Anda di halaman 1dari 9

Dani terbangun, duduk lantas terkejut.

Dia menyadari berada di ruangan yang agak lapang, pintu


warna putih namun tiada jendela. Di tengah ruangan terdapat ranjang, kasur dan bantalnya berwarna
putih. Di salah satu dinding ada toilet duduk, bersebelahan dengan wastafel dan tempat mandi. Di
dinding lain terdapat meja kecil.
Dani lantas melihat dirinya sendiri yang sedang memakian pakaian aneh, pakaian yang seperti dipakai
oleh pasien saat akan dioperasi, namun yang dipakai oleh Dani berwarna biru. Dani mencoba berpikir,
Dani ingat suara suara yang muncul saat sedang tertidur. Namun tak jelas apa artinya. Dani lantas
mendekati toilet, kencing sambil mengingat apa yang terakhir terjadi.
***
Dani, Tari kakaknya, serta Meli mamanya sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat wisata.
Liburan taunan ini biasanya dilakukan menuju tempat wisata baru yang belum pernah dikunjungi
keluarganya. Dani sangat menyukai acara ini, tapi tari tak menyukainya. Di perjalanan Tari tak
hentinya mengeluh. Sifat ayah yang tempramental dan keras kepala rupanya menurun pada Tari.
Belokan dan guncangan membuat Tari membuka jendela mobil, mengeluarkan kepala lalu muntah.
Jalur ini merupakan jalur baru yang belum pernah dilalui keluarga kecil ini. Karena itu, wajar apabila
keluarga ini tersesat. Dani melihat kompas yang ada di arlojinya, namun anehnya jarum kompas selalu
berputar searah jarum jam dengan cepat. Hp pun tak ada sinyal. Hingga akhirnya mobil berada di jalan
tanah pedesaan tanpa aspal.
Entah karena capek atau tak tau jalan, mobil yang dikendarai Meli menabrak sesuatu hingga tak bisa
bergerak. Meli coba injak gas namun tak jua gerak. Setelah melalui perdebatan yang cukup panas,
akhirnya diputuskan untuk berjalan ke dataran yang agak tinggi untuk mencari sinyal hp.
Dalam malam yang kelam, Dani memegang senter dan mulai melangkah diikuti kakak dan mamanya.
Setelah beberapa menit berjalan, meraba raba dalam gelap, ketiganya mulai melihat cahaya samar
samar di kejauhan. Muncul secercah harapan di hati sanubari ketiga insan sedarah itu.
Langkah mereka makin cepat. Akhirnya mereka mengetahui sumber cahaya tersebut. Sebuah
bangunan seperti bangunan peninggalan kumpeni, berwarna putih dan tinggi, berdiri terpencil tanpa
bangunan lain di bukit ini. Di pintu yang diperkirakan merupakan pintu depan, terdapat tulisan
kliniek.
Dani mencoba mendorong pintu, ternyata tidak terkunci. Dani lantas masuk diikuti mama dan dan Tari.
Di lobi, terdapat sebuat sofa merah. Tiada seorang pun terlihat. Capek setelah berjalan, ketiganya
memutuskan untuk duduk dahulu. Sofa merah itu terlihat bersih, tanpa ada debu yang menempel.
Beberapa menit berselang, dari dalam muncul seorang wanita berusia tiga puluhan membawa baki. Di
baki itu terdapat tiga cangkir minuman, selamat datang di tempat kami. Silakan barangkali haus.
Eh, iya. Maaf sudah merepotkan. Mama bersuara sambil meraih satu cangkir, diikuti oleh putra dan
putrinya.
Setelah minum, ketiganya mulai menyadari keanehan yang terjadi. Wanita tersebut hanya memakain
pakaian khusus pasien yang akan dioperasi, namun berwarna hijau. Terlihat jelas wanita tersebut tidak
memakai bh. Susunya memang tidak besar, namun putingnya terlihat jelas menantang, membuat
celana jin Dani menjadi sesak.
Sebentar lagi petugas jaga menemui anda.
Saat perempuan itu berbalik untuk pergi, mama bankit lalu memegang tangan perempuan itu, maaf,
kalau boleh tahu, ini di mana ya? Kami tersesat, mau mencari sinyal hp untuk meminta pertolongan.
Wanita tersebut berbalik lalu menatap mama. Maaf bu, saya bukan bagian informasi. Sebentar lagi
petugasnya datang, silakan ibu bertanya kepadanya. Wanita tersebut lalu melepas lengannya dari
tangan mama, lalu bergegas masuk.

Setelah wanita tersebut menghilang, ketiganya lantas meminum minumannya masing masing.
