Anda di halaman 1dari 45

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kami yang membahas
mengenai Manajemen Keperawatan. Tak lupa kami kirimkan salam dan shalawat
kepada Kekasih Sang Pemilik Alam Semesta Nabi Muhammad SAW, selaku suri
tauladan ummat.
Makalah ini terlaksana dengan cukup baik. Adapun isi dari makalah ini
mengenai Manajemen Keperawatan
Terima kasih, kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu, dalam
pembuatan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Samata-Gowa, Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata pengantar..................................................................................................i
Daftar isi...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .....................................................................................1
B. Tujuan ..................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Institusi Organisasi Keperawatan ........................................................3
B. Struktur dan Fungsi Organisasi ............................................................15
C. Tipe Working Relationship...................................................................23
D. Fungsi-Fungsi dalam Organisasi .........................................................24
E. Nursing Care Delivery System.............................................................36
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 44
B. Saran ....................................................................................................44

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manajemen memegang peranan penting dalam segala kegiatan yang
dijalankan suatu organisasi dewasa ini. Manajemen yang baik merupakan
salah satu syarat mutlak untuk membantu organisasi dalam mencapai
tujuannya. Organisasi pada dasarnya merupakan suatu wadah dimana orangorang berkumpul dan bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan- kegiatan
yang dilakukan secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Dalam mencapai tujuannya, organisasi harus mampu mengatur seluruh
sumber daya yang terdapat di dalamnya. Salah satu sumber daya organisasi
yang membutuhkan perhatian dan pengaturan khusus adalah sumber daya
manusia. Sebuah organisasi harus mengatur dan menfasilitasi karyawannya
dengan baik untuk menunjang kinerja dan produktivitas organisasi.
Suatu organisasi membutuhkan seorang pemimpin yang dapat
memberikan semangat kepada bawahannya untuk selalu produktif, karena
keberadaan pemimpin dalam suatu organisasi dirasakan sangat mutlak untuk
menjadi nahkoda bagi para bawahannya. Untuk menunjang keberhasilan
fungsi manajemen dalam organisasi, salah satu faktor yang sangat penting dan

menentukan adalah gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan meupakan inti


dari manajemen. Dikatakan demikian karena gaya kepemimpinan pada
dasarnya merupakan sarana pendorong atau penggerak bagi semua sumber
daya manusia serta sumber daya lainnya dan sarana yang tersedia di dalam
organisasi perusahaan.
Organisasi yang baik dapat terwujud apabila komponen-komponen di
dalamnya berfungsi secara maksimal. Suatu organisasi yang baik terdapat
fungsi-fungsi

manajerial

yaitu:

planning,

organizing,

actuating,

dan

controlling. Masing-masing fungsi saling berkaitan dan merupakan satu


kesatuan yang tidak terpisangkan. Suatu organisasi akan mencapai tujuan
dengan baik apabila mampu merencanakan program-program secara matang
dengan memperhitungkan masa yang akan dating dan melaksankan rencana
yang telah dibuat. Perencanaan dalam suatu organisasi merupakan proses
dasar dalam manajemen untuk merumuskan tujuan dan cara mencapainya,
sehingga perencanaan memegang peranan yang lebih besar disbanding fungsi
manajemen lainnya.
Dalam setiap organisasi, aspek manajemen hal yang sangat penting
untuk diperhatikan.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana institusi dalam organisasi keperawatan
2. Untuk mengetahui struktur dan fungsi organisasi
3. Untuk mengetahui tipe working relationship
4. Untuk mengetahui fungsi-fungsi dalam organisasi
5. Untuk mengetahui nursing care delivery system

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.

Institusi organisasi keperawatan


1. Rumah Sakit
Rumah
sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan
professional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga
ahli kesehatan lainnya. Rumah sakit merupakan salah satu dari sarana
kesehatan tempat menyelengarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan
adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat.
Berikut adalah tugas sekaligus fungsi dari rumah sakit :
a) Melaksanakan pelayanan medis, pelayanan penunjang medis.
b) Melaksanakan pelayanan medis tambahan, pelayanan penunjang medis
c)
d)
e)
f)

tambahan.
Melaksanakan pelayanan kedokteran kehakiman
Melaksanakan pelayanan medis khusus
Melaksanakan pelayanan rujukan kesehatan
Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi

g) Melaksanakan pelayanan kedokteran sosial


h) Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan
i) Melaksanakan pelayanan rawat jalan atau rawat darurat dan rawat
j)
k)
l)
m)
n)
o)
p)

tinggal (observasi)
Melaksanakan pelayanan rawat inap
Melaksanakan pelayanan administratif
Melaksanakan pendidikan para medis
Membantu pendidikan tenaga medis umum
Membantu pendidikan tenaga medis spesialis
Membantu penelitian dan pengembangan kesehatan
Membantu kegiatan penyelidikan epidemiologi
Tugas dan fungsi ini berhubungan dengan kelas dan tipe rumah sakit

yang di Indonesia terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus
kelas A, B, C, dan D berbentuk badan dan sebagai unit pelaksana tekhnis
daerah. Perubahan kelas rumah sakit dapat saja terjadi sehubungan dengan
turunnya kinerja rumah sakit yang ditetapkan oleh menteri kesehatan
Indonesia melalui keputusan dirjen yang medik.
Beberapa jenis rumah sakit diantaranya :
1. Rumah sakit umum
Rumah sakit yang melayani hampir seluruh penyakit umum dan biasanya
memiliki institusi perawatan darurat siaga 24 jam (ruang gawat darurat)
untuk mengatasi bahaya dalam waktu secepatnya dan memberikan
pertolongan pertama. Rumah sakit umum biasanya memiliki fasilitas yang
mudah ditemui di suatu Negara dengan kapasitas rawat inap sangat besar
untuk perawatan intensif ataupun jangka panjang.
Rumah sakit jenis ini juga dilengkapi dengan fasilitas bedah, bedah
plastic, ruang bersalin, laboratorium, dan sebagainya. Tetapi kelangkapan
fasilitas ini biasanya bervariasi sesuai kemampuan penyelenggaraannya.
Rumah sakit yang sangat besar sering disebut Medical Center (pusat
kesehatan) biasanya melayani seluruh pengobatan modern. Sebagian besar
rumah sakit di Indonesia juga membuka pelayanan kesehatan tanpa
menginap (rawat jalan) bagi masyarakat umum (klinik). Biasanya terdapat
beberapa klinik / poliklinik di dalam suatu rumah sakit.

2. Rumah sakit terspesialisasi


Jenis ini mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit
manula, atau rumah sakit yang melayani kepentingan khusus seperti
psikiatrik, penyakit pernapasan, dan sebagainya. Rumah sakit bias terdiri
atas gabungan atau pun hanya satu bangunan. Kebanyakan mempunyai
afiliasi dengan universitas atau pusat riset medis tertentu. Kebanyakan
rumah sakit di dunia didirikan dengan tujuan nirlaba.
3. Rumah sakit penelitian/ pendidikan
Rumah sakit penelitian/ pendidikan adalah rumah sakit umum yang
terkait dengan kegiatan penelitian dan pendidikan di fakultas kedokteran
pada suatu universitas terkait dengan kegiatan penelitian dan pendidikan di
fakultas kedokteran pada suatu universitas/lembaga pendidikan tinggi.
Biasanya rumah sakit ini dipakai untuk pelatihan dokter-dokter muda, uji
coba berbagai macam obat baru atau teknik pengobatan baru. Rumah sakit
ini diselenggarakan oleh pihak universitas/perguruan tinggi sebagai salah
satu wujud pengabdian masyararakat / Tri Dharma perguruan tinggi.
4. Rumah sakit lembaga/ perusahaan
Rumah sakit yang didirikan oleh suatu lembaga/ perusahaan untuk
melayani pasien-pasien yang merupakan anggota lembaga tersebut/
karyawan perusahaan tersebut. Alasan pendirian bias karena penyakit yang
berkaitan dengan kegaiatan lembaga tersebut (misalnya rumah sakit militer,
lapangan udara), bentuk jaminan sosial/ pengobatan gratis bagi karyawan
atau karena letak/lokasi perusahaan yang terpencil atau jauh dari rumah sakit
umum. Biasanya rumah sakit lembaga/ perusahaan di Indonesia juga
menerima pasien umum dan menyediakan ruang gawat darurat untuk
masyarakat umum.
5. Klinik
Fasilitas medis yang lebih kecil yang hanya melayani keluhan
tertentu. Biasanya dijalankan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat atau
dokter-dokter yang ingin menjalankan praktek pribadi. Klinik biasanya

hanya menerima rawat jalan. Bentuknya bisa pula berupa kumpulan klinik
yang disebut poliklinik.

