Anda di halaman 1dari 77

II.

Teori Dasar
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan
melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak, atau melarut dalam suhu tubuh.
Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat atau sebagai pembawa zat
terapeutik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar suppositoria yang umum digunakan
adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen
glikol, dan esterasam lemak polietilen glikol. (Depkes RI, 1995)
Bahan dasar suppositoria mempengaruhi pada pelepasan zat terapeutiknya. Lemak coklat
capat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, sehingga
menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati. Polietilen glikol
adalah bahan dasar yang sesuai dengan beberapa antiseptik, namun bahan dasar ini sangat lambat
larut sehingga menghambat pelepasan zat yang dikandungnya. Bahan pembawa berminyak,
seperti lemak coklat, jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk residu yang
tidak dapat diserap. Sedangkan gelatin jarang digunakan dalam penggunaan melalui rektal
karena disolusinya lambat. (Depkes RI, 1995).
Bobot suppositoria bila tidak dinyatakan lain adalah 3 gr untuk dewasa dan 2 gr untuk
anak. Penyimpanan suppositoria sebaiknya di tempat yang sejuk dalam wadah tertutup rapat.
Bentuknya yang seperti torpedo memberikan keuntungan untuk memudahkan proses masuknya
obat dalam anus. Bila bagian yang besar telah masuk dalam anus, maka suppositoria akan
tertarik masuk dengan sendirinya. (Moh. Anief, 2007)
A. Macam-macam Suppositoria
1. Suppositoria untuk rectum (rectal)
Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Biasanya
suppositoria rektum panjangnya 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya
tajam. Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil,
tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP
sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao (Ansel, 2005).
2. Suppositoria untuk vagina (vaginal)

Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya berbentuk bola lonjong atau
seperti kerucut, sesuai kompendik resmi beratnya 5 g apabila basisnya oleum cacao.
3. Suppositoria untuk saluran urin (uretra)
Suppositoria untuk untuk saluran urin juuga disebut bougie, bentuknya rampiung seperti
pensil, gunanya untuk dimasukkan kesaluran urin pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria
bergaris tengah 3-6 mm dengan panjang 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu
dengan yang lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao beratnya 4 g. Suppositoria untuk
saluran urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria, panjang 70 mm dan
beratnya 2 g, inipun bila oleum cacao sebagai basisnya.
4. Suppositoria untuk hidung dan telinga
Suppositoia untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut telinga, keduanya
berbentuk sama dengan suppositoria saluran urin hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya
32 mm. Suppositoria telinga umumnya diolah dengan suatu basis gelatin yang mengandung
gliserin. Seperti dinyatakan sebelumnya, suppositoria untuk obat hidung dan telinga sekarang
jarang digunakan.
B. Tujuan Penggunaan Suppositoria
1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya.
Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membrane
mukosa dalam rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat per oral tidak
memungkinkan seperti pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena obat diserap
oleh mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi pembuluh darah.
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan
obat secara biokimia di dalam hati (Syamsuni, 2005)
C. Keuntungan dan Kerugian Suppositoria
1. Keuntungan Supositoria:
a) Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.
b) Dapat menghindari keruskan obat oleh enzim pencernaan dan asam lambung.

c) Obat dapat masuk langsung kedalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat
daripada penggunaan obat peroral.
d) Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar.
2. Kerugian Supositoria:
a) Pemakaiannya tidak menyenangkan.
b) Tidak dapat disimpan pada suhu ruang.
3. Persyaratan Suppositoria
Sediaan supositoria memiliki persyaratan sebagai berikut:
a) Suppositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau melarut (persyaratan
kerja obat).
b) Pembebasan dan responsi obat yang baik.
c) Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan, pewarnaan, penegerasan,
kemantapan bentuk, daya patah yang baik, dan stabilitas yang memadai dari bahan obat).
d) Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil.

D. Basis Suppositoria
Sediaan supositoria ketika dimasukkan dalam lubang tubuh akan melebur, melarut dan
terdispersi. Dalam hal ini, basis supositoria memainkan peranan penting. Maka dari itu basis
supositoria harus memenuhi syarat utama, yaitu basis harus selalu padat dalam suhu ruangan dan
akan melebur maupun melunak dengan mudah pada suhu tubuh sehingga zat aktif atau obat yang
dikandungnya dapat melarut dan didispersikan merata kemudian menghasilkan efek terapi lokal
maupun sistemik. Basis supositoria yang ideal juga harus mempunyai beberapa sifat seperti
berikut:
1. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
2. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
3. Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna dan bau serta pemisahan obat.
4. Kadar air mencukupi.

5. Untuk basis lemak, maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus
diketahui jelas.
a) Persayaratan Basis Suppositoria
1) Secara fisiologi netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus, hal ini dapat disebabkan oleh
massa yang tidak fisiologis ataupun tengik, terlalu keras, juga oleh kasarnya bahan obat yang
diracik).
2) Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat).
3) Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil).
4) Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (pembekuan dapat berlangsung cepat dalam
cetakan, kontraksibilitas baik, mencegah pendinginan mendaak dalam cetakan).
5) Interval yang rendah antara titik lebur mengalir denagn titik lebur jernih (ini dikarenakan untuk
kemantapan bentuk dan daya penyimpanan, khususnya pada suhu tinggi sehingga tetap stabil).
b) Macam-macam Basis Suppositoria
1) Basis berlemak.
Contohnya, oleum cacao.
2) Basis pembentuk emulsi dalam minyak.
Contohnya, campuran tween dengan gliserin laurat)
3) Basis yang bercampur atau larut dalam air.
Contohnya, gliserin-gelatin, PEG (polietien glikol).
E. Metode Pembuatan Suppositoria
Metode pembuatan supositoria dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Dengan tangan
Dilakukan dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan
mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian
diaduk dengan bahan-bahan aktif dengan menggunakan mortir dan stamper, sampai diperoleh
massa akhir yang homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu
batang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat
mencegah pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu ujungnya
diruncingkan.
2. Dengan mencetak kompresi

Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin menjadi suatu bentuk yang
dikehendaki. Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada massa suppositoria yang
diisikan dalam silinder, sehingga massa terdorong kedalam cetakan.
3. Dengan mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau penangas uap
untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, kemudian bahan-bahan aktif
diemulsikan atau disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam
yang telah didinginkan, yang umumnya dilapisi krom atau nikel.
F. Evaluasi Sediaan
1. Uji Homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat tercampur rata
dengan bahan dasar suppo atau tidak, jika tidak dapat tercampur maka akan mempengaruhi
proses absorbsi dalam tubuh. Obat yang terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Cara
menguji homogenitas yaitu dengan cara mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah atau
kanan-tengah-kiri) masing-masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah
mikroskop, cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan dengan cara titrasi.
2. Bentuk
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya tidak seperti
sediaan suppositoria pada umunya, maka seseorang yang tidak tahu akan mengira bahwa sediaan
tersebut bukanlah obat. Untuk itu, bentuk juga sangat mendukung karena akan memberikan
keyakinan pada pasien bahwa sediaa tersebut adalah suppositoria. Selain itu, suppositoria
merupakan sediaan padat yang mempunyai bentuk torpedo.
3. Uji Waktu Hancur
Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan tersebut dapat
hancur dalam tubuh. Cara uji waktu hancur dengan dimasukkan dalam air yang di set sama
dengan suhu tubuh manusia, kemudian pada sediaan yang berbahan dasar PEG 1000 waktu
hancurnya 15 menit, sedangkan untuk oleum cacao dingin 3 menit. Jika melebihi syarat diatas
maka sediaan tersebut belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh. Menggunakan
media air dikarenakan sebagian besar tubuh manusia mengandung cairan.
4. Keseragaman Bobot

Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan sudah sama
atau belum, jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman bobot akan mempengaruhi terhadap
kemurnian suatu sediaan karena dikhawatirkan zat lain yang ikut tercampur. Caranya dengan
ditimbang saksama 10 suppositoria, satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Dari hasil
penetapan kadar, yang diperoleh dalam masing-masing monografi, hitung jumlah zat aktif dari
masing-masing 10 suppositoria dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Jika terdapat
sediaan yang beratnya melebihi rata-rata maka suppositoria tersebut tidak memenuhi syarat
dalam keseragaman bobot. Karena keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui kandungan
yang terdapat dalam masing-masing suppositoria tersebut sama dan dapat memberikan efek
terapi yang sama pula.
5. Uji titik lebur
Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sediaan
supositoria yang dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan dengan cara menyiapkan air dengan
suhu 37C. Kemudian dimasukkan supositoria ke dalam air dan diamati waktu leburnya. Untuk
basis oleum cacao dingin persyaratan leburnya adalah 3 menit, sedangkan untuk PEG 1000
adalah 15 menit.
6. Kerapuhan
Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang menjadikannya
sukar meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastisitas. Supositoria dipotong
horizontal. Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian yang melebar, dengan
jarak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar, kemudian diberi beban seberat 20N
(lebih kurang 2kg) dengan cara menggerakkan jari atau batang yang dimasukkan ke dalam
tabung.
G. Monografi Bahan
1. Paracetamol
Rumus molekul : C8H9NO2
Berat molekul : 151,16
Pemerian : Serbuk halus, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam Natrium Hidroksida 1 N, mudah larut dalam
etanol.

Jarak lebur : Antara 168 dan 172


Khasiat : Analgetik dan Antipiretik
2. Oleum Cacao (FI-III hal 453)
Lemak coklat adalah coklat padat yang diperoleh dengan pemerasan panas biji Theo Broma
Cacao L. yang telah dikupas/ dipanggang.
Pemerian : lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatic, rasa khas

lemak agak

rapuh.

Kelarutan : sukar larut dalam etanol (95 %)P, mudah larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam eter
minyak tanah P.
Suhu lebur : 3100C 3400 C.
Khasiat : zat tambahan.
3. Vaselin albi (Vaselin album) (FI edisi III, hal :633)
Nama latin : VASELIN ALBUM
Sinonim : Vaselin putih
Pemerian : Massa lunak, lengket, bening,putih. Sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan
dibiaarkan hingga dingin tanpa diaduk.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)p. Larutan kadang-kadang
beroplasensi lemah.
Khasiat : Zat tambahan (pengikat)
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
4. Cetyl Alkohol
Rumus kimia : CH3(CH2)15OH
Warna : Putih
Rasa : Lemah
Bau : Khas
Pemerian : Granul
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol (95%)p dan eter larut dengan adanya peningkatan
temperature, praktis tidak larut dalam air
Titik lebur : 45,520 C
Bobot jenis : 42,44 (untuk material asli)

Stabilitas : Stabil dengan adanya asam, alkali , cahaya dan air


Inkompatibilitas : Ketidakcampuran dengan bahan pengoksidasi yang kuat
Fungsi : Zat pengikat
(FI IV hal:72 & Handbook of Pharmaceutical Excpients IV hal 130)

III. Prosedur kerja


1. Alat dan Bahan yang digunakan:

Alat
Mortir
Penangas air
Cetakan suppositoria
Spatula/sudip
Alumunium foil

Bahan
Paracetamol
Vaselin album
Oleum cacao
Cetyl alkohol

2. Cara Kerja
a) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b) Menimbang bahan, sesuai perhitungan bahan
c) Siapkan air panas untuk memanaskan mortir
d) Setelah mortir panas, masukkan 1125 mg paracetamol ,lalu gerus halus.
e) Kemudian tambahkan sebagian oleum cacao, dan gerus hingga homogen.
f) Tambahkan 360 mg vaselin album , gerus sampai larut.
g) Tambahkan sisa oleum kakao, kemudian gerus sampai halus / cair.
h) Setelah semua bahan homogen, tuang bahan ke dalam cetakan suppositoria d3engan
menggunakan pipet tetes, bagi menjadi 9 bagian sama banyak.
i) Masukkan cetakan ke dalam freezer, dinginkan selama 48 jam.
j) Setelah 48 jam, keluarkan cetakan dari freezer, lalu buka cetakan dan ambil hasil suppositoria.

k) Lakukan uji homogenitas / keseragaman bobot terhadap suppositoria.


l) Bungkus masing- masing suppositoria dengan menggunakan alumunium foil, dan simpan kembali
ke dalam freezer, untuk analisa lebih lanjut.

IV. Hasil Praktikum


Hasil Data Keragaman bobot

No.

Berat Supositoria (gram)

1.

0,9253

2.

0,9387

3.

0,9145

4.

0,8693

5.

0,7444

6.

0,5841

7.

0,5953

8.

0,6858

9.
0,5931
Jumlah : 6,9253 gram
Rata-rata : 0,7612 gram
Minimal : 0,5841 gram
Maksimal : 0,9387 gram
RSD : 20,07%
Range : 0,3546 gram
V. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, formulasi yang digunakan adalah

R/ Paracetamol 125 mg
Vaselin Album 4%
Acetil Alkohol 4%
Oleum Cacao ad 1 gram
mf. sup. dtd. no. IX
Dari resep tersebut akan dibuat suppositoria yang dibagi ke dalam 9 bagian, dengan
penimbangan bahan awal sebagai berikut:
1. Perhitungan bahan
Paracetamol 125 mg x 9 = 1.125 mg
Vaselin Album 4% x 9 = 360 mg
Acetil Alkohol 4% x 9 = 360 mg
Oleum Cacao 1 gram x 9 = 9 gram
9.0 - 1.845 mg = 7.155 mg
2. Penimbangan bahan
Paracetamol 1.125 mg
Vaselin Album 360 mg
Acetil Alkohol 360 mg
Oleum Cacao 7.155 mg
3. Hasil uji keseragaman bobot
Jumlah 9 suppositoria : 6,8508 gram
Berat rata rata : 0,7612 gram
Standart deviasi : 20,01%
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pada praktikum kali ini, dibuat suppositoria paracetamol dengan metode pencetakan tuang.
Metode ini dipilih karena lebih efektif dan efisien digunakan dalam pembuatan suppositoria
skala lab. Sedangkan basis yang digunakan yaitu oleum kakao. Oleum kakao

merupakan

trigliserida berwarna kekuninagan, memiliki bau yang khas dan bersifat polimorf (mempunyai
banyak bentuk krital). Jika dipanaskan pada suhu sektiras 30C akan mulai mencair dan biasanya
meleleh sekitar 34-35C, sedangkan dibawah 30C berupa massa semi padat. Jika suhu
pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan
semua inti kristal menstabil.
Keuntungan oleum cacao adalah dapat melebur pada suhu tubuh dan dapat memadat pada
suhu kamar. Sedangkan kerugian oleum cacao adalah tidak dapat bercampur dengan cairan
sekresi (cairan pengeluaran), titik leburnya tidak menentu, kadang naik dan kadang turun apabila
ditambahkan dengan bahan tertentu. Serta meleleh pada udara yang panas.
Pertama kali yang dilakukan dalam praktikum ini adalah penimbangan bahan. Setelah
semua bahan ditimbang sesuai dengan perhitungan bahan, selanjutnya yaitu memanaskan mortir
yang digunakan untuk menggerus bahan. Hal ini dilakukan karena penggunaan basis oleum
kakao yang merupakan lemak. Lemak memiliki sifat mencair pada suhu yang tinggi, sehingga
untuk memudahkan tercampurnya semua bahan , maka dilakukan pemanasan terhadap mortir.
Dengan kata lain, pemanasan iini bertujuan untuk mencairkan oleum kakao. Setelah mortir
panas, selanjutnya memasukkan 1125 mg paracetamol ke dalam mortir dan menggerusnya
hingga halus. paracetamol berfungsi sebagai zat aktif. Paracetamol memiliki efek analgetik dan
antipiretik. obat analgesik dan antipiretik yang populer dan digunakan untuk melegakan sakit
kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, serta demam. Digunakan dalam sebagian besar resep obat
analgesik selesma dan flu.
Selanjutnya yaitu masukkan sebagian oleum kakao dan gerus hingga homogen. Setelah
tercampur masukkan 360 mg vaselin album ke dalam mortir. Vaselin album berfungsi sebagai zat
tambahan. Setelah semua tercampur homogen, tambahkan kembali sisa oleum kakao yang tersisa
. Oleum kakao mudah tengik, sebaiknya penyimpanan dalam wadah atau tempat yang sejuk,
kering dan terlindung dari cahaya. Oleum cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk
kristalnya akibat pemanasan tinggi. Diatas titik leburnya, Oleum Cacao akan meleleh sempurna
seperti minyak dan akan kehilangan inti kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya

kembali. Untuk itu, pada pembuatan suppositoria Oleum Cacao hanya dilelehkan 2/3 saja.
Penambahan cetyl alkohol tidak dilakukan. Dimana cetyl alkohol ini berfungsi sebagai pengental
(Thickening Agent) dan pengemulsi serta sebagai zaat pengikat. Karena tidak adanya bahan,
maka cetyl alkohol diganti dengan menggunakan oleum kakao. Sehingga penimbangan oleum
kakao dilakukan dua kali. Setelah semua bahan tercampur homogen, lakukan pencetakan ke
dalam cetakan supposa. Bagi campuran bahan menjadi 9 bagian sama banyak. Kemudian
dinginkan dalam lemari es selama 48 jam. Hal ini bertujuan supaya suppositoria menjadi beku.
Setelah 2 hari, diperoleh suppositoria padat, kemudian suppos dikeluarkan dari cetakan dan diuji
keseragaman bobot.
Dari hasil suppos yang diperoleh, dilakukan uji keseragaman bobot dan didapatkan
keseragaman bobot rata- rata yaitu 0,7612 gram. Dengan berat minimal yang diperoleh yaitu
0,5841 gram, dan berat maksimal yaitu 0,9387 gram. Dari keseluruhan uji keseragaman bobot
tersebut, diperoleh keseragaman bobot yang melebihi 5%, standart deviasi menunjukkan 20,01
%. Hal ini berarti keseragaman bobot dari suppos yang didapatkan jauh dari standart yang
ditentukan. Karena suppositoria yang baik adalah keseragaman bobot tidak boleh melebihi 5%.
Dari hasil praktikum hanya 1 suppos yang memiliki keseragaman berat 2,2%. Terjadinya
ketidakseragaman bobot ini disebabkan karena dalam proses pencetakan, dilakukan secara
manual. Proses penuangan bahan seharusnya menggunkan pipet tetes, sehingga volume suppos
dapat terkontrol. Sedangakan pada saat praktikum, penuangan bahan menggunakan sudip yang
tidak teratur volumenya. Sehingga didapatkan perbedaan yang jauh antara berat minimal dan
maksimalnya.
Suppositoria yang diperoleh seluruhnya yaitu 6,8508 gram. Suppositoria paracetamol yang
didapatkan mudah rapuh, dan cepat meleleh, setelah dikeluarkan dari kulkas. Hal ini terjadi
karena tidak adanya cetyl alkohol sebagai pengikat. Bentuk suppos juga kurang sempurna, ada
yang tinggi dan ada yang pendek. Hal ini disebabkan karena bahan yang sedikit dan tidak
meratanya saat penuangan bahan ke cetakan suppos. Sehingga mengakibatkan suppos yang
diperoleh tidak memenuhi syarat keseragaman bobot. Pada praktikum kali ini tidak dilakukan uji
kekerasan suppos, dikarenakan tidak adanya alat uji kekerasan. Sehingga uji yang dilakukan
hanya uji keseragaman bobot.
Setelah dilakukan evaluasi terhadap suppos, maka suppos yang telah jadi dibungkus
dengan alumunim foil agar tidak tembus cahaya dan sebaiknya dikemas dalam wadah tertutup

rapat untuk mencegah perubahan kelembapan dalam isi suppositoria dan sangat baik bila
disimpan pada suhu dibawah 25 C.
VI. Kesimpulan
Dari hasil praktikum pembuatan suppositoria paracetamol ini maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa
1. Diperoleh berat paracetamol 6,8500 gram, dengan nilai berat rata-rata adalah 0,7612 gram.
2. Pada uji keragaman bobot, suppositoria tidak memenuhi syarat karena uji keragaman bobot lebih
dari 5%. Hal ini disebabkan karena proses penuangan bahan yang kurang maksimal.
3. Suppositoria yang diperoleh sangat mudah rapuh dan mudah meleleh, hal ini dikarenakan proses
kurangnya zat pengikat atau penstabil yaitu acetyl alkohol.

VII. Daftar Pustaka


Ansel. 1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI pressAnonim. 1978.
DepartemenKesehatanRI.1979. FarmakopeIndonesia. Edisi ketiga. Departemen Kesehatan.
Jakarta.
DepartemenKesehatanRI.1995.FarmakopeIndonesia.Edisi keempat. Departemen Kesehatan.
Jakarta.
Soetopo, dkk. 2002. Ilmu Resep dan Teori. Jakarta : Departemen Kesehatan
Tjay, Tan Hoan. 2007.Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya Edisi
VI . Jakarta : PT Elex Media Komputindo.Voigt. 1995.
Syamsuni .1996. Ilmu Meracik Obat. Jakarta. Erlangga
I. Tujuan Praktikum

1. Mengetahui cara pembuatan suppositoria dengan metode cetak tuang.


2. Melakukan uji Quality Control (QC) terhadap suppositoria.
1.1. Latar Belakang
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dalam bentuk, yang diberikan
melalui rectal,vaginal atau uretra (Depkes R.I.,1995 ).
Bentuk dan ukurannya harus sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dimasukkan
ke dalam lubang atau celah yang diinginkan tanpa meninggalkan kejanggalan begitu masuk, har
us dapat bertahan untuk suatu waktu tertentu (Ansel,2005).
Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi:
1. Suppositori rectal : Suppositorial untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya
dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g (Depkes R.I.,1995 ).
2. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5,0
g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti
polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai pessarium .
( Anonim,1995; Ansel, 2005).
3. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut bougie. Bentuknya
ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita.
Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3- 6 mm dengan panjang 140 mm, walaupun ukuran
ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya
4 gram. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria,
panjang 70 mm dan beratnya 2 gram, bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya ( Ansel,
2005).
4.

Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga kerucut telinga, keduanya berbentuk
sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm.
suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Namun,
suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan (Ansel, 2005).
Suppositiria rectum umunya dimasukkan dengan jari tangan, biasanya suppositoria
rectum panjangnya lebih kurang dari 32 mm (1,5 inci), dan berbentuk silinder dan kedua
ujungnya tajam. Benruk suppositoria rectum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari

kecil, tergantung pada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP
sebesar 2 g untuk menggunakan basis oleum cacao ( Ansel,2005 ).
Penggunaan suppositoria bertujuan :
1. Untuk tujuan lokal seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya.
Suppositoria untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan
obat secara biokimia di dalam hati ( Syamsuni, 2005 ).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan
melalui rectal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat
terapetik yang bersifat local atau sistematik. Bahan dasar suppositoria yang umum digunakan
adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen
glikol berbagai bobot molekul dan ester asam lemak polietilen glikol (Depkes R.I., 1995).
Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh.
Bahan dasar yang sering digunakan adalah lemak coklat (Oleum cacao), polietilenglikol atau
lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau Gelatin. Bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan lain
adalah 3 g untuk orang dewasa dan 2 g untuk anak. Suppositoria supaya disipan dalam wadah
tertutup baik dan di tempat yang sejuk. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila bagian yang
besar masuk melalui otot penutup dubur, maka suppositoria akan tertarik masuk dengan sendiri.
Keuntungan penggunaan suppositoria dibanding penggunaan obat per oral atau melalui
saluran pencernaan adalah :
1.

Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung.

Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan


3.

Obat dapat masuk langsung dalam saluradarah dan berakibat obat dapat memberi efek lebih cepat
daripada penggunaan obat per oral

Baik, bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar (Anief, 2004)

Tujuan penggunaan suppositoria yaitu :


1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya.
Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membrane
mukosa dalam rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat per oral tidak
memungkinkan seperti pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena obat diserap
oleh mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi pembuluh darah.
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan
obat secara biokimia di dalam hati (Syamsuni, 2005).
Pembuatan suppositoria secara umum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
1. Bahan dasar yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau larut dalam cairan yang ada
dalam rectum. Obatnya supaya larut dalam bahan dasar apabila perlu, dipanaskan. Bila obatnya
sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus.
Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair, dituangkan dalam cetakan

2.

suppositoria dan didinginkan. Cetakan tersebut dibuat dari besi dan dilapisi nikel atau logam
lain, ada juga dubuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk
mengeluarkan suppositoria. Untuk mencetak basila dapat digunakan tube gelas atau gulungan
kertas (Anief, 2004).
Isi berat dari suppositoria dapat ditentukan dengan membuat percobaan sebagai berikut:
1. Menimbang obat untuk sebuah suppositoria
2. Mencampur obat tersebut dengan sedikit bahan dasar yang telah dilelehkan
3. Memasukakn campuran tersebut ke dalam cetakan
4. Mendinginkan cetakan yang berisi campuran tersebut. Setelah dingin suppositoria dikeluarkan
dari cetakan dan ditimbang
5. Berat suppositoria dikurangi berat obatnya merupakan berat bahan dasar yang harus ditimbang
6. Berat jenis obat dapat dihitung dan dibuat seragam (Anief, 2004).
Untuk menghindari massa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk
menghindari massa yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan
parafin, minyak lemak, spritus Saponatus (Soft soap liniment). Yang terakhir jangan digunakan
untuk suppositoria yang mengandung garam logam, karena akan bereaksi dengan sabunnya dan

sebagai pengganti dapat digunakan larutan Oleum Ricini dalam etanol. Untuk suppositoria
dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelican karena pada pendinginan mudah
lepas dari cetakan karena mengkerut (Anief, 2004).
Faktor yang mempegaruhi absorpsi obat per rektal yaitu :
1. Faktor fisiologis, antara lain pelepasan obat dari basis atau bahan dasar, difusi obat
melalui mukosa, deteoksifikasi atau metabolisme, distribusi di cairan jaringan, dan
terjadinya ikatan protein di dalam darah atau cairan jaringan.
2. Faktor fisika kimia obat dan basis antara lain kelarutan obat, kadar obat dalam basis,
ukuran partikel, dan basis suppositoria (Syamsuni, 2005).
Kerugian penggunaan bentuk sediaan suppositoria antara lain:
1. Tidak menyenangkan penggunaan
2. Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat per rektal:
1. Faktor fisiologis antara lain pelepasan uobat dari basis atau bahan dasar, difusi

obat melalui

mukosa, detoksifikasi atau metanolisme, distribusi di cairan jaringan dan terjadinya ikatan
protein di dalam darah atau cairan jaringan.
2. Faktor fisika kimia obat dan basis antara lain : kelarutan obat, kadar obat dalam basis, ukuran
partikel dan basis supositoria
3. Bahan dasar yang digunakan untuk membuat suppositoria harus dapat larut dalam air atau
meleleh pada suhu tubuh. Bahan dasar yang biasa digunakan adalah lemak cokelat (oleum
cacao), polietilenglikol (PEG), lemak tengkawang (oleum shorae) atau gelatin (Syamsuni, 2005).
Bahan dasar suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut :
1. Padat pada suhu kamar sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak, tetapi akan melunak
pada suhu rectum dan dapat bercampur dengan cairan tubuh.
2. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
3. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
4. Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna, dan bau serta pemisahan obat.
5. Kadar air mencukupi.

6. Untuk basis lemak maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan iodium dan bilangan
penyabunan harus jelas diketahui (Syamsuni, 2007).
Pembuatan suppositoria secara umum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Bahan dasar yang digunakan harus meleleh pada suhu tubuh atau larut dalam cairan yang ada di
rektum.
2. Obat harus larut dalam bahan dasar dan bila perlu dipanaskan. Bila sukar larut, obat harus
diserbukkan terlebih dahulu sampai halus.
3. Setelah campurn obat dan bahan dasarnya meleleh atau mencair, campuran itu dituangkan ke
dalam cetakan supositoria dan didinginkan. Cetakan ini dibuat dari besi yang dilapisi nikel dan
logam lain; ada juga terbuat dari plastik (Syamsuni, 2005).
Sifat suppositoria yang ideal ;
1. melebur pada suhu tubuh atau melarut dalam cairan tubuh.
2. tidak toksik dan tidak merangsang
3. dapat tercampur (kompartibel) dengan bahan obat.
4. dapat melepas obat dengan segera.
5. mudah dituang kedalam cetakan dan dapat dengan mudah dilepas dari cetakan.
6. stabil terhadap pemanasan diatas suhu lebur.
7. mudah ditangani.
8. stabil selama penyimpanan.
Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat (oleum cacao) :
1. Merupakan trigliserida dari asam oleat, asam stearat, asam palmitat; berwarna putih kekuningan;
padat, berbau seperti coklat, dan meleleh pada suhu 310-340C.
2. Karena mudah berbau tengik, harus disimpan dalam wadah atau tempat sejuk, kering, dan
terlindung dari cahaya.

3. Oleum cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya pada pemanasan tinggi. Di
atas titik leburnya, oleum cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti
Kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali.
a.

Bentuk (alfa) : terjadi jika lelehan oleum cacao tadi didinginkan dan segera pada 0 0C dan

bentuk ini memiliki titik lebur 240C (menurut literature lain 220C).
b. Bentuk (beta) : terjadi jika lelehan oleum cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 18 0-230C dan
bentuk ini memiliki titik lebur 280-310C.
c. Bentuk stabil (beta stabil) : terjadi akibat perubahan bentuk secara perlahan-lahan disertai
kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 340-350C (menurut literature lain 34,50C).
d. Bentuk (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan oleum cacao yang sudah dingin (200C) dan
bentuk ini memiliki titik lebur 180C.
4. Untuk menghindari bentuk-bentuk Kristal tidak stabil diatas dapat dilakukan dengan cara :
a. Oleum cacao tidak dilelehkan seluruhnya, cukup 2/3 nya saja yang dilelehkan.
b. Penambahan sejumlah kecil bentuk Kristal stabil kedalam lelehan oleum cacao untuk
mempercepat perubahan bentuk karena tidak stabil menjadi bentuk stabil.
c. Pembekuan lelehan selama beberapa jam atau beberapa hari.
5. Lemak coklat merupakan trigliserida, berwarna kekuningan, memiliki bau khas, dan bersifat
polimorf (mempunyai banyak bentuk Kristal). Jika dipanaskan, pada suhu 300C akan mulai
mencair dan biasanya meleleh sekitar 340-350C, sedangkan pada suhu dibawah 300C berupa
massa semipadat. Jika suhu pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna seperti
minyak dan akan kehilangan semua inti Kristal stabil yang berguna untuk memadat. Jika
didinginkan dibawah suhu 150C, akan mengkristal dalam bentuk Kristal metastabil. Agar
mendapatkan suppositoria yang stabil, pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai
cukup meleleh saja sampai dapat dituang, sehingga tetap mengandung inti Kristal dari bentuk
stabil.
6. Untuk menaikkan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan cera atau cetasium (spermaseti).
Penambahan cera flava tidak boleh lebih dari 6% sebab akan menghasilkan campuran yang
mempunyai titik lebur diatas 370C dan tidak boleh kurang dari 4% karena akan diperoleh titik
lebur < 330C. Jika bahan obat merupakan larutan dalam air, perlu diperhatikan bahwa lemak
coklatnya hanya sedikit menyerap air. Oleh karena itu penambahan cera flava dapat juga
menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air.
7. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat juga digunakan tambahan sedikit kloralhidrat
atau fenol, atau minyak atsiri.

8. Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh karena
itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati.
9. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat
terserap, sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk sediaan rectal karena disolusinya
lambat.
10. Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat
yang dihaluskan kedalam minyak lemak padat pada suhu kamar, dan massa yang dihasilkan
dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat
kemudian dibiarkan sampai dingin dalam cetakan. Suppositoria ini harus disimpan dalam wadah
tertutup baik, pada suhu dibawah 300C.
11. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar oleum cacao sebaiknya dihindari karena :
a. Menyebabkan reaksi antara obat-obatan didalam suppositoria.
b. Mempercepat tengiknya oleum cacao.
c. Jika airnya menguap, obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari suppositoria.
12. Keburukan oleum cacao sebagai bahan dasar suppositoria :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Meleleh pada udara yang panas.


Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama.
Titik leburnya dapat turun atau naik jika ditambahkan bahan tertentu.
Adanya sifat polimorfisme.
Sering bocor (keluar dari rectum karena mencair) selama pemakaian.
Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (Syamsuni, 2007).
Akibat beberapa keburukan oleum cacao tersebut dicari pengganti oleum cacao sebagai
bahan dasar suppositoria, yaitu :

1. Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur.
2. Campuran setilalkohol dengan oleum amygdalarum dalam perbandingan 17 : 83.
3. Oleum cacao sintesis : coca buta, supositol (Syamsuni, 2007).
Pada pembuatan suppositoria dengan menggunakan cetakan, volume suppositoria harus
tetap, tetapi bobotnya beragam tergantung pada jumlah dan bobot jenis yang dapat diabaikan,
misalnya extr. Belladonae, gram alkaloid.
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot lemak coklat yang mempunyai volume yang
sama dengan 1 g obat (Syamsuni, 2007).
Nilai tukar lemak coklat untuk 1 g obat, yaitu :
Acidum boricum

: 0,65

Aethylis aminobenzoas

: 0,68

Garam alkaloid

: 0,7

Aminophylinum

: 0,86

Bismuthi subgallus

: 0,37

Bismuthi subnitras

: 0,20

Ichtammolum

: 0,72

Sulfonamidum

: 0,60

Tanninum

: 0,68

Zinci oxydum

: 0,25

Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0,7, kecuali untuk garam bismuth dan
zink oksida. Untuk larutan, nilai tukarnya dianggap 1. Jika suppositoria mengandung obat atau
zat padat yang banyak pengisian pada cetakan berkurang, dan jika dipenuhi dengan campuran
massa, akan diperoleh jumlah obat yang melebihi dosis. Oleh sebab itu, untuk membuat
suppositoria yang sesuai dapat dilakukan dengan cara menggunakan perhitungan nilai tukar
sebagai berikut (Syamsuni, 2007).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat

Beaker glass

Cawan porselin

Lumpang dan stamper

Spatula

Sudip

Termometer

Batang pengaduk

Timbangan gram

Timbangan miligram

Neraca analitik

Kertas perkamen

Jarum/kawat

Cetakan suppositoria

Aluminum foil

Lemari pendingin

Waterbath
3.1.2 Bahan

Benzokain

Theophylin

Oleum Cacao

Formulasi
R/

Benzokain 0,500
Theophylin 0,500
Dasar Supp q.s
m.f. supp.dtd
s.I dd supp I

Pro : Tn. Jalal

Pemilihan dasar suppositoria = Oleum Cacao

Berat 1 suppositoria

= 3 gr

3.2. Perhitungan Bahan


Pada percobaan ini satu kelompok terdiri dari 10 orang. Penimbangan dilakukan dengan cara
1 suppositoria untuk tiap anggota kelompok, dan satu orang menimbang dengan penghitungan 3
suppositoria. Jadi total bahan yang akan diambil adalah untuk 12 suppositoria.
a. Penimbangan Bahan Untuk 1 Suppositoria
Benzocain

: 500 mg

Theophyllin

: 500 mg

Ol. Cacao

q.s.

