Anda di halaman 1dari 12

ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI

(dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan dan Gizi


AUD)

MAKALAH

DOSEN PEMBIMBING
Ns. Septi Wardani, M.Kep
DISUSUN OLEH :
LYSA AFRIYATI 14.0304.0020
RIKA SETIANI 14.0304.0027

PG PAUD
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG

2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr Wb
Segala puji dan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang
senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua
hingga terselesainya tugas makalah ini. Segala kerinduan dan
penghambaan marilah hanya kita tujukan kepada Allah SWT yang
mencerdaskan hamba yang memohon kepadaNya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi siapapun yang
membacanya. Buku ini disusun melalui berbagai sumber dan sejumlah
referensi yang relevan. Makalah yang berisi tentang anemia defisiensi
zat besi ini insyaallah bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Apabila ada kekurangan
pada makalah ini, ataupun ada kata kata yang kurang pantas untuk
dibaca saya mohon maaf. Saran dan masukan yang positif tentu saja
sangat diharapkan demi penyempurnaan di masa mendatang.
Terimakasih.
Wassalamualaikum Wr Wb

Magelang, 11 Maret 2015

DAFTAR ISI

Kata
Pengantar ......................................................................
........

Daftar
Isi ..................................................................................
...... ii
BAB

Pendahuluan

...................................................................... 1
A. Latar

Belakang

.........................................................
B. Rumusan

.........................................................

BAB

Masalah

Pembahasan

..................................................................... 2
A. Pengertian Anemia Defisiensi Zat Besi .....................
2
B. Penyebab Balita terkena Anemia Defisiensi Zat Besi ..
3
C. Gejala Balita yang terkena Anemia Defisiensi Zat Besi
4
D. Cara Pengobatan Anemia Defisiensi Zat Besi ..............
4
BAB

Kesimpulan

...................................................................... 6

DAFTAR

PUSTAKA

.......................................................... 7

ii

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kata Anemia sudah tidak asing lagi bagi para tokoh
dunia, ilmuwan, tokoh pendidikan, pendidik, maupun peserta
didik. Banyak definisi definisi yang dipaparkan oleh para
tokoh dunia, maupun tokoh nasional, juga pemaparan dari
gejala dan cara mengatasi Anemia Defisiensi Zat Besi pada
anak.
Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan masalah
defisiensi nutrien tersering pada anak di seluruh dunia
terutama di negara sedang berkembang termasuk Indonesia.
Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh

penderita. Dalam makalah ini nantinya akan dijelaskan


penyebab, akibat, dan juga cara mengatasi balita yang
terkena Anemia Defisiensi Zat Besi.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud Anemia Defisiensi Zat Besi?
2. Apa penyebab balita terserang Anemia Defisiensi Zat
Besi?
3. Bagaimana Gejala balita yang terkena Anemia Defisiensi
Zat Besi?
4. Bagaimana cara pengoabatan balita yang terserang
Anemia Defisiensi Zat Besi?

BAB 2
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI
Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar sel darah
merah atau hemoglobin (Hb) di bawah normal. Sedangkan
Anemia Defisiensi Besi merupakan anemia yg disebabkan
kurangnya zat besi untuk sintesis hemoglobin. Berdasarkan
hasil

penelitian

oleh

beberapa

lembaga

kesehatan

di

Indonesia, prevelensi anemia pada wanita hamil 50-70% dan


balita 30-40%.
Pada balita, Anemia Defisiensi Besi akan menghambat
pertumbuhan

dan

perkembangan

kecerdasan

mempengaruhi fungsi tubuh secara normal. Balita

serta
akan

mudah terserang penyakit karena penurunan daya tahan


tubuh. Berikut ini batasan normal kadar hemoglobin.
Secara epidemiologi, prevalens tertinggi ditemukan pada
akhir masa bayi dan awal masa kanak-kanak diantaranya
karena

terdapat

percepatan
rendahnya

defisiensi

tumbuh
asupan

masa
besi

besi

saat

kehamilan

kanak-kanak
dari

makanan,

yang
atau

dan

disertai
karena

penggunaan susu formula dengan kadar besi kurang. Selain


itu ADB juga banyak ditemukan pada masa remaja akibat
percepatan tumbuh, asupan besi yang tidak adekuat dan
diperberat oleh kehilangan darah akibat menstruasi pada
remaja puteri. Data SKRT tahun 2007 menunjukkan prevalens
ADB . Angka kejadian anemia defisiensi besi (ADB) pada anak
balita di Indonesia sekitar 40-45%. Survai Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalens ADB pada
bayi 0-6 bulan, bayi 6-12 bulan, dan anak balita berturutturut sebesar 61,3%, 64,8% dan 48,1%.
Fungsi zat besi yang paling penting

adalah

dalam

perkembangan system saraf yaitu diperlukan dalam proses


mielinisasi,

neurotransmitter,

dendritogenesis

dan

metabolism e saraf.
2
Kekurangan zat besi sangat mempengaruhi fungsi kognitif,
tingkah laku dan pertumbuhan seorang bayi. Besi juga
merupakan sumber energy bagi otot sehingga mempengaruhi
ketahanan fisik dan kemampuan bekerja terutama pada
remaja. Bila kekuranganm zat besi terjadi pada masa
kehamilan maka akan meningkatkan risiko perinatal serta
mortalitas bayi.
B. PENYEBAB BALITA TERSERANG ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI

1. Bayi kurang dari 1 tahun


a. Cadangan besi kurang, karena bayi berat lahir
rendah, prematuritas, lahir kembar, ASI ekslusif
tanpa suplementasi besi, susu formula rendah besi,
pertumbuhan cepat dan anemia selama kehamilan.
b. Alergi protein susu sapi
2. Anak umur 1-2 tahun
a. Asupan besi kurang akibat tidak mendapat makanan
tambahan atau minum susu murni berlebih.
b. Obesitas
c. Kebutuhan meningkat karena infeksi berulang /
kronis.
d. Malabsorbsi.
3. Anak umur 2-5 tahun
a. Asupan besi kurang karena jenis makanan kurang
mengandung Fe jenis heme atau minum susu
berlebihan.
b. Obesitas
c. Kebutuhan meningkat karena infeksi berulang / kronis
baik bakteri, virus ataupun parasit).
d. Kehilangan berlebihan akibat perdarahan
(divertikulum Meckel / poliposis dsb).
4. Anak umur 5 tahun-remaja
a. Kehilangan berlebihan akibat perdarahan(a.l infestasi
cacing tambang) dan
b. Menstruasi berlebihan pada remaja puteri.

C. GEJALA BALITA YANG TERKENA ANEMISA DEFISIENSI ZAT BESI


Balita yang menderita anemia defisiensi besi akan terlihat
pucat, lesu, dan tidak bergairah. Jika tidak segera diatasi,
balita tersebut akan mengalami ganguan tumbuh kembang
seperti gangguan nafsu makan, kuku seperti sendok, dan
ganguan belajar. Tranfusi darah tidak rutin diberikan pada
balita dengan anemia defisiensi besi, kecuali dia mengalami
keadaan yang berat atau kadar Hbnya sangat rendah.

D. CARA PENGOBATAN BALITA YANG TERKENA ANEMIA


DEFISIENSI ZAT BESI
Pengobatan anemia defisiensi besi, yang utama adalah
pemberian obat yang mengandung zat besi dan makanan
yang banyak mengandung zat besi. Seperti, daging berwarna
merah dan hati ayam. Periksa kembali darah balita. Jika
ternyata Hb-nya sangat rendah, mungkin memang perlu
tranfusi darah.
Penanganan anak dengan anemia defisiensi besi yaitu
1. Mengatasi faktor penyebab.
2. Pemberian preparat besi
a. Oral
1. Dapat diberikan secara oral berupa besi
elemental dengan dosis 3 mg/kgBB sebelum
makan atau 5 mg/kgBB setelah makan dibagi
dalam 2 dosis.
2. Diberikan sampai 2-3 bulan sejak Hb kembali
normal
3. Pemberian vitamin C 2X50 mg/hari untuk
meningkatkan absorbsi besi.
4. Pemberian asam folat 2X 5-10 mg/hari untuk
meningkatkan aktifitas eritropoiesis
5. Hindari makanan yang menghambat absorpsi
besi (teh, susu murni, kuning telur, serat) dan
obat seperti antasida dan kloramfenikol.
4
6. Banyak minum untuk mencegah terjadinya
konstipasi (efek samping pemberian preparat
besi)
b. Parenteral
Indikasi:
1. Adanya malabsorbsi

2. Membutuhkan kenaikan kadar besi yang cepat


(pada pasien yang menjalani dialisis yang
memerlukan eritropoetin)
3. Intoleransi terhadap pemberian preparat besi
oral
Pencegahan dalam hal Pendidikan
1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat :
a. Tentang gizi dan jenis makanan
mengandung

kadar

besi

yang

yang

tinggi

dan

absorpsi yang lebih baik misalnya ikan, hati


dan daging.
b. Kandungan besi
dibandingkan

dalam

dengan

ASI

lebih

rendah

susu

sapi

tetapi

lebih

tinggi

penyerapan/bioavailabilitasnya

(50%). Oleh karena itu pemberian ASI ekslusif


perlu

digalakkan

dengan

pemberian

suplementasi besi dan makanan tambahan


sesuai usia.
c. Penyuluhan mengenai kebersihan lingkungan
untuk

mengurangi

kemungkinan

terjadinya

infeksi bakteri / infestasi parasit sebagai salah


satu penyebab defisiensi besi.

5
BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Anemia Defisiensi Besi merupakan anemia yg disebabkan


kurangnya zat besi untuk sintesis hemoglobin. Pada balita,
Anemia Defisiensi Zat Besi akan menghambat pertumbuhan dan
perkembangan kecerdasan serta mempengaruhi fungsi tubuh
secara normal. Anemia Defisiensi Zat Besi yang dialami oleh
balita biasanya disebabkan balitakurang mendapat sumber besi
pada makanannya. Pengobatan Anemia Defisiensi Zat Besi yang
utama adalah pemberian obat yang mengandung Zat Besi.
Seperto daging berwarna merah dan hati ayam.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT.


Gramedia Pustaka Utama.
Anonym. 2015. Anemia Defisiensi Besi. www.alodokter.com.
(diakses 12 maret 2015).
Anonym.

Anemia

Defisiensi

Besi.

Last3artree.files.wordpress.com. (diakses 12 maret 2015).


Anonym. Balita Anemia Defisiensi Besi. www.ayahbunda.com.
(diakses 12 maret 2015).