Ada beberapa tipe Rumah Sakit yaitu :


a. Rumah sakit tipe A
Rumah sakit tipe A adalah rumah sakit yang mampu memberikan
pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas oleh pemerintah
ditetapkan sebagai rujukan tertinggi (Top Referal Hospital) atau disebut pula
sebagai rumah sakit pusat.
b. Rumah sakit tipe B
Rumah sakit tipe B adalah rumah sakit yang mampu memberikan
pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas. Rumah sakit ini
didirikan di setiap ibukota provinsi yang menampung pelayanan rujukan di
rumah sakit kabupaten.
c. Rumah sakit tipe C
Adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran
spesialis terbatas. Rumah sakit ini didirikan di setiap ibukota kabupaten
(Regency Hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari puskesmas.
d. Rumah sakit tipe D
Adalah rumah sakit yang bersifat transisi dengan kemampuan hanya
memberikan pelayanan kedokteran umum dan gigi. Rumah sakit ini
menampung rujukan yang berasal dari puskesmas.
e. Rumah sakit tipe E
Adalah rumah sakit khusus (Spesial

Hospital)

yang

menyelenggarakan hanya satu macam pelayanan kesehatan kedokteran saja.


Saat ini banyak rumah sakit kelas ini ditemukan misalnya, rumah sakit kusta,
paru, jantung, kanker, ibu dan anak.
2. Klinik
Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar
atau spesialistik diselenggarakan oleh lebih dari satu jenis tenaga kesehatan

(perawat dan atau bidan) dan dipimpin oleh seorang tenaga medis (dokter,
dokter spesialis, dokter gigi atau dokter gigi spesialis).
Berdasarkan jenis pelayanannya, klinik dibagi menjadi Klinik
Pratama dan Klinik Utama. Kedua macam klinik ini dapat diselenggarakan
oleh pemerintah, pemerintah daerah atau masyarakat. Klinik Pratama adalah
klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar.
Klinik Utama adalah klinik yang menyelenggarakan pelayanan
medik spesialistik atau pelayanan medik dasar dan spesialistik. Sifat
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan bisa berupa rawat jalan, one day
care, rawat inap dan/atau home care.
Selain itu juga, klinik harus dilengkapi dengan peralatan medis dan
nonmedis yang memadai sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan.
Syarat peralatan tersebut adalah:
a) Memenuhi standar mutu, keamanan, dan keselamatan.
b) Memiliki izin edar.
c) Harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengamanan
Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi penguji dan pengkalibrasi yang
berwenang.
3. Health Management Organization
Manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna
mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Apabila batasan ini
diterapkan dalam bidang kesehatan masyarakat dapat dikatakan sebagai
berikut manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk
mengatur para petugas kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna
meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan. Dengan
kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen
umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi
objek dan sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan
masyarakat.
Fungsi manajemen kesehatan dalam suatu organisasi meliputi:

a. Planning (perencanaan) adalah sebuah proses yang dimulai dengan


merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menetapkan alternative
kegiatan untuk pencapaiannya.
b. Organizing (pengorganisasian) adalah rangkaian kegiatan menajemen
untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh
organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan
organisasi.
c. Actuating (directing, commanding, motivating, staffing, coordinating)
atau fungsi penggerakan pelaksanaan adalah proses bimbingan kepada
staff agar mereka mampu bekerja secara optimal menjalankan tugastugas pokoknya sesuai dengan ketrampilan yang telah dimiliki, dan
dukungan sumber daya yang tersedia.
d. Controlling (monitoring) atau pengawasan dan pengendalian (wasdal)
adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan
kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan
mengadakan koreksi jika terjadi penyimpangan.
Penerapan manajemen di bidang kesehatan adalah suatu keadaan
yang optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan tidak hanya terbatas
pada keadaan bebas dari penyakit atau kelemahan saja. Tujuan sehat yang
ingin dicapai oleh sistem kesehatan adalah peningkatan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya.
Sesuai dengan tujuan sistem kesehatan tersebut, administrasi
(manajemen) kesehatan tidak dapat disamakan dengan administrasi niaga
(business adminstration) yang lebih banyak berorientasi pada upaya untuk
mencari keuntungan finansial (profit oriented). Administrasi kesehatan lebih
tepat

digolongkan

ke

dalam

administrasi

umum/publik

(public

administration) oleh karena organisasi kesehatan lebih mementingkan


pencapaian kesejahteraan masyarakat umum.
Manajemen kesehatan harus dikembangkan di tiap-tiap organisasi
kesehatan di Indonesia seperti Kantor Depkes, Dinas Kesehatan di daerah,
Rumah Sakit dan Puskesmas dan jajarannya. Untuk memahami penerapan

manajemen kesehatan di RS, Dinas Kesehatan dan Puskesmas perlu


dilakukan kajian proses penyusunan rencana tahunan Depkes dan Dinas
Kesehatan di daerah. Khusus untuk tingkat Puskesmas, penerapan
manajemen dapat dipelajari melalui perencanaan yang disusun setiap lima
tahun (micro planning), pembagian dan uraian tugas staf Puskesmas sesuai
dengan masing-masing tugas pokoknya.
Ruang lingkup manajemen kesehatan
a) Manajemen personalia (mengurusi SDM)
b) Manajemen keuangan
c) Manajemen logistik (mengurusi logistik-obat dan peralatan)
d) Manajemen pelayanan kesehatan dan sistem informasi manajemen
(mengurusi pelayanan kesehatan)
4. Home Health
Home health atau home care adalah merupakan layanan kesehatan
yang dilakukan di rumah pasien Sehingga home care dalam keperawatan
merupakan layanan keperawatan di rumah pasien yang telah melalui sejarah
yang panjang.
Sejarah home health :
1. Di luar negeri
Di Amerika, Home Care (HC) yang terorganisasikan dimulai
sejak sekitar tahun 1880- an, dimana saat itu banyak sekali penderita
penyakit infeksi dengan angka kematian yang tinggi. Meskipun pada
saat itu telah banyak didirikan rumah sakit modern, namun
pemanfaatannya masih sangat rendah, hal ini dikarenakan masyarakat
lebih menyukai perawatan dirumah. Kondisi ini berkembang secara
professional, sehingga pada tahun 1900 terdapat 12.000 perawat terlatih
di seluruh USA (Visiting Nurses / VN ; memberikan asuhan
keperawatan dirumah pada keluarga miskin, Public Health Nurses,
melakukan upaya promosi dan prevensi untuk melindungi kesehatan
masyarakat, serta Perawat Praktik Mandiri yang melakukan asuhan
keperawatan pasien dirumah sesuai kebutuhannya.

Sejak tahun 1990-an institusi yang memberikan layanan Home


Care terus meningkat sekitar 10% perthun dari semula layanan hanya
diberikan oleh organisasi perawat pengunjung rumah (VNA = Visiting
Nurse Association) dan pemerintah, kemudian berkembang layanan
yang berorientasi profit(Proprietary Agencies) dan yang berbasis
RS (Hospital Based Agencies). Kondisi ini terjadi seiring dengan
perubahan system pembayaran jasa layanan Home Care (dapat dibayar
melalui pihak ke tiga / asuransi) dan perkembangan spesialisasi di
berbagai layanan kesehatan termasuk berkembangnya Home Health
Nursing yang merupakan spesialisasi dari Community Health Nursing.
Di UK, Home Care berkembang secara professional selama
pertengahan abad 19, dengan mulai berkembangnya District Nursing,
yang pada awalnya dimulai oleh para Biarawati yang merawat orang
miskin yang sakit dirumah. Kemudian merek mulai melatih wanita dari
kalangan menengah ke bawah untuk merawat orang miskin yang sakit,
dibawah pengawasan Biarawati tersebut Kondisi ini terus berkembang
sehingga pada tahun 1992 ditetapkan peran District Nurse (DN) adalah
a. merawat orang sakit dirumah, sampai klien mampu mandiri
b. merawat orang sakaratul maut dirumah agar meninggal dengan
nyaman dan damai
c. mengajarkan ketrampilan keperawatan dasar kepada klien dan
keluarga, agar dapat digunakan pada saat kunjungan perawat telah
berlalu.
Selain District Nurse (DN), di UK juga muncul perawat Health
Visitor (HV) yang berperan sebagai District Nurse (DN) ditambah
dengan peran lain ialah :
a. melakukan penyuluhan dan konseling pada klien, keluarga maupun
masyarakat luas dalam upaya pencegahan penyakit dan promosi
kesehatan

b. memberikan saran dan pandangan bagaimana mengelola kesehatan


dan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi setempat.
2. Di dalam negeri
Di Indonesia, layanan Home