Tehnya aneh, Tari berkomentar. Dani mengangguk mengiyakan.
Sudah, minum aja yang ada. Dikasih juga udah untung.
Setelah sepeminuman teh, dari dalam muncul pria paruh baya penuh uban memakai jas putih khas
dokter. Selamat datang, saya dr. Ilham. Anda pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh.
Dani ingat, dokter itu menyajukan pelbagai pertanyaan yang intinya kenapa mereka bisa sampai di
tempat itu. Mama menjawab, bahkan meminta bantuan agar bisa menghubungi kerabat. Suara mama
terdengar aneh, tidak seperti biasanya. Tari sudah tertidur di sofa. Saat Dani akan bicara, suaranya tak
mau keluar. Hm, tidak terduga. Tak kehilangan akal, Dani lantas mencoba berkomunikasi melalui
tangannya. Namun, saat Dani mengangkat tangan, tiba tiba muncul satpam.
Hal terakhir yang Dani ingat adalah, dokter Ilham melepas pakaian mama hingga telanjang. Melihat
susu mama, Dani serasa ingin menyentuhnya. Saat mata Dani akhirnya menutup, Dani mendengar
dokter menyuruh satpam agar mobil mereka diamankan. Satpam langsung menjawab dengan berkata
'enam sembilan.'
***
Sekarang Dani kembali ke situasinya. Mencoba membuka pintu, namun terkunci. Dani memutuskan
untuk duduk. Setelah duduk, di dinding tiba tiba menggeser hingga nampak sebuah panel, jendela
kaca. Dari jendela, Dani melihat sebuah lorong dengan tiga ruangan berpanel kaca.
Selamat pagi Dani. Semoga tidurnya nyenyak. Suara dokter Ilham menggema.
Sss... ssss... rupanya Dani masih tak bisa bersua. Hanya serak serak basah.
Mohon sabar, anda belum bisa bersua dikarenakan efek samping obat yang tercampur dengan
minuman yang anda minum. Mungkin ini mengejutkan, tapi anda adalah tamu kami. Keberadaan anda
di klinik ini mungkin hanya beberapa minggu. Tapi bisa juga lebih cepat atau lebih lama, tergantung
pada pengobatan anda. Seperti anda lihat, setiap orang memiliki ruangannya tersendiri. Tapi ke depan
bisa saja berubah.
Muncul satu panel lain dari dinding, dengan tombol tombol khusus. Anda kini memiliki kontrol atas
kamar lain. Bisa anda kunci atau buka kuncinya. Bisa anda dinginkan acnya, atau bahkan bisa anda
buat panas hingga gerah. Anda juga bisa memberi makanan atau pun tidak. Namun semua itu ada
harganya. Misal, jika saudarimu ingin makanan, maka saudarimu harus memberikan sesuatu sebagai
gantinya. Namun hati hati, jika anda kedapatan memberi melebihi apa yang seharusnya, si penerima
akan menerima hukuman. Anggap saja, anda adalah pemilik mereka.
Dani mendadak ingat sebagian ucapan dokter itu dalam mimpi, 'miliki... miliki... miliki...'
***
Meli terbangung. Melihat ke sekeliling lantas ke dirinya. Meli dapati dirinya telanjang, berbaring
dengan bantal kecil sebagai sandaran. Ranjangnya melekat ke dinding. Ada empat dinding, tiga
dinding bercat putih dan satu dinding terbuat dari kaca. Di sudut, terdapat toilet duduk, wastafel serta
sebuat tempat mandi. Semua itu dari stainless steel.
Meli mencoba berdiri sambil memanggil anak anaknya. Namun lututnya sangat lemah, suaranya pun
tak mau keluar. Meli pun memutuskan untuk kembali berbaring. Di pembaringan, Meli ingat
mimpinya. Dalam mimpi itu, berulang kali terdengar perintah agar Meli menuruti semua perintah
anaknya, Dani.
Setelah perintah itu diulang ulang, dalam mimpi Meli merasa bibirnya dicium bibir Dani. Tangan
Dani meremas susunya. Mulutnya menghisap kontol anaknya.
Meli jadi ingat. Setelah suaminya kabur dengan wanita lain, beberapa kali dia menjalin hubungan. Tapi
selalu kandas. Akhirnya tiga tahun belakangan ini dia tak pernah lagi disentuh.

Mimpi itu, meski sangat tidak masuk akal, telah membangkitkan kembali gairah seks Meli. Meli
merasa memeknya gatal dan ingin disentuh. Meli mulai menyentuh memek dengan jemari,
memejamkan mata dan mulai menggerakan jemarinya...
