Anda di halaman 1dari 9

Masih fresh dan baru nih permenkesnya dan baru di sahkan pada tanggal 18 Mei 2016 kemarin, dan

secara otomatis ini adalah menyempurnakan permenkes no 19 tahun 2014 yang mulai berlakunya
permenkes baru ini maka sudah tidak berlaku lagi. Sebenarnya apa yang beda dengan permenkes lama
dan baru mengenai dana kapitasi JKN ini, pastinya karena namanya penyempurnaan jadi tentu ada yang
dipoles di bagian sana sini. Yang jelas yang menjadi perbedaan adalah :
Penjelasan lebih detail mengenai apa itu tenaga kesehatan dan tenaga non
kesehatan, termasuk juga tenaga PTT.

Perubahan skor poin untuk tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan, dan
tentunya penambahan poin bagi petugas kesehatan yang merangkap memegang program,
sebagai catatan bahwa pada permenkes yang 2014 tidak dipertimbangkan hal ini jadi yang
bekerja berat di program mendapatkan sama dengan mereka yang hanya kerja di pelayanan
saja. tambahan untuk tiap program adalah 10 poin. Ini juga menjadi jawaban atas kritik
posting saya sebelumnya mengenai polemik dana kapitasi JKN menurut permenkes 19 tahun
2014 yang saat ini tidak berlaku lagi.

Perubahan lain juga berlaku untuk kepala FKTP, bendahara administrasi dan juga
penanggung jawab ketatausahaan. Lebih jelas silahkan download di bawah.
Dalam permenkes yang baru ini juga dijelaskan mengenai masa kerja, dan juga mengenai jam kerja yang
diperhitungkan. Saya kira hampir sama dengan yang lalu namun dengan adanya permenkes baru ini
menjadi penyempurnaan yang positif bagi semua pihak yang berhubungan dengan pelayanan
puskesmas.
Penyempurnaan dalam hal lain adalah mengenai sisa anggaran pada tahun sebelumnya, yaitu mengenai
silpa. yang jelas adalah silpa tahun lalu dapat dimanfaatkan pada tahun selanjutnya. Namun tetap
diperhitungkan jika sisa tersebut untuk jasa pelayanan maka tahun berikutnya dengan nominal yang
sama maka dimasukkan dalam dana jasa pelayanan.

Sebagaimana diketahui, awal JKN dulu belum ada pengaturan tentang bagaimana memanfaatkan
dana kapitasi. Maka sempat terjadi kebingungan dan kekikukan untuk menggunakan dana kapitasi.
Baru kemudian tanggal 21 April 2014, terbit dan diundangkan Perpres 32/2014 tentang Pengeloaan
dan Pemanfaatan Dana Kapitasi pada FKTP milik Pemda. Diperinci kemudian dengan Permenkes
19/2014 yang terbit tanggal 24 April 2014 dan diundangkan pada 2 Mei 2014. Terakhir, pada tanggal
20 April 2016 telah terbit (dan diundangkan tanggal 18 Mei 2016) Permenkes 21/2016 sebagai
revisi terhadap Permenkes 19/2014. Ada beberapa poin yang tetap seperti bahwa besaran jasa
pelayanan dialokasikan sekurang-kurangnya 60% dari dana kapitasi (pasal 3 ayat 2). Setiap
tahunnya, besaran alokasi adalah usulan dari SKPD Dinkes dan ditetapkan oleh Kepala Daerah
dengan beberapa pertimbangan: 1. Tunjangan yang telah diterima dari Pemda 2. Kegiatan
Operasional Pelayanan Kesehatan sesuai target 3. Kebutuhan obat, alkes dan BMHP Selain itu ada
beberapa perubahan pada Permenkes yang baru ini dibanding Permenkes sebelumnya: Pada pasal
4 ayat (2) diperinci jenis ketenagaan bahwa Tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan meliputi
Pegawai Negeri Sipil, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, dan pegawai tidak tetap, yang
ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan pada ayat (5) ada
perubahan skor penilaian antar tenaga kesehatan dan non kesehatan. Begitu juga pembedaan
tambahan skor bila merangkap tugas administratif seperti kepala FKTP, bendahara maupun kepala

