Anda di halaman 1dari 9

ISSN 2805 - 2754

GAMBARAN PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN BRONKITIS PADA An. A DI RUANG


HAMKA RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH DELANGGU
Oleh:
T.Anggraeni1), SS.Heni Sunaryanti 2)
1), 2)

Dosen Akademi Keperawatan Mambaul Ulum Surakarta


INTISARI

Bronchitis adalah infeksi virus akut dengan efek maksimum pada tingkat bronkiolar;
biasanya menyerang anak 2-12 bulan jarang setelah usia 2 tahun.
Asuhan keperawatan pada An. A, 3 bulan dilakukan di ruang Hamka Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Delanggu pada tanggal 22 Nopember 2011 sampai dengan tanggal 26 Nopember
2011. Diagnosa medis bronchitis.
Masalah keperawatan yang muncul ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan
dengan meningkatnya produksi lendir/ sekret, risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan intake tidak adekuat, gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hospitalisasi.
Kesimpulan semua masalah keperawatan yang ditegakkan teratasi sebagian karena
asuhan keperawatan yang penulis lakukan sesuai dengan batas minimal waktu yang ditentukan,
tidak sampai dengan paripurna (pulang). Batas waktu minimal penulis pakai karena penulis masih
menyelesaikan beberapa target kompetensi yang lain.
Kata kunci: bronchitis, virus, anak
A. Pendahuluan
Bronchitis adalah infeksi virus akut
dengan efek maksimum pada tingkat
bronkiolar; biasanya menyerang anak 212 bulan jarang setelah usia 2 tahun.
(Wong, 2004: 460). Dari hasil penelitian
yang dilakukan oleh Galih Akbar
Pinandhito di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Jogjakarta dengan
metode penelitian: Penelitian ini
tergolong deskriptif analitik yang
dilakukan secara retrospektif. Subyek
penelitian berjumlah 56 yang terdiri dari
28 bayi prematur dan 28 bayi matur
yang terkena ISPA. Pengumpulan data
dilakukan dengan cara mengambil data
rekam medik rumah sakit tahun 2005.
Pengolahan data dengan uji Chi-Square.
Hasil dan kesimpulan kejadian ISPA
pada bayi matur yaitu rhinitis (37,2 %),
common cold (14,2 %), pneumonia (21,5
%),
bronchitis
(17,9
%),
Bronchopneumonia (14,2 %), faringitis (0
%) dan kejadian ISPA pada bayi
prematur yaitu rhinitis (21,4 %), common
22
2013:22-30

cold (14,2 %), pneumonia (28,8 %),


bronchitis (14,2 %), Bronchopneumonia
(14,2 %), faringitis (7,2 %). (Pinandhito,
2010)
Bronchitis merupakan bagian dari ISPA.
Bronchitis akut yang tidak diobati secara
benar cenderung menjadi bronchitis
kronik, sedangkan bronchitis kronik
memungkinkan anak mudah mendapat
infeksi. Gangguan pernapasan secara
langsung sebagai akibat bronchitis
kronik ialah bila lendir tetap tinggal
didalam paru akan menyebabkan
terjadinya ateletaksis atau bronkiektasis;
kelainan ini menambah penderitaan
pasien lebih lama. (Ngastiyah, 2005: 56).
Dari data diatas bronchitis merupakan
masalah yang masih sering dijumpai
pada anak-anak di Indonesia, dan
apabila tidak ditangani secara serius
akan mengakibatkan ateletaksis
B. Penyebab
Bronkitis
disebabkan