***
Tari tersadar dari tidurnya. Mendapati keadaanya yang aneh, Tari lantas menuju dinding kaca,
menggedor gedor sambil meminta tolong. Namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Kenyataan ini membuat Tari menjadi pusing hingga menangis. Tari sungguh benci liburan ini. Tari
benci mobil bututnya, Tari benci ayah yang telah meninggalkannya, Tari membenci keluarganya. Tari
penuh dengan kebencian.
Merekalah sumber semua ini. Mereka memaksanya untuk ikut liburan ini. Sementara, Tari tak ingin
pergi. Tari ingin menghabiskan waktu bersama teman teman. Gila gilaan sambil jalan jalan.
Setelah puas menangis, Tari mendadak ingat mimpinya. Dalam mimpi, Tari seperti mendapat perintah
agar menuruti Dani. Perintah itu dikatakan berulang kali. Setelah itu, Tari berbaring telanjang di lantai.
Merasa jijik dengan perintah itu.
***
Meli mendengar suara klik. Pintu lantas terbuka dan masuklah Dani. Menyadari ketelanjangannya
Meli mencoba menutupi tubuh dengan selimut kecil. Dani mendekati dan menyodorkan sebotol
minuman. Meli meraih lalu meminumnya. Dani lalu memegang kedua pipi mama dan mencium bibir
mama.
Beberapa hari ke belakang, Meli akan langsung menampar pipi anaknya atas kelakuannya itu. Namun
Meli hanya diam saat lidah anaknya mencoba masuk ke mulutnya. Tangan anaknya menyelinap
selimut dan mengelus susunya, namun Meli tak melawan.
Dani lantas berdiri tegak menghadap mama. Aku senang kamu baik baik saja. Biar gak pusing, kita
sedang jadi objek eksperimen. Sekarang, aku yang mengambil alih semuanya. Kamu sama Tari mesti
nurut. Baik di sini maupun nanti setelah keluar dari sini. Kamu mau kemana, apa yang kamu pakai,
apa yang kamu lihat aku yang tentukan. Semakin cepat kamu menyadari posisi barumu, semakin cepat
kita keluar dari tempat ini.
Meli menatap anaknya, tertegun. Kamu mau apa nak? Kenapa kamu gak sebut 'mama', malah
'kamu'?
Dani tersenyum, mulai sekarang kamu milikku. Terserah aku untuk menyebutmu apa aja. Mau mama,
mau kamu, mau istriku, mau lonteku. Kamu mesti melakukan apa yang aku suruh. Kalau tidak, kamu
takkan mendapat makanan dan atau minuman. Bahkan takkan mendapat kenyamanan. Faham?
Dani lantas menarik selimut dari tubuh mama hingga telanjang. Sekarang berlutut, isep kontolku,
sementara tanganmu ngocok memekmu!
Meli lantas berlutut dan meraih kontol anaknya. Kontol anaknya lantas diisepnya sementara anaknya
melihatnya. Anehnya Meli merasa nyaman melakukan ini, bahkan suara anaknya terdengar
menenangkan. Tangan kananya memegang kontol, sementara tangan kirinya bermain di memeknya
sendiri.
Dani memperhatikan mama yang sedang mengisap kontolnya, Kamu belum terlalu tua. Mulai
sekarang, kamu mesti hamil.
Tanpa melepas kontol dari mulutnya, Meli mengganggukkan kepalanya.
Kamu kayaknya mau keluar. Ayo lonteku, jangan di tahan. Biar kudengar suaramu.

Tangan Meli semakin liar di memeknya, dan kata kata anaknya membuatnya keluar hingga menjerit
nikmat. Meli merasa orgasmenya kali ini sungguh sangat nikmat, melebihi apa yang bisa diberikan
mantan suaminya. Meli lantas melepas kontol dari mulutnya, lalu mencoba menghirup nafas sambil
terengah engah.
Kamu bener bener lonte, Mel. Aku bakalan senang buntingin kamu.
Mama hanyalah lontemu, desah Meli sambil berlutut gaya anjing.
Dani lantas berlutut di belakang mama. Kontolnya didorong hingga masuk ke memek mama. Tangan
Dani meraih susu mama meremas susu dan memelintir putingnya. Meli tiba tiba ingat, tanpa
hubungan dengan siapa pun, dia tak memakai kb. Saat anaknya menyemburkan benih di rahimnya,
Meli tau sebentar lagi dia bisa hamil. Keduanya lalu tergulai lemas di lantai.
