Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


( ANEMIA )
Dosen : Nuniek Nizmah Fajriyah, SKp..Mkep.Sp.KMB

Kelas : 2 A
Kelompok : 3 ( Tiga )
DISUSUN OLEH :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Ali Fatihudin
Arnia Ningsih
Dwi Kartikasari
Ely Noviyanti
Haris Muaziz
Khairur Risqon. D
Slamet Pambudi
Tri Yuli Khoirina
Wahyuningsih
Yeni Fita K

(11.1446.P)
(11.1454.P)
(11.1464.P)
(11.1469.P)
(11.1484.P)
(11.1494.P)
(11.1540.P)
(11.1548.P)
(11.1551.P)
(11.1557.P)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


PEKAJANGAN - PEKALONGAN
2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di
klinik di seluruh dunia,disamping sebagai masalah kesehatan utama
masyarakat, terutama di negara berkembang. Kelainan ini merupakan penyebab
debilitas kronik (chronic debility) yang mempunyai dampak besar terhadap
kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta kesehatan fisik. Oleh karena
frekuensinya yang demikian sering, anemia, terutama anemia ringan sering kali
tidak mendapat perhatian dan dilewati oleh para dokter di praktik klinik.
Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri (disease entity),
tetapi merupakan gejala berbagai macam penyakit dasar (underlying disease).
Oleh kerena itu dalam diagnosis anemia tidak lah cukup hanya sampai kepada
label anemia tetapi harus dapat ditetapkan penyakit dasar yang menyebabkan
anemia tersebut. Hal ini penting karena sering kali penyakit dasar tersebut
tersembunyi, sehingga apabila hal ini dapat diungkap akan menuntun para
klinisi kearah penyakit berbahaya yang tersembunyi. Penentuan penyakit dasar
juga penting dalam pengelolaan kasus anemia, karena tanpa mengetahui
penyebab yang mendasari anemia tidak dapat diberikan terapi yang tuntas pada
kasus anemia tersebut.
(Sudoyo Aru W, dkk : 2009, hal:1109).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan anemia.
2. Tujuan Khusus
a.
b.
c.
d.
e.

Mengetahui pengertian tentang anemia.


Mengetahui etiologi tentang kasus anemia.
Mengetahui patofisiologi tentang kasus anemia.
Mengetahui manifestasi klinis tentang kasus anemia.
Mengetahui komplikasi tentang kasus anemia.

f.
g.
h.
i.

Mengetahui pathways tentang kasus anemia.


Mengidentifikasi pengkajian tentang kasus anemia.
Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan kasus anemia.
Mengetahui intervensi dan rasional tentang kasus anemia.

BAB II
KONSEP DASAR
A. Pengertian
Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar Hb dan atau hitung
eritrosit lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb <
14 g/dl dan Ht < 41% pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht 37% pada wanita.
(Mansjoer Arif, dkk :2001 hal: 547).
Anemia adalah sindroma klinis yang di tandai oleh adanya penurunan
hematokrit, hemoglobin dan jumlah eritrosit dalam darah.
(Tjokroprawiro Askandar,dkk :2007 hal: 139).
B. Etiologi
1. Produksi eritrosit yang berkurang.
2. Pemecahan eritrosit terlalu cepat (hemolisis).
3. Kehilangan darah yang jauh lebih banyak daripada kemampuan produksi

1.
2.
3.
4.
5.

sumsum tulang.
( Sibuea W.Herdin, dkk :2005 hal: 67)
Penyebab lain dari Anemia defisiensi adalah:
Diet yang tidak mencukupi
Absorpsi yang menurun
Kebutuhan yang meningkat pada kehamilan, laktasi
Hemoglobinurea
Perdarahan pada saluran cerna,menstruasi dan donor darah
(Mansjoer Arif, dkk :2001 hal:547)