akut biasanya sering


oleh
virus
seperti

JKm-U, Vol. V, No. 15,

Rhinovirus, Respiratory Syncitial virus


(RSV), virus influenza, virus para
influenza, dan coxsackie virus. Bronkitis
akut juga dapat dijumpai pada anak
yang sedang menderita morbilli, pertusis
dan infeksi mycoplasma pneumoniae
Penyebab lain dari bronkitis akut
dapat juga oleh bakteri (staphylokokus,
streptokokus,
pneumokokus,
hemophylus influenzae). Bronkitis dapat
juga disebabkan oleh parasit seperti
askariasis dan jamur.
Penyebab non infeksi adalah akibat
aspirassi terhadap bahan fisik atau
kimia. Faktor predisposisi terjadinya
bronkitis akut adalah perubahan cuaca,
alergi, polusi udara dan infeksi saluran
nafas atas kronik memudahkan
terjadinya bronchitis.
C. Metoda Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama tiga hari,
mulai tanggal 22 Nopember 2011
sampai dengan tanggal 26 Nopember
2011 di ruang Hamka Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Delanggu. Penelitian
dilakukan dengan observasi secara
mendalam (in depth observation) pada
An. A, umur 3 bulan, dirawat dengan
diagnosa medis bronkhitis.
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Penelitian
Pengkajian dilakukan pada hari
Selasa tanggal 22 Nopember 2011 jam
09.00 WIB. Data didapatkan melalui
wawancara dengan keluarga pasien dan
didapatkan dari rekam medik. Identitas
pasien nama pasien An. A, umur pasien
3 bulan, tanggal masuk 19 Nopember
2011, diagnosa masuk bronkitis. Riwayat
kesehatan keluhan utama ibu pasien
mengatakan batuk kekel disertai dahak.
Riwayat penyakit sekarang ibu pasien
mengatakan anaknya batuk kekel sejak
3 hari yang lalu (16 Nopember 2011),
napasnya cepat dan dangkal, badannya
panas. Kemudian oleh ibu dibawa ke
RSU PKU Delanggu. Di IGD mendapat

23
2013:22-30

infuse RL 16 tpm. Kemudian dipindah ke


ruang Hamka.
Hasil pemeriksaan laboratorium
tanggal 20 Nopember 2011 WBC 37.5
k/uL, Lym 17.7 K/uL, Mid 2.7 K/uL, Gra
17.1 K/uL RLT 747 K/uL, MPV 6.2 fL.
Hasil rongen tanggal 20 November 2011
infieltrat di pulmo dan peribronchial
dextra, besar pulmo dalam batas normal.
Pola fungsi nutrisi ibu pasien
mengatakan sebelum sakit anaknya
minum Air Susu Ibu (ASI) kuat, belum
makan makanan tambahan, kadang
disilingi susu formula, anak biasa minum
sambil duduk. Setelah sakit ibu pasien
mengatakan kalau anaknya minum ASI
sedikit. Pola istirahat dan tidur ibu pasien
mengatakan sebelum sakit pasien
istirahat kurang lebih 9 jam pada malam
hari, 2 jam siang hari, posisi tidur
tengkurap, miring kanan, miring kiri,
telentang, tenang dan tidak banyak
gerak. Selama sakit ibu pasien
mengatakan pasien istirahat 7 jam
pada malam hari, 1 jam siang hari,
posisi tidur tengkurap, miring kanan,
miring kiri, telentang, tidurnya gelisah,
sedikit-sedikit bangun dan rewel.
Hasil pemeriksaan fisik berat badan
5,6 kg, tinggi badan 55 cm, suhu 36,6
0
C, respiratory rate 48 x/menit, nadi 100
x/menit. Hidung terpasang canul oksigen
1 liter per menit. Pemeriksaan paru
inspeksi dada simetris kanan dan kiri,
tampak retraksi dada; palpasi taktil
fremitus teraba; perkusi dulness;
auskultasi terdapat bunyi tambahan
ronchi. Program terapi Infus RL +
Aminopilin 3cc 16 tpm mikro, injeksi
indexon 3x 250mg, injeksi picin
3x100mg, peroral 3x sendok makan
(7,5mg), puyer batuk 3x1, nebulizer
(ventolin 2,5mg: pulmicort 0.5mg:
bisolvon 4 tetes: NaCl 1cc) 3x1.
Masalah keperawatan yang muncul
adalah ketidakefetifan bersihan jalan
napas
berhubungan
dengan
meningkatnya produksi lender/ sekret,
risiko nutrisi kurang dari kebutuhan

