atau
keluhan. Uretritis dan vaginitis dapat disebabkan bermacam-macam sebab, karena itu
perlu diagnosis etiologik untuk menentukan penyebabnya.
Diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya T. vaginalis pada sediaan
langsung (sediaan basah) atau pada biakan duh tubuh penderita.
Diagnosis pada pria menjadi lebih sulit lagi, karena infeksi ditandai oleh jumlah
kuman yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan wanita. Uretritis non gonore (UNG)
yang disebabkan oleh T. vaginalis tidak dapat dibedakan secara klinis dari UNG oleh
penyebab yang lain.
Respon terhadap pengobatan dapat menunjang diagnosis. UNG yang gagal diobati
dengan rejimen yang efektif terhadap C. trachomatis dan U. urealyticum, namun respon
terhadap pengobatan dengan metronidazol, menunjang diagnosis trikomoniasis.
Untuk mendiagnosis trikomoniasis dapat dipakai beberapa cara, misalnya
pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, sediaan hapus, dan pembiakan. Sediaan basah
dicampur dengan garam faal dan dapat dilihat pergerakan aktif parasit. Pada pembiakan
dapat digunakan bermacam-macam pembenihan yang mengandung serum.
Tatalaksana
Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik. Pengobatan trikomoniasis
harus diberikan kepada penderita yang menunjukkan gejala maupun yang tidak.
Sistemik (oral)
Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti:
a

Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg/hari, selama 7 hari.

Nimorazol : dosis tunggal 2 gram.

Tinidazol : dosis tunggal 2 gram.

Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram.

Penderita dinyatakan sembuh bila keluhan dan gejala telah menghilang, serta parasit
tidak ditemukan lagi pada pemeriksaan sediaan langsung.
Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita:
a

Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk


mencegah jangan terjadi infeksi pingpong.

Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum


dinyatakan sembuh.

Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.

Kunjungan ulang untuk follow-up di hari ke-7

Lakukan konseling mengenai infeksi, komplikasi yang dapat terjadi,


pentungnya keteraturan berobat.

Lakukan Provider Intiated Testing and Counseling (PITC) terhadap


infeksi HIV dan kemungkinan mendapatkan infeksi menular seksual
lain.

Bila memungkinkan lakukan pemeriksaan penapisan untuk IMS lainnya.

Pengobatan Pada Kehamilan


Kehamilan pada trimester pertama merupakan kontra indikasi pemberian
metronidazol. Sehubungan telah banyak bukti-bukti yang menunjukkan adanya kaitan
antara infeksi T. vaginalis dengan pecahnya ketuban sebelum waktunya, maka
metronidazol dapat diberikan dengan dosis efektif yang paling rendah pada trimester
kedua dan ketiga.

Infeksi Pada Neonatus


Bayi dengan trikomoniasis simtomatik atau dengan kolonisasi T. vaginalis melewati
umur 4 bulan, harus diobati dengan metronidazol 5 mg/kgBB/oral, 3x sehari selama 5 hari.

5. Sifilis
Definisi
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum; sangat kronik dan
bersifat sistemik. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat
menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari ibu ke
janin.
Epidemiologi
Insidens sifilis di berbagai negeri di seluruh dunia pada tahun 1996 berkisar antara
0,04-0,52 %. Insiden yang terendah di Cina, sedangkan yang tertinggi di Amerika Selatan.
Di Indonesia insidennya 0,61%. Di bagian kami penderita yang terbanyak ialah stadium
laten, disusul sifilis stadium I yang jarang, dan yang langka ialah sifilis stadium II.
Etiologi
Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman ialah
Treponema pallidum, yang termasuk ordo Spirochaetales, familia Spirochaeraceae dan
genus Treponema. 4,5
Bentuknya sebagai spiral teratur, panjangnya antara 6-15 um, lebar 0,15 um, terdiri
atas 8-24 lekukan. Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan
pembuka botol. Membiak secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap
30 jam.
Klasifikasi
Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan sifilis akuisita (didapat). Sifilis
kongenital dibagi menjadi : dini (sebelum 2 tahun), lanjut (sesudah 2 tahun), dan
stigmata. Sifilis akuisita dapat dibagi menurut dua cara, secara klinis dan
epidemiologik. Menurut cara pertama sifilis dibagi menjadi 3 stadium: stadium I (S I),
stadium II (S II), stadium III (S III). Secara epidemiologik menurut WHO dibagi
menjadi :
1. Stadium dini menular (dalam satu tahun sejak infeksi), terdiri atas S I, S II,
stadium rekuren, dan stadium latn dini.
2. Stadium lanjut tak menular (setelah satu tahun sejak infeksi), terdiri atas
stadium laten lanjut dan S III.

Bentuk lain ialah sifilis kardiovaskuler dan neurosifilis.


STADIUM DINI MENULAR

1 tahun

STADIUM LANJUT TIDAK

MENULAR
Stadium rekuren
S.t.

S I

S III

S II
2-4 minggu

6-8

minggu
Sifilis laten dini

3-10 tahun

(menular)

Sifilis laten lanjut


(tidak menular)

Keterangan :
S.t.

= sanggama tersangka

SI

= sifilis stadium I

S II

= sifilis stadium II

S III

= sifilis stadium III

Gejala Klinis
Sifilis Akuisita (Didapat)
A. Sifilis Dini
I. Sifilis Primer (SI)
Masa tunas biasanya 2-4 minggu. T.pallidum masuk ke dalam selaput lendir atau
kulit yang telah mengalami lesi/mikrolesi secara langsung, biasanya melalui senggama.

