Anda di halaman 1dari 35

HUKUM MEMAKAN DAGING ANJING

HALAMAN JUDUL

MAKALAH
Ditulis Sebagai Syarat Lulus
Ma'had Al-Islam Surakarta
Tingkat Aliyah

Oleh :
Abdurrahman
Sahab
bin Kastur
NM : 24039

MAHAD AL-ISLAM SURAKARTA


1435 H / 2014 M

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................................I
PENGESAHAN....................................................................................................II
KATA PENGANTAR............................................................................................III
DAFTAR ISI........................................................................................................ IV
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.

Latar Belakang Masalah.........................................................................

2.

Rumusan Masalah..................................................................................

3.

Tujuan Penelitian....................................................................................

4.

Kegunaan Penelitian...............................................................................

5.

Metodologi Penelitian.............................................................................

6.

Sistematika Penulisan............................................................................

BAB II DALIL-DALIL TENTANG HUKUM MEMAKAN DAGING ANJING...........5


1.

Surah Al-Anam (6) Ayat 145 tentang Makanan yang Diharamkan.........

2.

Hadits Abu Hurairah Radliyallahu anhu tentang Haramnya


Memakan Binatang Buas yang Bertaring................................................

3.

Hadits Abu Tsalabah Radliyallahu anhu tentang Larangan


Memakan Daging Binatang Buas yang Bertaring...................................

4.

Hadits

Ibnu

Abbas

Radliyallahu

anhu

Mengharamkan Sesuatu maka Allah

bahwa

jika

Allah

Mengharamkan untuk

Menjualnya dan Hadits Abu Masud Radliyallahu anhu bahwa


Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Melarang Menjual Anjing..................
BAB III PENDAPAT ULAMA TENTANG HUKUM MEMAKAN DAGING ANJING
.................................................................................................................. 8
1.

Memakan Daging Anjing adalah Mubah.................................................

2.

Memakan Daging Anjing adalah Makruh................................................

BAB l PENDAHULUAN

Hukum Memakan Daging Anjing

3.

Abdurrahman Sahab 2439

Memakan Daging Anjing adalah Haram..................................................

BAB IV ANALISIS..............................................................................................10
1.

Analisis Dalil-Dalil tentang Hukum Memakan Daging Anjing..........


1. 1 Analisis Surat Al-Anam (6) Ayat 145...............................................
1. 2 Analisis

Hadits Abu

Hurairah

Radliyallahu

anhu

tentang

Haramnya Memakan Binatang Buas yang Bertaring........................


1. 3 Analisis Hadits Abu Tsalabah Radliyallahu anhu tentang
Larangan Memakan Daging Binatang Buas yang Bertaring.............
1. 4 Hadits Ibnu Abbas Radliyallahu anhu bahwa jika Allah
Mengharamkan Sesuatu maka Allah Mengharamkan untuk
Menjualnya dan Hadits Abu Masud Radliyallahu anhu bahwa
Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Melarang Menjual Anjing............
2.

Analisis Pendapat Ulama tentang Hukum Memakan Daging


Anjing..................................................................................................
2.1 Memakan Daging Anjing itu Mubah..................................................
2.2 Memakan Daging Anjing itu Makruh.................................................
2.3 Memakan Daging Anjing itu Haram..................................................

BAB V PENUTUP..............................................................................................25
1.

Simpulan...............................................................................................

2.

Saran....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................26
LAMPIRAN DERAJAT HADITS.........................................................................30

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Sepengetahuan penulis, daging anjing itu haram untuk dimakan.
Pengetahuan ini penulis dapatkan dari orang tua penulis dan para Ustadz
Mahad Al-Islam.
Setelah menelaah kitab-kitab yang membahas tentang memakan
daging anjing, penulis mendapati sebagian ulama berpendapat bahwa daging

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

anjing itu boleh dimakan

sedangkan

sebagian lain berpendapat bahwa

daging anjing itu tidak boleh dimakan. 1


Berdasarkan fakta di atas, penulis termotivasi untuk menelaah dan
meneliti lebih rinci perihal memakan daging anjing, kemudian menyajikan
hasilnya dalam bentuk tulisan ilmiah yang berjudul HUKUM MEMAKAN
DAGING ANJING.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah pada
makalah ini adalah Apa hukum memakan daging anjing?
3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hukum memakan daging anjing menurut syariat Islam.
4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:
1

Menambah pengetahuan tentang hukum memakan daging anjing, bagi


penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Rujukan bagi peneliti lain dalam bidang yang sama.

Pelengkap khazanah perpustakaan dalam bidang fiqih.

5. Metodologi Penelitian
5.1

Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yaitu penelitian
yang

dilakukan

dengan

mengumpulkan

data

dari

berbagai

kepustakaan baik yang terdapat di perpustakaan maupun tempat lain. 2


5.2

Metode Pengumpulan Data


Penulis

mengumpulkan

data

dalam

makalah

ini

dengan

membaca kitab-kitab yang memuat pembahasan tentang memakan


daging anjing, kemudian menelaah, dan mencatat data-data yang
diperlukan.
5.3

Sumber Data

1 Lihat Al-Mausuatul Fiqhiyyah susunan Wuzaratul Auqafi wasy Syu`unil Islamiyyatil


Kuwaitiyyah, jld. 35, hlm. 211-212.
2 Marzuki, Metodologi Riset, hlm. 14.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

Sumber data dalam penelitian ini adalah kitab-kitab tafsir, hadits,


syarah, fikih, rijal, dan kitab-kitab lain yang berkaitan dengan penelitian
ini.
5.4

Jenis Data
Data-data dalam makalah ini ada dua jenis, yaitu data primer dan
data sekunder.
Data

primer

adalah

data

yang

diperoleh

sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya.

langsung
3

dari

Maksud data

primer dalam makalah ini adalah data-data yang penulis nukil langsung
dari kitab-kitab asalnya, misalnya hadits riwayat Al-Bukhari yang
penulis nukil langsung dari kitab susunan beliau, Al-Jamiush Shahih.
Data sekunder adalah data yang tidak diusahakan sendiri
pengumpulannya oleh peneliti, artinya melalui pihak kedua, ketiga, dan
seterusnya.

Maksud data sekunder dalam makalah ini adalah data

yang penulis peroleh melalui pengarang lain yang memuatkan data


tersebut dalam kitabnya, misalnya pendapat Ibnu Khuwaizi Mandad
yang penulis nukil dari kitab Adlwa`ul Bayan susunan Imam AsySyanqithi.
Data primer dan data sekunder dapat dibandingkan dengan
hadits ali dan hadits nazil dalam ilmu Mushthalah Hadits.
Hadits 'ali adalah hadits yang rangkaian rawinya lebih pendek
daripada sanad lain pada hadits yang sama, sedangkan hadits nazil
adalah hadits yang rangkaian rawinya lebih panjang daripada sanad
lain pada hadits yang sama.

Perbandingan antara hadits ali dan hadits nazil dengan data


primer dan data sekunder terletak pada jalan penukilannya. Jalan
penukilan data primer lebih singkat daripada jalan penukilan data
sekunder, sebagaimana sanad hadits ali lebih singkat daripada sanad
hadits nazil.
5.5

Metode Analisis Data

3 Lihat Metodologi Riset susunan Drs. Marzuki, hlm. 60.


4 Lihat Metodologi Riset susunan Drs. Marzuki, hlm. 60.
5 Lihat Qawaidut Tahdits susunan Al-Qasimi, hlm. 127.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

Dalam menganalisis data yang terdapat dalam makalah ini


penulis menerapkan metode reflective thinking. Maksudnya, penulis
menggunakan

metode deduksi dan induksi secara bergantian.

Deduksi adalah metode untuk menilai sesuatu yang bersifat khusus


berdasarkan pengetahuan yang bersifat umum, sedangkan induksi
adalah metode untuk menentukan sesuatu yang bersifat umum
berdasarkan pada fakta-fakta yang bersifat khusus 7.
Contoh metode reflective thinking yang penulis terapkan pada
makalah ini dapat dilihat pada analisis hadits Ibnu Abbas tentang jika
Allah mengharamkan sesuatu maka Allah mengharamkan untuk
penjualannya. Mula-mula penulis menarik kesimpulan umum tentang
derajat suatu hadits berdasarkan data-data khusus berupa penilaian
ulama terhadap para rawi dan persambungan sanadnya. Selanjutnya
dalam menentukan hadits tersebut dapat dijadikan sebagai hujah atau
tidak, penulis menyimpulkan berdasarkan kaidah umum dalam Ilmu
Hadits. Langkah pertama yang penulis tempuh itu termasuk kategori
cara berpikir induktif, sedangkan langkah kedua termasuk cara berpikir
deduktif.
6. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembaca dalam mengikuti alur pembahasan
makalah ini, penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut:
Bagian awal terdiri dari halaman judul, pengesahan, kata pengantar,
dan daftar isi.
Bagian tengah terdiri dari lima bab. Bab pertama adalah pendahuluan
yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,
kegunaan penelitian, metodologi penulisan, dan sistematika penulisan. Bab
kedua adalah dalil-dalil tentang hukum memakan daging anjing. Bab ketiga
adalah pendapat para ulama tentang hukum memakan daging anjing. Bab
keempat adalah analisis. Bab kelima adalah penutup yang berisi simpulan
dan saran.
Adapun bagian akhir makalah ini terdiri dari daftar pustaka dan
lampiran.