JKm-U, Vol. V, No. 15,

berhubungan dengan intake tidak


adekuat,
Rencana tindakan, implementasi dan
evaluasi yang penulis susun sesuai
dengan masalah tersebut diatas adalah :
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan meningkatnya
produksi lendir/ sekret
Tujuan
setelah
dilakukan
tindakan keperawatan 3x24 jam
bersihan jalan napas efektif. Dengan
kriteria hasil tidak ada retraksi dada,
sekret
mampu
dikeluarkan,
auskultasi paru-paru tidak ada bunyi
tambahan.
Rencana tindakan disusun pada
tanggal 22 Nopember 2011. Untuk
mengatasi ketidakefektifan jalan
nafas
berhubungan
dengan
meningkatnya produksi lendir/ secret,
auskultasi bunyi paru, kaji/ pantau
frekuensi pernapasan, kaji pasien
untuk posisi yang nyaman misalnya
peninggian kepala tempat tidur,
observasi
karakteristik
batuk,
kolaborasi pemberian humidifikasi
tambahan misalnya nebulizer.
Tindakan keperawatan yang
penulis lakukan untuk mengatasi
masalah tersebut antara lain:
Menanyakan
keadaan
umum,
mengauskultasi bunyi paru, mengkaji
frekuensi napas, mengobservasi
karakteristik batuk, memberikan
posisi nyaman, dan memberikan
nebulasi
Evaluasi untuk masalah pertama
evaluasi dilaksanakan tanggal 26
Nopember 2011, Subjektif (S): ibu
pasien mengatakan pasien masih
batuk, Objektif (O): ronchi masih
terdengar, batuk masih, oksigen
kanul sudah dilepas, Assasment (A):
masalah teratasi sebagian, Planning
(P): intervensi dilanjutkan.
2. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan intake tidak
adekuat.

Tujuan
setelah
dilakukan
tindakan keperawatan 3x24 jam
risiko kurang dari kebutuhan tidak
terjadi. Dengan kriteria hasil pasien
mampu menetek kuat.
Rencana tindakan yang penulis
susun untuk mengatasi masalah
risiko nutrisi kurang dari kebutuhan
adalah jelaskan pada orang tua
pentingnya nutrisi yang adekuat,
berikan suasana makan yang relaks,
pertahankan kebersihan mulut yang
baik, timbang berat badan setiap
hari, dan berikan makanan (ASI)
sedikit dan sering.
Tindakan yang penulis lakukan
untuk mengatasi masalah tersebut
adalah menjelaskan pentingnya
nutrisi, memotivasi ibu untuk
memberikan ASI sesering mungkin,
memberikan suasana yang nyaman
saat
pasien
menetek,
dan
membersihkan mulut pasien dengan
kassa.
Evaluasi
untuk
masalah
keperawatan kedua dilakukan pada
tanggal 24 Nopember 2011 S: ibu
pasien mengatakan anak sudah kuat
minum ASI, O: pasien tampak kuat
menetek, A: masalah teratasi
sebagian, P: intervensi dilanjutkan.
3. Gangguan
istirahat
tidur
berhubungan dengan hospitalisasi.
Tujuan
setelah
dilakukan
tindakan keperawatan 3x24 jam
kebutuhan istirahat tidur pasien
normal dengan kriteria hasil anak
tidur nyenyak, lama tidur pada
malam hari 10 jam dan 5 jam pada
siang hari.
Rencana tindakan yang penulis
susun dalam mengatasi masalah
tersebut adalah kaji waktu tidur rutin
pasien bersama keluarga, jelaskan
pada keluarga penyebab gangguan
tidur, dan ciptakan lingkungan yang
nyaman/ batasi pengunjung.
Tindakan yang penulis lakukan
untuk mengatasi masalah gangguan