Treponema tersebut akan berkembang biak kemudian terjadi penyebaran secara limfogen
dan hematogen.
Kelainan kulit di mulai sebagai papul lentikuler yang permukaannya segera menjadi
erosi, umumnya kemudian menjadi ulkus. Ulkus tersebut biasanya bulat, soliter, dasarnya
ialah jaringan granulasi berwarna merah dan bersih , diatasnya hanya tampak serum.
Dindingnya tak bergaung, kulit di sekitarnya tidak menunjukkan tanda-tanda radang akut.
Yang khas ialah ulkus tersebut indolen dan teraba indurasi karena itu disebut ulkus durum.
Kelainan tersebut dinamakan afek primer dan umumnya berlokasi pada genitalia eksterna.
Pada pria tempat yang sering dikenai ialah sulkus koronius, sedangkan pada wanita di
labia minor dan mayor. Selain juga dapat di ekstragenital, misalnya di lidah, tonsil, dan
anus.
Afek primer tersebut sembuh sendiri antara tiga sampai sepuluh minggu. Seminggu
setelah afek primer, biasanya terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional di
inguinalis medialis. Keseluruhannya disebut kompleks primer. Kelenjar tersebut soliter,
indolen tidak lunak, besarnya biasanya lentikuler, tidak supuratif. Kulit diatasnya tidak
menandakan tanda-tanda radang akut.
Istilah sifilis demblee dipakai, jika tidak terdapat efek primer. Kuman masuk ke
jaringan yang lebih dalam, misalnya pada transffusi darah atau suntikan.

Gambar 8. Ulkus durum

I.

Sifilis sekunder (SII)


Biasanya SII timbul setelah 6-8 minggu sejak SI dan sejumlah 1/3 kasus masih
disertai SI. Lama SII dapat sampai sembilan bulan. Berbeda dengan SI yang tanpa disertai
gejala konstitusi, pada SII dapat disertai gejala tersebut yang terjadi sebelum atau selama

SII. Gejalanya umumnya tidak berat, berupa anoreksia, turunnya berat badan, malese,
nyeri kepala, demam yang tidak tinggi, dan atralgia.
Kelainan kulit dapat menyerupai berbagai penyakit kulit sehingga disebut the great
imitator. Selain pada kulit SII juga dapat menyebabkan kelainan pada mukosa, kelenjar
getah bening, mata , hepar, tulang, dan syaraf.
Kelainan kulit yang membasah (eksudatif) pada SII sangat menular, kelainan yang
kering kurang menular. Kondiloma lata dan plaque muqueuses ialah bentuk yang sangat
menular.
Gejala yang penting untuk membedakan dengan penyakit kulit yang lain ialah
kelainan kulit pada SII umumnya tidak gatal, sering disertai limfadenitis generalisata,
pada SII dini kelainan kulit juga terjadi pada telapak tangan dan kaki.
Antara SII dini dan SII lanjut terdapat perbedaan. Pada SII dini kelainan kulit
generalisata, simetrik, dan lebih cepat hilang (beberapa hari hinggga beberapa minggu ).
Pada SII lanjut tidak generalisata lagi, melainkan setempat-setempat, tidak simetris dan
lebih lama bertahan (beberapa minggu hingga beberapa bulan).

III. Sifilis laten dini


Laten berarti tidak ada gejala klinis dan kelainan, termasuk alat-alat dalam, tetapi
infeksi masih ada dan aktif. Tes serologik darah positif, sedangkan tes likuor
cerebrospinalis negatif. Tes yang dianjurkan ialah VDRL dan TPHA.

II. Sifilis stadium rekuren


Relaps dapat terjadi baik secara klinis berupa kelainan kulit mirip SII, maupun
serologikyang telah negatif menjadi positif. Hal ini terjadi terutama pada sifilis yang tidak
diobati atau yang mendapat pengobatan tidak cukup. Umumnya bentuk relaps ialah SII,
kadang-kadang SI. Relaps dapat memberi kelainan pada mata, tulang, alat dalam, dan
susunan saraf. Juga dapat terlahir bayi dengan sifilis kongenita.

B. Sifilis Lanjut

I.

Sifilis laten lanjut


Biasanya tidak menular, diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan tes serologik.
Lama masa laten beberapa tahun hingga bertahun-tahun, bahkan dapat seumur hidup.

II. Sifilis Tersier (S III)


Lesi pertama umumnya terlihat antara 3-10 tahun setelah S I. Kelainan yang khas
adalah gumma, yakni infiltrat sirkumskrip, kronis, biasanya melunak dan destruktif.
Besar gumma bervariasi dari lentikuler sampai sebesar telur ayam. Kulit di atasnya
mula-mula tidak menunjukkan tanda-tanda radang akut dan dapat digerakkan.setelah
beberapa bulan mulai melunak, biasanya mulai dari tengah, tanda-tanda radang mulai
tampak, kulit menjadi eritematosa dan livid serta melekat terhadap gumma tersebut.
Kemudian terjadi perforasi dan keluarlah cairan seropurulen, kadang-kadang sanguinolen,
pada beberapa kasus disertai jaringan nekrotik.
Tempat perforasi akan meluas menjadi ulkus, bentuknya lonjong/bulat, dindingnya
curam, seolah-olah kulit tersebut terdorong ke luar. Beberapa ulkus berkonfluensi
sehingga membentuk pinggir yang polisiklik. Jika telah menjadi ulkus, maka infiltrat yang
terdapat di bawahnya yang semula sebagai benjolan menjadi datar.
Tanpa pengobatan gumma tersebut akan bertahan beberapa bulan hingga beberapa
tahun. Biasanya gumma soliter, tetapi dapat pula multiple, umumnya asimetrik. Gejala
umum biasanya tidak terdapat, tetapi jika gumma multiple dan perlunakannya cepat, dapat
disertai demam.
Selain gumma, kelainan yang lain pada S III ialah nodus. Mula-muladi kutan
kemudian ke epidermis, pertumbuhannya lambat yakni beberapa minggu/bulan dan
umumnya meninggalkan sikatriks yang hipotrofi.
Nodus tersebut dalam perkembangannya mirip gumma., mengalami nekrosis di
tengah dan membentuk ulkus. Dapat pula tanpa nekrosis dan menjadi sklerotik.
Perbedaannya dengan gumma, nodus lebih superficial dan lebih kecil (miliar hingga
lentikuler),

lebih

banyak,

mempunyai

kecenderungan

berkonfluensi, selain itu tersebar. Warnanya merah kecoklatan.

