Anda di halaman 1dari 34

A.

Definisi
Tifoid dan paratifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus.
Paratifoid biasanya lebih ringan dan menunjukan gambaran klinis yang
sama, atau menyebabkan enteritis akut. Sinonim dengan tifoid adalah typoid
and paratyphoid fever, enteric fever, typhus and paratypus abdominalis.
(Soeparman, 1999, Edisi II, Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI)
Tifoid merupakan penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus yang
disebabkan oleh salmonella thypii, penyakit ini dapat ditularkan melalui
makan, mulut atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman salmonella
thypii. (Hidayat Alimul Azis.A, 2006, Edisi I, Pengantar Ilmu Keperawatan
Anak, Jakarta, Salemba Medika)
Demam tifoid, enteric fever ialah penyakit infeksi akut yang biasanya
mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu
minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran (Ngastiyah,
2005, Edisi II, Perawatan Anak Sakit, Jakarta, EGC)

B. Anatomi Dan Fisiologi

Saluran gastrointestinal adalah jalur (panjang total 23-26 kaki) yang


berjalan dari mulut melalui esophagus, lambung, dan usus sampai anus.

Esofagus terletak di mediastinum rongga torakal, anterior terhadap


tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. Panjang
esophagus kira-kira 25 cm menjadi distensi bila makanan mlewatinya.
Lambung ditempatkan dibagian atas abdomen sebelah kiri dari garis
tengah tubuh, tepat dibawah diafragma kiri. Lambung adalah suatu kantung
yang dapat berdistensi dengankapasitas kira-kira 1500 ml. Lambung dapat di
bagi ke dalam empat bagian : kardia (jalan masuk), fundus, korpus, dan
pylorus.
Usus

halus

adalah

segmen

paling

panjang

dari

saluran

gastrointestinal yang jumlah panjangnya kira-kira dua per tiga dari panjang
total saluran. Bagian ini membalik dan melipat diri yang memungkinkan kirakira 7000 cm area permukaan untuk sekresi dan absorpsi. Usus halus dibagi
kedalam 3 bagian:
1. Duodenum (bagian atas)
2. Jejunum (bagian tengah)
3. Ileum (bagian bawah)
Pertemuan antara usus halus dan besar terletak dibagian bawah
kanan duodenum. Ini disebut sekum. Pada pertemuan ini yaitu katup
ileosekal, yang berfungsi untuk mengontrol pasase isi usus kedalam usus
besar dan mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus. Pada tempat ini
terdapat apendiks veriformis.
Usus besar terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen,
segmen transversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri, dan

segmen desenden pada sisi kiri abdomen. Bagian ujung dari usus besar
terdiri dari dua bagian: kolon sigmoid dan rectum.
Rectum berlanjut pada anus.
C. Etiologi
Salmonella typhii, Salmonella paratyphii A, Salmonella paratyphii B,
S. Paratyphii C .
D. Tanda dan Gejala
Masa tunas demam tifoid berlansung 10 sampai 14 hari. Gejalagejala yang timbul amat bervariasi, perbedaan ini tidak saja antara berbagai
bagian dunia, tetapi juga di daerah yang sama dari waktu ke waktu. Selain
itu, gambaran penyakit bervariasi dari penyakit ringan yang tidak
terdiagnosa, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan
kematian. Hal ini menyebabkan bahwa seorang ahli yang sudah sangat
berpengalaman pun dapat mengalami kesulitan untuk membuat diagnosa
klinis tifoid.
1. Demam, pada kasus yang khas demam berlansung 3 minggu, bersifat
febris remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama,
suhu tubuh berangsur-angsur naik tiap hari, biasanya menurun pada
pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari. Dalam minggu
kedua pasien terus berada dalam keadaan demam, pada minggu ketiga
suhu berangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan, pada mulut terdapat panas berbau
tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah (ragaden). Lidah tertutup

selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan,


jarang disertai tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut
kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada
perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau
normal.gangguan kesadaran, umumnya kesadaran pasien menurun
walaupun tidak dalam yaitu apatis sampai samnolen, jarang terjadi
spoor, koma, atau gelisah

gejala tersebut mungkin terdapat gejala

lainnya. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola,


yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang
dapat ditemukan pada minggu pertama