Gambaran Pelaksanaan ..................................................... 24

istirahat tidur adalah mengkaji waktu


tidur pasien, menjelaskan penyebab
gangguan
tidur,
menciptakan
lingkungan yang nyaman, dan
membatasi pengunjung.
Evaluasi untuk masalah ketiga
dilakukan
pada
tanggal
25
Nopember 2011, S: ibu pasien
mengatakan dapat tidur nyenyak dan
tidak rewel, O: pasien tampak tidur
nyenyak, A: masalah teratasi
sebagian, P: intervensi dilanjutkan.
Untuk terapi disesuaikan dengan
penyebab, karena bronkitis biasanya
disebabkan oleh virus maka belum
ada obat kausal. Obat yang diberikan
biasanya untuk mengatasi gejala
simptomatis
(antipiretika,
ekspektoran, antitusif, roburantia).
Bila ada unsur alergi maka bisa
diberikan antihistamin. Bila terdapat
bronkospasme berikan bronkodilator.
Penatalaksanaannya
adalah
istirahat yang cukup, kurangi rokok
(bila merokok), minum lebih banyak
daripada biasanya, dan tingkatkan
intake nutrisi yang adekuat.
Bila
pengobatan
sudah
dilakukan selama 2 minggu tetapi
tidak ada perbaikan maka perlu
dicurigai adanya infeksi bakteri
sekunder dan antibiotik boleh
diberikan. Pemberian antibiotik
adalah 7-10 hari, jika tidak ada
perbaikan maka perlu dilakukan
thorak foto untuk menyingkirkan
kemungkinan kolaps paru segmental
dan lobaris, benda asing dalam
saluran pernafasan dan tuberkulosis.
2. Pembahasan
Pengkajian keperawatan merupakan
salah satu dari komponen dari proses
keperawatan yaitu suatu usaha yang
dilakukan oleh perawat dalam menggali
permasalahan dari klien meliputi usaha
pengumpulan data tentang status
kesehatan seorang klien secara
sistematis, menyeluruh, akurat, singkat,
dan berkesinambungan. (Muttaqin,
2010:2). Pengumpulan data pada tahap
25
2013:22-30

pengkajian dapat dilakukan dengan


menggunakan tiga metode, yaitu
komunikasi, observasi, pemeriksaan
fisik.(Nursalam, 2008: 34-41)
Pengkajian dilakukan penulis
pada tanggal 22 Nopember 2011 jam
09.00. Sumber data didapat melalui
keluarga pasien dan status pasien.
Dalam pendokumentasian pengkajian
asuhan keperawatan pada An. A penulis
menyadari terdapat data yang belum
terdokumentasi yaitu pengkajian status
nutrisi ABCD. Selain itu penulis juga
menemukan data laboratorium WBC
37.5 K/uL (4.00-12.00 K/uL) karena
penulis kurang teliti sehingga penulis
tidak menegakkan masalah risiko infeksi.
Penulis menyadari kekeliruan tersebut.
Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan
Evaluasi Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas
berhubungan
dengan
meningkatnya produksi lendir/
sekret.
Ketidakefektifan
bersihan
jalan nafas adalah suatu keadaan
dimana seorang individu mengalami
suatu ancaman yang nyata atau
potensial pada status pernapasan
sehubungan
dengan
ketidakmampuan
untuk
batuk
secara efektif. (Carpenito, 2007:
381)
Ketidakefektifan
bersihan
saluran napas adalah kegagalan
dalam membersihkan cairan sekret
dan sumbatan dari saluran napas
untuk menjaga kebersihan jalan
napas. (Smith, 2010:20)
Batasan karakteristik batuk
tak efektif atau tidak ada batuk,
ketidakmampuan
untuk
mengeluarkan sekresi jalan napas,
bunyi napas abnormal, frekuensi,
irama, kedalaman pernapasan
abnormal. (Carpenito, 2007:381)
Diagnosa ini penulis tetapkan
sebagai prioritas pertama untuk
diselesaikan karena menurut teori
hierarki kebutuhan manusia yang
JKm-U, Vol. V, No. 15,

dikemukakan Abraham Maslow.