6 Lihat Metodologi Research susunan Sutrisno Hadi, hlm. 46.


7 Lihat Metodologi Research susunan Sutrisno Hadi, hlm. 42.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

BAB II
DALIL-DALIL TENTANG HUKUM MEMAKAN DAGING
ANJING
1. Surah Al-Anam (6) Ayat 145 tentang Makanan yang Diharamkan

. ...






Artinya:
Katakanlah: "Aku tidak mendapatkan -dalam wahyu yang
diwahyukan kepadaku- sesuatu yang diharamkan bagi orang
yang hendak memakannya, kecuali makanan itu bangkai, atau
darah yang mengalir, atau daging babi karena sesungguhnya
daging babi itu kotor, atau kefasikan (sembelihan) yang
disembelih atas nama selain Allah padanya . . . .

Maksud ayat yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah sesuatu


yang haram untuk dimakan itu hanyalah bangkai, darah yang mengalir,
daging babi, dan daging binatang yang disembelih atas nama selain Allah.
2. Hadits Abu Hurairah Radliyallahu anhu tentang Haramnya Memakan
Binatang Buas yang Bertaring

8
.

Artinya:
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau
bersabda, Semua binatang buas yang bertaring maka haram
memakannya. Muslim telah mengeluarkannya.

Maksud hadits tersebut adalah memakan daging binatang buas yang


bertaring itu haram.
3. Hadits Abu Tsalabah Radliyallahu anhu tentang Larangan Memakan
Daging Binatang Buas yang Bertaring

8 Muslim, Shahihu Muslim, jld. 1, hlm. 554, k. (34) Ash-Shaidu wadz Dzaba`ihu wa ma Yu`kalu
minal Hayawan, b. (3) Tahrimu Akli kulli dzi Nabin minas Sibai wa kulli dzi Mikhlabin minath Thair,
h. 1933.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

Artinya :
Dari Abu Tsalabah radliyallahu anhu bahwasanya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dari memakan semua
binatang buas yang bertaring. Al-Bukhari telah mengeluarkannya.
Maksud hadits tersebut adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
melarang memakan daging binatang buas yang bertaring.
4. Hadits Ibnu Abbas Radliyallahu anhu bahwa jika Allah Mengharamkan
Sesuatu maka Allah Mengharamkan untuk Menjualnya dan Hadits Abu
Masud Radliyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam
Melarang Menjual Anjing
4.1 Hadits Ibnu Abbas Radliyallahu anhu


10 .

Artinya :
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Aku melihat Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam duduk di samping Rukun Yamani.
Dia berkata: Maka beliau melihat ke langit kemudian
tersenyum. Maka beliau bersabda, Allah melaknat orangorang Yahudi - beliau mengulanginya tiga kali -, sesungguhnya
Allah mengharamkan lemak atas mereka kemudian mereka
menjualnya dan memakan harganya, dan sesungguhnya jika
Allah mengharamkan memakan sesuatu atas satu kaum maka
Allah mengharamkan harganya atas mereka.
Abu Dawud telah mengeluarkannya.

9 Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld. 1, hlm. 1034, k. (72) Adz-Dzaba`ihu wash Shaidu wat Tasmiyatu
alash Shaid, b. (29) Akli kulli dzi Nabin minas Siba, h. 5530.
10 Abu Dawud, Sunanu Abi Dawud, jld. 2, hlm. 148, k. Al-Ijarah, b. Fi Tsamanil Khamri wal Maitah,
h. 3488.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

Maksud hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah


apabila Allah mengharamkan sesuatu untuk dimakan maka Allah juga
mengharamkan untuk menjualnya.
4.2 Hadits Abu Masud Radliyallahu anhu




11

Artinya:
Dari Abu Masud Al-Anshari radliyallahu anhu, bahwasanya
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari harga
anjing, upah pelacur, dan upah dukun.
Muttafaqun alaihi dan lafal ini milik Al-Bukhari.
Maksud hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk menjual-belikan
anjing.

BAB III
PENDAPAT ULAMA TENTANG HUKUM MEMAKAN DAGING
ANJING
1. Memakan Daging Anjing adalah Mubah
Ulama yang berpendapat bahwa memakan daging anjing itu boleh
adalah Ibnu Khuwaizi Mandad. Asy-Syanqithi menyebutkan dalam kitab
Adlwa`ul Bayan sebagai berikut:


:


.



















12
.








Artinya:
Ibnu Khuwaizi Mandad dari pengikut madzhab Imam Malik
berkata: Ayat ini (Surat Al-Anam (6) ayat 145) mencakup

11 Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld. 1, hlm. 398, k. (34) Al-Buyu, b. (113) Tsamanil Kalb, h. 2237.
Muslim, Shahihu Muslim, jld. 3, hlm. 384-385, k. (22) Al-Masaqah, b. (9) Tahrimi Tsamanil Kalb, h.
39 (1567).
12 Asy-Syanqithi, Adlwa`ul Bayan, jld. 2, hlm. 185.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

penghalalan semua binatang dan selainnya, kecuali apa yang


dikecualikan dalam ayat itu dari bangkai, darah, dan daging babi.
Oleh karena itu kami berkata: Sesungguhnya daging binatang
buas dan semua daging binatang itu mubah, kecuali manusia
dan babi.
Ulama yang sependapat dengan Ibnu Khuwaizi Mandad tersebut adalah
Fakhruddin Ar-Razi. 13
2. Memakan Daging Anjing adalah Makruh
Ulama yang berpendapat bahwa memakan daging anjing itu makruh
adalah Muhammad Rasyid Ridla. Berikut ini pernyataan beliau:



:






...


14

. ...

Artinya:
dan yang paling kuat dan terpilih menurut kami, bahwasanya
semua hadits yang shahih tentang larangan memakan makanan
selain empat macam yang ayat-ayat 15 itu telah membatasi
pengharaman makanan yang ada di dalamnya, maka dia itu
menunjukkan kebencian (makruh) atau (larangan) sementara,
karena satu alasan yang menghalangi sebagaimana yang telah
lewat dalam hal keledai . . . .
3. Memakan Daging Anjing adalah Haram
Jumhur ulama berpendapat bahwa memakan daging anjing itu haram.
Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim menyebutkan pendapat jumhur dalam
kitab Shahihu Fiqhis Sunnah sebagai berikut:




(
)






16
. ...





Artinya:

13 Lihat Mafatihul Ghaib susunan Fakhruddin Ar-Razi, jld 7, jz. 13, hlm. 179-183.
14 Muhammad Rasyid Ridla, Tafsirul Manar, jld. 8, hlm. 163.
15 Surat Al-Baqarah ayat 173, Al-Ma`idah ayat 3, Al-Anam ayat 145, dan An-Nahl ayat 115.
16 Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahihu Fiqhis Sunnah, jld. 2, hlm. 311.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

Maka semua binatang yang mempunyai taring untuk menerkam,


baik binatang itu liar seperti singa, serigala, harimau tutul,
harimau kumbang, dan semisalnya, atau binatang peliharaan
seperti anjing dan kucing peliharaan, maka tidak halal sesuatu
pun darinya menurut Jumhur . . . .