: 3000 (500+500)
: 2000 mg
Berat total suppositoria

: 3000 mg

b. Penimbangan Bahan Untuk 3 Suppositoria


Benzocain

: 500 mg x 3

: 1500 mg

Theophyllin

: 500 mg x 3

: 1500 mg

Ol. Cacao

q.s.

: (3 x 3000) (1500 + 1500) : 6000 mg


3.3. Cara pembuatan
1. Seluruh bahan ditimbang.
2. Gerus homogen benzokain dan theophylin dalam lumpang.
3. Sediakan air dengan suhu 400C dalam beaker glass sebagai waterbath buatan.
4. Larutkan Oleum Cacao yang telah ditimbang di cawan perselen dengan meletakkannya
diatas waterbath buatan. Dasar cawan harus mengenai air. Diatur agar suhu dari
waterbath tetap 400C.

5. Setelah Oleum Cacao melarut sempurna maka tambahkan campuran benzokain dengan
theophylin yang telah digerus homogen kedalam cawan, aduk rata dan homogen.
6. Masukkan semua campuran tersebut kedalam cetakan suppositoria yang telah dilapisi
dengan paraffin dengan bantuan jarum/kawat.
7. Dinginkan dalam lemari pendingin selama 15 menit.

3.4. Evaluasi Suppositoria


3.4.1. Keseragaman Bobot

Bobot 4 suppositoria = 12,042 gram (A)

Bobot rata-rata

= 12,042 gram/4 = 3,01 gram (B)

Caranya : 1. Timbang 4 suppositoria (A).


2. Hitung bobot rata-rata = A/4 = B
3. Timbang satu persatu (C)
Syarat : Penyimpangan beratnya tidak boleh lebih besar dari 5 10%
Rumus penyimpangan : (B-C) / B x 100% = .%

Bobot suppositoria ( C )

= a. 2,933 gram

b. 2,963 gram
c. 2,994 gram
d. 3,00 gram
Penyimpangan :
(B C)/B x 100%
a. (3,01 2,933)/3,01 x 100% = 3,203%
b. (3,01 2,963)/3,01 x 100% = 1,56%
c. (3,01 2,994)/3,01 x 100% = 0,53%

d. (3,01- 3,00)/3,01 x 100%

= 0,033%

Kesimpulan : memenuhi syarat


3.4.2. Penentuan homogenitas
Menggunakan objek glass. Oleskan sediaan suppositoria diatas objek glass, kemudian tutup
dengan objek glass lainnya. Amati apakah sediaan tersebut homogen atau tidak.
Hasil : Homogen ( memenuhi syarat)
3.5. Pembahasan
Pada percobaan ini dialakukan pembuatan sediaan suppositoria dengan menggunakan dua
bahan aktif yaitu benzocain dan theophyllin, dan basis suppositoria yang digunakan adalah
oleum cacao. Pada percobaan dibuat suppositoria sebanyak 10 untuk tiap kelompok yang terdiri
dari 10 orang. Penimbangan bahan yang dilakukan adalah 1 suppositoria untuk tiap orang dan 3
suppositoria dilakukan hanya pada 1 orang. Jadi bahan yang ditimbang adalah untuk 12
suppositoria.
Kelebihan penimbangan bahan adalah untuk mencukupkan masa suppositoria pada saat
pencetakan. Pada pengisian masa suppositoria ke dalam cetakan, lemak coklat cepat membeku,
dan pada pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa, maka pada
pengisian cetakan harus diisi lebih, baru setelah dingin kelebihannya dipotong (Anief, 2004).
KESIMPULAN

Suppositoria memenuhi persyaratan evaluasi keseragaman bobot dimana tidak ada satu
suppositoria pun yang penyimpangannya lebih dari 10%.

Suppositoria memenuhi persyaratan uji homogenitas.

Pada pembuatan suppositoria dikenal dengan adanya istilah nilai tukar untuk pembuatan
dengan basis oleum cacao. Nilai tukar dimaksudkan untk mengetahui berat lemak coklat yang
mempunyai besar volume yang sama dengan 1 gram obat (Anief, 2004).
Karena itu dalam penimbangan seharusnya tidak dilakukan satu persatu, tapi dihitung nilai
tukar zat aktif untuk mencari kebutuhan oleum cacao yang diperlukan.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan

Suppositoria yang dibuat berbentuk peluru.

Bahan dasar suppositoria yang digunakan adalah oleum Cacao

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh, (2004), Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ansel, (2005), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta.
Depkes R.I. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.
Syamsuni, H.A. (2005). Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Penerbit Kedokteran : Jakarta.
Syamsuni, H.A. (2007). Ilmu Resep. Jakarta : EGC.

Prosedur Pembuatan

Siapkan alat dan bahan yang digunakan

Pastikan semua alat dalam keadaan kering dan bersih

Timbang bahan sesuai kebutuhan

Persiapan cetakan ada dua cara :

cara 1 : panaskan cetakan supositoria pada penangkas air, dalam keadaan terbuka
cara 2 : cetakan supositoriadalam keadaan tertutup dan rapat kemudian gosok cetakan dengan
lilin pada semua permukaan

Lakukan proses peleburan basis dengan menggunakan cawan penguap diatas penangkas air

Gerus semua padatan dengan lumpang sampai halus dan homogen

Angkat cetakan dari penangkas air, letakan diatas meja praktikum diatas lap (cara 1)

Cetakan kemudian dilumasi dengan parafin liquid (jangan terlalu banyak)

Lakukan proses penuangan massa supositoria :

Angkat massa supositoria dari penangkas dengan penjepit


Penuangan cepat dan akurat
Penuangan tidak dilakukan langsung dari cawan penguap melainkan dengan batang pengaduk
sebagai jembatan
Tuang massa supositoria sampai lubang terisi penuh dan dilebihkan sedikit lalu diamkan pada
suhu kamar ( 15 menit)

Masukan kedalam kulkas sampai padat

Keluarkan dari freezer dan cetakan, kemudian pisahkan sediaan untuk dievaluasi

Hindari kontak langsung dengan suhu tubuh, atau berada pada suhu kamar dalam waktu yang
lama

Lakukan perhitungan bilangan pengganti


EVALUASI SUPPOSITORIA

1. Homogenitas zat aktif


Cara evaluasi : sebanyak 3 sediaan dipotong secara a/simetris secara longitudinal, kemudian
amati ketersebaran zat aktif.
2. Penampilan organoleptis
Cara evaluasi : diamati keretakan, eksudasi cairan dan pembengkakan basis, dilakukan
bersamaan dengan evaluasi homogenitas zat aktif.
3. Keseragamaan sediaan
Keseragaman bobot
Cara evaluasi : timbang bobot masing-masing sebanyak 20 buah sediaan secara acak, dan hitung
bobot rata-ratanya.
Keragaman kandungan zat aktif
Sebanyak 30 sediaan secara acak kemudian dilakukan penentuan kadar terhadap 10 sediaan.
4. Uji kisaran dan waktu leleh
Cara evaluasi : dilakukan terhadap 3 sediaan, siapkan termometer dan stopwach. Masukan 3
sediaan uji kecawan penguap (secara bersamaan) diatas penangkas air, kemudian hitung suhu
dan waktu meleleh sediaan (sampai meleleh sempurna).

5. Waktu hancur
Cara evaluasi : satu buah sediaan ditempatkan pada cakram berlubang bawah dari alat logam,
kemudian alat logam tersebut dimasukan dan dikaitkan dalam tabung transparan. Prosedur
dilakukan kembali untuk 2 sediaan berikutnya.
6. Uji kehancuran
Cara evaluasi : alat dipasang vertikal dan wadah dipanaskan pada suhu 25 C sediaan yang diuji
harus dijaga sekurang-kurangnya 24 jan pada suhu yang akan diatur, sediaan ditempatkan secara
vertikal diantara jepitan penyangga sampel dengan ujung menghadap keatas lalu tambahkan
beban seberat 200 g setelah itu tunggu 1 menit.
7. Uji penetrasi
Uji dilakukan untuk menentukan waktu melunak atau melarut sediaan, alat yang dilakukan
mempunyai 3 tabung uji yang dicelupkan dalam wadah penangkas air suling dengan suhu 37C,
amati waktu yang dicelupkan oleh batang penetrasi untuk menembus sediaan.
9. EVALUASI SUPPOSITORIA

Untuk formula II (basis=gelatin) + zat aktif

1. Homogenitas
Zat aktif relatif menyebar, tidak menumpuk pada satu bagian.
2. Penampilan (organoleptis)
Tidak ada keretakan, terdapat beberapa lubang eksudasi cairan dan tidak ada pembengkakan.
3. Kisaran leleh
Suhu awal leleh

= 30C

Suhu akhir leleh

= 45C

Waktu leleh

= 2 menit 25 detik

Mulai meleleh pada detik ke 17


4. Keseragaman Bobot
Zat aktif+basis
Sediaan 1 = 3,16 gram
Sediaan 2 = 3,20 gram
Sediaan 3 = 3,18 gram
Sediaan 4 = 3,17 gram
Sediaan 5 = 3,15 gram
Sediaan 6 = 3,19 gram
Rata-rata = 3,17gram

Basis
Sediaan 1 = 3,08 gram
Sediaan 2 = 3,08 gram
Sediaan 3 = 3,06 gram
Sediaan 4 = 3,08 gram
Sediaan 5 = 3,05 gram
Sediaan 6 = 3,05 gram
Rata-rata = 3,07 gram
10. Pembahasan
Keseragaman bobot supositoria basis gelatin tergliserinasi hasil percobaan kurang dari 4
gram, ini berkemungkinan disebabkan oleh adanya masa supositoria yang sedikit lengket di
cetakannya karena kurangnya gliserin untuk melicinkan cetakan.
Homogenisitasnya relatif baik karena pencampuran serta pengadukan yang baik sehingga
zat aktifnya relatif menyebar dengan baik.sedangkan secara organoleptis supositoria tidak
berlubang dan mengalami pembengkakan ini disebabkan pembuatan yg baik dan penyimpanan
yang sesuai.
Dibanding basis oleum cacao, titik leleh supositoria basis gelatin lebih cepat meleleh
dalam suhu yang rendah dalam waktu yang relatif sebentar ini disebabkan titik didih gelatin lebih
rendah jika dibandingkan titik didih basis lainnya.
11. Kesimpulan
Supositoria basis oleum cacao relatif lebih baik dalam hal bentuk dan kepadatannya sedangkan
basis gelatin tergliserinasi sedikit lebih lembek namun melelehnya lebih cepat jika dibandingkan
basis oleum cacao, tapi secara keseluruhan supositoria basis oleum cacao lebih baik jika
dibanding basis gelatin.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Suppositoria
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, berbentuk torpedo,
dapat melunak, melarut atau meleleh pada suhu tubuh. (Moh. Anief. 1997)

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui
rectal, vagina atau uretra. (Farmakope Indonesia Edisi IV)
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo,
dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh. ( Farmakope Indonesia Edisi III)
Suppositoria adalah sediaan padat, melunak, melumer dan larut pada suhu tubuh,
digunakan dengan cara menyisipkan ke dalam rectum, berbentuk sesuai dengan maksud
penggunaannya, umumnya berbentuk torpedo. (Formularium Nasional)
Jadi, suppositoria dapat didefinisikan sebagai suatu sediaan padat yang berbentuk torpedo yang
biasanya digunakan melalui rectum dan dapat juga melalui lubang di area tubuh, sediaan ini
ditujukan pada pasien yang mudah muntah, tidak sadar atau butuh penanganan cepat.
2.2 Macam-macam Suppositoria
a. Suppositoria untuk rectum (rectal)
Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Biasanya suppositoria
rektum panjangnya 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam.
Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung
kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 g
untuk yang menggunakan basis oleum cacao (Ansel, 2005).
b. Suppositoria untuk vagina (vaginal)
Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya berbentuk bola lonjong atau
seperti kerucut, sesuai kompendik resmi beratnya 5 g, apabila basisnya oleum cacao.
c. Suppositoria untuk saluran urin (uretra)
Suppositoria untuk untuk saluran urin juuga disebut bougie, bentuknya rampiung seperti
pensil, gunanya untuk dimasukkan kesaluran urin pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria
bergaris tengah 3-6 mm dengan panjang 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu
dengan yang lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao beratnya 4 g. Suppositoria untuk
saluran urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria, panjang 70 mm dan
beratnya 2 g, inipun bila oleum cacao sebagai basisnya.
d. Suppositoia untuk hidung dan telinga
Suppositoia untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut telinga, keduanya berbentuk
sama dengan suppositoria saluran urin hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm.
Suppositoria telinga umumnya diolah dengan suatu basis gelatin yang mengandung gliserin.
Seperti dinyatakan sebelumnya, suppositoria untuk obat hidung dan telinga sekarang jarang
digunakan.

2.3 Tujuan Penggunaan Supositoria


1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya.
Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membrane
mukosa dalam rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat per oral tidak
memungkinkan seperti pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena obat diserap
oleh mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi pembuluh darah.
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan
obat secara biokimia di dalam hati (Syamsuni, 2005).
2.4 Keuntungan dan Kerugian Supositoria
2.4.1 Keuntungan Supositoria:
a. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.
b. Dapat menghindari keruskan obat oleh enzim pencernaan dan asam lambung.
c. Obat dapat masuk langsung kedalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih
cepat daripada penggunaan obat peroral.
d. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar.
2.4.2 Kerugian Supositoria:
a. Pemakaiannya tidak menyenangkan.
b. Tidak dapat disimpan pada suhu ruang.
2.4.3

Persyaratan Supositoria
Sediaan supositoria memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Supositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau melarut
(persyaratan kerja obat).
2. Pembebasan dan responsi obat yang baik.
3. Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan, pewarnaan,
penegerasan, kemantapan bentuk, daya patah yang baik, dan stabilitas yang memadai
dari bahan obat).
4. Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil.
2.5 Basis supositoria
Sediaan supositoria ketika dimasukkan dalam lubang tubuh akan melebur, melarut dan
terdispersi. Dalam hal ini, basis supositoria memainkan peranan penting. Maka dari itu basis
supositoria harus memenuhi syarat utama, yaitu basis harus selalu padat dalam suhu ruangan dan
akan melebur maupun melunak dengan mudah pada suhu tubuh sehingga zat aktif atau obat yang

dikandungnya dapat melarut dan didispersikan merata kemudian menghasilkan efek terapi lokal
maupun sistemik. Basis supositoria yang ideal juga harus mempunyai beberapa sifat seperti
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.


Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna dan bau serta pemisahan obat.
Kadar air mencukupi.
Untuk basis lemak, maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus
diketahui jelas.
2.5.1 Persayaratan Basis Suppositoria

1. Secara fisiologi netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus, hal ini dapat disebabkan oleh
massa yang tidak fisiologis ataupun tengik, terlalu keras, juga oleh kasarnya bahan obat yang
diracik).
2. Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat).
3. Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil).
4. Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (pembekuan dapat berlangsung cepat dalam
cetakan, kontraksibilitas baik, mencegah pendinginan mendaak dalam cetakan).
5. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir denagn titik lebur jernih (ini dikarenakan untuk
kemantapan bentuk dan daya penyimpanan, khususnya pada suhu tinggi sehingga tetap stabil).
2.5.2 Macam-macam Basis Suppositoria
1. Basis berlemak, contohnya: oleum cacao.
2. Basis lain, pembentuk emulsi dalam minyak: campuran tween dengan gliserin laurat.
3. Basis yang bercampur atau larut dalam air, contohnya: gliserin-gelatin, PEG (polietien glikol).
2.5.3 Bahan Dasar Supositoria
1. Bahan dasar berlemak: oleum cacao
Lemak coklat merupakan trigliserida berwarna kekuninagan, memiliki bau yang khas dan
bersifat polimorf (mempunyai banyak bentuk krital). Jika dipanaskan pada suhu sektiras 30C
akan mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 34-35C, sedangkan dibawah 30C berupa
massa semipadat. Jika suhu pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna seperti
minyak dan akan kehilangan semua inti kristal menstabil.
Keuntungan oleum cacao:
a. Dapat melebur pada suhu tubuh.

b. Dapat memadat pada suhu kamar.


