Anda di halaman 1dari 18

Pengertian dan 15 Jenis Ekonomi Kreatif di Indonesia

Banyak pengertian dan jenis ekonomi kreatif untuk di jelaskan. Sehingga isu ini masih
begitu menarik untuk di jual oleh para capres 2014, terutama Jokowi yang ingin
mengembangkan ekonomi kreatif jika terpilih sebagai Presiden 2014.

Banyak perbedaan tentang istilah sehingga menimbulkan kontradiksi yang tidak


berkesudahan sampai sekarang. Ada yang mengatakan industri kreatif dan ada yang
memakai istilah ekonomi kreatif. Tentunya kita tidak mau lelah dengan perbedaan akan
istilah itu, lebih jauh lagi kita berharap bahwa eksistensi ekonomi kreatif bisa mendapat
perhatian serius dari pemerintah.

Nah, apa yang di maksud dengan ekonomi Kreatif? Berikut adalah beberapa pengertian
ekonomi kreatif atau industri kreatif yang saya kumpulkan dari beberapa sumber.

1.

Konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru
yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan
stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi
utama dalam kegiatan ekonominya.

2.

Kementerian Perdagangan Indonesia menyatakan bahwa Industri kreatif adalah


industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat
individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan
menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

3.

Departemen Perdagangan Republik Indonesia (2008) merumuskan ekonomi


kreatif sebagai upaya pembangunan ekonomi secara berkelanjutan melalui
kreativitas dengan iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki
cadangan sumber daya yang terbarukan.

Saya pikir dari ketiga definisi di atas bisa memberikan pemahaman kepada kita tentang
ekonomi kreatif atau pun industri kreatif. Selanjutnya kita akan mengenal tentang jenis
jenisnya. Dulu ada 14 jenis ekonomi kreatif, dan beberapa waktu kemudian bertambah
1 , maka jumlah jenis ekonomi kreatif ada 15 macam.

Berikut adalah 15 Jenis-Jenis Ekonomi Kreatif:


#1. Periklanan (advertising)
#2. Arsitektur
#3. Pasar Barang Seni
#4. Kerajinan (craft)
#5. Desain
#6. Fesyen (fashion)
#7. Video, Film dan Fotografi
#8. Permainan Interaktif (game)
#9. Musik:
#10. Seni Pertunjukan (showbiz)
#11. Penerbitan dan Percetakan
#12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak (software)
#13. Televisi & Radio (broadcasting)
#14. Riset dan Pengembangan (R&D)
#15. Kuliner

Apakah Anda termasuk salah satunya? Jika iya, maka Anda adalah orang yang kreatif:).
Lalu bagaimana yang tidak? Ya selamat juga untuk Anda. Karena Anda tetap bagian dari
bangsa Indonesia.

Ada yang menarik dari debat Capres 15 Juni 2014 lalu. Jokowi ingin mengembangkan
ekonomi kreatif di Indonesia. Ya, ekonomi kreatif termasuk dalam pokok visi misi
pasangan Jokowi-Jusuf Kalla untuk menarik simpatik masyarakat.

Dengan antusias dan semangat suami Iriana menyampaikan topik Ekonomi Kreatif
sehingga membuat menarik debat pada waktu itu. Dan Prabowo pun setuju dengan
konsep atau gagasan Jokowi tentang Ekonomi Kreatif.
Tapi yang lebih menarik lagi adalah: Jokowi masih sebatas konsep saja mengenai
Ekonomi Kreatif, sedangkan Prabowo sudah mencontohkannya, ya Didiet Hediprasetyo,

anak Prabowo sudah lebih dulu menjadi pelaku Ekonomi Kreatif sebagai Desainer
Fashion. Ayo kenali Didiet Hediprasetyo lebih dekat,klik disini.