Patofisiologi Dan Patoflow

Makanan tercemar
sebagian basil
Salmonella typhosa
asam lambun

masuk kemulut

dilambung
musnah oleh

Ragaden, coated tongue


masuk ke usus

melalui pembuluh
limfe halus

Sebagian
halus dan

basil diserap
anoreksia
Bakteriemia
melepaskan endotoksin

masuk ke dalam peredaran


darah
menstimul

asi sintesis
Basil menyebar
keseluruh tubuh

sampai di organ-organ utama


(Hati dan Limfa)
Terjadi

pelepasan
Terutama kedalam
pirogen
kelenjer limfoid
usus halus

basil berkembang biak

zat

organ-organ membesar
inflamasi lokal
disertai nyeri pada perabaan
menimbulkan tukak
Jaringa
n meradang
Berbentuk lonjong pada
mukosa diatas plak
Histamin
Peyeri

Nyeri

Resti komplikasi
(cedera)

Mengakibatkan perdarahan
hipotalamus
Nyeri saat makan

dan perforasi usus


Peningk

atan panas
anoreksia

melena

gangguan
thermoregulasi
gangguan pemenuhan
Nutrisi

intake berkurang
malaise

resti intoleransi aktivitas

E. Pemerikasaan Diagnostic Dan Penunjang


a. Pemeriksaan leukosit
Walaupun menurut buku-buku disebutkan bahwa tifoid terdapat
leucopenia dan limpositosis relative, tetapi kenyataan leukopeni tidaklah
sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus tifoid, jumlah leukosit pada
sedian darah tepi berada dalam batas-batas normal, malahan kadangkadang terdapat leukositosis, walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi
sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna
untuk diagnosis tifoid.
b. Biakan darah
Biakan darah positif memastikan tifoid, tetapi biakan Negara
negative tidak menyingkirkan tifoid. Hal ini disebabkan karena hasil
biakan darah tergantung pada beberapa factor, antara lain :
1. Tehnik

pemeriksaan

laboratorium.Hasil

pemeriksaan

satu

laboratorium berbeda dengan yang lain, malahan hasil satu


laboratorium bisa berbeda dari waktu kewaktu. Hal ini disebabkan
oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan.
Karena jumlah kumam yang berada dalam darah hanya sedikit, yaitu
kurang dari 10 kuman/ml darah, maka untuk jeperluan pembiakan,

pada penderita dewasa diambil 5-10 ml darah dan pada anak-anak 25 ml. bila darah yang dibiakan terlalu sedikit hasil biakan bisa
negative, terutama pada orang yang sudah mendapat pengobatan
yang spesifik. Selain itu darah tersebut harus lansung ditanam pada
media biakan sewaktu berada di sisi penderita dan lansung dikirim ke
laboratorium. Waktu pengambilan darah paling baik adalah saat
demam tinggi pada waktu bakterimia berlansung.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit. Pada tifoid biakan
darah terhadap S. typhii terutama positif pada minggu pertama
penyakit dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu
kambuh biakan darah bisa positif lagi.
3. Vaksinasi di masa lampau.
Vaksinasi terhadap tifoid di masa lampau menimbulkan antibody
dalam darah penderita. Antibody ini dapat menekan bakterimia,
sehingga biakan darah mungkin negativ.
4. Pengobatan dengan obat antimikroba.
Bila penderita sebelum pembiakan darah sudah mendapat obat
antimikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan
hasil biakan mungkib negative.
c. Reaksi Widal
Reaksi widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan
antibody (agglutinin) yang spesifik terhadap salmonella terhadap dalam
serum penderita tifoid, juga pada orang yang pernah ketularan
salmonella dan pada oraang yang pernah di vaksinasi terhadap tifoid.
Antigen yang digunakan pada reaksi widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Maksud

reaksi widal adalah untuk menentukan adanya agglutinin dalam serum


penderita yang disangka menderita tifoid.
Akibat infeksi oleh S. typhii, penderita membuat antibody
(agglutinin), yaitu :
1. Agglutinin O, yang dibuat karena ransangan antigen O (berasal dari
tubuh kuman).
2. Agglutinin H, karena ransangan antigen H (berasal dari flagella
kuman).
3. Agglutinin Vi, karena

ransangan antigen Vi (berasal dari simpai

kuman)
Dari ketiga agglutinin tersebut hanya agglutinin O dan H yang
ditentukan titernya untuk diagnosis, makn tinggi titernya, mangkin besar
kemungkinan penderita menderita tifoid. Pada infeksi yang aktif, titer
reaksi widal akan meningkat pada pemerikasaan ulang yang dilakukan
selang paling sedikit lima hari.
F. Panatalaksanaan Medis
Pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifoid harus
dianggap dan diperlakukan lansung sebagai pasien tifoid dan diberikan
pengobatan sebagai berikut:
1. Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan eksreta.
2. Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit
yang
lama, lemah, anoreksia, dan lain-lain.
3. Istirahat selama demam sampai dengan dua minggu setelah suhu
normal kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk; jika tidak
panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan di ruangan.
4. Diet. Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi
protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak

meransang dan tidak menimbulkan gas. Susu dua gelas sehari. Bila
kesadaran pasien menurun di berikan makan cair, melalui sonde
lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan anak baik dapat juga
diberikan makanan lunak.
5. Obat pilihan adalah klorampenikol, kecuali jika pasien tidak cocok
dapat diberikan obat lainnya seperti kotrimoksazol. Pemberian
klorampenikol dengan dosis tinggi, yaitu 100mg/kgBB/hari (maksimal
2 gram perhari), diberikan 4 kali sehari per oral atau intravena.
Pemberian

klorampenikol

dengan

dosis

tinggi

tersebut

mempersingkat waktu perawatan dan mencegah relaps. Efek


negatifnya adalah mungkin pembentukan zat anti kurang karena basil
terlalu cepat dimusnakan.
6. Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitnya. Bila
terjadi dehidrasi dan asidisis diberikan cairan secara intravena dan
sebagainya.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN TIFOID FEVER

Pengkajian
Pada pengkajian dengan tifoid dapat ditemukan timbulnya demam yang khas
yang berlansung selama kurang lebih tiga minggu dan menurun pada pagi hari serta
meningkat pada sore dan malam hari, nafsu makan menurun, bibir kering dan

pecah-pecah, lidah kotor dan ujung dan tepinya kemerahan, adanya meteorismus,
terjadi pembesaran hati dan limfa, adanya konstipasi dan bahkan tidak terjadi
komplikasi seperti apatis sampai samnolen, adanya bradikardia, kemungkinan terjadi
komplikasi seperti perdarahan pada usus halus, adanya perforasi usus, peritonitis,
peradangan pada meningen, bronchopneumonia, dan lain-lain.
Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan leucopenia dengan
limfositosis relative, pada kultur empedu ditemukan kuman pada darah, urine, feces,
dan uji serologis widal menunjukan kenaikan pada titer antibody O lebih besar atau
sama dengan 1/200 dan H: 1/200.(Hidayat Alimul Aziz. A. 2006, Edisi I, Pengantar
Ilmu Keperawatan Anak, Jakarta, Salemba Medika).

Diagnosa /Masalah Keperawatan


Diagnosa atau masalah keperawatan yang terjadi pada anak dengan tifoid
adalah sebagai berikut:
a.

Kurang nutrisi.

b.

Hipertermia.

c.

Risiko terjadi komplikasi (cedera)

d.

Gangguan eliminasi BAB

e.

Gangguan rasa nyaman

15

Rencana Tindakan Keperawatan


Kurang Nutrisi (Kurang dari kebutuhan)
Kekurangan nutrisi ini dapat disebabkan adanya asupan yang tidak
adekuat oleh karena menurunnya nafsu makan akibat proses patologis,

maka tujuan keperawatannya diarahkan pada terpenuhinya kebutuhan nutrisi


anak.
INTERVENSI

RASIONAL

Tingkatkan intake makanan melalui:


Mengurangi

gangguan

Cara khusus untuk meningkatkan


dari nafsu makan.

lingkungan seperti berisik dan lainlain.


Jaga kebersihan ruangan (barangbarang seperti sputumpot, urinal
tidak berada dekat tempat tidur.
Berikan obat sebelum makan jika
ada indikasi
Jaga kebersihan mulut pasien.

Mulut yang bersih meningkatkan


nafsu makan.

Bantu pasien jika tidak mampu.

Membantu pasien makan.

Sajikan makanan yang mudah dicerna, Meningkatkan selera makan dan


dalam keadaan hangat, tertutup, dan intake makan.
berikan sedikit-sedikit tapi sering.
Selingi makan dengan minum.

Memudahkan makanan masuk.

Hindari makanan yang banyak mengandung

Mengurangi rasa nyaman.

gas.

Hipertermia

Terjadinya Hipertermia ini dapat disebabkan oleh adanya reaksi


kuman salmonella typhosa yang masuk kedalam tubuh. Untuk mengatasinya
adalah dengan tujuan mempertahankan kondisi suhu tubuh dalam batas
normal dengan cara menurunkannya.
INTERVENSI

RASIONAL

Monitor perubahan suhu tubuh, denyut Monitot


nadi.

tanda-tanda

vital

dan

observasi kemajuan penurunan suhu


tubuh.