BAB IV
ANALISIS
1. Analisis Dalil-Dalil tentang Hukum Memakan Daging Anjing
1. 1

Analisis Surat Al-Anam (6) Ayat 145


Ayat ini turun karena orang-orang jahiliah mengharamkan dan
menghalalkan beberapa makanan. 17
Ulama berselisih tentang kata

dalam ayat ini. Makki

merupakan istitsna` munqathi (terputus).

mengatakan bahwa kata


merupakan istitsna`

mengatakan bahwa kata


Adapun Abul Baqa`

muttashil (bersambung). 18
Jika kata

dalam ayat ini dipahami dengan istitsna` munqathi,

maka makna ayat ini ialah Allah mengharamkan bangkai, darah yang
mengalir, daging babi, dan sembelihan yang disembelih atas nama
selain Allah, sedangkan makanan yang diharamkan oleh orang-orang
jahiliah itu tidak diharamkan oleh Allah. 19
Adapun jika istitsna` dalam ayat ini dipahami dengan istitsna`
muttashil, maka maksud ayat ini adalah Allah hanya mengharamkan
bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan sembelihan yang
disembelih atas nama selain Allah.
Penulis setuju dengan Abul Baqa yang mengatakan bahwa
istitsna` pada ayat ini merupakan istitsna` muttashil. Alasan penulis
adalah karena ayat ini semakna dengan ayat-ayat lain, yaitu surat An-

...





dan surat Al-Baqarah (2) : 173

Nahl (16) : 115

17 Lihat Tafsirul Munir susunan Wahbah Az-Zuhaili, jld. 4, jz. 8, hlm. 78.
18 Lihat Ad-Durrul Mashun susunan As-Samin Al-Halabi, jld. 3, hlm. 204.
19 Lihat Mahasinut Ta`wil susunan Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, jld. 3, hlm. 447.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

10



...






sebagaimana dikatakan oleh Fakhruddin Ar-Razi 20.
Huruf

nafi

yang

diikuti

oleh

kata

istitsna`

) , memiliki makna qashr (pembatasan) sebagaimana lafal ((

21

Dalam Mujamul Wasith disebutkan bahwa qashr juga dikenal oleh ulama
dengan sebutan hashr.
()

nafi

yang

22

Pada surat Al-Anam (6) ayat 145 terdapat huruf


diikuti

oleh

kata

istitsna`

) , sedangkan dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 173 dan An-Nahl (16) ayat
115 terdapat kata hashr ((
sehingga ketiga ayat ini masingmasing
mempunyai makna hashr (pembatasan). Makna hashr dimiliki oleh istitsna`
muttashil dan tidak dimiliki oleh istitsna` munqathi.

23

Maka dapat

disimpulkan bahwa istitsna` dalam ayat ini adalah istitsna` muttashil.


Hashr terbagi menjadi dua, yaitu hashr haqiqi (qathi) dan hashr
majazi (idlafi). Hashr haqiqi adalah pengkhususan yang menurut
kenyataan tidak sekedar disandarkan kepada sesuatu yang lain.
Contoh:

( tidak ada penulis di

kota itu kecuali Ali) maksudnya, hanya Ali yang menjadi penulis di kota
itu dan tidak ada selainnya. Adapun hashr idlafi

24

adalah pengkhususan

yang sekedar disandarkan kepada sesuatu yang tertentu, misalnya

(Ali hanya orang yang berdiri) maksudnya Ali

20 Lihat Mafatihul Ghaib susunan Fakhruddin Ar-Razi, jld. 7, hlm. 180.


21 Lihat Qawaidul Lughatil Arabiyyah susunan Hifni bik Nashif et al., hlm. 114.
22 Lihat Mujamul Wasith susunan Ibrahim Unais et al., hlm. 184.
23 Lihat Mahasinut Ta`wil susunan Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, jld. 3, hlm. 447.
24

2.

3.

Hashr (Qashr) idlafi terbagi menjadi tiga (lihat Jawahirul Balaghah susunan Ahmad bin Ibrahim,
hlm. 158), yaitu: Jika digunakan untuk membantah atau menolak orang yang berkeyakinan
persekutuan, maka dinamakan hashr ifrad, contoh:



( Allah hanya satu
satunya sesembahan), sebagai bantahan untuk orang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah
sesembahan yang ketiga.
Jika digunakan untuk membantah hashr orang yang berkeyakinan kebalikan dari hukum yang

ditetapkan, maka dinamakan hashr qalb, contoh:


( Hanya Ali yang

bersafar), sebagai bantahan untuk orang yang berkeyakinan bahwa yang bersafar adalah
Khalil bukan Ali.
Jika digunakan untuk menetapkan hukum bagi orang yang syak, maka dinamakan hashr tayin,





( Bumi berputar dan tidak hanya berhenti) sebagai bantahan untuk
orang yang syak kepada hukum tersebut.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

11

mempunyai sifat berdiri dan bukan sifat duduk, akan tetapi ini tidak
berarti meniadakan sifat-sifat selain berdiri. 25
Ayat ini Makkiyyah dan hadits tentang pengharaman makanan itu
datang setelah hijrah, sedangkan ayat ini hanya mengharamkan empat
macam makanan ketika itu dan tidak meniadakan (pengharaman)
makanan setelahnya. 26
Adapun

ayat-ayat

dan

hadits-hadits

yang

menunjukkan

pengharaman makanan yang datang sesudah ayat ini adalah berfungsi


sebagai penambahan hukum. 27
Muhammad Rasyid Ridla mengatakan bahwa Ibnu Abbas,
Aisyah, dan Ibnu Umar berhujah dengan ayat ini untuk membatasi
pengharaman makanan hanya pada bangkai, darah yang mengalir,
daging babi, dan sembelihan yang disembelih atas nama selain Allah.

28

Beliau beranggapan bahwa mereka memahami istitsna` dan hashr


dalam ayat ini adalah istitsna` muttashil dan hashr haqiqi, sehingga
beliau menyimpulkan bahwa mereka menafsirkan ayat ini untuk
membatasi pengharaman makanan hanya pada empat macam saja.
Anggapan beliau ini berdasarkan beberapa riwayat, yaitu:

:
.1

:






29
.










Artinya:

25 Lihat Qawaidul Lughatil Arabiyyah susunan Hifni bik Nashif et al., hlm. 113.
26 Lihat Fathul Bari susunan Ibnu Hajar Al-Asqalani, jld. 2, hlm. 1200.
27 Lihat At-Tamhid susunan Ibnu Abdil Bar, jld. 1, hlm. 118.
28 Lihat Tafsirul Manar susunan Muhammad Rasyid Ridla, jld. 8, hlm. 153.
29 Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld. 1, hlm. 1034, k. (72) Adz-Dzaba`ihu wash Shaidu wat
Tasmiyatu alash Shaid, b. (28) Luhumil Humuril Insiyyah, h. 5529.

12

Abdurrahman Sahab 2439

Hukum Memakan Daging Anjing

Dari Amr, dia berkata: Aku mengatakan kepada Jabir


bin Zaid bahwa mereka beranggapan bahwa Rasulullah
)shallallahu alaihi wa sallam melarang (memakan
keledai peliharaan. Maka dia berkata: Sungguh AlHakam bin Amr Al-Ghifari telah mengatakan itu ketika
kami di Bashrah, akan tetapi Al-Bahr Ibnu Abbas

menolak, dan dia membaca

.2




















30

.








Artinya:
Dari Al-Qasim bin Muhammad, dia berkata: Aisyah
ditanyai tentang memakan binatang buas yang


bertaring, maka beliau membaca

sampai





.


.3











{

:

31
.

Artinya:
Dari Isa bin Numailah, dari ayahnya, dia berkata: Aku
berada di hadapan Ibnu Umar, maka beliau (Ibnu
Umar) ditanyai tentang memakan landak, lalu beliau

30 Abdurrazzaq, Al-Mushannaf, jld. 4, hlm. 520-521, h. 8708.


31 Abu Dawud, Sunanu Abi Dawud, jld. 2, hlm. 212, k. Al-Athimah, b. Fi Akli Hasyaratil Ardl, h.
3799.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

13


membaca









. Orang tua yang berada di hadapannya
berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata:
(memakan landak) ditanyakan kepada Nabi shallallahu
alaihi wa sallam, maka beliau menjawab, Sesuatu
yang jelek dari yang jelek-jelek. Maka Ibnu Umar
berkata: Jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
mengatakannya, maka dia (memakan landak) itu
seperti apa yang beliau katakan, pada barang yang kita
belum mengetahui.
Hadits Ibnu Abbas dan atsar Aisyah di atas berderajat shahih
sedangkan Hadits Ibnu Umar berderajat dlaif

33

32

Penulis tidak sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridla yang


mengatakan bahwa Ibnu Abbas, Aisyah, dan Ibnu Umar berpendapat
bahwa makanan yang diharamkan itu terbatas pada bangkai, darah
yang mengalir, daging babi, dan sembelihan yang disembelih atas nama
selain Allah, karena riwayat-riwayat berikut ini:

.





34

Artinya:
Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, dia berkata: Aku tidak
mengetahui apakah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
melarang memakan daging keledai peliharaan, karena
keledai peliharaan itu untuk tunggangan manusia dan beliau
tidak suka kalau habis tunggangan mereka atau beliau
memang mengharamkannya di hari Khaibar, (yakni) daging
keledai peliharaan.






















