Anda di halaman 1dari 10

Panas Bumi (Geothermal)

Kata geothermal berasal dari bahasa yunani yaitu geo yang berarti bumi dan therme
yang berarti panas. Secara istilah, geothermal dapat diartikan sebagai sumber energi
panas yang terkandung di dalam air panas, uap air dan batuan bersama mineral ikutan
dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu
sistem panas bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan
(Undang-undang Nomor 27 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1).
Terbentuknya daerah-daerah panas bumi yang memiliki temperatur tinggi mengacu
pada teori tektonik lempeng, dimana teori ini menjelaskan bahwa di bumi terdapat
pergerakan lempeng (crust). Pergeseran lempeng ini yang menentukan karakteristik
dari sumber-sumber energi panas bumi yang ada. Untuk daerah panas bumi
bertemperatur tinggi (lebih dari 180 C) terdapat pada sistem magmatik volkanik
aktif. Sistem magmatik volkanik aktif umumnya berada disekitar pertemuan lempeng
samudra dan benua. Disini proses yang terjadi yaitu akibat adanya tumbukan antara
lempeng samudra dan lempeng benua, lempeng samudra menunjam ke bawah
(subduksi) lempeng benua. Temperatur yang tinggi di kerak bumi mengakibatkan
lempeng samudra meleleh. Densitas lelehan biasanya lebih rendah dari sumber
asalnya sehingga lelehan tersebut cenderung naik ke atas menjadi magma.
Sementara itu kandungan H2O yang tinggi pada batas antara lempeng benua dan
lempeng samudera memicu terjadinya partial melting yang mengakibatkan adanya

fluida panas bumi. Fluida panas bumi ini kemudian bergerak ke atas melewati kerak
bumi sambil terus bereaksi dengan batuan yang dilewatinya sehingga makin
menambah komponen fluida panas bumi tersebut. Ketika fluida ini semakin bergerak
ke atas maka akan mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung gas di boiling
zone. Disinilah terjadi pemisahan antara fase liquid dan fase gas pada fluida panas
bumi. Fluida gas ini akan lebih mudah menerobos menuju permukaan bumi menjadi
furnaroles disekitar puncak dan lereng gunung api. Sisa fluida panas bumi yang masi
di dalam akan mengalir secara lateral dimana akan bercampur dengan air tanah dan
keluar di permukaan sebagai mata air (Suparno 2009). Gambaran mengenai sistem
panas bumi di suatu daerah biasanya dibuat dengan memperlihatkan sedikitnya lima
komponen yaitu sumber panas, reservoir dengan temperaturnya, sumber air serta
manifestasi panas bumi permukaan yang terdapat di daerah tersebut (Saptadji 2001).

Gambar. Pergerakan Lempeng Tektonik

Gambar. Sistem Panas Bumi

Jenis-jenis Energi dan Sistem Panas Bumi


Energi panasbumi diklasifikasikan kedalam lima kategori. Energi dari sistim
hidrotermal (hydrothermal system) yang paling banyak dimanfaatkan karena pada
sistim hidrotermal, pori-pori batuan mengandung air atau uap, atau keduanya, dan
reservoir umumnya letaknya tidak terlalu dalam sehingga masih ekonomis untuk
diusahakan. Berdasarkan pada jenis fluida produksi dan jenis kandungan fluida
utamanya, sistim hidrotermal dibedakan menjadi dua, yaitu sistim satu fasa atau
sistim dua fasa.

Gambar. Jenis-jenis Energi Panas Bumi


Pada sistim satu fasa, sistim umumnya berisi air yang mempunyai temperatur 90 180C dan tidak terjadi pendidihan bahkan selama eksploitasi. Contoh dari sistim ini
adalah lapangan panasbumi di Tianjin (Cina) dan Waiwera (Selandia Baru).
Ada dua jenis sistim dua fasa, yaitu:
1. Sistim dominasi uap atau vapour dominated system, yaitu sistim panasbumi di
mana sumur-sumurnya memproduksikan uap kering atau uap basah karena ronggarongga batuan reservoirnya sebagian besar berisi uap panas. Dalam sistim dominasi
uap, diperkirakan uap mengisi rongga-rongga, saluran terbuka atau rekahan-rekahan,
sedangkan air mengisi pori-pori batuan. Karena jumlah air yang terkandung di dalam