untuk

bergerombol

atau

Nodus-nodus yang berkonfluensi dapat tumbuh terus. Bagian yang belum sembuh
dapat tertutup skuama seperti llin dan disebut psoriasiformis. Kelenjar getah bening
regional tidak membesar. Kelainan yang jarang ialah yang disebut nodositas juxta
articularis berupa nodus-nodus subkutan yang fibrotik, tidak melunak, indolen, biasanya
pada sendi besar.
S III pada mukosa
Gumma juga ditemukan di selaput lendir, dapat setempat atau menyebar. Yang
setempat biasanya pada mulut dan tenggorok atau septum nasi. seperti biasanya akan
melunak dan membentuk ulkus, bersifat destruktif jadi dapt merusak tulang rawan septum
nasi atau palatum mole hingga terjadi perforasi. Pada lidah yang tersering ialah gumma
yang nyeri dengan fisur-fisur tidak teratur serta leukoplakia.
S III pada tulang
Paling sering menyerang tibia, tengkorak, bahu, femur, dan humerus. Gejala nyeri
biasanya pada malam hari. Terdapat dua bentuk, yakni periostitis gumatosa dan osteitis
gumatosa, kedua-duanya dapat didiagnosa dengan sinar-x.
S III pada alat dalam
Hepar merupakan organ intra abdominal yang paling sering diserang. Gumma
bersifat multiple, jika sembuh terjadi fibrosis, hingga hepar mengalami retraksi,
membentuk lobus-lobus tidak teratur yang disebut hepar lobatum.
Esofagus dan lambung dapat pula dikenai, meskipun jarang. Gumma dapat
menyebabkan fibrosis. Pada paru juga jarang, gumma soliter dapat terjadi di dalam atau di
luar bronkus, jika sembuh terjadi fibrosis dan menyebabkan bronkiektasis. Gumma dapat
menyerang ginjal, vesika urinaria, dan prostat, meskipun jarang. S III pada ovarium
jarang, pada testis kadang-kadang berupa gumma atau fibrosis interstitial, tidak nyeri,
permukaanya rata dan unilateral, kadang-kadang memecah ke bagian anterior scrotum.

Sifilis Kongenital

Sifilis kongenital pada bayi terjadi, jika ibunya terkena sifilis, terutama sifilis dini
sebab banyak T.palidum beredar dalam darah. Treponema masuk secra hematogen ke janin
melalui plasenta yang sudah dapat terjadi pada saat masa kehamilan 10 minggu. Sifilis
yang mengenai wanita hamil gejalanya ringan. Pada tahun I setelah infeksi yang tidak
diobati terdapat kemungkinan penularan sampai 90%. Jika ibu menderita sifilis laten dini,
kemungkinan bayi sakit 80 % , bila sifilis lanjut 30%.
Pada kehamilan yang berulang, infeksi janin pada kehamilan yang kemudian
menjadi berkurang. Misalnya pada hamil pertama akan terjadi abortus pada bulan ke lima,
berikutnya lahir mati pada bulan kedelapan, berikutnya janin dengan sifilis kongenital
yang akan meninggal dalam beberapa minggu, diikuti oleh dua sampai tiga bayi yang
hidup dengan sifilis kongenital. Akhirnya akan lahir seorang atau lebih bayi yang sehat.
Keadaan ini disebut hukum kossowitz.
Gambaran klinis dapat dibagi menjadi sifilis kongenital dini (prekoks), sifilis
kongenital lanjut (tarda), dan stigmata. Batas antara dini dan lanjut ialah dua tahun. Yang
dini bersifat menular, jadi menyerupai S II, sedangkan yang lanjut berbentuk gumma dan
tidak menular. Stigmata berarti jaringan parut atau deformitas akibat penyembuhan kedua
stadium tersebut.
1

Sifilis kongenital dini


Kelainan kulit yang pertama kali terlihat pada waktu lahir ialah bula bergerombol,
simetris pada telapak tangan dan kaki, kadang-kadang pada tempat lain di badan. Cairan
bula mngandung banyak T.pallidum. Bayi tampak sakit, bentuk ini adakalanya disebut
pemfigus sifilitika.
Kelainan lain biasanya timbul pada waktu bayi berumur beberapa minggu dan mirip
erupsi pada S II, pada umumnya berbentuk papul atau papula-skuamosa yang simetris dan
generalisata. Dapat tersusun teratur, misalnya anular. Pada tempat yang lembab papul
dapat mengalami erosi seperti kondiloma lata. Ragades merupakan kelainan umum yang
terdapat pada sudut mulut, lubang hidung, dan anus, bentuknya memancar (radiating).
Wajah bayi berubah seperti orang tua akibat turunnya berat badan sehingga kulit
keriput. Alopesia dapat terjadi pula, terutama pada sisi dan belakang kepala. Kuku dapat
terlepas akibat papul di bawahny, disebut onikia sifilitika. Jika tumbuh kuku yang baru
akan kabur dan bentuknya berubah.
Pada selaput lendir mulut dan tenggorok dapat terlihat plaques muqueuses seperti
pada S II. Kelainan semacam itu sering terdapat pada daerah mukoperiosteum dalam

kavum nasi yang menyebabkan rinitis dan disebut syphilitic snuffles. Kelainan tersebut
disertai sekret yang mukopurulen atau seropurulen yang sangat menular dan menyebabkan
sumbatan. Pernafasan dengan hidung suka. Jika plaques muqueuses terdapat pada laring
suara menjadi parau. Kelenjar getah bening dapat membesar, generalisata, tetapi tidak
sejelas pada S II.

Gambar 9. Sifilis kongenital


Hepar dan lien membesar akibat invavasi T.pallidum sehingga terjadi fibrosis yang
difus. Dapat terjadi udema dan sedikit ikterik (fungsi hepar terganggu). Ginjal dapat
diserang, pada urin dapat terbentuk albumin, hialin, dan granular cast. Pada umumnya
kalainan ginjal ringan. Pada paru kadang-kadang terdapat infiltrasi yang disebut
pneumonia putih.
Tulang sering diserang pada waktu bayi berumur beberapa minggu. Osteokondrosis
pada tulang panjang umumnya terjadi sebelum berumur enam bulan dan memberi
gambaran khas pada waktu pemeriksaan dengan sinar-x. Ujung tulang terasa nyeri dan
bengkak sehingga tidak dapat digerakan, seolah-olah terjadi paralisis dan disebut psuedo
paralisis parrot. Kadang-kadang terjadi komplikasi berupa terlepasnya epifisis, fraktur
patologik, dan arthritis supurativa. Pada pemeriksaan dengan sinar-x terjadi gambaran
yanng khas. Tanda osteokondritis menghilang setelah 12 bulan, tetapi periostitis menetap.
Umunya tedapat anemia berat sehingga rentan terhadap infeksi.