32 Lihat lampiran, hlm. 31.
33 Lihat lampiran, hlm. 32.
34 Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld. 1, hlm. 764, k. (64) Al-Maghazi, b. (40) Ghazwatu Khaibar, h.
4227.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

14












35
Artinya:
Bahwasanya Ali radliyallahu anhu berkata kepada Ibnu
Abbas: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam melarang Mutah dan (makan) daging keledai
peliharaan.













36
. ...





Artinya:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam melarang dari menjual ghanimah sampai dibagi,
mengumpuli tawanan wanita yang sedang hamil sampai
melahirkan, -dan Rasulullah bersabda, Apakah kamu akan
menyirami kebun yang bukan milikmu?- dan memakan
daging keledai peliharaan dan semua daging binatang buas
yang bertaring.
Hadits Ibnu Abbas dan Ali di atas berderajat shahih

37

sedangkan hadits Ibnu Abbas tentang larangan memakan


daging keledai peliharaan dan semua binatang buas yang
bertaring

tersebut

berderajat

hasan

38

sehingga

dapat

dijadikan hujah. Dari ketiga riwayat tersebut dapat diambil


kesimpulan bahwa Ibnu Abbas pernah berpendapat bahwa
Allah mengharamkan empat macam makanan saja, kemudian
beliau mendengar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa

35 Al-Bukhari, Shahihul Bukhari, jld. 1, hlm. 964, k. (67) An-Nikah, b. (32) Nahyu Rasulillahi
Shallallahu 'alaihi wa Sallama an Nikahil Mutati Akhiran, h. 5115.
36 Ad-Daruquthni, Sunanud Daruquthni, jld. 2, hlm. 51, k. Al-Buyu, h. 3032.

37 Lihat lampiran, hlm. 32.


38 Lihat lampiran, hlm. 33.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

15

sallam juga mengharamkan keledai peliharaan, sehingga beliau


tidak berani untuk memutuskan, karena merasa ragu dengan
pengharaman Rasulullah tersebut, sebab ada kemungkinan
bahwa dilarangnya keledai peliharaan untuk dikonsumsi karena
khawatir kalau habis dimakan, sedangkan keledai merupakan
tunggangan para shahabat beliau. Walau demikian, setelah
mendengar kabar dari Ali radliyallahu anhu, maka Ibnu Abbas
pun mengharamkannya.
Adapun

riwayat

39

yang

menjelaskan

bahwa

Aisyah

radliyallahu anha juga mengharamkan makanan selain empat


itu, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi berikut ini:













40
.





Artinya:
Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya dia
berkata: Sesungguhnya aku heran dari orang yang
memakan gagak, sedangkan Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam sungguh telah mengizinkan bagi
orang yang berihram untuk membunuhnya, dan
beliau menamakannya fasiq. Dan demi Allah,
tidaklah dia (gagak) termasuk dari (makananmakanan) yang baik.
Hadits ini berderajat hasan 41, sehingga dapat dijadikan hujah.
Dari

hadits

ini

dapat

diambil

kesimpulan

bahwa

Aisyah

radliyallahu anha tidak hanya mengharamkan empat yang disebutkan


dalam ayat di atas, akan tetapi beliau juga mengharamkan burung
gagak. Berdasarkan hadits ini, maka orang yang mengatakan bahwa
Aisyah berhujah dengan ayat ini untuk membatasi pengharaman

39Lihat Aunul Mabud susunan Abuth Thayyib Abadi, jld.10, hlm. 288, pada bagian catatan kaki
yang ditulis oleh Ibnul Qayyim.
40Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, jld. 9, hlm. 532, k. Adl-Dlahaya, b. Ma Yuhramu min Jihati ma la
Ta`kulu Arab, h. 19369.
41 Lihat lampiran, hlm. 34.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

16

makanan hanya pada bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan
sembelihan yang disembelih atas nama selain Allah itu tidak dapat
diterima.
Adapun atsar Ibnu Umar yang menunjukkan bahwa beliau
berhujah dengan ayat tersebut

untuk membatasi pengharaman

makanan itu berderajat dlaif, sehingga tidak dapat dijadikan hujah.


Dari riwayat-riwayat di atas, dapat disimpulkan bahwa Ibnu
Abbas, Aisyah, dan Ibnu Umar tidak berpendapat bahwa makanan
yang diharamkan itu terbatas pada bangkai, darah yang mengalir,
daging babi, dan sembelihan yang disembelih atas nama selain Allah
saja, sehingga ayat ini tidak membatasi pengharaman makanan hanya
pada empat macam tersebut. Oleh karena itu, pernyataan Muhammad
Rasyid Ridla yang menyatakan bahwa Ibnu Abbas, Aisyah, dan Ibnu
Umar berhujah dengan ayat ini untuk membatasi pengharaman
makanan hanya pada bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan
sembelihan yang disembelih atas nama selain Allah itu tidak dapat
diterima.
Berdasarkan uraian di atas, ayat ini tidak dapat dijadikan hujah
bolehnya memakan daging anjing, wallahu alam.
1. 2

Analisis Hadits Abu Hurairah Radliyallahu anhu tentang

Haramnya Memakan Binatang Buas yang Bertaring


Hadits Abu Hurairah radliyallahu anhu ini berderajat shahih

42

sehingga dapat dijadikan sebagai hujah.


Maksud hadits ini adalah memakan daging binatang buas yang
bertaring itu haram.
Abu Hanifah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan binatang
buas yang bertaring adalah semua binatang yang memakan daging.
Adapun menurut Al-Baghawi yang dimaksud dengan binatang buas yang
bertaring adalah binatang yang mengganggu manusia dan harta mereka
dengan taringnya, seperti srigala, singa, anjing dan semisalnya.

43

Imam

Malik menafsirkan binatang buas yang bertaring adalah binatang yang

42 Lihat lampiran, hlm. 30.


43 Lihat Aunul Mabud susunan Abuth Thayyib Abadi, jld. 10, hlm. 277.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

menerkam dan memakan daging, semisal anjing.

44

mengatakan bahwa anjing termasuk binatang yang

17

Ibnu Hazm
bertaring.

45

Berdasarkan perkataan para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa


anjing termasuk binatang buas yang bertaring.
Muhammad Rasyid Ridla mengatakan bahwa Abu Hurairah
meriwayatkan hadits ini secara makna. Maksudnya, Abu Hurairah
memahami larangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memakan
binatang buas itu sebagai larangan untuk pengharaman, lalu dia
meriwayatkan hadits pengharaman makanan dengan lafal tahrim

46

(lihat

hadits Abu Hurairah hlm. 5). Menurut beliau, hadits tentang larangan
memakan

binatang

buas

yang

bertaring

itu

pengharaman, akan tetapi menunjukkan kebencian.

tidak

menunjukkan

47

Penulis tidak sependapat dengan pendapat ini, karena ada hadits


lain dari Abu Tsalabah yang menggunakan lafal larangan dan
pengharaman memakan daging binatang buas, sehingga menunjukkan
bahwa Abu Hurairah tidak meriwayatkan secara makna.
Berikut

ini

hadits Abu Tsalabah

yang menggunakan lafal

pengharaman:

:



:

:











:




:





:












48
.

Artinya:
Dari Abu Tsalabah Al-Khusyaniyyi, dia berkata: Aku berkata:
Wahai Rasulullah, kabarilah aku dengan apa yang halal
untukku dari apa yang haram atasku. Dia berkata: Maka
beliau memandangku dari atas sampai bawah, dan

44 Lihat Mukammilu Ikmalil Ikmal susunan Muhammad As-Sanusi, jld. 7, hlm. 14.
45 Lihat Al-Muhalla bil Atsar susunan Ibnu Hazm, jld. 6, hlm. 68.
46 Lihat Tafsirul Manar susunan Muhammad Rasyid Ridla, jld. 8, hlm. 157.
47 Lihat Tafsirul Manar susunan Muhammad Rasyid Ridla, jld. 8, hlm. 163.
48 Al-Arna`uth et al., Al-Mausuatul Haditsiyyatu Musnadul Imami Ahmadabni Hanbal, jld. 29, hlm.
280-281, no. 17745.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

18

memerhatikanku, kemudian beliau bersabda, Yang


tumbuh. Dia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, yang
tumbuh baik atau buruk? Beliau menjawab, Bahkan yang
tumbuh baik, janganlah kamu memakan daging keledai
peliharaan dan semua binatang buas yang bertaring.
Hadits Abu Tsalabah ini shahih 49 sehingga dapat dijadikan hujah.
Maksud hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam secara jelas mengharamkan
memakan daging binatang buas yang bertaring. Karena anjing itu
termasuk binatang buas yang bertaring, maka memakan daging anjing
adalah haram.
Dengan demikian, berhujah dengan hadits Abu Hurairah ini untuk
mengharamkan daging anjing dapat diterima, wallahu alam.
1. 3

Analisis Hadits Abu Tsalabah Radliyallahu anhu tentang

Larangan Memakan Daging Binatang Buas yang Bertaring


Hadits Abu Tsalabah radliyallahu anhu ini berderajat shahih

50

sehingga dapat dijadikan sebagai hujah.


