Anda di halaman 1dari 18

DORMANSI BIJI

JURNAL
OLEH :
FEBER MEDIANI ZEBUA
150301006
AGROEKOTEKNOLOGI-1A

L A B O R A T O R I U M
PR O G R AM

F I S I O L O G I

STUDI

F A K U L T A S

T U M B U H A N

AG R O E K O T E K N O LO G I
P E R T A N I A N

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari jurnal ini adalah Dormansi Biji yang merupakan salah satu syarat
untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan

terima

kasih kepada

Prof. Ir. J. A. Napitupulu, MSc., Ir. Meiriani,MP., Ir. Ratna Rosanty Lahay, MP., Ir.
Lisa Mawarni MP., dan Ir. Haryati, MP., selaku dosen mata kuliah Fisiologi Tumbuhan
serta abang dan kakak asisten yang telah banyak membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu
penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun dalam
penyempurnaan jurnal ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga jurnal ini bermanfaat bagi
kita semua.

Medan, Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Praktikum
Kegunaan Penulisan
TINJAUAN PUSTAKA
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Bahan dan Alat
Prosedur Percobaan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pembahasan
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dormansi yaitu keadaan terbungkusnya lembaga biji oleh lapisan kulit atau senyawa
tertentu. Dormansi merupakan cara embrio mempertahankan diri dari keadaan lingkungan
yang tidak menguntungkan, tetapi berakibat pada lambatnya proses perkecambahan. Lama
waktu dimana biji dorman masih hidup dan mampu berkecamabah bervariasi dari beberapa
hari hingga beberapa dekad atau bahkan lebih lama lagi, bergantung pada spesies dan kondisi
lingkungan (Fathurrahman, 2013).
Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak
berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah
memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan. dormansi benih merupakan kondisi benih
yang tidak mampu berkecambah meski kondisi lingkungannya optimun untuk berkecambah.
Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari, semusim bahkan sampai
beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dormansinya. Pertumbuhan tidak akan
terjadi selama benih belum melalui masa dormansinya atau sebelum dikenakan suatu
perlakuan khusus terhadap benih tersebut (Widhityarini, et al, 2011).
Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari, semusim, bahkan
sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dari dormansinya.
Perkecambahan tidak akan terjadi selama benih belum melalui masa dormansinya, atau sebe
lum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap benih tersebut. Dormansi dapat dipandang
sebagai salah satu keuntungan biologis dari benih dalam mengadaptasikan siklus
pertumbuhan tanaman terhadap keadaan lingkungannya, baik musim maupun variasi-variasi
yang kebetulan terjadi sehingga secara tidak langsung benih dapat menghindarkan dirinya
dari kemusnahan alam (Tim Pengampu, 2011).
Dormansi benih dapat dibedakan atas beberapa tipe dan kadang-kadang satu jenis
benih memiliki lebih dari satu tipe dormansi. Dormansi dapat dibedakan atas dormansi

embrio, dormansi kulit benih dan dormansi kombinasi keduanya. Dormansi dapat dipatahkan
dengan perlakuan pendahuluan untuk mengaktifkan kembali benih yang dorman. Ada
berbagai cara perlakuan pendahuluan yang dapat diklasifikasikan yaitu pengurangan
ketebalan kulit atau skarifikasi, perendaman dalam air, perlakuan dengan zat kimia,
penyimpanan benih dalam kondisi lembab dengan suhu dingin dan hangat atau disebut
stratifikasi dan berbagai perlakuan lain (Yuniarti, 2015).
Penyebab dan mekanisme dormansi merupakan hal yang sangat penting diketahui
untuk dapat menentukan cara pematahan dormansi yang tepat sehingga benih dapat
berkecambah dengan cepat dan seragam. Masa dormansi tersebut dapat dipatahkan dengan
skarifikasi mekanik maupun kimiawi. Studi beberapa perlakuan pematahan dormansi belum
memberikan

hasil

yang

memuaskan

khususnya

pada

benih

tanaman

perkebunan (Fahmi, 2010).


Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk mengenal tipe tipe dormansi, mengetahui
pengaruh kulit biji yang keras terhadap perkecambahan, serta mengetahui pengaruh bahan
bahan kimia dan fisika terhadap perkecambahan biji.
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat
memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi
Agroekoteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA

Dormansi merupakan fase istirahat dari suatu organ tanaman yang mempunyai potensi
untuk tumbuh aktif karena memiliki jaringan meristem. Pada fase ini pertumbuhan organ
tersebut hanya terhenti untuk sementara. Pertumbuhan yang terhenti ini hanya dinilai secara
visual, jadi mungkin saja pada organ tersebut masih berlangsung proses akumulasi senyawasenyawa organik tertentu. Jaringan meristem selalu terdapat pada organ intermediate seperti
embrio biji, tunas apikal, tunas lateral, ujung akar, dan kambium. Selain itu juga terdapat
pada organ determinate seperti daun, bunga, dan buah, tetapi hanya sampai pada fase awal
perkembangannya. Jika organ-organ dengan jaringan meristem ini terhenti pertumbuhannya
untuk sementara, maka organ-organ ini disebut dalam keadaan dorman (Nurmala, 2003).
Dormansi biji sebenarnya merupakan suatu mekanisme untuk mempertahankan diri
teradap berbagai kondisi lingkungan yang tidak ramah seperti ketersediaan air yang terbatas,
suhu yang tidak terlalu dingin, atau intensitas cahaya yang terlalu rendah. Mekanisme internal
ini antara lain dapt berupa impermeabilitas kulit biji terhadap air dan gas, embrio yang
rudimenter,

adanya

inhibitor,

rendahnya

kandungan

zat

perangsang

tumbuhan

(Tim Mata Kuliah Fisiologi Tumbuhan. 2011).


Salah satu manfaat dormansi adalah untuk membantu penanganan pascapanen. Bila
tidak terjadi dormansi pada benih maka proses perkecambahan akan cepat berlangsung
apabila kondisi lingkungan disekitar benih mendukung. Tetapi apabila suatu saat kita
menginginkan perkecambahan cepat terjadi maka dormansi tersebut dapat dipatahkan dengan
beberapa cara sesuai dengan sifat fisiologis benih (Wusono dkk, 2001).
Lama waktu di mana biji dorman masih hidup dan mampu berkeambah bervarisi
dari beberapa hari hingga beberapa dekade ataubahkan lebih lama lagi, bergantung pada
spesies da kondisi lingkungan. Sebagian besr biji sangat tahan lama sehingga bisa bertahan
selama satu atau dua tahun sapai kondisi memungkinkan untk berkecambah. Dengan
demikian, tanah memiliki kumpilen biji yang belum berkecambah yang mungkin telah

menumpuk selama beberqapa tahun. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa vegetasi
bisa kmuncul kembali sedemikian cepatnya setelah kejadian kebakaran, kekeringan, banjir,
tau beberapa bencana alam lainnya. (Campbell dkk, 2003)
Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup, tetapi tidak
berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah
memenuhi persyaratan, bagi suatu perkecambahan. Beberapa faktor penyebab terjadinya
dormansi adalah: 1.Rendahnya/tidak adanya proses imbibisi; 2. Proses respirasi terhambat; 3.
Rendahnya proses metabolisme cadangan makanan (Hafizha, 2009).
Tipe-tipe dormansi yaitu : 1. Dormansi fisik, disebabkan oleh kulit buah yang keras
dan impermeable atau penutupan buah yang menghalangi imbibisi dan pertukaran gas.
Fenomena ini sering disebut dengan benih keras, meskipun istilah ini biasanya digunakan
untuk benih legum yang kedap air. Dormansi tipe ini adalah yang paling umum ditemukan di
daerah tropis. Karena struktur buahnya, sifat dormansi fisik untuk semua jenis sama dan
perlakuan awal yang sama dapat diberikan. Contoh tanaman yang mengalami dormansi fisik
yaitu pinus; 2. Dormansi mekanis , menunjukkan kondisi dimana pertumbuhan embrio
secara fisik dihalangi karena struktur penutupan yang keras. Pada dasarnya hampir semua
benih yang mempunyai dormansi mekanis mengalami keterbatasan dalam penyerapan air.
Dormansi mekanis menghalangi perkecambahan setelah dormansi fisik dapat diatasi.
Halangan mekanis pada pertumbuhan embrio mungkin dijumpai pada semua benih. Contoh
tanaman yang mengalami dormansi mekanis yaitu angsana (Lensari, 2009).
Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji, keadaan
fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua tersebut. Dormansi pada beberapa jenis
disebabkan oleh: 1) struktur benih, misalnya kulit benih, pericarp dan membran, yang
mempersulit keluar masuknya air dan udara; 2) kelainan fisiologis pada embrio; 3)
penghambat (inhibitor) perkecambahan atau penghalang lainnya; atau 4) gangguan dari

