Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)

MEMBUAT KERAJINAN PUZZLE DARI STIK ES KRIM


PADA PASIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL, HARGA DIRI RENDAH, DAN
HALUSINASI DI DESA BANDUNGREJO KECAMATAN BANTUR
Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Jiwa

Oleh:
Gita Puspitasari
140070300011145

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
HALAMAN PENGESAHAN
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)
MEMBUAT KERAJINAN PUZZLE DARI STIK ES KRIM

PADA PASIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL, HARGA DIRI RENDAH, DAN


HALUSINASI DI DESA BANDUNGREJO KECAMATAN BANTUR

Diajukan untuk Memenuhi kompetensi Praktek Profesi Departemen CMHN

Oleh:
GITA PUSPITASARI
140070300011145

Telah diperiksa kelengkapannya pada:


Hari

Tanggal

Dan dinyatakan memenuhi kompetensi

Perseptor Klinik

Perseptor Akademik

Ns. Soebagijono, S.Kep, M.M. Kes.

Ns. Retno Lestari, S.Kp, MN

NIP. 19681009 1999003 1003

NIP. 19800914 200502 2001

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari
dalam dan lingkungan dari luar dirinya baik itu lingkungan keluarga, kelompok dan
komunitas.

Dalam

berhubungan

dengan

lingkungan,

manusia

harus

mengembangkan strategi koping yang efektif agar dapat beradaptasi. Hubungan


interpersonal yang dikembangkan dapat menghasilkan perubahan diri individu
diantaranya perubahan nilai budaya, perubahan sistem kemasyarakatan,
pekerjaan, serta akibat ketegangan antar idealisme dan realita yang dapat
menyebabkan terganggunya keseimbangan mental emosional. Tidak semua
orang dapat menyesuaikan diri dari perubahan tersebut, akibatnya akan
menimbulkan ketegangan atau stres yang berkepanjangan sehingga dapat
menjadi faktor pencetus dan penyebab serta juga mengakibatkan suatu penyakit.
Faktor yang dapat mempengaruhi stres adalah pengaruh genetik, pengalaman
masa lalu dan kondisi saat ini (Suliswati, 2005).
Penyebab gangguan jiwa salah satunya karena stresor psikologis. Yang
merupakan suatu keadaan atau suatu peristiwa yang menyebabkan adanya
perubahan dalam kehidupan seseorang hingga orang tersebut terpaksa
mengadakan adaptasi dalam menaggulangi stressor tersebut. Pasien yang
mengalami gangguan jiwa kronik sering kali hanya berdiam diri dirumah tanpa
melakukan kegiatan apapun. Hal ini yang dapat menyebabkan pasien dikucilkan
dalam masyarakat. Harga Diri Rendah pada pasien gangguan jiwa dapat
mempengaruhi kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Harga Diri
Rendah tampak dari ketidakmauan melakukan aktivitas apapun secara mandiri.
Salah satu terapi aktivitas yang dapat diberikan pada pasien gangguan
jiwa dengan isolasi sosial, harga diri rendah, dan halusinasi adalah terapi aktivitas
kelompok dengan membuat kerajinan puzzle dari stik es krim.
1.2

Tujuan
Tujuan umum TAK membuat kerajinan puzzle dari stik es krim yaitu peserta
dapat meningkatkan

kemauan dalam melakukan aktivitas dan merangsang

kembali kemampuan motorik halus. Tujuan khususnya adalah:


1. Peserta mampu memperkenalkan diri
2. Peserta mampu membuat kerajinan puzzle dari stik es krim

3. Peserta mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAK yang


telah dilakukan.
1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat Bagi Klien
Sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan klien dengan isolasi social, harga
diri rendah, dan halusinasi agar mempunyai kemauan dalam melakukan aktivitas
dan merangsang kembali kemampuan motorik halus.
1.3.2 Manfaat Bagi Terapis
Sebagai upaya untuk memberikan asuhan keperawatan jiwa secara holistik
Sebagai terapi modalitas yang dapat dipilih untuk mengoptimalkan Strategi
Pelaksanaan dalam implementasi rencana tindakan keperawatan klien
1.3.3 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai informasi untuk pihak akademisi, pengelola dan sebagai bahan
kepustakaan, khususnya bagi mahasiswa Ilmu Keperawatan sebagai aplikasi
dari pelayanan Mental Health Nurse yang optimal pada klien dengan Isolasi
Sosial, Harga Diri Rendah, dan halusinasi.
1.3.4 Manfaat Bagi Ponkesdes Bandungejo
Sebagai masukkan dalam implementasi asuhan keperawatan yang holistik pada
pasien dengan Harga Diri Rendah, Isolasi Sosial, dan Halusinasi pada
khususnya, sehingga diharapkan keberhasilan terapi lebih optimal.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1

Harga Diri Rendah

2.1.1

Definisi
Menurut Schult & Videbeck (1998), gangguan harga diri rendah adalah
penilaian negatif seseorang terhadap diri dan kemampuan, yang diekspresikan

secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan harga diri rendah


digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk
hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Budi
Ana Keliat, 1999).
2.1.2

Penyebab
Faktor yang mempegaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan
orang tua yang tidak relistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai
tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yag
tidak realistis. Sedangkan stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber
internal dan eksternal seperti :
1.

Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menaksika

2.

kejadian yang megancam.


Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dimana individu mengalami frustrasi. Ada tiga jeis transisi

peran :
a.Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan
dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan
dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilainilai tekanan untuk peyesuaian diri.
b.Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota
keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c.Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke
keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian
tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh,
perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan.

Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara:
a.
Situasional
Yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai
suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu
(korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba).
Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah, karena :
Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang
sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis,
pemasangan kateter, pemeriksaan perneal).
Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena
dirawat/ sakit/ penyakit.

Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai


pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa
persetujuan.
b. Kronik
Yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum
sakit/ dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit
dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini
mengakibatkan respons yang maladaptive. Kondisi ini dapat ditemukan pada
klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa. Dalam
tinjauan life span history klien, penyebab HDR adalah kegagalan tumbuh
kembang,

misalnya

sering

disalahkan,

kurang

dihargai,

tidak

diberi

kesempatan dan tidak diterima dalam kelompok (Yosep, 2007)


Tanda dan Gejalanya:
Data subjektif: mengungkapkan ketidakmampuan dan meminta bantuan
orang lain dan mengungkapkan malu dan tidak bisa bila diajak melakukan
sesuatu.
Data objektif: tampak ketergantungan pada orang lain, tampak sedih dan
tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan, wajah tampak
murung.

2.1.3

Manifestasi Klinis
Menurut Carpenito, L.J (1998 : 352); Keliat, B.A (1994 : 20)
1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan
terhadap penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak
2.

setelah mendapat terapi sinar pada kanker


Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika
saya segera ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri

3.

sendiri.
Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu,

4.

saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa


Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu

5.

dengan orang lain, lebih suka sendiri.


Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang

6.

memilih alternatif tindakan.


Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang
suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.

2.1.4

Tindakan Keperawatan

1) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien.


Untuk membantu pasien dapat mengungkapkan kemampuan dan aspek
positif yang masih dimilikinya , perawat dapat :
Mendiskusikan bahwa sejumlah kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki pasien seperti kegiatan pasien di rumah sakit, di rumah, dalam
keluarga dan lingkungan adanya keluarga dan lingkungan terdekat
pasien.
Beri pujian yang realistik/nyata dan hindarkan setiap kali bertemu dengan
pasien penilaian yang negatif.
2) Membantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan untuk
tindakan tersebut, saudara dapat :
Mendiskusikan dengan pasien kemampuan yang masih dapat digunakan
saat ini.
Bantu pasien menyebutkannya dan memberi penguatan terhadap
kemampuan diri yang diungkapkan pasien.
Perlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengar yang aktif