pori-pori relatif sedikit, maka saturasi air mungkin sama atau hanya sedikit lebih
besar dari saturasi air konat (Swc) sehingga air terperangkap dalam pori-pori batuan
dan tidak bergerak.
2. Sistim dominasi air atau water dominated system yaitu sistim panasbumi dimana
sumur-sumurnya menghasilkan fluida dua fasa berupa campuran uap air. Dalam sistim
dominasi air, diperkirakan air mengisi rongga-rongga, saluran terbuka atau rekahanrekahan. Lapangan Awibengkok termasuk kedalam jenis ini, karena sumur-sumur
umumnya menghasilkan uap dan air. Pada sistim dominasi air, baik tekanan maupun
temperatur tidak konstant terhadap kedalaman.
Dibandingkan dengan temperatur reservoir minyak, temperatur reservoir panasbumi
relatif sangat tinggi, bisa mencapai 350C. Berdasarkan pada besarnya temperatur,
Hochstein (1990) membedakan sistim panasbumi menjadi tiga, yaitu:
1.Sistim panasbumi bertemperatur rendah, yaitu suatu sistim yang reservoirnya
mengandung fluida dengan temperatur lebih kecil dari 125C.
2.Sistim/reservoir bertemperatur sedang, yaitu suatu sistim yang reservoirnya
mengandung fluida bertemperatur antara 125C dan 225C.
3.Sistim/reservoir bertemperatur tinggi, yaitu suatu sistim yang reservoirnya
mengandung fluida bertemperatur diatas 225C.
Sistim panasbumi seringkali juga diklasifikasikan berdasarkan entalpi fluida yaitu
sistim entalpi rendah, sedang dan tinggi. Kriteria yang digunakan sebagai dasar
klasifikasi pada kenyataannya tidak berdasarkan pada harga entalphi, akan tetapi
berdasarkan pada temperatur mengingat entalphi adalah fungsi dari temperatur.
Geothermal di Indonesia

Gambar. Persebaran Potensi Panas Bumi di Indonesia (ESDM 2008)

Posisi Indonesia yang tepat berada di batas antara lempeng Eurasia, Indo-Australia
dan Pasifik mengakibatkan Indonesia termasuk daerah yang mempunyai sistem
magmatik volkanik aktif. Hal ini terbukti dari 128 gunung berapi aktif yang tersebar di
seluruh Indonesia (Zen 2008). Setelah dilakukan survey pendahuluan terkait dengan
potensi geothermal di 256 daerah didapatkan kandungan energi geothermal di
Indonesia senilai 27.601 MWe atau terbesar di dunia. Namun baru 1042 MWe yang
telah diproduksi dari energi geothermal tersebut (ESDM 2008).

Tabel. Potensi Panas Bumi Indonesia Tahun 2008 (ESDM, 2008)


Pemanfaatan Panas Bumi
Secara umum pemanfaatan energi geothermal terbagi menjadi tiga yaitu untuk
menggerakkan pembangkit listrik, penggunaan secara langsung (direct use) dan
pemanasan /pendinginan bangunan dengan pompa-pompa panas geothermal. Energi
listrik yang dihasilkan dari memanfaatkan energi geothermal diperoleh dengan
menggunakan peralatan turbin uap dan generator. Uap dari geothermal digunakan
untuk memutarkan turbin untuk menghasilkan energi listrik. Untuk penggunaan
langsung yaitu air panas dari sumber geothermal mampu menyediakan panas untuk
kegiatan industri, rumah kaca pengeringan hasil panen, pemanas ruangan, balneology
(pengobatan) atau mencairkan salju pada negara-negara yang beriklim dingin.
Penggunaan langsung disini dengan cara mengalirkan uap panas dengan sistem
mekanik berupa pemompaan dengan pipa-pipa, pengatur panas dan pengontrolpengontrol kemudian dialirkan ke tempat yang menggunakannya. Biasanya
pemanfaatan secara langsung ini suhu yang dipakai adalah 50C-150C. Untuk
Indonesia pemanfaatan yang ada masih sebatas pada pemanfaatan sebagai energi
listrik dan untuk area hot springs sebagai pariwisata (Sumintadiredja 2005).
Penentuan Potensi Panas Bumi
Adanya sumberdaya geothermal di bawah permukaan terkadang ditunjukkan dengan
adanya manifestasi permukaan sebagai akibat dari adanya energi dari dalam bumi
yang keluar. Manifestasi permukaan adalah tanda-tanda alam yang nampak di
permukaan tanah sebagai petunjuk awal adanya aktifitas panas bumi di bawah

