Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan adalah pembangunan nasional yang bertujuan
meningkatkan kesedaran, kemauan, dan kemampuan hidup setiap penduduk
agar

dapat

mewujudkan

derajat

kesehatan

yang

setinggi-tingginya.

Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa


Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah (Depkes RI, 2004).
Laju pertumbuhan penduduk yang pesat dan arus urbanisasi di negara
sedang berkembang menyebabkan masalah perumahan memerlukan
pemecahan dan penanganan yang segara. Di Afrika, Amerika Latin, dan Asia
penduduk kota meningkat dua kali lipat dalam periode 10 tahun terakhir.
Urbanisasi yang tidak terkendali ini menimbulkan rangkaian masalah sosial
yang sangat kompleks. Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia seperti di
negara sedang berkembang lainnya juga cukup tinggi, yaitu sekitar 2,3% per
tahun, dan bahkan di daerah perkotaan mencapai 5,4% per tahun yang juga
terutama disebabkan karena derasnya arus urbanisasi. Hal ini meyebabkan
peningkatan kebutuhan prasarana dan sarana perumahan dan lingkungan
pemukiman dan pengadaan perumahan untuk golongan masyarakat dengan
tingkat ekonomi menengah ke bawah menjadi problem yang semakin sulit.
United Nations Conference on Problem of The Human Environment pada
tahun 1972 telah menyatakan bahwa lebih dari 1 milyar penduduk dunia
hidup dalam kondisi perumahan dibawah standar dan kemungkinan situasi ini
akan semakin bertambah buruk dimasa yang akan datang (WHO SEARO,
1986; Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001). Faktor

yang berpengaruh dalam situasi ini adalah tingkat ekonomi masyarakat yang
masih rendah; lingkungan fisik, biologi, sosial dan budaya setempat yang
belum mendukung; tingkat kemajuan teknologi pembangunan perumahan
masih terbelakang; serta belum konsistennya kebijaksanaan pemerintah
dalam tata guna lahan dan program pembangunan perumahan untuk rakyat
(Napitupulu, 1994; Parwoto, 1994; Panudju, 1999).
Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area
sekitarnya yang dipakai sebagai tempa t tinggal dan sarana pembinaan
keluarga (UU RI No. 4 Tahun 1992). Menurut WHO, rumah adalah struktur
fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna
untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk
kesehatan kelu arga dan individu (Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan
Lingkungan, 2001). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah sehat
adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana
pembinaan keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik,
mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara
produktif. Oleh karena itu keberadaan perumahan yang sehat, aman, serasi,
teratur sangat diperlukan agar fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi
dengan baik.
Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau hunian yang dilengkapi dengan prasarana lingkungan
yaitu kelengkapan dasar fisik lingkungan, misalnya penyediaan air minum,
pembuangan sampah, listrik, telepon, jalan, yang memungkinkan lingkungan
pemukiman berfungsi sebagaimana mestinya; dan sarana lingkungan yaitu
fasilitas

penunjang

yang

berfungsi

untuk

penyelenggaraan

serta

pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya, seperti fasilitas


taman bermain, olah raga, pendidikan, pertok oan, sarana perhubungan,
keamanan, serta fasilitas umum lainnya.
Perumahan sehat merupakan konsep dari perumahan sebagai faktor
yang dapat meningkatkan standar kesehatan penghuninya. Konsep tersebut
melibatkan pendekatan sosiologis dan teknis pengelolaan faktor risiko dan
berorientasi pada lokasi, bangunan, kualifikasi, adaptasi, manajemen,
penggunaan dan pemeliharaan rumah dan lingkungan di sekitarnya, serta
mencakup unsur apakah rumah tersebut memiliki penyediaan air minum dan
sarana yang memadai untuk memasak, mencuci, menyimpan makanan, serta
pembuangan kotoran manusia maupun limbah lainnya (Komisi WHO
Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001).
Kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman adalah kondisi fisik,
kimia, dan biologik di dalam rumah, di lingkungan rumah dan perumahan,
sehingga memungkinkan penghuni mendapatkan derajat kesehatan yang
optimal. Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukinan
adalah ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi dalam rangka
melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di perumahan dan/atau
masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan. Persyaratan
kesehatan perumahan yang meliputi persyaratan lingkungan perumahan dan
pemukiman serta persyaratan rumah itu sendiri, sangat diperlukan karena
pembangunan perumahan berpengaruh sangat besar terhadap peningkatan
derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat (Sanropie, 1992).
Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat
kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih,

tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah


yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak
terbuat dari tanah.
PHBS adalah sekumpulan perilaku yg dipraktekkan atas dasar
kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga
atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan
berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. PHBS merupakan
salah satu indikator bagi keberhasilan pengembangan desa siaga dan
kelurahan aktif.
Kegiatan Inspeksi Sanitasi Permukiman dan Inspeksi Sanitasi Rumah Sehat
di Dusun Logung RT 03/RW 06 Desa Jubelan Kecamatan Sumowono
Kabupaten Semarang Tahun 2014 dilakukan untuk mengetahui

kondisi

sanitasi perumahan dan lingkungan perumahan di wilayah RT 03 RW 06


Dusun

Logung,

Desa

Jubelan,

Kecamatan

Sumowono,

Kabupaten

Semarang.
B. Tujuan
1. Umum
Mahasiswa mampu menemukan permasalahan dan mengupayakan
penyelesaian masalah tentang sanitasi permukiman dan sanitasi rumah
sehat di Dusun Logung RT 03/RW 06 Desa Jubelan Kecamatan
Sumowono Kabupaten Semarang.
2. Khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahui kondisi sanitasi permukiman dan
sanitasi rumah sehat di Dusun Logung RT 03/RW 06 Desa Jubelan
Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang
b. Mahasiswa mengetahui permasalahan

permasalahan

sanitasi

permukiman dan sanitasi rumah sehat di Desa Dusun Logung RT


03/RW 06 Desa Jubelan Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang.

c. Mahasiswa mampu mengidentifikasi prioritas permasalahan sanitasi


permukiman dan sanitasi rumah sehat di Dusun Logung RT 03/RW 06
Desa Jubelan Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang.
d. Mahasiswa mampu memberikan alternative permasalahan sanitasi
permukiman dan sanitasi rumah sehat di Dusun Logung RT 03/RW 06
Desa Jubelan Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Permukiman
Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan
lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi
sebagagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat
kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan (UU No.4 tahun
1992, tentang Perumahan dan Permukiman).
Permukiman adalah kawasan yang didominasi oleh lingkungan yang
dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan dan tempat kerja yang
memberikan

pelayanan

dan

kesempatan

kerja

yang

terbatas

untuk

mendukung perikehidupan dan penghidupan, sehingga fungsinya dapat


berdaya guna dan berhasil guna. Permukiman ini dapat berupa permukiman
perkotaan maupun permukiman perdesaan (Kamus Tata Ruang Tahun 1997).
Permukiman adalah tempat atau daerah untuk bertempat tinggal dan menetap
(Kamus Tata Ruang 1997) Permukiman di dalam kamus tata ruang terdiri dari
tiga pengertian yaitu:
1. Bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang berupa
kawasan perkotaan maupun kawasan perdesaan yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan
yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
2. Kawasan yang didomisili oleh lingkungan hunian dengan fungsi utama
sebagai tempat tinggal yang dilengkapi dengan prasarana, sarana
lingkungan dan tempat kerja yang memberikan pelayanan dan kesempatan
kerja terbatas untuk mendukung perikehidupan dan penghidupan sehingga
fungsi permukiman tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna.
3. Tempat atau daerah untuk bertempat tinggal atau tempat untuk menetap.
B. Sifat-Sifat Permukiman
Berdasarkan sifatnya pemukiman dapat dibedakan beberapa jenis
antara lain:
1. Pemukiman perkampungan tradisional
Perkampungan seperti ini biasa nya penduduk atau masyarakatnya
masih memegang teguh tradisi lama. Kepercayaan, kabudayaan dan
kebiasaan nenek moyangnya secara turun temurun dianutnya secara kuat.
Tidak mau menerima perubahan perubahan dari luar walaupun dalam
keadaan zaman telah berkembang dengan pesat. Kebiasaan-kebiasaan
hidup secara tradisional yang sulit untuk diubah inilah yang akan membawa
6

dampak terhadap kesehatn seperti kebiasaan minum air tanpa dimasak


terlebih dahulu, buang sampah dan air limbah di sembarang tempat
sehingga

terdapat

genangan

kotor

yang

mengakibatkan

mudah

berjangkitnya penyakit menular.


2. Perkampungan darurat
Jenis perkampungan ini biasanya bersifat sementara (darurat) dan
timbulnya perkampungan ini karena adanya bencana alam. Untuk
menyelamatkan

penduduk

dari

bahaya

banjir

maka

dibuatkan

perkampungan darurat pada daerahh/lokasi yang bebas dari banjir. Mereka


yang

rumahnya

terkena

banjir

untuk

sementara

ditampatkan

dipernkampungan ini untuk mendapatkan pertolongan baantuan dan


makanan pakaian dan obat obatan. Begitu pula ada bencana lainnya
seperti adanya gunung berapiyang meletus dan lain lain.
Daerah pemukiman ini bersifat darurat tidak terencana dan biasanya
kurang fasilitas sanitasi lingkungan sehingga kemungkina penjalaran
penyakit akan mudah terjadi.
3. Perkampungan kumuh (slum area)
Jenis pemukiman ini biasanya timbul akibat adanya urbanisasi yaitu
perpindahan penduduk dari kampung (pedesaan) ke kota. Umumnya ingin
mencari kehidupan yang lebih baik, mereka bekerja di toko-toko, di
restoran-restoran, sebagai pelayan dan lain lain. sulitnya mencari kerja di
kota akibat sangat banyak pencari kerja, sedang tempat bekerja terbatas,
maka banyak diantara mereke manjadi orang gelandangan, Di kota
ummnya sulit mendapatkan tempat tinggal yang layak hal ini karena tidak
terjangkau oelh penghasilan (upah kerja) yang mereka dapatkan setiap
hari, akhirnya meraka membuat gubuk-gubuk sementara (gubuk liar)
4. Pemukiman Transmigrasi
Jenis pemukiman semacam ini di rencanakan oleh pemerintah yaitu
suatu daerah pemukiman yang digunakan untuk tempat penampungan
penduduk yang dipindahkan (ditransmigrasikan) dari suatu daerah yang
padat penduduknya ke daerah yang jarng/kurang penduduknya tapi luas
daerahnya (untuk tanah garapan bertani bercocok tanam dan lain lain)
disamping itu jenis pemukiman merupakan tempat pemukiman bagi orang
-orang (penduduk) yang di transmigrasikan akibat di tempat aslinya seiring
7

