Anda di halaman 1dari 11

Makalah Sengketa Tanah dalam

Masyarakat
Sengketa Tanah dalam Masyarakat

Oleh :
RANGGA D. SAPUTRA
4A/14010010
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BHAYANGKARA SURABAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara hukum. Semua yang menyangkut kesejahteraan
umum sudah diatur dalam undang-undang dalam bentuk peraturan-peraturan tertulis.
Dengan begitu sebuahkepastian hukum untuk seseorang sejahtera hakikatnya telah
terjamin oleh konstitusi yang ada di Indonesia.
Hukum di Indonesia tidak bisa berdiri secara netral, pasti ada beberapa
kepentingan-kepentingan yang menyangkut didalamnya seperti kepentingan negara.
Dengan begitu maka politik untuk hukum bisa dikatakan sebagai alat atau sarana dan
langkah yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk menciptakan sistem hukum
nasional guna mencapai cita-cita bangsa dan tujuan negara.[1]
Jadi perlunya hukum untuk negara kita yaitu untuk mengatur supaya bisa
mencapai cita-cita bangsa dan tujuan negara, untuk melaksanakan hal tersebut
diperlukan suatu kejelasan atau kepastian hukum di dalamnya. Seseorang yang sudah
memliki kepastian hukum pasti akan lebih mudah dalam melakukan lalulintas hukum
atau kegiatan-kegiatan hukum, misalnya dalam kepemilikan tanah.
Tanah adalah suatu aset negara yang sangat banyak sekali, sumber penghasilan
negara juga sebagian besar dari pajak dan salah satu pajak yaitu pajak dari tanah, baik
itu pajak bangunan maupun pajak-pajak yang lain misalnya sewa, hak pakai, daln lain
sebagainya.
Tanah lama kelamaan pasti akan habis dengan setiap tanah bermilik atau
berpenghuni karena semakin banyaknya penduduk Indonesia. Bisa jadi lamakelamaan tanah kita habis dan semua untuk dimanfaatkan sudah tidak ada lahan yang
kosong atau terlantar.
Maka dari itu, diperlukan suatu peraturan hukum atau kaedah hukum yaitu
peraturan hidup kemasyarakatan yang bersifat mengatur dan memaksa untuk
menjamin tata tertibdalam masyarakat.[2] Hukum tersebut haruslah berupa hukum
yang jelas demi memberi kepastian hukum untuk pemilik-pemilih sah dari tanahtanah tertentu. Dengan begitu merupakan salah satu cara untuk meminimalisasi
konflik-konflik dari masyarakat maupun dari pemerintah yang dilator belakangi oleh
sengketa tanah.
B. Rumusan Masalah
Di dalam makalah ini, terdapat beberapa hal yang akan dibahas untuk
kelengkapan suatu tulisan yang dibuat oleh penulis.
1. Pengertian dari Hukum Agraria,
2. Pengertian dari sengketa tanah,
3. Contoh dalam masyarakat secara nyata,
C. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah demi mendapatkan suatu ilmu yang
berharga untuk pengalaman dari contoh kasus-kasus yang terjadi di masyarakat.
Dengan makalah ini lah penulis bisa lebih mengerti akan suatu hal yang terjadi dalam
masyarakat sekarang ini yaitu mengenai sengketa tanah dengan pihak pemerintah atau

lembaga negara. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi, maupun langkah hukum
yang dilakukan akan dibahas di makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Pengertian Hukum Agraria

Istilah tanah (agraria) berasal dari beberapa bahasa, dalam bahasa latin agre
berarti tanah atau sebidang tanah. Agrarius berarti persawahan, perladangan,
pertanian. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia agraria berarti urusan pertanahan
atau tanah pertanian juga urusan pemilikan tanah,[3] dalam bahasa inggris agrarian
selalu diartikan tanah dan dihubungkan usaha pertanian, sedang dalam UUPA
mempunyai arti sangat luas yaitu meliputi bumi, air dan dalam batas-batas tertentu
juga ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya.
Hukum agraria secara sempit ialah bidang hukum yang mengatur yang
mengatur mengenai hak-hak penguasaan tanah.[4]
Pengertian hukum agraria secara luas adalah sekelompok bidang hukum yang
masing-masing mengatur hak-hak penguasaan atas sumber-sumber daya alam tertentu
yang meliputi;
Hukum tanah, yaitu bidang hukum yang mengatur penguasaan atas tanah(permukaan
bumi),
Hukum air (hukum pengairan), yaitu bidang hukum yang mengatur hak-hak
penguasaan atas air,
Hukum pertambangan, yaitu bidang hukum yang mengatur hak-hak penguasaan atas
bahan-bahan galian,
Hukum kehutanan, yaitu bidang hukum yang mengatur hak-hak penguasaan atas
hutan dan hasil hutan,
Hukum perikanan, yaitu bidang hukum yang mengatur hak-hak penguasaan atas
kekayaan alam yang terkandung di dalam air,
Hukum penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur dalam ruang angkasa, yaitu bidang
hukum yang mengatur hak-hak penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur dalam ruang
angkasa.[5]
B.

Pengertian sengketa tanah

Sengketa pertanahan adalah proses interaksi antara dua orang atau lebih atau
kelompok yang masing-masing memperjuangkan kepentingannya atau objek yang
sama, yaitu tanah dan benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah seperti air,
tanaman, tambang juga udara yang berada dibatas tanah yang bersangkutan.[6]
Secara umum ada beberapa macam sifat permasalahan dari suatu sengketa
tanah antara lain :
1. Masalah yang menyangkut prioritas dapat ditetapkan sebagai pemegang hak yang sah
atas tanah yang berstatus hak atau atas tanah yang belum ada haknya.
2. Bantahan terhadap sesuatu alasan hak atau bukti perolehan yang digunakan sebagai
dasar pemberian hak.

3. Kekeliruan / kesalahan pemberian hak yang disebabkan penerapan peraturan yang


kurang atau tidak benar.
4. Sengketa atau masalah lain yang mengandung aspek-aspek social.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka konflik pertanahan sesungguhnya
bukanlah hal baru. Namun dimensi konflik makin terasa meluas di masa kini bila
dibandingkan pada masa kolonial. Beberapa penyebab terjadinya konflik pertanahan
adalah :
1. Pemilikan/Penguasaan tanah yang tidak seimbang dan tidak merata;
2. Ketidakserasian penggunaan tanah pertanian dan tanah nonpertanian;
3. Kurangnya keberpihakan kepada masyarakat golongan ekonomi lemah;
4. Kurangnya pengakuan terhadap hak-hak masyarakat adat atas tanah (hak ulayat);
5. Lemahnya posisi tawar masyarakat pemegang hak atas tanah dalam pembebasan
tanah.[7]
Mengenai konflik pertanahan adalah merupakan bentuk ekstrim dan keras dari
persaingan. Secara makro sumber konflik besifat struktural misalnya beragam
kesenjangan. Secara mikro sumber konflik/sengketa dapat timbul karena adanya
perbedaan/benturan nilai (kultural), perbedaan tafsir mengenai informasi, data atau
gambaran obyektif kondisi pertanahan setempat (teknis), atau perbedaan/benturan
kepentingan ekonomi yang terlihat pada kesenjangan struktur pemilikan dan
penguasaan tanah. Masalah tanah dilihat dari segi yuridis merupakan hal yang tidak
sederhana pemecahannya. Timbulnya sengketa hukum tentang tanah adalah bermula
dari pengaduan satu pihak (orang/badan) yang berisi tentang keberatan-keberatan dan
tuntutan hak atas tanah baik terhadap status tanah ataupun prioritas kepemilikannya
dengan harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan
ketentuan peraturan yang berlaku.
Menurut Maria S.W. Sumardjono secara garis besar peta permasalahan tanah
dikelompokkan yaitu :
1. Masalah penggarapan rakyat atas tanah areal perkebunan, kehutanan, proyek
perumahan yang ditelantarkan dan lain-lain.
2. Masalah yang berkenaan dengan pelanggaran ketentuan Landerform
3. Ekses-ekses penyediaan tanah untuk keperluan pembangunan
4. Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah
5. Masalah yang berkenaan dengan hak Ulayat masyarakat Hukum Adat.[8]
Melihat penjelasan di atas, maka alasan sebenarnya yang menjadi tujuan akhir
dari sengketa bahwa ada pihak yang lebih berhak dari yang lain atas tanah yang
disengketakan oleh karena itu penyelesaian sengketa hukum terhadap sengketa tanah
tersebut tergantung dari sifat permasalahannya yang diajukan dan prosesnya akan
memerlukan beberapa tahap tertentu sebelum diperoleh sesuatu keputusan.
Tanah mempunyai posisi yang strategis dalam kehidupan masyarakat
Indonesia yang bersifat agraris. Sedemikian istimewanya tanah dalam kehidupan
masyarakat Indonesia telihat dan tercermin dalam sikap bangsa Indonesia sendiri yang
juga memberikan penghormatan kepada kata tanah, dengan penyebutan istilah seperti
Tanah air, Tanah tumpah darah, Tanah pusaka dan sebagainya. Bahkan dalam UUPA
juga dinyatakan adanya hubungan abadi antara bangsa Indonesia dengan tanah (Pasal
1 ayat (3) UUPA).

Tanah tidak hanya sebagai tempat berdiam, juga tempat bertani, lalu lintas,
perjajian, dan pada akhirnya tempat manusia dikubur. Akan tetapi, selama kurun
waktu 52 tahun usia Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No 5 Tahun 1960,
masalah tanah bagi manusia tidak ada habis-habisnya. Konflik pertanahan ini
ditimbulkan karena laju penduduk yang sangat signifikan. Berdasarkan laju penduduk
tersebut, maka menyebabkan kebutuhan penduduk akan tanah seperti untuk
pembangunan dan pengembangan wilayah pemukiman, industri maupun pariwisata
juga terus bertambah, sedangkan ketersediaan tanah itu tidak bertambah atau lebih
tepatnya bersifat tetap, sehingga mengakibatkan konflik-konflik pertanahan secara
horizontal maupun vertikal sering terjadi.
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa penyebab
terjadinya konflik di bidang pertanahan antara lain adalah keterbatasan ketersediaan
tanah, ketimpangan dalam struktur penguasaan tanah, ketiadaan persepsi yang sama
antara sesama pengelola negara mengenai makna penguasaan tanah oleh negara,
inkonsistensi, dan ketidaksinkronisasian. Maka dari itu, untuk dapat memenuhi
berbagai kebutuhan penduduk akan tanah terhadap tanah yang bersifat tetap, maka
pemerintah berupaya mengoptimalkan peruntukan dari penggunaan tanah dengan
berbagai cara, diantaranya dengan mengeluarkan berbagai bentuk peraturan
pertanahan seperti peraturan penyediaan tanah untuk kepentingan perorangan dan
Badan Hukum atas tanah-tanah Negara dan/atau atas tanah-tanah hak.
Namun dalam kenyataannya, bagi bangsa Indonesia salah satu masalah pokok
hingga kini belum mendapat pengaturan yang tuntas adalah masalah tanah.
Permasalahan tanah yang dari segi empiris sangat lekat dengan peristiwa sehari-hari,
tampak semakin kompleks dengan terbitnya berbagai kebijakan deregulasi dan
debirokratisasi di bidang pertanahan menyongsong era perdagangan bebas.
Munculnya berbagai konflik atau sengketa pertanahan tersebut tidak dapat
dilepaskan dari konteks kebijakan pemerintah yang banyak bersifat ad hoc,
inkonsisten dan ambivalen antara satu kebijakan dengan yang lain, atau bahkan tidak
jarang berbau politis. Struktur hukum tanah menjadi tumpang tindih. Undang-Undang
Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960 yang awalnya merupakan payung hukum
bagi kebijakan pertanahan di Indonesia, menjadi tidak berfungsi dan bahkan secara
substansial terdapat pertentangan dengan diterbitkannya berbagai peraturan
perundangan sektoral. Perbedaan antara undang-undang itu tidak hanya dapat
memberikan peluang pada perbedaan interpretasi para birokrat, tetapi juga secara
substansial undang-undang tersebut tidak integratif.
Sebagai contohnya banyak konflik-konflik dari sengketa tanah itu misalnya
sengketa tanah oleh lembaga negara dengan masyarakat, misalnya antara TNI dan
masyarakat. Dengan memiliki bekal bahwa TNI adalah ijin latihan dan menganggap
tanah itu tanah negara dan mereka juga menjalankan tugas negara maka mereka
sangat kuat untuk mengambil tanah itu tetapi dari masyarakat juga dikuatkan dari
faktor sejarah yang dari turun-temurun keluarganya sudah memakai tanah tersebut.
C.

Contoh dalam masyarakat tentang sengketa tanah yang terjadi

Yang pertaman yaitu konflik pertanahan yang terjadi akhir-akhir ini, terutama
dalam 13 tahun terakhir sejak reformasi bergulir, cukup banyak yang melibatkan

warga dan TNI. Salah satu persoalan sengketa tanah antara warga dan anggota TNI
tersebut yaitu terjadi antara warga Desa Harjokuncaran dengan Pusat Koperasi
Angkatan Darat KODAM V Brawijaya terhadap lahan di Desa Harjokuncaran,
Kecamatan Sumber Majing, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejauh pemberitaan di
media sampai saat ini belum mencapai titik penyelesaian. Warga mengklaim lahan
tersebut milik warga setempat, sementara TNI menyatakan milik negara. Akibat
peristiwa tersebut, sebanyak 8 warga menjadi korban, sementara 5 personel TNI AD
mengalami luka di kepala.
Sengketa warga Harjokuncaran dengan TNI sudah berlangsung sekitar 34
tahun. Konflik itu juga sudah memakan korban berkali-kali. Lahan yang menjadi
sengketa tersebut awalnya bekas perkebunan karet C.O. Telogorejo milik Belanda.
Begitu Belanda hengkang dari Indonesia, para petani menggarap lahan seluas sekitar
1.118 hektare itu. Pada 1964-1973, tanah yang digarap warga dan masuk wilayah
Harjokuncaran dijadikan obyek land reform. Harjokuncaran resmi menjadi desa
definitif pada 1974 lewat surat keputusan Gubernur Jawa Timur. Wilayahnya
dinyatakan seluas 650 hektare yang diambil dari tanah perkebunan.
Persoalan terjadi saat Kodam Brawijaya mengklaim tanah yang selama ini
digarap dan dihuni warga itu sebagai milik mereka. Dasar hukumnya Surat Keputusan
Menteri Pertanian 2 Juni 1973, yang menyerahkan perkebunan Telogorejo kepada
mereka. Menurut juru bicara Kodam, Letnan Kolonel Totok Sugiharto, Kodam juga
sudah membayar uang ganti rugi ke negara untuk pengambilalihan tanah tersebut.
akan tetapi warga menolak klaim tersebut. Mereka menunjuk dasar kepemilikan
Kodam cacat hukum. Menurut Fathurozi, warga Harjokuncaran-lah pemilik sah lahan
tersebut. Dia menunjuk Surat Keputusan Direktorat Jenderal Agraria 1 Desember
1981, yang menyatakan tanah sengketa itu obyekland reform dengan verponding
(tanda hak milik zaman Belanda) yang seharusnya diberikan kepada warga di Desa
Harjokuncaran. Desa ini memiliki empat dusun: Banaran, Wonosari, Margomulyo,
dan Mulyosari.
Sementara itu, TNI yang merupakan lembaga pemerintah di bawah
Departemen Pertahanan yang bertugas sebagai alat utama sistem pertahanan negara
dalam melaksanakan tugasnya TNI memerlukan sumber daya alam. Yang dimaksud
sumber daya alam dalam hal ini adalah potensi yang terkandung dalam bumi, air, dan
dirgantara yang dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara. Salah satu
sumber daya alam yang penting adalah tanah. Tanah merupakan unsur yang
digunakan untuk pembangunan kekuatan pertahanan yang meliputi perkantoran,
tempat latihan, dan tempat beraktivitas bagi kegiatan pertahanan negara.
Sebagaimana tertuang didalam Pasal 1 Undang-Undang No. 3 tahun 2002
tentang pertahanan negara disebutkan bahwa pertahanan negara mempunyai
komponen utama, komponen cadangan dan komponen pendukung dalam
pelaksanaannya. Komponen utama pertahanan negara adalah Tentara Nasional
Indonesia yang siap digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas pertahanan.
Sedangkan komponen cadangan adalah sumber daya nasional yang telah disiapkan
untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan
dan kemampuan komponen utama. Komponen pendukung adalah sumber daya
nasional yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan

komponen utama dan komponen cadangan. Sedangkan sumber daya nasional adalah
sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya buatan.
Sementara itu, permasalahan yang terjadi diakibatkan oleh belum optimalnya
pelaksanaan administrasi pertanahan di Indonesia serta ketidakpahaman pihak
masyarakat dan pihak TNI mengenai sumber hukum pertanahan yang berlaku di
Indonesia khususnya tentang hak atas tanah. Pihak masyarakat tidak mengetahui
pengaturan penguasaan dan pemanfaatan tanah yang diatur dalam Undang-Undang
No. 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria, atau yang dikenal
dengan istilah UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) sebagai salah satu hukum
pertanahan nasional.
Pada dasarnya baik pihak TNI maupun pihak masyarakat menggunakan satu
sumber peraturan pertanahan yang sama yaitu UUPA, namun pada pelaksanaannya
masih terdapat perbedaan penafsiran atas peraturan tersebut yang mengakibatkan
munculnya konflik tanah yang menimbulkan korban dari kedua belah pihak. Untuk
menghindari konflik pertanahan yang terjadi antara TNI dan masyarakat umum ini,
maka perlu dilaksanakan identifikasi status tanah TNI terlebih dahulu dalam hukum
pertanahan nasional yang mengatur seluruh hak atas tanah TNI. Disamping itu, untuk
memperkuat bukti hukum atas penggunaan tanah TNI tersebut maka TNI memerlukan
suatu bukti hukum hak atas tanah yang digunakannya.[9]
Contoh sengketa yang kedua yaitu sama dengan kasus yang diatas yaitu antara
TNI Angkatan Udara Pangkalanbun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dengan
bupati Ujang Iskandar. Memperebutkan tanah seluas 30,2 hektar yang berada di
sekitar tanah milik Lanud Iskandar Pangkalanbun.
Dengan sengketa yang dari pertengahan tahun 2012 setelah bupati ujang
diangkat dan setelah kerusuhan yang terjadi, tanah sengketa ini akan dibangun sebuah
kompleks pertokoan, tetapi ternyata sudah ada yang memiliki lebih dahulu yaitu TNI
dengan akta tanah tahun 1980an serta terdapat beberapa patok tanah yang masih
menancap milik Lanud. Karena keadaan lokasi yang semi hutan, di Kalimantan itu
kebanyakan tanah bentuknya yaitu seperti hutan dan seperti alam liar yang tidak ada
yang mengurusnya.
Karena pemanfaatan yang kurang dari pihak TNI AU, tanah sengketa menjadi
seperti tanah terlantar dan di daftarkan kepada sekertaris PPAT dan mendapat nomor
pendaftaran akta tanah tahun 2005 tanpa melihat secara langsung di lokasi yang di
sengketakan tersebut. Kesalahan pada masalah ini yaitu tentang pendaftarannya dari
pihak pembuat akta tanah yang tidak serta merta mengecek lahan yang menjadi
sengketa ke lapangan secara langsung. Dengan kelalaian tersebut maka terjadilah
pemilik ganda dari tanah tersebut.
Tujuan pendaftaran tanah yaitu untuk menjamin kepastian hukum dan
kepastian hak atas tanah. Dengan diselenggarakannya pendaftaran tanah, maka fihakfihak yang bersangkutan dengan mudah dapat mengetahui status atau kedudukan
hukum daripada tanah tertentu yang dihadapinya, letak, luas dan batas-batasnya, siapa
yang empunya dan beban-beban apa yang ada diatas tanahnya.[10]
Dengan begitu maka cara untuk mendaftarkan tanah sudah benar yaitu melalui
notaris didaftarkan melalui kantor pendaftaran tanah setempat tetapi pegawai pembuat
akta tanah tersebut kurang cermat dalam pembuatan serta tidak teliti dalam mengecek

apakah tanah itu sudah ada yang punya atau belum, begitu juga pihak lanud yang
tidak serta merta dengan merawat tanah tersebut dan alasannya yaitu mereka memiliki
tanah yang sangat luas dan belum mampu untuk selalu merawat tanahnya. Tetapi
sering tanah-tanah tersebut dibuat latihan bagi para prajurit TNI AU yang bertugas.
Dengan alasan yang kuat dari pihak lanud yaitu tanah akan digunakan sebagai
lahan untuk latihan prajurit tentara serta mereka juga melaksanakan tugas negara
sudah ada kewajiban untuk menggunakannya karena merupakan amanah dari negara
untuk memperkuat kesatuan wilayah Indonesia. Akirnya pihak dari TNI menggugat di
pengadilan untuk memperkarakan secara hukum sengketa tanah ini.
Hak atas tanah yang dilekatkan pada tanah-tanah yang dimanfaatkan oleh TNI
adalah hak pakai. Pasal 41 UUPA menerangkan definisi hak pakai, yaitu hak
menggunakan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara
atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yangditentukan
dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau
dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa menyewa
atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan jiwa
dan ketentuan-ketentuan undang-undang ini.
Hak pakai dapat diberikan selama jangka waktu yang tertentu atau selama
tanahnya dipergunakan untuk keperluan yang tertentu, dengan cuma-cuma, dengan
pembayaran atau pemberian jasa berupa apapun. Pemberian hak pakai tidak boleh
disertai syarat-syarat yang mengandung unsur-unsur pemerasan.
Jangka waktu hak pakai ini diterangkan dalam Pasal 43 UUPA, yaitu:
Sepanjang mengenai tanah yang dikuasai oleh negara maka hak pakai hanya dapat
dialihkan kepada pihak lain dengan ijin pejabat yang berwenang.
Hak pakai atas tanah hak milik hanya dapat dialihkan kepada pihak lain,jika hal itu
dimungkinkan dalam perjanjian yang bersangkutan.
TNI merupakan lembaga pemerintah dibawah Departemen Pertahanan, hak atas
tanah-tanah yang digunakan untuk kepentingan TNI adalah hak pakai.
Hak pakai adalah suatu hak benda dari seoarang yang telah ditentukan yang
dibebankan atas benda orang lain, untuk dengan memelihara bentuk dan sifatnya
serta selaras dengan maksudnya memakai sendiri benda itu dan mengambil hasilhasilnya jika ada, akan tetapi sekedar buat keperluan sendiri.[11]
Pembuat Undang-undang Pokok Agraria member kesempatan bagi setiap
orang yang memegang Hak Milik Adat di seluruh Indonesia untuk mendaftarkan
haknya dan akan memperoleh sertifikat Hak Milik melalui prosedur konversi Hak
Adat(peraturan Menteri Pertanian dan Agraria).[12]
Jadi walaupun itu berdasarkan tanah adat maupun turun temurun dari nenek
moyang, tetap harus berdasarkan hukum yang berlaku, karena Indonesia ini adalah
negara hukum dan lebih kuat juga bila ada bukti hukum yang pasti seperti surat tanah
atau akta tanah tersebut. Sangatlah penting tentang surat tanah yang salah satu
manfaatnya yaitu untuk kepastian hukum.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam menyingkapi setiap permasalahan
pertanahan kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu tanah tersebut termasuk hak
atas tanah apa, serta siapa subyeknya. Proses identifikasi itu penting, karena
memberikan konsekuensi hukum yang berbeda-beda pada masing-masing Hak Atas
Tanah. Hal ini tentunya berguna untuk dalam penyelesaian sengketa di Pengadilan
Negeri. Dalam sengketa tanah antara Sipil dengan TNI maka, di sini jelaslah bahwa
TNI sebagai lembaga atau institusi tidak boleh mempunyai hak milik atas tanah.
Namun sebagai Warga Negara Indonesia, anggota TNI boleh mempunyai hak milik
atas tanah. Sebagai lembaga atau institusi, TNI hanya boleh mempunyai hak pakai
atas tanah sebagai mana diatur dalam Pemanfaatan Tanah oleh TNI. Kemudian
penentuan di setiap keputusan Pengadilan Negeri dalam setiap sengeketa tanah antara
Sipil dengan TNI, sudah seharusnya hakim memperhatikan kepentingan umum.
Alapagi, apabila sengketa tersebut yang melibatkan TNI yang notabene dalam Pasal 1
Undang-Undang No. 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara menyebutkan bahwa
tanah merupakan komponen utama dalam pertahanan negara. Pasal ini hendaknya
menjadi bahan pertimbangan bagi keputusan hakim. Hal ini bertujuan agar isi amar
putusan hakim tidak merugikan para pihak yang bersengketa.
Tanah milik negara digunakan demi kepentingan negara, begitu juga dengan
kasus diatas yang merupakan sengketa dengan masyarakat tetapi hukum itu milik
negara dan haruslah kembali pada negara dengan berlandaskan untuk kepentingan
umum dan untuk kepentingan negara.
B. Saran
Dari kasus-kasus yang telah di kemukakan di atas, maka dapat disarankan
bahwa semua hukum yang ada pada negara ini, telah dimasuki kepentingan negara
dalam rangka mencapai cita-cita bangsa dan tujuan negara. Jadi hukum tersebut bisa
dikatakan sebagai salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk mencapai cita-cita
bangsa dan tujuan negara Indonesia yang sudah tertera pada Pembukaan Undangundang Dasar 1945. Salah satunya yaitu mensejahterakan rakyat.
Menjadi warga negara yang baik harus tahu akan hukum serta tidak hanya
tahu, juga haruslah melaksanakan hukum tersebut. Untuk menjadi warga negara
Indonesia yang baik (good citizen), maka harus taat dan mengerti akan hukum. Hal
itulah yang ditujukan untuk penulisan makalah ini tentang penanaman kesadaran
hukum haruslah ditingkatkan di Indonesia agar tidak terjadi konflik-konflik dari yang
ditimbulkan oleh penyelewengan hukum, atau pelanggaran hukum.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Adrian, Sutedi, Peralihan Hak atas Tanah dan Pendaftarannya, Jakarta: Penerbit
Sinar Grafika, 2009
H. Ali, Achmad C., Hukum Agraria(pertanahan Indonesia) jilid 1, Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2004
Boedi, Harsono, Hukum Agaria Indonesia; Sejarah Pembentukan Undang-Undang
Pokok Agraria,isi dan pelaksanaannya, Jakarta: penerbit Djambatan, 2005
C.S.T.Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka, 1986
Efendi, Perangin, Hukum Agraria di Indonesia, Jakarta: Rajagrafindo Persada; 1994
Mahfud ,Moh. MD, Politik Hukum di Indonesia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2012
Maria, Rita R., Sesat Pikir (Politik Hukum Agraria), Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2000
Maria, SW Sumardjono, Mediasi Sengketa Tanah, Jakarta: Penerbit Buku Kompas,
2009
Soedigdo, Hardjosudarmo, Masalah Tanah di Indonesia, Jakarta: Penerbit Bhratara,
1970
Urip, Santoso, Hukum Agraria dan Hak-hak atas Tanah, Jakarta: Prenada Media,
2005

