Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Luka adalah kerusakan integritas kulit akibat terputusnya kontinuitas suatu
jaringan oleh karena adanya cedera, pembedahan, terpapar suhu yang ekstrim,
zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi (Lusianah et al, 2012).

Angka kejadian luka setiap tahun semakin meningkat, baik luka akut maupun
luka kronis. Sebuah penelitian terbaru di Amerika menunjukkan prevalensi
pasien dengan luka adalah 3.50 per 1000 populasi penduduk. Mayoritas luka
pada penduduk dunia adalah luka karena pembedahan/trauma (48,00%),
ulkus kaki (28,00%), luka dekubitus (21,00%).

Pada tahun 2009, MedMarket Diligence, sebuah asosiasi luka di Amerika


melakukan penelitian tentang insiden luka di dunia berdasarkan etiologi
penyakit. Diperoleh data untuk luka bedah ada 110.30 juta kasus, luka trauma
1.60 juta kasus, luka lecet ada 20.40 juta kasuss, luka bakar 10 juta kasus,
ulukus dekubitus 8.50 juta kasus, ulkus vena 12.50 juta kasus, ulkus diabetik
13.50 juta kasus, amputasi 0,20 juta pertahun, kasinoma 0,60 juta kasus
(Diligence, 2009a,b).

Rerata prevalensi cedera berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2007) akibat


luka lecet sebesar 50.8%. Prevalensi tertinggi 60.2% yang terdapat Provinsi
Kalimantan Barat. Sekitar 19 provinsi yang prevalensi jenis cedera luka lecet
di atas angka rerata Nasional. Rerata prevalensi jenis cedera luka terbuka
sebesar 25.4%. Prevalensi tertinggi sekitar 33.3% terdapat pada Provinsi
1

Sulawesi Tengah. Ditemukan sebanyak 13 provinsi yang angka prevalensinya


di atas angka prevalensi Nasional. Rerata prevalensi jenis cedera luka bakar
relatif kecil yaitu 2.2%. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi NAD dan
Kepulauan Riau sama-sama 3.8%. Pravalensi jenis cedera di provinsi
Kalimantan Selatan akibat luka lecet sebesar 40.6%, luka terbuka 23.5%, dan
luka bakar 3.2% (Riset Kesehatan Dasar, 2007).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (2013), proporsi jenis luka atau
macam luka akibat trauma di Indonesia didominasi oleh luka lecet/memar
sebesar 70,9%, terbanyak terdapat di Banten 76,2% dan yang terendah di
Papua yaitu 59,4%. Jenis cedera terbanyak ke dua adalah terkilir, rata-rata di
Indonesia 27,5%. Ditemukan terkilir terbanyak di Kalimantan Selatan sebesar
39,3%. Luka robek menduduki urutan ketiga jenis cedera terbanyak, jenis
luka ini tertinggi ditemukan di Papua sekitar 48,5% jauh di atas Indonesia
yaitu 23,2% dan terendah di DI Yogyakarta 14,6%. Proporsi jenis luka yang
menunjukkan 3 urutan tertinggi adalah luka lecet/memar, terkilir dan luka
robek. Pada tahun 2013 di provinsi Kalimantan Selatan jenis luka
lecet/memar sebanyak 60,5% dan luka robek 22,1% (Riset Kesehatan Dasar,
2013).

Perawatan luka merupakan tindakan keperawatan yang sering dilakukan di


rumah sakit sehingga kemungkinan terjadinya infeksi klinis karena perawatan
luka cukup tinggi dan ini akan menambah tingginya biaya perawatan dan
angka kesakitan pasien (Anonim, 2005).
Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan harus sesuai dengan
prosedur tetap yang berlaku serta selalu menunjukkan sikap dan tingkah laku
profesional yang sesuai dengan etika profesi keperawatan yang merupakan
kesadaran dan pedoman yang mengatur nilai-nilai moral dalam melaksanakan

kegiatan profesi keperawatan, sehingga mutu dan kualitas profesi


keperawatan tetap terjaga dengan cara yang terhormat (Azwar, 2007).
Pelayanan keperawatan yang diberikan secara menyeluruh salah satunya
adalah perawatan luka yang harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur tetap.
Prosedur

perawatan

luka

ini

bertujuan

agar

mempercepat

proses

penyembuhan dan bebas dari infeksi, indikator adanya infeksi akibat


perawatan luka yang tidak baik salah satunya adalah terjadinya infeksi
nosokomial yang merupakan infeksi yang didapat atau yang timbul pada
waktu pasien di rawat di rumah sakit (Perry & Potter, 2005).
Ruang rawat inap sebagai salah satu fasilitas pelayanan rumah sakit tidak
terlepas sebagai sumber infeksi. Hal ini disebabkan karena perawatan
pasien melibatkan banyak pihak seperti dokter, perawat, peralatan medis
serta petugas yang bekerja di kawasan rawat inap menjadi faktor perantara
terjadinya infeksi silang antara pasien di samping faktor dari lingkungan
(Harry, 2006).
Menurut Lubis (2004) keberhasilan pengendalian infeksi pada tindakan
perawatan luka bukanlah ditentukan oleh canggihnya peralatan yang ada.
Tetapi ditentukan oleh kesempurnaan petugas dalam melaksanakan perawatan
klien secara benar (Yayu, 2015).
Penerapan teknik dan prosedur yang benar dari petugas merupakan perilaku
yang paling penting dalam upaya pencegahan infeksi. Penerapan teknik
aseptik dalam perawatan luka merupakan salah satu upaya pencegahan dan
atau meminimalkan omset dan penyebaran infeksi nosokomial pada luka.
Teknik aseptik adalah segala upaya yang dilakukan untuk mencegah
masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang kemungkinan besar akan
mengakibatkan infeksi (Hermana, 2010).
Menurut Perry & Potter (2010) teknik aseptik merupakan teknik/prosedur
yang membantu mengurangi resiko terkena infeksi.