Neurosifilis aktif terdapat kira-kira 10%. Akibat invasi T.pallidum pada otak waktu
intrauterin menyebabkan perkembangan otak terhenti. Menyebabkan pada bayi terjadi
2

konvulsi dan defisiensi mental.


Sifilis Kongenital Lanjut
Umumnya terjadi antara umur tujuh sampai lima belas tahu. Gumma dapat
menyerang kulit, tulang, selaput lendir, dan alat dalam. Yang khas ialah gumma pada
hidung dan mulut. Jika terjadi kerusakan di septum nasi akan terjadi perforasi, bila meluas
menjadi dekstruksi seluruhnya hingga hidung mengalami kolaps dengan deformitas.
Gumma pada palatum mole dan durum juga sering terjadi sehingga menyebabkan
perforasi pada palatum.
Periostitis sifilitika pada tibia umumnya mengenai 1/3tengah tulang dan
menyebabkan penebalan yang disebut sabre tibia. Osteoperiotiitis setempat pada
tengkorak berupa tumor bulat yang disebut parrots nodus, umumnya terjadi pada daerah
frontal dan parietal.
Keratitis merupakan gejala yang paling umum, biasanya terjadi antara umur tiga
sampai tiga puluh tahun, insidensinya 25% dari penderita dengan sifiis kongenital dan
dapat menyebabkan kebutaan. Akibat diserangnya nervus VIII terjadi ketulian yang
biasanya bilateral.

Pengobatan
Obat pilihan untuk Therapi sifilis adalah Penisilin

Tidak dianjurkan pemberian penisilin oral


Prinsip Therapi sifilis adalah kadar obat harus dapat bertahan dalam serum
selama 10 14 hari u sifilis dini & lanjut, 21 hari u neurosifilis dan sifilis

kardiovaskular.
Kadar penisilin yg diperlukan cukup 0,03 unit/ml selama 10 14 hari
Cara & dosis pemberian penisilin dalam kepustakaan masih berbeda.
Dosis total yang dianjurkan :

SI
S II
S III

: 4,8 juta unit


: 6 juta unit
: 9 juta unit

Dosis yang dianjurkan oleh WHO (1982 yaitu :


Stadium dini (menular)

: dosis total 30 gram/15 hari

Stadium lanjut (tidak menular)

: dosis total 60 gram/30 hari

Sebelum Therapi diberikan, harus pemeriksaan STS


Pemeriksaan STS ini diulang kembali setelah Therapi selesai
Pemeriksaan STS pasca Therapi dilakukan secara cermat 1, 3, 6, & 12
bulan sampai 2 tahun setelah Therapi selesai
Pemeriksaan ini dilakukan dengan tujuan untuk menilai hasil Therapi &
kemungkinan adanya Therapi tidak adekuat atau adanya relaps penyakit.
6. Bakterial Vaginosis
Definisi
Bacterial vaginosis (BV) merupakan gangguan paling umum dijumpai pada organ
genitalia bawah pada wanita usia reproduktif (hamil dan tidak hamil) dan merupakan
prevalensi terbanyak penyebab dari timbulnya secret vagina dan bau tidak sedap.
Vaginosis bakterial adalah keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang disebabkan oleh
bertambahnya pertumbuhan flora vagina bakteri anaerob menggantikan Lactobacillus
yang mempunyai konsentrasi tinggi sebagai flora normal vagina.
Etiologi
Penyebab bakterial vaginosis bukan organisme tunggal. Pada suatu analisis dari data
flora vagina memperlihatkan bahwa ada beberapa kategori dari bakteri vagina yang

berhubungan dengan bakterial vaginosis, yaitu :


Gardnerella vaginalis
Berbagai kepustakaan selama 30 tahun terakhir membenarkan observasi Gardner
dan Dukes bahwa Gardnerella vaginalis sangat erat hubungannya dengan bakterial
vaginosis. Organisme ini mula-mula dikenal sebagai H. vaginalis kemudian diubah
menjadi genus Gardnerella atas dasar penyelidikan mengenai fenetopik dan asam dioksiribonukleat. Tidak mempunyai kapsul, tidak bergerak dan berbentuk batang gram negatif
atau variabel gram. Tes katalase, oksidase, reduksi nitrat, indole, dan urease semuanya
negatif.10 Kuman ini bersifat anaerob fakultatif, dengan produksi akhir utama pada
fermentasi berupa asam asetat, banyak galur yang juga menghasilkan asam laktat dan
asam format. Ditemukan juga galur anaerob obligat. Untuk pertumbuhannya dibutuhkan

tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, biotin, purin, dan pirimidin.


Bakteri anaerob : Mobilincus Spp dan Bacteriodes Spp
Bacteriodes Spp diisolasi sebanyak 76% dan Peptostreptococcus sebanyak 36%
pada wanita dengan bakterial vaginosis. Pada wanita normal kedua tipe anaerob ini lebih
jarang ditemukan. Penemuan spesies anaerob dihubungkan dengan penurunan laktat dan
peningkatan suksinat dan asetat pada cairan vagina. Setelah terapi dengan metronidazole,
Bacteriodes dan Peptostreptococcus tidak ditemukan lagi dan laktat kembali menjadi asam

organik yang predominan dalam cairan vagina. Spiegel menyimpulkan bahwa bakteri
anaerob berinteraksi dengan G.vaginalis untuk menimbulkan vaginosis. Peneliti lain
memperkuat hubungan antara bakteri anaerob dengan vaginosis bakterial. Mikroorganisme
anaerob lain yaitu Mobiluncus Spp, merupakan batang anaerob lengkung yang juga
ditemukan pada vagina bersama-sama dengan organisme lain yang dihubungkan dengan
bakterial vaginosis. Mobiluncus Spp hampir tidak pernah ditemukan pada wanita normal,
3

85% wanita dengan bakterial vaginosis mengandung organisme ini.