Hierarki kebutuhan dasar manusia
termasuk lima tingkat prioritas.
Dasar paling bawah atau tingkat
pertama, termasuk kebutuhan
fisiologis, seperti udara, air, dan
makanan. (Potter, 2009:80)
Data yang ditemukan pada
An. A adalah pasien batuk hal ini
terjadi karena akibat adanya
peradangan
pada
bronkiolus,
auskultasi paru ronchi hal ini terjadi
karena penyempitan saluran nafas
akibat adanya sekret.
Tujuan yang penulis tetapkan
untuk mengatasi masalah tersebut
supaya jalan napas efektif dengan
kriteria tidak ada retraksi dada,
sekret
mampu
dikeluarkan,
auskultasi paru-paru tidak ada bunyi
tambahan karena hal tersebut
meSmithkan bersihan jalan napas
efektif dan kami tetapkan dalam
waktu 3 x 24 jam. Rencana tindakan
yang kami susun adalah:
a. Auskultasi
bunyi
napas,
rasionalnya beberapa derajat
spasme bronkus terjadi dengan
obstruksi jalan napas dan dapat
atau tak dimanifestasikan
adanya
bunyi
napas
adventisius.
b. Kaji/
pantau
frekuensi
pernapasan
rasionalnya
pernapasan dapat melambat
dan
frekuensi
ekspirasi
memanjang dibanding inspirasi.
c. Kaji pasien untuk posisi yang
nyaman misalnya peninggian
kepala tempat tidur rasionalnya
peninggian kepala tempat tidur
mempermudah
fungsi
pernapasan.
d. Observasi karakteristik batuk
rasionalnya
batuk
dapat
menetap tetapi tidak efektif.
Pastikan masukan cairan yang
adekuat untuk mengencerkan
sekresi.

e. Kolaborasi
pemberian
humidifikasi tambahan misalnya
nebulizer
rasionalnya
kelembaban
menurunkan
kekentalan
sekret
mempermudah
pengeluaran
dan
dapat
membantu
menurunkan atau mencegah
pembentukan mukosa tebal
pada bronkus. (Doenges, 2008:
49-54)
Tindakan keperawatan yang
dilakukan sesuai dengan rencana
antara lain mengauskultasi bunyi
paru, mengkaji frekuensi napas,
mengobservasi karakteristik batuk,
memberikan
posisi
nyaman,
memberikan nebulasi. Tindakan
yang dilakukan tapi tidak terdapat
pada
perencanaan
yaitu
menanyakan
keadaan
umum
pasien.
Evaluasi dilaksanakan tanggal
26 Nopember 2011, S: ibu pasien
mengatakan pasien masih batuk, O:
ronchi masih terdengar, batuk
masih, oksigen kanul sudah dilepas,
A: masalah teratasi sebagian, P:
intervensi dilanjutkan.
2. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan intake tidak
adekuat.
Ketidakseimbangan
nutrisi
kurang dari kebutuhan adalah
asupan nutrisi tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan metabolik.
(Smith, 2011:86)
Ketidakseimbangan
nutrisi
kurang dari kebutuhan dari tubuh
adalah suatu keadaan ketika
individu
yang
tidak
puasa
mengalami atau berisiko mengalami
penurunan berat badan yang
berhubungan dengan asupan yang
tidak adekuat atau metabolisme
nutrien yang tidak adekuat untuk
kebutuhan metabolik. (Carpenito,
2007: 299)
Batasan karakteristik asupan
makanan tidak adekuat kurang dari