Lakukan

tindakan

yang

dapat Kompres

hangat

menurunkan suhu tubuh seperti lakukan vasodilatasi

dapat

pembuluh

terjadi
darah

kompres hangat, berikan pakaian tipis sehingga memudahkan suhu tubuh


dan mudah menyerap keringat.

keluar.
Pakaian yang tipis dan menyerap
keringat

memudahkan

proses

penguapan.
Libatkan keluarga dalam perawatan serta
ajari

cara

menurunkan

suhu

dan Meningkatkan

mengevaluasi perubahan suhu tubuh.

pengetahuan

agar

keluarga lebih kooperatif.

Berikan ventilasi yang adekuat.


Membatu memberikan rasa nyaman
Anjurkan untuk banyak/ sering minum.
Membantu dalam menurunkan suhu
tubuh.

Risiko terjadi komplikasi (cedera)


Risiko terjadi cedera dalam hal ini adalah adanya komplikasi lebih
lanjut dari tifoid ini seperti adanya perdarahan, perforasi, tukak daerah

mukosa yang dapat mengganggu system dalam tubuh oleh karena


kemampuan kuman dalam merusak system serta adanya penurunan daya
tahan tubuh. Tujuan dari rencana keperawatan adalah mencegah terjadinya
komplikasi lebih lanjut.
INTERVENSI
RASIONAL
Berikan istirahat yang cukup selama Merupakan salah satu tindakan untuk
demam, dan lakukan mobilisasi setelah

mencegah terjadinya komplikasi lanjut

dua minggu bebas panas mulai dari pada penyakit tifoid.


duduk.
Monitor adanya tanda komplikasi

Dapat menentukan tindakan selanjutnya

Cek vital sign setiap empat jam.

Monitor faktor resiko.

Libatkan keluarga dalam perawatan

Meningkatkan

dan ajari cara melakukan

keluarga kebih kooperatif.

perawatan

pengetahuan

agar

secara aseptic
Jelaskan

faktor

risiko

yang

dapat Agar

menyebabkan komplikasi lanjut.

pasien

dan

keluarga

dapat

menghindari faktor risiko.


.

Gangguan eliminasi BAB


Gangguan eliminasi BAB ini disebabkan oleh intake dan output yang tidak
seimbang, kurangnya makan makanan yang berserat yang dapat menyebabkan
perubahan struktur feases menjadi keras.

Intervensi
Rasional
Anjurkan pasien untuk makan makanan Agar tidak terjadi kesulitan dalam BAB

yang banyak mengandung serat yang


dapat

mempermudah

feases

untuk

dikeluarkan
Dengan memonitor perubahan status
Monitor adanya perubahan status nutrisi

nutrisi,

kebutuhan

nutrisi

pasien

terpenuhi
Kolaborasi

dengan

keluarga

dalam Agar keluarga dapat memantau apa

monitor aktivitas pasien

yang menyebabkan kesulitan BAB

Jelaskan kepada pasien dan keluarga Agar kesehatan pasien tetap terjaga
tentang pentingnya menjaga kesehatan
fekal

Gangguan rasa nyaman


Gangguan rasa nyaman pada pasien thypoid ini dapat disebabkan oleh
adanya imflamasi jaringan, infeksi virus salmonella thyposa yang mengakibatkan
nyeri pada abdomen pasien.

Intervensi

Rasional

Ciptakan posisi yang nyaman bagi pasien

Agar nyeri yang dialami dapat diatasi

Identifikasi penyebab terjadinya

Gangguan rasa nyaman yang dialami

gangguan rasa nyaman

dapat ditanggulangi

Kolaborasi dengan keluarga dalam

Memonitor dan membatasi kegiatan

aktivitas pasien

pasien

Membatasi pengunjung

Agar pasien dapat mengontrol emosi


dalam suasana yang sepi

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TnA
DENGAN KASUS SISTEM PENCERNAAN : TYPHOID DI IRNA ATAS PENYAKIT
DALAM
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PLAJU PALEMBANG
PENGKAJIAN DATA DASAR DAN FOKUS
Pengkajian tgl.
Tanggal MRS
Ruang/Kelas

:11 januari 2011


:10 januari 2011
:PDL Sayap B/ 1B-1

Jam
No. RM
Dx. Masuk

:12:30 WIB
: 001076
:TYPHOID

Identitas
Riwayat Sakit dan Kesehatan

Nama
Umur
Agama
Pendidikan
Pekaryaan
Suku/Bangsa
Alamat

:Tn.A
:38 tahun
:Islam
:S1
:: Indonesia
:

Jenis Kelamin
: L/P
Status Perkawinan : Kawin
Penanggung Biaya :Askes

Keluhan utama
Riwayat penyakit saat ini
terasa

:Demam selama 6 hari


:klien masuk RS dengan keluhan badan
panas, pusing kepala,
mual dan muntah, panas tubuh 39

derajat
celcius
Penyakit yang pernah diderita
: maag ( gastritis )
Penyakit yang pernah diderita keluarga : tidak ada
Riwayat Alergi :
ya
Jelaskan

tidak

Observasi dan pemeriksaan fisik (RoS: Review of System)


Keadaan Umum :
baik
sedang
lemah
Kesadaran :
Tanda vital
TD:140/80 mmHg Nadi: 87x/menit Suhu badan:39,5 C
RR:18/menit

(Breath) Pernafasan B1

Maslah : Hipertermi
Pola nafas
Jenis
Suara nafas:
Sesak nafas

irama:
Dispenia
vesikuler
Lain-lain:
Ya

Teratur
Kusmaul
Stridor

Tidak teratur
Ceyne Stokes
Lain-lain:
Wheezing
Rochi

Tidak

Batuk

Masalah : tidak ada masalah keperawatan

ya

Tidak

Kardiovasker B2
(Blood)
Persyaratan B3 (Brain)
Penginderaan

Irama jantung:
Tidak
Nyeri dada:
Bunyi jantung:

Regular

Iregular

S1/S2 tunggal

Ya

Ya
Normal

Tidak
Murmur

Gallop

Lain-lain

CRT:
Akral:
Basah

< 3 detik
Hangat

> 3 detik
Panas

Dingin kering

Dingin

Masalah : tidak ada masalah keperawatan


GCS
Eye: 4
15
Refleks fisiologis
Patella
Refleks patologis
Babinsky
Lain-lain:
Istirahat/tidur: 6 jam/hari

Verbal; 5

Motorik ; 6

Triceps
Budzinsky

Bicep
Kernig

Total:
lain-lain:
lain-lain

Gangguan tidur: tidak

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan


Penglihatan (Mata)
Pupil
Isokor
Selera/Konjungtiva :
Anemis
Lain-lain
Pendengaran/Telinga
Gangguan pandangan
:
Jelaskan:
Lain-lain
Penciuman (hidung)
Bentuk
:
Normal
Gangguan penciuman
:
Jelaskan:
Lain-lain

Anisokor
Ikterus

lain-lain
lain-lain

Ya

Tidak

Tidak
ya

Jelaskan:
Tidak

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Perkemihan B4

Kebersihan:
Bersih
Kotor
Urin:
Jumlah:
cc/hr:
Warna
Alat bantu (kateter, dan lain-lain):
Kandung kencing:
Membesar
Ya
Nyeri tekan
Ya
Gangguan
Anuria
Oliguria
Inkontinensia

Nukturia

Bau:
Tidak
Tidak
Retensi
Inkontinensia

B5 (Bowel)

Pencernaan

(Bladder)

lain-lain
Masalah : tidak ada masalah keperawatan

Nafsu makan
:
x/hari
Porsi makan
:
Minum
:
Mulut dan tenggorokan
Mulut
:
Mukosa
Tenggorokan
lain:
Abdomen perut
Nyeri tekan
Lokasi:
Peristaltik
Pembesaran hepar
Pembesaran lien
Buang air besar 2 x/hari
Konsisten ; cair
Lain-lain

Baik
Habis
80000

cc/hari

Menurun

Frekuensi

Tidak
Jenis

Ket: setengah porsi

Bersih
Kotor
Lembab
Kering
Sakit menelan/nyeri tekan
Pembesaran tonsil

Berbau
Stomatitis
Kesulitan menelan
lain-

Tegang

Ascites

Kembung

Ya
Ya
Teratur:
Bau: ya

Masalah :Perubahan pola nutrisi

Ya
Warna: kuning muda

Tidak
Tidak
Tidak

Mulkuloskeletal/Integumen

Kemampuan pergerakan sendi:


Kekuatan otot:
Kulit
Warna kulit

Bebas

Terbatas

Ikterus
Pucat

sianosis

Sedang
Tidak ada

Jelek
Lokasi

Kemerahan

Hiperpigmentasi
Turgor
Odema:
Lain-lain

Baik
Ada

Endokrin

B6 (Bone)

