Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH DASAR BIOMEDIK II


SEMESTER II FKM UNDIP TAHUN 2016

Lingkungan Kafetaria Dapat di Isolasi Telur Cacing

Oleh :

ADHIATMA SETIAWAN NUGROHO


2501011510198
C-2015

Praktikum dilakukan untuk memenuhi salah satu Tugas


MK Dasar Biomedik II Semester II 3 sks

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016

PRAKATA DARI PENULIS

Assalamualaikum wr. wb.


Puji Syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT sehingga atas Rahmah
dan Hidayah-Nya, maka Laporan Akhir Praktikum Mata Kuliah Biomedik Dasar II
(3 sks) Semester II FKM Undip dapat diselesaikan dengan baik.
Laporan Akhir Praktikum

MK Biomedik Dasar II (3 sks) dengan Judul

Lingkungan Kafetaria Dapat di Isolasi Infeksi Cacing ini disusun oleh Penulis
guna keperluan metode pembelajaran dengan Student Centered Learning Self
Directed Learning pada mata kuliah tahun 2016 guna keperluan praktikum
pembelajaran pada Mata Kuliah Biomedik Dasar II Semester II di Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.Dalam laporan ini, penulis
menyajikan data dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Laboratorium FKM
Undip pada tanggal 09 Mei 2016.
Tak lupa penulis ucapkan banyak terima kasih atas bimbingan dan arahan dari
Ibu Martini sebagai PJMK Mata Kuliah Biomedik Dasar II dan Bapak Woerryantho
sebagai dosen pengampu pada saat melakukan praktikum di laboratorium,.
Akhirnya Penulis berharap agar Laporan Akhir Praktikum MK Biomedik
Dasar II FKM Undip ini dapat bermanfaat bagi pengembangan kompetensi dan
keilmuan Biomedik Dasar II di Indonesia dan di dunia.
Wassalamualaikum wr. wb.
Semarang, 15 Mei 2016
Penulis

Adhiatma Setiawan Nugroho

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDULi
PRAKATA DARI PENULIS ...ii
DAFTAR ISI.iii
DAFTAR GAMBAR....iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH..v
HALAMAN PENGESAHAN..vi
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..1
1.2. Tujuan Penulisan...3
1.3. Manfaat Penulisan.4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Fungi.5
2.2. Basidium......................8
BAB III. METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian...10
3.2. Alat dan Bahan.10
3.3. Metode Penelitian.........11
3.4. Cara Kerja.11
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil..12
4.2. Pembahasan...12
BAB V KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan..14
DAFTAR PUSTAKA ......15
LAMPIRAN.....16

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Siklus hidup Enterobius vermicularis.............................................7


Gambar 4.1 Gambar telur cacing dari mikroskop.......................................................9

iv

DAFTAR TABEL

Gambar 4.1 1 Tabel klasifikasi...................................................................................12

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH


Penulis menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan Laporan Praktikum
Mata Kuliah Biomedik Dasar II (3 sks) Semester II FKM Undip dengan judul
Lingkungan Kafetaria Dapat di Iisolasi Infeksi Cacing ini berdasarkan hasil
pemikiran dan karya asli dari saya. Jika terdapat karya orang lain, saya akan
mencantumkan sumber referensi yang jelas. Demikian pernyataan ini saya buat
dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan
ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya dan kelompok bersedia menerima
sanksi berupa peringatan lisan hingga pencabutan gelar yang telah diperoleh dan
sanksi lain sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Diponegoro. Dan bila
ternyata ada kekeliruan dalam penetapan sanksi, maka saya dan kelompok berhak
mendapatkan pemulihan nama baik dari Universitas Diponegoro. Demikian
pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun.

Semarang, 15 Mei 2016


Penulis

Adhiatma Setiawan Nugroho

vI

HALAMAN PENGESAHAN
Proposal/Laporan Akhir Praktikum MK Biomedik Dasar II FKM Undip

1. Judul

: Lingkungan Kafetaria

Dapat di Isolasi Telur Cacing


2. Nama dan NIM

: Adhiatma Setiawan Nugroho 2501011510198

3.
4.
5.
6.
7.

: 2/2016
: Dasar Biomedik II /3 sks
: Terpadu FKM Undip
: Kota Semarang
: 09 Mei 2016

Semester/Tahun
Nama Mata Kuliah/sks
Laboratorium
Lokasi Kegiatan
Waktu Kegiatan

Sudah diperiksa isi materi keilmuan Dasar Biomedik II dan disetujui.