Kerugian oleum cacao:
a. Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (cairan pengeluaran).
b. Titik leburnya tidak menentu, kadang naik dan kadang turun apabila ditambahkan dengan bahan
tertentu.
c. Meleleh pada udara yang panas.
2. PEG (Polietilenglikol)
PEG merupakan etilenglikol terpolimerisasi dengan bobot molekul antara 300-6000. Dipasaran
terdapat PEG 400 (carbowax 400). PEG 1000 (carbowax 1000), PEG 1500 (carbowax 1500),
PEG 4000 (carbowax 4000), dan PEG 6000 (carbowax 6000). PEG di bawah 1000 berbentuk
cair, sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Formula PEG yang dipakai
sebagai berikut:
1. Bahan dasar tidak berair: PEG 4000 4% (25%) dan PEG 1000 96% (75%).
2. Bahan dasar berair: PEG 1540 30%, PEG 6000 50% dan aqua+obat 20%.
Titik lebur PEG antara 35-63C, tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan
sekresi tubuh.
Keuntungan menggunakan PEG sebagai basis supositoria, antara lain:
1. Tidak mengiritasi atau merangsang.
2. Tidak ada kesulitan dengan titik leburnya, jika dibandingkan dengan oleum cacao.
3. Tetap kontak dengan lapisan mukosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh.
Kerugian jika digunakan sebagai basis supositoria, antara lain:
1. Menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan, sehingga timbul rasa yang
menyengat. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan supositoria ke dalam air
dahulu sebelum digunakan.
2. Dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat.
Pembuatan supositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar, lalu
dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan supositoria dengan bahan dasar lemak
coklat.
2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi Absobsi Obat per Rektal
Rektum mengandung sedikit cairan dengan PH 7,2 dan kapasitas dapar rendah. Epitel
rektum sifatnya berlipoid (berlemak) maka diutamakan permeabel terhadap obat yang tidak
terionisasi (obat yang mudah larut lemak).

2.7 Nilai Tukar


Nilai tukar adalah nilai yang digunakan untuk mengurangi kadar zat aktif. Tujuan dari
pengurangan zat aktif adalah meminimalisir over dosis yang ditimbulkan. Karena zat aktif yang
tertera pada literature merupakan kadar zat aktif yang digunakan secara oral, maka pada
penggunaan untuk rectal kadar zat aktif harus dikurangi. Hal ini berkaitan dengan proses
farmakokinetik di dalam tubuh. Untuk obat-obat oral prosesnya melalui ADME sedangkan untuk
obat-obat lokal (suppo) prosesnya tidak melalui ADME melainkan langsung diserap oleh
permukaan mukosa rectal, kemudian masuk ke pembuluh darah selanjutnya masuk ke dalam
sirkulasi darah. Oleh karena itu, jika zat aktif masih menggunakan dosis oral, maka
dikhawatirkan terjadi over dosis pada pasien.
Pada pembuatan supositoria menggunakan cetakan, volume supositoria harus tetap.
Tetapi, bobotnya beragam tergantung pada jumlah dan bobot jenis yang dapat diabaikan,
misalnya ekstrak belladonea dan garam alkaloid.
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot minyak cokelat yang mempunyai volume yang
sama dengan 1g obat. Berikut adalah tabel nilai tukar:

Nama Obat
Acidum boricum
Garam alkaloid
Bismuth subgallas
Ichtammolum
Tanninum
Aethylis aminobenzoas
Aminoplhylinum
Bismuth subnitras
Sulfonamidum
Zinci oxydum

Nilai tukar ol cacao per 1g


0.65
0.7
0.37
0.72
0.68
0.68
0.86
0.20
0.60
0.25

Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0.7 kecuali untuk garam Bismuth dan
Zincy Oxydum. Untuk larutan nilai tukarnya dianggap satu. Bila supositoria mengandung obat
atau zat padat yang banyak, pengisian pada cetakan berkurang dan jika dipenuhi dengan
campuran massa, akan diperoleh jumlah obat yang melebihi dosis. Oleh sebab itu, untuk

membuat supositoria yang sesuai dapat dilakukan dengan cara menggunakan perhitungan nilai
tukar.
2.8 Uji Bahan Aktif
1. Titik lebur
Titik lebur adalah suhu di mana zat yang kita uji pertama kali melebur atau meleleh
seluruhnya yang ditunjukan pada saat fase padat cepat hilang. Dalam analisa farmasi titik lebur
untuk menetapkan karakteristik senyawa dan identifikasi adanya pengotor. Untuk uji titik lebur
di butuhkan alat pengukuran titik lebur yaitu, Melting Point Apparatus (MPA) alat ini digunakan
untuk melihat atau mengukur besarnya titik lebur suatu zat.
2. Bobot jenis
Bobot jenis adalah perbandingan bobot jenis udara pada suhu 25

terhadap bobot air

dengan volume dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan
membagi bobot jenis dengan bobot air dalam piknometer. Lalu dinyatakan lain dalam monografi
keduanya ditetapkan pada suhu 25

. (FI IV hal 1302). Bobot jenis dapat digunakan untuk:

Mengetahui kepekaan suatu zat


Mengetahui kemurniaan suatu zat
Mengetahui jenis zat
Piknometer untuk menentukan bobot jenis zat padat dan zat cair. Zat padat berbeda
dengan zat cair, zat padat memiliki pori dan rongga sehingga berat jenis tidak dapat terdefinisi
dengan jelas. Berat jenis sejati merupakan berat jenis yang dihitung tanpa pori atau rongga ruang.
Sedangkan berat jenis nyata merupakan berat jenis yang di hitung sekaligus degan porinya
sehingga

nyata <

sejati.

2.9 Metode Pembuatan


Pembuatan supositoria secara umum yaitu bahan dasar supositoria yang digunakan dipilih
agar meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam bahan dasar, jika perlu dipanaskan. Jika
obat sukar larut dalam bahan dasar, harus dibuat serbuk halus. setelah campuran obat dan bahan

dasar meleleh atau mencair, tuangkan ke dalam cetakan supositoria kemudian didinginkan.
Tujuan dibuat serbuk halus untuk membantu homogenitas zat aktif dengan bahan dasar.
Cetakan suppositoria terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau logam lainnya, namun ada
juga yang terbuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan
supositoria. Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan, supositoria harus
dibuat berlebih (10%), dan sebelum digunakan cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan
parafin cair atau minyak lemak, atau spiritus sapotanus (Soft Soap Liniment) agar sediaan tidak
melekat pada cetakan. Namun, spiritus sapotanus tidak boleh digunakan untuk supositoria yang
mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti
digunakan oleum recini dalam etanol. Khusus supositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween
bahan pelicin cetakan tidak diperlukan, karena bahan dasar tersebut dapat mengerut sehingga
mudah dilepas dari cetakan pada proses pendinginan.
Metode pembuatan supositoria dibagi menjadi 3 yaitu:
a.

Dengan tangan
Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan

mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian
diaduk dengan bahan-bahan aktif dengan menggunakan mortir dan stamper, sampai diperoleh
massa akhir yang homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu
batang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat
mencegah pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu ujungnya
diruncingkan.
b.
Dengan mencetak kompresi
Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin menjadi suatu bentuk yang
dikehendaki. Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada massa suppositoria yang
diisikan dalam silinder, sehingga massa terdorong kedalam cetakan.
c.
Dengan mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau penangas uap
untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, kemudian bahan-bahan aktif
diemulsikan atau disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam
yang telah didinginkan, yang umumnya dilapisi krom atau nikel.
2.10 Pengemasan Supositoria
a. Supositoria gliserin dan supositoria gelatin gliserin umumnya dikemas dalam wadah gelas
ditutup rapat supaya mencegah perubahan kelembapan dalam isi supositoria.

b. Supositoria yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpisah-pisah atau
dipisahkan satu sama lain pada celah-celah dalam kotak untuk mencegah perekatan.
c. Supositoria dengan kandungan obat yang sedikit lebih pekat biasnya dibungkus satu per satu
dalam bahan tidak tembus cahaya seperti lembaran metal (alumunium foil).
2.11Evaluasi Sediaan
Pengujian sediaan supositoria yang dilakukan sebagai berikut:
1. Uji homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat tercampur rata
dengan bahan dasar suppo atau tidak, jika tidak dapat tercampur maka akan mempengaruhi
proses absorbsi dalam tubuh. Obat yang terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Cara
menguji homogenitas yaitu dengan cara mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah atau
kanan-tengah-kiri) masing-masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah
mikroskop, cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan dengan cara titrasi.
2.

Bentuk
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya tidak seperti sediaan

suppositoria pada umunya, maka seseorang yang tidak tahu akan mengira bahwa sediaan tersebut
bukanlah obat. Untuk itu, bentuk juga sangat mendukung karena akan memberikan keyakinan
pada pasien bahwa sediaa tersebut adalah suppositoria. Selain itu, suppositoria merupakan
sediaan padat yang mempunyai bentuk torpedo.
3.

Uji waktu hancur


Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan tersebut dapat hancur

dalam tubuh. Cara uji waktu hancur dengan dimasukkan dalam air yang di set sama dengan suhu
tubuh manusia, kemudian pada sediaan yang berbahan dasar PEG 1000 waktu hancurnya 15
menit, sedangkan untuk oleum cacao dingin 3 menit. Jika melebihi syarat diatas maka sediaan
tersebut belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh. Mengapa menggunakan media
air? Dikarenakan sebagian besar tubuh manusia mengandung cairan.
4.

Keseragaman bobot
Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan sudah sama atau

belum, jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman bobot akan mempengaruhi terhadap
kemurnian suatu sediaan karena dikhawatirkan zat lain yang ikut tercampur. Caranya dengan
ditimbang saksama 10 suppositoria, satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Dari hasil

penetapan kadar, yang diperoleh dalam masing-masing monografi, hitung jumlah zat aktif dari
masing-masing 10 suppositoria dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Jika terdapat
sediaan yang beratnya melebihi rata-rata maka suppositoria tersebut tidak memenuhi syarat
dalam keseragaman bobot. Karena keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui kandungan
yang terdapat dalam masing-masing suppositoria tersebut sama dan dapat memberikan efek
terapi yang sama pula.
5. Uji titik lebur
Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sediaan
supositoria yang dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan dengan cara menyiapkan air dengan
suhu 37C. Kemudian dimasukkan supositoria ke dalam air dan diamati waktu leburnya. Untuk
basis oleum cacao dingin persyaratan leburnya adalah 3 menit, sedangkan untuk PEG 1000
adalah 15 menit.
6. Kerapuhan
Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang menjadikannya
sukar meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastisitas. Supositoria dipotong
horizontal. Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian yang melebar, dengan
jarak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar, kemudian diberi beban seberat 20N
(lebih kurang 2kg) dengan cara menggerakkan jari atau batang yang dimasukkan ke dalam
tabung.
7. Volume Distribusi
Volume distribusi (Vd) merupakan parameter untuk untuk menunjukkan volume penyebaran
obat dalam tubuh dengan kadar plasma atau serum. Volume distribusi ini hanyalah perhitungan
volume sementara yang menggambarkan luasnya distribusi obat dalam tubuh.
Tubuh dianggap sebagai 1 kompartemen yang terduru dari plasma atau serum, dan Vd
adalah jumlah obat dalam tubuh dibagi dengan kadarnya dalam plasma atau serum.

Keterangan :
X = jumlah obat dalam tubuh

C = kadar obat dalam plasma atau serum

DIV = dosis obat dalam pemberian IV

Doral

= dosis obat dalam pemberian oral

F = fraksi dosis oral yang mencapai peredaran darah sistemik dalam bentuk aktif.
= bioavailabilitas absolute obat oral
Co= kadar plasma atau serum pada waktu T = 0 (ekstrapolasi garis eliminasi ke t = 0 )

Besarnya Vd ditentukan oleh ukuran dan komposisi tubuh, kemampuan molekul obat memasuki
berbagai kompartemen tubuh, dan derajat ikatan obat dengan protein plasma dan dengan
berbagai jaringan. Obat yang tertimbun dalam jaringan mempunyai kadar dalam plasma yang
rendah sekali sedangkan Vd nya besar (misalnya, digoksin). Untuk obat yang terikat dengan kuat
pada protein plasma mempunyai kadar plasma yang cukup tinggi dan mempunyai Vd yang kecil
(misalnya, warfarin, tolbutamid dan salisilat).
2.12Monografi
Monografi bahan dalam pembuatan sediaan supositorian adalah sebagai berikut:
1. Aminophyllinum, Teofilin Etilendiamin (FI IV hal 90)

Pemerian: butir atau serbuk putih atau agak kekuningan, bau ammonia lemah, rasa pahit. Jika
dibiarkan di udara terbuka, perlahan-lahan kehilangan etilenadiamina dan menyerap karbon
dioksida dengan melepaskan teofilin. Larutan bersifat basa terhadap kertas lakmus.
Kelarutan: tidak larut dalam etanol dan dalam eter. Larutan 1 g dalam 25 air menghasilkan
larutan jernih, larutan 1 g dalam 5 ml air menghablur jika didiamkan dan larut kembali jika
ditambah sedikit etilenadiamina.
Khasiat: obat asma.
2 Bisakodil, Bisacodylum (FI IV hal 144)
Pemerian: serbuk hablur, putih sampai hampir putih, terutama terdiri dari partikel dengan
diameter terpanjang lebih kecil dari 50 m.
Kelarutan: praktis tidak larut dalam air, larut dalam kloroform, dan dalam benzene, agak sukar
larut dalam etanol dan dalam methanol, sukar larut dalam eter.
Khasiat: obat laksativum atau memperlancar BAB.
3. Oleum Cacao (FI-III hal 453)
Lemak coklat adalahcoklat padat yang diperoleh dengan pemerasan panas biji Theo Broma
Cacao L. yang telah dikupas/ dipanggang.
Pemerian: lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatic, rasa khas lemak agak rapuh.

Kelarutan: sukar larut dalam etanol (95 %)P, mudah larut dalam kloroform P, dalam eter P dan
dalam eter minyak tanah P.
Suhu lebur: 310 340 C.
Khasiat: zat tambahan.
2.13 Alasan Pemilihan Bahan
a. Amynophyllinum
Sebagai bahan aktif yang berkhasiat untuk mengobati asma, zat aktif ini dibuat dalam bentuk
suppositoria karena untuk asma membutuhkan penanganan yang cepat. Efek terapi yang
diberikan jika sediaan dalam bentuk suppositoria lebih cepat daripada dalam bentuk oral.
Sediaan dalam bentuk oral, kerja obatnya harus melalui absorbsi terlebih dahulu, sedangkan
sediaan suppositoria tidak melalui absorbsi sehingga efek terapi yang diberikan akan lebih cepat.
b. Oleum Cacao
Oleum Cacao berdaya guna dalam melepaskan zat aktif daripada yang lain, karena mempunyai
titik lebur pada suhu 31-34. Dibuat dalam bentuk suppositoria ditujukan untuk melebur pada
suhu tubuh, karena oleum cacao digunakan sebagai bahan dasar suppo yang ketambahan zat
aktif, jadi titik leburnya akan menjadi 35-37. Obat yang larut dalam air yang dicampur dengan
oleum cacao, pada umumnya memberi hasil pelepasan yang baik. (Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi: 581). Pada bahan tambahan oleum cacao ini dilebihkan 10% pada basisnya, sebab basis
saat dileburkan selain melebur juga menguap, sehingga berkurang. Selain itu saat di dinginkan
basis akan menyusut dan berkurang oleh karena itu harus dilebihkan 10% pada basisnya.
c. Bisakodil
Sebagai bahan aktif yang berkhasiat untuk menghilangkan rasa nyeri pada buang air besar.
Dibuat dalam bentuk suppositoria karena bentuk sediaan ini akan membantu memberikan efek
terapi yang lebih cepat dari pada dalam bentuk oral. Sediaan dalam bentuk oral, kerja obat harus
melalui absorbsi terlebih dahulu, sedangkan sediaan suppositoria tidak melalui absorbsi sehingga
efek terapi yang diberikan akan lebih cepat.
2.14 Cara pemberian
Pemberian obat dengan sediaan suppositoria dengan memasukkan obat melalui anus atau
rektum dalam bentuk suppositoria

Petunjuk pemakaian: cuci tangan sampai bersih, buka pembungkus suppositoria, kemudian tidur
dengan posisi miring. Supositoria dimasukkan ke rektum dengan cara bagian ujung supositoria
didorong dengan ujung jari, kira-kira -1 inci pada bayi dan 1 inci pada dewasa, bila perlu
ujung supositoria di beri air untuk mempermudah penggunaan. Untuk nyeri dan demam satu
supositoria diberikan setiap 46 jam jika diperlukan. Gunakan supositoria ini 15 menit setelah
buang air besar atau tahan pengeluaran air besar selama 30 menit setelah pemakaian supositoria.
Hanya untuk pemakaian rektal. Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika sakit
berlanjut hingga 3 hari. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jika tertelan atau terjadi over dosis
segera hubungi dokter (Monson, 200
3.4 Prosedur Kerja
Resep 1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Disiapkan alat dan bahan.


Disetarakan timbangan.
Ditimbang aminofillin 430 mg.
Ditimbang ol cacao 3.927g.
Dioleskan paraffin dalam cetakan supositoria.
Dilebur oleum cacao hingga berbentuk seperti massa krim, diangkat.
Dimasukkan aminofillin ke dalam hasil leburan, diaduk ad homogen.
Dituang ke dalam cetakan supositoria.
Dibiarkan dingin dahulu, kemudian dimasukkan kulkas agar memadat (membeku).
Disiapkan alumunium foil sebagai kemasan.
Dilepas supositoria dari cetakan, dibungkus dengan alumunium foil.
Dimasukkan plastik dan diberi etiket biru.