Meli sudah lemah saat mulut anaknya menyusu, sementara kontolnya menusuk memeknya berkali
kali. Anaknya bahkan mencoba menggigit putingnya membuat Meli kembali keluar.
Ahh... terus... terus... hamilin mama... ahhh... Meli menegang saat keluar, namun sodokan anaknya
yang tanpa henti kembali memuatnya keluar. Setelah anaknya menyemburkan lagi peju di memeknya,
anaknya tergulai di atas tubuhnya. Peluh mereka bercampur. Kontol anaknya akhirnya mengecil. Meli
tak ingin kontol anaknya lepas dari cengkraman memeknya, namun akhirnya lepas juga. Dialah
anaknya, pemiliknya, ayah dari calon anak anaknya. Meli merasa bahagia.
***
Tari berbaring di lantai. Kelelahan setelah mencoba berteriak hingga ambruk. Tari sangat haus, begitu
hausnya hingga meraih mangkuk stainless lalu minum. Meski mangkuk itu bersih, tetap saja Tari
merasa jijik. Samar samar Tari mendengar desahan dan suara suara. Setelah beberapa saat, tari
mengenal suara itu, suara mama dan adiknya. Kemudian, Tari mendengar suara seperti orang yang
sedang ngentot. Juga mendengar mama keluar beberapa kali.
Tapi siapa yang sedang ngentot sama mama? Suara klik terdengar, pintu terbuka lalu muncul adiknya
telanjang. Beraroma seksual.
Apa apaan ini? Mana mama? Kenapa lu telanjang?
Dani mendekat lalu berdiri di sebelahnya. Kontolnya keras dan basah. Juga beraroma campuran peju
dan cairan memek.
Perlahan Dani menjelaskan kenapa mereka sampai terjebak di tempat ini. Bagaimana ia harus
mengambil kontrol agar bisa keluar. Juga bagaimana seharusnya agar mereka bisa cepat pulang.
Dan sekarang, lanjut Dani, karena gw abis ngentot Meli, lu mesti isep kontol gw. Gak ngisep gak
makan.
Mati aja lu! kata Tari sambil berbalik hingga membelakangi adiknya.
Terserah. Dani meraih rambut kakanya, lalu mengusapkan ke kontolnya hingga rambut kakanya
penuh aroma peju. Gw bakal bikin kamar ini dingin tanpa makanan dan air. Biar bau kotoran lu.
***
Detik detik berganti dengan menit dan menit pun silih berganti. Hari hari pun terus berganti, Dani
terus ngentot Meli. Juga melatihnya dengan bimbingan dokter.
Tari terus menolak, meski keaadannya tambah parah.
Suatu pagi di kamarnya, Dani merasa lapar. Dani memijit tombol makanan. Makanan pun datang,
biasanya satpam yang mengantarkan. Namun kali ini, pengantar makanan adalah wanita pembawa baki
dahulu. Setelah wanita itu menyimpan makanan, Dani segera berdiri menghalangi pintu keluar.
Tunggu sebentar. Saya ingin kenal kamu.

Wanita itu lantai melihat lantai, menghindari kontak mata. Dokter mengizinkan saya bicara anda
ditanya oleh anda.
Siapa namamu?
Saya tak punya nama, hanya nomer. 19902.
Bagaimana kamu bisa sampai di sini?
Dulu ada seorang anak nakal berusia empat belas tahun. Orang tuanya tak sanggup lagi membimbing
anak nakal tersebut hingga tak lagi memiliki ide bagaimana cara untuk menyelamatkannya. Daripada
anak nakal tersebut berakhir di prodeo, maka orang tua tersebut memasukan anak nakal itu ke klinik
ini. Anak nakal itu dicabut nama, asal usul dan pakaiannya. Anak nakal itu dilatih sedemikian rupa
hingga berubah menjadi penurut. Setelah berubah, anak nakal itu diberi nomor identitas, yaitu 19902.
sebagai gadis penurut, 19902 akan tetap disini hingga ada orang lain yang mau membawanya dan juga
menamainya. Serta melihat 19902 apa adanya.
Setelah berkata, 19902 kemudian meraba rambut dan menariknya hingga lepas. Rupanya 19902
memakai wig. Kepalanya plontos tanpa sehelai rambut. Setelah itu, 19902 melepas pakaian hingga
akhirnya telanjang, berdiri di hadapan Dani.
Muter. Dani merasa percaya diri (di sisi lain, Dani juga merasa, Dani yang dulu takkan memiliki
kepercayaan diri seperti ini. Apalagi memerintah orang lain.)
