Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

  • A. IDENTITAS PENDERITA

Nama

: An. Z

Usia

: 9 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Banteng RT 03 RW 01 Tersono – Batang

No. CM

: 342079

Tanggal masuk

: 22 januari 2016

Tanggal pemeriksaan

: 22 januari 2016

  • B. DATA DASAR

    • 1. Anamnesis ( Alloanamnesis ) Alloanamnesis dan autoanamnesis dilakukan pada tanggal 22 Januari 2016 di UGD RSUD Kalisari Batang Keluhan utama: Nyeri perut kanan bawah Riwayat Penyakit Sekarang : Sebelum masuk rumah sakit :

Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah yang dirasakan sejak 3 hari SMRS, awalnya nyeri dirasakan pada daerah ulu hati lalu berpindah ke perut kanan bawah sehingga pasien lebih nyaman berjalan dengan sedikit membungkuk ke kanan. nyeri bertambah dengan berjalan dan apabila pasien batuk, pasien juga mengeluh demam sejak 3 hari SMRS, demam dirasakan terus menerus , kejang (-), mimisan(-), gusi berdarah(-),BAB darah (-), lebam-lebam(-), pilek(-), batuk (-),tidak sesak napas, nyeri ulu hati(-), mual, muntah 2x berisi cairan dan sisa makanan, tidak ada darah volume sekali muntah sekitar ¼ gelas belimbing, BAB tidak ada keluhan,1x/hari warna coklat kekuningan, konsistensi lembek, tidak ada darah, tidak ada lendir. BAK lancar seperti biasa. Nafsu makan dan minum menjadi berkurang dari biasanya karena anak mual

Riwayat Penyakit Dahulu :

Penyakit

Pernah/Tidak

Diare

Disangkal

DHF

+ 4 th yang lalu

Kejang

Disangkal

alergi

Disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini.

Riwayat Persalinan dan Kehamilan :

Anak perempuan dari ibu G 2 P 1 A 0 hamil aterm, ANC teratur, penyakit kehamilan tidak ada, lahir secara spontan ditolong oleh bidan,anak lahir langsung menangis, berat badan lahir 3000 gram ,tidak ada kelainan bawaan. Kesan : neonatus cukup bulan, sesuai masa kehamilan

Riwayat Pemeliharaan Prenatal :

Ibu biasa memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan terdekat. Saat mengetahui hamil hingga menjelang persalinan, pemeriksaan dilakukan 1x/bulan. Tidak pernah menderita penyakit selama kehamilan. Selama hamil ibu mengaku mendapatkan obat yang diminum berupa vitamin dan tablet penambah darah untuk ibu hamil. Tidak pernah menderita penyakit selama hamil. Riwayat perdarahan saat hamil disangkal. Riwayat trauma saat hamil disangkal.

Riwayat Pemeliharaan Postnatal :

Pemeliharaan postnatal dilakukan di bidan dan pusat kesehatan masyarakat terdekat dan

tidak ada kelainan pada anak.

Riwayat Sosial Ekonomi :

Ayah pasien bekerja sebagai sopir dan ibu sebagai ibu rumah tangga dan tinggal satu

rumah dengan pasien, 1 orang kakak laki-laki berusia 14 tahun. Biaya berobat di tanggung BPJS.

Kesan : sosial ekonomi kurang.

Data Keluarga

 

AYAH/WALI

IBU/WALI

KAKA

PASIEN

K

Perkawina

I

I

-

-

n ke

Umur

39 tahun

36 tahun

14 tahun

9 tahun

Agama

Islam

Islam

Islam

Islam

Riwayat Imunisasi :

Imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal imunisasi di posyandu.

Riwayat Keluarga Berencana :

Ibu penderita mengikuti program KB. Ibu menggunakan kontrasepsi suntik untuk

mencegah kehamilan.