Masalah :Tidak ada masalah keperawatan

Tyroid
Hiperglikemia
Hipoglikemia
Luka gangren
Lain-lain

Membesar

Ya
Ya
Ya
Ya

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Psiko-sosiospiritual

Pers. Higiene

Masalah :Tidak ada masalah keperawatan


Mandi
Keramas
seminggu
Ganti pakaian

:2 x/hari
:2 x/hari
: 2 x/hari

Masalah :Tidak ada masalah


Orang yang paling dekat: Istri
Hubungan dengan teman dan lingkungan sekitar :Baik
Kegiatan ibadah: baik
Konsep diri: baik
Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Sikat gigi 2 x/hari


Memotong kuku:1x

Data penunjang (Lab, Foto, USG, dan lain-lain)


-

Hb 13,8 gram/dl
L 13.2- 17.3 g/dl P 11.7 15.5 g /dl
Leokosit 3500/mm3
4000 11000 / cmm
Trombosit 189000
150000 400000 / ul
Widal (+) 1/320 tipe H

Terapi :
1. IVFD RL, gtt 20 tetes/ menit makro
2. Sanmol tablet 3x 1 tablet per hari
3. Ranitidin tablet 2x1 tablet per hari
4. Colsancetine inj 2 x 1 per hari
5. Neoradex 1 x 1 tablet

Pengambil Data / Perawat


_____________________

ANALISA MASALAH
Nama : Tn. A

Umur : 36 th
DATA
Ds. Pasien mangatakan

ETIOLOGI
Infeksi bakteri

badannya panas
Do. Pasien tampak

MASALAH
Peningkatan suhu tubuh
(Hipertermi)

Kesaluran cerna

gelisah
-

KU lemah
Bibir kering
Akral hangat

Proses inflamasi
Produksi panas meningkat

TTV
-

TD : 140/80
RR: 20x/menit
N= 87x/menit
Suhu 39,5

Hipertermi

Ds. Keluarga pasien


mengatakan Pasien

Infeksi bakteri

dari kebutuhan tubuh

tidak nafsu makan,


mual & muntah

Perubahan nutrisi kurang

Tekanan intrasastritik

Do. KU lemah

Porsi makan
setengah porsi , 3
sdm
Mual, muntah 3 x
hr
Lidah kotor
Mulut pahit

Ds. Pasien mengatakan


susah buang air besar
Do. Keadaan umum
tampak gelisah
-

Susag BAB
Abdomen

Intake in adekuat
Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Intake dan output


berkurang
Kurang makan makanan
banyak mengandung serat

Perubahan pola BAB

kembung
Terjadi pengerasan pada
feses
Defekasi (susah BAB)
Ds. Pasien mengatakan
suhu tubuh tidak

Peningkatan suhu tubuh

Resiko kekurangan

turun
Do. Suhu tubuh 39,5
-

Mual & muntah 3 x

hr
Pasien tampak

volume cairan
Intake cairan in adekuat
Resiko kekurangan cairan

gelisah
Ds. Keluarga klien
mengatakan pasien

Defekasi

Resiko tinggi trauma fisik

sering berdiam diri


Do. Keadaan umum

Penurunan fungsi anus

pasien
lemah

Trauma fisik

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Hipertermi (peningkatan suhu tubuh di ambang batas normal) berhubungan


dengan infeksi virus salmonella thyposa
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

3. Perubahan pola BAB berhubungan dengan proses peradangan pada dinding


usus halus
4. Resiko kehilangan cairan berhubungan dengan mual dan muntah
5. Resiko tinggi trauma fisik berhubungan dengan imflamasi

PERENCANAAN KEPERAWATAN
NO
1

DIAGNOSA

PERENCANAAN

KEPERAWATAN
Hipertermi

Tujuuan
Dalam rentang waktu 3x24 jam suhu tubuh

berhubungan dengan

menurun

infeksi virus

NOC :

salmonella thyposa

INTERVENSI (NIC)
- Fever treatment
- Vital sign monitoring

RASIONAL
- Suhu tubuh dapat
dikontrol dengan
baik
- Tanda-tanda vital

Thermoregulation

dapat kembali

Dengan criteria hasil:


-

normal

Suhu tubuh dalam rentang normal


Nadi dan RR dalam rentang normal
Tidak ada perubahan warna kulit dan
tidak ada rasa pusing
-

Setelah dilakukan tindakan selama 3x24jam


2.

