Anda di halaman 1dari 25

BIOGRAFI IBNU RUSYD

Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad adalah nama lengkap
dari Ibnu Rusyd yang lahir di Cordoba pada 520 H/1126 M, Di dunia Barat ia dikenal
dengan nama Averroes. Ia adalah seorang dokter, ahli hukum, dan tokoh filsuf yang
paling popular pada periode perkembagan filsafat Islam (700-1200). Disamping
sebagai seorang yang paling otoritatif sebagai komentator atas karya-karya filsuf
Yunani, Aristoteles, Ibnu Rusyd juga seorang filsuf Muslim yang paling menonjol
dalam usahanya mencari persesuaian antara filsafat dan syariat. Ia berasal dari
keluarga ilmuan. Ayahnya dan kakeknya adalah para pencinta ilmu dan merupakan
ulama yang sangat disegani di Spanyol. Ayahnya adalah Ahmad Ibnu Muhammad
(487-563 H) adalah seorang fqih (ahli hokum islam) dan pernah menjadi hakim di
Cordova. Sementara kakeknya, Muhammad Ibn Ahmad (wafat 520 H-1126 M) adalah
ahli fiqh madzhab Maliki dan imam mesjid Cordova serta pernah menjabat sebagai
hakim agung di Spanyol. Ibnu Rusyd pernah menduduki beberapa jabatan, antara lain
sebagai qadhi (hakim) di Sevilla dan sebagai qadhi al-qudhat (hakim agung) di
Cordoba. Disamping itu, ia juga sangat aktif dalam kegiatan politik dan sosial.
Sebagaimana ayah dan kakeknya Ibnu Rusyd juga pernah menjadi hakim agung di
Spanyol.

Pendidikan dan Riwayat Hidup


Tak seperti anak-anak seusianya, masa kecil Rusyd dihabiskan untuk belajar
berbagai disiplin ilmu: Alquran, tafsir, hadits, fiqih, serta mendalami ilmu-ilmu
eksakta seperti matematika, astronomi, logika, filsafat dan kedokteran. Pendidikan
awalnya dimulai dari belajar Al-Quran di rumahnya sendiri dengan ayahnya.
Selanjutnya ia belajar dasar-dasar ilmu keislaman seperti Fiqh, Ushul Fiqh, Hadits,
Ilmu Kalam, bahasa Arab dan Sastra. Dalam ilmu fiqih ia belajar dan menguasai kitab
Al-Muwaththa karya Imam Malik.
Selain kepada ayahnya sendiri, ia juga belajar kepada Abu Muhammad Ibn
Rizq dalam disiplin ilmu perbandingan hukum islam (fiqh ikhtilaf) dan kepada Ibn
Basykual dibidang hadits. Dalam bidang ilmu kedokteran dan filsafat ia belajar
kepada Abu Jafar Harun al-Tardjalli (berasal dari Trujillo). Selain itu gurunya yang
berjasa dalam bidang kedokteran adalah Ibn Zhuhr. Pada tahun 548 H/1153 M, Ibnu
Rusyd pergi ke Marakesh (Marakusy) Maroko atas permintaan Ibnu Thufail (w. 581
H/1185 M), yang kemudian memperkenalakannya dengan khalifah Abu Yaqub Yusuf.
Dalam pertemuan pertama anatara Ibn Rusyd dengan Khalifah terjadi proses Tanya
jawab diantara keduanya tentang asal-usul dan latar belakang Ibnu Rusyd, selain itu
mereka juga membahas tentang berbagai persoalan filsafat. Ibnu Rusyd menyangka
bahwa petanyaan ini merupakan jebakan khalifah, karna persoalan ini sangat kurasial
dan sensitif ketika itu.
Ternyata dugaan itu meleset. Khalifah yang pencinta Ilmu ini malah
berdiskusi dengan ibnu thufail tentang masalah-masalah di atas. Khalifah Abu yakub
dengan fasih dan lancar menjelasan persoalan-persoalan itu dan mengutif pendapatpendapat seperti plato dan aristoteles.

Khalifah dan ibnu thufail, sama-sama terlibat dalam diskusi yang berat.
Terlihat bahwa khalifah yang memang pencinta ilmu pengetahuan ini sangat
menguasai persoalan ilmu filsafat pendapat-pendapat mutakallimin atau teolog Plato
dan Aristiteles. Ibnu Rusyd kagum pada pengetahuan khalifah tentang filsafat.
Karenanya ia pun berani menyatakan pendapatnya sendiri. Pertemuan pertama ini
ternyata membawa berkah bagi ibnu Rusyd. Ia diperintahkan oleh khalifah untuk
menterjemahkan karya-karya aristoteles menafsirkannya. Pertemuan itu pun
mengantarkan Ibnu Rusyd untuk menjadi qodhi di sevile setelah dua tahun mengabdi
ia pun diangkat menjadi hakim agung di kordoba, selain tu pada tahun 1182 ia
kembali keistana muwahidun di marakhes menjadi dokter pribadi khalifah pengganti
ibnu thufail.
Pada tahun 1184 khalifah Abu Yakub Yusuf meninggal dunia dan digantikan
oleh putranya Abu Yusuf Ibnu Yakub Al-Mansur. Pada awal pemerintahannya
khalifah ini menghormati Ibnu Rusyd sebagaimana perlakuan ayahnya, namun pada
1195 mulai terjadi kasak-kusuk dikalangan tokoh agama, mereka mulai menyerang
para filsafat dan filosof. Inilah awal kehidupan pahit bagi Ibnu Rusyd. Ia harus
berhadapan oleh pemuka agama yang memiliki pandangan sempit dan punya
kepentingan serta ambisi-ambisi tertentu. Dengan segala cara mereka pun memfitnah
Ibnu Rusyd. Akhirnya Ibnu Rusyd diusir dari istana dan dipecat dari semua jabatnnya.
Pada tahun 1195 ia diasingkan ke Lausanne, sebuah perkampungan yahudi yang
terletak sekitar 50 km di sebela selatan cordova. Buku-bukunya dibakar di depan
umum, kecuali yang berkaitan dengan bidang kedokteran, matematika serta astronomi
yang tidak dibakar. Selain Ibn Rusyd, terdapat juga beberapa tokoh fukaha dan
sastrawan lainnya yang mengalami nasib yang sama, yakni Abu Abd Allah ibn
Ibrahim (hakim di afrika), Abu Jafar al-Dzahabi, Abu Rabi al-Khalif dan Nafish
Abu al-Abbas.
3

Menurut Nurcholish, penindasan dan hukuman terhaap Ibn Rusyd ini bermula
karena Khalifah al-Mansyur ringin mengambil hati para tokoh agama yang biasanya
memiliki hubungan emosional dengan masyarakat awam. Khalifah melakukan hal ini
karena didesak oleh keperluan untuk memobilisasi rakyatnya menghadapi
pemberontakan orang-orang Kristen Spanyol. Disamping itu,hal yang cukup menarik,
sikap anti kaum muslim Spanyol terhadap filsafat dan para filosof lebih keras
daripada kaum muslim Maghribi atau Arab. Ini digunakan oleh pimpinan-pimpinan
agama untuk memanas-manasi sikap anti terhadap filsafat dan cemburu kepada
filosof.
Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan dan situasi kembali normal,
khalifah menunjukkan sikap dan kecenderungannya yang asli. Ia kembali memihak
kepada pemikirab kreatif Ibn Rusyd, sutau sikap yamg sebenarnya ia warisi dari
ayahnya. Khalifah al- Mansyur merehabilitasi Ibn Rusyd an memanggilna kembali ke
istana. Ibn Rusyd kembali mendapat perlakuan hormat. Tidak lama setelah itu, pada
19 Shafar 595 H/ 10 Desember 1197 Ibn Rusyd meninngal dunia di kota Marakesh.
Beberapa tahun setelah ia wafat, jenazahnya dipindahkan ke kampung halamannya,
Cordova.

Karya-Karya Agung Ibnu Rusyd


karya Ibnu Rusyd mencapai 78 judul yang terdiri dari 39 judul tentang
filsafat, 5 judul tentang kalam, 8 judul tentang fiqh, 20 judul tentang ilmu kedokteran,
4 judul tentang ilmu falak, matematika dan astronomi, 2 judul tentang nahu dan
sastra. Diantara karya-karyanya yang terkenal yaitu:

Tahafut al-Tahafut. Buku yang terkenal dalam lapangan ilmu filsafat dan ilmu
kalam. Buku ini merupakan pembelaan Ibnu Rusyd terhadap kritikan alGhazali terhadap para filosof dan masalah-masalah filsafat dalam bukunya
yang berjudul Tahafut al-falasifah (The incoherence of the incoherence =
kacau balau yang kacau). Sebuah buku yang sampai ke Eropa, dengan rupa
yang lebih terang, daripada buku-bukunya yang pernah dibaca oleh orang
Eropa sebelumnya. Dalam buku ini kelihatan jelas pribadinya, sebagai
seorang muslim yang saleh dan taat pada agamanya. Buku ini lebih terkenal
dalam kalangan filsafat dan ilmu kalam untuk membela filsafat dari serangan
al-ghazali dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah.

Al-Kasyf an Manahij al-Adillah fi Aqaid ahl al-Millah. Buku yang


menguraikan metode-metode demonstratif yang berhubungan dengan

keyakinan pemeluk agama.


Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid. Buku fiqh Islam yang berisi
perbandingan mazhab (aliran-aliran dalam fiqh dengan menyebutkan alasan
masing-masing).

5
Kitab Fash al-Maqal fi Ma Bain al-Syar`ah wa al-Hikmah min al-Ittishl
(terjemahan dalam bahasa Indonesia terbitan Pustaka Firdaus, Jakarta, dengan

judul Kaitan filsafat dengan syariat) yang menguraikan adanya keselarasan

antara agama dan akal karena keduanya adalah pemberian Tuhan.


Al-Mukhtashar al-Mustashfa fi Ushul al-Ghazali. Ringkasan atas kitab al-

Mustashfa al-Ghazali.
Risalah al-Kharaj. Buku tentang perpajakan.
Kitab al-Kulliyahfi al-Thibb. (Ensiklopedia kedokteran) yang Kemudian

diterjemahkan
Kedalam bahasa inggris dengan judul General Rules Of Medicine.
Dhaminah li Masalah al-Ilm al-Qadim. Buku apendiks mengenai ilmu

qadimnya Tuhan yang terdapat dalam buku Fashl al-Maqal.


Al-Daawi.Buku
tentang hukum
acara dipengadilan.
Durusun fi al-Fiqh. Buku yang membahas beberapa masalah fiqh.
Makasih al-Mulk wa al-Murbin al-Muharramah. Buku yang berisi tentang
perusahaan-perusahaan negara dan sistem-sistem ekonomi yang terlarang.
Buku-buku yang disebutkan di atas merupakan karya asli dari pemikiran Ibnu

Rusyd dalam berbagai bidang seperti filsafat, kedokteran, fiqh/ushul fiqh, politik
dan sebagainya. Selain itu, Ibnu Rusyd juga menghasilkan karya ulasan atau
komentar terhadap karya filosof-filosof sebelumnya seperti Ibnu Sina, Plato,
Aristoteles, Galen dan Porphiry, seperti: Urjazah fi al-Thibb, Kitab al- Hayawan,
Syarh al-Sama wa al-Alam, Syarah Kitab Burhan, Talkhis Kitab al-Akhlaq li
Aristhuthalis, Jawami Siyasah Aflathun dan sebagainya.

Pemikiran Filsafat Ibnu Rusyd


Sebagai komentator Aristoteles tidak mengherankan jika pemikiran Ibnu
Rusyd sangat dipengaruhi oleh filosof Yunani kuno. Ibnu Rusyd menghabiskan
waktunya untuk membuat syarah atau komentar atas karya-karya Aristoteles dan

berusaha mengembalikan pemikiran Aristoteles dalam bentuk aslinya . Di Eropa latin,


Ibnu Rusyd terkenal dengan nama Explainer (asy-Syarih) atau juru tafsir Aristoteles.
Sebagai juru tafsir martabatnya tak lebih rendah dari Alexandre dAphrodise (filosof
yang menafsirkan filsafat Aristoteles abad ke-2Masehi).
Dalam beberapa hal Ibnu Rusyd tidak sependapat dengan tokoh-tokoh filosof
muslim sebelumnya, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina dalam memahami filsafat
Aristoteles walaupun dalam beberapa persoalan filsafat ia tidak bisa lepas dari
pendapat dari kedua filosof muslim tersebut. Menurutnya pemikiran Aristoteles telah
bercampur baur dengan unsur-unsur Platonisme yang dibawa komentator-komentator
Alexandria . Oleh karena itu, Ibnu Rusyd dianggap berjasa besar dalam memurnikan
kembali filsafat Aristoteles. Atas saran gurunya, Ibnu Thufail yang memintanya untuk
menerjemahkan pikiran-pikiran Aristoteles pada masa dinasti Muwahhidun tahun
557-559 H. Namun demikian, walaupun Ibnu Rusyd sangat mengagumi Aristoteles
bukan berarti dalam berfilsafat ia selalu mengekor dan menjiplak filsafat Aristoteles.
Ibnu Rusyd juga memiliki pandangan tersendiri dalam tema-tema filsafat yang
menjadikannya sebagai filosof Muslim besar dan terkenal pada masa klasik hingga
sekarang.

7
a. Agama dan Filsafat
Ibnu Rusyd adalah tokoh yang ingin mengharmoniskan agama dan filsafat. Di
antaranya tidak terdapat dua kebenaran yang kontradiktif, tetapi sebuah kebenaran

tunggal yang dihadirkan dalam bentuk agama, dan melalui takwil, menghasilkan
pengetahuan filsafat. Agama adalah bagi setiap orang, sedangkan filsafat hanya bagi
mereka yang memiliki kemampuan-kemampuan intelektual yang memadai. Meskipun
demikian, kebenaran yang dijangkau suatu kelompok tidaklah bertentangan dengan
kebenaran yang ditemukan kelompok lain . Seperti al-Kindi, Ibnu Rusyd juga
berpendapat bahwa tujuan filsafat adalah memperoleh pengetahuan yang benar dan
berbuat benar . Dalam hal ini, filsafat sesuai dengan agama. Sebab tujuan agama pun
tidak lain adalah untuk menjamin pengetahuan yang benar bagi umat manusia dan
menunjukkan jalan yang benar bagi kehidupan yang praktis. Agama dan filsafat
adalah sejalan dan memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mencapai pengetahuan
yang benar. Dengan demikian, berfilsafat secara benar dengan menggunakan metode
ilmu mantiq yang benar pula, akan didapat pengetahuan yang tidak bertentangan
dengan ajaran agama.

b. Tingkat Kemampuan manusia


Dalam hal ini Ibnu Rusyd membuat perbedaan tingkat kapasitas dan
kemampuan manusia dalam menerima kebenaran menjadi tiga kelompok. Mereka
adalah kelompok yang menggunakan metode retorik (khathabi), metode dialektik
(jadali) dan metode demonstratif (burhani).

8
Metode yang pertama dan kedua dipakai oleh manusia awam, sedangkan
metode yang ketiga merupakan pengkhususan yang diperuntukkan bagi kelompok
manusia yang tingkat intelektual dan daya kemampuan berfikirnya tinggi. Tingkat

kemampuan manusia ini terkait dengan masalah pembenaran atau pembuktian atas
sesuatu yang dipengaruhi oleh kapasitas intelektualnya. Ibnu Rusyd menjelaskan,
bagi manusia, adanya tingkatan pembuktian kebenaran secara burhani, jadali dan
khatabi, karena kemampuan manusia dalam menerima kebenaran itu berbeda-beda
dan beragam. Pengelompokan ini, menurut Ibnu Rusyd sesuai dengan semangat alQuran yang mengajarkan umat Islam untuk mengajak manusia kepada kebenaran
dengan jalan hikmah, pelajaran yang baik dan debat yang argumentatif. Ajaklah
mereka ke jalan Tuhanmu dengan cara hikmah, pengajaran yang baik dan ajak
bicaralah (debat) mereka dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu lebih
mengetahui siapa yang sesat di jalan-Nya dan Ia juga lebih tahu siapa yang mendapat
petunjuk. (al-Nahl: 125)

c. Kebahagiaan
Mengenai konsep kebahagiaan, Ibnu Rusyd sejalan dengan ide al-Farabi dan
Ibnu Sina bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan pencapaian dan kebahagiaan
spiritual. Derajat kesempurnaan tertinggi ialah jika seseorang menembus tabir dan
melihat dirinya aspek demi aspek di hadapan realitas-realitas. Ibnu Rusyd menolak
jika kesederhanaan dan kejumudan orang-orang tasawuf merupakan sarana untuk
menyendiri dan berhubungan dengan Tuhan. Dengan demikian ia tidak bisa
menerima anggapan kaum sufi bahwa kebahagiaan seseorang dapat dicapai tanpa
ilmu pengetahuan.
9
Ibnu Rusyd percaya bahwa konsep kebahagiaan hanya dapat dicapai melalui
akal aktual dan ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa sejak bayi dilahirkan, ia
sudah membawa kesiapan untuk menerima pengetahuan-pengetahuan umum
sehingga jika ia mulai belajar, maka kesiapan ini berubah menjadi akal aktual. Akal
ini selalu berkembang dan meningkat sampai ia bisa berhubungan dengan akal yang

tidak ada pada benda dan daripadanya mengambil pancaran ilham. Akal yang sudah
sampai kepada tahap menerima pancaran ilham merupakan kesempurnaan tertinggi.
Sedangkan jalan yang akan menuntun untuk mencapainya, ialah perkembangan
segala pengetahuan dan peningkatan persepsi manusia.
d. Akal dan Jiwa Manusia
Manusia menurut Ibnu Rusyd, mempunyai dua gambaran yang dalam bahasa
Arab disebut maani . Kedua gambaran itu dinamakan percept (perasaan) dan concept
(pikiran). Perasaan adalah gambaran khusus yang dapat diperoleh dengan
pengalaman yang berasal dari materi. Ibnu Rusyd memberi perbedaan antara perasaan
dan akal. Pemisahan ini memperlihatkan kecenderungan Ibnu Rusyd dalam
memisahkan antara pengetahuan akali (aqli) dengan pengetahuan inderawi (naqli).
Dengan sendirinya kedua pengetahuan ini berbeda dalam hal cara manusia
memperolehnya. Pengetahuan inderawi diperoleh dengan percept (perasaan),
sedangkan pengetahuan aqli diperoleh lewat akal, pemahamannnya dilakukan dengan
penalaran atau pikiran. Akal sendiri dibagi menjadi dua jenis, yang pertama disebut
akal praktis dan yang kedua adalah akal teoritis. Akal praktis memiliki fungsi sensasi,
di mana akal ini dimiliki oleh semua manusia.

10
Di samping memiliki fungsi sensasi, akal praktis juga memiliki pengalaman
dan ingatan. Sedangkan akal teoritis mempunyai tugas untuk memperoleh
pemahaman (konsepsi) yang bersifat universal.

Tanggapan Ibnu Rusyd Terhadap Al-Ghazali

Seperti diketahui, al-Ghazali dalam buku Tahafut al-Falasifah telah


menyerang para filosof. Ada dua puluh persoalan yang diuraikan al-Ghazali
berkenaan dengan kerancuan berfikir mereka. Tiga di antaranya, menurut al-Ghazali,
meneyebabkan para filosof telah kufur. Sebagai filosof, Ibnu Rusyd merasa
berkewajiban membela para filosof dan pemikiran mereka dan mendudukkan masalah
tersebut pada proporsinya. Untuk itu ia menulis sanggahan berjudul Tahafut altahafut. Judul buku ini mengisayaratkan bahwa al-Ghazali lah yang sebenarnya kacau
dalam berfikirnya. Tiga masalah filsafat yang menyebabkan kekafiran para filosof
ialah berkaitan dengan masalah qadimnya alam, pengetahuan Tuhan yang bersifat
juziyyat, dan kebangkitan jasmani. Berikut ini akan dijelaskan tanggapan Ibnu
Rusyd terhadap kritikan al-Ghazali mengenai tiga masalah tersebut.
a. Qadimnya Alam
Ibnu Rusyd menjelaskan, perselisihan yang terjadi antara kaum teolog dengan
kaum filosof klasik mengenai persoalan apakah alam semesta ini qadim (ada tanpa
permulaan) atau hadits (ada setelah tiada), lebih condong kepada soal penamaan
belaka. Sebabnya, mereka sendiri pada dasarnya sepakat tentang adanya tiga macam
wujud: dua sisi wujud dan satu yang menengahi keduanya.

11
Para teolog maupun filosof sepakat dalam memberikan sebutan nama kepada
kedua sisi wujud itu, tetapi mereka berselisih mengenai wujud pertengahan. Pada
wujud yang pertengahan inilah alam semesta menempatkan posisinya . Sisi wujud
yang pertama adalah: Wujud yang tercipta dari sesuatu di luar dirinya sendiri dan
berasal dari sesuatu yang berbeda, yang tercipta dari bahan (materi) tertentu dan
didahului oleh zaman. Inilah kondisi benda-benda wujud yang tertangkap indera
seperti air, udara, bumi, hewan tumbuhan dan sebagainya. Wujud ini disepakati untuk

menamakannya sebagai sesuatu yang muhdatsah (tercipta setelah tidak ada). Sisi
wujud yang berseberangan dengan sisi tersebut di atas adalah: wujud yang
keberadaannya tidak berasal dari sesuatu apapun, tidak disebabkan oleh sesuatu
apapun juga dan tidak didahului oleh zaman. Sisi wujud ini juga disepakati, untuk
menamakannya sebagai yang qadim (ada tanpa permulaan). Wujud ini adalah Allah
Taala, penggerak sesuatu yang ada. Adapun sisi wujud yang di antara keduanya
yaitu: wujud yang keberadaannya tidak berasal dari sesuatu apapun, tidak didahului
oleh zaman, akan tetapi keberadaannya disebabkan oleh suatu penggerak. Sisi wujud
ini adalah alam semesta dengan segala perangkatnya. Mereka semua setuju adanya
tiga sifat tersebut pada alam semesta. Para teolog mengakui bahwa zaman tidak
mendahului alam semesta, karena zaman adalah sesuatu yang menyertai gerak dan
benda. Jadi letak permasalahannya adalah sisi wujud yang pertengahan ini menempati
dan memiliki persamaan dengan wujud yang muhdats maupun wujud yang qadim.
b. Pengetahuan Tuhan
Dalam masalah pengetahuan Tuhan, al-Ghazali menuduh para filosof
berpendirian bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang kecil , kecuali dengan cara
yang kulliyat (umum, universal). Ibnu Rusyd menjawab tuduhan al-Ghazali ini
dengan menegaskan bahwa al-Ghazali telah salah paham terhadap pendapat filosof.
12
Ibnu Rusyd meluruskan, pendapat filosof adalah bahwa pengetahuan Tuhan
tentang rincian (juziyyat) berbeda dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan
manusia adalah mengambil bentuk efek, yaitu melalui yang ditangkapnya oleh panca
indera, sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab bagi terwujudnya rincian
tersebut. Karena itu, pengetahuan manusia bersifat baharu dan pengetahuan Tuhan
bersifat qadim, yaitu semenjak azalinya. Tuhan mengetahui segala hal yang terjadi di
alam ini. Namun begitu, pengetahuan Tuhan tidak dapat diberi sifat-sifat kulliyat atau

juziyyat, karena sifat-sifat yang demikian hanya dapat dikaitkan kepada makhluk
saja. Secara pasti, pengetahuan Tuhan tidak dapat diketahui kecuali oleh Tuhan
sendiri .

c. Kebangkitan Jasmani
Al-Ghazali menjelaskan dalam Tahafut al-Falasifah adalah para filosof
mengatakan bahwa kebangkitan di akhirat nanti adalah bersifat rohani. Yang akan
menerima balasan baik atau buruk atas perbuatan manusia selama di dunia adalah
rohaninya bukan jasmani. Menanggapi masalah di atas, Ibnu Rusyd menyatakan
bahwa kebangkitan rohani berdasarkan pendapat para filosof merupakan tawil
(interpretasi) yang tidak perlu dipermasalahkan karena yang terpenting bahwa para
filosof juga meyakini adanya hari kebangkitan dan tidak mengingkarinya.
Pengingkaran terhadap hari kebangkitan yang dapat dikategorikan kafir, bukan pada
eksistensi kebangkitannya. Baik para filosof maupun sufi sepakat bahwa puncak
kebahagiaan adalah pada rohaninya dan bukan pada materinya.

13
Meskipun demikian, Ibnu Rusyd sendiri tidak menolak kemungkinan adanya
kebangkitan jasmani juga, karena tidak ada yang tidak mungkin dilakukan oleh Allah
SWT. Bagi orang awam (khatabi, jadali) yang masih berfikir sederhana dan belum
mampu menangkap pesan-pesan al-Quran secara abstrak, penggambaran jasmani
adalah untuk memotivasi mereka agar melakukan perbuatan baik dan meninggalkan
perbuatan jahat. Menurut Aziz Dahlan, bahwa siapa saja yang menganut salah satu

dari tiga paham tersebut, menurut Al-Ghazali, jatuh ke dalam kekafiran .Karena itu
tak heran jika pandangan-pandangan Ibnu Rusyd senantiasa menyegarkan dan
mendewasakan wawasan keagamaan kita, sebagaimana tercermin dalam beberapa hal
berikut:
1. Pluralisme dalam ijtihad
Ibnu Rusyd adalah seorang hakim agama (qadhy) di Sevilla (1169) dan
Kepala Hakim Agama di Cordoba (1182). Dalam kapasitasnya sebagai pemilik
otoritas dalam masalah keagamaan, Ibnu Rusyd tidak serta merta menggunakan
otoritas tersebut sebagai tangan besi untuk menyimpulkan sebuah hokum secara
hitam-putih. Dalam ranah hokum Islam (fiqh), ia seringkali menekankan pentingnya
keragaman ijtihad. Ibnu Rusyd sebenarnya ingin memberikan pelajaran berharga,
bahwa elemen terpenting dalam fikih ialah menguraikan dimensi moral etik di balik
hokum dan memahami proses ijtihad. Artinya, setiap hokum yang akan difatwakan
sejatinya dapat dipertimbangkan kemaslahatan umum.
2. Kebebasan dan Tradisi Kritik
Ibnu Rusyd hidup di masa kegelapan dan terpasungnya kebebasan berpikir.
Saat itu, filsafat dikubur hidup-hidup, terutama setelah difatwa sesat (kafir) dan
rancu (muthafit) oleh Imam al-Ghazali dalam Thahafut al-Falasifah.
14
Karena itu, langkah Ibnu Rusyd kemudian adalah mengkritisi sejumlah kitab
yang selama ini mengharamkan filsafat dengan menulis kitab bertajuk Tahafut atTahafut seraya mengeluarkan fatwa pentingnya berpikir dan berfilsafat,
sebagaimana ditulis secara satir di kitab Fashi al-Maqal fi ma bayna al-Hikmah wa
asy-Syariah min al-Ittishal.

Menurutnya.

Ibnu

Rusyd

menambahkan,

persoalan

kalam

(teologi)

semestinya tidak melulu didekati dengan pendekatan tekstual, melainkan juga dengan
filsafat, yaitu melalui mekanisme takwil yang berlandaskan analogi demonstrative
(al-qiyas al-burhany). Atas dasar itu, Ibnu Rusyd menolak pengkafiran terhadap
kaum filsuf, karena filsafat dan pikir merupakan ajaran Islam yang otentik. Ibnu
Rusyd kerap kali melancarkan kritik terhadap para ulama baik yang hidup pada masa
sebelum maupun yang semasa dengannya. Kritiknya ini dilancarkan bukan demi
menjatuhkan lawan seperti dilakukan kaum sofis dalam tradisi yunani atau kaum
teolog (mutakallimun) dalam tradisi Islam. Kritik Ibnu Rusyd ialah dalam rangka
meluruskan paradigma berpikir. Ketika mengkritik kalangan Asyarinyah misalnya,
Ibnu Rusyd amat meyangkan penggunaan inderawi terhadap sesuatu yang abstrak.
Paradigma seperti ini, bagi Ibnu Rusyd sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena halhal transenden tidak bisa disentuh dengan indera manusia. Dalam banyak hal
kalangan Asyariyah telah terjebak dalam kekeliruan paradigmatik.

15
3. Dialog Antaragama
Ibnu Rusyd menghendaki agar filsafat dijadikan jembatan untuk menerima
kebenaran dari pihak lain, bahkan yang berbeda sekalipun. Di kitab Fashl al Maqal fi
ma bayna al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittisal Ibnu Rusyd menulis, jika kita

menemukan kebenaran dari mereka yang berbeda agama, kita mesti menerima dan
menghormatinya. Ibnu Rusyd memandang bahwa perbedaan agama tidaklah
menjadi penghalang untuk membangun jembatan dialog.
Kunci dari keterbukaan Ibnu Rusyd untuk melakukan dialog dengan umat-umat lain
adalah kecenderungannya pada filsafat. Karena filsafat baginya merupakan salah satu
pintu menuju kearifan dan kemuliaan hidup.

4. Kontrol atas kebijakan politik


Hal penting yang mendarah daging dalam karakter Ibnu Rusyd adalah control
terhadap kebijakan peguasa. Menurutnya, otoritarianisme berpotensi membunuh
kepentingan kolektif. Karena itu, ia selalu berbeda pendapat dengan khalifah, bahkan
tak jarang memanggil sang khalifah dengan wahai saudaraku. Dan sikap seperti
inilah yang menjadi satu dari beberapa sebab kenapa ibnu Rusyd mengalami inkuisi
(mihnah fikriyah) dan diasingkan oleh khalifah Lucena, kepulauan Atlantik, 1195.
Dari sini, catatan terpenting adalah perlunya control terhadap penguasa.

16
Ibnu Rusyd mempunyai harapan agar politik tidak hanya menjadi ajang
perebutan kekuasaan. Perebutan kekuasaan bukanlah fenomena asing pada waktu itu.
System politik umat Islam yang dibangun di atas system klan telah memunculkan
perebutan kekuasaan yang amat dahsyat. Sementara itu, umat Islam tidak mempunyai
filsafat politik yang baik untuk menjawab masalah-masalah tersebut. Ketika para

ulama terseret untuk hanya focus belajar ilmu-ilmu agama, maka ilmu-ilmu social
yang berkaitan dengan ilmu tata masyarakat cenderung diabaikan.

17

Gerakan Averroisme di Eropa


pemikiran Ibnu Rusyd masuk ke Barat melalui gerakan penerjemahan karyakaryanya. Ibnu Rusyd begitu berpengaruh bagi orang-orang kristen Eropa karena
dikenal sebagai komentator Aristoteles yang membawa semangat rasional dan
pencerahan bagi mereka. Melalui terjemahan karya-karya bahasa Arabnya ke dalam

bahasa Ibrani dan Latin, para sarjana Barat abad pertengahan banyak dipengaruhi
pandangan-pandangan filsafat Aristoteles yang dikembangkan Ibnu Rusyd. Di dunia
Barat ia disebut dengan Averrois, menurut Sirajuddin Zar, sebutan ini sebenarnya
lebih pantas untuk kakeknya. Karena sebutan ini adalah akibat terjadinya
metamorfose Yahudi-Spanyol-Latin. Kata Arab Ibnu oleh orang Yahudi diucapkan
seperti kata Ibrani Aben, sedangkan dalam standar Latin Rusyd menjadi Rochd.
Dengan demikian, nama Ibnu Rusyd menjadi Aben Rochd, maka melalui asimilasi
huruf-huruf konsonan dan penambahan sisipan sehingga akhirnya menjadi Averrois .
Pengaruh Ibnu Rusyd ini semakin menunjukkan bentuknya dengan
munculnya gerakan Averroisme di Barat yang mencoba mengembangkan gagasangagasan rasional Ibnu Rusyd. Averroisme merupakan istilah yang digunakan untuk
menunjukkan penafsiran filsafat Aristoteles yang dikembangkan Ibnu Rusyd oleh
pemikir-pemikir Barat-Latin . Pada mulanya istilah ini dimaksudkan sebagai bentuk
penghinaan terhadap pendukungnya. Tak seorang pun yang berani dengan tegas
menyatakan dirinya sebagai pendukung Averroisme. Barulah setelah masa Johannes
Jandun (1328) yang pertama kali menegaskan dirinya secara terbuka sebagai pengikut
Averroisme dan diikuti oleh Urban dari Bologna (1334) serta Paul dari Venesia
(1429), para pendukung pemikiran Ibnu Rusyd lainnya mulai berani secara terangterangan menyatakan pendirian mereka.

18
Tokoh yang terkenal sebagai pelopor Averroisme adalah Siger de Brabant
(1235-1282) dan diikuti oleh murid-muridnya seperti Boethius de Decie, Berner van
Nijvel dan Antonius van Parma. Para mahasiswa tersebut mempelajari, meneliti dan
menelaah karya- karya ulasan Ibnu Rusyd terhadap filsafat Aristoteles. Landasan
rasionalitas yang yang dikembangkan Ibnu Rusyd ternyata sangat menarik perhatian

mereka. Timbul kesadaran di kalangan sarjana-sarjana Barat untuk mengoptimalkan


penggunaan akal Ajaran-ajaran mereka yang terilhami oleh pemikiran Ibnu Rusyd
antara lain adalah pandangan mereka pembuktian keberadaan Tuhan dengan teori
gerak. Sama dengan Ibnu Rusyd, mereka memandang bahwa segala sesuatu di dunia
ini mesti ada yang menggerakkannya. Karena tidak mungkin ada rentetan gerak yang
tiada hentinya itu tanpa ada penggeraknya, maka sampailah mereka pada kesimpulan
adanya penggerak utama. Itulah yang dalam bahasa Ibnu Rusyd disebut al-Muharrik
al-Awwal (Tuhan) atau Prima Causa menurut Aristoteles. Berdasarkan pandangan ini,
mereka juga mengikuti Ibnu Rusyd dalam pandangan mereka tentang teori kausalitas.
Meskipun Tuhan adalah penyebab segala sesuatu, Tuhan hanyalah menciptakan akal
pertama saja, sedangkan secara seterusnya diciptakan oleh akal-akal berikutnya.
Inilah yang dimaksud Ibnu Rusyd dengan hukum-hukum alam terhadap penciptaan
Tuhan . Jadi, sebagaimana Ibnu Rusyd, mereka memahami bahwa penciptaan Tuhan
terhadap segala sesuatu bukanlah secara langsung, tetapi melalui hukum-hukum alam
yang tetap yang telah diciptakan-Nya terhadap segala ciptaan-Nya tersebut .
Pada tahun 1270, paham Averroisme yang diajarkan Siger van Brabant dan
murid-muridnya diharamkan oleh gereja. Para penguasa Kristen ketika itu
menganggap ajaran Ibnu Rusyd berbahaya bagi akidah orang Kristen.

19
Lalu, pada tahun 1277 pandangan-pandangan Averroisme secara resmi
dilarang di Paris melalui sebuah undang-undang yang dikeluarkan gereja. Siger van
Brabant sendiri akhirnya dihukum mati oleh gereja tujuh tahun kemudian. Pada
tahun-tahun berikutnya, Paus semakin meningkatkan aksinya menentang universitas
yang mengajarkan pemikiran Aristoteles dan Ibnu Rusyd. Banyak tokoh-tokoh

Averroisme dihukum dan buku-buku karangan Ibnu Rusyd dibakar. Namun demikian,
larangan dan kutukan gereja terhadap Averroisme tidak membuat surut perkembangan
gerakan intelektual ini, sebaliknya malah semakin menyebar ke berbagai wilayah
lainnya di Eropa. Melihat kepada keadaan di atas, maka di lakukan usaha-usaha untuk
mempertahankan dominasi mutlak gereja dan menolak gerakan Averroisme yang
dilakukan oleh tokoh-tokoh gereja. Meskipun dalam beberapa sisi mereka dapat
menerima prinsip-prinsip Aristotelian yang dikembangkan Ibnu Rusyd, dalam
beberapa hal mereka menolak prinsip-prinsip Aristotelian dan menasranikannya
seperti yang dilakukan oleh Arbertus the Great dan muridnya Thomas Aquinas.
Keduanya adalah anggota ordo Dominican, sebuah ordo imam Katolik yang didirikan
oleh St. Dominicus. Gerakan Averroisme yang ditandai oleh semangat rasional inilah
yang yang melahirkan renaisans di Eropa. Tokoh-tokoh Averroisme meyakini
kebenaran pandangan Ibnu Rusyd tentang keharmonisan antara akal dan wahyu,
filsafat dan agama, menimbulkan kesadaran bagi mereka untuk mempelajari filsafat
dan ilmu pengetahuan sebagai warisan dari peradaban Yunani dan Islam.

20

Pelajaran/ Pesan Yang Dapat Diambil

Ibnu Rusyd seorang filsuf yang sangat terkenal di Zamannya, beliau mencoba
menegakkan kebenaran dengan meluruskan argumen-argumen Al-Ghazali yang

menyatakan dalam bukunya Tahafut al Falasifah bahwa para filusuf telah banyak
mengungkapkan argumentasi yang bertentangan dengan Al Quran sehingga dia
menganggap para filusuf telah megingkari Al Quran dan ia mengatakan bahwa
mereka adalah orang-orang kafir.
Dalam menentang argumen-argumen Al-ghazali, Ibnu Rusyd yang pada saat
itu menduduki posisi sebagai kepala hakim agama tidak menggunakan otoritasnya
melainkan melalui jalan ijtihad.
Selain itu, Ibnu Rusyd hidup di masa kegelapan dan terpasungnya kebebasan
berpikir. Saat itu, filsafat dikubur hidup-hidup, terutama setelah difatwa sesat (kafir)
dan rancu (muthafit) oleh Imam al-Ghazali dalam Thahafut al-Falasifah. Karena itu,
langkah Ibnu Rusyd kemudian adalah mengkritisi sejumlah kitab yang selama ini
mengharamkan filsafat dengan menulis kitab bertajuk Tahafut at-Tahafut seraya
mengeluarkan fatwa pentingnya berpikir dan berfilsafat, sebagaimana ditulis secara
satir di kitab Fashi al-Maqal fi ma bayna al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittishal.
Menurutnya. Ibnu Rusyd menambahkan, persoalan kalam (teologi) semestinya tidak
melulu didekati dengan pendekatan tekstual, melainkan juga dengan filsafat, yaitu
melalui mekanisme takwil yang berlandaskan analogi demonstrative (al-qiyas alburhany). Atas dasar itu, Ibnu Rusyd menolak pengkafiran terhadap kaum filsuf,
karena filsafat dan pikir merupakan ajaran Islam yang otentik.

21
Ibnu Rusyd kerapkali melancarkan kritik terhadap para ulama, baik yang
hidup pada masa sebelumnya maupun yang semasa dengannya. Kritiknya ini
dilancarkan bukan demi menjatuhkan lawan, seperti dilakukan kaum sofis dalam
tradisi yunani atau kaum teolog (mutakallimun) dalam tradisi Islam. Kritik Ibnu
Rusyd ialah dalam rangka meluruskan paradigma berpikir.

22

PENDAHULUAN

Ibnu Rusyd adalah salah seorang filosof muslim yang hidup pada abad XII. Ia
dikenal sebagai seorang penyelamat ruh filsafat yang telah hampir mati dihantam oleh

Al Ghazali melalui karyanya Tahafut Al Falasifah. Ibnu Rusyd, melalui bukunya


Tahafut al-Tahafut kembali menyerang Al Ghazali yang dianggapnya telah
merancukan pemikiran filsafat.
Kebesaran dan kejeniusan Ibnu Rusyd tampak pada karya-karyanya. Dalam
berbagai karyanya ia selalu membagi pembahasannya ke dalam tiga bentuk, yaitu
komentar, kritik, dan pendapat. Ia adalah seorang komentator sekaligus kritikus
ulung. Ulasannya terhadap karya-karya filsuf besar terdahulu banyak sekali, antara
lain ulasannya terhadap karya-karya Aristoteles. Dalam ulasannya itu ia tidak sematamata memberi komentar (anotasi) terhadap filsafat Aristoteles, tetapi juga
menambahkan pandangan-pandangan filosofisnya sendiri, suatu hal yang belum
pernah dilakukan oleh filsuf semasa maupun sebelumnya. Kritik dan komentarnya
itulah yang mengantarkannya menjadi terkenal di Eropa. Ulasan-ulasannya terhadap
filsafat Aristoteles berpengaruh besar pada kalangan ilmuwan Eropa sehingga muncul
di sana suatu aliran yang dinisbatkan kepada namanya, Avereroisme.

DAFTAR PUSTAKA

Fuad al-Ahwani, Ahmad. 1997 . Filsafat Islam. Jakarta. Pustaka Firdaus.


Hanafi, Ahmad. 1996. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta. Bulan Bintang.
Madjid, Nurcholish. 1994.Khazanah Intelektual Islam, Jakarta. Bulan
Bintang.Ahmad, Zainal Abidin, Riwayat Hidup Ibnu Rusyd (Averroes) : Filosof
Islam terbesar di Barat, cet.1, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1975.

TUGAS ESSAY

BIOGRAFI IBNU RUSYD

Disusun Oleh :
Nama

: Suci Restu Damalia

NIM

: 09711273

Kelompok Tutorial

: 22

Nama Tutor

: dr.Ukhti Jamil

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2010