Kepala Laboratorium
Entomologi FKM Undip

Semarang, 08 Mei 2016


Penanggung Jawab Mata Kuliah
Dasar Biomedik II

Lintang Dian S, S.KM, M. Epid


NIP. 198111042003122001

Dr. Ir. Martini, M. Kes


NIP. 196503171993032001

Mengetahui,
Kepala Laboratorium Terpadu FKM Undip

Ir. Laksmi Widajanti, M.Si


NIP. 196608131992032003

viI

BAB I
PENDAHALUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang masih banyak
terjadi pada penduduk didaerah tropis dan sub tropis termasuk Indonesia. Infeksi
cacing usus yang ditularkan melalui tanah disebut dengan Soil Transmitted Helminth
(STH). Penyakit yang disebabkan oleh cacing STH dapat menyebabkan gangguan
penyerapan gizi, anemia, gangguan pertumbuhan dan menurunkan kecerdasan pada
anak serta penurunan produktivitas pada orang dewasa, tetapi karena infeksi yang
terjadi sering tanpa gejala, sehingga penyakit ini kurang mendapat perhatian (Nurul
dkk, 2015).
Angka kejadian infeksi Soil Transmitted Helminths di Indonesia masih
cukup tinggi. Angka tersebut pada siswa sekolah dasar mencapai 60-80%. Infeksi Soil
Transmitted Helminths merupakan masalah kesehatan di daerah tropis dan subtropis.
Banyaknya penderita yang terinfeksi lebih dari satu spesies cacing usus seperti
Ascaris, Trichuris dan cacing tambang. Ascariasis dapat mengakibatkan protein
energy malnutrition. Pada anak-anak yang diinfeksi 13-14 cacing dewasa dapat
kehilangan 4 gram protein dari diet yang mengandung 35-50 gram protein/hari.
Sedangkan infeksi Trichuris trichiura dapat menyebabkan anemia, malnutrisi dan
diare pada anak-anak dengan infeksi berat.
Di daerah tropis, tanah lembab dan terlindung dari sinar matahari
merupakan kondisi yang baik untuk tetap berlangsungnya transmisi Ascaris secara
terus menerus. Tanah liat merupakan tempat yang baik untuk perkembangan telur
Ascaris dan tetap infektif di sekitar genangan air karena terhindar dari kekeringan.
Bila terkena hujan, air bercampur tanah menyebar ke tanaman sayuran atau buahbuahan yang selanjutnya ikut termakan atau beterbangan di udara dan akan
mencemari lingkungan. Di daerah dengan kondisi sanitasi yang jelek dan penduduk

padat prevalensinya akan meningkat. Kasusnya lebih sering pada anak-anak terutama
umur 5-9 tahun dibandingkan dengan orang dewasa. Faktor lain yang berperan adalah
pengetahuan, sikap, dan perilaku sehat masyarakat terhadap infeksi Soil Transmitted
Helminths (Liena, 2010).
Di Indonesia penyakit kecacingan pada anak usia Sekolah Dasar masih
merupakan masalah besar atau masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
karena prevalensinya yang masih sangat tinggi yaitu kurang lebih antara 45-65 %,
bahkan diwilayah-wilayah tertentu yang sanitasi yang buruk prevalensi kecacingan
bisa mencapai 80% (Junaidi, 2014).
Enterobius vermicularis adalah cacing yang dapat masuk ke tubuh melalui
makanan, pakaian, bantal, sprai serta inhalasi debu yang mengandung telur yang
kemudian akan bersarang di usus dan akan dihancurkan oleh enzim usus, telur yang
lolos akan berkembang menjadi larva dewasa (Sandjaja, 2007).
Penyebaran cacing kremi atau Enterobius vermicularis lebih luas daripada
cacing lain. Penularan dapat terjadi pada suatu keluarga atau kelompok-kelompok
yang hidup dalam satu lingkungan yang sama (asrama, rumah piatu). Telur cacing
dapat diisolasi dari debu di ruangan sekolah atau kafetaria sekolah dan mungkin ini
menjadi sumber infeksi bagi anak-anak sekolah. Di berbagai rumah tangga dengan
beberapa anggota keluarga yang mengandung Enterobiasis vermicularisdapat
ditemukan (92%) di lantai, meja, kursi, bufet, tempat duduk kakus (toilet seats), bak
mandi, alas kasur, pakaian, dan tilam (Gandahusada, 1998).
1.2. Tujuan Penelitian
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengidentifikasi cacing pada lingkungan Kafetaria.