faktor-faktor tersebut diatas. Kedapnya kulit benih terhadap air atau oksigen karena kulit
benih tersebut terlalu keras, diliputi oleh gabus atau lilin. Zat penghambat dapat berada
disekitar kulit serat di bagian-bagian dalam benih itu, atau menempel pada kulit. dormansi
juga dapat sebagai salah satu strategi benih-benih tumbuhan agar dapat mengatasi lingkungan
suboptimun guna mempertahankan kelanjutan spesiesnya (Martalenni, 2013).
Dipandang dari segi ekonomis terdapatnya keadaan dormansi pada benih dianggap
tidak menguntungkan. Oleh karena itu diperlukan cara-cara agar dormansi dapat dipecahkan
atau sekurang-kurangnya lama dormansi dapat dipersingkat. Beberapa cara yang telah
diketahui adalah: 1) Perlakuan mekanis; pada umumnya dipergunakan untuk memecahkan
dormansi benih yang disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji baik terhadap air atau gas,
resistensi mekanis kulit perkecambahan yang terdapat pada kulit biji. Terdiri dari: Skarifikasi
(mencakup seperti mengikir atau mengosok kulit biji dengan kertas empelas, melubangi kulit
biji dengan pisau dan lain sebagainya) dan tekanan. 2) Perlakuan kimia; yaitu perlakuan
dengan memberikan bahan-bahan kimia untuk memecahkan dormansi pada benih. 3)
Perlakuan perendaman dengan air; perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan
memudahkan penyerapan air oleh benih. 4) Perlakuan pemberian temperatur tertentu; terdiri
dari stratifikasi dan perlakuan dengan temperatur rendah dan tinggi. 5) Perlakuan dengan
cahaya; cahaya tidak hanya mempengaruhi persentase perkecambahan benih, tetapi juga laju
perkecambahan (Sari, 2013).
Penyebab dormansinya adalah karena kulit benih yang keras dan endospermnya keras
seperti batu. Dormansi yang disebabkan oleh kulit benih disebut juga dormansi
struktural..Kulit benih yang keras ini dapat mengakibatkan impermiabel terhadap air dan gas
atau dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan embrio. Hal inilah yang
menyebabkan benih tersebut tidak dapat berkecambah dalam waktu yang relatif singkat
(Rozen, et al, 2011).

Asam sulfat (H2SO4) merupakan salah satu zat kimia yang mampu meningkatkan
persentase perkecambahan pada benih yang memiliki dormansi kulit benih yang keras . Hal
ini disebabkan oleh H2SO4 memfasilitasi kandungan lignin pada benih sehingga benih
berlubang. Hal ini menyebabkan air mudah masuk sehingga benih mudah berkecambah.
Kaliun nitrat (KNO3) merupakan salah satu perangsang perkecambahan yang sering
digunakan baik dalam hubungannya dengan pengujian maupun dalam operasional
perbanyakan tanaman kerena KNO3 mampu memasakkan embrio. terutama embrio yang
belum masak fisiologis. KNO3 mempunyai pengaruhyang kuat terhadap persentase
perkecambahaan

dan

vigor

pada

perlakuan

pendahuluan

Acacia nilotica (Sinambela, 2008).