  • 2. Pemeriksaan Fisik Tanggal 22 Januari 2016, di IGD Anak Perempuan usia 9 tahun, berat badan 27 kg, Kesan umum : Composmentis, tampak sakit sedang, kesan gizi baik, tampak kesakitan Tanda vital

-

Tekanan darah : 100/70 mmHg

 

-

HR

: 108 x/ menit

-

Nadi

: isi dan tegangan cukup

 

-

Laju nafas

: 20x/ menit

 

-

Suhu

: 38,6 ° C

Status Internus

 

Kepala

: Normocephale

 

Mata

:

mata

cowong

(-/-),

konjungtiva

anemis

(-/-),

pupil

isokhor

(+/+),

diameter 2,5 mm, refleks cahaya (+/+),

Hidung

: Epistaksis ( -)

Telinga

: Discharge ( -)

Mulut

: Hematemesis (-), Gusi berdarah (-), kering (-)

Leher

: Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe

Tenggorok

: T1- T1, faring hiperemis (-)

Dinding thorax :

 

Paru

Inspeksi

: simetris dalam keadaan statis dan dinamis, retraksi (-)

Palpasi

: sterm fremitus paru kanan sama dengan paru kiri

Perkusi

: sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi

: suara dasar vesikuler (+/+), ronchi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

Inspeksi

:

Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: tidak dilakukan

Auskultasi

: BJ I-II

reguler, bising (-) , gallop(-)

Abdomen :

Inspeksi

: distensi (-) sikatrik (-) striae (-) hernia umbilikalis (-)

Auskultasi

: bising usus (+)

Perkusi

: tympani (+) pekak alih (-) undulasi (-) pekak sisi (-)

Palpasi

: supel (+) defans musklar (-) nyeri tekan pada inguinal dextra

(+) Blumberg sign (-) Mc. Burney sign (+) rovsing sign (+), psoas sign (+), obturator sign (+)

Rectal Toucher:

Inspeksi perianal: dalam batas normal

Palpasi perianal : tidak ada benjolan , tidak ada nyeri tekan

Palpasi dalam: tonus sfingter ani baik, ampula tidak kolaps, nyeri tekan pada jam 9-

11, massa(-), pada handskoon didapatkan feses(+) darah (-)

Ekstremitas

:

Superior

Inferior

Akral dingin

-/-

-/-

Akral sianosis

-/-

-/-

Oedem

-/-

-/-

Capillary refill

<2”

<2”

Rectal Toucher

: pasien menolak

Alvarado / MANTRELL skor :

 

Migration Pain

: +1

Anorexia

: +1

Nausea, Vomit

: +1

Tendernes of RLQ

: +2

Rebound Pain

: 0

Elevate Temperature

: +1

Leukositosis

: +2

SKOR : 8

Shift to the Left

: 0

3.

Pemeriksaan Penunjang

1.

Pemeriksaan Laboraturium

 
 

Pemeriksaa

22/1

Satuan

Nilai rujukan

n

HEMATOLOGI , CBC:

 

Leukosit

14.76

10 3 /ul

4.50 -11.00

Eritrosit

4.66

10 6 /ul

4.10 - 5.10

Hemoglobin

12.4

g/dl

12 – 16

Hematocrit

36.1

%

36.0 – 46.0

MCV

77.5

Fl

78.0 – 102.0

MCH

26.6

Pg

25 – 35

MCHC

34.3

g/dl

31 – 37

Trombosit

305

10 3 /ul

150 – 450

Diff count

Neutrophil

83.9

%

42 – 74

Limfosit

11

0

%

17 – 45

Monosit

5.0

%

2 – 8

Eosinophil

0.0

%

0 – 5

Basophil

0.1

%

0 – 1

 

LED 1 jam

30

mm/jam

<15

LED 2 jam

45

mm/2jam

<30

 

Waktu

2’30’’

Menit

1-6

perdarahan

Waktu

3’30’’

Menit

2-6

pembekuan

GDS

120

Mg/ dl

70-140

  • 4. Pemeriksaan Khusus Data Antropometri : Anak perempuan, usia 9 tahun Berat badan

27 kg

Tinggi badan : 135cm

I. DIAGNOSIS
I.
DIAGNOSIS
  • I. Appendicitis akut Status gizi baik

II.

HASIL PEMBELAJARAN

Subyektif :

Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah yang dirasakan sejak 3 hari SMRS, awalnya nyeri dirasakan pada daerah ulu hati lalu berpindah ke perut kanan bawah sehingga pasien lebih nyaman berjalan dengan sedikit membungkuk ke kanan. nyeri bertambah dengan berjalan dan apabila pasien batuk, pasien juga mengeluh demam sejak 3 hari SMRS, demam dirasakan terus menerus , mual, muntah 2x berisi cairan dan sisa makanan, tidak ada darah volume sekali muntah sekitar ¼ gelas belimbing, BAB tidak ada keluhan,1x/hari warna coklat kekuningan, konsistensi lembek, tidak ada darah, tidak ada lendir