3) Membantu pasien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih


Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah :
Mendiskusikan dengan pasien beberapa kegiatan yang dapat dilakukan
dan dipilih sebagai kegiatan yang akan pasien lakukan sehari-hari.
Bantu pasien menetapkan kegiatan mana yang dapat pasien lakukan
secara mandiri, mana kegiatan yang memerlukan bantuan minimal dari
keluarga dan kegiatan apa saja yang perlu batuan penuh dari keluarga
atau lingkungan terdekat pasien. Berikan contoh cara pelaksanaan
kegiatan yang dapat dilakukan pasien. Susun bersama pasien dan buat
daftar kegiatan sehari-hari pasien.
4) Melatih kemampuan yang dipilih pasien
Untuk tindakan keperawatan tersebut saudara dapat melakukan:

Mendiskusikan dengan pasien untuk melatih kemampuan yang dipilih

Bersama pasien memperagakan kegiatan yang ditetapkan

Berikan dukungan dan pujian pada setiap kegiatan yang dapat dilakukan
pasien.

5) Membantu menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih

Untuk mencapai tujuan tindakan keperawatan tersebut, saudara dapat


melakukan hal-hal berikut :
Memberi kesempatan pada pasien untuk mencoba kegiatan yang telah
dilatihkan
Beri pujian atas kegiatan/kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap
hari
Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan
setiap kegiatan
Susun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang telah dilatih
Berikan kesempatan mengungkapkan perasaanya setelah pelaksanaan
kegiatan
2.2. Isolasi Sosial
2.2.1. Pengertian
Suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang
lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi atau kegagalan. Ia
mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain,
tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain
(Balitbang, 2007 dalam Fitria, 2009).
Merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan maupun komunikasi dengan orang lain (Rawlins, 1993
dalam Fitria, 2009).
Kerusakan interaksi

sosial

merupakan

suatu

gangguan

hubungan

interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang
menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam
hubungan sosial (Depkes RI, 2000 dalam Fitria, 2009).
Merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang
lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran dan kegagalan.

Klien mengalami

kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang


dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup
berbagi pengalaman (Balitbang, 2007 dalam Fitria, 2009).
2.2.2. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala (Fitria, 2009)
a. Kurang spontan
b. Apatis (acuh terhadap lingkungan)

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

Ekspresi wajah kurang berseri


Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
Mengisolasi diri
Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
Asupan makanan dan minuman terganggu
Retensi urin dan feses
Aktivitas menurun
Kurang energi/ tenaga
Rendah diri
Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus/janin (khususnya pada posisi
tidur)
Perilaku ini biasanya disebabkan karena seseorang menilai dirinya rendah

sehingga timbul perasaan malu untuk berinteraksi dengan orang lain. Bila tidak
dilakukan intervensi lebih lanjut, maka akan menyebabkan peruabahan persepsi
sesori: halusinasi dan resiko tinggi mencederai diri, orang lain bahkan
lingkungan. Perilaku yang tertutup dengan orang lain juga bisa menyebabkan
intoleransi aktivitas yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap ketidakmampuan
untuk melakukan perawatan secara mandiri. Seseorang yang mempunyai harga
diri rendah awalnya disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menyelesaikan
masalah dalam hidupnya, sehingga orang tersebut berperilaku tidak normal
(koping individu tidak efektif). Peranan keluarga cukup besar dalam mendorong
klien agar mampu menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, bila sistem
pendukungnya tidak baik (koping keluarga tidak efektif) maka akan mendukung
seseorang memiliki harga diri rendah (Fitria, 2009).
Rentang respons