Resep 2 (Bisakodil)
1.

Disiapkan alat dan bahan.

2.

Dibersihkan alat.

3.

Disetarakan timbangan.

4.

Ditimbang Bisakodil dengan pengenceran 50 mg di timbangan halus, ditimbang SL 250 mg.


Lalu dimasukkan kedalam mortir, digerus sampai halus lalu disisihkan.

5.

Ditimbang ol.cacao 4,3846 g dengan cawan porselen di timbangan kasar, lalu dileburkan diatas
penangas. Setelah melebur, diangkat.

6.

Dimasukkan bisakodil kedalam cawan porselen yang berisi leburan ol.cacao, diaduk rata.

7.

Disiapkan cetakan suppo lalu diolesi paraffin dengan kuas.

8.

Dituang sediaan dalam cetakan yang sudah siap.

9.

Ditunggu sampai sedikit dingin kemudian dimasukkan kedalam kulkas.

10. Disiapkan alumunium foil sebagai pembungkus supositoria, setelah mengeras dikeluakan
supositoria dari cetakan lalu dibungkus dengan alumunium foil.
11. Dimasukkan kedalam plastic klip kedan beri etiket biru.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Uji Homogenitas
1. Diambil tiga 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah atau kanan-tengah-kiri).
2. Masing-masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah mikroskop.
3. Cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan dengan cara titrasi.
Uji Keseragaman Bentuk dan Ukuran
1. Diambil suppositoria yang sudah di buat.
2. Diamati satu dengan yang lainnya bentuk dan ukurannya sesuai standar supo (berbentuk
torpedo).
Uji Waktu Hancur
1. Supo dimasukkan dalam air yang di set sama dengan suhu tubuh manusia, selama 3 menit.
Uji Keseragaman Bobot
1. Timbang suppo satu persatu dan hitung rata-ratanya.
2. Hitung persen kelebihan masing-masing suppo terhadap bobot rata-ratanya. Keseragaman/
variasi bobot yang didapat tidak boleh lebih dari 5% (Anonim b, 1995).
Uji Kerapuhan
1. Supositoria dipotong horizontal. Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian yang
melebar, dengan jarak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar.
2. Kemudian diberi beban seberat 20N (lebih kurang 2kg) dengan cara menggerakkan jari atau
batang yang dimasukkan ke dalam tabung.
4.2 Pembahasan
Dalam praktikum ini, dibuat sediaan suppositoria. Dimana pada pembuatan ini, ada dua
resep yang dibuat. Pembuatan resep pertama, yang dilakukan adalah menimbang bahan. Setelah

itu dioleskan paraffin dalam cetakan suppo, dilebur oleum cacao hingga berbentuk seperti massa
krim. Masukkan aminophyllin kedalam hasil leburan, aduk ad homogen. Dituang dalam cetakan
suppo, dibiarkan dingin dahulu, kemudian dimasukkan kedalam kulkas agar memadat.
Dilepaskan suppo dalam cetakan, bungkus dengan alumunium foil yang sudah disiapkan,
masukkan kedalam plastik dan diberi etiket.
Pembuatan resep kedua, yang pertama dilakukan menimbang semua bahan. Oleum cacao
dileburkan diatas penangas, diangkat. Kemudian bisakodil dimasukkan ke dalam cawan porselen
yang berisi oleum cacao, diaduk merata. Dituang sediaan kedalam cetakan suppo yang sudah
diolesi dengan paraffin. Dimasukkan kedalam kulkas agar memadat, kemudian tunggu beberapa
saat. Keluarkan suppo dari cetakan, kemudian bungkus dengan alumunium foil, masukkan
kedalam plastik, diberi etiket. Kedua sediaan suppo yang dibuat memenuhi syarat, karena pada
cara pembuatan sudah benar dan tepat sehingga sediaan menjadi bagus dan tidak rusak.

Suppositoria
Definisi Suppositoria
Suppositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rectal, vagina atau urethra, umumnya melunak, meleleh atau melarut dalam
suhu tubuh. Suppositoria umumnya dimasukkan melalui rectum, vagina, kadang-kadang melalui
saluran urin dan jarang melalui telinga dan hidung. Bentuk dan beratnya berbeda-beda. Bentuk
dan ukurannya harus sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam
lubang atau celah yang diinginkan tanpa menimbulkan kejanggalan dan penggelembungan begitu
masuk, harus dpat bertahan untuk suatu waktu tertentu. Suppositoria untuk rectum umumnya
dimasukkan dengan jari tangan, tetapi untuk vagina khususnya vaginal insteril atau tablet vagina
yang diolah dengan cara kompresi dapat dimasukkan ke dalam vagina dengan bantuan alat
khusus. Bahan dasar yang sering digunakan adalah lemak coklat (oleum cacao), polietilen glikol,
atau lemak tengkawang atau gelatin.bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan lain adalah 3 gr
untuk orang dewasa dan 2 gr untuk anak.supositoria supaya disimpan dalam wadah tertutup baik
dan ditempat yang sejuk. Bentuk torpedo mempunyai keuntungan, yaitu bila bagian yang besar
masuk melalui otot penutup dubur, maka supositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya.
Penggunaan obat dalam supositoria ada keuntungannya dibanding penggunaan obat per os ,
yaitu :

Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung


Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan
Langsung dapat masuk saluran darah berakibat akan memberi efek lebih cepat daripada

penggunaan obat per os


Bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar
1.2 Isi berat dari supositoria dapat ditentukan dengan
Menimbang obat untuk sebuah supositoria
Mencampur obat tersebut dengan sedikit bahan dasar yang telah dilelehkan
Memasukkan campuran tersebut dalam cetakan
Menambah bahan dasar yang telah dilelehkan sampai penuh
Mendinginkan cetakan yang berisi campuran tersebut.setelah dingin supositoria dikeluarkan dari

cetakan dan ditimbang


Berat supositoria dikurangi berat obatnya merupakan berat bahan dasar yang harus ditambahkan
Berat jenis obat dapat dihitung dan dibuat seragam
Untuk menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk menghindari masa
yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan parafin ,miyak
lemak,spritus saponatus .yang terakhir jangan digunakan untuk supositoria yang mengandung
garam logam , karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat digunakan
larutan oleum ricini dalam etanol.untuk supositoria dengan bahan dasar PEG dan tween tidak
perlu bahan pelicin karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakan karena mengkerut.

1.3 Syarat basis yang ideal


a.
Melebur pada temperature rectal
b.
Tidak toksik, tidak menimbulkan iritasi dan sensitisasi
c.
Dapat dicampur dengan berbagai obat
d.
Tidak terbentuk metastabil
e.
Mudah dilepas dari cetakan
f.
Memiliki sifat pembasahan dan emulsifikasi
g.
Bilangan airnya tinggi
h.
Stabil baik secara fisika ataupun kimia
i.
Tidak mempengaruhi efektivitas obat
j.
Memberi bentuk yang sesuai untuk memudahkan pemakaiannya
k.
Mempengaruhi pelepasan bahan aktif . Pelepasan yang cepat dibutuhkan apabila bahan
aktif untuk tujuan secara sistemik, dan pelepasan yang lebih lambat apabila bahan aktif untuk
tujuan local. Cara fabrikasi mudah
1.2 Faktor pemilihan basis suppositoria
A. Selama produksi
1. Kontraksi. Sedikit kontraksi pada saat pendinginan volume suppositoria diinginkan untuk
memudahkan pengeluaran dari cetakan

2. Ke-inert-an. Tidak boleh ada interaksi kimia antara basis dengan bahan aktif
3. Solidifikasi. Interval antara titik leleh dengan titik solidifikasi harus optimal : jika terlau pendek
maka penuangan lelehan ke dalam cetakan akan sulit ; jika terlau panjang waktu solidifikasi akan
menjadi lama sehingga laju produksi suppositoria akan menurun.
4. Viskositas. Jika viskositas tidak cukup, komponen terdispersi dari campuran akan membentuk
sedimen
B. Selama penyimpanan
1. Ketidakmurnian. Kontaminasi bakteri/fungi harus diminimalisir dengan basis non-nutritif
dengan kandungan air minimal.
2. Pelembekan. Suppositoria harus diformulasi agar tidak melembek atau meleleh selama
transportasi atau penyimpanan. Stabilitas. Bahan yang dipilh tidak teroksidasi saat terpapar
udara, kelembapan atau cahaya.
1.3 Hal-hal yang diperhatikan untuk pemilihan basis suppositoria
a. Asal dan komposisi kimia
b. Rentang pelelehan
Spesifikasi suhu leleh basis suppositoria(terutama basis lemak) menyatakn suatu rentang suhu
leleh daripada suatu ititk leleh tunggal. Hal ini karena terdapat suatu rentang suhu antara bentuk
stabil dan tidak stabil, suatu hasil dari polimorfisme dari bahan tersebut. Penambahan cairan ke
dalam basis umunya cenderung menurunkan suhu leleh dari suppositoria akhir, sehingga
disrankan penggunaan basis dengan suhu leleh lebih tinggi. Sedangkan, penambahan sejumlah
besar serbuk fine akan meningkatkan viskositas produk, sehingga diperlukan basis dengan suhu
leleh yang lebih rendah.
c. Titik pemadatan
d. Bilangan saponifikasi
e. Bilangan iodide
Oksidasi basis supositoria dapat menjadi masalah. Karena sensitivitas dari jaringan mukosa
rectal dan potensinya terpapar basis suppositoria yang meleleh, maka antioksidan yang memiliki
potensi mengiritasi tidak dianjurkan digunakan dalam suppositoria. Untuk mencegah
penggunaannya, sebaiknya digunakan basis dengan bilangan iodine <3 ( dan lebih diutamakan
<1)
f. Bilangan air(jumlah air yang dapat diserap dalam 100 g lemak)
g. Bilangan asam
h. Solid-Fat-Index( SFI)
i. Bilangan hidroksil
Bahan yang memiliki bilangan hidroksil yang rendah juga memberikan stabilitas yang lebih baik
dalam kasus dimana zat aktif sensitive terhadap adanya radikal hidroksi.

1.4

Pembuatan suppositoria
Suppositoria dibuat dengan 3 metode, yaitu : Pembuatan dengan cara mencetak, kompresi dan
digulung serta dibentuk dengan tangan. Metode yang sering digunakan pada pembuatan
suppositoria baik dalam skala kecil maupun skala industry adalah dengan pencetakan.

1. Pembuatan dengan cara mencetak


Pada dasarnya langkah-langkah dalam metodepencetakan termasuk:
a) Melebur basis
b) Mencampurkan bahan obat yang diinginkan
c) Menuang hasil leburan ke dalam cetakan
d) Membiarkan leburan menjadi dingin dan mengental menjadi suppositoria
e) Melepaskan suppositoria dengan oleum cacao, gelatin gliserin, polietilen glikol, dan banyak
basis suppositoria lainnya yang cocok dibuat dengan cara mencetak.
Cetakan suppositoria terdapat di pasaran dengan kemampuan produksi satu per satu atau
sejumlah tertentu suppositoria dari berbagai bentuk dan ukuran. Untuk membuat suppositoria
satu per satu bisa digunakan cetakan dari plastic. Cetakan-cetakan lainnya seperti yang umum di
dapatkan di Apotek dapat menghasilkan suppositoria 6, 12 atau lebih dalam 1 x pmbuatan.
Cetakan yang digunakan di industry menghasilkan ratusan suppositoria dari suatu pencetak
tunggal. Cetakan yang umum digunakan sekarang terbuat dari stainless steel, alumunium,
tembaga atau plastic. Cetakan yang dipisah-pisah dalam sekat-sekat umumnya dapat dibuka
secara membujur untuk membersihkan sebelum dan sesudah pembuatan satu batch suppositoria.
Pada waktu leburan dituangkan, cetakan ditutup dan dibuka lagi bila akan mengeluarkan
suppositoria yang sudah dingin. Harus berhati-hati dalam membersihkan cetakan ini, sebab satu
goresan kecil sajaterjadi pada permukaan cetakanakan menghilangkan kelicinan suppositoria
yang dihasilkan. Terutama cetakan dari bahan plastic sangat mudah dihasikan.
Pelumasan cetakan. Tergantung pada formulasinya, cetakan suppositoria mungkin memerlukan
peumasan sebelum leburan dituangkan ke dalamnya, supaya bersih dan dan memudahkan
terlepasnya suppositoria dari cetakan. Pelumasan jarang diperlukan bagi suppositoria dengan
basisoleum cacao, atau PEG, karena bahan ini cukup untuk menciut begitu dingin dalam cetakan,
sehingga akan terlepas dari permukaan cetakan dan mudah dikeluarkan. Pelumasan biasanya
diperlukan bilamana membuat suppositoria dengan basis gelatin gliserin. Lapisan tipis dari
minyak mineral dioleskan dengan jari pada permukaan cetakan, biasanya cukup untuk suatu
pelumasan. Harus diingat bahwa bahan-bahan yang mungkin menimbulkan iritasi terhadap
membrane mukosa seharusnya tidak digunakan sebagai pelumas cetakan suppositoria.

Kalibrasi cetakan. Langkah pertama dalam kalibrasi cetakan yaitu membuat dan mencetak
suppositoria dari basis saja. Cetakan dikeluarkan dari cetakan rata-ratanya ( bagi pemakaian
basis tertentu ). Untuk menentukan volume cetakan suppositoria tadi lalu dilebur dengan hatihati dalam gelas ukur dan volume leburan ini ditentukan untuk keseluruhan dan rata-ratanya.
2. Pembuatan dengan cara kompresi
Suppositoria dapat juga dibuat dengan menekan massa yang terdiri dari campuran basis dengan
bahan obatnya dalam cetakan khusus memakai alat / mesin pembuat suppositoria. Dalam
pembuatan dengan cara kompresi dalam cetakan, basis supositoria dan bahan lainnya dalam
formula dicampur / diaduk dengan baik, pergeseran pada proses tersebut menjadikan
suppositoria lembek seperti kentalnya pasta. Dalam pembuatan skala kecil digunakan mortar dan
alunya, apabila mortar ini dipanaskan dalam air hangat sebelum digunakan lalu dikeringkan,
sangat membantu pembuatan basis dan proses pencampuran. Dalam skala besar proses yang
sama juga digunakan, pengadukan adonan dilakukan secara mekanis dan menggunakan wadah
pencampur dipanaskan.
Proses kompresi umumnya cocok untuk pembuatan suppositoria yang mnegandung bahan obat
yang tidak tahan pemanasan dan untuk suppositoria yang mengandung sebagian besar bahan
yang tidak dapat larut dalam basis. Berbeda dengan metode pencetakan pada pengolahan
suppositsoria dengan cara kompresi tidak memungkinkan bahan yang tidak dapat larut
mengendap. Kelemahan proses ini adalah bahwa mesin suppositoria khusus dibutuhkan dan ada
beberapa keterbatasanseperti bentuk suppositoria yang hanya dapat dibuat dari cetakan yang ada
saja.
3. Pembuatan secara menggulung dan membentuk dengan tangan
Dengan terdapatnya cetakan suppositoria dalam macam-macam ukuran dan bentuk, pengolahan
suppositoria dengan tangan oleh ahli farmasi sekarang rasanya hamper tidak pernah dilakukan.
Namun demikian melinting dan membentuk suppositoria dengan tangan merupakan bagian dari
sejarah dan seni para ahli farmasi.
1.5