BAHAN DAN METODE


Tempat dan waktu praktikum

asam

benih

Praktikum ini dilaksanakan diLaboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi


Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada ketinggian 25 mdpl,
pada hari senin, 21 Maret 2016 pukul 15.00-16.40 WIB.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 1 buah tomat utuh dengan
jumlah biji 30 buah, biji jarak, biji flamboyan, biji lengeng masing-masing 20 buah sebagai
objek pengamatan yang akan diamati, aquades sebagai larutan untuk merendam biji, larutan
coumarin, asam sulfat(H2SO4), KNO3, kertas pasir halus, kertas merang,pasir, karet gelang.
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri sebagai alat
untuk meletakkan biji, gelas beker sebagai alat untuk memanaskan air, dan bak
perkecambahan sevagai media untuk pertumbuhan biji.
Prosedur Percoban
A. Kulit biji yang keras :
1. Disiapkan bak perkecambahan, dan diisi dengan pasir
2. Dipilih 16 biji flamboyant, jarak dan lengkeng lalu diberi perlakuan sebagai
berikut :
a. Direndam 2 biji dalam air destilata dingin selama 1 jam
b. Direndam 2 biji dalam air yang baru didihkan dan dibiarkan sampai airnya
dingin
c. Dikikir atau diasah 2 biji dengan kertas pasir halus dekat dengan embrio,
sampai tampak kotiledonnya. Direndam dalam air destilata selama 1 jam
d. Dikikir atau diasah 2 biji dengan pada jarak 90 o dekat dengan embrio, sampai
tampak kotiledonnya. Direndam dalam air destilata selama 1 jam
e. Dikikir atau diasah 2 biji dengan pada jarak 180 o dekat dengan embrio, sampai
tampak kotiledonnya. Direndam dalam air destilata selama 1 jam
f. Direndam 2 biji dalam larutan H2SO4 5 cc/l selama 15 menit
g. Direndam 2 biji dalam larutan KNO3 5 cc/l selama 15 menit
3. Ditanam pad bak pasir yang sudah disiram air dengan kedalaman 1 cm
4. Ditempatkan pada tempat gelap pada suhu kamar/ruang

5. Diperiksa setiap hari selama 1 minggu, disiram bila media perkecambahan kering
dan dicatat perkembangannya. Dibandingkan satu perlakuan dengan perlakuan
lainnya.
B. Faktor-faktor kimiawi :
1. Disediakan 3 buah cawan petri yang telah dilapisi dengan kertas merang
2. Dibelah buah tomat, diambil cairan ekstrak buah tomat tersebut
3. Diambil 30 buah biji tomat tersebut :
a. Cawan 1 : diletakkan 10 biji tomat tanpa dicuci + larutan ekstrak tomat
b. Cawan 2 : diletakkan 10 biji tomat yang sudah dicuci air destilata + air
destilata
c. Cawan 3 : diletakkan 10 biji tomat yang sudah dicuci air destilata
+ larutan Coumarin 40 mg/liter
4. Ditutup cawan, diberi label dan diletakkan pada tempat gelap pada suhu
kamar/ruang
5. Diamati persentase perkecambahan setiap hari selama 1 minggu.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
FAKTOR KIMIAWI
PERLAKUAN
BIJI TOMAT
AIR
DESTILATA
EKSTRAK
BUAH
TOMAT
LARUTAN
COUMARIN

BIJI BERKECAMBAH
1

TOTAL

80

10

10

10

10

100

KULIT BIJI KERAS (HARI 1)