definisi ekonomi kreatif dan contoh ukm

29

MAR

PENDAHULUAN
Ekonomi Kreatif
Definisi Ekonomi Kreatif
Konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang
mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari
Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Struktur
perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi,
dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era
pertanian ke era industri dan informasi. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian
gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang
ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi
informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat yang merupakan gelombang ekonomi
kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.
Menurut ahli ekonomi Paul Romer (1993), ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih
penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model-model ekonomi.
Howkins (2001) dalam bukunya The Creative Economy menemukan kehadiran
gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari pertama kali pada tahun 1996 ekspor karya hak
cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan sebesar US$ 60,18 miliar yang jauh melampaui
ekspor sektor lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Menurut Howkins ekonomi baru
telah muncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti

paten, hak cipta, merek, royalti dan desain. Ekonomi kreatif merupakan pengembangan konsep
berdasarkan aset kreatif yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. (Dos Santos, 2007).
Disini saya memilih contoh ekonomi kreatif tentang FURNITURE-PENTINGNYA ESTETIKA
PADA RUANGAN karena menurut saya contoh ekonomi kreatif yang saya ambil ini sangat
menarik dan tidak akan bosan untuk membahasnya karena berhubungan dengan nilai
keindahan/seni rupa. Pada ruangan yang ada pada rumah anda,akan menentukan selera anda untuk
menentukan dekorasi dan tata ruang yang sesuai selera yang anda inginkan.

CONTOH EKONOMI KREATIF


Furnitur di masa sekarang tidak hanya sekadar perabotan yang hanya digunakan karena fungsinya,
tapi juga karena nilai estetikanya. Di situlah peran desainer interior, sebagai perancang sebuah
ruang yang enak dilihat dari segi keindahan, namun tidak kehilangan fungsi.
Pada bulan Oktober 2011, ARTES Studio & Workshop dibentuk, yang menerima pembuatan konsep
dan custom artwork yang bersifat elemen estetis ruang, instalasi, serta monumental. Namun
meningkatnya pemintaan untuk custom artwork saat memasuki tahun 2012, mendorong
dibentuknya ARTES Living, tepatnya pada November 2012.
ARTES Studio & Workshop sendiri terdiri dari Gabriel Aries Setiadi, M.Sn (seniman patung), Andro
M. Napitupulu, S.Sn (seniman grafis), serta Annisa Rahadi, M.Sn (kurator seni). Sedangkan yang
tergabung dalam ARTES Living adalah Aurora Rintya Ayuningrum, M.Ds (desainer interior) serta
Jacqueline Thenu, S.Ds (desainer produk). Mereka semua berkolaborasi dalam mendesain dan
memproduksi karya-karya ARTES Living.
Titik berat ARTES Living terletak pada artwork/elemen estetis pada interior. Artwork dan furnitur
hanya diproduksi terbatas, sehingga lebih menyerupai galeri. Selain memproduksi sendiri, mereka
juga memodifikasi produk atau karya yang telah ada, sehingga memiliki nilai estetis lebih. Biasanya
kami hunting di beberapa kota di Jawa Tengah, ujar Aurora, mewakili teman-temannya.
Re-use, atau menggunakan kembali produk yang sudah ada, tentunya bukan tanpa alasan. Sebagai
produsen artwork dan furnitur, ARTES Living tentunya sadar dengan isu lingkungan yang sedang
digalakkan di berbagai bidang, tak terkecuali bidang desain interior dan produk.

Di luar isu tersebut, tim ARTES Living melakukan penelitian sederhana mengenai penggunaan
artwork pada interior maupun eksterior. Survei kecil-kecilan itu dilakukan dengan mengamati
majalah, internet, atau media lainnya yang ada di Indonesia. Dari pengamatannya, didapatkan
bahwa hampir selalu ada artwork di tiap foto interior yang dimuat. Mereka lantas menyimpulkan
bahwa para desainer interior dan arsitek di Indonesia telah menyadari betapa pentingnya nilai
artwork pada ruang. Desain memang tidak hanya terbatas pada fungsi, tapi juga meliputi nilai
estetika yang memberikan pengaruh tertentu pada penggunanya. Peluang itulah yang coba diisi oleh
ARTES Living.
Dalam berkarya, ARTES Living mengadaptasi ide dari beberapa tokoh, seperti Andy Warhol yang
avant garde, Nika Zupanc dan Doshi Levien yang memiliki ide desain tak terbatas, serta Avianti
Armand dengan tulisannya yang inspirasional. ARTES Living juga menganggap Bob Sadino sebagai
tokoh yang cocok dijadikan panutan, karena pemikiran dan dukungannya terhadap para
wirausahawan.
Menanggapi kondisi perekonomian kreatif di Indonesia saat ini, Aurora berpendapat kehadiran
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) merupakan kemajuan. Pelaku kreatif
yang berkarya di bidang seni dan desain biasanya tergolong awam dalam bagaimana memulai,
mengatur, dan mempromosikan karya/produknya. Di situlah peran Kemenparekraf, yaitu sebagai
perwakilan dari pemerintah yang mendukung bagi perkembangan usaha para pelaku desain dan
seni.