dilanda banjir atau seirng mendapat gangguan dari kegiatan gunung


berapi.
Ditempat ini meraka telah disediakan rumah, dan tanah garapan
untuk bertani dan bercocok tanam oleh pemerintah dan diharapkan mereka
nasibnya atau penghidupannya akan lebih baik jika dibandingkan dengan
kehidupan di daerah aslinya
5. Perkampungan untuk kelompok-kelompok khusus
Perkampungan seperti ini dibasanya dibangun oleh pemerintah dan
diperuntukkan bagi orang -orang atau kelompok-kelompok orang yang
sedang menjalankan tugas tertentu yang telah dirancanakan. Penghuninya
atau orang orang yang menempatinya biasanya bertempat tinggal untuk
sementara, selama yang bersangkutan masih bisa menjalan kan tugas.
setelah cukup selesai maka mereka akan kembali ke tempat/daerah asal
masing masing. contohnya adalah perkampungan atlit (peserta olah raga
pekan olahraga nasional ) Perkampungan orang -orang yang naik haji,
perkampungan pekerja (pekerja proyek besar, proyek pembangunan
bendungan, perkampungan perkemahan pramuka dan lain lain
6. Perkampungan baru (real estate)
Pemukiman semacam ini drencanakan pemerintah dan bekerja sama
dengan pihak swasta. Pembangunan tempat pemukiman ini biasanya
dilokasi yang sesuai untuk suatu pemukiman (kawasan pemukiman).
ditempat ini biasanya keadaan kesehatan lingkunan cukup baik, ada listrik,
tersedianya sumber air bersih , baik berupa sumur pompa tangan (sumur
bor) atau pun air PAM/PDAM, sisetem pembuangan kotoran dan iari
kotornya direncanakan secara baik, begitu pula cara pembuangan
samphnya di koordinir dan diatur secara baik.
Selain itu ditempat ini biasanya dilengakapi dengan gedung-gedung
sekolah (SD, SMP, dll) yang dibangun dekat dengan tempat tempat
pelayanan masyarakat seperti poskesdes/puskesmas, pos keamanan
kantor pos, pasar dan lain lain.
Jenis pemukiman seperti ini biasanya dibangung dan diperuntukkan
bagi penduduk masyarakat yang berpenghasilan menengah ketas. rumah
rumah tersebut dapat dibali dengan cara di cicil bulanan atau bahkan ada
pula yang dibangun khusus untuk disewakan. contoh pemukiman sperit ini
8

adalah perumahan IKPR-BTN yang pada saat sekarang sudah banyak


dibangun sampai ke daerah-daerah
Untuk di daerah daerah (kota kota ) yang sulit untuk mendapatkan
tanah yang luas untuk perumahan, tetapi kebutuhan akan perumahan
cukup banyak, maka pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta
membangun rumah tipe susun atau rumah susun (rumah bertingkat)
seperti terdapat di kota metropolitan DKI Jakarta. Rumah rumah seperti ini
ada yang dapat dibeli secara cicilan atau disewa secara bulanan.
C. Pengertian Rumah Sehat
Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan
dan Permukiman, perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan
prasarana dan sarana lingkungan. Rumah adalah sebuah tempat tujuan
akhir dari manusia.
Rumah

menjadi

tempat

berlindung

dari

cuaca

dan

kondisi

lingkungan sekitar, menyatukan sebuah keluarga, meningkatkan tumbuh


kembang kehidupan setiap manusia, dan menjadi bagian dari gaya hidup
manusia Sedangkan pengertian Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan
yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial budaya, bukan hanya
keadaan yang bebas penyakit dan kelemahan (kecacatan).
Rumah harus dapat mewadahi kegiatan penghuninya dan cukup luas
bagi seluruh pemakainya, sehingga kebutuhan ruang dan aktivitas setiap
penghuninya dapat berjalan dengan baik. Lingkungan rumah juga sebaiknya
terhindar dari faktor- faktor yang dapat merugikan
2007).

Rumah

bernaung,

dan

sehat
tempat

dapat diartikan
untuk

sebagai

kesehatan (Hindarto,
tempat

berlindung,

beristirahat, sehingga menumbuhkan

kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani, maupun sosial (Sanropie dkk.,
1991). Sedangkan menurut Hermawan (2010) yang dikutip dari Azwar, rumah
sehat adalah tempat berlindung atau bernaung dan tempat untuk beristrahat
sehingga menimbulkan kehidupan yang sempurna baik fisik,rohani maupun
sosial.
D. Fungsi Rumah Sehat
9

Fungsi rumah rumah bagi manusia yang diposkan oleh suhadi (2007) yang
dikutip dari Azwar adalah :
1. Sebagai tempat untuk melepaskan lelah, beristirahat setelah penat
melasanakan kewajiban sehari-hari.
2. Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina rasa
kekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada.
3. Sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya

yang

datang

mengancam.
4. Sebagai lambang status sosial yang dimiliki yang masih dirasakan hingga
saat ini.
5. Sebagai tempat untuk meletakan atau menyimpan barang-barang berharga
yang dimiliki, yang terutama masih ditemui pada masyarakat pedesaan.
E. Persyaratan Rumah Sehat
Menurut Budiman Chandra (2007), persyaratan rumah sehat yang tercantum
dalam Residential Environment dari WHO (1974) antara lain:
1. Harus dapat berlindung dari hujan, panas, dingin, dan berfungsi sebagai
tempat istrahat.
2. Mempunyai tenpat-tempat untuk tidur, memasak, mandi, mencuci, kakus
dan kamar mandi.
3. Dapat melindungi bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.
4. Bebas dari bahan bangunan berbahaya.
5. Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi
penghuninya dari gempa, keruntuhan, dan penyakit menular.
6. Member rasa aman dan lingkungan tetangga yang serasi.
Persyaratan rumah sehat berdasarkan pedoman teknis penilaian

rumah

sehat (Depkes RI, 2007).


1. Memenuhi

kebutuhan

psikologis

antara lain

privacy

yang

cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni


rumah, adanya ruangan khusus untuk istirahat (ruang tidur), bagi masingmaing penghuni.
2. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni
rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah
tangga, bebas vektor

penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak

berlebihan, cukup sinar matahari

10

pagi, terlindungnya makanan dan

minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan


yang cukup.
3. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang
timbul karena pengaruh luar dan dalam rumah, antara lain persyaratan
garis sempadan jalan, konstruksi bangunan rumah, bahaya kebakaran dan
kecelakaan di dalam rumah.
Persyaratan rumah sehat menurut Winslow dan APHA yang dikutip (Ircham
Machfoedz, 2008) adalah sebagai berikut :
1. Memenuhi kebutuhan physiologis, yang meliputi :
a. Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat
dipelihara atau dipertahankan temperatur lingkungannya. Sebaiknya
temperatur udara dalam ruangan harus lebih rendah paling sedikit
4C

dari temperatur udara luar untuk daerah tropis. Umumnya

temperatur kamar 22C - 30C sudah cukup segar.


b. Rumah tersebut harus terjamin pencahayaannya yang dibedakan
atas cahaya matahari
dari

nyala

api

(penerangan

alamiah)

lainnya (penerangan buatan).

serta

penerangan

Semua penerangan

ini harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu gelap atau
tidak menimbulkan rasa silau.
c. Rumah tersebut harus mempunyai ventilasi yang sempurna sehingga
aliran udara segar dapat terpelihara. Luas lubang ventilasi tetap,
minimum 5% dari luas lantai ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi
insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% luas lantai sehingga
jumlah keduanya menjadi 10% dari luas lantai.
d. Ruangan. Ini diatur sedemikian rupa agar udara yang masuk tidak
terlalu deras dan tidak terlalu sedikit.
e. Rumah tersebut harus dapat melindungi penghuni dari gangguan bising
yang berlebihan
baik

karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan

langsung maupun dalam jangka

Gangguan yang dapat muncul antara lain

waktu yang relatif lama.


gangguan

fisik

seperti

kerusakan alat pendengaran dan gangguan mental seperti mudah


marah dan apatis.
f.

Rumah tersebut harus memiliki luas yang cukup untuk aktivitas dan
untuk anak- anak dapat bermain. Hal ini penting agar anak mempunyai
11

kesempatan bergerak, bermain dengan leluasa di rumah agar


pertumbuhan badannya akan lebih baik, juga agar anak tidak bermain di
rumah tetangganya, di jalan atau tempat lain yang membahayakan.
2. Memenuhi kebutuhan psychologis, yang meliputi :
a. Cukup aman dan nyaman bagi masing-masing penghuni Adanya
ruangan khusus untuk istirahat bagi masing-masing penghuni, seperti
kamar tidur untuk ayah dan ibu. Anak-anak berumur di bawah 2 tahun
masih diperbolehkan satu kamar tidur dengan ayah dan ibu. Anakanak di atas 10 tahun laki-laki dan perempuan tidak boleh dalam satu
kamar tidur. Anak-anak di atas 17 tahun mempunyai kamar tidur
sendiri.
b. Ruang duduk dapat dipakai sekaligus sebagai ruang makan keluarga,
dimana anak-anak sambil makan dapat berdialog langsung dengan
orang tuannya.
c. Dalam memilih letak tempat tinggal, sebaiknya di sekitar tetangga yang
memiliki tingkat ekonomi yang relatif sama, sebab bila

bertetangga

dengan orang yang lebih kaya atau lebih miskin akan menimbulkan
tekanan batin. Dalam meletakkan kursi dan meja di ruangan jangan
sampai menghalangi lalu lintas dalam ruangan.
d. W.C. (Water Closet) dan kamar mandi harus ada dalam suatu
rumah dan terpelihara kebersihannya. Biasanya orang tidak senang
atau gelisah bila terasa ingin buang air besar tapi tidak mempunyai
W.C. sendiri karena harus antri di W.C. orang lain atau harus buang air
besar di tempat terbuka seperti sungai atau kebun.
e. Untuk memperindah pemandangan, perlu ditanami tanaman hias,
tanaman bunga yang kesemuanya diatur, ditata, dan dipelihara secara
rapi dan bersih, sehingga menyenangkan bila dipandang.
3. Mencegah penularan penyakit, yang meliputi.
a. Penyediaan Air Bersih yang memenuhi syarat kesehatan
b. Bebas dari kehidupan serangga dan tikus
c. Pembuagan sampah
d. Pembuangan air limbah.
e. Pembuangan Tinja
f. Bebas pencemaran makanan dan minuman.
4. Mencegah terjadinya kecelakaan yaitu rumah harus dibangun sedemikian
rupa sehingga dapat melindungi penghuni dari kemungkinan terjadinya
12

bahaya atau kecelakaan. Termasuk dalam persyaratan ini antara lain


bangunan yang kokoh, tangga yang tidak terlalu curam dan

licin,

terhindar dari bahaya kebakaran, alat-alat listrik yang terlindung, tidak


menyebabkan keracunan

gas

bagi

penghuni,

terlindung

dari

kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya (Azwar, 1990; CDC, 2006;
Sanropie, 1991).
Menurut Soedjajadi (2006), persyaratan rumah sehat harus dapat mencegah
atau mengurangi resiko kecelakaan seperti jatuh, keracunan dan kebakaran.
Persyaratan tersebut meliputi:
1. Membuat konstruksi rumah yang kokoh dan kuat.
2. Bahan rumah terbuat dari bahan tahan api.
3. Pertukaran udara dalam rumah baik sehingga terhindar dari bahaya racun
dan gas.
4. Lantai terbuat dari bahan yang tidak licin sehingga

bahaya jatuh dan

kecelakaan mekanis dapat dihindari.


5. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan dan
ruang

gerak yang

cukup, terhindar

dari

kebisingan

yang

mengganggu.
Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut
Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No.829/Menkes/SK/VII/ 1999
meliputi dua aspek yaitu :
1. Lingkungan perumahan yang terdiri dari lokasi, kualitas udara, kebi singan
dan getaran, kualitas tanah, kualitas air tanah, sarana dan prasarana
lingkungan, binatang penular penyakit dan penghijauan.
2. Rumah tinggal yang terdiri dari bahan bangunan, komponen dan pena taan
ruang rumah, pencahayaan, kualitas udara, ventilasi, binatang penular
penyakit, air, makanan, limbah, dan kepadatan hunian ruang tidur.
Adapun persyaratan kesehatan lingkungan perumahan menurut Keputusan
Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No.829/Menkes/SK/VII/ 1999 sebagai
berikut :
1. Lokasi
a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran
sungai, aliran lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa,
dan sebagainya;
b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA)
sampah atau bekas tambang;
13

c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran


seperti alur pendaratan penerbangan.
2. Kualitas udara
Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari
gangguan gas beracun dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan
sebagai berikut :
a. Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi;
b. g/m3 ;g maksimum 150 Debu dengan diameter kurang dari 10
c. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm;
d. Debu maksimum 350 mm3 /m2 per hari.
3. Kebisingan dan getaran
a. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A;
b. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik.
4. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman
a. Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
b. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
c. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
d. Kandungan Benzopyrene maksimum 1 mg/kg
5. Prasarana dan sarana lingkungan
a. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan
konstruksi yang aman dari kecelakaan;
b. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor
penyakit;
c. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan
tidak mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan
pejalan kaki dan penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar
pengaman, lampu penerangan, jalan tidak menyilaukan mata;
d. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas air yang
memenuhi persyaratan kesehatan;
e. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus
memenuhi persyaratan kesehatan;
f. Pengelolaan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi
syarat kesehatan;
g. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi,
tempat kerja, tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian, dan lain
sebagainya;
h. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya;
i. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi
kontaminasi makanan yang dapat menimbulkan keracunan.
6. Vektor penyakit
a. Indeks lalat harus memenuhi syarat.
b. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%.
14

7. Penghijauan
Pepohonan untuk

penghijauan

lingkungan

pemukiman

merupakan

pelindung dan juga berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian


alam.
Adapun ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal menurut Kepmenkes
No. 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut :
1. Bahan bangunan
a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang dapat
membahayakan kesehatan, an tara lain : debu total kurang dari 150
mg/m2 , asbestos kurang dari 0,5 serat/m3 per 24 jam, plumbum (Pb)
kurang dari 300 mg/kg bahan;
b. Tidak terbuat dari bahan

yang

dapat

menjadi

tumbuh

dan

berkembangnya mikroorganisme patogen.


2. Komponen dan penataan ruangan
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan;
b. Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar cuci kedap
air dan mudah dibersihkan;
c. Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan;
d. Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir;
e. Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya;
f. Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.
3. Pencahayaan
Pencahayaan alam dan/atau buatan langsung maupun tidak langsung
dapat menerangi seluruh ruangan dengan intensitas penerangan minimal
60 lux dan tidak menyilaukan mata.
4. Kualitas udara
a. Suhu udara nyaman antara 18 30 o C;
b. Kelembaban udara 40 70 %;
c. Gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam;
d. Pertukaran udara 5 kaki 3 /menit/penghuni;
e. Gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam;
f. Gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3
5. Ventilasi : Luas lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas
lantai.
6. Vektor penyakit : Tidak ada lalat, nyamuk ataupun tikus yang bersarang di
dalam rumah.
7. Penyediaan air
a. Tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal 60
liter/ orang/hari;

15

b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan/atau


air minum menurut Permenkes 416 tahun 1990 dan Kepmenkes 907
tahun 2002.
8. Pembuangan Limbah
a. Limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari sumber air,
tidak menimbulkan bau, dan tidak mencemari permukaan tanah;
b. Limbah padat harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan bau,
tidak mencemari permukaan tanah dan air tanah.
9. Sarana Penyimpanan Makanan
Tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman.
10. Kepadatan hunian Luas kamar tidur minimal 8 m2 dan dianjurkan tidak
untuk lebih dari 2 orang tidur.
F. Penilaian Rumah Sehat
Menurut Munif Arifin (2009), kriteria rumah sehat didasarkan pada
pedoman teknis penilaian rumah sehat Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI tahun 2007. Pedoman
teknis ini disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :
829/Menkes/SK/VII/1999

tentang

persyaratan

Kesehatan

Perumahan.

Sedangkan pembobotan terhadap kelompok komponen rumah, kelompok


sarana sanitasi, dan kelompok perilaku didasarkan pada teori Blum, yang
diinterpetasikan terhadap Lingkungan (45%), Perilaku (35%), Pelayanan
Kesehatan (15%), Keturunan (5%).
Dalam hal rumah sehat, persentase pelayanan kesehatan dan keturunan
diabaikan, sedangkan untuk penilaian lingkungan dan perilaku ditentulan
sebagai berikut :
1. Bobot komponen rumah (25/80 x 100%) : 31
2. Bobot sarana sanitasi (20/80 x 100%) : 25
3. Bobot perilaku (35/80 x 100%) : 44
Penentuan kriteria rumah berdasarkan pada hasil penilaian rumah yang
merupakan hasil perkalian antara nilai dengan bobot, dengan criteria sebagai
berikut :
1. Memenuhi syarat : 80 -100 % dari total skor.
2. Tidak memenuhi syarat : < 80 % dari total skor.
Kelompok Komponen Rumah yang dijadikan dasar penilaian rumah sehat
menggunakan Indikator komponen sebagai berikut :
1.

Langit-langit
16

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Dinding
Lantai
Jendela kamar tidur
Jendela ruang keluarga
Ventilasi
Lubang asap dapur
Pencahayaan
Kandang
Pemanfaatan Pekarangan
Kepadatan penghuni.

Indikator sarana sanitasi yang dijadikan dasar penilaian rumah sehat


menggunakan Indikator sarana sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Sarana air bersih


Jamban
Sarana pembuangan air limbah
Sarana pembuangan sampah.

Indikator penilaian perilaku penghuni rumah meliputi bebrapa parameter


sebagai berikut :
1. Kebiasaan mencuci tangan.
2. Keberadaan tikus.
3. Keberadaan jentik.

17

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Desa Logung
1. Geografi dan Topografi
a. Batas Wilayah
Desa/kelurahan
Sebelah utara
Sebelah selatan
Sebelah timur
Sebelah barat

:
:
:
:

Hutan lindung Gunung Ungaran


Desa Kali Banger
Desa Kali Bendo
Desa Sumowono

Kecamatan
Sebelah utara
Sebelah selatan
Sebelah timur

:
:
:

Hutan lindung Gunung Ungaran


Kecamatan Kaloran

12.368 m2

Kecamatan Bandungan
Sebelah barat
: Kecamatan Boja
b. Luas wilayah menurut penggunaan
Luas pemukiman
: 4,5 ha
Luas persawahan
:
Luas kuburan
: 1,2 ha
Perkantoran
: 168 m2
Luas prasarana umum
: 2.000 m2

lainnya
Total luas
Tanah Sawah
Sawah irigasi 1/2 teknis
Total luas
Tanah Kering
Tegal/ladang
Pemukiman
Total luas
Tanah Fasilitas Umum
Kas Desa/Kelurahan:
Tanah bengkok
Tanah titi sara
Kebun desa
Sawah desa
Lapangan olahraga
Perkantoran pemerintah
Ruang publik/taman kota
Tempat pemakaman
desa/umum
Tempat pembuangan

:
:

:
:
:

150.500 m2
4.500 m2
155.000 m2

:
:
:
:
:
:
:
:
:

4,5 ha
2.590 ha
0 ha
0 ha
0 ha
4.200 ha
168 m2
0 ha
0 ha

0 ha

18

sampah
Bangunan

432 m2

:
:

4.600 m2
16.490 Ha

:
:
:
:

6.267 mdl
8 bulan
90 %
18C

Coklat

Lempungan

1 ha

10 ha

:
:

5 ha
134.500 ha

8 KM

jam

1,5 jam

kendaraan non bermotor


Jarak ke ibukota

42 KM

Kabupaten/Kota
Lama jarak tempuh ke

1,5 jam

12 jam

sekolah/perguruan tinggi
Jalan
Total luas
Iklim
Tinggi
Jumlah bulan hujan
Kelembaban
Suhu rata-rata harian
Jenis dan kesuburan tanah
Warna tanah (sebagian
besar)
Tekstur tanah
Tingkat Erosi Tanah
Tingkat Erosi Tanah
Ringan
Tingkat Erosi Tanah
Sedang
Tingkat Erosi Tanah Berat
Tidak Erosi
Orbitasi
Jarak ke ibukota
Kecamatan
Lama jarak tempuh ke
ibukota Kecamatan
dengan kendaraan
bermotor
Lama jarak tempuh ke
ibukota Kecamatan
dengan berjalan kaki atau

ibukota Kabupaten
dengan kendaraan
bermotor
Lama jarak tempuh ke
ibukota Kabupaten
dengan berjalan kaki atau
19

kendaraan non bermotor


Jarak ke ibukota Provinsi
Lama jarak tempuh ke

:
:

180 KM
7 jam

72 jam

ibukota Provinsi dengan


kendaraan bermotor
Lama jarak tempuh ke
ibukota Provinsi dengan
berjalan kaki atau
kendaraan non bermotor
c. Sumber Daya Air
Potensi Air dan Sumber Daya Air
Sungai
: Sedang
Danau
: Mata Air
: Sedang
Bendungan/waduk/situ
: Sedang
Embung-embung
: Sedang
Jebakan air
: Sedang
Jumlah Jenis Potensi
: 0 Jenis
Sumber Air Bersih
Sumur gali
Jumlah
3 unit (kondisi rusak berat)
Pemanfaatan
: 3 keluarga
Mata Air
Jumlah
: 2 unit (kondisi rusak)
Pemanfaatan
: 254 keluarga
Sungai
Jumlah
: 1 unit
Pemanfaatan
: 20 keluarga
Kondisi
: Rusak
PAM
Jumlah
: 0 unit
Pemanfaatan
: 0 keluarga
Kondisi
: Hidran Umum
Jumlah
: 0 unit
Pemanfaatan
: 0 keluarga
Kondisi
: Depot isi ulang
Jumlah
: 0 unit
Pemanfaatan
: 0 keluarga
Kondisi
Kualitas Air Minum
Mata air
: Berwarna
Sumur gali
: Sumur pompa
: Hidran umum
: 20

PAM
Pipa
Sungai
Bak penampung air hujan
Beli dari tangki swasta
Depot isi ulang
Sungai
Jumlah sungai
Kondisi
Tercemar
Pendangkalan/pengendap

:
:
:
:
:
:

Tercemar
-

3 buah

:
:

Ya
Ya

an lumpur tinggi
Keruh
Memenuhi baku mutu air

Ya
Tidak

Berkurangnya biota air

Ya

Tidak

sungai
Kering
2. Pertanian
a. Tanaman Pangan

1) Pemilikan Lahan Pertanian Tanaman Pangan


Jumlah keluarga memiliki tanah
: 253 keluarga
pertanian
Tidak memiliki
: 5 keluarga
Memiliki < 10 ha
: 254 keluarga
Memiliki 10-50 ha
: Memiliki 50-100 ha
: Memiliki > 100 ha
: Jumlah total keluarga petani
: 254 keluarga
2) Luas Tanaman Pangan Menurut Komoditas Tahun ini
Jagung
: 7,5 ha (1 ton/ ha)
Kubis
: 6 ha (11 ton/ ha)
Wortel
:
4 ha (8 ton/ ha)
3. Peternakan
a. Jenis Ternak
Jenis ternak
Sapi
Ayam kampung
Kambing
Kelinci
Kucing

Jumlah pemilik
40 orang
235 orang
142 orang
4 orang
50 orang

4. Produksi Peternakan
Madu : 10 lt/ th
5. Ketersediaan Hijauan Pakan Ternak
Luas tanaman pakan ternak
21

Perkiraan jumlah populasi


100 ekor
947 ekor
503 ekor
12 ekor
62 ekor

: 3,5 ha

Produksi hijauan makanan ternak


: 9 ton/ ha
6. Kebisingan
Kebisingan tinggi
: tidak ekses dampak kebisingan
Kebisingan sedang
: tidak ekses dampak kebisingan
Kebisingan ringan
: tidak ekses dampak kebisingan
Tidak bising
: ekses dampak kebisingan
7. Potensi Wisata
Potensi wisata di Dusun Logung yaitu wisata pertanian.
8. Demografi
a. Jumlah Penduduk Menurut Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data profil Dusun Logung pada tahun 2014 jumlah
penduduk keseluruhan adalah 940 penduduk.
b. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur
Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dapat
dilihat dari ratio perkembangan jenis kelamin yaitu perbandingan
jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Berdasarkan data profil
Dusun Logung, jumlah penduduk laki-laki relatif tidak seimbang
dengan jumlah penduduk perempuan yaitu : 458 ( 48 %)
penduduk laki-laki dan 485 ( 52%) penduduk perempuan. Hal ini
menggambarkan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih
banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki. Data rinci
jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur serta
proporsi penduduk laki-laki dan penduduk perempuan dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur
di Dusun Logung Tahun 2014
NO

Kelompok Umur
( Tahun )

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

0-4
5-9
10-14
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64

Jumlah Penduduk
Laki-Laki
Perempuan
41
44
44
40
35
41
39
35
33
28
26
20
15

41
43
45
38
36
41
37
34
32
28
26
20
15
22

Jumlah Penduduk
(Laki-Laki+Perempuan)
82
87
89
78
71
82
76
69
65
56
52
40
30

14

65-69
29
34
63
JUMLAH
470
470
940
Dari data diatas penduduk Dusun Logung menurut jenis kelamin dan
kelompok umur menunjukan bahwa proporsi jumlah penduduk lakilaki maupun proporsi jumlah penduduk perempuan proporsi terbesar
pada kelompok umur 10-14 yaitu sebanyak 44 orang dan usia lanjut
sebanyak 45 orang.
9. Tingkat Pendidikan
Tabel 2. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat pendidikan
di Dusun Logung Tahun 2014
NO
1
2
3
4
5
6

PENDIDIKAN
Tidak/ belum pernah sekolah
Tidak/ belum tamat SD
SD
SLTP
SLTA
Akademi/ PT

JUMLAH
243
166
200
95
94
30

10. Tingkat Mata Pencaharian Penduduk


Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
di Desa Logung Tahun 2014
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Mata Pencaharian
Petani
Buruh tani
Bangunan/ kontruksi
Industri
Pedagang
Angkutan
PNS/ Honorer
Wiraswasta
Lainnya

Jumlah
358
158
10
15
38
5
14
46
295

23

B. Hasil Survey Sanitasi Permukiman


Berdasarkan hasil Survei Sanitasi Permukiman di Desa Dusun Logung
RT 03/RW 06 Desa Jubelan Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang
dengan hasil checklist sebesar 53,34 61,9% (kategori cukup baik),
didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Lokasi
a. Dekat dengan fasilitas pendukung
Dusun Logung terletak pada daerah yang dekat fasilitas pendukung
seperti: Fasilitas pendidikan (Madrasah Aliyah), Fasilitas pelayanan
kesehatan (Puskesmas) dan fasilitas peribadatan.
b. Ditempat strategis
Dusun Logung terletak dilokasi yang strategis karena selain dekat
dengan lokasi pariwisata (Candi Gedong Songo), Desa Logung juga
dilalui

oleh

transportasi

umum

sehingga

memudahkan

dalam

mobilisasi penduduk.
c. Bukan daerah banjir
Dusun Logung terletak di daerah yang tidak rawan banjir, termasuk
dataran tinggi dan ketika terjadi hujan air akan mengalir ke daerah
yang lebih rendah.
d. Jauh dari tempat pembuangan air kotor/ rawa
Dusun Logung lokasinya jauh dari tempat pembuangan air kotor/ rawa
karena lokasinya berada ditengah permukiman (desa) sehingga jauh
dari pembuangan air kotor/ rawa.
e. Jauh dari tempat pembuangan sampah
Dusun Logung lokasinya jauh dari tempat pembuangan sampah baik
tempat pembuangan sampah akhir ataupun tempat pembuangan
sampah sementara.
f. Jauh dari pabrik/ perusahaan yang menimbulkan bising dan polusi
Dusun lokasinya jauh dari pabrik/ perusahaan yang menimbulkan
bising dan polusi. Daerah Dusun Logung tidak terdapat pabrik/
perusahaan sehingga aman dari resiko bising maupun polusi.
g. Jauh dari jalan berdebu
Akses jalan di wilayah Dusun Logung kontruksinya dibuat kedap air
sehingga ketika dilalui kendaraan tidak menimbulkan debu-debu
berterbangan yang dapat mengganggu pernafasan dan penglihatan
baik pengendara maupun pejalan kaki.

24

h. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan (dekat bandara atau rel
kereta api)
Dusun Logung terletak pada daerah pegunungan yang jauh dari
bandara maupun rel kereta api. Akses jalan di wilayah ini belum begitu
ramai kendaraan dan lalu-lintasnya berjalan dengan lancar. Namun
akses jalan di wilayah ini banyak dijumpai tikungan-tikungan tajam
serta ketika terjadi hujan jalan lumayan licin dan berkabut. Kondisi
yang demikian menjadikan akses jalan kewilayah ini rawan terjadi
kecelakaan.
i. Memiliki akses terhadap tempat kerja pencapaian maksimal 30 menit.
Sebagian besar tanah/ lahan di wilayah Dusun Logung merupakan
daerah pertanian dan mayoritas penduduknya bermata pencaharian
sebagai petani. Daerah pertanian tersebut masih termasuk ke wilayah
desa Logung sehingga akses terhadap tempat kerja (lahan pertanian)
hanya membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit.
2. Geologis/Topografi
a. Kemiringan tanah maksimum 15%
Kemiringan tanah di wilayah Dusun Logung kurang dari 15% sehingga
memungkinkan

untuk

dijadikan

lokasi

permukiman

dan

tidak

mengganggu mobilitas warga maupun kendaraan karena lokasinya


tidak terlalu curam.
b. Memungkinkan untuk dibuat sistem drainase
Dilihat dari topografinya wilayah Dusun Logung memiliki kemiringan
kurang dari 15% sehingga air dapat mengalir atau memungkinkan jika
dibangun sistem drainase. Namun sistem drainase yang tersedia
mempunyai fungsi ganda yaitu selain sebagai pembuangan air hujan,
sistem ini juga berfungsi sebagai sarana pembuangan air limbah dari
kamar mandi dan dapur serta tidak jarang ditemui banyak terjadi
penyumbatan akibat sampah yang di buang pada saluran ini.
c. Kondisi tanah memungkinkan untuk didirikan bangunan sederhana
Wilayah Dusun Logung kondisi tanahnya stabil sehingga tanah dapat
menopang bangunan dengan baik atau memungkinkan untuk didirikan
bangunan sederhana.
3. Kapasitas Hukum
a. Ada status hukum yang jelas terhadap tanah
Setiap warga di wilayah Dusun Logung memiliki sertivikat kepemilikan
tanah yang legal dan jelas.
b. Ada status hukum yang jelas terhadap rumah
25

Setiap warga di wilayah Dusun Logung memiliki sertivikat kepemilikan


rumah yang legal dan jelas.
c. Ada status hukum yang jelas terhadap penghuni
Setiap warga di wilayah Dusun Logung memiliki memiliki kartu
identitas kependudukan yang jelas.
4. Kontruksi Jalan
a. Ada jalan permanen dipermukiman
Seluruh akses jalan di wilayah Dusun Logung telah dibuat permanen
dan kedap air. Namun ada bagian jalan yang berlubang.
b. Pembagian jalan dipermukiman jelas
Pada wilayah di wilayah Dusun Logung telah dibuat pembagian jalan
secara jelas sehingga memudahkan warga diwilayah tersebut untuk
masuk maupun keluar dari wilayah permukiman.
c. Konstruksi jalan keras
Kontruksi jalan di wilayah Dusun Logung dibuat keras, kuat dan kedap
air sehingga ketika turun hujan jalan tidak licin dan

tidak

membahayakan warga yang menggunakan jalan tersebut (baik


pengendara sepeda motor maupun pejalan kaki).
d. Jalan tidak berdebu
Akses jalan di wilayah Dusun Logung kontruksinya dibuat kedap air
sehingga ketika dilalui kendaraan tidak menimbulkan debu-debu
berterbangan yang dapat mengganggu pernafasan dan penglihatan
baik pengendara maupun pejalan kaki.
e. Jalan tidak ada genangan air
Akses jalan di wilayah Dusun Logung kontruksinya dibuat kedap air,
namun pada beberapa titik terdapat bagian jalan

yang berlubang

sehingga ketika turun hujan menimbulkan genangan air/ becek.


f. Lampu penerangan kurang mencukupi
Wilayah Dusun Logung ketersediaan lampu penerangannya kurang
mencukupi

karena

di

sepanjang

jalan

belum

terdapat

lampu

penerangan sehingga menyulitkan masyarakat yang akan melakukan


mobilitas pada malam hari.
g. Tidak terdapat rambu-rambu lalu lintas
Di wilayah Dusun Logung tidak terdapat rambu lalu-lintas.
5. Sarana Sanitasi
a. Air secara kualitas
a. Bersih
b. Tidak berwarna
c. Tidak berbau
d. Tidak berasa
Masyarakat didesa Logung menggunakan air bersih yang
bersumber dari mata air yang terlindungi untuk fasilitas pemandian
26

umum, dan menggunakan air sumur untuk kebutuhan rumah (MCK,


Masak). Mata air dialirkan melalui Distribusi air bersih dengan
menggunakan sistem perpipaan. Namun pipa yang digunakan sejenis
PVC dan pipa karet/ selang dan peletakkannyapun jadi satu dengan
saluran pembuangan air limbah serta pengecekan dan perawatan
terhadap sistem perpipaan jarang dilakukan. Sehingga ketika terjadi
kebocoran tidak segera mendapatkan penanganan.
Peletakkan pipa pada saluran pembuangan air limbah sangat
memungkinkan terjadinya pencemaran air limbah terhadap air bersih
didalam pipa.
Air bersih yang masuk ke dusun di bagi menjadi beberapa bak,
namun bak penampungan air yang tersedia tidak tertutup sehingga
rawan terjadinya pencemaran dari lingkungan
b. Air secara kuantitas
Diwilayah Dusun Logung telah tersedia air bersih minimal 60 liter/
orang/

hari

dan

air

tersedia

pada

setiap

kegiatan

yang

berkesinambungan. Distribusi air menggunakan sistem perpipaan,


namun memilki resiko terjadinya cemaran silang tinggi.
c. Saluran pembuangan air limbah
Di wilayah Dusun Logung tidak memiliki sarana pengolahan limbah.
Saluran air limbah kedap air dan menggunakan sistem terbuka serta
air limbah mengalir dengan tidak lancar. Keadaan yang demikian dapat
beresiko mengundang vektor penyakit dan binatang pengganggu
(seperti lalat, kecoa, nyamuk, dan tikus) serta dapat mengganggu
estetika (bau dan lingkungan yang kotor).
d. Tempat sampah
Wilayah Dusun Logung

belum tersedia tempat sampah yang

memenuhi syarat (kontruksinya terbuat dari bahan yang kuat, ringan,


tahan karat, kedap air, permukaan bagian dalam halus, terdapat tutup
bagian dalam tempat sampah lapisi dengan kantong plastik, dan
volume tempat sampah mencukupi kapasitas sampah yang dihasilkan
oleh masyarakat serta frekuensi pengangkutan maksimal 2 hari sekali).
Wargaterbiasa membuang sampah mereka ke aliran selokan / sungai
yang ada di pinggiran sawah.
e. Tempat pengelolaan sampah sementara

27

Di wilayah Dusun Logung

belum tersedia tempat pengumpulan

sampah sementara.
f. Jamban
Di wilayah Dusun Logung belum tersedia jamban umum.
g. Saluran pembuangan air hujan
Di wilayah Dusun Logung telah tersedia saluran air hujan yang
letaknya ditepian jalan dan belum memenuhi persyaratan.
h. Ketersediaan Fasilitas
1) Fasilitas kesehatan
Wilayah Dusun Logung lokasinya dekat dengan fasilitas kesehatan
seperti puskesmas dan apotik. Jarak dengan puskesmas sekitar 20
m dan jarak dengan apotik sekitar 1 km. Sedangkan jarak ke
praktek dokter/ rumah bersalin/ PKD sekitar 0,5 km.
2) Fasilitas perbelanjaan dan niaga
Di wilayah Dusun Logung terdapat fasilitas perbelanjaan dan niaga
seperti warung, pertokoan. . Jarak dusun ke pasar/ pertokoan
kurang lebih sekitar 1 km. Ketersediaan fasilitas ini memudahkan
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3) Fasilitas pemerintah dan pelayanan umum
Wilayah Dusun Logung termasuk dalam lingkup Desa Jubelan,
Desa longung termasu desa kecil, sehingga fasilitas pemerintahan
dan pelayanan umum seperti balai desa terpusat didesa tersebut.
Ketersediaan

fasilitas

ini

memudahkan

masyarakat

untuk

memperoleh pelayanan pemerintahan. Namun di Dusun Logung


sudah tersedia pos keamanan/ pos kampling dan toilet umum.
Tindakan pengamanan jarang dilakukan.
Tersedia juga Fasilitas pelayanan kesehatan yaitu puskesmas yang
terletak di Badan Jalan Dusun Logung.
4) Fasilitas peribadatan
Di wilayah Dusun Logung telah tersedia fasilitas peribadahan
berupa masjid dan mushola. >80 % warga di Dusun Logung
beragama islam

dan biasanya

mereka mengerjakan

sholat

berjamaah dimasjid maupun mushola tersebut.


5) Fasilitas rekreasi dan kebudayaan
Di wilayah Dusun Logung tidak memiliki fasilitas rekreasi dan
kebudayaan namun wilayah ini dekat dengan wisata candi gedong
songo, curug 7 bidadari dan pemandian air panas. Dengan

28

demikian masyarakat yang ingin berekreasi bersama dengan


keluarga maupun teman dapat menuju ke lokasi wisata tersebut.
6) Fasilitas pendidikan
Di wilayah Dusun Logung terdapat gedung pendidikan Paud, TK,
SD, Namun kondisi gedung pendidikan SD sudah bagus karna
belum lama ini dilakukan renovasi. sarana dan prasarana sekolah
7) Fasilitas olahraga dan lapangan terbuka
Telah tersedia fasilitas olahraga (seperti lapangan sepakbola).

C. Hasil Inspeksi Sanitasi Rumah Sehat


Berdasarkan hasil Survei Rumah Sehat Di RT 03 RW 06 Dusun Logung,
Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang dengan jumlah
KK yang disurvei sebanyak 10 KK, maka didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Komponen Rumah
a. Langit-langit
Rumah yang tidak terdapat langit-langit sebanyak 3 rumah.
Rumah yang terdapat langit-langit namun kondisinya kotor, sulit
dibersihkan, dan rawan kecelakaan sebanyak 1 rumah. Sedangkan
rumah yang terdapat langit-langit dengan kondisi bersih dan tidak rawan
kecelakaan sebanyak 6 rumah.
Langit-langit

Persentase

Jumlah KK

(%)

3
1
6
10

Tidak ada
Ada, kotor, RK
Ada,bersih,TRK
Total

30
10
60
100

b. Dinding
Rumah yang memiliki dinding bukan tembok (terbuat dari papan)
sebanyak 1 rumah. Rumah dengan dinding semi permanen atau
setengah tembok atau pasangan bata atau batu yang tidak diplester
atau papan yang tidak kedap air sebanyak 2 rumah. Sedangkan rumah
dengan dinding permanenen (tembok atau pasangan batu bata yang
diplester atau papan kedap air) sebanyak 7 buah.
Dinding

Jumlah KK

Bukan tembok

1
29

Persentase
(%)
10

Semi permanen
Permanen
Total

2
7
10

20
70
100

c. Lantai
Rumah yang memiliki lantai terbuat dari papan atau anyaman bambu,
dekat dengan tanah, atau plesteran yang retak dan berdebu sebanyak 0
rumah.