permukaan bumi. Manifestasi panas bumi ini dapat berupa tanah hangat (warm
ground), permukaan tanah beruap, mata air panas atau hangat, telaga air panas,
fumarole, geyser, kubangan lumpur panas, silika sinter, batuan yang mengalami
alterasi (Saptadji 2001). Karakteristik kondisi geomorfologi juga menandakan adanya
sumberdaya geothermal di dalam permukaan. Adanya patahan di daerah vulkanisme
tua dapat dijadikan indikator tersebut (Utama dkk. 2012). Selain itu, besarnya potensi
cadangan suatu lapangan panas bumi dapat digambarkan dengan beberapa parameter
reservoir seperti temperatur, tekanan, dan entalpi yang merepresentasikan energi
termal yang terkandung di dalam fluida reservoir tersebut (Singarimbun dkk. 2011).
1. Tanah Hangat
Adanya sumber daya panasbumi di bawah permukaan dapat ditunjukkan antara lain
dari adanya tanah yang mempunyai temperatur lebih tinggi dari temperatur tanah
disekitarnya. Hal ini terjadi karena adanya perpindahan panas secara konduksi dari
batuan bawah permukaan ke batuan permukaan. Berdasarkan besarnya gradien
temperatur, area di bumi dibagi menjadi area tidak panas dan area panas (thermal
area). Suatu area diklasifikasikan sebagai area tidak panas apabila gradien temperatur
di area tersebut sekitar 10-40C/km. Sedangkan area panas terdapat area semi
thermal dan area hyperthermal. Area semi thermal, yaitu area yang mempunyai
gradien temperatur sekitar 70-80C/km. Area hyperthermal, yaitu area yang
mempunyai gradien temperatur sangat tinggi. Contohnya adalah di Lanzarote (Canary
Island) besarnya gradien temperatur sangat tinggi sekali hingga besarnya tidak lagi
dinyatakan dalam C/km tetapi dalam C/cm.
2. Permukaan Tanah Beruap
Di beberapa daerah terdapat tempat-tempat di mana uap panas (steam) nampak
keluar dari permukaan tanah. Jenis manifestasi panasbumi ini disebut steaming
ground. Diperkirakan uap panas tersebut berasal dari suatu lapisan tipis dekat
permukaan yang mengandung air panas yang mempunyai temperatur sama atau lebih
besar dari titik didihnya (boiling point). Besarnya temperatur di permukaan sangat
tergantung dari laju aliran uap (steam flux).
3. Mata Air Panas atau Hangat
Mata air panas/hangat ini terbentuk karena adanya aliran air panas/hangat dari
bawah permukaan melalui rekahan-rekahan batuan. Istilah hangat digunakan bila
temperatur air lebih kecil dari 50C dan istilah panas digunakan bila temperatur air
lebih besar dari 50C. Mata air panas yang bersifat asam biasanya merupakan
manifestasi permukaan dari suatu sistim panasbumi yang didominasi uap. Sedangkan
mata air panas yang bersifat netral biasanya merupakan manifestasi permukaan dari
suatu sistim panasbumi yang didominasi air. Mata air panas yang bersifat netral, yang
merupakan manifestasi permukaan dari sistim dominasi air, umumnya jenuh dengan
silika. Apabila laju aliran air panas tidak terlalu besar umumnya di sekitar mata air
panas tersebut terbenntuk teras-teras silika yang berwarna keperakan (silica sinter
terraces atau sinter platforms). Bila air panas banyak mengandung Carbonate maka
akan terbentuk teras-teras travertine (travertine terrace). Namun di beberapa

daerah, yaitu di kaki gunung, terdapat mata air panas yang bersifat netral yang
merupakan manifestasi permukaan dari suatu sistim panasbumi dominasi uap.
4. Kolam Air Panas
Kolam air panas ini terbentuk karena adanya aliran air panas dari bawah permukaan
melalui rekahan-rekahan batuan. Bila air tersebut berasal dari reservoar panasbumi
maka air tersebut hampir selalu bersifat netral. Disamping itu air tersebut umumnya
jemih dan berwarna kebiruan. Bila air tersebut berasal dari air tanah yang menjadi
panas karena pemanasan oleh uap panas maka air yang terdapat di dalam kolam air
panas umumnya bersifat asam. Sifat asam ini disebabkan karena tejadinya oksidasi H 2
didalam uap panas. Kolam air panas yang bersifat asam (acid pools) umumnya
berlumpur dan kehijau-hijauan. Kolam air panas yang bersifat asam mungkin saja
terdapat diatas suatu reservoar air panas. Jika luas permukaan dari kolam air panas
ini lebih dari 100m2 biasanya disebut telaga air panas.

Gambar. Kolam Air Panas


5. Fumarole
Fumarole adalah lubang kecil yang memancarkan nap panas kering (dry steam) atau
uap panas yang mengandung butiran-butiran air (wet steam). Apabila uap tersebut
mengandung gas H2S maka manifestasi permukaan tersebut disebut solfatar. Fumarole
yang memancarkan uap dengan kecepatan tinggi kadang-kadang juga dijumpai di
daerah tempat terdapatnya sistim dominasi uap. Uap tersebut mungkin mengandung
S02 yang hanya stabil pada temperatur yang sangat tinggi (>500C). Fumarole yang
memancarkan uap dengan kandungan asam boric tinggi umumnya disebut soffioni.
6. Geyser
Geyser didefinisikan sebagai mata air panas yang menyembur ke udara secara
intermitent (pada selang waktu tak tentu) dengan ketinggian air sangat beraneka
ragam, yaitu dari kurang dari satu meter hingga ratusan meter. Geyser merupakan
manifestasi permukaan dari sistim dominasi air.

Gambar. Geyser
7. Kubangan Lumpur Panas
Kubangan lumpur panas umumnya mengandung non-condensible gas (CO 2) dengan
sejumlah kecil uap panas. Lumpur terdapat dalam keadaan cair karena kondensasi
uap panas. Sedangkan letupan-letupan yang tejadi adalah karena pancaran C02.

Gambar. Kubangan Lumpur


8. Silika Sinter
Silika sinter adalah endapan silika di permukaan yang berwarna keperakan.
Umumnya dijumpai disekitar mata air panas dan lubang geyser yang menyemburkan
air yang besifat netral. Apabila laju aliran air panas tidak terlalu besar umumnya
disekitar mata air panas tersebut terbentuk teras-teras silika yang berwarna
keperakan (silica sinter teraces atau sinter platforms). Silika sinter merupakan
manifestasi pernukaan dari sistim panasbumi yang didominasi air.

