Anda di halaman 1dari 11

PEMBUATAN EMULSI MINYAK IKAN

A.
1.
2.
3.

TUJUAN
Mahasiswa mampu membuat sediaan emulsi dengan baik dan benar.
Mahasiswa mampu menghitung dosis dan jumlah bahan dengan tepat
Mahasiswa mampu mengevaluasi sediaan emlsi meliputi Organoleptis, BJ, pH, dan
Viskositas.
B. DASAR TEORI
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi
dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok
( Depkes RI, 1979).
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya
air dan minyak, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan
yang lain. Dispersi ini tidak stabil, butir-butir ini bergabung (koalesen) dan membentuk dua
lapisan air dan minyak yang terpisah ( Anief, 2006).
Dalam bidang farmasi, emulsi biasanya terdiri dari minyak dan air. Berdasarkan fase
terdispersinya, dikenal dua jenis emulsi, yaitu :
1. Emulsi minyak dalam air, yaitu bila fase minyak terdispersi dalam fase air.
2. Emulsi air dalam minyak, yaitu bila fase air terdispersi dalam fase minyak.
Dalam pembuatan emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk
diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator
yang digunakan. Surfaktan seringkali digunakan dalam pembuatan suatu emulsi. Mekanisme
kerjanya adalah menurunkan tegangan antarmuka permukaan air dan minyak serta
membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fase terdispersinya. Zat pengemulsi
adalah PGA, Tragacanth, gelatin, sapo, senyawa Ammonium kwartener, cholesterol, surfaktan
seperti tween dan span (Ansel, 1989).
HLB adalah singkatan dari Hydrophiel-Lypophiel Balance. Nomor HLB diberikan bagi tiaptiap surfaktan. Daftar di bawah inimenunjukkan hubungan nilai HLB dengan bermacammacam tipe sistem.
Nilai HLB

Tipe sistem

36

A/M emulgator

79

Zat pembasah ( wetting agent)

8 18

M/A emulgator

13 15

Zat pembersih (detergent)

15 18

Zat penambah pelarutan (solubilizer)

Makin rendah nilai HLB suatu surfaktan maka semakin akan semakin lipofil surfaktan
tersebut, sedangkan makin tinggi nilai HLB surfaktan akan semakin hidrofil (Anief, 2006).
Cara menentukan HLB ideal bagi suatu emulsi apabila kebutuhan HLB tidak diketahui ada
tiga fase.
1. Fase I.
Menentukan HLB yang dibutuhkan secara kira-kira. Caranya dibuat 5 macam atau lebig
emulsi suatu zat cair dengan sembarang campuran surfaktan dengan klas kimia yang sama.
Dari hasil emulsi dapat dibedakan salah satu yang terbaik diperoleh HLB kira-kira. Bila

semua emulsi baik atau jelek maka percobaan diulang dengan mengurangi atau menambah
emulgator.

2. Fase II
Membuat 5 macam emulsi lagi dengan nilai HLB di sekitar HLB yang diperoleh dari fase I.
dari kelima emulsi, dipilih hasil yang terbaik, maka diperoleh nilai HLB yang ideal.
3. Fase III
Membuat 5 macam emulsi lagi dengan nilai HLB yang ideal dari fase II dengan menggunakan
bermacam-macam surfaktan atau campuran surfaktan. Dari emulsi yang paling baik, dapat
diperoleh campuran surfaktan mana yang paling baik / ideal (Anief, 2006).
Ketidakstabilan dalam emulsi farmasi dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Flokulasi dan Creaming
Creaming merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapisan cairan, dimana
masing-masing lapisan mengandung fase dispers yang berbeda.
b. Koalesen dan pecahnya emulsi (cracking atau breaking). Creaming adalah proses yang
bersifat dapat kembali, berbeda dengan proses cracking ( pecahnya emulsi) yang bersifat tidak
dapat kembali. Pada creaming, flokul fase dispers mudah didispersi kembalidan terjadi
campuran homogen bila digojok perlahan. Sedang pada cracking,penggojokan sederhana akan
gagal untuk mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang stabil.
c. Inversi, adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi M/A ke tipe A/M atau
sebaliknya (Anief, 2006).