Ajang PPKI yang baru saja diadakan di bulan November lalu ini merupakan kali pertama ARTES
Living mengikuti pameran. Event ini juga dimanfaatkan sebagai pre-launch ARTES Living yang webnya masih dalam persiapan. Tanggapan positif dari pengunjung pameran membuat tim ARTES
Living kian semangat dan tak sabar untuk terjun ke bisnis yang sesungguhnya.
Pengunjungnya sangat beragam, mulai dari pekerja kantoran, sampai ke ekspatriat dari berbagai
negara. Semuanya menunjukkan apresiasinya terhadap kami, kisah Aurora. Kami sih berharap
diundang lagi ke PPKI berikutnya, tambahnya sambil tertawa.
Sebagai penutup, Aurora memiliki saran bagi mereka yang berminat dan ingin menekuni bisnis di
bidang kreatif, khususnya desain interior atau produk. Mulailah! Karena memulai adalah
segalanya.

Ekonomi Kreatif
5

Definisi Ekonomi Kreatif


Konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang
mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari
Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Struktur
perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi,
dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era
pertanian ke era industri dan informasi. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian
gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang
ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi
informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat yang merupakan gelombang ekonomi
kreatif dengan

berorientasi

pada

ide

dan

gagasan

kreatif.

Menurut ahli ekonomi Paul Romer (1993), ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih
penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model-model ekonomi. Di dunia dengan
keterbatasan fisik ini, adanya penemuan ide-ide besar bersamaan dengan penemuan jutaan ide-ide
kecil-lah yang membuat ekonomi tetap tumbuh. Ide adalah instruksi yang membuat kita
mengkombinasikan sumber daya fisik yang penyusunannya terbatas menjadi lebih bernilai. Romer
juga berpendapat bahwa suatu negara miskin karena masyarakatnya tidak mempunyai akses pada
ide yang digunakan dalam perindustrian nasional untuk menghasilkan nilai ekonomi.
Howkins

(2001)

dalam

bukunya

The

Creative

Economy

menemukan

kehadiran

gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari pertama kali pada tahun 1996 ekspor karya hak

cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan sebesar US$ 60,18 miliar yang jauh melampaui
ekspor sektor lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Menurut Howkins ekonomi baru
telah muncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti
paten, hak cipta, merek, royalti dan desain. Ekonomi kreatif merupakan pengembangan konsep
berdasarkan aset kreatif yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. (Dos Santos, 2007).
Konsep Ekonomi Kreatif ini semakin mendapat perhatian utama di banyak negara karena
ternyata

dapat

memberikan

kontribusi

nyata

terhadap

perekonomian.

Di

Indonesia,

gaung Ekonomi Kreatif mulai terdengar saat pemerintah mencari cara untuk meningkatkan daya
saing produk nasional dalam menghadapi pasar global. Pemerintah melalui Departemen
Perdagangan yang bekerja sama dengan Departemen Perindustrian dan Kementerian Koperasi dan
Usaha Kecil Menengah (UKM) serta didukung oleh KADIN kemudian membentuk tim Indonesia
Design Power 2006 2010 yang bertujuan untuk menempatkan produk Indonesia menjadi produk
yang dapat diterima di pasar internasional namun tetap memiliki karakter nasional. Setelah
menyadari akan besarnya kontribusi ekonomi kreatif terhadap negara maka pemerintah selanjutnya
melakukan studi yang lebih intensif dan meluncurkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif.

Dalam upaya merangsang pertumbuhan dan mempromosikan industri kreatif, pemerintah


mengadakan program-program berskala besar seperti :
1.