tata usaha. Pada Permenkes sebelumnya, ketiganya mendapat tambahan skor yang sama. Begitu
juga bagi yang merangkap tugas sebagai penanggung jawab program (ayat 6), juga mendapat
tambahan nilai untuk setiap program yang diampu. Ini artinya mendukung juga adanya aktivitas
program FKTP di luar program kuratif. Terhadap masa kerja, juga ada pembedaan tambahan skor
(ayat 7). Begitu juga rincian dari penlaian terhadap variabel kehadiran (ayat 8). Bahkan dilampirkan
contoh perhitungan jasa pelayanan yang diterima masing-masing tenaga kesehatan. Dokumen
pribadi Terkait penggunaan porsi Biaya Operasional, Permenkes 21/2016 juga memerinci lebih jelas
dibandingkan Permenkes sebelumnya. Bahkan dalam lampiran disebutkan secara jelas, contohcontoh item penggunaan biaya operasional tersebut. Ada beberapa item menarik karena tidak
secara langsung berkaitan dengan kuratif misalnya: administrasi dan koordinasi program (sudah ada
dalam Permenkes sebelumnya), peningkatan kapasitas SDM maupun pemeliharan sarpras. Hal
menarik lainnya dari Permenkes baru ini adalah penetapan bagaimana memanfaaatkan sisa dana
kapitasi. Ditegaskan bahwa bila terdapat dana sisa, maka dimanfaatkan untuk tahun anggaran
berikutnya. Tetapi harus tetap sama bahwa sisa dana porsi jasa pelayanan hanya untuk jasa
pelayanan, dan sebaliknya dengan biaya operasional. Hal ini menarik karena masih adanya masalah
terhadap sisa dana kapitasi di akhir tahun anggaran. Hanya tidak disebutkan pemberlakuan surut
terhadap klausul ini. Yang jelas, pemanfaatan tersebut harus dimasukkan dalam RKA SKPD sesuai
ketentuan. Minimal, ada perubahan dan perkembangan yang perlu segera disikapi karena
Permenkes 21/2016 ini mulai berlaku sejak diundangkan (18 Mei 2016). Tentu konsekuensinya ada
penyesuaian dan adaptasi termasuk untuk sisa tahun anggaran 2016 ini. Mangga para pihak yang
lebih paham terkait pengelolaan anggaran untuk dapat menjelaskannya

VERIFIKASI & PENGESAHAN SPJ - SKPD

Untuk keperluan kontrol interen SKPD, sebaiknya penetapan pejabat yang diberi
wewenang untuk mengesahkan SPJ tidak dirangkap oleh pengguna anggaran/kuasa
pengguna anggaran, wewenang pengesahan spj dapat dilimpahkan kepada
Sekretaris atau Kepala Tata Usaha di SKPD.

Pejabat yang mengesahkan SPJ ditetapkan oleh kepala daerah, sedangkan fungsi
tata usaha keuangan dilaksanakan oleh PPK-SKPD yang ditetapkan dengan
keputusan kepala SKPD. Fungsi tata usaha keuangan antara lain adalah melakukan
verifikasi dan melaksanakan akuntansi SKPD.

Pengesahan spj merupakan tahapan proses verifikasi atas bukti-bukti dasar dan
dokumen pendukung penerimaan daerah dan belanja daerah yang meliputi dasar
hukum penerimaan dan atau pengeluaran, ketersediaan dan ketepatan sasaran dan
batas kredit anggaran serta pengecekan penjumlahan bukti-bukti penerimaan dan
pengeluaran. Verifikasi ditandai dengan cek list ( contreng ) pada lembar tembusan
kuitansi dan bukti-bukti penerimaan atau bukti-bukti pendukung belanja daerah.