Mempelajari Firri-ciri dari cacing.
Mengetahui struktur cacing secara jelas.
Mempelajari morfologi cacing.
Mengenal berbagai macam spesies serta Firri-ciri dari Cacing.
Mengetahui berbagai macam Firri-ciri atau karasteristik jenis-jenis

cacing tersebut.
7. Mengetahui sifat Cacing tersebut.
8. Memahami peran cacing dalam kehidupan.

1.3. Manfaat Penelitian


1.
2.
3.
4.

Mengetahui cacing yang terdapat pada lingkungan Kafetaria.


Mengetahui persebaran cacing pada Kafetaria
Mengetahui pencegahan cacing
Mengetahui cara kerja isolasi pada Cacing.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Enterobius Vermicularis


Paling sering terkena cacingan akibat cacaing kremi. Cacing kremi
mempunyai banyak nama yaitu Enterobius vermicularis, Oxyuris vermicularis,
pinworm dan seatworm. Cacing kremi atau dalam bahasa kedokteran Enterobius
vermicularis dapat menyebabkan infeksi dengan nama penyakit yang disebut
enterobiasis atau oksiuriasis atau dalam bahasa awam adalah kreminan.
Enterobiasis adalah kejadian infeksi kecacingan yang diakibatkan oleh
masuknya cacing spesies Enterobiasis vermicularis pada tubuh manusia yang ditandai
dengan timbulnya rasa gatal daerah sekitar anus pada kasus infeksi berat.
2.2 Gejala dan Patologi klinis
Enterobiasis dapat menyebabkan pruritus ani yang disebabkan karena
cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah anus dan vagina, sehingga penderita
merasa gatal dan menggaruk dan menimbulkan luka di sekitar anus. Keadaan ini
sering terjadi pada waktu malam hari hingga penderita terganggu tidurnya dan
menjadi lemah.
Gejala Enterobiasis yaitu berkurangnya nafsu makan, berat badan menurun,
aktivitas meninggi, enuresis, cepat marah, gigi menggertak dan insomnia, tetapi
kadang-kadang sukar untuk membuktikan hubungan sebab dengan cacing kremi.
( Srisasi Gandahusada; 2004 )
Infeksi lebih sering ditemukan pada anakanak dan wanita. Pada wanita
yang terinfeksi berat, sering mengeluarkan cairan mukoid dari vagina, uterus, tuba
falopii dan sering juga ditemukan cacing yan g mengadakan enkapsulasi
(pembentukan kapsul) di organorgan tersebut. ( Onggowaluyo, JS, 2001 )
2.3 Epidemiologi

Penyebaran kejadian enterobiasis lebih luas daripada cacing lainnya.


Penularan dapat terjadi pada keluarga atau kelompok yang sama (asrama, rumah
piatu). Telur cacing dapat diisolasi dari debu diruangan sekolah atau kafetaria sekolah
dan menjadi sumber infeksi bagi anak sekolah. Dalam lingkungan rumah tangga
dengan beberapa anggota keluarga yang terinfeksi cacing kremi, telur cacing dapat
ditemukan ( 92 % ) dilantai, meja, kursi, bufet, tempat duduk, kakus (toilet seats), bak
mandi, alas kasur, pakaian dan tilam. Hasil penelitian menunjukan angka prevalensi
pada berbagai golongan manusia 3 % - 80 %.. Penelitian di daerah Jakarta Timur
melaporkan bahwa kelompok usia terbanyak yang menderita enterobiasis adalah
kelompok usia 5 9 tahun, mencapai angka 54,1 %. Binatang anjing dan kucing tidak
mengandung cacing kremi tetapi dapat menjadi sumber infeksi oleh karena telur
dapat menempel pada bulunya. Sementara itu frekwensi tinggi, terutama pada anak
dan lebih banyak ditemukan pada golongan ekonomi lemah. Frekwensi pada orang
kulit putih lebih tinggi dari pada orang negro terkait dengan faktor immunitas
tubuhnya secara genetik. (Sutanto I, Is Suhariah ismid, Pudji K, Sjarifuddin, Saleha
S ; 2008)
Kebersihan perorangan penting untuk mencegah terjadinya enterobiasis.
Kuku tangan hendaknya dipotong pendek, tangan dicuci bersih sebelum makan. Guna
mengendalikan penyebaran telur, anak yang menderita enterobiasis sebaiknya
memakai celana panjang jika hendak Create PDF files without this message by
purchasing novaPDF printer 9 tidur, supaya alas tidur (kasur) tidak terkontaminasi
telur cacing dan tangan tidak dapat menggaruk daerah perianal. ( Sutanto I, Is
Suhariah Ismid, Pudji K, Sjarifuddin, Saleha S ; 2008 ) Makanan hendaknya
diupayakan semaksimal mungkin untuk dapat dihindarkan dari debu dan tangan yang
mengandung telur. Pakaian dan alas tidur hendaknya dicuci bersih dan diganti tiap
hari. ( Sutanto I, Is Suhariah Ismid, Pujdi K, Sjarifuddin, Saleha S ; 2008 ).
2.4 Morfologi
Stadium perkembangan Enterobius vermicularis dimulai dari telur
kemudian menetas dan menjadi stadium dewasa.