Peluncuran Studi Pemetaan Kontribusi Industri Kreatif Indonesia pada ajang Trade Expo
Indonesia

2. Pencanangan Tahun Indonesia Kreatif tahun 2009


3. Pekan Produk Kreatif 2009
4. Pameran Ekonomi Kreatif

M. Hatta Rajasa
Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia.

Professor Lester Carl Thurow, seorang guru besar dari Sloan Management School, Massachusets Institute of
Technology (MIT), Amerika Serikat, pada tahun 1991, atau sekitar 16 tahun yang lampau pernah merilis sebuah
kalimat pada suatu pertemuan dengan NSF (National Science Foundation) semacam LIPI-nya Amerika Serikat
sebagai berikut:
In the 21st century, comparative advantages will become much less a function of natural resources endowments
and capital labour ratios and much more a function of technology and skills. Mother nature and history will play a
much smaller role, while human ingenuity will play a much bigger role.
Penggalan kalimat yang pernah dirilis oleh Prof. Thurow tersebut dilatarbelakangi dari data pertumbuhan ekonomi
AS, yang semakin lama semakin ditopang oleh peran penting dari penemuan-penemuan baru di bidang teknologi
informasi serta fenomena semakin maraknya internet sebagai media komunikasi global.

Paling tidak ada tiga kata kunci dari penggalan kalimat yang disampaikan oleh Prof. Thurow dan ketiganya
memberikan gambaran langsung dari tantangan yang akan membentuk masa depan. Ketiga kata kunci tersebut
adalah: pertama, akan semakin berkurangnya peran sumber daya alam dan buruh sebagai elemen dasar untuk
keunggulan suatu bangsa; kedua, akan semakin berkurangnya peran dari kejayaan masa lalu suatu bangsa dalam
pertumbuhan bangsa; dan ketiga akan semakin meningkatnya peran dari kreatifitas dan daya inovasi manusia
(human ingenuity) sebagai unsur pokok dalam menentukan keunggulan dan keberhasilan pertumbuhan ekonomi
suatu bangsa.

Sehubungan bahwa pembangunan sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari aktifitas ekonomi, maka pada makalah
ini akan diulas secara singkat tentang tiga hal penting, yakni: format tantangan pembangunan ekonomi di masa
depan, bentuk-bentuk pekerjaan yang ada di masa depan, dan peran sumber daya manusia kreatif dalam
mendinamisasi tantangan-tantangan masa depan tersebut.
Format Tantangan Pembangunan Masa Depan
Abad ke-18 sampai dengan paruh pertama abad ke-19 dikenal sebagai era agraris dan format ekonomi yang ada
dikenal dengan istilah agricultural economy yang sumber daya utama umumnya berupa tanah (pertanian, atau
tanah garapan). Karena dari tanah (pertanian, atau tanah garapan) inilah kemudian dapat dimulai dan selanjutnya
dikembangkan berbagai aktifitas ekonomi (yakni kreasi, produksi dan distribusi produk, jasa maupun proses).

Selanjutnya paruh kedua abad ke-19 sampai dengan paruh pertama abad ke-20 sering disebut dengan era industri
dan format ekonomi yang ada lazim disebut dengan istilahindustrial economy atau ekonomi industri (lihat tabel 1).
Pada era ekonomi industri sumber daya alam (misalnya batubara, mineral dan bijih besi) dan buruh (yakni sumber

daya manusia, namun umumnya sebatas dinilai dari aspek pekerjaan tangan atau manual labour) merupakan
sumber daya utama dalam menggerakkan aktifitas ekonomi.
Tabel 1. Pergeseran Peradaban dan Dominasi
Paradigma Ekonomi Masing-Masing
(Ref.: diolah dari berbagai sumber)

Adapun paruh kedua abad ke-20 dan awal abad ke-21 sering disebut dengan istilah era informasi atau information
age atau digital age, dan format ekonomi yang ada di dalamnya lazim disebut dengan ekonomi berbasis teknologi
informasi atau information economy dan sering disebut dengan ekonomi berbasis pengetahuan atau knowledge
based economy dengan pengetahuan atau knowledge menjadi sumber daya utamanya.

Tahapan selanjutnya, yaitu masih di era abad ke-21 adalah tumbuh dan berkembangnya ekonomi kreatif
atau creative economy, yaitu sebuah tatanan ekonomi yang ditopang oleh tiga unsur yakni keunggulan budaya,
seni dan inovasi teknologi. Ekonomi kreatif pada hakekatnya masih merupakan bagian dari knowledge based
economy atau ekonomi berbasis pengetahuan akan tetapi lebih mengedepankan pada perpaduan dari ketiga unsur
tersebut.

