Anda di halaman 1dari 26

I.

DEFINISI
Menurut WHO, terminologi malnutrisi dapat mengacu kepada keadaan
dimana terjadi kekurangan nutrisi atau kelebihan nutrisi.1 Sedangkan
malnutrisi energi protein adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh
rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga
tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).2

II.

EPIDEMIOLOGI
Kurang energi dan Protein (KEP) pada anak masih menjadi masalah gizi
dan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
tahun 2010, sebanyak 13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus
gizi buruk. Data yang sama menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya
6,0% anak sangat kurus dan 17,1% anak memiliki kategori sangat pendek.
Keadaan ini berpengaruh kepada masih tingginya angka kematian bayi.
Menurut WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi
kurang dan gizi buruk, oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara
cepat dan tepat.2

III.

KLASIFIKASI
a. Klasifikasi menurut Waterlow (1973)
Waterlow membedakan antara penyakit malnutrisi energi protein
yang terjadi akut dan menahun. Waterlow berpendapat bahwa
defisit berat terhadap tinggi mencerminkan gangguan gizi yang
akut dan menyebabkan keadaan wasting (kurus kering). Sedangkan
defisit tinggi menurut umur merupakan akibat kekurangan gizi
yang berlangsung lama atau kronis. Akibatnya laju tinggi badan
akan terganggu, hingga anak akan menjadi pendek (stunting) untuk
seusianya.3

Gangguan Derajat
Stunting (BB/U)
0
>95%
1
95-90%
2
89-85%
3
<85%
Tabel 1. Klasifikasi MEP menurut Waterlow3

Wasting (BB/TB)
>90%
90-80%
80-70%
<70%

b. Klasifikasi berdasarkan baku median WHO-NCHS4


Klasifikasi KEP
BB/U
BB/TB
Ringan
70-80%
80-90%
Sedang
60-70%
70-80%
Berat
<60%
<70%
Tabel 2. Klasifikasi WHO berdasarkan baku median WHO-NHCHS4
c. Klasifikasi Berdasarkan lama dan beratnya kekurangan energi dan
protein5

Status Nutrisi

MEP derajat ringan (gizi kurang)

MEP derajat berat (gizi buruk)

Berat

Tinggi

Badan/Umur Badan/umur

Berat

Berat

Badan/tinggi

badan ideal

badan
Kurus

Normal/

Normal

< persentil 5

< 85%-90%

< persentil 5

< persentil 5

Normal

Normal

Normal/

Normal

< persentil 5

81%-90%

Normal

< persentil 5

70%-80%

rendah
Perawakan
Pendek
Malnutrisi ringan

rendah
Malnutrisi sedang

Normal/
rendah

Kwashiorkor

Normal/

Normal/renda

Normal

Normal

rendah

(edema)

Marasmus (sangat rendah

Normal/renda

< persentil 5

kurus)

<70%

Tabel 3. Panduan Klasifikasi Malnutrisi Pediatrik6

IV.

ETIOLOGI
Penyebab malnutrisi energi protein dapat dibagi menjadi primer dan

sekunder atau keduanya.6 Malnutrisi energi protein primer disebabkan karena


faktor sosial atau ekonomi yang mengakibatkan kekurangan makanan. 6,7
Sedangkan malnutrisi energi protein sekunder terjadi pada anak dengan
berbagai kondisi terkait dengan peningkatan kebutuhan kalori (infeksi, trauma,
luka bakar, pasca operasi, kanker).6,7

Kronisitas Derajat MEP Etiologi

dari Kaitan

(berdasarkan

energi, protein dan dengan

status

ketidakseimbanga

antropometri) n nutrisi

proses
inflamasi
(CRP,

Patogenesis

Dampak

(menyebabkan
intake nutrisi <
kebutuhan)

sitokin)
Akut

Malnutrisi

Malnutrisi

energi Berkaitan

Kelaparan

Kelemahan

(durasi < 3 ringan/ risiko protein sekunder

(penurunan

otot

bulan)

asupan nutrisi)

malnutrisi (zskor < -1)

Kronis (> Malnutrisi


3

Malnutrisi

bulan sedang (z-skor protein primer

energi Tidak
berkaitan.