Koran dan Web:


Kontributor malang, Yatimul Ainun, Warga dan TNI ngotot tempuh jalur hukum,
KOMPAS.com, 6 Juli 2012

[1] Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012,
hal. 2
[2] C.S.T.Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka,1986 hal. 34
[3] Boedi Harsono, Hukum Agaria Indonesia; Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok
Agraria,isi dan pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan,2005 hal.5
[4] H. Ali Achmad Chomzah, Hukum Agraria(pertanahan Indonesia) jilid 1, Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2004 hal.4-5
[5] Ibid, hal.4.
[6] Urip Santoso, Hukum Agraria dan Hak-hak atas Tanah, Jakarta: Prenada Media, 2005,
hal 23
[7] Adrian Sutedi, Peralihan Hak atas Tanah dan Pendaftarannya, Jakarta: Penerbit Sinar
Grafika, 2009, hal 35
[8] Maria SW sumardjono, Mediasi Sengketa Tanah, Jakarta: Penerbit Buku Kompas,
2009,hal 18
[9] Kontributor malang, Yatimul Ainun,Warga dan TNI ngotot tempuh jalur hukum,
KOMPAS.com, 6 Juli 2012
[10] Efendi Perangin, Hukum Agraria di Indonesia, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 1994,
hal. 95

[11] Soedigdo Hardjosudarmo, Masalah Tanah di Indonesia, Jakarta: Penerbit Bhratara,


1970, hal. 51
[12]Maria Rita Ruwiastuti, Sesat Pikir (Politik Hukum Agraria), Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2000, hal.94-95