Mycoplasma hominis
Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa Mycoplasma hominis juga harus
dipertimbangkan sebagai agen etiologik untuk vaginosis bakterial, bersama-sama dengan
G.vaginalis dan bakteri anaerob lainnya. Prevalensi tiap mikroorganisme ini meningkat
pada wanita dengan bakterial vaginosis. Organisme ini terdapat dengan konsentrasi 1001000 kali lebih besar pada wanita dibandingkan dengan bakterial vaginosis pada wanita
normal.
Pertumbuhan Mycoplasma hominis mungkin distimulasi oleh putrescine, satu dari
amin yang konsentrasinya meningkat pada bakterial vaginosis. Konsentrasi normal bakteri
dalam vagina biasanya 105 organisme/ml cairan vagina dan meningkat menjadi 108-9
organisme/ml pada bakterial vaginosis. Terjadi peningkatan konsentrasi Gardnerella
vaginalis dan bakteri anaerob termasuk Bacteroides, Leptostreptococcus, dan Mobilincus
Spp sebesar 100-1000 kali lipat.
Manifestasi Klinis
Wanita dengan bakterial vaginosis dapat tanpa gejala. Gejala yang paling sering
pada bakterial vaginosis adalah adanya cairan vagina yang abnormal (terutama setelah
melakukan hubungan seksual) dengan adanya bau vagina yang khas yaitu bau amis/bau
ikan (fishy odor). Bau tersebut disebabkan oleh adanya amin yang menguap bila cairan
vagina menjadi basa. Cairan seminal yang basa (pH 7,2) menimbulkan terlepasnya amin
dari perlekatannya pada protein dan amin yang menguap menimbulkan bau yang khas.
Walaupun beberapa wanita mempunyai gejala yang khas, namun pada sebagian besar
wanita dapat asimptomatik. Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina (gatal, rasa terbakar),
kalau ditemukan lebih ringan daripada yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis atau
C.albicans. Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar, dan seperlima timbul
kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri abdomen, dispareuria, atau nyeri waktu kencing
jarang terjadi, dan kalau ada karena penyakit lain.

Pada pemeriksaan biasanya menunjukkan sekret vagina yang tipis dan sering
berwarna putih atau abu-abu, viskositas rendah atau normal, homogen, dan jarang berbusa.
Sekret tersebut melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis atau kelainan
yang difus. Gejala peradangan umum tidak ada. Sebaliknya sekret vagina normal, lebih
tebal dan terdiri atas kumpulan sel epitel vagina yang memberikan gambaran bergerombol.

Gambar 10. Bakterial Vaginosis


Diagnosis
BV merupakan suatu sindrom yang dapat didiagnosis dengan menggunakan baik
secara klinik maupun uji mikrobiologi. Kriteria diagnosis antara wanita hamil dan tidak
hamil adalah sama. Amsel et al (1983), telah mempublikasikan beberapa kriteria diagnosis
BV yang masih digunakan hingga sekarang ini. diagnosis klinis BV ditegakkan apabila
1
2
3
4

ditemukan tiga dari empat tanda berikut ini.


Secret vagina (berwarna keabu-abuan, homogen dan berbau)
pH vagina > 4,5
Ditemukannya clue cells pada sediaan basah
Tes amine (+)
Pewarnaan gram dari cairan vagina merupakan metode diagnostic mikrobiologi yang
paling umum digunakan untuk mendiagnosis BV. Untuk dapat dilakukannya pewarnaan
gram, secret vagina diapus ke atas kaca objek, dikeringkan pada udara terbuka, diwarnai di
laboratorium, dan diperiksa dengan menggunakan minyak emersi. Kebanyakan unit
laboratorium menggunakan sebuah skema diagnostic objektif yang menilai banyaknya
jumlah morphotype Lactobacillus dan bakteri pathogen lainnya, hasil diinterpretasikan
melalui skor yang digunakan untuk menentukan apakah terjadi infeksi atau tidak.
Penskoran yang umum digunakan adalah sistem Nugent. Kriteria untuk diagnosis BV

adalah apabila skor yang didapat adalah tujuh atau lebih. Skor 4-6 menandakan hasil
intermedit, dan skor 0-3 menandakan suatu keadaan normal.
Tatalaksana
Penyakit baktrerial vaginosis merupakan penyakit yang cukup banyak ditemukan
dengan gambaran klinis ringan tanpa komplikasi. Sekitar 1 dari 4 wanita akan sembuh
dengan sendirinya, hal ini diakibatkan karena organisme Lactobacillus vagina kembali
meningkat ke level normal, dan bakteri lain mengalami penurunan jumlah. Namun pada
beberapa wanita, bila bakterial vaginosis tidak diberi pengobatan, akan menimbulkan
keadaan yang lebih parah. Oleh karena itu perlu mendapatkan pengobatan, dimana jenis
obat yang digunakan hendaknya tidak membahayakan dan sedikit efek sampingnya.
Semua wanita dengan bakterial vaginosis simtomatik memerlukan pengobatan, termasuk
wanita hamil. Setelah ditemukan hubungan antara bakterial vaginosis dengan wanita hamil
dengan prematuritas atau endometritis pasca partus, maka penting untuk mencari obat-obat
yang efektif yang bisa digunakan pada masa kehamilan. Ahli medis biasanya
menggunakan antibiotik seperti metronidazol dan klindamisin untuk mengobati
bakterialvaginosis.
a.
1
2
3
4
5