Care (HC)

sebenarnya

bukan

merupakan hal yang baru, karena merawat pasien di rumah baik yang
dilakukan oleh anggota keluarga yang dilatih dan atau oleh tenaga
keperawatan melalui kunjungan rumah secara perorangan, adalah
merupakan hal biasa sejak dahulu kala. Sebagai contoh dapat
dikemukakandalam perawatan maternitas, dimana RS Budi Kemulyaan
di Jakarta yang merupakan RS pendidikan Bidan tertua di Indonesia,
sejak berdirinya sampai sekitar tahun 1975 telah melakukan
program Home Care (HC) yang disebut dengan Partus Luar. Dalam
layanan Partus Luar, bidan dan siswa bidan RS Budi Kemulyaan
melakukan pertolongan persalinan normal dirumah pasien, kemudian
diikuti dengan perawatan nifas dan neonatal oleh siswa bidan senior
(kandidat) sampai tali pusat bayi puput (lepas). Baik bidan maupun
siswa bidan yang melaksanakan tugas Partus Luar dan tindak
lanjutnya, harus membuat laporan tertulis kepada RS tentang kondisi ibu
dan bayi serta tindakan yang telah dilakukan. Kondisi ini terhenti seiring
dengan perubahan kebijakan Depkes yang memisahkan organisasi
pendidikan dengan pelayanan.
Akhir-akhir ini Home Health mendapat perhatian karena berbagai
alasan, antara lain yaitu :
a. Bagi Klien dan Keluarga
1) Program Home Health dapat membantu meringankan biaya
rawat inap yang makin mahal, karena dapat mengurangi biaya
akomodasi pasien, transportasi dan konsumsi keluarga.
2) Mempererat ikatan keluarga, karena dapat selalu berdekatan
pada saat anggoa keluarga ada yang sakit.
3) Merasa lebih nyaman karena berada dirumah sendiri.

4) Makin banyaknya wanita yang bekerja diluar rumah, sehingga


tugas merawat orang sakit yang biasanya dilakukan ibu
terhambat

oleh

karena

itu

kehadiran

perawat

untuk

menggantikannya.
b. Bagi Perawat
1) Memberikan variasi lingkungan kerja, sehingga tidak jenuh
dengan lingkungan yang tetap sama.
2) Dapat mengenal klien dan lingkungannya dengan baik,
sehingga pendidikan kesehatan yang diberikan sesuai dengan
situasi dan kondisi rumah klien, dengan begitu kepuasan kerja
perawat akan meningkat.
Berbagai alasan tersebut membuat program layanan Home Health
mulai diminati baik oleh pihak klien dan keluarganya, oleh perawat
maupun pihak rumah sakit. Ada beberapa jenis institusi yang dapat
memberikan layanan Home Health antara lain:
a) Institusi Pemerintah
Di Indonesia pelayanan home health yang telah lama
berlangsung

dilakukan

adalah

dalam

bentuk

perawatan

kasus/keluarga resiko tinggi (baik ibu, bayi, balita maupun lansia)


yang akan dilaksanakan oleh tenaga keperawatan puskesmas (digaji
oleh pemerintah). Klien yang dilayani oleh puskesmas biasanya
adalah kalangan menengah ke bawah. Di Amerika hal ini dilakukan
oleh Visiting Nurse (VN).
b) Institusi Sosial
Institusi ini melaksanakan pelayanan home helath dengan
sukarela dan tidak memungut biaya. Biasanya di lakukan oleh LSM
atau organisasi keagamaan dengan penyandang dananya dari donatur,
misalnya Bala Keselamatan yang melakukan kunjungan rumah
kepada keluarga yang membutuhkan sebagai wujud pangabdian
kepadan Tuhan.

c) Institusi Swasta
Institusi ini melaksanakan pelayanan Home Health dalam
bentuk praktik mandiri baik perorangan maupun kelompok yang
menyelenggarakan pelayanan HC dengan menerima imbalan jasa
baik secara langsung dari klien maupun pembayaran melalui pihak ke
tiga (asuransi). Sebagaimana layaknya layanan kesehatan swasta,
tentu tidak berorientasi not for profit service.
d) Home Health Berbasis Rumah Sakit (Hospital Home Care)
Merupakan perawatan lanjutan pada klien yang telah dirawat
dirumah

sakit,

karena

masih

memerlukan

bantuan

layanan

keperawatan, maka dilanjutkan dirumah. Alasan munculnya jenis


program ini selain apa yang telah dikemukakan dalam alasan Home
Health diatas, adalah :
1) Ambulasi dini dengan resiko memendeknya hari rawat, sehingga
kesempatan untuk melakukan pendidikan kesehatan sangat kurang
(misalnya ibu post partum normal hanya dirawat 1-3 hari,
sehingga untuk mengajarkan bagaimana cara menyusui yang baik,
cara merawat tali pusat bayi, memandikan bayi, merawat luka
perineum ibu, senam post partum, dll) belum dilaksanakan secara
optimum sehingga kemandirian ibu masih kurang.
2) Menghindari resiko infeksi nosokomial yang dapat terjadi pada
klien yang dirawat dirumah sakit.
3) Makin banyaknya penyakit kronis, yang bila dirawat di RS tentu
memerlukan biaya yang besar.
4) Perlunya kesinambungan perawatan klien dari rumah sakit ke
rumah, sehingga akan meningkatkan kepuasan klien maupun
perawat. Hasil penelitian dari Suharyati staf dosen keperawatan
komunitas PSIK Univ. Padjajaran Bandung di RSHS Bandung
menunjukkan bahwa konsumen RSHS cenderung menerima
program HHC (Hospital Home Care) dengan alasan ; lebih

nyaman, tidak merepotkan, menghemat waktu & biaya serta lebih


mempercepat tali kekeluargaan.
5. Public Health
Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit,
memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan melalui upaya
terorganisir dan pilihan informasi masyarakat, organisas, public dan swasta,
masyarakat dan individu. Hal ini terkait dengan ancaman terhadap kesehatan
keseluruhan dari masyarakat berdasarkan analisis populasi kesehatan.
Ancaman terhadap keseluruhan kesehatan dari sebuah komunitas yang
didasarkan pada populasi kesehatan analisis. Populasi tersebut bias sekecil
segelintir orang atau sama besar dengan semua penduduk beberapa benua.
Ada 2 karakteristik yang berbeda dari kesehatan masyarakat :
a. Berkaitan dengan pencegahan daripada aspek kuratif
b. Berkaitan dengan tingkat populasi bukan individu
B.

Struktur dan fungsi organisasi


1. Struktur organisasi
Adalah pola tentang hubungan antara berbagai komponen dan bagian
organisasi. Pada organisasi formal struktur direncanakan dan merupakan
usaha sengaja untuk menetapkan pola hubungan antara berbagai komponen,
sehingga dapat mencapai sasaran secara efektif. Sedangkan pada organisasi
informal, struktur organisasi adalah aspek sistem yang tidak direncanakan
dan timbul secara spontan akibat interaksi peserta. Struktur organisasiorganisasi memberikan kerangka yang menghubungkan wewenang karena
struktur merupakan penetapan dan penghubung antar posisi para anggota
organisasi. Jika seseorang memiliki suatu wewenang, maka dia harus dapat
mempertanggungjawabkan wewenangnya tersebut.
Ada 5 bagian dasar organisasi yaitu :
a) The Operating Core.

Yang termasuk disini adalah para pegawai yang melaksanakan pekerjaan


dasar yang berhubungan dengan produksi barang dan jasa.
b) The Strategic Apex.
Yang termasuk di dalam bagian ini adalah manajer tingkat puncak (top
management).
c) The Middle Line.
Yang termasuk di dalam bagian ini adalah para manajer yang
menjembatani manajer tingkat atas dengan bagian operasional.
d) The Technostructure.
Yang termasuk dalam bagian ini adalah mereka yang diserahi tugas
untuk menganalisa dan bertanggung jawab terhadap bentuk standarisasi
dalam organisasi.

e) The Support Staff.