Pada hakekatnya di dua format ekonomi yang sebelumnya, pengetahuan atau knowledge juga sudah merupakan
hal yang penting. Misalnya di format ekonomi industri, pengetahuan untuk menambang (knowledge to mine),

10

pengetahuan untuk membangun (knowledge to build), dan seterusnya adalah hal-hal yang juga penting.

Namun di kedua era tersebut, pengetahuan dalam konteks yang masih intrinsik umumnya memiliki nilai ekonomi
yang rendah. Transaksi ekonomi umumnya didominasi oleh pengetahuan yang telah dikonversi menjadi unsur
yang tangible, misalnya berupa jasa dan produk. Akan halnya, di era ekonomi kreatif, terutama dengan didorong
oleh kemajuan teknologi informasi, maka proses rantai nilai olah-pengetahuan menjadi produk dapat lebih
dipercepat, sehingga pengetahuan dalam konteks yang masih berupa ide dan gagasan pun telah memiliki nilai
keekonomian yang potensial. Gambaran ringkas dari kinerja ekonomi kreatif menurut World Bank pada tahun 2006
adalah sebagai berikut:
1. Tingkat pertumbuhan ekonomi kreatif mencapai 9% per tahun.
2. Tahun 2006, global turn over dari ekonomi kreatif mencapai US $2,24 trilyun.
3. Sampai dengan akhir tahun 2006; 7,3% PDB dunia adalah kontribusi dari industri kreatif.
4. Kontribusi industri kreatif meningkat 13% per tahun.
5. Pekerja kreatif saat ini baru mencapai 5% dari total angkatan kerja global, akan tetapi terus tumbuh rata-rata di
atas 5% setiap tahun.
Pada tabel 2 berikut diberikan data ringkas tentang potret kinerja ekonomi kreatif secara global pada tahun 2005.
Tabel 2. Potret Kinerja Ekonomi Kreatif Global tahun 2005.
(Ref.: The Economist, 2006)

Data dan fakta yang dipaparkan di atas, menunjukkan bahwasanya potensi dari ekonomi kreatif adalah sangat
besar dan sanggup memberikan implikasi yang luar biasa dalam pola pelaksanaan kegiatan ekonomi. Oleh karena
itu, maka membangun ekonomi kreatif adalah peluang yang harus dimanfaatkan dalam mengakselerasi
pembangunan bangsa, khususnya dalam konteks untuk mempertahankan daya saing dan menjalankan
pembangunan nasional yang berorientasi pada pertumbuhan.
Ekonomi Kreatif dan Bentuk Pekerjaan Di Masa Depan
Ekonomi kreatif2 didefinisikan sebagai sebuah kumpulan aktifitas ekonomi berbasis pengetahuan (knowledgebased economic activities) yang secara intensif menggunakan kreatifitas dan inovasi sebagai primary input-nya

11

untuk menghasilkan berbagai produk dan jasa yang bernilai tambah. Adapun ruang lingkup dari ekonomi kreatif
mencakup aspek yang sangat luas dan tidak terbatas pada seni dan budaya saja. Secara umum konomi kreatif
memiliki 3 dimensi yaitu dimensi inovasi dan kreatifitas, dimensi kapabilitas teknologi, dan dimensi seni dan
budaya.

Pada gambar 1 di atas, ditampilkan spektrum dari ekonomi kreatif yang mencakup
berbagai sektor mulai dari pengetahuan tradisional, sampai dengan industri musik,
filem, periklanan, dan berbagai industri perangkat lunak. Meskipun spektrumnya
sangat luas, akan tetapi esensi dari ekonomi kreatif adalah semakin penting dan
strategis kapasitas pengembangan kreasi dan daya inovasi.
Sebagai konsekuensinya, maka di era ekonomi kreatif, dituntut adanya berbagai
bentuk pekerjaan baru, yang tentunya berbeda dengan tuntutan pekerjaan di era
industri maupun era agraris. Pekerjaan jenis baru atau future of work di era
ekonomi kreatif, sesuai dengan namanya, tentunya adalah segala bentuk pekerjaan
yang sarat dengan tuntutan untuk terus melakukan akumulasi pengetahuan untuk
menghasilkan berbagai inovasi baru atau sering disebut dengan innovation
intensive employment.
Prinsip yang paling fundamental dari ekonomi kreatif adalah jika di era sebelumnya
kinerja dari masyarakatnya umumnya diukur sebatas dari tingkat produktifitas
dalam memproduksi produk, jasa maupun proses; maka dalam era ekonomi kreatif
12