Objektif :

pemeriksaan fisik :

tanda vital

: suhu : 38,6 o C

thorax

: cor dan pulmo dalam batas normal

Abdomen

:

Inspeksi

Auskultasi

Perkusi

Palpasi

: distensi (-) sikatrik (-) striae (-) hernia umbilikalis (-)

: bising usus (+)

: tympani (+) pekak alih (-) undulasi (-) pekak sisi (-)

: supel (+) defans musklar (-) nyeri pada inguinal dextra (+)

Blumberg sign (-) Mc. Burney sign (+) rovsing sign (+), psoas sign (+), obturator sign (+) Rectal toucher: Palpasi dalam: tonus sfingter ani baik, ampula tidak kolaps, nyeri tekan pada jam 9-11, massa(-), pada handskoon didapatkan feses(+) darah (-) Pemeriksaan Lab : Leukosit 14.760 / uL

Alvarado / MANTRELL skor :

Migration Pain

: +1

Anorexia

: +1

Nausea, Vomit

: +1

Tendernes of RLQ

: +2

Rebound Pain

: 0

Elevate Temperature

: +1

Leukositosis

: +2

SKOR : 8

Shift to the Left

: 0

Assesment

Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, didapatkan hasil yang mengarah kepada diagnosis Appendisitis akut

INITIAL PLAN:

Assessment: Appendisitis akut

Ip. Dx : Urinalisa, USG Abdomen

Ip. Tx :

  • - Inf RL 15 tpm

  • - Inj. Ceftriakson 600mg/ 12 jam

  • - Inj. Ranitidine 25 mg / 12 jam

  • - Inf. Paracetamol 300 mg/ 6 j

  • - Operasi appendectomy dengan general anesthesia di program tanggal 24 januari
    2016

Diet

BBI

= 8 + 2n

= 8 + 2(9) = 26kg Kalori = 26x 100 kkal = 2600 kkal/hari Protein = 10%x kalori:4 = 65 gr/hari

Ip. Mx : Ku, tanda tanda peritonitis, tanda tanda syok, pantau tanda overload cairan

Ip. Ex :

Edukasi kepada orang tua pasien mengenai penyakit yang dideritanya, komplikasi serta rencana pengobatan. obat diminum teratur, antibiotic diminum sampai habis, kontrol sesuai jadwal luka bekas operasi untuk tidak terkena air dahulu mengganti balut luka bekas operasi tiap 2 hari

  • J. PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad sanam Quo ad fungsionam

: dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

  • K. FOLLOW UP

Hari dan

ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK

 

TERAPI

tanggal

 

22/1/16

S: nyeri perut kanan bawah (+) demam (+)

Infus RL 15 tpm

Inj. Ceftriakson 600mg/12 jam

BB: 27kg

mual (+) muntah (+)2x, nafsu makan turun

Inj. Ranitidine 55mg/12 jam

Hp : 1

O:

Inf parasetamol 300 mg/6 jam

suhu:38.6 HR:108x/m

I: datar

Pro appendiktomi: puasa 6 jam

RR: 20x/m TD: 100/70

 

sebelum operasi

Ku: tampak sakit sedang Kesadaran : komposmentis Mata : ca-/- si -/- THT : discharge (-) NCH (-) Mulut: sianosis (-) Thorax: cor: BJ I-II regular Pulmo: SDV+/+, rhonki (-) wheezing (-) Abdomen:

A: Bising usus(+) P: Tympani P: supel (+) defans musklar (-) nyeri tekan pada inguinal dextra (+) Blumberg sign (-) Mc. Burney sign (+) rovsing sign (+), psoas sign (+), obturator sign (+) RT: nyeri tekan pada jam 9-12 Ekstremitas: akral hangat, nadi kuat,

 

CRT<2”

23/1/16

S: nyeri perut kanan bawah (+) demam (-)

Infus RL 15 tpm

 

mual (-) muntah (-)

Inj. Ceftriakson 600mg/12 jam

BB: 27kg

O:

Inj. Ranitidine 25mg/12 jam

Hp : 2

suhu:36.6 HR:88x/m

I: datar

Inf metamizole 300 mg/6 jam Appendiktomi dengan general

RR: 20x/m TD: 108/77

 

anesthesi jam 13.30 WIB

Ku: tampak sakit sedang Kesadaran : komposmentis Mata : ca-/- si -/- THT : discharge (-) NCH (-) Mulut: sianosis (-) Thorax: cor: BJ I-II regular Pulmo: SDV+/+, rhonki (-) wheezing (-) Abdomen:

A: Bising usus(+) P: Tympani P: supel (+) defans musklar (-) nyeri tekan pada inguinal dextra (+) Blumberg sign (-) Mc. Burney sign (+) rovsing sign (+), psoas sign (+), obturator sign (+) Ekstremitas: akral hangat, nadi kuat,

 

CRT<2”

24/2/201

S: nyeri post operasi(+) demam (-) mual (-)

Infus RL 15 tpm

6

muntah (-)

Inj. Ceftriakson 600mg/12 jam

Inj. Ranitidine 25mg/12 jam

O:

Inf metamizole 300 mg/6 jam

BB: 27kg

suhu:36.8 HR:90x/m

Mulut: sianosis (-)

HP: 3

RR: 20x/m TD: 98/70

 

Ku: tampak sakit sedang Kesadaran : komposmentis Mata : ca-/- si -/- THT : discharge (-) NCH (-)

 

Thorax: cor: BJ I-II regular Pulmo: SDV+/+, rhonki (-) wheezing (-) Abdomen:

 

I: datar A: Bising usus(+) P: Tympani P: supel (+) defans musklar (-) nyeri tekan pada inguinal dextra (-) Blumberg sign (-) Mc. Burney sign (-) rovsing sign (-), psoas sign (-), obturator sign (-) Ekstremitas: akral hangat, nadi kuat,

CRT<2”

25/2/201

S: nyeri post operasi(+) berkurang, demam

Infus RL 15 tpm

6

(-) mual (-) muntah (-)

Inj. Ceftriakson 600mg/12 jam

Inj. Ranitidine 25mg/12 jam

Bb: 27kg

O:

Hp: 4

suhu:36.5 HR:80x/m RR: 20x/m TD: 90/70 Ku: tampak sakit sedang Kesadaran : komposmentis Mata : ca-/- si -/- THT : discharge (-) NCH (-) Mulut: sianosis (-) Thorax: cor: BJ I-II regular Pulmo: SDV+/+, rhonki (-) wheezing (-) Abdomen:

Inf metamizole 300 mg/6 jam Ganti balut

I: datar A: Bising usus(+) P: Tympani P: supel (+) defans musklar (-) nyeri tekan pada inguinal dextra (-) Blumberg sign (-)

 

Mc. Burney sign (-) rovsing sign (-), psoas

 

sign (-), obturator sign (-) Ekstremitas: akral hangat, nadi kuat,

 

CRT<2”

26/2/201

S: nyeri post operasi(+)berkurang, demam (-)

Infus RL 15 tpm

6

mual (-) muntah (-)

Inj. Ceftriakson 600mg/12 jam

Inj. Ranitidine 25mg/12 jam

BB: 27kg

O:

Inf metamizole 300 mg/6 jam

HP: 5

suhu:36.8 HR:90x/m RR: 20x/m TD: 100/70 Ku: tampak sakit sedang Kesadaran : komposmentis Mata : ca-/- si -/- THT : discharge (-) NCH (-) Mulut: sianosis (-) Thorax: cor: BJ I-II regular Pulmo: SDV+/+, rhonki (-) wheezing (-) Abdomen:

 

I: datar A: Bising usus(+) P: Tympani P: supel (+) defans musklar (-) nyeri tekan pada inguinal dextra (-) Blumberg sign (-) Mc. Burney sign (-) rovsing sign (-), psoas sign (-), obturator sign (-) Ekstremitas: akral hangat, nadi kuat,

CRT<2”

27/2/201

S: nyeri post operasi(+) demam (-) mual (-)

Pasien diperbolehkan pulang

6

muntah (-)

Cefixime 2x100 mg

Paracetamol 3x350 mg

BB: 27kg

O:

HP: 6

suhu:36.3 HR:80x/m RR: 20x/m TD: 90/60 Ku: tampak sakit sedang

Asam mefenamat 3x 350 mg Ganti balut

Kesadaran : komposmentis

 
 

Mata : ca-/- si -/- THT : discharge (-) NCH (-) Mulut: sianosis (-) Thorax: cor: BJ I-II regular Pulmo: SDV+/+, rhonki (-) wheezing (-) Abdomen:

 

I: datar A: Bising usus(+) P: Tympani P: supel (+) defans musklar (-) nyeri tekan pada inguinal dextra (-) Blumberg sign (-) Mc. Burney sign (-) rovsing sign (-), psoas sign (-), obturator sign (-) Ekstremitas: akral hangat, nadi kuat,

CRT<2”

TINJAUAN PUSTAKA

1.