Gambaran Pelaksanaan ..................................................... 26

yang dianjurkan dengan atau tanpa


penurunan berat badan, berat
badan 10% sampai 20% atau lebih
dibawah berat badan ideal,
penurunan
albumin
serum.
(Carpenito, 2007: 300)
Diagnosa ini penulis tetapkan
sebagai prioritas kedua untuk
diselesaikan karena menurut teori
hierarki kebutuhan manusia yang
dikemukakan Abraham Maslow.
Hierarki kebutuhan dasar manusia
termasuk lima tingkat prioritas.
Dasar paling bawah atau tingkat
pertama, termasuk kebutuhan
fisiologis, seperti udara, air, dan
makanan. (Potter, 2009:80) setelah
masalah
oksigenasi
masalah
selanjutnya diatasi adalah masalah
nutrisi.
Data yang ditemukan pada
An. A adalah pasien minum ASI
tidak kuat (sedikit) karena keletihan.
Tujuan yang penulis tetapkan untuk
mengatasi masalah tersebut supaya
risiko nutrisi kurang dari kebutuhan
tidak terjadi dengan kriteria pasien
mampu menetek kuat hal tersebut
meSmithkan intake pasien terpenuhi
dan kami tetapkan dalam waktu 3 x
24 jam. Rencana tindakan yang
kami susun adalah:
a. Jelaskan pada orang tua
pentingnya
nutrisi
yang
adekuat untuk mengetahui
asupan setiap kali makan
(minum ASI)
b. Berikan suasana makan yang
relaks
bertujuan
untuk
meningkatkan nafsu makan
pasien.
c. Pertahankan
kebersihan
mulut yang baik untuk
mengurangi
bau
atau
menghilangkan bau yang
menyebabkan ingin muntah.
d. Timbang berat badan setiap
hari
untuk
mengetahui
perkembangan berat badan.
(Carpenito, 2007: 303)
27
2013:22-30

e.

Berikan makanan (ASI) sedikit


dan sering untuk mencegah
kelelahan
dan
muntah.
(Suriadi, 2006: 39)
Tindakan keperawatan yang
dilakukan sesuai dengan rencana
antara lain menjelaskan pentingnya
nutrisi, memotivasi ibu untuk
memberikan ASI sesering mungkin,
memberikan suasana yang nyaman
saat
pasien
menetek,
membersihkan
mulut
pasien
dengan kassa. Tindakan yang ada
dalam
rencana
keperawatan
namun tidak dilaksanakan adalah
menimbang berat badan setiap hari
karena keterbatasan waktu shift.
Evaluasi dilakukan pada 24
Nopember 2011 S: ibu pasien
mengatakan anak sudah kuat
minum ASI, O: pasien tampak kuat
menetek, A: masalah teratasi
sebagian, P: intervensi dilanjutkan.
3. Gangguan
istirahat
tidur
berhubungan dengan hospitalisasi.
Gangguan pola tidur adalah
keadaan ketika individu mengalami
atau berisiko mengalami suatu
perubahan dalam kuantitas atau
kualitas pola istirahatnya yang
menyebabkan rasa tidak nyaman
atau mengganggu gaya hidup yang
diingininya. (Carpenito, 2007: 456).
Gangguan pola tidur adalah
gangguan kualitas dan kuantitas
waktu tidur akibat faktor eksternal.
Batasan karakteristik perubahan
pola tidur normal, kurang puas tidur,
sering terjaga. (Smith, 2011: 134)
Masalah
ini
ditegakkan
sebagai masalah ketiga karena
dalah hierarki Maslow tingkatan
dasar adalah kebutuhan fisiologi
yang mencakup oksigenasi, cairan,
nutrisi dan kebutuhan tidur.
Data yang ditemukan pada
An. A adalah ibu pasien
mengatakan selama sakit anak tidur
7jam pada malam hari, 1jam
siang hari, sedikit-sedikit bangun,
JKm-U, Vol. V, No. 15,