Yang termasuk disini adalah orang-orang

yang memberi jasa

pendukung tidak langsung terhadap organisasi ( orang-orang yang


mengisi unit staff).
Dalam kerja berorganisasi, kita biasa mengenal adanya struktur
organisasi. Struktur organisasi ini menggambarkan hirarki tanggungjawab dan
pembagian tugas dalam organisasi tersebut. Kemahiran dan potensi setiap orang
berbeda. Setiap orang memiliki keunggulan dan kekurangannya sendiri. Dengan
adanya positioning yang tepat, keunggulan seseorang dapat menutupi
kekurangan orang lain dan demikian sebaliknya sehingga dapat terwujud suatu
tim yang solid. Tim yang solid bukan yang beranggotakan orang-orang yang
serba bisa, tetapi beranggotakan orang-orang yang memiliki keahlian-keahlian
tertentu tiap orangnya dan memiliki positioning yang tepat.
Struktur organisasi rumah sakit dan lembaga - lembaga yang berkaitan
dengan rumah sakit tidak dapat digambarkan secara seragam. Tetapi beberapa
hal tentang struktur organisasi tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut :
a. Struktur organisasi Depkes RI
b. Kaitan organisasi RSUD dengan Depkes RI dan Depdagri

c. Organisasi RS Swasta
d. RS Pemerintah
Struktur organisasi dan tata kerja RSU pemerintah diatur dalam SK
Menkes RI No. 134 / Menkes / SK / IV/ 78 tahun 1978 yang berlaku untuk RS
Umum kelas A, B, dan C yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Rincian tugas :
a. Direktur rumah sakit mempunyai tugas : memimpin, mengawasi, dan
mengkoordinasikan

tugas - tugas rumah sakit sesuai dengan peraturan

perundang - undangan yang berlaku.

Direktur rumah sakit dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh :


1) Unsur bantuan kepemimpinan : para wakil direktur
2) Unsur bantuan administrasi : kepala bagian sekretariat
3) Unsur bantuan pelaksanaan fungsional : para kepala bidang
4) Unsur bantuan pelaksanaan keuangan : bidang keuangan
5) Unsur bantuan fungsional : kepala unit pelaksana fungsional.
b. Bagian sekretariat mempunyai tugas :
1) Mempersiapkan dan menyusun program laporan mengenai kegiatan
semua satuan organisasi dalam lingkungan RS
2) Melakukan pengelolaan pegawai urusan ketata - usahaan
3) Melakukan ketata - usahaan penderita rawat inap
4) Melaksanakan pencatatan medis
c. Instalasi
1) Bertugas sebagai penunjang UPF, yang meliputi :
2) Farmasi
3) Patologi
4) Laboratorium
5) Gizi
6) Pemeliharaan RS
7) Kamar jenazah
d. Unit pelaksana fungsional
Melakukan usaha pelayanan kesehatan :
1)
2)
3)

Promotif
Preventif
Kuratif

4)
Rehabilitatif
5)
Rujukan
e. Bidang - bidang
Bidang penunjang medis : mengkoordinasikan seluruh kebutuhan
1) Unit - unit :
a) Unit anestesi dan perawatan intensif .
b) Unit pelayanan darurat medis.
c) Unit radiologi.
d) Unit pelayanan rehabilitasi
2) Instalasi
Bidang pelayanan medis : mengkoordinasikan seluruh unit pelaksana
fungsional yang langsung atau tidak langsung memperlancar kegiatan
pelayanan kegiatan pada UPF.
Bidang pendidikan dan latihan mempunyai tugas :
a. Mengatur dan mengkoordinasikan pendidikan dan latihan dokter, dokter
ahli, dan paramedis.
b. Melaksanakan penataran medis dan paramedis dalam rangka sistem
rujukan.
c. Melaksanakan kegiatan perpustakaan
Bidang keuangan mempunyai tugas :
a. Mempersiapkan dan menyusun anggaran pendapatan dan belanja,
pertanggung jawaban keuangan .
b. Melakukan tata usaha keuangan, pengelolaan bendahara.
c. Pengelolaan penerimaan, pembukuan penyetoran ke kas negara dan
pertanggung jawaban keuangan yang diperoleh dari pelayanan RS
Jenjang organisasi
1.
2.
3.
4.

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPNI


Dewan Pimpinan Daerah Tingkat I (DPD I) PPNI
Dewan Pimpinan Daerah Tingkat II (DPP II) PPNI
Komisariat PPNI (pengurus pada institusi dengan jumlah anggota 25 orang

Struktur organisasi tingkat pusat


1) Ketua umum
Ketua-ketua :
a. Pembinaan Organisasi
b. Pembinaan pendidikan dan latihan
c. Pembinaan pelayanan
d. Pembinaan IPTEK
e. Pembinaan kesejahteraan
2) Sekretaris Jenderal
Sekretaris berjumlah 5 orang yang dibagi sesuai dengan pembidangan
ketua-ketua dan Departemen
a.Departemen organisasi, keanggotaan dan kaderisasi
b.Departemen pendidikan
c.Departemen pelatihan
d.Departemen pelayanan di RS
e.Departemen pelayanan di puskesmas
f. Departemen penelitian
g.Departemen hubungan luar negeri
h.Departemen kesejahteraan anggota
i. Departemen pembinaan yayasan
2. Fungsi Organisasi
Mengusahakan hubungan secara efektif antar orang-prang yang melahirkan
kerjasama yang efisien sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan. Dengan kata
lain, suatu tugas yang dikerjakan secara terorganisir seharusnya terselesaikan
dengan lebih baik dan lebih cepat daripada tugas yang sama yang dikerjakan
dengan tidak terorganisir.
Maka jika kita berorganisasi tetapi hasil kerja kita tidak lebih baik dan
lebih cepat dibandingkan pekerjaan orang lain; maka dapat dikatakan kita
belum bisa berorganisasi.
Fungsi-fungsi pokok management berorganisasi:
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan fungsi dasar dari manajemen. Perencanaan
dalam manajemen keperawatan adalah proses mental dimana semua manajer

perawat menggunakan data yang valid dan dapat dipercaya untuk


mengembangkan objektif dan menentukan sumber-sumber yang dibutuhkan
dan cetak biru yang digunakan dalam mencapai objektif. Tujuan utama dari
perencanaan adalah membuat kemungkinan yang paling baik dalam
penggunaan personel, bahan, dan alat.
Huber (2006) menyatakan bahwa perencanaan merupakan fungsi
manajemen yang digunakan untuk memilih prioritas, hasil, dan metode yang
digunakan untuk sebuah sistem dan kemudian membimbing sistem untuk
mengikuti arahan tersebut. Robins dan Coulter (2007) menyatakan bahwa
fungsi perencanaan mencakup proses merumuskan sasaran, membangun
strategi untuk mencapai sasaran yang telah disepakati, dan mengembangkan
perencanaan tersebut untuk memadukan dan mengkoordinasikan sejumlah
kegiatan.
b. Pengorganisasian (Organizing)
Fungsi

manajemen

keperawatan

dalam

organisasi

adalah

mengembangkan seseorang dan merancang organisasi yang paling sederhana


untuk

menyelesaikan

pekerjaan.

Pengorganisasian

meliputi

proses

memutuskan tingkat organisasi yang diperlukan untuk mencapai objektif


divisi keperawatan, departemen atau pelayanan, dan unit (Swansburg, 2000).
Huber

(2006)

menyatakan

bahwa

pengorganisasian

adalah

fungsi

manajemen yang berhubungan dengan mengalokasi dan mengatur sumber


daya untuk menyelesaikan tujuan yang dicapai. Peran manajer dalam fungsi
pengorganisasian adalah menentukan, tugas yang akan dikerjakan, individu
yang

akan

mengerjakan,

pertanggungjawaban,

dan

proses

pengelompokkan
pengambilan

tugas,
keputusan.

struktur
Manajer

bertanggung jawab juga dalam merancang pekerjaan staf yang digunakan


untuk mencapai sasaran organisasi (Robins & Coulter, 2007).
c. Pengaturan staf (Staffing)
Pengaturan staf dan penjadwalan adalah komponen utama dalam

manajemen keperawatan. Pengaturan staf keperawatan merupakan proses


yang teratur, sistematis, rasional diterapkan untuk menentukan jumlah dan
jenis personel keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan
keperawatan pada standar yang ditetapkan sebelumnya pada kelompok
pasien dalam situasi tertentu (Swansburg, 2000). Pengaturan staf
memerlukan banyak perencanaan dari manajer. Perencanaan pengaturan staf
dipengaruhi oleh misi dan tujuan institusi, dan dipengaruhi oleh kebijakan
personel (Swansburg, 2000).
d. Kepemimpinan (Leading)
Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi kelompok untuk
menentukan dan mencapai tujuan. Kepemimpinan difokuskan kepada gaya
kepemimpinan situasi kemungkinan dan faktor-faktor seperti manusia,
pekerjaan, situasi, organisasi, dan faktor-faktor lingkungan. Manajer perawat
dalam

fungsi

ini

berperan

untuk

merangsang

motivasi

dengan

mempraktikkan fungsi kepemimpinan karena perilaku motivasi merupakan


promosi, autonomi, membuat keputusan, dan manajemen partisipasi
(Swansburg, 2000).
Fungsi

kepemimpinan

menurut

Huber

(2006)