Terapi sistemik
Metronidazol 500mg, 2x sehari selama 7 hari
Metronidazol 2gr dosis tunggal
Klindamisin 300mg peroral, 2x selama 7 hari
Tinidazol 500mg, 2x selama 5 hari
Ampisilin atau amoksisilin 500mg, 4x selama 5 hari

b.
1
2
3
4

Terapi Topikal
Metronidazol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari selama 5 hari.
Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari selama 7 hari.
Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari.
Triple sulfonamide cream.(3,6) (Sulfactamid 2,86%, Sulfabenzamid 3,7% dan Sulfatiazol
3,42%), 2 x sehari selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan angka penyembuhannya

hanya 15 45 %.
c. Pengobatan
bakterial

vaginosis

pada

masa

kehamilan

Terapi secara rutin pada masa kehamilan tidak dianjurkan karena dapat muncul masalah.
Metronidazol tidak digunakan pada trimester pertama kehamilan karena mempunyai efek
samping terhadap fetus. Dosis yang lebih rendah dianjurkan selama kehamilan untuk
mengurangi efek samping (Metronidazol 200-250 mg, 3 x sehari selama 7 hari untuk
wanita hamil). Penisilin aman digunakan selama kehamilan, tetapi ampisilin dan

amoksisilin jelas tidak sama efektifnya dengan metronidazol pada wanita tidak hamil
dimana kedua antibiotik tersebut memberi angka kesembuhan yang rendah.
Pada trimester pertama diberikan krim klindamisin vaginal karena klindamisin tidak
mempunyai efek samping terhadap fetus. Pada trimester II dan III dapat digunakan
metronidazol oral walaupun mungkin lebih disukai gel metronidazol vaginal atau
klindamisin krim.
d. Untuk keputihan yang ditularkan melalui hubungan seksual. Terapi juga diberikan kepada
pasangan seksual dan dianjurkan tidak berhubungan selama masih dalam pengobatan.

7. Kondiloma Akuminata
Definisi
Kondiloma akuminatum atau kutil kelamin (veneral warts) ialah lesi berbentuk
papilomatosis, dengan permukaan verukosa, disebabkan oleh human papillomavirus
(HPV) tipe tertentu (terutama tipe 6 dan 11), terdapat di daerah kelamin dan atau anus.
Etiologi
Penyakit ini termasuk kelompok infeksi menular seksual (IMS), karena 98%,
penularan melalui hubungan seksual. Sisanya dapat ditularkan melalui barang (fomites)
yang tercemar partikel HPV. Frekuensinya pada laki-laki dan perempuan sama. Tersebar
kosmopolit dan transmisi melalui kontak kulit langsung.
Gejala
Penyakit ini paling sering tumbuh di permukaan tubuh yang hangat dan lembab.
Pada pria, area yang sering terkena adalah ujung dan batang penis dan dibawah kulit
depannya (jika tidak disunat). Pada wanita, penyakit timbul di vulva, dinding vagina, leher
rahim (serviks) dan kulit di sekeliling vagina. Kutil kelamin juga bisa terjadi di daerah
sekeliling anus dan rektum, terutama pada pria homoseksual dan wanita yang melakukan
hubungan seksual melalui dubur.
Penyakit ini muncul dalam waktu 1-6 bulan setelah terinfeksi, dimulai sebagai
pembengkakan kecil yang lembut, lembab, berwarna merah atau pink. Mereka tumbuh
dengan cepat dan bisa memiliki tangkai. Pada suatu daerah seringkali tumbuh beberapa
kutil dan permukaannya yang kasar memberikan gambaran seperti bunga kol (blumkol).

Pada wanita hamil, pada gangguan sistem kekebalan (penderita AIDS atau
pengobatan dengan obat yang menekan sistem kekebalan) dan pada orang yang kulitnya
meradang, pertumbuhan kutil ini sangat cepat.

Gambar 11. Kondiloma Akuminata

Pengobatan
Pilihan obat berdasarkan keadaan lesi yaitu jumlah, ukuran dan bentuk serta lokasi,
cara pengobatan dapat dibagi atas pengobatan yang dilakukan oleh pasien dan pengobatan
oleh dokter.
1. Kemoterapi
a. Tinktura podofilin 25%
b. Asam triklorasetat (trichloroacetic acid atau TCA) konsentrasi 80-90%
c. 5-flurousil
2. bedah listrik (elektroaukterasasi)
3. bedah beku ( N2, N20 cair)
4. Bedah skalpel
5. Laser karbondioksida
6. Interferon
7. Imunoterapi
8. Granuloma Inguinal
Definisi
Granuloma inguinal adalah suatu penyakit infeksi bakteri kronis/ destruktif yang
bersifat progresif, disertai pembentukan granuloma di kulit dan jaringan subkutan di
daerah genital dan perigenital, umumnya ditularkan melalui hubungan seksual,
disebabkan oleh Calymmatobacterium granulomatis.

Etiologi

Donovan adalah basil dan di usulkan namanya Donovania granulomatis.


Bakteri ini disebut juga Calymatobacterium granulomatis, berbentuk batang pendek, tebal,
tidak membentuk spora, negatif-gram dan pada pewarnaan membentuk gambaran bipolar
seperti peniti, meskipun sering juga terjadi pleomorfi. Kuman ini termasuk
Brucellaceae

dan mempunyai

hubungan

serologik dengan

beberapa

famili

golongan

Enterobacteriaceae. Selain dapat dibiak pada yolk sac embrio ayam, bakteri tersebut juga
dapat di tanampada medium sintetik, tetapi agak sukar tumbuhnya.

Gejala Klinis
Masa inkubasi pasti. Perkiraan berkisar antara 1-360 hari, 3-40 hari,14-28 hari, dan
17 hari. Lesi dapat dimulai pada daerah genitalia eksterna, paha, lipatan paha, atau
perineum. Pada permulaan

penyakit ini berbentuk papul atau nodul subkutan tunggal

atau multipel yang tidak nyeri yang kemudian secara perlahan-lahan menjadi ulkus
granulomatosa berbentuk bulat, menimbul seperti blundru. Gambaran klinis yang paling
utama adalah lesi kulit yang fleshy, merah daging, exuberant granulation tissue yang
lunak, tanpa nyeri tekan dan mudah berdarah. Gambarab klinis yang umum berupa lesi
primer meluas perlahan melalui penyebaran lansung; autoinkulasi, yang mengakibatkan
lesi baru pada kulit yang berdekatan (Kissing lesion). Melalui mekanisme ini, suatu
lesi primer pada glans penis dapat menimbulkan fokus infeksi baru pada skrotum, paha
atau dinding abdomen. Pembengkakan di daerah inguinale dapat timbul menyertai lesi
genital sebagai masa induratif atau abses yang akhirnya pecah menimbulkan ulkus yang
khas. Kelainan ini disebut pseudobubo, karna pada kenyataannya merupakan sebuah
granuloma subkutan yang terjadi superfisial pada daerah kelenjar getah bening inguinal
bukan kelenjar getah bening yang membesar. Infeksi sekunder terutamaoleh organisme
Vincent, yang di ikuti timbulnya ulkus fagedenikum dengan kerusakan jaringan yang
hebat, berbau busukdan di sertai gejala konstitusi. Akhirnya timbul jaringan parut luas
dengan distorsi, mungkin dapat pula terjadi elefantiasis genital.
Tipe granuloma inguinale dari gambaran klinis terdiri dari :
1. Tipe nodular
2. Tipe ulsero-vegetatif
3. Tipe hipertrofik
4. Tipe sikatriksial