Sambil tetap menatap lantai, 19902 berputar pelan. Satu satunya rambut di tubuh 19902 hanyalah
alis dan bulu matanya. Susunya kecil, pantatnya merah seolah baru saja dipukul. Putingnya yang
mancung membuat Dani tak tahan. Dani menginginkan wanita ini.
Lihat aku! mata wanita itu akhira beradu dengan mata Dani. Aku ingin menyentuhmu. Apa dokter
mengizinkan kamu disentuh olehku?
Gadis itu tiba tiba tersenyum sambil berlutut. Dokter telah mengizinkan saya memberikan
kenikmatan apapun kepada tuan. Saya telah dilatih. Tuan boleh memainkan mulut saya, memek saya,
anus saya. Dengan seizin tuan, saya mainan tuan.
Dani lantas meraih lengan gadis itu hingga berdiri. Dani lantas mencium gadis itu. Keduanya lantas
ciuman sambil berpelukan. Dani lantas membaringkan gadis itu di ranjang. Gadis itu lalu membuka
pahanya lebar lebar.
Dani lalu merendahkan kepala hingga berhadapan dengan memek gadis itu. Dani mulai menciumi
memeknya. Lalu mulai menjilati membuat gadis itu mendesah. Jilatan Dani pada itil gadis itu
membuat desahannya makin tak terkontrol. Tangan Dani kini meremas pantat gadis selagi lidahnya
bermain di itilnya hingga akhirnya gadis itu pun keluar. Tubuhnya kejang. Namun setelah itu sang
gadis menangis.
Tolong tuan, budak tak berharga ini tak layak, katanya di sela isak tangisnya. Kenapa tuan begitu
baik?
Dani mencium perutnya, susunya hingga mulutnya. Kontolnya menggesek gesek memek gadis itu.
Dengan satu tusukan, kontol itu amblas dan gadis itu mengerang nikmat. Sambil memompa, Dani
merendahkan kepala hingga nyusu pada gadis itu.
Kamu memberikan tubuhmu, tapi aku ingin hatimu. Aku jatuh cinta sejak pandangan pertama. Aku
ingin kamu mencintaiku. Suara Dani jelas terdengar di sela susuannya. Dani merasa sebentar lagi
akan keluar, bilang kalau kamu juga mencintaiku!
Nafas gadis itu mulai tersengal saat orgasmenya mendekat, tapi tuan, tubuh ini milik ... Uh... Oh...
Hamba tak bisa... ohh Tubuh gadis itu kejang, dia melihat... hamba akan dihukum... oh...oh... iya...
aku mencintaimu....
Mendengar ucapan gadis itu membuat Dani ikut keluar. Keduanya pun lemas penuh peluh. Setelah
beberapa menit dalam diam, tangan gadis itu meraih kontol Dani lalu mengocok hingga kembali keras.
Setelah itu, Gadis itu kembali nungging, lalu melirik ke Dani, tolong gaya anjing tuan, saya mohon

tuan sudi masuk ke anus saya.


Tanpa membuang waktu, Dani langsung mencoba menjebol anus gadis itu. Secara perlahan kontol itu
masuk memberi kenikmatan lain pada kedua insan itu. Tangan Dani mulai mengelus memek sementara
kontolnya menusuk anus.
Terus tuan. Lonte kotor ini akan bersihin kontol tuan setelah keluar. Lonte kotor ini tak pantas tuan
cintai, hanya untuk tuan pakai. Terus tuan.
Dani tak lagi bisa menahan orgasmenya. Dengan tangan memegang pinggul gadis itu, Dani
menyemprotkan peju dalam anus hingga berhenti. Setelah beberapa saat, kontol Dani kembali
mengecil dan otomatis keluar. Kontolnya penuh pejunya sendiri dicampur kotoran kuning berceceran.
Gadis itu lalu berbalik dan mulai menjilati kontol Dani, sesekali menghisapnya hingga bersih. Setelah
itu, testis Dani juga tak luput dari sapuan mulutnya. Lonte kotor atau bukan, aku tak peduli. Yang
penting aku mencintaimu. Aku ingin kamu. Katakanlah, katakan sejujurnya, apa mungkin kamu
mencintaiku?
Gadis itu melepas kontol dari mulutnya, duduk lalu mulai menutup wajah dengan tangannya. Gadis itu
mulai menangis tersedu sedu. Hamba tak peduli jika setelah ini bakal dihukum lagi. Yang sekarang
hamba pedulikan adalah hamba juga mencintai tuan, katanya disela isakannya.
Sebelum Dani membuka mulut, terbuka pintu dan muncullah wanita lebih tua berpakaian seperti suster
datang dan menarik gadis itu.
***
Pintu terbuka. Meli langsung berbaring di ranjang dan melebarkan pahanya. Meli sangat senang sejak
semalam, saat diberi alat tes kehamilan dan hasilnya meli mengandung benih anaknya. Kini Meli
menanti dijamah anaknya. Namun yang datang adalah satpam. Meli terkejut, lantas mencoba menutupi
tubuhnya. Satpam itu berdiri di dekat Meli lalu melemparkan pakaian serta sisir. Cepat pakai! Atau
saya tampar kamu!
***
Tari berbaring lemah. Telanjang dalam ranjang. Sakit. Entah sudah berapa lama dia disekap.
Kenyataannya, sudah dua minggu berlalu namun dirinya tak juga takluk pada adiknya. Tari telah tidur
dalam dingin, dalam panas, kelaparan, tapi setiap kali Dani datang, Tari tak mau mengikuti
perintahnya.
Tubuhnya sangat kurus hingga tak lagi memiliki kekuatan untuk bergerak dari ranjangnya. Dia sudah
kencing dan buang air di tempat. Terpaksa staf klinik membersihkan tempat itu tiap malam, dan
memberi vitamin via injeksi sekedar untuk bertahan hidup. Berbahagialah dia yang tidak pernah
dilahirkan. Setengah bahagia dia yang mati muda. Sedang sial bagi yang yang mati tua.
Pintu terbuka. Tari tak lagi melihatnya. Seorang perawat datang lantas menatapnya, kasihan kamu
nak. Kenapa gak kamu serahkan saja tubuhmu?
Dengan mata masih terpejam, Tari merasa diangkat ke ruang lain dan ditempatkan di kasur lain. Tari
mendengar suara orang yang sedang melepas pakaian. Jangan... lirih Tari lemah. Sebuah tangan
lantas memegang tubuhnya dan menyuruhnya untuk tenang. Tari takan diperkosa, kata suara itu. Suara
perempuan. Tari lantas mencoba santai biar otot tidak tegang. Tari merasa sepasang bibir hangat
menyentuh bibirnya. Naluri Tari langsung bereaksi membuat Tari mencoba mengetahui siapa yang
sedang membelainya. Mah....? tanya Tari.
Sayang, andai aku mamamu. wanita itu lantas membawa Tari ke tempat mandi lalu mendudukannya
di lantai. Tari membuka mata menatap wanita cantik yang sedang beridiri. Jembutnya dicukur hingga
berbentuk hati.

Wanita itu membuka keran hingga Tari langsung diguyur air dari shower. Tari disabuni. Juga
memeknya tak luput. Ternyata belaian wanita itu pada memek Tari berlangsung terus hingga Tari mulai
menikmatinya. Refleks Tari mulai melebarkan kaki. Tari kini mengerang saat jemari wanita itu mulai
mengelus itilnya. Tenang nak, biar mama barumu mengurusmu!
Tari merasa orgasmenya mulai mendekat. Tari lantas menggerakan kepala hingga menyusu ke susu
perawat itu. Saat Tari akhirnya keluar, kepalanya kembali ditarik. Wanita itu langsung menciumnya
sementara Tari masih menikmati orgasmenya. Tari menikmati permainan wanita itu hingga akhirnya
lidah keduanya bertautan.
Mata Tari kembali ditutup saat dia merasa diangkat kembali dan ditidurkan di kasur. Lengannya
kembali diinjeksi sesuatu. Tari mendengar sebuah suara. Lantas merasa rambutnya dicukur.
Rambutmu terlalu kusut, jadinya susah diluruskan. Jangan khawatir.
Ya. hanya itulah jawaban Tari. Tari mulai merasa itilnya kembali dijilati. Tari sedikit melenguh saat
jemari kecil wanita itu mencoba menerobos anusnya. Tanpa kesadaran penuh, Tari hanya mampu
mengerang merasakan kenikmatan dari mulut wanita itu.
***
Dani bangun saat pintu terbuka. Muncul satpam lalu menyerahkan pakaian. Waktunya konsultasi
dengan dokter. Setelah kencing dan berpakaian, Dani mengikuti satpam ke ruang dokter. Ruangan itu
memiliki jendela besar. Dari jendela, Dani bisa melihat pantai.
Di ruangan, Gadis terikat lengannya ke langit langit, hingga gatis itu mesti berjinjit agar tetap berdiri.
Mulutnya ditutupi bola merah. Kakinya melebar, pergelangan kakinya diikat hingga memeknya
terlihat. Pentilnya dipasangi jepitan. Jepitan itu dipasangi tali yang tersambung ke sebuah bandul.