C. Patofisiologi
anemia timbul apabila pemecahan atau pengeluaran eritrosit lebih besar
daripada pembentukan atau pembentukannya sendiri yang menurun. Oleh
karenanya anemia dapat terjadi melalui mekanisme sebagai berikut :
1. Perdarahan
Pada penderita yang mengalami perdarahan baik yang akut ataupun yang
kronis walaupun pembentukan eritrosit dalam batas normal, namun oleh
karena pengeluaran eritrosit berlebihan, maka jumlah eritrosit yang
beredar dalam sirkulasipun menjadi berkurang, dan terjadi anemia.
2. Pemecahan eritrosit yang berlebihan
Anemia dalam golongan ini lebih dikenal sebagai anemia hemolotik.
Berbagai macam keadaan yang dapat menjadi penyebab anemia hemolitik
adalah sebagai berikut :

a. Faktor yang berasal dari luar eritrosit (ekstrakorpuskuler) :


1. Reaksi antigen antibodi
2. Obat obatan dan bahan kimia
3. Rudapaksa pada eritrosit
4. Pemecahan oleh limpa yang berlebihan ( hipersplenisme)
5. Keracunan logam
b. Faktor yang berasal dari dalam eritrosit sendiri ( intra korpuskuler),
keadaan ini bisa terjadi pada:
1. Herediter (bawaan), misalnya kelainan bawaan dari
membran

eritrosit,

kekurangan

enzim

pembentukan

eritrosit dan sebagainya.


3. Pembentukan eritrosit yang berkurang
Anemia dalam golongan ini dapat terjadi akibat beberapa keadaan sebagai
berikut :
a. Kekurangan bahan baku yang diperlukan untuk pembentukan eritrosit,
yaitu misalnya kekurangan zat besi, vitamin B12, asam folat, protein,
vitamin C.
b. Kekurangan eritroblas (eritrosit yang paling muda)
c. Infiltrasi sel sel ganas kedalam sumsum tulang yang mendesak
sistem eritrosit. Misalnya yang terjadi pada penderita leukimia,
multiple mielola, limfema maligna, mielofibrosis mieloid mitaplasia
dan sebagainya.
d. Anemia jenis sideroblastik (kelainan bawaan yang menyangkut sel
eritrosit)
e. Beberapa pemyakit yang berasal dari kelenjar buntu misalnya:
penyakit gondok, penyakit anak ginjal serta penyakit kelenjar
pituitaria
f. Penyakit ginjal yang kronis
g. Penyakit hati
h. Penyakit kronis yang lain baik yang inrfeksi maupun yang non infeksi
(Tjkroprawiro, Askandar, dkk, 2007, hal:139)
D. Manifestasi Klinis
Gejala gejala Anemia.
Penderita Anemia biasanya merasa sangat lelah, sakit kepala dan jika
anemia timbul dengan cepat, penderita mengeluh penglihatan berkunang
kunang (dizzyness). Gejala yang paling penting adalah gejala pada jantung

dan paru paru. Darah dengan konsentrasi Hb yang rendah harus beredar
dalam sirkulasi lebih sering dari biasanya.
Bila kadar Hb 15 gr/% maka pada keadaan istirahat curah jantung
51/menit sudah cukup. Jika kadar Hb turun menjadi 5 gr %, curah jantung
yang di butuhkan adalah 15 1/menit untuk mencukupi kebutuhan oksigen
yang sama untuk jaringan.orang yang tidak terlatih dapat meninggikan curah
jantung sampai 12 13 1/menit. Jika dibutuhkan curah jantung yang lebih
tinggi maka jantung akan mengalami kegagalan ( Sibuea W.Herdin, dkk :
2005 hal: 67-68)
E. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi akibat anemia diantaranya adalah :
Komplikasi umum anemia meliputi gagal jantung, parestesia, dan kejang.
Pada setiap tingkat anemia, pasien dengan penyakit jantung cenderung lebih
besar kemungkinannya mengalami angina atau gejala gagal jantung kongestif
dari pada seseorang yang tidak mempunyai penyakit jantung (Brunner &
suddarth, 2001, hal: 937).

F. Pathways

G. Pengkajian

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium merupakan penunjang diagnostik pokok dalam
diagnosis anemia. Pemeriksaan ini terdiri dari:
1. Pemeriksaan penyaring (screening test)
Pemeriksaan penyaring untuk kasus anemia terdiri dari pengukuran kadar
hemoglobin, indeks eritrosit dan hapusan darah tepi. Dari sini dapat
dipastikan adanya anemia tersebut, yang sangat berguna untuk pengarahan
diagnostik lebih lanjut.
2. Pemeriksaan darah seri anemia
Pemeriksaan darah seri anemia meliputi hitung leukosit, trombosit, hingga
retikulosit dan laju endap darah. Sekarang sudah banyak dipakai automatik
hematologi analyzer yang dapat memberikan presisi hasil yang lebih baik.
3. Pemeriksaan sumsum tulang
Pemeriksaan sumsum tulang memberikan informasi yang sangat berharga
mengenai keadaan sistem hemetopoesis. Pemeriksaan ini dibutuhkan untuk
diagnosis definitif pada beberapa jenis anemia. Pemeriksaan sumsum
tulang mutlak diperlukan untuk diagnosis anemia aplastik, anemia
megaloblastik, serta pada kelainan hematologik yang dapat mensupresi
sistem eritroid.
4. Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan ini hanya dikerjakan atas indikasi kusus, misalnya pada:
a. Anemia defisiensi besi: serum iron. TIBC (total iron binding capacity)
saturasi transferin, protoporfirin eritrosit, feritin serum, reseptor
transferin dan pengecatan besi pada sumsum tulang (perls stain).
b. Anemia megaloblastik: folat serum vitamin B12 serum, tes supresi
deoksiuridin dan tes Schiling.
c. Anemia hemolitik: bilirubin serum, tes Coomb, elektroforesis
hemoglobin dan lain lain.
d. Anemia aplastik: biopsi sumsum tulang.
(Aru W. Sudoyo, 2009, hal: 1111).
H. Diagnosa
1. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kerusakan transport
oksigen sekunder terhadap penurunan jumlah sel darah merah

2. Risiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan penurunan resistensi


sekunder terhadap hipoksia jaringan dan atau sel sel darah putih
abnormal (neutropenia, leukemia)
3. Risiko terhadap cidera kecenderungan pendarahan yang berhubungan
dengan trombositoperia dan plenomegali
4. Risiko terhadap perubahan mennbran mukosa oral yang berhubungan
dengan atrofi mukosa gastrointestinal
5. Risiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik yang
berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang kondisi,
kebutuhan nutrisi dan terapi obat.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan, kelemahan, dan
malaise umum.
7. Kekurangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan
kekurangan asupan nutrisi esensial (Brunner & suddarth, 2001, hal: 937).
I.

Intervensi keperawatan
Promosi istirahat dan aktivitas. Pasien didorong untuk menjaga
kekuatan dan energi fisik dan emosional. Dianjurkan istirahat yang sering,
dan dukungan kelurga diperlukan untuk menjaga suasana istirahat. Jadwal
teratur mengenai istirahat dan tidur wajib untuk mempertahankan kekuatan
dan toleransi terhadap aktivitas. Dianjurkan untuk tetap bergerak dan aktif
sejauh yang dapat ditoleransi. Begitu anemia ditangani dan nilai nilai darah
kembali ke normal, pasien harus didorong untuk kembali ke aktivitas normal
secara bertahap. Aktivitas yang ternyata menyebabkan kelemahan harus
ditunda sampai ketahanan telah pulih kembali. Latihan penyasuaian dapat
digunakan untuk meningkatkan ketahanan. Peringatan keamanan ditewrapkan
untuk mencegah supaya jangan sampai jatuh akibat gangguan koordinasi,
parestesia, dan kelemahan.
Menjaga nutrisi yang adekuat. Kekurangan asupan nutrisi esensial,
seperti besi dan asam folat, dapat mengakibatkan anemia tertentu. Gejala
sehubungan dengan anemia, seperti kelemahan dan anoreksia, pada gilirannya
juga akan mempengaruhi nutrisi. Diet yang seimbang dengan makanan tinggi
protein tinggi kalori, buah buahan, dan sayuran sangat dianjurkan. Alkohol
akan mempengaruhi penggunaan nutrisi esensial,jadi pasien harus dilarang

atau membatasi konsumsi minuman beralkohol. Makanan berbumbu yang


mengiritasi lambung dan makanan yang banyak menghasilkan gas harus
dihindari. Sesi mengenai penyuluhan diet direncanakan bagi pasien dan
keluarganya karena perencanaan diet harus dapat ditewrima baik oleh pasien
maupun keluarganya. Suplemen makanan (mis.vitamin,besi,folat) bisa
diresepkan.
Monitor dan penatalaksanaan komplikasi. Dengan adanya
kekurangan oksihemoglobin yang berlangsung lama, jantung menjadi kurang
mampu menyuplai darah kejaringan yang mengalami hepoksia. Jantung
kemudian mengalami pembesaran,curah cantung menurun,dan terjadi gagal
jantung kongestis. Upaya keperawatan ditujukan kearah menurunkan aktivitas
dan stimuli yang menyebabkan peningkatan frekuensi jantung dan
peningkatan curah jantung. Pasien didorong untuk mengidentivikasi situasi
yang menyebabbkan palpitasi dan dispnu dan menghindarinnya sampai
anemiannya sembuh. Apabila dispnu merupakan masalah,upaya seperti
meninggikan kepala atau menggunakan bantal pendukung perlu dilakukan.
Latihan yang tidak perlu harus dihindari. Mungkin perlu diberikan oksigen.
Tanda vital harus sering dipantau dan pasien diobservasi mengenai adanya
tanda retensi cairan (mis.edema periver,penurunan curah urin,dan distensi
vena leher). Pasien dipantau mengenai adanya parestesia (mis.memar yang
tidak jelas penyebabnya atau luka bakar pada ekstremitas bawah), gangguan
koordinasi, ataksia, dan kejang. Harus dilakukan upaya pengamanan untuk
mencegah cedera (Brunner & Suddarth, 2001, hal : 937 938).

BAB III
PEMBAHASAN

Kasus :
Putri (17th) di rawat di rumah sakit dengan anemia, hasil pengkajian perawat di
dapatkan data TD 100/60 mmHg, nadi 70x/menit, RR 15x/menit, akral dingin.
Pasien tampak pucat, mengeluh pusing, lemas, sesak nafas, menurut keluarganya
putri sejak kecil tdak menyukai sayur dan daging. Hasil pemeriksaan laboratorium
Hb 6gr%.
1. Istilah
a. Akral dingin : ujung jari baik kaki/tangan yg dingin. Pada pemeriksaan
akral, Sangat berguna utk mengetahui apakah orang itu ada dalam kondisi
syok atau tidak.
(Naswantari, Dyah. 1998).
2. Permasalahan
Permasalahan utama Ketidakefektifan perfusi jaringan.
3. Pengelompokan Data
DS : mengeluh pusing, lemas, sesak nafas, menurut keluarganya putri sejak
kecil tidak menyukai sayur dan daging.
DO: TD 100/60 mmHg, Nadi 70 x/menit, RR 15 x/menit, akral dingin, pasien
tampak pucat. Hasil pemeriksaan Lab. Hb 6 gr%

4. Analisa Data
No

DATA

PENYEBAB

MASALAH

DS : mengeluh pusing, lemas,


sesak nafas
DO: RR 15 x/menit, akral
dingin, pasien tampak
pucat. Hasil pemeriksaan
Lab. Hb 6 gr%

Penurunan

Ketidakefektifan

konsentrasi

perfusi jaringan

hemoglobin dalam
darah

DS : Klien mengeluh

Menurunnya

Resiko terjadi

pusing,lemas,sesak nafas,menurut

Perfusi Jaringan

syok

keluarganya Putri sejak kecil tdak


menyukai sayur dan daging.
DO :

Hb 6 gr
TD : 100/60 mmHg
RR : 15x/menit
Akral dingin

(Wilkison, M Judith dan Nancy R. Ahern, 2012 ed.9)


5. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
DS :

mengeluh pusing, lemas, sesak nafas, menurut keluarganya putri

sejak kecil tidak menyukai sayur dan daging.


DO: TD 100/60 mmHg,, RR 15 x/menit, akral dingin, pasien tampak pucat.
Hasil pemeriksaan Lab. Hb 6 gr%
Pemeriksaan penunjang:
Hasil pemeriksaan laboratorium Hb. 6 gr%

b. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan berhubungan dengan penurunan
konsentrasi Hb dalam darah,yang ditandai dengan :
DS : Klien mengeluh pusing,lemas,sesak nafas,menurut keluarganya Putri
sejak kecil tidak menyukai sayur dan daging.

DO : Hb 6 gr
TD : 100/60 mmHg
RR : 15x/menit
Akral dingin
2. Resiko terjadi syok berhubungan dengan Menurunnya Perfusi Jaringan.
yang ditandai dengan :
DS : Klien mengeluh pusing,lemas,sesak nafas,menurut keluarganya Putri
sejak kecil tdak menyukai sayur dan daging.
DO :

Hb 6 gr
TD : 100/60 mmHg
RR : 15x/menit
Akral dingin

3. Intervensi dan Rasional


1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan berhubungan dengan penurunan
konsentrasi Hb dalam darah.
Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

Menunjukkan perfusi jaringan:

1. Pantau status cairan termasuk asupan

perifer klien tidak ada

dan haluaran
2. Pantau pembedaan ketajaman atau

gangguan setelah dilakukan


tindakan keperawatan selama 1
x 24 jam dengan kriteria hasil :
DS : Klien pusing
berkurang,lemas

ketumpulan atau panas atau dingin


3. Ajarkan klien atau keluarga tentang
menghindari suhu yang extrem pada
ekstremitas
4. Anjurkan klien atau keluarga untuk

berkurang,sesak nafas

memeriksa kulit setiap hari untuk

berkurang,menurut

mengetahui perubahan integritas

keluarganya Putri sudah mulai


menyukai sayur dan daging.
DO : Hb 14-18 gr/dl

kulit
5. Berikan obat anti trombosit atau anti
koagulan jika diperlukan

TD : 100/60 mmHg
RR : 15x/menit
(Wilkison, M Judith dan Nancy R. Ahern, 2012 ed.9, halaman: 823-824)

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anemia merupakan kelainan yang sering dijumpai. Untuk penelitian
lapangan umumnya dipakai kriteria anemia menurut WHO, sedangkan untuk
keperluan klinis dipakai kriteria Hb <10 g/dl atau hematokrit <30%. Anemia
dapat dikalasifikasikan menurut etiopatogenesisnya ataupun berdasrakan
morfologi eritrosit. Gabungan kedua klasifikasi ini sangat bermanfaat untuk
diagnosis. Dalam pemeriksaan anemia diperlukan pemeriksaan klinis dan
pemeriksaan

laboratorik

yang

terdiri

dari:

pemeriksaan

penyaring,

pemeriksaan seri anemia, pemeriksaan sumsum tulang, pemeriksaan khusus.


Pendekatan diagnosis anemia dapat dilakukan secara klinis, tetapi yang lebih
baik ialah dengan gabungan pendekatan klinis dan labolatorik. Pengobatan
anemia seyogyanya dilakukan atas indikasi yang jelas. Terapi dapat diberikan
dalam bentuk terapi darurat, terapi suportif, terapi yang khas untuk masing masing anemia dan terapi kausal.
B. Saran
Dengan selesainya makalah ini disarankan kepada seluruh mahasiswa
kesehatan khususnya D3 Keperawatan, agar dapat lebih memperdalam lagi
pengetahuan tentang kasus Anemia serta dapat mengaplikasikannya dalam
dunia keperawatan. Diharapkan perawat serta tenaga kesehatan lainnya
mampu memahami dan mendalami kasus Anemia. Sedangkan bagi
masyarakat juga bisa menjaga kesehatan diri dengan memperhatikan pola
makan serta kebersihan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Naswantari, Dyah. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland.Ed. 25. Jakarta:EGC
Sibuea, W Herdin, dkk. 2005. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sudoyono W Aru, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Interna
Publishing.
Tjokroprawiro, Askandar,dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya:
Airlangga University Press.
Wilkison, M Judith dan Nancy R. Ahern. 2012. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan edisi 9. Jakarta: EGC.