I. Verifikasi Kuitansi
Verifikasi terhadap kuitansi meliputi :
Format kuitansi asli dan tembusan
Penulisan kuitansi terutama penulisan jumlah rupiah dalam angka dan huruf, tidak
diperkenankan bekas tindasan, hapusan/tip-ex .
Uraian singkat tentang maksud pembayaran (pembebanan anggaran) serta dasar
pembayaran.
Pencocokan jumlah yang tertera dalam kuitansi dengan jumlah pada bukti
pendukung.
Verifikasi tanggal pelunasan, nama dan tanda tangan yang menerima ( yang berhak
menerima ), pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, PPTK (untuk kegiatan)
dan bendahara.
Potongan pajak ( bila ada )
Ketentuan bea materai.
II. Verifikasi Dokumen/Bukti Pendukung

Verifikasi terhadap dokumen/bukti pendukung sekurang-kurangnya meliputi:


Kelengkapan administrasi yang dipersyaratkan
Pengecekan jumlah yang tertera di kuitansi dengan jumlah pada bukti pendukung.
Pengecekan waktu pelaksanaan serta tahapan pembayaran serta ketentuan lain
yang tertera pada kontrak/perjanjian kerja dengan Berita Acara Kemajuan pekerjaan
serta dukumen lain yang dipersyaratkan.
III. Prosedur Verifikasi
Verifikasi untuk belanja daerah terdiri dari :
1.Verifikasi UP/GU/TU.
Selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulannya PPK-SKPD telah menerima
pertanggungjawaban administratip dari bendahara berupa SPJ yang dilampiri
dengan Buku Kas Umum, Laporan Penutupan Kas dan SPJ Bendahara pembantu.
Prosedur verifikasi yang dilaksanakan:
Pengecekan Saldo BKU dengan SPJ dan Laporan Penutupan Kas.
Pengecekan/verifikasi terhadap kuitansi dan dokumen/bukti pendukung
sebagaimana yang telah dipaparkan terdahulu.
Pengecekan jumlah yang tertera pada kuitansi dengan jumlah yang dicantumkan
pada Buku Rincian Obyek Belanja dan yang dicantumkan di SPJ.
Membubuhkan tanda pengesahan serta tanda tangan pejabat yang mengesahkan
SPJ pada lampiran Buku Rincian obyek Belanja ( contoh terlampir )
2. Verifikasi LS Barang dan Jasa
Verifikasi terhadap LS- Barang dan Jasa dilakukan sebelum pengajuan SPP oleh
bendahara, Jika kegiatan dimaksud dilaksanakan oleh PPTK, maka tahapan verifikasi
dimulai dari PPTK kemudian diverifikasi oleh PPK - SKPD untuk selanjutnya
diserahkan kepada bendahara.
Pengaturan tentang wewenang dan tanggungjawab yang jelas antara PPTK, PPK dan
bendahara diatur pada keputusan kepala daerah atau ketentuan yang
berlaku.Prosedur verifikasi terhadap Belanja LS sebagaimana telah dipaparkan
terdahulu, dan sebagai kontrol verifikasi LS dapat dipergunakan Kartu Kontrol SPPLS

Verifikasi oleh PPK-SKPD


Facebook Twitter Google + Stumbleupon LinkedIn Pinterest
Artikel Lainnya
penilaian risiko

Membangun Budaya Peduli Risiko (Sebuah Upaya Membumikan SPIP)


02/03/2016

IPSAP No 4 yang Membatalkan Ketentuan Penyajian Kembali (Restatement) LKPD


Pemda
05/02/2016

Mandiri Desa
Mewujudkan Desa Mandiri
28/07/2015

swadayamas
Bagaimana Menganggarkan Pendapatan dan Belanja Kegiatan Bersumber dari
Swadaya Masyarakat?
08/07/2015

Azas tertib dalam pengelolaan keuangan daerah mengamanatkan bahwa keuangan


daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan buktibukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, azas taat pada
peraturan perundang-undangan mewajibkan pengelolaan keuangan daerah harus
berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Dua azas penting pengelolaan
keuangan daerah tersebut hendaknya menjadi landasan bekerja bagi para
verifikator keuangan daerah. Verifikasi bukti pengajuan permintaan pembayaran
dan bukti pertanggungjawaban keuangan merupakan salah satu tahapan penting
dalam pengelolaan keuangan daerah yang setidaknya belanja dan/atau beban
benar-benar direalisasikan/diakui senilai bukti-bukti yang mendukungnya. Oleh
karenanya, penyajian belanja dan beban pada laporan keuangan sangat ditentukan
salah satunya oleh kinerja para verifikator keuangan daerah. Sesuai Permendagri
No 13 tahun 2006 jo 57/2007 jo 21/2011 kegiatan verifikasi dilakukan baik oleh
bendahara, Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) SKPD, dan PPKD selaku
bendahara umum daerah. Kali ini, fokus bahasan kita dalah kegiatan verifikasi atas
pengeluaran belanja yang dilakukan oleh PPK-SKPD. Landasan hukum kegiatan
verifikasi oleh PPK-SKPD dapat kita baca pada pasal 13 dan pasal 221 Permendagri
13/2006.

Verifikasi dapat diartikan sebagai kegiatan pengujian terhadap dokumen


administratif dengan mengacu pada pedoman dan kriteria yang berlaku. Artinya,

verifikasi harus dapat menjamin kebenaran secara formal dan substantif bahwa
dokumen telah lengkap dan benar sesuai dengan peraturan per-uu-an. Seorang
verifikator tidak dituntut untuk menguji kebenaran material atas suatu bukti
transaksi sebagaimana tugas seorang auditor, meskipun seorang verifikator
diharapkan mampu mencegah terjadinya penyimpangan (fraud) yang merugikan
keuangan daerah. Jika demikian, apa saja ruang lingkup pekerjaan verifikasi yang
harus dilakukan oleh seorang verifikator keuangan (PPK-SKPD)?

Ada 5 aspek yang harus dilakukan oleh seorang verifikator di SKPD, yaitu:
Aspek Ketersediaan Dana
Seorang verifikator harus memastikan bahwa dana untuk membiayai pengeluaran
untuk keperluan seperti tercantum dalam bukti pengeluaran telah tersedia dan
masih cukup tersedia dalam DPA. Artinya dokumen DPA untuk kegiatan tersebut
harus ada, akun belanja yang diminta pembayarannya atau dipertanggungjawabkan
tercantum dalam DPA kegiatan tersebut ada dan memiliki pagu yang cukup, serta
nilai rupiah bukti yang diminta pembayarannya atau dipertanggungjawabkan masih
bisa di-cover dengan dokumen Surat Penyediaan Dana (SPD). Verifikator harus
memberikan catatannya jika: 1) Kegiatan tidak ada DPA-nya. 2) Belanja tidak ada
dalam DPA kegiatan dimaksud, 3) Pagu anggaran belanja tidak mencukupi, 4) dan
belanja tidak ada dokumen SPD.

Aspek Ketepatan Tujuan Pengeluaran


Seorang verifikator harus memastikan bahwa jumlah pengeluaran yang tercantum
dalam bukti pengeluaran penggunaannya telah sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan dalam DPA. Sebagai misal, jika verifikator menemukan bukti
pengeluaran perjalanan dinas dalam/luar daerah yang tujuannya berbeda dengan
tujuan kegiatan dalam DPA, maka verifikator harus menolak dengan memberikan
catatan bahwa terdapat ketidaksesuaian tujuan pengeluaran antara bukti
pengeluaran perjalanan dinas dengan tujuan kegiatan dalam DPA.

Aspek Kebenaran Pembebanan anggaran


Seorang verifikator harus memastikan bahwa pengeluaran yang tercantum dalam
bukti pengeluaran benar-benar telah dibebankan pada kode akun serta tahun
anggaran bersangkutan sesuai DPA. Misalnya, jika terdapat bukti pengeluaran
belanja ATK dimana akun belanja tersebut tidak dianggarkan pada DPA, verifikator
harus menolak dan memberikan catatannya.

