Anda di halaman 1dari 19

SEEDING DAN AKLIMATISASI AEROB

Oleh :
KELOMPOK DUA :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

AGUS ANDRIANSYAH

NIM. 061530400318

AMI JUNIA

NIM. 061530400319

ANGELIA DERAJANNAH

NIM. 061530400321

DEWI ZELIKA

NIM. 061530400323

INDRI APRIYANA

NIM. 061530400329

M. ANGGRADYA IQBAL

NIM. 061530401026

VANDHITO RIZNA IKHWANDINATA

NIM. 061530400340

KELAS : 2KB
INSTRUKTUR : A. Ir. A. Husaini, MT

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG

SEEDING DAN AKLIMATISASI AEROB


I. Tujuan Percobaan
Melakukan pembenihan dan pengembang biakan mikroorganisme
untuk mengolah limbah cair secara aerobik.
II. Alat dan Bahan
a. Alat
Gelas Kimia
Aerator
Cawan Penguap
Desikator
Erlenmeyer
Kertas saring
Circulating Bath
Batang Pengaduk
Neraca Analitik
Oven
Termometer
Kertas pH

b. Bahan
Larutan standar kalium dikromat 0,25 N
Menimbang dengan teliti 12,259 gram K2Cr2O7 p.a yang telah
dipanaskan pada temperatur 1000C selama 1 jam,kemudian
mengencerkan dengan aquadest hingga volumnya tepat 1 liter.
Pereaksi asam sulfat-silver sulfat
Memasukan 5,5 gram Ag2SO4 ke dalam 1 kg H2SO4 dan
membiarkan selama 1 atau 2 hari untuk melarutkan serbuk
tersebut.
Larutan indikator Ferroin
Larutan 1,485 gram 1,10-phenenthrolin monohidrat dan 695 mg
FeSO4.7H2O dalam aquadest dan mengencerkan hingga volumnya
100ml. Indikator ini harus
dibuat baru.
Larutan Fero Ammonium Sulfat 0,25 N
Melarutkan 98 gram Fe(NH4)2(SO4) 6H2O dalam aquadest,
kemudian menambahkan 20 ml H2SO4 pekat dan mengencerkan
hinnga volumnya 1 liter. Larutan ini harus distandarisasikan setiap
hari dengan cara sebagai berikut :mengencerkan 10 ml larutan
standar K2Cr2O7 0,25 N dengan aquadest hingga larutan standar

FAS menggunakan 2 atau 3 tetes indikator Ferroin,lalu menghitung


normalitas FAS.

HgSO4
Glukosa
KNO3
KH2PO4

III. Dasar Teori


Salah satu langkah yang penting dalam pengolahan limbah cair
adalah penyiapan atau penyesuaian bakteri agar berkembang sesuai
dengan kondisi yang diinginkan. Bakteri yang berasal dari biakan
murni atau lingkungan sekitar sumber limbah yang akan diolah
dikondisikan pada suatu temat dengan diberi umpan yang
konsentrasinya sedikit demi sedikit menyerupai konsentrasi limbah
yang akan diolah. Biasanya ada tahap awal sebagai umpan digunakan
bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dengan komposisi yang
jelas.
Untuk bakteri aerob maka perlu ditamabahkan aliran udara yang
berasal dari kompresor, blower atau pompa yang disemburkan (spray
aerator).
Cara Pengerjaan :
Bakteri
yang
berasal
dari
biakan
murni
atau
tempat
lain,dikembangkan dalam suatu tempat dan diberi umpan yang
konsentrasinya sedikit demi sedikit mendekati limbah yang akan
diolah. Komposisi limbah yang digunakan biasanya dalam
seeding adalah BOD:N:P = 60:30:1 atau 100:5:1 .
Sebagai sumber karbon biasa digunkan glukosa, sedang nitrogen
dan posfor dapat digunakan Kalium Nitrat dan Kalium Dihidrofosfat.
Pengaturan pH dapat digunakan kapur atau asam sulfat. Untuk bakteri
aerob ditambahkan udara yang cukup agar proses oksidasinya dapat
berjalan dengan sempurna. Jika konsentrasi BOD atau COD dalam
tempat pengembangan telah relative konstan, dengan fluktuasi sekitar
5%, maka konsentrasi umpan dan volume pembibitan ditambah.
Proses ini terus dilakukan hingga volume pembibitan mencapai sekitar
10% kolam yang pengolahan yang dibuat dan VSS sekitar 3000 - 4000
mg/l.
Pemberian substrat:
Misalkan BOD limbah yang akan diolah = 400mg/l,volume awal
pembenihan 10 liter.

BOD:N:P = 60:3:1
Sebagai sumber karbon adalah glukosa,nitrogen KNO 3 dan
fosfor KH2PO4 .
BM glukosa = 180
C6H12O6 + 6O2

6H2O + 6H2O

1 mmol glukosa akan ekivalen dengan 6 mmol oksigen


180 mg glukosa 192 mg oksigen
1mg oksigen 180/192 mg glukosa
Untuk membuat 10 liter limbah dengan BOD 400 mg/l keperluan
glukosa
(10x400x180/192) mg = 3750 mg= 3,75
gram.
BM KNO3 = 101 BAN =14
KNO3 yang dibutuhkan = (3/60x750x101/14) mg=1352 mg= 1,35 gr
BM KH2PO4 = 136 BAP =31
KH2PO4 yang dibutuhkan :
=(1/60x3750x136/31) mg = 274 mg = 0,2749 gram
Jika kandungan BOD pada pembenihan telah mendekati limbah
yang akan diolah maka sebagai sumber karbon dapat diganti dengan
limbah yang nantinya akan diolah.

IV. Prosedur Kerja


1. Membuat substrat sejumlah volume yang diperlukan dengan
menggunakan
perbandingan BOD:N:P= 60:30:1 atau 100:5:1
2. Memasukan bibit mikroorganisme sebanyak + 20 % dari volume
yang diperlukan ke dalam substrat yang telah dibuat.
3. Melakukan aerasi (pemberian O2) terus menerus.
4. Pemberian substrat dilakukan setiap hari sampai mencapai bio solid
yang diinginkan.
5. Jumlah bio solid diukur dengan metode gravimetri setiap hari.
6. Nilai COD atau BOD diukur setiap hari.
V. Penetapan COD ( Chemical Oxygen Demand)
COD atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen(O 2) yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi zat zat organis yang ada dalam 1 liter
sampel air,dimana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber
oksigen (oxygen agent).
Prinsip analisa
Sebagian besar zat organis melalui test COD ini dioksidasi oleh larutan
K2Cr2O7 dalam keadaan asam yang mendidih :
CaHbOc + CrO7 + H+
zat organis
(warna kuning)

Ag2SO4

CO2 + H2O + Cr3+


(warna hijau)

Selama reaksi yang berlangsung + 2 jam ini,uap direfluks dengan


alat kondensor, agar zat organik volatil tidak lenyap keluar. Perak Sulfat
(Ag2SO4) ditambahkan sebgai katalisator untuk mempercepat reaksi.
Sedangkan merkuri sulfat ditambahkan untuk menghilangkan gangguan

klorida yang pada ummnya ada dalam air buangan. Untuk memastikan
bahwa hampir semua zat organis habis teroksidasi,maka zat
pengoksidasi K2Cr2O7 masih terus tersisa sesudah refluks. K 2Cr2O7 yang
tersisa di dalam larutan tersebut digunakan untuk menentukan
beberapa oksigen yang telah terpakai. Sisa K 2Cr2O7 tersebut ditentukan
melalui titrasi dengan FAS , dimana reaksi yang berlangsung adalah
sebgai berkut :
6 Fe2+ + Cr2O72- + 14 H+

6 Fe3+ + 2 Cr3+ + 7H2O

Indikator FAS digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi,yaitu:


disaat warna hijau-biru larutan berubah menjadi coklat-merah,sisa
K2Cr2O7 dalam larutan blanko adalah K2Cr2O7 awal, karena diharapkan
blanko tidak mengandung zat organis yang terdapat dioksidasi oleh
K2Cr2O7.