kinerja masyarakat diukur tidak sebatas pada peningkatan produktifitas belaka,


akan tetapi lebih diukur berdasarkan dari peningkatan akumulasi pengetahuan dan
peningkatan kapasitasnya dalam melakukan inovasi-inovasi ketika melakukan
sejumlah aktifitas produksi tersebut.
Setidaknya ada tiga jenis tren dari bentuk pekerjaan di masa depan yang akan
semakin menuntut adanya peran dari pekerja (atau worker) untuk sanggup menjadi
pekerja kreatif. Ketiga tren jenis pekerjaan tersebut meliputi:
Pertama adalah aset non-fisik atau ide dan gagasan menjadi lebih penting
dibandingkan dengan aset fisik, seperti modal dan sumber daya fisik lainnya. Di
masa depan nanti akan semakin banyak terbentuk berbagai kerjasama antara
penemu dan pencetus ide yang inovatif dengan sejumlah pemilik modal untuk
terlibat dalam aktifitas kreasi pengetahuan (atauknowledge creation) yang bentuk
nyatanya adalah aktifitas terkait dengan penelitian, pengembangan dan riset yang
diarahkan untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Tren seperti ini sudah nampak
di negara maju, misalnya di negara-negara Skandinavia yang semenjak 5-6 tahun
terakhir ini, perusahaan-perusahaan besar di sana sudah biasa memberikan modal
ventura kepada para lulusan universitas yang memiliki ide dan temuan yang
potensial untuk dikembangkan lebih lanjut pada skala komersial.
Kedua adalah maraknya bentuk tata organisasi yang lebih bersifat horisontal dan
non-hirarkis, guna mempercepat proses produksi inovasi dan merangsang
kreatifitas. Pekerja sekarang umumnya dituntut untuk sanggup melakukan
pengayaan atau (enrichment) dari bentuk pekerjaan yang telah ada. Setiap individu
dituntut untuk semakin aktif dalam mempelajari berbagai bentuk pengetahuan baru
dengan cepat. Kinerja bagi para pekerja sekarang diukur dari tingkat kecepatannya
dalam memperkaya pengetahuan yang telah dimilikinya dari waktu ke waktu.
Ketiga adalah semakin pentingnya kelembagaan perlindungan Hak Kekayaan
Intelektual. Di era dimana gagasan dan ide telah semakin memiliki nilai
keekonomian yang tinggi, maka diperlukan suatu interaksi fungsional dalam bentuk
13