2.4.1 Telur
Seekor cacing betina memproduksi telur sebanyak 11.000 butir setiap
harinya selama 2-3 minggu, sesudah itu cacing betina akan mati. Telur cacing
berbentuk asimetrik ini tidak berwarna, mempunyai dinding yang tembus
sinar dan berisi larva yang hidup. Ukuran telur Enterobius vermicularis lebih
kurang 30 mikron kali 50-60 mikron .( Soedarto ; 1995 ). Telur ini mempunyai
kulit yang terdiri dari dua lapisan luar yang berupa albuminous translucent,
bersifat chemical protection. ( Soejoto dan Soebari. 1996 )
2.4.2 Cacing dewasa
Cacing kremi (Enterobius vermicularis) dewasa berukuran kecil,
berwarna putih. Ukuran cacing betina jauh lebih besar daripada cacing jantan.
Ukuran cacing betina sampai 13 mm, sedangkan yang jantan sampai
sepanjang 5mm. Di daerah anterior sekitar leher, kutikulum cacing melebar.
Pelebaran yang khas pada cacing ini disebut sayap leher (cervical alae).
Usufagus cacing ini juga khas bentuknya oleh karena mempunyai bulbus
esophagus ganda (double-bulpoesophagus). Tidak terdapat rongga mulut pada
cacing ini, akan tetapi dijumpai adanya tiga buah bibir. Ekor cacing betina
lurus dan runcing sedangkan yang jantan mempunyai ekor yang melingkar. Di
daerah ujung posterior ini dijumpai adanya spikulum adanya spikulum dan
papil-papil. Cacing jantan jarang dijumpai oleh karena sesudah mengadakan
kopulasi dengan betinanya ia segera mati. ( Soedarto. 1995 ).
2.4.3 Siklus hidup
Manusia

merupakan

satu-satunya

hospes

definitif

Enterobius

vermicularis dan tidak diperlukan hospes perantara. Cacing dewasa betina


mengandung banyak telur pada malam hari dan akan melakukan migrasi
keluar melalui anus ke daerah : perianal dan perinium. Migrasi ini disebut
Nocturnal / migration. Di daerah perinium tersebut cacing-cacing ini bertelur
dengan cara kontraksi uterus, kemudian telur melekat didaerah tersebut. Telur
dapat menjadi larva infektif pada tempat tersebut, terutama pada temperatur
optimal 23-26 C dalam waktu 6 jam (Soedarto, 1995). Waktu yang

diperlukan untuk daur hidupnya, mulai dari tertelan telur matang sampai
menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi

kedaerah perianal,

berlangsung kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan. Mungkin daurnya hanya


berlangsung kira-kira 1 bulan karena telur-telur cacing dapat ditemukan
kembali pada anus paling cepat 5 minggu sesudah pengobatan. (Srisari G,
2006).