Klasikasi ada empat jenis donovanosis:


1. Ulcerogranulomatous
Jenis yang paling umum, merah daging, jaringan lunak yang mudah berdarah ,
tanpa nyeri tekan dan dapat menjadi cukup luas jika tidak ditangani.

2. Ulkus hipertrofik atau verrucous


Pertumbuhan biasanya dengan

tepi tidak teratur, kadang-kadang benar-benar

kering.

3. Nekrotik
Ulkus berbau busuk yang mendalam menyebabkan kerusakan jaringan yang luas.
4. Kering, sklerotik, atau lesi sikatriks dengan jaringan fibrosa dan jaringan parut.
Pemeriksaan penunjang
1. Hapusan jaringan (Tissue Smears)
2. Biakan /Kultur jaringan
3. Biopsi
4. Serologi
5. Tes kulit

Tata Laksana
Doksisiklin 2 x 100mg/hari, per oral

Azitromisin 1gr per oral, setiap minggu


Eritromisin base 4x500mg/hari per oral

9. Kandidiasis Vulvovaginalis
Definisi
Kandidiasis (atau kandidosis, monoliasis, trush) merupakan berbagai macam
penyakit infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans dan anggota genus
kandida lainnya.
Epidemiologi
Informasi mengenai insiden KVV tidak lengkap, sejak KVV tidak
dilaporkan. Pengumpulan data pada KVV terhambat oleh ketidaktelitian diagnosis
dan menggunakan studi populasi yang bersifat tidak mewakili. Banyak studi
menyatakan 5-15% prevalensi KVV, tergantung pada studi populasi. Sekitar 3-4
dari semua wanita akan mengalami episode KVV seumur hidupnya. KVV
mempengaruhi banyak wanita paling sedikit satu kali selama hidupnya, paling
sering pada usia mampu melahirkan, diperkirakan 70-75%, 3-5 dari 40-50% akan
mengalami kekambuhan. Subpopulasi kecil yang mungkin kurang dari 5% semua
wanita dewasa mengalami episode KVV berulang diartikan sebagai 4 episode
per tahun. Setiap wanita dengan gejala vulvovaginitis, 29,8% telah diambil isolasi
ragi, yang memperkuat diagnosis KVV. Banyak studi mengindikasikan KVV
merupakan diagnosis paling banyak diantara wanita muda, mempengaruhi
sebanyak 15-30% wanita yang bersifat simptomatik yang mengunjungi dokter.
Pada Amerika serikat, KVV merupakan penyebab infeksi vagina tersering kedua
setelah vaginosis bakteri.
Sumber Infeksi
Tiga sumber infeksi yang menyebabkan terjadinya KVV, meliputi reservoir,
penularan seksual dan kekambuhan.
a Reservoir
Meskipun saluran gastrointestinal menjadi sumber kolonisasi awal
kandida pada vagina, kontroversi terus berlanjut mengenai peran usus sebagai
sumber reinfeksi pada wanita dengan KVV berulang. Beberapa penulis, telah
menemukan kesesuaian yang jauh lebih rendah diantara kultur dubur dan
vagina pada pasien dengan KVV berulang. Tingginya angka kultur anorektal

dalam beberapa studi mungkin menyatakan adanya kontaminasi perineum dan


perianal dari keputihan. Selain itu, KVV sering berulang pada wanita tanpa
adanya kultur dubur yang positif.
b Penularan seksual
Kolonisasi kandida pada genital laki-laki yang bersifat asimptomatik
adalah empat kali lebih sering terjadi pada laki-laki dimana pasangan
seksualnya merupakan wanita yang terinfeksi. Sekitar 20% kandida pada penis
berasal dari wanita dengan KVV berulang. Kandida paling sering ditemukan
pada laki-laki yang disunat, biasanya asimptomatik. Patner yang terinfeksi
biasanya membawa keturunan yang identik, namun kontribusi penularan
seksual hingga patogenesis infeksi masih belum diketahui.
c Kekambuhan
Sejumlah kecil dari mikroorganisme bertahan dalam

lumen vagina,

umumnya dalam jumlah yang terlalu kecil yang dideteksi oleh kultur vagina
yang konvensional. Hal ini juga dibayangkan bahwa jumlah kecil kandida
mungkin tinggal sementara di dalam serviks superfisial atau sel epitel vagina
yang hanya muncul kembali beberapa minggu atau bulan kemudian.
Etiologi
Candida albicans merupakan penyebab 80-90% KVV, dan Candida glabrata
merupakan spesies yang paling sering terlibat selanjutnya.
Gambaran Klinis
Candida albicans merupakan penghuni yang lazim pada traktus vagina.
Pertumbuhan yang berlebihan dapat menyebabkan rasa gatal yang berat, rasa terbakar,
dan keputihan. Pruritus akut dan keputihan adalah keluhan yang biasanya ada, tetapi
bukan gejala khusus untuk KVV. Keputihan tidak selalu ada dan sering sedikit.
Meskipun digambarkan seperti keju lembut, keputihan dapat bervariasi dari berair
sampai tebal secara homogen. Nyeri pada vaginal, iritasi, rasa terbakar, dispareunia,
dan disuria eksternal biasanya ada. Bau, jika ada, sedikit dan tidak mengganggu. Pada
pemeriksaan menunjukkan plak keputih-putihan pada dinding vagina dengan dasar
eritema dan dikelilingi edema yang dapat menyebar ke labia dan perineum. Labia
menjadi eritematosa, basah dan maserasi, dan hiperemis, bengkak dan erosi pada
serviks, vesikel kecil pada permukaannya. Secara karakteristik, gejaladiperburuk pada
minggu sebelum onset menstruasi. Beberapa survei menunjukkan diagnosis pasien
yang

tidak

dapat

dipercaya.