Maksud hadits ini adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
melarang untuk memakan daging binatang buas yang bertaring.
Muhammad

Shalih

Al-Utsaimin

dan

Nashiruddin

Al-Albani

mengatakan bahwa larangan dalam hadits tersebut untuk pengharaman.


Muhammad Shalih Al-Utsaimin berdalil bahwa asal dari larangan
itu untuk pengharaman

51

, sedangkan Nashiruddin Al-Albani berdalil

dengan hadits Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa memakan


daging binatang buas itu haram, sehingga larangan dalam hadits ini juga
untuk pengharaman. 52
Dalam kaidah Ilmu Ushul Fiqh disebutkan bahwa asal suatu
larangan itu menunjukkan pengharaman

53

, selama tidak ada qarinah

yang memalingkannya, sehingga larangan dalam hadits Abu Tsalabah


ini tetap menunjukkan pengharaman, karena tidak ada qarinah yang
memalingkannya.

49 Lihat lampiran, hlm. 35.


50 Lihat lampiran, hlm. 30.
51 Lihat Asy-Syarhul Mumti susunan Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, jld. 15, hlm. 17.
52 Lihat Silsilatul Ahaditsish Shahihah susunan Nashiruddin Al-Albani, jld. 1, hlm. 856.
53 Lihat At-Tahshilu minal Mahshul susunan Al-Armawi, jld. 1, hlm. 334.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

19

Anjing termasuk binatang buas yang bertaring, sebagaimana telah


penulis paparkan pada analisis hadits Abu Hurairah (lihat hlm. 17).
Dengan demikian, hadits ini dapat dijadikan hujah untuk
pengharaman memakan daging anjing, wallahu alam.
1. 4

Hadits Ibnu Abbas Radliyallahu anhu bahwa jika Allah

Mengharamkan

Sesuatu

maka

Allah

Mengharamkan

untuk

Menjualnya dan Hadits Abu Masud Radliyallahu anhu bahwa Nabi


Shallallahu alaihi wa Sallam Melarang Menjual Anjing
Hadits Ibnu Abbas radliyallahu anhu ini berderajat shahih

54

sehingga dapat dijadikan sebagai hujah.


Maksud hadits Ibnu Abbas yang berkaitan dengan pembahasan
ini adalah apabila Allah mengharamkan sesuatu untuk dimakan, maka
Allah juga mengharamkan untuk menjualnya.
Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim

55

mengatakan bahwa

jumhur ulama menjadikan hadits Ibnu Abbas ini sebagai dalil


pengharaman memakan daging anjing, karena ada hadits Abu Masud
yang isinya larangan menjual anjing, yaitu:


Artinya:
Dari Abu Masud
bahwasanya

Al-Anshari

radliyallahu

anhu

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari


harga anjing, upah pelacur, dan upah dukun.
Hadits ini berderajat shahih 56, sehingga dapat dijadikan hujah.
Maksud hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk menjual anjing.
Ibnu Hajar mengatakan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa
menjual anjing itu haram, baik anjing untuk berburu maupun anjing lain

54 Lihat Lampiran hlm. 30-31.


55 Lihat Shahihu Fiqhis Sunnah susunan Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, jld. 2,
hlm. 311-312.
56 Lihat lampiran, hlm. 30.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

20

yang tidak untuk berburu, yang boleh dipelihara maupun yang tidak
boleh dipelihara. 57
Berdasarkan kedua hadits di atas dapat disimpulkan bahwa anjing
itu haram dimakan, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
melarang untuk menjualnya.
2. Analisis Pendapat Ulama tentang Hukum Memakan Daging Anjing
2.1 Memakan Daging Anjing itu Mubah
Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Khuwaizi Mandad dan
Fakhruddin Ar-Razi.
Ibnu Khuwaizi Mandad berdalil dengan surat Al-Anam (6) : 145.
Menurut beliau, ayat tersebut menunjukkan bahwa semua daging itu
mubah, kecuali daging manusia dan babi. 58
Penulis tidak setuju dengan pendapat ini karena pembatasan
pengharaman makanan hanya pada bangkai, darah yang mengalir,
daging babi, dan hewan yang disembelih atas nama selain Allah dalam
ayat ini, hanyalah pembatasan majazi (idlafi). Artinya, ayat ini tidak
hanya membatasi pengharaman makanan pada empat macam tersebut
(lihat analisis surat Al-Anam (6) : 145, hlm. 11-12).
Adapun Fakhruddin Ar-Razi berdalil dengan surat Al-Anam (6) :
145. Beliau mengatakan bahwa surat Al-Anam (6) : 145 ini dikuatkan
dengan dua ayat lain, yaitu:
1.

2.

Surat An-Nahl (16) : 115:

Surat Al-Baqarah (2) : 173:










.





57 Lihat Fathul Bari susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 1140.
58 Lihat Adlwa`ul Bayan susunan Asy-Syanqithi, jld. 2, hlm. 185.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

21

Surat Al-Anam (6) : 145 dan surat An-Nahl (16) : 115 adalah
Makiyyah, sedangkan surat Al-Baqarah (2) : 173 Madaniyyah. Ketiga
ayat ini mempunyai makna hashr (lihat hlm. 11). Oleh karena ketiga ayat
ini semakna, yang sebagian sebagai ayat Makiyyah dan sebagian
sebagai ayat Madaniyyah, maka dari awal diutusnya Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam sampai sekarang dan seterusnya,
pengharaman makanan hanya terbatas pada bangkai, darah yang
mengalir, daging babi, dan hewan yang disembelih atas nama selain
Allah.

59

Adapun hadits tentang larangan memakan binatang buas itu

berderajat dlaif, karena hadits itu adalah hadits ahad yang menyelisihi
Al-Qur`an. 60
Penulis tidak setuju dengan pendapat ini, karena surat Al-Baqarah
(2) : 173 turun sebagai penolakan terhadap orang-orang musyrik yang
menghalalkan bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan hewan
yang disembelih atas nama selain Allah 61 .
Fungsi hadits tentang pengharaman memakan binatang buas
adalah sebagai penjelas adanya makanan yang haram dikonsumsi
selain empat macam tersebut (lihat analisis surat Al Anam ayat 145,
hlm. 12).
Surat Al-Anam (6) ayat 145, Surat An-Nahl (16) ayat 115 dan surat
Al-Baqarah (2) ayat 173 tidak bertentangan dengan hadits tentang
pengharaman memakan binatang buas.
Berdasarkan uraian di atas, pendapat Ibnu Khuwaizi Mandad dan
Fakhruddin Ar-Razi yang menyatakan bahwa memakan daging binatang
buas adalah mubah, termasuk anjing, tidak dapat diterima, wallahu alam.
2.2 Memakan Daging Anjing itu Makruh
Pendapat bahwa memakan daging anjing itu makruh dikemukakan
oleh Muhammad Rasyid Ridla.
Muhammad Rasyid Ridla berdalil dengan surat Al-Anam (6) : 145.
Beliau mengatakan bahwa hashr dalam ayat ini adalah hashr qathi,

59 Lihat Mafatihul Ghaib susunan Fakhruddin Ar-Razi, jld. 7, jz. 13, hlm. 181.
60 Lihat Mafatihul Ghaib susunan Fakhruddin Ar-Razi, jld. 7, jz. 13, hlm. 183.
61 Lihat Ruhul Maani susunan Al-Alusi, jld. 1, hlm. 440.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

22

sehingga ayat ini menjadi nash qathi yang menghalalkan semua


makanan selain yang disebutkan di dalamnya. 62
Dengan pendapat beliau ini, maka beliau mengatakan bahwa
larangan pada hadits tentang memakan daging binatang buas itu adalah
larangan untuk kebencian (karahah) 63 .
Alasan lain yang beliau gunakan untuk menguatkan pendapat
beliau adalah: 64
1.

Hadits tentang larangan memakan daging binatang buas itu tidak

diketahui para ulama Hijaz.


2.

Andai saja binatang buas itu benar-benar diharamkan pada perang

yang masyhur, pasti pengharaman tersebut diriwayatkan secara


mutawatir.
3.