Respons adaptif
Menyendiri
Otonomi
Bekerja sama

Respons maladaptif
Merasa sendiri
Depedensi
Curiga

Menarik diri
Ketergantungan
Manipulasi
Curiga

interdependen
Gambar 1. Rentang respons isolasi sosial (Stuart, 2006; Townsend, 1998 dalam Fitria,
2009)
Respons yang terjadi pada isolasi sosial (Fitria, 2009)
a. Respons adaptif
Respons adaptif adalah respons yang masi dapat diterima oleh norma-norma
sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku. Dengan kata lain, individu

tersebut masih dalam batas normal ketika menyelesaikan masalah. Berikut ini
adalah sikap yang termasuk respons adapatif:
i. Menyendiri, respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa
yang telah terjadi di lingkungan sosialnya
ii. Otonomi, kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide,
pikiran, dan perasaan dalam hubungan sosial
iii. Bekerja sama, kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama
lain
iv. Interdependen, saling ketergantungan antara individu dengan orang lain
dalam membina hubungan interpersonal.
b. Respons maladaptif
c. Respons maladaptif adalah respons yang menyimpang dari norma sosial dan
kehidupan di suatu tempat. Berikut ini adalah perilaku yang termasuk respons
maladaptif:
i. Menarik diri, seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina
hubungan secara terbuka dengan orang lain
ii. Ketergantungan, seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri
sehingga tergantung dengan orang lain
iii. Manipulasi, seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu
sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam
iv. Curiga, seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang
lain.
Faktor predisposisi (Fitria, 2009)
a.
Faktor tumbuh kembang
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang
harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Bila tugastugas dalam perkembangan ini tidak terpenuhi maka akan menghambat fase
perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah.
Tabel 1. Tugas perkembangan berhubungan dengan pertumbuhan
interpersonal (Stuart, 2006; Stuart dan Sundeen, 1995 dalam Fitria, 2009)
Tahap
Tugas
Perkembangan
Masa bayi
Menetapkan rasa percaya
Masa bermain
Mengembangkan otonomi dan awal perilaku
mandiri
Masa pra sekolah
Belajar menunjukkan inisiatif, rasa tanggung
jawab, dan hati nurani
Masa sekolah
Belajar berkompetisi, bekerja sama dan
berkompromi
Masa pra remaja
Menjalin hubungan intim dengan teman
sesama jenis kelamin
Masa remaja
Menjadi intim dengan teman lawan jenis atau
bergantung pada orang tua

Masa
muda

dewasa Menjadi saling bergantung antara orang tua


dan teman, mencari pasangan, menikah dan
mempunyai anak
Masa tengah baya
Belajar menerima hasil kehidupan yang
sudah dilalui
Masa dewasa tua
Berduka
karena
kehilangan
dan
mengembangkan
perasaan
ketertarikan
dengan budaya
b. Faktor komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya
gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam
berkomunikasi sehingga meninmbulkan ketidakjelasan (double bind) yaitu suatu
keadaan di mana seseorang anggota keluarga menerima pesan yang saling
bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam
keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar
keluarga.
c. Faktor sosial budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu
faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini
disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, di mana setiap
anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, berpenyakit kronis dan
penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.
d. Faktor biologis
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya
gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi
terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien
skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur
yang abnormal pada otak seperti atrofi otak, serta perubahan ukuran dan bentuk
sel dalam limbik dan daerah kortikal.
Faktor presipitasi (Fitria, 2009)
Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan
eksternal seseorang. Faktor stresor presipitasi dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Faktor eksternal
Contohnya adalah stresor sosial budaya, yaitu stres yang ditimbulkan oleh faktor
sosial budaya seperti keluarga
b. Faktor internal
Contohnya adalah stresor psikologis, yaitu stres terjadi akibat ansietas yang
berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan
individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk
berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.