Ketidak seimbangan

mual, muntah dapat diatasi

nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Nutrition
management
Nutrition
monitoring

NOC :
-

Fluence
Hydration
Nutrition status: food and fluid intake

Dengan kriteria hasil:


-

Mempertahankan urine output sesuai

dengan usia dan berat badan


TD, suhu tubuh dalam batas batas
normal

Dapat
meningkatkan
kebutuhan nutrisi
pasien terpenuhi

Tidak ada tanda-tanda dehidrasi,

elastisitas turgor kulit baik


Membrane mukosa lembab tidak ada

Mencegah
terjadinya

rasa haus yang berlebihan

dehidrasi,
-

Dalam waktu 2x24 jamkebutuhan nutrisi


3.

Perubahan pola BAB


berhubungan dengan
proses peradangan

Fluid

mempertahankan

management

intake dan output

terpenuhi mual & muntah berkurang

cairan

NOC:
-

Nutrition Status : Food and Fluid


management

pada usus halus

Dengan Kriteria hasil


-

Adanya peningkatan berat badan sesuai

dengan tujuan
Berat badan ideal sesuai dengan tinggi

badan
Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Tidak terjadi penurunan berat badan yang
berarti

4.

Resiko kehilangan
cairan berhubungan
dengan mual, muntah

Setelah dilakukan tindakan selama 1x 24 jam

Mencegah terjadi
konstipasi

Impaction
management

pola BAB dapat kembali normal


NOC :
-

Knowledge : personal safety


Safety behavior : physical injury

mencegah
distensi

abdomen
Dengan kriteria hasil:
-

Mempertahankan pola BAB

Selama 2x24 jam trauma fisik dapat


ditanggulangi
5.

Risiko tinggi trauma


fisik berhubungan
dengan inflamasi

Environmental
management
safety

NOC :
-

Bowel elimination
Hydration

Dengan kriteria hasil


-

Mempertahankan bentuk feses


Bebas dari ketidak nyamanan konstipasi

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama pasien : Tn.A
Umur
: 38 thn
Jenis kelamin : laki-laki
Diagnosa
Keperawatan

Tanggal &
Waktu

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

12 januari 2011

Tindakan
Keperawatan
Nutrition
management
Mandiri
- Selingi pasien
makan dengan
minum
- Anjurkan pasien
makan makanan
yang banyak
mengandung
protein dan
vitamin C
- Monitor jumlah
nutrisi dan
kandungan kalori
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan
jumlah kalori dan
nutrisi yang
dibutuhkan pasien
Nutrition
monitoring
Mandiri
- BB pasien dalam
batas normal
- Kaji keluhan mual,
muntah
- Monitor adanya
berat badan
- Monitor kalori dan
intake nutrisi
Kolaborasi

Evaluasi
(Respon)
S : klien
mengatakan
nafsu makan
masih menurun
O: keadaan umum
pasien lemah
A: masalah teratasi
Sebagian
P : intervensi
Dilanjutkan

S : klien
mengatakan
nafsu makannya
normal
O: keadaan umum
baik
A: masalah teratasi
sebagian
P : intervensi
Dilanjutkan

Paraf
Fredi,

Hipertermi
berhubungan
dengan infeksi virus
salmonella thyposa

14 januari 2011

Memonitor pusat
kemerahan dan
kekeringan
jaringan
konjungtiva
Fredi

Fever treatment
Mandiri
- Memonitor suhu
sesering mungkin
- Memonitor IWL
- Selimuti pasien
- Kompres pasien
pada lipat paha
dan aksila

S : klien
mengatakan
badannya panas
O: Keadaan umum
lemah
A: masalah teratasi
sebagian
P : intervesi
Diteruskan

Kolaborasi
- Berikan
pengobatan untuk
mengatasi
penyebab demam
- Berikan cairan
intravena
- Kolaborasi
dengan dokter
dalam pemberian
obat untuk
mengatasi
demam
Temperature
regulation
Mandiri
- Memonitor suhu
minimal tiap 2 jam
sekali
- Memonitor adanya
tanda-tanda
hipertermi
- Selimuti pasien
untuk mencegah
hilangnya
kehangatan tubuh
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan

S : klien
mengatakan
badannya tidak
panas lagi
O: keadaan umum
Baik
A: masalah teratasi
P : intervensi
Dihentikan

dokter dalam
pemberian obat
antipiretik
Vital sign
monitoring
Mandiri
- Memonitor TD,
Nadi, dan RR
- Mencatat adanya
fluktuasi tekanan
darah
- Memonitor kualitas
dari nadi
- Memonitor
frekuensi dan
irama nafas