Hipermetabolism
e

Kognitif/

(peningkatan gangguan

atau lebih

antara -2 dan

Biasanya

-3)

malnutrisi

perkembanga
n

terjadi

Malnutrisi
berat

kebutuhan energi)

(z-skor

<-3)

karena

Kehilangan

kurangnya

nutrisi yang tidak Penurunan

asupan

terkompensasi

makanan

(malabsorpsi)

sistem imun
Lain-lain

perlambatan
proses
penyembuhan
luka, infeksi,
ventilator
dependence,
longer
hospital/ ICU
stay, etc.
Tabel 4. Skema Praktis Definisi Malnutrisi Pediatrik7
V.

PATOGENESIS
Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai

cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup,


dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak
serta protein dengan melalui proses katabolik. Kalau terjadi stres katabolik
(infeksi) maka kebutuhan akan protein meningkat, sehingga dapat
menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat
status gizi masih diatas -3 SD (-2SD--3SD), maka terjadilah kwashiorkor
(malnutrisi akut / decompensated malnutrition). Pada kondisi ini penting
peranan radikal bebas dan anti oksidan. Bila stres katabolik ini terjadi pada
saat status gizi dibawah -3 SD, maka akan terjadilah marasmik-kwashiorkor.
Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai dibawah -3 SD

maka

akan

malnutrition).

terjadilah

marasmik

(malnutrisikronik

compensated

Dengan demikian pada KEP dapat terjadi : gangguan

pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadar albumin serum, penurunan


hemoglobin, penurunan sistem kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesa
enzim.8
Penyakit marasmus-kwashiorkor memperlihatkan gejala campuran antara
penyakit marasmus dan kwashiorkor. Makanan sehari-harinya tidak cukup
mengandung protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada
penderita demikian, di samping menurunnya berat badan di bawah 60% dari
normal, memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan
rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula. Pada
KEP terdapat perubahan nyata dari komposisi tubuhnya, seperti jumlah dan
distribusi cairan, lemak, mineral, dan protein, terutama protein otot.9,10

Kurangnya protein dalam diet akan menimbulkan kekurangan berbagai


asam amino essensial yang dibutuhkan untuk sintesis albumin, sehingga
terjadi hipoalbuminemia dan edema. Anak dengan marasmus kwashiorkor
juga sering menderita infeksi multipel, seperti tuberkulosis dan gastroenteritis.
Infeksi akan mengalihakan penggunaan asam amino ke sintesis protein fase
akut, yang semakin memperparah berkurangnya sintesis albumin di hepar.
Penghancuran jaringan akan semakin lanjut untuk memenuhi kebutuhan
energi, memungkinkan sintesis glukosa dan metabolit essensial lainnya seperti
asam amino. Kurangnya kalori dalam diet akan meningkatkan kadar kortisol
dan menurunkan kadar insulin. Hal ini akan menyebabkan atrofi otot dan
menghilangnya lemak di bawah kulit. Pada awalnya, kelainan ini merupakan
proses fisiologis. Untuk kelangsungan hidup, jaringan tubuh memerlukan
energi yang dapat dipenuhi oleh makanan yang diberikan, jika hal ini tidak
terpenuhi maka harus didapat dari tubuh sendiri sehingga cadangan protein
digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan energi. Tubuh akan mengandung

lebih banyak cairan sebagai akibat menghilangnya lemak dan otot sehingga
tampak edema.9,10

Gambar 1. Patogenesis Marasmik-Kwarshiokor

Gambar 2. Hubungan antara malnutrisi dan infeksi. Diadaptasi dari Rodriguez11

Gambar 3. Malnutrisi energi protein meningkatkan prevalensi terjadinya infeksi,


menuju kepada kehilangan energi dari individu. Adaptasi dari Rodriguez11

VI.

DIAGNOSIS
a) Anamnesis
Pada

anamnesis

keluhan

yang

sering

ditemukan

adalah

pertumbuhan anak kurang, anak kurus atau berat badannya kurang.


Selain itu terdapat keluhan anak kurang/tidak mau makan, sering
menderita sakit yang berulang atau timbulnya bengkak pada kedua
kaki, kadang sampai seluruh tubuh.5

b) Pemeriksaan Fisik
a. MEP ringan5
Sering ditemukan gangguan pertumbuhan
Anak tampak kurus
Pertumbuhan linier berkurang atau terhenti
Berat badan tidak bertambah, ada kalanya turun
Ukuran lingkar lengan atas lebih kecil dari normal
Maturasi tulang terhambat
Rasio berat badan terhadap tinggi badan

normal/menurun
Tebal lipatan kulit normal/berkurang
Anemia ringan
Aktivitas
dan
perhatian
berkurang

jika

dibandingkan dengan anak sehat


b. MEP berat
Gejala klinis MEP berat/gizi buruk secara garis besar dapat
dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor atau marasmickwashiorkor4.
i. Kwarshiokor adalah malnutrisi disertai edema dan
hipoalbuminemia, bermanifestasi klinis sebagai
edema pitting yang dimulai dari ekstremitas bawah
dan meluas ke bagian atas tubuh seiring derajat
keparahan.