2.3
Halusinasi
2.3.1. Pengertian:
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan di
mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh/baik. Individu yang
mengalami halusinasi seringkali beranggapan sumber atau penyebab halusinasi
itu berasal dari lingkungannya, padahal rangsangan primer dari halusinasi adalah
kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik
sehubungan dengan rasa bersalah, rasa sepi, marah, rasa takut ditinggalkan oleh
orang yang diicintai, tidak dapat mengendalikan dorongan ego, pikiran dan
perasaannya sendiri. (Budi Anna Keliat, 1999).
2.3.2. Teori yang menjelaskan halusinasi
Teori yang menjelaskan terjadinya halusinaasi adalah sebagai berikut:
Teori Biokimia
Terjadi sebagai respon terhadap stress yang mengakibatkan terlepasnya zat
halusinogenik neurotic (buffofenon dan dimethytransferase)
Teori Psikoanalisis
Merupakan respon ketahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar
yang mengancam dan ditekan untuk muncul dalam alam sadar
2.3.3. Rentang Respon Halusinasi

Gambar 1. Rentang Respon Halusinasi (Stuart & Laraia, 2001)


2.3.4. Jenis dan Karakteristik Halusinasi
Berikut akan dijelaskan mengenai ciri-ciri yang objektif dan subjektif pada klien
dengan halusinasi

Jenis halusinasi
Halusinasi Dengar
(klien mendengar suara/
bunyi yang tidak ada
hubungannya dengan
stimulus yang nyata)

Data objektif
Bicara/tertawa sendiri
Marah-marah tanpa sebab
Mendekatkaan telinga
kearah tertentu.

Data subjektif
Mendengar suara
atau kegaduhan
Mendengar suara
atau mengajak

Mendengar suara atau


kebisingan, paling sering
suara kata yang jelas,
berbicara dengan klien
bahkan sampai
percakapan lengkap
antara kedua penderita
halusinasi. Pikiran yang
terdengar jelas dimana
klien mendengar
perkataan bahwa pasien
disuruh untuk melakukan
sesuatu kadang kadang
dapat membahayakan.
Halusinasi Pengelihatan
(klien melihat gambaran
yang jelas/samar terhadap
adanya stimulus yang
nyata daari lingkungan
dan orang lain tidak
melihatnya)
Stimulus penglihatan
dalam kilatan cahaya,
gambar geometris,
gambar karton atau
panorama yang luas dan
kompleks. Penglihatan
dapat berupa sesuatu
yang menyenangkan /
sesuatu yang
menakutkan seperti
monster.
Halusinasi Penciuman
(klien mencium suatu bau
yang muncul dari sumber
tertentu tanpastimulus
yang nyata)
Membau bau-bau seperti
darah, urine, feses
umumnya bau- bau yang
tidak menyenangkan.
Halusinasi penciuman
biasanya akibat stroke,
tumor, kejang dan
demensia.

Menutup telinga

bercakap-cakap
Mendengar suara
yang mengajak
melakukan yang
berbahaya.

Menunjuk-nunjuk kearah
tertentu
Ketakutan pada sesuatau
yang tidak jelas

Melihat bayangan,
sinar, bentuk
geometris, kartun,
melihat hantu atau
monster

Mengendus-endus seperti
membaui bau-bauan
tertentu
Menutup hidung

Membaui bau-bauan
seperti darah, urine,
feses, dan kadangkadang bau-bauan
tersebut
menyenangkan bagi
klien

Halusinasi Pengecapan
Sering meludah
(klien merasakan sesuatu Muntah
yang tidak nyata,
biasanya merasakan rasa
makanan yang tidak enak)
Halusinasi Kinestetik
Memegang kakinya atau
(klien merasakan badanya
anggoata badan yang lain

Merasakan rasa
seperti darah, urine
atau feses

Mengatakan
badaantya bergerk

bergerak disuatu ruangan


atau anggota badanya
bergerak)
Halusinasi Perabaan
(klien merasakan sesuatu
pada kulitnya tanpa ada
stimulus yang nyata)

Halusinasi Visceral
(perasaan tertentu yang
timbul dalam tubuhnya)

yang dianggapnya bergerak


sendiri
Menggaruk-garuk
permukaan kulit

Memegang badannya yang


dianggapnya berubah
bentuk dan tidak normal
seperti biasanya

diudara

Mengatakan ada
serangga
dipermukaan
kulitnya.
Mengatakan seperti
tersengan listrik
Mengatakan
perutnya mengecil
setelah minum
softdrink

2.3.5. Fase Halusinasi


Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase menurut Stuart dan
Laraia (2001) dan setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu:
a.