Gangguan
Kadar khlorida (Cl) sampai 2000 mg/l di dalam sampel dapat
mengganggu bekerjanya katalisator Ag2SO4 dan pada keadaan tertentu
turut teroksidasi oleh dikromat sesuai reaksi:
6 Cl + Cr2O72- + 14 H+

3Cl2 + 2Cr3+ + 7H2O

Gangguan ini dihilangkan dengan penambahan merkuri sulfat


(HgSO4) pada sampel,sebelum penambahan reagen lainnya. Ion merkuri
bergabung dengan ion klorida membentuk merkuri klorida,sesuai reaksi
di bawah ini :
Hg2+ + 2Cl

HgCl2

Dengan adanya ion Hg2+ ini,konsentrasi ion Cl menjadi sangat kecil


dan tidak mengganggu oksidasi zat organis dalam test COD.
PENENTUAN COD
1. Kedalam labu refluks memasukan 10 ml contoh air,kemudian
menambahkan 0,4 gr serbuk HgSO 4 dan 10 ml larutan Kalium
Dikromat 0,25 N dan 20 ml pereaksi asam sulfat pekat serta
beberapa butir batu didih.

2. Labu refluks dipasang pada kondensor dan dipanaskan selama 2 jam


setelah mendidih. Setelah dingin,membilas kondensor dengan
aquadest. Melepaskan labu reflulks dari kondensor,kemudian
mengencerkan dengan aquadest hingga volumenya 140 ml. Setelah
dingin menitrasi dengan larutan FAS 0,1 N menggunakan 2 atau 3
tetes indikator Ferroin,mentitrasi di hentikan jika terjadi perubahan
warna dari hijau menjadi warna coklat.
Diperlukan blanko , yaitu dengan menggunakan aquadest sebagai
sampel denga cara kerja yang sama seperti sampel.
Perhitungan :

COD sebagai mg O2/liter =

( ab ) c x 1000 x d x p
ml sample

Dimana :
a =ml FAS untuk blanko
b =ml FAS untuk sampel
c =Normalitas FAS (0,25 N)
d =berat ekivalen oksigen (8)
p = pengenceran
Penetapan Konsentrasi Biomassa
Konsentrasi biomassa atau organisme dinyatakan dalam mg/l VSS
(volatile
suspended
solid)
prinsip
pengukuran
berdasarkan
gravimetri,yaitu analisa berdasarkan penimbangan berat dan dilakukan
dengan cara penyaringan,pemanasan dan penimbangan.
1. Menyiapkan cawan pijar dan kertas saring,cawan pijar yang telah
bersih dipanaskan dalam oven 600C selama 1 jam,kemudian
dimasukkan ke dalam desikator. Setelah itu menimbang sampai
konstan( a gram). Kertas saring bebas abu dibasahi dengan
aquadest,kemudian memanaskan di dalam oven 100C selam 1
jam,memasukan ke dalam desikator timbang (b gram).
2. Menyaring 40 ml contoh air dengan kertas saring bebas abu yang
telah ditimbang. Kertas saring yang berisi endapan dimasukkan ke
dalam cawan pijar dan dipanaskan dalam oven 105C selama 1 jam.
mendinginkan dalam desikator,kemudian timbang (c gram).
3. Memanaskan cawan tersebut di dalam oven 600oC selama 2 jam.
4. Setelah dingin kemudian memasukan ke dalam desikator dan
menimbang ( d gram).
Perhitungan :

TSS =

(ca)
ml sample

VSS=

( cd )
ml sample

VI. Data Pengamatan


a. Sebelum pemberian
Hari
No.
pH
ke1
1
5
2
2
6
3
3
6
4
4
6
5
5
7

substrat
Suhu
Salinitas
o
( C)
()
26,8
0
28,1
0
29,0
0
29,6
0
27,1
0

b. Setelah pemberian substrat

Konduktivit
as (s)
2,4
3,8
3,7
3,7
3,9

TDS
2
2
2
2
2

No
.

Hari
ke-

1
2
3
4
5

1
2
3
4
5

Penamba
han
substrat
100 ml
200 ml
200 ml
150 ml
150 ml

pH

Suhu
(oC)

6
6
7
7
6

28,2
28,1
28,9
29,6
27,1

Salinita Konduktivit
s
as (s)
()
0
3,8
0
3,8
0
3,7
0
3,7
0
3,9

c. Data untuk TSS dan VSS


Hari pertama
Sample = 40 ml
Berat crusible + tutup
(a)
gram
Berat kertas saring
(b)
gram
Berat crusible (tutup) + k.saring + endapan (110oC)
34,06 gram
Berat crusible (tutup) + k.saring + endapan (600oC)
33,42 gram
Hari ke-5 (terakhir)
Sample = 40 ml
Berat crusible + tutup
(a)
gram
Berat kertas saring
(b)
gram
Berat crusible (tutup) + k.saring + endapan (110oC)
33,8881 gram
Berat crusible (tutup) + k.saring + endapan (600oC)
33,3781 gram

TDS
2
2
2
2
2

= 33,37
=

0,69

(c)

(d)

= 33,37
=

0,69

(c)

(d)

Grafik ph terhadap waktu


8
6
Sebelum

p 4
H
2

Series 3

0
1

Hari ke-

Grafik suhu terhadap waktu


30
29
S
u 28
h 27
u
26

Sebelum
Series 3

25
1

3
Hari ke-

Grafik Salinitas terhadap waktu


S
a
l
i
n
i
t
a
s

1
0.8
0.6

Sebelum

0.4

Series 3

0.2
0
1

3
Hari ke-

Grafik TDS terhadap waktu


2.5
2
T 1.5
D
1
S 0.5

Series 3
Sebelum

0
1

Hari ke-

Grafik konduktivitas terhadap waktu


K
o
n
d
u
k
t
i
v
i
t
a
s

5
4
3

Series 3

Sebelum

1
0
1

3
Hari ke-

Grafik TSS dan VSS terhadap waktu


T
20000
S
S
15000
Series 3

d
10000
a
n
5000
V
S
S

TSS

0
1

5
Hari ke-

VII. Perhitungan
a. Pembuatan Substrat
Misalkan BOD limbah yang akan diolah = 40mg/l,volume awal
pembenihan 1 liter.
BOD : N : P = 60:3:1

Sebagai sumber karbon adalah glukosa,nitrogen KNO 3 dan fosfor


KH2PO4 .
BM glukosa = 180
C6H12O6 + 6O2

6H2O + 6H2O

1 mmol glukosa akan ekivalen dengan 6 mmol oksigen


180 mg glukosa 192 mg oksigen
1mg oksigen 180/192 mg glukosa
Untuk membuat 1 liter limbah dengan BOD 40 mg/l keperluan
glukosa
(1x400x180/192) mg = 375 mg=
0,375 gram.
BM KNO3 = 101 BAN =14
KNO3 yang dibutuhkan = (3/60x375x101/14) mg=135,2 mg=
0,1352 gr
BM KH2PO4 = 136 BAP =31
KH2PO4 yang dibutuhkan :
=(1/60x375x136/31) mg = 27,4 mg = 0,02749 gram
b. Penentuan TSS dan VSS pada hari pertama
dik
Sample = 40 ml
Berat crusible + tutup
(a)
gram
Berat kertas saring
(b) = 0,69
Berat crusible (tutup) + k.saring + endapan (110oC)
34,06 gram
Berat crusible (tutup) + k.saring + endapan (600oC)
33,42 gram
1. TSS
TSS =

(ca)
ml sample

TSS =

(34,0633,37)gram
40 ml

x 106 (mg/L)

TSS = 17250 mg/L

x 106 (mg/L)

= 33,37
gram
(c)

(d)

2. VSS
VSS =

( cd )
ml sample

TSS =

(34,0633,42) gram
40 ml

x 106 (mg/L)

x 106 (mg/L)

TSS = 16000 mg/L


b. Penentuan TSS dan VSS pada hari terakhir
dik
Sample = 40 ml
Berat crusible + tutup
(a)
gram
Berat kertas saring
(b) = 0,69
Berat crusible (tutup) + k.saring + endapan (110oC)
33,8881 gram
Berat crusible (tutup) + k.saring + endapan (600oC)
33,3781 gram
1. TSS
TSS =

(ca)
ml sample

TSS =

(33,888133,37)gram
40 ml

x 106 (mg/L)

x 106 (mg/L)

TSS = 12952,5 mg/L


2. VSS
VSS =

( cd )
ml sample

TSS =

(33,888133,3781) gram
40 ml

TSS = 12750 mg/L

x 106 (mg/L)

x 106 (mg/L)

= 33,37
gram
(c)

(d)

VIII. Analisa Percobaan


Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa
sampai yang digunakan di dalam pembenihan dan pengembangan
mikroorganisme limbah cair digunakan limbah cair (lumpur) yang
berasal dari limbah rumah tangga. Hal-hal yang harus diperhatikan di
dalam pembenihan dan pengembangan mikroorganisme adalah
suhu, derajat, aerasi, substrat, dan konduktivitas.
Pengembangbiakan mikroorganisme diperlukan pemberian
substrat setiap hari. Adapun substrat yang diberikan harus
mengandung carbon nitrogen, dan posfor. Sebelum dilakukan
pemberian substrat dicek terlebih dahulu suhu, pH, konduktivitas,
salinitas, TDS agar dapat dibandingkan nilainya setelah pemberian
substrat.
Pada percobaan didapat data bahwa, setelah penambahan
substrat terjadi kenaikan pH dari 6 ke 7, hal tersebut disebabkan
karena adanya kandungan asam pada substrat yang diberikan. pH
optimum mikrorganisme adalah 7 sebab jika terlalu asam maka
dilakukan penambahan basa, maupun sebaliknya. Hal lain yang harus
diperhatikan selain pH adalah suhu dan aerasi. Aerasi harus selalu
ada agar mikroorganisme tidak kekurangan DO (oksigen terlarut)
karena mikroorganisme yang digunakan termasuk mikroorganisme
aerob yaitu membutuhkan oksigen bebas. Pada saat pengukuran,
salinitas didapat data dari hari pertama sampai terakhir yaitu konstan
dengan nilai 0, hal itu dikarenakan tidak adanya kandungan garam di
dalam larutan tersebut. Pada pengukuran konduktivitas (daya hantar
listrik) larutan, didapat data yang berubah (tidak konstan) terutama
sebelum dan sesudah pemberian substrat, hal itu dikarenakan
perbedaan pergerakan ion-ion yang ada pada saat sebelum dan
sesudah pemberian substrat. Di dalam pengukuran TDS terdapat
kendala dikarenakan alat yang digunakan tidak berfungsi dengan
baik sehingga didapat nilai konstan 2.

Terakhir adalah mengecek nilai TSS dan VSS pada hari pertama
dan terakhir, sampel yang diambil adalah sebanyak 40 ml. Di hari
pertama didapat nilai TSS 17250 mg/L dan VSS 16000 mg/L. Dan hari
terakhir didapat nilai TSS 12952,5 mg/L dan nilai VSS adalah 12750
mg/L. Nilai TSS dan VSS mengalami penurunan, tetapi dengan nilai
TSS yang tinggi tersebut menandakan limbah tersebut dapat
mencemari lingkungan, karena melewati ambang batas yaitu 100
mg/L.
IX. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan, bahwa :
1. Seeding
adalah
kegiatan
untuk
mengembangbiakan
mikroorganisme sehingga didapatkan jumlah biomassa yang
mencukupi untuk mengolah limbah air buanagn.
2. Proses seeding menggunakan mikroorganisme aerob, oleh sebab itu
harus selalu tersedia oksigen terlarut.
3. Substrat yang diberikan harus mengandung nitrogen, carbon, dan
posfor.
4. Untuk mendapatkan nilai TSS sample harus dipanasi pada suhu
110oC dan untuk VSS harus dipanasi hingga suhu 600oC.
5. Pada hari pertama nilai TSS yang didapat adalah 17250 mg/L, VSS
1600mh/L. Sedangkan hari terakhir didapat nilai TSS 12952,5 mg/L
dan VSS nya sebesar 12750 mg/L.
DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet Teknologi Pengolahan Limbah.POLSRI.2016
www.wikipedia.com
www.blogspot.co.id

GAMBAR ALAT

KACA ARLOJI

CRUSIBLE

SPATULA

BOTOL AQUADEST

GELAS KIMIA

NERACA ANALITIS

CAWAN PORSELIN

CAWAN PORSELIN

DESIKATOR

TIMBANGAN

KERTAS SARING

KERTAS SARING