Manifestasi

klinis

kwarshiokor

diantaranya4,5,6,12 :
-

Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada


punggung kaki (dorsum pedis)

Wajah membulat dan sembab

Pandangan mata sayu

Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut


jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok

Perubahan status mental, apatis, dan rewel

Pembesaran hati

Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa


pada posisi berdiri atau duduk

Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang


meluas

dan

kehitaman

berubah
dan

warna

terkelupas

menjadi
(crazy

coklat

pavement

dermatosis)
-

Sering disertai : penyakit infeksi, umumnya akut


anemia
diare

ii. Marasmus adalah terminologi yang digunakan


untuk MEP berat dan sangat kurus (BB/TB rendah).
Manifestasi

klinis

utama

pada

anak

dengan

malnutrisi berat adalah emasiasi dengan berat badan


menurut usia kurang dari 60% median (persentil 50)
atau kurang dari 70% berat badan ideal menurut
tinggi badan aktual dan berkurangnya simpanan
lemak tubuh. Manifestasi klinis lainnya pada
marasmus diantaranya4,5,6,12 :
Tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus

kulit
Wajah seperti orang tua
Cengeng, rewel

Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat


sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana
longgar)

Perut cekung
Iga gambang
Sering disertai: penyakit infeksi (umumnya kronis
berulang), diare kronik atau konstipasi/susah buang
air

iii. Marasmus- Kwarshiokor


Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa
gejala klinik Kwashiorkor dan Marasmus, dengan BB/U
<60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang
tidak mencolok.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta pengukuran
antropometri. Anak didiagnosis gizi buruk apabila4,5,12:

BB/TB kurang dari -3SD (marasmus)

Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh


(kwashiorkor) : BB/TB > -3SD atau marasmik-kwashiorkor :
BB/TB < -3SD.

Jika BB/TB ata BB/PB tidak dapat diukur dapat digunakan tanda klinis
berupa anak tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak
mempunyai jaringan lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu lengan
pantat dan paha; tulang iga terlihat jelas dengan atau tanpa adanya edema.

Gambar 4. Alur pemeriksaan anak dengan gizi buruk. Adaptasi dari depkes RI.13
VII.

TATALAKSANA
Pelayanan rutin yang dilakukan di puskesmas berupa 10 langkah penting
yaitu:4
1. Atasi/cegah hipoglikemia
2. Atasi/cegah hipotermia
3. Atasi/cegah dehidrasi
4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit

5. Obati/cegah infeksi
6. Mulai pemberian makanan
7. Fasilitasi tumbuh-kejar (catch up growth)
8. Koreksi defisiensi nutrien mikro
9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental
10.Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh

Dalam proses pelayanan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase
stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi.

Petugas kesehatan harus

terampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase. Tatalaksana ini
digunakan

pada

pasien

Kwashiorkor,

Marasmus

maupun

Marasmik-

Kwashiorkor.4
Gambar 5. Alur Pelayanan Anak Gizi Buruk di Rumah Sakit/Puskesmas Perawatan.
Adaptasi dari depkes RI.13
No FASE

Hipoglikemia

Hipotermia

Dehidrasi

Elektrolit

Infeksi

MulaiPemberian
makanan

Tumbuh kejar
(Meningkatkan

STABILISASI

TRANSISI

REHABILITASI

Hari ke 1-2 Hari ke 2-7

Minggu ke-2 Minggu ke 3-7

Pemberian Makanan)
8

Mikronutrien

Stimulasi

Tanpa Fe

dengan Fe

10 Tindak lanjut
Gambar 6.10 Langkah utama tatalaksana gizi buruk. Adaptasi dari Depkes RI13

a. SEPULUH LANGKAH UTAMA PADA TATA LAKSANA KEP


BERAT/GIZI BURUK
1. Pengobatan atau pencegahan hipoglikemia (kadar gula dalam
darah rendah)
Hipoglikemia merupakan salah satu penyebab kematian pada anak
dengan KEP berat/Gizi buruk. Pada hipoglikemia, anak terlihat lemah,
suhu tubuh rendah. Jika anak sadar dan dapat menerima makanan
usahakan memberikan makanan saring/cair 2-3 jam sekali. Jika anak
tidak dapat makan (tetapi masih dapat minum) berikan air gula dengan
sendok. Jika anak mengalami gangguan kesadaran, berikan infus
cairan glukosa dan segera rujuk ke RSU kabupaten.

2. Pengobatan dan pencegahan hipotermia (suhu tubuh rendah)


Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 360
C. Pada keadaan ini anak harus dihangatkan. Cara yang dapat
dilakukan adalah ibu atau orang dewasa lain mendekap anak di
dadanya lalu ditutupi selimut (Metode Kanguru). Perlu dijaga agar
anak tetap dapat bernafas.
Cara lain adalah dengan membungkus anak dengan selimut tebal,
dan meletakkan lampu didekatnya. Lampu tersebut tidak boleh terlalu
dekat apalagi sampai menyentuh anak. Selama masa penghangatan ini
dilakukan pengukuran suhu anak pada dubur (bukan ketiak) setiap

setengah jam sekali. Jika suhu anak sudah normal dan stabil, tetap
dibungkus dengan selimut atau pakaian rangkap agar anak tidak jatuh
kembali pada keadaan hipothermia. Tidak dibenarkan penghangatan
anak dengan menggunakan botol berisi air panas.

3. Pengobatan dan Pencegahan kekurangan cairan


Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak penderita KEP berat/Gizi
buruk dengan dehidrasi adalah :
Ada riwayat diare sebelumnya
Anak sangat kehausan
Mata cekung
Nadi lemah
Tangan dan kaki teraba dingin
Anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama.
Tindakan yang dapat dilakukan adalah :

Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap


setengah jam sekali tanpa berhenti. Jika anak masih dapat minum,
lakukan tindakan rehidrasi oral dengan memberi minum anak 50
ml (3 sendok makan) setiap 30 menit dengan sendok. Cairan
rehidrasi oral khusus untuk KEP disebut ReSoMal.

Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP berat/Gizi buruk
dapat menggunakan oralit yang diencerkan 2 kali. Jika anak tidak
dapat minum, lakukankan rehidrasi intravena (infus) cairan Ringer
Laktat/Glukosa 5 % dan NaCL dengan perbandingan 1:1.

4. Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit


Pada semua KEP berat/Gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan
elektrolit diantaranya :

Kelebihan natrium (Na) tubuh, walaupun kadar Na plasma rendah.

Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg)

Ketidakseimbangan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan,


untuk pemulihan keseimbangan elektrolit diperlukan waktu paling
sedikit 2 minggu.
Berikan :
-

Makanan tanpa diberi garam/rendah garam

Untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter yang diencerkan 2 X


(dengan penambahan 1 liter air) ditambah 4 gr KCL dan 50 gr gula
atau bila balita KEP bisa makan berikan bahan makanan yang
banyak mengandung mineral ( Zn, Cuprum, Mangan, Magnesium,
Kalium) dalam bentuk makanan lumat/lunak.

Contoh bahan makanan sumber mineral


Sumber Zink

: daging sapi, hati, makanan laut, kacang


tanah,telurayam

Sumber Cuprum

: daging, hati.

Sumber Mangan

: beras, kacang tanah, kedelai.

Sumber Magnesium: kacang-kacangan, bayam.


Sumber Kalium

: jus tomat, pisang, kacang2an, apel, alpukat,


bayam,daging tanpa lemak.

5. Lakukan Pengobatan dan pencegahan infeksi

Pada KEP berat/Gizi buruk, tanda yang umumnya menunjukkan


adanya infeksi seperti demam seringkali tidak tampak, oleh karena
itu pada semua KEP berat/Gizi buruk secara rutin diberikan antibiotik
spektrum luas dengan dosis sebagai berikut :

UMUR

KOTRIMOKSASOL

AMOKSISILIN

ATAU

(Trimetoprim + Sulfametoksazol)

Beri

BERAT

Beri 2 kali sehari selama 5 hari

BADAN

hari
Sirup

Tablet

Tablet Anak

Sirup/5ml

dewasa

20 mg trimeto

40 mg trimeto

80 mg trimeto

prim + 100 mg prim + 200 mg 125 mg

prim + 400 sulfametok

sulfametok

mg

sazol

sazol

2,5 ml

2,5 ml

5 ml

5 ml

per 5 ml

sazol
2 sampai 4 bulan

sampai

bulan
(6 - < 10 Kg)

kali

sehari untuk 5

sulfametok

(4 - < 6 kg)

12

12 bln s/d 5 thn


(10 - < 19 Kg)

7,5 ml

10 ml

Tabel
Vaksinasi Campak bila anak belum diimunisasi dan umur sudah
mencapai 9 bulan.
Catatan :

Mengingat pasien KEP berat/Gizi buruk umumnya juga menderita


penyakit infeksi, maka lakukan pengobatan untuk mencegah agar
infeksi tidak menjadi lebih parah. Bila tidak ada perbaikan atau
terjadi komplikasi rujuk ke Rumah Sakit Umum.

Diare biasanya menyertai KEP berat/Gizi buruk, akan tetapi akan


berkurang dengan sendirinya pada pemberian makanan secara hatihati. Berikan metronidasol 7,5 mg/Kgbb setiap 8 jam selama 7
hari. Bila diare berlanjut segera rujuk ke rumah sakit

6. Pemberian makanan balita MEP berat/Gizi buruk


Pemberian diet KEP berat/Gizi buruk dibagi dalam 3 fase, yaitu
Fase Stabilisasi, Fase Transisi, Fase Rehabilitasi
Fase Stabilisasi ( 1-2 hari)
Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat
hati-hati, karena keadaan faali anak sangat lemah dan kapasitas
homeostatik berkurang.
Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak
dirawat dan dirancang sedemikian rupa sehingga energi dan protein
cukup untuk memenuhi metabolisma basal saja.

Formula

khusus

seperti

Formula

WHO

75/modifikasi/Modisco yang dianjurkan dan jadwal pemberian


makanan harus disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai
prinsip tersebut diatas dengan persyaratan diet sebagai berikut :
-

Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa

Energi : 100 kkal/kg/hari

Protein : 1-1.5 gr/kg bb/hari

Cairan : 130 ml/kg bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/Kg
bb/hari)

Bila anak mendapat ASI teruskan , dianjurkan memberi Formula


WHO

75/pengganti/Modisco

dengan

menggunakan

cangkir/gelas, bila anak terlalu lemah berikan dengan sendok/pipet


-

Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco atau pengganti


dan jadwal pemberian makanan harus disusun sesuai dengan
kebutuhan anak

Keterangan :

Pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema, maka
tahapan pemberian formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari
(setiap 2 jam)

Bila

pasien

tidak

dapat

menghabiskan

Formula

WHO

75/pengganti/Modisco dalam sehari, maka berikan sisa formula


tersebut melalui pipa nasogastrik (dibutuhkan

ketrampilan

petugas)

Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/Kg
bb/hari

Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi


setiap jam dan pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4
jam

Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1)

Pantau dan catat :


Jumlah yang diberikan dan sisanya
Banyaknya muntah
Frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja
Berat badan (harian)
selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan
edema , mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan
naik

7. Perhatikan masa tumbuh kejar balita (catch- up growth)


Pada fase ini meliputi 2 fase yaitu fase transisi dan fase rehabilitasi :
Fase Transisi (minggu ke 2)

Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahanlahan untuk menghindari risiko gagal jantung, yang dapat terjadi
bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara
mendadak.

Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.9-1.0 g


per 100 ml) dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan
protein 2.9 gram per 100 ml) dalam jangka waktu 48 jam.
Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat digunakan asalkan
dengan kandungan energi dan protein yang sama.

Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit


formula tersisa, biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali
pemberian (200 ml/kgbb/hari).

Pemantauan pada fase transisi:


1. frekwensi nafas

2. frekwensi denyut nadi


Bila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi >
25 kali /menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan, kurangi
volume pemberian formula.

Setelah normal kembali, ulangi

menaikkan volume seperti di atas.


3. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan
Setelah fase transisi dilampaui, anak diberi:
-

Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak


terbatas dan sering.

Energi : 150-220 Kkal/kg bb/hari

Protein 4-6 gram/kg bb/hari

Bila anak masih mendapat ASI, teruskan, tetapi juga beri formula
WHO 100/Pengganti/Modisco 1, karena energi dan protein ASI
tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar.