Green (dalam Notoadmodjo, 2010) menyebutkan bahwa perilaku dipengaruhi


oleh tiga faktor, yaitu faktor predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor
penguat. Faktor predisposisi pada seseorang diantaranya pengetahuan, sikap,
keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, persepsi, usia, status sosial
ekonomi, jenis kelamin yang menjadi pemicu sesesorang melakukan
tindakan. faktor pemungkin adalah kemampuan, sumber daya, ketersediaan
infornasi, dan ketersediaan fasilitas. faktor penguat adalah adanya manfaat
atau pengajaran yang diterima oleh seseorang.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 25 Mei
2016, di RSUD H. Damanhuri Barabai, dieroleh hasil dari wawancara yang
dilakukan terhadap 6 orang perawat di ruang bedah, 4 orang menyatakan
selalu melakukan sesuai dengan prosedur, sementara 2 orang perawat
menyatakan jarang melakukan sesuai dengan prosedur. Dan pada tanggal 26
Mei 2016 diperoleh hasil wawncara terhadap 4 orang perawat, diantaranya 2
orang yang menyatakan selalu melakukan perawatan luka sesuai dengan
prosedur dan 4 orang perawat menyatakan jarang sekali melakukannya sesuai
dengan prosedur.
Pada saat melakukan observasi, peneliti melihat perawatan luka di ruang
perawatan bedah didapati perawat hanya mencuci tangan sebelum melakukan
perawatan luka pada pasien pertama, setelah selesai melakukan perawatan
luka pada pasien pertama perawat tidak mencuci tangan tetapi langsung
diteruskan pada pasien selanjutnya. Perawat juga menggunakan handscoon
dan pinset secara berulang-ulang kepada pasien berikutnya.
Dampak negatif yang ditimbulkan dari prosedur perawatan luka yang tidak
menerapkan teknik aseptik menyebabkan infeksi pada luka dan hal tersebut
akan memeperpanjang waktu penyembuhan luka.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan


penalitian tentang Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Perawat Tentang
Teknik Aseptik dalam Perawatan Luka di Ruang Perawatan Bedah (Yakud)
dan Ruang Perawatan Penyakit Dalam (Zamrud) RSUD H. Damanhuri
Barabai Tahun 2016.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat rumuskan masalah
penelitian ini adalah sebagai berikut : Apakah ada hubungan pengetahuan
dengan perilaku perawat tentang teknik aseptik dalam perawatan luka di
ruang perawatan bedah (Yakud) dan penyakit dalam (Zamrud) RSUD H.
Damanhuri Barabai tahun 2016 ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1

Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pengetahuan perawat tentang teknik aseptik
dalam perawatan luka dengan perilaku perawat tentang teknik
aseptik dalam perawatan luka di ruang perawatan bedah (Yakud) dan
penyakit dalam (Zamrud) RSUD H. Damanhuri Barabai

tahun

2016.
1.3.2

Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi pengetahuan perawat tentang
teknik aseptik dalam perawatan luka di ruang
perawatan bedah (Yakud) dan penyakit dalam
(Zamrud) RSUD H. Damanhuri Barabai tahun
2016.
1.3.2.2 Mengidentifikasi perilaku perawat tentang teknik
aseptik dalam perawatan luka di ruang perawatan
bedah (Yakud) dan penyakit dalam (Zamrud)
RSUD H. Damanhuri Barabai tahun 2016.

1.3.2.3 Menganalisa

hubungan

pengetahuan

dengan

perilaku perawat tentang teknik aseptik dalam


perawatan luka di ruang perawatan bedah (Yakud)
dan

penyakit

dalam

(Zamrud)

RSUD

H.

Damanhuri Barabai tahun 2016.


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1

Teoritis

1.4.1.1 Sebagai bahan masukan dan tambahan informasi bagi


perkembangan ilmu keperawatan khususnya bagi perawat
yang bekerja dalam praktek keperawatan agar memahami
tentang teknik aseptik dalam perawatan luka.
1.4.1.2 Hasil

penelitian

pengembangan

ini

diharapkan

pendidikan

menambah

keperawatan

dalam

wawasan
praktek

keperawatan mengenai teknik aseptik dalam perawatan luka.


1.4.2

Praktis

1.4.2.1 Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan bagi


instansi pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit sebagai
bahan evaluasi tentang teknik aseptik dalam perawatan luka.
1.4.2.2 Diharapkan dengan penelitian ini menambah pengetahuan
perawat mengenai teknik aseptik dalam perawatan luka.,
sehingga

dapat

meningkatkan

pelayanan

keperawatan

khususnya dalam perawatan luka.


1.4.2.3 Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan dan
memperdalam pengetahuan dalam pengalaman menulis dan
mempraktekkan ilmu yang diperoleh selama ini, serta
memberikan sumbangan pikiran kepada pihak-pihak terkait
atau berhubungan dengan penelitian ini. Selain itu, penelitian
ini dapat digunakan sebagai sarana dalam mengembangkan
dan mempelajari lebih jauh keilmuan yang didapat selama

menjalani pendidikan di Akademi Keperawatan Murakata


Barabai.
1.4.2.4 Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan

pustaka, menambah wawasan dan pengetahuan tentang


pengetahuan perawat tentang bantuan hidup dasar, dan
diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian
lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang bantuan hidup
dasar.