Fase I ( Comforting / ansietas sebagai halusinasi menyenangkan )


Karakteristik :
Pada fase ini klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas,
kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada
pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas.
Perilaku klien :
Di sini dapat dilihat perilaku klien tersenyum, tertawa yang tidak sesuai,
menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan
asyik sendiri.

b.

Fase II ( Condemning / ansietas berat halusinasi memberatkan )


Karakteristik :
Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas
kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan
sumber yang dipersepsikan.
Perilaku klien :
Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas
seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan
tekanan darah), asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan
kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realita.

c.

Fase III (Controlling)


Karakteristik :
Klien berhenti menghentikan perlawanan
menyerah pada halusinasi tersebut.
Perilaku klien :

terhadap halusinasi dan

Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain, berkeringat, tremor,


tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi
yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang
lain.
d.

Fase IV (Conquering / Panik umumnya menjadi lezat dalam halusinasinya)


Karakteristik :
Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah
halusinasi.
Perilaku klien :
Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu
berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon
lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat membahayakan.

2.4 Terapi Aktivitas Kelompok


a. Definisi kelompok
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan 1 dengan yang lain,
saling bergantung dan mempunyai norma yang sama (stuart dan Laraia, 2001).
Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus
ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif,
kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan, dan menarik (Yolam, 1995 dalam stuart
dan laraia, 2001). Semua kondisi ini akan mempengaruhi dinamika kelompok,
ketika anggota kelompok memberi dan menerima umpan balik yang berarti dalam
berbagai interaksi yang terjadi dalam kelompok.
b. Tujuan dan Fungsi Kelompok
Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain
serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif. Kekuatan kelompok ada
pada konstribusi dari setiap anggota dan pimpinan dalam mencapai tujuannya.
Kelompok berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman dan saling membantu
satu sama lain, untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. Kelompok
merupakan laboraturium tempat untuk mencoba dan menemukan hubungan
interpersonal yang baik, serta mengembangkan perilaku yang adaptif. Anggota
kelompok merasa dimiliki, diakui, dan dihargai eksistensi nya oleh anggota
kelompok yang lain.
c. Jenis Terapi Kelompok
1. Terapi kelompok
Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan
waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu. Fokus terapi

kelompok adalah membuat sadar diri (self-awareness), peningkatan hubungan


interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya.
2. Kelompok terapeutik
Kelompok terapeutik membantu mengatasi stress emosi, penyakit fisik krisis,
tumbuh kembang, atau penyesuaian sosial, misalnya, kelompok wanita hamil
yang akan menjadi ibu, individu yang kehilangan, dan penyakit terminal. Banyak
kelompok terapeutik yang dikembangkan menjadi self-help-group. Tujuan dari
kelompok ini adalah sebagai berikut:
a. mencegah masalah kesehatan
b. mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok
c. mengingatkan kualitas kelompok. Antara anggota kelompok saling membantu
dalam menyelesaikan masalah.
3. Terapi Aktivitas Kelompok
Wilson dan Kneisl (1992), menyatakan bahwa TAK adalah manual, rekreasi,
dan teknik kreatif untik menfasilitasi pengalaman seseorang serta meningkatkan
respon sosial dan harga diri. Aktivitas yang digunakan sebagai erapi didalam
kelompok yaitu membaca puisi, seni, musik, menari, dan literatur. Terapi aktivitas
kelompok dibagi menjadi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi
kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas
kelompok stimulasi realita, dan terpi aktivitas kelompok Stimulasi Sensori.
Terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi melatih mempersepsikan
stimulus yang disediakan atau stimulud yang pernah dialami, diharapkan respon
klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif. Terapi aktivitas
kelompok stimulasi sensori digunakan sebagai stimulus pada sensori klien. Terapi
aktivitas kelompok orientasi realita melatih klien mengorientasikan pada
kenyataan yang ada disekitar klien. Terapi aktivitas kelompok Stimulasi Sensori
untuk membantu klien melakukan Stimulasi Sensori dengan individu yang ada
disekitar klien.
BAB III
PELAKSANAAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI
3.1 KARAKTERISTIK KLIEN DAN PROSES SELEKSI
Karakteristik klien
a. Klien yang tidak mengalami gangguan fisik
b. Klien yang mudah mendengarkan dan mempraktekannya.
c. Klien dengan harga diri rendah, isolasi sosial, dan halusinasi
d. Klien yang mudah diajak berinteraksi.
Proses Seleksi