Imam Malik berpendapat bahwa memakan binatang buas itu

hukumnya makruh.
Penulis tidak setuju dengan pendapat ini, karena alasan-alasan
yang beliau gunakan untuk mengatakan bahwa memakan daging
binatang buas (yang anjing termasuk di dalamnya) tersebut kurang tepat,
dengan beberapa alasan :
Ketidaktahuan

ulama

Hijaz

tentang

suatu

larangan

tidak

menunjukkan ketiadaan larangan tersebut. Larangan tentang memakan


daging binatang buas ini ternyata ada dan salah satunya diriwayatkan
oleh Muslim dalam kitab shahihnya (lihat hadits Abu Hurairah hlm. 5).
Ada riwayat tentang pengharaman memakan daging binatang buas
yang terjadi pada perang yang masyhur, yaitu perang Khaibar,

65

bahkan

riwayat tentang pengharaman memakan daging binatang buas tersebut


diriwayatkan dari jalur yang mutawatir, sebagaimana yang dituturkan
oleh Abu Umar

66

dan Ath-Thahawi

67

Memang benar, Imam Malik berpendapat bahwa memakan


binatang buas itu hukumnya makruh, namun pendapat Imam Malik yang

62 Lihat Tafsirul Manar susunan Muhammad Rasyid Ridla, jld. 8, hlm. 149.
63 Lihat Tafsirul Manar susunan Muhammad Rasyid Ridla, jld. 8, hlm. 157.
64 Lihat Tafsirul Manar susunan Muhammad Rasyid Ridla, jld. 8, hlm. 157.
65Lihat Al-Mausu`atul Haditsiyyatu Musnadul Imami Ahmadabni Hanbal susunan Al-Arna`uth et al.,
jld. 22, hlm. 354-355, no. 14463.
66 Lihat At-Tamhid susunan Ibnu Abdil Barr, jld. 1, hlm. 125.

67 Lihat Tuhfatul Ahwadzi susunan Al-Mubarakfuri, jld. 5, hlm. 503.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

23

masyhur tentang memakan anjing adalah haram, sebagaimana yang


dituturkan oleh Al-Jaziri 68, wallahu alam.
Dengan demikian, pendapat Muhammad Rasyid Ridla yang
menyatakan bahwa memakan daging binatang buas adalah makruh,
termasuk anjing, tidak dapat diterima, wallahu alam.
2.3 Memakan Daging Anjing itu Haram
Jumhur ulama berpendapat bahwa memakan daging anjing itu
haram. Dalam kitab Shahihu Fiqhis Sunnah,

69

Abu Malik Kamal bin As-

Sayyid Salim menyebutkan beberapa dalil yang digunakan jumhur


ulama, yaitu:
1. Hadits Abu Hurairah tentang haramnya memakan binatang buas
yang bertaring (lihat data hlm. 5).
2. Hadits Ibnu Abbas:














70

.












Artinya:
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam melarang dari (memakan) semua binatang buas yang
bertaring dan semua burung yang bercakar.
3. Hadits Jabir:











. 71






Artinya:
Dari Abuz Zubair, dia berkata: Aku bertanya kepada Jabir tentang
harga anjing dan kucing, dia (Jabir) menjawab: Nabi shallallahu
alaihi wa sallam melarang hal itu.

4. Hadits Ibnu Abbas (lihat data hlm. 6).

68Lihat Kitabul Fiqhi alal Madzahibil Arbaah susunan Al-Jaziri, jld. 2, hlm. 5, k. Al-Hadharu wal
Ibahah, b. Ma Yumnau Akluhu wa Ma Yubahu au Ma Yahillu wa Ma La Yahill.
69 Lihat Shahihu Fiqhis Sunnah susunan Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, jld. 2,
hlm. 311-312.
70 Muslim, Al-Jamiush Shahih, jld. 1, hlm. 554, k. Ash-Shaidu wadz Dzaba`ih, b. Tahrimu Akli kulli
Dzi Nabin minas Sibai wa kulli Dzi Mikhlabin minath Thair, no. 1934.
71 Muslim, Al-Jamiush Shahih, jld. 1, hlm. 437, k. Al-Masaqah, b. Tahrimu Tsamanil Kalbi wa
Hulwanil Kahini wa Mahril Baghyi wan Nahyu an Baiis Sinnaur, no. 1569.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

24

Menurut penelitian penulis, hadits Ibnu Abbas dan hadits Jabir,


keduanya berderajat shahih, 72 sehingga bisa dijadikan hujah.
Hadits Ibnu Abbas tersebut semakna dengan hadits Abu
Tsalabah. Maksud hadits tersebut adalah Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam melarang untuk memakan daging binatang buas yang
bertaring.
Hadits Jabir semakna dengan hadits Abu Masud. Maksud hadits
tersebut adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk
menjual anjing.
Adapun maksud hadits Ibnu Abbas adalah bahwa sesuatu yang
Allah haramkan untuk dimakan maka haram untuk dijual.
Hadits-hadits ini telah penulis bahas dalam analisis hadits no. 1.2,
1.3, dan 1.4 yang menunjukkan bahwa memakan daging anjing itu
haram (lihat hlm. 17-20).
Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa memakan
daging anjing itu haram, dapat diterima, wallahu alam.

BAB V
PENUTUP
1. Simpulan
Hukum memakan daging anjing adalah haram.
2. Saran
Muslimin hendaknya tidak memakan daging anjing.

DAFTAR PUSTAKA
A. KITAB TAFSIR
1.

Asy-Syanqithi, Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar AlJakanni, Adlwa`ul Bayani fi Idlahil Qur`ani bil Qur`an, Darul Kutubil
Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cetakan I, 1417 H / 1996 M.

72 Lihat lampiran, hlm. 35.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

2.

Abdurrahman Sahab 2439

25

Ar-Razi, Muhammad bin Umar bin Husain bin Hasan bin Ali, At-Tamimi
Al-Bakri Asy-Syafii, Fakhruddin, Mafatihul Ghaib, Darul Kutubil Ilmiyyah,
Beirut, Lebanon, Cetakan I, 1411 H / 1990 M.

3.

Az-Zuhaili, Wahbah, Al-Ustadz, At-Tafsirul Muniru fil Aqidati wasy


Syariati wal Manhaj, Darul Fikril Muashir, Beirut, Lebanon, Darul Fikr,
Damaskus, Suriah, Cetakan I, 1411 H / 1991 M.

4.

Al-Halabi, Abul Abbas bin Yusuf bin Muhammad bin Ibrahim,


Syihabuddin, Al-Imam, Ad-Durrul Mashunu fi Ulumil Kitabil Maknun,
Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cetakan I, 1414 H / 1994 M.

5.

Al-Qasimi, Muhammad Jamaluddin, Allamatusy Syam, Tafsirul Qasimi


/ Mahasinut Ta`wil, Daru Ihyait Turatsil Arabi, Beirut, Lebanon, Tanpa
Nomor Cetakan, 1415 H / 1994 M.

6.

Al-Alusi, Abul Fadlel, Mahmud Al-Baghdadi, Syihabuddin As-Sayyid,


Ruhul Maani fi Tafsiril Qur`anil Adhimi was Sabil Matsani, Darul
Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cetakan I, 1415 H / 1994 M.

7.

Rasyid Ridla, Muhammad, As-Sayyid, Tafsirul Qur`anil Karim /


Tafsirul Mannar, Darul Marifah, Beirut, Lebanon, Tanpa Nomor Cetakan,
Tanpa Tahun.

B. KITAB HADITS
8.

Al-Bukhari, Abu Abdillah, Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin AlMughirah bin Bardizbah Al-Jufi, Al-Imam, Shahihul Bukhari, Darul Kutubil
Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cetakan IV, 1425 H / 2004 M.

9.

Muslim, Abul Husain, Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim, Al-Qusyairi, AnNaisaburi, Al-Imam, Al-Jamiush Shahih, Maktabah Ibadurrahman, Mesir,
Cetakan II, 1429 H / 2008 M.

10.

Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asyats, As-Sijistani, Al-Hafidh, Sunanu


Abi Dawud, Darul Fikr, Tanpa Nama Kota, Tanpa Nomor Cetakan, 1414
H / 1994 M.

11.

Abdurrazzaq, Abu Bakr bin Hammam Ash-Shanani, Al-Hafidhul Kabir,


Al-Mushannaf, Al-Majlisul Ilm, Tanpa Nama Kota, Cetakan I, 1390 H /
1970 M.

12.

Ad-Daruquthni, Ali bin Umar, Al-Imamul Kabir, Sunanud Daruquthni,


Darul Fikr, Beirut, Lebanon, Tanpa Nomor Cetakan, 1414 H / 1994 M.