Pengemasan dan Penyimpanan


Suppositoria gliserin dan suppositoria gelatin gliserin umumnya dikemas dalam wadah gelas
ditutup rapat supaya mencegah oerubahan kelembapan dalam isi suppositoria. Suppositoria yang
diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpiah-pisah atau dipisahkan satu sama
lainnya pada celah-celah dalam kotak untuk mencegah terjadinya hubungan antar suppositoria

tersebut dan mencegah perekatan. Suppositoria dengan kandungan obat yang sedikit
pekatbiasanya dibungkus satu per satu dalam bahan tidak tembus cahaya seperti lembaran metal
( alufoil ). Sebenarnya kebanyakn suppositoria yang terdapat di pasaran di bungkus dengan
alufoil atau bahan plastic satu per satu. Beberapa diantaranya dikemas dalam strip kontinu berisi
suppositoria yang dipisahkan dengan merobek lubang-lubang yang terdapat diantara suppositoria
tersebut. Suppositoria ini biasa juga dikemas dalam kotak dorong ( slide box ) atau dalam kotak
plastic.
Karena suppositoria tidak tahan panas pengaruh panas, maka perlu menjaga dalam tempat yang
dingin. Suppositoria yang basisnya oleum cacao harus disimpan di bawah 30 0F dan akan lebih
baik bila disimpan dalam lemari es. Suppositoria gelatin gliserin baik sekali bila disimpan di
bawah 350F. suppositoria dengna basis polietilen glikol mungkin dapat disimpan dalam suhu
ruangan biasa tanpa pendinginan. Supositoria yang disimpan dalam lingkungan yang
kelembaban nisbinya tinggi mungkin akan menarik uap air dan cenderung menjadi seperti spon
sebaliknya bila disimpan dalam tempat yang kering sama sekali mungkin akan kehilangan
kelembapannya sehingga akan menjadi rapuh.
1.6 Evaluasi Suppositoria
1. Appearance
Tes ini lebih ditekankan pada distribusi zat berkhasiat didalam basis suppo.suppo dibelah secara
longitudinal kemudian dibuat secara visual pada bagian internal dan bagian eksternal dan harus
nampak seragam.penampakan permukaan serta warna dapat digunakan untuk mengevaluasi
ketidakadaan :
Celah
Lubang
Pengembangan lemak
Migrasi senyawa aktif
(Pharmaceutical Dosage From Disperse SystemVolume 2, Herbert A.Lieberman,1989,hal.552)
2. Keragaman Bobot
Timbang masing-masing suppo sebanyak 20, diambil secara acak. Lalu tentukan bobot rata-rata.
Tidak lebih dari 2 suppo yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari % deviasi,
yaitu 5% (BP 2002, Appendix XII H, A.253, FI IV 1995 hal.999)
3. Waktu Hancur / Disintegrasi
Uji ini perlu dilakukan terhadap suppo kecuali suppo yang ditujukan untuk pelepasan
termodifikasi atau kerja lokal diperlama. Suppo yang digunakan untuk uji ini sebanyak 3 buah.
Suppo diletakkan dibagian bawah perforated disc pada lalat, kemudian dimasukkan ke silinder
yang ada pada alat. Lalu diisi sebanyak 4 liter dengan suhu 36-37C dan dilengkapi dengan

stirer. Setiap 10 menit balikkan tiap alat tanpa mengeluarkannya dari air. Disintegrasi tercapai
ketika suppo:
a)
Terlarut sempurna
b)
Terpisah dari komponen-komponennya, yang mungkin terkumpul di permukaan air
(bahan lemak meleleh) atau tenggelamdi dasar 9serbuk tidak larut) atau terlarut (komponen
mudah larut) atau dapat terdistribusi disatu atau lebih cara ini
c)
Menjadi lunak, dibarengi perubahan bentuk, tanpa terpisah sempurna menjadi
komponennya, massa tidak lagi memiliki inti padatan yang membuatnya tahan terhadap tekanan
dari pengaduk kaca.
Suppo hancur dalam waktu tidak lebih dari 30 menit untuk suppo basis lemak dan
tidak lebih dari 60 menit untuk suppo basis larut air. (BP 2002, A237, FI IV hal 1087-1088)
4. Ketegasan / ehancuran, Suppositoria
Tes ini menentukan ketegarn suppo di bawah kondisi tertentu terhadap pemecahan suppositoria
dan ovula yang diukur dengan menggunakan sejumlah tertentu massa atau beban untuk
menghancurkannya. Tes ini didasarkan untuk suppo dan ovula berbasis lemak. Uji ini tidak
sesuai untuk sediaan yang memiliki bahan pembantu hidrofilik, seperticampuran gelatin-giserol.
Metode
Cek apakah alat yang digunakan sudah dalam keadan vertikal atau belum. Alat dipanaskan
sampai suhunya 25 C. Sediaan yang akan diuji telah diletakkan dalam suhu yang sesuai dengan
suhu yang akan digunakan minimal 24 jam. Tempatkan sediaan diantara kedua penjepit dengan
bagian ujung menghadap ke atas.
Tunggu selama 1 menit dan tambahkan lempeng 200 g pertama. Tunggu lagi selama 1 menit dan
tambahkan lempeng berikutnya. Hal tersebut diulang dengan cara yang sama sampai sediaan
hancur. Massa yang dibutuhkan menghancurkan sediaan (termasuk massa awal yang terdapat

pada alat). Hal-hal yang perlu diperhatikan:


Apabila sediaan hancur dalam 20 detik setelah pemberian lempeng terakhir maka massa yang

terakhir ini tidak masuk dalam perhitungan.


Apabila sediaan hancur dalam waktu antara 20 dan 40 detik setelah pemberian lempeng terakhir
maka massa yang dimasukkan ke dalam perhitungan hanya setengah dari massa yang digunakan,

misal 100 gram.


Apabila sediaan belum hancur dalam waktu lebih dari 40 detik setelah pemberian lempeng
terakhir maka seluruh massa lempeng terakhir dimasukkan ke dalam perhitungan. (BP2002,

A334, Teori dan Praktek Farmasi Indonesia, Leon Lachman, 1989, hal.1192-1193)
5. Berhubungan dengan pelelehan suppositoria

a.

Kisaran Leleh

Uji ini disebut juga uji kisaran meleleh makro, dan uji ini merupakan suatu ukuran waktu yang
diperlukan suppositoria untuk melelh sempurna bila dicelupkan ke dalam penanggas air dengan
temperature tetap ( 370C ). Sebaliknya uji kisaran meleleh mikro adalah kisaran leleh yang
diukur dalam pipa kapiler hanya untuk basis lemak. Alat yang biasa digunakan untuk mengukur
kisaran leleh sempurna dari suppositoria adalah suatu alat disintegrasi tablet USP. Suppositoria
dicelupkan seluruhnya dalam penanggas air yang konstan dan waktu yang diperlukan untuk
meleleh sempura atau menyebar dalam air sekitarnya diukur (Teori Praktek Famasi Industri,
Leon Lachman, 1989, hal. 1191-1192 ).
b.

Uji Pencairan atau Uji Melunak dari Suppositoria

Uji ini mengukur waktu yang diperlukan suppositoria rectal untuk mencair dalam alat yang
disesuaikan dengan kondisi in vivo. Suatu penyaringan melalui selaput semi permeable diikat
pada kedua ujung kondensor dengan masing-masing ujung pipa terbuka. Alat pada 37 0C
disirkulasi melalui kondensor sehingga separuh bagian bawah pipa kempis dan separuh bagian
atas membuka. Tekanan hidrostatis air dalam alat tersebut kira-kira nol ketika pipa tersebut mulai
kempis. Suppositoria akan sampai pada level tertentu dan aktu tersebut diukur untuk suppositoria
meleleh dengan sempurna dalam pipa tersebut (Teori Praktek Famasi Industri, Leon Lachman,
1989, hal. 1192 ).
c.

Pelelehan dan Pemadatan

Pembebasan senyawa aktif dari basisnya adalah fungsi langsung dari suhu melelehnya. Untuk
mendapatkan efek terapik yang ideal dari sediaan ini maka pemahaman yang bak terhadap
factor-faktor dalam pembuatan sediaan, pada saat perolehan ( atau fusion ) dan pemadatan, akan
menentukan bioavailabilitas optimum dari sediaan akhir. Metode yang umum digunakan adalah :

Tabung kapiler terbuka

Tabung U

Titik jatuh

( Pharmaceutical Dosage Form Disperse System Volume 2, Herbert A. Liberman, 1989, hal.
555 )
6. Keseragaman Kandungan
Sediaan menggunakan uji ini apabila tidak lebih dari 1 sediaan mempunyai kandungan di luar
75-125% rata-rata kandungan. Sediaan tidak dapat menggunakan uji ini apabila terdapat lebih

dari 3 sediaan mempunyai kandunag di luar batas 85-115% dari rata-rata kandungan atau apabila
satu atau lebih sediaan mengandung lebih 75-125%.
Apabila 2 atau 3 sediaan mempunyai kandungan di luar batas 85-115% tetapi di dalam batas75115% maka dilkukan penentuan setiap kandungan di dalam 20 sediaan lainnya yang di ambil
secara acak. Sediaan di uji apabila tidak lebih dari 3 kandungan sediaan dari jumlah 30 sediaan
yang diperiksa berada di uar batas 85-115% rata-rata kendungan dan tidak ada yang berada di
luar batas 75-115% rata-rata kandungan. ( BP 2002, A253 )
7. Penentuan Waktu Pelembekan dari Suppositoria Lipotik
Uji ini dilakukan untuk menentukan waktu yang di butuhkan di dalam air sampai sediaan
melembek hingga sediaan tidak mempunyai ketegaran / ketahanan saat berat tertentu diberikan.
Metode ini dapat menggunakan beberapa alat. ( BP 2002, A332 )
8. Metode Uji Disolusi Sediaan Suppositoria
Belum ada metode atau desain alat yang dijadikan standar untuk digunakan
dalam laboratorium farmasi. Factor-faktir yang dapat mempengaruhi disolusi
farmasi dari sediaan suppositoria : pengaruh surfaktan dan kelarutan,
pengaruh viskostas, zat tambahan dan ukuran partikel zat aktif. ( Abdou,
Dissolution, Bioavalability and Bioequivalence; TA A673, Teori Praktek Famasi
Industri, Leon Lachman, 1989, hal. 1194 )
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur,
umumnya berbentuk seperti torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh
pada suhu tubuh.
Bahan dasar harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh
sebagai

contoh

bahan

dasar

digunakan

lemak

coklat,

polietilenglikol

berbobot molekul tinggi, lemak atau bahan lain yang cocok. Kecuali
dinyatakan lain digunakan lemak coklat.
Bobot kecuali dinyatakan lain, bobot suppositoria dengan bahan dasar
lemak coklat untuk dewasa 3 g dan anak-anak 2g.
Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, di tempat sejuk.
(Depkes RI, 1979)
Penggunaan obat dalam suppositoria ada keuntungan dibandingkan
penggunaan per oral yaitu :
- Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung
- Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan
- Langsung dapat masuk saluran darah berakibat akan memberikan
efek lebih cepat

daripada penggunaan per oral


- Cocok bagi pasien mudah muntah atau tidak sadar
Untuk menghindari masssa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan
untuk menghindari massa yang melekat pada cetakan maka cetakan
sebelumnya dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spiritus saponatus (Soft
Soap Liniment). Yang terakhir jangan gunakan untuk suppositoria yang
mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan
sebagai pengganti dapat digunakan larutan oleum ricini dalam etanol.
Untuk suppositoria dengan bahan dasar PEG dan tween tidak perlu
bahan pelicin karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakan karena
mengkerut.
(Anief, 2000)
Jika tentang suppositoria yang akan dibuat tidak dikatakan lain, maka
digunakan bahan dasar olen cacao. Dimana sebagian kecil oleum cacao
boleh diganti dengan malam kuning atau unguentum simplek. Selanjutnya
farmakope

menyatakan

bahwa

bahwa

menurut

sifatnya

dilarutkan dalam air sebelum dicampur dengan oleum cacao.


Pada pembuatannya kita selalu mengambil massa

obat
untuk

harus
satu

suppositoria lebih banyak daripada yang harus dibuat. Jika pada pembuatan
suppositoria harus dituang suatu massa yang cair maka lansung bisa dituang
ke dalam cetakan.
Dalam petunjuk dalam farmakope, bahwa dikehendaki supaya obat
yang berkhasiat dalam jumlah yang kecil digrus dengan air karena itu
dipakai sebagai peraturan: garam-garam alkaloida selalu digerus dengan
beberapa tetes air.
(Van Duin, 1958)
Bahan;
1.

suppositoria Na salisilat basis oleum cacao

2.

suppositoria Na salisilat basis PEG

3.

FeCl3

IV.

CARA KERJA

Uji kekerasan suppositoria


Suppositoria diletakkan pada alat uji kekerasan yang sudah ada beban
600gram
Dihitung waktunya

Tiap pertambahan waktu 1 menit ditambahkan beban sebesar 200 gram

Dilakukan sampai suppositoria pecah

Dicatat waktunya dan dihitung jumlah beben yang ditambahkan

Uji waktu leleh suppositoria


Disiapkan suppositoria yang akan ditetapkan waktu lelehnya
Formula I ( PEG)
Formula II ( oleum cacao)

Dihubungkan semua system sirkulasi

Dimasukka suppositoria kedalam spiral erwaka

Diatur batang kaca hingga tepat menyentuh suppositoria

Bagian alat dimasukkan dalam tabung ( skala sejajar dengan


permuakaan air diluarnya)
Waktu dijalankan saat air menyentuh suppositoria

Dihentikan stopwatch sampai fraksi suppositoria hilang dari spiral kaca

Dilakukan 2X percobaan untuk masing- masing suppositoria

Ditetapkan pengaruh formula Vs waktu leleh

Uji pelepasan obat

Dituang air 1000ml ke dalam beker glass

Dipanaskan sampai 37oC

Dimasukkan pengaduk magnetik stirer


Dimasukkan suppositoria dalam medium sambil mulai dihitung waktunya

Di ambil 5ml sample pada menit ke

Dikembalikan medium disolusi dengan penanbahan aquadest 5 ml yang


bersuhu 37oC

Ditetapkan kadar obat yang terlepaskan

Diambil sample 5ml sample + 1 ml FeCl3 dan + aquadest ad 10 ml


dalam labu takar

Dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 525 nm

Dihitung kadar terdisolusi Na salisilat


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Supositoria
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai
bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal, vagina atau uretra.
Menurut Farmakope Indonesia

Edisi

III, Supositoria adalah sediaan padat yang

digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torepedo dapat melarut, melunak atau meleleh
pada subu tubuh.
2.1.1 Macam-Macam Suppositoria
Berdasarkan tempat pemberiannya suppositoria dibagi menjadi:
a.

Suppositoria untuk rectum (rectal)


Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Biasanya suppositoria
rektum panjangnya 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam.
Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung
kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 gram

untuk yang menggunakan basis oleum cacao (Ansel,2005 ).


b. Suppositoria untuk vagina (vaginal)
Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya berbentuk bola lonjong atau seperti
kerucut, sesuai kompendik resmi beratnya 5 gram apabila basisnya oleum cacao.
c. Suppositoria untuk saluran urin (uretra)
Suppositoria untuk untuk saluran urin juga disebut bougie, bentuknya rampiung seperti pensil,
gunanya untuk dimasukkan kesaluran urin pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria
bergaris tengah 3-6 mm dengan panjang 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu
dengan yang lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao beratnya 4 gram. suppositoria untuk

saluran urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria, panjang 70 mm dan
beratnya 2 gram, inipun bila oleum cacao sebagai basisnya.
d. Suppositoia untuk hidung dan telinga
Suppositoia untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut telinga, keduanya berbentuk
sama dengan suppositoria saluran urin hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm.
suppositoria telinga umunya diolah dengan suatu basis gelatin yang mengandung gliserin. Seperti
dinyatakan sebelumnya, suppositoria untuk obat hidung dan telinga sekarang jarang digunakan.
2.1.3 Keuntungan dan Kerugian Supositoria
Keuntungan Supositoria:
a. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung
b. Dapat menghindari keruskan obat oleh enzim pencernaan dan asam lambung
c. Obat dapat masuk langsung kedalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat
daripada penggunaan obat peroral
d. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar
Kerugian Supositoria
a. Pemakaiannya tidak menyenangkan
b. Tidak dapat disimpan pada suhu ruang
2.1.4 Tujuan penggunaan suppositoria yaitu :
a. Supositoria dipakai unjtuk pengobtan local,baik di dalam rectum,vagina,atau uretra,seperti pada
penyakit haemorroid/wasir/ambeien,dan infeksi lainnya.
b. Cara rectal juga digunakan untuk distribusi sistemik,karena dapat diserap oleh membran mukosa
dalam rectum .
c. Jika penggunaan obat secara oral tidak memungkinkan,misalnya pada pasien yang mudah
muntah atau pasien yang tidak sadarkan diri.
d. Aksi kerja awal akan cepat diperoleh,karena obat diabsorpsi melalui mukosa rectum dan
langsung masuk dalam sirkulasi darah.
e. Agar terhindar dari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan
obat secara biokimia di dalam hati.
2.2 Basis suppositoria
Sediaan supositoria ketika dimasukkan dalam lubang tubuh akan melebur, melarut dan
terdispersi. Dalam hal ini, basis supositoria memainkan peranan penting. Maka dari itu basis
supositoria harus memenuhi syarat utama, yaitu basis harus selalu padat dalam suhu ruangan dan
akan melebur maupun melunak dengan mudah pada suhu tubuh sehingga zat aktif atau obat yang
dikandungnya dapat melarut dan didispersikan merata kemudian menghasilkan efek terapi lokal

maupun sistemik. Basis supositoria yang ideal juga harus mempunyai beberapa sifat seperti
berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.


Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna dan bau serta pemisahan obat.
Kadar air mencukupi.
Untuk basis lemak, maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus
diketahui jelas.
2.2.1 Persayaratan basis Suppositoria

1. Secara fisiologi netral ( tidak menimbulkan rangsangan pada usus, hal ini dapat disebabkan oleh
massa yang tidak fisiologis ataun tengik, terlallu keras, juga oleh kasarnya bahan obat yang
diracik)
2. Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat)
3. Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil)
4. Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (pembekuan dapat berlangsung cepat dalam
cetakan,kontraksibilitas baik, mencegah pendinginan mendaak dalam cetakan)
5. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir denagn titik lebur jernih (ini dikarenakan untuk
kemantapan bentuk dan daya penyimpanan, khususnya pada suhu tinggi sehingga tetap stabil).
2.2.2 Macam-macam basis Suppositoria.
1. Basis berlemak, contohnya : oleum cacao.
2. Basis lain, pembentuk emulsi dalam minyak :campuran tween dengan gliserin laurat.
3. Basis yang bercampur atau larut dalam air, contohnya : gliserin-gelatin, PEG (polietien glikol).