2.1 Siklus hidup Enterobius vermicularis


Enterobiasis vermicularis dapat menyebabkan infeksi yang bersifat
kosmopolit. Manusia merupakan satu-satunya hospes definitif Enterobius
vermicularis dan tidak diperlukan hospes perantara. Cacing dewasa terutama
hidup didalam sekum dan sekitar apendiks manusia.
Cacing betina gravid ulkusnya berisi telur. Cacing tersebut turun ke
colon sampai rectum pada malam hari, kemudian cacing terbut keluar dari
anus dan meletakkan telur cacing ini cepat sekali menjadi infektif setelah 2-3
jam. ( Tomia Yamaguchi ; 1992 )
7

Bila telur infektif di telan, larva stadium pertama menetap di


duodenum. Larva rabditiform yang dikeluarkan berubah menjadi dewasa di
jejunum dan bagian atas ileum. Kopulasi terjadi disekitar sekum. Lama siklus
mulai telur tertelan sampai menjadi cacing dewasa di butuhkan waktu antara
2-4 minggu. ( Jeffry dan Leach. 1983 ).
2.5 Cara penularan
Cara penularan Enterobius vermicularis dapat melalui empat jalan, yaitu :
1) Penularan dari tangan ke mulut penderita sendiri (auto infection) atau pada
orang lain sesudah memegang benda yang tercemar telur infektif misalnya
alas tempat tidur atau pakaian dalam penderita
2) Melalui pernafasan dengan menghisap udara yang tercemar telur yang infektif.
3) Penularan secara retroinfeksi yaitu penularan yang terjadi pada penderita
sendiri, oleh karena larva yang menetas di daerah perianal mengadakan
migrasi kembali ke usus penderita dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
(Soedarto. 1995 )
4) Debu merupakan sumber infeksi karena mudah diterbangkan oleh angin
sehingga telur melalui debu dapat tertelan. (Sutanto I, Is Suhariah Ismid, Pudji
K, Sjarifuddin, Saleha S ; 2008)
2.6 Distribusi geografis
Cacing ini tersebar luas di seluruh dunia, baik didaerah tropis maupun
didaerah subtropis. Penyebaran ini lebih banyak ditemukan didaerah dengan suhu
dingin dari pada daerah dengan suhu panas. Sehingga bisa terjadi kemungkinan
daerah yang lembab lebih banyak terinfeksi enterobiasis dibanding dengan daerah
panas. Penyebaran cacing ini juga di tunjang oleh eratnya hubungan antara manusia
satu dengan lainnya. ( Onggowaluyo,JS, 2001 ).

BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan tempat penelitian :
Waktu

: Senin,9 Mei 2016

Tempat

: Laboratorium Terpadu FKM Undip

3.2 Alat dan Bahan :


a. Alat
1. Lidi
2. Rak tabung reaksi
3. Tabung reaksi
kapasitas 10 ml
4. Pipet pasteur
5. Kaca penutup
6. Kaca sediaan
7. Pinset

8. Mikroskop
b. Bahan
1. Daging sapi
2. Larutan NaCL 0.85%
3. LarutAn NaCL jenuh
(36,8 NaCL, 100 ml
Aquades)

3.3. Metode Penelitian


Metode yang kami gunakan metode kuantatif dengan melakukan
eksperimen terhadap obyek yang diteliti
3.4. Cara kerja :
1. Buatlah emulsi dari sedikit tinja dengan air garam fisiologis 1o ml, dalam
tabung reaksi.
2. Pindahkan ke tabung reaksi lain, dan tambahkan larutan garam jenuh
sampai tabung tersebut penuh pinggirnya. Telur cacing akan mengapung di
permukaan. Diamkan 30 menit.
3. Kaca penutup dipegang dengan pinset disentuhkan pada permukaan larutan
tersebut lalu ditaruh dengan sisi yang telah basah diatas sediaan.
4. Lihat dibawah mikrokop dengan pembesaran 10x atau 40x.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.I Hasil
Dari hasil penelitian dan beberapa studi yang telah dilakukan, Enterobius
vermicularis adalah cacing yang yang termasuk dalam kelompok cacing gilig
(nematoda) dan memiliki habitat hidup di dalam usus manusia.

4.1 Gambar telur cacing dari mikroskop


.4.2 Klasifikasi Enterobius vermicularis
Taksonomi Enterobius vermicularis menurut Jeffry dan Leach adalah sebagai
berikut :
Kingdom

: Metazoa

Philum

: Nemathelmintes

Kelas

: Nematoda

Sub kelas

: Plasmidia

Ordo

: Rhabditia

Famili

: Oxyuroidea

Genus

: Enterobius

Spesies

: Enterobius vermicularis ( Jeffry dan Leach. 1983 )