Gambar. Silika Sinter


9. Batuan Yang Mengalami Alterasi
Alterasi hidrothermal merupakan proses yang terjadi akibat adanya reaksi antara
batuan asal dengan fluida panasbumi. Batuan hasil alterasi hidrotermal tergantung
pada beberapa faktor, tetapi yang utama adalah temperatur, tekanan, jenis batuan
asal, komposisi fuida (hususnya pH) dan lamanya reaksi. Mineral hidrothermal yang
dihasilkan di zona permukaan biasanya adalah kaolin, alutlite, sulphur, residue silika
dan gypsum.
10. Geomorfologi
Geomorfologi adalah kajian yang menguraikan tentang bentuk lahan yang
menyusun permukaan bumi baik di atas maupun di bawah permukaan laut, prosesproses yang menyebabkan pembentukannya dan menyelidiki hubungan antara bentuk
lahan dengan proses tersebut dalam tatanan keruangannya (Lihawa 2009). Aspekaspek dalam geomorfologi (Verstappen 1983) meliputi:
1. Aspek morfologi, dimana mencakup ukuran-ukuran dan bentuk unsur-unsur penyusun
bentuk lahan.
2. Aspek Morfogenesa, dimana asal usul pembentukan lahan dan perkembangannya.
Proses ini dapat dibedakan berdasarkan tenaga geomorfologi pembentuk bentuk
lahan. Proses-proses tersebut membentuk konfigurasi bentuk permukaan bumi yang
berbeda-beda.
3. Aspek Morfo-kronologi, dimana urutan bentuk lahan yang ada di permukaan bumi
sebagai hasil proses geomorfologi.
4. Aspek Morfo-asosiasi, dimana merupakan kaitan antara bentuk lahan satu dengan
bentuk lahan lainnyadalam susunan keruangan dan sebarannya di permukaan bumi.
Morfo-asosiasi ini sangat penting karena bentuk lahan yang ada di permukaan bumi
pembentukannya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain topografi, iklim,
batuan, proses, vegetasi, organisme dan waktu.

Ketinggian, sudut kemiringan (slope angle) dan aspek kemiringan (slope aspect)
adalah variabel-variabel yang sering digunakan dalam menentukan orientasi lokal dari
suatu landscape (Walsh dkk. 1997).
Beberapa metode yang digunakan dalam penentuan estimasi potensi panas bumi
adalah metode estimasi volumetrik dan metode estimasi simulasi numerik. Metoda
estimasi volumetrik dibagi menjadi metode perbandingan dan model lumped
parameter. Metode perbandingan, yaitu menyetarakan suatu daerah panas bumi baru
yang belum diketahui potensinya dengan lapangan yang diketahui berpotensi, dimana
keduanya memiliki kemiripan kondisi geologi. Metoda ini digunakan untuk menghitung
potensi energi panas bumi dengan klasifikasi sumber daya spekulatif. Model lumped
parameter, didasarkan pada anggapan bahwa reservoir panas bumi berupa bentuk
kotak sehingga perhitungan volume = luas sebaran x ketebalan; dengan syarat bahwa :
(a) kandungan energi panas dalam bentuk fluida berada dalam batuan; dan (b)
kandungan massa fluida terdapat dalam resrvoir. Metode ini digunakan untuk
menghitung potensi energi panas bumi dengan kategori sumber daya hipotesis,
cadangan terduga, mungkin dan terbukti. Sedangkan metode estimasi simulasi
numerik digunakan pada kondisi dimana pada suatu lapangan panas bumi telah
tersedia beberapa sumur eksplorasi dengan semburan fluida panas. Data sumur dibuat
simulasi, yang selanjutnya digambar dalam sistem kisi (grid) dan bentuk tiga dimensi.
Dengan metode ini dapat dihitung potensi cadangan terbukti dari suatu reservoir,
termasuk umur, optimasi produksi dan sistem distribusi panasnya (Saptadji 2001).
Menurut Badan Standardisasi Nasional (1998) estimasi potensi geothermal didasarkan
pada kajian ilmu geologi, geokimia, geofisika dan teknik reservoar. Kajian geologi
ditekankan pada sistem, vulkanis, struktur geologi, umur batuan, jenis dan tipe
batuan ubahan dalam kaitannya dengan sistem panas bumi. Kajian geokimia
ditekankan pada tipe dan tingkat maturasi air, asal mula air panas, model hidrologi
dan sistem fluidanya. Kajian geofisika menghasilkan parameter fisis batuan dan
struktur bawah permukaan dari sistem panas bumi. Kajian teknik reservoar
menghasilkan fase teknik yang mendefinisikan klasifikasi cadangan termasuk sifat fisis
batuan dan fluida serta pemindahan fluida dari reservoar. Dari banyaknya kajian yang
ada juga memerlukan sistem yang mampu mengintegrasikan antara hasil kajian satu
dengan lainnya sehingga nantinya dapat diketahui mengenai penyebaran batuan,
struktur geologi, daerah alterasi hidrotermal, geometri cadangan panas bumi,
hidrologi, sistem panas bumi, temperature reservoir, potensi sumber daya serta
potensi listriknya.