adalah

fungsi

manajemen yang mengarahkan dan kemudian mempengaruhi individu


tersebut untuk mengikuti arahan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah
disepakati dan yang telah ditentukan. Fungsi kepemimpinan menurut Fayol
dalam Robins & Coulter (2007) adalah fungsi yang memotivasi stafnya
ketika stafnya bekerja dan mencari berbagai cara untuk menyelesaikan
masalah perilaku stafnya.
e. Pengendalian atau Pengevaluasian (Controlling)
Pengendalian atau pengevaluasian adalah suatu fungsi yang terus
menerus dari manajemen keperawatan yang terjadi selama perencanaan,
pengorganisasian, dan pengerahan aktivitas. Melalui prsoses ini standar
dibuat dan kemudian digunakan, diikuti umpan balikyang menimbulkan

perbaikan (Swansburg, 2000). Huber (2006) menyatakan bahwa fungsi


pengendalian adalah fungsi yang digunakan untuk memantau dan mengatur
perencanaan, proses, dan sumber daya manusia yang efektif dan efisien
untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
Robins & Coulter (2007) menyatakan bahwa fungsi ini adalah fungsi
yang terakhir di dalam manajemen dan fungsi memantau dan mengevaluasi
setiap kegiatan yang telah berjalan sesuai dengan tujuan yang telah
direncanakan dan memantau kinerja stafnya, Kinerja tersebut kemudian
dibandingkan dengan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Apabila
kinerja tersebut menyimpang maka fungsi manajemen yang lain diperiksa
kembali. Proses pengendalian ini meliputi memantau, memperbandingkan,
dan mengoreksi.
Fungsi PPNI
1) Sebagai wadah tenaga keperawatan yang memiliki kesatuan kehendak sesuai
dengan posisi jabatan, profesi dan lingkungan untukmencapai tujuan
organisasi
2) Mengembangkan dan mengamalkan pelayanan kesehatan yang berorientasi
pada program-program pembangunan manusia secara holistic tanpa
membedakan golongan, suku, keturunan, agama/kepercayaan terhadap
Tuhan YME
3) Menampung,memadukan,menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi tenaga
keperawatan serta mengembangkan keprofesian dan kesejahteraan tenaga
keperawatan.
C. Tipe Working Relationship
1. Birokrasi
Birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas operasi yang sangat
rutin yang dicapai melalui spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat
formal, tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam berbagai departemen

fungsional, wewenang terpusat, rentang kendali yang sempit, dan pengambilan


keputusan yang mengikuti rantai komando.
Kekuatan utama birokrasi ada kemampuannya menjalankan kegiatan
kegiatan yang[- terstandar secara sangat efisien, sedangkan kelemahannya
adalah dengan spesialisasi yang diciptakan bisa menimbulkan konflik-konflik
subunit, karena tujuan-tujuan unit fungsional dapat mengalahkan tujuan
keseluruhan organisasi. Kelemahan besar lainnnya adalah ketika ada kasus yang
tidak sesuai sedikit saja dengan aturan, tidak ada ruang untuk modifikasi karena
birokrasi hanya efisien sepanjang karyawan menghadapi masalah yang
sebelumnya telah mereka hadapi dan sudah ada aturan keputusan terprogram
yang mapan.
2. Matriks
Matriks adalah sebuah struktur yang menciptakan garis wewenang ganda
dan menggabungkan departementalisasi fungsional dan produk. Struktur
matriks dapat ditemukan di agen-agen periklanan, perusahaan pesawat terbang,
laboratorium penelitian dan pengembangan, perusahaan konstruksi, rumah
sakit,

lembaga-lembaga

pemerintah,

universitas,

manajemen, dan perusahaan hiburan.


Pada hakikatnya, struktur matriks
departementalisasi: fungsional dan produk.
fungsional

terletak,

misalnya,

pada

perusahaan

menggabungkan

konsultan

dua

bentuk

Kekuatan departementalisasi

penyatuan

para

spesialis,

yang

meminimalkan jumlah yang diperlukan sembari memungkinkan pengumpulan


dan pembagian sumber daya khusus untuk keseluruhan produk. Kelemahan
terbesarnya adalah sulitnya mengoordinasi tugas para spesialis fungsional yang
beragam agar kegiatan mereka rampung tepat waktu dan sesuai anggaran.
Departementalisasi produk, di lain pihak, memiliki keuntungan dan kerugian
yang berlawanan. Departementalisasi ini memudahkan koordinasi di antara para
spesialis untuk menyelesaikan tugas tepat waktu dan memenuhi target
anggaran. Lebih jauh, departementalisasi ini memberikan tanggung jawab yang
jelas atas semua kegiatan yang terkait dengan sebuah produk, tetapi dengan

duplikasi biaya dan kegiatan. Matriks berupaya menarik kekuatan tersebut


sembari menghindarkan kelemahan-kelemahan mereka.
Karakteristik struktural paling nyata dari matriks adalah bahwa ia
mematahkan konsep kesatuan komando sehingga karyawan dalam struktur
matriks memiliki dua atasan -manajer departemen fungsional dan manajer
produk. Karena itulah matriks memiliki rantai komando ganda.
3. Organil Network
Organisasi nirbatas adalah sebuah organisasi yang

berusaha

menghapuskan rantai komando, memiliki rentang kendali tak terbatas, dan


mengganti departemen dengan tim yang diberdayakan.
D. Fungsi-fungsi dalam organisasi
1.

Formal dan informal


a. Formal
Sistem kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang
dikoordinir untuk mencapai suatu tujuan yang ditetapkan secara
rasional. Organisasi formal memiliki struktur yang terumuskan dengan
baik, yang menerangkan hubungan-hubungan otoriternya, kekuasaan,
akuntabilitas dan tanggung jawabnya. Struktur yang ada juga
menerangkan bagaimana bentuk saluran-saluran melalui apa komunikasi
berlangsung. Kemudian menunjukkan tugas-tugas terspesifikasi bagi
masing-masing anggotanya.
Hierarki sasaran organisasi formal dinyatakan secara eksplisit.
Status, prestise, imbalan, pangkat dan jabatan, serta prasarat lainnya
terurutkan dengan baik dan terkenadali. Selain itu, organisasi formal
tahan lama dan mereka terencana dan mengingat bahwa ditekankan
mareka beraturan, maka mereka relative bersifat tidak fleksibel. Contoh
organisasi formal adalah perusahaan besar, badan-badan pemerintah,
dan universitas-universitas.
b. Informal
Kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang tidak
dikoordinir untuk mencapai tujuan yang disadari tapi akhirnya

mempunyai tujuan bersama, dimana kedudukan dan fungsi-fungsi yang


dilakukan tampak kabur. Keanggotaan pada organisasi-organisasi
informal dapat dicapai baik secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap
kali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota
organisasi tersebut.
Sifat eksak hubungan antar anggota dan bahkan tujuan organisasi
yang bersangkutan

tidak terspesifikasi. Contoh organisai informal

adalah pertemuan tidak resmi seperti makan malam bersama. Organisasi


informal dapat dialihkan menjadi organisasi formal apabila hubungan
didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan.
Selain itu, organisasi juga dibedakan menjadi organisasi primer dan
organisasi sekunder menurut Hicks

2.

Finansial gian
Menejemen merupakan suatu poses yang melibatkan kegiatan
perencanaan,

pengorganisasian,

pengarahan

dan

pengendalian

yang

dilakukan untuk mencapai sasaran perusahaan melalui pemanfaatan sumber


daya manusia dan sumber daya lainnya (M. Fuad 2002).
Manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan

pelayanan

keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan


keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan
masyarakat.
Manajemen finansial adalah suatu proses dalam pengaturan aktivitas
atau kegiatan keuangan dalam suatu organisasi, dimana di dalamnya
termasuk kegiatan planning, analisis dan pengendalian terhadap kegiatan
keuangan yang biasanya dilakukan oleh menejer keuangan.
Menejemen keuangan dapat diartikan sebagai menejemen dana baik
yang berkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi
secara efektif maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi
atau pembelanjaan secara efisien (Agus Sartono 2001).

Tujuan manajemen financial


1. Memaksimalkan kesejahteraan pemilik perusahaan atau memaksimalkan
nilai perusahaan.
2. Menjaga kelangsungan hidup perusahaan.
3. Mencapai kesejahteraan masyarakat sebagai tanggung jawab sosial
perusahaan
4. Fungsi keperawatan, mewakili sebagian besar pengeluaran total yaitu
sepertiga dari keseluruhan anggaran dasar rumah sakit.
Peran dan arti penting menejemen financial
1. Fungsional perusahaan
2. Posisi menejer keuangan dalam struktur organisasi
3. Pengembangan karir menejer keuangan
4. Kesempatan berkarir.
3.