4.1 Tabel klasifikasi

4.2 Pembahasan
Ketepatan hasil pemeriksaan laboratorium untuk penegakan
infeksibkecacingan sangat dipengaruhi oleh ketepatan pengambilan spesimen
yangbdidasari oleh kebiasaan hidup dari jenis cacing yang akan dideteksi tersebut.
Secara umum kelompok cacing perut memiliki habitat hidup dibdalam usus dan
memiliki kebiasaan bertelur di dalam usus, sehingga telur cacing akan bercampur
dengan faeses pada saat terjadi proses pencernaan makanan. Kelompok cacing
dengan perilaku demikian sangat tepat ditegakkan diagnosis laboratoriumnya
menggunakan spesimen pemeriksaan dari faeses. Yang termasuk dalam kelompok

cacing ini adalah dari golongan cacing yang siklus hidupnya melalui tanah (soil
transmitted helminth) yang meliputi Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura,
cacing tambang dan Strongyloides stercoralis.
. Spesimen pemeriksaan enterobiasis.Spesies cacing perut yang tidak
termasuk dalam kelompok soil transmitted helminth adalah Enterobius
vermicularis. Cacing ini tidak memiliki perilaku bertelur di dalam usus, namun
pada malam hari cacing betina gravid akan berjalan menuju anus dan bertelur di
daerah perianal. Dapat dipahami bahwa telur cacing ini tidak akan bercampur
dengan faeses. Spesimen faeses untuk bahan pemeriksaan laboratorium memang
masih memberikan kemungkinan untuk ditemukan telur cacing namun
peluangnya hanya menempel di bagian luar faeces pada saat faeses keluar dari
anus dan menyentuh telur. Telur cacing Enterobius vermicularis jarang ditemukan
dalam faeses, hanya 5 % yang positif pada orang-orang yang terinfeksi penyakit
ini. ( Soejoto dan Soebari ; 1996 ) Keberadaan telur cacing pada daerah perianal
tersebut memberikan pemahaman bahwa spesimen apusan perianal akan dapat
memberikan hasil yang maksimal pada pemeriksaan laboratorium untuk
penegakan diagnosis enterobiasis. Guna menghindari hasil negatif palsu
hendaknya spesimen apusan perianal ini diambil sebelum daerah perianal terpapar
air dalam pencucian. Perilaku cebok, kencing dan mandi setelah bangun tidur pagi
hendaknya menjadi faktor yang diperhatikan dalam pengambilan spesimen apusan
perianal.

BAB V
KESIMPULAN

Telur cacing dapat diisolasi dari debu diruangan sekolah atau kafetaria
sekolah dan menjadi sumber infeksi bagi anak sekolah. Debu merupakan sumber
infeksi karena mudah diterbangkan oleh angin sehingga telur melalui debu dapat
tertelan. Penularan dari tangan ke mulut penderita sendiri (auto infection) atau
pada orang lain sesudah memegang benda yang tercemar telur infektif misalnya

alas tempat makan penderita Waktu yang diperlukan untuk daur hidupnya, mulai
dari tertelan telur matang sampai menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi
kedaerah perianal, berlangsung kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan. Mungkin
daurnya hanya berlangsung kira-kira 1 bulan karena telur-telur cacing dapat
ditemukan kembali pada anus paling cepat 5 minggu sesudah pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, S.A..Parasitologi kedokteran. Ed 2. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 1993.


Bundy, D.A dan Cooper E. Hunters tropicalmedicine and emerging infectious
disease. Ed 8, Terj. G.T. Strickland. Philadelphia: W.B. Saunders
Company. 2000.
Brown, Harold W. Dasar-Dasar Parasitologi Klinik. Jakarta:PT. Gramedia. 1983.

Entjan, Indan. mikrobiologi dan parasit untuk perawat, Bandung; Citra Aditya
Bakri. 2001.
Gandahusada. Parasitologi kedokteran. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI. 1998.
Natadisastra, Djaenudin,dr. Protozoologi Kedokteran. Bandung : Bagian
Parasitologi FKUNPAD.1997
Margono, Sri. Parasitologi Kedekteran. Jakarta: FKUI. 1998.
MD, J.M.Gibson. Mikrobiologi dan patologi modern untuk perawat. Jakarta:
EGC. 1996.
.Sandjaja. Parasitologi Kedokteran:Helmintilogi Kedokteran. Jakarta: Prestasi
Pustaka. .2007.
Sudoyo, A.W., et al,. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi IV. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

LAMPIRAN
5.1 Alat
1. Lidi

2. Mikroskop

3. Rak tabung reaksi

4. Tabung reaksi

5. Kaca penutup

6. Pinset

7. Pipet Pateur

5.2. Bahan
1. Daging sapi