BIJI BERKECAMBAH
BIJI
DEKAT
EMBRIO
FLAMBOYAN
JARAK
KELENGKENG

0
0
0

DIKIKIR
90
DARI
EMBRIO
0
0
0

180
DARI
EMBRIO
0
0
0

AIR
PANAS

AIR
DINGIN

H2SO4

KNO3

0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

AIR
PANAS

AIR
DINGIN

H2SO4

KNO3

0
0
0

0
0
0

0
1
0

0
0
0

AIR
PANAS

AIR
DINGIN

H2SO4

KNO3

0
0
1

0
0
0

0
1
0

0
0
0

AIR

H2SO4

KNO3

KULIT BIJI KERAS (HARI 2)


BIJI BERKECAMBAH
BIJI
DEKAT
EMBRIO
FLAMBOYAN
JARAK
KELENGKENG

0
1
0

DIKIKIR
90
DARI
EMBRIO
0
1
0

180
DARI
EMBRIO
0
1
0

KULIT BIJI KERAS (HARI 3)


BIJI BERKECAMBAH
BIJI
DEKAT
EMBRIO
FLAMBOYAN
JARAK
KELENGKENG

1
1
0

DIKIKIR
90
DARI
EMBRIO
1
2
0

180
DARI
EMBRIO
1
2
0

KULIT BIJI KERAS (HARI 4)


BIJI

BIJI BERKECAMBAH
DIKIKIR

AIR

DEKAT
EMBRIO
FLAMBOYAN
JARAK
KELENGKENG

1
1
0

90
DARI
EMBRIO
1
2
0

180
DARI
EMBRIO
1
2
0

PANAS

DINGIN

0
0
1

1
1
0

0
1
0

0
0
0

AIR
PANAS

AIR
DINGIN

H2SO4

KNO3

0
0
1

1
1
0

0
2
0

0
0
0

AIR
PANAS

AIR
DINGIN

H2SO4

KNO3

0
0
1

1
1
0

0
2
0

0
0
0

AIR
PANAS

AIR
DINGIN

H2SO4

KNO3

0
0
1

1
1
0

0
2
0

0
0
0

KULIT BIJI KERAS (HARI 5)


BIJI BERKECAMBAH
BIJI
DEKAT
EMBRIO
FLAMBOYAN
JARAK
KELENGKENG

2
2
0

DIKIKIR
90
DARI
EMBRIO
1
2
0

180
DARI
EMBRIO
2
2
0

KULIT BIJI KERAS (HARI 6)


BIJI BERKECAMBAH
BIJI
DEKAT
EMBRIO
FLAMBOYAN
2
JARAK
2
KELENGKENG
0
KULIT BIJI KERAS (HARI 7)

DIKIKIR
90
DARI
EMBRIO
1
2
0

180
DARI
EMBRIO
2
2
0

BIJI BERKECAMBAH
BIJI
DEKAT
EMBRIO
FLAMBOYAN
JARAK
KELENGKENG
Pembahasan

2
2
0

DIKIKIR
90
DARI
EMBRIO
1
2
0

180
DARI
EMBRIO
2
2
0

Dormansi adalah masa istirahat biji sehingga proses perkecambahan tidak dapat
terjadi, yang disebabkan karena adanya pengaruh dari dalam dan luar biji. Dormansi benih
berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan
kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Sebelum menjadi
tumbuhan baru, biji mengalami fase berupa suatu proses perkecambahan. Perkecambahan
merupakan suatu proses awal aktifnya suati embrio yang menyebabkan pecahnya kulit biji
dan menghasilkan tanaman baru yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya sendiri. Hal
ini sesuai dengan literatur (Nurmala, 2003) yang menyatakan bahwa Dormansi merupakan
fase istirahat dari suatu organ tanaman yang mempunyai potensi untuk tumbuh aktif karena
memiliki jaringan meristem yang pada fase ini pertumbuhan organ tersebut hanya terhenti
untuk sementara.
Dari praktikum yang dilakukan dapat kita ketahui bahwa tipe dormansi ada dua yaitu
dormansi fisik dan dormansi fisiologis. 1. Dormansi fisik menyebabkan pembatas struktural
terhadap perkecambahan adalah kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang
mekanis terhadap masuknya air atau gas pada berbagai jenis tanaman. Yang termasuk
dormansi fisik adalah: a. Impermeabilitas kulit biji terhadap air; b. Resistensi mekanis kulit
biji terhadap pertumbuhan embrio; c. Adanya zat penghambat; 2. Dormansi fisiologis
(embrio) : Penyebabnya adalah embrio yang belum sempurna pertumbuhannya atau belum
matang. Hal ini sesuai dengan literatur (Lensari, 2009) bahwa Tipe-tipe dormansi yaitu : 1.
Dormansi fisik, disebabkan oleh kulit buah yang keras dan impermeable atau penutupan
buah yang menghalangi imbibisi dan pertukaran gas. 2. Dormansi mekanis , menunjukkan
kondisi dimana pertumbuhan embrio secara fisik dihalangi karena struktur penutupan yang
keras.
Dari praktikum yang telah dilakukan fungsi H2SO4 adalah menyebabkan kelunakkan
pada kulit benih dan dapat diterapkan baik pada legum dan non legume dan mengubah