2.2.3 Bahan dasar supositoria


1. Bahan dasar berlemak : oleum cacao
Lemak coklat merupakan trigliserida berwarna kekuninagan, memiliki bau yang khas dan
bersifat polimorf (mepunyai banyak bentuk krital). Jika dipanaskan pada suhu sektiras 30C akan
mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 34-35C, sedangkan dibawah 30C berupa massa
semipadat. Jika suhu pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencai sempurna seperti minyak
dan akan kehilangan semua inti Kristal metastabil.
Keuntungan oleum cacao :
a.

Dapat melebur pada suhu tubuh

b. Dapat memadat pada suhu kamar


Kerugian oleum cacao :
a.

Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (cairan pengeluaran).

b. Titik leburnya tidak menentu, kadang naik dan kadang turun apabila ditambahkan dengan bahan
tertentu.
c.

Meleleh pada udara yang panas.

2. PEG (Polietilenglikol)
PEG merupakan etilenglikol terpolimerisasi dengan bobot molekul antara 300-6000. Dipasaran
terdapat PEG 400 (carbowax 400). PEG 1000 (carbowax 1000), PEG 1500 (carbowax 1500),
PEG 4000 (carbowax 4000), dan PEG 6000 (carbowax 6000). PEG di bawah 1000 berbentuk
cair, sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Formula PEG yang dipakai
sebagai berikut:
1. Bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4% (25%) dan PEG 1000 96% (75%)
2. Bahan dasar berair : PEG 1540 30%, PEG 6000 50% dan aqua+obat 20%
Titik lebur PEG antara 35-63C, tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi
tubuh.
Keuntungan menggunakan PEG sebagai basis supositoria, antara lain:
1. Tidak mengiritasi atau merangsang
2. Tidak ada kesulitan dengan titik leburnya, jika dibandingkan dengan oleum cacao
3. Tetap kontak dengan lapisan mukosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh
Kerugian jika digunakan sebagai basis supositoria, antara lain :
1. Menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan, sehingga timbul rasa yang menyengat.
Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan supositoria ke dalam air dahulu sebelum
digunakan.
2. Dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga mengahambat pelepasan obat.
Pembuatan supositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar, lalu dituangkan
ke dalam cetakan seperti pembuatan supositoria dengan bahan dasar lemak coklat
2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Absobsi obat per rektal

Rektum mengandung sedikit cairan dengan PH 7,2 dan kapasitas dapar rendah. Epitel
rektum sifatnya berlipoid (berlemak) maka diutamakan permeabel terhadap obat yang tidak
terionisasi (obat yang mudah larut lemak.
2.4 Nilai Tukar
Pada pembuatan supositoria menggunakan cetakan, volume supositoria harus tetap. Tetapi,
bobotnya beragam tergantung pada jumlah dan bobot jenis yang dapat diabaikan, misalnya
ekstrak belladonea dan garam alkaloid.
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot minyak cokelat yang mempunyai
volume yang sama dengan 1g obat.
Nama Obat
Acidum boricum
Garam alkaloid
Bismuth subgallas
Ichtam molum
Tanninum
Aethylis aminobenzoas
Aminoplhylinum
Bismuth subnitras
Sulfonamidum
Zinci oxydum

Nilai tukar ol cacao per 1g


0.65
0.7
0.37
0.72
0.68
0.68
0.86
0.20
0.60
0.25

Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0.7 kecuali untuk garam bismuth dan zink
oksida. Untuk larutan nilai tukarnya dianggap satu. Jika supositoria mengandung obat atau zat
padat yang banyak, pengisisan pada cetakan berkurang dan jika dipenuhi dengan campuran
massa, akan diperoleh jumlah obat yang melebihi dosis. Oleh sebab itu, untuk membuat
supositoria yang sesuai dapat dilakukan dengan cara menggunakan perhitungan nilai tukar
(Syamsuni hal 161).
2.5 Uji Bahan Aktif
1. Titik lebur
Titik lebur adalah suhu di mana zat yang kita uji pertama kali melebur atau meleleh seluruhnya
yang ditunjukan pada saat fase padat cepat hilang. Dalam analisa farmasi titik lebur untuk
menetapkan karakteristik senyawa dan identifikasi adanya pengotor. Untuk uji titik lebur di

butuhkan alat pengukuran titik lebur yaitu, Metting Point Apparatus (MPA) alat ini digunakan
untuk melihat atau mengukur besarnya titik lebur suatu zat.
2. Bobot jenis
Bobot jenis adalah perbandingan bobot jenis udara pada suhu 25

terhadap bobot air dengan

volume dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan membagi
bobot jenis dengan bobot air dalam piknometer. Lalu dinyatakan lain dalam monografi keduanya
ditetapkan pada suhu 25

. (FI IV hal 1302). Bobot jenis dapat digunakan untuk :

Mengetahui kepekaan suatu zat


Mengetahui kemurniaan suatu zat
Mengetahui jenis zat
Alat yang digunakan untuk mengukur bobot jenis.
Piknometer untuk menentukan bobot jenis zat padat dan zat cair. Zat padat berbeda dengan zat
cair, zat padat memiliki pori dan rongga sehingga berat jenis tidak dapat terdefenisi dengan jelas.
Berat jenis sejati merupakan berat jenis yang dihitung tanpa pori atau rongga ruang. Sedangkan
berat jenis nyata merupakan berat jenis yang di hitung sekaligus degan porinya sehingga
nyata <

sejati.

2.6 Metode Pembuatan


Pembuatan supositoria secara umum yaitu bahan dasar supositoria yang digunakan dipilih
agar meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam bahan dasar, jika perlu dipanaskan. Jika
obat sukar larut dalam bahan dasar, harus dibuat serbuk halus. setelah campuran obat dan bahan
dasar meleleh atau mencair, tuangkan ke dalam cetakan supositoria kemudian didinginkan.
Tujuan dibuat serbuk halus untuk membantu homogenitas zat aktif dengan bahan dasar.
Cetakan suppositoria terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau logam lainnya, namun ada
juga yang terbuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan
supositoria. Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan, supositoria harus
dibuat berlebih (10%), dan sebelum digunakan cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan
parafin cair atau minyak lemak, atau spiritus sapotanus (Soft Soap liniment) agar sediaan tidak
melekat pada cetakan. Namun, spiritus sapotanus tidak boleh digunakan untuk supositoria yang

mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti
digunakan oleum recini dalam etanol. Khusus supositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween
bahan pelicin cetakan tidak diperlukan, karena bahan dasar tersebut dapat mengerut sehingga
mudah dilepas dari cetakan pada proses pendinginan.
Metode pembuatan supositoria :
a. Dengan tangan
Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan
mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian
diaduk dengan bahan-bahan aktif dengan menggunakan mortir dan stamper, sampai diperoleh
massa akhir yang homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu
batang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat
mencegah pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu ujungnya
diruncingkan.
b. Dengan mencetak kompresi
Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin menjadi suatu bentuk yang
dikehendaki. Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada massa suppositoria yang
diisikan dalam silinder, sehingga massa terdorong kedalam cetakan.
c. Dengan mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau penangas uap untuk
menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan
atau disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam yang telah
didinginkan, yang umumnya dilapisi krom atau nikel.
2.7 Pengemasan Supositoria
a. Supositoria gliserin dan supositoria gelatin gliserin umumnya dikemas dalam wadah gelas
ditutup rapat supaya encegah perubahan kelembapan dalam isi supositoria.
b. Supositoria yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpisah-pisah atau
dipisahkan satu sama lain pada celah-celah dalam kotak untuk mencegah perekatan.
c. Supositoria dengan kandungan obat yang sedikit lebih pekat biasnya dibungkus satu per satu
dalam bahan tidak tembus cahaya seperti lembaran metal (alumunium foil)
2.8 Evaluasi Sediaan
Pengujian sediaan supositoria yang dilakukan sebagai berikut:
1. Uji homogenitas

Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat tercampur rata
dengan bahan dasar suppo atau tidak, jika tidak dapat tercampur maka akan mempengaruhi
proses absorbsi dalam tubuh. Obat yang terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Cara
menguji homogenitas yaitu dengan cara mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah atau
kanan-tengah-kiri) masing-masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah
mikroskop, cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan dengan cara titrasi.

2. Bentuk
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya tidak seperti
sediaan suppositoria pada umunya, maka seseorang yang tidak tahu akan mengira bahwa sediaan
tersebut bukanlah obat. Untuk itu, bentuk juga sangat mendukung karena akan memberikan
keyakinan pada pasien bahwa sediaa tersebut adalah suppositoria. Selain itu, suppositoria
merupakan sediaan padat yang mempunyai bentuk torpedo.
3. Uji waktu hancur
Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan tersebut dapat
hancur dalam tubuh. Cara uji waktu hancur dengan dimasukkan dalam air yang di set sama
dengan suhu tubuh manusia, kemudian pada sediaan yang berbahan dasar PEG 1000 waktu
hancurnya 15 menit, sedangkan untuk oleum cacao dingin 3 menit. Jika melebihi syarat diatas
maka sediaan tersebut belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh. Mengapa
menggunakan media air ? dikarenakan sebagian besar tubuh manusia mengandung cairan.
4. Keseragaman bobot
Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan sudah sama
atau belum, jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman bobot akan mempengaruhi terhadap
kemurnian suatu sediaan karena dikhawatirkan zat lain yang ikut tercampur. Caranya dengan
ditimbang saksama 10 suppositoria, satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Dari hasil
penetapan kadar, yang diperoleh dalam masing-masing monografi, hitung jumlah zat aktif dari
masing-masing 10 suppositoria dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Jika terdapat
sediaan yang beratnya melebihi rata-rata maka suppositoria tersebut tidak memenuhi syarat
dalam keseragaman bobot. Karena keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui kandungan

yang terdapat dalam masing-masing suppositoria tersebut sama dan dapat memberikan efek
terapi yang sama pula.
5. Uji titik lebur
Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan
sediaan supositoria yang dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan dengan cara menyiapkan air
dengan suhu 37C. Kemudian dimasukkan supositoria ke dalam air dan diamati waktu
leburnya. Untuk basis oleum cacao dingin persyaratan leburnya adalah 3 menit, sedangkan untuk
PEG 1000 adalah 15 menit.
6. Kerapuhan
Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang
menjadikannya sukar meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastisitas. Supositoria
dipotong horizontal. Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian yang melebar,
dengan jarak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar, kemudian diberi beban seberat
20N (lebih kurang 2kg) dengan cara menggerakkan jari atau batang yang dimasukkan ke dalam
tabung.
7. Volume Distribusi
Volume distribusi (Vd) merupakan parameter untuk untuk menunjukkan volume
penyebaran obat dalam tubuh dengan kadar plasma atau serum. Volume distribusi ini hanyalah
perhitungan volume sementara yang menggambarkan luasnya distribusi obat dalam tubuh.
Tubuh dianggap sebagai 1 kompartemen yang terduru dari plasma atau serum, dan Vd adalah
jumlah obat dalam tubuh dibagi dengan kadarnya dalam plasma atau serum.

Keterangan :
X = jumlah obat dalam tubuh
C = kadar obat dalam plasma atau serum
DIV = dosis obat dalam pemberian IV
Doral

= dosis obat dalam pemberian oral

F = fraksi dosis oral yang mencapai peredaran darah sistemik dalam bentuk aktif.
= bioavailabilitas absolute obat oral
Co= kadar plasma atau serum pada waktu T = 0 (ekstrapolasi garis eliminasi ke t = 0 )

Besarnya Vd ditentukan oleh ukuran dan komposisi tubuh, kemampuan molekul obat
memasuki berbagai kompartemen tubuh, dan derajat ikatan obat dengan protein plasma dan
dengan berbagai jaringan. Obat yang tertimbun dalam jaringan mempunyai kadar dalam plasma
yang rendah sekali sedangkan Vd nya besar (misalnya, digoksin). Untuk obat yang terikat dengan
kuat pada protein plasma mempunyai kadar plasma yang cukup tinggi dan mempunyai V d yang
kecil (misalnya, warfarin, tolbutamid dan salisilat).
2.9 Monografi
Monografi bahan dalam pembuatan sediaan supositorian adalah sebagai berikut:
1. Aminophyllinum, Teofilin Etilendiamin (FI IV hal 90)

Pemerian : butir atau serbuk putih atau agak kekuningan, bau ammonia lemah, rasa pahit. Jika
dibiarkan di udara terbuka, perlahan-lahan kehilangan etilenadiamina dan menyerap karbon
dioksida dengan melepaskan teofilin. Larutan bersifat basa terhadap kertas lakmus.
Kelarutan : tidak larut dalam etanol dan dalam eter. Larutan 1 g dalam 25 air menghasilkan larutan
jernih, larutan 1 g dalam 5 ml air menghablur jika didiamkan dan larut kembali jika ditambah
sedikit etilenadiamina.
Khasiat : obat asma
2. Bisakodil, Bisacodylum (FI IV hal 144)
Pemerian : serbuk hablur, putih sampai hampir putih, terutama terdiri dari partikel dengan diameter
terpanjang lebih kecil dari 50 m.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam kloroform, dan dalam benzene, agak sukar
larut dalam etanol dan dalam methanol, sukar larut dalam eter.
Khasiat : Obat laksativum atau memperlancar BAB
3. Oleum Cacao (FI-III hal 453)
Lemak coklat adalahcoklat padat yang diperoleh dengan pemerasan panas biji Theo Broma
Cacao L. Yang telah dikupas / dipanggang.

Pemerian
Kelarutan

: lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatic, rasa khas lemak agak rapuh.
: sukar larut dalam etanol (95 %)P, mudah larut dalam kloroform P, dalam eter P

dan dalam eter minyak tanah P.


Suhu lebur
: 310 340 C.
Khasiat
: Zat tambahan.
2.9.1 Alasan Pemilihan Bahan
Alasan pemilihan bahan pada pembuatan sediaan supositoria adalah sebagai berikut:
1. Aminophyllinum
Aminophyllinum merupakan bahan obat yang berkhasiat untuk mengobati asma atau
sebagai brokodilator pada penderita asma. Aminophyllinum dalam sediaan sipositoria merupakan
sediaan yang memberikan efek terapi lebih cepat dibandingkan dengan sediaan yang lain. Hal ini
karena kerja obat sediaan supositoria memiliki rute pemberian yang lebih pendek daripada
sediaan oral.
2. Bisakodil
Bisakodil merupakan laksansia kontak populer yang bekerja langsung terhadap dinding
usus besar (colon) dengan memperkuat peristaltiknya. Tinja pun menjadi lunak. Dalam usus
halus bisakodil diresorpsi sampai 50% dan pada penggunaan rectal setelah k.l. 30 menit. Obat
yang diberikan secara rectal ini dapat merangsang selaput lender rectum. Obat ini tidak boleh
digunakan bersamaan dengan susu atau zat-zat yang bereaksi alkalis (antasida) karena bisa
merusak lapisan enteric-coating dari tablet. Dosis supositoria 10 mg (asetat) pada pagi hari.
4. Oleum Cacao
Oleum Cacao berdaya guna dalam melepaskan zat aktif daripada yang lain, karena
mempunyai titik lebur pada suhu 31-34. Dibuat dalam bentuk suppositoria ditujukan untuk
melebur pada suhu tubuh, karena oleum digunakan sebagai bahan dasar suppo yang ketambahan
zat aktif, jadi titik leburnya akan menjadi 35-37. Obat yang larut dalam air yang dicampur
dengan oleum cacao, pada umumnya member hasil pelepasan yang baik. (Pengantar Bentuk
Sediaan Farmasi: 581)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Menurut
digunakan

FI

III

melalui

Suppositoria

dubur,

adalah

berbentuk

Sediaan

torpedo,

padat

dapat

yang

melunak,

melarut atau meleleh pada suhu tubuh. Dan efek yang ditimbulkan
adalah efek sistemik atau

lokal. Bahan dasar yang digunakan

harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Semakin
pendek waktu melarut/mencair semakin baik, karena efektivitas
obat semakin baik.
Bahan dasar yang sering digunakan adalah Lemak Coklat(Oleum
Cacao),

PEG(Polyetilenglikol)

atau

Lemak

Tengkawang(Oleum

Shoreae) atau gelatin. Bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan


lain adalah 3 g untuk orang dewasa dan 2 g untuk anak kecil.
Umumnya memiliki panjang 32 mm, berbentuk silinder, dan kedua
ujungnya

tajam,. Sedangkan untuk bayi dan anak-anak ukurannya

dari ukuran dan berat untuk orang dewasa.


Suppositoria

umumnya

dimasukkan

melalui

rectum,

vagina,

kadang-kadang melalui saluran urin dan jarang melalui hidung dan


telinga. Bentuk suppositoria seperti peluru, torpedo, atau jarijari

kecil,

digunakan.
berbentuk
saluran

tergantung

bobot

Suppositoria
lonjong

urin

atau

untuk
seperti

pria(Bougie)

jenis

bahan

dan

basis

Vagina(Persarium)
kerucut.

bentuknya

biasanya

Suppositoria

ramping

seperti

yang

untuk
pensil,

dimasukkan kedalam saluran urin pria. Suppositoria untuk hidung


dan telinga bentuknya kerucut telinga, keduanya mempunyai bentuk

yang

sama

dengan

suppositoria

saluran

urin,

hanya

ukuran

panjangnya lebih kecil yaitu 32 mm dan basisnya Gliserin.


Keuntungan Suppositoria antara lain:
1.

Dapat menghindari terjadinya iritasi lambung

2.

Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan

3.

Langsung dapat masuk ke saluran pembuluh darah

sehingga

memberikan efek yang lebih cepat dibandingkan obat per oral


4.

Mudah digunakan pada pasien yang mudah muntah dan tidak


sadar atau pingsan

5.

Obat ditujukkan untuk efek local

6.

Menghindari biotransformasi hati/ sirkulasi portal


Kerugian Suppositoria antara lain:

1.

Cara pakainya tidak menyenangkan

2.

Absorpsi obat seringkali tidak teratur/ sukar diramalkan

3.

Tidak dapat disimpan pada suhu ruangan

4.

Tidak semua obat dibuat suppositoria


Aksi Lokal dan Sistemik Suppositoria:

Aksi Lokal Suppositoria:


-

Begitu

dimasukkan

basis

suppositoria

harus

meleleh,

melunak atau melarut menyebarkan zat aktif yang dibawanya ke


jaringan-jaringan di daerah tertentu.

Obat dimaksudkan untuk ditahan dalam ruang tersebut untuk


efek

local

atau

juga

bias

diabsorpsi

untuk

mendapat

efek

sistemik.
-

Suppositoria

rectal

dimaksudkan

untuk

kerja

local

dan

paling sering digunakan untuk menghilangkan konstipasi(Sembelit)


dan rasa sakit, iritasi, rasa gatal dan radang sehubungan dengan
penyakit wasir dan kondisi anarektal lainnya.
-

Suppositoria

anti

wasir

umum

mengandung

sejumlah

zat,

termasuk anestetik local, vasokontriktor, astringen, analgesic,


pelunak yang menyejukkan, serta pelindung.
-

Suppositoria vaginal tujuan untuk antiseptic


Suppositoria

pencahar(Laksatif)

umumnya

suppositoria

gliserin, menyebabkan laksasi karena iritasi local dari membrane


mukosa, kemungkinan besar dengan efek dehidrasi gliserin pada
membrane itu.
-

Umumnya zat aktifnya adalah trikomonosida untuk memerangi


vaginitis yang disebabkan oleh trichomonas vaginalis, candida.

Suppositoria

uretra

untuk

anti

bakteri

dan

sediaan

anastetik local untuk pengujian uretral.


Aksi Sistemik Suppositoria :
-

Obat yang dibuat dari suppositoria lebih efektif, karena


tidak akan merusak lambung

Obat-obat
suppositoria:

yang

digunakan

melalui

rectum

dalam

1.

Aminoffilin dan Teofilin dipakai untuk menghilangkan asma

2.

Proklorperazin dan Klorpromazin untuk menghilangkan rasa


mual dan muntah, juga penenang

3.

Kloralhidrat untuk hipnotik sedative

4.

Oksimorfin untuk analgesic narkotik

5.

Belladonna dan Opium untuk efek spasmodic dan analgesic

6.

Ergotamine tartrat untuk meringankan gejala migrant

7.

Aspirin untuk aktifitas antipiretik dan analkgesik

Waktu dan Cara Pakai Suppositoria yaitu:


v

Waktu

Sesudah decaktio untuk suppositoria analia

Pada waktu malam hari

Cara Pakai

Pertama-tama cucilah tangan terlebih dahulu

Dibuka bungkus Aluminium foil dan lunakkan suppositoria


dengan air

Berbaring miringlah dengan tungkai yang dibawah lurus, dan


yang diatas ditekuk

Masukkan suppositoria ke dalam anus dengan menggunakan


jari kira-kira 2 cm dan terus berbaring selama 15 menit

Cucilah tangan setelah memasukkan suppositoria

Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi


menjadi:
1. Suppositoria rectal : suppositoria rectal untuk dewasa
berbentuk berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan
biasanya berbobot lebih kurang
2 g ( anonim, 1995). Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan
dengan jari tangan. Biasanya suppositoria rektum panjangnya 32
mm (1,5 inchi), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam.
Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru,torpedo atau
jari-jari kecil, tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan
basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang
menggunakan basis oleum cacao ( Ansel,2005 ).

2. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat


telur dan berbobot lebih kurang 5,0 g dibuat dari zat pembawa
yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti
polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Suppositoria ini
biasa dibuat sebagai pessarium .
( Anonim,1995; Ansel, 2005).
3. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang
juga disebut bougie. Bentuknya ramping seperti pensil, gunanya
untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita.
Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3- 6 mm dengan panjang
140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang

lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya 4


gram. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya
dari ukuran untuk pria, panjang 70 mm dan beratnya 2 gram,
bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya ( Ansel, 2005).
4. Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga
kerucut telinga, keduanya berbentuk sama dengan suppositoria
uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm.
suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang
mengandung gliserin. Namun, suppositoria untuk obat hidung dan
telinga jarang digunakan (Ansel, 2005).

Basis supositoria yang ideal :

1.

Telah mencapai kesetimbangan kristalinitas

2.

Basis tidak toksis dan tidak mengiritasi jaringan

3.

Dapat bercampur dengan

4.

Tidak mempunyai bentuk metastabil

5.

Menyusut secukupnya pada pendinginan

6.

Basis tidak merangsang

7.

Mempunyai sifat membasahi dan megemulsi

8.

Stabil pada penyimpanan.

berbagai jenis obat

( Lachman,2008 : 1168 )
II.1.1 Pengertian

Menurut Farmakope Indonesia Edisi Ketiga Suppositoria adalah


Sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk
torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh.

Menurut Farmakope Indonesia edisi ke Empat Suppositoria adalah


Sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan
melalui rectal, vagina atau uretra.

Menurut Formularium Nasional Suppositoria adalah Sediaan padat,


melunak, melumer dan larut pada suhuntubuh, digunakan dengan cara
menyisipkan

ke

dalam

rectum,

berbentuk

sesuai

dengan

maksud

penggunaannya, umumnya berbentuk torpedo.

IV.2 Indikasi Resep Digunakan sebagai Bronchodilator (Pelepasan Kejang) IV.3 Farmakologi Zat
Aktif Bronchodilator adalah pelepasan kejang dan bronchodilatasi dapat dicapai dengan cara
merangsang system kolinergis dan antiadrenergik juga dengan teofilin. Reabsorpsi obat diusus
sangat buruk dan tidak teratur, sebaliknya digunakan sebagai sediaan substainel yang
memberikan konstan dengan kadar dalam darah yang lebih teratur. (Obat-obat Penting: 613) IV.4
alasan Penambahan Jumlah Excipient F Oleum Cacao Oleum Cacao berdaya guna dalam
melepaskan obatnya daripada yang lain dan melebur cepat pada suhu tubuh. Obat yang larut
dalam air yang dicampur dengan oleum cacao, pada umumnya member hasil pelepasan yang
baik. (Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi: 581) F Cetaceum Berguna dalam mengeluarkan bahan
obat pada penyimpanan dan membantu proses melunakkan kembali pada pemakaian setelah
masuk ke dalam rectum. (Excipient: 528) S Catatan: Jumlah yang digunakan yaitu 5% dari bobot
oleum cacao, karena apabila <4%, maka akan menurunkan titik lebur oleum cacao. (Ilmu
Meracik Obat: 158) IV.5 Incomptibility Tidak income. IV.6 Uraian Bahan v Aminofillin (FI III:
82) 1. Nama Latin : AMINOPHYLLINUM 2. Sinonim : Aminofillin, Teofilin, Chilendramida 3.
Rumus Struktur : 4. Rumus Molekul : C16H24N10O4 5. Pemerian : Butir atau serbuk, putih
agak kekuningan, bau lemah mirip aromatic, rasa pahit. 6. Kelarutan : Larut dalam lebih kurang
5 bagian air, jika dibiarkan mungkin menjadi keruh, praktis tidak larut etanol dan dalam eter. 7.
Kegunaan Dan Khasiat : Bronkodilator 8. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat 9. DM :
500mg/1,5gr v Oleum Cacao (FI III: 453) 1. Nama Latin : OLEUM CACAO 2. Sinonim : Lemak
Coklat 3. Pemerian : Lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatic, rasa khas lemah, agak
rapuh 4. Kelarutan : Sukar larut dalam etanol, mudah larut dalam etanol, dalam eter dan dalam
eter minya tanah. 5. Khasiat Dan Kegunaan : Sebagai zat tambahan (Basis suppositoria) 6.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. v Cetaceum (FI III: 142) 1. Nama Latin :
CETACEUM 2. Sinonim : Setaseum, spermaceati 3. Pemerian : Massa hablur, bening, licin,
putih mutiara, bau rasa lemah 4. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, dan dalam etanol, larut
dalam 20 bagian etanol mendidih, dalam kloroform, dan dalam eter karbondisulfida, dalam
minyak lemak dan dalam minyak atsiri 5. Khasiat dan kegunaan : Zat Tambahan 6. Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

BAB V PENUTUP V. 1 Simpulan 1. Suppositoria adalah Sediaan padat yang digunakan melalui
dubur, berbentuk torpedo, dapat melunak, melarut atau meleleh pada suhu tubuh. 2. Jenis-jenis
Suppositoria: Suppositoria Vagina (Persarium) Suppositoria Saluran Urine Suppositoria
untuk Hidung dan Telinga Suppositoria Rektal 3. Waktu dan Cara Pakai suppositoria Waktu Sesudah decaktio untuk suppositoria analia - Pada waktu malam hari Cara Pakai - Pertamatama cucilah tangan terlebih dahulu - Dibuka bungkus Aluminium foil dan lunakkan suppositoria
dengan air - Berbaring miringlah dengan tungkai yang dibawah lurus, dan yang diatas ditekuk Masukkan suppositoria ke dalam anus dengan menggunakan jari kira-kira 2 cm dan terus
berbaring selama 15 menit - Cucilah tangan setelah memasukkan suppositoria. V.2 Saran 1.
Dalam melakukan praktikum kita harus meguasai materi percobaan yang akan dipraktikumkan,
dan kita juga harus banyak membaca dari berbagai referensi agar ilmu yang kita dapat tidak
hanya terbatas dimateri itu saja. Pada percobaan ini alat-alat dan bahan yang digunakan masih
belum lengkap, mohon dapat dilengkapi agar praktikum pun berjalan lebih baik. DAFTAR
PUSTAKA 1. Ansel,Howard. C . 2005, pengantar bentuk sediaan farmasi, edisi IV, University
indonesia ; jakarta. 2. Departemen Kesehatan RI, 1975, Farmakope Indonesia, edisi III,
Direktorat jendral, BPOM. 3. Departemen Kesehatan RI, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV,
Direktorat jendral, BPOM. 4. http://pharmacistmuslim.blogspot.com/2010/01/laporan-granulasibasah-tablet-antalgin.html 5. Kibbe, H. Arthur. 2000. Handbookk of Pharmaceutical Excipient.
Amerika : Pharmaceutical. Press. 6. Lachman, Leon.2008.Teori dan praktek farmasi industry
jilid 2. Jakarta.Universitas Indonesia Press. 7. Syamsuni.2005.Farmasetika Dasar dan Hitungan
Farmasi. Jakarta : Penerbit buku kedoktean. 8. Tjay, T.H.2002.Obat-obat penting. Jakarta : Alex
Media Computindo 9. Internet: http://siskhana.blogspot.com/2010/04/suppositoria.html
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
V. SUSPOSITORIA
A. Pengertian
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan obat padat yang umumnya dimaksudkan untuk
dimasukkan kedalam rectum, vagina (ovula) dan jarang digunakan untuk uretra. Suppositoria
terdiri dari zat aktif (obat) dan basis
Basis suppositoria harus memiliki sifat-sifat ideal dibawah ini Yaitu ;
Telah mencapai kesetimbangan kristalisasi, dimana sebagian besar komponen mencair pada
temperatur rectal 360 C , tetapi basis dengan kisaran leleh yang lebih tinggi dapat digunakan
untuk campuran eutektikum, penambahan minyak-minyak, balsam-balsam, serta suppositoria
yang digunakan pada iklim tropis.
Secara keseluruhan basis tidak toksik dan tidak mengiritasi pada jaringan yang peka dan jaringan
yang meradang.
Dapat bercampur dengan berbagai jenis obat.
Basis suppositoria tersebut tidak mempunyai bentuk meta stabil.
Basis suppositoria tersebut menyusut secukupnya pada pendinginan, sehingga dapat dilepaskan
dari cetakan tanpa menggunakan pelumas cetakan
Basis suppositoria tersebut tidak merangsang
Basis suppositoria tersebut bersifat membasahi dan mengemulsi.

Angka air yang tinggi maksudnya jumlah air yang bias masuk kedalam basis tinggi.
Basis suppositoria tersebut stabil pada penyimpanan, maksudnya warna, bau, dan pola
penglepasan obat tidak berubah.
Suppositoria dapat dibuat dengan mencetak dengan tangan, mesin, kompressi atau ekstrusi.
Jika basis tersebut berlemak, basis suppositoria memiliki persyaratan tambahan sebagai berikut :
Angka asam dibawah 0,2.
Angka penyabunan berkisar dari 200-245
Angka iod kurang dari 7.
Interval antara titik leleh dan titik memadat kecil
B. Basis suppositoria berdasarkan sifat fisikanya dibagi kedalam 3 kelompok yaitu :
1. Basis berminyak atau berlemak
Basis yang paling sering digunakan adalah lemak coklat karena basis ini tidak toksik, lunak,
tidak reaktif dan meleleh pada suhu tubuh. Akan tetapi lemak coklat memiliki kelamahan yaitu
mudah tengik, meleleh pada udara panas, menjadi cair bila dicampur dengan obat-obat tertentu
dan pemanasan yang lama, trisomerasi dengan titik leleh yang lebih rendah.
Selain lemak coklat basis yang lain yaitu asam-asam lemak yang dihidrogenasi dengan
minyak nabati dan gliserin yang digabungkan dengan asam-asam lemak yang mempunyai berat
molekul tinggi contohnya gliseril monostearat.
2. Basis larut dalam air atau bercampur dengan air
Basis memiliki supositoria yang sering digunakan yaitu suppositoria gliserin yang berfungsi
sebagai basis sekaligus bahan aktif, ada dua macam formula suppositoria yang terkenal yaitu :
3. Basis yang merupakan campuran basis yang berlemak dan yang bercampur dengan air
Basis ini umumnya berbentuk emulsi dengan tipe minyak dalam air, contohnya yaitu Polioksil
40 steara. Bahan ini menyerupai lilin, putih, kecokloat-coklatan, padat dan larut dalam air

C. Pembuatan suppositoria :
Empat metode yang digunakan dalam pembuatan suppositoria adalah mencetak
dengan tangan, kompressi, mencetak tuang dan kompressi pada suatu pres tablet regular
1.
Mencetak dengan tangan
Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan
mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian
diaduk dengan bahn-bahan aktif dengan menggunakan lumping dan mortar, sampai diperoleh
massa akhir yang homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu
batang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat
mencegah pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu ujungnya diruncingkan
2.
Mencetak kompressi

Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin menjadi suatu bentuk yang
dikehendaki. Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada massa suppositoria yang
diisikan dalam sulinder, sehingga massa terdorong kedalam cetakan.
3.
Mesin Pencetak otomatis
Sama proses diatas tetapi menggunakan mesin secara otomatis melakukan semuanya.
4.
Mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau penangas uap
untuk menghindari pemanasan setempat yang berlabihan, kemudian bahan-bahan aktif
diemulsikan atau disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam
yang telah didinginkan, yang umumnya dilapisi krom atau nikel
D.
1).
2).
3).

Petunjuk penggunaan obat suppositoria adalah sebagai berikut :


Cuci tangan suppositoria dikeluarkan dari kemasan, suppositoria dibasahi dengan air.
Penderita berbaring dengan posisi miring dan suppositoria di masukkan ke dalam rectum
Masukkam suppositoria dengan cara bagian ujung suppositoria di dorong dengan ujung jari

sampai melewati otot sfingter rectal kira-kira -1 inchi pada bayi dan 1 inchi pada dewasa
4). Jika suppositoria terlalu lembek untuk dapat dimasukan maka sebelum digunakan sediaan di
tempatkan dalam lemari pendingin selama 30 menit kemudiaan tempatkan pada air mengalir
sebelum dibuka
5). Setelah penggunaan suppositoria tangan penderita dicuci bersih.
E. Contoh obat dalam bentuk sediaan suppositoria :
Tefaron
Tramal suppositoria
Encare
Proris
Glycerini leciva
Cytotec
Borraginol- S
Albhotyl vaginal

DAFTAR PUSTAKA
Anief. Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press : Yogyakarta
Anief. 1987. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press: Yogyakarta
Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III.
UI Press : Jakarta
Soetopo. Seno, dkk. 2001. Teori Ilmu Resep. Jakarta

DESKRIPSI

Lithospermi radix extr, benzocaine, dibucaine HCl, diphenhydramine HCl, cetrimide.

INDIKASI

Hemorrhoid (wasir), luka terkoyak pada anus, prolaps anus (penyembulan selaput
lendir dubur ke luar melalui lubang dubur), periproktitis, perdarahan akibat wasir &
pruritus ani (gatal-gatal pada anus/dubur).

KEMASAN

Suppositoria 10 biji.

DOSIS

Masukan 1 suppositoria ke dalam anus 3 kali sehari.

Tak ada pilihan

Tak ada pilihan

PABRIK

Takeda.