anak tampak rewel, gelisah karena


batuk dan lingkungan baru.
Tujuan yang penulis tetapkan
untuk mengatasi masalah tersebut
supaya kebutuhan istirahat tidur
pasien normal dengan kriteria anak
tidur nyenyak, lama tidur pada
malam hari 10 jam dan 5 jam pada
siang hari dan kami tetapkan dalam
waktu 3x24 jam. Rencana tindakan
yang kami susun yaitu:
a.
Kaji waktu tidur rutin pasien
bersama keluarga untuk
mengetahui kebiasaan tidur
pasien
b.
Jelaskan pada keluarga
penyebab gangguan tidur
untuk
menghindari
penyebabnya.
c.
Ciptakan lingkungan yang
nyaman/ kurangi kebisingan
untuk menciptakan suasana
rileks.(Carpenito, 2007: 459)
d.
Berikan lampu malam untuk
digunakan agar mampu
mengontrol kegelapan.
Tindakan keperawatan yang
dilakukan
sesuai
dengan
perencanaan adalah mengkaji
waktu tidur pasien, menjelaskan
penyebab
gangguan
tidur,
menciptakan lingkungan yang
nyaman. Rencana tindakan yang
tidak dilakukan adalah memberikan
lampu malam. Tindakan yang
dilakukan tapi tidak ada dalam
perencanaan adalah membatasi
pengunjung
karena
dapat
mengurangi kebisingan.
Evaluasi dilakukan tanggal 25
Nopember 2011, S: ibu pasien
mengatakan dapat tidur nyenyak
dan tidak rewel, O: pasien tampak
tidur nyenyak, A: masalah teratasi
sebagian, P: intervensi dilanjutkan.
Dalam penyusunan asuhan
keperawatan penulis mengakui
adanya diagnosa yang tidak
penulis tegakkan karena kelalaian
penulis yaitu risiko infeksi

berhubungan
dengan
tidak
adekuatnya pertahanan utama
yang ditandai dengan WBC 37.5
K/uL. Untuk mengatasi masalah
tersebut penulis melakukan injeksi
picin 100mg dan indexon 250mg.
Inilah asuhan keperawatan
yang penulis lakukan pada An. A
dengan bronchitis. Adapun dalam
penulisan asuhan keperawatan
penulis mempunyai kelemahan dan
kekuatan. Kekuatannya adalah
keluarga pasien kooperatif dan
menataati himbauan perawat.
Adapun kelemahannya adalah
penulis tidak dapat memantau
keadaan pasien selama 24 jam,
pasien tidak dapat melakukan
batuk efektif, pasien rewel.
Kelemahan tersebut dapat teratasi
dengan melibatkan orangtua.
E. Simpulan dan Saran
1. Simpulan
Setelah
penulis
menjabarkan
berbagai hal yang berhubungan
dengan asuhan keperawatan pada
An. A dengan bronchitis mulai
tanggal 22 Nopember 2011 sampai
dengan tanggal 26 Nopember 2011
di bangsal Hamka Rumah Sakit
PKU Muhammadiyah Delanggu
maka penulis menyimpulkan:
a. Pengkajian dilaksanakan pada
tanggal 22 Nopember 2011 dari
pengkajian tersebut didapatkan
data subjektif
ibu pasien
mengatakan anak batuk kekel
disertai dahak, anak minum ASI
tidak kuat (sedikit), anak tidur
7jam pada malam hari, 1 jam
disiang hari, posisi tidur
tengkurap, miring kanan, miring
kiri, telentang, tidurnya gelisah,
sedikit-sedikit bangun dan
rewel; data objektif pasien
tampak batuk, terdengar ronchi
pada auskultasi paru, terdapat
retraksi dada, pemeriksaan
rongen terdapat infieltrat di

Gambaran Pelaksanaan ..................................................... 28

b.

c.

d.

e.