a. Mengobservasi klien dengan riwayat harga diri rendah, isolasi sosial, dan
halusinasi.
b. Mengumpulkan keluarga klien yang termasuk dari karakteristik masalah harga
diri rendah, isolasi sosial, dan halusinsasi untuk mengikuti TAK.
3.2 TUGAS DAN WEWENANG
1. Tugas Leader dan Co-Leader
-

Memimpin acara: menjelaskan tujuan dan hasil yang diharapkan.

Menjelaskan peraturan dan membuat kontrak dengan klien

Memberikan motivasi kepada klien

Mengarahkan acara dalam pencapaian tujuan

Memberikan reinforcemen positif terhadap klien

2. Tugas Fasilitator
-

Ikut serta dalam kegiatan kelompok

Memastikan lingkungan dan situasi aman dan kondusif bagi klien

Menghindarkan klien dari distraksi selama kegiatan berlangsung

Memberikan stimulus/motivasi pada klien lain untuk berpartisipasi aktif

Memberikan reinforcemen terhadap keberhasilan klien lainnya

Membantu melakukan evaluasi hasil

3. Tugas Klien
-

Mengikuti seluruh kegiatan

Berperan aktif dalam kegiatan

Mengikuti proses evaluasi

3.3 PERATURAN KEGIATAN


1. Klien diharapkan mengikuti seluruh acara dari awal hinggga akhir
2. Klien dilarang meninggalkan ruangan bila acara belum selesai dilaksanakan
3. Klien yang tidak mematuhi peraturan akan diberi sanksi :
-

Peringatan lisan

3.4 TEKNIK PELAKSANAAN


TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
Tema
Sasaran
Hari/ tanggal
Waktu
Tempat
Terapis:

: Terapi Aktivitas Kelompok Membuat puzzle dari stik es krim


: Pasien Harga Diri Rendah, Isolasi Sosial, dan Halusinasi
: Jumat, 13 Mei 2016
: 60 menit
: Di Rumah Ny. Istiqomah

1. Leader
2. Co Leader
3. Fasilitator 1
Tahapan Sesi:

: Gita Puspitasari
: Yofa Birrul W. R.
: Istiqomah

Sesi 1: Memperkenalkan diri


Sesi 2: Membuat kerajinan puzzle dari stik es krim

A.

Tujuan
Sesi 1: Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan: nama

lengkap, nama panggilan


Sesi 2: klien mampu membuat kerajinan puzzle dari stik es krim

B.

Sasaran
1. Kooperatif
2. Tidak terpasang restrain

C.

Nama Klien
1. Sarni
2. Nurul
3. Istiqomah
4. Sinta

D. Setting
Terapis dan klien duduk bersama dalam satu lingkaran
Ruangan nyaman dan tenang
E. MAP

L
K

F
C

Keterangan :
L : Leader
C: Co Leader
F : Fasilitator
K : Klien
F.