Meskipun

adakalanya

kandida

menyebabkan

balanopostitis yang bersifat ekstensif pada laki-laki yang memiliki pasangan wanita
yang mengalami kandidiasis vagina, kejadian yang lebih sering terjadi adalah ruam
sementara, eritema, dan pruritus atau sensasi terbakar pada penis yang timbul
beberapa menit atau jam setelah hubungan seksual tanpa pelindung. Gejala tersebut
sembuh sendiri dan sering menghilang setelah mandi.

Gambar . Kandidiasis vulvovaginalis


Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pada anamnesis, gambaran klinis, dan
pemeriksaan penunjang (pemeriksaan KOH, pemeriksaan sediaan basah, pemeriksaan
pH, biakan, histopatologi, dan tes fermentasi).
Diagnosis laboratorium pada penderita mudah ditegakkan karena pemeriksaan
miroskopik langsung mempunyai sensitivitas yang tinggi. Dengan menggunakan
KOH 10-20%, tampak adanya sel ragi yang polimorfik, berbentuk lonjong, atau bulat
berukuran 2-6 x 4-9 m, blastospora (sel ragi yang sedang bertunas), sel budding
yang khas, hifa bersekat atau pseudohifa, kadang-kadang ditemukan klamidiospora.
Elemen jamur (budding yeast cell/ blastospora/ blastokonidia/ pseudohifa/ hifa)
tampak sebagai Gram positif dan sporanya lebih besar dari bakteri yang dapat diamati
dengan pewarnaan Gram. Pemeriksaan sediaan basah juga dapat melihat bentuk hifa
dan budding yeast dari kandida, dengan cara sediaan cairan vagina diletakkan pada
objek glas kemudian ditetesi 1-2 tetes larutan 0,9% isotonik sodium klorida dan
diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 400 x. pH kandidiasis vaginal kurang
dari 4,5 dapat dibuktikan dengan menggunakan kertas lakmus. Biakan memiliki nilai
sensitivitas yang tinggi sampai 90%. Medium biakan yang dipakai adalah agar

dekstrose Sabouraud dan modifikasi agar Sabouraud. Pada modifikasi agar


Sabouraud, komposisinya ditambahkan antibiotik kloramfenikol yang digunakan
untuk menekan pertumbuhan bakteri. Media ini merupakan media selektif untuk
mengisolasi kandida. Kandida umumnya mudah tumbuh pada suhu kamar 25-30C,
dan pertumbuhan dapat terjadi 2-5 hari setelah biakan. Koloni tampak berwarna krem
atau putih kekuningan, permukaan koloni halus, licin, lama kelamaan berkeriput dan
berbau ragi. Biakan dinyatakan negatif bila dalam waktu 4 minggu tidak tumbuh.
Untuk melakukan identifikasi spesies perlu dilakukan subkultur untuk mendapatkan
koloni yang murni, kemudian koloni baru dapat diidentifikasi.
Pengobatan
Peroral : Flukonazole 150 mg, dosis tunggal, per oral
Intravagina : Butokonazol 2% krim,1x 5 g
Terkonazole 0,4% krim, 5 g per hari selama 7 hari
Terkonazole 0,8%, 5 g perhari selama 3 hari
Terkonazol 80 mg sup, 1 kali per hari selama 3 hari
10. Infeksi genital non spesifik
Definisi
Infeksi traktus genitalis disebabkan oleh penyebab non spesifik.
Etiologi
Chlamydia trachomatis, 30-50%
Ureaplasma urealyticum, 10-40%
Lain-lain, 20-30%:
Klamidia Trakomatis

Penyebab utama uretritis nongonore dan pasca uretritis gonore.

Merupakan bakteri intraselular obligat. Terdapat dua bentuk morfologis


yaitu : the elementary body (EB) dan reticulate body (RB). EB merupakan
partikel infeksius, relatif resisten terhadap lingkungan ekstraseluler tetapi tidak
aktif secara metabolik. RB aktif secara metabolik serta dapat mensintesis
RNA, DNA, dan proteinnya sendiri.

Manifestasi klinis
Infeksi pada pria

Masa inkubasi 1-5 minggu

Gejala umumnya lebih ringan dibanding gonore

Gejala : duh tubuh uretra berupa lendir jernih keruh, umumnya pagi
hari/morning drops

Disuria

Gatal disaluran kencing

Poliuria atau nokturia

Pembesaran KGB inguinal yang terasa nyeri


Infeksi pada wanita

Sering tidak khas, asimtomatik, atau sangat ringan

Gejala : duh tubuh genital kekuningan

Pemeriksaan fisik : eksudat serviks mukopurulen, erosi serviks, atau folikel


kecil

Pemeriksaan fisik
Edema dan eritem ringan-berat di muara uretra
Duh tubuh uretra serosa, sedikit banyak, kadang hanya bercak di celana dalam
Pengobatan
Doksisiklin : 2x100mg sehari selama 7 hari atau
Azitromisin : 1 gr dosis tunggal atau
Eritromisin : untuk penderita yang tidak tahan tetrasiklin, ibu hamil, atau berusia
kurang dari 12 tahun, 4x500mg sehari selama 1 minggu atau 4x
250mg sehari selama 2 minggu

DAFTAR PUSTAKA

1. Sri Linuwih. Editor : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: FKUI;
2016.
2. Daili FS, Indriatmi W, dkk. Editor : Pedoman Nasional Penanganan Infeksi
Menular Seksual. Jakart : Kementerian Kesehatan RI; 2011.
3. Daill SF, Makes WIB, Zubier F. Infeksi Menular Seksual. Edisi keempat. Jakarta:
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2011.
4. Garcia AL, Madkan VK, Tyring SK. Gonorrheae and Other Venereal Disease.
Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, et al, eds. Fitzpatricks Dermatology In
General Medicine. 7th ed. New York: McGraw-Hill; 2008.