Hukum Memakan Daging Anjing

13.

Abdurrahman Sahab 2439

26

Al-Baihaqi, Abu Bakar, Ahmad bin Husain bin Ali, As-Sunanul Kubra,
Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cetakan III, 1424 H / 2003 M.

14.

Al-Albani, Muhammad Nashiruddin, Irwa`ul Ghalili fi Takhriji Ahaditsi


Manaris Sabil, Al-Maktabul Islami, Tanpa Nama Kota, Cetakan II, 1405 H /
1985 M.

15.

Al-Arna`uth et al., Syuaib, Al-Mausuatul Haditsiyyatu Musnadul


Imami Ahmadabni Hanbal, Mu`assasatur Risalah, Beirut, Lebanon,
Cetakan II, 1429 H / 2008 M.

16.

Ibnu Hajar, Al-Asqalani, Al-Hafidh, Bulughul Marami min Adillatil


Ahkam, Darul Fikr, Beirut, Lebanon, Tanpa Nomor Cetakan, 1415 H / 1995
M.

C. KITAB SYARAH
17.

Ibnu Hajar, Ahmad bin Ali, Al-Asqalani, Al-Hafidh, Fathul Bari bi


Syarhi Shahihil Bukhari, Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Lebanon,
Cetakan I, 1424 H / 2003 M.

18.

Abuth Thayyib Abadi, Muhammad Syamsul Haqqil Adhim, Al-Allamah,


Aunul Mabudi Syarhu Sunani Abi Dawud, Darul Fikr, Beirut, Lebanon,
Cetakan III, 1399 H / 1979 M.

19.

Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah bin Muhammad, Al-Qurthubi, AlImam, Al-Hafidh, At-Tamhidu li Ma fil Muwaththa`i minal Maani wal
Masanid, Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Cetakan I, 1419 H / 1999 M.

20.

Ibnus Sayyid Salim, Abu Malik, Kamal, Shahihu Fiqhis Sunnah, AlMaktabatut Taufiqiyyah, Kairo, Mesir, Tanpa Nomor Cetakan, Tanpa Tahun.

21.

Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih, Fadlilatusy Syaikh, Al-Allamah,


Asy-Syarhul Mumtiu ala Zadil Mustaqni, Darubnil Jauzi, Kerajaan
Arab Saudi, Cetakan I, 1422 H.

22.

Al-Albani, Muhammad Nashiruddin, Silsilatul Ahaditsish Shahihati


wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawa`idiha, Al-Maktabul Maarif, Riyadl,
Tanpa Nomor Cetakan, 1415 H / 1995 M.

23.

As-Sanusi, Muhammad bin Muhammad bin Yusuf, Al-Hasani, Al-Imam,


Mukammilu Ikmalil Ikmal, Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Lebanon,
Cetakan II, 1429 H / 2008 M.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

24.

Abdurrahman Sahab 2439

27

Al-Mubarakfuri, Abul Ula, Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim,


Al-Imam, Al-Hafidh, Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jamiit Tirmidzi, Darul
Fikr, Tanpa Nama Kota, Cetakan III, 1399 H / 1979 M.

D. KITAB FIKIH
25.

Wuzaratul

Auqafi

wasy

Syu`unil

Islamiyyah,

Al-Mausuatul

Fiqhiyyah, Kuwait, Cetakan V, 2004 M / 1425 H.


26. Al-Jaziri, Abdurrahman, Kitabul Fiqhi alal Madzahibil Arbaah, Darul
Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cetakan III, 2008 M / 1429 H.
27. Ibnu Hazm, Abu Muhammad, Ali bin Ahmad bin Said, Al-Imamul Jalil,
Al-Muhaddits, Al-Faqih, Al-Ushuli, Al-Andalusi, Al-Muhalla bil Atsar,
Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cetakan III, 1424 H / 2003 M.
E. KITAB RIJAL
28.

Ibnu Hajar, Abul Fadlel, Ahmad bin Ali bin Muhammad, Al-Asqalani, AlImam, Al-Hafidh, Syihabuddin, Tahdzibut Tahdzibi fi Rijalil Hadits, Darul
Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, Cetakan I, 1425 H / 2004 M.

29.

Ibnu Hajar, Ahmad bin Ali Al-Asqalani, Khatimatul Huffadh, Taqribut


Tahdzib, Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, Tanpa Nomor Cetakan, 1413 H /
1993 M.

30.

Adz-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad bin Utsman, Syamsuddin, Siyaru


Alamin Nubala`, Al-Maktabatut Taufiqiyyah, Tanpa Nomor Cetakan,
Tanpa Tahun.

31.

Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Jufi, AtTarikhul Kabir, Darul Bazi lin Nasyri wat Tauzi, Makkah Mukarramah,
Tanpa Nomor Cetakan, Tanpa Tahun.

F. KITAB MUSHTHALAH HADITS


32.

Ath-Thahhan, Mahmud, Taisiru Mushthalahil Hadits, Darul Fikr, Tanpa


Nama Kota, Tanpa Nomor Cetakan, Tanpa Tahun.

33.

Al-Qasimi, Muhammad Jamaluddin, Qawaidut Tahditsi min Fununi


Mushthalahil Hadits, Darul Aqidah, Kairo, Tanpa Nomor Cetakan, 1425
H / 2004 M.

Hukum Memakan Daging Anjing

34.

Abdurrahman Sahab 2439

28

A. Qadir Hassan, Ilmu Mushthalah Hadits, CV Diponegoro, Bandung,


Cetakan VIII, 2002 M.

G. KITAB-KITAB LAIN
35.

Marzuki, Drs, M.M., Metodologi Riset, Ekonisia, Yogyakarta, Cetakan I,


2005 M.

36.

Hadi, Sutrisno, Prof., Drs., M.A., Metodologi Research, Andi Offset,


Yogyakarta, Cetakan XXX, 2000.

37.

Al-Armawi, Mahmud bin Abu Bakar, Sirajuddin, At-Tahshilu minal


Mahshul, Mu`assasatur Risalah, Beirut, Cetakan I, 1408 H / 1988 M.

38.

Ahmad Al-Hasyimi, As-Sayyid, Jawahirul Balaghati fil Maani wal


Bayani wal Badi, Maktabatul Adab, Kairo, Cetakan II, 1426 H / 2005 M.

39.

Hifni Bik Nashif et al., Qawaidul Lughatil Arabiyyah, Toha Putra,


Semarang, Indonesia, Tanpa Nomor Cetakan, Tanpa Tahun.

LAMPIRAN
DERAJAT HADITS
1. Hadits Abu Hurairah Radliyallahu anhu tentang Haramnya Memakan
Daging Binatang Buas yang Bertaring (hlm. 5)
Hadits Abu Hurairah ini dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya.
Jumhur ulama sepakat bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim dalam kitab shahihnya adalah hadits-hadits shahih tingkat ketiga 73.
2. Hadits Abu Tsalabah Radliyallahu anhu tentang Larangan Memakan
Daging Binatang Buas yang Bertaring (hlm. 6)
Hadits Abu Tsalabah radliyallahu anhu ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari
dalam kitab shahihnya. Jumhur ulama sepakat bahwa hadits-hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya adalah haditshadits shahih tingkat kedua 74.

73 Lihat Taisiru Mushthalahil Hadits susunan Mahmud Ath-Thahhan, hlm. 37.


74 Lihat Taisiru Mushthalahil Hadits susunan Mahmud Ath-Thahhan, hlm. 37.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

29

3. Hadits Abu Masud Radliyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa


Sallam Melarang Menjual Anjing (hlm. 6)
Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih
keduanya. Hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim itu disebut
hadits muttafaqun alaih. Hadits muttafaqun alaih itu merupakan hadits shahih
peringkat pertama 75.
4. Hadits Ibnu Abbas Radliyallahu anhu bahwa jika Allah Mengharamkan
Sesuatu maka Allah Mengharamkan untuk Menjualnya (hlm. 6-7)
Hadits Ibnu Abbas ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab
Sunannya. Berikut ini urutan rawi pada sanadnya:

Musaddad 76
Khalid bin Abdillah 77
Bisr bin Al-Mufadldlal
Khalid Al-Hadzdza 79
Barakah Abil Walid 80
Ibnu Abbas

78

Sanad hadits Ibnu Abbas ini bersambung dan rawi-rawinya tsiqat. Oleh
karena itu penulis menyimpulkan bahwa hadits ini berderajat shahih, wallahu
alam.