yang baru antara pencetus ide dengan produsen komersialnya. Interaksi fungsional
yang dimaksud itu adalah penumbuhkembangan dari Lembaga Hak Atas Kekayaan
Intelektual. Tanpa keberadaan kelembagaan tersebut, maka pencetus ide sebagai
pemilik dari gagasan dan inovasi justru akan berada dalam posisi yang tidak
diuntungkan secara ekonomis, hal mana dapat berdampak pada berkurangnya
motivasi untuk mencetuskan berbagai ide dan inovasi baru. Di pihak lain,
kelembagaan perlindungan hak kekayaan intelektual dan hak cipta tersebut juga
berfungsi sebagai rambu-rambu yang efektif dalam menjamin adanya persaingan di
era ekonomi kreatif yang semakin mengglobal.
Ketiga tren di atas saat ini telah mulai menggejala di negara-negara maju. Negaranegara maju tersebut, khususnya yang tergabung dalam OECD telah
mengantisipasi dengan sejumlah pranata kebijakan yang mengatur tatanan
angkatan kerja di negeri masing-masing untuk mengantisipasi tren tersebut. Pada
paragraf berikut akan dibahas tentang peran sumber daya manusia kreatif dalam
menghadapi masa depan seiring dengan adanya tren bentuk pekerjaan baru di
masa depan berikut tantangan-tantangan pembangunan ekonomi masa depan.
Pembinaan Sumber Daya Manusia Kreatif Sebagai Unsur Utama
Pembangunan Bangsa Masa Depan
Komitmen Pemerintah Republik Indonesia untuk mengembangkan ekonomi kreatif
tercermin dari program nasional yang dikenal dengan Indonesia Design Power atau
IDP. Program yang dikoordinir oleh Departemen Perdagangan RI ini telah dimulai
pada tahun 2006 dan dijadwalkan akan selesai pada tahun 2010 mendatang.
Program itu ditujukan untuk memberikanbrand/merek baru pada sebanyak 200
komoditi domestik sehingga menjadi Good Design Product Made in Indonesia.
Melalui program Indonesia Design Power, Pemerintah berupaya untuk
mengembangkan produk nasional yang berdaya saing dengan berbasiskan pada
pemberdayaan tiga pilar ekonomi kreatif, yaitu keunggulan budaya lokal, kemajuan
teknologi dan seni yang dikemas melalui tiga kekuatan yang disebut
dengan branding?, packaging? dan product design?. Selain dari itu,
pemerintah sekarang juga terus mensosialisasikan serta terus mendorong para
inovator untuk mendaftarkan penemuannya ke Ditjen Hak Atas Kekayaan
14

Intelektual.
Unsur utama dari pengembangan ekonomi kreatif tentunya adalah sumber daya
manusia kreatif. Oleh karena itu, pembinaan sumber daya manusia menjadi para
penemu dan pencetus ide kreatif adalah solusi untuk menghadapi berbagai peluang
di era masa depan.
Pada dua paragraf sebelumnya telah diulas tentang sejumlah tantangan strategis
pada pembangunan ekonomi di masa depan serta bentuk-bentuk pekerjaan yang
dituntut oleh pembangunan ekonomi masa depan tersebut. Maka pada paragraf ini
akan diulas secara ringkas tentang pembinaan sumber daya manusia kreatif dalam
menghadapi sekaligus mengantisipasi hal-hal tersebut.
Dalam kaitan dengan pembinaan tersebut, sedikitnya ada tiga langkah penting
yang harus dikedepankan untuk dapat mengakselerasi pengembangan sumber daya
manusia kreatif di tanah air, sebagai berikut:
Yang pertama adalah pada aspek individu, yaitu adanya upaya untuk semakin
meningkatkan kapasitas pengetahuan masyarakat melalui berbagai program
pendidikan dan pelatihan serta perluasan aksesibilitas pada berbagai program
pendidikan dan pelatihan tersebut. Dengan cara ini maka diharapkan kapasitas
pengetahuan masyarakat akan meningkat dan memperbesar potensinya untuk
pengembangan daya kreatifitas dan inovasinya.
Yang kedua adalah aspek koordinasi. Yang dimaksud dengan aspek koordinasi di
sini adalah terus memperbaiki koordinasi dan hubungan kerja antara kelembagaan
produksi pengetahuan (dalam hal ini perguruan tinggi) dan kelembagaan pengguna
pengetahuan (khususnya industri). Dengan mendorong koordinasi antara
keduanya, maka akan terbina kerjasama yang intensif dan akan mengakselerasi
pengembangan daya kreatifitas dan inovasi di kedua kelembagaan tersebut.
Yang ketiga adalah aspek kelembagaan. Ada dua hal penting di sini, yang pertama
15