Hati Dani tercekat melihatnya, namun Dani mencoba tidak bereaksi.
Dokter yang sedari tadi duduk lantas mendekati Dani dan menjabat tangannya. Selamat datang. Dari
penelitian yang kami lakukan, Anda dan Meli sepertinya maju dalam prosesnya. Saya yakin Anda akan
terampil menjadi pemilik nanti di rumah. Namun, ada beberapa hal yang mesti kita bincangkan
sebelum Anda diputuskan untuk keluar. Pertama soal kakak anda. Tekadnya kuat hingga Anda belum
bisa merubahnya. Sepertinya Dia memilih kelaparan daripada menurut. Bisa jadi ujian terhadap
dominasi anda.
Dokter lalu memijit sesuatu di meja, lantas bicara Suster H, tolong bawa pasien anda masuk.
Kedua, dokter lantas menunjuk gadis terikat, anda sepertinya tertarik dengan ini. Sayangnya Anda
tak bisa memilikinya. Dia milik kami.
Gadis itu mengisak pelan, airmatanya jatuh. Dokter lantas memutar gadis itu hingga membelakangi
Dani. Terlihat pantatnya merah tanda luka cambukan. Seperti yang anda lihat. Ini hanyalah seonggok
daging. Saya memang keras, tapi dia sangat menyukainya. Coba raba memeknya, pasti sudah basah.
Dani menuruti dokter, memeknya memang basah. Bahkan gadis itu melenguh. Sejak tiba disini,
tubuhnya sudah dipakai banyak pria, bahkan wanita. Dia terlatih memberi kenikmatan. Anda kira dia
mencintai anda, tapi itulah sandiwara. dokter lantas membuka bola mulut gadis itu. 19902, katakan
apa yang sebenarnya terjadi.
Air mata gadis itu bercucuran hingga membasahi susunya. Tuan, saya hanya untuk kesenangan. Saya
bilang saya mencintainya karena bisa membuatnya senang. Hati Dani serasa hancur mendengarnya.
Dokter melihat perubahan di wajah Dani. Dokter kembali menutup mulut gadis itu. Dokter lantas
mengambil pecut dari laci meja dan menyerahkan ke tangan Dani.
Silakan anda hukum dia karena telah membohongi anda. Dani lantas memecut paha gadis itu. Gadis
itu menjerit menangis. Dasar lonte. Kamu bilang mencintaiku. Dasar pembohong.

Dani terus memecut hingga air mata gadis itu membasahi lantai. Setelah puas, Dani melepas pecut.
Pintu terbuka. Meli masuk dan melihat gadis itu. Saat melihat anaknya, Meli langsung menunduk
mendaki anaknya dan berlutut di depannya. Dokter tersenyum, Selamat Dani, Anda telah melatihnya.
Juga memberinya hadiah di perutnya. Anda telah siap menjadi tuan di rumah sendiri. Dokter kembali
duduk di belakang meja lalu memberi isyarat agar Dani duduk di sofa. Dani duduk, lantas menyuruh
mama duduk di sebelahnya. Dani membaringkan kepala mama di pangkuannya, menarik baju ke atas
hingga susu mama terlihat. Setelah itu Dani memainkan susu mama. Mama tersipu malu tapi tak
menghentikannya.
Pintu kembali dibuka. Muncul perawat mendorong kursi roda. Di kursi roda itu duduk Tari yang
lemah. Kepalanya botak. Memakai pakaian pasien. Saya memandikannya, namun rambutnya begitu
kusut hingga tak bisa diluruskan kecuali dibotaki terlebih dahulu, perawat pendorong menjelaskan.
Dia sedikit gelisah sehingga saya injeksi sedikit penenang. Sepertinya kehadiran saya juga
menenangkannya, kalau boleh, saya ingin di sini agar pasien tidak gelisah.
Ya, kita bisa melihat itu. Dokter kembali menatap Dani. Tari termasuk orang yang gigih.
Kebanyakan wanita akan mudah luluh pada anda, seperti yang sedang dipangkuan anda, tapi dia tidak.
Saya yakin bisa melatihnya, namun saya tidak bisa meyakinkan anda durasi pelatihannya. Saya ragu
anda bisa melatihnya di rumah, apabila anda salah langkah, bisa jadi kacau, bahkan sebelum negara api
menyerang. Bagaimana pendapat anda?
Dokter cukup bicara. Dani menatap pantai. Selama beberapa menit, ruangan itu diselimuti keheningan
yang mencekam. Dani akhirnya berdiri meninggalkan mama yang terbaring di sofa. Dani mendekati
gadis terikat lantas membuka penutup mulutnya. Gadis ini sungguh terlatih. Tapi saya yakin dia
mencintai saya. Coba jawab sekali lagi dan jangan memutar balikkan fakta!