Aspek Kebenaran Tagihan

Seorang verifikator harus memastikan bahwa bukti pengeluaran telah benar dibuat
sesuai dengan ketentuan yang berlaku, meliputi:
1) Kebenaran mengenai persyaratan pembuatan bukti pengeluaran dan dokumen
yang mendasarinya
Sebagai contoh untuk bukti kuitansi, sekurang-kurangnya harus memenuhi
ketentuan pengendalian intern yang baik, sebagai berikut: memuat atas nama wajib
bayar (bukti pengeluaran dari SKPD yang melakukan pembayaran atas tagihan
kepada negara dibuat atas nama PA/KPA); nama yang berhak menerima
pembayaran (nama yang berhak menerima dalam bukti pengeluaran harus sama
dengan nama orang yang tertera dalam kontrak/SPK/dokumen lainnya (ejaan
tulisan); uraian pembayaran harus sama dengan kegiatan/pekerjaan yang
tercantum dalam kontrak/SPK/dokumen lainnya baik volume, kualitas, dan tahapan
pembayaran; jumlah uang yang tertulis dalam angka dan huruf harus sama; bea
meterai sesuai ketentuan peraturan per-uu-an yang berlaku; NPWP; tanda tangan
yang berhak menerima pembayaran atau kuasanya berdasarkan surat kuasa sesuai
ketentuan yang berlaku; tandatangan setuju dibayar melalui LS oleh PA/KPA;
tandatangan setuju dan lunas dibayar oleh bendahara pengeluaran dan diketahui
oleh PA/KPA; dan penulisan kuitansi tidak boleh cacat (ada
coretan/hapusan/tindihan).

2) Kebenaran mengenai prosedur PBJ


Seorang verifikator harus mampu memastikan bahwa prosedur pengadaan barang
dan jasa telah sesuai dengan ketentuan dalam Perpres 54/2010 jo Perpres 70/2012.
Jika verifikator menemukan penyimpangan atas prosedur, maka hendaknya
memberikan catatan atas hal tersebut.

3) Kebenaran perhitungan
Seorang verifikator harus memastikan bahwa perhitungan dalam bukti dan daftardaftar (perkalian, penjumlahan, dan pengurangan) telah benar.

4) Kebenaran tarif
Seorang verifikator harus memastikan bahwa tarif dalam bukti pengeluaran (tarif
uang saku, transport, dan penginapan, tariff pajak, tariff honor, perhitungan
persentase penyelesaian pekerjaan, dsb) telah sesuai dengan tarif yang telah diatur
dalam peraturan kepala daerah dan dokumen lainnya.

5) Adanya otorisasi pejabat berwenang.

Seorang verifikator harus memastikan bahwa dalam bukti kuitansi dan dokumen
pendukung bukti pengeluaran (Berita Acara, dsb) telah ditandatangani oleh pejabat
yang berwenang.

Aspek Kelengkapan Bukti Pengeluaran


Seorang verifikator harus memastikan bahwa bukti pengeluaran dan dokumen
pendukung bukti pengeluaran telah lengkap sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Sebagai contoh, untuk bukti pengeluaran belanja perjalanan dinas, kelengkapan
bukti yang harus dilampirkan adalah: Surat Tugas, Dasar Surat/Telaahan staf, SPPD,
Kuitansi, Kuitansi Hotel, Tiket Pesawat, Boarding Pass, Tiket Angkutan Umum/
Daftar Pengeluaran Riil, Tiket Angkutan Dalam Kota Tujuan/ Daftar Pengeluaran Riil,
dan Laporan Hasil Perjalanan Dinas.

Untuk mendukung kinerja para verifikator keuangan, harus ditetapkan Perkada


tentang Pedoman Pertanggungjawaban Keuangan Bersumber Dana APBD, sehingga
para verifikator dapat menjadikannya sebagai kriteria verifikasi untuk aspek ini.
Dalam perkada tersebut diatur mengenai dasar hukum, tujuan, ruang lingkup
ketentuan, tugas dan wewenang para pejabat pengelola keuangan daerah,
mekanisme pembayaran pengeluaran belanja, kelengkapan bukti-bukti
pertanggungjawaban, format bukti pengeluaran dan dokumen pendukung bukti
pengeluaran, prosedur verifikasi di SKPD dan PPKD, dan ketentuan lainnya terkait
pertanggungjawaban belanja. Dalam rangka penguatan fungsi verifikasi pada PPKSKPD, maka Kepala Daerah harus menempatkan sejumlah staf verifikasi di bawah
PPK-SKPD. Untuk pemerintah daerah yang meletakkan fungsi PPK-SKPD pada
Sekretaris SKPD (eselon III), maka pelaksanaan verifikasi tidak hanya dilakukan oleh
Kasubag Keuangan, namun harus didukung oleh sejumlah staf verifikasi yang
memadai baik jumlah maupun kemampuannya sesuai beban kerja masing-masing
SKPD. Tentu saja jumlah staf verifikasi yang memadai antara Dinas Pekerjaan
Umum, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan akan berbeda dengan SKPD kecamatan.

Hal penting lainnya, melalui Perkada tentang Pedoman Pertanggungjawaban


Keuangan Bersumber Dana APBD tersebut, perlu dibangun sebuah prosedur
verifikasi. Prosedur verifikasi di SKPD setidaknya meliputi tahapan-tahapan
pekerjaan sebagai berikut:
PPK SKPD menerima SPP/SPJ dari bendahara pengeluaran.
PPK SKPD mendisposi penerimaan SPP/SPJ bendahara pengeluaran kepada staf
verifikasi cq Kasubag Keuangan.
Staf verifikasi melakukan penelitian berdasarkan 5 aspek verifikasi. Staf verifikasi
menuangkan hasil penelitian dokumen SPJ ke dalam formulir ceklist kelengkapan
SPP/SPJ yang telah ditetapkan dalam peraturan kepala daerah.

Staf verifikasi menandatangani formulir ceklist kelengkapan SPP/SPJ (di bawah


kolom diverifikasi oleh).
Kasubag Keuangan mereview pekerjaan staf verifikasi dan kemudian
menandatanganinya formulir ceklist kelengkapan SPP/SPJ (dibawah kolom direview
oleh).
PPK SKPD menyetujui hasil verifikasi dan menandatangani formulir ceklist
kelengkapan SPJ (di bawah kolom disetujui oleh).
Jika tidak ada catatan hasil verifikasi yang harus dikoreksi atau dilengkapi terlebih
dahulu, maka PPK SKPD menyiapkan draft SPM.
PA/KPA menandatangani SPM dalam hal tidak ada catatan hasil verifikasi yang
harus dikoreksi atau dilengkapi terlebih dahulu, dan menandatangani Surat
PenolakanSPM dalam hal terdapat catatan hasil verifikasi yang harus dikoreksi atau
dilengkapi terlebih dahulu.

Prosedur verifikasi tersebut dilengkapi dengan formulir-formulir seperti ceklist


kelengkapan SPP/SPJ yang memuat kelengkapan bukti pengeluaran dan dokumen
pendukung bukti pengeluaran dan tandatangan staf verifikator, kasubag keuangan,
dan PPK-SKPD, lembar simpulan hasil verifikasi yang memuat hasil verifikasi atas 5
aspek dan catatan masing-masing dari staf verifikator, kasubag keuangan, PPKSKPD, dan pengguna anggaran, dan lembar penolakan yang memuat hal apa saja
yang menjadi kekurangan atau koreksi. Dengan pendokumentasian setiap hasil
verifikasi ke dalam formulir-formulir tersebut maka dapat diketahui dan ditelusuri
siapa yang melakukan verifikasi dan permasalahan yang ada ketika dilakukan
verifikasi.