adalah keberadaan Kelembagaan Perlindungan Hak Cipta dan Hak Intelektual bagi
para pencipta dan penemu, serta kemudahan akses bagi para pencipta dan penemu
tersebut untuk memperoleh hak-haknya dan yang kedua adalah pranata keuangan
yang memberikan akses modal awal (start up capital) kepada para pencipta dan
penemu yang berminat untuk mengkomersialisasikan penemuannya. Kedua hal di
atas, sangat diperlukan, selain untuk memberikan motivasi yang lebih tinggi di
kalangan para pencipta (innovator), juga akan membangkitkan budaya baru di
kalangan masyarakat yaitu, budaya wirausaha (entrepreneurship) sebuah budaya
yang sangat relevan dengan keberadaan ekonomi kreatif. Mentalitas kewirausahaan
itulah yang nantinya akan semakin mendorong pengembangan kreatifitas dan
inovasi.
Ketiga langkah penting yang dipaparkan di atas, saat ini telah dan sedang
dilaksanakan secara intensif oleh Pemerintah. Meskipun demikian masih terdapat
sejumlah tantangan dalam proses implementasinya. Tantangan yang terberat
adalah merancang pranata keuangan yang khas (lex specialist) bagi para penemu
agar memberikan kesempatan bagi mereka untuk membuka dan mengawali
usahanya (start up company).
Penutup
Saat ini kita hidup di era gelombang ke-4 peradaban yang dicirikan dengan semakin
tumbuh dan berkembangnya ekonomi kreatif. Dalam peradaban gelombang ke-4
itu, unsur penentu daya saing adalah kreatifitas dan inovasi. Sehingga tantangan
pembangunan yang terpenting yang harus kita hadapi dewasa ini, adalah tantangan
untuk terus berinovasi atau the need to continuosly innovating. Ekonomi kreatif
ditopang oleh 3 pilar yaitu: budaya kreatifitas, daya inovasi, dan kemajuan
teknologi.
Karena maraknya peran daya kreatifitas dan inovasi tersebut, maka beberapa
literatur juga sering menyebutkan era sekarang ini sebagai abad inovasi atau the
Century of Innovation. Saat ini inovasi, di berbagai bidang nyaris berlangsung tanpa
henti, dan sebagai konsekuensinya, para inovator semakin menempati peran
penting dalam peradaban sekarang ini.
16

Dalam kondisi tersebut, maka karakteristik pekerjaan masa depan (the future of
works and employment) ditandai dengan tuntutan untuk terus menerus melakukan
inovasi atau innovative intensive employment dan berintikan pada
pengarusutamaan pembelajaran terus menerus.
Di era ekonomi kreatif, maka infrastruktur dan segenap aktifitas ekonomi dengan
sendirinya harus disesuaikan dengan karakteristik ekonomi kreatif, yaitu adanya
basis pengetahuan yang menunjang inovasi, adanya mekanisme koordinasi yang
menjamin sinergi industri dan universitas, serta pembentukan kelembagaan yang
memberikan akses pemodalan dan pranata perlindungan hukum untuk kekayaan
intelektual.
Pemerintah sedang dan terus mengembangkan sumber daya manusia sebagai aset
utama dalam meraih peluang di era ekonomi kreatif. Program nasional Indonesia
Design Power yang saat ini dilaksanakan dan diproyeksikan selesai pada tahun
2010 mendatang adalah platform dalam mencapai tujuan tersebut. Pada makalah
ini telah diulas sejumlah hal penting yang menyangkut aspek individu, aspek
kelembagaan dan aspek koordinasi untuk mengakselerasi pencapaian tujuan dari
program tersebut, khususnya dalam pembinaan sumber daya manusia kreatif.

Mengapa Ekonomi Kreatif?


Secara umum, sejarah perkembangan peradaban ekonomi dapat dibedakan menjadi empat jaman:
(1) Jaman Pertanian; (2) Jaman Industri; (3) Jaman Informasi; (4) Jaman Konseptual. Kita telah
melewati jaman pertanian, jaman industri dan jaman informasi. Peradaban ekonomi sekarang ini
masuk pada jaman konseptual dimana pada jaman ini yang dibutuhkan adalah para kreator dan
empathizer. Kemampuan untuk mewujudkan kreativitas yang diramu dengan sense atau nilai seni,
teknologi, pengetahuan dan budaya menjadi modal dasar untuk menghadapi persaingan ekonomi,

17

sehingga

muncullahekonomi

kreatif sebagai

alternatif

pembangunan

ekonomi

guna

meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Alasan mengapa Indonesia perlu mengembangkan ekonomi kreatif antara lain karena ekonomi
kreatif berpotensi besar dalam: Memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan; Menciptakan
Iklim bisnis yang positif; Membangun citra dan identitas bangsa; Mengembangkan ekonomi
berbasis kepada sumber daya yang terbarukan; Menciptakan inovasi dan kreativitas yang
merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa; Memberikan dampak sosial yang positif.

18