Anatomi

APPENDISITIS

Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum. Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi appendiks yang akan berpindah dari medial menuju katup ileocaecal. Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal dan menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya insidens appendicitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki lumen sempit di bagian proksimal dan melebar pada bagian distal. Pada appendiks terdapat tiga tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum dan berguna untuk mendeteksi posisi appendiks. Gejala klinik appendicitis ditentukan oleh letak appendiks. Posisi appendiks adalah retrocaecal (di belakang sekum) 65,28%, pelvic (panggul) 31,01%, subcaecal (di bawah sekum) 2,26%, preileal (di depan usus halus) 1%, dan postileal (di belakang usus halus) 0,4%, seperti terlihat pada gambar dibawah ini

TINJAUAN PUSTAKA 1. Anatomi APPENDISITIS Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10 cm
Anatomi
Anatomi
Posisi appendiks
Posisi appendiks
Anatomi Posisi appendiks Appendiks disebut tonsil abdomen karena ditemukan banyak jaringanlimfoid. Jaringan limfoid pertama kali muncul

Appendiks disebut tonsil abdomen karena ditemukan banyak jaringanlimfoid. Jaringan limfoid pertama kali muncul pada appendiks sekitar dua minggu setelah lahir, jumlahnya meningkat selama pubertas sampai puncaknya berjumlah sekitar 200 folikel antara usia 12-20 tahun dan menetap saat dewasa. Setelah itu, mengalami atropi dan menghilang pada usia 60 tahun.

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada appendicitis bermula di sekitar umbilikus. Appendiks didarahi oleh arteri apendikularis yang merupakan cabang dari bagian bawah arteri ileocolica. Arteri appendiks termasuk end arteri. Bila terjadi penyumbatan pada arteri ini, maka appendiks mengalami ganggren.

Anatomi Posisi appendiks Appendiks disebut tonsil abdomen karena ditemukan banyak jaringanlimfoid. Jaringan limfoid pertama kali muncul

Aliran darah appendiks

2.

Fisiologi

Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendicitis Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A). Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu mengontrol proliferasi bakteri, netralisasi virus, serta mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen intestinal lainnya. Namun, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh

sebab jumlah jaringan sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh tubuh

  • 3. Definisi Appendisitis

Appendicitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith

(batu feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing usus. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama appendicitis. Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis

  • 4. Patofisiologi

  • 5. Klasifikasi Adapun klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai berikut:

Appendicitis Akut Sederhana (Cataral Appendicitis)

 

Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi.

Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema,

dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan. Pada appendicitis kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat normal, hiperemia, edema, dan tidak ada eksudat serosa.

Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)

 

Tekanan

dalam

lumen

yang

terus

bertambah

disertai

edema

menyebabkan

terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan

mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat

fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di

titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.

Appendicitis Akut Gangrenosa

Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu

sehingga terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna

ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen

Appendicitis Infiltrat

Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu

sehingga terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif, appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna

ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen

Appendicitis Abses

Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus),

biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic.

Appendicitis Perforasi

Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang

menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.

Appendicitis Kronis

Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagai proses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari

dua minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis, dinding appendiks menebal, sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada sub mukosa, muskularis propia, dan serosa.

6.

Gambaran Klinis

Apendisitis

akut

sering

tampil

dengan

gejala

khas

yang didasari oleh radang

mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik Mc. Burney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, karena letaknya terlindung oleh sekum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal. Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing karena rangsangan dindingnya.

  • 7. Diagnosis

Pada anamnesis penderita akan mengeluhkan nyeri atau sakit perut. Ini terjadi karena

hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi dan terjadi pada seluruh saluran cerna, sehingga nyeri viseral dirasakan pada seluruh perut. Muntah atau rangsangan viseral akibat aktivasi n.vagus. Obstipasi karena penderita takut untuk mengejan. Panas akibat infeksi akut jika

timbul komplikasi. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, antara 37,5 -38,5 C.

Pada pemeriksaan

fisik

yaitu pada

inspeksi, penderita

berjalan membungkuk

sambil memegangi perutnya yang sakit, kembung bila terjadi perforasi, dan penonjolan perut bagian kanan bawah terlihat pada apendikuler abses. Pada palpasi, abdomen biasanya tampak datar atau sedikit kembung. Palpasi dinding abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan sedikit tekanan, dimulai dari tempat yang jauh

dari lokasi nyeri. Status lokalis abdomen kuadran kanan bawah:

Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan

bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.

Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound tenderness (nyeri lepas tekan) adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan perlahan dan dalam di titik Mc. Burney. Defens muskuler (+) karena rangsangan m. Rektus abdominis. Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan adanya rangsangan

peritoneum parietale Rovsing sign (+). Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah apabila

dilakukan penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini diakibatkan oleh

adanya nyeri lepas yang dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan. Psoas sign (+). Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh

peradangan yang terjadi pada apendiks. Obturator sign (+). Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan lutut

difleksikan kemudian dirotasikan ke arah dalam dan luar secara pasif, hal tersebut menunjukkan peradangan apendiks terletak pada daerah hypogastrium. Pada perkusi akan terdapat nyeri ketok. Auskultasi akan terdapat peristaltic normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata akibat apendisitis perforata. Auskultasi tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis, tetapi kalau sudah terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus. Pada pemeriksaan colok dubur (Rectal Toucher) akan terdapat nyeri pada jam 9- 12. Selain itu, untuk mendiagnosis apendisitis juga dapat digunakan skor Alvarado, yaitu:

 skor 1 4: tidak dipertimbangkan mengalami appendicitis akut
skor 1
4:
tidak dipertimbangkan mengalami appendicitis akut

skor 5 – 6: dipertimbangkan kemungkinan appendicitis akut tetapi tidak memerlukan

tindakan operasi segera atau dinilai ulang skor 7 – 8: dipertimbangkan kemungkinan mengalami appendisitis akut

skor 9 – 10: hampir definitive mengalami appendisitis akut dan memerlukan tindakan

bedah

  • 8. Pemeriksaan Penunjang

  • 9. Diagnosis Banding

Gastroenteritis

Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih

ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltis sering ditemukan. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan apendisitis akut.

Infeksi Panggul

Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya

lebih tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus.

Kehamilan di luar kandungan

 

Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar Rahim dengan pendarahan, akan

timbul nyeri yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik

Kista ovarium terpuntir

 

Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba massa dalam

rongga pelvis pada pemeriksaan perut, colok vaginal, atau colok rektal.

 

Urolitiasis pielum/ ureter kanan

 

Adanya

riwayat

kolik

dari

pinggang

ke

perut

menjalar

ke inguinal kanan

merupakan gambaran yang khas. Eritrosituria sering ditemukan

Penyakit saluran cerna lainnya

 

Penyakit

lain

yang

perlu

diperhatikan

adalah

peradangan

di perut, seperti

diverticulitis Meckel, perforasi tukak duodenum atau lambung, kolesistitis akut,

pankreatitis, divertikulitis kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid abdominalis, karsinoid, dan mukokel apendiks.

  • 10. Penatalaksanaan

  • 11. Komplikasi

Komplikasi

terjadi

akibat

keterlambatan

penanganan

appendicitis. Faktor

keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor penderita meliputi

pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi komplikasi

appendicitis 10-32%, paling sering pada anak kecil dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi

pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang tua. CFR komplikasi 2-5%, 10- 15% terjadi pada anak-anak dan orang tua. 43 Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis, omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh darah. 24 Adapun jenis komplikasi diantaranya:

Abses

Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di

kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila appendicitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum.

Perforasi

Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi

meningkat tajam sesudah 24 jam. 19 Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,5 derajat C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis

Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang

dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis.

12. Prognosis

Kebanyakan pasien setelah operasi appendektomi sembuh spontan tanpa penyulit, namun komplikasi dapat terjadi apabila pengobatan tertunda atau telat terjadi peritonitis/peradangan di dalam rongga perut. Cepat dan lambatnya penyembuhan setelah operasi usus buntu tergantung dari usia pasien, kondisi keadaan umum pasien, penyakit penyerta misalnya diabetes mellitus, komplikasi dan keadaan lainya yang biasanya sembuh antara 10 sampai 28 hari.

Alasan adanya kemungkinan ancaman jiwa dikarenakan peritonitis di dalam rongga perut ini menyebabkan operasi usus buntu akut/emergensi perlu dilakukan secepatnya. Kematian pasien dan komplikasi hebat jarang terjadi karena usus buntu akut. Namun hal ini bisa terjadi bila peritonitis dibiarkan dan tidak diobati secara benar.