Efisiensi
Sama halnya dengan penilaian tentang efektifitas, maka penilaian
tentang efisiensi program juga melihat keberhasilan program dalam
mencapai tujuan ataupun mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi, tetapi
dikaitkan dengan penggunaan dana.
Di dalam organisasi, efektivitas merupakan bahasan yang diangkat
berdasarkan issue seperti restrukturisasi sumberdaya yang tersedia,
perubahan teknologi, pemodifikasian iklim dan budaya organisasi dan
pengembangan strategi performa anggota organisasi berbasis target.
Sementara itu, bahasan efisiensinya meliputi evaluasi atas segala
sumberdaya yang dioperasikan; apa-apa yang jadi bahan bakar efektivitas.

Ini pada gilirannya akan meliputi pengorganisiran yang lebih baik atas aspek
man, material, machine, methods dan money. Seluruh sumberdaya tersebut
hanya tersedia dalam jumlah terbatas, sehingga adalah tugas para manajer
untuk bisa mendayagunakan semua itu secara optimal dalam waktu yang
sependek mungkin.
Baik efektivitas maupun efisiensi mengharuskan organisasi maupun
pribadi- untuk terus menetapkan target, menganalisa kerja dengan seksama,
mengatur prioritas, dan senantiasa berfokus pada apa-apa yang paling bisa
berikan dampak atau nilai terbesar untuk setiap waktu yang dihabiskan.
Dalam makalah ini, kami akan membahas keefektifan dan efisiensi
suatu organisasi dilihat dari segi visi misi, struktur organisasi, strategi
organisasi dan juga kebudayaan organisasi.
Efisiensi menceritakan bagaimana suatu usaha dilakukan untuk
menekan laju pertumbuhan eksploitasi yang semakin meningkat karena
penggunaan biaya/dana yang sudah melebihi target yang direncanakan. Di
satu sisi, maksud dari efektivitas adalah meminta dan berusaha agar segala
usaha atau aktivitas organisasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan dengan
tetap melakukan efesiensi secara benar sesuai porsinya.
Pernyataan H. Emerson adalah:Efisiensi adalah perbandingan yang
terbaik antara input (masukan) dan outputefisiensi adalah sesuatu yang kita
kerjakan berkaitan dengan menghasilkan hasil yang optimal dengan tidak
membuang banyak waktu dalam proses pengerjaannya.efektif belum tentu
efisien dan begitu sebaliknya.
4.

Avoiding critism
Avoiding gaya seseorang atau organisasi yang cenderung untuk
menghindari terjadinya konflik. Hal-hal yang sensitif dan potensial
menimbulkan konflik sedapat mungkin dihindari sehingga tidak menimbulkan
konflik terbuka. Setiap kelompok dalam satu organisasi, dimana didalamnya
terjadi interaksi antara satu dengan lainnya, memiliki kecenderungan
timbulnya konflik. Dalam institusi layanan kesehatan terjadi kelompok

interaksi, baik antara kelompok staf dengan staf, staf dengan pasen, staf
dengan keluarga dan pengunjung, staf dengan dokter, maupun dengan lainnya
yang mana situasi tersebut seringkali dapat memicu terjadinya konflik.
Konflik sangat erat kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk perasaan
diabaikan, disepelekan, tidak dihargai, ditinggalkan, dan juga perasaan
jengkel karena kelebihan beban kerja.
Konflik adalah situasi yang terjadi ketika ada perbedaan pendapat
atau perbedaan cara pandang diantara beberapa orang, kelompok atau
organisasi. Sikap saling mempertahankan diri sekurang-kurangnya diantara
dua kelompok, yang memiliki tujuan dan pandangan berbeda, dalam upaya
mencapai satu tujuan sehingga mereka berada dalam posisi oposisi, bukan
kerjasama.
Suatu organisasi dapat mencapai tujuannya dengan cara semua pihak
dalam organisasi tersebut bekerja dengan efektif dan efisien. Penilaian
tentang efektifitas program menunjuk pada keberhasilan program dalam
mencapai tujuan ataupun mengatasi masalah yang dihadapi.
Dalam pengetahuan administrasi suatu organisasi masalah yang
menjadi intinya adalah efisien tujuan pokok dari ilmu administrasi didalam
pelaksanaan pekerjaan yang ada dengan pembiayaan minimal untuk tenaga
kerja dan barang-barang. Efisiensi sebagai perbandingan terbaik antara
sesuatu usaha dengan hasilnya perbandingan ini dapat dilihat dari 2 segi
yaitu segi hasil dan segi usaha
a. Dilihat dari segi hasil suatu usaha dapat dikatakan efisien kalau usaha itu
memberikan hasil yang terbaik
b. Dilihat dari segi usaha suatu usaha dapat dikatakan efesien kalau sesuatu
hasil yang dikehendaki dapat tercapai dengan usaha yang teringan.
teringan dalam hubungannya dengan pemakaian waktu benda atau ruang
yang digunakan untuk melakukan usaha.
5.

Public image

Public image adalah suatu gambaran umum tentang suatu organisasi.


Public telah memiliki ruang yang lebih luas untuk memantau sepak terjang
organisasi/perusahaan baik yang berkaitan dengan produk/jasa, pengelolaan
organisasi sampai kinerja suatu organisasi. Sehingga tuntutan untuk menjaga
terus citra atau image baik menjadi sesuatu yang mendesak. Citra yang baik
dadi suatu organisasi akan mempunyai dampak yang menguntungkan,
merupakan asset karena image mempunyai suatu dampak pada persepsi
public dari komuniksi dan operasi organisasi dalam berbagai hal.
Membangun suatu imageyang baik tidak sama dengan memperbaiki
kembali bangunan yang telah hancur. Ada factor kepercayaan public yang
sangat kental melekat di dalamnya sehingga bila reputasi jelek maka
kepercayaan pubilk yang melekat itu lepas dengan cepat dan untuk
menempelkannya kembali butuh waktu yang lama. Dalam kaitan ini, para
praktisi public Relations memiliki peran kunci dalam memelihara image.
Public relation adalah bidang aktivitas yang bertujuan menciptakan saling
pengertian yang baik antara suatu organisasi dengan publiknya. Dalam
system semacam ini, organisasi menyadari bahwa tanpa dukungan
publiknya, ia tak dapat tumbuh optimal.
Sejauhmana

suatu

organisasi/perusahaan

memandang

perlunya

manajemen reputasi/citra? Pertanyaan ini sangat signifikan untuk diajukan.


Mengapa demikian? Karena kini, publik telah mengalami perubahan begitu
cepat dalam mencermati lingkungan yang ada di sekitarnya. Publik telah
memiliki ruang yang lebih luas untuk memantau sepak terjang
organisasi/perusahaan baik yang berkaitan dengan produk/jasa, pengelolaan
organisasi/perusahaan sampai kinerja suatu perusahaan. Sehingga, tuntutan
untuk terus menjaga citra (image) baik menjadi sesuatu yang mendesak.
Citra yang baik dari suatu organisasi akan mempunyai dampak yang
menguntungkan, merupakan aset, karena citra mempunyai suatu dampak
pada persepsi publik dari komunikasi dan operasi organisasi dalam berbagai

hal, sedangkan citra yang jelek akan merugikan organisasi. Dalam jangka
panjang citra baik membawa banyak manfaat, baik pada saat organisasi
sedang jaya maupun pada saat-saat organisasi menghadapi berbagai macam
krisis.
Webster (1993) mendefinisikan citra sebagai gambaran mental atau
konsep tentang sesuatu. Pengertian citra itu sendiri abstrak (intangible), tidak
nyata , tidak bisa digambarkan secara fisik dan tidak dapat diukur secara
matematis, karena citra hanya ada dalam pikiran. Walaupun demikian,
wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk , seperti
penerimaan dan tanggapan baik positif maupun negatif yang datang dari
publik (khalayak sasaran ) dan masyarakat luas pada umumnya. Citra bisa
diketahui, diukur dan diubah. Penelitian mengenai citra organisasi
(corporate image) telah membuktikan bahwa citra bisa diukur dan diubah,
walaupun perubahan citra relatif lambat. Dengan kata lain suatu citra akan
bertahan cukup permanen pada kurun waktu tertentu.
Setiap organisasi mau tidak mau memiliki citra di masyarakat. Karena
citra ada di benak masyarakat, maka salah satu hal yang harus dilakukan
pimpinan organisasi adalah menjaga jangan sampai karena berbagai macam
sebab, mayoritas anggota masyarakat mempunyai persepsi yang salah
tentang organisasinya sehingga menimbulkan citra negatif. Citra negatif
akan merugikan organisasi karena citra menjadi salah satu pegangan bagi
banyak orang dalam mengambil berbagai keputusan penting seperti antara
lain: membeli barang atau menggunakan jasa yang dihasilkan. Dengan
demikian citra organisasi harus menjadi perhatian pimpinan organisasi.
Pimpinan organisasi perlu mengupayakan agar persepsi masyarakat tidak
jauh menyimpang dari apa yang diharapkan.
Walaupun citra adalah dunia menurut persepsi, tetapi citra perlu
dibangun secara jujur agar citra yang dipersepsikan oleh publik adalah baik
dan benar, dalam arti ada konsistensi antara citra dengan realitas. Citra tidak
bisa dibangun dengan kebohongan informasi. Ketika tidak ada konsistensi

antara kinerja nyata dan citra yang dikomunikasikan, realitas akan menang.
Komunikasi organisasi yang dirasakan tidak dipercaya, akan merusak citra
bahkan mungkin lebih parah lagi. Jadi, membangun citra di atas informasi
yang tidak benar, tidak akan mampu menaikkan citra, malah sebaliknya citra
akan menjadi rusak. Dengan demikian, sebenarnya image adalah realitas,
oleh karena itu pengembangan dan perbaikan citra harus didasarkan pada
realita. Dalam mengkomunikasikan produk atau programnya suatu
organisasi harus menggambarkan realitas yang sebenarnya.
Proses pembentukan citra pada akhirnya akan menghasilkan sikap,
pendapat, tanggapan, atau perilaku tertentu. Pendapat dan keinginan, apabila
tertuju pada suatu isue tertentu akan menimbulkan sikap (attitude) tertentu
yang dapat timbul sebagai public opini. Publik opini harus dibentuk melalui
komunikasi yang efektif dan persuasif sehingga menjadi favourable public
opinion. Kenyatan menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang
memiliki citra dan reputasi yang bagus, umumnya menikmati enam hal
a)
b)
c)
d)

yaitu:
Hubungan yang baik dengan para pemuka masyarakat,
Hubungan positif dengan pemerintah setempat,
Rasa kebanggaan dalam organisasi dan diantara khlalayaj sasaran,
Saling pengertian antara khalayak sasaran, baik internal maupun
eksternal dan meningkatkan kesetiaan para staf perusahaan
Adapun fungsi Public Relations, yaitu :
a) Programming
Fungsi ini antara lain mencakup analisis masalah dan peluang menentukan
goals dan publik ( kelompok orang yang dukungan dan pemahamannya
diperlukan organisasi) serta merekomendasi dan merencanakan kegiatan,
termasuk di dalamnya pembuatan anggaran, penjadwalan, pembagian dan
pendelegasian tugas.
b) Relationship

Seorang praktisi PR yang berhasil harus mengembangkan ketrampilan


dalam mengumpulkan informasi dari manajemen, sejawat dalam organisasi
dan dari sumber-sumber di luar organisasi. Untuk itulah banyak kegiatan
PR mensyaratkan para praktisinya untuk memiliki kemampuan menjalin
hubungan baik dengan publik internal maupun eksternal.
c) Writing dan Editing
Sejalan dengan sasaran kegiatan PR, yakni mencapai publik yang amat
besar, alat penting yang digunakannya adalah melalui barang-barang
cetakan. Banyak ragam barang cetakan yang digunakan dalam kegiatan PR
seperti laporan tahunan, booklets, media releases, newsletter,buletin, dll.
Tulisan yang jelas dan masuk akal sangat penting artinya bagi keefektifan
kerja praktisi PR. Sebagian besar pekerjaan PR berkaitan dengan penulisan
dan penyuntingan
d) Information.
Membangun sistem informasi yang baik merupakan salah satu cara
menyebarkan informasi secara efektif kepada publik. Ini biasanya berkaitan
dengan usaha pengenalan cara kerja berbagai media atau saluran
komunikasi yang ada termasuk di dalammnya surat kabar, media
elektronik, radio dan televisi serta multimedia.
e) Production
Fungsi ini berkaitan dengan kegiatan produksi media komunikasi yang
digunakan dalam penyebaran pesan-pesan yang dirancang praktisi PR.
Untuk itu praktisi PR harus memiliki pengetahuan tentang tata letak,
tipografi, fotografi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan produksi media
komunikasi yang digunakan dalam kegiatan PR.
f) Special Event
Konferensi pers, pameran, ulangtahun perusahaan

pemberian

penghargaan, kinjungan perusahaan, pameran, seminar dan sebagainya


merupakan kegiatan yang harus ditangani PR. Kegiatan seperti ini biasanya
diarahkan untuk dapat menarik perhatian dan memperoleh pengakuan dari
publik terhadap keberadaan perusahaan. Aspek-aspek yang perlu mendapat

perhatian biasanya berkaitan dengan protokoler, perencanaan , koordinasi,


detail-detail jadwal dengan kegiatannya, serta persiapan publikasi
penunjangnya seperti booklets, publisitas dan juga laporannya.
g) Speaking
Keterampilan penting yang juga harus dimiliki seorang praktisi PR adalah
ketrampilan berbicara baik untuk tatap muka individual maupun untuk
tatap muka kelompok (public speaking) termasuk menulis naskahnya.
h) Research dan Evaluation
Aktivitas penting yang dilakukan seorang praktisi PR adalah pengumpulan
fakta. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk itu, baik yang dilakukan
secara formal maupun informal.
6.

Avoiding critism
Satu pihak menolak bahwa konflik itu ada, mengubah topik, dan
menghindari diskusi-diskusi, seraya tidak memperlihatkan komitmen
penyelesaian. Gaya ini efektif dalam situasi dimana terdapat bahaya
penyerangan fisik, tanggapan atas isu remeh, tidak berpengaruh terhadap
kesempatan

untuk

mencapai

tujuan,

atau

rumitnya

situasi

yang

membutuhkan solusi.
Avoiding (penghindaran) konflik punya keuntungan dalam hal
pemeliharaan hubungan, dalam mana hubungan diyakini akan terluka akibat
proses penyelesaian konflik. Kerugiannya gaya ini adalah konflik tidak akan
selesai. Berlebihannya penggunaan gaya ini justru mendorong munculnya
konflik internal dalam diri individu yang melakukannya. Orang lainpun
cenderung meremehkan si penghindar.
Penghindaran masalah biasanya bukan malah menyelesaikan masalah
melainkan justru menambahnya. Semakin lama kita menunggu konfrontasi
dengan orang lain, semakin sulit konfrontasi yang terjadi nantinya.
Manajemen krisis adalah fungsi organisasi kritis. Kegagalan dapat
mengakibatkan luka serius kepada stakeholder, kerugian bagi suatu
organisasi, atau akhir keberadaannya.

7.

Avoiding lawsuits
Dalam suatu organisasi pasti akan menghadapi konflik atau tantangan,
oleh karena itu suatu organisasi mampu menghadapi setiap masalah atau
konflik untuk mencapai tujuannya. Avoiding adalah taktik untuk
menghindari konflik atau kritik yang cocok digunakan untuk masalah yang
sepele atau remeh, atau jika biaya yang harus dikeluarkan untuk konfrontasi
jauh lebih besar daripada keuntungan yang akan diperoleh . gaya ini tidak
cocok untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit. Kekuatan dari
strategi penghindaraan adalah situasi yang membingungkan atau mendua.
Sedangkan penyelesaian masalah hanya bersifat sementara.

8.

Meeting individual needs


Adaptasi terhadap perubahan selalu menjadi kebutuhan pekerjaan untuk
keperawatan. Personel keperawatan bekerja untuk berbagai atasan, termasuk
pasien secara individual, dokter, kepala perawat, da manajer perawat klinis
yang berbeda setiap pergantian shift. Praktisi keperawatan akan mengetahui
peran-peran mereka berubah beberapa kali dalam sehari, kadang-kadang
menjadi manajer, kadang perawat klinis,kadang konsultan, dan selalu dalam
peran multiple.
Menurut William, ada empat alasan umum untuk melakukan
perubahan, yaitu:

1.
2.
3.
4.

Untuk meningkatkan arti kepuasan ekonomi yang diinginkan seseorang


Untuk meningkatkan profitabiltas
Untuk mendorong kerja manusia dan kesejahteraan manusia
Untuk memberikan kepuasan individu dan kesejahteraan sosial.

E. Nursing Care Delivery System (Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan)


1. Case Methode (Metode Kasus)
Metode kasus kadang-kadang disebut juga sebagai perawatan pasien
total. Dalam metode ini perawat bertanggung jawab penuh terhadap perawatan
pasien selama shift bekerja. Jumlah pasien yang ditugaskan bisa lebih dari
satu. Metode ini sering dipraktekkan dalam pengaturan perawatan intensif
atau dalam pengaturan perawatan kesehatan di rumah.
Kelebihan : metode ini dianggap sebagai metode pemberian asuhan
keperawatan yang komprehensif dan holistik .
Kekurangan : metode ini memerlukan tenaga perawat yang cukup banyak dan
kurangnya kotinuitas antara shift.
Kepala ruang
perawat

perawat

Pasien (1/
lebih)

Pasien
(1/ lebih)

perawat

perawat

Pasien
Pasien (1/
(1/ lebih)
lebih)
Gambar 1. Metode kasus

perawat
Pasien
(1/ lebih)

2. Functional methode (Metode Fungsional)


Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan
keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat
itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap
perawat hanya melakukan 1-2 jenis intervensi keperawatan kepada semua
pasien dibangsal.