permeabilitas kulit benih, sehingga oksigen dan air dapat masuk menembus kulit benih.
Sedangkan Larutan KNO3 dapat merangsang perkecambahan benih yang mengalami
dormansi serta KNO3 dapat merangsang perkecambahan, terutama dalam gelap yang
ransangan yang diperoleh dengan KNO3 bergantung konsentrasinya. Hal ini sesuai degan
literature (Sinambela, 2008)yang menyatakan bahwa Asam sulfat (H2SO4) merupakan salah
satu zat kimia yang mampu meningkatkan persentase perkecambahan pada benih yang
memiliki dormansi kulit benih yang keras sedangkan Kaliun nitrat (KNO3) merupakan salah
satu perangsang perkecambahan yang sering digunakan baik dalam hubungannya dengan
pengujian maupun dalam operasional perbanyakan tanaman kerena KNO3 mampu
memasakkan embrio
Dari praktikum yang dilakukan pada prosedur percobaan digunakan faktor biji yang
keras dan faktor kimiawi. Pada prinsipnya ada tiga metode pematahan dormansi, yaitu cara
mekanis, fisiologis, dan kimia. Cara mekanis seperti skarifikasi fisik dan asam, biasanya
digunakan pada benih-benih yang inpermeabel terhadap air dan gas karena kekerasan kulit
benihnya. Cara fisiologis biasanya menggunakan suhu tinggi atau rendah, tinggi dan rendah
bergantian dan penggunaan suhu terus menerus pada suhu tertentu. Cara kimia, menggunakan
bahan-bahan kimia seperti KNO3, H2SO4, hormon tumbuh dan zat kimia lainnya. Hal ini
sesuai dengan literature (Sari, 2013) yang menyatakan bahwa Beberapa cara yang telah
diketahui adalah untuk dormansi yaitu : 1) Perlakuan mekanis; 2) Perlakuan kimia; 3)
Perlakuan perendaman dengan air; perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan
memudahkan penyerapan air oleh benih. 4) Perlakuan pemberian temperatur tertentu;
5) Perlakuan dengan cahaya
Sebab-sebab dormansi pada biji terdiri atas: 1. Embrio yang belum berkembang yaitu
pada saat penyebaran tidak akan dapat berkecambah pada kondisi perkecambahan normal
dan karenanya tergolong kategori dorman yang disebut dengan dormansi morfologis; 2.

Dormansi mekanis yaitu menunjukkan kondisi di mana pertumbuhan embrio secara fisik
dihalangi karena struktur penutup yang keras; 3. Dormansi fisik yaitu disebabkan oleh kulit
buah yang keras dan impermeable atau kulit penutup buah yang menghalangi imbibisi dan
pertukaran gas; 4.Zat-zat penghambat; 5. Dormansi cahaya; 6. Dormansi suhu. Hal ini
sesuai dengan literature (Martalenni, 2013) yang menyatakan bahwa dormansi pada beberapa
jenis disebabkan oleh: 1) struktur benih, misalnya kulit benih, pericarp dan membran, yang
mempersulit keluar masuknya air dan udara; 2) kelainan fisiologis pada embrio; 3)
penghambat (inhibitor) perkecambahan atau penghalang lainnya; atau 4) gangguan dari
faktor-faktor tersebut diatas.