Setelah fase rehabilitasi (minggu ke 3-7) anak diberi :


-

Formula WHO-F 135/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak


terbatas dan sering

Energi : 150-220 kkal/kgbb/hari

Protein 4-6 g/kgbb/hari

Bila anak masih mendapat ASI, teruskan ASI, ditambah dengan


makanan Formula ( lampiran 2 ) karena energi dan protein ASI
tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar.

Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga

Pemantauan fase rehabilitasi


Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan badan :

Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan.

Setiap minggu kenaikan bb dihitung.

Baik bila kenaikan bb 50 g/Kg bb/minggu.

Kurang bila kenaikan bb < 50 g/Kg bb/minggu, perlu re-evaluasi


menyeluruh.

TAHAPAN PEMBERIAN DIET


FASE STABILISASI

FORMULA WHO 75 ATAU PENGGANTI

FASE TRANSISI

FORMULA WHO 75 FORMULA WHO


100 ATAU PENGGANTI

FASE REHABILITASI

FORMULA WHO 135 (ATAU PENGGANTI)

MAKANAN KELUARGA

8. Lakukan penanggulangan kekurangan zat gizi mikro

Semua pasien KEP berat/Gizi buruk, mengalami kurang vitamin dan mineral.
Walaupun anemia biasa terjadi, jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi
(Fe). Tunggu sampai anak mau makan dan berat badannya mulai naik
(biasanya pada minggu ke 2). Pemberian besi pada masa stabilisasi dapat
memperburuk keadaan infeksinya.
Berikan setiap hari :

Tambahan multivitamin lain

Bila berat badan mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi
folat atau sirup besi dengan dosis sebagai berikut :

Dosis Pemberian Tablet Besi Folat dan Sirup Besi


UMUR

TABLET BESI/FOLAT

SIRUP BESI

Sulfas ferosus 200 mg + Sulfas ferosus 150 ml

DAN

0,25 mg Asam Folat

BERAT BADAN
6 sampai 12 bulan

Berikan 3 kali sehari

Berikan 3 kali sehari


tablet

2,5 ml (1/2 sendok teh)

(7 - < 10 Kg)
12

bulan

sampai

5 tablet

5 ml (1 sendok teh)

tahun

Bila anak diduga menderita kecacingan berikan Pirantel Pamoat


dengan dosis tunggal sebagai berikut :

UMUR ATAU BERAT BADAN

PIRANTEL
(125mg/tablet)
(DOSIS TUNGGAL)

4 bulan sampai 9 bulan (6-<8 Kg)

tablet

9 bulan sampai 1 tahun (8-<10 Kg)

tablet

1 tahun sampai 3 tahun (10-<14 Kg)

1 tablet

3 Tahun sampai 5 tahun (14-<19 Kg)

1 tablet

Vitamin A oral berikan 1 kali dengan dosis

Umur

6 bln sampai 12 bln

Kapsul Vitamin A

Kapsul Vitamin A

200.000 IU

100.000 IU

1 kapsul

PAMOAT

12 bln sampai 5 Thn

1 kapsul

Dosis tambahan disesuaikan dengan baku pedoman pemberian kapsul


Vitamin A

9. Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional

Pada KEP berat/gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan


perilaku, karenanya berikan :
-

Kasih sayang

Ciptakan lingkungan yang menyenangkan

Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 30 menit/hari

Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh

Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain


dsb)

10.Persiapan untuk tindak lanjut di rumah

Bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning anak dapat dirawat
di rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan di desa.

Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan
dirumah setelah pasien dipulangkan dan ikuti pemberian makanan seperti
pada lampiran 5, dan aktifitas bermain.

Nasehatkan kepada orang tua untuk :

Melakukan kunjungan ulang setiap minggu, periksa secara teratur di


Puskesmas

Pelayanan di PPG (lihat bagian pelayanan PPG) untuk memperoleh


PMT-Pemulihan selama 90 hari. Ikuti nasehat pemberian makanan
(lihat lampiran 5) dan berat badan anak selalu ditimbang setiap bulan
secara teratur di posyandu/puskesmas.

pemberian makan yang sering dengan kandungan energi dan nutrien


yang padat

penerapan terapi bermain dengan kelompok bermain atau Posyandu

Pemberian suntikan imunisasi sesuai jadwal

Anjurkan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI

atau 100.000 SI ) sesuai umur anak setiap Bulan Februari dan Agustus.