75 Lihat Taisiru Mushthalahil Hadits susunan Mahmud Ath-Thahhan, hlm. 36.


76 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 6, hlm. 236-237, no. 7797; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 175, no. 6619.
77 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 277-278, no. 1946; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 259, no. 1652.
78 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 430-431, no. 846; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 130, no. 705.
79 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 295-297, no. 1983; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 264, no. 1685.
80 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 404, no. 794; Taqribut Tahdzib susunan
Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 123, no. 656.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

30

5. Hadits Ibnu Abbas Radliyallahu anhu (Analisis Surat Al-Anam (6) Ayat
145, Hlm. 12)
Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam kitab shahihnya. Jumhur
ulama sepakat bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari
dalam kitab shahihnya adalah hadits-hadits shahih tingkat kedua sesudah
hadits muttafaqun alaih 81.
6. Atsar Aisyah Radliyallahu anha (Analisis Surat Al-Anam (6) Ayat 145,
Hlm. 12-13)
Atsar

Aisyah

ini

diriwayatkan

oleh

Abdurrazaq

dalam

kitab

Mushannafnya. Berikut ini urutan rawi pada sanadnya:


1. Abdurrazzaq 82
2. (Sufyan) Ibnu Uyainah 83
3. Yahya bin Said 84
4. Al-Qasim bin Muhammad 85
5. Aisyah
Sanad atsar Aisyah ini bersambung dan rawi-rawinya tsiqat. Oleh
karena itu, penulis menyimpulkan bahwa atsar ini berderajat shahih, wallahu
alam.
7. Hadits Ibnu Umar Radliyallahu anhu (Analisis Surat Al-Anam (6) Ayat
145, Hlm. 13)
Hadits Ibnu Umar ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab
Sunannya. Berikut ini urutan rawi pada sanadnya:
1. Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi Abu Tsaur
2. Said bin Manshur
3. Abdul Aziz bin Muhammad
4. Isa bin Numailah
5. Bapaknya (Numailah)

81 Lihat Taisiru Mushthalahil Hadits susunan Mahmud Ath-Thahhan, hlm. 37.


82 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 4, hlm. 167-170, no. 4761; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 599, no. 4078.
83 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 720-723, no. 2878; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 371, no. 2458.
84 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 7, hlm. 48-50, no. 8851; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 303, no. 7586.

85 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 5, hlm. 309-310, no. 6468; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 23, no. 5506.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

31

6. Ibnu Umar
Ibnu Hajar 86, Al-Arna`uth 87, dan Al-Albani

88

mendlaifkan sanad hadits

ini, karena Isa bin Numailah dan bapaknya adalah rawi majhul.
Dalam Taqribut Tahdzib, Ibnu Hajar mengatakan bahwa Isa bin
Numailah

89

dan bapaknya

90

adalah rawi majhul. Al-Bukhari mengatakan

bahwa riwayat Isa bin Numailah dari bapaknya adalah munqathi 91.
Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa hadits ini
berderajat dlaif, wallahu alam.
8. Hadits Ibnu Abbas tentang Keraguan Beliau terhadap Pengharaman
Keledai Peliharaan dan Hadits Ali tentang Pengabaran Beliau kepada Ibnu
Abbas bahwa Keledai Peliharaan itu Haram (Analisis Hlm. 13 dan 14)
Kedua hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam kitab shahihnya.
Oleh karena itu, kedua hadits ini tergolong hadits shahih.
9. Hadits Ibnu Abbas tentang Haramnya Memakan Daging Keledai
Peliharaan dan Semua Daging Binatang Buas yang Bertaring (Analisis
Hlm. 15)
Hadits Ibnu Abbas ini diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam kitab
Sunannya. Berikut ini urutan rawi pada sanadnya:
1. Abu Bakar An-Naisaburi 92
2. Ahmad bin Hafsh bin Abdillah
3. Hafsh bin Abdillah
4. Ibrahim bin Thahman 93
5. Yahya bin Said 94
6. Amr bin Syuaib

86 Lihat Bulughul Maram susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 231, h.1352.
87 Lihat Al-Mausuatul Haditsiyyatu Musnadul Imami Ahmadabni Hanbal susunan Al-Arna`uth et al.,
jld. 14, hlm. 515, no. 8954.
88 Lihat Irwa`ul Ghalil susunan Al-Albani, jld. 8, hlm. 144, no. 2492.
89 Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 776, no. 5353.
90 Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 253, no. 7220.
91 Lihat At-Tarikhul Kabir susunan Al-Bukhari, jld. 6, hlm. 398, no. 2768.
92 Lihat Siyaru Alamin Nubala` susunan Adz-Dzahabi, jld. 11, hlm. 542-543, no. 2881.
93 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 122-124, no. 231; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 58, no. 189.
94 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 7, hlm. 48-50, no. 8851; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 303, no. 7586.

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

32

7. Abdillah bin Abi Najih 95


8. Mujahid 96
9. Ibnu Abbas
Sanad hadits Ibnu Abbas ini bersambung dan rawi-rawinya tsiqat kecuali
Amr bin Syuaib, Ahmad bin Hafsh bin Abdillah, dan bapaknya (Hafsh bin
Abdillah). Amr bin Syuaib
Abdillah

99

97

, Ahmad bin Hafsh bin Abdillah

98

, dan Hafsh bin

adalah rawi-rawi shaduq. Rawi shaduq tergolong rawi hasan

100

sehingga Amr bin Syuaib, Ahmad bin Hafsh bin Abdillah, dan Hafsh bin
Abdillah adalah rawi hasan.
Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa hadits ini berderajat
hasan, wallahu alam.
10. Hadits Aisyah Radliyallahu anha (Analisis Hlm. 15-16)
Hadits Aisyah ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Sunannya.
Berikut ini urutan rawi pada sanadnya:
Abu Abdillah Al-Hafidh
Abdullah bin Jafar bin Durustuwaih Al-Farisi
Yaqub bin Sufyan Al-Farisi
Ismail bin Abu Uwais
Bapaknya (Abu Uwais)
Yahya bin Said
Hisyam bin Urwah
Amrah binti Abdurrahman
Urwah
Aisyah
Sanad hadits Aisyah ini bersambung dan rawi-rawinya tsiqat, kecuali
Ismail bin Abu Uwais dan Bapaknya (Abu Uwais). Ibnu Hajar mengatakan
bahwa Ismail bin Abu Uwais adalah rawi

hafalannya).

101

(sangat jujur namun sering keliru karena

Adapun Abu Uwais, Ibnu Hajar mengatakan bahwa dia adalah

95 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 3, hlm. 684-685, no. 4252; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 541, no. 3673.
96 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 6, hlm. 174-176, no. 7661; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 159, no. 6501.
97 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 5, hlm. 43-48, no. 5940; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 737, no. 5066.
98 Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 32, no. 27.

99 Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 226, no. 1414.
100 Lihat Ilmu Mushthalah Hadits susunan A. Qadir Hasan, hlm. 78.
101 Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 96, no. 461.

BAB ll PENGERTIAN

Hukum Memakan Daging Anjing

Abdurrahman Sahab 2439

33


( sangat jujur namun bingung). Rawi


dan








tergolong



102

rawi

rawi hasan

103

, sehingga Ismail bin Abu Uwais dan Abu Uwais adalah rawi

hasan.
Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa hadits ini hasan, wallahu
alam.
11. Hadits Abu Tsalabah tentang Haramnya Memakan Daging Binatang
Buas yang Bertaring (Analisis, Hlm. 18)
Hadits Abu Tsalabah ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab
Musnadnya. Berikut ini urutan rawi pada sanadnya:
1. Abul Mughirah 104
2. Ibnul Ala bin Zabr 105
3. Muslim bin Misykam 106
4. Abu Tsalabah
Sanad hadits Abu Tsalabah ini bersambung dan rawi-rawinya tsiqat.
Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa hadits ini berderajat shahih,
wallahu alam.
12. Hadits Ibnu Abbas dan Hadits Jabir
Hadits Ibnu Abbas dan hadits Jabir ini dikeluarkan oleh Muslim dalam
kitab shahihnya, sehingga kedua hadits ini tergolong hadits shahih, wallahu
alam.

102 Lihat Taqribut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 505, no. 3423.
103 Lihat Ilmu Mushthalah Hadits susunan A. Qadir Hasan, hlm. 79.
104 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 4, hlm. 218-219, no. 4858; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 610, no. 4159.
105 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 3, hlm. 598-599, no. 4088; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 1, hlm. 521, no. 3532.
106 Lihat Tahdzibut Tahdzib susunan Ibnu Hajar, jld. 6, hlm. 265-266, no. 7850; Taqribut Tahdzib
susunan Ibnu Hajar, jld. 2, hlm. 181, no. 6669.