KESIMPULAN
1. Dormansi adalah masa istirahat biji sehingga proses perkecambahan tidak dapat
terjadi, yang disebabkan karena adanya pengaruh dari dalam dan luar biji
2. Dari praktikum yang dilakukan dapat kita ketahui bahwa tipe dormansi ada dua yaitu
dormansi fisik dan dormansi fisiologis
3. Fungsi H2SO4 adalah menyebabkan kelunakkan pada kulit benih sedangkan larutan
KNO3 dapat merangsang perkecambahan benih yang mengalami dormansi
4. Ada tiga metode pematahan dormansi, yaitu cara mekanis, fisiologis, dan kimia

5. Beberapa penyebab dormansi adalah struktur benih, kelainan fisiologis pada embrio,
dan penghambat (inhibitor) perkecambahan atau penghalang lainnya

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, dkk. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Jakarta; Erlangga
Fahmi, Z. I. 2010. Studi Perlakuan Pematahan Dormansi Benih dengan Skarifikasi Mekanik
dan Kimiawi. Benih Tanaman Ahli Pertama BBPPTP Surabaya. Surabaya
Fathurrahman. 2013. Dormansi Pada Biji Saga. FMIPA ITS. Surabaya
Hafizah, N. 2009. Pematahan Dormansi dan Viabilitas Benih Aren (Arenga pinnata Merr)
pada Berbagai Tingkat Konsentrasi dan Lama Perendaman Gibberellin. Tesis
Universitas Lambung Mangkurat, Lampung
Lensari, D. 2009. Pengaruh Pematahan Dormansi Terhadap Kemampuan Perkecambahan
Benih Angsana. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor

Martalenni, A. 2013. Pengaruh Perlakuan Pematahan Dormansi Terhadap Daya Berkecambah


Benih dan Pertumbuhan Awal Bibit Dua Varietas Padi. FP USU. Medan
Nurmala,M.2003. Dormansi Karna Kulit Biji Yang Keras. Universitas Hasanudin.Makasar
Rozen,N, Sutoyo, Dan Chairani.2011. Pematahan Dormansi Benih Aren (Arenga Pinnata)
Dengan Pelumuran Kulit Benih Pada Suspensi Trichoderma. Jurusan Budidaya
Pertanian Fakultas Pertanian Unand. Padang
Sari, E. 2013. Perlakuan Pemecahan Dormansi Benih Pada Perkecambahan Kopi. Pengawas
Benih Tanaman Ahli Pertama BBPPTP Surabaya. Surabaya
Sinambela, D. 2008. Kajian Perkembangan dan Dormansi Pada Biji Padi Varietas Ariza dan
Sunggal Serta Pemecahannya. FP USU. Medan
Tim Pengampu, 2011. Bahan Ajar Ilmu Dan Teknologi Benih. Universitas Hasanuddin,
Makassar
Tim Penyusun Mata Kuliah Fisiologi Tumbuhan, 2011. Petunjuk Praktikum Fisiologi
Tumbuhan. Jember; Universitas Muhammadiyah Jember
Widhityarini,D, Suyadi,Purwantoro,A. 2011.Pematahan Dormansi Benih Tanjung (Mimusops
Elengi L.) Dengan Skarifikasi Dan Perendaman Kalium Nitrat
Wusono, Yusapat Wadyo. 2001. Pengaruh Media Perkecambahan Benih dan Efektifitas
Metode Pematahan Dormansi pada berbagai umur penyimpanan Benih Terung
(Solenum melongena L.) Varietas TE-20. Jurusan Budidaya Pertanian Institut
Pertanian Bogor
Yuniarti, N. 2015. Teknik Pematahan Dormansi untuk Mempercepat Perkecambahan Benih
Kourbaril (Hymenaea courbaril). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman
Hutan. Ciheuleut