Kelebihan :
a) Manajenen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tugas yang jelas dan
pengawasan yang baik.
b) Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga.
c) Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan perawat
pasien diserahkan kepada perawat yunior dan atau belum berpengalaman.
Kekurangan :
a) Tidak memberikan kepuasan kepada pasien maupun perawat.
b) Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses
keperawatan .
c) Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan
ketrampilan saja.

Kepala Ruang
Perawat :
pengobatan

Perawat :
merawat luka

Perawat :
pengobatan

Perawat :
merawat luka

Gambar 2. Metode
Fungsional
Pasien/klien
3. Team Nursing (Keperawatan Tim)
Metode tim merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan dimana
seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan kelompok klien melalui upaya kooperatif dan
kolaboratif ( Douglas, 1984). Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap
anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan
asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat
yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat. Menurut
Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus berdasarkan konsep berikut:
a. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan tehnik
kepemimpinan.
b. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin.
c. Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.

d. Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila
didukung oleh kepala ruang.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda- beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan
dibagi menjadi 2 3 tim/ group yang terdiri dari tenaga professional, tehnikal dan
pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu. Dalam penerapannya ada
kelebihan dan kelemahannya yaitu (Nursalam, 2002):
Kelebihan :
a)Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
b)
Mendukung pelaksanakaan proses keperawatan.
c)Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan
memberi kepuasan kepada anggota tim.
Kekurangan :
Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi
tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada
waktu-waktu sibuk.
Tanggung jawab anggota tim :
a. Memberikan asuhan keperawatan kepada pasien di bawah tanggung jawabnya
b. Kerjasama dengan anggota tim dan antar tim
c. Memberikan laporan
Tanggung jawab ketua tim :
a. Membuat perencanaan
b. Membuat penugasan, supervisi, dan evaluasi
c. Mengenal atau mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan
pasien
d. Mengembangkan kemampuan anggota
e. Menyelenggarakan konferensi
Tanggung jawab kepala ruang :
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Pengarahan
d. Pengawasan

Kepala ruang
Ketua Tim

Ketua Tim

Ketua Tim

Staf perawat

Staf perawat

Staf perawat

pasien

Gambar
3. Keperawatan Tim
pasien

pasien

4. Primary Nursing (Keperawatan Primer)


Menurut Gillies (1986) perawat yang menggunakan metode keperawatan
primer dalam pemberian asuhan keperawatan disebut perawat primer (primary
nurse). Pada metode keperawatan primer terdapat kontinutas keperawatan dan
bersifat komprehensif serta dapat dipertanggung jawabkan, setiap perawat primer
biasanya mempunyai 4 6 klien dan bertanggung jawab selama 24 jam selama
klien dirawat dirumah sakit. Perawat primer bertanggung jawab untuk
mengadakan komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan keperawatan
dan juga akan membuat rencana pulang klien jika diperlukan. Jika perawat primer
sedang tidak bertugas , kelanjutan asuhan akan didelegasikan kepada perawat lain
(associate nurse).
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh
selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari pasien masuk
sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktik kemandirian perawat, ada
kejelasan antara si pembuat rencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini
ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan
perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi
keperawatan selama pasien dirawat.
Kelebihan :
a) Bersifat kontinuitas dan komprehensif
b) Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan
memungkinkan pengembangan diri
c) Keuntungan antara lain terhadap pasien, perawat, dokter, dan rumah sakit.
Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan karena
terpenuhinya kebutuhan secara individu. Selain itu asuhan yang diberikan
bermutu tinggi dan tercapai pelayanan yang efektif terhadap pengobatan,
dukungan, proteksi, informasi, dan advokasi. Dokter juga merasakan kepuasan

dengan model primer karena senantiasa mendapatkan informasi tentang


kondisi pasien yang selalu diperbarui dan komprehensif.
Kekurangan :
Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan
pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self direction, kemampuan
mengambil keputusn yang tepat, menguasai keperawatan klinik, akontabel, serta
mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
Konsep dasar metode primer :
a. Ada tanggung jawab dan tanggung gugat
b. Ada otonomi
c. Ketertiban pasien dan keluarga
Tugas perawat primer :
a. Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif.
b. Membuat tujuan dan rencana keperawatan
c. Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama ia dinas
d. Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh
e.
f.
g.
h.

disiplin lain maupun perawat lain.


Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai
Menerima dan menyesuaikan rencana
Menyiapkan penyuluhan untuk pulang
Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial di

masyarakat.
i. Membuat jadwal perjanjian klinik
j. Mengadakan kunjungan rumah
Peran kepala ruang dalam metode primer :
a. Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawat primer
b. Orientasi dan merencanakan karyawan baru
c. Menyusun jadwal dinas dan memberi penugasan pada perawat asisten
d. Evaluasi kerja
e. Merencanakan atau menyelenggarakan pengembangan staf
f. Membuat 1-2 pasien untuk model agar dapat mengenal hambatan yang terjadi
Ketenagaan Metode Primer :
a. Setiap perawat primer adalah perawat bed side.
b. Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat
c. Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal
d. Perawat primer dibantu oleh perawat profesional lain maupun non profesional
sebagai perawat asisten.

Dokter

Kepala Ruang

Sarana RS

Perawat Primer
Pasie
Perawat
pelaksana
sore

n
Perawat
pelaksana
malam

Perawat
pelaksana jika
diperlukan pagi

Gambar 5 : Primary Nursing (Keperawatan Primer)

5. Nursing Case Management


Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia
dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak
ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari
berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat,
dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan
khusus seperti isolasi, intensive care.Metode ini berdasarkan pendekatan holistik
dari filosofi keperawatan. Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan dan
observasi pada pasien tertentu (Nursalam, 2002).
Kelebihan :
a) Perawat lebih memahami kasus per kasus
b) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah.
Kekurangan :
a) Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggung jawab
b) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang
sama

6. Patient Focus Care


Yaitu pengorganisasian pelayanan/asuhan keperawatan dimana perawat
mampu memberikan asuhan keperawatan mencakup seluruh aspek keperawatan yg
dibutuhkan.
Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada seorang pasien secara
menyeluruh, untuk mengetahui apa yang harus dilakukan pada pasien dengan baik.
Dalam metode ini dituntut kualitas serta kuantitas yang tinggi dari perawat,
sehingga metode ini sesuai jika digunakan untuk ruangan ICU ataupun ICCU.
Kelebihan :
Yaitu pengorganisasian pelayanan/asuhan keperawatan dimana perawat
mampu memberikan asuhan keperawatan mencakup seluruh aspek keperawatan yg
dibutuhkan.
Kekurangan :
a)

Sederhana dan langsung

b) Garis pertanggung jawaban jelas


c)

Kebutuhan pasien cepat terpenuhi

d) Memudahkan perencanaan tugas

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manajemen pelayanan keperawatan sebagai sub sistem manajemen rumah
sakit harus memperoleh tempat dan perhatian sama dengan manajemen lainnya,
sehingga rumah sakit dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. Lingkup
manajemen

operasional

dan

manajemen

asuhan

keperawatan

yaitu

merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengawasi sumber daya


keperawatan.
Fungsi-fungsi

manajemen

keperawatan

adalah

perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, yang harus dilakukan oleh manajer


dalam bentuk supervisi. Supervisi yang dilakukan oleh manajer keperawatan
secara baik dan terus menerus dapat memastikan pemberian asuhan keperawatan
sesuai dengan standar praktek keperawatan
B. Saran
Semoga dalam pembutan makalah inibisabermanfaat bagi para pembaca
terkhusus bagi penulis sendiri, segala kritik dan saran penuli sangat harapkan
agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Ellen Christina. M fuad, 2002, Anggaran Perusahaan suatu Pendekatan


praktis. Cetakan ke-2, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Huber, D. (2000). Leadership and Nursing Care Management. 2nd edition.
Philadelphia: W.B. Saunders Company
Nursalam, (2002). Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Robbins, S dan Coulter, M. 2007. Manajemen. Edisi Kedelapan, Penerbit PT
Indeks: Jakarta
Swansburg, R. C. 2000. Pengantar kepemimpinan dan manajemen
keperawatan untuk perawat klinis. Edisi terjemahan. Jakarta: Penerbit, EGC