pulmo dan peribronchial dextra,


anak tampak menetek lemah,
anak tampak rewel, respiratory
rate 48x/menit, terpasang
oksigen 1 liter nasal canul.
Diagnosa
yang
penulis
tegakkan
adalah
ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berhubungan dengan
meningkatnya produksi lendir/
sekret, risiko nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan intake tidak adekuat,
gangguan
istirahat
tidur
berhubungan
dengan
hospitalisasi.
Rencana tindakan penulis
susun sesuai dengan masalah
yang
muncul.
Tindakan
keperawatan penulis lakukan
sesuai dengan tindakan yang
telah disusun. Pelaksanaan
tindakan dilakukan secara
komprehensif, bersama dengan
perawat jaga di ruang Hamka
RSU PKU Delanggu.
Evaluasi dilakukan sesuai
dengan batas waktu yang telah
ditentukan
dalam
tujuan
keperawatan dari masingmasing
diagnose
yang
ditentukan.
Dalam pendokumentasian ada
beberapa
yang
tidak
terdokumentasi
yakni
pengkajian ABCD pada status
nutrisi pasien.

2. Saran
a. Bagi pasien dan keluarga
Keluarga diharapkan segera
membawa pasien ke pelayanan
kesehatan jika tanda dan gejala
bronchitis terdapat pada anak.
b. Bagi instansi rumah sakit
Agar dapat digunakan sebagai
masukan dalam melaksanakan
asuhan keperawatan pada anak
dengan Bronkitis, serta dapat
meningkatkan mutu atau kualitas
29
2013:22-30

pelayanan kesehatan pada


pasien.
c. Bagi instansi pendidikan
Sebagai pengembangan ilmu
keperawatan terutama kajian
pada anak dengan bronchitis
dengan mengabungkan antara
praktik klinik dengan teori.
d. Bagi penulis
Sebagai studi dokumentasi
asuhan keperawatan serta latihan
untuk menulis karya ilmiah.
e. Bagi pembaca
Sebagai bahan pembelajaran
bagi pembaca tentang bronchitis.
Daftar Pustaka
Carpenito, L. J. 2007. Buku Saku Diagnosa
Keperawatan Edisi 8. EGC: Jakarta
Craft-Rosernberg, martha & Kelly Smith.
2011.
Nanda
Diagnosa
Keperawatan:
Definisi
dan
Klasifikasi 2009-2011. Edisi ke-1.
EGC: Jakarta
Doenges, Moorhouse, Mur. 2008. Nursing
Diagnosis
Manual
Planning
Individualizing and Documenting
Client
Care.
Edisi
ke-3.
Philadelphia, Davis Company.
L. Betz, Cecily & Linda A. Sowden. 2002.
Buku Saku Keperawatan Pediatri
(terjemahan). Edisi ke-3. EGC,
Jakarta.
Mansjoer, Arif. 2009. Kapita Selekta
Kedokteran. Media Aesculapius:
Jakarta
Muttaqin,
Arif.
2010.
Pengkajian
Keperawatan Aplikasi pada Praktik
Klinik. Salemba Medika: Jakarta
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit.
Edisi 2. EGC: Jakarta
Nursalam. 2008. Proses Dokumentasi
Keperawatan: Konsep dan Praktik.
Salemba Medika: Jakarta
JKm-U, Vol. V, No. 15,

Potter & Potter. 2009. Fundamental


Keperawatan. Salemba Medika:
Jakarta
Suriadi & Rita Yuliani. 2006. Asuhan
Keperawatan Pada Anak. Edisi ke3. CV.Sagung Seto, Jakarta.

Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinik


Keperawatan Pediatrik. Edisi 4.
EGC: Jakarta
http://digilib.fk.umy.ac.id/ddl.php?
mod=browse&op=read&id=yopumy
fkpp-gdl-galihakbar-194 Diunduh
tanggal 1 Mei 2012 Jam 12.40 WIB

Gambaran Pelaksanaan ..................................................... 30