Gadis itu menatap dokter dengan wajah ketakutan. Dokter tersenyum membalas tatapan gadis itu
lantas bicara, 19902, katakanlah... katakan sejujurnya... tak akan ada hukuman kali ini.
Gadis itu masih mengeluarkan air mata, lalu menelan ludahnya. Benar, hamba sangat mencintai tuan.
Hamba ingin memiliki benih tuan.
Dani membelai pipi gadis itu, membungkuk lalu mencium bibirnya. Maafkan keraguanku...
bisiknya. Dani lantas kembali berdiri dan menatap dokter. Di awal, gadis ini bilang saat datang,
identitasnya diambil lantas dilatih. Kenapa kita tak melakukan hal yang sama pada Tari? Biar
keluargaku sempurna dan anda mendapat bahan latih baru.
Dokter bertepuk tangan, Dani, ide buatanmu, numero uno! Sesuatu untuk sesuatu. Anda datang
beserta Tari, pulang pun beserta Tari.
Dani lantas berbalik melihat mama. Mama terlihat linglung menatap anak pertamanya lemas di kursi
roda. Mata mama mulai basah menyadari kemungkinan perpisahan dengan anak pertamanya. Perawat
pendorong lantas bicara, jangan khawatir, akan saya urus baik baik. Perawat itu lantas mengambil
suntikan dan menginjeksi mama. Setelah itu perawat melihat Dani, tenang, ini hanyalah penenang
dosis rendah.
Perawat, bawa 24602 ke ruang persiapan. Siapkan identitas baru untuk 19902 lalu lepaskan dia.
Perawat menarik kursi roda keluar ruangan, sementara satpam muncul untuk melepas tali yang
menjerat 19902. Setelah itu dibaringkan di sofa, bersebelahan dengan mama.
Dani lantas mendekati sofa dan berbicara, Meli, ini putrimu Tari. Kamu mencitainya dan dia
mencintaimu. Mama mengangguk seolah mencerna kalimat ini.
Dia putri saya, Tari Mama mulai bergumam. Aku mencintainya, dia mencintaiku.
Sekarang kamu boleh peluk dan cium dia.
Mama memeluk gadis itu. Gadis itu mencium mama. Gadis itu menangis bahagia, diikuti mama.
Mama, aku punya mama lagi. kata gadis itu.

Dokter mengambil dokumen dari laci dan menaruhnya di meja. Saya tahu anda semangat terhadap
keadaan keluarga anda. Tapi kita harus bicara kenyataan. Anda masih sma. Sedang mama dan kakak
anda tentu takkan bisa mencari nafkah. Sebentar lagi anda menjadi ayah. Jadi apa rencana anda?
Dani diam sebentar, lalu mengangkat bahu. Sepertinya saya harus berhenti sekolah lalu mulai
bekerja.
Kenyataannya, pekerja lulusan smp sangat bergaji murah. Sepertinya takkan cukup membiayai dua
wanita hamil. Namun, di setiap kesulitan terdapat kemudahan. Selama anda di sini, saya sudah
memeriksa latar belakang anda. Ayah anda yang pergi tanpa pamit memiliki rekening bank yang cukup
lumayan hasil dari penggelapan pajak. Total dananya kira kira di atas delapan ratus miliar yang
disimpan di negeri singa. Sudah saya urus dokumennya hingga rekening itu bisa jatuh ke tangan anda,
namun ada beanya sepuluh persen, kalau anda setuju.
Dokter menyerahkan dokumen yang lantas diraih Dani. Dani mempelajari dokumen tersebut sambil
berpikir. Deal or no deal? kata dokter.
Deal.
Selamat atas keputusan anda. Kami akan memeriksa perkembangan keluarga anda secara berkala,
namun dapat kami pastikan anda takkan menyadarinya. dokter lantas melihat Meli, yang sedang
menutup mata sementara susunya disusu oleh putri barunya. Baiklah, biar satpam mengantar anda
dengan selamat sampai ke rumah anda.
***
Catatan percobaan, enam belas bulan pasca pembebasan, pria #24601 menjalankan peran sebagai
kepala keluarga.
Wanita #24603 sudah melahirkan, bahkan kembali hamil dengan usia kehamilan enam bulan.
Wanita #19902 sudah melahirkan, kini mengandung dengan usia kehamilan empat bulan.
Wanita #24602 hanya merespon terhadap perawat. Tidak berguna. Diberikan ke perawat sebagai
mainannya.