C.
1.
Pemerian
Kelarutan
Khasiat
Dosis

PEMERIAN dan KELARUTAN


Oleum Iecoris
: cairan; kuning pucat; bau khas, agak manis, tidak tengik; rasa khas.
: sukar larut dalam etanol (95%) P; mudah larut dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam
eter minyak tanah P.
: sumber vitamin A dan D ( Depkes RI, 1979)
: dewasa : 1x = - ; 1hr = 15mL 30mL ( Obat-Obat Penting, 2007)

2. Natrii Carboxymethylcellulosum
Pemerian
: serbuk atau butiran; putih atau putih kuning gading; tidak berbau atau hampir tidak berbau;
higroskopik.
Kelarutan : mudah mendispersi dalam air, membentuk suspensi koloidal; tidak larut dalam etanol (95%)
P, dalam eter P, dan dalam pelarut organic lain.

Khasiat
: zat tambahan ( emulgator ) ( Depkes RI, 1979)
Penggunaan : emulsifying agent : 0,25% - 1% ( Rowe, 2009)
3. Tween 80 ( Polysorbatum)
Pemerian
: cairan kental seperti minyak; jernih, kuning; bau asam lemak, khas
Kelarutan : mudah larut dalam air, dalam etanol (95%)P, dalam etil asetat P, dan dalam methanol P;
sukar larut dalam paraffin cair P, dan dalam minyak biji kapas P.
Khasiat
: zat tambahan ( emulgator ) ( Depkes RI, 1979 )
Kadar
: 1% 10% ( Rowe, 2009)

4. Sorbitolum
Pemerian
: serbuk, butiran atau kepingan; putih; rasa manis; higroskopik
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%) P, dalam methanol P, dan
dalam asam asetat P.
Khasiat
: zat tambahan ( humectant) ( Depkes RI, 1979)
Kadar
: 3 15% untuk humectant ( Rowe, 2009)
5.
Pemerian
Kelarutan
Khasiat
Komposisi

Sir. Simplex
: cairan jernih tidak berwarna, mengandung sakarosa 65% dalam larutan nipagin
: larut dalam air
: zat tambahan (Pemanis) (Anief, 2006)
: sakarosa 65% dan nipagin 35% (Anief, 2006)

D. ALAT dan BAHAN


ALAT

E.

BAHAN

Gelas ukur

Minyak ikan

Batang pengaduk

CMC Na

Beaker glass

Tween 80

Lampu spiritus

Sorbitol

Gelas ukur

Sirupus simplex

Viscometer broke field

Sunset yellow

Piknometer

Ess. Orange

pH meter

Na Benzoat

Neraca

Aquadest

R/

Ol. Iecoris Asseli


CMC Na
Tween 80
Sorbitol
Na Benzoat
Sir. Simplex
Sunset yellow
Ess. Orange
Aquadest
ad

10mL/15mL
1%
1%
5%
0,1%
10%
0,01%
8 10 tetes
60 mL

FORMULA

F. PERHITUNGAN DOSIS
Dosis 1hr = 15mL 30 mL (Obat-Obat Penting, 2007)
Penetapan dosis :
17,5 mL ( 1 sendok makan)
= 15 mL minyak ikan
15 mL ( 1 sendok makan)
= 10 mL minyak ikan
7,5 mL ( sendok makan) = 5 mL minyak ikan
3,25 mL ( sendok makan)
= 2,5 mL minyak ikan

Perhitungan dosis satu hari


Usia

Perhitungan

Rentang

Pemakaian

Cek dosis 1x

(Tahun
)

Dosis 1hr

dosis(mg)

1hr(sendok
takar)

2/14 X 15 30

2,14 4,28

sdm

2,5/4,28=0,58O
D

3/15 x 15 30

36

sdm

5/6=0,83OD

4/16 x 15 30

3,75 7,5

sdm

5/7,5=0,66OD

5/17 x 15 30

4,41 8,82

sdm

5/8,82=0,56OD

6/18 x 15 30

5 - 10

sdm

5/10=0,5OD

7/19 x 15 30

5,52 11,05

1 sdm

10/11,05=0,90O
D

8/20 x 15 30

6 - 12

1 sdm

10/12=0,83OD

9/20 x 15 30

6,75 13,5

1 sdm

10/13,5=0,74O
D

10

10/20 x 15
30

7,5 - 15

1 sdm

10/15=0,66OD

1 sdm

15/16,5=0,90O
D

1 sdm

15/18=0,83OD

11

11/20 x 15 30 8,25 16,5

12

12/20 x 15
30

Aturan pakai :
2 tahun
3 6 tahun
7 10 tahun
11 12 tahun

9 18

: 1 x sehari sendok makan


: 1 x sehari sendok makan
: 1 x sehari 1 sendok makan
: 1 x sehari 1 sendok makan

G. JUMLAH BAHAN
Nama Bahan

1 Formula

5 Formula

Ol. Iecoris asseli

10/15 x 60 mL = 40 mL

40 mL x 5 = 200 mL

Tween 80

1/100 x 60 mL = 0,6mL

0,6g x 5 = 3mL

CMC Na
Air untuk CMC Na

1/100 x 60 mL = 0,6g

0,6g x 5 = 3g

10 20 x 0,6g = 6 12g

10 20 x 3g = 30 60g

Sir. Simplex
Fruktosa
Nipagin

10/100 x 60 mL = 6 mL

6mL x 5 = 30mL

65/100 x 6mL = 3,9mL

3,9mL x 5 = 19,5mL

35/100 x 6 mL = 2,1mL

2,1 mL x 5 = 10,5 mL

Na Benzoat

0,1/100 x 60 mL = 0,06 mL x 5 = 0,3g


0,06g

Sorbitol

5/100 x 60 mL = 0,3g

Sunset Yellow

0,01/100 x 60 mL = 0,006g x 5 = 0,03g


0,006g

Ess. Orange

8 10 tetes

0,3g x 5 = 1,5g

40 50 tetes

Aquadest

60 (40 + 0,6 + 0,6 + 12 0,38 mL x 5 = 1,9 mL


+ 6 + 0,06 + 0,3 + 0,06 )
= 0,38mL

H. CARA KERJA
Pembuatan sediaan :
Dikalibrasi botol / beakerglass 100mL

Ditimbang oleum iecoris asseli, dimasukkan beakerglass

Ditimbang CMC Na dan dikembangkan dalam air, diaduk hingga mngembang

Ditimbang tween 80 sebanyak 3mL

Minyak ikan, CMC Na, dan tween 80 dimasukkan ke dalam blender, diblender 3 5 menit

Hasil dimasukkan ke dalam beaker glass

Diambil sedikit emulsi dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi untuk uji stabilitas

Ditentukan viskositasnya dengan viscometer brokefield

Dilakukan evaluasi

Evaluasi sediaan :
1. Organoleptis
Diamati warna

Dicium bau sediaan

Dirasakan rasa sediaan


2. pH
dimasukkan pH meter ke dalam wadah berisi sediaan


Diputar hingga menunjukkan angka yang ditetapkan

Dicatat hasilnya
3. Bobot Jenis
bandingkan BJ sediaan dengan BJ air menggunakan piknometer
caranya :
ditimbang piknometer kosong, catat bobotnya

Ditimbang piknometer berisi air, catat bobotnya

Ditimbang piknometer berisi sediaan, catat bobotnya dan bandingkan

4. Viskositas
Disiapkan Viskometer Brokefield

Disiapkan emulsi yang akan diuji dalam beakerglass

Diletakkan beakerglass berisi emulsi di bawah spindle

Dinyalakan Viscometer Brokefield

Dicatat hasil yang tertera di Viskometer


5. Kestabilan
Dimasukkan sediaan emulsi ke dalam tabung reaksi

Dikocok mulsi beberapa saat

Diamati kecepatan pemisahan sediaan emulsi menjadi dua lapisan

6. Tipe Emulsi
Tipe A/M ( air dalam minyak )
Metode pengenceran
: terjadi campuran homogen bila diencerkan dengan air
Metode pewarnaan
: emulsi dapat terwarnai dengan metilen blue
Konduktivitas listrik
: mampu menghantarkan listrik / lampu menyala
Metode penyaringan
: bila disaring dengan kertas saring dapat menyebabkan kertas
saring basah.
Tipe M/A ( minyak dalam air )
Metode pengenceran
: tidak terjadi campuran homogen

Metode pewarnaan
Konduktivitas listrik
Metode penyaringan

: emulsi dapat terwarnai dengan sudan III


: tidak dapat menghantarkan listrik / lampu tidak menyala
: bila disaring dengan kertas saring akan muncul bercak minyak

I. HASIL
1. Organoleptis
Bentuk
: cairan kental
Bau
: khas minyak ikan
Warna
: putih kekuningan
Rasa
: manis-amis
2. Viskositas
: 124,5 cps 41,2%
3. pH
: 2,94
4. Tipe emulsi
: air dalam minyak ( A/M )
5. BJ :
Pikno kosong
= 9,82
Pikno + air
= 20,40
Pikno + sediaan
= 19,73
V air = ( m pikno + air) pikno kosong
air
= 20,40 9,82
1
= 10,58

sed = m sediaan
V air
= 19,73 9,82
10,58
= 0,94
BJ
= sediaan
air
= 0,94
1
= 0,94
6. Kestabilan : stabil
J. DATA PENGAMATAN

Kel. 1
Kelompok
evaluasi

Kel. 2

Kel. 3

Kel. 4

Zat aktif
organoleptis
Bentuk
Bau
warna
Rasa

Paraffin liquid
Cairan
kental

Sediaan cair

Oleum Iecoris Asseli


Cairan
kental

Cairan
kental

Tidak berbau jeruk

minyak ikan

Minyak ikan

Putih susu

orange

Putih-kuning Putih

Sedikit
manis

manis

Amis-manis

Manis

pH

5,27

3,88

2,94

3,40

Viskositas

49,0%

18,8%

41,2%

60,9%

BJ

0,9557

0,95

0,94

0,98

Kestabilan

Tidak stabil

Stabil

Stabil

Tidak stabil

Tipe emulsi

M/A

M/A

A/M

A/M

K. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan diharuskan untuk membuat emulsi dengan dua zat
aktif yaitu paraffin liquid dan oleum iecoris asseli. Paraffin liquidum pada umumnya
digunakan sebagai laksativa, sementara oleum iecoris asseli digunakan untuk memenuhi
kebutuhan vitamin A dan D bagi tubuh. Selain itu, minyak ikan dapat memperbaiki nafsu
makan. Emulsi sendiri adalah campuran antara air dan minyak. Seperti yang kita ketahui, air
dan minyak tidak dapat dicampurkan begitu saja, sehingga perlu adanya bantuan, yaitu
emulgator. Dalam suatu sediaan emulsi, emulgator berfungsi untuk menjaga kestabilan
emulsi. Oleh karena itu, pemilihan emulgator yang tepat merupakan suatu hal yang sangat
penting dalam pembuatan emulsi.
Pada praktikum kali ini, emulgator yang digunakan untuk paraffin liquid adalah tween
75% dan span 25% untuk kelompok 1. Kelompok 2 tween 25% dan span 75%. Sementara
kelompok 3 menggunakan tween 80 1% dan CMC Na 1%. Kelompok 4 menggunakan tween
80 dengan konsentrasi 5% dan CMC Na 0,5%. Dalam pembuatan emulsi mnggunakan
campuran surfaktan seperti tween dan span, harus dihitung HLB butuh terlebih dahulu. Ini
digunakan untuk memperhitungkan apakah emulgator mampu mencampurkan fase air dan
minyak atau tidak.
Dalam pembuatan emulsi paraffin liquid pada prinsipnya, paraffin harus dipanaskan
terlebih dahulu baik dalam fase minyak maupun fase air. Tujuannya adalah agara emulgator
dapat menyeimbangkan emulsi sehingga emulsi dapat tetap stabil. Selain jenis emulgator,
jumlah emulgator juga menentukan tipe emulsi pada hasil akhir. Apabila menggunakan dua
emulgator, maka konsentrasinya harus seimbang agar minyak dan air dapat bercampur.
Dari data yang diperoleh, emulsi kelompok satu ternyata tidak stabil. Hal ini dapat
disebabkan banyak faktor, antara lain penimbangan emulgator dan zat aktif yang kurang
sesuai. Jumlah emulgator yang tidak seimbang sehingga emulgator tidak mampu mendispersi
emulsi secara sempurna. Selain itu, proses pembuatan juga mempengaruhi hasil akhir emulsi.
Kesalahan pada saat pembuatan akan menyebabkan emulsi tidak stabil dan cepat terpisah
antara fase air dan fase minyak, walaupun pada awalnya hasilnya bagus.

Dari viskositas, diantara empat kelompok, kelompok 4 dan kelompok 2 memiliki hasil
viskositas yang berbeda jauh. Viskositas yang tinggi pada kelompok empat dapat disebabkan
penggunaan konsentrasi sorbitol yang tinggi. Selain itu, viskositas yang tinggi dapat
dipengaruhi oleh emulgator seperti CMC Na. CMC Na yang telah dikembangkan dalam air
akan membentuk koloidal yang juga dapat meningkatkan viskositas. Semakin tinggi
konsentrasi CMC Na yang digunakan, maka akan semakin tinggi pula viskositasnya.
Sementara pada kelompok dua tidak menggunakan sorbitol sehingga memiliki
viskositas yang rendah. Dari data yang ada, pH kelompok tiga paling rendah diantara keempat
kelompok lainnya. Hal ini dapat mempengaruhi komponen pada sediaan dan memungkinkan
emulsi menjadi tidak stabil dalam penyimpanan yang lama. pH yang rendah dapat
dipengaruhi oleh penambahan corigen seperti perasa dan pewarna. Oleh karena itu,
penmabahan corigen tersebut perlu diperhitungkan dengan baik agar emulsi memiliki pH
yang stabil atau mendekati stabil.
Dari data yang ada, diperoleh bahwa emulsi minyak ikan kelompok empat tidak stabil.
Perlu diperhatikan kembali bahwa emulgator menjadi hal yang sangat penting untuk
diperhitungkan agar diperoleh emulsi yang stabil. pemilihan emulgator yang tidak sesuai akan
menyebabkan emulsi menjadi mudah pecah bahkan sesaat setelah selesai dibuat. Apabila
menggunakan zat aktif berupa minyak dengan jumlah yang cukup banyak daripada jumlah air,
maka akan lebih baik menggunakan emulgator yang larut dalam air untuk menyeimbangkan
kemampuan emulgator dalam mendispersi emulsi. Begitu pula sebaliknya. Pada kelompok
tiga, jumlah zat aktif berupa minyak ternyata lebih sedikit daripada jumlah air, serta
menggunakan emulgator yang mudah larut dalam air. Hal ini akan menyebabkan emulgator
cenderung mengikat sesamanya dan membuat emulsi pecah atau memisah antara fase minyak
dan air.
Sementara pada kelompok tiga, emulsi yang dihasilkan stabil karena konsentrasi
emulgator yang seimbang antara jumlah minyak dan air. Keadaan ini membuat emulgator
mampu mendispersi fase minyak dan air dengan baik dan emulsi menjadi tidak mudah
memisah setelah dilakukan pemanasan selama 5 menit dalam uji stabilitas emulsi.
Meskipun begitu, hasil emulsi kelompok tiga juga tidak dapat dikatakan baik karena
emulsi sudah pecah sejak awal. Hal ini disebabkan proses pengerjaan yang kurang pas. Pada
pembuatan emulsi, fase minyak ataupun air tidak boleh dimasukkan sedikit demi sedikit
karena akan membuatnya sulit terdispersi dengan baik dan menyebabkan emulsi rusak atau
pecah. Pada pembuatannya baik fase minyak ataupun air harus dituang sekaligus dan diaduk
dengan cepat dan kuat agar dapat terbentuk corpus emulsi berwarna putih susu. Sementara
pada kelompok tiga warna emulsinya adalah putih kekuningan.
Pada pembuatan sediaan emulsi, tipe emulsi dipengaruhi oleh emulgator dan zat aktif
dari emulsi itu sendiri. Emulsi akan membentuk tipe A/M apabila fase minyak lebih banyak
dari fase air, begitu pula sebaliknya. Pemahaman mengenai dasar emulsi, pembuatan, dan
komponen pembentuk emulsi yang baik akan menghasilkan emulsi yang stabil meskipun
dalam penyimpanan jangka panjang,

L. KESIMPULAN
1. Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat dicampukan, biasanya
fase minyak dan fase air dan perlu adanya penambahan emulgator untuk mendispersikannya.
2. Dosis yang diberikan harus sesuai dengan usia pasien agar efek yang diperoleh sesuai.
3. Dari evaluasi yang dilakukan oleh kelompok III diperoleh hasil sebagai berikut : emulsi
berupa cairan kental berwarna putih kekuningan, berbau khas minyak ikan, rasa agak kecutamis. Viskositas 41,2% dengan pH sebesar 2,94 termasuk sangat asam. BJ : 0,94. Stabil
dengan tipe emulsi A/M ( air dalam minyak).

M. DAFTAR PUSTAKA
Anief, 2006, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta
Ansel, H,C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV, UI Press, Jakarta
Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Rowe, 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th Edition, Pharmaceutical Press, London

Anda mungkin juga menyukai