Sedangkan

rumah

dengan

lantai

yang

diplester/ubin/keramik/papan 10 rumah.
Lantai

Persentase

Jumlah KK

Tanah
Papan
Diplester/keramik
Total

(%)

0
0
10
10

0
0
100
100

d. Pintu
Seluruh rumah yang di inspeksi setiap ruang kamar terpasang pintu
namun tidak dilengkapi dengan kasa nyamuk.
Pintu

Jumlah KK

Persentase
(%)

Setiap ruang tidur


terpasang pintu
Setiap pintu ruang tidur

10

100

dipasang kasa nyamuk


Total

0
10

0
100

e. Jendela Kamar Tidur


Seluruh rumah di Dusun Logung yang kamar tidurnya tidak terdapat
jendela ada 0 rumah, sedangkan rumah yang terdapat jendela di kamar
tidur ada 10 rumah.
Jendela Kamar

Jumlah KK

Tidak ada
Ada
Total

0
10
10

f. Jendela ruang keluarga

30

Persentase
(%)
0
100
100

Seluruh rumah di Desa Legoksayem yang ruang keluarganya tidak


terdapat jendela ada 0 rumah, sedangkan rumah yang terdapat jendela
di ruang keluarga ada 10 rumah.
Jendela Ruang Keluarga

Jumlah KK

Tidak ada
Ada
Total

Persentase
(%)

0
10
10

100
100
100

g. Ventilasi
Rumah yang tidak terdapat ventilasi sebanyak 10 rumah. Sedangkan
rumah dengan luas ventilasi permanen <10% dari luas lantai sebanyak
1 rumah.
Ventilasi

Jumlah KK

Tidak ada
Ada,<10% luas lantai
Ada,>10% luas lantai
Total

Persentase (%)

1
4
5
10

10
40
50
100

h. Lubang asap dapur


Rumah yang tidak terdapat lubang asap pada dapur sebanyak 9 rumah.
Sedangkan rumah yang terdapat lubang asap pada dapur dengan luas
ventilasi permanen <10% dari luas lantai dapur sebanyak 1 rumah.
Lubang asap dapur

Jumlah KK

tidak ada
Ada,<10% luas lantai dapur
Ada,>10% luas lantai dapur
Total

Persentase (%)
0

9
1
10

90
10
100

i. Pencahayaan
Rumah dengan kondisi pencahayaan kurang jelas, sehingga untuk
membaca dengan normal terasa sakit sebanyak 0 rumah. Sedangkan
rumah dengan kondisi pencahayaan yang terang dan tidak silau
sehingga dapat dipergunakan untuk membaca normal sebanyak 10
rumah.
Pencahayaan

Jumlah KK

Tidak terang

0
31

Persentase (%)
0

Kurang terang
Terang
Total

0
10
10

0
100
100

2. Sarana Sanitasi
a. Sarana Air Bersih (SGL/SPT/PP/KU/PAH)
Keseluruhan sumber air bersih penduduk di Dusun Logung berasal dari
Penampungan Mata Air. Rumah yang memiliki sarana air bersih milik
sendiri, dan memenuhi syarat kesehatan sebanyak 9 rumah. Sedangkan
1 rumah dengan sarana air bersih bukan milik sendiri dan memenuhi
syarat.
SAB

Jumlah KK

Tidak ada
Ada, milik sendiri, TMS
Ada,bukan milik sendiri, MS
Ada,milik sendiri, MS
Total

Persentase (%)

0
0
1

0
0
10

9
10

90
100

b. Jamban (sarana pembuangan kotoran)


100 % rumah di Desa Logung memiliki sarana pembuangan kotoran
(jamban) dengan jenis leher angsa dan memiliki septic tank.
Jamban

Jumlah KK

Persentase (%)

Tidak ada
Ada,bukan leher angsa,tidak ada

tutup disalurkan kesungai


Ada,bukan leher angsa,di tutup

disalurkan kesungai
Ada,bukan leher angsa,di

0
10
10

0
100
100

tutup,septictank
Ada,leher angsa,septic tank
Total

c. Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL)


Keseluruhan rumah di Dusun Logung membuang limbah cair dari kamar
mandi maupun limbah cair dari dapur keselokan/ saluran terbuka.

SPAL

Jumlah KK

Tidak ada

Persentase (%)
0

32

Ada, mencemari sumber air


Ada,disalurkan ke saluran terbuka
Ada,diresapkan dan tidak
mencemari sumber air
Ada, disalurkan ke selokan
tertutup
Total
d. Sarana Pembuangan
Keseluruhan rumah

di

Dusun

Logung

0
10

0
100

0
10

100

menggunakan

sarana

pembuangan yang kedap air dan tidak tertutup.


Sarana Pembuangan

Jumlah KK

Tidak ada
Ada, tidak kedap air dan tidak ada tutup
Ada,kedap air dan tidak tertutup
Ada,kedap air dan tertutup
Total

Persentase
(%)

0
9
1
10

0
90
10
100

e. Tempat Sampah
Keseluruhan rumah di Dusun Logung belum tersedia tempat sampah,
mayoritas masyarakat, membuang sampah ke kebun maupun kesungai.
Tempat sampah

Jumlah KK

Persentase
(%)

Tidak ada
Ada, tidak kedap air & tidak

10

tertutup
Ada, kedap air & tertutup
Total

0
0
10

0
0
100

3. Perilaku Penghuni
a. Membuka jendela kamar tidur
Perilaku membuka jendela kamar tidur setiap hari biasa dilakukan di 3
rumah. Perilaku membuka jendela kadang-kadang dilakukan di 1 rumah.
Sedangkan perilaku tidak pernah membuka jendela dilakukan di 6
rumah.

Membuka jendela kamar tidur


33

Jumlah KK

Persentase
(%)

Tidak pernah dibuka


Kadang kadang
Setiap hari dibuka
Total

4
2
4
10

40
20
40
100

b. Membuka jendela ruang keluarga


Perilaku membuka jendela ruang keluarga setiap hari biasa
dilakukan di 2 rumah. Perilaku membuka jendela kadang-kadang
dilakukan di 1 rumah. Sedangkan perilaku tidak pernah membuka
jendela dilakukan di 4 rumah.
Membuka jendela ruang keluarga

Persentase

Jumlah KK

Tidak pernah dibuka


Kadang kadang
Setiap hari dibuka
Total

(%)

3
0
7
100

30
0
70
100

c. Membersihkan rumah dan halaman


Perilaku membersihkan rumah dan halaman 3 hari sekali dilakukan di 0
rumah. Sedangkan perilaku membersihkan rumah dan halaman
seminggu sekali dilakukan di 10 rumah.
Membersihkan halaman rumah

Persentase

Jumlah KK

Seminggu
3 hari
Setiap hari
Total

(%)

0
0
10
10

0
0
10
100

d. Cara membuang tinja


Perilaku buang air besar di jamban selalu dilakukan di 0 rumah.
Sedangkan perilaku membuang tinja ke sungai/ kolam/kebun dilakukan
di 10 rumah.
Cara membuang tinja

Persentase

Jumlah KK

Ke sungai/ kebun/ kolam


Ke WC/ jamban
Total
e. Membuang sampah pada tempat sampah

34

(%)
0

10
10

100
100

Keseluruhan penghuni rumah yang di inspeksi mempunyai perilaku


membuang sampah kesungai/ kebun maupun langsung dibakar.
Membuang sampah

Jumlah KK

Ke sungai/ kebun/ kolam/ bakar


Ke TPS/Petugas sampah
Dimanfaatkan/ didaur ulang
Total

Persentase (%)

10
0
0
10

100
0
0
100

4. Lain-lain
a. Kepadatan penghuni
Kepadatan penghuni < 8 m2/ orang terjadi pada 8 rumah dan kepadatan
penghuni >8 m2/ orang terjadi pada 2 rumah.
Kepadatan Penghuni

Persentase

Jumlah KK

< 8 m2/ orang

(%)
0

b.

>8 m / orang
10
100
Total
10
100
Tikus
Keseluruhan rumah yang di inspeksi di Dusun Logung ditemukan tikus.
Keberadaan Tikus

Persentase

Jumlah KK

Ada
Tidak ada
Total

(%)
6

60

4
10

40
100

c. Lalat
Keseluruhan rumah yang di inspeksi di Dusun Logung ditemukan lalat >
5 ekor/ rumah pada 4 rumah, dan lalat < 5 ekor sebanyak 6 rumah.
Keberadaan Lalat

Persentase

Jumlah KK

(%)

>5 ekor

40

<5 ekor
Total

6
10

60
100

d. Kecoa
Keseluruhan rumah yang di inspeksi di Dusun Logung ditemukan kecoa.
Keberadaan Kecoa

Persentase

Jumlah KK

Ada
Tidak ada
35

(%)

10

100

Total

10

100

e. Nyamuk
Keseluruhan rumah yang di inspeksi di Desa Legoksayem ditemukan
nyamuk.
Keberadaan Nyamuk
Ada
Tidak ada
Total
f.

Persentase

Jumlah KK

(%)
1

10

9
10

90
100

Menempatkan kandang ternak/ piaraan


Perilaku menempatkan kandang ternak/ piaraan didalam rumah/
menempel pada dinding rumah dilakukan di 4 rumah. Perilaku
menempatkan kandang ternak/ piaraan terpisah dengan rumah < 10 m
sebanyak 1 rumah. Sedangkan Perilaku menempatkan kandang ternak/
piaraan terpisah dengan rumah > 10 m atau tidak memiliki ternak
sebanyak 5 rumah.
Menempatkan kandang

Jumlah KK

piaraan/ternak
Didalam rumah/ Menempel dinding
rumah
Terpisah dengan rumah < 10 m
Terpisah dengan rumah > 10 m atau
tidak punya ternak
Total

Persentase (%)

2
1

20
10

7
10

70
100

3. Kategori Penilaian Rumah Sehat


No

Nama KK

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Anshori 3/6
Khamim 3/6
Khudlori 3/6
Ismanto 3/6
Muhlisin 3/6
Zumrodi 3/6
Utoyo
3/6
Munawwir 2/6
Turmudi 2/6
Istahri
2/6

Nilai/ Skor
1134
1133
1158
1046
1046
851
1015
1114
844
933
36

Keterangan
RTS
RTS
RTS
RTS
RTS
RTS
RTS
RTS
RTS
RTS

15

1114
Keterangan :
RTS
: Rumah Tidak Sehat
RS
: Rumah Sehat

Rumah

Persentase (%)

Jumlah KK

Rumah Sehat

10
10

100
100

Rumah Tidak
Sehat
Total KK

Berdasarkan hasil Survei Rumah Sehat di Dusun Logung, Desa


Jubelan, Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang dengan jumlah
KK yang disurvei sebanyak 10 KK, maka didapatkan hasil persentase
sebagaiberikut

37

4. Ratio Hasil Inspeksi


No

Komponen Yang Dinilai

Jumlah Nilai Hasil

Total Nilai

Inspeksi

Ratio
(%)

1
2
3
5
6
7
8
9
10
11

Langit-langit
Dinding
Lantai
Jendela kamar tidur
Jendela ruang keluarga
Ventilasi
Lubang asap dapur
Pencahayaan
SAB
Kepemilikian dan Kualitas

403
589
620
310
310
434
341
620
975
975

Keseluruhan
620
930
620
310
310
620
620
620
1000
1000

12
13
14
15
16

SAB
Jamban
SPAL
Tempat sampah
Membuka jendela
Membersihkan rumah dan

1000
500
500
528
880

1000
1000
750
880
880

17
18
19
20
21
22
23
24

halaman
Membuang tinja
Pengelolaan sampah
Kepadatan penghuni
Tikus
Lalat
Kecoa
Nyamuk
Menempatkan
kandang

836
0
10
4
6
0
9
1100

880
0,95
750
0
10
0
10
40
10
60
10
5
9
0
1320 83,33

25
26
27
28
29
30
31

ternak/ piaraan
Diare
ISPA
TB Paru
Kulit
Malaria
DBD
Thypoid

6
10
10
9
10
10
8

38

10
10
10
10
10
10
10

65
63,33
0
0
0
55,32
55
0
97,5
97,5
0
50
66,67
60
0

60
0
0
90
0
0
80

B. Pembahasan
1. Permasalahan Sanitasi Permukiman
Berdasarkan hasil Survei Sanitasi Permukiman di RT 03 RW 06 Dusun
Logung, Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang
dengan jumlah KK yang disurvey sebanyak 10 KK, maka ditemukan
permasalahan tentang sanitasi permukiman sebagai berikut :
a. Akses jalan di wilayah Dusun Logung banyak dijumpai tikungantikungan tajam serta ketika terjadi hujan jalan lumayan licin dan
b.

berkabut.
sistem drainase yang tersedia mempunyai fungsi ganda yaitu selain
sebagai pembuangan air hujan, sistem ini juga berfungsi sebagai
sarana pembuangan air limbah dari kamar mandi dan dapur serta tidak
jarang ditemui banyak terjadi penyumbatan akibat sampah yang di

c.

buang pada saluran ini.


Ada beberapa titik diwilayah Desa Legoksayem yang merupakan
kawasan perbukitan yang mana kondisi tanahnya cukup labil dan jika
turun hujan tidak jarang sering terjadi longsor sehingga tidak

d.

memungkinkan untuk didirikan bangunan.


Pada beberapa titik terdapat bagian jalan yang berlubang sehingga

e.

ketika turun hujan menimbulkan genangan air/ becek.


Wilayah Dusun Logung ketersediaan lampu penerangannya kurang
mencukupi

f.

karena

di

sepanjang

jalan

belum

terdapat

lampu

penerangan
Di wilayah Dusun Logung tidak terdapat rambu-rambu lalu-lintas,
padahal banyak titik yang menjadi rawan kecelakaan lalu lintas, misal

g.

pada tikungan yang terdapat pada jalan masuk Dusun Logung.


Pipa yang digunakan sejenis PVC, pipa karet/ selang

dan

peletakkannyapun jadi satu dengan saluran pembuangan air limbah


serta pengecekan dan perawatan terhadap sistem perpipaan jarang
h.
i.

dilakukan.
Bak penampungan air yang tersedia tidak tertutup
Saluran air limbah kedap air dan menggunakan sistem terbuka
serta air limbah mengalir dengan tidak lancar. Keadaan yang demikian
dapat

beresiko

mengundang
39

vektor

penyakit

dan

binatang

pengganggu (seperti lalat, kecoa, nyamuk, dan tikus) serta dapat


mengganggu estetika (bau dan lingkungan yang kotor).
j.

Wilayah Desa Logung

belum tersedia tempat sampah yang

memenuhi , mereka membuang sampah di kebun / sungai dan sisanya


sampah dibakar di pekarangan.
k.

Di wilayah Dusun Logung belum tersedia tempat pengumpulan


sampah sementara.

l.
m.

Di wilayah Dusun Logung belum tersedia jamban umum.


Di Dusun Logung belum tersedia pos keamanan/ pos kampling dan
toilet umum.

n.

Bangunan sekolah Madrasah Aliyah tidak memenuhi syarat, tidak


terdapat taman sekolah, fasilitas tempat parkir yang tidak aman dan
terlindung, tidak terdapat Alat Pemadam Kebakaran Ringan (APAR) ,
serta kondisi lapangan yang tidak memenuhi syarat ,dan kondisi
halaman sekolah yang tidak rata sehingga menimblukan genangan air
saat terjadi hujan

2. Pemecahan Masalah Sanitasi Permukiman


Berdasarkan hasil Survei Sanitasi Permukiman di Dusun Logung, Desa
Jubelan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang telah ditemukan
berbagai macam permasalahan, untuk mengatasi masalah tentang sanitasi
permukiman ditempat tersebut adalah sebagai berikut :
a. Ketika terjadi hujan jalan lumayan licin dan berkabut sebaiknya
pengguna jalan lebih hati-hati dan mengurangi kecepatan kendaraan
serta menghidupkan lampu kendaraan, Serta sebaiknya dipasang
lampu penerangan untuk jalan sehingga mempermudah kelancaran
b.

mobilitas pada waktu malam hari.


Sebaiknya dibangun sistem drainase yang memenuhi persyaratan
(kedap air, tertutup, dapat mengalir lancar/ kemiringan 2-3%) serta
terpisah dengan saluran pembuangan air limbah dapur maupun kamar

c.

mandi.
Sebaiknya dibangun SPAL khusus yang memenuhi syarat (kedap air,
tertutup, dapat mengalir lancar/ kemiringan 2-3%) untuk saluran
pembuangan limbah dari dapur dan kamar mandi

40

d.

Sebaiknya dilakukan pembersihan secara rutin pada selokan, sistem


drainase maupun SPAL agar tidak terjadi penyumbatan akibat sampah/

e.

kotoran yang lainnya.


Sebaiknya pada beberapa titik disediakan tempat sampah yang
disertai dengan slogan anjuran/ perintah/ larangan untuk tdak
membuang sampah disembarang tempat. Tempat sampah yang
tersedia sebaiknya kokoh, kuat, kedap air, ringan, mudah dikosongkan,
dilengkapi penutup, tahan korosif, terpisah sesuai jenis, permukaan
bagian dalam rata, serta jumlah dan volume tempat sampah sesuai
dengan produksi sampah yang dihasilkan masyarakat diwilayah

f.

tersebut.
Sebaiknya masyarakat tidak mendirikan bangunan pada kawasan
perbukitan yang mana kondisi tanahnya cukup labil/ sering terjadi

g.

longsor.
Sebaiknya dilakukan perbaikan jalan berupa penambalan bagian jalan

h.

yang berlubang sehingga ketika turun hujan tidak terjadi genangan air.
Sebaiknya dari pemerintah desa maupun tokoh masyarakat
mengupayakan tersedianya lampu penerangan di sepanjang jalan di
wilayah Dusun Logung, baik itu dari swadaya masyarakat maupun dari

i.

dana APBD desa.


Sebaiknya diusahakan tersedianya rambu-rambu lalu-lintas/ slogan
peringatan (seperti: kurangi kecepatan, pelan-pelan, hati-hati) untuk

j.

mengatur lalu lintas kendaraan di wilayah Dusun Logung.


Sebaiknya seluruh perpipaan yang digunakan adalah pipa PVC dan
peletakkannyapun terpisah dengan saluran pembuangan air limbah
serta secara rutin dilakukan pengecekan dan perawatan terhadap

k.

sistem perpipaan.
Bak penampungan air yang tersedia sebaiknya dilengkapi dengan
penutup untuk menghindari terjadinya pencemaran air dari lingkungan
(seperti debu, dedaunan, binatang, maupun serangga)

l.

Sebaiknya saluran air limbah dibuat kedap air dan menggunakan


sistem tertutup serta secara rutin dilakukan pengecekan dan
pembersihan saluran agar tidak terjadi penyumbatan dan apabila
terjadi kerusakan dapat segera mendapatkan penanganan.

m. Sebaiknya masyarakat di wilayah

desa Logung

memelihara

kebersihan saluran dengan secara rutin dilakukan gotong royong


41

membersihkan saluran serta tidak membuang sampah di saluran


pembuangan air limbah.
n.

Di wilayah Dusun Logung

sebaiknya diusahakan tersedia tempat

pengumpulan sampah sementara yang dapat menampung seluruh


sampah yang dihasilkan dari masyarakat diwilayah tersebut.
o.

Secara rutin diberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pola


hidup bersih dan sehat terutama dibidang sanitasi dasar (meliputi
pengelolaan sampah, penanganan tinja dan limbah cair, pengendalian
vektor, penyediaan air minum keluarga, pengelolaan makanan, dst)

p.

Sebaiknya pihak pemerintah di wilayah Dusun Logung mengusahakan


tersedianya fasilitas umum seperti pos keamanan/ pos kampling dan
toilet umum/ jamban umum.

q.

Pihak pengelola sekolah sebaiknya segera melakukan perbaikan


terhadap fasilitas-fasilitas sekolah yang rusak serta mengupayakan
dibagunnya pagar pelindung yang mengelilingi sekolah agar menjamin
keselamatan siswa-siswinya.

3. Prioritas Masalah Sanitasi Rumah


Berdasarkan hasil Inspeksi Sanitasi rumah sehat yang kami lakukan di di
RT 03 RW 06

Dusun Logung, Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono,

Kabupaten Semarang didapatkan beberapa permasalahan, diantaranya


dapat diprioritaskan sebagai berikut:
a. Perilaku Masyarakat Membuang Sampah Sembarangan
Mayoritas masyarakat
Dusun Logung mempunyai

kebiasaan

membuang sampah sembarangan dengan ratio perilaku masyarakat


untuk membuang sampah pada tempatnya adalah 0%. Hal ini berarti
sampah sisa/ hasil dari aktivitas sehari-hari masyarakat dibuang ke
kebun, ke sungai maupun dibakar. Sampah yang dibuang kesungai
biasanya menyumbat aliran sungai sehingga ketika turun hujan sungai
menjadi meluap dan dapat merusak kontruksi jalan.
b. Lubang Asap Dapur
Mayoritas rumah di Dusun Logung Masyarakat yang rumahnya sudah
tersedia lubang asap dapur dengan luas < 10% luas lantai dapur
sebanyak 90% dan ratio terdapatnya lubang asap dengan luas 10%
dapur sebesar 10%. Tidak tersedianya lubang asap dapur dan

42

penggunaan lubang asap dapur yang tidak memenuhi syarat dapat


menyebabkan udara didalam rumah menjadi pengap dan kotor,
lingkungan dalam rumah kotor, serta kondisi rumah yang demikian juga
dapat memungkinkan timbulnya penyakit ISPA sesak nafas maupun
gangguan pernafasan yang lainnya.
c. Ventilasi
10% masyarakat Dusun Logung

tidak mempunyai ventilasi, 40%

masyarakat di Dusun Logung yang rumahnya di inspeksi belum tersedia


ventilasi dan 20% sudah tersedia ventilasi namun < 10% luas lantai.
Sedangkan ratio rumah yang tersedia ventilasi > 10% dari luas lantai
50%. Hal ini berarti bahwa 50 % rumah di Dusun Logung mempunyai
resiko terkena penyakit yang disebabkan lingkungan lingkungan rumah
yang kurang sehat (seperti ISPA, sesak nafas, dll) karena rumah yang
tidak tersedia ventilasi >10% dari luas lantai menyebabkan udara dalam
ruangan tidak dapat bersirkulasi dengan lancar, sehingga udara menjadi
pengap dan kotor.
d. Perilaku Membuka Jendela
Ratio Masyarakat Dusun Logung yang mempunyai perilaku membuka
jendela setiap hari adalah

20 %. Hal ini menunjukkan bahwa 80%

rumah mempunyai resiko lebih besar terkena penyakit yang disebabkan


kondisi lingkungan rumah yang kurang sehat seperti TBC, ISPA,
influenza, dsb. Ratio perilaku masyarakat tersebut menunjukkan bahwa
sebagian

besar

masyarakat

Dusun

Logung

masih

mempunyai

kebiasaan tidak membuka jendela setiap hari atau bahkan tidak pernah
membuka jendela rumahnya.. Jendela rumah yang tidak dibuka setiap
hari menyebabkan udara didalam rumah tidak dapat bersirkulasi dengan
lancar sehingga udara kotor tetap berada diruangan dan dapat
berpotensi menimbulkan berbagai penyakit saluran nafas ( seperti TBC,
ISPA,dll).
e. Membersihkan halaman dan rumah
100% masyarakat di Dusun Logung

yang rumahnya di inspeksi

mempunyai kebiasaan membersihkan rumah dan halaman setiap satu


hari sekali yaitu pada waktu pagi hari sebelum mereka beraktifitas
mdengan pekerjaanya. Rumah dan halaman yang tidak pernah disapu/
dibersihkan menyebabkan kondisi rumah menjadi kotor dan berantakan
serta dapat memungkinkan sebagai sarang tikus maupun serangga.
43

f.

Lantai
100% lantai rumah di Dusun Logung telah memiliki lantai yang kedap
air, kuat, permukaannya rata dan mudah dibersihkan. Namun sebagian
besar lantai rumah di desa tersebut kondisinya kotor, berdebu. Kondisi
yang demikian selain mengganggu estetika, juga dapat mengundang
lalat dan menyebabkan penghuni menjadi tidak nyaman berada didalam

rumah.
g. Jamban
100% rumah di Desa Legoksayem sudah memiliki sarana pembuangan
kotoran (jamban) dengan jenis leher angsa dan dilengkapi septic tank..
h. Saluran Pembuangan Air Limbah
100% rumah yang di inspeksi menggunakan saluran pembuangan air
limbah yang dialirkan ke selokan/ saluran terbuka. Dengan demikian
sebagian masyarakat di Desa Legoksayem menggunakan saluran
pembuangan

air

limbah

dengan

saluran

terbuka

yang

dapat

memungkinkan terjadinya pencemaran udara (menimbulkan bau),


mengganggu estetika dan dapat menjadi sarang vektor penyakit.
i. Perilaku Menempatkan Kandang Ternak
Masyarakat Desa Legoksayem yang mempunyai perilaku menempatkan
kandang ternak didalam rumah/ menempel pada dinding rumah
sebanyak

20%, dan terpisah dari rumah < 10 m sebanyak 10%.

Sedangkan ratio perilaku masyarakat dalam menempatkan kandang


ternak/ piaraan secara baik dan benar (terpisah dengan rumah > 10 %)
adalah 50%. Perilaku masyarakat yang menempatkan kandang ternak
didalam rumah/ menempel pada dinding rumah dapat memungkinkan
terjadinya penularan penyakit seperti anthraks, kolera, diare, dan
j.

penyakit pencernaan lainnya.


SAB
Seluruh masyarakat di Dusun Logung menggunakan air bersih yang
berasal dari mata air yang terlindungi, dari sumur maupun dari air
PDAM. Sistem distribusi air bersih menggunakan sistem perpipaan.
Meskipun

demikian,

namun

dalam

pendistribusiannya

perpipaan

tersebut diletakkan pada selokan/ saluran pembuangan air limbah.


Kondisi yang demikian sangat berpotensi terjadinya pencemaran air
limbah terhadap air bersih didalam pipa, karena kegiatan pemantauan
dan perawatan pipa jarang dilakukan serta apabila terjadi kebocoran
tidak segera ditangani dan biasanya hanya diikat dengan karet/ tali.
44

4. Alternatif Pemecahan Masalah Rumah Sehat


Berdasarkan permasalahan diatas, dapat dilakukan beberapa alternatif
pemecahan masalah, diantaranya:
a. Diwilayah tersebut diupayakan tersedianya TPS yang memenuhi
persyaratan yang mampu menampung sampah yang dihasilkan dari
masyarakat wilayah Dusun Logung.
b. Mensosialisasikan/ melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang
pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
c. Mengupayakan tersedianya ventilasi/ lubang

asap

dapur

yang

memenuhi persyaratan yaitu 10% dari luas lantai dapur agar dapat
terjadi sirkulasi udara secara lancar sehingga dapur tidak panas dan
pengap.
d. Sebaiknya rumah diupayakan tersedianya ventilasi/ lubang udara > 10
% luas lantai sehingga dapat terjadi pertukaran udara dengan lancar
dan rumah menjadi tidak pengap.
e. Jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari agar dapat terjadi
pertukaran udara secara lancar dan cahaya dapat masuk kedalam
f.

rumah, sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit ISPA, TBC, dll.


Sebaiknya bagian dalam rumah maupun halaman rumah dibersihkan
secara rutin minimal 2 kali sehari, sehingga lingkungan rumah menjadi

bersih dan terpelihara dengan baik.


g. Sebaiknya setiap rumah tersedia jamban dan septictank karena selain
lebih aman, nyaman, dan efisien waktu, dengan BAB dijamban dapat
meminimalkan terjadinya penularan penyakit yang berbasis lingkungan
(seperti diare, kolera, thypus, dll)
h. Sebaiknya saluran pembuangan air limbah dibuang dibuat saluran yang
kedap air dan tertutup, sehingga limbah tidak mencemari lingkungan,
serta mengindarkan saluran tersebut sebagai sarang tikus, serangga,
i.

maupun vektor penyakit.


Memberikan informasi

kepada

masyarakat

akan

pentingnya

menempatkan kandang ternak/ piaraan secara baik dan benar (diluar


rumah dengan jarak > 10 m) sehingga terhindar dari resiko tertular
penyakit seperti anthraks, dire, kolera, dsb.
j.
Sebaiknya pipa distribusi tidak diletakkan pada selokan, dapat
diiletakkan dipermukaan tanah/ dengan digantung pada bagian mulut
selokan (tidak terkena air limbah) serta dilakukan pengecekan dan

45

perawatan rutin terhadap pipa sehingga ketika terjadi kerusakan/


kebocoran langsung mendapatkan penanganan.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil survei Inspeksi Sanitasi Permukiman dan Inspeksi Sanitasi
Rumah Sehat di di RT 03 RW 06 Dusun Logung, Desa Jubelan, Kecamatan
Sumowono, Kabupaten Semarang, maka dapat disimpulkan bahwa untuk
hasil inspeksi sanitasi permukiman didapatkan hasil penilaian 53,34 dengan
kategori Sanitasi Permukiman Cukup Baik. Hasil peniliaian diperoleh dari
perhitungan dengan instrumen checklist sanitasi permukiman. Sementara itu
hasil penilaian inspeksi sanitasi rumah sehat dengan jumlah sampel yang
diambil sebanyak 10 rumah/ KK yang di survei, mayoritas rumah warga di
desa tersebut termasuk dalam kategori Rumah Sehat dengan persentasi 0%
dari Jumlah 10 KK. Sedangkan kategori Rumah Tidak Sehat sebanyak 100
%.
A. SARAN
1. Bagi Pemerintah
Sebaiknya pemerintah selalu memperhatikan derajat kesehatan di Dusun
Logung, Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang
terutama pada aspek preventif yaitu menciptakan suatu lingkungan yang
memiliki sanitasi yang baik. Hal ini diterapkan supaya derajat kesehatan di
desa tersebut semakin meningkat dan resiko terjadinya wabah penyakit
menular dapat diminimalisir atau dikendalikan.
2. Bagi Masyarakat
a. Sebaiknya sewaktu pelaksanaan survei rumah sehat disesuaikan
dengan kondisi warga, agar setiap rumah yang ada di RT tersebut dapat
di survei secara menyeluruh.
b. Sebaiknya seluruh warga yang sudah memiliki perilaku penerapan
sanitasi pada rumah dan PHBS sebaiknya dipertahankan dan atau
ditingkatkan, supaya kondisi kesehatan penghuni tetap terjaga.
c. Sebaiknya warga senantiasa menjaga kebersihan rumah dan halaman.
46

d. Sebaiknya warga selalu membiasakan diri berperilaku hidup bersih dan


sehat (PHBS)
e. Sebaiknya warga senantiasa menjaga kebersihan sarana yang ada di
rumah.

DAFTAR PUSTAKA
Budiman Chandra.2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta:EGC
Budiman Chandra.2007. Pengantar Kesehatan Lingkugan. Jakarta:EGC
Depkes RI Ditjen PPM dan PL (2002).Pedoman Teknis Penilaian Rumah
Sehat.
Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 ttg Persyaratan Kesehatan
Perumahan.
Mahfoedz, Irham.2008, Menjaga Kesehatan Rumah Dari Berbagai Penyakit.
Jogyakarta.

47

Munif

Arifin,

2009.

Rumah

Sehat

dan

Lingkunganya.

diakses

dari

environmentalsanitation.wordpress.com, November 2011.


Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-prinsip Dasar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Suhadi,
2007.
Penyakit

Tuberkolosis

Paru.

Diakses

dari

"http://www.clubpenakita.blogspot.com/2009/06/penyakit-tuberkulosisparu.htmlwww.clubpenakita.blogspot.com/2009/06/penyakit-tuberkulosisparu.html, November 2011.


Sanropie, D. 1991. Pengawasan Penyeharan Lingkungan Pemukiman. Jakarta:
Dirjen PPM dan PLP.
Soedjajadi
Keman,

Kesehatan

Lingkungan

Pemukiman.

"http://library.unair.ac.id/download/fkm/fkm-soedjajadikeman.ppt"
http://library.unair.ac.id/download/fkm/fkm-soedjajadikeman.ppt. Universitas Air
Langga, 2006.
UU RI No.4 Tahun 1992 ttg Perumahan dan Pemukiman.

Lampiran Form Inspeksi Sanitasi Permukiman dan Rumah Sehat

48