Alat dan Bahan


Stik es krim
Gunting
Gambar yang sudah dicetak sesuai kebutuhan
Lem
Karton tebal

Tali
Kancing

G. Metode
Dinamika kelompok
Diskusi dan tanya jawab
H. Langkah-Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Memberi salam terapeutik: salam dari terapis
b. Evaluasi/validasi: menanyakan perasaan klien saat ini
c. Kontrak: Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu memperkenalkan diri
3. Tahap kerja
SESI 1
a. Peserta memperkenalkan diri sendiri, meliputi : nama
b. Memberi pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi
tepuk tangan
SESI 2
a. Membagikan Stik es krim, Gunting, Gambar yang sudah dicetak sesuai
kebutuhan, Lem, Karton tebal, Tali.
b. Menginstruksikan peserta untuk menempelkan gambar yang telah dicetak
ke stik es krim.
c. Menginstruksikan peserta untuk membentuk karton tebal menjadi pigura
d. Menginstruksikan peserta untuk menambahkan tali pada atas pigura
e. Menginstruksikan peserta untuk menghias tepi pigura menggunakan
f.

kancing
Memberi pujian untuk setiap anggota kelompok dengan memberi tepuk
tangan.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
Menganjurkan tiap anggota kelompok melakukan kegiatan tersebut secara
berkala
c. Kontrak yang akan datang
Menyepakati kegiatan berikutnya
Menyepakati waktu dan tempat
5. Evaluasi Hasil
a. Kemampuan verbal
No.

Aspek yg dinilai

Nama klien

1
2
5
6

Menyebutkan nama lengkap


Menyebutkan nama panggilan
Menanyakan nama lengkap
Menanyakan nama panggilan
Jumlah

b. Kemampuan nonverbal
No.

Nama klien

Aspek yg dinilai

1
2
3

Kontak mata
Duduk tegak
Menggunakan bahasa tubuh yg

sesuai
Mengikuti

kegiatan

dari

awal

sampai akhir
Jumlah
c. Kemampuan Membuat kerajinan puzzle dari stik es krim
No.

Nama klien

Aspek yg dinilai

Menempel gambar pada stik es

krim
Menggunting

dibentuk menjadi pigura


Membuat tali untuk gantungan

karton

untuk

pigura di atas pigura


Menghias pigura dengan kancing
Jumlah

BAB IV
HASIL EVALUASI
a. Kemampuan verbal
No.

Aspek yg dinilai

Nama klien

1
2
5
6

Menyebutkan nama lengkap


Menyebutkan nama panggilan
Menanyakan nama lengkap
Menanyakan nama panggilan
Jumlah

b. Kemampuan nonverbal
No.

Nama klien

Aspek yg dinilai

1
2
3

Kontak mata
Duduk tegak
Menggunakan bahasa tubuh yg

sesuai
Mengikuti

kegiatan

dari

awal

sampai akhir
Jumlah
c. Kemampuan Membuat kerajinan puzzle dari stik es krim
No.

Nama klien

Aspek yg dinilai

Menempel gambar pada stik es

krim
Menggunting

dibentuk menjadi pigura


Membuat tali untuk gantungan

karton

untuk

pigura di atas pigura


Menghias pigura dengan kancing
Jumlah

DAFTAR PUSTAKA
Hamid, A.Y.S. 1999. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa Pada Anak dan
Remaja, Widya Medika, Jakarta.
Hurlock, E. 1998. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan SEpanjang Rentang
Kehidupan, Edisi 5, Erlangga, Jakarta.
Rasmun. 2004. Stress, Koping, dan Adaptasi Teori dan Pohon Masalah Keperawatan,
Sagung Seto, Jakarta.
Stuart, Gail and Laraia, M. 2005. Principles and Practice of Psychiatric Nursing, 8th
edition, Mosby, St. Louis.
Stuart & Sundeen. 1995. Principles an Practice of Psychiatric Nursing, fifth edition,
Mosby, St.Louis.

DOKUMENTASI KEGIATAN