S: klien mengatakan
kepalanya terasa
pusing
O:keadaan umum
lemah
A:masalah teratasi
sebagian
P :intervensi
Diteruskan

Kolaborasi
- Kolaborasi
dengan tim medis
tentang adanya
penyebab
perubahan vital
sign
Resiko kekurangan
cairan
berhubungan
dengan maul dan
muntah

Perubahan pola
BAB berhubungan
dengan proses
peradangan pada

14 januari 2011

Fredi
Fluid management
Mandiri
- Pertahankan
catatan intake dan
output yang
akurat
- Anjurkan pasien
banyak minum
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan
dengan keluarga
tentang aktivitas klien
Mandiri
- Menciptakan
lingkungan yang

S : klien
mengatakan
keadaanya
membaik
O: keadaan umum
membaik
A: masalah teratasi
P : intervensi
Dihentikan
Fredi

dinding usus halus


-

senyaman mungkin
bagi pasien
Mengontrol
lingkungan dari
kebisingan
Beri penjelasan pada
psien dan keluarga
bahwa terjadi
perubahan status
kesehatan pada
pasien

S : klien
mengatakan
BAB sudah
teratur kembali
O: keadaan umum
baik
A: masalah teratasi
P : intervensi
Dihentikan

Kolaborasi
- Berkolaborasi dengan
tim dokter dalam
pemberian obat
therapy

Risiko tinggi trauma


fisik berhubungan
dengan imflamasi

Mandiri
- Memonitor tanda dan
gejala konstipasi
- Memonitor bising usus
- Dorong pemasukan
intake cairan
- Konsultasi dengan
dokter tentang
penurunan dan
peningkatan bising
usus
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian laktasi
BAB V
PENUTUP

Fredi

S : klien
mengatakan
badannya terasa
sehat
O: keadaan umu
baik
A: masalah teratasi
P : intervensi
dihentikan

Kesimpulan
a. Tifoid dan paratifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus. Paratifoid
biasanya lebih ringan dan menunjukan gambaran klinis yang sama, atau
menyebabkan enteritis akut. Sinonim dengan tifoid adalah typoid and

paratyphoid fever, enteric fever, typhus and paratypus abdominalis.


(Soeparman, 1999, Edisi II, Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI)
b. Tifoid merupakan penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus yang
disebabkan oleh salmonella thypii, penyakit ini dapat ditularkan melalui
makan, mulut atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman salmonella
thypii. (Hidayat Alimul Azis.A, 2006, Edisi I, Pengantar Ilmu Keperawatan
Anak, Jakarta, Salemba Medika)
c. Demam tifoid, enteric fever ialah penyakit infeksi akut yang biasanya
mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu
minggu,

gangguan

pada

pencernaan,

dan

gangguan

kesadaran(Ngastiyah,2005,Edisi II, Perawatan Anak Sakit, Jakarta, EGC


d. Penyebab thypoid adalah Salmonella typhii, Salmonella paratyphii A,
Salmonella paratyphii B, S. Paratyphii C.
e. Tanda dan gejala
1. Demam, pada kasus yang khas
35 demam berlansung 3 minggu, bersifat
febris remiten dan suhu tidak tinggi sekali.
2. gangguan pada saluran pencernaan, pada mulut terdapat panas
berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah (ragaden).
3. gangguan kesadaran, umumnya kesadaran pasien menurun walaupun
tidak dalam yaitu apatis sampai samnolen, jarang terjadi spoor, koma,
atau gelisah gejala tersebut mungkin terdapat gejala lainnya.
Saran
Saran yang dapat kami sampaikan mudah-mudahan makalah ini menjadi
salah satu alternatif ilmu pengetahuan bagi para pembaca, baik dirumah sakit
maupun di institusi-institusi resmi.

DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Penerbit

Media

Aesculapius. Jakarta : FKUI


Brunner & Suddarth.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol.1.
EGC: Jakarta

Donna L.Wong, dkk. 2002 .Buku Ajar Leperawatan Pediatrik Ed 6. Jakarta : EGC
Herdman T. Heather. 2010. Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC
Staf Pengajar IKA FKUI.1985. Ilmu Kesehatan Anak, Buku kuliah 1. Bagian IKA
FKUI: Jakarta
Suriadi & Rita Yuliani.2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 1. CV. Sagung
Seto: Jakarta
Suriadi dan Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan pada anak. Jakarta : Cv Sagung
Seto
Soegeng Soegijanto. 2002. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan.
Jakarta : Salemba Medika
Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 7. Jakarta :
EGC
Wong, Dona L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC